Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 15 Februari 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Hari ini kita akan mendengarkan sebagian dari perikop Injil tentang “Khotbah di Bukit” (bdk. Mat 5:17-37). Setelah memberitakan Khotbah di Bukit, Yesus mengajak kita untuk memasuki kebaruan Kerajaan Allah. Untuk menuntun kita dalam perjalanan ini, Ia mengungkapkan makna sebenarnya dari perintah hukum Musa. Perintah itu bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan religius lahiriah berupa perasaan “benar” di hadapan Allah, tetapi untuk membawa kita ke dalam hubungan kasih dengan Allah dan saudara-saudari kita. Karena alasan inilah, Yesus berkata bahwa Ia tidak datang untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya (bdk. ayat 17).

 

Hukum Taurat digenapi justru oleh kasih, yang membawa makna mendalam dan tujuan utamanya kepada kesempurnaan. Kita dipanggil untuk mencapai kebenaran yang “melebihi” (bdk. ayat 20) kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kebenaran yang tidak terbatas pada ketaatan terhadap perintah, tetapi yang membuka kita kepada kasih dan mendorong kita untuk mengasihi. Yesus menelaah beberapa ajaran hukum Taurat yang merujuk pada kasus-kasus konkret, dan menggunakan rumusan linguistik yang disebut antinomi untuk menunjukkan perbedaan antara kebenaran religius formal dan kebenaran Kerajaan Allah: di satu sisi, “Kamu telah mendengar bahwa kepada nenek moyang kita dikatakan,” dan di sisi lain, Yesus menegaskan, “Namun, Aku berkata kepadamu” (bdk. ayat 21-37).

 

Pendekatan ini sangat penting, karena menunjukkan bahwa hukum Taurat diberikan kepada Musa dan para nabi sebagai cara untuk mengenal Allah dan rencana-Nya bagi kita dan sejarah, atau, menggunakan ungkapan Santo Paulus, sebagai pengawas yang menuntun kita kepada-Nya (bdk. Gal 3:23-25). Tetapi sekarang, Allah sendiri, dalam pribadi Yesus, telah datang di antara kita, menggenapi hukum Taurat, menjadikan kita anak-anak Bapa dan memberi kita rahmat untuk menjalin hubungan dengan-Nya sebagai anak-anak dan sebagai saudara-saudari di antara kita.

 

Saudara-saudari, Yesus mengajarkan kita kebenaran sejati berupa kasih dan, dalam setiap perintah hukum Taurat, kita harus belajar untuk mengidentifikasi panggilan untuk mengasihi. Sesungguhnya, tidak cukup hanya menahan diri untuk tidak membunuh seseorang secara fisik jika kemudian membunuh dengan kata-kata dan merendahkan martabat orang lain (bdk. Mat 5:21-22). Demikian pula, tidak cukup hanya setia secara teknis kepada pasangan dan tidak berzina jika hubungan tersebut tidak saling memiliki kelembutan, mendengarkan, menghormati, memperhatikan, dan memiliki tujuan bersama (bdk. ayat 27-28, 31-32). Kita dapat menambahkan selain contoh yang diberikan Yesus kepada kita. Bacaan Injil menawarkan ajaran berharga ini kepada kita: kebenaran minimal tidaklah cukup; dibutuhkan kasih yang besar.

 

Marilah kita bersama-sama memohon kepada Perawan Maria, yang memberikan Kristus, yang menggenapi hukum dan rencana keselamatan, kepada dunia. Semoga ia menjadi perantara kita, membantu kita untuk lebih memahami Kerajaan Allah dan menghidupi panggilan-Nya untuk kebenaran.


[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya menyampaikan simpati saya kepada rakyat Madagaskar yang telah terdampak oleh siklon ganda, banjir, dan tanah longsor dalam waktu singkat. Saya mendoakan para korban, keluarga mereka, dan semua orang yang telah menderita kerusakan besar.

