Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 3 JUNI 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. III. KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM. 3. RITUS, TANDA, DAN SIMBOL

Saudara-saudari terkasih,

 

Seraya kita melanjutkan katekese kita tentang Konstitusi Konsili Sacrosanctum Concilium (SC), kita ingin berhenti sejenak dan merefleksikan beberapa unsur fundamental dari liturgi suci, seperti ritus, tanda, dan simbol.

 

Konsili Vatikan II, yang dibangun di atas karya berharga Gerakan Liturgi, telah membantu kita menemukan kembali kebenaran yang sangat hidup dalam kesadaran Gereja perdana dan ajaran para Bapa Gereja. Ritus liturgi kristiani bukanlah sekadar penutup lahiriah dari misteri sakramental, kumpulan upacara yang sembarangan, tetapi merupakan mediasi gerejawi yang melaluinya karunia ilahi sampai kepada kita. Justru karena alasan inilah, Konsili mengajak kita untuk memahami misteri iman yang diwujudkan dalam liturgi melalui ritus dan doa-doa (bdk. SC, 48).

 

Ritus ini memberi bentuk pada tindakan liturgi dan, melaluinya, pada kehidupan kita, menghasilkan kepekaan spiritual dalam diri kita yang membuat kita mampu menikmati kehadiran Allah melalui Yesus Kristus. Tentu saja, ini terjadi jika kita tidak terus menerus menjadi orang luar atau penonton yang bisu (bdk. idem) sehubungan dengan liturgi, tetapi sebaliknya berpartisipasi sepenuhnya di dalamnya — tubuh, pikiran, dan hati — dalam ketaatan kepada perintah Tuhan. Melalui ritus suci ini kita dibentuk dalam mendengarkan sabda Allah, mengucap syukur dan penyembahan, persekutuan persaudaraan dan persekutuan gerejawi. Kita menemukan bahwa kita adalah umat dengan banyak wajah, dipersatukan oleh satu iman.

 

Ritus melibatkan kita dalam rangkaian gerakan dan doa yang terdefinisi dengan baik, yang terkadang bertentangan dengan kecenderungan individual kita terhadap spontanitas. Namun, nalarnya bukanlah untuk membatasi kebebasan dalam kerangka kerja yang kaku. Sebaliknya, dengan kesederhanaan ritmenya yang khidmat, ritus menghentikan aktivitas kita yang hiruk pikuk, membawa kita kembali kepada hal yang hakiki. Dengan demikian, kita menemukan dimensi tindakan lain yang tidak dipandu oleh perhitungan produktivitas, dan pengalaman waktu dan ruang yang berbeda. Dalam ritus, kita mengalami nalar tanpa pamrih, kita menemukan jeda yang meregenerasi hati, kita menyadari bahwa kita didahului oleh rahmat ilahi dan kita belajar untuk hidup dalam ritme yang dihuni oleh Roh Kudus.

 

Tata bahasa ritus terjalin dengan tanda dan simbol yang sesuai dengan liturgi. Di dalamnya, sebagaimana dinyatakan oleh Konsili, “pengudusan manusia dilambangkan dengan tanda-tanda lahir serta dilaksanakan dengan cara yang khas bagi masing-masing” (SC, 7). Katekismus Gereja Katolik menelaah nilai dari tanda-tanda ini, mengingatkan bahwa “arti dari tanda dan lambang itu berakar dalam karya penciptaan dan dalam kebudayaan manusiawi. Namun ia tampil lebih jelas dalam peristiwa-peristiwa Perjanjian Lama dan menyatakan diri sepenuhnya dalam pribadi dan karya Kristus.” (no. 1145). Tanda air bersifat simbolis: dari asal mula Penciptaan hingga air bah, dari penyeberangan Laut Merah hingga Sungai Yordan, sampai air yang mengalir dari lambung Kristus, yang menjadi tanda sakramental pembaptisan dalam kematian dan kebangkitan-Nya.

 

“Tanda” dan “simbol” adalah istilah yang sering digunakan sebagai sinonim. Pada kenyataannya, sebuah tanda bersifat simbolis ketika ia mampu merujuk tidak hanya pada sebuah gagasan, tetapi pada keseluruhan sistem makna dan nilai. Dengan cara ini, misalnya, ketika kita diperciki air suci, kesadaran kita akan karunia yang diterima pada Baptisan dan komitmen kita terhadap kehidupan baru di dalam Kristus dihidupkan kembali. Kedua, simbol pada dasarnya bersifat praktis, pertama dan terutama berupa tindakan: beberapa sederhana dan umum, seperti berlutut dan saling memberikan salam damai, atau lebih menuntut, seperti tindakan konstitutif dari setiap Sakramen. Simbol terutama memiliki dimensi performatif dan transformatif yang unik, baik dalam kaitannya dengan unsur-unsur material yang membentuknya maupun yang bersentuhan dengannya, menumbuhkan rasa memiliki, menyentuh hati dan pikiran, dan memunculkan hubungan gerejawi yang autentik.

