Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 17 Juni 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Hari ini, saya ingin membagikan beberapa refleksi tentang perjalanan apostolik yang saya lakukan pekan lalu ke Spanyol, mengunjungi Madrid, Barcelona, ​​Biara Montserrat, dan Kepulauan Canary.

 

Setelah perjalanan panjang di empat negara Afrika, kali ini saya mendapati diri saya berada di sebuah negara Eropa dengan tradisi Katolik yang kuno dan sangat kaya. Dan tampak jelas bahwa dewasa ini di Spanyol, yang telah mengalami perubahan sosial dan budaya yang signifikan, Paus disambut di mana-mana dengan antusiasme dan kesediaan untuk mendengarkan. Untuk ini saya mengucap syukur kepada Allah dan seluruh rakyat Spanyol, Raja dan otoritas sipil, para uskup dan komunitas gerejawi.

 

Umat Allah memberi saya penghiburan yang besar melalui ungkapan iman dan kasih sayang mereka yang penuh sukacita. Dari pihak saya, saya meneguhkan umat dan, sebagai Uskup Roma, saya mendorong mereka untuk mengatasi setiap bentuk perpecahan dan konflik dengan selalu mempromosikan persekutuan, dialog, dan persatuan dalam keanekaragaman. Inilah pelayanan Penerus Petrus, pelayanan yang menemukan ungkapan khusus dalam perjalanan apostolik, yang setiap kali disesuaikan dengan situasi gerejawi dan sosial negara-negara yang dikunjungi.

 

Berkaitan dengan Spanyol, saya dapat mengamati dengan penuh sukacita bahwa orang-orang dari segala usia dan situasi telah menantikan kunjungan Paus. Saya menemukan banyak sekali orang di mana-mana, yang menyambut saya dengan sangat hangat. Ini bukanlah sesuatu yang dianggap remeh, tetapi patut direfleksikan. Tentu saja, partisipasi seperti itu, pertama-tama, sebagaimana saya katakan, mengungkapkan iman rakyat Spanyol. Pada saat yang sama, saya percaya hal itu mengungkapkan kebutuhan yang luas untuk menemukan persatuan berdasarkan landasan yang benar dan mendalam, yang bukan ideologis atau berdasarkan kepentingan pihak tertentu — landasan yang, pada akhirnya, hanya dapat dijamin oleh Kristus, dan disampaikan dalam kehidupan manusia melalui Injil, melalui "inkulturasi" yang diperlukan. Hal itu dapat terjadi karena pesannya sepenuhnya menjawab kedua kebutuhan ini: pencarian kebenaran dan dahaga akan keadilan.

 

Di Madrid dan Barcelona, ​​kami berkumpul di Katedral yang megah serta di stadion-stadion modern. Kami berdoa Rosario suci di Biara Montserrat. Kami merayakan Misa di Sagrada Familia sebuah simbol agung, simfoni batu dan cahaya yang berbicara kepada setiap orang tentang misteri kristiani. Perjumpaan kuno dan modern, tradisi Katolik dan budaya masa kini ini memungkinkan saya untuk merasakan secara langsung karakter Eropa, kekayaannya yang tak ternilai, sebagai kenyataan yang hidup, bukan sesuatu dari masa lalu. Sebuah warisan yang harus dijaga dengan cermat, sehingga dapat diinvestasikan dalam dunia global saat ini dengan tantangan-tantangan pentingnya: perdamaian, ekologi terpadu, pembangunan yang adil dan berkelanjutan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Semua tantangan ini diakui dengan jelas oleh Konsili Vatikan II, dan yang kemudian diangkat kembali oleh Magisterium, hingga ensiklik saya baru-baru ini, Magnifica Humanitas, yang bertujuan untuk melindungi pribadi manusia di era kecerdasan buatan.

 

Melalui berbagai pertemuan, saya merasakan kebutuhan untuk mendengar suara Paus, Injil pengharapan bagi umat manusia dewasa ini, yang sangat diuji oleh dampak negatif dari model pembangunan yang menyesatkan. Saya menyadari kebutuhan ini, yang terwujud dalam banyak kesaksian yang dapat saya dengar — kesaksian yang terkadang mengharukan, terkadang mencerahkan — juga dan terutama pada wajah anak-anak kecil dan kaum miskin yang saya temui: anak yang membacakan suratnya kepada saya di paroki; beberapa korban pelecehan, yang meminta untuk didengar; para narapidana yang menunggu saya di penjara; kaum muda yang penuh dengan kecemasan dan aspirasi; para migran di pusat-pusat penerimaan di Kepulauan Canary.

