Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 15 Maret 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil Hari Minggu Prapaskah IV menceritakan penyembuhan seorang yang buta sejak lahirnya (bdk. Yoh 9:1–41). Melalui simbolisme kisah ini, Penginjil Yohanes berbicara kepada kita tentang misteri keselamatan: ketika kita berada dalam kegelapan, ketika umat manusia berjalan dalam kekelaman (bdk. Yes 9:2), Allah mengutus Putra-Nya sebagai terang dunia, untuk mencelikkan mata orang buta dan menerangi hidup kita.

 

Para nabi telah mengumumkan bahwa Mesias akan mencelikkan mata orang buta (bdk. Yes 29:18; 35:5; Mzm 146:8). Yesus sendiri menegaskan keaslian misi-Nya dengan menunjukkan bahwa “orang buta melihat” (Mat 11:5), dan Ia memperkenalkan diri dengan kata-kata: “Akulah terang dunia” (Yoh 8:12). Tentu saja, kita semua dapat mengatakan bahwa kita “buta sejak lahir,” karena dengan kekuatan sendiri kita tidak dapat melihat misteri kehidupan dalam segala kedalamannya. Itulah sebabnya Allah menjadi manusia dalam diri Yesus, agar tanah liat kemanusiaan kita, yang dibentuk oleh napas rahmat-Nya, dapat menerima terang baru, terang yang mampu membantu kita melihat diri sendiri, orang lain, dan Allah dalam kebenaran.

 

Sungguh mengejutkan bahwa, selama berabad-abad, pendapat telah menyebar dan bertahan hingga hari ini bahwa iman adalah semacam "lompatan dalam kegelapan," penolakan terhadap pemikiran, sehingga memiliki iman berarti percaya "secara buta." Namun, Bacaan Injil menunjukkan kepada kita bahwa melalui kontak dengan Kristus, mata kita dicelikkan. Sesungguhnya, para pemuka agama bertanya dengan tegas kepada orang buta yang disembuhkan: "Bagaimana matamu menjadi celik?" (Yoh 9:10); dan kembali bertanya: "Bagaimana Ia mencelikkan matamu?" (ayat 26).

 

Saudara-saudari, kita pun disembuhkan oleh kasih Kristus dan dipanggil untuk menghidupi iman kita dengan "mata yang dicelikkan." Iman bukanlah tindakan buta, pengabaian akal budi atau penarikan diri ke dalam semacam kepastian religius yang menyebabkan kita mengalihkan pandangan kita dari dunia. Namun, iman membantu kita untuk melihat segala sesuatu "melihat segala sesuatu sebagaimana Yesus sendiri melihatnya, dengan mata-Nya sendiri. Ini adalah mengambil bagian dalam cara Dia melihat." (Lumen Fidei, 18). Dalam pengertian ini, iman adalah ajakan untuk "mencelikkan mata kita," seperti yang dilakukan Tuhan, terutama terhadap penderitaan orang lain dan kesengsaraan dunia.

 

Dewasa ini, khususnya di tengah banyaknya pertanyaan hati manusia, serta situasi tragis ketidakadilan, kekerasan, dan penderitaan yang menandai zaman kita, sangat penting agar iman kita waspada, penuh perhatian, dan profetik. Iman juga harus mencelikkan mata kita terhadap kegelapan dunia, dan membawa terang Injil kepada orang lain melalui komitmen kita terhadap perdamaian, keadilan, dan solidaritas.

 

Marilah kita memohon kepada Bunda Maria untuk menjadi perantara kita, agar terang Kristus dapat mencelikka mata hati kita dan memungkinkan kita untuk memberi kesaksian tentang Dia dengan kesederhanaan dan keberanian.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Selama dua pekan terakhir, rakyat Timur Tengah menderita akibat kekerasan perang yang mengerikan. Ribuan orang tak berdosa telah tewas, dan tak terhitung lainnya terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Saya kembali mendoakan dan mendekatkan diri kepada semua orang yang kehilangan orang yang mereka cintai dalam serangan-serangan yang telah menghantam sekolah, rumah sakit, dan daerah pemukiman.

