Liturgical Calendar

Featured Posts

PESAN PAUS LEO XIV UNTUK HARI KAKEK-NENEK DAN LANSIA SEDUNIA VI (PESTA SANTO YOAKIM DAN SANTA ANA, 26 JULI 2026)

Aku tidak akan melupakan engkau (Yes. 49:15)

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Melalui Nabi Yesaya, Tuhan berjanji bahwa Ia tidak akan pernah melupakan kita. Ia meyakinkan kita bahwa Ia telah melukiskan wajah kita di telapak tangan-Nya (bdk. Yes. 49:16) dan bahwa kasih-Nya lebih besar daripada kasih seorang ibu kepada anaknya (bdk. Yes. 49:15). Nabi Yesaya memberi kita gambaran sekilas tentang dialog yang intim dan intens di mana Allah berbicara, dengan istilah yang akrab, kepada setiap orang secara individu dan kepada umat secara keseluruhan. Bahkan hari ini, kita dapat membaca kata-kata ini merujuk kepada kita masing-masing, dan setiap orang dapat mendengar bahwa “Aku tidak akan melupakan engkau” diucapkan langsung kepada mereka.

 

Kata-kata ini memenuhi diri kita dengan penghiburan dan pegharapan. Kata-kata ini adalah jawaban atas perasaan menyakitkan yang mengganggu hati: “Tuhan telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku” (Yes. 49:14). Betapa seringnya dalam Kitab Suci, terutama dalam Kitab Mazmur, doa muncul dari orang-orang yang putus asa karena merasa bahwa hidup mereka tidak menarik bagi siapa pun dan diabaikan! Perasaan menyakitkan karena dilupakan, sayangnya, dialami oleh banyak orang, dan di antara mereka terdapat cukup banyak orang lanjut usia.


Kasih Allah, yang tidak melupakan siapa pun, menawarkan diri sebagai tindakan keadilan dan tanggapan terhadap keadaan tanpa nama di mana kehidupan manusia terlalu sering berakhir dengan kehilangan makna. Kehidupan banyak orang lanjut usia, khususnya, tampaknya tertutup oleh tabir yang mengaburkan fitur wajah mereka dan menyelimuti mereka dalam keterlupaan. Inilah yang terjadi di rumah-rumah di mana kesepian berkuasa dan juga di fasilitas perawatan di mana keunikan setiap orang berisiko direduksi menjadi nomor tempat tidur atau penyakit.

 

Perayaan Hari Kakek Nenek dan Lansia Sedunia merupakan kesempatan untuk menemukan kembali panggilan Gereja untuk menjadi ibu bagi semua orang dan di usia berapa pun selalu mungkin untuk mengenali diri kita sebagai putra dan putri Allah. Oleh karena itu, semoga hari ini menjadi inspirasi bagi semua orang, terutama kaum muda, untuk menghidupkan kembali kebiasaan indah mengunjungi kakek nenek mereka, anggota keluarga yang lanjut usia, dan bahkan orang-orang yang tidak memiliki siapa pun yang mengunjungi mereka. Bawalah kepada mereka, melalui pesan ini dan kehadiranmu, kedekatan dan kasih sayang Paus. Pastikanlah kata-kata dalam Kitab Nabi Yesaya, "Aku tidak akan melupakan engkau," mengambil bentuk perjumpaan yang lembut dan penuh kasih sayang. “Di era yang mengutamakan kecepatan dan fragmentasi, manusia masih merindukan untuk menerima kepedulian dan pengakuan dari pikiran yang penuh perhatian, kata-kata yang baik, dan tangan yang mampu menunjukkan kelembutan. Budaya digital melipatgandakan koneksi dan menawarkan peluang baru untuk berinteraksi; namun, hati manusia tetap memiliki kebutuhan yang tak terelakkan akan kedekatan yang tulus” (Ensiklik Magnifica Humanitas, 239).

