Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 18 Oktober 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil dalam liturgi hari ini (Mat 22:15-21) menyajikan salah satu perkataan Yesus yang paling terkenal: “Berikanlah milik kaisar kepada kaisar dan milik Allah kepada Allah” (bdk. ayat 21). Oleh karena itu, memikirkan kata-kata ini dalam konteks saat perkataan tersebut pertama kali diucapkan penting.

 

Penginjil Matius menggambarkan situasi permusuhan terhadap Yesus: orang-orang Farisi berkumpul untuk mencari cara menjerat Yesus dalam perkataan-Nya (bdk. ay. 15). Mereka memutuskan untuk menyuruh beberapa orang guna menanyakan suatu persoalan kontroversial kepada-Nya: “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” (ayat 17). Tanggapan Sang Guru sangat cerdik; Ia berhasil menghindari jeratan tersebut sekaligus menyingkapkan kemunafikan orang-orang yang hendak mencobai-Nya. Ia meminta mereka menunjukkan mata uang yang digunakan untuk membayar pajak, yakni satu dinar. Mereka menyerahkannya kepada-Nya, lalu Yesus bertanya, “Gambar dan nama siapakah ini?” Mereka menjawab, “Gambar dan nama kaisar.” Kemudian Ia menegaskan, “Berikanlah milik kaisar kepada kaisar dan milik Allah kepada Allah” (ay. 17-21).

 

Dalam diri Yesus, kita merenungkan Allah yang tidak takut akan sejarah, melainkan justru hadir untuk tinggal di dalamnya. kerajaan-Nya tidak meniadakan peran dan tanggung jawab manusia. Sebaliknya, kerajaan-Nya memanggil kita untuk hidup tanpa kompromi, bebas dari ambisi egois dan motif yang tidak adil, serta senantiasa mengutamakan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (bdk. Mat 6:33). Dalam konteks ini, menarik untuk dicatat bahwa orang-orang tersebut justru memuji Yesus, meskipun niat mereka jauh dari tulus: “Guru, kami tahu, Engkau orang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut terhadap penilaian orang, sebab Engkau tidak memandang muka” (ayat 16).

 

Saudara-saudari terkasih, inilah tepatnya makna dari “memberikan milik kaisar kepada kaisar dan milik Allah kepada Allah”: yakni bersikap jujur, bebas dari rasa takut yang menghambakan ataupun kemunafikan, serta bebas untuk berbuat baik. Marilah kita berdoa kepada Tuhan agar Ia menolong kita untuk hidup dengan cara seperti ini. Dan marilah kita menyerahkan diri kita dalam perantaraan Santa Perawan Maria.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Hari ini kita merayakan Hari Minggu Misi Sedunia ke-100. Marilah kita memikirkan betapa panjang sejarah misi yang telah terukir selama seratus tahun ini! Marilah kita berdoa agar Gereja senantiasa setia pada amanat Tuhan yang bangkit: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15).

 

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendoakan saya dalam beberapa hari terakhir. Saya sungguh merasakan dukunganmu. Terima kasih!

 

Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih secara khusus kepada para dokter, perawat, dan seluruh staf Rumah Sakit Gemelli.

 

Pengalaman ini membuat saya merasa sangat dekat dengan semua orang yang sedang berjuang melawan penyakit atau kelemahan fisik.

 

Kini, setelah melewati fase yang cukup kritis ini — sebagaimana kamu ketahui — saya akan secara bertahap kembali menjalankan kegiatan saya, senantiasa dengan pertolongan Allah dan doa-doamu.

 

Sekali lagi, terima kasih. Terima kasih kepada kamu semua! Selamat hari Minggu!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 18 Oktober 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 11 Oktober 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Dalam Bacaan Injil hari ini Yesus berbicara tentang perjamuan kawin yang disiapkan oleh seorang raja bagi anak laki-lakinya (bdk. Mat. 22:1–14).

 

Perkawinan seorang anak laki-laki merupakan peristiwa istimewa bagi keluarga mana pun, dan sang ayah yang berbahagia ini ingin berbagi sukacitanya dengan semua orang. Ia menyiapkan perjamuan dan mengundang banyak orang. Santo Thomas Aquinas mengatakan bahwa kebaikan, pada hakikatnya, cenderung menyebar: "Bonum dicitur diffusivum sui" (Summa Theologiae, I, q. 5, a. 4, ad 2). Gambaran dalam kisah ini mengungkapkan gagasan tersebut dalam konteks pengalaman hidup kita. Terjadinya sesuatu yang baik akan menyalakan cahaya yang mendorong kita untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain.