 

Situasi di Lebanon sangat mengkhawatirkan. Saya berharap jalan dialog akan muncul untuk mendukung pemerintah negara dalam menerapkan solusi jangka panjang terhadap krisis serius yang sedang terjadi, demi kebaikan bersama seluruh rakyat Lebanon.

 

Atas nama umat kristiani di Timur Tengah, dan semua orang yang berkehendak baik, saya memohon kepada mereka yang bertanggung jawab atas konflik ini: hentikan tembakan! Semoga jalan dialog dapat dibuka kembali! Kekerasan tidak akan pernah membawa keadilan, stabilitas, dan perdamaian yang sedang dinantikan bangsa-bangsa.

 

Saya menyapa kamu semua yang berkumpul di sini hari ini di Lapangan Santo Petrus.

 

Saya menyapa umat yang datang dari Valencia dan Barcelona, Spanyol, serta Palermo.

 

Dengan sukacita, saya menyapa beberapa kelompok orang muda yang bersiap menerima Sakramen Krisma: dari Berceto, Keuskupan Parma; dari Tuto, Keuskupan Florence; dari Torre Maina dan Gorzano, Keuskupan Modena-Nonantola. Saya juga menyapa orang muda dari Paroki Santo Gregorius Agung Roma, serta Paroki Capriano del Colle dan Paroki Azzano Mella, Keuskupan Brescia.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Maret 2026)


WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 11 Maret 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 3. GEREJA, UMAT ALLAH

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Melanjutkan refleksi kita tentang Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium (LG), hari ini kita akan membahas bab kedua, yang dikhususkan untuk Umat Allah.

 

Allah, yang menciptakan dunia dan umat manusia, dan yang ingin menyelamatkan setiap manusia, melaksanakan karya keselamatan-Nya dalam sejarah, sungguh memilih suatu umat dan berdiam di antara mereka. Karena alasan inilah, Ia memanggil Abraham dan menjanjikan kepadanya keturunan sebanyak bintang di langit dan pasir di tepi laut (bdk. Kej 22:17-18). Dengan anak-anak Abraham, setelah membebaskan mereka dari perbudakan, Allah mengadakan perjanjian dengan mereka, serta menyertai, memelihara, dan mengumpulkan mereka kembali setiap kali mereka tersesat. Oleh karena itu, jati diri umat ini diberikan berkat tindakan Allah dan beriman kepada-Nya. Mereka dipanggil untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain, seperti mercusuar yang akan menarik semua bangsa, seluruh umat manusia, kepada diri-Nya (bdk. Yes 2:1-5).

 

Konsili menegaskan bahwa “Semua telah terjadi untuk menyiapkan dan melambangkan perjanjian baru dan sempurna, yang akan diadakan dalam Kristus, dan demi perwahyuan lebih penuh yang akan disampaikan melalui Sabda Allah sendiri yang menjadi daging” (LG, 9). Sesungguhnya, Kristuslah yang, dengan memberikan tubuh dan darah-Nya, mempersatukan umat ini di dalam diri-Nya secara definitif. Kini umat tersebut mencakup seluruh bangsa; dipersatukan berkat iman kepada-Nya, ketaatan kepada-Nya, hidup yang sama seperti Dia, dijiwai oleh Roh Kristus bangkit. Inilah Gereja: umat Allah yang memperoleh keberadaannya dari tubuh Kristus[1] dan mereka sendiri adalah tubuh Kristus;[2] bukan umat seperti umat lainnya, tetapi Umat Allah, yang dipanggil bersama oleh-Nya dan mencakup seluruh bangsa manusia di bumi. Prinsip pemersatu Gereja bukanlah bahasa, budaya, etnis, melainkan iman kepada Kristus: oleh karena itu, Gereja – menurut ungkapan yang luar biasa dari Konsili – adalah kumpulan “semua orang yang beriman mengarahkan pandangan kepada Yesus” (LG, 9).

