Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 4 Maret 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 2. GEREJA,, KENYATAAN YANG KASAT MATA DAN SPIRITUAL

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Hari ini, kita akan melanjutkan menelusuri Konstitusi Konsili Vatikan II Lumen Gentium, sebuah konstitusi dogmatis tentang Gereja.

 

Pada bab pertama, yang terutama dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan tentang apa itu Gereja, Gereja digambarkan sebagai "satu kenyataan yang kompleks" (no. 8). Sekarang kita bertanya pada diri sendiri: apa yang dimaksud dengan kompleksitas ini? Beberapa mungkin menjawab bahwa Gereja kompleks karena 'rumit' dan karena itu sulit dijelaskan; yang lain mungkin berpikir bahwa kompleksitasnya berasal dari fakta bahwa Gereja adalah sebuah lembaga yang sarat dengan sejarah dua ribu tahun, dengan karakteristik yang berbeda dari kelompok sosial atau agama lainnya. Namun, dalam bahasa Latin, kata 'kompleks' lebih menunjukkan kesatuan yang teratur dari berbagai aspek atau dimensi dalam satu kenyataan yang sama. Karena alasan ini, Lumen Gentium dapat menegaskan bahwa Gereja adalah tubuh yang terorganisir dengan baik, di mana dimensi manusiawi dan ilahi hidup berdampingan tanpa pemisahan dan tanpa kebingungan.

 

Dimensi pertama langsung terlihat, yaitu Gereja adalah komunitas orang-orang yang berbagi sukacita dan perjuangan menjadi orang kristiani, dengan kekuatan dan kelemahan mereka, mewartakan Injil dan menjadi tanda kehadiran Kristus yang menyertai kita dalam perjalanan hidup kita. Namun aspek ini – yang juga terlihat dalam organisasi kelembagaannya – tidak cukup untuk menggambarkan hakikat Gereja yang sesungguhnya, karena Gereja juga memiliki dimensi ilahi. Dimensi ilahi ini bukan berupa kesempurnaan ideal atau keunggulan spiritual para anggotanya, melainkan kenyataan bahwa Gereja dibentuk oleh rencana Allah bagi umat manusia, yang terwujud dalam Kristus.

Oleh karena itu, Gereja sekaligus merupakan komunitas duniawi dan tubuh mistik Kristus, jemaat yang kasat mata dan misteri rohani, satu kenyataan yang hadir dalam sejarah dan suatu umat yang sedang menuju surga (LG, 8; CCC, 771).

Dimensi manusiawi dan ilahi terintegrasi secara harmonis, tanpa satu menutupi yang lain; demikianlah Gereja hidup dalam paradoks ini. Gereja adalah satu kenyataan yang sekaligus manusiawi dan ilahi, yang menerima manusia berdosa dan menuntunnya kepada Allah.

  

Untuk menjelaskan kondisi gerejawi ini, Lumen Gentium merujuk pada kehidupan Kristus. Faktanya, orang-orang yang bertemu Yesus di sepanjang jalan Palestina mengalami kemanusiaan-Nya, mata-Nya, tangan-Nya, suara-Nya. Mereka yang memutuskan untuk mengikuti-Nya tergerak justru oleh pengalaman tatapan-Nya yang menyambut, sentuhan tangan-Nya yang memberkati, kata-kata pembebasan dan penyembuhan-Nya. Namun, pada saat yang sama, dengan mengikuti Manusia itu, para murid membuka diri untuk bertemu Allah. Sesungguhnya, daging Kristus, wajah-Nya, tingkah laku-Nya dan kata-kata-Nya secara nyata mewujudkan Allah yang tak kasat mata.