 

Namun, menanggapi undangan yang begitu murah hati tersebut, alih-alih datang ke perjamuan, para tamu justru tidak mengindahkannya dan lebih memilih untuk melanjutkan urusan mereka sendiri. Ada yang merasa kesal, menghina utusan sang raja, bahkan membunuh mereka. Sayangnya, hal ini bisa terjadi juga pada kita, karena kebaikan yang kita tawarkan tidak selalu dipahami, diakui, atau dihargai. Bahkan, terkadang kebaikan itu sengaja disalahartikan dan ditolak. Namun, hal ini tidak boleh mematahkan semangat kita. Saat menghadapi penolakan, sang raja tidak menunda perkawinan atau membatalkan perayaan. Sebaliknya, ia justru memperluas undangannya kepada lebih banyak orang lagi, dengan menyuruh para hambanya pergi ke persimpangan-persimpangan jalan untuk mengundang mereka, agar sukacita kedua mempelai dapat menjadi anugerah bagi semua orang.

 

Pada titik ini, kita dapat bertanya pada diri kita siapa yang dilambangkan oleh tokoh-tokoh utama dalam kisah ini. Santo Hieronimus mengidentifikasi sang raja sebagai Bapa surgawi, mempelai laki-laki sebagai Yesus, dan mempelai perempuan sebagai Gereja (bdk. Ulasan tentang Matius, Buku III, bab 22). Kita pun termasuk dalam tokoh-tokoh utama tersebut; kita dipilih oleh Tuhan untuk ambil bagian dalam kehidupan dengan Dia dan menjadi pembawa kehidupan bersama Dia. Perjamuan kawin itu adalah perjamuan kawin kita, dan ruang perjamuannya adalah gereja dan rumah kita — tempat kita menjalani hidup dan tempat sang Putra Raja, Yesus Kristus, terus menyatakan kasih-Nya kepada kita seraya menantikan jawaban "ya" kita. Di sanalah kita berjumpa Dia; kita dikenakan pakaian layaknya mempelai perempuan — yakni jubah putih pembaptisan — dan dihiasi dengan permata perbuatan baik, yang mendekatkan kita kepada Allah dan satu sama lain.

 

Oleh karena itu, sukacita yang kita wartakan bukanlah sesuatu yang dibuat-buat; sukacita itu mendalam, berwujud, dan nyata. Sukacita itu seindah wajah orang-orang yang kita jumpai. Sukacita itu setulus karya, senyuman, air mata, jabat tangan, dan tindakan kebaikan yang mengisi hari-hari kita. Semua itu anugerah Allah demi keselamatan dunia.

 

Maka, marilah kita memohon kepada Maria, Bunda Tuhan, untuk membantu kita bertumbuh dalam sukacita ini. Bahkan ketika sukacita ini tidak dipahami, marilah kita mewartakannya senantiasa dan di mana saja, dengan kemurahan hati, keberanian, dan iman.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Kemarin, di Mantua, Suster Maria Ignazia Isacchi, pendiri Kongregasi Suster Ursulin Hati Kudus Yesus, dibeatifikasi. Antara akhir abad ke-19 dan dekade-dekade awal abad ke-20, ia membaktikan diri dengan kasih yang penuh keberanian bagi mereka yang berkekurangan dan kurang beruntung. Semoga teladannya membangkitkan kembali dalam diri kita segenap hasrat untuk menjadi saksi kasih Injil bagi semua orang di dunia ini.

 

Perang di Ukraina yang sedang dilanda penderitaan terus menimbulkan dampak yang melampaui batas-batas wilayahnya, terutama di negara-negara termiskin, di mana begitu banyak orang bergantung pada impor biji-bijian. Saya mengimbau dengan sungguh-sungguh para pihak yang bertikai agar mengizinkan pengangkutan biji-bijian yang aman melalui Laut Hitam. Makanan pokok bagi jutaan orang tidak boleh dijadikan sandera oleh perang.