 

Justru di sanalah, di Kepulauan Canary — penghentian terakhir perjalanan — saya mendapatkan wawasan yang menyeluruh. Wawasan itu diberikan kepada saya, di satu sisi, oleh lokasi geografis kepulauan itu sendiri; dan, di sisi lain, oleh kenyataan Gereja lokal yang menyambut sejumlah besar migran yang terpaksa, terutama dari Afrika. Kita tahu bahwa fenomena migrasi itu rumit dan membutuhkan rencana aksi yang organik dan terkoordinasi. Tetapi penafsiran ini membuka sudut pandang yang berbeda dan lebih luas: hal ini memungkinkan kita untuk memahami bagaimana kita dipanggil untuk menafsirkan kembali Injil di dunia dewasa ini, saling bertukar karunia budaya kita masing-masing, dan khususnya, produk yang dihasilkan di dalamnya oleh keberhasilan pesan Kristus. Dan salah satu buahnya adalah dialog antarmanusia dan antarbangsa, sebuah perjumpaan dalam semangat persaudaraan, yang memungkinkan kita untuk menemukan dan menghargai nilai-nilai satu sama lain. Perjalanan ini tidak mudah. Selain membutuhkan niat baik dan pertolongan Allah, perjalanan ini merupakan jalan yang mengarah pada peradaban kasih.

 

Saudara-saudari terkasih, moto perjalanan apostolik ini adalah “Alzad la mirada”, “Lihatlah sekelilingmu!” (bdk. Yoh 4:35). Yesus menyampaikan kata-kata ini kepada murid-murid-Nya yang pertama, untuk mengajari mereka melihat keinginan akan hidup, kebenaran, dan kepenuhan dalam diri manusia dan orang banyak. Tuhan mengulangi kata-kata itu kepada saya terlebih dahulu, dan berkat rahmat-Nya saya juga mengalaminya selama perjalanan ini. Hari ini, saya ingin membagikan ajakan ini kepadamu: marilah kita melihat sekeliling kita! Marilah kita belajar dari Yesus untuk melihat sesama kita, orang-orang, dan dunia, “melalui mata Allah”, yaitu, dengan kasih, hormat, dan bela rasa.

 

Akhirnya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah berdoa untuk keberhasilan perjalanan apostolik ini, terutama para biarawati kontemplatif, yang, syukur kepada Allah, sangat banyak di Spanyol. Teruslah berdoa, agar, melalui perantaraan Perawan Maria, benih yang telah saya tabur dapat menghasilkan buah yang melimpah. Terima kasih!

 

[Imbauan]

 

Saya menyambut dengan puas kesepakatan yang dicapai antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat, yang akan ditandatangani pada hari Jumat, sebagai hasil yang menggembirakan dari dialog dan negosiasi yang sabar. Saya menyampaikan rasa terima kasih saya kepada negara-negara yang telah bekerja untuk memfasilitasi pertemuan antara kedua pihak dan memungkinkan kesepakatan ini terwujud. Saya berharap kesepakatan ini dapat membantu memperkuat kepercayaan bersama, keamanan, dan stabilitas di Timur Tengah, dengan mempromosikan jalur dialog dan kerjasama antarbangsa.

 

