Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 November 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Hari Raya Semua Orang Kudus, yang kita rayakan hari ini, mengajak kita untuk turut merasakan sukacita dari keluarga besar yang tidak terhitung jumlahnya — terdiri dari laki-laki dan perempuan yang, dengan mengikuti Tuhan Yesus, telah menjadikan hidup mereka sebagai anugerah bagi Allah dan sesama. Dengan menempuh jalan kekudusan yang berbeda-beda, mereka merindukan “samudra kasih yang tak terbatas” — meminjam ungkapan indah Paus Benediktus XVI (Spe Salvi, 12).

 

Liturgi Sabda menggambarkan keluarga ini sebagai “suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat dihitung jumlahnya, dari segala bangsa, suku, umat dan bahasa” (Why 7:9). Hari ini, sesungguhnya, kita merayakan semua orang kudus: mereka yang telah diakui secara resmi oleh Gereja, maupun tak terhitung banyaknya orang lain yang tidak diakui secara formal namun dikenal oleh Allah. Sebagaimana diingatkan dalam Bacaan Injil hari ini (Mat 5:1-12), mereka adalah orang-orang yang miskin di hadapan Allah, namun kaya akan kasih Allah. Wajah mereka mungkin basah oleh air mata, namun mereka menemukan penghiburan dalam doa. Mereka bersikap lemah lembut di tengah kekerasan dan menerima ganjaran dari Bapa. Mereka mendambakan keadilan, namun dipuaskan di lubuk hati nurani mereka. Mereka siap untuk mengampuni dan dirangkul oleh belas kasih. Hati mereka tidak menyimpan kebencian, namun mereka dilindungi oleh Allah. Mereka adalah pembawa damai, yang dipanggil namanya oleh Allah. Mereka mengalami penganiayaan dan penghinaan, namun tetap teguh dalam iman dan kasih.

 

Memang benar bahwa mustahil untuk menghitung banyaknya saudara-saudari ini, dan bukan sekadar dalam pengertian jumlah. Kekudusan, pada kenyataannya, tidak dapat direduksi ke dalam perhitungan apa pun, karena begitu besarnya kebaikan yang telah disebarkan oleh semua orang kudus di dunia ini. Saat kita mengagumi mereka, kita bertanya pada diri sendiri: apa yang telah dihasilkan oleh orang-orang ini, dengan rahmat Allah? Pada hakikatnya, mereka telah menghasilkan tindakan dan pilihan kasih yang melampaui perhitungan keserakahan serta kesombongan kejahatan — yang terkadang tampak merajalela. Orang-orang kudus merupakan tanda yang paling indah dan kuat akan Kerajaan Allah yang akan datang — atau lebih tepatnya, sebagaimana diajarkan Yesus, Kerajaan Allah sudah ada di tengah-tengah kita (bdk. Luk 17:20-21). Terlebih lagi, kelompok yang diberkati ini mencakup orang-orang dari latar belakang, budaya, dan jalan hidup yang sangat beragam. Kekudusan bukan hak istimewa segelintir orang saja, melainkan panggilan universal yang menyapa kita masing-masing di tempat kita menjalani hidup. Inilah pesan penuh harapan dari perayaan hari ini: Allah melihat kebaikan yang tidak kita lihat, mengetahui kisah yang tidak kita ketahui, dan menjangkau hati yang tidak dapat kita akses.

 

Semoga Santa Perawan Maria — yang terberkati karena ia percaya pada sabda Tuhan — mendampingi kita di sepanjang jalan menuju kekudusan, agar kita tidak pernah lelah untuk terus mengupayakan perdamaian, baik dalam situasi yang paling penting maupun dalam keadaan sehari-hari yang biasa.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kemarin, di Savannah, Georgia, Amerika Serikat, Pedro de Corpa beserta empat rekannya — para biarawan dari Ordo Saudara Dina yang gugur karena kebencian terhadap iman (odium fidei) pada tahun 1597 — telah dibeatifikasi. Mereka berasal dari Spanyol dan menanggapi panggilan Tuhan dengan murah hati untuk mewartakan Injil kepada penduduk di benua Amerika, bahkan hingga mengorbankan nyawa mereka. Marilah kita mohon perantaraan para martir ini bagi semua misionaris Injil.

