Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 10 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Dalam Bacaan Injil hari ini, kita mendengar beberapa kata yang disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya selama Perjamuan Terakhir. Saat Ia mengubah roti dan anggur menjadi ungkapan nyata kasih-Nya, Kristus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku” (Yoh 14:15). Pernyataan ini membebaskan kita dari kesalahpahaman bahwa kita dikasihi karena kita menuruti perintah-perintah, seolah-olah kebenaran kita adalah prasyarat untuk kasih Allah. Sebaliknya, kasih Allah adalah dasar kebenaran kita. Kita benar-benar menuruti perintah-perintah sesuai kehendak Allah ketika kita mengenali kasih-Nya kepada kita, sebagaimana dinyatakan Kristus kepada dunia. Oleh karena itu, kata-kata Yesus adalah undangan untuk menjalin hubungan, bukan pemerasan atau ultimatum yang menimbulkan prasangka.

 

Inilah sebabnya Tuhan memerintahkan kita untuk saling mengasihi sebagaimana Ia telah mengasihi kita (bdk. Yoh 13:34): kasih Yesuslah yang melahirkan kasih di dalam diri kita. Kristus sendiri adalah standar, ukuran kasih sejati: kasih yang setia selamanya, murni dan tanpa syarat. Kasih yang tidak mengenal "tetapi" atau "mungkin"; kasih yang memberi dari dirinya sendiri tanpa berusaha untuk memiliki; kasih yang memberi hidup tanpa mengambil imbalan apa pun. Karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita, kita pun dapat mengasihi, dan ketika kita benar-benar mengasihi Allah, kita benar-benar mengasihi satu sama lain. Itu seperti hidup itu sendiri: sama seperti orang-orang yang telah menerima hidup yang dapat hidup semata, demikian pula, orang-orang yang telah dikasihi yang dapat mengasihi semata. Oleh karena itu, perintah-perintah Tuhan adalah jalan hidup yang menyembuhkan kita dari kasih palsu. Perintah-perintah Tuhan adalah gaya hidup spiritual yang merupakan jalan menuju keselamatan.

 

Justru karena mengasihi kita, Tuhan tidak meninggalkan kita sendirian dalam cobaan hidup; Ia menjanjikan kita seorang Penolong, yaitu Sang Pembela, "Roh kebenaran" (Yoh 14:17). Karunia ini adalah karunia yang "dunia tidak dapat menerima Dia" (idem), selama dunia terus berbuat jahat, menindas orang miskin, mengucilkan orang lemah, dan membunuh orang yang tidak bersalah. Sebaliknya, mereka yang menanggapi kasih Yesus bagi semua orang akan menemukan dalam Roh Kudus sekutu yang tidak akan pernah gagal: “Kamu mengenal Dia,” kata Yesus, “sebab Ia menyertai kamu dan akan tinggal di dalam kamu” (idem). Karena itu, kita dapat memberi kesaksian tentang Allah, yang adalah kasih, selalu dan di mana pun. Kasih bukanlah gagasan pikiran manusiawi, tetapi kenyataan hidup ilahi, yang melaluinya segala sesuatu diciptakan dari ketiadaan dan ditebus dari kematian.

 

Dengan menawarkan kepada kita kasih sejati dan kekal, Yesus berbagi dengan kita jati diri-Nya sebagai Putra yang terkasih: “Aku ada di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (ayat 20). Persekutuan hidup yang menyeluruh ini menyangkal sang Penuduh — musuh sang Penolong, roh yang menentang sang pembela kita. Sesungguhnya, sementara Roh Kudus adalah kuasa kebenaran, Penuduh adalah “bapa pendusta” (Yoh 8:44), yang berusaha untuk mengadu domba manusia dengan Allah dan manusia satu sama lain: kebalikan dari apa yang dilakukan Yesus dengan menyelamatkan kita dari kejahatan dan mempersatukan kita sebagai umat saudara dan saudari di dalam Gereja.

 

Saudara-saudari terkasih, dengan penuh syukur atas karunia ini, marilah kita mempercayakan diri kita kepada perantaraan Perawan Maria, Bunda Kasih Ilahi.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya telah mengetahui dengan keprihatinan mendalam berbagai laporan mengenai meningkatnya kekerasan di wilayah Sahel, khususnya di Chad dan Mali, yang baru-baru ini mengalami serangan teroris. Saya menyampaikan jaminan ketulusan doa saya untuk para korban dan kedekatan rohani saya kepada semua orang yang menderita akibat peristiwa tragis tersebut. Saya sangat berharap agar segala bentuk kekerasan dapat terhenti, dan saya mendorong semua upaya yang bertujuan untuk memupuk perdamaian dan pembangunan di negeri tercinta itu.