 

Dalam beberapa hari mendatang, jutaan orang di Asia Timur dan bagian lain dunia akan merayakan Tahun Baru Imlek. Semoga perayaan yang penuh sukacita ini memperkuat ikatan keluarga dan persahabatan, membawa damai ke rumah dan masyarakat, serta memberikan kesempatan untuk menatap masa depan bersama dan membangun perdamaian serta kemakmuran bagi semua. Seraya mengucapkan selamat Tahun Baru, saya menyampaikan kasih sayang saya kepada semua orang dan memohonkan berkat Tuhan bagi kamu semua.

 

Saya senang menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah, terutama umat Paroki San Lorenzo, Cadiz, Spanyol, dan mereka yang berasal dari Marche.

 

Saya juga menyapa para siswa dan guru Sekolah Katolik Semua Orang Kudus Sheffield dan Kolese Salesian Thornleigh Bolton, Inggris; Sekolah Vila Pouca de Aguiar Portugal; Colegio Altasierra Sevilla dan Sekolah Edith Stein SchillingfĂĽrst, Jerman.

 

Saya menyapa para peserta konferensi nasional Gerakan Mahasiswa Katolik (FIDAE); para calon penerima Sakramen Krisma dari Almenno San Salvatore dan mereka yang berasal dari Lugo, Rosaro, Stallavena, dan Alcenago; anak-anak dari Sekolah San Giuseppe, Bassano del Grappa dan Institut Salesian Sant’Ambrogio, Milan; serta kaum muda Petosino, Solbiate, dan Cagno.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Februari 2026)

PESAN PAUS LEO XIV UNTUK MASA PRAPASKAH 2026

Mendengarkan dan Berpuasa: Masa Prapaskah sebagai Masa Pertobatan

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Masa Prapaskah adalah masa di mana Gereja, yang dituntun rasa kepedulian keibuan, mengajak kita untuk menempatkan kembali misteri Allah di pusat kehidupan kita, guna menemukan pembaharuan dalam iman kita dan menjaga hati kita agar tidak terkikis oleh kecemasan dan pengalihan kehidupan sehari-hari.

 

Setiap jalan menuju pertobatan dimulai dengan memperkenankan sabda Allah menyentuh hati kita dan menerimanya dengan ketaatan roh. Ada hubungan antara sabda, penerimaan kita terhadapnya, dan transformasi yang ditimbulkannya. Karena alasan ini, perjalanan Paskah merupakan kesempatan yang baik untuk mendengarkan suara Tuhan dan memperbarui komitmen kita untuk mengikuti Kristus, menyertai-Nya di jalan menuju Yerusalem, di mana misteri penderitaan, wafat, dan kebangkitan-Nya akan digenapi.

 

Mendengarkan

 

Tahun ini, pertama-tama saya ingin membahas pentingnya memberi ruang bagi sabda melalui mendengarkan. Kesediaan untuk mendengarkan adalah cara pertama kita menunjukkan keinginan untuk menjalin hubungan dengan seseorang.

 

Dengan mewahyukan diri-Nya kepada Musa di dalam nyala api yang keluar dari semak duri, Allah sendiri mengajarkan kepada kita bahwa mendengarkan adalah salah satu ciri khas-Nya: “Sungguh Aku telah memperhatikan kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir. Aku telah mendengar teriakan mereka” (Kel 3:7). Mendengar teriakan orang-orang yang tertindas adalah awal dari kisah pembebasan di mana Tuhan memanggil Musa, mengutusnya untuk membuka jalan keselamatan bagi anak-anak-Nya yang telah diperbudak.

 

Allah kita adalah Allah yang berupaya melibatkan kita. Bahkan hari ini Ia membagikan kepada kita apa yang ada di dalam hati-Nya. Karena itu, mendengarkan sabda dalam liturgi mengajarkan kita untuk mendengarkan kebenaran kenyataan. Di tengah banyaknya suara yang hadir dalam kehidupan pribadi kita dan masyarakat, Kitab Suci membantu kita untuk mengenali dan menanggapi teriakan orang-orang yang menderita dan sengsara. Guna membina keterbukaan batin untuk mendengarkan ini, kita harus memperkenankan Allah mengajari kita bagaimana mendengarkan sebagaimana mestinya. Kita harus menyadari bahwa “kondisi kaum miskin adalah seruan yang, sepanjang sejarah manusia, senantiasa menantang kehidupan, masyarakat, sistem politik dan ekonomi kita, dan, tak terkecuali, Gereja.”[1]

