Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI KILAMBA (ANGOLA} 19 April 2026

Saudara-saudari terkasih,

 

Sekarang kita akan bersama-sama berdoa kepada Maria, Regina Caeli, Ratu Surga, dengan dia – Bunda dan pendamping kita dalam perjalanan hidup – ambil bagian dalam sukacita kebangkitan.

 

Dengan lagu penuh sukacita ini, kita tidak ingin menghapus atau membungkam tangisan mereka yang menderita, tetapi sebaliknya ingin merangkul dan menyatukan mereka dengan suara kita dalam keselarasan baru, sehingga bahkan dalam penderitaan sekali pun cahaya iman tetap hidup, dan dengannya, mengharapkan dunia yang lebih baik.

 

Saya sangat sedih atas peningkatan serangan baru-baru ini terhadap Ukraina, yang terus menimpa warga sipil juga. Saya menyampaikan solidaritas saya bagi mereka yang menderita dan meyakinkan seluruh rakyat Ukraina akan doa saya. Saya kembali mengimbau agar senjata-senjata berhenti berbunyi dan jalan dialog tetap ditempuh.

 

Namun, gencatan senjata yang diumumkan di Lebanon memberikan alasan untuk berharap; merupakan secercah pengharapan bagi rakyat Lebanon dan wilayah Levant. Saya mendorong mereka yang berupaya mencapai solusi diplomatik untuk melanjutkan perundingan perdamaian, sehingga penghentian permusuhan di seluruh Timur Tengah dapat menjadi permanen.

 

Kristus telah menaklukkan kematian, dan dengan kepastian inilah kita semua, bersatu dengan Dia dan dalam Dia sebagai satu Tubuh, berkomitmen hari ini dan setiap hari, terlepas dari rintangan dan kesulitan, untuk menyebarkan di sekitar kita buah-buah Paskah yaitu kasih, keadilan sejati, dan perdamaian.

 

Semoga Bunda Yesus, Bunda hati kita, membantu kita untuk selalu merasakan kehadiran Putra-Nya yang telah bangkit, hidup dan kuat, dekat dengan kita.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 19 April 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 12 April 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu dan sekali lagi selamat Paskah!

 

Hari ini, pada Hari Minggu Paskah II, yang didedikasikan untuk Kerahiman Ilahi oleh Santo Yohanes Paulus II, Bacaan Injil menceritakan penampakan Yesus yang telah bangkit kepada Rasul Tomas (bdk. Yoh 20:19–31). Peristiwa ini terjadi delapan hari setelah Paskah, ketika komunitas berkumpul bersama. Di sana, Tomas bertemu dengan Sang Guru, yang mengundangnya untuk melihat bekas paku dan memasukkan tangannya ke dalam luka di lambung-Nya, dan percaya (bdk. ayat 27). Adegan ini mengajak kita untuk merefleksikan perjumpaan kita dengan Yesus yang telah bangkit. Di mana kita dapat menemukan-Nya? Bagaimana kita dapat mengenali-Nya? Bagaimana kita dapat percaya? Santo Yohanes, yang menceritakan peristiwa itu, memberi kita petunjuk yang tepat: Tomas bertemu Yesus pada hari kedelapan, di tengah komunitas yang berkumpul, dan mengenali-Nya dalam tanda-tanda pengurbanan-Nya. Pengakuan imannya, yang tertinggi di seluruh Injil Yohanes, muncul dari pengalaman ini: “Tuhanku dan Allahku!” (ayat 28).

 

Tentu saja, tidak selalu mudah untuk percaya. Tidak mudah bagi Thomas, dan juga tidak mudah bagi kita untuk percaya. Iman perlu dipelihara dan diteguhkan. Karena alasan ini, pada “hari kedelapan” — yaitu, setiap hari Minggu — Gereja mengajak kita untuk melakukan seperti yang dilakukan para murid pertama: berkumpul bersama dan merayakan Ekaristi. Selama Misa, kita mendengarkan sabda Yesus, kita berdoa, kita menyatakan iman kita, kita ambil bagian dalam kasih karunia Allah, kita mempersembahkan hidup kita dalam persatuan dengan Kurban Kristus. Tubuh dan darah-Nya memberi kita santapan, sehingga kita pun dapat menjadi saksi kebangkitan-Nya, sebagaimana ditunjukkan istilah “Misa,” yang berarti “pengutusan,” atau “misi” (bdk. Katekismus Gereja Katolik, 1332).