 

Umat Allah adalah umat mesianik, justru karena Kristus, Sang Mesias, adalah kepala mereka. Mereka yang menjadi bagiannya tidak membanggakan jasa atau gelar, tetapi hanya pada karunia keberadaan, di dalam Kristus dan melalui Dia, sebagai anak-anak Allah. Oleh karena itu, melebihi tugas atau fungsi apa pun, dicangkokkan ke dalam Kristus, menjadi anak-anak Allah berkat rahmat, benar-benar penting dalam Gereja. Ini juga satu-satunya gelar kehormatan yang harus kita usahakan sebagai umat kristiani. Kita berada di dalam Gereja untuk menerima hidup dari Bapa tanpa henti dan hidup sebagai anak-anak-Nya dan saudara-saudari di antara kita. Akibatnya, hukum yang menghidupkan hubungan dalam Gereja adalah kasih, sebagaimana kita terima dan alami dalam Yesus; dan tujuannya adalah Kerajaan Allah, yang ke arahnya Gereja berjalan bersama dengan seluruh umat manusia.

 

Bersatu dalam Kristus, Tuhan dan Juruselamat semua orang, Gereja tidak pernah dapat menutup diri, tetapi terbuka bagi dan untuk setiap orang. Jika orang percaya kepada Kristus termasuk di dalamnya, Konsili mengingatkan kita bahwa “Semua orang dipanggil kepada Umat Allah yang baru. Maka umat itu, yang tetap satu dan tunggal, harus disebarluaskan ke seluruh dunia dan melalui segala abad, supaya terpenuhilah rencana kehendak Allah, yang pada awal mula menciptakan satu kodrat manusia, dan menetapkan untuk akhirnya menghimpun dan mempersatukan lagi anak-anak-Nya yang tersebar” (LG, 13). Bahkan mereka yang belum menerima Injil pun, dengan cara tertentu, terarah kepada umat Allah, dan Gereja, yang bekerja sama dalam misi Kristus, dipanggil untuk menyebarkan Injil di mana-mana dan kepada setiap orang (bdk. LG 17), sehingga setiap orang dapat berhubungan dengan Kristus. Ini berarti bahwa di dalam Gereja ada, dan harus ada, tempat bagi setiap orang, dan setiap umat kristiani dipanggil untuk mewartakan Injil dan memberi kesaksian di setiap lingkungan tempat ia tinggal dan bekerja. Dengan demikian, bangsa ini menunjukkan kekatolikannya, menerima kekayaan dan sumber daya dari berbagai budaya dan, pada saat yang sama, menawarkan kepada mereka kebaruan Injil untuk menyucikan dan mengangkat mereka (bdk. LG, 13).

 

Dalam hal ini, Gereja adalah satu tetapi mencakup semua orang. Seorang teolog besar menggambarkannya demikian: “Bahtera Keselamatan yang unik harus menyambut segenap keragaman manusia ke dalam ruang utamanya yang luas. Satu-satunya ruang perjamuan, makanan yang dibagikannya diambil dari seluruh ciptaan. Pakaian Kristus yang tanpa jahitan, juga – dan hal yang sama – pakaian Yusuf, dengan banyak warnanya”.[3]

 

Memahami Gereja adalah umat di mana semua orang dari berbagai bangsa, bahasa, dan budaya hidup bersama dalam iman – terutama di zaman kita, yang dilanda begitu banyak konflik dan perang – merupakan tanda pengharapan yang besar: tanda yang ditempatkan di jantung kemanusiaan, pengingat dan nubuat tentang persatuan dan perdamaian yang diserukan Allah Bapa kepada semua anak-Nya.

 

[Imbauan]

 

Hari ini di Qlayaa, Lebanon, pemakaman Pastor Pierre El Raii, Pastor Paroki Maronit dari salah satu pedesaan kristiani di Lebanon selatan, sedang dirayakan. Pedesaan ini sekali lagi mengalami tragedi perang. Saya turut berduka cita bersama seluruh rakyat Lebanon di masa-masa sulit ini.

