Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 30 September 2026 : PERJALANAN APOSTOLIK KE PRANCIS DAN MENGUNJUNGI UNESCO

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini saya ingin berbicara kepadamu mengenai perjalanan apostolik yang saya lakukan ke Prancis beberapa hari yang lalu. Perjalanan itu merupakan anugerah yang luar biasa bagi saya dan umat Allah di negara tersebut, dan saya mengucap syukur kepada Tuhan karenanya. Saya ingin sekali lagi menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah menyambut saya — baik otoritas sipil maupun para gembala Gereja — serta kepada begitu banyak orang yang ingin bertemu dengan Paus atau sekadar menyapanya di jalanan, sebagai seorang rasul Kristus dan pembawa damai. Terima kasih kepada semuanya!

 

Saya ingin merangkum pemikiran dan kesan saya — yang masih sangat membekas — mengenai kunjungan pastoral ini yang berpusat pada satu simbol agung: Katedral Notre-Dame di Paris. Di sana, pada sore hari pertama, kami merayakan Ibadat Vespers untuk menghormati Santa Perawan Maria; sebuah liturgi yang khidmat namun sekaligus penuh sukacita, di mana musik, nyanyian, dan keindahan gereja tersebut menggugah hati mereka yang bersatu dalam doa.

 

Justru Notre-Dame — dengan tragedi yang telah dialaminya — secara simbolis mampu menerangi keseluruhan perjalanan apostolik ini, serta menawarkan sebuah sudut pandang yang dapat saya rangkum dalam satu kata: kelahiran kembali.

 

Katedral Paris, yang baru tujuh tahun lalu tampak rusak parah akibat kebakaran hebat, kini telah dibangun kembali dan tampil lebih megah dari sebelumnya. Bencana tersebut memicu tanggapan positif di berbagai tingkatan — ada yang bersifat nyata dan praktis, sementara yang lain lebih tersembunyi dan bersifat spiritual.

 

Proses pemugarannya menjadi ujian bagi kemungkinan kerjasama antara Gereja, negara, lembaga publik, dan masyarakat sipil. Pendekatan ini memungkinkan pemanfaatan optimal, baik dari kemurahan hati para donatur maupun keahlian para profesional dan pekerja terampil. Sinergi demi kebaikan bersama hendaknya menjadi standar bagi berbagai lembaga, kekuatan politik dan sosial, serta semua pihak yang memikul tanggung jawab sipil dan ekonomi. Inilah pesan yang ingin saya sampaikan kepada otoritas Prancis maupun para anggota UNESCO (Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang berkantor pusat di Paris, seraya menyoroti prinsip dasar yang menjadi landasan kerjasama semacam itu: martabat pribadi manusia.

 

Namun yang terpenting, Notre-Dame adalah gambaran Gereja yang terbentuk dari batu-batu hidup, dari umat Allah yang kudus.

 

Menarik kesejajaran antara perayaan Ibadat Vespers di Katedral dengan vigili kaum muda yang berlangsung pada malam yang sama di Stade de France yang sangat besar di Paris sangat menarik. Dua lokasi yang sangat berbeda, namun dua peristiwa yang saling melengkapi, yang hampir bersatu secara rohani. Apa yang menyatukan keduanya? Gereja, yang tidak terbentuk dari batu atau semen, melainkan dari orang-orang yang mengasihi Yesus Kristus karena mereka telah dikasihi oleh-Nya. Di Notre-Dame hadir para imam dan diakon, kaum hidup bakti, serta para petugas pastoral; di stadion hadir generasi baru Prancis. Baru, menurut saya, bukan hanya dalam hal usia, tetapi terlebih lagi dalam semangat, kebebasan hati dan iman. Kaum muda yang bernyanyi dan bersorak, namun juga mampu hening dan mendengarkan. Wajah-wajah yang penuh perhatian dan haru, yang menyingkapkan hati yang mendambakan kebenaran dan kasih. Kepada mereka saya berkata dengan penuh sukacita, "Kamu adalah orang-orang kudus Prancis!". Vigili itu merupakan tanda pengharapan yang besar.

 

Hal yang sama berlaku — dalam semangat kesederhanaan yang dikehendaki Allah — bagi pertemuan di Maison Bakhita, sebuah tempat penampungan bagi berbagai kalangan yang membutuhkan; salah satu dari sekian banyak tempat — buah Injil — di mana orang-orang setiap hari berkomitmen untuk melayani martabat manusia dengan penuh kasih.

