Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 2 SEPTEMBER 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. IV. KONSTITUSI PASTORAL GAUDIUM ET SPES (GS 1–10). 1. GEREJA: MENDENGARKAN DAN MELAYANI DUNIA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Melalui pertemuan hari ini, kita akan mulai merefleksikan Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, dokumen yang melaluinya Konsili Vatikan II bermaksud memusatkan perhatian pada sebuah tema dasariah, yakni hubungan antara Gereja dan dunia dewasa ini. Santo Yohanes XXIII, sejak pidato pembukaannya pada tanggal 11 Oktober 1962, telah berupaya menanggapi pandangan para "nabi malapetaka" yang, "meskipun memiliki semangat keagamaan yang berkobar-kobar [...], terus-menerus mengatakan bahwa zaman kita ini — jika dibandingkan dengan abad-abad lampau — jauh lebih buruk; bahkan mereka bertindak seolah-olah tidak ada pelajaran yang bisa dipetik dari sejarah" (Wejangan Gaudet Mater Ecclesia, 11 Oktober 1962, 4.2). Oleh karena itu, inilah tugas yang dipercayakan kepada para Bapa Konsili: "Dalam situasi peristiwa manusiawi saat ini, di mana umat manusia tampaknya sedang memasuki tatanan baru, kita justru harus melihat rencana misterius Penyelenggaraan Ilahi; rencana yang pada waktunya akan digenapi melalui karya manusiawi — sering kali melampaui harapan mereka sendiri — dan yang dengan penuh kebijaksanaan mengatur segala sesuatu, bahkan peristiwa-peristiwa manusiawi yang merugikan sekalipun, demi kebaikan Gereja" (Gaudet Mater Ecclesia, 4.4).

 

Tiga tahun kemudian, promulgasi Gaudium et Spes mengakui adanya unsur hakiki dalam jati diri Gereja melalui pemahaman ini, dengan menggambarkan karakter pastoralnya sebagai sesuatu yang konstitutif; itulah sebabnya dokumen ini disebut sebagai "Konstitusi pastoral". Bukan soal optimisme yang naif, melainkan kesetiaan yang diperbarui terhadap misteri Kristus yang, melalui inkarnasi, memilih untuk ambil bagian dalam kehidupan kita: Ia menjadikan diri-Nya "disamakan dengan saudara-saudara-Nya dalam segala hal" (Ibr 2:17; bdk. 4:15) dan menanggung sendiri akibat dosa, dengan wafat "sebagai tebusan bagi semua manusia" (1 Tim 2:6). Persekutuan dalam kemanusiaan kita ini merupakan jalan yang dikehendaki Kristus untuk ditempuh oleh Gereja; oleh karena itu, Konstitusi Konsili Gaudium et Spes diawali dengan pernyataan bahwa Gereja turut merasakan "kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita" (GS 1).

 

Persekutuan ini menuntut kita untuk meninggalkan segala sikap pasif dan ketidakpedulian dalam menghadapi peristiwa terkini, sejarah, dan kehidupan sesama, khususnya di hadapan perubahan yang cepat dan mendalam yang kita alami saat ini. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton yang acuh tak acuh; sebaliknya, kita harus mendengarkan dengan hati, membiarkan diri kita ditantang, dan melibatkan diri secara aktif. Bersama Kristus dan ditopang oleh kuasa Roh-Nya, umat beriman dipanggil untuk memikul beban saudara-saudari mereka, terutama mereka yang tertindas oleh ketidakadilan, diskriminasi, dan kekerasan. Sesungguhnya, hanya melalui semangat berbagi dan berkomitmen kita dapat menemukan tanggapan yang tepat, yang senantiasa didukung oleh keyakinan bahwa "penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita" (Rm 8:18).