 

Ekaristi hari Minggu sangat penting bagi kehidupan kristiani. Besok saya akan berangkat untuk melakukan perjalanan apostolik ke Afrika. Beberapa martir Gereja Afrika awal, khususnya Para Martir Abitene, telah meninggalkan kesaksian yang indah dalam hal ini. Ketika diberi kesempatan untuk menyelamatkan hidup mereka dengan meninggalkan perayaan Ekaristi, mereka menjawab bahwa mereka tidak dapat hidup tanpa merayakan Hari Tuhan. Di sanalah iman kita tumbuh dan diperkuat. Di sanalah upaya kita, meskipun terbatas, disatukan oleh rahmat Allah dengan tindakan para anggota satu tubuh — tubuh Kristus — untuk mewujudkan satu rencana keselamatan besar yang mencakup seluruh umat manusia. Melalui Ekaristi, tangan kita menjadi "tangan Kristus yang bangkit," memberikan kesaksian akan kehadiran, belas kasihan, dan damai-Nya. Tanda pekerjaan, pengurbanan, penyakit, dan berlalunya tahun sering terukir di tangan kita, seperti halnya dalam kelembutan belaian, jabat tangan, atau gestur amal kasih.

 

Saudara-saudari terkasih, di dunia yang sangat membutuhkan perdamaian, lebih dari sebelumnya kita dituntut untuk teguh dan setia dalam perjumpaan ekaristis kita dengan Tuhan yang telah bangkit, sehingga kita dapat tampil sebagai saksi amal kasih dan pembawa pesan perdamaian. Semoga Perawan Maria membantu kita melakukan hal ini, ia yang diberkati karena ia adalah orang pertama yang percaya tanpa melihat (bdk. Yoh 20:29).

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini, banyak Gereja Timur merayakan Paskah menurut kalender Julian. Dalam persekutuan iman di dalam Tuhan yang bangkit, saya menyampaikan harapan tulus saya untuk perdamaian kepada semua komunitas ini. Saya menyertai pengharapan ini dengan doa yang sungguh-sungguh untuk semua orang yang menderita akibat perang, khususnya untuk rakyat Ukraina yang terkasih. Semoga terang Kristus membawa penghiburan bagi hati yang berduka dan memperkuat pengharapan akan perdamaian. Semoga perhatian komunitas internasional terhadap tragedi perang ini tidak goyah!

 

Di hari-hari duka, ketakutan, dan pengharapan yang teguh kepada Allah ini, saya merasa lebih dekat dari sebelumnya dengan rakyat Lebanon yang terkasih. Prinsip kemanusiaan, yang tertanam dalam hati nurani setiap orang dan diakui dalam hukum internasional, mengandung kewajiban moral untuk melindungi penduduk sipil dari dampak mengerikan perang. Saya mengimbau pihak-pihak yang bertikai untuk menyatakan gencatan senjata dan segera mencari solusi damai.

 

Rabu depan merupakan peringatan tiga tahun dimulainya pertikaian berdarah di Sudan. Betapa besar penderitaan rakyat Sudan, korban tak berdosa dari tragedi yang tidak manusiawi ini! Dengan tulus saya kembali mengimbau pihak-pihak yang bertikai untuk membungkam senjata mereka dan memulai, tanpa prasyarat, dialog yang tulus yang bertujuan untuk mengakhiri perang saudara ini sesegera mungkin.

 

Sekarang, saya menyapa kamu semua – umat Roma dan para peziarah – terutama umat yang merayakan Hari Minggu Kerahiman Ilahi di Tempat Kudus Santo Spirito, Sassia.

 

Saya menyapa Musikverein Kleinraming, dari Keuskupan Linz di Austria, umat yang datang dari Polandia, kaum muda dari Collège Saint Jean de Passy Paris, dan mereka yang berasal dari berbagai negara dari Gerakan Focolare. Saya juga menyapa rombongan peziarah dari komunitas San Benedetto Po dan para calon penerima sakramen krisma dari Santarcangelo di Romagna dan San Vito.

 

Besok saya akan melakukan perjalanan apostolik selama sepuluh hari ke empat negara Afrika: Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa. Mohon doakan saya.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu.