 

Dalam terang kenyataan Yesus, kita sekarang dapat kembali kepada Gereja: ketika kita melihatnya dengan saksama, kita menemukan dimensi manusiawi yang terdiri dari orang-orang nyata, yang terkadang mewujudkan keindahan Injil dan di lain waktu berjuang dan membuat kesalahan seperti orang lain. Namun, justru melalui anggota-anggotanya dan aspek-aspek duniawinya yang terbatas itulah kehadiran Kristus dan tindakan penyelamatan-Nya terwujud. Sebagaimana dikatakan Paus Benediktus XVI, tidak ada pertentangan antara Injil dan lembaga; Sebaliknya, struktur Gereja justru berfungsi untuk “mewujudnyatakan Injil di zaman kita” (Wejangan kepada Para Uskup Swiss, 9 November 2006). Gereja yang ideal dan murni, terpisah dari dunia, tidak ada; hanya Gereja Kristus yang satu, yang terwujud dalam sejarah.

 

Inilah yang membentuk kekudusan Gereja: kenyataannya, Kristus berdiam di dalamnya dan terus memberikan diri-Nya melalui kelemahan dan kerapuhan anggota-anggotanya. Dengan merenungkan mukjizat abadi yang terjadi di dalamnya, kita memahami ‘metode Allah’: Ia membuat diri-Nya kasat mata melalui kelemahan ciptaan, terus menyatakan diri-Nya dan bertindak. Karena alasan ini, Paus Fransiskus, dalam Evangelii Gaudium, mengajak kita semua untuk belajar ““melepaskan alas kaki kita di depan tanah kudus orang lain (bdk. Kel. 3:5)” (no. 169). Hal ini memungkinkan kita hingga hari ini untuk membangun Gereja: bukan hanya dengan mengatur bentuk-bentuknya yang kasat mata, tetapi dengan membangun bangunan rohani yang merupakan tubuh Kristus, melalui persekutuan dan kasih di antara kita.

 

Sesungguhnya, kasih terus-menerus menghasilkan kehadiran Yesus yang bangkit. “Sekiranya kita semua dapat memusatkan pikiran kita pada satu hal saja, yaitu kasih! Itulah satu-satunya hal, kamu lihat, yang melampaui segala sesuatu, dan tanpanya segala sesuatu menjadi tidak berarti, dan yang menarik segala sesuatu kepada dirinya sendiri, di mana pun ia berada” (Khotbah 354, 6, 6).

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, India, Filipina, Singapura, Vietnam, dan Amerika Serikat. Dengan doa dan harapan baik agar masa Prapaskah ini menjadi masa rahmat dan pembaruan rohani bagimu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai dalam Tuhan kita Yesus Kristus bagi kamu semua.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang Konsili Vatikan II, hari ini kita menelaah misteri dimensi manusiawi dan ilahi Gereja sebagaimana disajikan Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium. Sama seperti kemanusiaan Yesus langsung kasat mata bagi mereka yang berjalan di sisi-Nya, demikian pula dimensi manusiawi Gereja mudah dipahami: Gereja adalah komunitas orang-orang yang, dengan karunia dan kekurangan mereka, berupaya mewartakan Injil dalam struktur yang kasat mata. Namun, mereka yang mengikuti Yesus lebih dekat menyadari bahwa kemanusiaan-Nya — pandangan kasih-Nya, tindakan belas kasih-Nya, dan sabda-Nya yang penuh kuasa — menampilkan keilahian-Nya, yang menuntun mereka kepada keselamatan. Dengan cara yang sama, melalui dimensi Gereja yang kasat mata dan manusiawi, roh Kristus dan tindakan penyelamatan-Nya hadir dan aktif di dunia. Marilah kita berupaya menjadi saksi sejati kasih Kristus sehingga semua orang dapat mengenali dalam diri kita dan di antara kita kasih yang menjadi ciri khas orang kristeia isejati dan membangun Gereja.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 4 Maret 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 Maret 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil hari ini melukiskan gambaran yang cemerlang bagi kita semua saat menceritakan perubahan rupa Tuhan (bdk. Mat 17:1-9). Dalam penggambaran ini, Penginjil mengambil inspirasi dari ingatan para Rasul, menggambarkan Kristus di antara Musa dan Elia. Sabda yang menjadi daging berdiri di antara Hukum dan para Nabi: Dia adalah Hikmat yang hidup, yang menggenapi setiap sabda ilahi. Segala sesuatu yang telah diperintahkan dan diinspirasikan Allah kepada manusia menemukan ungkapan penuh dan definitifnya dalam diri Yesus.