 

Hari ini di Italia diperingati sebagai Hari bagi Korban Kecelakaan Kerja. Saya menyapa Lembaga Nasional Pekerja yang Mengalami Cedera dan Disabilitas Akibat Kerja, serta mendukung upaya-upaya pencegahan.

 

Saya menyapa dengan hangat kamu semua, baik umat Roma maupun para peziarah!

 

Saya menyapa para anggota Hermandad del Señor de los Milagros di Roma dan semua orang yang ambil bagian dalam prosesi dengan ikon Kristus tersalib yang dihormati. Terima kasih atas doa-doamu bagi kunjungan pastoral yang akan saya lakukan ke Peru.

 

Dengan sukacita saya menyapa umat Eparki Katolik Yunani Mukachevo di Ukraina, yang didampingi oleh Uskup mereka; Asociación de fieles Hakuna; las Antiguas Alumnas Jesús Maria España; paduan suara dan sekolah paduan suara Katedral Haarlem di Belanda; serta umat dari Wina.

 

Saya menyapa kaum muda dari Vikariat Chiaravalle di Keuskupan Senigallia; para anggota AIDO dari cabang provinsi Belluno; kelompok Ars Enotria dari Cosenza; serta tim sepak bola putri dari Rumah Sakit Biella.

 

Sahabat-sahabat, dalam beberapa pemeriksaan medis baru-baru ini, para dokter menemukan sebuah pembengkakan kecil yang terlokalisasi di paru-paru saya. Pembengkakan tersebut terdeteksi pada tahap yang sangat dini dan posisinya terlokalisasi dengan baik. Para dokter berpendapat bahwa tindakan medis perlu dilakukan; oleh karena itu, mengikuti saran mereka, saya memutuskan untuk menjalani operasi pengangkatan pembengkakan tersebut. Operasi itu telah dijadwalkan untuk dilaksanakan dalam waktu dekat. Saya berterima kasih atas kedekatan rohani kamu semua dan menyerahkan diri saya dalam doa-doamu.

 

Terima kasih, dan selamat hari Minggu!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 11 Oktober 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 7 OKTOBER 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. IV. KONSTITUSI PASTORAL GAUDIUM ET SPES (GS 40-45). 5. PERUTUSAN GEREJA DALAM DUNIA SEKARANG (BACAAN: MAT 5:13-16)

Saudara-saudari sekalian, selamat pagi dan selamat datang!

 

Melanjutkan refleksi kita mengenai Konstitusi Konsili Vatikan II Gaudium et Spes (GS), hari ini kita akan membahas bab keempat bagian pertama, yang dikhususkan bagi perutusan Gereja dalam dunia sekarang.

 

Pertama, Konsili menegaskan kembali bahwa Gereja tidak berada "di atas" atau "di samping" dunia, melainkan — boleh dikatakan — dicangkokkan ke dalamnya. "Mundus reconciliatus Ecclesia", tulis Santo Agustinus (Khotbah 96): Gereja adalah dunia yang telah didamaikan dengan Allah; kita adalah peziarah di bumi yang turut merasakan kerapuhan sekaligus keindahan dunia ini (bdk. GS, 40).

 

Sebagaimana Putra Allah menjelma untuk menghidupkan dunia dan mendamaikannya dengan Bapa, demikian pula Gereja hadir di tengah dunia sebagai tanda penjelmaan Allah, demi mewujudkan rencana-Nya untuk menjadikan kita semua anak-anak-Nya dalam satu keluarga besar umat manusia. Oleh karena itu, Gereja menempuh perjalanan sejarah di tengah berbagai bangsa dan budaya, dan "keterlibatan dalam kehidupan masyarakat ini membantu Gereja memahami dengan semakin jelas bahwa peranannya memiliki dimensi sejarah serta membawa tanggung jawab atas cara relasi sosial dibangun" (Ensiklik Magnifica Humanitas, 19).

 

Perutusan pertama Gereja adalah membantu orang-orang untuk menaruh perhatian pada pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang kehidupan: pertanyaan mengenai asal-usul dan tujuan akhir kita, serta makna kasih dan penderitaan (bdk. GS, 41). Nalar mengejar keuntungan dengan segala cara dan memanipulasi informasi berisiko memberikan tekanan yang tidak semestinya agar orang mengikuti gaya hidup yang berpusat pada konsumsi barang-barang materi, padahal hati kita diciptakan untuk memandang ke atas.