 

Dalam bahasa Arab, “El Raii” berarti “gembala”. Pastor Pierre adalah gembala sejati, yang selalu berada di samping umatnya, dengan kasih dan pengurbanan Yesus Sang Gembala yang baik. Begitu mendengar bahwa beberapa umatnya terluka dalam pemboman, ia bergegas membantu mereka tanpa ragu-ragu. Semoga Tuhan menganugerahkan darah yang ditumpahkannya menjadi benih perdamaian bagi Lebanon tercinta.

 

Saudara-saudari terkasih, marilah kita terus mendoakan perdamaian di Iran dan seluruh Timur Tengah, terutama banyak korban sipil, termasuk banyak anak-anak yang tidak bersalah. Semoga doa kita menjadi penghibur bagi mereka yang menderita dan benih pengharapan untuk masa depan.

 

[Sapaan khusus]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, kita merefleksikan karya penyelamatan Allah dalam sejarah dengan memilih suatu umat sebagai milik-Nya. Ia membuat perjanjian dengan Abraham dan memanggil umat-Nya untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain. Dengan cara ini, Ia menubuatkan perjanjian baru dan sempurna dalam Yesus Kristus. Dengan wafat dan kebangkitan-Nya, Yesus mengumpulkan semua bangsa, laki-laki dan perempuan dari berbagai bangsa, bahasa, dan budaya ke dalam mempelai-Nya, Gereja. Gereja adalah umat Allah yang baru, yang dipersatukan oleh iman dan dijiwai oleh kasih Kristus untuk mewartakan Injil kepada seluruh dunia. Kita pun, sebagai anggota Gereja, dipanggil untuk menjadi tanda-tanda pengharapan dan menyebarkan pesan Bapa, yang ingin mengumpulkan semua anak-anak-Nya kepada diri-Nya.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Denmark, Australia, dan Amerika Serikat. Seraya mendoakan dan mengharapkan Masa Prapaskah ini menjadi masa rahmat dan pembaruan rohani bagimu dan keluargamu, saya memohonkan atas kamu semua sukacita dan damai dalam Tuhan kita Yesus Kristus.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 11 Maret 2026)



[1] Bdk. J. Ratzinger, Umat Allah yang Baru, Brescia 1992, 97.

[2] Bdk. Y. M.J. Congar, Umat Mesianik, Brescia 1976, 75.

[3] Bdk. H. de Lubac, Katolisisme: Sebuah Studi Tentang Dogma Dalam Kaitannya Dengan Takdir Bersama Umat Manusia (Catholicisme: Les aspects sociaux du dogme).

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 8 Maret 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

 

Sejak abad-abad pertama sejarah Gereja, dialog antara Yesus dan perempuan Samaria, penyembuhan orang yang buta sejak lahirnya, dan kebangkitan Lazarus menerangi jalan orang-orang yang, pada Paskah, akan menerima baptisan dan memulai hidup baru. Keagungan perikop-perikop Injil ini, yang kita baca mulai hari Minggu ini, dimaksudkan untuk membantu para katekumen dalam perjalanan mereka menjadi umat kristiani. Pada saat yang sama, perikop-perikop ini didengarkan kembali oleh seluruh komunitas orang percaya untuk membantu mereka menjadi umat kristiani yang lebih otentik dan penuh sukacita.

 

Sesungguhnya, Yesus adalah jawaban atas kehausan kita. Sebagaimana yang Ia sampaikan kepada perempuan Samaria, perjumpaan dengan-Nya membangkitkan di kedalaman setiap orang “mata air yang yang terus menerus memancar sampai pada hidup yang kekal” (Yoh 4:14). Betapa banyak orang di seluruh dunia yang bahkan hingga hari ini mencari mata air rohani ini! “Kadang-kadang aku juga ada di sana,” tulis Etty Hillesum muda dalam buku hariannya. “Tetapi lebih sering batu dan kerikil menyumbat sumur, dan Allah terkubur di bawahnya. Kemudian Ia harus digali kembali.”[1] Sahabat-sahabatku, tidak ada energi yang lebih baik digunakan selain yang didedikasikan untuk membebaskan hati kita. Karena alasan ini, masa Prapaskah adalah sebuah anugerah: kita memulai pekan ketiga dan sekarang kita dapat mengintensifkan perjalanan ini!