 

Gereja memahami penderitaan para anggotanya yang lanjut usia; Ia sangat menyadari bahwa mereka terlalu sering dipandang melalui kacamata stereotip dan dianggap sebagai beban; ia sadar bahwa ekonomi yang berorientasi pada keuntungan melemahkan ikatan keluarga; ia tahu bahwa banyak orang lanjut usia ditinggalkan oleh anak-anak yang terpaksa bermigrasi atau, dalam beberapa kasus, berperang. Karena semua alasan ini, dengan penuh sukacita ia menyatakan janji Tuhan: “Tetapi Aku tidak akan melupakan engkau!”

 

Menemukan, sebagaimana dikatakan Yohanes Paulus I, bahwa kita adalah penerima “kasih kekal Allah, sungguh merupakan suatu sukacita, di usia berapa pun, tetapi terutama ketika kita tidak lagi muda. Kita tahu: Ia selalu membuka mata-Nya bagi kita, bahkan ketika keadaan tampak gelap. Ia adalah Bapa kita; terlebih lagi Ia adalah Ibu kita” (Doa Malaikat Tuhan, 10 September 1978). Sekalipun tidak mudah untuk berpikir seperti ini, kenyataannya bahwa bahkan di usia tua pun kita tidak berhenti menjadi anak laki-laki dan perempuan; oleh karena itu, undangan untuk kembali ke pelukan Allah — yang kasih-Nya bersifat kebapaan dan keibuan — tetap berharga di usia berapa pun.

 

Bagi banyak orang, menemukan kelembutan Allah terjadi sepanjang hidup mereka, terkadang bahkan di tahap akhir kehidupan. Memang, tidak seperti di masa lalu, mencapai usia tua tanpa pernah mengalami iman sejati menjadi semakin umum. Dalam kasus seperti itu, usia tua — dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dengan semakin mendesak selama masa kehidupan ini — dapat menjadi waktu yang tepat untuk memulai atau melanjutkan kehidupan spiritual. Dalam perjalanan baru ini, kita dapat menyadari bahwa Allah, sebagaimana dikatakan Santo Agustinus, “adalah seorang ibu karena Ia menyayangi, memelihara, merawat, dan melindungi” (Ulasan Mazmur 27, II, 18). Kesadaran ini membantu kita untuk tidak merasa malu akan kerapuhan yang muncul dan juga untuk memahami bahwa kita selalu saling membutuhkan serta membutuhkan perhatian serta kepedulian. Kepada Allah yang mendekati kita dan yang kepada-Nya kita mempelajari mengenali kelembutan-Nya, kini kita dapat berpaling dengan kepercayaan bakti dalam doa. Tidak pernah terlambat untuk mulai berpaling kepada-Nya. Anugerah yang luar biasa dimungkinkan bagi setiap orang.

 

Saudara-saudari lanjut usia yang terkasih, Paus Fransiskus menyebutmu “umat baru” (Katekese, 23 Februari 2022), karena jumlah orang lanjut usia belum pernah sebesar ini dalam sejarah manusia. Oleh karena itu, merefleksikan bersamamu, “umat baru” ini, tentang apa panggilan kita ketika kerapuhan — pendamping manusia sejak lahir — tampaknya mengambil alih jauh lebih penting dari sebelumnya. Saya ingin mengatakan kepadamu: jangan takut akan kerapuhan! Justru kelemahan inilah yang menyimpan potensi baru yang juga menerangi tahap kehidupan lainnya. Sesungguhnya, ketika “kita mengakui kerapuhan kita, hati kita menjadi terbuka untuk saling mendukung dan memohon kepada Dia yang dapat memberikan apa yang tidak dapat dijamin oleh kekuatan manusia: rekonsiliasi hati yang mendalam dan, bersamanya, kedamaian sejati” (Pertemuan dengan komunitas Aljazair, Basilika Bunda Maria dari Afrika, Aljir, 13 April 2026).

