Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 21 OKTOBER 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. IV. KONSTITUSI PASTORAL GAUDIUM ET SPES (GS 47-52). 5. KOMITMEN TERHADAP KELUARGA DALAM DUNIA ZAMAN SEKARANG

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Hal pertama yang ingin saya sampaikan adalah terima kasih! Terima kasih atas dukungan doa-doamu. Puji syukur kepada Allah atas kemurahan hati-Nya. Marilah kita semua memperbarui kepercayaan kita kepada kebaikan dan kerahiman Allah.

 

Konstitusi pastoral Konsili Vatikan II Gaudium et Spes (GS), setelah menguraikan martabat pribadi manusia dan panggilannya di dunia pada bagian pertama, kemudian membahas — dalam terang Injil dan pengalaman manusia — beberapa isu dunia sekarang ini yang paling mendesak pada bagian kedua (bdk. GS, 46). Dokumen ini berfokus terutama pada perkawinan dan keluarga, dengan keyakinan bahwa “keselamatan pribadi maupun masyarakat manusiawi dan kristiani erat berhubungan dengan kesejahteraan rukun perkawinan dan keluarga” (GS, 47).

 

Untuk itu, dokumen ini tidak sekadar menegaskan kembali nilai dan tujuan perkawinan serta keluarga, melainkan menawarkan pemahaman yang diperbarui mengenai perkawinan sebagai “persekutuan hidup dan kasih suami-istri yang mesra” (GS, 48). Dengan tetap menyertakan dimensi hukum perkawinan sebagai suatu kontrak, dasar dari persatuan ini diakui sebagai “perjanjian suami-istri”, yang dipahami sebagai “tindakan manusiawi, yakni saling menyerahkan diri dan saling menerima antara suami dan istri” (GS, 48). Saling memberikan diri antara pria dan wanita — sehingga “mereka bukan lagi dua, melainkan satu daging” (Mat 19:6) — menjadi landasan bagi tuntutan akan “kesetiaan sepenuhnya” dan “kesatuan yang tak terpisahkan” di antara suami dan istri, yang secara nyata terungkap dalam kelahiran dan pengasuhan anak-anak (bdk. GS, 48). Sebagai cermin Tritunggal Mahakudus, cinta kasih suami-istri dan cinta kasih orang tua — melalui Sakramen Perkawinan — “dibimbing serta diperkaya berkat daya penebusan Kristus”, sehingga suami dan istri dapat saling mengasihi “seperti Kristus mengasihi Gereja dan menyerahkan diri untuknya” (GS, 48).

 

Setelah menjelaskan hakikat perkawinan dalam terang cinta Kristus — yang merupakan kebenaran dari cinta kasih manusiawi sekaligus ilahi — Gaudium et Spes mengalihkan perhatiannya pada cinta kasih suami-istri dan kesuburan dalam perkawinan. Cinta kasih suami-istri tidak terbatas pada ketertarikan erotis — meskipun hal itu juga tercakup di dalamnya — melainkan melibatkan seluruh kehendak pasangan, menghidupkan kasih sayang dalam hati mereka, serta diungkapkan melalui perasaan dan tindakan yang penuh kelembutan (bdk. GS, 49). Dengan merangkul kebaikan pribadi seutuhnya, baik pria maupun wanita — yang memiliki martabat setara — cinta ini meresapi seluruh kehidupan pasangan dan terungkap dalam tindakan-tindakan yang secara khusus hanya ada dalam perkawinan (bdk. GS, 49). Selain melambangkan cinta kasih yang utuh dari satu pribadi kepada pribadi lainnya, keintiman yang khas di antara suami dan istri ini menumbuhkan semangat saling memberikan diri serta memperkaya sukacita yang mereka alami bersama (bdk. GS, 49).

 

Selanjutnya, kesuburan cinta kasih suami-istri terwujud dalam prokreasi anak, yang merupakan “anugerah terbesar dalam perkawinan” (GS, 50). Dengan meneruskan dan mendidik kehidupan manusia — yang tidak boleh ditolak dengan cara apa pun — suami-istri menjadi “mitra kerja cinta kasih Allah Pencipta dan bagaikan penterjemah-Nya” (idem). Karena dipanggil untuk menunaikan tugas penuh tanggung jawab manusiawi serta kristiani, mereka hendaknya membentuk pendirian yang sehat, sambil mengindahkan baik kesejahteraan mereka sendiri maupun kesejahteraan anak-anak, baik yang sudah lahir maupun yang mereka perkirakan masih akan ada. Pertimbangan semacam itu — yang pada akhirnya wajib diadakan oleh suami-istri sendiri di hadapan Allah — menuntut agar suara hati mereka disesuaikan dengan hukum ilahi, menganut bimbingan Wewenang Mengajar Gereja yang dalam terang Injil memberi tafsiran autentik kepada hukum itu (bdk. GS, 50).

