Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT 16 Agustus 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Kemarin kita merenungkan sosok Santa Perawan Maria dalam ikatan tak terputuskan dengan Putranya. Bahkan kematian pun tidak dapat memisahkan kesatuan dua pribadi tersebut — baik jiwa maupun raga — yang merupakan kehidupan kekal. Setiap hari Minggu mengingatkan kita bahwa kepenuhan yang sama juga diperuntukkan bagi orang-orang yang mengikuti Yesus. Kebangkitan-Nya bukanlah peristiwa masa lampau, melainkan kehidupan baru yang merangkul kita.

 

Hal ini ditunjukkan hari ini oleh perempuan Kanaan, tokoh utama dalam Bacaan Injil yang dibacakan saat Misa (bdk. Mat 15:21-28). Meskipun ia bukan bagian dari umat-Nya dan tinggal di negeri asing, ia dengan gigih berusaha berbicara kepada Yesus, mengikuti-Nya layaknya seorang murid yang telah memiliki ikatan batin dengan-Nya. Mereka mungkin belum pernah bertemu sebelumnya, namun secara misterius, iman telah berakar dalam dirinya. Ia tidak menginginkan apa pun bagi dirinya, melainkan kedamaian bagi anak perempuannya yang sedang menderita. Ia menaruh kepercayaan kepada Yesus, yang diakui-Nya sebagai Mesias, keturunan Daud (bdk. ayat 22).

 

Penulis Injil tidak menyembunyikan hambatan yang dihadapi perempuan ini. Para murid menganggapnya sebagai gangguan, dan Yesus sendiri menanggapi permohonannya dengan sikap menolak. Sang Guru sebenarnya telah pergi dari situ dan menyingkir (bdk. ayat 21), dan kita dapat membayangkan bahwa, seperti pada kesempatan-kesempatan lain, Ia sedang mencari tempat yang sunyi untuk berdoa dan mengajar murid-murid-Nya. Namun, pada saat itu, sesuatu yang tak terduga terjadi. Dengan merefleksikan hal ini, kita dapat memahami ketaatan Yesus dalam menjalankan perutusan-Nya dengan membiarkan diri-Nya tergerak oleh apa yang Ia lihat dan dengar. Akhirnya, Ia berkata kepadanya: "Hai Ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki" (ayat 28).

 

Bahkan saat ini, Gereja dapat dikejutkan oleh karya Allah dan menyebarkan damai sejahtera Kristus melampaui batas-batas yang telah ditetapkan. Perutusannya didahului oleh rahmat ilahi yang bekerja di lubuk hati nurani kita, sehingga dalam setiap perjumpaan — bahkan yang mengacaukan rencana kita — kita dipanggil untuk mendengarkan dengan saksama seraya membuka mata dan hati terhadap apa yang ingin disampaikan Allah kepada kita.

 

Dari perempuan Kanaan tersebut kita belajar tentang kerendahan dan keteguhan hati. Berkat imannya, kita belajar bahwa perjamuan Allah tersedia bagi semua orang dan tidak ada seorang pun yang hanya mendapatkan remah-remah (bdk. ayat 26-27), karena setiap orang memiliki tempatnya sendiri di hadapan Bapa. Dalam terang iman ini, kesenjangan, diskriminasi, dan berbagai penghalang yang menginjak-injak martabat begitu banyak putra-putri Allah menjadi hal yang tak tertahankan.

 

Saudara-saudari terkasih, kita adalah Gereja Yesus Kristus di tengah dunia yang sedang dilanda kesulitan; dunia yang mendambakan kedamaian. Marilah kita memohon kepada Maria, Bunda kita, untuk menjadi perantara kita, "karena dari bibirnyalah dikumandangkan 'madah terkuat dan paling inovatif yang pernah diucapkan, yaitu Magnificat'" (Magnifica Humanitas, 244). Nyanyian seseorang yang kini memandang kenyataan melalui mata Allah dan, oleh karenanya, tidak kehilangan harapan serta bertindak dalam kasih.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari sekalian,

 

Saya kembali mengimbau diakhirinya kekerasan yang terus berlangsung terhadap penduduk sipil Palestina di Tepi Barat, dan saya mendesak komunitas internasional untuk berupaya memajukan solusi dua negara demi terwujudnya perdamaian yang adil dan abadi.