 

Setiap tahun, pada tanggal 10 Mei, kita merayakan “Hari Persahabatan Koptik-Katolik”. Saya menyampaikan salam persaudaraan saya kepada Yang Mulia Paus Tawadros II dan meyakinkan seluruh Gereja Koptik terkasih bahwa saya akan mengingat mereka dalam doa. Saya berharap perjalanan persahabatan kita akan membawa kita kepada persatuan yang sempurna di dalam Kristus, yang telah menyebut kita sebagai “sahabat” (bdk. Yoh 15:15).

 

Dan sekarang, dengan hangat saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara!

 

Secara khusus, saya menyapa kelompok “Guardie d’Onore al Sacro Cuore di Gesù,” dari berbagai kota di seluruh Italia serta “Volontari per l’evangelizzazione” yang terhubung dengan keluarga Radio Maria. Dengan hangat saya juga menyapa para sukarelawan dari lembaga “Komen Italia,” yang saya ucapkan terima kasih atas komitmen mereka terhadap pencegahan kanker payudara.

 

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Kepulauan Canary yang, dengan keramahan khas mereka, menyambut kapal pesiar Hondius dan para penumpang yang terinfeksi Hantavirus. Saya berharap dapat bertemu kamu semua bulan depan selama kunjungan saya ke kepulauan tersebut.

 

Hari ini, kita secara khusus mengenang semua ibu. Melalui perantaraan Maria, Bunda Yesus dan Bunda kita sendiri, marilah kita berdoa dengan penuh kasih dan syukur untuk setiap ibu, khususnya mereka yang hidup dalam keadaan yang sangat sulit. Terima kasih! Semoga Allah memberkatimu!

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu yang penuh berkat kepada semuanya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 10 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 6 MEI 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 8. GEREJA, PEZIARAH DALAM SEJARAH MENUJU TANAH AIR SURGAWI

Saudara-saudari, selamat pagi dan selamat datang!


Saat kita berfokus pada bagian dari Bab VII Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Gereja hari ini, marilah kita merefleksikan salah satu ciri khasnya: dimensi eskatologisnya. Gereja, pada kenyataannya, menempuh perjalanan melalui sejarah duniawi ini selalu menuju tujuan akhirnya, yaitu tanah air surgawi. Ini adalah dimensi penting yang, bagaimanapun, sering kita abaikan atau remehkan, karena kita terlalu fokus pada apa yang langsung terlihat dan dinamika yang lebih konkret dari kehidupan komunitas kristiani.

 

Gereja adalah umat Allah yang menempuh perjalanan sejarah, yang menjadikan Kerajaan Allah sebagai tujuan dari semua tindakannya (bdk. LG, 9). Yesus mengawali Gereja justru dengan mewartakan Kerajaan kasih, keadilan, dan perdamaian ini (bdk. LG, 5). Karena itu, kita dipanggil untuk memikirkan komunitas dan dimensi kosmik keselamatan dalam Kristus dan mengarahkan pandangan kita ke cakrawala akhir ini, mengukur dan mengevaluasi segala sesuatu dari sudut pandang ini.

 

Dalam sejarah Gereja hidup dalam pelayanan kedatangan Kerajaan Allah di dunia. Ia mewartakan sabda janji ini kepada semua orang dan selalu; ia menerima perjanjian itu dalam perayaan sakramen-sakramen, khususnya Ekaristi; ia mempraktikkan logikanya dan mengalaminya dalam hubungan kasih dan pelayanan. Lebih jauh lagi, ia tahu bahwa ia adalah tempat dan sarana di mana persatuan dengan Kristus diwujudkan "lebih erat" (LG, 48), sementara pada saat yang sama mengakui bahwa keselamatan dapat diberikan oleh Allah dalam Roh Kudus bahkan di luar batas-batasnya yang terlihat.