 

Penekanan pada persekutuan penuh cinta kasih dan kesuburan untuk menghasilkan keturunan dalam perkawinan menuntun Konsili untuk menolak kemungkinan adanya “pertentangan yang sesungguhnya antara hukum-hukum ilahi tentang penyaluran
hidup dan usaha memupuk cinta kasih suami-istri yang sejati” (GS, 51). Sebaliknya, Konsili menegaskan bahwa “bila soalnya bagaimana menyelaraskan cinta kasih suami-istri dengan penyaluran kehidupan secara bertanggung jawab”, kita harus “menghormati arti sepenuhnya yang ada pada saling penyerahan diri dan pada keturunan manusiawi, dalam konteks cinta kasih yang sejati” (GS, 51). Dari sini, tersirat pula bahwa “kehidupan sejak saat pembuahan harus dilindungi dengan sangat cermat”, dengan menolak “pengguguran dan pembunuhan anak”; serta bahwa “ tindakan yang khas bagi hidup perkawinan sendiri, yang diatur sesuai dengan martabat manusiawi yang sejati, wajib dihadapi dengan sikap hormat yang sungguh mendalam” (GS, 51).

 

Ajaran Gaudium et Spes mengenai komunitas suami-istri dan keluarga selanjutnya menyoroti fungsi sosial keluarga — yang didefinisikan sebagai “sekolah kemanusiaan yang lebih mendalam” dan “dasar masyarakat” (GS, 52) — serta menyerukan kepada semua pihak yang mengemban tanggung jawab sosial, khususnya di bidang politik dan budaya, untuk berkewajiban “dengan tekun mengembangkan nilai-nilai perkawinan dan keluarga” (GS, 52).

 

Saudara-saudari terkasih, tugas ini kini jauh lebih mendesak daripada sebelumnya. Gereja sangat menyadari hal ini, sebagaimana terlihat dari perhatian pastoral para Paus yang silih berganti sejak Konsili terakhir, hingga dua Sidang Sinode yang diselenggarakan oleh Paus Fransiskus — yang baru-baru ini kembali dibahas oleh para pemimpin Gereja Katolik Timur dan para Ketua Konferensi Waligereja. Semoga Keluarga Kudus dari Nazaret menerangi perjalanan kita dan melindungi keluarga-keluarga di seluruh dunia.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang hadir dalam Audiensi hari ini. Bagi kamu semua beserta keluarga, saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam lanjutan katekese kita mengenai Gaudium et Spes, hari ini kita membahas martabat perkawinan dan keluarga dalam konteks tantangan masa kini. Para Bapa Konsili menyadari bahwa kesejahteraan semua orang dalam masyarakat sangat erat kaitannya dengan kesehatan perkawinan dan keluarga. Mereka berupaya menghadirkan visi baru tentang cinta kasih suami-istri sebagai persekutuan mesra yang mencerminkan kehidupan Allah Tritunggal, serta berakar pada — dan diperkaya oleh — kuasa penebusan Kristus. Oleh karena itu, marilah kita berdoa memohon berkat dan perlindungan Allah bagi semua keluarga.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 21 Oktober 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 18 Oktober 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil dalam liturgi hari ini (Mat 22:15-21) menyajikan salah satu perkataan Yesus yang paling terkenal: “Berikanlah milik kaisar kepada kaisar dan milik Allah kepada Allah” (bdk. ayat 21). Oleh karena itu, memikirkan kata-kata ini dalam konteks saat perkataan tersebut pertama kali diucapkan penting.

 

Penginjil Matius menggambarkan situasi permusuhan terhadap Yesus: orang-orang Farisi berkumpul untuk mencari cara menjerat Yesus dalam perkataan-Nya (bdk. ay. 15). Mereka memutuskan untuk menyuruh beberapa orang guna menanyakan suatu persoalan kontroversial kepada-Nya: “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” (ayat 17). Tanggapan Sang Guru sangat cerdik; Ia berhasil menghindari jeratan tersebut sekaligus menyingkapkan kemunafikan orang-orang yang hendak mencobai-Nya. Ia meminta mereka menunjukkan mata uang yang digunakan untuk membayar pajak, yakni satu dinar. Mereka menyerahkannya kepada-Nya, lalu Yesus bertanya, “Gambar dan nama siapakah ini?” Mereka menjawab, “Gambar dan nama kaisar.” Kemudian Ia menegaskan, “Berikanlah milik kaisar kepada kaisar dan milik Allah kepada Allah” (ay. 17-21).