 

Namun, ada tanda pembaruan di dalam Gereja di Prancis yang telah terlihat nyata selama beberapa tahun terakhir, yakni jumlah kaum muda dan orang dewasa yang ingin menerima Sakramen Baptis yang terus meningkat secara luar biasa. Menanggapi "kejutan" indah dari Allah ini, sebuah sidang sinode tingkat provinsi sedang berlangsung di Paris; dalam kesempatan itu, saya dapat berbicara untuk menyemangati perjalanan para katekumen dan pemula, bersama dengan komunitas tempat mereka bernaung.

 

Puncak kunjungan saya ke Ibu Kota adalah Misa di Place de la Concorde. Di sana, tanda kebangkitan muncul dengan cara yang mengejutkan: perhimpunan liturgis — yang di lapangan luas itu mempertemukan para imam, paduan suara, dan kerumunan umat yang luar biasa — membentang sepanjang Avenue des Champs-Élysées hingga ke Arc de Triomphe dan seterusnya. Pada saat Komuni, semua orang dapat menerima Ekaristi yang dibagikan secara luas. Inilah pemulihan sejati, pemulihan Gereja yang hanya dapat diwujudkan oleh Allah, melalui perantaraan Perawan Maria.

 

Oleh karena itu, wajar dan pantaslah jika setelah Paris, saya melakukan ziarah ke Lourdes untuk menghormati Maria, Bunda Gereja — sosok yang, di saat sengsara dan wafat, terus menjaga pelita iman dan pengharapan tetap menyala. Di Lourdes, Tuhan — melalui kasih keibuan Perawan Maria — menyampaikan pesan pengharapan dan kebangkitan kepada semua orang, baik para peziarah maupun khususnya mereka yang sakit secara fisik dan batin. Sebuah pesan yang ingin saya tegaskan kembali secara terbuka: setiap kehidupan manusia, dalam kondisi apa pun — bahkan dalam keadaan paling rapuh sekalipun — tetap memiliki martabat yang tak dapat diganggu gugat dan layak untuk dirawat, didampingi, serta diringankan penderitaannya dengan belas kasih manusiawi dan bantuan sarana yang disediakan oleh ilmu pengetahuan. Karena alasan inilah, Lourdes menjadi tempat suci bagi peradaban kasih bagi seluruh dunia. Dalam konteks ini, saya bertemu dengan beberapa orang yang menjadi korban kekerasan, dan saya meminta mereka untuk membantu saya menyampaikan kepada para korban lainnya mengenai keinginan saya — dan keinginan seluruh Gereja — untuk mendengarkan serta mendampingi mereka dalam upaya penyembuhan, seraya mengakui penderitaan yang telah menimpa hidup mereka dan berupaya mencegah terjadinya kekerasan.

 

Tahap ketiga sekaligus terakhir perjalanan apostolik ini adalah kota Metz, yang terletak di wilayah Prancis dan Eropa yang pernah porak-poranda akibat Perang Dunia II. Di sanalah Robert Schuman — salah seorang tokoh utama yang menginspirasi proses penyatuan Eropa — menjalankan kiprahnya. Eropa masa kini memang lahir sebagai sebuah proyek perdamaian setelah kehancuran yang diakibatkan oleh perang. Dapat dikatakan bahwa peristiwa kebakaran yang menimpa Katedral Notre-Dame di Paris mencerminkan apa yang pernah dialami Eropa selama Perang Dunia II. Eropa kemudian bangkit kembali, dibangun di atas prinsip demokrasi, solidaritas, dan persaudaraan antarbangsa — prinsip yang sangat berutang budi pada akar kristianinya. Bahkan saat ini, di atas landasan dan dengan "sumber kehidupan" yang vital inilah proyek Eropa dapat diperbarui di tengah dunia yang semakin mengglobal, di mana dialog antaragama memegang peranan yang sangat penting. Oleh karena itu, di Metz, saya bertemu dengan perwakilan dari berbagai tradisi keagamaan; mereka membacakan dan menandatangani "Seruan Metz" demi dialog dan perdamaian di hadapan saya.