 

Beberapa hari terakhir ini, sebuah operasi kemanusiaan telah dilaksanakan untuk membantu penduduk sipil di kota Oleshky. Saya berharap kerja sama antarpihak yang memungkinkan terlaksananya tindakan kemanusiaan yang mendesak ini dapat memperkuat keinginan untuk berdialog serta mendorong prakarsa perdamaian konkret yang baru. Marilah kita serahkan kepada Maria, Ratu Damai dan Ratu Para Kudus, semua orang di seluruh dunia yang menderita akibat perang.

 

Mulai kemarin hingga 13 November, Olimpiade Kaum Muda diselenggarakan di Dakar, ibu kota Senegal, bagi para atlet berusia 15 hingga 18 tahun. Ini merupakan ajang Olimpiade pertama yang diadakan di benua Afrika. Selain berbagai kompetisi, ajang ini juga mencakup pertemuan edukatif dan budaya yang bertujuan untuk mempromosikan nilai-nilai Olimpiade serta menumbuhkan pemahaman di antara kaum muda dari seluruh dunia. Sekali lagi, kita melihat secercah harapan yang muncul dari dunia olahraga! Saya menyapa dengan hangat dan memberikan berkat kepada seluruh peserta.

 

Dari tanggal 8 hingga 15 November, kegiatan "Misi bersama Kaum Miskin", yang diprakarsai oleh Ordo Saudara Dina, akan berlangsung di Roma. Saya menyampaikan apresiasi kepada para putra Santo Fransiskus yang, melalui prakarsa ini, menempatkan kaum miskin sebagai pusat perhatian — sebagaimana dilakukan Tuhan Yesus dan Santo Fransiskus dari Asisi. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada pihak otoritas sipil dan aparat penegak hukum atas kerja sama mereka.

 

Dan sekarang, saya menyapa kamu semua, penduduk Roma dan para peziarah dari berbagai negara!

 

Saya senang menyapa umat Siro-Malabar beserta para gembala mereka. Saudara-saudari terkasih, bersamamu, saya mengucap syukur kepada Tuhan atas pertumbuhan komunitasmu di seluruh Eropa.

 

Saya menyapa kelompok “Capiteo” dari Borbiago di Mira, Provinsi Venesia, serta para peserta “Lomba Para Kudus” — sebuah acara yang tahun ini kembali diselenggarakan di Roma oleh Misi Don Bosco untuk mempromosikan olahraga sebagai pengalaman edukatif.

 

Besok sore, pada pengenangan arwah semua orang beriman, saya akan merayakan Misa di Pemakaman Verano. Dalam hari-hari ini, marilah kita merasa bersatu dalam Persekutuan Para Kudus dengan keluarga besar saudara-saudari kita yang telah mendahului kita dalam peziarahan di dunia ini; marilah kita berdoa bagi mereka yang telah meninggal, terutama bagi mereka yang tidak diingat oleh siapa pun.

 

Terima kasih kepada kamu semua, dan selamat merayakan hari raya!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 1 November 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 28 OKTOBER 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. IV. KONSTITUSI PASTORAL GAUDIUM ET SPES (GS 53-62). 7. HUBUNGAN ANTARA IMAN DAN BUDAYA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Konsili Vatikan II tentu tidak mungkin melewatkan pembahasan mengenai kebudayaan dan hubungannya dengan iman Kristiani. Hal ini diulas dalam bab kedua dari bagian kedua Konstitusi Gaudium et Spes (GS).

 

Gereja Katolik senantiasa berupaya mendampingi pewartaan Injil dengan mendirikan berbagai jenis sekolah, yang bertujuan untuk mengembangkan pembinaan manusiawi, budaya, dan rohani bagi laki-laki dan perempuan di lima benua. Universitas-universitas pada Abad Pertengahan, sebagaimana kita ketahui, lahir dari rahim Gereja dan memberikan kontribusi yang menentukan bagi perkembangan peradaban Barat. Pada saat yang sama, kemajuan budaya dan pengetahuan memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru yang semakin mendalam, yang mendorong umat beriman untuk memberikan pertanggungjawaban atas iman mereka (bdk. 1Ptr 3:15–17). Akhirnya, sebagai ungkapan dimensi rohani manusia, berbagai manifestasi budaya turut membuka pikiran terhadap pertanyaan-pertanyaan abadi mengenai makna dunia dan keberadaan manusia, sehingga mempersiapkan orang untuk menerima Injil Yesus Kristus.