 

Inilah cara kita dapat menjalani usia tua sebagai umat kristiani: “rapuh” namun sekaligus “dipanggil.” Seorang laki-laki dan seorang perempuan, sesungguhnya, dapat dilahirkan kembali di usia tua (bdk. Yoh 3:4-6) dan berseru, bersama Nabi Yesaya: “Dengan berbalik kepada Tuhan dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu” (Yes. 30:15). Kekuatan ini dapat menjadi ajakan untuk tidak menggunakan cara-cara kesombongan dan kekuasaan untuk memastikan hidup berdampingan antarmanusia, tetapi cara-cara rekonsiliasi dan perdamaian sejati. Di masa ini, yang dengan sangat kejam ditandai oleh kekerasan perang dan keresahan sosial, banyak lansia yang bertanya-tanya seperti apa dunia tempat cucu-cucu mereka akan tumbuh dewasa. Saya mendesakmu, sahabat-sahabat terkasih, untuk bergabung dengan saya untuk mendoakan dengan sungguh-sungguh perdamaian segera datang ke seluruh dunia.

 

Saudara-saudari lanjut usia terkasih, saya berterima kasih atas dukunganmu setiap hari dengan doa-doamu, terutama ketika kamu berdoa Rosario Suci. Saya menyampaikan rasa syukur ini dari lubuk hati saya dan menyampaikan doa ini kepadamu: semoga Tuhan senantiasa memperbarui iman, harapan, dan kasih kita — Ia yang tidak akan melupakan kita!

 

Vatikan, 15 Juni 2026

 

Leo XIV

______

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Juni 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 14 Juni 2026

Saudara-saudari terkasih, Selamat Hari Minggu!

 

Bacaan Injil hari ini (Mat 9:36–10:8) membawakan kita sebuah karunia besar, karena Bacaan Injil ini menarik semua orang yang mendengarnya ke dalam pandangan Yesus: sebuah kisah yang menjadi saksi perhatian akan pandangan ini, serta memberitahu kita apa yang dilihat Tuhan. Sesungguhnya kita membaca bahwa “melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar” (ayat 36). Setelah menjadi saudara kita, Putra Allah memandang orang banyak, Ia memandang umat manusia: Ia melihat penindasan yang membebani dan kekerasan yang menyebabkan kekuatan memudar. Ia melihat luka-luka perang dan kekosongan konsumerisme. Ia melihat wajah-wajah yang direduksi menjadi topeng, keluarga-keluarga yang tercerai-berai oleh kejahatan, dan kaum muda yang disesatkan oleh cita-cita palsu. Yesus melihat dan mengasihi. Ia mengasihi dan menderita untuk dan bersama kita: belas kasihan-Nya tidak hanya mengungkapkan kedekatan persaudaraan, tetapi juga keinginan-Nya untuk menebus.

 

Karena Ia mengenal hati kita dan peduli pada kita. Dengan memandang sangat banyak orang seperti “domba yang tidak mempunyai gembala” (ayat 36), Kristus mengabdikan diri-Nya kepada semua orang sebagai Gembala yang baik dan, sebagai Tuan yang punya tuaian, mengutus pekerja-pekerja ke ladang dunia (bdk. ayat 38). Apa tugas mereka? Mereka harus menawarkan penghiburan Allah kepada orang-orang yang menderita dengan membawa kasih di tempat kesengsaraan berada, pengharapan di tempat penderitaan berada, iman di tempat ketidakpercayaan berada.

 

Bacaan Injil mencantumkan nama dua belas “pekerja” pertama: mereka adalah murid-murid yang dijadikan rasul, yaitu misionaris dan pengkhotbah. Di antara mereka, yang pertama kita temukan adalah Simon, yang disebut Petrus. Tetapi kita juga menemukan Yudas Iskariot, yang disebutkan terakhir, untuk mengingatkan kita bahwa seseorang dapat mengikuti Yesus dan mengkhianati-Nya. Meskipun demikian, Bacaan Injil tetap menjadi sabda yang hidup dan benar bagi semua orang. Kabar Baik yang melintas selama berabad-abad sama, selalu muda, segar, dan membebaskan: “Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat 10:7). Ya, Kerajaan Surga sudah dekat karena di dalam Yesus Kristus, Allah mendekati setiap orang, bangsa dan negara. Ketika Injil ini diberitakan dan dihayati, kejahatan runtuh bagaikan enyahnya penyakit (bdk. ayat 8), bagaikan malam yang memberi jalan kepada fajar, kematian yang ditaklukkan oleh Yesus yang bangkit.