 

Sama seperti pada hari pembaptisan-Nya di Sungai Yordan, demikian pula hari ini di gunung kita mendengar suara Bapa yang menyatakan, “Inilah Anak-Ku yang terkasih,” sementara Roh Kudus menaungi Yesus dalam “awan yang terang” (Mat 17:5). Bacaan Injil menggunakan ungkapan unik ini untuk menggambarkan bagaimana Allah menyatakan diri-Nya. Ketika Ia menyatakan diri-Nya, Tuhan membuat kelimpahan-Nya terlihat oleh pandangan kita: berdiri di hadapan Yesus, yang wajah-Nya bercahaya “seperti matahari” dan pakaian-Nya menjadi “putih berkilauan” (bdk. ayat 2), para murid menyaksikan kemuliaan manusiawi Allah. Petrus, Yakobus, dan Yohanes merenungkan kemuliaan yang rendah hati, yang tidak ditampilkan sebagai tontonan bagi orang banyak, tetapi dalam keintiman yang khidmat.

 

Perubahan rupa merupakan pertanda terang Paskah: suatu peristiwa kematian dan kebangkitan, kegelapan dan terang baru yang dipancarkan Kristus kepada semua tubuh yang dicambuk oleh kekerasan, disalibkan oleh penderitaan, atau ditinggalkan dalam kesengsaraan. Sesungguhnya, sementara kejahatan mereduksi daging kita menjadi komoditas atau massa anonim, daging yang sama ini bersinar dengan kemuliaan Allah. Sang Penebus dengan demikian mengubah luka-luka sejarah, menerangi pikiran dan hati kita: wahyu-Nya adalah karunia keselamatan! Apakah ini memikat kita? Apakah kita melihat wajah Allah yang sejati dengan tatapan kagum dan penuh kasih?

 

Jawaban Bapa terhadap keputusasaan ateisme adalah karunia Putra-Nya, Sang Juruselamat; Roh Kudus menebus kita dari kesepian agnostisisme dengan menawarkan kepada kita persekutuan hidup dan rahmat yang kekal; dan sebagai tanggapan terhadap iman kita yang lemah, janji kebangkitan di masa depan dikumandangkan. Inilah yang dilihat para murid dalam kemuliaan Kristus, tetapi butuh waktu bagi mereka untuk memahaminya (bdk. Mat 17:9), waktu dalam keheningan untuk mendengarkan sabda, waktu untuk pertobatan agar dapat menikmati persekutuan Tuhan.

 

Saat kita mengalami hal ini selama Masa Prapaskah, marilah kita memohon kepada Maria, guru doa dan bintang fajar, untuk menuntun kita dalam iman.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya sedang mengikuti dengan keprihatinan mendalam apa yang terjadi di Timur Tengah dan Iran selama masa yang penuh gejolak ini. Stabilitas dan perdamaian tidak dicapai melalui saling mengancam, atau melalui penggunaan senjata, yang menabur kehancuran, penderitaan, dan kematian, tetapi hanya melalui dialog yang masuk akal, tulus, dan bertanggung jawab.

 

Menghadapi kemungkinan tragedi yang sangat besar, saya menyampaikan permohonan tulus kepada semua pihak yang terlibat untuk memikul tanggung jawab moral dalam menghentikan pilinan kekerasan sebelum menjadi jurang yang tak terjembatani. Semoga diplomasi kembali memainkan peran yang semestinya, dan semoga kesejahteraan rakyat yang mendambakan kehidupan damai yang berlandaskan keadilan, dijunjung tinggi. Dan marilah kita terus berdoa untuk perdamaian.