Dalam kaitan ini, kedekatan dengan umat manusia membuka jalan menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang berbagai peristiwa dan tentang Wahyu itu sendiri; dan, dalam semangat yang sama, Gaudium et Spes mengingatkan bahwa “Gereja selalu wajib menyelidiki tanda-tanda zaman dan menafsirkannya dalam cahaya Injil” (GS 4). Oleh karena itu, Konstitusi Konsili Vatikan II ini mengajak Gereja untuk berkomitmen terus-menerus pada pertobatan, guna memberikan kesaksian bahwa Gereja tidak didorong oleh “ambisi duniawi”, melainkan mengupayakan “hanya satu maksud: yakni, dengan bimbingan Roh Penghibur melangsungkan karya Kristus sendiri, yang datang ke dunia untuk memberi kesaksian akan kebenaran; untuk menyelamatkan, bukan untuk mengadili; untuk melayani, bukan untuk dilayani” (GS, 3).

 

Hal ini sesungguhnya bukan sekadar tuntutan moral. Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa bagi Gereja, “keberpihakan pada orang-orang miskin pada pokoknya adalah kategori teologis daripada kategori budaya, sosiologis, politis atau filosofis ... Kita dipanggil untuk menemukan Kristus di dalam diri mereka, untuk meminjamkan suara kita bagi perkara-perkara mereka, tetapi juga menjadi sahabat-sahabat mereka, mendengarkan mereka, memahami mereka dan menerima hikmat tersembunyi yang ingin disampaikan Allah kepada kita melalui mereka” (Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 198).

 

Solidaritas Kristiani menuntut kita untuk terlibat dengan kenyataan sekaligus menyingkapkan kontradiksi yang mencirikan kehidupan pribadi dan sosial di dunia dewasa ini: misalnya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus-menerus menawarkan berbagai kemungkinan baru — namun hanya bagi sebagian orang — dan yang tidak selalu mampu "mengabdikannya kepada dirinya. Ia berusaha menyelami secara makin mendalam rahasia batin jiwanya sendiri, namun acap kali nampak kurang pasti tentang dirinya. Lambat laun ia makin jelas menemukan hukum-hukum hidup kemasyarakatan, tetapi sering ragu-ragu tentang bagaimana mengarahkannya ... Tidak pernah bangsa manusia begitu berlimpah harta-kekayaan, kemungkinan-kemungkinan serta kekuatan ekonominya; akan tetapi sebagian masih sangat besar penghuni dunia tersiksa karena kelaparan dan kekurangan" (GS 4); atau kesadaran bersama bahwa masa depan planet ini sedang dipertaruhkan, dibarengi dengan ketidakmampuan untuk melepaskan pola konsumsi yang egois serta khayalan bahwa perang merupakan sarana efektif untuk membangun perdamaian.

 

Di tengah masa yang ditandai oleh perubahan mendalam yang menimbulkan kesenjangan yang mengkhawatirkan, Gereja dipanggil untuk melayani pribadi manusia; Gereja mendengarkan dan menyambut pertanyaan-pertanyaan terdalam hati mereka serta kerinduan yang bersemayam di dalamnya, seraya menunjuk kepada Kristus sebagai "kunci, pusat dan tujuan seluruh sejarah manusia" (GS 10). Oleh karena itu, di dalam Gereja — pada setiap tingkatan dan zaman — perlu diwujudkan kenosis (pengosongan diri) Kristus yang penuh belas kasih; Ia "tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba ... dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Flp 2:6–8).

 

