Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 16 SEPTEMBER 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. IV. KONSTITUSI PASTORAL GAUDIUM ET SPES (GS 23–32). 3. MASYARAKAT MANUSIA

Saudara-saudari sekalian, selamat pagi dan selamat datang!

 

Dengan mendedikasikan bab kedua bagi "masyarakat manusia", Konstitusi Gaudium et Spes (GS) mengajak kita untuk memikirkan "berlipatgandanya hubungan-hubungan timbal-balik antarmanusia" sebagai "salah satu ciri khas dunia modern" (no. 23). Namun, kenyataan ini harus menemukan pemenuhannya "pada tingkat yang lebih dalam ... yakni kebersamaan pribadi-pribadi", yang di dalamnya "yang menuntut sikap saling menghormati terhadap martabat rohani mereka yang sepenuhnya" merupakan hal yang esensial (no. 23).

 

Pernyataan-pernyataan ini, di zaman kita sekarang, memiliki kemendesakan yang semakin besar. Di satu sisi, perkembangan teknologi, penyebaran media massa dan media sosial, serta penggunaan kecerdasan buatan yang terus meningkat membuka berbagai kemungkinan baru, meruntuhkan hambatan, dan menjembatani jarak; namun di sisi lain, hubungan antarmanusia cenderung menjadi semakin kurang personal dan lebih bersifat virtual, serta muncul risiko terbiasa menyerahkan keputusan — yang semestinya menjadi ranah eksklusif hati nurani manusia — kepada algoritma. Dalam konteks inilah, komunitas kristiani berupaya memberikan kontribusi dengan memastikan bahwa hubungan sosial memiliki substansi nyata dan kedalaman yang bersifat personal.

 

Konsili mengajak kita untuk menimba kriteria dan kekuatan dari rencana penciptaan Allah, di mana Ia menghendaki agar "semua orang membentuk satu keluarga, dan saling menghadapi dengan sikap persaudaraan", oleh karena itu cinta kasih terhadap Allah dan sesama merupakan perintah yang pertama dan terbesar," yang menemukan penyingkapan penuh serta pemenuhan sempurnanya dalam diri Kristus (bdk. GS, 24).

 

Kesempurnaan pribadi manusia dan perkembangan masyarakat harus dipandang saling bergantung erat: mempertentangkan atau memisahkan keduanya akan membuat keduanya kehilangan makna. Sejarah, bahkan sejarah terkini, dengan jelas menegaskan kebenaran ini; oleh karena itu, kita tidak boleh lelah menegaskan kembali — mengutip kata-kata para Bapa Konsili Vatikan II — bahwa "subjek dan tujuan semua lembaga sosial adalah dan memang seharusnyalah pribadi manusia; berdasarkan
kodratnya ia sungguh-sungguh memerlukan hidup kemasyarakatan" (GS, 25).

 

Dari sudut pandang ini, Gaudium et Spes menegaskan bahwa keanekaragaman orang dan bangsa di dunia tidak boleh dianggap sebagai bahaya atau ancaman, melainkan sebagai sumber daya untuk pengayaan dan pertumbuhan. Konflik, yang terkadang berujung pada kekerasan, merupakan akibat dari kuasa dosa dan cara dosa tersebut memengaruhi pola pikir serta tindakan di setiap tingkatan, sehingga menimbulkan kehancuran dan kematian. Kita harus semakin terbuka terhadap logika timbal balik, semangat berbagi, dan kepedulian, sebagaimana halnya yang terjadi di antara berbagai anggota tubuh manusia (bdk. 1Kor 12:21–25).