 

Pada hari-hari ini, berita yang mengkhawatirkan tentang bentrokan antara Pakistan dan Afghanistan juga telah tiba. Saya mendesak agar dialog kembali dilakukan. Marilah kita berdoa bersama agar kerukunan dapat terwujud dalam semua konflik di seluruh dunia. Hanya perdamaian, karunia Allah, yang dapat menyembuhkan luka di antara bangsa-bangsa.

 

Saya ingin menyampaikan rasa simpati saya kepada mereka yang sangat terdampak banjir di negara bagian Minas Gerais, Brasil. Saya berdoa untuk para korban, keluarga yang kehilangan rumah mereka, dan semua yang terlibat dalam upaya penyelamatan.

 

Saya menyapa dengan hangat kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara, khususnya kelompok warga Kamerun yang tinggal di Roma, didampingi oleh Presiden Konferensi Wali Gereja mereka, yang, semoga Allah berkenan, akan saya kunjungi pada bulan April.

 

Saya menyapa umat dari Keuskupan Iași, Rumania, Keuskupan Budimir, Košice, Slovakia, Keuskupan Massachusetts, Amerika Serikat, dan Persaudaraan Santísimo Cristo de la Buena Muerte, Jaén, Spanyol.

 

Saya menyapa umat dari Napoli, Torre del Greco, dan Afragola; dari Caraglio dan Valle Grana; dari Comitini, Crotone, Silvi Marina, dan Paroki Santo Luigi Gonzaga, Roma; serta para pemimpin pramuka dari kelompok “Val d’Illasi”, dekat Verona, dan kaum muda dari Faenza yang telah menerima Sakramen Krisma.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Maret 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 22 Februari 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Hari ini, pada Minggu Prapaskah I, Bacaan Injil menceritakan tentang Yesus yang, dibawa oleh Roh Kudus, memasuki padang gurun dan dicobai oleh Iblis (bdk. Mat 4:1–11). Setelah berpuasa selama empat puluh hari, Ia merasakan beban kemanusiaan-Nya: secara fisik, melalui rasa lapar, dan secara moral, melalui godaan iblis. Dalam hal ini, Ia mengalami perjuangan yang sama dengan perjuangan yang kita semua hadapi dalam perjalanan kehidupan kita. Dengan menolak si jahat, Ia menunjukkan bagaimana kita pun dapat mengatasi tipu daya dan jerat Iblis.

 

Melalui Sabda kehidupan ini, liturgi mengajak kita untuk memandang Masa Prapaskah sebagai jalan yang bercahaya. Melalui doa, puasa, dan sedekah, kita dapat memperbarui kerjasama kita dengan Tuhan dalam membentuk hidup kita sebagai mahakarya yang unik. Ini termasuk membiarkan Dia membersihkan noda dan menyembuhkan luka dosa, saat kita berkomitmen untuk membiarkan hidup kita berkembang dalam keindahan hingga mencapai kepenuhan kasih — satu-satunya sumber kebahagiaan sejati.

 

Tentu saja, ini adalah perjalanan yang menuntut. Selalu ada risiko putus asa atau tergoda untuk memilih jalan yang lebih mudah menuju kepuasan, seperti kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan (bdk. Mat 4:3-8). Godaan-godaan ini, yang dihadapi Yesus sendiri, hanyalah pengganti yang buruk untuk sukacita yang menjadi tujuan kita diciptakan. Pada akhirnya, godaan-godaan itu membuat kita tidak puas, gelisah, dan hampa.

 

Oleh karena itu, Santo Paulus VI mengajarkan bahwa pertobatan—jauh dari memiskinkan kemanusiaan kita — justru memperkaya, memurnikan, dan memperkuatnya, saat kita bergerak menuju cakrawala yang “bertujuan untuk mengasihi dan menyerahkan diri kepada Allah” (Konstitusi Apostolik Paenitemini, 17 Februari 1966, I). Sesungguhnya, seraya membuat kita menyadari keterbatasan kita, pertobatan juga memberi kita kekuatan untuk mengatasinya dan hidup, dengan pertolongan Allah, dalam persekutuan yang semakin dalam dengan Dia dan sesama kita.