 

Sahabat-sahabat terkasih, tema kunjungan pastoral saya ke Prancis adalah "*Pour que le monde ait la vie*" atau "Agar dunia memiliki kehidupan" (bdk. Yoh 6:51). Kata-kata Yesus ini merangkum seluruh perutusan-Nya yang menyelamatkan dan, selama perjalanan ini, sepenuhnya mengungkapkan makna Injili dari setiap perjumpaan yang terjadi. Semoga kata-kata tersebut kini menginspirasi doa kita, seraya kita memohon kepada Allah agar peristiwa penuh rahmat ini dapat menghasilkan buah yang berlimpah dan abadi.

 

[Imbauan]

 

Saya sedang mengikuti situasi di Tigray serta wilayah tetangganya, Afar dan Amhara — tempat permusuhan kembali pecah — dengan penuh keprihatinan. Dengan sungguh-sungguh saya mengimbau semua pihak untuk memilih jalan dialog. Konflik bersenjata tidak pernah menyelesaikan masalah, melainkan justru memperparahnya, serta meninggalkan jejak kematian, kehancuran, dan rasa dendam. Hanya melalui upaya yang tulus dan jujur, landasan bagi perdamaian abadi dapat dibangun. Saya sangat berharap masyarakat internasional akan memberikan kontribusi yang berlimpah dan tepat waktu guna memastikan tersedianya bantuan kemanusiaan bagi mereka yang membutuhkan.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya mereka yang datang dari Inggris, Irlandia, Denmark, Ghana, Australia, India, india, Filipina, Malaysia, Sri Lanka, dan Amerika Serikat. Secara khusus saya menyapa para seminaris dari Kolose Kepausan Irlandia dan para peziarah yang menghadiri penahbisan diakon dari Kolose Kepausan Amerika Utara yang akan berlangsung besok. Bagi kamu semua beserta keluargamu, saya memohonkan damai dan persatuan Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Dalam katekese hari ini, saya ingin berbagi beberapa pemikiran mengenai perjalanan apostolik saya baru-baru ini ke Prancis. Perjalanan tersebut merupakan anugerah, tidak hanya bagi rakyat Prancis, tetapi juga bagi saya pribadi. Untuk itu, saya mengucap syukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelenggaraannya. Semboyan perjalanan ini adalah "Agar dunia memperoleh kehidupan" (bdk. Yoh 6:51), dan kata-kata ini mencerminkan semangat yang berpusat pada Injil dalam berbagai pertemuan saya selama kunjungan tersebut. Sebab hanya Allah, melalui rahmat-Nya, yang mampu memulihkan Gereja dan memperbarui umat manusia; dan bagi saya, tampak jelas bahwa hal inilah yang sedang terjadi di Paris, Lourdes, dan Metz. Sebagaimana Katedral Notre-Dame dipulihkan, demikian pula Gereja di Prancis sedang diperbarui. Hal ini terutama terlihat dari antusiasme kaum muda serta meningkatnya jumlah pembaptisan. Saya sangat bersukacita dapat melakukan ziarah ke Lourdes untuk menghormati Santa Perawan Maria dan memohon pengantaraannya yang berkelanjutan bagi anak-anaknya, tidak hanya di Prancis, melainkan di seluruh dunia. Semoga kita dapat belajar dari dia bagaimana membangun peradaban kasih yang menjunjung tinggi martabat manusia dan ditandai oleh perdamaian abadi. Mari bergabung dengan saya dengan terus mempercayakan rakyat Prancis kepada Tuhan melalui doa.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 30 September 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 23 SEPTEMBER 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. IV. KONSTITUSI PASTORAL GAUDIUM ET SPES (GS 33–39). 4. MAKNA KEGIATAN MANUSIA DI SELURUH DUNIA

Saudara-saudari, selamat pagi dan selamat datang!

 

Seraya kita melanjutkan perjalanan mendalami Konstitusi Pastoral Konsili Ekumenis Vatikan II Gaudium et Spes, kita tiba pada bab ketiga dari bagian pertama, yang mengusung judul menarik: “Kegiatan Manusia di Seluruh Dunia”. Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah nilai dari kegiatan manusia di seluruh dunia ini, dan dengan demikian, nilai dari kemajuan teknis, sosial, dan ilmiah? Kita mungkin ingat bahwa, kurang dari empat tahun setelah berakhirnya Konsili, pada malam 20–21 Juli 1969, manusia menapakkan kaki di bulan untuk pertama kalinya.