 

Berkaitan dengan hal ini, Konstitusi Lumen Gentium membuat pernyataan penting: Gereja adalah “sakramen keselamatan bagi semua orang” (LG, 48), yaitu, tanda dan sarana kepenuhan hidup dan kedamaian yang dipromosikan oleh Allah. Ini berarti Gereja tidak sepenuhnya mengidentifikasi diri dengan Kerajaan Allah, tetapi merupakan benih dan permulaannya, karena penggenapannya akan diberikan kepada umat manusia dan kosmos hanya pada akhirnya. Oleh karena itu, orang-orang percaya kepada Kristus menjalani sejarah duniawi ini, yang ditandai dengan pematangan kebaikan tetapi juga dengan ketidakadilan dan penderitaan, tanpa tertipu atau putus asa; mereka hidup dipandu oleh janji yang diterima dari Dia yang akan “menjadikan segala sesuatu baru” (Why. 21:5). Karena itu, Gereja mewujudkan misinya di antara “sudah” permulaan Kerajaan Allah dalam diri Yesus, dan “belum” penggenapan yang dijanjikan dan dinantikan. Sebagai penjaga pengharapan yang menerangi jalan, ia juga diberi misi untuk berbicara dengan jelas menolak segala sesuatu yang mematikan kehidupan dan menghambat perkembangannya, serta mengambil posisi yang mendukung kaum miskin, kaum yang dieksploitasi, korban kekerasan dan perang, dan semua orang yang menderita jasmani dan rohani (bdk. Kompendium Ajaran Sosial Gereja, no. 159).

 

Sebagai tanda dan sakramen Kerajaan Allah, Gereja adalah umat Allah yang berziarah di bumi yang, dengan mengacu pada janji terakhir, membaca dan menafsirkan dinamika sejarah melalui Injil, mengecam kejahatan dalam segala bentuknya dan mewartakan, dalam perkataan dan perbuatan, keselamatan yang ingin Kristus wujudkan bagi seluruh umat manusia dan Kerajaan-Nya yang adil, penuh kasih, dan damai. Oleh karena itu, Gereja tidak mewartakan dirinya sendiri; sebaliknya, segala sesuatu di dalamnya harus mengarah pada keselamatan di dalam Kristus.

 

Dari sudut pandang ini, Gereja dipanggil untuk dengan rendah hati mengakui kerapuhan dan kefanaan manusiawi dari lembaga-lembaganya sendiri yang, meskipun melayani Kerajaan Allah, menanggung citra dunia yang fana ini (bdk. LG, 48). Tidak ada lembaga gerejawi yang dapat diperlakukan mutlak; sesungguhnya, karena mereka ada dalam sejarah dan waktu, mereka dipanggil untuk terus menerus bertobat, memperbarui bentuk dan mereformasi struktur, terus menerus meregenerasi hubungan, sehingga mereka benar-benar dapat memenuhi misi mereka.

 

Dalam cakrawala Kerajaan Allah, kita juga harus memahami hubungan antara umat Kristiani yang menjalankan misi mereka saat ini, dan mereka yang telah menyelesaikan kehidupan duniawi mereka dan berada dalam keadaan penyucian atau kebahagiaan. Lumen Gentium, pada kenyataannya, menegaskan bahwa semua umat kristiani membentuk satu Gereja, ada persekutuan dan pembagian barang rohani yang didasarkan pada persatuan dengan Kristus dari semua orang percaya, sebuah fraterna sollicitudo antara Gereja duniawi dan Gereja surgawi: persekutuan orang-orang kudus yang dialami khususnya dalam liturgi (bdk. LG, 49-51). Dengan mendoakan orang-orang yang telah meninggal dan mengikuti jejak mereka yang telah hidup sebagai murid Yesus, kita pun dikuatkan dalam perjalanan kita dan memperkuat penyembahan kita kepada Allah: ditandai oleh satu Roh dan dipersatukan dalam satu liturgi, bersama dengan mereka yang telah mendahului kita dalam iman, kita memuji dan memuliakan Tritunggal Mahakudus.