 

Dalam hal ini, Gaudium et Spes juga menyajikan definisi ringkas mengenai "kesejahteraan umum", dengan mengingatkan bahwa hal itu mencakup "keseluruhan kondisi kehidupan sosial yang memungkinkan kelompok-kelompok sosial serta anggota-anggotanya secara perorangan untuk memperoleh akses yang cukup memadai dan mudah demi pemenuhan diri mereka" (GS, 26). Pada saat yang sama, dengan mengakui adanya saling ketergantungan antarbangsa, dokumen tersebut menyatakan bahwa "setiap kelompok harus memperhitungkan kebutuhan-kebutuhan serta aspirasi-aspirasi kelompok-kelompok lain yang wajar, bahkan kesejahteraan umum segenap keluarga manusia." (GS, 27).

 

Bertolak dari premis ini, para Bapa Konsili kemudian menjabarkan beberapa "konsekuensi-konsekuensi praktis yang cukup mendesak" (GS, 27). Yang pertama dan terutama adalah penghormatan terhadap pribadi manusia. Gaudium et Spes menyatakan: "Selain itu apa saja yang berlawanan dengan kehidupan sendiri, misalnya bentuk pembunuhan yang mana pun juga, penumpasan suku, pengguguran, eutanasia dan bunuh diri yang disengaja; apa pun yang melanggar keutuhan pribadi manusia, seperti pemenggalan anggota badan, siksaan yang ditimpakan pada jiwa maupun raga, usaha-usaha paksaan psikologis; apa pun yang melukai martabat manusia, seperti kondisi-kondisi hidup yang tidak layak manusiawi, pemenjaraan yang sewenang-wenang, pembuangan orang-orang, perbudakan, pelacuran, perdagangan wanita dan anak-anak muda; begitu pula kondisi-kondisi kerja yang memalukan, sehingga kaum buruh diperalat semata-mata untuk menarik keuntungan, dan tidak diperlakukan sebagai pribadi-pribadi yang bebas dan bertanggung jawab: itu semua dan hal-hal lain yang serupa memang perbuatan yang keji" (GS, 27).

 

Konsekuensi kedua: kesetaraan hakiki antara semua manusia, yang menuntut keadilan sosial. Dokumen tersebut menyatakan: “Setiap cara diskriminasi dalam hak-hak asasi pribadi, entah bersifat sosial entah budaya, berdasarkan jenis kelamin, suku, warna kulit, kondisi sosial, bahasa atau agama, harus diatasi dan disingkirkan, karena bertentangan dengan maksud Allah” (GS, 29).

 

Akhirnya, para Bapa Konsili mendesak kita untuk mengatasi pola pikir individualistis serta mengadopsi sikap tanggung jawab dan partisipasi (bdk. GS, 30-31).

 

Saudara-saudari terkasih, visi tentang umat manusia sebagai suatu "masyarakat manusia" merupakan warisan berharga yang ditinggalkan oleh Konsili Vatikan II bagi kita. Visi ini membantu kita semua untuk melakukan pembedaan roh — baik secara pribadi maupun bersama — agar kita dapat mengevaluasi secara bertanggung jawab berbagai proyek sosial dan politik masa kini, berdasarkan kriteria martabat pribadi manusia, keadilan sosial, dan partisipasi bebas dalam mewujudkan kesejahteraan bersama. Sebab, masa depan umat manusia bergantung pada komitmen setiap orang untuk bekerja sama dengan Allah dan sesama dalam membangun dunia yang lebih manusiawi (bdk. GS, 30).

