Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 9 SEPTEMBER 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. IV. KONSTITUSI PASTORAL GAUDIUM ET SPES (GS 1–10). 2. MARTABAT MANUSIA: ANUGERAH DAN TANGGUNG JAWAB

Saudara-saudari, selamat pagi dan selamat datang!

 

Konstitusi Konsili Gaudium et Spes (GS), dengan mendedikasikan bab pertamanya pada martabat pribadi manusia, menegaskan bahwa martabat tersebut merupakan landasan dan syarat bagi “nilai-nilai yang dewasa ini sangat dijunjung tinggi, serta menghubungkannya dengan sumbernya yang ilahi ... Tetapi akibat kemerosotan hati manusia nilai-nilai itu tidak jarang dibelokkan dari arah yang seharusnya” (GS, 11).

 

Perjalanan yang memungkinkan kita menyoroti karakteristik mendasar dan hak-hak terkait martabat manusia tentu merupakan salah satu bab paling penting dalam sejarah umat manusia. Namun, jalan ke depan belum usai; kita harus mengatasi berbagai pertentangan — baik yang lama maupun yang baru — yang menghalangi perwujudan sepenuhnya dari hal tersebut.

 

Gereja jelas memberikan sumbangsihnya dengan mengingatkan kita bahwa martabat manusia bersumber dari hakikat keberadaan pribadi itu sendiri. Saya berkesempatan menegaskan kembali hal ini dalam ensiklik terbaru saya, Magnifica Humanitas: “Diciptakan untuk relasi, setiap pribadi manusia direncanakan dan dikehendaki oleh Allah untuk masuk ke dalam persekutuan dengan-Nya, dengan sesama, dan dengan ciptaan. Martabat manusia tidak bergantung pada kemampuan, kekayaan, atau posisi seseorang dalam hidup, ataupun pada pilihan-pilihan yang benar atau salah yang dibuat; sebaliknya, martabat itu adalah suatu anugerah yang mendahului dan melampaui setiap pribadi, dianugerahkan oleh Allah sebagai ungkapan kasih-Nya yang tak pernah gagal” (no. 50). Dengan demikian, martabat tak terhingga manusia berakar pada jati dirinya sebagai makhluk yang diciptakan “‘menurut gambar Allah'; ia mampu mengenal dan mengasihi Penciptanya"; suatu rencana dan anugerah kasih yang melampaui kenyataan ciptaan lainnya, yang dipercayakan untuk ia kelola agar dapat "menguasainya dan menggunakannya sambil meluhurkan Allah" (GS, 12).

 

Dalam iman, kita dapat memahami dasar terdalam bagi martabat pribadi manusia, karena Sang Putra, "dalam perwahyuan misteri Bapa serta cinta kasih-Nya sendiri, sepenuhnya menampilkan manusia bagi manusia, dan membeberkan kepadanya panggilannya yang amat luhur." (no. 22).

 

Pribadi senantiasa menyiratkan relasi, persekutuan, dan partisipasi dalam hubungannya dengan Allah dan sesama; dengan demikian, terjalinlah hubungan anak dengan Allah Bapa serta hubungan persaudaraan dengan Kristus dan seluruh umat manusia. Hal ini menolak sikap mengasingkan diri yang berpusat pada diri sendiri. Menjadi pribadi berarti memandang diri sendiri sebagai anugerah yang harus dibagikan, tumbuh dan menjadi dewasa melalui penerimaan, sikap timbal balik, dan pelayanan.

 

Martabat ini dipercayakan kepada tanggung jawab setiap orang; pada saat yang sama, juga menuntut solidaritas dan kepedulian bersama, seraya mengatasi berbagai distorsi dan manipulasi yang masih mencoreng persepsi kita mengenainya serta menghambat perwujudannya. Sesungguhnya, akibat pilihan-pilihan sepanjang sejarah yang bertentangan dengan martabat ini, hingga kini pun "manusia terpecah di dalam dirinya sendiri", dan "seluruh hidup manusia, ditinjau sebagai perorangan maupun secara kolektif, nampak sebagai perjuangan, itu pun perjuangan yang dramatis, antara kebaikan dan kejahatan, antara terang dan kegelapan". Namun, keadaan yang rapuh dan terbatas ini dapat dipandang dengan penuh harapan, karena "Tuhan sendiri datang untuk membebaskan dan meneguhkan manusia, dengan membaharuinya dari dalam, dan dengan melemparkan keluar 'penguasa dunia' ini (lih. Yoh 12:31) yang membelenggunya dalam perbudakan dosa" (GS, 13).