 

Marilah kita bersyukur kepada para Bapa Konsili karena telah mengingatkan kita akan aspek terpenting dan terindah sebagai seorang kristiani, dan semoga kita berusaha untuk mengembangkannya dalam hidup kita.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Belgia, Belanda, Finlandia, Ghana, Uganda, Selandia Baru, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Kanada, dan Amerika Serikat. Secara khusus saya menyapa para dosen dan mahasiswa dari Universitas Florida, Saint Mary’s College, dan Christendom College, serta semua yang berpartisipasi dalam Konferensi Kecerdasan Buatan di Universitas Gregorian. Atas kamu semua, dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan kedamaian Yesus yang telah bangkit! Semoga Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]


Saudara-saudari terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang Lumen Gentium, kita berfokus pada dimensi eskatologis Gereja. Sebagai “sakramen keselamatan bagi semua orang,” Gereja adalah tanda dan sarana kepenuhan janji Allah. Sebagai umat Allah yang berziarah, Gereja menafsirkan sejarah melalui lensa Injil dan berbicara dengan tegas menentang segala kejahatan. Pada saat yang sama, Gereja mengakui perlunya pertobatan terus-menerus agar dapat memenuhi misinya dengan benar. Sebagai anggota Tubuh yang sama, kita pun dipanggil untuk pembaharuan. Kita melakukan ini dengan tetap berada dalam persekutuan dengan Kristus dan satu sama lain. Seluruh Gereja paling erat bersatu dalam pujian kita kepada Allah dalam liturgi. Di sana kita berdoa untuk umat beriman yang telah meninggal dan meminta para Santo untuk menjadi pengantarakita agar kita semua dapat menerima kepenuhan janji-janji Allah dalam Kerajaan Surga.
____

(Peter Suriadi - Bogor, 6 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 3 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Selama Masa Paskah, sebagaimana Gereja perdana, kita kembali kepada perkataan Yesus, yang mengungkapkan makna penuhnya dalam terang penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Apa yang pernah luput dari perhatian para murid atau menyebabkan mereka menderita kini kembali terlintas dalam pikiran mereka, menghangatkan hati mereka, dan memenuhi mereka dengan pengharapan.

 

Bacaan Injil yang diwartakan hari Minggu ini menyajikan dialog Sang Guru dengan murid-murid-Nya selama Perjamuan Terakhir. Secara khusus, kita mendengar sebuah janji yang melibatkan kita sejak saat ini dalam misteri kebangkitan-Nya. Yesus berkata, “Apabila Aku telah pergi dan menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat Aku berada, kamu pun berada” (Yoh 14:3). Dengan demikian, para Rasul menemukan bahwa Allah menyediakan tempat bagi setiap orang. Dua orang dari mereka telah mengalami hal ini selama perjumpaan pertama mereka dengan Yesus di tepi Sungai Yordan. Yesus memperhatikan mereka yang mengikuti-Nya dan mengundang mereka senja itu untuk mengunjungi tempat tinggal-Nya (bdk. Yoh 1:39). Bahkan sekarang, dihadapkan dengan kematian, Yesus berbicara tentang sebuah rumah, tetapi kali ini rumah yang sangat besar. Rumah tersebut adalah rumah Bapa-Nya dan Bapa kita, di sana ada ruang untuk semua orang. Sang Putra menggambarkan diri-Nya sebagai hamba yang menyiapkan ruang, sehingga setiap saudara atau saudari, ketika tiba, dapat menemukan ruang mereka sendiri yang sudah siap dan merasa seolah-olah mereka selalu dirindukan dan akhirnya ditemukan.

 

Saudara-saudara terkasih, di dunia lama tempat kita masih menjalani perjalanan ini, yang menarik perhatian adalah tempat-tempat eksklusif, pengalaman yang hanya dapat diakses oleh sedikit orang, dan hak istimewa untuk memasuki tempat yang tidak dapat diakses orang lain. Namun, di dunia baru tempat Yesus yang bangkit menuntun kita, apa yang paling berharga berada dalam jangkauan setiap orang. Namun ini tidak membuatnya kurang menarik. Sebaliknya, apa yang terbuka untuk semua orang sekarang membawa sukacita. Rasa syukur menggantikan persaingan; sambutan mengatasi pengucilan; dan kelimpahan tidak lagi menimbulkan kesenjangan. Terutama, tidak ada seorang pun yang disalahartikan sebagai orang lain, dan tidak ada seorang pun yang hilang. Kematian mengancam untuk menghapus nama dan ingatan seseorang, tetapi di dalam Allah setiap orang sepenuhnya menjadi dirinya sendiri. Sesungguhnya, inilah yang kita cari sepanjang hidup kita, terkadang rela melakukan apa saja hanya untuk mendapatkan sedikit perhatian dan pengakuan.

