Saudara-saudari
terkasih, selamat pagi dan selamat datang!
Hari ini kita memulai rangkaian katekese baru tentang dokumen pertama yang
dikeluarkan oleh Konsili Vatikan II: Konstitusi tentang liturgi suci,
Sacrosanctum Concilium (SC).
Dalam
menyusun konstitusi ini, para Bapa Konsili tidak hanya berupaya melakukan
reformasi upacara, tetapi juga menuntun Gereja untuk merenungkan dan
memperdalam ikatan hidup yang membentuk dan mempersatukannya: misteri Kristus.
Sesungguhnya, liturgi menyentuh inti misteri ini: liturgi sekaligus merupakan
ruang, waktu, dan konteks di mana Gereja menerima kehidupannya dari Kristus.
Karena dalam liturgi, “terlaksanalah karya penebusan kita” (SC, 2), yang
menjadikan kita bangsa terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat
Allah sendiri (bdk. 1 Ptr. 2:9).
Sebagaimana
termanifestasi dalam tiga pembaharuan – biblis, patristik, dan liturgis – yang
dialami Gereja sepanjang abad kedua puluh, misteri yang dimaksud bukanlah
kenyataan yang samar, melainkan rencana keselamatan Allah, yang tersembunyi
sejak kekekalan dan dinyatakan dalam Kristus, menurut penegasan Santo Paulus
(bdk. Ef 3:2-6). Maka, inilah misteri kristiani: peristiwa Paskah, yaitu
penderitaan, kematian, kebangkitan, dan pemuliaan Kristus, yang secara
sakramental dihadirkan kepada kita justru dalam liturgi, sehingga setiap kali
kita ambil bagian dalam jemaat yang berkumpul “dalam nama-Nya” (bdk. Mat 18:20)
kita terbenam dalam misteri ini.
Kristus
sendiri adalah sumber batiniah misteri Gereja, umat Allah yang kudus, yang
lahir dari lambung-Nya yang tertikam di kayu salib. Dalam liturgi suci, melalui
kuasa Roh-Nya, Ia terus bertindak. Ia menguduskan dan mempersatukan Gereja,
mempelai-Nya, dengan persembahan-Nya kepada Bapa. Ia menjalankan imamat-Nya
yang benar-benar unik, Ia hadir dalam Sabda yang diwartakan, dalam
sakramen-sakramen, dalam para pelayan yang merayakan, dalam komunitas yang
berkumpul dan, pada tingkat tertinggi, dalam Ekaristi (bdk. SC, 7).
Demikianlah, menurut Santo Agustinus (bdk. Khotbah, 277), dalam merayakan
Ekaristi Gereja “menerima tubuh Tuhan dan menjadi apa yang diterimanya”: ia
menjadi Tubuh Kristus, “tempat kediaman Allah dalam Roh” (Ef 2:22). Inilah
“karya penebusan kita”, yang membentuk kita sesuai dengan Kristus dan membangun
kita dalam persekutuan.
Dalam
liturgi suci, persekutuan ini dicapai melalui “upacara dan doa-doa” (SC, 48).
Upacara Gereja mengungkapkan imannya – sesuai dengan pepatah yang sudah dikenal
lex orandi, lex credendi – dan sekaligus membentuk jatidiri gerejawi: Sabda
yang diwartakan, perayaan sakramen, gerak tubuh, keheningan, ruang – semua ini
mewakili dan memberi bentuk kepada umat yang dikumpulkan oleh Bapa, tubuh
Kristus, bait Roh Kudus. Setiap perayaan dengan demikian menjadi epifani sejati
Gereja dalam doa, Santo Yohanes Paulus II mengingatkan (Surat Apostolik
Vicesimus Quintus Annus, 9).
Jika
liturgi melayani misteri Kristus, kita memahami mengapa liturgi didefinisikan
sebagai “puncak yang dituju kegiatan Gereja ... bagaikan dari sumber,
mengalirlah rahmat kepada kita” (SC, 10). Memang benar bahwa tindakan Gereja
tidak terbatas pada liturgi saja; namun, semua aktivitasnya (khotbah, pelayanan
kepada kaum miskin, pendampingan kenyataan manusiawi) bertemu menuju “puncak”
ini. Sebaliknya, liturgi menopang umat beriman dengan membenamkan mereka selalu
dan kembali dalam Paskah Tuhan dan, dengan demikian, melalui pewartaan Sabda,
perayaan sakramen dan doa bersama, mereka disegarkan, didorong, dan diperbarui
dalam komitmen mereka terhadap iman dan perutusan mereka. Dengan kata lain,
partisipasi umat beriman dalam tindakan liturgi bersifat “internal” sekaligus
“eksternal”.