 

Tertulis juga dalam Bacaan Injil bahwa: “Datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan” (Yoh 4:27). Mereka enggan menerima misi-Nya sebagai misi mereka sendiri, sehingga Sang Guru harus mendorong mereka: “Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Namun, Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang sudah menguning dan matang untuk dituai” (Yoh 4:35). Tuhan masih mengatakan kepada Gereja-Nya: “Angkatlah matamu dan kenalilah kejutan-kejutan Allah!” Di ladang, empat bulan sebelum musim menuai, orang praktis tidak melihat apa pun. Tetapi di sana, di tempat kita tidak melihat apa pun, rahmat sudah bekerja dan buah-buahnya siap untuk dipetik. Tuaian melimpah: mungkin pekerjanya sedikit karena mereka teralihkan oleh kegiatan lain. Yesus, di sisi lain, penuh perhatian. Menurut kebiasaan, Ia seharusnya mengabaikan perempuan Samaria itu; namun, Yesus bercakap-cakap dengannya, mendengarkannya, dan menunjukkan rasa hormat kepadanya – tanpa agenda tersembunyi dan tanpa memandang rendah.

 

Alangkah banyak orang dalam Gereja juga mencari kepekaan ini, ketersediaan ini! Dan alangkah indahnya ketika kita meluangkan waktu untuk memberikan perhatian kepada orang yang sedang kita jumpai, sebagaimana kita lihat dalam perikop ini. Secara rohani Yesus sangat dipenuhi keinginan Allah untuk menjangkau orang-orang di tingkat terdalam sehingga Ia bahkan lupa makan (bdk. Yoh 4:34). Dengan demikian, perempuan Samaria tersebut menjadi perempuan penginjil pertama. Karena kesaksiannya, banyak orang dari desanya yang dipandang rendah dan ditolak datang untuk berjumpa Yesus, dan di dalam diri mereka juga iman mengalir seperti air murni.

 

Saudara-saudari, hari ini marilah kita memohon kepada Maria, Bunda Gereja, agar dapat melayani, bersama Yesus dan seperti Yesus, menjadi orang-orang yang haus akan kebenaran dan keadilan. Ini bukanlah waktu untuk mempertentangkan satu gereja dengan gereja lain, "kita" dengan "mereka": orang-orang yang menyembah Allah berusaha untuk menjadi orang-orang pecinta damai, yang menyembah Dia dalam roh dan kebenaran (bdk. Yoh 4:23-24).

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kabar yang sangat mengkhawatirkan terus berdatangan dari Iran dan seluruh Timur Tengah. Selain episode kekerasan dan kehancuran serta iklim kebencian dan ketakutan yang meluas, ada juga kekhawatiran bahwa konflik akan menyebar dan negara-negara lain di kawasan itu, termasuk Lebanon tercinta, mungkin akan kembali terjerumus ke dalam ketidakstabilan.

 

Kita memanjatkan doa yang tulus kepada Tuhan, agar suara gemuruh bom berhenti, senjata-senjata terdiam, dan tercipta ruang untuk dialog di mana suara rakyat dapat didengar. Saya mempercayakan ujud ini kepada Bunda Maria, Ratu Perdamaian, agar ia menjadi perantara orang-orang yang menderita karena perang dan menuntun hati menuju jalan rekonsiliasi dan harapan.

 

Hari ini, 8 Maret, adalah Hari Perempuan Sedunia. Kita memperbarui komitmen kita, yang bagi kita umat kristiani berlandaskan Injil, untuk mengakui kesetaraan martabat laki-laki dan perempuan. Sayangnya, banyak perempuan, sejak kecil hingga dewasa, masih mengalami diskriminasi dan menderita berbagai bentuk kekerasan. Secara khusus, saya menyampaikan solidaritas dan doa saya kepada mereka.

 

Saya menyapa para mahasiswa dari College Station Texas, Kansas City (Missouri), dan Fort Wayne (Indiana) Amerika Serikat, serta dari Jerez dan Cádiz, Spanyol, dan juga kelompok-kelompok peziarah dari Peru, Panama, Honduras, Meksiko, dan Chili.

