Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 31 Desember 2025

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Kita sedang berkumpul untuk momen refleksi ini pada hari terakhir tahun kalender, menjelang akhir Yubileum dan di tengah-tengah masa Natal.

 

Tahun lalu tentu saja ditandai dengan peristiwa-peristiwa penting: beberapa di antaranya menggembirakan, seperti peziarahan begitu banyak umat beriman pada kesempatan Tahun Suci; peristiwa-peristiwa lara, seperti wafatnya mendiang Paus Fransiskus, dan skenario peperangan yang terus mengguncang planet ini. Pada akhirnya, Gereja mengajak kita untuk menyerahkan segalanya kepada Tuhan, mempercayakan diri kita kepada penyelenggaraan-Nya, dan memohon kepada-Nya untuk memperbarui, di dalam diri kita dan di sekitar kita, di hari-hari mendatang, hal-hal menakjubkan dari rahmat dan belas kasih-Nya.

 

Dalam dinamika inilah tradisi nyanyian khidmat Te Deum, yang dengannya kita akan mengucap syukur kepada Tuhan malam ini atas berbagai berkat yang telah kita terima, menemukan tempatnya. Kita akan menyanyikan, “Allah Tuhan kami, Engkau kami muliakan.”, “Di dalam Engkau, Tuhan, kami berharap pada-Mu”, “Kasihanilah kami”. Berkaitan hal ini, Paus Fransiskus mengamati bahwa sementara “rasa syukur duniawi, pengharapan duniawi tampak jelas… namun mereka terfokus pada diri sendiri, pada kepentingannya… Sebaliknya, dalam Liturgi ini… kita menghirup suasana yang sama sekali berbeda: suasana pujian, kekaguman, dan syukur” (Homili Vespers Pertama Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah, 31 Desember 2023).

 

Dan dengan sikap inilah hari ini kita dipanggil untuk melakukan refleksi atas apa yang telah dilakukan Tuhan bagi kita selama setahun terakhir, serta memeriksa hati nurani kita dengan jujur, mengevaluasi tanggapan kita terhadap anugerah-Nya dan memohon pengampunan atas segenap waktu kita gagal menghargai inspirasi-Nya dan melipatgandakan talenta yang telah Ia percayakan kepada kita dengan sebaik-baiknya (bdk. Mat 25:14-30).

 

Hal ini membawa kita untuk merenungkan tanda besar lain yang telah menyertai kita dalam beberapa bulan terakhir: yaitu "perjalanan" dan "tujuan". Tahun ini, banyak sekali peziarah datang dari seluruh dunia untuk berdoa di makam Santo Petrus dan menegaskan ketaatan mereka kepada Kristus. Hal ini mengingatkan kita bahwa seluruh hidup kita adalah sebuah perjalanan, yang tujuan akhirnya melampaui ruang dan waktu, digenapi dalam perjumpaan dengan Allah dan dalam persekutuan penuh dan kekal dengan Dia (bdk. Katekismus Gereja Katolik, 1024). Kita juga akan memohon hal ini dalam doa Te Deum, ketika kita mengatakan, “Satukanlah kami dengan orang kudus dalam kemuliaan-Mu”. Bukan suatu kebetulan Santo Paulus VI mendefinisikan Yubileum sebagai tindakan iman yang agung dalam “antisipasi takdir masa depan ... yang sudah kita cicipi dan ... persiapkan” (Audiensi Umum, 17 Desember 1975).

 

Dan dalam terang eskatologis perjumpaan antara yang terbatas dan yang tak terbatas ini, tanda ketiga dapat dilihat: perjalanan melalui Pintu Suci, yang telah dilalui oleh begitu banyak dari kita, berdoa dan memohon pengampunan bagi diri kita sendiri dan orang-orang yang kita cintai. Ini mengungkapkan "ya" kita kepada Allah, yang dengan pengampunan-Nya mengundang kita untuk melintasi ambang kehidupan baru, yang dijiwai oleh rahmat, dimodelkan berdasarkan Injil, dikobarkan oleh "kasih kepada sesama, yang dalam definisinya ... setiap orang termasuk ... yang membutuhkan pengertian, pertolongan, penghiburan, pengorbanan, meskipun secara pribadi tidak kita kenal, meskipun mengganggu dan bermusuhan, tetapi dikaruniai martabat yang tak tertandingi sebagai seorang saudara" (Santo Paulus VI, Khotbah pada kesempatan penutupan Tahun Suci, 25 Desember 1975; bdk. Katekismus Gereja Katolik, 1826-1827). Ini adalah "ya" kita untuk kehidupan yang dijalani dengan komitmen di masa kini dan berorientasi pada kekekalan.

 

Sahabat-sahabat terkasih, marilah kita merenungkan tanda-tanda ini dalam terang Natal. Santo Leo Agung, berkaitan hal ini, melihat perayaan Kelahiran Yesus sebagai maklumat sukacita bagi semua orang: “Hendaklah orang kudus bersukacita,” beliau berseru, “karena ia sedang mendekati pahalanya; hendaklah orang berdosa bersukacita, karena ia ditawari pengampunan; hendaklah orang yang tidak percaya kepada Allah meneguhkan hati, karena ia dipanggil kepada kehidupan” (Ceramah Pertama tentang Kelahiran Tuhan, 1).

 

Hari ini undangan-Nya ditujukan kepada kita semua, yang kudus karena baptisan, karena Allah telah menjadi pendamping kita dalam perjalanan menuju kehidupan sejati; kepada kita orang berdosa, karena, setelah diampuni, dengan rahmat-Nya kita dapat bangkit dan memulai kembali; dan akhirnya, kepada kita, yang miskin dan rapuh, karena Tuhan, dengan menjadikan kelemahan kita sebagai kelemahan-Nya sendiri, telah menebusnya dan menunjukkan kepada kita keindahan dan kekuatan kemanusiaan-Nya yang sempurna (bdk. Yoh 1:14).

 

Oleh karena itu, saya ingin mengakhiri dengan mengingat kata-kata yang digunakan Santo Paulus VI, pada akhir Yubileum tahun 1975, untuk menggambarkan pesan fundamentalnya. Pesan tersebut, beliau mengatakan, terkandung dalam satu kata: "kasih". Dan beliau menambahkan, “Allah adalah Kasih! Inilah wahyu yang tak terkatakan yang dengannya Yubileum, melalui pengajaran, indulgensi, pengampunan, dan akhirnya kedamaiannya, yang penuh dengan air mata dan sukacita, telah berusaha untuk memenuhi jiwa kita hari ini dan hidup kita esok hari: Allah adalah Kasih! Allah mengasihiku! Allah menantikanku, dan aku telah menemukan Dia! Allah adalah belas kasih! Allah adalah pengampunan! Allah adalah keselamatan! Allah, ya, Allah adalah kehidupan!” (Audiensi Umum, 17 Desember 1975). Semoga pemikiran ini menyertai kita dalam peralihan dari tahun lama ke tahun baru, dan kemudian senantiasa, dalam hidup kita.