 

Pekan Olahraga Mediterranean akan dimulai pekan ini di Taranto. Ajang ini akan melibatkan berbagai negara Afrika, Asia, dan Eropa yang merupakan bagian dari kawasan Mediterania. Saya berharap ajang olahraga ini akan menjadi tanda perdamaian dan persahabatan di antara bangsa-bangsa di kawasan ini dan seluruh dunia.

 

Dan sekarang, saya menyapa kamu semua yang telah berkumpul di sini, di Castel Gandolfo, untuk doa Malaiakat Tuhan hari Minggu.

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dari berbagai negara. Saat menyapa para peziarah dari Polandia, saya menyampaikan berkat bagi banyak perempuan yang berpartisipasi dalam ziarah tradisional ke Tempat Ziarah Piekary ÅšlÄ…skie, di Silesia Hulu.

 

Saya ucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 16 Agustus 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 15 Agustus 2026

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Hari ini kita merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga. Perayaan ini sangat penting, baik bagi teologi Katolik maupun bagi kesalehan umat. Sungguh, perayaan ini sangat dijunjung tinggi di banyak komunitas, terutama di tempat-tempat di mana katedral atau gereja paroki didedikasikan bagi Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga.

 

Untuk merenungkan misteri iman ini, kita dapat menilik dua model ikonografi yang telah digunakan oleh para seniman selama berabad-abad untuk menggambarkan peristiwa ini.

 

Model pertama — yang juga merupakan model tertua dan satu-satunya yang digunakan selama hampir satu milenium — menggambarkan Dormitio (Tertidurnya) Bunda Allah. Ia digambarkan sedang berbaring di atas keranda, tertidur dalam kematian; di sekelilingnya tampak para Rasul yang tergerak untuk menghormatinya dalam doa; dan di tengah-tengahnya terdapat Yesus yang telah bangkit, sedang menggendong jiwa Maria layaknya seorang bayi yang baru lahir. Yesus datang untuk membawa Maria agar bersatu dengan-Nya dalam kemuliaan Allah, yang kita sebut sebagai surga. Dengan demikian, Tuhan menggenapi bagi Bunda-Nya apa yang telah Ia janjikan kepada semua sahabat-Nya: "Apabila Aku telah pergi dan menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat Aku berada, kamu pun berada" (Yoh 14:3).

 

Model pertama ini menyoroti kebenaran yang paling utama. Setelah wafat dan bangkit, Kristuslah yang menuntun kita menuju tujuan penciptaan kita, yakni kehidupan kekal. Inilah yang telah direnungkan oleh berbagai generasi umat beriman saat berdoa di hadapan ikon Dormitio, dan yang dapat dikagumi di Roma, pada mosaik megah di bagian apsis (ceruk besar berbentuk setengah lingkaran) Basilika Santa Maria Maggiore.

 

Tradisi ikonografi yang lebih baru, yang berkembang kemudian di Barat, menampilkan sosok Perawan Maria secara utuh di surga, diliputi cahaya, serta kerap dikelilingi oleh para malaikat dan para kudus. Di tengah gambar tersebut tampak tubuh Perawan Maria yang telah dimuliakan, selaras dengan apa yang tertulis dalam Kitab Wahyu: "Kemudian tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya" (Why 12:1).

 

Beberapa seniman telah memadukan kedua gagasan tersebut dengan menampilkan sosok Perawan yang mulia di bagian atas gambar dan makamnya yang kosong — sering kali dipenuhi bunga beraneka warna — di bagian bawah, sementara para Rasul menatap ke arahnya di surga.

 

Model kedua ini menyoroti kebenaran bahwa Maria diangkat ke surga dengan tubuh dan jiwanya, yakni dalam keutuhan pribadinya. Sosok perempuan yang semasa di bumi memberikan daging dan darah bagi Sabda yang menjadi manusia serta mengikuti-Nya hingga mencapai persatuan sempurna dalam kurban kasih, kemudian ditarik oleh-Nya selama-lamanya ke dalam kemuliaan.