Saudara-saudari terkasih, semoga sukacita dan harapan – Gaudium et Spes – menjadi ciri khas Gereja yang mewartakan dan menjadi saksi Injil, seraya mendekatkan diri kepada sesama di zaman kita.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang hadir dalam Audiensi hari ini, khususnya mereka yang datang dari Inggris, Skotlandia, Malta, Kanada, dan Amerika Serikat. Secara khusus, saya menyambut delegasi dari Interreligious Platform for Dialogue and Cooperation in the Arab World (Platform Antaragama untuk Dialog dan Kerja Sama di Dunia Arab). Seraya menyampaikan penghargaan yang mendalam atas karya Pusat Internasional Raja Abdullah bin Abdulaziz untuk Dialog Antaragama dan Antarbudaya, saya mendoakan keberhasilan pembahasanmu, serta meyakinkan kamu akan kedekatan rohani saya selama hari-hari ini. Bagi kamu masing-masing beserta keluarga, saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari yang terkasih, dalam lanjutan rangkaian katekese kita mengenai dokumen-dokumen Konsili Vatikan II, hari ini kita mulai merefleksikan Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes. Dokumen ini berfokus pada tanggung jawab pastoral Gereja untuk terlibat dengan dunia masa kini — turut merasakan suka dan dukanya — serta menyerukan komitmen untuk bertobat, menjadi saksi karya Kristus, dan membela kaum miskin serta mereka yang terpinggirkan. Gereja juga harus peka terhadap tanda-tanda zaman dan menafsirkannya dalam terang Injil, sehingga dapat menanggapi berbagai persoalan mendesak, seperti kemajuan teknologi yang hanya menguntungkan segelintir pihak dan masih maraknya kemiskinan yang meluas. Di zaman kita saat ini, yang ditandai oleh perubahan mendalam dan banyaknya ketidakadilan, kita masing-masing dipanggil untuk mengambil peran dalam menyambut serta mendengarkan pertanyaan dan kerinduan terdalam hati manusia, seraya menghadirkan kasih Kristus, Sang Juruselamat, yang maharahim bagi semua orang.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 2 September 2026]

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 30 Agustus 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat siang dan selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil hari ini mengisahkan bagaimana Yesus menyingkapkan kepada para murid-Nya misteri sengsara yang akan Ia alami. Mesias, Ia mengatakan, harus "pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga" (Mat 16:21).

 

Apa yang Ia katakan sangat jauh berbeda dari harapan mereka akan sosok Mesias yang gagah perkasa, yang dengan pertolongan-Nya mereka akan mengalahkan dan menginjak-injak lawan-lawan mereka (bdk. Mzm. 108:13). Selama bersama Dia, mereka sebenarnya sudah dibuat takjub oleh begitu banyak perbuatan dan perkataan-Nya. Namun, pesan terbaru ini sungguh melampaui segala dugaan. Secara khusus, Petrus menyatakan ketidaksetujuannya dan menegur Yesus dengan berkata, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau" (ayat 22).

 

Tak lama sebelumnya, Petrus telah mengakui Dia sebagai "Mesias, Anak Allah yang hidup" (ayat 16). Akan tetapi kini, karena terkejut dan mungkin kecewa mendengar hal itu, ia justru menegur Yesus — sebuah tindakan yang sangat kontras dengan pengakuan iman yang indah yang baru saja ia ucapkan. Ia seolah-olah berkata, "Ya, aku percaya Engkau adalah Mesias, tetapi bukan dengan cara itulah dunia diselamatkan." Sikapnya itu merupakan luapan semangat yang tentu didasari oleh kasih yang tulus, namun hal itu tetap memberikan kita bahan untuk direnungkan.

 

Bagi kita pun, sesungguhnya tidaklah selalu mudah untuk memahami dan menerima cara Allah, terutama ketika cara itu sangat jauh berbeda dari cara kita. Saat itulah muncul godaan — yang bertentangan dengan segala penalaran iman — untuk berpikir bahwa Tuhan yang keliru, atau lebih buruk lagi, bahwa Ia tidak mendengarkan atau tidak peduli terhadap kita. Di tengah ketidakpastian ini, Petrus — terlepas dari sifatnya yang impulsif — mengajarkan kita dua hal penting.

 

Hal pertama, bahkan pada saat-saat seperti itu, kita jangan pernah berhenti berdialog dengan Tuhan. Sebaliknya, kita hendaknya dengan penuh keyakinan menyampaikan kepada-Nya kesulitan kita dalam memahami apa yang Ia minta dari kita.

 

Hal kedua, jangan pernah menghakimi karya Allah, melainkan dengan rendah hati dan penuh doa mendengarkan apa yang Ia nyatakan kepada kita melalui tindakan-tindakan-Nya, bahkan ketika hal-hal tersebut tidak sesuai dengan harapan kita.

 

Keagungan rasul yang pertama itu juga tampak jelas dalam hal ini.