 

[Sapaan Khusus]

 

Pagi ini saya menyapa dengan hangat seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, terutama mereka yang datang dari Australia, Cina, Palestina, Filipina, dan Amerika Serikat. Saat kita mempersiapkan perayaan Hari Raya Santa Perawan Maria, Bunda Allah, besok, marilah kita mempercayakan tahun yang akan datang kepada perantaraan keibuannya. Kepada kamu semua dan keluargamu, saya menyampaikan doa dan harapan baik saya untuk masa Natal yang terberkati serta tahun baru yang penuh sukacita dan kedamaian. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dalam perikop Kitab Suci yang telah kita dengarkan, Santo Paulus mengingatkan kita bahwa Allah mampu melakukan jauh lebih banyak daripada yang dapat kita minta atau bayangkan. Malam ini, dengan percaya pada kuasa dan kasih ini, kita akan menyanyikan Te Deum sebagai ucapan syukur atas banyak anugerah yang telah kita terima dari Allah sepanjang tahun ini. Kita juga diundang untuk melakukan refleksi bagaimana kita, pada gilirannya, telah menanggapi anugerah tersebut, dan memohon belas kasih Allah, seperti banyak peziarah yang telah melewati Pintu Suci untuk mengupayakan pengampunan. Tahun Yubileum ini telah menjadi pengingat yang kuat bahwa hidup itu sendiri adalah sebuah perjalanan menuju perjumpaan dan persekutuan dengan Allah, yang telah menjadi sahabat kita dengan ambil bagian dalam kemanusiaan kita. Selama masa Natal ini, marilah kita membuka hati kita kepada kasih Allah yang menjadi kasat mata dalam Anak yang lahir di Betlehem, dan dengan demikian turut serta dalam sukacita keselamatan.
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 31 Desember 2025)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 28 Desember 2025

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Hari ini kita merayakan Pesta Keluarga Kudus, dan Liturgi menawarkan kepada kita kisah pengungsian mereka ke Mesir (bdk. Mat 2:13-15, 19-23).

 

Pengungsian tersebut adalah saat yang pencobaan bagi Yesus, Maria, dan Yusuf. Sesungguhnya, gambaran Natal yang cerah tiba-tiba hampir tertutupi oleh bayangan ancaman maut yang mengerikan, yang berakar pada kehidupan Herodes yang bermasalah. Seorang yang kejam dan haus darah, yang ditakuti karena kebrutalannya, tetapi justru karena alasan inilah ia sangat kesepian dan diliputi rasa takut akan digulingkan. Ketika mengetahui dari orang-orang Majus bahwa "raja orang Yahudi" baru dilahirkan (Mat 2:2), ia merasakannya sebagai ancaman bagi kekuasaannya, ia memerintahkan agar semua anak yang seusia dengan Yesus dibunuh. Dalam kerajaan-Nya, Allah sedang melakukan mukjizat terbesar dalam sejarah, di mana semua janji keselamatan sejak dahulu kala digenapi, tetapi Ia tidak dapat melihat hal ini karena dibutakan oleh rasa takut kehilangan takhta, harta, dan keistimewaan. Di Betlehem ada terang dan sukacita karena beberapa gembala telah menerima maklumat surgawi dan telah memuliakan Allah di depan palungan (bdk. Luk 2:8-20). Tetapi semua ini tidak dapat menembus pertahanan lapis baja istana kerajaan, kecuali sebagai gema yang terdistorsi dari sebuah ancaman yang harus diredam dengan kekerasan buta.

 

Namun, justru kekerasan hati inilah yang semakin menyoroti nilai kehadiran dan perutusan Keluarga Kudus. Di dunia yang sewenang-wenang dan serakah yang diwakili oleh penguasa yang lalim, Keluarga Kudus adalah tempat kelahiran dan buaian satu-satunya jawaban keselamatan yang mungkin, yaitu Allah yang, dengan cuma-cuma, memberikan diri-Nya kepada manusia tanpa syarat dan tuntutan. Tindakan Yusuf yang taat kepada suara Tuhan dengan membawa istri dan anaknya ke tempat yang aman mengungkapkan seluruh makna penebusan. Di Mesir, nyala api kasih keluarga, yang kepadanya Tuhan telah mempercayakan kehadiran-Nya di dunia, tumbuh dan semakin kuat untuk membawa terang kepada seluruh dunia.

 

Saat kita merenungkan misteri ini dengan keheranan dan rasa syukur, kita memikirkan keluarga-keluarga kita dan terang yang dapat mereka bawa ke dalam masyarakat tempat kita tinggal. Sayangnya, dunia selalu memiliki "Herodes-herodes", mitos tentang kesuksesan dengan segala cara, kekuasaan yang tidak bermoral, dan kesejahteraan yang kosong dan dangkal, serta seringkali dunia membayar harganya dalam bentuk kesepian, keputusasaan, perpecahan, dan konflik. Jangan biarkan fatamorgana ini memadamkan nyala api kasih dalam keluarga kristiani. Sebaliknya, dalam keluarga, kita harus menghargai nilai-nilai injili: doa, seringnya menerimaan sakramen – terutama Sakramen Tobat dan Komuni – kasih sayang yang sehat, dialog yang tulus, kesetiaan, dan pengejawantahan yang sederhana dan indah dari perkataan dan tindakan sehari-hari. Hal ini akan menjadikan mereka terang pengharapan bagi tempat di mana kita tinggal; sekolah kasih dan sarana keselamatan Allah (bdk. Paus Fransiskus, Homili dalam Misa Pertemuan Keluarga Sedunia ke-10, 25 Juni 2022).

 

Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Bapa kita yang ada di surga, melalui perantaraan Maria dan Santo Yusuf, untuk memberkati keluarga-keluarga kita dan semua keluarga di seluruh dunia, sehingga dengan mengikuti teladan Putra-Nya yang menjadi manusia, mereka dapat menjadi tanda kehadiran dan kasih-Nya yang tak berkesudahan bagi semua orang.

 

[Setelah pendarasan Doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya menyapa dengan hangat kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara.

 

Secara khusus, saya menyapa kaum muda dari Clusone, Gerenzano, dan San Bartolomeo in Bosco, para penerima Sakramen Krisma dari Adrara San Martino, kaum muda dan pelayan altar dari Brescia, para peserta ziarah Unit Pastoral Sarezzo, dan para Pramuka dari Treviso.

 

Saya juga menyapa para pendidik Aksi Katolik Limena dan Morciano (Romagna), para pemimpin Oratorium Santo Pius X Portogruaro, kelompok sukarelawan dari Borgomanero, umat San Cataldo dan Serradifalco, dan anggota Pro Loco Sant’Egidio del Monte Albino.