 

Lebih jauh lagi, Konstitusi Gaudium et Spes menegaskan bahwa martabat manusia menyangkut pribadi manusia secara utuh, dan oleh karena itu, pandangan dualistik harus diatasi: manusia, "meskipun terdiri dari tubuh dan jiwa, merupakan satu kesatuan". Memandang tubuh sekadar sebagai "objek" yang dapat diperlakukan sekehendak hati senantiasa merupakan penyangkalan terhadap martabat pribadi: "Manusia tidak boleh meremehkan hidup jasmaninya" dan "wajib memandang baik serta layak dihormati badannya sendiri, yang diciptakan oleh Allah dan harus dibangkitkan pada hari terakhir", dan jangan membiarkan badan itu melayani "kecondongan-kecondongan hatinya yang tidak baik" (GS, 14), mengingat kita semua terluka oleh dosa.

 

Akhirnya, Gaudium et Spes mengingatkan kita akan tiga perwujudan paling penting dari martabat pribadi manusia: akal budi, yang menjadikan manusia sebagai pencari kebenaran yang tanpa kenal lelah (no. 15); hati nurani, yang melaluinya manusia memberikan kesatuan dan makna bagi hidupnya (no. 16); serta kebebasan, yang menjadikan manusia sebagai pelaku yang bertanggung jawab atas keputusan-keputusannya sendiri (no. 17). Dimensi-dimensi ini saling berkaitan erat: di dalam hati nuranilah kebenaran dikenali sebagaimana adanya, dan kebebasan dapat menghayati kebenaran itu sebagai landasan serta kemungkinannya. Roh Kudus, yang memberikan kehidupan di dalam Kristus, memerdekakan kita dan senantiasa meneguhkan martabat kita sebagai anak-anak Allah; Ia membebaskan kita dari rasa takut dan membimbing kita menuju tujuan akhir, yakni kehidupan dalam kepenuhannya melampaui kematian, yang telah dijanjikan Kristus kepada kita. Hanya di dalam Dia misteri pribadi manusia menemukan terang sejati; dari Dia kita menerima terang atas teka-teki penderitaan dan kematian; dan bersama Dia kita melangkah menuju kebangkitan.

 

Saudara-saudari terkasih, karena diciptakan menurut citra Allah — melalui Kristus dan demi Dia — kita telah menerima martabat yang unik dan tak terhapuskan. Marilah kita berkomitmen untuk senantiasa menjunjung dan membela martabat tersebut dengan terang serta kekuatan Injil.

 

[Sapaan]

 

Saya menyapa dengan hangat seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnyayang datang dari Skotlandia, Wales, Irlandia, Denmark, Norwegia, Afrika Selatan, Australia, Cina, Jepang, Lebanon, Filipina, dan Amerika Serikat. Secara khusus, dengan sukacita saya kembali menyapa para anggota Komite Pengarah Mimbar Antaragama untuk Dialog dan Kerjasama di Dunia Arab yang hadir hari ini. Saya berterima kasih atas kerja samamu dengan Pusat Internasional Raja Abdullah bin Abdulaziz untuk Dialog Antaragama dan Antarbudaya, dan berdoa semoga upayamu untuk mengembangkan hidup berdampingan secara damai di kawasan Arab sungguh membuahkan hasil yang melimpah. Bagi kamu masing-masing beserta keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam rangkaian katekese mengenai Konsili Vatikan II ini, kita melanjutkan refleksi kita tentang Gaudium et Spes, dengan berfokus pada martabat pribadi manusia. Martabat manusia bersumber dari jati diri kita sebagai anak-anak yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kita dianugerahi akal budi untuk mencari kebenaran, hati nurani untuk mengenali panggilan sejati kita, serta kebebasan untuk memilih yang baik. Hanya melalui Kristuslah kita memahami bahwa hakikat pribadi kita menyiratkan adanya relasi dan panggilan untuk menyerahkan diri sebagai anugerah bagi Allah dan sesama. Oleh karena itu, semoga kita saling membantu dalam menjaga dan membela martabat yang dianugerahkan Allah ini, serta melangkah bersama menuju tanah air surgawi kita.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 10 September 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 6 September 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Sabda Allah yang diwartakan dalam liturgi hari Minggu ini menawarkan kepada kita beberapa kriteria dasariah untuk berpikir dan bertindak. Dalam Surat kepada Jemaat di Roma, kita membaca bahwa setiap perintah “sudah tersimpul dalam firman ini, ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’” (Rm 13:9). Santo Paulus menegaskan hal ini dengan ungkapan yang sangat kuat, yang juga muncul dalam Doa Bapa Kami. Ia menulis, “Janganlah kamu berutang apa pun kepada siapa pun, kecuali kasih kepada satu sama lain” (ayat 8).