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya mereka yang berasal dari Inggris, Skotlandia, Norwegia, Ghana, Afrika Selatan, Uganda, Australia, India, Israel, Filipina, Vietnam, Kanada, dan Amerika Serikat. Saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus bagimu dan keluargamu. Semoga Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam rangkaian katekese kita mengenai dokumen Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, hari ini kita memusatkan perhatian pada pentingnya hubungan antarmanusia. Pemahaman kita tentang masyarakat manusia berlandaskan pada martabat pribadi manusia. Alih-alih memandang perbedaan sebagai bahaya atau ancaman, visi tentang umat manusia sebagai komunitas pribadi memampukan kita untuk bekerja sama demi mengupayakan kesejahteraan bersama. Ketika kita beralih dari pola pikir individualistis menuju sikap tanggung jawab dan partisipasi dalam upaya membangun dunia yang lebih manusiawi dan adil, hubungan sosial pun diperkaya dengan makna nyata dan kedalaman pribadi. Hubungan-hubungan tersebut juga turut berkontribusi pada pemenuhan diri setiap pribadi manusia serta pembangunan masyarakat. Saudara-saudari terkasih, marilah kita memperbarui komitmen kita untuk mewujudkan — di dalam Kristus — anugerah kemanusiaan kita yang sangat berharga.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 16 September 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 13 September 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil hari ini berbicara kepada kita tentang pengampunan, yang merupakan ciri dasariah kehidupan Kristiani. Yesus mengajarkan dan memberi teladan tentang pengampunan bahkan saat berada di kayu salib; di sana, Ia berdoa kepada Bapa bagi orang-orang yang menganiaya-Nya dengan kata-kata yang sudah kita kenal: "Ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Luk 23:34).

 

Dalam perikop hari ini, Petrus mengajukan pertanyaan persis mengenai hal ini kepada Sang Guru: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" (Mat 18:21). Kata-kata Petrus mencerminkan hati yang murah hati, sebab dalam Kitab Suci angka tujuh melambangkan kesempurnaan, dan "mengampuni tujuh kali" berarti mengampuni dengan melimpah. Namun, tanggapan Yesus melampaui itu: "Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh" (ayat 22); dengan kata lain, melampaui segala batas, tanpa ukuran.

 

Untuk memperjelas maksud-Nya, Sang Juruselamat menyampaikan perumpamaan tentang seorang hamba yang memiliki utang sangat besar kepada tuannya — utang yang praktis mustahil untuk dilunasi. Meskipun utangnya sendiri telah diampuni semata-mata karena belas kasihan, ia tidak menunjukkan belas kasihan yang sama kepada seorang hamba lain; karenanya, ia ditegur dan mendapat hukuman berat (ayat 23-30).

 

Melalui kata-kata ini, Yesus mengingatkan kita bahwa anugerah dan pengampunan adalah dasar keberadaan kita. Segala sesuatu dikaruniakan kepada kita oleh Allah karena kasih yang murni, dan tak seorang pun dari kita dapat mengaku sempurna dalam menanggapi kebaikan semacam itu. Oleh karena itu, kecuma-cumaan — yang menjadi sumber keberadaan kita — juga merupakan pedoman terbaik bagi kehidupan kita bersama. Kita mengalaminya setiap hari. Pengampunan sangatlah penting; tanpanya, kita tidak dapat hidup dalam damai. Cepat atau lambat, konflik, tuduhan, dendam, dan tindakan pembalasan akan muncul di hati kita dan di tengah masyarakat; hal-hal ini merusak hubungan, memecah belah keluarga, dan memicu peperangan.

 

Hanya pengampunanlah yang membebaskan kita dan memulihkan cahaya, bahkan ketika kemiskinan materi dan kemerosotan moral manusia telah menggelapkan cakrawala serta membuat jalan hidup menjadi tak menentu. Pengampunan, bagaikan embusan angin sepoi-sepoi, menyingkirkan awan paling pekat sekalipun hingga matahari kembali bersinar. Santo Petrus sendiri berkali-kali mengalami hal ini dalam hidupnya; khususnya ketika — setelah menyangkal dan meninggalkan Yesus pada masa sengsara-Nya — ia berjumpa dengan Tuhan yang telah bangkit di tepi danau dan mendengar-Nya mengajukan satu pertanyaan saja, "Simon ... apakah engkau mengasihi Aku?" (Yoh 21:15). Pertanyaan itu disertai dengan ajakan, "ikutlah Aku!" (ayat 19) — ajakan yang sama seperti saat perjumpaan pertama mereka. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Kasih yang mengampuni dan memulihkan ini menjadi peneguhan perutusan sang pemimpin para Rasul tersebut.