 

Yesus menjawab, "Enyahlah, Iblis!" (ayat 23), dan menjelaskan kepada Petrus serta murid-murid lainnya bahwa untuk mengikuti jejak-Nya, mereka harus menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Dia (bdk. ayat 24). Petrus benar-benar melakukan hal itu: setelah mendengarkan-Nya, ia menerima tantangan tersebut dan tetap setia pada perkataan Kristus — yang telah diakuinya sebagai Penebusnya — sepanjang sisa hidupnya, bahkan hingga kemartirannya.

 

Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Tuhan agar kita pun, dalam kehidupan iman dan doa kita, memiliki ketulusan yang sama seperti Petrus — dengan rendah hati mengungkapkan kepada Yesus apa yang sungguh kita rasakan, bahkan saat hati kita sedang diliputi kebingungan. Pada saat yang sama, semoga kita dapat membina sikap terbuka dan taat seperti Petrus dalam menerima apa yang diminta Yesus dari kita, yang sering kali melampaui harapan kita.

 

Semoga Bunda Maria menolong kita, sebab ia taat pada rencana Allah bahkan saat berada di kaki salib Putranya, Yesus.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari sekalian,

 

Berita tragis datang dari Haiti mengenai pembantaian mengerikan yang terjadi di Kenscoff, di mana banyak orang kehilangan nyawa dan yang lainnya disandera. Saya menyatakan kedekatan batin saya dengan para korban beserta keluarga mereka, dan menyerukan pembebasan segera bagi semua sandera. Saya menyampaikan seruan yang sungguh-sungguh kepada semua pihak yang memegang otoritas untuk mengambil langkah-langkah nyata demi menjamin keselamatan penduduk dan mengakhiri segala bentuk kekerasan.

 

Saya kembali memanjatkan doa bagi mereka yang terdampak banjir dahsyat yang melanda Nepal dan Tibet. Marilah kita berdoa bagi mereka yang kehilangan nyawa, yang terluka dan hilang, serta keluarga dan para petugas penyelamat. Semoga kepedulian semua pihak dapat membantu meringankan penderitaan dan menyalurkan bantuan yang dibutuhkan oleh masyarakat yang terdampak.

 

Marilah kita terus berdoa demi perdamaian. Santo Agustinus, yang pesta peringatannya kita rayakan beberapa hari yang lalu, mengatakan bahwa perdamaian itu “ibarat roti ajaib yang diperbanyak di tangan para murid saat mereka memecah-mecah dan membagikannya” (Sermo 357, 2). Semoga semakin banyak orang di dunia ini yang dengan berani memecah-mecahkan dan membagikan roti perdamaian, mengatasi perpecahan, menegakkan keadilan, serta mempraktikkan pengampunan demi kebaikan bersama.

 

Pada hari Selasa, kita merayakan Hari Doa Sedunia untuk Kepedulian terhadap Ciptaan. Perayaan ini menandai dimulainya Masa Penciptaan — yang diperingati oleh umat Kristiani dari berbagai denominasi — dengan tema tahun ini: "Air Hidup." Sebagaimana saya sampaikan dalam pesan untuk Hari Doa Sedunia untuk Kepedulian terhadap Ciptaan, memelihara rumah kita bersama menuntut pertobatan hati, agar apa yang selama ini digunakan untuk mendatangkan kehancuran dapat diarahkan demi kehidupan. Saya mengajak semua orang untuk bersatu dalam doa dan tindakan, agar kita dapat menjadi saluran air hidup damai sejahtera Allah yang menyegarkan dunia kita yang terluka.

 

Saya menyapa kamu semua: umat di Castel Gandolfo dan para peziarah dari berbagai negara. Secara khusus, saya menyapa para peserta acara amal "Run to Rome," kaum muda yang telah menempuh rute ziarah *Via Lucis*, kelompok devosan Bunda Maria dari Mukjizat Corbetta, serta para pengendara sepeda motor yang hadir untuk pertemuan tahunan mereka.