 

Yesus mengajarkan kita untuk memohon dan mempraktikkan pengampunan utang. Namun, ada satu utang yang kita miliki terhadap satu sama lain yang tidak memperbudak kita: utang kasih timbal balik. Segala perhatian, kepedulian, dan kebaikan yang telah kita terima menjadikan kita lebih bebas dan lebih mampu memikul tanggung jawab.

 

Dalam Bacaan Injil hari Minggu ini, Yesus menunjukkan setidaknya dua cara bagi setiap komunitas Kristiani untuk mempraktikkan kasih timbal balik. Cara pertama adalah kemampuan untuk melakukan teguran persaudaraan. Ini adalah seni yang halus — yang sering kali terlupakan — yang menuntut keterusterangan serta pendekatan yang bertahap. Berbicara secara jujur ​​satu sama lain pertama secara empat mata, kemudian, jika perlu, bersama dua atau tiga orang lainnya, dan akhirnya, bila diperlukan, di hadapan seluruh komunitas — berarti menghadapi kenyataan serta mengubah masalah dan konflik menjadi peluang untuk bertumbuh. Mengeluh dan membicarakan keburukan orang lain memang lebih mudah, namun hal-hal tersebut tidak menghasilkan apa-apa dan justru melumpuhkan banyak situasi. Sebaliknya, Bacaan Injil mengajarkan kita tentang kebebasan yang lahir dari cinta kasih.

 

Ada pula cara kedua untuk saling mengasihi sebagai saudara dan saudari — cara yang, bagi Yesus, bahkan mengubah cara kita berdoa — yaitu dengan sehati sepakat. Hal ini berlaku bukan hanya saat terjadi konflik, melainkan juga saat kita memohon anugerah Allah. Tuhan bersabda, “Jika dua orang dari antara kamu di bumi ini sepakat tentang semua itu dan memintanya, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga” (Mat 18:19). Janji ini menunjukkan bahwa kita dapat memiliki keinginan, duka, dan harapan yang sama, serta bahwa melalui doa, kita dapat bertumbuh dalam kesatuan. Tanpa iman, seseorang mungkin merasa sendirian dan menaruh curiga terhadap orang lain, serta memandang mereka sebagai orang asing dan musuh. Namun, berkat rahmat, kita adalah saudara dan saudari yang dapat hidup dalam kerukunan: saling menjumpai, saling mengampuni, dan saling mendengarkan dalam Tuhan.

 

Marilah kita memohon kepada Maria — yang setelah menerima kabar dari malaikat, bergegas menemui saudarinya, Elisabet, untuk berbagi sukacita dan beratnya masa kehamilan — agar ia juga mengajar kita tentang kewajiban penuh sukacita untuk saling mengasihi sebagai saudara.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari sekalian,

 

Dengan hati yang penuh duka, saya mengikuti berita mengenai serangan kekerasan terbaru yang belakangan ini melanda sejumlah kota dan infrastruktur sipil di Ukraina, yang mengakibatkan tewasnya orang-orang tak berdosa. Hati saya tertuju kepada mereka yang menderita, yang selama bertahun-tahun hidup dalam kecemasan dan ketakutan.

 

Saya kembali menyerukan agar kekerasan diakhiri, kehancuran dihentikan, dan hati dibuka bagi dialog serta perdamaian! Saya berharap upaya-upaya yang dilakukan belakangan ini untuk melanjutkan kembali perundingan akan membuahkan hasil nyata dan membuka ruang bagi diplomasi.

 

Marilah kita panjatkan doa kepada Tuhan, agar kerukunan dapat tercipta di tengah segala konflik yang terjadi di dunia.