 

Dalam terang kelahiran Tuhan, marilah kita terus berdoa untuk perdamaian. Hari ini, khususnya, marilah kita mendoakan keluarga-keluarga yang sedang menderita karena perang, terutama anak-anak, lansia, dan mereka yang paling rentan. Marilah kita bersama-sama mempercayakan diri kita kepada perantaraan Keluarga Kudus Nazaret.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 28 Desember 2025)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 26 Desember 2025

Saudara-saudari terkasih, selamat siang!

 

Hari ini adalah "hari ulang tahun" Santo Stefanus, sebagaimana biasa dikatakan oleh generasi pertama umat Kristiani dengan keyakinan bahwa kita tidak hanya dilahirkan sekali. Lebih jauh lagi, melihat dengan mata iman berarti tidak lagi melihat kegelapan semata, bahkan dalam kematian, karena kemartiran adalah kelahiran ke dalam surga. Kita tidak memilih untuk datang ke dunia, tetapi kemudian kita melewati banyak pengalaman di mana kita diminta untuk memilih dengan semakin bermaksud untuk "datang kepada terang," untuk memilih terang. Kisah Para Rasul memberi kesaksian dengan menceritakan bahwa orang-orang yang melihat Stefanus menuju kemartirannya terpukau oleh cahaya wajah dan kata-katanya. Tertulis: "Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka malaikat" (Kis 6:15). Inilah wajah seseorang yang tidak meninggalkan sejarah dengan acuh tak acuh, tetapi menanggapinya dengan kasih. Segala sesuatu yang dilakukan dan dikatakan Stefanus mewakili kasih ilahi yang tampak dalam diri Yesus, Terang yang bersinar dalam kegelapan kita.

 

Saudara-saudari terkasih, kelahiran Putra Allah di antara kita memanggil kita untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Ia memungkinkan hal ini dengan menarik kita melalui kerendahan hati orang-orang seperti Maria, Yusuf, dan para gembala, yang kita jumpai sejak malam itu di Betlehem. Namun keindahan Yesus, dan mereka yang meneladan hidup-Nya, juga ditolak, karena sejak awal, daya tarik-Nya telah menghasut reaksi dari orang-orang yang berjuang untuk kekuasaan, orang-orang yang terungkap oleh tindakan ketidakadilan mereka oleh karena kebaikan yang mengungkapkan niat hati mereka (bdk. Luk 2:35). Namun hingga hari ini, tidak ada kekuatan yang dapat mengalahkan karya Allah. Di mana pun di dunia, ada orang-orang yang memilih keadilan bahkan dengan pengorbanan besar, mereka yang mengutamakan kedamaian daripada ketakutan mereka, dan mereka yang melayani kaum miskin daripada diri mereka sendiri. Maka pengharapan pun tumbuh, dan masuk akal untuk merayakannya terlepas dari segalanya.

 

Dalam kondisi ketidakpastian dan penderitaan dunia saat ini, sukacita mungkin tampak mustahil. Dewasa ini, mereka yang percaya pada perdamaian dan telah memilih jalan tanpa senjata seperti Yesus dan para martir sering kali diejek, dikucilkan dari wacana publik, dan tidak jarang dituduh memihak lawan dan musuh. Namun, umat Kristiani tidak memiliki musuh, melainkan saudara dan saudari, yang tetap demikian bahkan ketika mereka tidak saling memahami. Misteri Natal membawakan kita sukacita yang didorong oleh keteguhan hati mereka yang telah hidup dalam persaudaraan, mereka yang telah mengenali di sekitar mereka, bahkan pada lawan mereka, martabat yang tak terhapuskan dari anak-anak Allah. Seperti Yesus, Stefanus wafat seraya mengampuni orang lain oleh karena kekuatan yang lebih nyata daripada kekuatan senjata. Suatu kekuatan cuma-cuma, yang sudah ada di dalam hati semua orang, dan yang dibangkitkan kembali dan dibagikan dengan cara yang tak tertahankan ketika kita mulai memandang sesama kita secara berbeda, menawarkan perhatian dan pengakuan kepada mereka. Ya, inilah arti dilahirkan kembali, datang sekali lagi ke dalam terang, inilah "Natal" kita!

 

Sekarang marilah kita berdoa kepada Maria dan merenungkan dia, yang terberkati di antara semua wanita yang memberi kehidupan dan melawan kesombongan dengan kepedulian, dan ketidakpercayaan dengan iman. Semoga Maria membawa kita ke dalam sukacitanya, sukacita yang menyingkirkan segala ketakutan dan ancaman, sama seperti salju yang mencair di hadapan matahari.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 26 Desember 2025)

PESAN URBI ET ORBI PAUS LEO XIV PADA HARI RAYA NATAL 25 Desember 2025

Saudara-saudari terkasih,

 

“Marilah kita semua bergembira dalam Tuhan karena Juruselamat telah lahir di dunia. Hari ini, turun dari surga damai sejati bagi kita” (Antifon Pembuka, Misa Malam Natal). Demikianlah nyanyian liturgi pada malam Natal, dan gema maklumat Betlehem dalam Gereja: Anak yang dilahirkan Perawan Maria adalah Kristus Tuhan, yang diutus oleh Bapa untuk menyelamatkan kita dari dosa dan maut. Sesungguhnya, Dialah damai sejahtera kita; Dia telah menaklukkan kebencian dan permusuhan melalui belas kasih Allah. Karena alasan ini, “kelahiran Tuhan adalah kelahiran damai sejahtera” (Santo Leo Agung, Khotbah 26).

 

Yesus lahir di kandang karena tidak ada tempat baginya di penginapan. Segera setelah lahir, ibunya, Maria, “membedungnya lalu membaringkannya di dalam palungan” (bdk. Luk 2:7). Putra Allah, yang melalui-Nya segala sesuatu dijadikan, tidak diterima, dan palungan sederhana untuk binatang adalah tempat tidur-Nya.

 

Sabda Bapa yang kekal yang tak tertampung oleh langit memilih untuk datang ke dunia dengan cara ini. Karena kasih, Ia ingin dilahirkan dari seorang perempuan dan dengan demikian ambil bagian dalam kemanusiaan kita; karena kasih, Ia menerima kemiskinan dan penolakan, mengidentifikasi diri-Nya dengan orang-orang yang dicampakkan dan dikucilkan.

 

Sejak kelahiran Yesus, kita sudah melihat sekilas keputusan dasariah yang akan membimbing seluruh hidup Putra Allah, bahkan sampai kematian-Nya di kayu salib: keputusan untuk tidak meninggalkan kita di bawah beban dosa, tetapi menanggungnya sendiri demi kita, mengambil alih atas diri-Nya. Hanya Dia yang dapat melakukannya. Namun, pada saat yang sama, Dia menunjukkan kepada kita apa yang hanya dapat kita lakukan, yaitu memikul bagian yang menjadi tanggung jawab kita. Sesungguhnya, Allah, yang menciptakan kita tanpa kita, tidak akan menyelamatkan kita tanpa kita (bdk. Santo Agustinus, Khotbah 169, 11, 13), yaitu, tanpa kehendak bebas kita untuk mengasihi. Mereka yang tidak mengasihi tidak diselamatkan; mereka binasa. Dan mereka yang tidak mengasihi saudara atau saudari mereka yang mereka lihat, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak mereka lihat (bdk. 1Yoh 4:20).