 

Dengan demikian, ikonografi ini memungkinkan kita untuk merenungkan tujuan akhir kita. Kepenuhan hidup — yang hari ini kita kagumi dengan penuh sukacita dalam diri Maria — juga menanti kita pada akhir zaman; saat Kristus yang bangkit, sebagaimana dikatakan Santo Paulus, "akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia" (Flp 3:21), serta yang dapat binasa mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati mengenakan yang tidak dapat mati (bdk. 1Kor 15:54). Kelak, dengan tubuh kita yang telah diubah rupa oleh kasih Sang Penebus, kita akan hidup selama-lamanya dalam perayaan yang tiada berkesudahan.

 

Marilah kita memuji Tuhan, yang telah melakukan perkara-perkara besar dalam diri Bunda-Nya yang kudus — yang juga menjadi Bunda kita!

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Santa Perawan Maria, yang diangkat ke dalam kemuliaan surga, merupakan tanda harapan dan penghiburan bagi seluruh umat Allah. Oleh karena itu, hari ini saya ingin memohon perantaraan keibuannya bagi komunitas-komunitas yang sangat membutuhkan penghiburan dan pembaruan harapan. Secara khususnya pikiran saya tertuju kepada saudara-saudari kita di Tanah Suci, yang juga merupakan Tanah Maria. Pikiran saya juga tertuju kepada bangsa Ukraina dan Rusia — yang keduanya dipersatukan oleh devosi bakti kepada Santa Bunda Allah — serta kepada umat kristiani yang mengalami diskriminasi atau bahkan penganiayaan.

 

Saya terus mendoakan rakyat Kolombia yang sedang menderita akibat gempa bumi. Saya menyatakan solidaritas bagi komunitas-komunitas ini dan bagi semua orang yang hidup dalam situasi sulit, dan bersama mereka saya berdoa: "Santa Maria, doakanlah kami!"

 

Saya menyapamu, umat beriman di Castel Gandolfo serta para peziarah yang datang dari Italia dan negara-negara lain. Terima kasih atas kehadiran dan doa-doamu!

 

Saya berharap semoga setiap orang dapat menikmati waktu istirahat untuk memulihkan kembali tenaga dan semangat — mungkin dengan membaca buku yang bermanfaat atau menikmati keindahan alam.

 

Selamat merayakan hari ini dengan sukacita, dan sampai jumpa besok!

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Agustus 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 12 AGUSTUS 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. III. KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM. 6. TAHUN LITURGI

Saudara-saudari yang terkasih,


Konstitusi Konsili Sacrosanctum Concilium (SC) bab lima dikhususkan untuk tahun liturgi, sebuah tema yang ingin kita bahas hari ini untuk menjelaskan nilainya dalam kehidupan setiap orang beriman.

 

Pertama, perlu dicatat bahwa cara menyebut lingkaran perayaan kristiani sebagai "tahun liturgi" ini menjadi lazim dalam bahasa gerejawi berkat karya Hamba Allah, Abbas Prosper Guéranger (1805–1875).

 

Dalam Ensiklik Mediator Dei, Paus Pius XII menyatakan bahwa tahun liturgi “bukanlah sekadar penggambaran peristiwa masa lampau yang dingin dan tak bernyawa, ataupun sekadar … catatan tentang zaman yang telah berlalu. Tahun liturgi justru merupakan Kristus sendiri yang senantiasa hidup di dalam Gereja-Nya. Di sini, Ia melanjutkan perjalanan penuh belas kasih yang telah Ia awali dengan penuh kasih semasa hidup-Nya di dunia … dengan tujuan agar manusia mengenal misteri-misteri-Nya dan menghayatinya dalam hidup mereka. Misteri-misteri ini senantiasa hadir dan berkarya” (III Divinum Officium et Annus Liturgicus, II Cyclus Mysteriorum). Dengan demikian, tahun liturgi hendaknya dipahami sebagai pembaruan terus-menerus atas karya keselamatan yang dilaksanakan Kristus dalam sejarah. Saat menempuh perjalanan melalui lingkaran waktu ini, Gereja senantiasa terhubung dengan karya penebusan Tuhan, agar seluruh umat beriman dapat dipenuhi dengan rahmat-Nya (bdk. SC, 102c).

 

Perjumpaan dengan Yesus, yang wafat dan bangkit kembali demi kita, adalah tujuan yang senantiasa diupayakan oleh Gereja, dengan menempatkan perayaan peristiwa Paskah sebagai pusat dari setiap saat.