 

Dalam masa rahmat ini, marilah kita dengan murah hati mempraktikkan pertobatan, bersamaan dengan doa dan karya belas kasih. Marilah kita menciptakan ruang untuk keheningan dengan mematikan televisi, radio, dan gawai untuk sementara waktu. Marilah kita merenungkan sabda Allah, menerima sakramen-sakramen, dan mendengarkan suara Roh Kudus yang berbicara kepada kita di dalam hati kita. Marilah kita juga saling mendengarkan — dalam keluarga, tempat kerja, dan komunitas kita. Marilah kita meluangkan waktu untuk mereka yang sendirian, terutama orang lanjut usia, orang miskin, dan orang sakit. Dengan melepaskan apa yang berlebihan, kita dapat berbagi apa yang kita hemat dengan mereka yang membutuhkan. Kemudian, sebagaimana diajarkan Santo Agustinus, doa kita yang dipanjatkan dengan cara ini — “dengan kerendahan hati dan amal kasih, dengan berpuasa dan memberi, dengan menahan diri dan mengampuni, dengan membalas perbuatan baik dan tidak membalas perbuatan buruk, dengan berpaling dari kejahatan dan melakukan kebaikan” (Khotbah, 206, 3) — akan sampai ke surga dan memberi kita kedamaian.

 

Kita mempercayakan perjalanan Masa Prapaskah kita kepada Perawan Maria, Bunda kita yang selalu menolong anak-anaknya di saat-saat pencobaan.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Empat tahun telah berlalu sejak dimulainya perang melawan Ukraina. Pikiran tulus saya tetap terfokus pada situasi tragis yang terjadi di depan mata seluruh dunia: begitu banyak korban, begitu banyak nyawa dan keluarga yang hancur, kehancuran yang begitu besar, penderitaan yang tak terkatakan! Setiap perang benar-benar merupakan luka yang ditimbulkan atas seluruh umat manusia; perang meninggalkan kematian, kehancuran, dan jejak penderitaan yang membekas dari generasi ke generasi.

 

Perdamaian tidak dapat ditunda. Kebutuhan mendesak yang harus bersemayam di dalam hati kita dan diterjemahkan ke dalam keputusan yang bertanggung jawab. Karena alasan ini, dengan sepenuh hati saya kembali mengimbau: hentikan senjata, hentikan pemboman, capailah gencatan senjata segera, dan perkuatlah dialog untuk membuka jalan menuju perdamaian.

 

Saya mengajak semua orang untuk bergabung dalam doa bagi rakyat Ukraina yang sedang berjuang dan bagi semua orang yang menderita akibat perang ini dan setiap konflik di dunia, agar karunia perdamaian yang telah lama dinantikan dapat menyinari hari-hari kita.

 

Sekarang saya menyapa kamu semua: umat Roma dan para peziarah dari Italia dan berbagai negara lainnya.

 

Dengan hangat saya memberkati para Suster Pekerja Yesus yang sedang memperingati seratus tahun berdirinya tarekat mereka. Saya menyapa Sekolah Santo Yosef Calasanzio Prievidza, Slovakia, dan saya mendukung lembaga-lembaga yang berkomitmen untuk bersama-sama mengatasi penyakit langka.

 

Saya menyapa kelompok Kerasulan Doa dari Biella; umat dari Nicosia, Castelfranco Veneto, dan dekenat Melegnano; para calon penerima sakramen krisma dari Boltiere; kaum muda komunitas pastoral Santa Maria Magdalena Milan; dan para pramuka dari Tarquinia.