Sementara itu, berita menyedihkan terus muncul mengenai perang di Ukraina, yang terus meningkat: begitu banyak korban jiwa yang tidak bersalah, pekerja bantuan yang tewas, gereja dan situs warisan budaya yang hancur akibat kebakaran. Pikiran saya bersama mereka yang berduka atas kehilangan orang yang mereka cintai, bersama mereka yang terluka, dan bersama mereka yang, di tengah kekerasan, terus melayani kehidupan dengan berani. Saya mengajak semua orang untuk berdoa agar perang ini segera berakhir. Marilah kita memohon kepada Tuhan untuk membuka jalan menuju dialog, memadamkan kebencian, dan mewujudkan perdamaian yang adil dan abadi.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, terutama mereka yang datang dari Inggris, Kamerun, Taiwan, Filipina, dan Amerika Serikat. Seiring dimulainya liburan musim panas bagi banyak orang, semoga waktu ini menjadi kesempatan untuk semakin dekat dengan Tuhan melalui saat doa dan untuk saling mendukung melalui tindakan amal yang berlimpah. Kepada kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan damai dan kesatuan dari Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dalam katekese hari ini, saya ingin membagikan beberapa refleksi kepadamu tentang perjalanan apostolik saya ke Spanyol pekan lalu. Sepanjang perjalanan, saya terhibur melihat ungkapan iman dan kasih sayang yang penuh sukacita yang ditunjukkan oleh umat Allah, serta kerumunan orang yang menyambut saya dengan begitu hangat. Selama berbagai acara, saya merasakan bukan hanya iman rakyat Spanyol yang berakar dalam, tetapi juga keinginan akan persatuan dan harapan yang hanya dapat ditemukan di dalam Kristus dan kasih-Nya kepada kita. Pengalaman itu mengingatkan saya akan kekayaan budaya Eropa, warisan Katolik yang kuat, dan peran yang dapat dimainkannya dewasa ini dalam mempromosikan perdamaian, penghormatan terhadap martabat manusia, dan dialog persaudaraan saat kita berupaya membangun peradaban kasih yang sejati. Sebagaimana kamu ketahui, moto perjalanan itu adalah “Lihatlah sekelilingmu!” (bdk. Yoh 4:35), dan saya ingin menyampaikan undangan ini kepadamu juga: angkatlah pandanganmu kepada Tuhan. Dan marilah kita belajar dari-Nya untuk melihat sesama dan dunia di sekeliling kita seperti yang Ia lihat. Terima kasih kepada semua orang yang telah mendoakan keberhasilan perjalanan apostolik ini. Mohon terus mendoakan agar perjalanan ini menghasilkan buah yang berlimpah.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 17 Juni 2026)

PESAN PAUS LEO XIV UNTUK HARI KAKEK-NENEK DAN LANSIA SEDUNIA VI (PESTA SANTO YOAKIM DAN SANTA ANA, 26 JULI 2026)

Aku tidak akan melupakan engkau (Yes. 49:15)

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Melalui Nabi Yesaya, Tuhan berjanji bahwa Ia tidak akan pernah melupakan kita. Ia meyakinkan kita bahwa Ia telah melukiskan wajah kita di telapak tangan-Nya (bdk. Yes. 49:16) dan bahwa kasih-Nya lebih besar daripada kasih seorang ibu kepada anaknya (bdk. Yes. 49:15). Nabi Yesaya memberi kita gambaran sekilas tentang dialog yang intim dan intens di mana Allah berbicara, dengan istilah yang akrab, kepada setiap orang secara individu dan kepada umat secara keseluruhan. Bahkan hari ini, kita dapat membaca kata-kata ini merujuk kepada kita masing-masing, dan setiap orang dapat mendengar bahwa “Aku tidak akan melupakan engkau” diucapkan langsung kepada mereka.

 

Kata-kata ini memenuhi diri kita dengan penghiburan dan pegharapan. Kata-kata ini adalah jawaban atas perasaan menyakitkan yang mengganggu hati: “Tuhan telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku” (Yes. 49:14). Betapa seringnya dalam Kitab Suci, terutama dalam Kitab Mazmur, doa muncul dari orang-orang yang putus asa karena merasa bahwa hidup mereka tidak menarik bagi siapa pun dan diabaikan! Perasaan menyakitkan karena dilupakan, sayangnya, dialami oleh banyak orang, dan di antara mereka terdapat cukup banyak orang lanjut usia.


Kasih Allah, yang tidak melupakan siapa pun, menawarkan diri sebagai tindakan keadilan dan tanggapan terhadap keadaan tanpa nama di mana kehidupan manusia terlalu sering berakhir dengan kehilangan makna. Kehidupan banyak orang lanjut usia, khususnya, tampaknya tertutup oleh tabir yang mengaburkan fitur wajah mereka dan menyelimuti mereka dalam keterlupaan. Inilah yang terjadi di rumah-rumah di mana kesepian berkuasa dan juga di fasilitas perawatan di mana keunikan setiap orang berisiko direduksi menjadi nomor tempat tidur atau penyakit.