 

Hubungan antara iman dan budaya menemukan landasan utamanya dalam peristiwa Inkarnasi: jika Sabda ilahi menjadi daging dan tinggal di antara kita (bdk. Yoh 1:14), maka iman pun merupakan suatu kenyataan yang berinkarnasi, yang terjalin erat dengan budaya tempat iman itu berada. Iman juga dituntut untuk menjadi budaya; artinya, iman harus menjangkau pribadi manusia dalam lingkungan hidupnya — yang terdiri dari bahasa, tradisi, makna religius, seni dan puisi, pemikiran, serta ilmu pengetahuan. Sebagaimana sering diungkapkan oleh Santo Yohanes Paulus II, “iman yang tidak menjadi budaya adalah iman yang tidak diterima sepenuhnya, tidak dipikirkan secara tuntas, dan tidak dihayati dengan setia”.[1]

 

Iman dapat diwujudkan dalam semua budaya, karena iman tidak mengidentikkan diri dengan salah satu budaya secara khusus. Iman bersemayam di dalam budaya-budaya tersebut, membentuknya dari dalam menurut “rupa” Yesus Kristus; yakni melalui kasih, pelayanan, dan pengakuan penuh bakti akan kebapaan Allah. Dengan cara ini, Gereja mengambil segala sesuatu yang baik, indah, dan benar dari berbagai budaya, demi mewujudkan dan mewartakan pesan Injil. Pada saat yang sama, “Gereja, yang diutus kepada semua bangsa dari segala zaman dan di daerah mana pun, tidak terikat secara eksklusif tak terceraikan kepada suku atau bangsa mana pun, kepada corak hidup yang khas mana pun, kepada adat-istiadat entah yang lama entah yang baru. Seraya berpegang teguh pada tradisinya sendiri, pun sekaligus menyadari perutusannya yang universal, Gereja mampu menjalin persekutuan dengan pelbagai pola kebudayaan. Dengan demikian baik Gereja sendiri maupun pelbagai kebudayaan diperkaya” (GS, 58).

 

Gereja mengembangkan kebudayaan karena kebudayaan merupakan suatu kebaikan pada dirinya sendiri, sebuah bentuk pelayanan bagi manusia dan pemenuhan panggilan Gereja di dunia. Oleh karena itu, Gaudium et Spes mendesak komunitas internasional untuk memastikan bahwa setiap orang memiliki akses terhadap nilai-nilai budaya dasar, dengan cara mengatasi buta aksara dan kurangnya pendidikan. Konsili dengan tegas menyatakan bahwa siapa pun yang mampu menempuh pendidikan tinggi harus diberi kesempatan nyata untuk menempuhnya. Lebih lanjut, “hendaknya siapa saja berusaha, supaya keterlibatan khas kaum wanita yang diperlukan bagi perihidup budaya diakui dan dikembangkan” (GS, 60).

 

Selain itu, Gaudium et Spes menegaskan perlunya mengarahkan pengajaran menuju suatu kesatuan pengetahuan, meskipun perubahan kondisi kehidupan mungkin membuat hal ini menjadi lebih sulit (bdk. GS, 61). Umat Kristiani adalah pihak pertama yang harus berupaya mewujudkan kesatuan kebijaksanaan ini, terutama di dalam diri mereka sendiri. Walaupun mereka telah menerima jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar tentang keberadaan melalui pewahyuan, hal itu tidak membebaskan mereka dari proses pembinaan intelektual dan budaya yang memerlukan kesabaran; sebaliknya, pengetahuan manusiawi dan ilmiah mereka harus berjalan beriringan dengan hakikat iman mereka, yang harus terus diperdalam seiring bertambahnya usia dan tingkat pendidikan. Konsili menyampaikan seruan khusus kepada para teolog: “Mereka yang menekuni ilmu-ilmu teologi hendaknya berusaha bekerja sama dengan para pakar ilmu pengetahuan lainnya, dengan memperpadukan tenaga maupun pandangan-pandangan mereka. Hendaknya penyelidikan teologis sekaligus berusaha mencapai pengertian yang mendalam tentang kebenaran yang diwahyukan, tanpa kehilangan kontak dengan zamannya, supaya dapat mendampingi para pakar pelbagai ilmu dalam mengembangkan pengetahuan mereka tentang iman” (GS, 62).