Hal ini
juga berarti panggilan untuk mewujudnyatakannya dalam kehidupan sehari-hari,
dalam dinamika etis dan spiritual, sehingga liturgi yang dirayakan
diterjemahkan ke dalam kehidupan dan menuntut keberadaan yang setia, yang mampu
mewujudkan apa yang telah dialami dalam perayaan tersebut: dengan cara inilah
hidup kita menjadi "persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan
kepada Allah", yang menggenapi "ibadah rohani" kita (Rm. 12:1).
Dengan
cara ini, “liturgi setiap hari membangun mereka yang berada di dalam Gereja
menjadi kenisah suci dalam Tuhan” (SC, 2), dan membentuk komunitas terbuka,
yang menyambut semua orang. Sesungguhnya, liturgi didiami oleh Roh Kudus,
memperkenalkan kita kepada kehidupan Kristus, menjadikan kita tubuh-Nya dan,
dalam segala dimensinya, merupakan tanda persatuan seluruh umat manusia di
dalam Kristus. Paus Fransiskus mengatakan, “Dunia masih belum mengetahuinya,
tetapi setiap orang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba (Why. 19:9)” (Surat
Apostolik Desiderio Desideravi, 5).
Saudara-saudari
terkasih, marilah kita memperkenankan diri kita dibentuk secara batiniah oleh
upacara, simbol, gerak tubuh, dan terutama kehadiran Kristus yang hidup dalam
liturgi, yang akan kita dapatkan kesempatan untuk menjelajahinya dalam
katekese-katekese mendatang.
[Sapaan
Khusus]
Pagi ini
saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti
Audiensi hari ini, khususnya kelompok-kelompok dari Inggris, Irlandia,
Tanzania, India, Jepang, Malaysia, Filipina, Vietnam, Kanada, dan Amerika
Serikat, serta para Pelindung Seni di Museum Vatikan dari Kanada. Atas kamu
semua, dan atas keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Yesus yang telah
bangkit! Allah memberkatimu!
[Ringkasan
dalam bahasa Inggris]
Saudara-saudari
terkasih, seiring kita melanjutkan rangkaian katekese tentang Konsili Vatikan
II, hari ini kita akan membahas Konstitusi Dogmatis tentang Liturgi Suci,
Sacrosanctum Concilium. Dokumen ini mengajarkan bahwa liturgi membenamkan kita
dalam misteri penderitaan, kematian, kebangkitan, dan pemuliaan Kristus.
Melalui upacara dan doa-doa liturgi, dan berkat kuasa Roh Kudus, Yesus
menjalankan imamat-Nya dan menguduskan Gereja, mempelai-Nya, menyatukannya
dengan persembahan-Nya sendiri kepada Bapa. Sesungguhnya, Kristus hadir dalam
sabda yang diwartakan, dalam sakramen-sakramen, dalam para pelayan, dalam
komunitas, dan terutama dalam Ekaristi. Marilah kita memperkenankan diri kita
dibentuk dari dalam oleh upacara, simbol, gerak tubuh, dan terutama oleh
kehadiran Kristus yang hidup dalam liturgi, yang akan kita telaah lebih lanjut.
[Sapaan
Pembuka dari Bapa Suci kepada Yang Mulia Aram I, Katolikos Kilikia]
Dalam
nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Damai sejahtera bagimu.
Saudara-saudari,
saya sangat senang menyapa Yang Mulia Aram I, Katolikos Kilikia dari Gereja
Apostolik Armenia, beserta delegasi terhormat yang menyertainya. Kunjungan
persaudaraan ini merupakan kesempatan penting untuk memperkuat ikatan persatuan
yang telah ada di antara kita, saat kita bergerak menuju persekutuan penuh di
antara Gereja-gereja kita.
Yang
Mulia, pada hari-hari ini ketika kita mempersiapkan diri untuk Pentakosta, saya
memohonkan rahmat Roh Kudus atas peziarahanmu ke makam Rasul Petrus dan Rasul
Paulus, dan saya mengajak semua yang hadir untuk berdoa dengan sungguh-sungguh
kepada Tuhan agar kunjungan dan pertemuanmu dapat menjadi langkah selanjutnya
di jalan menuju persatuan penuh. Marilah kita juga berdoa untuk perdamaian di
Lebanon dan Timur Tengah, yang sekali lagi terkoyak oleh kekerasan dan perang.
Yang
Mulia, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya yang sebesar-besarnya
atas komitmen pribadimu yang terus-menerus terhadap ekumenisme, terutama
terhadap dialog teologis internasional antara Gereja Katolik dan Gereja-gereja
Ortodoks Timur.
Selamat
datang, Yang Mulia, para uskup terkasih dan sahabat-sahabat terkasih!
Bersama-sama, marilah kita memohon perantaraan Santo Gregorius Sang Penerang,
Santo Gregorius dari Nareg, Santo Nerses yang Berbudi Luhur dan, terutama,
Bunda Maria, agar mereka menerangi jalan kita menuju kepenuhan persatuan yang
kita semua dambakan.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 20 Mei 2026)