 

Perayaan Hari Kakek Nenek dan Lansia Sedunia merupakan kesempatan untuk menemukan kembali panggilan Gereja untuk menjadi ibu bagi semua orang dan di usia berapa pun selalu mungkin untuk mengenali diri kita sebagai putra dan putri Allah. Oleh karena itu, semoga hari ini menjadi inspirasi bagi semua orang, terutama kaum muda, untuk menghidupkan kembali kebiasaan indah mengunjungi kakek nenek mereka, anggota keluarga yang lanjut usia, dan bahkan orang-orang yang tidak memiliki siapa pun yang mengunjungi mereka. Bawalah kepada mereka, melalui pesan ini dan kehadiranmu, kedekatan dan kasih sayang Paus. Pastikanlah kata-kata dalam Kitab Nabi Yesaya, "Aku tidak akan melupakan engkau," mengambil bentuk perjumpaan yang lembut dan penuh kasih sayang. “Di era yang mengutamakan kecepatan dan fragmentasi, manusia masih merindukan untuk menerima kepedulian dan pengakuan dari pikiran yang penuh perhatian, kata-kata yang baik, dan tangan yang mampu menunjukkan kelembutan. Budaya digital melipatgandakan koneksi dan menawarkan peluang baru untuk berinteraksi; namun, hati manusia tetap memiliki kebutuhan yang tak terelakkan akan kedekatan yang tulus” (Ensiklik Magnifica Humanitas, 239).

 

Gereja memahami penderitaan para anggotanya yang lanjut usia; Ia sangat menyadari bahwa mereka terlalu sering dipandang melalui kacamata stereotip dan dianggap sebagai beban; ia sadar bahwa ekonomi yang berorientasi pada keuntungan melemahkan ikatan keluarga; ia tahu bahwa banyak orang lanjut usia ditinggalkan oleh anak-anak yang terpaksa bermigrasi atau, dalam beberapa kasus, berperang. Karena semua alasan ini, dengan penuh sukacita ia menyatakan janji Tuhan: “Tetapi Aku tidak akan melupakan engkau!”

 

Menemukan, sebagaimana dikatakan Yohanes Paulus I, bahwa kita adalah penerima “kasih kekal Allah, sungguh merupakan suatu sukacita, di usia berapa pun, tetapi terutama ketika kita tidak lagi muda. Kita tahu: Ia selalu membuka mata-Nya bagi kita, bahkan ketika keadaan tampak gelap. Ia adalah Bapa kita; terlebih lagi Ia adalah Ibu kita” (Doa Malaikat Tuhan, 10 September 1978). Sekalipun tidak mudah untuk berpikir seperti ini, kenyataannya bahwa bahkan di usia tua pun kita tidak berhenti menjadi anak laki-laki dan perempuan; oleh karena itu, undangan untuk kembali ke pelukan Allah — yang kasih-Nya bersifat kebapaan dan keibuan — tetap berharga di usia berapa pun.

 

Bagi banyak orang, menemukan kelembutan Allah terjadi sepanjang hidup mereka, terkadang bahkan di tahap akhir kehidupan. Memang, tidak seperti di masa lalu, mencapai usia tua tanpa pernah mengalami iman sejati menjadi semakin umum. Dalam kasus seperti itu, usia tua — dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dengan semakin mendesak selama masa kehidupan ini — dapat menjadi waktu yang tepat untuk memulai atau melanjutkan kehidupan spiritual. Dalam perjalanan baru ini, kita dapat menyadari bahwa Allah, sebagaimana dikatakan Santo Agustinus, “adalah seorang ibu karena Ia menyayangi, memelihara, merawat, dan melindungi” (Ulasan Mazmur 27, II, 18). Kesadaran ini membantu kita untuk tidak merasa malu akan kerapuhan yang muncul dan juga untuk memahami bahwa kita selalu saling membutuhkan serta membutuhkan perhatian serta kepedulian. Kepada Allah yang mendekati kita dan yang kepada-Nya kita mempelajari mengenali kelembutan-Nya, kini kita dapat berpaling dengan kepercayaan bakti dalam doa. Tidak pernah terlambat untuk mulai berpaling kepada-Nya. Anugerah yang luar biasa dimungkinkan bagi setiap orang.