 

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada aparat penegak hukum dan semua pihak yang telah membantu kelancaran masa tinggal saya di Castel Gandolfo selama musim panas ini, serta mereka yang bertanggung jawab atas keamanan selama pertemuan saya dengan para peziarah. Terima kasih banyak!

 

Saya juga menyampaikan salam hangat kepada umat yang mengikuti doa Malaikat dari Lapangan Santo Petrus.

Selamat hari Minggu bagi kamu semua!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 30 Agustus 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 26 AGUSTUS 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. III. KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM. 8. MOTIVASI PEMBAHARUAN LITURGI

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Dalam katekese terakhir mengenai Konstitusi Sacrosanctum Concilium ini, hari ini saya ingin menyoroti alasan-alasan mengapa para Bapa Konsili berupaya mendorong pembaruan liturgi. Dalam kaitan ini, surat ketiga dari Konsili — yang dikirimkan oleh Giovanni Battista Kardinal Montini (yang kala itu menjabat sebagai Uskup Agung Milan) pada tanggal 28 Oktober 1962 kepada umat di keuskupannya — memberikan pencerahan yang istimewa. Liturgi, tulisnya, “merupakan ungkapan tulus dari unsur ilahi sekaligus manusiawi. Liturgi adalah bahasa. Di satu sisi, liturgi menjadi sarana bagi pengajaran ilahi; di sisi lain, liturgi menjadi suara dalam dialog dengan Allah. Jelaslah bahwa liturgi tidak dapat melepaskan fungsi didaktisnya, dan juga tidak boleh gagal memberikan kesempatan bagi iman dan kesalehan untuk diungkapkan secara spontan dan mudah dipahami”.[1] Berangkat dari keyakinan tersebut, sosok yang kelak menjadi Paus Santo Paulus VI ini menegaskan bahwa umat beriman “tidak dapat dan tidak boleh lagi tinggal diam dan pasif. Kehadiran fisik mereka tidak dapat diselaraskan dengan ketidakhadiran rohani mereka”.[2]

 

Kemiripan antara pernyataan-pernyataan ini dan apa yang tercantum dalam Konstitusi Konsili nomor 48 sangatlah jelas: “Gereja dengan susah payah berusaha, jangan sampai umat beriman menghadiri misteri iman itu sebagai orang luar atau penonton yang bisu, melainkan supaya melalui upacara dan doa-doa memahami misteri itu dengan baik, dan ikut serta penuh khidmat dan secara aktif. Hendaknya mereka rela diajar oleh sabda Allah, disegarkan oleh santapan Tubuh Tuhan, bersyukur kepada Allah. Hendaknya sambil mempersembahkan Hosti yang tak ternoda bukan saja melalui tangan imam, melainkan juga bersama dengannya, mereka belajar mempersembahkan diri, dan dari hari ke hari – berkat perantaraan Kristus makin penuh dipersatukan dengan Allah dan antarmereka sendiri, sehingga akhirnya Allah menjadi segalanya dalam semua.” Kata-kata ini mengungkapkan kesadaran baru akan nilai liturgi. Melalui tindakan ritual Gereja, saat kenangan akan karya keselamatan dirayakan, tersedia kesempatan untuk mengalami hubungan sejati dengan Allah serta menjalin kontak dengan peristiwa keselamatan itu sendiri. Mengingat bahwa tata gerak dan kata-kata dalam liturgi kudus sangatlah penting untuk mewujudkan pengalaman ini, partisipasi umat beriman tidak boleh bersifat pasif.

 

Pembaharuan Konsili, dengan menempatkan hal yang menjadi inti pengalaman gerejawi sebagai pusat perhatian, bertujuan agar liturgi dapat memancarkan cahayanya sebagai “sumber utama pertukaran ilahi, di mana kehidupan Allah dikomunikasikan kepada kita”.[3] Dari keyakinan inilah muncul kebutuhan untuk membuat khazanah teks biblis dan doa-doa menjadi lebih mudah diakses oleh seluruh umat beriman, serta menyederhanakan tata perayaan dibandingkan dengan yang tercantum dalam buku-buku liturgi yang digunakan pada masa itu.