Oleh karena itu, sebagian pemikir menggambarkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sesuatu yang melemahkan hubungan manusia dengan Allah — hingga membuatnya tampak tidak lagi diperlukan — atau bahkan sebagai hal yang bertentangan dengan iman kristiani. Pandangan ini telah mengubah cara manusia masa kini memandang dunia dibandingkan dengan zaman-zaman sebelumnya. Prasangka semacam itu sangat umum dijumpai dalam bagian budaya Barat yang telah kehilangan acuannya pada wahyu kristiani. Dalam paham humanisme pasca-kristiani, manusia dan Allah secara keliru ditampilkan sebagai pihak yang saling bersaing: demi menegaskan pengetahuan, kebebasan, dan kemajuannya, manusia dianggap harus membebaskan diri dari Allah. Namun, pada akhirnya, dengan menyangkal hubungan dengan Allah, kita juga kehilangan kemungkinan untuk menegaskan nilai transenden pribadi manusia. Inilah "tragedi humanisme ateistik", sebagaimana digambarkan dengan baik oleh Henri de Lubac, seorang teolog terkemuka pada Konsili Vatikan II.[1]

 

Konsili ingin memberikan jawaban yang jelas: umat Kristiani —sebagaimana dinyatakan dalam Gaudium et Spes — "memang dengan tepat dapat berpandangan, bahwa dengan jerih-payah itu mereka mengembangkan karya Sang Pencipta, ikut memenuhi kepentingan sesama saudara, dan menyumbangkan kegiatan mereka pribadi demi terlaksananya rencana ilahi dalam sejarah" (no. 34). Sesungguhnya, Konstitusi melanjutkan, "Umat kristiani tidak beranggapan seolah-olah karya-kegiatan, yang dihasilkan oleh bakat-pembawaan serta daya-kekuatan manusia, berlawanan dengan kuasa Allah, seakan-akan ciptaan yang berakal budi menyaingi Penciptanya. Mereka malahan yakin, bahwa kemenangan-kemenangan bangsa manusia justru menandakan keagungan Allah dan merupakan buah rencana-Nya yang tak terperikan" (idem). Pada hakikatnya, Allah telah memercayakan kepada umat manusia suatu ciptaan yang masih berada dalam keadaan in statu viae — yakni sedang dalam perjalanan dan proses pertumbuhan — agar mereka dapat membawanya menuju kepenuhan melalui kegiatan mereka yang bijaksana.[2]

 

Di sini terdapat rujukan penting mengenai misteri Inkarnasi. Umat manusia — beserta segala karya, kemajuan, dan otonomi kenyataan ciptaan — tidaklah diserap ataupun ditiadakan oleh perjumpaan dengan Allah; sebaliknya, semuanya diangkat secara utuh dan — di dalam Kristus — tetap bebas serta aktif berkarya: bahkan, justru di dalam Dia manusia menemukan kebenaran dan kebebasan sejati. Lebih jauh lagi, dalam perayaan Ekaristi, buah karya manusia yang dilambangkan oleh roti dan anggur dipersembahkan di atas altar setiap hari untuk diubah rupa menjadi tubuh dan darah Kristus.

 

Dari sudut pandang ini, muncul suatu kebenaran penting: untuk berjumpa Allah, manusia tidak perlu meninggalkan aktivitas duniawinya, melainkan dapat menghayati panggilannya secara penuh dengan melaksanakan pekerjaan sehari-hari dengan baik serta menguduskannya.[3] Umat Kristiani, sebagaimana semua orang lainnya, turut serta membangun dunia manusia, berjuang menuju akhir segala sesuatu dan perjumpaan dengan Allah, serta mengingatkan tujuan akhir ini kepada sesama yang ambil bagian dalam perjalanan kemajuan, ilmu pengetahuan, dan kehidupan bersama mereka.

 

Kemajuan duniawi tentu harus dibedakan secara jelas dari perkembangan Kerajaan Kristus; namun, Konsili menegaskan bahwa “kemajuan itu sangat penting bagi Kerajaan Allah, sejauh dapat membantu untuk mengatur masyarakat manusia secara lebih baik .… Semua buah hasil yang baik, yang bersumber pada kodrat maupun usaha kita, kemudian akan kita temukan kembali, tetapi dalam keadaan dibersihkan dari segala cacat cela, diterangi dan diubah” (no. 39).

 

Akhirnya, marilah kita ingat bahwa agar dapat menjadi kemajuan manusiawi sejati — yakni kemajuan bagi pribadi seutuhnya dan bagi semua orang — kemajuan teknis dan ilmiah harus dijiwai serta dipandu oleh kasih. Hanya dengan cara demikian kemajuan dapat senantiasa ditempatkan untuk melayani martabat manusia dan meningkatkan taraf hidup semua orang, terutama mereka yang paling kurang beruntung.