 

Oleh karena itu, para Bapa Konsili memandang hari Minggu — "pangkal segala hari pesta" — sebagai "dasar dan inti segenap tahun liturgi" (bdk. SC, 106). Dalam berbagai bahasa modern, namanya menunjukkan bahwa hari itu adalah *dies Domini*, "hari Tuhan". Bahkan dalam bahasa-bahasa yang lebih mengutamakan sebutan "hari matahari" (Sunday, Sonntag), hubungan dengan Kristus tetap dapat dikenali: Kristus adalah "matahari kebenaran" sejati yang menerangi setiap orang!

 

Santo Yohanes Paulus II, dalam Surat Apostolik Dies Domini (31 Mei 1998), mengajarkan bahwa hari Minggu adalah hari Tuhan, hari Gereja, hari manusia, dan pada akhirnya, "hari dari segala hari". "Karena hari Minggu merupakan Paskah mingguan — yang mengenangkan dan menghadirkan kembali hari saat Kristus bangkit dari antara orang mati — hari ini juga menyingkapkan makna waktu. ... Berawal dari kebangkitan, hari ini melintasi waktu manusiawi — bulan, tahun, dan abad — bagaikan anak panah penunjuk arah yang mengarahkannya pada tujuan akhirnya: kedatangan Kristus yang kedua. Hari Minggu menjadi bayangan awal bagi hari terakhir, yakni hari parusia" (75), saat kita semua akan bangkit kembali.

 

Untuk menguduskan hari Minggu, merayakan Ekaristi adalah hal yang mendasar. Mendengarkan Sabda dan menyambut tubuh Kristus — menurut para Bapa Konsili — mengandaikan adanya perhimpunan in unum (bdk. SC, 106), yakni berkumpulnya umat beriman dengan penuh sukacita. Dalam perhimpunan ini, komunitas Kristiani mewujudkan persekutuannya dengan Tuhan serta memberikan kesaksian bahwa mereka adalah milik Kristus dan setia kepada Gereja. Perhimpunan ini tidak dapat digantikan oleh kehadiran yang semata-mata bersifat virtual, ataupun direduksi menjadi sekadar pertemuan yang pasif. Sesungguhnya, perhimpunan liturgis terlaksana melalui partisipasi aktif saudara-saudari yang dipanggil bersama untuk “mengucap syukur kepada Allah, yang 'melahirkan mereka kembali ke dalam pengharapan
yang hidup berkat kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang
mati' (1Ptr 1:3)” (SC, 106).

 

Sehubungan dengan hal ini, saya mendorong semua pihak untuk mengupayakan kondisi terbaik agar mereka yang tidak dapat meluangkan waktu dari pekerjaan pada hari Minggu pun tetap dapat mengikuti Misa Kudus.

 

Saudara-saudari terkasih, tahun liturgi, yang ditandai oleh hari-hari Minggu, memiliki sejarah yang menarik di mana iman dan devosi Gereja saling terjalin. Sesungguhnya, sejak abad kedua Masehi, perayaan Paskah mingguan dilengkapi dengan perayaan Paskah tahunan — "hari raya agung Paskah" (SC, 102) — yang berlangsung selama masa penuh sukacita selama lima puluh hari, memuncak pada hari Pentakosta, dan dipersiapkan melalui masa Prapaskah yang bercorak pertobatan (bdk. SC, 109). Perkembangan masa Natal, yang terjadi kemudian dan meneladani masa Paskah, memungkinkan kita untuk menghayati kembali misteri Inkarnasi Sabda Allah, kelahiran-Nya, serta penampakan-Nya kepada dunia. Selanjutnya, Gereja memasukkan ke dalam berbagai masa tersebut penghormatan kepada Santa Perawan Maria, yang "secara tak terceraikan terlibat dalam karya penyelamatan Putranya" (SC, 103), serta "kenangan para martir dan para kudus lainnya" yang "
melambungkan pujian sempurna kepada Allah di surga serta
menjadi pengantara kita" (SC, 104).

