Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 25 Oktober 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Dalam Bacaan Injil hari ini, Tuhan sekali lagi membawa kita ke inti iman kita (bdk. Mat 22:34–40). Seorang ahli Taurat, yang hendak mencobai Yesus, bertanya kepada-Nya, “Perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (ayat 36). Sang Guru menjawab dengan mengutip sebuah ayat dari Kitab Ulangan: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu” (ayat 37; bdk. Ul 6:5). Kristus menempatkan kasih sebagai pusat dari hubungan kita dengan Allah. Sesungguhnya, tidaklah cukup hanya mengetahui bahwa Allah itu ada, bahwa Ia adalah satu-satunya Allah, atau bahwa Ia Maha Kuasa. Tuhan menghendaki hubungan pribadi dengan kita: Allah yang esa dan sejati ingin menjadi Allah kita.

 

Dalam perjumpaan kita dengan-Nya, perintah kasih bukanlah suatu kewajiban ataupun paksaan. Sesungguhnya, kita tidak dapat mengasihi “atas dasar perintah.” Kasih kepada Allah merupakan hakikat terdalam dari hasrat manusia, yang menemukan kepenuhannya dalam persekutuan dengan-Nya. Oleh karena itu, kasih kita hanya dapat menjadi otentik jika merupakan tanggapan terhadap kasih-Nya, yang senantiasa mendahului kita. Dari sinilah muncul kebutuhan akan penyerahan diri secara total yang melibatkan seluruh pribadi: hati, jiwa, dan akal budi.

 

Pada perintah yang pertama, Tuhan menambahkan perintah yang kedua: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:39). Aturan hidup ini bersumber dari akar yang sama; itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa perintah ini serupa dengan yang pertama. Berkat hubungan yang erat dengan Allah, kita dimampukan untuk memandang diri sendiri dan sesama melalui mata Kristus, dari sudut pandang-Nya. Dengan cara ini, sikap mementingkan diri sendiri dapat diatasi, bahkan kasih terhadap diri sendiri pun berubah menjadi amal kasih: keberadaan kita terarah kepada sesama dan menjadi anugerah bagi orang-orang di sekitar kita.

 

Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus memahami hal ini dengan baik: “Hanya kasihlah,” tulisnya, yang membuat “anggota-anggota Gereja bertindak; dan seandainya kasih itu padam, para rasul pun tidak akan mewartakan Injil” (bdk. *Karya Lengkap*, Manuskrip B, 3v°, Roma 1997, 223). Sungguh, tanpa kasih, iman kita akan kehilangan esensinya, perbuatan baik kita hanya akan menjadi sekadar moralisme, dan harapan kita akan menjadi sia-sia.

 

Saudara-saudari terkasih, kita tidak dapat sungguh-sungguh mengasihi Allah kecuali jika kasih ini meluap menjadi kasih terhadap saudara-saudari kita. Dan kita tidak dapat sungguh-sungguh mengasihi sesama kita, kecuali sebagai anak-anak dari Bapa yang sama, yang telah mengasihi kita terlebih dahulu di dalam Putra-Nya, Yesus.

 

Marilah kita memohon kepada Tuhan anugerah hati yang baru, yang mampu merangkul dan menghayati perintah yang terbesar dari segala perintah. Semoga Santa Perawan Maria, yang di dalam hatinya yang tak bernoda tidak terdapat apa pun selain kasih, menjadi perantara bagi kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari sekalian,

 

Saya sedang mengikuti dengan penuh keprihatinan gawatnya situasi kemanusiaan di Yaman, khususnya di kota Taiz, di mana penduduknya menderita akibat kekurangan pangan, air, dan layanan medis. Saya mengimbau dengan sungguh-sungguh agar permusuhan dihentikan, serta rakyat Yaman dan seluruh penduduk di kawasan tersebut dijamin haknya untuk hidup dalam perdamaian.