 

Sesungguhnya, karena liturgi merupakan suatu kenyataan yang hidup, sepanjang berabad-abad liturgi senantiasa mengalami perkembangan dan perubahan. Magisterium menyesuaikan bentuk-bentuknya dengan kebutuhan zaman yang berbeda-beda. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika Konsili Vatikan II — dengan penghormatan yang mendalam terhadap warisan tradisi, dan justru demi membuatnya lebih mudah diakses — memandang perlu untuk merevisi buku-buku liturgi tersebut.

 

Tujuan yang dimaksudkan oleh para Bapa Konsili dijelaskan dalam Konstitusi Sacrosanctum Concilium nomor 21: “Supaya lebih terjaminlah bahwa umat kristiani memperoleh rahmat berlimpah dalam Liturgi suci, Bunda Gereja yang penuh kasih ingin mengusahakan dengan saksama pembaharuan umum Liturgi sendiri. Sebab dalam Liturgi terdapat unsur yang tidak dapat diubah karena ditetapkan oleh Allah, maupun unsur-unsur yang dapat berubah, yang di sepanjang masa dapat atau bahkan harus mengalami perubahan, sekiranya mungkin telah disusupi hal-hal yang kurang serasi dengan inti hakikat Liturgi sendiri, atau sudah menjadi kurang cocok. Adapun dalam pembaharuan itu naskah-naskah dan upacara-upacara harus diatur sedemikian rupa, sehingga lebih jelas mengungkapkan hal-hal kudus yang dilambangkan. Dengan demikian umat kristiani sedapat mungkin menangkapnya dengan mudah, dan dapat ikut serta dalam perayaan secara penuh, aktif, dan dengan cara yang khas bagi jemaat.” Pembedaan di dalam liturgi antara unsur-unsur ilahi yang tidak dapat diubah dan unsur-unsur manusiawi — yang justru “dapat mengalami berbagai perubahan sesuai kebutuhan zaman, keadaan, dan demi kebaikan jiwa-jiwa, serta sebagaimana diizinkan oleh hirarki gerejawi di bawah bimbingan Roh Kudus”— berasal dari Ensiklik Paus Pius XII, Mediator Dei (Acta Apostolicae Sedis 39, 1947, 541–542).

 

Selain itu, keinginan akan adanya “pembaruan menyeluruh” tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan telah tampak dalam tindakan para Paus yang menjabat sejak awal abad ke-20, sejalan dengan tuntutan Gerakan Liturgi. Penegasan bahwa umat beriman tidak boleh menghadiri perayaan “sebagai orang asing atau penonton yang diam” telah dikemukakan sebelumnya dalam Konstitusi Apostolik Paus Pius XI, Divini Cultus. Lebih jauh lagi, kita dapat mengingat kembali campur tangan Pius XII terkait pengaturan ritus Pekan Suci; ia menjadwalkan ulang ritus-ritus tersebut agar sesuai dengan waktu terjadinya peristiwa-peristiwa Paskah, setelah selama berabad-abad ritus-ritus itu dimajukan pelaksanaannya ke waktu pagi hari. Tidak boleh dilupakan pula bahwa Santo Yohanes XXIII memandang perlu untuk menyederhanakan rubrik Breviarium dan Misale; ia menyetujui hal ini melalui Motu Proprio Rubricarum instructum tertanggal 25 Juli 1960, yang di dalamnya ia mengacu pada usulan prinsip-prinsip dasar bagi pembaharuan liturgi.

 

Dengan demikian, pembaruan liturgi yang digagas oleh Konsili Vatikan II berakar kuat dalam tradisi Gereja yang hidup. Pemahaman yang tepat mengenainya juga memampukan kita untuk menolak berbagai penyimpangan yang terjadi di kalangan tertentu dalam Gereja pada masa pasca-Konsili — dan yang sayangnya masih terjadi sesekali hingga saat ini — di mana beberapa prinsip yang mendasari pembaruan itu sendiri disalahpahami atau diterapkan secara berlebihan.