 

Dengan demikian, tahun liturgi menghadirkan kembali — dalam bentuk sakramental — ajaran mengenai sejarah keselamatan, seraya membimbing umat beriman mulai dari penantian akan Mesias menuju kepenuhan misteri Paskah dan antisipasi akan kemuliaan di masa depan. Di dalamnya, Gereja merayakan relevansi keselamatan misteri Kristus, yang memampukan umat beriman untuk ambil bagian di dalamnya secara semakin mendalam. Oleh karena itu, tahun liturgi menjadi prinsip penuntun dan kerangka dasar bagi segala karya pastoral.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Malta dan Zimbabwe. Bagi kamu dan keluarga, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam rangkaian katekese kita yang berkelanjutan mengenai Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Liturgi, *Sacrosanctum Concilium*, hari ini kita merefleksikan tahun liturgi dan relevansinya bagi umat beriman. Tahun liturgi bukan sekadar gambaran statis peristiwa-peristiwa masa lampau, melainkan perjumpaan dengan Kristus sendiri, yang berkehendak untuk membawa umat-Nya menyelami misteri sejarah keselamatan. Hari kebangkitan Kristus dari antara orang mati merupakan inti dari tahun liturgi, sekaligus menjadi gambaran awal akan kedatangan Kristus yang kedua, saat kita semua akan bangkit kembali. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi umat beriman untuk menguduskan Hari Tuhan dengan berkumpul merayakan Ekaristi. Semoga partisipasi aktif dan kesaksian kita yang teguh membantu kita untuk semakin mendalami kenyataan bahwa kita adalah milik Kristus, dan semoga kita menantikan kedatangan-Nya dalam kemuliaan dengan penuh harapan.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Agustus 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 9 Agustus 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil hari ini mengisahkan Yesus yang mendatangi para murid-Nya dengan berjalan di atas air Danau Galilea di tengah badai (bdk. Mat 14:22-33).

 

Setelah mukjizat penggandaan roti dan ikan (bdk. Mat 14:13-21), Sang Guru meminta murid-murid-Nya untuk naik ke perahu dan berangkat, sementara Ia sendiri menepi ke gunung untuk berdoa. Begitu meninggalkan pantai, para murid mendapati diri mereka tak berdaya menghadapi angin sakal dan kesulitan untuk melaju. Setelah pengalaman luar biasa di mana mereka menjadi pelaku utama sebuah tanda ajaib, kini mereka merasa tak berdaya dan ketakutan menghadapi ancaman gelombang serta angin sakal.

 

Menjelang akhir malam, Yesus mendatangi mereka dengan berjalan di atas air yang bergelora; karena ketakutan, mereka mengira Dia adalah hantu (ayat 26). Namun, Ia berkata kepada mereka, "Tenanglah! Ini Aku, jangan takut!" (ayat 27). Kehadiran Tuhan mengubah segalanya: Petrus bahkan berhasil melangkah beberapa kali di atas gelombang menuju ke arah Yesus; namun kemudian, karena nyalinya menciut, ia mulai tenggelam, dan Yesus menyelamatkannya. Ketika Sang Guru akhirnya naik ke perahu, badai pun reda, dan sebuah pengakuan iman secara spontan muncul dari hati para murid: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah!" (ayat 33).

 

Untuk menyadari hal ini, tidaklah cukup bagi mereka sekadar menyaksikan mukjizat atau meraih keberhasilan di mata orang banyak; sebaliknya, mereka harus mengalami kelemahan diri sendiri dan, di tengah kelemahan itu, mengenali kehadiran Allah. Hanya pengalaman inilah yang mampu membuka mata dan hati mereka terhadap kedekatan-Nya, sehingga mereka dapat menemukan kedamaian bahkan di tengah badai.

 

Kelak, Yesus berkata kepada mereka, “Jika kamu percaya dan tidak bimbang... jika kamu berkata kepada gunung ini: Terangkatlah dan terbuanglah ke dalam laut! hal itu akan terjadi” (Mat 21:21). Hal ini serupa dengan apa yang mereka alami di danau: damai Kristus — yang sebelumnya berada di gunung untuk berdoa — menjangkau mereka di tengah amukan air.

 

Maka, mukjizat ini mengajarkan kita sesuatu yang penting. Pertama, agar kita tidak terlena oleh keberhasilan dan tidak pernah bersikap angkuh. Pada saat yang sama, agar kita tidak putus asa, bahkan di saat-saat kelam ketika kita merasa tak berdaya menghadapi masalah dan — meskipun telah berupaya — kita justru tampak mundur bukannya maju. Apa pun keadaannya, Yesus tidak meninggalkan kita; dan jika dengan rendah hati kita menyambut-Nya masuk ke dalam perahu kehidupan kita — melalui doa, sakramen, dan mendengarkan Sabda-Nya — maka di dalam Dia, kita akan menemukan damai, terang, dan kekuatan untuk perjalanan hidup kita.