 

Dalam Surat Apostolik Desiderio Desideravi, Paus Fransiskus, menggemakan pernyataan Romano Guardini, mengidentifikasi “tugas pertama dari karya pembentukan liturgi: manusia harus sekali lagi mampu memahami simbol-simbol” (no. 44). Kita perlu membiarkan diri kita dididik oleh ritus-ritus liturgi, menjaga keindahan perayaan kita dengan sentuhan lembut dan tanpa kesewenang-wenangan, dan berkomitmen pada mistagogi yang autentik. Pengalaman liturgi yang hidup dan khidmat, disertai dengan katekese mistagogis yang tepat, adalah sumber terbaik untuk membangkitkan kembali dalam diri setiap orang keterbukaan terhadap perjumpaan dengan Allah yang, dalam nalar Inkarnasi, hanya dapat terjadi dengan melibatkan seluruh pribadi: roh, jiwa, dan tubuh (bdk. 1Tes. 5:23).

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Swedia, Australia, Indonesia, Myanmar, Filipina, Korea Selatan, Kanada, dan Amerika Serikat. Secara khusus saya menyapa para cendekiawan dan peserta konferensi “Merevisi Deklarasi Taipei Lembaga Medis Dunia” dan mitra penyelenggara KTT Global, “Menumbuhkan Harapan bagi Anak-Anak.” Saat kita mempersiapkan diri untuk Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, marilah kita dikuatkan oleh karunia ilahi ini dan menjadi saksi kasih-Nya kepada semua orang yang kita jumpai. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam rangkaian katekese kita tentang Konsili Vatikan II, kita melanjutkan refleksi kita tentang Sacrosanctum Concilium, dengan melihat unsur ritus, tanda, dan simbol yang terdapat dalam liturgi suci. Ritus liturgi kristiani adalah mediasi gerejawi yang melaluinya karunia ilahi sampai kepada kita. Dalam liturgi, kita diundang untuk berpartisipasi — tubuh, pikiran, dan hati — dan memasuki dimensi yang dihuni oleh Roh Kudus. Untuk memasuki dimensi ini, liturgi dijalin dengan tanda dan simbol yang memiliki dimensi performatif dan transformatif. Misalnya, berlutut adalah tanda penyembahan kita kepada Allah sementara saling memberikan salam damai menunjukkan persekutuan gerejawi kita. Lebih lanjut, tanda-tanda membantu kita untuk mengingat tindakan-tindakan konstitutif Sakramen seperti ketika kita diperciki air suci kita mengingat komitmen kita kepada Kristus. Saat kita bersiap menyambut Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, semoga kita masing-masing membangkitkan kembali keterbukaan kita untuk berjumpa Allah dengan menemukan kembali tanda dan simbol liturgi suci.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Juni 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 31 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Masa Paskah berakhir pekan lalu dengan Hari Raya Pentakosta. Hari ini, kita merayakan misteri Allah Tritunggal, yang memberi kita kesempatan untuk merefleksikan perjalanan yang telah kita lalui. Kita mulai dengan kehidupan Allah yang diberikan kepada kita dalam Kristus Yesus. Kehidupan ini adalah persekutuan iman yang dinamis, tak habis-habisnya, dan menarik kita masuk. Sesungguhnya, Roh Kudus yang mempersatukan Bapa dan Putra telah dicurahkan ke dalam hati kita. Dengan cara ini, Gereja menjadi sakramen persekutuan, tempat perjumpaan, kasih, dan kehidupan di mana surga dan bumi telah bersentuhan.