 

Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Perawan Maria, Bunda Kerahiman, untuk membantu kita mengampuni — senantiasa, bahkan ketika sulit untuk mengambil langkah pertama — serta menyebarkan, dengan keberanian dan ketekunan, cahaya kasih yang damai dan menyembuhkan, yang mengalahkan kebencian dan meluruhkan segala rasa dendam.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari yang terkasih!

 

Dua hari yang lalu merupakan peringatan dua puluh lima tahun serangan teroris 11 September di Amerika Serikat. Saya kembali memanjatkan doa bagi mereka yang kehilangan nyawa dan bagi mereka yang masih menanggung luka akibat peristiwa tragis hari itu. Di saat konflik dan kekerasan melanda begitu banyak saudara-saudari kita, saya mengajak semua orang untuk berdoa agar Tuhan menganugerahkan damai-Nya bagi dunia.

 

Kenangan akan peristiwa tragis yang terjadi dua puluh lima tahun silam mendorong kita untuk memperbarui komitmen kita terhadap perdamaian, terutama melalui doa, yang kita percayakan pada perantaraan Perawan Maria.

 

Kini, dengan hangat saya, menyapa kamu semua, baik umat Roma maupun para peziarah!

 

Saya menyapa kelompok-kelompok dari São Paulo, Brasil, serta mereka yang datang dari berbagai negara lainnya.

 

Saya menyapa anggota Lembaga Religius Jesus Nazareno Cautivo yang tinggal di Roma, kelompok dari Oratorium Salesian di Chieri, umat Dolianova, Sardinia, serta para peziarah yang datang dari Asisi melalui Jalan Santo Fransiskus.

 

Saya menyapa "Keluarga Bellunese" beserta Sekolah Erechim di Brasil, serta para pengendara sepeda motor yang berkumpul untuk menunjukkan dukungan mereka bagi perdamaian dan kehidupan.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 13 September 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 9 SEPTEMBER 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. IV. KONSTITUSI PASTORAL GAUDIUM ET SPES (GS 1–10). 2. MARTABAT MANUSIA: ANUGERAH DAN TANGGUNG JAWAB

Saudara-saudari, selamat pagi dan selamat datang!

 

Konstitusi Konsili Gaudium et Spes (GS), dengan mendedikasikan bab pertamanya pada martabat pribadi manusia, menegaskan bahwa martabat tersebut merupakan landasan dan syarat bagi “nilai-nilai yang dewasa ini sangat dijunjung tinggi, serta menghubungkannya dengan sumbernya yang ilahi ... Tetapi akibat kemerosotan hati manusia nilai-nilai itu tidak jarang dibelokkan dari arah yang seharusnya” (GS, 11).

 

Perjalanan yang memungkinkan kita menyoroti karakteristik mendasar dan hak-hak terkait martabat manusia tentu merupakan salah satu bab paling penting dalam sejarah umat manusia. Namun, jalan ke depan belum usai; kita harus mengatasi berbagai pertentangan — baik yang lama maupun yang baru — yang menghalangi perwujudan sepenuhnya dari hal tersebut.

 

Gereja jelas memberikan sumbangsihnya dengan mengingatkan kita bahwa martabat manusia bersumber dari hakikat keberadaan pribadi itu sendiri. Saya berkesempatan menegaskan kembali hal ini dalam ensiklik terbaru saya, Magnifica Humanitas: “Diciptakan untuk relasi, setiap pribadi manusia direncanakan dan dikehendaki oleh Allah untuk masuk ke dalam persekutuan dengan-Nya, dengan sesama, dan dengan ciptaan. Martabat manusia tidak bergantung pada kemampuan, kekayaan, atau posisi seseorang dalam hidup, ataupun pada pilihan-pilihan yang benar atau salah yang dibuat; sebaliknya, martabat itu adalah suatu anugerah yang mendahului dan melampaui setiap pribadi, dianugerahkan oleh Allah sebagai ungkapan kasih-Nya yang tak pernah gagal” (no. 50). Dengan demikian, martabat tak terhingga manusia berakar pada jati dirinya sebagai makhluk yang diciptakan “‘menurut gambar Allah'; ia mampu mengenal dan mengasihi Penciptanya"; suatu rencana dan anugerah kasih yang melampaui kenyataan ciptaan lainnya, yang dipercayakan untuk ia kelola agar dapat "menguasainya dan menggunakannya sambil meluhurkan Allah" (GS, 12).