 

“Percayalah,” kata Yesus kepada kita. Itulah rahasianya! “Percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku” (Yoh 14:1). Justru percaya inilah yang membebaskan hati kita dari kecemasan akan kepemilikan dan perolehan, dan dari khayalan bahwa kita harus mengejar posisi bergengsi untuk memiliki nilai. Setiap orang sudah memiliki nilai yang tak terbatas dalam misteri Allah, yang merupakan kenyataan yang sesungguhnya. Dengan saling mengasihi seperti Yesus telah mengasihi kita, kita menyampaikan kesadaran ini kepada satu sama lain. Inilah perintah baru; dengan cara ini, kita mengantisipasi surga di bumi dan mengungkapkan kepada semua orang bahwa persaudaraan dan perdamaian adalah panggilan kita. Sesungguhnya, melalui kasih, di tengah banyak saudara dan saudari, setiap orang menemukan bahwa mereka diciptakan secara unik.

 

Oleh karena itu, marilah kita berdoa kepada Santa Maria, Bunda Gereja, agar setiap komunitas kristiani menjadi rumah yang terbuka bagi semua orang dan memperhatikan setiap orang.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Bulan Mei telah dimulai: di seluruh Gereja, sukacita berkumpul dalam nama Maria, Bunda kita, diperbarui, terutama dengan berdoa Rosario bersama. Kita menghidupkan kembali pengalaman hari-hari di antara kenaikan Yesus dan Pentakosta, ketika para murid berkumpul di ruang atas untuk memohon Roh Kudus. Santa Maria tetap berada di tengah-tengah mereka, hatinya menjaga api yang menghidupkan doa semua orang. Saya mempercayakan ujud saya kepadamu, khususnya untuk persekutuan di dalam Gereja dan perdamaian dunia.

 

Hari ini merupakan Hari Kebebasan Pers Sedunia, yang dipromosikan oleh UNESCO. Sayangnya, hak ini sering dilanggar — kadang-kadang secara terang-terangan, kadang-kadang secara lebih halus. Marilah kita mengingat banyak jurnalis dan reporter yang telah menjadi korban perang dan kekerasan.

 

Dengan hangat saya menyapa kamu semua — umat Roma dan para peziarah yang datang dari berbagai negara!

 

Saya menyambut para guru — baik rohaniwan maupun awam — dari sekolah-sekolah Hermanas Franciscanas de los Sagrados Corazones, serta umat dari Madrid, Granada, Minneapolis, dan Malaysia; dan warga Peru yang membentuk Lembaga Virgen de Chapi de Arequipa di Roma.

 

Saya menyapa Lembaga Meter, yang selama tiga puluh tahun telah berkomitmen untuk membela anak-anak di bawah umur dari momok pelecehan, sambil melibatkan komunitas gerejani dan sipil serta mempromosikan pendidikan yang bertujuan untuk mendukung korban dan mendorong pencegahan. Terima kasih atas pengabdianmu!

 

Saya senang menyapa umat dari Padua, Gruppo Giovani Valdaso dan Punto Giovani Komunitas Camillian Piossasco, Aksi Katolik Vikariat Noale, kaum muda dari Verolanuova dan Cadignano, paduan suara kaum muda Coredo-Predaia dan para siswa dari Liceo Fardella – Ximenes, Trapani.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 22 APRIL 2026 : PERJALANAN APOSTOLIK KE ALJAZAIR, KAMERUN, ANGOLA, DAN GUINEA KHATULISTIWA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Hari ini saya ingin berbicara tentang perjalanan apostolik yang saya lakukan dari tanggal 13 hingga 23 April, mengunjungi empat negara Afrika: Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa.

 

Sejak awal masa kepausan saya, saya telah memikirkan perjalanan ke Afrika. Saya bersyukur kepada Tuhan karena telah memberi saya kesempatan untuk melaksanakannya, sebagai Gembala, bertemu dan memberi semangat kepada umat Allah; dan juga mengalaminya sebagai pesan perdamaian pada saat dalam sejarah yang ditandai oleh konflik dan pelanggaran hukum internasional yang serius dan sering terjadi. Dan saya menyampaikan terima kasih yang tulus kepada para uskup dan otoritas sipil yang menyambut saya, dan kepada semua orang yang membantu mengatur kunjungan ini.

 

Penyelenggaraan ilahi menentukan perhentian pertama adalah negara tempat situs Santo Agustinus berada, yaitu Aljazair. Dengan demikian, saya mendapati diri saya, di satu sisi, mengunjungi kembali akar jati diri spiritual saya dan, di sisi lain, menyeberangi dan memperkuat jembatan yang sangat penting bagi dunia dan Gereja saat ini: jembatan dengan zaman para Bapa Gereja yang sangat produktif; jembatan dengan dunia Islam; dan jembatan dengan benua Afrika.

