Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!
Dalam
Bacaan Injil hari ini Yesus berbicara tentang perjamuan kawin yang disiapkan
oleh seorang raja bagi anak laki-lakinya (bdk. Mat. 22:1–14).
Perkawinan
seorang anak laki-laki merupakan peristiwa istimewa bagi keluarga mana pun, dan
sang ayah yang berbahagia ini ingin berbagi sukacitanya dengan semua orang. Ia
menyiapkan perjamuan dan mengundang banyak orang. Santo Thomas Aquinas
mengatakan bahwa kebaikan, pada hakikatnya, cenderung menyebar: "Bonum
dicitur diffusivum sui" (Summa Theologiae, I, q. 5, a. 4, ad 2). Gambaran
dalam kisah ini mengungkapkan gagasan tersebut dalam konteks pengalaman hidup
kita. Terjadinya sesuatu yang baik akan menyalakan cahaya yang mendorong kita
untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain.
Namun,
menanggapi undangan yang begitu murah hati tersebut, alih-alih datang ke
perjamuan, para tamu justru tidak mengindahkannya dan lebih memilih untuk
melanjutkan urusan mereka sendiri. Ada yang merasa kesal, menghina utusan sang
raja, bahkan membunuh mereka. Sayangnya, hal ini bisa terjadi juga pada kita,
karena kebaikan yang kita tawarkan tidak selalu dipahami, diakui, atau
dihargai. Bahkan, terkadang kebaikan itu sengaja disalahartikan dan ditolak.
Namun, hal ini tidak boleh mematahkan semangat kita. Saat menghadapi penolakan,
sang raja tidak menunda perkawinan atau membatalkan perayaan. Sebaliknya, ia
justru memperluas undangannya kepada lebih banyak orang lagi, dengan menyuruh
para hambanya pergi ke persimpangan-persimpangan jalan untuk mengundang mereka,
agar sukacita kedua mempelai dapat menjadi anugerah bagi semua orang.
Pada
titik ini, kita dapat bertanya pada diri kita siapa yang dilambangkan oleh
tokoh-tokoh utama dalam kisah ini. Santo Hieronimus mengidentifikasi sang raja
sebagai Bapa surgawi, mempelai laki-laki sebagai Yesus, dan mempelai perempuan
sebagai Gereja (bdk. Ulasan tentang Matius, Buku III, bab 22). Kita pun
termasuk dalam tokoh-tokoh utama tersebut; kita dipilih oleh Tuhan untuk ambil
bagian dalam kehidupan dengan Dia dan menjadi pembawa kehidupan bersama Dia.
Perjamuan kawin itu adalah perjamuan kawin kita, dan ruang perjamuannya adalah
gereja dan rumah kita — tempat kita menjalani hidup dan tempat sang Putra Raja,
Yesus Kristus, terus menyatakan kasih-Nya kepada kita seraya menantikan jawaban
"ya" kita. Di sanalah kita berjumpa Dia; kita dikenakan pakaian
layaknya mempelai perempuan — yakni jubah putih pembaptisan — dan dihiasi
dengan permata perbuatan baik, yang mendekatkan kita kepada Allah dan satu sama
lain.
Oleh
karena itu, sukacita yang kita wartakan bukanlah sesuatu yang dibuat-buat;
sukacita itu mendalam, berwujud, dan nyata. Sukacita itu seindah wajah
orang-orang yang kita jumpai. Sukacita itu setulus karya, senyuman, air mata,
jabat tangan, dan tindakan kebaikan yang mengisi hari-hari kita. Semua itu
anugerah Allah demi keselamatan dunia.
Maka,
marilah kita memohon kepada Maria, Bunda Tuhan, untuk membantu kita bertumbuh
dalam sukacita ini. Bahkan ketika sukacita ini tidak dipahami, marilah kita
mewartakannya senantiasa dan di mana saja, dengan kemurahan hati, keberanian,
dan iman.
[Setelah
pendarasan doa Malaikat Tuhan]
Kemarin,
di Mantua, Suster Maria Ignazia Isacchi, pendiri Kongregasi Suster Ursulin Hati
Kudus Yesus, dibeatifikasi. Antara akhir abad ke-19 dan dekade-dekade awal abad
ke-20, ia membaktikan diri dengan kasih yang penuh keberanian bagi mereka yang
berkekurangan dan kurang beruntung. Semoga teladannya membangkitkan kembali
dalam diri kita segenap hasrat untuk menjadi saksi kasih Injil bagi semua orang
di dunia ini.
Perang di
Ukraina yang sedang dilanda penderitaan terus menimbulkan dampak yang melampaui
batas-batas wilayahnya, terutama di negara-negara termiskin, di mana begitu
banyak orang bergantung pada impor biji-bijian. Saya mengimbau dengan
sungguh-sungguh para pihak yang bertikai agar mengizinkan pengangkutan
biji-bijian yang aman melalui Laut Hitam. Makanan pokok bagi jutaan orang tidak
boleh dijadikan sandera oleh perang.
Hari ini
di Italia diperingati sebagai Hari bagi Korban Kecelakaan Kerja. Saya menyapa
Lembaga Nasional Pekerja yang Mengalami Cedera dan Disabilitas Akibat Kerja,
serta mendukung upaya-upaya pencegahan.
Saya
menyapa dengan hangat kamu semua, baik umat Roma maupun para peziarah!
Saya
menyapa para anggota Hermandad del Señor de los Milagros di Roma dan semua
orang yang ambil bagian dalam prosesi dengan ikon Kristus tersalib yang
dihormati. Terima kasih atas doa-doamu bagi kunjungan pastoral yang akan saya
lakukan ke Peru.
Dengan
sukacita saya menyapa umat Eparki Katolik Yunani Mukachevo di Ukraina, yang
didampingi oleh Uskup mereka; Asociación de fieles Hakuna; las Antiguas Alumnas
Jesús Maria España; paduan suara dan sekolah paduan suara Katedral Haarlem di
Belanda; serta umat dari Wina.
Saya
menyapa kaum muda dari Vikariat Chiaravalle di Keuskupan Senigallia; para
anggota AIDO dari cabang provinsi Belluno; kelompok Ars Enotria dari Cosenza;
serta tim sepak bola putri dari Rumah Sakit Biella.
Sahabat-sahabat,
dalam beberapa pemeriksaan medis baru-baru ini, para dokter menemukan sebuah
pembengkakan kecil yang terlokalisasi di paru-paru saya. Pembengkakan tersebut
terdeteksi pada tahap yang sangat dini dan posisinya terlokalisasi dengan baik.
Para dokter berpendapat bahwa tindakan medis perlu dilakukan; oleh karena itu,
mengikuti saran mereka, saya memutuskan untuk menjalani operasi pengangkatan
pembengkakan tersebut. Operasi itu telah dijadwalkan untuk dilaksanakan dalam
waktu dekat. Saya berterima kasih atas kedekatan rohani kamu semua dan
menyerahkan diri saya dalam doa-doamu.
Terima
kasih, dan selamat hari Minggu!
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 11 Oktober 2026)