 

Saudara-saudari lanjut usia yang terkasih, Paus Fransiskus menyebutmu “umat baru” (Katekese, 23 Februari 2022), karena jumlah orang lanjut usia belum pernah sebesar ini dalam sejarah manusia. Oleh karena itu, merefleksikan bersamamu, “umat baru” ini, tentang apa panggilan kita ketika kerapuhan — pendamping manusia sejak lahir — tampaknya mengambil alih jauh lebih penting dari sebelumnya. Saya ingin mengatakan kepadamu: jangan takut akan kerapuhan! Justru kelemahan inilah yang menyimpan potensi baru yang juga menerangi tahap kehidupan lainnya. Sesungguhnya, ketika “kita mengakui kerapuhan kita, hati kita menjadi terbuka untuk saling mendukung dan memohon kepada Dia yang dapat memberikan apa yang tidak dapat dijamin oleh kekuatan manusia: rekonsiliasi hati yang mendalam dan, bersamanya, kedamaian sejati” (Pertemuan dengan komunitas Aljazair, Basilika Bunda Maria dari Afrika, Aljir, 13 April 2026).

 

Inilah cara kita dapat menjalani usia tua sebagai umat kristiani: “rapuh” namun sekaligus “dipanggil.” Seorang laki-laki dan seorang perempuan, sesungguhnya, dapat dilahirkan kembali di usia tua (bdk. Yoh 3:4-6) dan berseru, bersama Nabi Yesaya: “Dengan berbalik kepada Tuhan dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu” (Yes. 30:15). Kekuatan ini dapat menjadi ajakan untuk tidak menggunakan cara-cara kesombongan dan kekuasaan untuk memastikan hidup berdampingan antarmanusia, tetapi cara-cara rekonsiliasi dan perdamaian sejati. Di masa ini, yang dengan sangat kejam ditandai oleh kekerasan perang dan keresahan sosial, banyak lansia yang bertanya-tanya seperti apa dunia tempat cucu-cucu mereka akan tumbuh dewasa. Saya mendesakmu, sahabat-sahabat terkasih, untuk bergabung dengan saya untuk mendoakan dengan sungguh-sungguh perdamaian segera datang ke seluruh dunia.

 

Saudara-saudari lanjut usia terkasih, saya berterima kasih atas dukunganmu setiap hari dengan doa-doamu, terutama ketika kamu berdoa Rosario Suci. Saya menyampaikan rasa syukur ini dari lubuk hati saya dan menyampaikan doa ini kepadamu: semoga Tuhan senantiasa memperbarui iman, harapan, dan kasih kita — Ia yang tidak akan melupakan kita!

 

Vatikan, 15 Juni 2026

 

Leo XIV

______

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Juni 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 14 Juni 2026

Saudara-saudari terkasih, Selamat Hari Minggu!

 

Bacaan Injil hari ini (Mat 9:36–10:8) membawakan kita sebuah karunia besar, karena Bacaan Injil ini menarik semua orang yang mendengarnya ke dalam pandangan Yesus: sebuah kisah yang menjadi saksi perhatian akan pandangan ini, serta memberitahu kita apa yang dilihat Tuhan. Sesungguhnya kita membaca bahwa “melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar” (ayat 36). Setelah menjadi saudara kita, Putra Allah memandang orang banyak, Ia memandang umat manusia: Ia melihat penindasan yang membebani dan kekerasan yang menyebabkan kekuatan memudar. Ia melihat luka-luka perang dan kekosongan konsumerisme. Ia melihat wajah-wajah yang direduksi menjadi topeng, keluarga-keluarga yang tercerai-berai oleh kejahatan, dan kaum muda yang disesatkan oleh cita-cita palsu. Yesus melihat dan mengasihi. Ia mengasihi dan menderita untuk dan bersama kita: belas kasihan-Nya tidak hanya mengungkapkan kedekatan persaudaraan, tetapi juga keinginan-Nya untuk menebus.