 

Para Bapa Konsili mengingatkan kita bahwa perutusan Gereja juga terlaksana melalui kontribusi dalam pembangunan kota duniawi. Namun, metode dan tujuannya bukan terutama bersifat politis; melainkan, perutusan tersebut terwujud dalam kesaksian akan iman dan kasih, disertai dengan komitmen terhadap keadilan, perdamaian, dan persaudaraan. Dengan menyembah Kristus — Orang Benar yang wafat bagi orang-orang yang tidak benar — umat beriman tidak dapat menerima penindasan terhadap kaum lemah dan miskin, ataupun struktur-struktur tidak adil yang melanggengkan ketergantungan dan ketidakadilan. Ajaran sosial Gereja menjadi pedoman bagi tindakan umat Kristiani, yang bekerja sama dengan semua orang yang berkehendak baik demi memajukan kesejahteraan bersama. Oleh karena itu, Gereja “tidak memiliki hasrat yang lebih besar selain dapat mengembangkan diri secara bebas — demi kesejahteraan semua orang — di bawah pemerintahan jenis apa pun yang mengakui hak-hak dasar pribadi dan keluarga serta tuntutan kesejahteraan bersama” (GS, 42).

 

Demi melaksanakan perutusan Injil secara efektif, setiap orang yang telah dibaptis perlu berkomitmen untuk bekerja sama dengan rahmat Roh Kudus, agar iman mereka menjadi hidup dan terwujud dalam perilaku yang konsisten. Sesungguhnya, sebagaimana ditegaskan kembali oleh para Bapa Konsili, perceraian antara iman yang diikrarkan dan hidup sehari-hari banyak orang “harus dipandang sebagai suatu kesesatan yang cukup gawat pada zaman sekarang ini” (GS, 43).

 

Gaudium et Spes memberikan perhatian khusus (bdk. GS, 43) pada perutusan kaum awam yang, berkat pembaptisan mereka, dipanggil untuk menghidupkan dunia dengan semangat Kristiani dan visi Injil. Lingkup utama bagi kegiatan ini — yang dapat pula digambarkan sebagai kegiatan yang bersifat imami — tentu saja adalah keluarga dan tempat kerja, namun perutusan ini juga mencakup setiap ranah kehidupan.

 

Akhirnya, Gereja senantiasa memperhatikan apa yang sedang terjadi dan berkembang di tengah masyarakat (bdk. GS, 44). Merupakan tugas seluruh Umat Allah — terutama para gembala dan teolog — untuk melakukan pembedaan roh terhadap hal-hal dalam budaya zaman kita yang patut mendapat perhatian, dengan senantiasa menjadikan Sabda Allah dan Tradisi Gereja sebagai tolok ukur utama dalam pembedaan tersebut. Hal ini menuntut sikap batin yang seimbang dan bebas dari sekadar mengikuti kecenderungan budaya; sikap yang mampu memandang dunia secara positif namun tetap teguh dalam menjaga serta mewartakan pesan Injil secara utuh. Sesungguhnya, “kekristenan tidak akan menjadi menarik dengan cara mengencerkan isinya ataupun melunakkan tuntutannya” (Pidato pada Sidang Pleno Dikasteri untuk Evangelisasi – Bagian tentang Pertanyaan-Pertanyaan Mendasar mengenai Evangelisasi di Dunia, 28 Mei 2026).

 