 

Saudara-saudari, tanggung jawab adalah jalan pasti menuju perdamaian. Jika kita semua, di setiap tingkatan, berhenti menuduh orang lain dan sebaliknya mengakui kesalahan kita, memohon pengampunan kepada Allah, dan jika kita benar-benar ikut merasakan penderitaan orang lain dan berdiri dalam solidaritas dengan yang lemah dan tertindas, maka dunia akan berubah.

 

Yesus Kristus adalah damai sejahtera kita, pertama-tama karena Ia membebaskan kita dari dosa, dan juga karena Ia menunjukkan kepada kita jalan untuk mengatasi konflik — semua konflik, baik antarpribadi maupun internasional. Tanpa hati yang terbebas dari dosa, hati yang telah diampuni, kita tidak dapat menjadi para pembawa damai atau pembangun perdamaian. Inilah sebabnya Yesus lahir di Betlehem dan mati di kayu salib: untuk membebaskan kita dari dosa. Ia adalah Juruselamat. Dengan rahmat-Nya, kita masing-masing dapat dan harus melakukan bagian kita untuk menolak kebencian, kekerasan, dan penentangan, serta mempraktikkan dialog, perdamaian, dan rekonsiliasi.

 

Pada hari perayaan ini, saya ingin menyampaikan salam hangat dan kebapaan kepada segenap umat Kristiani, terutama mereka yang tinggal di Timur Tengah, yang baru-baru ini saya kunjungi dalam Perjalanan Apostolik pertama saya. Saya mendengarkan mereka ketika mereka mengungkapkan ketakutan mereka dan sangat memahami rasa ketidakberdayaan mereka di hadapan dinamika kekuasaan yang mencekam mereka. Anak yang lahir hari ini di Betlehem adalah Yesus yang juga berkata, “Kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33).

 

Marilah kita memohon kepada Allah keadilan, perdamaian, dan stabilitas bagi Lebanon, Palestina, Israel, dan Suriah, dengan meyakini sabda ilahi ini: “Di mana kebenaran ditegakkan, di sana ada damai sejahtera, dan buah kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya” (Yes 32:17).

 

Marilah kita mempercayakan seluruh benua Eropa kepada Sang Raja Damai, memohon kepada-Nya agar Ia terus menginspirasi semangat kebersamaan dan kerjasama, dengan setia pada akar dan sejarah kristianinya, dan dalam solidaritas dengan – dan penerimaan terhadap – mereka yang membutuhkan. Marilah kita mendoakan secara khusus rakyat Ukraina yang tersiksa: semoga deru senjata terhenti, dan semoga pihak-pihak yang terlibat, dengan dukungan dan komitmen komunitas internasional, menemukan keberanian untuk terlibat dalam dialog yang tulus, langsung, dan penuh hormat.

 

Dari Kanak Yesus di Betlehem, kita memohonkan perdamaian dan penghiburan bagi para korban semua perang yang terjadi di dunia saat ini, terutama mereka yang terlupakan, dan mereka yang menderita akibat ketidakadilan, ketidakstabilan politik, penganiayaan agama, dan terorisme. Secara khusus saya mengingat saudara-saudari kita di Sudan, Sudan Selatan, Mali, Burkina Faso, dan Republik Demokratik Kongo.

 

Di hari-hari terakhir Yubileum Pengharapan ini, marilah kita mendoakan kepada Allah yang menjelma menjadi manusia rakyat Haiti yang terkasih, agar segala bentuk kekerasan di negara itu terhenti serta dapat tercapai kemajuan di jalan perdamaian dan rekonsiliasi.

 

Semoga Kanak Yesus menginspirasi mereka yang memegang tanggung jawab politik di Amerika Latin, sehingga, dalam menghadapi berbagai tantangan, ruang dialog demi kebaikan bersama dapat diberikan, alih-alih prasangka ideologis dan terhadap pihak tertentu.

 

Marilah kita memohon kepada Sang Raja Damai untuk menerangi Myanmar dengan cahaya masa depan rekonsiliasi, memulihkan pengharapan bagi generasi muda, membimbing seluruh rakyatnya di jalan perdamaian, dan menemani mereka yang hidup tanpa tempat berlindung, keamanan, atau keyakinan akan hari esok.

 

Kita memohon kepada Tuhan agar persahabatan yang telah terjalin lama antara Thailand dan Kamboja dipulihkan, dan agar pihak-pihak yang terlibat terus berupaya menuju rekonsiliasi dan perdamaian.

 

Kita juga mempercayakan kepada Allah rakyat Asia Selatan dan Oseania, yang telah mengalami cobaan berat akibat bencana alam dahsyat baru-baru ini yang telah menimpa seluruh komunitas. Dalam menghadapi coba seperti itu, saya mengajak semua orang untuk memperbarui, dengan keyakinan sepenuh hati, komitmen bersama kita untuk membantu mereka yang menderita.

 

Saudara-saudari terkasih, dalam kegelapan malam, “terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia” (Yoh 1:9), tetapi “orang-orang milik-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh 1:11). Janganlah kita membiarkan diri kita dikalahkan oleh ketidakpedulian terhadap mereka yang menderita, karena Allah tidak acuh terhadap kesukaran kita.

 

Dengan menjadi manusia, Yesus memikul kerapuhan kita, mengidentifikasi diri-Nya dengan kita masing-masing: dengan mereka yang tidak memiliki apa pun lagi dan telah kehilangan segalanya, seperti penduduk Gaza; dengan mereka yang menjadi mangsa kelaparan dan kemiskinan, seperti rakyat Yaman; dengan mereka yang melarikan diri dari tanah air mereka untuk mencari masa depan di tempat lain, seperti banyak pengungsi dan migran yang menyeberangi Laut Mediterania atau melintasi benua Amerika; dengan mereka yang telah kehilangan pekerjaan dan mereka yang sedang mencari pekerjaan, seperti begitu banyak anak muda yang berjuang untuk mendapatkan pekerjaan; dengan mereka yang dieksploitasi, seperti banyak pekerja yang dibayar rendah; dengan mereka yang berada di penjara, yang sering hidup dalam kondisi yang tidak manusiawi.

 

Seruan perdamaian yang bergema dari setiap negeri mencapai hati Allah, sebagaimana ditulis oleh seorang penyair:

 

Bukan kedamaian gencatan senjata, bahkan bukan visi serigala dan domba, melainkan seperti di dalam hati ketika kegembiraan telah berakhir dan kamu hanya dapat berbicara tentang kelelahan yang hebat… Biarlah itu datang seperti bunga liar, tiba-tiba, karena ladang harus memilikinya: kedamaian liar.[1]

 

Pada hari suci ini, marilah kita membuka hati kita bagi saudara-saudari kita yang membutuhkan atau menderita. Dengan demikian, kita membuka hati kita kepada Kanak Yesus, yang menyambut kita dengan tangan terbuka dan menyatakan keilahian-Nya kepada kita: “Namun, semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya hak supaya menjadi anak-anak Allah” (Yoh 1:12).