 

Saudara-saudari, Konstitusi Gaudium et Spes mengingatkan kita untuk tidak menghayati iman dalam semangat pertentangan atau permusuhan terhadap dunia, budaya, dan berbagai ungkapan kemanusiaan di dalamnya. Sebaliknya, dokumen ini menasihati kita sebagai berikut: “Oleh karena itu, hendaknya umat beriman hidup dalam pergaulan erat dengan sesama mereka yang semasa, dan berusaha menyelami dengan saksama corak-corak mereka berpikir dan berperasaan, yang terungkapkan melalui kebudayaan” (GS, 62). Perpaduan yang matang dan bertanggung jawab antara iman dan budaya merupakan syarat mutlak untuk tetap setia pada panggilan Kristiani, sekaligus menjadi prasyarat penting untuk memberikan kesaksian iman di hadapan dunia serta menyampaikannya kepada orang lain secara dapat dipercaya.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang hadir dalam Audiensi hari ini, khususnya mereka yang datang dari Inggris, Irlandia, Denmark, Swedia, Ghana, Jepang, Yordania, Laos, Pakistan, Filipina, Kanada, dan Amerika Serikat. Secara khusus, saya menyapa anggota Kelompok Kaum Muda dari Keuskupan Samoa-Pago Pago yang sedang melakukan ziarah ke Roma dan Asisi. Atasmu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, yang merefleksikan keberadaan Gereja di dunia zaman sekarang, juga membahas tema kebudayaan. Dalam upaya memengembangkan kebudayaan dalam segala bentuknya, Gereja senantiasa memadukan pewartaan Injil dengan pendirian sekolah-sekolah; hal ini bertujuan untuk membina pengembangan diri manusia seutuhnya — baik secara manusiawi maupun rohani — mendorong umat beriman untuk mampu mempertanggungjawabkan iman mereka (bdk. 1Ptr 3:15–17), serta mempersiapkan semua orang untuk menerima Injil. Hubungan yang otentik antara iman dan kebudayaan berakar pada peristiwa Inkarnasi. Dengan demikian, iman memperkaya dan menyempurnakan setiap kebudayaan yang dijumpainya, sekaligus dipanggil untuk mewujud menjadi suatu kebudayaan yang dibentuk oleh Kristus. Melalui cara ini, Gaudium et Spes menegaskan pentingnya membangun keterpaduan yang berbuah antara pengetahuan dan iman, yang tercermin dalam cara hidup beriman yang ditandai oleh pandangan positif terhadap dunia dan sejarah.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 29 Oktober 2026)



[1]Santo Yohanes Paulus II, Pidato kepada para peserta Kongres Gerakan Gerejawi untuk Komitmen Budaya (MEIC), 16 Januari 1982.

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 25 Oktober 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Dalam Bacaan Injil hari ini, Tuhan sekali lagi membawa kita ke inti iman kita (bdk. Mat 22:34–40). Seorang ahli Taurat, yang hendak mencobai Yesus, bertanya kepada-Nya, “Perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (ayat 36). Sang Guru menjawab dengan mengutip sebuah ayat dari Kitab Ulangan: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu” (ayat 37; bdk. Ul 6:5). Kristus menempatkan kasih sebagai pusat dari hubungan kita dengan Allah. Sesungguhnya, tidaklah cukup hanya mengetahui bahwa Allah itu ada, bahwa Ia adalah satu-satunya Allah, atau bahwa Ia Maha Kuasa. Tuhan menghendaki hubungan pribadi dengan kita: Allah yang esa dan sejati ingin menjadi Allah kita.