 

Berpuasa

 

Jika Masa Prapaskah adalah waktu untuk mendengarkan, puasa adalah cara konkret untuk mempersiapkan diri menerima sabda Allah. Menahan diri terhadap makanan adalah praktik asketis kuno yang penting dalam jalan pertobatan. Justru karena melibatkan tubuh, puasa memudahkan kita untuk mengenali apa "rasa lapar" kita dan apa yang kita anggap perlu untuk kebutuhan hidup kita. Lebih jauh lagi, puasa membantu kita untuk mengidentifikasi dan mengelola "nafsu makan" kita, menjaga rasa lapar dan haus kita akan keadilan tetap hidup dan membebaskan kita dari rasa puas diri. Dengan demikian, puasa mengajarkan kita untuk berdoa dan bertindak secara bertanggung jawab terhadap sesama.

 

Dengan wawasan spiritual, Santo Agustinus membantu kita memahami ketegangan antara saat ini dan penggenapan di masa depan yang menjadi ciri khas penjagaan hati ini. Ia mengamati bahwa: “Dalam perjalanan hidup di dunia ini, laki-laki dan perempuan wajib lapar dan haus akan keadilan, tetapi kepuasan hanya ada di kehidupan selanjutnya. Para malaikat merasa puas dengan roti ini, makanan ini. Di sisi lain, umat manusia lapar akan roti dan makanan ini; kita semua tertarik padanya dalam keinginan kita. Menjangkau keinginan ini membentangkan jiwa dan meningkatkan kapasitasnya.”[2] Dengan cara ini dipahami bahwa puasa tidak hanya memungkinkan kita untuk mengendalikan keinginan kita, memurnikannya dan membuatnya semakin bebas, tetapi juga membentangkannya, sehingga terarah kepada Allah dan berbuat baik.

 

Tetapi, untuk melaksanakan puasa sesuai dengan karakter Injil dan menghindari godaan yang mengarah pada kesombongan, puasa harus dijalani dalam iman dan kerendahan hati. Puasa harus berlandaskan persekutuan dengan Tuhan, karena “mereka yang tidak dapat memelihara diri mereka dengan sabda Allah tidak berpuasa dengan benar.”[3] Sebagai tanda nyata dari komitmen batin kita untuk berpaling dari dosa dan kejahatan dengan pertolongan rahmat, puasa juga harus mencakup bentuk-bentuk penyangkalan diri lainnya yang bertujuan untuk membantu kita memperoleh gaya hidup yang semakin sederhana, karena “hanya kesederhanaanlah yang membuat kehidupan kristiani kuat dan otentik.”[4]

 

Dalam hal ini, saya ingin mengajakmu kepada bentuk pantang yang sangat praktis dan seringkali tidak dihargai: yaitu menahan diri dari kata-kata yang menyinggung dan menyakiti sesama kita. Marilah kita mulai dengan melucuti bahasa kita, menghindari kata-kata kasar dan penilaian yang terburu-buru, menahan diri dari fitnah dan berbicara buruk tentang mereka yang tidak ada di hadapan kita dan tidak dapat membela diri. Sebaliknya, marilah kita berusaha untuk menimbang kata-kata kita dan menumbuhkan kebaikan dan rasa hormat dalam keluarga kita, di antara teman-teman kita, di tempat kerja, di media sosial, dalam debat politik, di media, dan dalami komunitas kristiani. Dengan cara ini, kata-kata kebencian akan digantikan kata-kata pengharapan dan perdamaian.