 

Saudara-saudari terkasih, Konsili Vatikan II mengajak kita untuk berbagi roti pengetahuan dan keterampilan, agar setiap pribadi dan setiap bangsa dapat mengembangkan potensi mereka, dan bersama-sama, dengan pertolongan Allah, kita dapat membangun masa depan yang lebih baik.

 

[Imbauan]

 

Hari Minggu mendatang, tanggal 27 September, merupakan Hari Migran dan Pengungsi Sedunia. Pikiran saya tertuju pada para migran dan pengungsi, khususnya anak-anak di bawah umur yang terpaksa meninggalkan tanah air mereka. Anak-anak dan remaja adalah kelompok yang paling rentan, dan mereka sering kali menanggung penderitaan yang tak terbayangkan: kekerasan, penyiksaan, eksploitasi, serta kondisi traumatis; bahkan tidak jarang mereka kehilangan nyawa di sepanjang jalur migrasi. Saya menggugah rasa tanggung jawab setiap orang: marilah kita semua merasa turut serta dalam kehidupan kaum muda ini, yang harus senantiasa dilindungi dan didukung.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Irlandia, Denmark, Norwegia, Malta, Tanzania, Australia, Hong Kong, India, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Amerika Serikat. Besok di Saint Louis, Missouri, Venerabilis Fulton Sheen akan dibeatifikasi. Semoga teladan dan perantaraan uskup yang kudus ini — yang dikenal karena karya pewartaan Injilnya melalui media — menginspirasi banyak orang lain untuk turut menemukan cara-cara baru dalam menyebarluaskan pesan Injil dengan semangat penuh sukacita. Bagi kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan damai dan sukacita Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, seraya kita melanjutkan rangkaian katekese mengenai Konsili Vatikan II, hari ini kita membahas makna dan nilai kegiatan manusia sebagaimana dipaparkan dalam Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes. Kemajuan revolusioner dalam ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad yang lalu telah membuat sebagian orang beranggapan bahwa kepercayaan kepada Allah kini sudah usang, dan otonomi manusia yang sejati hanya dapat ditegaskan melalui pembebasan diri dari Allah. Sebaliknya, para Bapa Konsili menegaskan bahwa "kemenangan-kemenangan bangsa manusia justru menandakan keagungan Allah dan merupakan buah rencana-Nya yang tak terperikan" (no. 34). Sesungguhnya, pesan Injil sama sekali tidak menghalangi umat beriman untuk terlibat dalam kegiatan manusia; justru pesan itu mendorong kita untuk berkontribusi pada kesejahteraan manusia yang sejati melalui keterlibatan kita di tengah masyarakat. Marilah kita jalani kegiatan sehari-hari dengan kasih yang tulus, seraya mempersembahkan pekerjaan kita kepada Tuhan, baik sebagai sarana pengudusan diri maupun sebagai ungkapan hasrat kita untuk mewujudkan Kerajaan Allah secara semakin penuh — terutama dengan mengupayakan kesejahteraan bersama, peduli terhadap mereka yang berkekurangan, dan membela martabat manusia.
______

(Peter Suriadi - Bogor, 23 September 2026)



[1] Bdk. H. de Lubac, Le drame de l'humanisme athée (1944).

[2]Bdk. Katekismus Gereja Katolik, no. 302, 306, 307.

[3]Bdk. Santo Yohanes Paulus II, Homili Kanonisasi Josemaría Escrivá de Balaguer (6 Oktober 2002).


WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 20 September 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Dalam liturgi hari ini, melalui perkataan Nabi Yesaya, Tuhan memberikan kita alasan kuat untuk berharap; Ia menyatakan bahwa rancangan-Nya bukan rancangan kita, dan jalan-Nya bukan jalan kita (bdk. Yes 55:8). Ya, rancangan Allah jauh lebih besar — dan, boleh dikatakan, lebih "manusiawi" — daripada apa yang dapat kita bayangkan atau wujudkan sebagai manusia yang tak luput dari dosa. Oleh karena itu, seruan sang Nabi Yesaya — yang kini terasa lebih relevan dari sebelumnya — mengajak kita untuk meninggalkan jalan kita yang keliru dan kembali kepada Tuhan, sumber kerahiman dan pengampunan (ayat 6–7).