Kepada semuanya saya mengucapkan selamat hari Minggu dan semoga perjalanan Masa Prapaskahmu berbuah.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 23 Februari 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 18 Februari 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 1. MISTERI GEREJA, SAKRAMEN PERSATUAN DENGAN ALLAH, DAN PERSATUAN SELURUH UMAT MANUSIA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Ketika Konsili Vatikan II, yang dokumen-dokumennya kita dedikasikan untuk katekese ini, ingin menggambarkan Gereja, perhatian utama mereka adalah menjelaskan asal-usulnya. Untuk melakukan hal itu, dalam Konstitusi Dogmatis Lumen gentium, yang disetujui pada 21 November 1964, mereka mengambil istilah "misteri" dari surat-surat Santo Paulus. Dengan memilih kata ini, mereka tidak bermaksud mengatakan bahwa Gereja adalah sesuatu yang samar atau tidak dapat dipahami, sebagaimana umumnya dipikirkan ketika kata "misteri" terdengar. Justru sebaliknya: sesungguhnya, ketika Santo Paulus menggunakan kata itu, terutama dalam Surat kepada Jemaat Efesus, ia ingin menunjukkan suatu kenyataan yang sebelumnya tersembunyi dan sekarang diungkapkan.

 

Hal ini merujuk pada rencana Allah, yang memiliki tujuan: mempersatukan semua ciptaan berkat tindakan pendamaian Yesus Kristus, suatu tindakan yang terlaksana dalam wafat-Nya di kayu salib. Hal ini dialami pertama-tama dalam jemaat yang berkumpul untuk perayaan liturgi: di sana, perbedaan direlatifkan, dan yang terpenting adalah kebersamaan karena kita ditarik oleh kasih Kristus, yang merobohkan tembok pemisah antara manusia dan kelompok sosial (bdk. Ef 2:14). Bagi Santo Paulus, misteri adalah perwujudan dari apa yang ingin dicapai Allah bagi seluruh umat manusia, dan dinyatakan dalam pengalaman-pengalaman setempat, yang secara bertahap meluas hingga mencakup segenap manusia dan bahkan kosmos.

 

Kondisi umat manusia adalah kondisi fragmentasi yang tidak mampu diperbaiki oleh manusia, meskipun kecenderungan menuju persatuan bersemayam di dalam hati mereka. Tindakan Yesus Kristus memasuki kondisi ini melalui kuasa Roh Kudus, dan mengatasi kekuatan perpecahan dan Sang Pemecah itu sendiri. Berkumpul bersama untuk merayakan, setelah percaya pada pemberitaan Injil, dialami sebagai daya tarik yang diberikan oleh salib Kristus, yang merupakan perwujudan tertinggi kasih Allah. Perasaan dipanggil bersama-sama oleh Allah: inilah sebabnya istilah ekklesia digunakan, yaitu, perkumpulan orang-orang yang menyadari bahwa mereka telah dipanggil bersama-sama. Jadi, ada kesamaan tertentu antara misteri ini dan Gereja: Gereja adalah misteri yang menjadi dapat dipahami.

 

Kumpulan ini, justru karena diwujudkan oleh Allah, tidak dapat dibatasi hanya pada sekelompok orang, melainkan ditakdirkan untuk menjadi pengalaman seluruh umat manusia. Oleh karena itu, Konsili Vatikan II, pada awal Konstitusi Lumen Gentium, menyatakan bahwa: “Gereja dalam Kristus bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia” (no. 1). Dengan penggunaan istilah “sakramen” dan penjelasan yang menyertainya, dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Gereja adalah ungkapan dari apa yang ingin dicapai Allah dalam sejarah umat manusia; oleh karena itu, dengan melihat Gereja, kita dapat sampai batas tertentu memahami rencana Allah, misteri tersebut. Dalam pengertian ini, Gereja adalah sebuah tanda. Selain itu, istilah “sarana” ditambahkan pada istilah “sakramen”, justru untuk menunjukkan bahwa Gereja adalah tanda yang aktif. Memang, ketika Allah bekerja dalam sejarah, Ia melibatkan dalam aktivitas-Nya orang-orang yang menjadi objek tindakan-Nya. Melalui Gerejalah Allah mencapai tujuan-Nya untuk membawa manusia kepada-Nya dan mempersatukan mereka satu sama lain.