 

Dalam beberapa hari lagi, Tahun Yubileum akan berakhir. Pintu-pintu Suci akan ditutup, tetapi Kristus, pengharapan kita, senantiasa tetap bersama kita! Dialah Pintu yang senantiasa terbuka, menuntun kita ke dalam kehidupan ilahi. Inilah maklumat sukacita hari ini: Anak yang lahir adalah Allah yang menjadi manusia; Ia datang bukan untuk menghukum tetapi untuk menyelamatkan; kedatangan-Nya bukanlah tampilan sekilas, karena Ia datang untuk tinggal dan memberikan diri-Nya. Dalam Dia, setiap luka disembuhkan dan setiap hati menemukan kedamaian dan ketenangan. “Kelahiran Tuhan adalah kelahiran damai sejahtera.”

 

Kepada kamu semua, dengan tulus saya mengucapkan selamat Natal yang penuh kedamaian dan kudus!

_______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 25 Desember 2025)



[1]Y. Amichai, “Kedamaian Liar”, dalam Puisi Yehuda Amichai, Farrar, Straus dan Giroux, 2015.

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 21 Desember 2025

Saudara-saudari terkasih, selamat siang!

 

Hari ini, pada Minggu Adven IV, liturgi mengajak kita untuk merenungkan sosok Santo Yusuf. Secara khusus, kita melihatnya pada saat Allah mengungkapkan perutusannya dalam sebuah mimpi (bdk. Mat 1:18-24). Dengan demikian, disajikan sebuah kisah sejarah keselamatan yang sangat indah, di mana tokoh utamanya, seperti kita, adalah manusia yang rapuh dan mudah berbuat kesalahan, namun pada saat yang sama berani dan kuat imannya.

 

Penginjil Matius menyebutnya sebagai "seorang yang benar" (bdk. 1:19), yang menggambarkannya sebagai orang Israel yang saleh yang menaati Hukum Taurat dan melayani rumah ibadah. Namun, di samping itu, Yusuf dari Nazaret juga tampak sebagai seorang yang sangat peka dan manusiawi.

 

Kita melihat teladan ini bahkan sebelum malaikat mengungkapkan kepadanya misteri yang terjadi pada Maria. Ketika Yusuf dihadapkan pada situasi yang sulit dipahami dan diterima, sehubungan dengan calon istrinya, ia tidak memilih jalan skandal dan kecaman publik, tetapi jalan yang bijaksana dan penuh kebaikan berupa penolakan secara diam-diam (bdk. Mat 1:19). Dengan cara ini, ia menunjukkan bahwa ia memahami makna terdalam dari ketaatan keagamaannya: makna belas kasihan.

 

Namun, kemurnian dan kemuliaan kepekaan perasaannya menjadi lebih jelas ketika Tuhan, dalam mimpi, mengungkapkan rencana keselamatan-Nya kepadanya, menunjukkan peran tak terduga yang harus ia emban sebagai suami dari Bunda Perawan Mesias. Di sini, sesungguhnya, dengan tindakan iman yang besar, Yusuf bahkan meninggalkan usaha terakhir demi keamanannya dan berlayar menuju masa depan yang kini sepenuhnya berada di tangan Allah. Santo Agustinus menggambarkan persetujuannya dengan cara ini: “Melalui kesalehan dan amal kasih Yusuf, seorang putra lahir dari Perawan Maria, dan dialah Putra Allah” (Khotbah 51: 20, 30).

 

Kesalehan dan amal kasih, belas kasihan dan penyerahan diri: inilah kebajikan-kebajikan dari laki-laki asal Nazaret yang ditunjukkan oleh liturgi hari ini, supaya dapat menyertai kita di hari-hari terakhir Masa Adven, menuju Natal. Ini adalah sikap penting yang mendidik hati untuk berjumpa Kristus dan saudara-saudari kita. Sikap ini juga dapat membantu kita untuk menjadi, bagi satu sama lain, palungan yang menyambut, rumah yang ramah, tanda kehadiran Allah. Di masa rahmat ini, janganlah kita menyia-nyiakan kesempatan untuk mempraktikkannya: mengampuni, memberi semangat, memberi sedikit pengharapan kepada mereka yang hidup bersama kita dan mereka yang kita temui; dan memperbarui dalam doa penyerahan diri kita sebagai anak kepada Tuhan dan pemeliharaan-Nya, mempercayakan segala sesuatu kepada-Nya dengan penuh keyakinan.

 

Semoga kita mendapat pertolongan dari Perawan Maria dan Santo Yusuf, yang dengan iman dan kasih yang besar, adalah orang-orang pertama yang menyambut Yesus, sang Juruselamat dunia.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya menyapa kamu semua dengan penuh kasih sayang – umat Roma dan para peziarah dari Italia dan bagian dunia lainnya. Secara khusus, saya menyapa mereka yang telah melakukan perjalanan dari Jumilla, Spanyol, dan kelompok guru dari Our Lady College, Hong Kong. Saya juga menyapa umat dari Chieti Scalo dan Voghera, serta para guru dan siswa dari Sekolah Menengah Banzi Bazoli, Lecce dan anggota “Fondazione Agostiniani nel Mondo” pada kesempatan peringatan hari jadi mereka.

 

Hari ini, saya menyapa secara khusus anak-anak dan kaum muda Roma! Sahabat-sahabat terkasih, kamu datang bersama keluarga dan para katekis untuk pemberkatan patung Kanak Yesus, yang akan kamu tempatkan di palungan rumah, sekolah, dan pusat komunitas parokimu. Saya berterima kasih kepada Pusat Oratorium Roma atas penyelenggaraan acara ini, dan saya dengan tulus memberkati semua “bambinelli.” Anak-anak terkasih, saat kamu berdiri di depan adegan kelahiran Yesus, mohon mendoakan juga ujud Paus kepada Yesus. Secara khusus, marilah kita berdoa bersama agar semua anak di dunia dapat hidup dalam damai. Saya berterima kasih dari lubuk hati saya!