 

Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:16-18) memperkenalkan kita kepada Nikodemus, seorang tokoh penting di Israel yang merasakan ketertarikan yang mendalam kepada Yesus. Memang, karena ingin lebih memahami sang Guru yang misterius ini dan ingin mengajukan pertanyaan kepada-Nya, Nikodemus pergi mencari-Nya di malam hari, agar tidak terlihat. Tuhan menyambutnya dan menanggapi pencariannya akan jawaban dengan serius. Yesus mengejutkan Nikodemus dengan menyatakan bahwa bahkan orang dewasa pun dapat dilahirkan kembali dan membimbingnya untuk menyadari bahwa kehidupan Allah dapat mengubah rupa hidupnya. Ketika Yesus berbicara tentang Roh Kudus, kegelapan batin Nikodemus diterangi dengan kebenaran –– kebenaran yang juga bergema di seluruh Gereja dalam perayaan hari raya kita hari ini: “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Putra-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (ayat 16). Dan juga, “Allah mengutus Putra-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia” (ayat 17).

 

Saudara-saudari terkasih, dalam misteri Allah –– Bapa, Putra, dan Roh Kudus –– kita merasa nyaman, seperti Nikodemus yang merasa tenang ketika berada di hadapan Yesus. Kehidupan Allah sungguh menakjubkan dan memikat; memberi damai bagi hati kita, yang seringkali sangat gelisah, dan memungkinkan kita untuk bertemu dengan saudara-saudari kita dalam sukacita Roh. Tritunggal membantu kita untuk mengasihi setiap orang dan segala sesuatu: kita menemukan bahwa setiap makhluk diciptakan untuk persekutuan, hubungan, dan perjumpaan. Di sisi lain, kita memahami mengapa perpecahan, polarisasi, dan penghinaan terhadap keragaman membawa kehancuran, kesedihan, dan kemandulan bagi dunia.

 

Nikodemus adalah seorang anggota Mahkamah Agama, dewan para imam besar Israel. Ketika ia mendengar kata-kata penghinaan yang ditujukan kepada Yesus di Mahkamah Agama, Nikodemus mendesak semua orang untuk mendengarkan terlebih dahulu sebelum menghukum-Nya. Ia telah menerima Roh persekutuan dari Allah melalui Kristus sendiri, yang membuka hati kepada kebenaran baru dan pembaharuan sejati. Siapa pun yang tidak menerima Roh ini akan cepat menjadi tua, berada dalam kesedihan, merasa sendirian dan tanpa sukacita di dalam hatinya. Sebaliknya, hari ini, saudara-saudari terkasih, adalah hari perayaan. Hari raya Allah juga hari raya kita. Karena alasan ini, Santo Paulus menulis kepada jemaat Korintus, demikian: Bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna, salinglah menghibur, hiduplah dalam damai sejahtera; dan Allah sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu (bdk. 2 Kor 13:11).

 

Dan sekarang, dengan doa Malaikat Tuhan, kita berpaling kepada Perawan Maria: seperti "ya"-nya kepada kehendak Ilahi, semoga "ya" kita kepada kasih Tritunggal Maha Kudus juga berbuah.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Pada bulan Mei ini, paduan suara doa untuk perdamaian telah bergema di seluruh Gereja. Terutama, melalui doa Rosario Suci – seperti rantai yang tak terputus – bangsa-bangsa yang dilanda perang telah dipercayakan kepada perantaraan Perawan Maria. Semoga Kebijaksanaan Ilahi menerangi hati nurani mereka yang berwenang dan membimbing keputusan mereka menuju pencarian yang tulus akan perdamaian yang adil dan abadi.

 

Hari ini, Italia merayakan “Hari Bantuan Nasional” ke-25. Saya menyampaikan kedekatan spiritual saya kepada orang sakit dan mereka yang merawatnya; dan saya berterima kasih serta mendorong semua yang mempromosikan budaya solidaritas dan kepedulian.

 

Dengan hangat saya menyapa kamu semua yang telah berkumpul hari ini di Lapangan Santo Petrus, baik umat Roma maupun para peziarah!

 

Secara khusus, saya menyapa Uskup dan para peziarah dari Keuskupan Kumba, Kamerun; serta paduan suara paroki dari Dunajska Luzna, Slovakia. Saya menyapa warga Polandia yang hadir dan para peserta ziarah besar ke Tempat Suci Piekary, tempat Maria dihormati sebagai Bunda Keadilan Sosial.

 

Saya menyapa Grup Alpine Rivoli, kaum muda dari San Zeno Naviglio, dan para peserta “Relay for Inclusion,” yang spanduknya dibuat oleh siswa sekolah menengah atas Italia.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 31 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 27 MEI 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. III. KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM. 2. PEMBAHARUAN LITURGI: TRADISI DAN PERKEMBANGAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Dalam Ensiklik Mediator Dei, Venerabilis Paus Pius XII menulis bahwa “Gereja tanpa diragukan lagi adalah organisme hidup, dan sebagai organisme, dalam hal liturgi suci juga, ia tumbuh, matang, berkembang, beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan keadaan duniawi, asalkan integritas ajarannya dijaga” (no. 59).