 

Dalam iman, kita dapat memahami dasar terdalam bagi martabat pribadi manusia, karena Sang Putra, "dalam perwahyuan misteri Bapa serta cinta kasih-Nya sendiri, sepenuhnya menampilkan manusia bagi manusia, dan membeberkan kepadanya panggilannya yang amat luhur." (no. 22).

 

Pribadi senantiasa menyiratkan relasi, persekutuan, dan partisipasi dalam hubungannya dengan Allah dan sesama; dengan demikian, terjalinlah hubungan anak dengan Allah Bapa serta hubungan persaudaraan dengan Kristus dan seluruh umat manusia. Hal ini menolak sikap mengasingkan diri yang berpusat pada diri sendiri. Menjadi pribadi berarti memandang diri sendiri sebagai anugerah yang harus dibagikan, tumbuh dan menjadi dewasa melalui penerimaan, sikap timbal balik, dan pelayanan.

 

Martabat ini dipercayakan kepada tanggung jawab setiap orang; pada saat yang sama, juga menuntut solidaritas dan kepedulian bersama, seraya mengatasi berbagai distorsi dan manipulasi yang masih mencoreng persepsi kita mengenainya serta menghambat perwujudannya. Sesungguhnya, akibat pilihan-pilihan sepanjang sejarah yang bertentangan dengan martabat ini, hingga kini pun "manusia terpecah di dalam dirinya sendiri", dan "seluruh hidup manusia, ditinjau sebagai perorangan maupun secara kolektif, nampak sebagai perjuangan, itu pun perjuangan yang dramatis, antara kebaikan dan kejahatan, antara terang dan kegelapan". Namun, keadaan yang rapuh dan terbatas ini dapat dipandang dengan penuh harapan, karena "Tuhan sendiri datang untuk membebaskan dan meneguhkan manusia, dengan membaharuinya dari dalam, dan dengan melemparkan keluar 'penguasa dunia' ini (lih. Yoh 12:31) yang membelenggunya dalam perbudakan dosa" (GS, 13).

 

Lebih jauh lagi, Konstitusi Gaudium et Spes menegaskan bahwa martabat manusia menyangkut pribadi manusia secara utuh, dan oleh karena itu, pandangan dualistik harus diatasi: manusia, "meskipun terdiri dari tubuh dan jiwa, merupakan satu kesatuan". Memandang tubuh sekadar sebagai "objek" yang dapat diperlakukan sekehendak hati senantiasa merupakan penyangkalan terhadap martabat pribadi: "Manusia tidak boleh meremehkan hidup jasmaninya" dan "wajib memandang baik serta layak dihormati badannya sendiri, yang diciptakan oleh Allah dan harus dibangkitkan pada hari terakhir", dan jangan membiarkan badan itu melayani "kecondongan-kecondongan hatinya yang tidak baik" (GS, 14), mengingat kita semua terluka oleh dosa.