 

Karena Ia mengenal hati kita dan peduli pada kita. Dengan memandang sangat banyak orang seperti “domba yang tidak mempunyai gembala” (ayat 36), Kristus mengabdikan diri-Nya kepada semua orang sebagai Gembala yang baik dan, sebagai Tuan yang punya tuaian, mengutus pekerja-pekerja ke ladang dunia (bdk. ayat 38). Apa tugas mereka? Mereka harus menawarkan penghiburan Allah kepada orang-orang yang menderita dengan membawa kasih di tempat kesengsaraan berada, pengharapan di tempat penderitaan berada, iman di tempat ketidakpercayaan berada.

 

Bacaan Injil mencantumkan nama dua belas “pekerja” pertama: mereka adalah murid-murid yang dijadikan rasul, yaitu misionaris dan pengkhotbah. Di antara mereka, yang pertama kita temukan adalah Simon, yang disebut Petrus. Tetapi kita juga menemukan Yudas Iskariot, yang disebutkan terakhir, untuk mengingatkan kita bahwa seseorang dapat mengikuti Yesus dan mengkhianati-Nya. Meskipun demikian, Bacaan Injil tetap menjadi sabda yang hidup dan benar bagi semua orang. Kabar Baik yang melintas selama berabad-abad sama, selalu muda, segar, dan membebaskan: “Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat 10:7). Ya, Kerajaan Surga sudah dekat karena di dalam Yesus Kristus, Allah mendekati setiap orang, bangsa dan negara. Ketika Injil ini diberitakan dan dihayati, kejahatan runtuh bagaikan enyahnya penyakit (bdk. ayat 8), bagaikan malam yang memberi jalan kepada fajar, kematian yang ditaklukkan oleh Yesus yang bangkit.

 

Beginilah cara pandangan Yesus mengubah rupa kenyataan. Dipenuhi kasih, prakarsa-Nya melahirkan umat baru, Gereja, yang dipanggil untuk melanjutkan perutusan para rasul: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, berikanlah pula dengan cuma-cuma” (ayat 8). Ya, karunia Yesus sepenuhnya cuma-cuma, karena nilainya melebihi segala ukuran: tidak mungkin untuk memperolehnya atau “membelinya”. Rahmat ini adalah nama indah dari belas kasihan Allah, yang mencari kita di mana pun kita berada, untuk menarik kita kepada-Nya. “Karena itu, mintalah kepada Tuan yang punya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Mat 9:38)!

 

Saudara-saudari terkasih, tugas penginjilan bermula dari karunia Allah, yang di dalam Kristus menjadi pengampunan bagi dunia, pelayanan kepada yang paling lemah dan miskin, dan komitmen terhadap keadilan. Marilah kita memohon pertolongan Bunda Maria, yang penuh rahmat, agar kita dapat menanggapi dengan sukacita dan keberanian panggilan perutusan Yesus kepada kita.

 

[Sesudah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Pertama-tama, saya menyampaikan rasa syukur saya kepada Tuhan karena memperkenankan perjalanan apostolik yang telah saya lakukan di Spanyol. Saya juga berterima kasih kepada rakyat Spanyol yang telah menyambut saya dengan antusiasme dan pengabdian yang besar. Saya sangat berterima kasih kepada Yang Mulia Raja; dengan penuh kasih sayang saya berterima kasih kepada para uskup, semua komunitas yang saya kunjungi, dan seluruh Gereja di Spanyol. Semoga Tuhan senantiasa memberkati Spanyol!

 

Saya juga ingin mengenang beberapa orang yang baru saja dibeatifikasi: para imam diosesan Václav Drbola dan Jan Bula, dari Moravia; dan Jan Šwierc dan delapan rekannya, imam Salesian Polandia. Semuanya dibeatifikasi sebagai martir, sebagai korban penganiayaan oleh rezim totaliter karena kesetiaan mereka kepada Kristus. Kemarin di Mato Grosso, Brasil, Nazareno Lanciotti, seorang imam misionaris Roma, juga dibeatifikasi; ia juga seorang martir, karena ia membela kaum miskin atas nama Injil. Semoga teladan dan pengantaraan para saksi yang berani ini menopang perutusan para imam dan seluruh Gereja.

 

Saya meyakinkan rakyat Filipina, yang beberapa hari lalu dilanda gempa bumi dahsyat, akan kedekatan saya. Saya mendoakan para korban yang meninggal dan keluarga mereka, para korban luka dan semua orang yang menderita karena bencana ini.