 

Dalam Bacaan Injil, perumpamaan Yesus menggambarkan kebaruan dari apa yang telah Allah persiapkan untuk kita; namun, perumpamaan itu juga menyingkapkan penolakan yang biasanya kita tunjukkan terhadap keadilan yang lebih murah hati dan kasih yang lebih besar. Secara khusus, hari ini kita mendengar kisah tentang para pekerja yang dipanggil untuk bekerja di kebun anggur (bdk. Mat 20:1–16) — ada yang bekerja seharian penuh, ada yang hanya beberapa jam, dan ada pula yang baru mulai bekerja saat matahari hampir terbenam. Namun, inti perumpamaan ini terletak pada saat pembayaran upah: sang pemilik kebun menepati janjinya kepada para pekerja yang dipekerjakan sejak pagi hari dan membayar mereka sesuai kesepakatan; namun, ia juga ingin mereka melihat kebaikannya dan —tepat di hadapan mata mereka — ia memperlakukan para pekerja terakhir dengan cara yang sama.

 

Ada satu rincian yang tidak boleh luput dari perhatian kita. Sang pemilik kebun memberikan perintah khusus kepada mandornya agar para pekerja dibayar "mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama" (Mat 20:8). Reaksi negatif dari mereka yang telah bekerja seharian sebenarnya bisa saja dihindari; namun, hal itu terjadi secara sengaja karena penyataan kebaikan Allah ditujukan bagi semua orang, bukan hanya bagi segelintir orang. Allah memiliki cara yang berbeda dan gagasan baru, bahkan bagi mereka yang menganggap diri mereka sebagai yang pertama dan meyakini bahwa mereka telah memperoleh apa yang mereka miliki berkat usaha sendiri, serta merasa pantas mendapatkan hasil yang telah mereka capai. Sebaliknya, kita semua memperoleh sukacita, kebijaksanaan, dan masa depan yang lebih baik ketika hukum kasih mengintervensi hukum perhitungan, ketika pengalaman akan kerahiman melampaui sekadar perhitungan jasa, dan ketika anugerah damai sejahtera meredam persaingan serta mendekatkan kita satu sama lain dalam semangat syukur.

 

Saudara-saudari, sungguh suatu rahmat menjadi rekan sekerja Allah, bekerja di kebun anggur-Nya, serta melayani Kerajaan-Nya yang adil dan damai! Tidak ada tempat bagi kecemburuan atau perpecahan di mana pembaruan dari Allah itu merekah. Oleh karena itu, marilah kita mencari Tuhan selagi Ia berkenan ditemui; marilah kita berseru kepada-Nya selagi Ia dekat; marilah kita meninggalkan jalan yang sesat dan rancangan yang jahat (bdk. Yes 55:6–7).

 

Marilah kita memandang Bunda yang kudus, sebab ia adalah ciptaan seperti kita namun tanpa noda. Dengan demikian, ia dapat membantu kita untuk menaruh harapan kepada Allah dan menyerahkan diri kita pada kerahiman-Nya, agar jalan-Nya menjadi jalan kita dan rancangan-Nya menjadi rancangan kita.

 

[Setelah pendarasan Doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dengan penuh keprihatinan, saya mengikuti perkembangan krisis kemanusiaan yang sedang terjadi di beberapa wilayah Somalia, di mana tindak kekerasan dan cuaca ekstrem memperparah kondisi kehidupan penduduk yang sudah sangat rentan, khususnya kaum perempuan dan anak-anak. Saya mengharapkan keterlibatan penuh komunitas internasional, agar saudara-saudari kita tidak kekurangan bantuan yang mereka butuhkan.

 

Kini saya menyapamu, umat Roma dan para peziarah.

 

Saya menyapa Uskup dan umat Keuskupan Toruń, Polandia, yang sedang mengunjungi tempat-tempat terjadinya mukjizat Ekaristi di Italia; serta keluarga-keluarga dari Keuskupan Spiš, Slovakia.

 

Saya menyapa para imam Yesuit yang sedang memulai masa studi baru mereka di Roma, dan kelompok Paroki Keluarga Kudus dari Nazaret Roma, bersama dengan klub olahraga “Centocelle” dan Oratorium “San Giuseppe Manyanet”.