 

Persatuan dengan Allah tercermin dalam persatuan umat manusia. Inilah pengalaman keselamatan. Bukan suatu kebetulan bahwa dalam Konstitusi Lumen Gentium, pada Bab 7, yang didedikasikan untuk sifat eskatologis Gereja musafir, sekali lagi digunakan deskripsi Gereja sebagai sakramen, dengan spesifikasi “keselamatan”: “Adapun Kristus, yang ditinggikan dari bumi, menarik semua orang kepada diri-Nya (lih. Yoh. 12:32 yun). Sesudah bangkit dari kematian (lih. Rm 6:9) Ia mengutus Roh-Nya yang menghidupkan ke dalam hati para murid-Nya, dan melalui Roh itu Ia menjadikan Tubuh-Nya, yakni Gereja, sakramen keselamatan bagi semua orang. Ia duduk di sisi kanan Bapa, namun tiada hentinya berkarya di dunia, untuk mengantar orang-orang kepada Gereja, dan melalui Gereja menyatukan mereka lebih erat dengan diri-Nya; lagi pula untuk memberi mereka santapan Tubuh dan Darah-Nya sendiri, serta dengan demikian mengikutsertakan mereka dalam kehidupan-Nya yang mulia”.

 

Teks ini memungkinkan kita untuk memahami hubungan antara tindakan pemersatu Paskah Yesus, yang merupakan misteri penderitaan, waft, dan kebangkitan-Nya, dan jatidiri Gereja. Pada saat yang sama, teks ini membuat kita bersyukur menjadi bagian dari Gereja, tubuh Kristus yang bangkit dan satu umat Allah yang berziarah melalui sejarah, yang hidup sebagai kehadiran yang menguduskan di tengah-tengah umat manusia yang masih terpecah-pecah, sebagai tanda persatuan dan rekonsiliasi yang efektif di antara bangsa-bangsa.

 

[Sapaan Khusus]

 

Pagi ini saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, terutama mereka yang datang dari Inggris, Skotlandia, Irlandia, Finlandia, Belanda, Filipina, dan Amerika Serikat. Secara khusus saya menyapa para mahasiswa Pusat Roma Universitas Loyola Chicago. Saat kita memulai perjalanan Masa Prapaskah kita hari ini, marilah kita memohon kepada Tuhan untuk menganugerahkan kepada kita karunia pertobatan hati yang sejati agar kita dapat semakin baik menanggapi kasih-Nya kepada kita dan membagikan kasih itu kepada orang-orang di sekitar kita. Atas kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dalam katekese lanjutan kita tentang Konsili Vatikan II, kita telah merefleksikan berbagai aspek Wahyu Ilahi. Secara khusus, kita telah melihat bagaimana Allah memilih untuk menyatakan diri-Nya, dengan menyatakan misteri kasih dari rencana ilahi-Nya untuk mempersatukan semua orang kepada-Nya melalui Putra-Nya, Yesus Kristus. Sesungguhnya, hanya dalam misteri inilah kita dapat memahami baik asal usul maupun misi Gereja. Dalam terang ini, hari ini kita beralih untuk menelaah Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, yang menyajikan Gereja sebagai tanda dan sarana rencana keselamatan ini. Sebagai tanda karena komunitas Gereja membuat persatuan yang ditetapkan oleh Kristus melalui salib dan kebangkitan-Nya terlihat oleh dunia saat ini. Sebagai sarana karena melalui Gereja Allah mencapai tujuan-Nya untuk mempersatukan manusia kepada diri-Nya dan membawa mereka bersama-sama. Saat kita menempuh perjalanan melalui dunia yang masih ditandai oleh perpecahan, marilah kita memohon kepada Tuhan untuk terus membimbing Gereja-Nya dalam misi pengudusan dan rekonsiliasi.

___________

(Peter Suriadi - Bogor, 19 Februari 2026)