 

Dan sekarang saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara!

 

Saya menyapa para anggota Komisi Internasional untuk Dialog antara Murid-murid Kristus dan Gereja Katolik. Semoga renunganmu membantu kita untuk bertumbuh dalam persekutuan.

 

Saya menyapa para peziarah dari Amerika Serikat, khususnya umat dari New Jersey dan Sekolah Hati Kudus Carrollton di Miami, Florida. Saya menyapa para penerima sakramen krisma dari Bergamo, Komunitas “Casa di Maria” — yang oleh Paus Fransiskus disebut sebagai “anak-anak Maria Tak Bernoda” — dan kelompok paroki dari Santa Maria delle Grazie dan Santa Francesca Cabrini Roma.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 14 Juni 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 3 JUNI 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. III. KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM. 3. RITUS, TANDA, DAN SIMBOL

Saudara-saudari terkasih,

 

Seraya kita melanjutkan katekese kita tentang Konstitusi Konsili Sacrosanctum Concilium (SC), kita ingin berhenti sejenak dan merefleksikan beberapa unsur fundamental dari liturgi suci, seperti ritus, tanda, dan simbol.

 

Konsili Vatikan II, yang dibangun di atas karya berharga Gerakan Liturgi, telah membantu kita menemukan kembali kebenaran yang sangat hidup dalam kesadaran Gereja perdana dan ajaran para Bapa Gereja. Ritus liturgi kristiani bukanlah sekadar penutup lahiriah dari misteri sakramental, kumpulan upacara yang sembarangan, tetapi merupakan mediasi gerejawi yang melaluinya karunia ilahi sampai kepada kita. Justru karena alasan inilah, Konsili mengajak kita untuk memahami misteri iman yang diwujudkan dalam liturgi melalui ritus dan doa-doa (bdk. SC, 48).

 

Ritus ini memberi bentuk pada tindakan liturgi dan, melaluinya, pada kehidupan kita, menghasilkan kepekaan spiritual dalam diri kita yang membuat kita mampu menikmati kehadiran Allah melalui Yesus Kristus. Tentu saja, ini terjadi jika kita tidak terus menerus menjadi orang luar atau penonton yang bisu (bdk. idem) sehubungan dengan liturgi, tetapi sebaliknya berpartisipasi sepenuhnya di dalamnya — tubuh, pikiran, dan hati — dalam ketaatan kepada perintah Tuhan. Melalui ritus suci ini kita dibentuk dalam mendengarkan sabda Allah, mengucap syukur dan penyembahan, persekutuan persaudaraan dan persekutuan gerejawi. Kita menemukan bahwa kita adalah umat dengan banyak wajah, dipersatukan oleh satu iman.

 

Ritus melibatkan kita dalam rangkaian gerakan dan doa yang terdefinisi dengan baik, yang terkadang bertentangan dengan kecenderungan individual kita terhadap spontanitas. Namun, nalarnya bukanlah untuk membatasi kebebasan dalam kerangka kerja yang kaku. Sebaliknya, dengan kesederhanaan ritmenya yang khidmat, ritus menghentikan aktivitas kita yang hiruk pikuk, membawa kita kembali kepada hal yang hakiki. Dengan demikian, kita menemukan dimensi tindakan lain yang tidak dipandu oleh perhitungan produktivitas, dan pengalaman waktu dan ruang yang berbeda. Dalam ritus, kita mengalami nalar tanpa pamrih, kita menemukan jeda yang meregenerasi hati, kita menyadari bahwa kita didahului oleh rahmat ilahi dan kita belajar untuk hidup dalam ritme yang dihuni oleh Roh Kudus.

 

Tata bahasa ritus terjalin dengan tanda dan simbol yang sesuai dengan liturgi. Di dalamnya, sebagaimana dinyatakan oleh Konsili, “pengudusan manusia dilambangkan dengan tanda-tanda lahir serta dilaksanakan dengan cara yang khas bagi masing-masing” (SC, 7). Katekismus Gereja Katolik menelaah nilai dari tanda-tanda ini, mengingatkan bahwa “arti dari tanda dan lambang itu berakar dalam karya penciptaan dan dalam kebudayaan manusiawi. Namun ia tampil lebih jelas dalam peristiwa-peristiwa Perjanjian Lama dan menyatakan diri sepenuhnya dalam pribadi dan karya Kristus.” (no. 1145). Tanda air bersifat simbolis: dari asal mula Penciptaan hingga air bah, dari penyeberangan Laut Merah hingga Sungai Yordan, sampai air yang mengalir dari lambung Kristus, yang menjadi tanda sakramental pembaptisan dalam kematian dan kebangkitan-Nya.