 

Dalam perjumpaan kita dengan-Nya, perintah kasih bukanlah suatu kewajiban ataupun paksaan. Sesungguhnya, kita tidak dapat mengasihi “atas dasar perintah.” Kasih kepada Allah merupakan hakikat terdalam dari hasrat manusia, yang menemukan kepenuhannya dalam persekutuan dengan-Nya. Oleh karena itu, kasih kita hanya dapat menjadi otentik jika merupakan tanggapan terhadap kasih-Nya, yang senantiasa mendahului kita. Dari sinilah muncul kebutuhan akan penyerahan diri secara total yang melibatkan seluruh pribadi: hati, jiwa, dan akal budi.

 

Pada perintah yang pertama, Tuhan menambahkan perintah yang kedua: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:39). Aturan hidup ini bersumber dari akar yang sama; itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa perintah ini serupa dengan yang pertama. Berkat hubungan yang erat dengan Allah, kita dimampukan untuk memandang diri sendiri dan sesama melalui mata Kristus, dari sudut pandang-Nya. Dengan cara ini, sikap mementingkan diri sendiri dapat diatasi, bahkan kasih terhadap diri sendiri pun berubah menjadi amal kasih: keberadaan kita terarah kepada sesama dan menjadi anugerah bagi orang-orang di sekitar kita.

 

Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus memahami hal ini dengan baik: “Hanya kasihlah,” tulisnya, yang membuat “anggota-anggota Gereja bertindak; dan seandainya kasih itu padam, para rasul pun tidak akan mewartakan Injil” (bdk. *Karya Lengkap*, Manuskrip B, 3v°, Roma 1997, 223). Sungguh, tanpa kasih, iman kita akan kehilangan esensinya, perbuatan baik kita hanya akan menjadi sekadar moralisme, dan harapan kita akan menjadi sia-sia.

 

Saudara-saudari terkasih, kita tidak dapat sungguh-sungguh mengasihi Allah kecuali jika kasih ini meluap menjadi kasih terhadap saudara-saudari kita. Dan kita tidak dapat sungguh-sungguh mengasihi sesama kita, kecuali sebagai anak-anak dari Bapa yang sama, yang telah mengasihi kita terlebih dahulu di dalam Putra-Nya, Yesus.

 

Marilah kita memohon kepada Tuhan anugerah hati yang baru, yang mampu merangkul dan menghayati perintah yang terbesar dari segala perintah. Semoga Santa Perawan Maria, yang di dalam hatinya yang tak bernoda tidak terdapat apa pun selain kasih, menjadi perantara bagi kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari sekalian,

 

Saya sedang mengikuti dengan penuh keprihatinan gawatnya situasi kemanusiaan di Yaman, khususnya di kota Taiz, di mana penduduknya menderita akibat kekurangan pangan, air, dan layanan medis. Saya mengimbau dengan sungguh-sungguh agar permusuhan dihentikan, serta rakyat Yaman dan seluruh penduduk di kawasan tersebut dijamin haknya untuk hidup dalam perdamaian.

 

Doa saya tertuju pada semua pihak yang terluka atau kehilangan nyawa pada hari Jumat lalu dalam serangan teroris terhadap umat di Gereja Ortodoks Santo Georgius di Hamoud, Yordania. Saya menyatakan kedekatan saya dengan komunitas dan seluruh negeri tersebut, yang dikenal karena kehidupan berdampingan secara damai serta sikap saling menghormati antarumat beragama.

 

Mari kita terus berdoa bersama demi perdamaian. Lusa, tanggal 27 Oktober, marilah kita bersatu dalam semangat dengan para pemimpin gereja dan tokoh agama yang akan berkumpul di Asisi untuk memperingati 40 tahun pertemuan yang digagas oleh Santo Yohanes Paulus II. Belum pernah sejelas saat ini bahwa perang —selain menebar kematian dan kehancuran — juga memiskinkan serta merugikan dunia. Semoga Tuhan menginspirasi pilihan untuk menempuh jalan dialog dan perdamaian!

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara!

 

Saya menyambut para anggota Centro Académico Romano Fundación Spanyol; kelompok dari Kolose Santa Klara Ballygawley, Irlandia; serta kelompok dari sekolah-sekolah “Santo Yohanes Paulus II” di Keuskupan Opole, Polandia.

 

Saya senang dapat menyambut para kepala protokol dari sejumlah kementerian dan departemen pemerintah Italia.