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 13 April 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 8 April 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 7. KEKUDUSAN DAN NASIHAT INJILI DALAM GEREJA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Lumen Gentium (LG), Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Gereja, mendedikasikan seluruh bab, bab kelima, untuk panggilan universal menuju kekudusan bagi seluruh umat beriman: kita masing-masing dipanggil untuk hidup dalam rahmat Allah, mempraktikkan keutamaan dan meneladan Kristus. Kekudusan, menurut konstitusi konsili tersebut, bukan hak istimewa bagi segelintir orang, tetapi karunia yang mengharuskan setiap orang yang dibaptis untuk berupaya mencapai kesempurnaan kasih, yaitu, kepenuhan kasih kepada Allah dan sesama. Sesungguhnya, kasih adalah inti dari kekudusan yang merupakan panggilan semua orang percaya: ditanamkan oleh Bapa, melalui Putra Yesus, keutamaan ini “mengarahkan dan menjiwai semua upaya kekudusan, dan membawanya sampai ke tujuannya” (LG, 42). Tingkat kekudusan tertinggi, seperti pada masa-masa awal Gereja, adalah kemartiran, “kesaksian iman dan cinta kasih yang amat luhur” (LG, 50: karena alasan ini, Konsili mengajarkan bahwa setiap orang percaya harus siap untuk mengakui Kristus bahkan sampai dengan titik darah penghabisan (bdk. LG, 42), seperti yang selalu terjadi dan terus berlanjut hingga saat ini. Kesiapan untuk memberi kesaksian ini terwujud setiap kali umat kristiani mewariskan tanda-tanda iman dan kasih di dalam masyarakat, dengan berkomitmen pada keadilan.

 

Seluruh sakramen, terutama Ekaristi, adalah santapan yang memupuk kehidupan kudus, menyatukan setiap orang dengan Kristus, teladan dan ukuran kekudusan. Ia, sebagai kepala gan gembalanya, menguduskan Gereja: kekudusan, dari sudut pandang ini, adalah karunia-Nya, yang terwujud dalam kehidupan kita sehari-hari setiap kali kita menerimanya dengan penuh sukacita dan berkomitmen menanggapinya. Berkaitan dengan hal ini, Santo Paulus VI, dalam Audiensi Umum tanggal 20 Oktober 1965, mengingatkan bahwa Gereja, agar otentik, menghendaki semua rrang yang dibaptis haruslah “kudus, yaitu benar-benar layak, kuat, dan setia sebagai anak-anak Gereja”. Hal ini terwujud sebagai transformasi batin, di mana kehidupan setiap orang menjadi seruoa dengan Kristus berkat kuasa Roh Kudus (bdk. Roma 8:29; LG, 40).

 

Lumen Gentium menggambarkan kekudusan Gereja Katolik sebagai salah satu ciri konstitutifnya, menerima dalam iman, karena Gereja diyakini “tidak dapat kehilangan kekudusannya” (LG, 39): ini tidak berarti bahwa Gereja kudus dalam arti penuh dan sempurna, tetapi bahwa Gereja dipanggil untuk menegaskan karunia ilahi ini selama peziarahannya menuju tujuan kekal, berjalan “di tengah penganiayaan dunia dan penghiburan Allah” (Santo Agustinus, De civitate Dei 51,2; LG, 8). Kenyataan dosa yang menyedihkan di dalam Gereja, yaitu di dalam diri kita semua, mengajak setiap orang untuk melakukan perubahan hidup yang sungguh-sungguh, mempercayakan diri kita kepada Allah, yang memperbarui kita dalam kasih. Justru kasih yang tak terbatas inilah yang menjadi tujuan kita. Rahmat, yang menguduskan Gereja, yang mempercayakan kepada kita sebuah perutusan yang harus dijalankan hari demi hari: yaitu pertobatan kita. Oleh karena itu, kekudusan tidak hanya bersifat praktis, seolah-olah dapat direduksi menjadi komitmen etis, betapapun besarnya, tetapi menyangkut esensi kehidupan kristiani itu sendiri, baik pribadi maupun komunal.

 

Dari sudut pandang ini, peran menentukan dimainkan oleh hidup bakti, yang dibahas konstitusi konsili dalam bab keenam (bdk. no. 43-47). Dalam Umat Allah yang kudus, hal itu merupakan tanda kenabian dunia baru, yang dialami di sini dan sekarang dalam sejarah. Sesungguhnya, tanda-tanda Kerajaan Allah, yang sudah hadir dalam misteri Gereja, adalah nasihat-nasihat injili yang membentuk setiap pengalaman khidup bakti: kemiskinan, kekudusan, dan ketaatan. Ketiga keutamaan ini bukan aturan yang membelenggu kebebasan, tetapi karunia Roh Kudus yang membebaskan, yang melaluinya sebagian umat beriman sepenuhnya dikuduskan kepada Allah. Kemiskinan mengungkapkan kepercayaan penuh kepada penyelenggaraan ilahi, membebaskan seseorang dari perhitungan dan kepentingan diri sendiri; ketaatan mengambil model dari pengurbanan diri yang Kristus persembahkan kepada Bapa, membebaskan seseorang dari kecurigaan dan dominasi; kekudusan adalah karunia hati yang utuh dan murni dalam kasih, untuk melayani Allah dan Gereja.