 

Dalam kaitan ini, perlu diingat kembali bahwa Konstitusi Konsili menegaskan: “Upacara-upacara Liturgi bukanlah tindakan perorangan, melainkan perayaan Gereja sebagai 'sakramen kesatuan', yakni umat kudus yang berhimpun dan diatur di bawah para Uskup. Maka upacara-upacara itu menyangkut seluruh Tubuh Gereja dan menampakkan serta mempengaruhinya” (Sacrosanctum Concilium, no. 26).

 

Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab utama para pastor, para uskup, dan juga setiap imam secara pribadi untuk menjaga serta memajukan liturgi yang — seraya tetap menghormati norma-norma liturgis — memancarkan kesederhanaan yang luhur (bdk. no. 34) dan dengan demikian menampakkan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Liturgi semacam itu juga akan menjadi sarana mendasar bagi evangelisasi, yakni sarana rahmat yang melaluinya — sebagaimana diajarkan oleh Konsili — kita belajar untuk mempersembahkan diri dan, melalui perantaraan Kristus, makin penuh dipersatukan dengan Allah dan antarkita sendiri (bdk. no. 48).

__________________________________



____________________________________________________

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Malta, Senegal, dan Kanada. Secara khusus saya juga menyapa mereka yang melayani di Kantor Nasional Serikat Misi Kepausan. Bagi kamu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese terakhir mengenai Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium, ini, kita mengenang kembali alasan para Bapa Konsili mendorong pembaruan liturgi. Ketika Gereja melaksanakan pembaruan liturgi — sebuah proses perkembangan yang terus-menerus sepanjang abad — perlu dibuat pembedaan penting antara unsur-unsur ilahi yang tak dapat diubah dan unsur-unsur manusiawi yang dapat mengalami berbagai perubahan. Muncul kebutuhan agar umat beriman merayakan liturgi dengan lebih sadar dan aktif, bukan "sebagai orang asing dan penonton yang diam," melainkan berpartisipasi sepenuhnya dalam misteri keselamatan. Dengan cara ini, umat Kristiani belajar mengenali realitas-realitas kudus, mempersembahkan diri bersama dan melalui tangan imam, serta menjadi lebih terbuka untuk menerima rahmat Allah. Dalam setiap perayaan Sakramen, khususnya Ekaristi, marilah kita memohon pertolongan Allah agar dikuatkan dalam perjalanan kita dan dapat menjalin hubungan yang lebih mendalam dengan Tuhan.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 26 Agustus 2026)



[1]G. B. Montini, Surat Ketiga dari Konsili, Rivista Diocesana Milanese 51 (1962) 921-923: 922.

[2]Idem.

[3]Penutupan Resmi Sesi Kedua Konsili, Amanat Bapa Suci Paulus VI (4 Desember 1963).

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 23 Agustus 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil hari Minggu ini (Mat 16:13-20) menghadapkan kita pada sebuah pertanyaan yang menyapa kita masing-masing dalam perjalanan iman kita: Siapakah Yesus yang sesungguhnya bagiku?

 

Perikop Injil membuat kita memahami betapa menentukan pertanyaan ini berkaitan dengan pengalaman menjadi murid. Sesungguhnya, meskipun kedua belas rasul telah banyak ambil bagian dalam kehidupan dan pelayanan Guru mereka, Yesus tidak begitu saja menganggap mereka sungguh mengenal-Nya atau telah memahami misteri Kerajaan Allah. Maka, setelah bertanya kepada mereka tentang apa yang dikatakan orang banyak mengenai diri-Nya, Ia bertanya langsung kepada mereka: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" (Mat 16:15).

 

Saudara-saudari, ini adalah pertanyaan mendasar bagi para murid dari segala zaman, dan bagi kita masing-masing. Iman bukan sesuatu yang diberikan kepada kita sekali untuk selamanya. Sebaliknya, kita senantiasa perlu menemukan kembali wajah Kristus dan Injil-Nya, mendalami pesan-Nya, serta memperbarui pilihan-pilihan hidup kita agar selaras dengan apa yang kita imani. Dengan cara demikian, kita dapat mengatasi godaan untuk merasa sudah mengetahui segalanya dan mereduksi iman menjadi sekadar kebiasaan belaka.