 

Beginilah cara pandangan Yesus mengubah rupa kenyataan. Dipenuhi kasih, prakarsa-Nya melahirkan umat baru, Gereja, yang dipanggil untuk melanjutkan perutusan para rasul: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, berikanlah pula dengan cuma-cuma” (ayat 8). Ya, karunia Yesus sepenuhnya cuma-cuma, karena nilainya melebihi segala ukuran: tidak mungkin untuk memperolehnya atau “membelinya”. Rahmat ini adalah nama indah dari belas kasihan Allah, yang mencari kita di mana pun kita berada, untuk menarik kita kepada-Nya. “Karena itu, mintalah kepada Tuan yang punya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Mat 9:38)!

 

Saudara-saudari terkasih, tugas penginjilan bermula dari karunia Allah, yang di dalam Kristus menjadi pengampunan bagi dunia, pelayanan kepada yang paling lemah dan miskin, dan komitmen terhadap keadilan. Marilah kita memohon pertolongan Bunda Maria, yang penuh rahmat, agar kita dapat menanggapi dengan sukacita dan keberanian panggilan perutusan Yesus kepada kita.

 

[Sesudah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Pertama-tama, saya menyampaikan rasa syukur saya kepada Tuhan karena memperkenankan perjalanan apostolik yang telah saya lakukan di Spanyol. Saya juga berterima kasih kepada rakyat Spanyol yang telah menyambut saya dengan antusiasme dan pengabdian yang besar. Saya sangat berterima kasih kepada Yang Mulia Raja; dengan penuh kasih sayang saya berterima kasih kepada para uskup, semua komunitas yang saya kunjungi, dan seluruh Gereja di Spanyol. Semoga Tuhan senantiasa memberkati Spanyol!

 

Saya juga ingin mengenang beberapa orang yang baru saja dibeatifikasi: para imam diosesan Václav Drbola dan Jan Bula, dari Moravia; dan Jan Šwierc dan delapan rekannya, imam Salesian Polandia. Semuanya dibeatifikasi sebagai martir, sebagai korban penganiayaan oleh rezim totaliter karena kesetiaan mereka kepada Kristus. Kemarin di Mato Grosso, Brasil, Nazareno Lanciotti, seorang imam misionaris Roma, juga dibeatifikasi; ia juga seorang martir, karena ia membela kaum miskin atas nama Injil. Semoga teladan dan pengantaraan para saksi yang berani ini menopang perutusan para imam dan seluruh Gereja.

 

Saya meyakinkan rakyat Filipina, yang beberapa hari lalu dilanda gempa bumi dahsyat, akan kedekatan saya. Saya mendoakan para korban yang meninggal dan keluarga mereka, para korban luka dan semua orang yang menderita karena bencana ini.

 

Dan sekarang saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara!

 

Saya menyapa para anggota Komisi Internasional untuk Dialog antara Murid-murid Kristus dan Gereja Katolik. Semoga renunganmu membantu kita untuk bertumbuh dalam persekutuan.

 

Saya menyapa para peziarah dari Amerika Serikat, khususnya umat dari New Jersey dan Sekolah Hati Kudus Carrollton di Miami, Florida. Saya menyapa para penerima sakramen krisma dari Bergamo, Komunitas “Casa di Maria” — yang oleh Paus Fransiskus disebut sebagai “anak-anak Maria Tak Bernoda” — dan kelompok paroki dari Santa Maria delle Grazie dan Santa Francesca Cabrini Roma.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 14 Juni 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 3 JUNI 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. III. KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM. 3. RITUS, TANDA, DAN SIMBOL

Saudara-saudari terkasih,

 

Seraya kita melanjutkan katekese kita tentang Konstitusi Konsili Sacrosanctum Concilium (SC), kita ingin berhenti sejenak dan merefleksikan beberapa unsur fundamental dari liturgi suci, seperti ritus, tanda, dan simbol.

 

Konsili Vatikan II, yang dibangun di atas karya berharga Gerakan Liturgi, telah membantu kita menemukan kembali kebenaran yang sangat hidup dalam kesadaran Gereja perdana dan ajaran para Bapa Gereja. Ritus liturgi kristiani bukanlah sekadar penutup lahiriah dari misteri sakramental, kumpulan upacara yang sembarangan, tetapi merupakan mediasi gerejawi yang melaluinya karunia ilahi sampai kepada kita. Justru karena alasan inilah, Konsili mengajak kita untuk memahami misteri iman yang diwujudkan dalam liturgi melalui ritus dan doa-doa (bdk. SC, 48).