 

Saya menyampaikan berkat bagi umat Pescantina, dekat Verona, yang hari ini berkumpul di Monumen bagi Mantan Tahanan untuk mengenang mereka yang dideportasi dan ditawan selama Perang Dunia II. Saya melakukan hal ini untuk menegaskan bahwa kita tidak boleh lupa, melainkan harus belajar dari sejarah agar tidak mengulangi kesalahan masa lalu.

 

Sahabat-sahabat terkasih, terima kasih telah datang. Saya ucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 20 September 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 16 SEPTEMBER 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. IV. KONSTITUSI PASTORAL GAUDIUM ET SPES (GS 23–32). 3. MASYARAKAT MANUSIA

Saudara-saudari sekalian, selamat pagi dan selamat datang!

 

Dengan mendedikasikan bab kedua bagi "masyarakat manusia", Konstitusi Gaudium et Spes (GS) mengajak kita untuk memikirkan "berlipatgandanya hubungan-hubungan timbal-balik antarmanusia" sebagai "salah satu ciri khas dunia modern" (no. 23). Namun, kenyataan ini harus menemukan pemenuhannya "pada tingkat yang lebih dalam ... yakni kebersamaan pribadi-pribadi", yang di dalamnya "yang menuntut sikap saling menghormati terhadap martabat rohani mereka yang sepenuhnya" merupakan hal yang esensial (no. 23).

 

Pernyataan-pernyataan ini, di zaman kita sekarang, memiliki kemendesakan yang semakin besar. Di satu sisi, perkembangan teknologi, penyebaran media massa dan media sosial, serta penggunaan kecerdasan buatan yang terus meningkat membuka berbagai kemungkinan baru, meruntuhkan hambatan, dan menjembatani jarak; namun di sisi lain, hubungan antarmanusia cenderung menjadi semakin kurang personal dan lebih bersifat virtual, serta muncul risiko terbiasa menyerahkan keputusan — yang semestinya menjadi ranah eksklusif hati nurani manusia — kepada algoritma. Dalam konteks inilah, komunitas kristiani berupaya memberikan kontribusi dengan memastikan bahwa hubungan sosial memiliki substansi nyata dan kedalaman yang bersifat personal.

 

Konsili mengajak kita untuk menimba kriteria dan kekuatan dari rencana penciptaan Allah, di mana Ia menghendaki agar "semua orang membentuk satu keluarga, dan saling menghadapi dengan sikap persaudaraan", oleh karena itu cinta kasih terhadap Allah dan sesama merupakan perintah yang pertama dan terbesar," yang menemukan penyingkapan penuh serta pemenuhan sempurnanya dalam diri Kristus (bdk. GS, 24).

 

Kesempurnaan pribadi manusia dan perkembangan masyarakat harus dipandang saling bergantung erat: mempertentangkan atau memisahkan keduanya akan membuat keduanya kehilangan makna. Sejarah, bahkan sejarah terkini, dengan jelas menegaskan kebenaran ini; oleh karena itu, kita tidak boleh lelah menegaskan kembali — mengutip kata-kata para Bapa Konsili Vatikan II — bahwa "subjek dan tujuan semua lembaga sosial adalah dan memang seharusnyalah pribadi manusia; berdasarkan
kodratnya ia sungguh-sungguh memerlukan hidup kemasyarakatan" (GS, 25).

 

Dari sudut pandang ini, Gaudium et Spes menegaskan bahwa keanekaragaman orang dan bangsa di dunia tidak boleh dianggap sebagai bahaya atau ancaman, melainkan sebagai sumber daya untuk pengayaan dan pertumbuhan. Konflik, yang terkadang berujung pada kekerasan, merupakan akibat dari kuasa dosa dan cara dosa tersebut memengaruhi pola pikir serta tindakan di setiap tingkatan, sehingga menimbulkan kehancuran dan kematian. Kita harus semakin terbuka terhadap logika timbal balik, semangat berbagi, dan kepedulian, sebagaimana halnya yang terjadi di antara berbagai anggota tubuh manusia (bdk. 1Kor 12:21–25).

 

Dalam hal ini, Gaudium et Spes juga menyajikan definisi ringkas mengenai "kesejahteraan umum", dengan mengingatkan bahwa hal itu mencakup "keseluruhan kondisi kehidupan sosial yang memungkinkan kelompok-kelompok sosial serta anggota-anggotanya secara perorangan untuk memperoleh akses yang cukup memadai dan mudah demi pemenuhan diri mereka" (GS, 26). Pada saat yang sama, dengan mengakui adanya saling ketergantungan antarbangsa, dokumen tersebut menyatakan bahwa "setiap kelompok harus memperhitungkan kebutuhan-kebutuhan serta aspirasi-aspirasi kelompok-kelompok lain yang wajar, bahkan kesejahteraan umum segenap keluarga manusia." (GS, 27).