 

Dan bersama dengan “bambinelli” dan semua ungkapan iman kita kepada Kanak Yesus, semoga Bapa, Putra, dan Roh Kudus selalu memberkati kamu semua.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu dan Natal yang kudus dan penuh kedamaian kepada kamu semua!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 22 Desember 2025)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 17 Desember 2025 : YESUS KRISTUS PENGHARAPAN KITA. 4. KEBANGKITAN KRISTUS DAN TANTANGAN DUNIA MASA KINI 8. PASKAH PASKAH SEBAGAI TEMPAT PERLINDUNGAN BAGI HATI YANG GELISAH

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Kehidupan manusia ditandai dengan gerakan terus menerus yang mendorong kita berbuat, bertindak. Dewasa ini, kecepatan dibutuhkan di mana-mana untuk mencapai hasil optimal di berbagai bidang. Bagaimana kebangkitan Yesus menerangi aspek pengalaman kita ini? Ketika kita turut serta dalam kemenangan-Nya atas kematian, akankah kita mendapat kelegaan? Iman memberitahu kita: ya, kita akan mendapat kelegaan. Kita tidak akan pasif, tetapi kita akan memasuki ketenangan Allah, yaitu kedamaian dan sukacita. Jadi, haruskah kita hanya menunggu, atau dapatkah ini mengubah kita sekarang juga?

 

Kita terserap oleh banyak aktivitas yang tidak selalu membuat kita puas. Banyak tindakan kita berkaitan dengan hal-hal praktis dan nyata. Kita harus memikul tanggung jawab atas banyak komitmen, memecahkan masalah, menghadapi kesulitan. Yesus pun terlibat dengan orang-orang dan kehidupan, tidak menyia-nyiakan diri-Nya, melainkan memberikan diri-Nya sampai akhir. Namun kita sering merasakan bagaimana terlalu banyak melakukan sesuatu, alih-alih memberi kita kepuasan, malah menjadi pusaran yang membuat kita kewalahan, menyingkirkan ketenangan kita, dan mencegah kita untuk menjalani sepenuhnya apa yang benar-benar penting dalam hidup kita. Kita kemudian merasa lelah dan tidak puas: waktu seolah terbuang untuk seribu hal praktis yang, bagaimanapun, tidak menyelesaikan makna utama keberadaan kita. Terkadang, di penghujung hari yang penuh aktivitas, kita merasa hampa. Mengapa? Karena kita bukanlah mesin, kita memiliki "hati"; bahkan, kita dapat mengatakan bahwa kita adalah hati.

 

Hati adalah lambang segenap kemanusiaan kita, penjumlahan pikiran, perasaan, dan keinginan kita, pusat diri kita yang tak terlihat. Penginjil Matius mengajak kita untuk merenungkan pentingnya hati, mengutip ungkapan Yesus yang indah ini: “Sebab, di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:21).

 

Oleh karena itu, harta sejati tersimpan di dalam hati, bukan di brankas duniawi, bukan dalam investasi keuangan besar, yang saat ini melebihi sebelumnya di luar kendali dan terkonsentrasi secara tidak adil dengan harga yang mahal berupa jutaan nyawa manusia dan kehancuran ciptaan Allah.

 

Penting untuk merenungkan aspek-aspek ini, karena dalam banyaknya komitmen yang terus kita hadapi, ada peningkatan risiko penebaran, terkadang keputusasaan, ketidakbermaknaan, bahkan pada orang-orang yang tampaknya sukses. Sebaliknya, menafsirkan hidup dalam terang Paskah, melihatnya bersama Yesus yang bangkit, berarti menemukan akses ke esensi pribadi manusia, ke hati kita: cor inquietum. Dengan kata sifat "gelisah" ini, Santo Agustinus membantu kita memahami kerinduan manusia akan pemenuhan. Kalimat lengkapnya merujuk pada awal Pengakuan-pengakuan, di mana Agustinus menulis: "Tuhan, Engkau telah menciptakan kami untuk diri-Mu sendiri, dan hati kami gelisah sampai beristirahat di dalam Engkau" (I, 1,1).

 

Kegelisahan adalah tanda bahwa hati kita tidak bergerak secara kebetulan, dengan cara yang tidak teratur, tanpa tujuan atau arah, tetapi berorientasi pada tujuan akhirnya, "pulang ke rumah". Pendekatan hati yang autentik tidak berupa memiliki harta benda dunia ini, tetapi mencapai apa yang dapat memenuhinya sepenuhnya; yaitu, kasih Allah, atau lebih tepatnya, Allah yang adalah Kasih. Namun, harta ini hanya dapat ditemukan dengan mengasihi sesama yang kita temui di sepanjang jalan: saudara-saudari sejiwa, yang kehadirannya menggerakkan dan mempertanyakan hati kita, memanggilnya untuk membuka diri dan memberikan dirinya. Sesama kita meminta kita untuk memperlambat langkah, menatap mata mereka, terkadang mengubah rencana kita, bahkan mungkin mengubah arah.

 

Sahabat-sahabat terkasih, inilah rahasia pergerakan hati manusia: kembali ke sumber keberadaannya, menikmati sukacita yang tidak pernah gagal, yang tidak pernah mengecewakan. Tidak seorang pun dapat hidup tanpa makna yang melampaui hal-hal yang sementara, melampaui apa yang berlalu. Hati manusia tidak dapat hidup tanpa pengharapan, tanpa mengetahui bahwa ia diciptakan untuk kelimpahan, bukan untuk kekurangan.

 

Yesus Kristus, dengan penjelmaan, penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya, telah memberi kita landasan yang kokoh untuk pengharapan ini. Hati yang gelisah tidak akan kecewa, jika ia memasuki dinamika kasih yang untuknya ia diciptakan. Tujuannya pasti, kehidupan telah menang, dan di dalam Kristus ia akan terus menang dalam setiap kematian kehidupan sehari-hari. Inilah pengharapan kristiani: marilah kita selalu berterima kasih dan mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memberikannya kepada kita!

 

[Sapaan Khusus]

 

Pagi ini saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, terutama mereka yang datang dari Nigeria, Indonesia, dan Amerika Serikat. Saya berdoa semoga kamu semua, dan keluargamu, dapat mengalami Masa Adven yang terberkati sebagai persiapan untuk kedatangan Yesus yang baru lahir, Putra Allah dan Juruselamat dunia. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese kita tentang tema Yubileum “Yesus Kristus Pengharapan Kita,” hari ini kita merenungkan kebangkitan sebagai landasan kokoh pengharapan kita dalam kehidupan sehari-hari. Dalam masyarakat kita yang serbacepat, kita sering merasa kewalahan oleh tekanan dan harapan akan efisiensi yang lebih besar dan hasil yang optimal. Ketika kita merasa demikian, marilah kita mengingat kata-kata yang baru saja kita dengar dari Injil Matius: “Sebab, di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:21). Harta hati kita bukanlah harta benda dunia ini, bukan pula kemakmuran, kesuksesan, atau prestasi yang mengagumkan! Sesungguhnya, Santo Agustinus menggambarkan hati kita gelisah. Kegelisahan itu bukanlah sembarangan dan tidak teratur; kegelisahan itu berorientasi surga, yang pintunya terbuka bagi kita berkat penjelmaan, penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Jika kita memasuki dinamika kasih dan rahmat-Nya, Ia akan menang di dalam diri kita — bukan hanya pada saat kematian kita, tetapi juga hari ini, saat ini, dan setiap hari setelahnya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 17 Desember 2025)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 14 Desember 2025

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil hari ini membawa kita ke penjara bersama Yohanes Pembaptis, yang dipenjarakan karena pemberitaannya (bdk. Mat 14:3-5). Meskipun demikian, ia tidak kehilangan pengharapan, sehingga menjadi tanda bagi kita bahwa seorang nabi, bahkan meski terbelenggu, tetap memiliki kemampuan untuk menggunakan suaranya dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

 

Dari penjara, Yohanes Pembaptis mendengar “apa yang dikerjakan Kristus” (Mat 11:2), yang berbeda dari yang ia harapkan, sehingga ia menyuruh murid-muridnya untuk bertanya kepada-Nya, “Engkaukah Dia yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (ayat 3). Mereka yang mencari kebenaran dan keadilan, mereka yang merindukan kebebasan dan kedamaian, memiliki pertanyaan tentang Yesus: Apakah Dia benar-benar Mesias, Juruselamat yang dijanjikan Allah melalui para nabi?