Saudara-saudari terkasih, dalam perjalanannya melintasi sejarah, “Gereja memiliki satu tujuan tunggal: supaya datanglah Kerajaan Allah dan terwujudlah keselamatan segenap bangsa manusia” (GS, 45). Gereja mengupayakan tujuan ini terutama melalui kekudusan pribadi dan kasih persaudaraan. Santo Paulus VI menulis: “Tanpa tanda kekudusan ini, perkataan kita akan sulit menyentuh hati manusia zaman sekarang. Perkataan itu berisiko menjadi sia-sia dan tidak membuahkan hasil” (Seruan Apostolik Evangelii Nuntiandi, 76). Oleh karena itu, marilah kita membuka diri terhadap karya Roh Kudus, agar Ia memampukan kita hidup dalam kekudusan dan kasih, sehingga dunia dapat percaya dan memiliki pengharapan.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya mereka yang datang dari Inggris, Skotlandia, Irlandia, Uganda, Afrika Selatan, Australia, Selandia Baru, India, Indonesia, Filipina, Sri Lanka, Kanada, dan Amerika Serikat. Atas kamu masing-masing dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, pagi ini kita kembali merefleksikan Gaudium et Spes seraya menyoroti perutusan Gereja dalam dunia sekarang. Sebagaimana Putra Allah menjelma menjadi manusia demi melaksanakan perutusan penebusan-Nya, demikian pula Gereja hadir di dunia sebagai tanda hidup akan rencana Allah untuk mendamaikan dunia dengan diri-Nya. Dengan mencermati tanda-tanda zaman melalui terang Injil, Gereja menjalankan tugas ini dengan membantu orang-orang menjawab pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang kehidupan serta berkontribusi bagi masyarakat melalui kesaksian iman dan kasih. Agar perutusan ini terlaksana secara efektif, Gereja mengandalkan kerja sama setiap orang yang telah dibaptis dengan rahmat Roh Kudus serta upaya mereka dalam mengejar kekudusan. Kaum awam, khususnya, dipanggil untuk menjiwai budaya tempat mereka hidup dengan semangat Kristiani. Dalam panggilan kita untuk membangun Kerajaan Allah, semoga kita memperbarui upaya kita menuju pengudusan diri, keadilan, dan kasih persaudaraan, sehingga menjadi tanda pengharapan bagi semua orang.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 7 Oktober 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 4 Oktober 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Perumpamaan dalam Bacaan Injil yang dibacakan dalam liturgi hari Minggu ini berbicara tentang kehidupan Yesus dan menyingkapkan makna perutusan-Nya (bdk. Mat 21:33-43). Ia adalah Putra Allah yang diutus ke dunia, namun Ia ditolak justru oleh orang-orang yang seharusnya menyambut-Nya dengan tangan terbuka. Ia datang untuk membawa keselamatan justru dihukum; Ia hendak memberikan kehidupan justru dijatuhi hukuman mati. Meskipun hal ini mengajak kita untuk merefleksikan berbagai kekejaman yang melanda dunia dan sejarah umat manusia, ajaran Kristus menyingkapkan kerahiman Bapa-Nya yang jauh lebih besar.

 

Sungguh, penolakan yang disertai kekerasan tidak menggagalkan kehendak Allah; dalam keadilan-Nya yang tak terbatas, Ia mengubah kejahatan menjadi penebusan: "Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru" (Mat 21:42; bdk. Mzm 118:22). Yesus sendiri mengutip kata-kata dari Mazmur ini, yang memuji karya ajaib Tuhan: justru apa yang telah disingkirkan itulah yang menjadi landasan penopang segalanya. Demikianlah cara Yang Mahakuasa membimbing sejarah, datang menolong kita dalam setiap kejatuhan kita: Allah tidak pernah membuang hidup kita!

 

Menurut gambaran yang digunakan dalam perumpamaan tersebut, kebun anggur yang harus dikerjakan dengan keadilan adalah Gereja, yang kita bangun atau kita rusak melalui pilihan-pilihan kita. Dalam kaitan ini, hari ini — pada peringatan delapan abad wafatnya — saya ingin mengenang seorang pekerja yang berkarya dengan sangat berhasil di kebun anggur Tuhan: Santo Fransiskus dari Asisi, yang diminta oleh Yesus sendiri untuk memperbaiki gereja-Nya. Terinspirasi oleh Kristus yang disalibkan, Fransiskus pertama-tama membangun hidupnya sendiri di atas landasan Kristus, dengan mengambil bagian dalam kemiskinan, sukacita, dan penderitaan-Nya, bahkan hingga menerima tanda mistis stigmata. Sebagai seorang yang tekun berdoa dan penuh kasih terhadap sesama, ia menjadi teladan bagi para biarawan pertama yang ambil bagian dalam semangat askese dengannya sebagai syarat sejati bagi pembaruan Gereja. Santo Fransiskus memperbaiki Gereja berkat imannya kepada Tuhan Yesus, serta memulihkan perpecahan akibat perselisihan melalui kesaksian kasih persaudaraan.