 

Bersama-sama

 

Akhirnya, Masa Prapaskah menekankan aspek komunal dari mendengarkan sabda dan berpuasa. Kitab Suci sendiri menggarisbawahi dimensi ini dalam berbagai cara. Misalnya, Kitab Nehemia menceritakan bagaimana orang Israel berkumpul untuk mendengarkan Kitab Taurat Tuhan dibacakan di muka umum, bersiap untuk mengucapkan pengakuan iman dan menjalankan ibadah mereka dengan berpuasa, sehingga memperbarui perjanjian mereka dengan Allah (bdk. 9:1-3).

 

Demikian pula, paroki, keluarga, kelompok gerejawi, dan komunitas religius kita dipanggil untuk melakukan perjalanan bersama selama Masa Prapaskah, di mana mendengarkan sabda Allah, serta jeritan kaum miskin dan bumi, menjadi bagian dari kehidupan komunitas kita, dan puasa menjadi landasan bagi pertobatan yang tulus. Dalam konteks ini, pertobatan tidak hanya merujuk pada hati nurani kita, tetapi juga pada kualitas hubungan dan dialog kita. Atinya, kita harus memperkenankan diri kita ditantang kenyataan dan mengenali apa yang benar-benar menuntun keinginan kita — baik di dalam komunitas gerejawi kita maupun dalam hal kehausan umat manusia akan keadilan dan rekonsiliasi.

 

Saudara-saudara terkasih, marilah kita memohon rahmat Prapaskah yang menuntun kita untuk semakin memperhatikan Allah dan kaum lemah. Marilah kita memohon kekuatan yang berasal dari jenis puasa yang juga membentangkan menuju penggunaan bahasa kita, sehingga kata-kata yang menyakitkan dapat berkurang dan memberi ruang yang lebih besar bagi suara sesama kita. Marilah kita berupaya menjadikan komunitas kita tempat di mana jeritan mereka yang menderita mendapat sambutan, dan mendengarkan membuka jalan menuju pembebasan, membuat kita siap dan bersemangat untuk berkontribusi dalam membangun peradaban kasih.

 

Dengan tulus saya memberkati kamu semua dan perjalanan Masa Prapaskahmu.

 

Vatikan, 5 Februari 2026, Peringatan wajib Santa Agata, Perawan dan Martir

 

LEO PP. XIV



[1] Seruan Apostolik Dilexi Te (4 Oktober 2025), 9.

[2] Agustinus, Manfaat Puasa, 1, 1.

[3] Benediktus XVI, Katekese (9 Maret 2011).

[4] Paulus VI, Katekese (8 Februari 1978).

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 11 Februari 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. I. KONSTITUSI DOGMATIS DEI VERBUM. 5. SABDA ALLAH DALAM KEHIDUPAN GEREJA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Dalam katekese hari ini kita akan melihat adanya hubungan yang mendalam dan vital antara sabda Allah dan Gereja, ikatan yang diungkapkan oleh Dei Verbum, Konstitusi Konsili Vatikan II, bab enam. Gereja adalah rumah yang sah bagi Kitab Suci. Di bawah inspirasi Roh Kudus, Kitab Suci berasal dari umat Allah, dan ditujukan untuk umat Allah. Dalam komunitas kristiani, Kitab Suci, dapat dikatakan, memiliki habitatnya: sesungguhnya, dalam kehidupan dan iman Gereja, Kitab Suci menemukan ruang di mana ia dapat mengungkapkan maknanya dan mewujudkan kekuatannya.

 

Konsili Vatikan II mengingatkan kita bahwa “Kitab-kitab ilahi seperti juga tubuh Tuhan sendiri selalu dihormati oleh Gereja, yang terutama dalam Liturgi suci tiada hentinya menyambut roti kehidupan dari meja sabda Allah maupun tubuh Kristus, dan menyajikannya kepada umat beriman. Lebih lanjut, “Kitab-kitab itu bersama dengan Tradisi Suci selalu dipandang dan tetap dipandang sebagai norma imannya yang tinggi” (Dei Verbum, 21).