 

Saya menyapa para anggota Lembaga “Solidarietà in Buone Mani” dari Castiglion Fiorentino, serta sekelompok sahabat dari Concorezzo yang datang berziarah dalam rangka merayakan ulang tahun mereka yang ke-70.

 

Selamat menikmati hari Minggu bagi kamu semua.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 25 Oktober 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 21 OKTOBER 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. IV. KONSTITUSI PASTORAL GAUDIUM ET SPES (GS 47-52). 6. KOMITMEN TERHADAP KELUARGA DALAM DUNIA ZAMAN SEKARANG

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Hal pertama yang ingin saya sampaikan adalah terima kasih! Terima kasih atas dukungan doa-doamu. Puji syukur kepada Allah atas kemurahan hati-Nya. Marilah kita semua memperbarui kepercayaan kita kepada kebaikan dan kerahiman Allah.

 

Konstitusi pastoral Konsili Vatikan II Gaudium et Spes (GS), setelah menguraikan martabat pribadi manusia dan panggilannya di dunia pada bagian pertama, kemudian membahas — dalam terang Injil dan pengalaman manusia — beberapa isu dunia sekarang ini yang paling mendesak pada bagian kedua (bdk. GS, 46). Dokumen ini berfokus terutama pada perkawinan dan keluarga, dengan keyakinan bahwa “keselamatan pribadi maupun masyarakat manusiawi dan kristiani erat berhubungan dengan kesejahteraan rukun perkawinan dan keluarga” (GS, 47).

 

Untuk itu, dokumen ini tidak sekadar menegaskan kembali nilai dan tujuan perkawinan serta keluarga, melainkan menawarkan pemahaman yang diperbarui mengenai perkawinan sebagai “persekutuan hidup dan kasih suami-istri yang mesra” (GS, 48). Dengan tetap menyertakan dimensi hukum perkawinan sebagai suatu kontrak, dasar dari persatuan ini diakui sebagai “perjanjian suami-istri”, yang dipahami sebagai “tindakan manusiawi, yakni saling menyerahkan diri dan saling menerima antara suami dan istri” (GS, 48). Saling memberikan diri antara pria dan wanita — sehingga “mereka bukan lagi dua, melainkan satu daging” (Mat 19:6) — menjadi landasan bagi tuntutan akan “kesetiaan sepenuhnya” dan “kesatuan yang tak terpisahkan” di antara suami dan istri, yang secara nyata terungkap dalam kelahiran dan pengasuhan anak-anak (bdk. GS, 48). Sebagai cermin Tritunggal Mahakudus, cinta kasih suami-istri dan cinta kasih orang tua — melalui Sakramen Perkawinan — “dibimbing serta diperkaya berkat daya penebusan Kristus”, sehingga suami dan istri dapat saling mengasihi “seperti Kristus mengasihi Gereja dan menyerahkan diri untuknya” (GS, 48).

 

Setelah menjelaskan hakikat perkawinan dalam terang cinta Kristus — yang merupakan kebenaran dari cinta kasih manusiawi sekaligus ilahi — Gaudium et Spes mengalihkan perhatiannya pada cinta kasih suami-istri dan kesuburan dalam perkawinan. Cinta kasih suami-istri tidak terbatas pada ketertarikan erotis — meskipun hal itu juga tercakup di dalamnya — melainkan melibatkan seluruh kehendak pasangan, menghidupkan kasih sayang dalam hati mereka, serta diungkapkan melalui perasaan dan tindakan yang penuh kelembutan (bdk. GS, 49). Dengan merangkul kebaikan pribadi seutuhnya, baik pria maupun wanita — yang memiliki martabat setara — cinta ini meresapi seluruh kehidupan pasangan dan terungkap dalam tindakan-tindakan yang secara khusus hanya ada dalam perkawinan (bdk. GS, 49). Selain melambangkan cinta kasih yang utuh dari satu pribadi kepada pribadi lainnya, keintiman yang khas di antara suami dan istri ini menumbuhkan semangat saling memberikan diri serta memperkaya sukacita yang mereka alami bersama (bdk. GS, 49).