 

Dengan menyesuaikan diri dengan gaya hidup ini, para pelaku hidup bakti memberi kesaksian tentang panggilan universal kekudusan seluruh Gereja, dalam bentuk kemuridan yang radikal. Nasihat-nasihat injili menunjukkan partisipasi penuh dalam kehidupan Kristus, hingga salib: justru melalui pengurbanan Yesus yang disalib kita semua ditebus dan disucikan! Dengan merenungkan peristiwa ini, kita tahu bahwa tidak ada pengalaman manusia yang tidak ditebus Allah: bahkan penderitaan, yang dialami dalam persatuan dengan penderitaan Tuhan, menjadi jalan kekudusan. Rahmat yang mengubah dan mengubah rupa hidup ini menguatkan kita dalam setiap pencobaan, mengarahkan kita bukan pada cita-cita yang jauh, tetapi pada perjumpaan dengan Allah, yang menjadi manusia karena kasih. Semoga Santa Perawan Maria, Bunda dari Sabda yang menjelma, selalu menopang dan melindungi perjalanan kita.

 

[Imbauan]

 

Setelah beberapa jam terakhir yang penuh ketegangan di Timur Tengah dan seluruh dunia, saya menyambut dengan puas, dan sebagai tanda pengharapan yang mendalam, pengumuman gencatan senjata sesegera selama dua pekan. Hanya dengan kembali ke meja perundingan kita dapat mengakhiri perang.

 

Saya mendesakmu untuk menyertai masa kerja diplomatik yang rumit ini dengan doa, dengan pengharapan bahwa kesediaan untuk terlibat dalam dialog dapat menjadi sarana untuk menyelesaikan situasi konflik lainnya di dunia.

 

Saya mengulangi undangan saya kepada semua orang untuk bergabung dengan saya dalam Doa Vigili untuk Perdamaian, yang akan kita rayakan di Basilika Santo Petrus pada hari Sabtu, 11 April 2026.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti audiensi hari ini, khususnya kelompok-kelompok dari Inggris, Irlandia, Nigeria, Australia, Filipina, Vietnam, dan Amerika Serikat. Dalam sukacita Kristus yang telah bangkit, saya memohonkan rahmat kasih Allah Bapa kita atas kamu dan keluargamu. Semoga Tuhan memberkati kamu semua dan semoga damai sejahtera-Nya menyertai kamu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese hari ini tentang Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, kita mengarahkan perhatian kita pada panggilan universal untuk kekudusan. Setiap orang yang dibaptis dipanggil untuk menjadi kudus: hidup dalam rahmat Allah, mempraktikkan keutamaan dan menjadi serupa dengan Kristus. Intinya adalah mengasihi Allah dan sesama, dan ungkapan terbesarnya adalah kemartiran, kesaksian iman dan cinta kasih yang amat luhur. Karena alasan ini, Gereja mengajarkan bahwa orang percaya harus siap untuk mengakui Kristus sampai menumpahkan darah. Namun, transformasi batin yang membentuk kita sesuai dengan Kristus tidak mungkin tanpa bantuan sakramen-sakramen, terutama Ekaristi. Dalam hal ini, saya ingin secara khusus menyebut para pelaku hidup bakti yang menguduskan hidup mereka bagi Allah melalui nasihat-nasihat injili: kemiskinan, kekudusan, dan ketaatan yang menyatakan kepercayaan penuh mereka pada penyelenggaraan ilahi, yang dimodelkan pada pemberian diri Kristus kepada Bapa dengan hati yang murni. Melalui hidup mereka, para pelaku hidup bakti secara radikal memberi kesaksian tentang kepenuhan hidup dalam Kristus, bahkan hingga di kayu salib.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 9 April 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 6 April 2026

Saudara-saudari terkasih, Kristus telah bangkit! Selamat Paskah!

 

Salam ini, yang penuh dengan ketakjuban dan sukacita, akan menyertai kita sepanjang pekan ini. Seraya kita merayakan hari baru yang telah diciptakan Tuhan bagi kita, liturgi memberitakan masuknya seluruh ciptaan ke dalam zaman keselamatan: dalam nama Yesus, keputusasaan akan kematian disingkirkan untuk selama-lamanya.