 

Saya menyapa dengan hangat kamu semua, baik umat Roma maupun para peziarah dari berbagai negara. Terima kasih telah hadir di sini!

 

Secara khusus saya menyapa komunitas Seminari Antar-Keuskupan Studienhaus Sankt Lambert di Lantershofen (Jerman).

 

Saya juga dengan sukacita menyapa rombongan peziarah dari Paroki Sant’Ulderico Vescovo di Musestre (Treviso), serta Paduan Suara Keuskupan Oppido Mamertina-Palmi yang didampingi oleh Uskup mereka.

 

Seraya kita perlahan kembali menjalani aktivitas sehari-hari setelah liburan musim panas, marilah kita memohon kepada Tuhan untuk menyertai dan menopang kita dengan terang-Nya.

 

Selamat hari Minggu bagi semuanya!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 6 September 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 2 SEPTEMBER 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. IV. KONSTITUSI PASTORAL GAUDIUM ET SPES (GS 1–10). 1. GEREJA: MENDENGARKAN DAN MELAYANI DUNIA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Melalui pertemuan hari ini, kita akan mulai merefleksikan Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, dokumen yang melaluinya Konsili Vatikan II bermaksud memusatkan perhatian pada sebuah tema dasariah, yakni hubungan antara Gereja dan dunia dewasa ini. Santo Yohanes XXIII, sejak pidato pembukaannya pada tanggal 11 Oktober 1962, telah berupaya menanggapi pandangan para "nabi malapetaka" yang, "meskipun memiliki semangat keagamaan yang berkobar-kobar [...], terus-menerus mengatakan bahwa zaman kita ini — jika dibandingkan dengan abad-abad lampau — jauh lebih buruk; bahkan mereka bertindak seolah-olah tidak ada pelajaran yang bisa dipetik dari sejarah" (Wejangan Gaudet Mater Ecclesia, 11 Oktober 1962, 4.2). Oleh karena itu, inilah tugas yang dipercayakan kepada para Bapa Konsili: "Dalam situasi peristiwa manusiawi saat ini, di mana umat manusia tampaknya sedang memasuki tatanan baru, kita justru harus melihat rencana misterius Penyelenggaraan Ilahi; rencana yang pada waktunya akan digenapi melalui karya manusiawi — sering kali melampaui harapan mereka sendiri — dan yang dengan penuh kebijaksanaan mengatur segala sesuatu, bahkan peristiwa-peristiwa manusiawi yang merugikan sekalipun, demi kebaikan Gereja" (Gaudet Mater Ecclesia, 4.4).

 

Tiga tahun kemudian, promulgasi Gaudium et Spes mengakui adanya unsur hakiki dalam jati diri Gereja melalui pemahaman ini, dengan menggambarkan karakter pastoralnya sebagai sesuatu yang konstitutif; itulah sebabnya dokumen ini disebut sebagai "Konstitusi pastoral". Bukan soal optimisme yang naif, melainkan kesetiaan yang diperbarui terhadap misteri Kristus yang, melalui inkarnasi, memilih untuk ambil bagian dalam kehidupan kita: Ia menjadikan diri-Nya "disamakan dengan saudara-saudara-Nya dalam segala hal" (Ibr 2:17; bdk. 4:15) dan menanggung sendiri akibat dosa, dengan wafat "sebagai tebusan bagi semua manusia" (1 Tim 2:6). Persekutuan dalam kemanusiaan kita ini merupakan jalan yang dikehendaki Kristus untuk ditempuh oleh Gereja; oleh karena itu, Konstitusi Konsili Gaudium et Spes diawali dengan pernyataan bahwa Gereja turut merasakan "kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita" (GS 1).

 

Persekutuan ini menuntut kita untuk meninggalkan segala sikap pasif dan ketidakpedulian dalam menghadapi peristiwa terkini, sejarah, dan kehidupan sesama, khususnya di hadapan perubahan yang cepat dan mendalam yang kita alami saat ini. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton yang acuh tak acuh; sebaliknya, kita harus mendengarkan dengan hati, membiarkan diri kita ditantang, dan melibatkan diri secara aktif. Bersama Kristus dan ditopang oleh kuasa Roh-Nya, umat beriman dipanggil untuk memikul beban saudara-saudari mereka, terutama mereka yang tertindas oleh ketidakadilan, diskriminasi, dan kekerasan. Sesungguhnya, hanya melalui semangat berbagi dan berkomitmen kita dapat menemukan tanggapan yang tepat, yang senantiasa didukung oleh keyakinan bahwa "penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita" (Rm 8:18).