 

Selanjutnya, kesuburan cinta kasih suami-istri terwujud dalam prokreasi anak, yang merupakan “anugerah terbesar dalam perkawinan” (GS, 50). Dengan meneruskan dan mendidik kehidupan manusia — yang tidak boleh ditolak dengan cara apa pun — suami-istri menjadi “mitra kerja cinta kasih Allah Pencipta dan bagaikan penterjemah-Nya” (idem). Karena dipanggil untuk menunaikan tugas penuh tanggung jawab manusiawi serta kristiani, mereka hendaknya membentuk pendirian yang sehat, sambil mengindahkan baik kesejahteraan mereka sendiri maupun kesejahteraan anak-anak, baik yang sudah lahir maupun yang mereka perkirakan masih akan ada. Pertimbangan semacam itu — yang pada akhirnya wajib diadakan oleh suami-istri sendiri di hadapan Allah — menuntut agar suara hati mereka disesuaikan dengan hukum ilahi, menganut bimbingan Wewenang Mengajar Gereja yang dalam terang Injil memberi tafsiran autentik kepada hukum itu (bdk. GS, 50).

 

Penekanan pada persekutuan penuh cinta kasih dan kesuburan untuk menghasilkan keturunan dalam perkawinan menuntun Konsili untuk menolak kemungkinan adanya “pertentangan yang sesungguhnya antara hukum-hukum ilahi tentang penyaluran
hidup dan usaha memupuk cinta kasih suami-istri yang sejati” (GS, 51). Sebaliknya, Konsili menegaskan bahwa “bila soalnya bagaimana menyelaraskan cinta kasih suami-istri dengan penyaluran kehidupan secara bertanggung jawab”, kita harus “menghormati arti sepenuhnya yang ada pada saling penyerahan diri dan pada keturunan manusiawi, dalam konteks cinta kasih yang sejati” (GS, 51). Dari sini, tersirat pula bahwa “kehidupan sejak saat pembuahan harus dilindungi dengan sangat cermat”, dengan menolak “pengguguran dan pembunuhan anak”; serta bahwa “ tindakan yang khas bagi hidup perkawinan sendiri, yang diatur sesuai dengan martabat manusiawi yang sejati, wajib dihadapi dengan sikap hormat yang sungguh mendalam” (GS, 51).

 

Ajaran Gaudium et Spes mengenai komunitas suami-istri dan keluarga selanjutnya menyoroti fungsi sosial keluarga — yang didefinisikan sebagai “sekolah kemanusiaan yang lebih mendalam” dan “dasar masyarakat” (GS, 52) — serta menyerukan kepada semua pihak yang mengemban tanggung jawab sosial, khususnya di bidang politik dan budaya, untuk berkewajiban “dengan tekun mengembangkan nilai-nilai perkawinan dan keluarga” (GS, 52).

 

Saudara-saudari terkasih, tugas ini kini jauh lebih mendesak daripada sebelumnya. Gereja sangat menyadari hal ini, sebagaimana terlihat dari perhatian pastoral para Paus yang silih berganti sejak Konsili terakhir, hingga dua Sidang Sinode yang diselenggarakan oleh Paus Fransiskus — yang baru-baru ini kembali dibahas oleh para pemimpin Gereja Katolik Timur dan para Ketua Konferensi Waligereja. Semoga Keluarga Kudus dari Nazaret menerangi perjalanan kita dan melindungi keluarga-keluarga di seluruh dunia.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang hadir dalam Audiensi hari ini. Bagi kamu semua beserta keluarga, saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam lanjutan katekese kita mengenai Gaudium et Spes, hari ini kita membahas martabat perkawinan dan keluarga dalam konteks tantangan masa kini. Para Bapa Konsili menyadari bahwa kesejahteraan semua orang dalam masyarakat sangat erat kaitannya dengan kesehatan perkawinan dan keluarga. Mereka berupaya menghadirkan visi baru tentang cinta kasih suami-istri sebagai persekutuan mesra yang mencerminkan kehidupan Allah Tritunggal, serta berakar pada — dan diperkaya oleh — kuasa penebusan Kristus. Oleh karena itu, marilah kita berdoa memohon berkat dan perlindungan Allah bagi semua keluarga.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 21 Oktober 2026)