 

Ritus ini memberi bentuk pada tindakan liturgi dan, melaluinya, pada kehidupan kita, menghasilkan kepekaan spiritual dalam diri kita yang membuat kita mampu menikmati kehadiran Allah melalui Yesus Kristus. Tentu saja, ini terjadi jika kita tidak terus menerus menjadi orang luar atau penonton yang bisu (bdk. idem) sehubungan dengan liturgi, tetapi sebaliknya berpartisipasi sepenuhnya di dalamnya — tubuh, pikiran, dan hati — dalam ketaatan kepada perintah Tuhan. Melalui ritus suci ini kita dibentuk dalam mendengarkan sabda Allah, mengucap syukur dan penyembahan, persekutuan persaudaraan dan persekutuan gerejawi. Kita menemukan bahwa kita adalah umat dengan banyak wajah, dipersatukan oleh satu iman.

 

Ritus melibatkan kita dalam rangkaian gerakan dan doa yang terdefinisi dengan baik, yang terkadang bertentangan dengan kecenderungan individual kita terhadap spontanitas. Namun, nalarnya bukanlah untuk membatasi kebebasan dalam kerangka kerja yang kaku. Sebaliknya, dengan kesederhanaan ritmenya yang khidmat, ritus menghentikan aktivitas kita yang hiruk pikuk, membawa kita kembali kepada hal yang hakiki. Dengan demikian, kita menemukan dimensi tindakan lain yang tidak dipandu oleh perhitungan produktivitas, dan pengalaman waktu dan ruang yang berbeda. Dalam ritus, kita mengalami nalar tanpa pamrih, kita menemukan jeda yang meregenerasi hati, kita menyadari bahwa kita didahului oleh rahmat ilahi dan kita belajar untuk hidup dalam ritme yang dihuni oleh Roh Kudus.

 

Tata bahasa ritus terjalin dengan tanda dan simbol yang sesuai dengan liturgi. Di dalamnya, sebagaimana dinyatakan oleh Konsili, “pengudusan manusia dilambangkan dengan tanda-tanda lahir serta dilaksanakan dengan cara yang khas bagi masing-masing” (SC, 7). Katekismus Gereja Katolik menelaah nilai dari tanda-tanda ini, mengingatkan bahwa “arti dari tanda dan lambang itu berakar dalam karya penciptaan dan dalam kebudayaan manusiawi. Namun ia tampil lebih jelas dalam peristiwa-peristiwa Perjanjian Lama dan menyatakan diri sepenuhnya dalam pribadi dan karya Kristus.” (no. 1145). Tanda air bersifat simbolis: dari asal mula Penciptaan hingga air bah, dari penyeberangan Laut Merah hingga Sungai Yordan, sampai air yang mengalir dari lambung Kristus, yang menjadi tanda sakramental pembaptisan dalam kematian dan kebangkitan-Nya.

 

“Tanda” dan “simbol” adalah istilah yang sering digunakan sebagai sinonim. Pada kenyataannya, sebuah tanda bersifat simbolis ketika ia mampu merujuk tidak hanya pada sebuah gagasan, tetapi pada keseluruhan sistem makna dan nilai. Dengan cara ini, misalnya, ketika kita diperciki air suci, kesadaran kita akan karunia yang diterima pada Baptisan dan komitmen kita terhadap kehidupan baru di dalam Kristus dihidupkan kembali. Kedua, simbol pada dasarnya bersifat praktis, pertama dan terutama berupa tindakan: beberapa sederhana dan umum, seperti berlutut dan saling memberikan salam damai, atau lebih menuntut, seperti tindakan konstitutif dari setiap Sakramen. Simbol terutama memiliki dimensi performatif dan transformatif yang unik, baik dalam kaitannya dengan unsur-unsur material yang membentuknya maupun yang bersentuhan dengannya, menumbuhkan rasa memiliki, menyentuh hati dan pikiran, dan memunculkan hubungan gerejawi yang autentik.