 

Saudara-saudari terkasih, karisma Santo Fransiskus terus membuahkan hasil hingga saat ini, setelah delapan abad berlalu. Hal ini dibuktikan bukan hanya oleh keluarga Fransiskan yang besar dan penuh semangat, melainkan juga oleh berbagai anugerah yang dicurahkan warisan rohaninya bagi umat Allah. Oleh karena itu, seraya kita merayakan Tahun Yubileum Fransiskus, marilah kita dengan tekun memohon anugerah damai serta berkomitmen dengan tulus untuk membangun kerukunan antarbangsa.

 

Semoga perantaraan Santa Maria, Bunda kita, senantiasa menyertai kita dalam upaya ini. Kini kita berpaling kepadanya, seraya bersatu secara rohani dengan umat yang berkumpul di Tempat Ziarah Pompeii untuk memanjatkan doa permohonan kepada Sang Perawan Rosario Suci.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari Minggu lalu, di Lourdes, saya mengajak semua orang untuk mendaraskan doa Rosario sepanjang bulan Oktober ini, dengan intensi khusus agar peperangan berakhir dan perdamaian dapat dibangun. Anak-anak termasuk yang pertama melakukannya, dan mereka terus melanjutkannya: dari tanggal 1 hingga 7 Oktober, organisasi “Pertolongan bagi Gereja yang Membutuhkan” menggalakkan prakarsa “Satu Juta Anak Berdoa Rosario” demi perdamaian dan persatuan di dunia. Saya mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua anak yang turut serta dalam doa ini di berbagai belahan dunia. Marilah kita semua mengikuti teladan mereka, seraya memohon perantaraan Santa Perawan Maria agar umat manusia dibebaskan dari bencana peperangan. Secara khusus, marilah kita berdoa bagi Tanah Suci dan para korban kekerasan yang tak berdosa.

 

Dalam beberapa hari mendatang, bertepatan dengan peringatan sepuluh tahun Seruan Apostolik Amoris Laetitia, sebuah pertemuan akan diselenggarakan di Vatikan; pertemuan ini saya adakan dengan mengundang para pemimpin Gereja Katolik Timur dan para ketua Konferensi Waligereja dari seluruh dunia. Pertemuan ini akan menjadi momen penegasan rohani secara sinodal untuk menentukan langkah-langkah yang perlu diambil guna mewartakan Injil di masa kini di tengah keluarga-keluarga dan generasi muda. Saya menyerahkan tugas ini ke dalam doa-doamu, dan terutama doa keluarga-keluarga yang — dengan pertolongan Allah — menjadi tanda pengharapan dan harta yang tak ternilai bagi Gereja dan masyarakat.

 

Saya menyambut baik berbagai prakarsa yang diselenggarakan untuk memperingati delapan abad wafatnya Santo Fransiskus dari Asisi. Secara khusus, saya teringat pada rangkaian acara di Asisi yang dihadiri oleh para pejabat tinggi Italia. Saya juga menyapa para operator radio amatir dari Asisi dan Foligno yang turut menyebarluaskan pesan perdamaian Santo Fransiskus.

 

Kini, saya menyapa kamu semua yang hadir hari ini di Lapangan Santo Petrus.

 

Saya menyapa para peserta Pekan Musik Liturgi Internasional yang diselenggarakan oleh Institut Kepausan untuk Musik Liturgi; serta umat dari Puente Alto, Santiago, Cile, serta para guru dan siswa Gymnasium Santo Bonaventura, Dillingen, Jerman.

 

Saya menyapa para penerima Sakramen Krisma dari Pinerolo; umat Fasana Polesine; kaum muda Val Brembana yang telah menempuh perjalanan Via Francigena dari Viterbo ke Roma; Lembaga FIABA, yang menggalakkan kampanye untuk meningkatkan aksesibilitas di tempat-tempat umum; kelompok “Para Ibu Pembawa Senyum” dari Taranto; serta lembaga “Pelajar bersama Bintang” dari Lurago d’Erba.

 

Saya memberkati dengan penuh kasih umat yang hari ini, dari Lapangan ini, akan memulai ziarah ke Tempat Ziarah Bunda Maria Pewahyuan di Via Laurentina, melanjutkan tradisi yang dimulai oleh Paus Pius XII.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 4 Oktober 2026)