 

Doa saya tertuju pada semua pihak yang terluka atau kehilangan nyawa pada hari Jumat lalu dalam serangan teroris terhadap umat di Gereja Ortodoks Santo Georgius di Hamoud, Yordania. Saya menyatakan kedekatan saya dengan komunitas dan seluruh negeri tersebut, yang dikenal karena kehidupan berdampingan secara damai serta sikap saling menghormati antarumat beragama.

 

Mari kita terus berdoa bersama demi perdamaian. Lusa, tanggal 27 Oktober, marilah kita bersatu dalam semangat dengan para pemimpin gereja dan tokoh agama yang akan berkumpul di Asisi untuk memperingati 40 tahun pertemuan yang digagas oleh Santo Yohanes Paulus II. Belum pernah sejelas saat ini bahwa perang —selain menebar kematian dan kehancuran — juga memiskinkan serta merugikan dunia. Semoga Tuhan menginspirasi pilihan untuk menempuh jalan dialog dan perdamaian!

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara!

 

Saya menyambut para anggota Centro Académico Romano Fundación Spanyol; kelompok dari Kolose Santa Klara Ballygawley, Irlandia; serta kelompok dari sekolah-sekolah “Santo Yohanes Paulus II” di Keuskupan Opole, Polandia.

 

Saya senang dapat menyambut para kepala protokol dari sejumlah kementerian dan departemen pemerintah Italia.

 

Saya menyapa para anggota Lembaga “Solidarietà in Buone Mani” dari Castiglion Fiorentino, serta sekelompok sahabat dari Concorezzo yang datang berziarah dalam rangka merayakan ulang tahun mereka yang ke-70.

 

Selamat menikmati hari Minggu bagi kamu semua.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 25 Oktober 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 21 OKTOBER 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. IV. KONSTITUSI PASTORAL GAUDIUM ET SPES (GS 47-52). 5. KOMITMEN TERHADAP KELUARGA DALAM DUNIA ZAMAN SEKARANG

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Hal pertama yang ingin saya sampaikan adalah terima kasih! Terima kasih atas dukungan doa-doamu. Puji syukur kepada Allah atas kemurahan hati-Nya. Marilah kita semua memperbarui kepercayaan kita kepada kebaikan dan kerahiman Allah.

 

Konstitusi pastoral Konsili Vatikan II Gaudium et Spes (GS), setelah menguraikan martabat pribadi manusia dan panggilannya di dunia pada bagian pertama, kemudian membahas — dalam terang Injil dan pengalaman manusia — beberapa isu dunia sekarang ini yang paling mendesak pada bagian kedua (bdk. GS, 46). Dokumen ini berfokus terutama pada perkawinan dan keluarga, dengan keyakinan bahwa “keselamatan pribadi maupun masyarakat manusiawi dan kristiani erat berhubungan dengan kesejahteraan rukun perkawinan dan keluarga” (GS, 47).

 

Untuk itu, dokumen ini tidak sekadar menegaskan kembali nilai dan tujuan perkawinan serta keluarga, melainkan menawarkan pemahaman yang diperbarui mengenai perkawinan sebagai “persekutuan hidup dan kasih suami-istri yang mesra” (GS, 48). Dengan tetap menyertakan dimensi hukum perkawinan sebagai suatu kontrak, dasar dari persatuan ini diakui sebagai “perjanjian suami-istri”, yang dipahami sebagai “tindakan manusiawi, yakni saling menyerahkan diri dan saling menerima antara suami dan istri” (GS, 48). Saling memberikan diri antara pria dan wanita — sehingga “mereka bukan lagi dua, melainkan satu daging” (Mat 19:6) — menjadi landasan bagi tuntutan akan “kesetiaan sepenuhnya” dan “kesatuan yang tak terpisahkan” di antara suami dan istri, yang secara nyata terungkap dalam kelahiran dan pengasuhan anak-anak (bdk. GS, 48). Sebagai cermin Tritunggal Mahakudus, cinta kasih suami-istri dan cinta kasih orang tua — melalui Sakramen Perkawinan — “dibimbing serta diperkaya berkat daya penebusan Kristus”, sehingga suami dan istri dapat saling mengasihi “seperti Kristus mengasihi Gereja dan menyerahkan diri untuknya” (GS, 48).