 

Pertanyaan yang ditujukan kepada kita setiap hari — siapakah Yesus bagiku, dan apakah arti kehadiran-Nya dalam hidupku? — muncul terutama saat kita berdoa dan merenungkan Injil. Namun, pertanyaan itu juga muncul ketika kita menjumpai luka dan kebutuhan sesama kita, serta dalam berbagai hubungan dan situasi yang paling mendalam menguji hati nurani kita. Singkatnya, dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menemukan apakah Tuhan Yesus bagi kita hanyalah sekadar tokoh sejarah besar yang mengatakan dan melakukan hal-hal penting, ataukah Dia adalah Kristus Allah, Pribadi yang diutus untuk membawa kita ke dalam kasih Bapa serta mengubah hidup kita dan dunia tempat tinggal kita.

 

Saudara-saudari terkasih, marilah kita tidak menarik diri ke dalam keyakinan dan kepastian religius kita, melainkan tetap terbuka terhadap hubungan sejati dengan Kristus. Terkadang, terkait iman kristiani, kita mungkin merasa cukup dengan apa yang hanya kita "dengar", dengan anggapan umum, atau dengan apa yang telah diwariskan kepada kita — mungkin bahkan dengan niat yang sangat baik. Namun, Yesus memanggil kita untuk memberikan tanggapan pribadi, mengenal-Nya lebih dekat, dan membiarkan diri kita dibentuk oleh persahabatan dengan-Nya melalui perjumpaan yang senantiasa baru. Hal ini mungkin juga menuntut kita untuk menempuh jalan-jalan yang asing dan membuat pilihan-pilihan yang berbeda dari apa yang sebelumnya kita bayangkan.

 

Hal ini berlaku baik bagi perjalanan pribadi kita maupun perjalanan Gereja, serta bagi pilihan-pilihan pastoral kita — terutama saat kita mungkin merasa cukup dengan sekadar meneruskan cara-cara yang selama ini kita lakukan. Sebaliknya, penting bagi kita untuk sering bertanya pada diri sendiri: Siapakah Tuhan bagiku? Apakah aku sungguh mengenal-Nya? Apa yang dituntut oleh Injil-Nya dariku hari ini? Langkah dan pilihan apa yang harus aku ambil?

 

Marilah kita memohon bantuan Santa Perawan Maria — yang senantiasa mencari kehendak Allah di dalam hatinya melalui Putranya — agar ia senantiasa membimbing kita di jalan iman.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Dalam doa-doa saya, saya sering mengingat Republik Demokratik Kongo, khususnya terkait dengan penyebaran wabah Ebola yang sayangnya telah merenggut banyak nyawa. Saya mendorong masyarakat internasional untuk memberikan tanggapan yang juga melibatkan masyarakat setempat dalam upaya pencegahan, agar banyak nyawa dapat diselamatkan.

 

Saya juga merasa dekat dengan masyarakat Republik Afrika Tengah yang sedang berduka atas para korban runtuhnya tambang di Zamboyé. Semoga Tuhan menerima jiwa mereka yang telah meninggal dunia dan mendukung upaya untuk menjamin keselamatan serta kepatuhan terhadap hukum di lokasi-lokasi pertambangan.

 

Besok merupakan eringatan sepuluh tahun gempa bumi yang melanda Italia bagian tengah, yang berdampak pada wilayah Lazio, Umbria, dan Marche. Saya mendoakan mereka yang telah meninggal dunia dan keluarga mereka, serta bagi seluruh komunitas yang terdampak. Semoga iman dan solidaritas terus menopang upaya pembangunan kembali.

 

Saya menyapa kamu semua dengan penuh kasih sayang, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara.

 

Secara khusus, saya menyapa dengan hangat Paduan Suara Primatial Katedral Gniezno Polandia; para seminaris dan fakultas Kolese Kepausan Amerika Utara; serta kaum muda dari Bormio dan Valfurva.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 23 Agustus 2026)