 

Bertolak dari premis ini, para Bapa Konsili kemudian menjabarkan beberapa "konsekuensi-konsekuensi praktis yang cukup mendesak" (GS, 27). Yang pertama dan terutama adalah penghormatan terhadap pribadi manusia. Gaudium et Spes menyatakan: "Selain itu apa saja yang berlawanan dengan kehidupan sendiri, misalnya bentuk pembunuhan yang mana pun juga, penumpasan suku, pengguguran, eutanasia dan bunuh diri yang disengaja; apa pun yang melanggar keutuhan pribadi manusia, seperti pemenggalan anggota badan, siksaan yang ditimpakan pada jiwa maupun raga, usaha-usaha paksaan psikologis; apa pun yang melukai martabat manusia, seperti kondisi-kondisi hidup yang tidak layak manusiawi, pemenjaraan yang sewenang-wenang, pembuangan orang-orang, perbudakan, pelacuran, perdagangan wanita dan anak-anak muda; begitu pula kondisi-kondisi kerja yang memalukan, sehingga kaum buruh diperalat semata-mata untuk menarik keuntungan, dan tidak diperlakukan sebagai pribadi-pribadi yang bebas dan bertanggung jawab: itu semua dan hal-hal lain yang serupa memang perbuatan yang keji" (GS, 27).

 

Konsekuensi kedua: kesetaraan hakiki antara semua manusia, yang menuntut keadilan sosial. Dokumen tersebut menyatakan: “Setiap cara diskriminasi dalam hak-hak asasi pribadi, entah bersifat sosial entah budaya, berdasarkan jenis kelamin, suku, warna kulit, kondisi sosial, bahasa atau agama, harus diatasi dan disingkirkan, karena bertentangan dengan maksud Allah” (GS, 29).

 

Akhirnya, para Bapa Konsili mendesak kita untuk mengatasi pola pikir individualistis serta mengadopsi sikap tanggung jawab dan partisipasi (bdk. GS, 30-31).

 

Saudara-saudari terkasih, visi tentang umat manusia sebagai suatu "masyarakat manusia" merupakan warisan berharga yang ditinggalkan oleh Konsili Vatikan II bagi kita. Visi ini membantu kita semua untuk melakukan pembedaan roh — baik secara pribadi maupun bersama — agar kita dapat mengevaluasi secara bertanggung jawab berbagai proyek sosial dan politik masa kini, berdasarkan kriteria martabat pribadi manusia, keadilan sosial, dan partisipasi bebas dalam mewujudkan kesejahteraan bersama. Sebab, masa depan umat manusia bergantung pada komitmen setiap orang untuk bekerja sama dengan Allah dan sesama dalam membangun dunia yang lebih manusiawi (bdk. GS, 30).

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya mereka yang berasal dari Inggris, Skotlandia, Norwegia, Ghana, Afrika Selatan, Uganda, Australia, India, Israel, Filipina, Vietnam, Kanada, dan Amerika Serikat. Saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus bagimu dan keluargamu. Semoga Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam rangkaian katekese kita mengenai dokumen Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, hari ini kita memusatkan perhatian pada pentingnya hubungan antarmanusia. Pemahaman kita tentang masyarakat manusia berlandaskan pada martabat pribadi manusia. Alih-alih memandang perbedaan sebagai bahaya atau ancaman, visi tentang umat manusia sebagai komunitas pribadi memampukan kita untuk bekerja sama demi mengupayakan kesejahteraan bersama. Ketika kita beralih dari pola pikir individualistis menuju sikap tanggung jawab dan partisipasi dalam upaya membangun dunia yang lebih manusiawi dan adil, hubungan sosial pun diperkaya dengan makna nyata dan kedalaman pribadi. Hubungan-hubungan tersebut juga turut berkontribusi pada pemenuhan diri setiap pribadi manusia serta pembangunan masyarakat. Saudara-saudari terkasih, marilah kita memperbarui komitmen kita untuk mewujudkan — di dalam Kristus — anugerah kemanusiaan kita yang sangat berharga.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 16 September 2026)