 

Setelah menjelaskan hakikat perkawinan dalam terang cinta Kristus — yang merupakan kebenaran dari cinta kasih manusiawi sekaligus ilahi — Gaudium et Spes mengalihkan perhatiannya pada cinta kasih suami-istri dan kesuburan dalam perkawinan. Cinta kasih suami-istri tidak terbatas pada ketertarikan erotis — meskipun hal itu juga tercakup di dalamnya — melainkan melibatkan seluruh kehendak pasangan, menghidupkan kasih sayang dalam hati mereka, serta diungkapkan melalui perasaan dan tindakan yang penuh kelembutan (bdk. GS, 49). Dengan merangkul kebaikan pribadi seutuhnya, baik pria maupun wanita — yang memiliki martabat setara — cinta ini meresapi seluruh kehidupan pasangan dan terungkap dalam tindakan-tindakan yang secara khusus hanya ada dalam perkawinan (bdk. GS, 49). Selain melambangkan cinta kasih yang utuh dari satu pribadi kepada pribadi lainnya, keintiman yang khas di antara suami dan istri ini menumbuhkan semangat saling memberikan diri serta memperkaya sukacita yang mereka alami bersama (bdk. GS, 49).

 

Selanjutnya, kesuburan cinta kasih suami-istri terwujud dalam prokreasi anak, yang merupakan “anugerah terbesar dalam perkawinan” (GS, 50). Dengan meneruskan dan mendidik kehidupan manusia — yang tidak boleh ditolak dengan cara apa pun — suami-istri menjadi “mitra kerja cinta kasih Allah Pencipta dan bagaikan penterjemah-Nya” (idem). Karena dipanggil untuk menunaikan tugas penuh tanggung jawab manusiawi serta kristiani, mereka hendaknya membentuk pendirian yang sehat, sambil mengindahkan baik kesejahteraan mereka sendiri maupun kesejahteraan anak-anak, baik yang sudah lahir maupun yang mereka perkirakan masih akan ada. Pertimbangan semacam itu — yang pada akhirnya wajib diadakan oleh suami-istri sendiri di hadapan Allah — menuntut agar suara hati mereka disesuaikan dengan hukum ilahi, menganut bimbingan Wewenang Mengajar Gereja yang dalam terang Injil memberi tafsiran autentik kepada hukum itu (bdk. GS, 50).

 

Penekanan pada persekutuan penuh cinta kasih dan kesuburan untuk menghasilkan keturunan dalam perkawinan menuntun Konsili untuk menolak kemungkinan adanya “pertentangan yang sesungguhnya antara hukum-hukum ilahi tentang penyaluran
hidup dan usaha memupuk cinta kasih suami-istri yang sejati” (GS, 51). Sebaliknya, Konsili menegaskan bahwa “bila soalnya bagaimana menyelaraskan cinta kasih suami-istri dengan penyaluran kehidupan secara bertanggung jawab”, kita harus “menghormati arti sepenuhnya yang ada pada saling penyerahan diri dan pada keturunan manusiawi, dalam konteks cinta kasih yang sejati” (GS, 51). Dari sini, tersirat pula bahwa “kehidupan sejak saat pembuahan harus dilindungi dengan sangat cermat”, dengan menolak “pengguguran dan pembunuhan anak”; serta bahwa “ tindakan yang khas bagi hidup perkawinan sendiri, yang diatur sesuai dengan martabat manusiawi yang sejati, wajib dihadapi dengan sikap hormat yang sungguh mendalam” (GS, 51).

 

Ajaran Gaudium et Spes mengenai komunitas suami-istri dan keluarga selanjutnya menyoroti fungsi sosial keluarga — yang didefinisikan sebagai “sekolah kemanusiaan yang lebih mendalam” dan “dasar masyarakat” (GS, 52) — serta menyerukan kepada semua pihak yang mengemban tanggung jawab sosial, khususnya di bidang politik dan budaya, untuk berkewajiban “dengan tekun mengembangkan nilai-nilai perkawinan dan keluarga” (GS, 52).