Dalam kaitan ini, kedekatan dengan umat manusia membuka jalan menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang berbagai peristiwa dan tentang Wahyu itu sendiri; dan, dalam semangat yang sama, Gaudium et Spes mengingatkan bahwa “Gereja selalu wajib menyelidiki tanda-tanda zaman dan menafsirkannya dalam cahaya Injil” (GS 4). Oleh karena itu, Konstitusi Konsili Vatikan II ini mengajak Gereja untuk berkomitmen terus-menerus pada pertobatan, guna memberikan kesaksian bahwa Gereja tidak didorong oleh “ambisi duniawi”, melainkan mengupayakan “hanya satu maksud: yakni, dengan bimbingan Roh Penghibur melangsungkan karya Kristus sendiri, yang datang ke dunia untuk memberi kesaksian akan kebenaran; untuk menyelamatkan, bukan untuk mengadili; untuk melayani, bukan untuk dilayani” (GS, 3).

 

Hal ini sesungguhnya bukan sekadar tuntutan moral. Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa bagi Gereja, “keberpihakan pada orang-orang miskin pada pokoknya adalah kategori teologis daripada kategori budaya, sosiologis, politis atau filosofis ... Kita dipanggil untuk menemukan Kristus di dalam diri mereka, untuk meminjamkan suara kita bagi perkara-perkara mereka, tetapi juga menjadi sahabat-sahabat mereka, mendengarkan mereka, memahami mereka dan menerima hikmat tersembunyi yang ingin disampaikan Allah kepada kita melalui mereka” (Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 198).

 

Solidaritas Kristiani menuntut kita untuk terlibat dengan kenyataan sekaligus menyingkapkan kontradiksi yang mencirikan kehidupan pribadi dan sosial di dunia dewasa ini: misalnya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus-menerus menawarkan berbagai kemungkinan baru — namun hanya bagi sebagian orang — dan yang tidak selalu mampu "mengabdikannya kepada dirinya. Ia berusaha menyelami secara makin mendalam rahasia batin jiwanya sendiri, namun acap kali nampak kurang pasti tentang dirinya. Lambat laun ia makin jelas menemukan hukum-hukum hidup kemasyarakatan, tetapi sering ragu-ragu tentang bagaimana mengarahkannya ... Tidak pernah bangsa manusia begitu berlimpah harta-kekayaan, kemungkinan-kemungkinan serta kekuatan ekonominya; akan tetapi sebagian masih sangat besar penghuni dunia tersiksa karena kelaparan dan kekurangan" (GS 4); atau kesadaran bersama bahwa masa depan planet ini sedang dipertaruhkan, dibarengi dengan ketidakmampuan untuk melepaskan pola konsumsi yang egois serta khayalan bahwa perang merupakan sarana efektif untuk membangun perdamaian.

 

Di tengah masa yang ditandai oleh perubahan mendalam yang menimbulkan kesenjangan yang mengkhawatirkan, Gereja dipanggil untuk melayani pribadi manusia; Gereja mendengarkan dan menyambut pertanyaan-pertanyaan terdalam hati mereka serta kerinduan yang bersemayam di dalamnya, seraya menunjuk kepada Kristus sebagai "kunci, pusat dan tujuan seluruh sejarah manusia" (GS 10). Oleh karena itu, di dalam Gereja — pada setiap tingkatan dan zaman — perlu diwujudkan kenosis (pengosongan diri) Kristus yang penuh belas kasih; Ia "tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba ... dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Flp 2:6–8).

 