 

Akhirnya, Gaudium et Spes mengingatkan kita akan tiga perwujudan paling penting dari martabat pribadi manusia: akal budi, yang menjadikan manusia sebagai pencari kebenaran yang tanpa kenal lelah (no. 15); hati nurani, yang melaluinya manusia memberikan kesatuan dan makna bagi hidupnya (no. 16); serta kebebasan, yang menjadikan manusia sebagai pelaku yang bertanggung jawab atas keputusan-keputusannya sendiri (no. 17). Dimensi-dimensi ini saling berkaitan erat: di dalam hati nuranilah kebenaran dikenali sebagaimana adanya, dan kebebasan dapat menghayati kebenaran itu sebagai landasan serta kemungkinannya. Roh Kudus, yang memberikan kehidupan di dalam Kristus, memerdekakan kita dan senantiasa meneguhkan martabat kita sebagai anak-anak Allah; Ia membebaskan kita dari rasa takut dan membimbing kita menuju tujuan akhir, yakni kehidupan dalam kepenuhannya melampaui kematian, yang telah dijanjikan Kristus kepada kita. Hanya di dalam Dia misteri pribadi manusia menemukan terang sejati; dari Dia kita menerima terang atas teka-teki penderitaan dan kematian; dan bersama Dia kita melangkah menuju kebangkitan.

 

Saudara-saudari terkasih, karena diciptakan menurut citra Allah — melalui Kristus dan demi Dia — kita telah menerima martabat yang unik dan tak terhapuskan. Marilah kita berkomitmen untuk senantiasa menjunjung dan membela martabat tersebut dengan terang serta kekuatan Injil.

 

[Sapaan]

 

Saya menyapa dengan hangat seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnyayang datang dari Skotlandia, Wales, Irlandia, Denmark, Norwegia, Afrika Selatan, Australia, Cina, Jepang, Lebanon, Filipina, dan Amerika Serikat. Secara khusus, dengan sukacita saya kembali menyapa para anggota Komite Pengarah Mimbar Antaragama untuk Dialog dan Kerjasama di Dunia Arab yang hadir hari ini. Saya berterima kasih atas kerja samamu dengan Pusat Internasional Raja Abdullah bin Abdulaziz untuk Dialog Antaragama dan Antarbudaya, dan berdoa semoga upayamu untuk mengembangkan hidup berdampingan secara damai di kawasan Arab sungguh membuahkan hasil yang melimpah. Bagi kamu masing-masing beserta keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam rangkaian katekese mengenai Konsili Vatikan II ini, kita melanjutkan refleksi kita tentang Gaudium et Spes, dengan berfokus pada martabat pribadi manusia. Martabat manusia bersumber dari jati diri kita sebagai anak-anak yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kita dianugerahi akal budi untuk mencari kebenaran, hati nurani untuk mengenali panggilan sejati kita, serta kebebasan untuk memilih yang baik. Hanya melalui Kristuslah kita memahami bahwa hakikat pribadi kita menyiratkan adanya relasi dan panggilan untuk menyerahkan diri sebagai anugerah bagi Allah dan sesama. Oleh karena itu, semoga kita saling membantu dalam menjaga dan membela martabat yang dianugerahkan Allah ini, serta melangkah bersama menuju tanah air surgawi kita.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 10 September 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 6 September 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Sabda Allah yang diwartakan dalam liturgi hari Minggu ini menawarkan kepada kita beberapa kriteria dasariah untuk berpikir dan bertindak. Dalam Surat kepada Jemaat di Roma, kita membaca bahwa setiap perintah “sudah tersimpul dalam firman ini, ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’” (Rm 13:9). Santo Paulus menegaskan hal ini dengan ungkapan yang sangat kuat, yang juga muncul dalam Doa Bapa Kami. Ia menulis, “Janganlah kamu berutang apa pun kepada siapa pun, kecuali kasih kepada satu sama lain” (ayat 8).

 

Yesus mengajarkan kita untuk memohon dan mempraktikkan pengampunan utang. Namun, ada satu utang yang kita miliki terhadap satu sama lain yang tidak memperbudak kita: utang kasih timbal balik. Segala perhatian, kepedulian, dan kebaikan yang telah kita terima menjadikan kita lebih bebas dan lebih mampu memikul tanggung jawab.