 

Dalam Surat Apostolik Desiderio Desideravi, Paus Fransiskus, menggemakan pernyataan Romano Guardini, mengidentifikasi “tugas pertama dari karya pembentukan liturgi: manusia harus sekali lagi mampu memahami simbol-simbol” (no. 44). Kita perlu membiarkan diri kita dididik oleh ritus-ritus liturgi, menjaga keindahan perayaan kita dengan sentuhan lembut dan tanpa kesewenang-wenangan, dan berkomitmen pada mistagogi yang autentik. Pengalaman liturgi yang hidup dan khidmat, disertai dengan katekese mistagogis yang tepat, adalah sumber terbaik untuk membangkitkan kembali dalam diri setiap orang keterbukaan terhadap perjumpaan dengan Allah yang, dalam nalar Inkarnasi, hanya dapat terjadi dengan melibatkan seluruh pribadi: roh, jiwa, dan tubuh (bdk. 1Tes. 5:23).

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Swedia, Australia, Indonesia, Myanmar, Filipina, Korea Selatan, Kanada, dan Amerika Serikat. Secara khusus saya menyapa para cendekiawan dan peserta konferensi “Merevisi Deklarasi Taipei Lembaga Medis Dunia” dan mitra penyelenggara KTT Global, “Menumbuhkan Harapan bagi Anak-Anak.” Saat kita mempersiapkan diri untuk Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, marilah kita dikuatkan oleh karunia ilahi ini dan menjadi saksi kasih-Nya kepada semua orang yang kita jumpai. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam rangkaian katekese kita tentang Konsili Vatikan II, kita melanjutkan refleksi kita tentang Sacrosanctum Concilium, dengan melihat unsur ritus, tanda, dan simbol yang terdapat dalam liturgi suci. Ritus liturgi kristiani adalah mediasi gerejawi yang melaluinya karunia ilahi sampai kepada kita. Dalam liturgi, kita diundang untuk berpartisipasi — tubuh, pikiran, dan hati — dan memasuki dimensi yang dihuni oleh Roh Kudus. Untuk memasuki dimensi ini, liturgi dijalin dengan tanda dan simbol yang memiliki dimensi performatif dan transformatif. Misalnya, berlutut adalah tanda penyembahan kita kepada Allah sementara saling memberikan salam damai menunjukkan persekutuan gerejawi kita. Lebih lanjut, tanda-tanda membantu kita untuk mengingat tindakan-tindakan konstitutif Sakramen seperti ketika kita diperciki air suci kita mengingat komitmen kita kepada Kristus. Saat kita bersiap menyambut Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, semoga kita masing-masing membangkitkan kembali keterbukaan kita untuk berjumpa Allah dengan menemukan kembali tanda dan simbol liturgi suci.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Juni 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 31 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Masa Paskah berakhir pekan lalu dengan Hari Raya Pentakosta. Hari ini, kita merayakan misteri Allah Tritunggal, yang memberi kita kesempatan untuk merefleksikan perjalanan yang telah kita lalui. Kita mulai dengan kehidupan Allah yang diberikan kepada kita dalam Kristus Yesus. Kehidupan ini adalah persekutuan iman yang dinamis, tak habis-habisnya, dan menarik kita masuk. Sesungguhnya, Roh Kudus yang mempersatukan Bapa dan Putra telah dicurahkan ke dalam hati kita. Dengan cara ini, Gereja menjadi sakramen persekutuan, tempat perjumpaan, kasih, dan kehidupan di mana surga dan bumi telah bersentuhan.

 

Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:16-18) memperkenalkan kita kepada Nikodemus, seorang tokoh penting di Israel yang merasakan ketertarikan yang mendalam kepada Yesus. Memang, karena ingin lebih memahami sang Guru yang misterius ini dan ingin mengajukan pertanyaan kepada-Nya, Nikodemus pergi mencari-Nya di malam hari, agar tidak terlihat. Tuhan menyambutnya dan menanggapi pencariannya akan jawaban dengan serius. Yesus mengejutkan Nikodemus dengan menyatakan bahwa bahkan orang dewasa pun dapat dilahirkan kembali dan membimbingnya untuk menyadari bahwa kehidupan Allah dapat mengubah rupa hidupnya. Ketika Yesus berbicara tentang Roh Kudus, kegelapan batin Nikodemus diterangi dengan kebenaran –– kebenaran yang juga bergema di seluruh Gereja dalam perayaan hari raya kita hari ini: “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Putra-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (ayat 16). Dan juga, “Allah mengutus Putra-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia” (ayat 17).