Saudara-saudari terkasih, semoga sukacita dan harapan – Gaudium et Spes – menjadi ciri khas Gereja yang mewartakan dan menjadi saksi Injil, seraya mendekatkan diri kepada sesama di zaman kita.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang hadir dalam Audiensi hari ini, khususnya mereka yang datang dari Inggris, Skotlandia, Malta, Kanada, dan Amerika Serikat. Secara khusus, saya menyambut delegasi dari Interreligious Platform for Dialogue and Cooperation in the Arab World (Platform Antaragama untuk Dialog dan Kerja Sama di Dunia Arab). Seraya menyampaikan penghargaan yang mendalam atas karya Pusat Internasional Raja Abdullah bin Abdulaziz untuk Dialog Antaragama dan Antarbudaya, saya mendoakan keberhasilan pembahasanmu, serta meyakinkan kamu akan kedekatan rohani saya selama hari-hari ini. Bagi kamu masing-masing beserta keluarga, saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari yang terkasih, dalam lanjutan rangkaian katekese kita mengenai dokumen-dokumen Konsili Vatikan II, hari ini kita mulai merefleksikan Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes. Dokumen ini berfokus pada tanggung jawab pastoral Gereja untuk terlibat dengan dunia masa kini — turut merasakan suka dan dukanya — serta menyerukan komitmen untuk bertobat, menjadi saksi karya Kristus, dan membela kaum miskin serta mereka yang terpinggirkan. Gereja juga harus peka terhadap tanda-tanda zaman dan menafsirkannya dalam terang Injil, sehingga dapat menanggapi berbagai persoalan mendesak, seperti kemajuan teknologi yang hanya menguntungkan segelintir pihak dan masih maraknya kemiskinan yang meluas. Di zaman kita saat ini, yang ditandai oleh perubahan mendalam dan banyaknya ketidakadilan, kita masing-masing dipanggil untuk mengambil peran dalam menyambut serta mendengarkan pertanyaan dan kerinduan terdalam hati manusia, seraya menghadirkan kasih Kristus, Sang Juruselamat, yang maharahim bagi semua orang.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 2 September 2026]

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 30 Agustus 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat siang dan selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil hari ini mengisahkan bagaimana Yesus menyingkapkan kepada para murid-Nya misteri sengsara yang akan Ia alami. Mesias, Ia mengatakan, harus "pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga" (Mat 16:21).

 

Apa yang Ia katakan sangat jauh berbeda dari harapan mereka akan sosok Mesias yang gagah perkasa, yang dengan pertolongan-Nya mereka akan mengalahkan dan menginjak-injak lawan-lawan mereka (bdk. Mzm. 108:13). Selama bersama Dia, mereka sebenarnya sudah dibuat takjub oleh begitu banyak perbuatan dan perkataan-Nya. Namun, pesan terbaru ini sungguh melampaui segala dugaan. Secara khusus, Petrus menyatakan ketidaksetujuannya dan menegur Yesus dengan berkata, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau" (ayat 22).

 

Tak lama sebelumnya, Petrus telah mengakui Dia sebagai "Mesias, Anak Allah yang hidup" (ayat 16). Akan tetapi kini, karena terkejut dan mungkin kecewa mendengar hal itu, ia justru menegur Yesus — sebuah tindakan yang sangat kontras dengan pengakuan iman yang indah yang baru saja ia ucapkan. Ia seolah-olah berkata, "Ya, aku percaya Engkau adalah Mesias, tetapi bukan dengan cara itulah dunia diselamatkan." Sikapnya itu merupakan luapan semangat yang tentu didasari oleh kasih yang tulus, namun hal itu tetap memberikan kita bahan untuk direnungkan.

 

Bagi kita pun, sesungguhnya tidaklah selalu mudah untuk memahami dan menerima cara Allah, terutama ketika cara itu sangat jauh berbeda dari cara kita. Saat itulah muncul godaan — yang bertentangan dengan segala penalaran iman — untuk berpikir bahwa Tuhan yang keliru, atau lebih buruk lagi, bahwa Ia tidak mendengarkan atau tidak peduli terhadap kita. Di tengah ketidakpastian ini, Petrus — terlepas dari sifatnya yang impulsif — mengajarkan kita dua hal penting.

 

Hal pertama, bahkan pada saat-saat seperti itu, kita jangan pernah berhenti berdialog dengan Tuhan. Sebaliknya, kita hendaknya dengan penuh keyakinan menyampaikan kepada-Nya kesulitan kita dalam memahami apa yang Ia minta dari kita.

 

Hal kedua, jangan pernah menghakimi karya Allah, melainkan dengan rendah hati dan penuh doa mendengarkan apa yang Ia nyatakan kepada kita melalui tindakan-tindakan-Nya, bahkan ketika hal-hal tersebut tidak sesuai dengan harapan kita.

 

Keagungan rasul yang pertama itu juga tampak jelas dalam hal ini.