 

Dalam diri Yesus, kita merenungkan Allah yang tidak takut akan sejarah, melainkan justru hadir untuk tinggal di dalamnya. kerajaan-Nya tidak meniadakan peran dan tanggung jawab manusia. Sebaliknya, kerajaan-Nya memanggil kita untuk hidup tanpa kompromi, bebas dari ambisi egois dan motif yang tidak adil, serta senantiasa mengutamakan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (bdk. Mat 6:33). Dalam konteks ini, menarik untuk dicatat bahwa orang-orang tersebut justru memuji Yesus, meskipun niat mereka jauh dari tulus: “Guru, kami tahu, Engkau orang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut terhadap penilaian orang, sebab Engkau tidak memandang muka” (ayat 16).

 

Saudara-saudari terkasih, inilah tepatnya makna dari “memberikan milik kaisar kepada kaisar dan milik Allah kepada Allah”: yakni bersikap jujur, bebas dari rasa takut yang menghambakan ataupun kemunafikan, serta bebas untuk berbuat baik. Marilah kita berdoa kepada Tuhan agar Ia menolong kita untuk hidup dengan cara seperti ini. Dan marilah kita menyerahkan diri kita dalam perantaraan Santa Perawan Maria.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Hari ini kita merayakan Hari Minggu Misi Sedunia ke-100. Marilah kita memikirkan betapa panjang sejarah misi yang telah terukir selama seratus tahun ini! Marilah kita berdoa agar Gereja senantiasa setia pada amanat Tuhan yang bangkit: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15).

 

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendoakan saya dalam beberapa hari terakhir. Saya sungguh merasakan dukunganmu. Terima kasih!

 

Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih secara khusus kepada para dokter, perawat, dan seluruh staf Rumah Sakit Gemelli.

 

Pengalaman ini membuat saya merasa sangat dekat dengan semua orang yang sedang berjuang melawan penyakit atau kelemahan fisik.

 

Kini, setelah melewati fase yang cukup kritis ini — sebagaimana kamu ketahui — saya akan secara bertahap kembali menjalankan kegiatan saya, senantiasa dengan pertolongan Allah dan doa-doamu.

 

Sekali lagi, terima kasih. Terima kasih kepada kamu semua! Selamat hari Minggu!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 18 Oktober 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 11 Oktober 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Dalam Bacaan Injil hari ini Yesus berbicara tentang perjamuan kawin yang disiapkan oleh seorang raja bagi anak laki-lakinya (bdk. Mat. 22:1–14).

 

Perkawinan seorang anak laki-laki merupakan peristiwa istimewa bagi keluarga mana pun, dan sang ayah yang berbahagia ini ingin berbagi sukacitanya dengan semua orang. Ia menyiapkan perjamuan dan mengundang banyak orang. Santo Thomas Aquinas mengatakan bahwa kebaikan, pada hakikatnya, cenderung menyebar: "Bonum dicitur diffusivum sui" (Summa Theologiae, I, q. 5, a. 4, ad 2). Gambaran dalam kisah ini mengungkapkan gagasan tersebut dalam konteks pengalaman hidup kita. Terjadinya sesuatu yang baik akan menyalakan cahaya yang mendorong kita untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain.

 

Namun, menanggapi undangan yang begitu murah hati tersebut, alih-alih datang ke perjamuan, para tamu justru tidak mengindahkannya dan lebih memilih untuk melanjutkan urusan mereka sendiri. Ada yang merasa kesal, menghina utusan sang raja, bahkan membunuh mereka. Sayangnya, hal ini bisa terjadi juga pada kita, karena kebaikan yang kita tawarkan tidak selalu dipahami, diakui, atau dihargai. Bahkan, terkadang kebaikan itu sengaja disalahartikan dan ditolak. Namun, hal ini tidak boleh mematahkan semangat kita. Saat menghadapi penolakan, sang raja tidak menunda perkawinan atau membatalkan perayaan. Sebaliknya, ia justru memperluas undangannya kepada lebih banyak orang lagi, dengan menyuruh para hambanya pergi ke persimpangan-persimpangan jalan untuk mengundang mereka, agar sukacita kedua mempelai dapat menjadi anugerah bagi semua orang.