 

Sepenuhnya sesuai dengan prinsip ini, Konsili Vatikan II, dalam Pendahuluan Konstitusi Sacrosanctum Concilium (SC), mengakui “kewajibannya untuk secara istimewa mengusahakan juga pembaharuan dan pengembangan Liturgi” (no. 1). Peserta Konsili, pada kenyataannya, berkumpul dengan maksud untuk “makin meningkatkan kehidupan kristiani di antara umat beriman; menyesuaikan lebih baik lagi lembaga-lembaga yang dapat berubah dengan kebutuhan zaman kita; memajukan apa saja yang dapat membantu persatuan semua orang yang beriman akan Kristus; dan meneguhkan apa saja yang bermanfaat untuk mengundang semua orang ke dalam pangkuan Gereja” (idem).

 

Dalam sejarah pada saat itu, ada kesadaran yang kuat akan kebutuhan akan pembaharuan bentuk-bentuk ritual yang selama berabad-abad telah digunakan Gereja untuk memuliakan Allah dan menguduskan umat Kristiani. Berkat Gerakan Liturgi, keyakinan telah matang — yang kemudian diungkapkan oleh Santo Yohanes Paulus II — bahwa “terdapat ikatan yang sangat erat dan organik antara pembaharuan liturgi dan pembaharuan seluruh kehidupan Gereja. Gereja tidak hanya bertindak tetapi juga mengungkapkan dirinya dalam liturgi, hidup oleh liturgi dan mengambil kekuatan untuk hidupnya dari liturgi” (Surat Dominicae Cenae, 13).

 

Untuk mendorong akses umat beriman kepada kekayaan karunia rahmat yang diberikan oleh liturgi suci, Konstitusi Sacrosanctum Concilium kemudian menunjukkan, dengan ungkapan yang sangat efektif, arah yang harus diambil: “Supaya tradisi yang sehat dipertahankan, namun dibuka jalan juga bagi perkembangan yang wajar” (SC, 23).

 

Paus Benediktus XVI memahami dalam pernyataan ini maksud “program pembaharuan” para Bapa Konsili, “keseimbangan antara tradisi liturgi besar masa lalu dan masa depan”, mencatat bahwa “tradisi dan kemajuan sering kali dipertentangkan secara canggung”, padahal “sebenarnya, kedua konsep tersebut menyatu: tradisi adalah kenyataan yang hidup, yang karenanya mencakup prinsip perkembangan, kemajuan. Seolah-olah mengatakan bahwa sungai tradisi juga membawa sumbernya sendiri dan mengalir menuju muaranya” (Wejangan kepada peserta Kongres yang dalam rangka 50 tahun berdirinya Pontifical Athenaeum Santo Anselmus, 6 Mei 2011).

 

Konsili menegaskan legitimasi kemajuan ini, yang berakar pada Tradisi otentik, membedakan dalam liturgi “unsur yang tidak dapat diubah karena ditetapkan oleh Allah, maupun unsur-unsur yang dapat berubah, yang di sepanjang masa dapat atau bahkan harus mengalami perubahan, sekiranya mungkin telah disusupi hal-hal yang kurang serasi dengan inti hakikat Liturgi sendiri, atau sudah menjadi kurang cocok” (SC, 21). Perubahan jenis ini telah terjadi secara terus-menerus selama berabad-abad untuk memungkinkan umat beriman berpartisipasi secara berbuah, melalui tindakan ritual, dalam misteri Paskah Kristus, dasar iman Kristiani. Ibadah Gereja dengan demikian telah “diwujudkan” dalam bentuk-bentuk budaya setiap zaman dan telah mampu mempengaruhinya dan bahkan mengubahnya. Dengan demikian, liturgi telah menjadi, selama berabad-abad, kekuatan pendorong bagi evangelisasi. Saat ini, energi ini harus diperbarui secara berkelanjutan dengan tradisi Katolik yang otentik dan hidup, yaitu, sesuai dengan dinamika yang bertujuan untuk memperkenalkan umat beriman kepada kepenuhan kebenaran.