 

Gereja tidak pernah berhenti merefleksikan nilai Kitab Suci. Setelah Konsili, momen yang sangat penting berkaitan dengan hal ini adalah Sidang Umum Biasa Sinode Para Uskup dengan tema “Sabda Allah dalam kehidupan dan perutusan Gereja” pada bulan Oktober 2008. Paus Benediktus XVI mengumpulkan hasilnya dalam Seruan Pasca-Sinodal Verbum Domini (30 September 2010), di mana beliau menegaskan: “Hubungan intrinsik antara sabda dan iman memperjelas bahwa hermeneutika biblis yang otentik hanya dapat diperoleh dalam iman Gereja, yang memiliki paradigma dalam fiat Maria… latar utama penafsiran Kitab Suci adalah kehidupan Gereja” (no. 29).

 

Karenanya, dalam komunitas gerejawi, Kitab Suci menemukan ruang lingkup untuk melaksanakan tugas khususnya dan mencapai tujuannya: memperkenalkan Kristus dan membuka dialog dengan Allah. Sesungguhnya, “ketidaktahuan akan Kitab Suci adalah ketidaktahuan akan Kristus”.[1] Ungkapan Santo Hieronimus yang terkenal ini mengingatkan kita akan tujuan utama membaca dan merenungkan Kitab Suci: mengenal Kristus dan, melalui Dia, menjalin hubungan dengan Allah, hubungan yang dapat dipahami sebagai percakapan, dialog. Dan Konstitusi Dei Verbum menyajikan wahyu kepada kita tepat sebagai dialog, di mana Allah berbicara kepada manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya (bdk. DV, 2). Hal ini terjadi ketika kita membaca Kitab Suci dengan sikap batiniah doa: Allah kemudian datang kepada kita dan memulai percakapan dengan kita.

 

Kitab Suci, yang dipercayakan kepada Gereja dan dipelihara serta dijelaskan olehnya, memainkan peran aktif: sesungguhnya, dengan kemanjuran dan kekuatannya, Kitab Suci menopang dan menguatkan komunitas kristiani. Segenap umat beriman dipanggil untuk minum dari mata air ini, pertama dan terutama dalam perayaan Ekaristi dan sakramen-sakramen lainnya. Kecintaan terhadap Kitab Suci dan keakraban dengannya harus membimbing mereka yang melayani Sabda: uskup, imam, diakon, katekis. Karya para ekseget dan mereka yang bergelut dengan ilmu pengetahuan biblis sangat berharga, dan Kitab Suci memiliki tempat sentral dalam teologi, yang menemukan landasan dan jiwanya dalam sabda Allah.

 

Gereja sangat menginginkan sabda Allah dapat menjangkau setiap anggotanya dan memelihara perjalanan iman mereka. Tetapi sabda Allah juga mendorong Gereja melampaui dirinya sendiri; sabda Allah terus membukanya kepada perutusan bagi setiap orang. Memang, kita hidup dikelilingi oleh begitu banyak kata-kata, tetapi betapa banyak di antaranya yang kosong! Terkadang kita bahkan mendengarkan kata-kata bijak, yang bagaimanapun tidak memengaruhi takdir akhir kita. Sebaliknya, sabda Allah menjawab dahaga kita akan makna, akan kebenaran tentang hidup kita. Satu-satunya sabda yang selalu baru: mengungkapkan misteri Allah kepada kita, sabda itu tak habis-habisnya, sabda itu tidak pernah berhenti menawarkan kekayaannya.

 