 

Saudara-saudari terkasih, tugas ini kini jauh lebih mendesak daripada sebelumnya. Gereja sangat menyadari hal ini, sebagaimana terlihat dari perhatian pastoral para Paus yang silih berganti sejak Konsili terakhir, hingga dua Sidang Sinode yang diselenggarakan oleh Paus Fransiskus — yang baru-baru ini kembali dibahas oleh para pemimpin Gereja Katolik Timur dan para Ketua Konferensi Waligereja. Semoga Keluarga Kudus dari Nazaret menerangi perjalanan kita dan melindungi keluarga-keluarga di seluruh dunia.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang hadir dalam Audiensi hari ini. Bagi kamu semua beserta keluarga, saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam lanjutan katekese kita mengenai Gaudium et Spes, hari ini kita membahas martabat perkawinan dan keluarga dalam konteks tantangan masa kini. Para Bapa Konsili menyadari bahwa kesejahteraan semua orang dalam masyarakat sangat erat kaitannya dengan kesehatan perkawinan dan keluarga. Mereka berupaya menghadirkan visi baru tentang cinta kasih suami-istri sebagai persekutuan mesra yang mencerminkan kehidupan Allah Tritunggal, serta berakar pada — dan diperkaya oleh — kuasa penebusan Kristus. Oleh karena itu, marilah kita berdoa memohon berkat dan perlindungan Allah bagi semua keluarga.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 21 Oktober 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 18 Oktober 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil dalam liturgi hari ini (Mat 22:15-21) menyajikan salah satu perkataan Yesus yang paling terkenal: “Berikanlah milik kaisar kepada kaisar dan milik Allah kepada Allah” (bdk. ayat 21). Oleh karena itu, memikirkan kata-kata ini dalam konteks saat perkataan tersebut pertama kali diucapkan penting.

 

Penginjil Matius menggambarkan situasi permusuhan terhadap Yesus: orang-orang Farisi berkumpul untuk mencari cara menjerat Yesus dalam perkataan-Nya (bdk. ay. 15). Mereka memutuskan untuk menyuruh beberapa orang guna menanyakan suatu persoalan kontroversial kepada-Nya: “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” (ayat 17). Tanggapan Sang Guru sangat cerdik; Ia berhasil menghindari jeratan tersebut sekaligus menyingkapkan kemunafikan orang-orang yang hendak mencobai-Nya. Ia meminta mereka menunjukkan mata uang yang digunakan untuk membayar pajak, yakni satu dinar. Mereka menyerahkannya kepada-Nya, lalu Yesus bertanya, “Gambar dan nama siapakah ini?” Mereka menjawab, “Gambar dan nama kaisar.” Kemudian Ia menegaskan, “Berikanlah milik kaisar kepada kaisar dan milik Allah kepada Allah” (ay. 17-21).

 

Dalam diri Yesus, kita merenungkan Allah yang tidak takut akan sejarah, melainkan justru hadir untuk tinggal di dalamnya. kerajaan-Nya tidak meniadakan peran dan tanggung jawab manusia. Sebaliknya, kerajaan-Nya memanggil kita untuk hidup tanpa kompromi, bebas dari ambisi egois dan motif yang tidak adil, serta senantiasa mengutamakan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (bdk. Mat 6:33). Dalam konteks ini, menarik untuk dicatat bahwa orang-orang tersebut justru memuji Yesus, meskipun niat mereka jauh dari tulus: “Guru, kami tahu, Engkau orang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut terhadap penilaian orang, sebab Engkau tidak memandang muka” (ayat 16).

 

Saudara-saudari terkasih, inilah tepatnya makna dari “memberikan milik kaisar kepada kaisar dan milik Allah kepada Allah”: yakni bersikap jujur, bebas dari rasa takut yang menghambakan ataupun kemunafikan, serta bebas untuk berbuat baik. Marilah kita berdoa kepada Tuhan agar Ia menolong kita untuk hidup dengan cara seperti ini. Dan marilah kita menyerahkan diri kita dalam perantaraan Santa Perawan Maria.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Hari ini kita merayakan Hari Minggu Misi Sedunia ke-100. Marilah kita memikirkan betapa panjang sejarah misi yang telah terukir selama seratus tahun ini! Marilah kita berdoa agar Gereja senantiasa setia pada amanat Tuhan yang bangkit: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15).