 

Oleh karena itu, dapat dipahami mengapa para Bapa Konsili merekomendasikan revisi ritus, “kecuali bila sungguh-sungguh dan pasti dituntut oleh kepentingan Gereja", hendaknya diusahakan dengan cermat, agar "bentuk-bentuk baru itu bertumbuh secara kurang lebih organis dari bentuk-bentuk yang sudah ada” (SC, 23). Demi kebaikan seluruh Gereja, setiap pembaharuan hendaknya selalu didahului oleh penyelidikan “teologis, historis, dan pastoral" yang cermat (idem). Dengan cara ini, Magisterium Konsili menyerukan untuk menghindari kebingungan di antara umat beriman, dan melarang siapa pun untuk menambahkan, meniadakan atau mengubah sesuatu dalam Liturgi atas prakarsa sendiri (bdk. SC, 22). Kemajuan yang diungkapkan dalam Konstitusi Konsili sama sekali tidak melakukan kompromi terhadap persekutuan gerejawi: sebaliknya, ia berupaya untuk menegaskan dan membinanya.

 

Oleh karena itu, saya mendesak semua orang yang dipanggil untuk mempersiapkan perayaan misteri ilahi, khususnya para imam yang menjalankan pelayanan kepresidenan liturgi, untuk selalu menjunjung tinggi rasa hormat terhadap teks dan peraturan liturgi yang berasal dari sikap batin yang terbuka dan percaya kepada Allah, yang menunjukkan kerendahan hati di hadapan kebesaran-Nya dan kesetiaan yang tulus kepada persekutuan gerejawi.

 

[Imbauan]

 

Dengan penuh keprihatinan saya mengikuti perang di Ukraina, yang telah meningkat secara signifikan dalam beberapa hari terakhir. Saya ingin menyampaikan solidaritas saya kepada semua orang yang menderita akibat serangan baru-baru ini, yang juga menargetkan warga sipil.

 

Perang tidak menyelesaikan masalah; justru memperburuknya. Perang tidak membangun keamanan; melainkan melipatgandakan penderitaan dan kebencian. Di mana rudal dan drone jatuh, harapan remuk redam, rumah dan tempat ibadah hancur, dan nyawa orang tak bersalah direnggut.

 

Saya mempercayakan semua orang yang dilanda perang kepada perlindungan Bunda Maria, Ratu Perdamaian.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang turut serta dalam audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Irlandia, Kamerun, Kenya, Nigeria, India, Pakistan, Filipina, Korea Selatan, Kanada, dan Amerika Serikat. Semoga damai sejahtera Allah menjaga pikiran dan hatimu agar kamu dapat mengenal kasih Yesus Kristus dan dengan sukacita membagikannya kepada orang lain. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam refleksi hari ini tentang Sacrosanctum Concilium, kita membahas liturgi melalui lensa tradisi dan perkembangan. Paus Pius XII menyebut Gereja sebagai “organisme hidup” yang perlu tumbuh, matang, dan beradaptasi dengan keadaan. Memang, dengan keinginan agar kehidupan Kristiani berkembang dan tumbuh, Konsili Vatikan II mengakui bahwa sudah waktunya untuk menyesuaikan beberapa unsur yang dapat diadaptasi dalam liturgi demi kesehatan dan vitalitas Gereja, untuk memperkuat dan meremajakan umat Kristiani, dan membina persatuan dan melakukan evangelisasi terhadap semua orang. Konsili menegaskan bahwa perkembangan yang wajar dalam liturgi juga harus mempertahankan tradisi yang sehat, dan unsur-unsur tertentu dalam liturgi tidak boleh berubah karena telah ditetapkan secara ilahi. Secara khusus, saya mendorong semua imam untuk menghormati teks dan norma liturgi dengan keterbukaan, kerendahan hati, kepercayaan akan kebesaran Allah, dan dengan kesetiaan yang tulus kepada persekutuan gerejawi.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 27 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 24 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Pada Hari Raya Pentakosta ini, kita dipanggil untuk merenungkan karunia Roh Kudus, yang dicurahkan dengan melimpah kepada Gereja yang baru lahir dan, hari ini, diberikan kembali kepada para anggotanya sebagai terang dan kekuatan yang menyertai mereka dalam setiap situasi kehidupan.

 

Kita dapat merenungkan gambaran Roh Kudus yang diberikan kepada kita melalui liturgi hari ini: Roh Kudus membuka pintu. Bacaan Injil memberitahu kita bahwa "murid-murid berada di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci karena mereka takut kepada para pemuka Yahudi" (Yoh 20:19), dan pada saat yang sama, Kitab Kisah Para Rasul memberitahu kita bahwa Roh Kudus datang seperti tiupan angin keras (bdk. Kis 2:2), membuka pintu-pintu itu dan mendorong murid-murid untuk keluar dan memberitakan Kabar Baik tentang Kristus yang telah bangkit.