 

Di Aljazair, saya menerima sambutan yang tidak hanya penuh hormat tetapi juga hangat, dan kami dapat mengalami secara langsung dan menunjukkan kepada dunia bahwa memungkinkan hidup bersama sebagai saudara dan saudari, bahkan dari agama yang berbeda, ketika kita menyadari diri kita sebagai anak-anak dari satu Bapa yang Maha Pengasih. Lebih jauh lagi, ini adalah kesempatan yang tepat waktu untuk belajar dari teladan Santo Agustinus: melalui pengalaman hidup, tulisan-tulisan, dan spiritualitasnya, ia adalah seorang guru dalam mencari Allah dan kebenaran. Saat ini sebuah kesaksian yang lebih penting dari sebelumnya bagi umat kristiani dan setiap orang.

 

Di tiga negara berikutnya yang saya kunjungi, penduduknya sebagian besar beragama Kristen, dan karena itu saya mendapati diri saya tenggelam dalam suasana perayaan iman dan sambutan hangat, yang juga diperkuat oleh ciri khas rakyat Afrika. Seperti para pendahulu saya, saya pun mengalami sesuatu yang mirip dengan apa yang terjadi pada Yesus di antara orang banyak di Galilea: Ia melihat mereka haus dan lapar akan keadilan, lalu Ia menyatakan kepada mereka: “Berbahagialah orang miskin di hadapan Allah, berbahagialah orang yang lemah lembut, berbahagialah orang yang membawa damai”, dan, setelah mengakui iman mereka, Ia berkata, “Kamu adalah garam dunia dan terang dunia” (bdk. Mat 5:1-16).

 

Kunjungan ke Kamerun memungkinkan saya untuk memperkuat seruan untuk bekerja sama demi rekonsiliasi dan perdamaian, karena negara itu pun, sayangnya, ditandai oleh ketegangan dan kekerasan. Saya senang telah melakukan perjalanan ke Bamenda, di wilayah berbahasa Inggris, di mana saya mendorong orang-orang untuk bekerja sama demi perdamaian. Kamerun dikenal sebagai "miniatur Afrika", karena keragaman dan kekayaan lingkungan alam dan sumber dayanya, tetapi kita juga dapat menafsirkan ungkapan ini sebagai kebutuhan besar seluruh benua yang terdapat di Kamerun: kebutuhan akan distribusi kekayaan yang adil; kebutuhan untuk menyediakan ruang bagi kaum muda, mengatasi korupsi yang endemik, mempromosikan pembangunan menyeluruh dan berkelanjutan, melawan berbagai bentuk kolonialisme baru dengan kerjasama internasional yang berwawasan jauh ke depan. Saya berterima kasih kepada Gereja di Kamerun dan seluruh rakyat Kamerun, yang menyambut saya dengan penuh kasih, dan saya berdoa agar semangat persatuan yang terlihat selama kunjungan saya tetap hidup dan membimbing pilihan dan tindakan di masa depan.

 

Perhentian ketiga perjalanan adalah di Angola, sebuah negara besar di selatan khatulistiwa, dengan tradisi kristiani yang telah berlangsung berabad-abad, terkait dengan penjajahan Portugis. Seperti banyak negara Afrika lainnya, setelah meraih kemerdekaan, Angola mengalami masa sulit, yang ditandai dengan perang saudara yang panjang dan berdarah. Dalam kancah sejarah ini, Allah telah membimbing dan memurnikan Gereja, semakin mengubahnya dalam pelayanan Injil, peningkatan kesejahteraan manusia, rekonsiliasi, dan perdamaian. Gereja yang bebas untuk rakyat yang bebas! Di Tempat Suci Maria Mamã Muxima — yang berarti “Bunda Hati” — saya merasakan detak jantung rakyat Angola. Dan dalam berbagai pertemuan, saya bersukacita melihat begitu banyak para pelaku hidup bakti dari segala usia, sebuah nubuat tentang Kerajaan Surga di tengah-tengah umat mereka; saya melihat para katekis yang sepenuhnya mengabdikan diri untuk kebaikan komunitas; saya melihat wajah-wajah orang tua yang telah lelah karena kerja keras dan penderitaan namun berseri-seri dengan sukacita Injil; Aku melihat perempuan dan laki-laki menari mengikuti irama lagu-lagu pujian kepada Tuhan yang bangkit, dasar dari sebuah pengharapan yang mampu mengatasi kekecewaan yang disebabkan oleh ideologi dan janji-janji kosong dari orang-orang yang berkuasa.