 

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendoakan saya dalam beberapa hari terakhir. Saya sungguh merasakan dukunganmu. Terima kasih!

 

Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih secara khusus kepada para dokter, perawat, dan seluruh staf Rumah Sakit Gemelli.

 

Pengalaman ini membuat saya merasa sangat dekat dengan semua orang yang sedang berjuang melawan penyakit atau kelemahan fisik.

 

Kini, setelah melewati fase yang cukup kritis ini — sebagaimana kamu ketahui — saya akan secara bertahap kembali menjalankan kegiatan saya, senantiasa dengan pertolongan Allah dan doa-doamu.

 

Sekali lagi, terima kasih. Terima kasih kepada kamu semua! Selamat hari Minggu!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 18 Oktober 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 11 Oktober 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Dalam Bacaan Injil hari ini Yesus berbicara tentang perjamuan kawin yang disiapkan oleh seorang raja bagi anak laki-lakinya (bdk. Mat. 22:1–14).

 

Perkawinan seorang anak laki-laki merupakan peristiwa istimewa bagi keluarga mana pun, dan sang ayah yang berbahagia ini ingin berbagi sukacitanya dengan semua orang. Ia menyiapkan perjamuan dan mengundang banyak orang. Santo Thomas Aquinas mengatakan bahwa kebaikan, pada hakikatnya, cenderung menyebar: "Bonum dicitur diffusivum sui" (Summa Theologiae, I, q. 5, a. 4, ad 2). Gambaran dalam kisah ini mengungkapkan gagasan tersebut dalam konteks pengalaman hidup kita. Terjadinya sesuatu yang baik akan menyalakan cahaya yang mendorong kita untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain.

 

Namun, menanggapi undangan yang begitu murah hati tersebut, alih-alih datang ke perjamuan, para tamu justru tidak mengindahkannya dan lebih memilih untuk melanjutkan urusan mereka sendiri. Ada yang merasa kesal, menghina utusan sang raja, bahkan membunuh mereka. Sayangnya, hal ini bisa terjadi juga pada kita, karena kebaikan yang kita tawarkan tidak selalu dipahami, diakui, atau dihargai. Bahkan, terkadang kebaikan itu sengaja disalahartikan dan ditolak. Namun, hal ini tidak boleh mematahkan semangat kita. Saat menghadapi penolakan, sang raja tidak menunda perkawinan atau membatalkan perayaan. Sebaliknya, ia justru memperluas undangannya kepada lebih banyak orang lagi, dengan menyuruh para hambanya pergi ke persimpangan-persimpangan jalan untuk mengundang mereka, agar sukacita kedua mempelai dapat menjadi anugerah bagi semua orang.

 

Pada titik ini, kita dapat bertanya pada diri kita siapa yang dilambangkan oleh tokoh-tokoh utama dalam kisah ini. Santo Hieronimus mengidentifikasi sang raja sebagai Bapa surgawi, mempelai laki-laki sebagai Yesus, dan mempelai perempuan sebagai Gereja (bdk. Ulasan tentang Matius, Buku III, bab 22). Kita pun termasuk dalam tokoh-tokoh utama tersebut; kita dipilih oleh Tuhan untuk ambil bagian dalam kehidupan dengan Dia dan menjadi pembawa kehidupan bersama Dia. Perjamuan kawin itu adalah perjamuan kawin kita, dan ruang perjamuannya adalah gereja dan rumah kita — tempat kita menjalani hidup dan tempat sang Putra Raja, Yesus Kristus, terus menyatakan kasih-Nya kepada kita seraya menantikan jawaban "ya" kita. Di sanalah kita berjumpa Dia; kita dikenakan pakaian layaknya mempelai perempuan — yakni jubah putih pembaptisan — dan dihiasi dengan permata perbuatan baik, yang mendekatkan kita kepada Allah dan satu sama lain.