 

Yesus menjawab dengan mengarahkan pandangan kita kepada mereka yang dikasihi dan dilayani-Nya, yaitu orang-orang yang paling hina, orang miskin, orang sakit yang berbicara atas nama-Nya. Kristus menyatakan siapa Dia melalui perbuatan-Nya. Dan perbuatan-Nya adalah tanda keselamatan bagi kita semua. Bahkan, melalui perjumpaan dengan Yesus – kehidupan yang sebelumnya kehilangan terang, ucapan, dan rasa, memperoleh kembali makna – orang buta melihat, orang bisu berbicara, orang tuli mendengar. Rupa Allah, yang tampaknya cacat karena kusta, memperoleh kembali keutuhan dan vitalitas. Bahkan orang mati, yang sama sekali tidak bernyawa, kembali hidup (bdk. ayat 5). Inilah Injil Yesus, kabar baik yang diberitakan kepada orang miskin. Dengan demikian, ketika Allah datang ke dunia, hal itu terlihat jelas!

 

Sabda Yesus membebaskan kita dari penjara keputusasaan dan penderitaan. Setiap nubuat menemukan penggenapannya di dalam Dia. Kristuslah yang membuka mata manusia kepada kemuliaan Allah. Ia memberikan suara kepada orang-orang yang tertindas dan kepada mereka yang suaranya telah dibungkam oleh kekerasan dan kebencian. Ia mengalahkan ideologi yang membuat kita tuli terhadap kebenaran. Ia menyembuhkan penyakit yang merusak tubuh.

 

Dengan cara ini, sang Sabda kehidupan menebus kita dari kejahatan, yang menyebabkan hati mati. Karena alasan ini, dalam Masa Adven ini, sebagai murid-murid Tuhan, kita dipanggil untuk menggabungkan penantian kita akan Juruselamat dengan perhatian pada apa yang sedang dilakukan Allah di dunia. Kemudian kita akan dapat mengalami sukacita kebebasan dalam perjumpaan dengan sang Juruselamat kita: “Gaudete in Domino semper – Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan” (Flp 4:4). Undangan ini mengawali Misa Kudus hari ini, Hari Minggu Adven III, yang disebut Hari Minggu Gaudete. Marilah kita bersukacita, karena Yesus adalah pengharapan kita, terutama di masa-masa pencobaan, ketika hidup seolah kehilangan maknanya dan segala sesuatu tampak semakin gelap, kata-kata tak mampu mengungkapkan perasaan kita, dan kita kesulitan memahami orang lain.

 

Semoga Bunda Maria, teladan pengharapan yang teguh, penuh perhatian, dan sukacita, membantu kita meneladan karya Putranya dengan membagikan roti dan Injil kepada kaum miskin.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Kemarin di Jaén, Spanyol, Pastor Emanuele Izquierdo dan lima puluh delapan rekannya dikanonisasi, bersama dengan Pastor Antonio Montañés Chiquero dan enam puluh empat rekannya. Mereka semua dibunuh karena kebencian terhadap iman selama penganiayaan agama dari tahun 1936-1938. Juga kemarin Raymond Cayré, seorang imam, Gérard-Martin Cendrier, dari Ordo Saudara Dina, Roger Vallé, seorang seminaris, Jean Mestre, seorang awam, dan empat puluh enam rekannya dikanonisasi di Paris. Mereka dibunuh karena kebencian terhadap iman pada tahun 1944-1945 selama pendudukan Nazi. Marilah kita memuji Tuhan atas para martir ini, saksi-saksi Injil yang berani, yang dianiaya dan dibunuh karena tetap dekat dengan umat mereka dan setia kepada Gereja!

 

Saya sedang mengikuti dengan keprihatinan mendalam dimulainya kembali pertempuran di bagian timur Republik Demokratik Kongo. Sambil menyatakan kedekatan saya dengan rakyat Republik Demokratik Kongo, saya mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk menghentikan segala bentuk kekerasan dan mengusahakan dialog yang membangun, dengan menghormati proses perdamaian yang sedang berlangsung.

 

Saya menyapa kamu semua dengan penuh kasih sayang, umat Roma dan para peziarah dari Italia dan bagian lain dunia, terutama umat dari Belo Horizonte, Zagreb, Split, dan Kopenhagen, serta umat dari Korea Selatan, Tanzania, dan Slovakia. Saya menyapa kelompok-kelompok dari Mestre, Biancavilla, dan Bussi sul Tirino; mantan siswa Lembaga Mornese Italia, Orkestra Filharmonik Pugliese, Yayasan Oasi Nazareth Corato, kaum muda Oratorium Salesian Alcamo, dan mereka yang sedang mempersiapkan sakramen krisma dari Paroki San Pio da Pietrelcina Roma.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya.

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 14 Desember 2025)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 10 Desember 2025 : YESUS KRISTUS PENGHARAPAN KITA. 4. KEBANGKITAN KRISTUS DAN TANTANGAN DUNIA MASA KINI 7. PASKAH YESUS KRISTUS: JAWABAN AKHIR ATAS PERTANYAAN TENTANG KEMATIAN KITA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi! Selamat datang kepada kamu semua!

 

Misteri kematian selalu menimbulkan pertanyaan mendalam dalam diri manusia. Memang, tampaknya kematian adalah peristiwa yang paling alami dan sekaligus paling tidak alami yang ada. Kematian alami, karena setiap makhluk hidup di bumi akan mati. Kematian tidak alami, karena keinginan akan kehidupan dan keabadian yang kita semua rasakan untuk diri kita sendiri dan untuk orang-orang yang kita cintai membuat kita melihat kematian sebagai hukuman, sebagai sebuah "kontradiksi".