 

“Tanda” dan “simbol” adalah istilah yang sering digunakan sebagai sinonim. Pada kenyataannya, sebuah tanda bersifat simbolis ketika ia mampu merujuk tidak hanya pada sebuah gagasan, tetapi pada keseluruhan sistem makna dan nilai. Dengan cara ini, misalnya, ketika kita diperciki air suci, kesadaran kita akan karunia yang diterima pada Baptisan dan komitmen kita terhadap kehidupan baru di dalam Kristus dihidupkan kembali. Kedua, simbol pada dasarnya bersifat praktis, pertama dan terutama berupa tindakan: beberapa sederhana dan umum, seperti berlutut dan saling memberikan salam damai, atau lebih menuntut, seperti tindakan konstitutif dari setiap Sakramen. Simbol terutama memiliki dimensi performatif dan transformatif yang unik, baik dalam kaitannya dengan unsur-unsur material yang membentuknya maupun yang bersentuhan dengannya, menumbuhkan rasa memiliki, menyentuh hati dan pikiran, dan memunculkan hubungan gerejawi yang autentik.

 

Dalam Surat Apostolik Desiderio Desideravi, Paus Fransiskus, menggemakan pernyataan Romano Guardini, mengidentifikasi “tugas pertama dari karya pembentukan liturgi: manusia harus sekali lagi mampu memahami simbol-simbol” (no. 44). Kita perlu membiarkan diri kita dididik oleh ritus-ritus liturgi, menjaga keindahan perayaan kita dengan sentuhan lembut dan tanpa kesewenang-wenangan, dan berkomitmen pada mistagogi yang autentik. Pengalaman liturgi yang hidup dan khidmat, disertai dengan katekese mistagogis yang tepat, adalah sumber terbaik untuk membangkitkan kembali dalam diri setiap orang keterbukaan terhadap perjumpaan dengan Allah yang, dalam nalar Inkarnasi, hanya dapat terjadi dengan melibatkan seluruh pribadi: roh, jiwa, dan tubuh (bdk. 1Tes. 5:23).

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Swedia, Australia, Indonesia, Myanmar, Filipina, Korea Selatan, Kanada, dan Amerika Serikat. Secara khusus saya menyapa para cendekiawan dan peserta konferensi “Merevisi Deklarasi Taipei Lembaga Medis Dunia” dan mitra penyelenggara KTT Global, “Menumbuhkan Harapan bagi Anak-Anak.” Saat kita mempersiapkan diri untuk Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, marilah kita dikuatkan oleh karunia ilahi ini dan menjadi saksi kasih-Nya kepada semua orang yang kita jumpai. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam rangkaian katekese kita tentang Konsili Vatikan II, kita melanjutkan refleksi kita tentang Sacrosanctum Concilium, dengan melihat unsur ritus, tanda, dan simbol yang terdapat dalam liturgi suci. Ritus liturgi kristiani adalah mediasi gerejawi yang melaluinya karunia ilahi sampai kepada kita. Dalam liturgi, kita diundang untuk berpartisipasi — tubuh, pikiran, dan hati — dan memasuki dimensi yang dihuni oleh Roh Kudus. Untuk memasuki dimensi ini, liturgi dijalin dengan tanda dan simbol yang memiliki dimensi performatif dan transformatif. Misalnya, berlutut adalah tanda penyembahan kita kepada Allah sementara saling memberikan salam damai menunjukkan persekutuan gerejawi kita. Lebih lanjut, tanda-tanda membantu kita untuk mengingat tindakan-tindakan konstitutif Sakramen seperti ketika kita diperciki air suci kita mengingat komitmen kita kepada Kristus. Saat kita bersiap menyambut Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, semoga kita masing-masing membangkitkan kembali keterbukaan kita untuk berjumpa Allah dengan menemukan kembali tanda dan simbol liturgi suci.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Juni 2026)