 

Pada titik ini, kita dapat bertanya pada diri kita siapa yang dilambangkan oleh tokoh-tokoh utama dalam kisah ini. Santo Hieronimus mengidentifikasi sang raja sebagai Bapa surgawi, mempelai laki-laki sebagai Yesus, dan mempelai perempuan sebagai Gereja (bdk. Ulasan tentang Matius, Buku III, bab 22). Kita pun termasuk dalam tokoh-tokoh utama tersebut; kita dipilih oleh Tuhan untuk ambil bagian dalam kehidupan dengan Dia dan menjadi pembawa kehidupan bersama Dia. Perjamuan kawin itu adalah perjamuan kawin kita, dan ruang perjamuannya adalah gereja dan rumah kita — tempat kita menjalani hidup dan tempat sang Putra Raja, Yesus Kristus, terus menyatakan kasih-Nya kepada kita seraya menantikan jawaban "ya" kita. Di sanalah kita berjumpa Dia; kita dikenakan pakaian layaknya mempelai perempuan — yakni jubah putih pembaptisan — dan dihiasi dengan permata perbuatan baik, yang mendekatkan kita kepada Allah dan satu sama lain.

 

Oleh karena itu, sukacita yang kita wartakan bukanlah sesuatu yang dibuat-buat; sukacita itu mendalam, berwujud, dan nyata. Sukacita itu seindah wajah orang-orang yang kita jumpai. Sukacita itu setulus karya, senyuman, air mata, jabat tangan, dan tindakan kebaikan yang mengisi hari-hari kita. Semua itu anugerah Allah demi keselamatan dunia.

 

Maka, marilah kita memohon kepada Maria, Bunda Tuhan, untuk membantu kita bertumbuh dalam sukacita ini. Bahkan ketika sukacita ini tidak dipahami, marilah kita mewartakannya senantiasa dan di mana saja, dengan kemurahan hati, keberanian, dan iman.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Kemarin, di Mantua, Suster Maria Ignazia Isacchi, pendiri Kongregasi Suster Ursulin Hati Kudus Yesus, dibeatifikasi. Antara akhir abad ke-19 dan dekade-dekade awal abad ke-20, ia membaktikan diri dengan kasih yang penuh keberanian bagi mereka yang berkekurangan dan kurang beruntung. Semoga teladannya membangkitkan kembali dalam diri kita segenap hasrat untuk menjadi saksi kasih Injil bagi semua orang di dunia ini.

 

Perang di Ukraina yang sedang dilanda penderitaan terus menimbulkan dampak yang melampaui batas-batas wilayahnya, terutama di negara-negara termiskin, di mana begitu banyak orang bergantung pada impor biji-bijian. Saya mengimbau dengan sungguh-sungguh para pihak yang bertikai agar mengizinkan pengangkutan biji-bijian yang aman melalui Laut Hitam. Makanan pokok bagi jutaan orang tidak boleh dijadikan sandera oleh perang.

 

Hari ini di Italia diperingati sebagai Hari bagi Korban Kecelakaan Kerja. Saya menyapa Lembaga Nasional Pekerja yang Mengalami Cedera dan Disabilitas Akibat Kerja, serta mendukung upaya-upaya pencegahan.

 

Saya menyapa dengan hangat kamu semua, baik umat Roma maupun para peziarah!

 

Saya menyapa para anggota Hermandad del Señor de los Milagros di Roma dan semua orang yang ambil bagian dalam prosesi dengan ikon Kristus tersalib yang dihormati. Terima kasih atas doa-doamu bagi kunjungan pastoral yang akan saya lakukan ke Peru.

 

Dengan sukacita saya menyapa umat Eparki Katolik Yunani Mukachevo di Ukraina, yang didampingi oleh Uskup mereka; Asociación de fieles Hakuna; las Antiguas Alumnas Jesús Maria España; paduan suara dan sekolah paduan suara Katedral Haarlem di Belanda; serta umat dari Wina.

 

Saya menyapa kaum muda dari Vikariat Chiaravalle di Keuskupan Senigallia; para anggota AIDO dari cabang provinsi Belluno; kelompok Ars Enotria dari Cosenza; serta tim sepak bola putri dari Rumah Sakit Biella.

