Saudara-saudari
terkasih, selamat hari Minggu!
Dalam
Bacaan Injil hari ini (Mat 11:25-30), Yesus mengajak kita untuk bergabung
dengan-Nya untuk bersyukur kepada Bapa, “Tuhan langit dan bumi” (ayat 25).
Putra Allah yang menjadi manusia mengungkapkan kasih-Nya dengan menyertakan
seluruh ciptaan dalam tindakan ucapan syukur ini.
Kesederhanaan
dari tindakan spontan dan penuh sukacita tersebut mencerminkan cara Allah
bertindak: Ia senang menyatakan diri-Nya “kepada anak-anak kecil,” sementara Ia
tetap tersembunyi “dari orang-orang bijak dan yang cerdas” (ayat 25). Mereka
begitu dipenuhi dengan ide-ide mereka sendiri sehingga mereka gagal mengenali
kehadiran Kristus, Mesias yang datang mengunjungi umat-Nya. Kebijaksanaan
manusia dengan demikian menjadi kesombongan, dan doktrin merosot menjadi
keangkuhan. Sebaliknya, kebijaksanaan sejati Allah dinyatakan dalam kerendahan
hati Inkarnasi, dan ajaran-Nya terutama ditujukan kepada mereka yang bergumul:
“Datanglah kepada-Ku, semua yang lelah dan yang berbeban berat” (ayat 28),
firman Tuhan. Mendatangi Yesus berarti menanggapi kasih-Nya dan mengambil
bagian dalam hidup-Nya, bahkan sampai ke salib, seperti yang Dia sendiri
ajarkan: “Jika ada yang ingin menjadi pengikut-Ku, hendaklah ia menyangkal
dirinya dan memikul salibnya dan mengikuti Aku” (Mat 16:24). Justru pengorbanan
diri karena kasih inilah yang menjadi “kuk” Yesus (Mat 11:29), yang merupakan
inti ajaran-Nya dan jantung hikmat-Nya, yang menyala-nyala dengan kasih bagi
semua orang.
Saudara-saudari,
bagaimana mungkin beban salib itu “menyenangkan” dan “ringan” (ayat 30)? Hanya
karena satu alasan: karena Tuhan sendiri memikulnya bersama kita, tidak pernah
meninggalkan kita sendirian dalam beban yang kita tanggung. Sebagai guru sejati,
Yesus memikul kemanusiaan yang terluka oleh kejahatan untuk menyembuhkan dan
merawatnya. Hikmat yang Ia berikan kepada kita adalah pemberitaan keselamatan,
dan kuk-Nya mengangkat kita dari setiap kejatuhan. Karena alasan ini,
perjalanan kita mengikuti Kristus bukan asketisme yang mematikan. Sebaliknya,
perjalanan kita mengikuti Kristus adalah sekolah kebebasan yang menganggap
serius drama sejarah dan terus-menerus menerangi maknanya, terutama di
saat-saat tergelapnya. Sesungguhnya, hanya di dalam salib Yesuslah kejahatan
dikalahkan; hanya dalam penderitaan-Nya letih lesu kita yang fana menemukan
penghiburan dan penebusan.
Dalam
perbudakan, Kristus adalah pembebasan. Di tengah malapetaka perang, Kristus
adalah harapan. Di saat dosa, Kristus adalah pengampunan. Inilah hikmat sejati
dan jalan yang ingin kita tempuh bersama, bersatu sebagai murid dalam nama-Nya.
Yesus mengajarkan hal ini kepada kita sebagai Putra, dengan menjadi saudara
kita. Melalui kuasa Roh Kudus, Ia mengungkapkan kepada Gereja kebenaran tentang
Allah dan umat manusia, karena “tidak seorang pun mengenal Bapa selain Putra
dan orang yang kepadanya Putra itu berkenan menyingkapkan-Nya” (ayat 27).
Sahabat-sahabat
terkasih, seraya kita mengucap syukur kepada Tuhan atas kepercayaan penuh kasih
yang telah Ia berikan kepada kita, marilah kita memohon kepada Maria, Ratu
Damai, untuk menjadi perantara kebaikan Gereja dan seluruh dunia.
[Setelah
pendarasan doa Malaikat Tuhan]
Saudara-saudari
terkasih,
Kamis
lalu, 2 Juli, Pastor Fransiskus Xavier Tru’o’ng Bǚu dikanonisasi di
Tempat Kudus Tac Say, Vietnam. Beliau dibunuh pada tahun 1946 karena kebencian
terhadap iman (in odium fidei). Di tengah penindasan dan kekerasan, beliau
membela hak-hak rakyat dan tidak meninggalkan umat parokinya. Semoga
perantaraan dan doanya menguatkan semua orang yang mewartakan Injil dalam
situasi penganiayaan saat ini.
Saya
menyapa dengan hangat kamu semua yang berkumpul hari ini di Lapangan Santo
Petrus.
Saya
menyapa dengan hangat para peziarah dari Brasil dan Paduan Suara Universitas
Mérida, Venezuela. Saya terus mengingat dalam doa saya para korban gempa bumi
dan seluruh rakyat Venezuela. Semoga Tuhan menguatkan mereka di masa-masa sulit
ini.
Secara
khusus saya menyapa beberapa kelompok dari Polandia: para imam yang baru
ditahbiskan dari Ordo Saudara Dina Kapusin Provinsi Kraków; Paduan Suara
Anak-anak Keuskupan Agung Łódź, yang didampingi oleh Uskup Pembantu mereka; dan
kelompok dari Keuskupan Legnica.
Saya juga
menyapa kaum muda dari Bellagio dan Paduan Suara Jubilaeum dari Augusta,
Sisilia, bersama walikota dan pastor mereka.
Saya
mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya!
______
(Peter Suriadi - Bogor, 5 Juli 2026)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)