 

Oleh karena itu, sukacita yang kita wartakan bukanlah sesuatu yang dibuat-buat; sukacita itu mendalam, berwujud, dan nyata. Sukacita itu seindah wajah orang-orang yang kita jumpai. Sukacita itu setulus karya, senyuman, air mata, jabat tangan, dan tindakan kebaikan yang mengisi hari-hari kita. Semua itu anugerah Allah demi keselamatan dunia.

 

Maka, marilah kita memohon kepada Maria, Bunda Tuhan, untuk membantu kita bertumbuh dalam sukacita ini. Bahkan ketika sukacita ini tidak dipahami, marilah kita mewartakannya senantiasa dan di mana saja, dengan kemurahan hati, keberanian, dan iman.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Kemarin, di Mantua, Suster Maria Ignazia Isacchi, pendiri Kongregasi Suster Ursulin Hati Kudus Yesus, dibeatifikasi. Antara akhir abad ke-19 dan dekade-dekade awal abad ke-20, ia membaktikan diri dengan kasih yang penuh keberanian bagi mereka yang berkekurangan dan kurang beruntung. Semoga teladannya membangkitkan kembali dalam diri kita segenap hasrat untuk menjadi saksi kasih Injil bagi semua orang di dunia ini.

 

Perang di Ukraina yang sedang dilanda penderitaan terus menimbulkan dampak yang melampaui batas-batas wilayahnya, terutama di negara-negara termiskin, di mana begitu banyak orang bergantung pada impor biji-bijian. Saya mengimbau dengan sungguh-sungguh para pihak yang bertikai agar mengizinkan pengangkutan biji-bijian yang aman melalui Laut Hitam. Makanan pokok bagi jutaan orang tidak boleh dijadikan sandera oleh perang.

 

Hari ini di Italia diperingati sebagai Hari bagi Korban Kecelakaan Kerja. Saya menyapa Lembaga Nasional Pekerja yang Mengalami Cedera dan Disabilitas Akibat Kerja, serta mendukung upaya-upaya pencegahan.

 

Saya menyapa dengan hangat kamu semua, baik umat Roma maupun para peziarah!

 

Saya menyapa para anggota Hermandad del Señor de los Milagros di Roma dan semua orang yang ambil bagian dalam prosesi dengan ikon Kristus tersalib yang dihormati. Terima kasih atas doa-doamu bagi kunjungan pastoral yang akan saya lakukan ke Peru.

 

Dengan sukacita saya menyapa umat Eparki Katolik Yunani Mukachevo di Ukraina, yang didampingi oleh Uskup mereka; Asociación de fieles Hakuna; las Antiguas Alumnas Jesús Maria España; paduan suara dan sekolah paduan suara Katedral Haarlem di Belanda; serta umat dari Wina.

 

Saya menyapa kaum muda dari Vikariat Chiaravalle di Keuskupan Senigallia; para anggota AIDO dari cabang provinsi Belluno; kelompok Ars Enotria dari Cosenza; serta tim sepak bola putri dari Rumah Sakit Biella.

 

Sahabat-sahabat, dalam beberapa pemeriksaan medis baru-baru ini, para dokter menemukan sebuah pembengkakan kecil yang terlokalisasi di paru-paru saya. Pembengkakan tersebut terdeteksi pada tahap yang sangat dini dan posisinya terlokalisasi dengan baik. Para dokter berpendapat bahwa tindakan medis perlu dilakukan; oleh karena itu, mengikuti saran mereka, saya memutuskan untuk menjalani operasi pengangkatan pembengkakan tersebut. Operasi itu telah dijadwalkan untuk dilaksanakan dalam waktu dekat. Saya berterima kasih atas kedekatan rohani kamu semua dan menyerahkan diri saya dalam doa-doamu.

 

Terima kasih, dan selamat hari Minggu!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 11 Oktober 2026)