 

Saya menyapa umat Brescia, Castrolibero, Gravina di Puglia, Perugia, dan Paroki San Clemente Papa dan San Pio da Pietrelcina, Roma.

 

Saya menyapa komunitas “Casa di Maria” Roma, kelompok calon penerima Sakramen Krisma Keuskupan Orvieto-Todi, anak-anak dari Mantova, dan tim rugby dari Rovigo.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu yang penuh berkah kepada semuanya.

__________________________ ____

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Maret 2026)



[1]Etty Hillesum, Buku Harian, London 1985, 58-59.

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 4 Maret 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 2. GEREJA,, KENYATAAN YANG KASAT MATA DAN SPIRITUAL

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Hari ini, kita akan melanjutkan menelusuri Konstitusi Konsili Vatikan II Lumen Gentium, sebuah konstitusi dogmatis tentang Gereja.

 

Pada bab pertama, yang terutama dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan tentang apa itu Gereja, Gereja digambarkan sebagai "satu kenyataan yang kompleks" (no. 8). Sekarang kita bertanya pada diri sendiri: apa yang dimaksud dengan kompleksitas ini? Beberapa mungkin menjawab bahwa Gereja kompleks karena 'rumit' dan karena itu sulit dijelaskan; yang lain mungkin berpikir bahwa kompleksitasnya berasal dari fakta bahwa Gereja adalah sebuah lembaga yang sarat dengan sejarah dua ribu tahun, dengan karakteristik yang berbeda dari kelompok sosial atau agama lainnya. Namun, dalam bahasa Latin, kata 'kompleks' lebih menunjukkan kesatuan yang teratur dari berbagai aspek atau dimensi dalam satu kenyataan yang sama. Karena alasan ini, Lumen Gentium dapat menegaskan bahwa Gereja adalah tubuh yang terorganisir dengan baik, di mana dimensi manusiawi dan ilahi hidup berdampingan tanpa pemisahan dan tanpa kebingungan.

 

Dimensi pertama langsung terlihat, yaitu Gereja adalah komunitas orang-orang yang berbagi sukacita dan perjuangan menjadi orang kristiani, dengan kekuatan dan kelemahan mereka, mewartakan Injil dan menjadi tanda kehadiran Kristus yang menyertai kita dalam perjalanan hidup kita. Namun aspek ini – yang juga terlihat dalam organisasi kelembagaannya – tidak cukup untuk menggambarkan hakikat Gereja yang sesungguhnya, karena Gereja juga memiliki dimensi ilahi. Dimensi ilahi ini bukan berupa kesempurnaan ideal atau keunggulan spiritual para anggotanya, melainkan kenyataan bahwa Gereja dibentuk oleh rencana Allah bagi umat manusia, yang terwujud dalam Kristus.

Oleh karena itu, Gereja sekaligus merupakan komunitas duniawi dan tubuh mistik Kristus, jemaat yang kasat mata dan misteri rohani, satu kenyataan yang hadir dalam sejarah dan suatu umat yang sedang menuju surga (LG, 8; CCC, 771).

Dimensi manusiawi dan ilahi terintegrasi secara harmonis, tanpa satu menutupi yang lain; demikianlah Gereja hidup dalam paradoks ini. Gereja adalah satu kenyataan yang sekaligus manusiawi dan ilahi, yang menerima manusia berdosa dan menuntunnya kepada Allah.

  

Untuk menjelaskan kondisi gerejawi ini, Lumen Gentium merujuk pada kehidupan Kristus. Faktanya, orang-orang yang bertemu Yesus di sepanjang jalan Palestina mengalami kemanusiaan-Nya, mata-Nya, tangan-Nya, suara-Nya. Mereka yang memutuskan untuk mengikuti-Nya tergerak justru oleh pengalaman tatapan-Nya yang menyambut, sentuhan tangan-Nya yang memberkati, kata-kata pembebasan dan penyembuhan-Nya. Namun, pada saat yang sama, dengan mengikuti Manusia itu, para murid membuka diri untuk bertemu Allah. Sesungguhnya, daging Kristus, wajah-Nya, tingkah laku-Nya dan kata-kata-Nya secara nyata mewujudkan Allah yang tak kasat mata.