 

Bacaan Injil hari ini (Mat 28:8–15) mengajak kita untuk memilih antara dua kisah: kisah para perempuan yang berjumpa Tuhan yang telah bangkit (ayat 9–11), dan kisah para penjaga yang disuap oleh para pemimpin Mahkamah Agama (ayat 11–14). Kisah pertama memberitakan kemenangan Kristus atas kematian; kisah kedua menegaskan kematian selalu menang dalam setiap keadaan. Menurut versi mereka, Yesus tidak bangkit; sebaliknya, tubuh-Nya dicuri. Dari fakta yang sama — kubur kosong — muncul dua penafsiran: ditafsirkan sebagai sumber kehidupan baru dan kekal, ditafsirkan juga sebagai kematian yang pasti dan definitif.

 

Kontras ini mengajak kita untuk merefleksikan nilai kesaksian kristiani dan keutuhan komunikasi manusia. Seringkali, pewartaan kebenaran dikaburkan oleh apa yang kita sebut "berita palsu" saat ini — kebohongan, sindiran, dan tuduhan yang tidak berdasar. Namun, di hadapan rintangan seperti itu, kebenaran tidak tetap tersembunyi; sebaliknya, kebenaran muncul untuk menemui kita, hidup dan bersinar, menerangi bahkan kegelapan yang paling pekat. Sama seperti Ia berbicara kepada para perempuan di kubur, Yesus berbicara kepada kita hari ini: "Jangan takut. Pergi dan katakanlah" (ayat 10). Dengan cara ini, Ia menjadi Kabar Baik yang harus dipersaksikan di dunia. Paskah Tuhan adalah Paskah kita — Paskah seluruh umat manusia — karena manusia yang mati untuk kita ini adalah Anak Allah, yang memberikan hidup-Nya untuk kita. Sama seperti Yesus yang bangkit, yang selalu hidup dan hadir, membebaskan masa lalu dari akhir yang menghancurkan, demikian pula pemberitaan Paskah menebus masa depan kita dari kubur.

 

Saudara-saudari terkasih, alangkah pentingnya Injil ini menjangkau, terutama, mereka yang tertindas oleh kejahatan yang merusak sejarah dan membingungkan hati nurani! Saya memikirkan orang-orang yang menderita akibat perang, umat kristiani yang dianiaya karena iman mereka, anak-anak yang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Mewartakan misteri Paskah Kristus baik dengan perkataan maupun perbuatan berarti memberikan suara baru kepada pengharapan — pengharapan yang selama ini tercekik oleh tangan orang-orang yang kejam. Di mana pun diwartakan, Kabar Baik menerangi setiap kegelapan, di setiap zaman.

 

Dengan kasih sayang yang mendalam, dalam terang Tuhan yang telah bangkit, hari ini kita mengenang Paus Fransiskus, yang pada Senin Paskah tahun lalu kembali kepada Tuhan. Seraya kita mengingat kesaksian iman dan kasihnya yang mendalam, marilah kita berdoa bersama kepada Perawan Maria, Takhta Kebijaksanaan, agar kita dapat menjadi pembawa kabar kebenaran yang semakin bersinar.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya menyapa dengan hangat kamu semua, para peziarah terkasih dari Italia dan berbagai negara lainnya. Saya menyapa, khususnya, kaum muda dari Dekanat Appiano Gentile. Pikiran saya tertuju kepada semua orang di berbagai belahan dunia yang ikut serta dalam prakarsa yang diselenggarakan untuk “Hari Olahraga Internasional untuk Pembangunan dan Perdamaian”, dan saya kembali menyerukan agar olahraga, dengan bahasa persaudaraan universalnya, dapat menjadi tempat yang penyertaan dan perdamaian.

 

Saya berterima kasih kepada semua orang yang telah mengirimkan pesan ucapan selamat Paskah selama beberapa hari ini. Saya sangat berterima kasih atas doa-doamu. Melalui perantaraan Bunda Maria, semoga Allah membalas kamu masing-masing dengan anugerah-Nya!

 

Saya berharap kamu menghabiskan Senin Paskah ini dan hari-hari dalam Oktaf Paskah – di mana kita terus merayakan kebangkitan Kristus – dengan sukacita dan iman. Marilah kita terus mendoakan anugerah perdamaian bagi seluruh dunia.

 

Selamat Senin Paskah!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 6 April 2026)