Saudara-saudari terkasih, hidup di dalam Gereja membuat kita belajar bahwa Kitab Suci sepenuhnya berkaitan dengan Yesus Kristus, dan kita mengalami bahwa inilah alasan mendalam atas nilai dan kekuatannya. Kristus adalah sabda Bapa yang hidup, Sabda Allah yang menjadi manusia. Seluruh Kitab Suci mewartakan pribadi dan kehadiran-Nya yang menyelamatkan, bagi kita masing-masing dan seluruh umat manusia. Karena itu, marilah kita membuka hati dan pikiran kita untuk menerima karunia ini, mengikuti teladan Maria, Bunda Gereja.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Belanda, Swedia, Israel, dan Amerika Serikat. Rabu depan, Masa Prapaskah dimulai. Masa Prapaskah adalah waktu untuk memperdalam pengetahuan dan kasih kita akan Tuhan, memeriksa hati dan hidup kita, serta memfokuskan kembali pandangan kita kepada Yesus dan kasih-Nya kepada kita. Semoga hari doa, puasa, dan sedekah yang akan datang menjadi sumber kekuatan saat setiap hari kita berusaha memikul salib kita sendiri dan mengikuti Kristus. Atasmu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese kita tentang Konstitusi Dogmatis Dei Verbum, hari ini kita telah membahas hubungan yang mendalam dan vital antara sabda Allah dan Gereja. Kitab Suci, yang telah dipercayakan kepada Gereja dan dijaga olehnya, mengungkapkan maknanya dan menunjukkan kekuatannya dalam kehidupan dan iman Gereja, terutama dalam perayaan Ekaristi Kudus. Karena alasan ini, Gereja terus-menerus merenungkan dan menafsirkan Kitab Suci karena Kitab Suci adalah sarana yang dengannya kita mengenal sabda Allah yang hidup dan menjelma, yaitu Yesus Kristus. Sesungguhnya, berdoa dengan Kitab Suci membuka pintu bagi hubungan yang intim dengan Allah yang melalui tulisan-tulisan suci ini mengundang kita untuk bercakap-cakap dengan-Nya. Santo Hieronimus menunjukkan dengan tepat bahwa ketidaktahuan akan Kitab Suci adalah ketidaktahuan akan Allah. Dengan mengingatkan hal ini, saya mendorongmu untuk membaca dan merenungkan sabda Allah yang diinspirasikan setiap hari. Semoga sabda Allah memelihara hati dan pikiran kita serta menuntun kita kepada kepenuhan hidup.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 11 Februari 2026)



[1]S. Girolamo, Comm. in Is., Prol.: PL 24, 17 B.

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 8 Februari 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Setelah menyampaikan Khotbah di Bukit, Yesus berbicara kepada mereka yang mempraktikkannya, mengatakan bahwa berkat khotbah tersebut bumi tidak lagi sama dan dunia tidak lagi dalam kegelapan. “Kamu adalah garam dunia… Kamu adalah terang dunia” (Mat 5:13-14). Sesungguhnya, sukacita sejati itulah yang memberi cita rasa pada kehidupan dan menampakkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Sukacita ini muncul dari cara hidup, cara mendiami bumi dan hidup bersama yang harus diinginkan dan dipilih. Itulah kehidupan yang bersinar dalam Yesus, cita rasa baru dari perkataan dan perbuatan-Nya. Setelah berjumpa Yesus dalam kemiskinan-Nya di hadapan Allah, kelemahlembutan dan kesucian hati-Nya, rasa lapar dan haus-Nya akan kebenaran, yang tidak mengunci rahmat dan damai sebagai kekuatan transformasi dan rekonsiliasi, mereka yang menjauhkan diri dari semua ini tampak hambar dan membosankan.

 

Nabi Yesaya mencantumkan tindakan nyata yang mengatasi ketidakadilan: memecah-mecah roti bagi orang yang lapar, membawa ke rumah kita orang miskin yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang kita lihat telanjang, tidak mengabaikan sesama kita dan orang-orang di rumah kita sendiri (bdk. 58:7). Nabi Yesaya melanjutkan, “Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar danlukamu akan pulih dengan segera” (ayat 8). Di satu sisi, ada terang yang tidak dapat disembunyikan karena sebesar mentari yang mengusir kegelapan setiap pagi; di sisi lain, ada luka yang pernah terasa membakar dan sekarang sedang pulih.

 

Memang, menyakitkan kehilangan rasa dan melepaskan sukacita; namun memiliki luka ini di dalam hati kita memungkinkan. Yesus tampaknya memperingatkan mereka yang mendengarkan-Nya untuk tidak melepaskan sukacita. Garam yang telah menjadi tawar, kata-Nya, “tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang” (Mat 5:13). Betapa banyak orang — mungkin kita sendiri — merasa tidak berharga atau hancur. Seolah-olah terang mereka telah disembunyikan. Namun, Yesus memberitakan Allah yang tidak akan pernah membuang kita, seorang Bapa yang peduli akan nama dan keunikan kita. Setiap luka, bahkan yang terdalam sekalipun, akan dipulihkan dengan menerima perkataan Sabda Bahagia dan mengembalikan kita ke jalan Injil.