 

Dalam terang kenyataan Yesus, kita sekarang dapat kembali kepada Gereja: ketika kita melihatnya dengan saksama, kita menemukan dimensi manusiawi yang terdiri dari orang-orang nyata, yang terkadang mewujudkan keindahan Injil dan di lain waktu berjuang dan membuat kesalahan seperti orang lain. Namun, justru melalui anggota-anggotanya dan aspek-aspek duniawinya yang terbatas itulah kehadiran Kristus dan tindakan penyelamatan-Nya terwujud. Sebagaimana dikatakan Paus Benediktus XVI, tidak ada pertentangan antara Injil dan lembaga; Sebaliknya, struktur Gereja justru berfungsi untuk “mewujudnyatakan Injil di zaman kita” (Wejangan kepada Para Uskup Swiss, 9 November 2006). Gereja yang ideal dan murni, terpisah dari dunia, tidak ada; hanya Gereja Kristus yang satu, yang terwujud dalam sejarah.

 

Inilah yang membentuk kekudusan Gereja: kenyataannya, Kristus berdiam di dalamnya dan terus memberikan diri-Nya melalui kelemahan dan kerapuhan anggota-anggotanya. Dengan merenungkan mukjizat abadi yang terjadi di dalamnya, kita memahami ‘metode Allah’: Ia membuat diri-Nya kasat mata melalui kelemahan ciptaan, terus menyatakan diri-Nya dan bertindak. Karena alasan ini, Paus Fransiskus, dalam Evangelii Gaudium, mengajak kita semua untuk belajar ““melepaskan alas kaki kita di depan tanah kudus orang lain (bdk. Kel. 3:5)” (no. 169). Hal ini memungkinkan kita hingga hari ini untuk membangun Gereja: bukan hanya dengan mengatur bentuk-bentuknya yang kasat mata, tetapi dengan membangun bangunan rohani yang merupakan tubuh Kristus, melalui persekutuan dan kasih di antara kita.

 

Sesungguhnya, kasih terus-menerus menghasilkan kehadiran Yesus yang bangkit. “Sekiranya kita semua dapat memusatkan pikiran kita pada satu hal saja, yaitu kasih! Itulah satu-satunya hal, kamu lihat, yang melampaui segala sesuatu, dan tanpanya segala sesuatu menjadi tidak berarti, dan yang menarik segala sesuatu kepada dirinya sendiri, di mana pun ia berada” (Khotbah 354, 6, 6).

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, India, Filipina, Singapura, Vietnam, dan Amerika Serikat. Dengan doa dan harapan baik agar masa Prapaskah ini menjadi masa rahmat dan pembaruan rohani bagimu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai dalam Tuhan kita Yesus Kristus bagi kamu semua.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang Konsili Vatikan II, hari ini kita menelaah misteri dimensi manusiawi dan ilahi Gereja sebagaimana disajikan Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium. Sama seperti kemanusiaan Yesus langsung kasat mata bagi mereka yang berjalan di sisi-Nya, demikian pula dimensi manusiawi Gereja mudah dipahami: Gereja adalah komunitas orang-orang yang, dengan karunia dan kekurangan mereka, berupaya mewartakan Injil dalam struktur yang kasat mata. Namun, mereka yang mengikuti Yesus lebih dekat menyadari bahwa kemanusiaan-Nya — pandangan kasih-Nya, tindakan belas kasih-Nya, dan sabda-Nya yang penuh kuasa — menampilkan keilahian-Nya, yang menuntun mereka kepada keselamatan. Dengan cara yang sama, melalui dimensi Gereja yang kasat mata dan manusiawi, roh Kristus dan tindakan penyelamatan-Nya hadir dan aktif di dunia. Marilah kita berupaya menjadi saksi sejati kasih Kristus sehingga semua orang dapat mengenali dalam diri kita dan di antara kita kasih yang menjadi ciri khas orang kristeia isejati dan membangun Gereja.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 4 Maret 2026)