 

Semoga Maria, yang dinyatakan berbahagia karena imannya (bdk. Luk 1:45), membantu kita untuk hidup dalam penyerahan diri yang penuh kepercayaan kepada Allah.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dengan penuh keprihatinan saya terus mengikuti situasi tragis di Sudan, khususnya di kota El-Obeid. Seraya mengungkapkan kedekatan rohani saya dengan seluruh rakyat negara tersebut, saya kembali mengimbau pihak-pihak yang berwenang untuk menjamin koridor kemanusiaan bagi penduduk sipil. Pada saat yang sama, saya mendesak masyarakat internasional untuk mendukung upaya-upaya yang bertujuan segera mewujudkan gencatan senjata. Marilah kita berdoa agar Tuhan menguatkan mereka yang sedang menderita, melunakkan hati mereka yang menebar kekerasan, serta menganugerahkan perdamaian yang telah lama dinantikan.

 

Laporan yang memprihatinkan mengenai orang-orang tak berdosa yang tewas dan terluka di Ukraina dan Rusia terus bermunculan. Peristiwa-peristiwa ini terjadi silih berganti — bahkan kian meningkat frekuensinya — sehingga mengakibatkan bertambahnya jumlah korban sipil, termasuk anak-anak. Doa dan simpati saya tertuju kepada keluarga korban, mereka yang terluka, serta semua pihak yang menderita akibat konflik yang masih berlangsung ini. Di tengah penderitaan yang begitu hebat ini, saya kembali mengimbau dengan sungguh-sungguh agar hukum kemanusiaan dihormati dan kedua belah pihak menghentikan serangan terhadap sasaran sipil. Perang hanya akan memicu perang lebih lanjut dan menimbulkan penderitaan yang luar biasa. Sudah saatnya mengakhiri lingkaran kekerasan yang kejam ini serta memberi ruang bagi diplomasi dan dialog, demi membuka jalan menuju perdamaian.

 

Dan kini, saya menyapa dengan hangat kamu semua, baik umat Roma maupun para peziarah dari berbagai negara!

 

Secara khusus saya menyapa kaum muda dari Komunitas Santa Maria Magdalena Keuskupan Agung Milan, yang telah menempuh perjalanan di jalur *Via Francigena* dari Siena menuju Roma; serta para anggota Pramuka dari Enna yang telah mengadakan perkemahan di kawasan perbukitan sekitar Roma; dan juga kaum muda dari Pernumia, Keuskupan Padua.

 

Kehadiran begitu banyak kelompok orang muda, yang memilih untuk meluangkan sebagian waktu liburan musim panas mereka bagi kegiatan pembinaan dan persahabatan, merupakan tanda harapan, sebagaimana halnya pertemuan kaum muda Fransiskan yang dengan sukacita saya jumpai Kamis lalu di Asisi.

 

Kepada kamu semua, kaum muda yang mendengarkan saya, saya ingin mengingatkan bahwa pada masa ini kalender liturgi menyajikan kepada kita teladan luar biasa dari para kudus; saya mengajakmu untuk mengenal mereka lebih dekat. Kemarin kita memperingati Santo Dominikus yang luar biasa, pendiri Ordo Pewarta; hari ini, Santa Teresa Benedikta dari Salib (Edith Stein), seorang biarawati Karmelit yang wafat di Auschwitz dan merupakan salah satu santa pelindung Eropa; besok, Santo Laurensius, diakon Gereja Roma; dan lusa, Santa Klara dari Asisi, yang meninggalkan kehidupan penuh kenyamanan demi mengikuti Yesus yang miskin dan rendah hati, mengikuti jejak langkah sesama warga kotanya, Santo Fransiskus. Kaum muda yang terkasih, perkenankanlah dirimu diinspirasi oleh para saksi Injil yang menjadi teladan ini!

 

Terima kasih kepada kamu semua yang telah hadir di sini, dan selamat menikmati hari Minggu yang penuh berkat!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 9 Agustus 2026)