 

Saudara-saudari terkasih, dalam misteri Allah –– Bapa, Putra, dan Roh Kudus –– kita merasa nyaman, seperti Nikodemus yang merasa tenang ketika berada di hadapan Yesus. Kehidupan Allah sungguh menakjubkan dan memikat; memberi damai bagi hati kita, yang seringkali sangat gelisah, dan memungkinkan kita untuk bertemu dengan saudara-saudari kita dalam sukacita Roh. Tritunggal membantu kita untuk mengasihi setiap orang dan segala sesuatu: kita menemukan bahwa setiap makhluk diciptakan untuk persekutuan, hubungan, dan perjumpaan. Di sisi lain, kita memahami mengapa perpecahan, polarisasi, dan penghinaan terhadap keragaman membawa kehancuran, kesedihan, dan kemandulan bagi dunia.

 

Nikodemus adalah seorang anggota Mahkamah Agama, dewan para imam besar Israel. Ketika ia mendengar kata-kata penghinaan yang ditujukan kepada Yesus di Mahkamah Agama, Nikodemus mendesak semua orang untuk mendengarkan terlebih dahulu sebelum menghukum-Nya. Ia telah menerima Roh persekutuan dari Allah melalui Kristus sendiri, yang membuka hati kepada kebenaran baru dan pembaharuan sejati. Siapa pun yang tidak menerima Roh ini akan cepat menjadi tua, berada dalam kesedihan, merasa sendirian dan tanpa sukacita di dalam hatinya. Sebaliknya, hari ini, saudara-saudari terkasih, adalah hari perayaan. Hari raya Allah juga hari raya kita. Karena alasan ini, Santo Paulus menulis kepada jemaat Korintus, demikian: Bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna, salinglah menghibur, hiduplah dalam damai sejahtera; dan Allah sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu (bdk. 2 Kor 13:11).

 

Dan sekarang, dengan doa Malaikat Tuhan, kita berpaling kepada Perawan Maria: seperti "ya"-nya kepada kehendak Ilahi, semoga "ya" kita kepada kasih Tritunggal Maha Kudus juga berbuah.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Pada bulan Mei ini, paduan suara doa untuk perdamaian telah bergema di seluruh Gereja. Terutama, melalui doa Rosario Suci – seperti rantai yang tak terputus – bangsa-bangsa yang dilanda perang telah dipercayakan kepada perantaraan Perawan Maria. Semoga Kebijaksanaan Ilahi menerangi hati nurani mereka yang berwenang dan membimbing keputusan mereka menuju pencarian yang tulus akan perdamaian yang adil dan abadi.

 

Hari ini, Italia merayakan “Hari Bantuan Nasional” ke-25. Saya menyampaikan kedekatan spiritual saya kepada orang sakit dan mereka yang merawatnya; dan saya berterima kasih serta mendorong semua yang mempromosikan budaya solidaritas dan kepedulian.

 

Dengan hangat saya menyapa kamu semua yang telah berkumpul hari ini di Lapangan Santo Petrus, baik umat Roma maupun para peziarah!

 

Secara khusus, saya menyapa Uskup dan para peziarah dari Keuskupan Kumba, Kamerun; serta paduan suara paroki dari Dunajska Luzna, Slovakia. Saya menyapa warga Polandia yang hadir dan para peserta ziarah besar ke Tempat Suci Piekary, tempat Maria dihormati sebagai Bunda Keadilan Sosial.

 

Saya menyapa Grup Alpine Rivoli, kaum muda dari San Zeno Naviglio, dan para peserta “Relay for Inclusion,” yang spanduknya dibuat oleh siswa sekolah menengah atas Italia.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 31 Mei 2026)