 

Yesus menjawab, "Enyahlah, Iblis!" (ayat 23), dan menjelaskan kepada Petrus serta murid-murid lainnya bahwa untuk mengikuti jejak-Nya, mereka harus menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Dia (bdk. ayat 24). Petrus benar-benar melakukan hal itu: setelah mendengarkan-Nya, ia menerima tantangan tersebut dan tetap setia pada perkataan Kristus — yang telah diakuinya sebagai Penebusnya — sepanjang sisa hidupnya, bahkan hingga kemartirannya.

 

Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Tuhan agar kita pun, dalam kehidupan iman dan doa kita, memiliki ketulusan yang sama seperti Petrus — dengan rendah hati mengungkapkan kepada Yesus apa yang sungguh kita rasakan, bahkan saat hati kita sedang diliputi kebingungan. Pada saat yang sama, semoga kita dapat membina sikap terbuka dan taat seperti Petrus dalam menerima apa yang diminta Yesus dari kita, yang sering kali melampaui harapan kita.

 

Semoga Bunda Maria menolong kita, sebab ia taat pada rencana Allah bahkan saat berada di kaki salib Putranya, Yesus.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari sekalian,

 

Berita tragis datang dari Haiti mengenai pembantaian mengerikan yang terjadi di Kenscoff, di mana banyak orang kehilangan nyawa dan yang lainnya disandera. Saya menyatakan kedekatan batin saya dengan para korban beserta keluarga mereka, dan menyerukan pembebasan segera bagi semua sandera. Saya menyampaikan seruan yang sungguh-sungguh kepada semua pihak yang memegang otoritas untuk mengambil langkah-langkah nyata demi menjamin keselamatan penduduk dan mengakhiri segala bentuk kekerasan.

 

Saya kembali memanjatkan doa bagi mereka yang terdampak banjir dahsyat yang melanda Nepal dan Tibet. Marilah kita berdoa bagi mereka yang kehilangan nyawa, yang terluka dan hilang, serta keluarga dan para petugas penyelamat. Semoga kepedulian semua pihak dapat membantu meringankan penderitaan dan menyalurkan bantuan yang dibutuhkan oleh masyarakat yang terdampak.

 

Marilah kita terus berdoa demi perdamaian. Santo Agustinus, yang pesta peringatannya kita rayakan beberapa hari yang lalu, mengatakan bahwa perdamaian itu “ibarat roti ajaib yang diperbanyak di tangan para murid saat mereka memecah-mecah dan membagikannya” (Sermo 357, 2). Semoga semakin banyak orang di dunia ini yang dengan berani memecah-mecahkan dan membagikan roti perdamaian, mengatasi perpecahan, menegakkan keadilan, serta mempraktikkan pengampunan demi kebaikan bersama.

 

Pada hari Selasa, kita merayakan Hari Doa Sedunia untuk Kepedulian terhadap Ciptaan. Perayaan ini menandai dimulainya Masa Penciptaan — yang diperingati oleh umat Kristiani dari berbagai denominasi — dengan tema tahun ini: "Air Hidup." Sebagaimana saya sampaikan dalam pesan untuk Hari Doa Sedunia untuk Kepedulian terhadap Ciptaan, memelihara rumah kita bersama menuntut pertobatan hati, agar apa yang selama ini digunakan untuk mendatangkan kehancuran dapat diarahkan demi kehidupan. Saya mengajak semua orang untuk bersatu dalam doa dan tindakan, agar kita dapat menjadi saluran air hidup damai sejahtera Allah yang menyegarkan dunia kita yang terluka.

 

Saya menyapa kamu semua: umat di Castel Gandolfo dan para peziarah dari berbagai negara. Secara khusus, saya menyapa para peserta acara amal "Run to Rome," kaum muda yang telah menempuh rute ziarah *Via Lucis*, kelompok devosan Bunda Maria dari Mukjizat Corbetta, serta para pengendara sepeda motor yang hadir untuk pertemuan tahunan mereka.

 

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada aparat penegak hukum dan semua pihak yang telah membantu kelancaran masa tinggal saya di Castel Gandolfo selama musim panas ini, serta mereka yang bertanggung jawab atas keamanan selama pertemuan saya dengan para peziarah. Terima kasih banyak!

 

Saya juga menyampaikan salam hangat kepada umat yang mengikuti doa Malaikat dari Lapangan Santo Petrus.

Selamat hari Minggu bagi kamu semua!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 30 Agustus 2026)