 

Sahabat-sahabat, dalam beberapa pemeriksaan medis baru-baru ini, para dokter menemukan sebuah pembengkakan kecil yang terlokalisasi di paru-paru saya. Pembengkakan tersebut terdeteksi pada tahap yang sangat dini dan posisinya terlokalisasi dengan baik. Para dokter berpendapat bahwa tindakan medis perlu dilakukan; oleh karena itu, mengikuti saran mereka, saya memutuskan untuk menjalani operasi pengangkatan pembengkakan tersebut. Operasi itu telah dijadwalkan untuk dilaksanakan dalam waktu dekat. Saya berterima kasih atas kedekatan rohani kamu semua dan menyerahkan diri saya dalam doa-doamu.

 

Terima kasih, dan selamat hari Minggu!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 11 Oktober 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 7 OKTOBER 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. IV. KONSTITUSI PASTORAL GAUDIUM ET SPES (GS 40-45). 5. PERUTUSAN GEREJA DALAM DUNIA SEKARANG (BACAAN: MAT 5:13-16)

Saudara-saudari sekalian, selamat pagi dan selamat datang!

 

Melanjutkan refleksi kita mengenai Konstitusi Konsili Vatikan II Gaudium et Spes (GS), hari ini kita akan membahas bab keempat bagian pertama, yang dikhususkan bagi perutusan Gereja dalam dunia sekarang.

 

Pertama, Konsili menegaskan kembali bahwa Gereja tidak berada "di atas" atau "di samping" dunia, melainkan — boleh dikatakan — dicangkokkan ke dalamnya. "Mundus reconciliatus Ecclesia", tulis Santo Agustinus (Khotbah 96): Gereja adalah dunia yang telah didamaikan dengan Allah; kita adalah peziarah di bumi yang turut merasakan kerapuhan sekaligus keindahan dunia ini (bdk. GS, 40).

 

Sebagaimana Putra Allah menjelma untuk menghidupkan dunia dan mendamaikannya dengan Bapa, demikian pula Gereja hadir di tengah dunia sebagai tanda penjelmaan Allah, demi mewujudkan rencana-Nya untuk menjadikan kita semua anak-anak-Nya dalam satu keluarga besar umat manusia. Oleh karena itu, Gereja menempuh perjalanan sejarah di tengah berbagai bangsa dan budaya, dan "keterlibatan dalam kehidupan masyarakat ini membantu Gereja memahami dengan semakin jelas bahwa peranannya memiliki dimensi sejarah serta membawa tanggung jawab atas cara relasi sosial dibangun" (Ensiklik Magnifica Humanitas, 19).

 

Perutusan pertama Gereja adalah membantu orang-orang untuk menaruh perhatian pada pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang kehidupan: pertanyaan mengenai asal-usul dan tujuan akhir kita, serta makna kasih dan penderitaan (bdk. GS, 41). Nalar mengejar keuntungan dengan segala cara dan memanipulasi informasi berisiko memberikan tekanan yang tidak semestinya agar orang mengikuti gaya hidup yang berpusat pada konsumsi barang-barang materi, padahal hati kita diciptakan untuk memandang ke atas.

 

Para Bapa Konsili mengingatkan kita bahwa perutusan Gereja juga terlaksana melalui kontribusi dalam pembangunan kota duniawi. Namun, metode dan tujuannya bukan terutama bersifat politis; melainkan, perutusan tersebut terwujud dalam kesaksian akan iman dan kasih, disertai dengan komitmen terhadap keadilan, perdamaian, dan persaudaraan. Dengan menyembah Kristus — Orang Benar yang wafat bagi orang-orang yang tidak benar — umat beriman tidak dapat menerima penindasan terhadap kaum lemah dan miskin, ataupun struktur-struktur tidak adil yang melanggengkan ketergantungan dan ketidakadilan. Ajaran sosial Gereja menjadi pedoman bagi tindakan umat Kristiani, yang bekerja sama dengan semua orang yang berkehendak baik demi memajukan kesejahteraan bersama. Oleh karena itu, Gereja “tidak memiliki hasrat yang lebih besar selain dapat mengembangkan diri secara bebas — demi kesejahteraan semua orang — di bawah pemerintahan jenis apa pun yang mengakui hak-hak dasar pribadi dan keluarga serta tuntutan kesejahteraan bersama” (GS, 42).