 

Dalam Bacaan Injil hari Minggu ini, Yesus menunjukkan setidaknya dua cara bagi setiap komunitas Kristiani untuk mempraktikkan kasih timbal balik. Cara pertama adalah kemampuan untuk melakukan teguran persaudaraan. Ini adalah seni yang halus — yang sering kali terlupakan — yang menuntut keterusterangan serta pendekatan yang bertahap. Berbicara secara jujur ​​satu sama lain pertama secara empat mata, kemudian, jika perlu, bersama dua atau tiga orang lainnya, dan akhirnya, bila diperlukan, di hadapan seluruh komunitas — berarti menghadapi kenyataan serta mengubah masalah dan konflik menjadi peluang untuk bertumbuh. Mengeluh dan membicarakan keburukan orang lain memang lebih mudah, namun hal-hal tersebut tidak menghasilkan apa-apa dan justru melumpuhkan banyak situasi. Sebaliknya, Bacaan Injil mengajarkan kita tentang kebebasan yang lahir dari cinta kasih.

 

Ada pula cara kedua untuk saling mengasihi sebagai saudara dan saudari — cara yang, bagi Yesus, bahkan mengubah cara kita berdoa — yaitu dengan sehati sepakat. Hal ini berlaku bukan hanya saat terjadi konflik, melainkan juga saat kita memohon anugerah Allah. Tuhan bersabda, “Jika dua orang dari antara kamu di bumi ini sepakat tentang semua itu dan memintanya, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga” (Mat 18:19). Janji ini menunjukkan bahwa kita dapat memiliki keinginan, duka, dan harapan yang sama, serta bahwa melalui doa, kita dapat bertumbuh dalam kesatuan. Tanpa iman, seseorang mungkin merasa sendirian dan menaruh curiga terhadap orang lain, serta memandang mereka sebagai orang asing dan musuh. Namun, berkat rahmat, kita adalah saudara dan saudari yang dapat hidup dalam kerukunan: saling menjumpai, saling mengampuni, dan saling mendengarkan dalam Tuhan.

 

Marilah kita memohon kepada Maria — yang setelah menerima kabar dari malaikat, bergegas menemui saudarinya, Elisabet, untuk berbagi sukacita dan beratnya masa kehamilan — agar ia juga mengajar kita tentang kewajiban penuh sukacita untuk saling mengasihi sebagai saudara.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari sekalian,

 

Dengan hati yang penuh duka, saya mengikuti berita mengenai serangan kekerasan terbaru yang belakangan ini melanda sejumlah kota dan infrastruktur sipil di Ukraina, yang mengakibatkan tewasnya orang-orang tak berdosa. Hati saya tertuju kepada mereka yang menderita, yang selama bertahun-tahun hidup dalam kecemasan dan ketakutan.

 

Saya kembali menyerukan agar kekerasan diakhiri, kehancuran dihentikan, dan hati dibuka bagi dialog serta perdamaian! Saya berharap upaya-upaya yang dilakukan belakangan ini untuk melanjutkan kembali perundingan akan membuahkan hasil nyata dan membuka ruang bagi diplomasi.

 

Marilah kita panjatkan doa kepada Tuhan, agar kerukunan dapat tercipta di tengah segala konflik yang terjadi di dunia.

 

Saya menyapa dengan hangat kamu semua, baik umat Roma maupun para peziarah dari berbagai negara. Terima kasih telah hadir di sini!

 

Secara khusus saya menyapa komunitas Seminari Antar-Keuskupan Studienhaus Sankt Lambert di Lantershofen (Jerman).

 

Saya juga dengan sukacita menyapa rombongan peziarah dari Paroki Sant’Ulderico Vescovo di Musestre (Treviso), serta Paduan Suara Keuskupan Oppido Mamertina-Palmi yang didampingi oleh Uskup mereka.

 

Seraya kita perlahan kembali menjalani aktivitas sehari-hari setelah liburan musim panas, marilah kita memohon kepada Tuhan untuk menyertai dan menopang kita dengan terang-Nya.

 

Selamat hari Minggu bagi semuanya!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 6 September 2026)