 

Kita juga dapat bertanya pada diri kita sendiri hari ini: pintu apa yang dibuka oleh Roh Kudus?

 

Pintu pertama adalah pintu Allah sendiri, dalam arti bahwa Ia membuka bagi kita misteri Allah, sebagaimana Ia menyatakan diri-Nya dalam Yesus Kristus. Dengan karunia Roh-Nya, Allah memberi kita iman sejati, memungkinkan kita untuk memahami makna Kitab Suci, menyatakan diri-Nya dekat dengan kita, dan memungkinkan kita untuk berpartisipasi dalam kehidupan-Nya. Roh Kudus membantu kita untuk memiliki pengalaman pribadi tentang Allah, untuk bertemu dengan-Nya dalam Yesus dan bukan hanya dalam ketaatan terhadap hukum, mengenali-Nya dalam diri kita, dan menemukan tanda-tanda kehadiran-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

 

Pintu kedua adalah pintu Ruang Atas, yaitu pintu Gereja. Tanpa api Roh Kudus, Gereja tetap menjadi tawanan ketakutan, penakut dalam menghadapi tantangan dunia, tertutup pada dirinya sendiri dan karena itu tidak mampu berdialog dengan perubahan zaman. Roh Kudus membuka pintu Gereja sehingga Gereja dapat menerima dan ramah kepada semua orang, bahkan kepada mereka yang telah menutup pintu mereka kepada Allah, sesama, pengharapan, dan sukacita kehidupan. Paus Fransiskus mengingatkan bahwa kita dipanggil untuk menjadi "Gereja yang memberkati dan mendorong [...] Gereja dengan pintu terbuka bagi semua orang" (Homili pada Misa Pembukaan Sidang Umum Sinode Para Uskup, 4 Oktober 2023).

 

Akhirnya, Roh Kudus membuka pintu hati kita, membantu kita mengatasi penolakan, keegoisan, ketidakpercayaan, dan prasangka, dan memungkinkan kita untuk hidup sebagai anak-anak Allah dan saudara-saudari di antara kita sendiri. Di mana Roh Tuhan hadir, persaudaraan lahir di antara individu, kelompok, dan bangsa-bangsa di bumi, dan semua berbicara dalam satu bahasa kasih, yang mempersatukan dan menyelaraskan keragaman.

 

Saudara-saudari, bahkan di zaman kita ini, khususnya pada Hari Raya Pentakosta ini, kita harus memohon kepada Roh Kudus untuk membuka semua pintu yang masih tertutup. Kita perlu menemukan kembali Allah sebagai Bapa yang mengasihi kita, membangun Gereja di mana setiap orang merasa nyaman, dan memupuk dunia persaudaraan di mana perdamaian berkuasa di antara semua bangsa.

 

Seperti para murid pertama, kita percaya pada perantaraan Perawan Maria, tempat kediaman Roh Kudus dan Bunda Gereja.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini adalah Hari Doa untuk Gereja di Cina, peringatan liturgi Santa Perawan Maria, Penolong Umat Kristiani, yang dihormati dengan penuh devosi di Tempat Suci Sheshan di Shanghai. Marilah kita menggabungkan doa kita dengan doa umat Katolik Cina, sebagai tanda kasih sayang kita kepada mereka dan persekutuan mereka dengan Gereja universal dan dengan penerus Santo Petrus. Semoga perantaraan Ratu Surga memperolehkan bagi umat beriman di Cina rahmat persatuan dan memberikan kekuatan kepada setiap orang untuk memberi kesaksian tentang Injil dalam perjuangan sehari-hari mereka, menjadi benih pengharapan dan perdamaian. Secara khusus, saya memohon kedamaian abadi bagi para korban kecelakaan yang terjadi beberapa hari yang lalu di sebuah tambang di Cina utara.

 

Kepada Santa Maria, Penolong Umat Kristiani, kita juga mempercayakan komunitas Kristiani di Tanah Suci, Lebanon, dan seluruh Timur Tengah, yang menderita karena perang.

 

Dan sekarang saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara!

 

Secara khusus, saya menyapa kelompok penyandang disabilitas dari Polandia, serta para peziarah yang datang dengan sepeda dari Kelmis, Belgia. Selamat!

 

Saya mengucapkan selamat Hari Raya Pentakosta kepada semuanya.

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 24 Mei 2026)