 

Demi melaksanakan perutusan Injil secara efektif, setiap orang yang telah dibaptis perlu berkomitmen untuk bekerja sama dengan rahmat Roh Kudus, agar iman mereka menjadi hidup dan terwujud dalam perilaku yang konsisten. Sesungguhnya, sebagaimana ditegaskan kembali oleh para Bapa Konsili, perceraian antara iman yang diikrarkan dan hidup sehari-hari banyak orang “harus dipandang sebagai suatu kesesatan yang cukup gawat pada zaman sekarang ini” (GS, 43).

 

Gaudium et Spes memberikan perhatian khusus (bdk. GS, 43) pada perutusan kaum awam yang, berkat pembaptisan mereka, dipanggil untuk menghidupkan dunia dengan semangat Kristiani dan visi Injil. Lingkup utama bagi kegiatan ini — yang dapat pula digambarkan sebagai kegiatan yang bersifat imami — tentu saja adalah keluarga dan tempat kerja, namun perutusan ini juga mencakup setiap ranah kehidupan.

 

Akhirnya, Gereja senantiasa memperhatikan apa yang sedang terjadi dan berkembang di tengah masyarakat (bdk. GS, 44). Merupakan tugas seluruh Umat Allah — terutama para gembala dan teolog — untuk melakukan pembedaan roh terhadap hal-hal dalam budaya zaman kita yang patut mendapat perhatian, dengan senantiasa menjadikan Sabda Allah dan Tradisi Gereja sebagai tolok ukur utama dalam pembedaan tersebut. Hal ini menuntut sikap batin yang seimbang dan bebas dari sekadar mengikuti kecenderungan budaya; sikap yang mampu memandang dunia secara positif namun tetap teguh dalam menjaga serta mewartakan pesan Injil secara utuh. Sesungguhnya, “kekristenan tidak akan menjadi menarik dengan cara mengencerkan isinya ataupun melunakkan tuntutannya” (Pidato pada Sidang Pleno Dikasteri untuk Evangelisasi – Bagian tentang Pertanyaan-Pertanyaan Mendasar mengenai Evangelisasi di Dunia, 28 Mei 2026).

 

Saudara-saudari terkasih, dalam perjalanannya melintasi sejarah, “Gereja memiliki satu tujuan tunggal: supaya datanglah Kerajaan Allah dan terwujudlah keselamatan segenap bangsa manusia” (GS, 45). Gereja mengupayakan tujuan ini terutama melalui kekudusan pribadi dan kasih persaudaraan. Santo Paulus VI menulis: “Tanpa tanda kekudusan ini, perkataan kita akan sulit menyentuh hati manusia zaman sekarang. Perkataan itu berisiko menjadi sia-sia dan tidak membuahkan hasil” (Seruan Apostolik Evangelii Nuntiandi, 76). Oleh karena itu, marilah kita membuka diri terhadap karya Roh Kudus, agar Ia memampukan kita hidup dalam kekudusan dan kasih, sehingga dunia dapat percaya dan memiliki pengharapan.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya mereka yang datang dari Inggris, Skotlandia, Irlandia, Uganda, Afrika Selatan, Australia, Selandia Baru, India, Indonesia, Filipina, Sri Lanka, Kanada, dan Amerika Serikat. Atas kamu masing-masing dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, pagi ini kita kembali merefleksikan Gaudium et Spes seraya menyoroti perutusan Gereja dalam dunia sekarang. Sebagaimana Putra Allah menjelma menjadi manusia demi melaksanakan perutusan penebusan-Nya, demikian pula Gereja hadir di dunia sebagai tanda hidup akan rencana Allah untuk mendamaikan dunia dengan diri-Nya. Dengan mencermati tanda-tanda zaman melalui terang Injil, Gereja menjalankan tugas ini dengan membantu orang-orang menjawab pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang kehidupan serta berkontribusi bagi masyarakat melalui kesaksian iman dan kasih. Agar perutusan ini terlaksana secara efektif, Gereja mengandalkan kerja sama setiap orang yang telah dibaptis dengan rahmat Roh Kudus serta upaya mereka dalam mengejar kekudusan. Kaum awam, khususnya, dipanggil untuk menjiwai budaya tempat mereka hidup dengan semangat Kristiani. Dalam panggilan kita untuk membangun Kerajaan Allah, semoga kita memperbarui upaya kita menuju pengudusan diri, keadilan, dan kasih persaudaraan, sehingga menjadi tanda pengharapan bagi semua orang.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 7 Oktober 2026)