 

Pengharapan ini menuntut komitmen nyata, dan Gereja memiliki tanggung jawab, dengan kesaksian dan pewartaan sabda Allah yang berani, mengakui hak-hak semua orang dan mempromosikan penghormatan nyata terhadap hak-hak tersebut. Dengan otoritas sipil Angola, tetapi juga dengan otoritas negara-negara lain, saya dapat meyakinkan mereka tentang kesediaan Gereja Katolik untuk terus memberikan kontribusi ini, khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan.

 

Negara terakhir yang saya kunjungi adalah Guinea Khatulistiwa, 170 tahun setelah evangelisasi pertamanya. Dengan kearifan tradisi dan terang Kristus, rakyat Guinea telah melewati berbagai cobaan dalam sejarah mereka dan, dalam beberapa hari terakhir, di hadapan Paus, telah memperbarui dengan antusiasme besar tekad mereka untuk berjalan bersama menuju masa depan yang penuh pengharapan.

 

Saya tidak bisa melupakan apa yang terjadi di penjara di Bata, Guinea Khatulistiwa: para tahanan menyanyikan dengan suara lantang sebuah lagu syukur kepada Allah dan Paus, memohon agar ia berdoa “untuk dosa-dosa dan kebebasan mereka”. Saya belum pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. Dan kemudian mereka berdoa “Bapa Kami” bersama saya di tengah hujan deras. Sebuah tanda nyata Kerajaan Allah! Dan masih di tengah hujan, pertemuan besar dengan kaum muda dimulai di stadion di Bata. Sebuah perayaan sukacita kristiani, dengan kesaksian yang mengharukan dari kaum muda yang telah menemukan dalam Injil jalan menuju pertumbuhan yang bebas dan bertanggung jawab. Perayaan ini mencapai puncaknya dalam perayaan Ekaristi pada hari berikutnya, yang dengan tepat mengakhiri kunjungan ke Guinea Khatulistiwa, serta seluruh perjalanan apostolik.

 

Saudara-saudari terkasih, kunjungan Paus ini, bagi bangsa Afrika, adalah kesempatan untuk menyuarakan pendapat mereka, mengungkapkan sukacita menjadi umat Allah dan pengharapan akan masa depan yang lebih baik, martabat bagi setiap orang. Saya senang telah memberi mereka kesempatan ini, dan pada saat yang sama saya bersyukur kepada Tuhan atas apa yang telah mereka berikan kepada saya, sebuah harta yang tak ternilai bagi hati dan pelayanan saya.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Irlandia, Malta, Norwegia, Nigeria, India, Filipina, Trinidad dan Tobago, dan Amerika Serikat. Kepada kamu semua, dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Yesus yang telah bangkit! Semoga Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, hari ini saya ingin berbicara tentang perjalanan apostolik saya baru-baru ini ke empat negara: Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa. Saya telah berkeinginan untuk memulai perjalanan ini sejak awal masa kepausan saya, dan sekarang saya menyampaikan rasa syukur yang tulus kepada Tuhan karena telah memberi saya kesempatan untuk bertemu dengan umat Allah di Afrika dan meneguhkan iman mereka sebagai Penerus Santo Petrus. Waktu saya di sana dimaksudkan untuk menyampaikan pesan perdamaian kepada dunia pada saat yang ditandai oleh konflik dan pelanggaran hukum internasional yang sering terjadi. Bersamaan dengan seruan untuk perdamaian, saya juga mengecam ketidakadilan besar yang ada di negara-negara yang kaya akan sumber daya alam tersebut, mendesak komunitas internasional untuk mengatasi sikap kolonialisme baru dan terlibat dalam kerjasama yang autentik. Pada saat yang sama, Perjalanan apostolik memberi rakyat Afrika kesempatan untuk menyampaikan suara mereka dan mengungkapkan sukacita menjadi umat Allah. Dalam hal ini, saya mengucap syukur kepada Tuhan atas apa yang telah mereka berikan kepada saya: anugerah iman, pengharapan, dan kasih yang tak terukur, yang telah sangat memperkaya hidup dan pelayanan saya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 29 April 2026)