 

Banyak bangsa kuno mengembangkan ritual dan kebiasaan yang terkait dengan pemujaan orang mati, menemani dan mengenang mereka yang melakukan perjalanan menuju misteri tertinggi. Namun, saat ini kita melihat kecenderungan yang berbeda. Kematian tampaknya menjadi semacam tabu, sebuah peristiwa yang harus dihindari; sesuatu yang dibicarakan dengan nada berbisik, menghindari terganggunya kepekaan dan ketenangan kita. Inilah mengapa kita sering menghindari mengunjungi pemakaman, tempat peristirahatan mereka yang telah mendahului kita sambil mereka menunggu kebangkitan.

 

Jadi, apa itu kematian? Apakah kematian benar-benar kata terakhir dalam hidup kita? Hanya manusia yang mengajukan pertanyaan ini kepada diri mereka sendiri, karena hanya mereka yang tahu bahwa mereka harus mati. Tetapi kesadaran akan hal ini tidak menyelamatkan mereka dari kematian; sebaliknya, dalam arti tertentu "membebani" mereka dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Hewan tentu saja menderita, dan mereka menyadari bahwa kematian sudah dekat, tetapi mereka tidak tahu bahwa kematian adalah bagian dari takdir mereka. Mereka tidak mempertanyakan makna, tujuan, dan hasil akhir kehidupan.

 

Mempertimbangkan aspek ini, kita mungkin berpikir bahwa kita adalah makhluk yang paradoks dan tidak bahagia, bukan hanya karena kita mati, tetapi juga karena kita yakin bahwa peristiwa ini akan terjadi, meskipun kita tidak tahu bagaimana atau kapan. Kita mendapati diri kita sadar dan sekaligus tidak berdaya. Di sinilah mungkin asal mula penindasan dan pelarian keberadaan dari pertanyaan tentang kematian.

 

Santo Alfonsus Maria de’ Liguori, dalam karyanya yang terkenal Apparecchio alla morte (Persiapan Menuju Kematian), merenungkan nilai pedagogis kematian, menekankan bahwa kematian dapat menjadi guru kehidupan yang luar biasa. Mengetahui bahwa kematian itu ada, dan terutama merefleksinya, mengajarkan kita untuk memilih apa yang benar-benar ingin kita wujudkan dari keberadaan kita. Berdoa, untuk memahami apa yang bermanfaat dalam pandangan kerajaan surga, dan melepaskan hal-hal yang berlebihan yang justru mengikat kita pada hal-hal yang fana, adalah rahasia untuk hidup secara otentik, dalam kesadaran bahwa perjalanan kita di bumi mempersiapkan kita untuk keabadian.

 

Namun banyak pandangan antropologis saat ini menjanjikan keabadian imanen, meneorikan perpanjangan kehidupan duniawi melalui teknologi. Inilah skenario transhumanisme, yang sedang memasuki cakrawala tantangan zaman kita. Mungkinkah kematian benar-benar dikalahkan oleh sains? Tetapi kemudian, dapatkah sains itu sendiri menjamin kita bahwa kehidupan tanpa kematian juga merupakan kehidupan yang bahagia?

 

Peristiwa kebangkitan Kristus mengungkapkan kepada kita bahwa kematian bukanlah lawan dari kehidupan, melainkan bagian yang membentuknya, sebagai jalan menuju kehidupan abadi. Paskah Yesus memberi kita gambaran awal, di masa yang masih penuh penderitaan dan pencobaan ini, tentang kepenuhan apa yang akan terjadi setelah kematian.

 

Penginjil Lukas tampaknya memahami pertanda terang di tengah kegelapan ini ketika, pada akhir petang itu ketika kegelapan menyelimuti Kalvari, ia menulis: “Hari itu Hari Persiapan dan Sabat hampir mulai” (Luk 23:54). Terang ini, yang mengantisipasi fajar Paskah, sudah bersinar di tengah kegelapan langit, yang masih tampak mendung dan sunyi. Terang Sabat, pertama dan terakhir kalinya, menandai fajar hari setelah Sabat: terang baru kebangkitan. Hanya peristiwa inilah yang mampu menerangi misteri kematian sepenuhnya. Dalam terang inilah, dan hanya dalam terang inilah, apa yang diinginkan dan diharapkan hati kita menjadi kenyataan: bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan jalan menuju terang yang sempurna, menuju keabadian yang bahagia.

 

Yesus yang bangkit telah mendahului kita dalam pencobaan besar kematian, muncul sebagai pemenang berkat kuasa kasih ilahi. Dengan demikian, Ia telah mempersiapkan bagi kita tempat peristirahatan abadi, rumah tempat kita dinantikan; Ia telah memberi kita kepenuhan hidup di mana tidak ada lagi bayangan dan pertentangan.

 

Berkat Dia, yang mati dan bangkit kembali karena kasih, bersama Santo Fransiskus kita dapat menyebut kematian sebagai "saudari" kita. Menantikannya dengan pengharapan pasti akan kebangkitan melindungi kita dari rasa takut akan lenyap selamanya dan mempersiapkan kita untuk sukacita hidup tanpa akhir.

 

[Imbauan]

 

Saya sangat sedih mendengar berita tentang konflik yang kembali berkobar di sepanjang perbatasan antara Thailand dan Kamboja, yang telah merenggut nyawa warga sipil dan memaksa ribuan orang mengungsi dari rumah mereka. Saya menyampaikan simpati saya dalam doa untuk rakyat yang terkasih ini, dan saya mengimbau pihak-pihak yang bertikai untuk segera menghentikan tembakan dan melanjutkan dialog.

 

[Sapaan Khusus]

 

Pagi ini saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, terutama mereka yang datang dari Inggris, Wales, Malta, Uganda, Australia, Jepang, Malaysia, Singapura, dan Amerika Serikat. Saya berdoa semoga kamu semua, dan keluargamu, dapat mengalami Adven yang penuh berkat sebagai persiapan untuk kedatangan Yesus yang baru lahir, Putra Allah dan Juruselamat dunia. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese hari ini, kita melanjutkan refleksi kita tentang tema Yubileum “Yesus Kristus Pengharapan Kita,” dengan mempertimbangkan kematian dalam terang kebangkitan. Sebagai manusia, kita menyadari bahwa hidup kita di bumi ini suatu hari nanti akan berakhir. Budaya kita saat ini cenderung takut akan kematian dan berusaha menghindari memikirkannya, bahkan beralih ke pengobatan dan sains untuk mencari keabadian. Bacaan Injil yang telah kita dengar mengajak kita untuk menantikan fajar kebangkitan. Yesus telah beralih dari kematian menuju kehidupan sebagai buah sulung dari ciptaan baru. Terang kemenangan-Nya menerangi kefanaan kita, mengingatkan kita bahwa kematian bukanlah akhir, tetapi peralihan dari kehidupan ini menuju keabadian. Karena itu, kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan saat persiapan. Saat persiapan adalah undangan untuk memeriksa hidup kita dan hidup sedemikian rupa sehingga suatu hari nanti kita dapat ambil bagian bukan hanya dalam kematian Kristus, tetapi juga dalam sukacita hidup abadi.

_____

 

(Peter Suriadi – Bogor, 10 Desember 2025)