 

Selain itu, perbuatan keterbukaan dan perhatian kepada sesama akan membangkitkan kembali sukacita. Namun, pada saat yang sama, melalui kesederhanaannya, tindakan-tindakan tersebut membuat kita bertentangan dengan dunia. Yesus sendiri dicobai di padang gurun untuk mengikuti jalan lain, menegaskan jatidiri-Nya, menyanjung diri-Nya dan memiliki dunia di kaki-Nya. Namun Ia menolak jalan yang akan menyebabkan Dia kehilangan jati diri-Nya yang sejati, jatidiri yang kita temukan setiap hari Minggu dalam Roti yang dipecah-pecahkan, yang merupakan kehidupan yang diberikan dan kasih yang hening.

 

Saudara-saudari, marilah kita dipelihara dan diterangi oleh persekutuan dengan Yesus. Tanpa kesombongan, kita akan menjadi seperti kota yang terletak di atas bukit, bukan hanya terlihat, tetapi juga mengundang dan menyambut: kota Allah di mana setiap orang, jauh di lubuk hatinya, ingin hidup dan menemukan kedamaian. Marilah kita sekarang mengarahkan pandangan dan doa kita kepada Maria, pintu gerbang surga, agar ia membantu kita untuk menjadi dan tetap menjadi murid Putra-Nya.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kemarin di Huércal-Overa, Spanyol, Pastor Salvatore Valera Parra dikanonisasi. Beliau adalah seorang pastor paroki yang sepenuhnya mengabdikan diri kepada umatnya, rendah hati dan murah hati dalam amal kasih pastoral. Teladan imamatnya yang berfokus pada hal-hal yang penting dapat menginspirasi para imam masa kini untuk setia menjalani setiap hari dengan kesederhanaan dan asketisme.

 

Dengan dukacita dan keprihatinan saya mengetahui tentang serangan baru-baru ini terhadap berbagai komunitas di Nigeria yang menyebabkan banyak korban jiwa. Saya menyampaikan doa dan simpati saya kepada semua korban kekerasan dan terorisme. Saya juga berharap agar pihak berwenang terus bekerja dengan tekad untuk memastikan keselamatan dan perlindungan jiwa setiap warga negara.

 

Hari ini, pada Pesta Santa Josephine Bakhita, kita merayakan Hari Doa dan Refleksi Sedunia Melawan Perdagangan Manusia. Saya berterima kasih kepada para rohaniwan/rohanniwati dan semua pihak yang berkomitmen untuk memerangi dan memberantas bentuk-bentuk perbudakan yang ada. Bersama mereka, saya katakan: perdamaian dimulai dengan martabat!

 

Saya memastikan doa saya bagi rakyat Portugal, Maroko, Spanyol — khususnya Grazalema di Andalusia — dan Italia selatan, terutama Niscemi di Sisilia, yang telah terkena dampak banjir dan tanah longsor. Saya mendorong masyarakat untuk tetap bersatu dan saling mendukung, dengan perlindungan Bunda Maria.

 

Sekarang, saya menyapa kamu semua: umat Roma, dan para peziarah dari Italia dan berbagai negara. Saya menyapa umat Melilla, Murcia, dan Malaga, Spanyol; umat yang berasal dari Belarus, Lituania, dan Latvia; para siswa Olivenza, Spanyol, dan umat yang sedang mempersiapkan Sakramen Krisma di Malta. Saya juga menyapa kaum muda dari tiga oratorium di Keuskupan Brescia yang terhubung dengan kita.

 

Marilah kita terus berdoa untuk perdamaian. Sejarah mengajarkan kita bahwa strategi kekuatan ekonomi dan militer tidak memberikan masa depan bagi umat manusia. Masa depan terletak pada rasa hormat dan persaudaraan antarbangsa.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Februari 2026)