Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 12 AGUSTUS 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. III. KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM. 6. TAHUN LITURGI

Saudara-saudari yang terkasih,


Konstitusi Konsili Sacrosanctum Concilium (SC) bab lima dikhususkan untuk tahun liturgi, sebuah tema yang ingin kita bahas hari ini untuk menjelaskan nilainya dalam kehidupan setiap orang beriman.

 

Pertama, perlu dicatat bahwa cara menyebut lingkaran perayaan kristiani sebagai "tahun liturgi" ini menjadi lazim dalam bahasa gerejawi berkat karya Hamba Allah, Abbas Prosper Guéranger (1805–1875).

 

Dalam Ensiklik Mediator Dei, Paus Pius XII menyatakan bahwa tahun liturgi “bukanlah sekadar penggambaran peristiwa masa lampau yang dingin dan tak bernyawa, ataupun sekadar … catatan tentang zaman yang telah berlalu. Tahun liturgi justru merupakan Kristus sendiri yang senantiasa hidup di dalam Gereja-Nya. Di sini, Ia melanjutkan perjalanan penuh belas kasih yang telah Ia awali dengan penuh kasih semasa hidup-Nya di dunia … dengan tujuan agar manusia mengenal misteri-misteri-Nya dan menghayatinya dalam hidup mereka. Misteri-misteri ini senantiasa hadir dan berkarya” (III Divinum Officium et Annus Liturgicus, II Cyclus Mysteriorum). Dengan demikian, tahun liturgi hendaknya dipahami sebagai pembaruan terus-menerus atas karya keselamatan yang dilaksanakan Kristus dalam sejarah. Saat menempuh perjalanan melalui lingkaran waktu ini, Gereja senantiasa terhubung dengan karya penebusan Tuhan, agar seluruh umat beriman dapat dipenuhi dengan rahmat-Nya (bdk. SC, 102c).

 

Perjumpaan dengan Yesus, yang wafat dan bangkit kembali demi kita, adalah tujuan yang senantiasa diupayakan oleh Gereja, dengan menempatkan perayaan peristiwa Paskah sebagai pusat dari setiap saat.

 

Oleh karena itu, para Bapa Konsili memandang hari Minggu — "pangkal segala hari pesta" — sebagai "dasar dan inti segenap tahun liturgi" (bdk. SC, 106). Dalam berbagai bahasa modern, namanya menunjukkan bahwa hari itu adalah *dies Domini*, "hari Tuhan". Bahkan dalam bahasa-bahasa yang lebih mengutamakan sebutan "hari matahari" (Sunday, Sonntag), hubungan dengan Kristus tetap dapat dikenali: Kristus adalah "matahari kebenaran" sejati yang menerangi setiap orang!

 

Santo Yohanes Paulus II, dalam Surat Apostolik Dies Domini (31 Mei 1998), mengajarkan bahwa hari Minggu adalah hari Tuhan, hari Gereja, hari manusia, dan pada akhirnya, "hari dari segala hari". "Karena hari Minggu merupakan Paskah mingguan — yang mengenangkan dan menghadirkan kembali hari saat Kristus bangkit dari antara orang mati — hari ini juga menyingkapkan makna waktu. ... Berawal dari kebangkitan, hari ini melintasi waktu manusiawi — bulan, tahun, dan abad — bagaikan anak panah penunjuk arah yang mengarahkannya pada tujuan akhirnya: kedatangan Kristus yang kedua. Hari Minggu menjadi bayangan awal bagi hari terakhir, yakni hari parusia" (75), saat kita semua akan bangkit kembali.

 

Untuk menguduskan hari Minggu, merayakan Ekaristi adalah hal yang mendasar. Mendengarkan Sabda dan menyambut tubuh Kristus — menurut para Bapa Konsili — mengandaikan adanya perhimpunan in unum (bdk. SC, 106), yakni berkumpulnya umat beriman dengan penuh sukacita. Dalam perhimpunan ini, komunitas Kristiani mewujudkan persekutuannya dengan Tuhan serta memberikan kesaksian bahwa mereka adalah milik Kristus dan setia kepada Gereja. Perhimpunan ini tidak dapat digantikan oleh kehadiran yang semata-mata bersifat virtual, ataupun direduksi menjadi sekadar pertemuan yang pasif. Sesungguhnya, perhimpunan liturgis terlaksana melalui partisipasi aktif saudara-saudari yang dipanggil bersama untuk “mengucap syukur kepada Allah, yang 'melahirkan mereka kembali ke dalam pengharapan
yang hidup berkat kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang
mati' (1Ptr 1:3)” (SC, 106).

 

Sehubungan dengan hal ini, saya mendorong semua pihak untuk mengupayakan kondisi terbaik agar mereka yang tidak dapat meluangkan waktu dari pekerjaan pada hari Minggu pun tetap dapat mengikuti Misa Kudus.

 

Saudara-saudari terkasih, tahun liturgi, yang ditandai oleh hari-hari Minggu, memiliki sejarah yang menarik di mana iman dan devosi Gereja saling terjalin. Sesungguhnya, sejak abad kedua Masehi, perayaan Paskah mingguan dilengkapi dengan perayaan Paskah tahunan — "hari raya agung Paskah" (SC, 102) — yang berlangsung selama masa penuh sukacita selama lima puluh hari, memuncak pada hari Pentakosta, dan dipersiapkan melalui masa Prapaskah yang bercorak pertobatan (bdk. SC, 109). Perkembangan masa Natal, yang terjadi kemudian dan meneladani masa Paskah, memungkinkan kita untuk menghayati kembali misteri Inkarnasi Sabda Allah, kelahiran-Nya, serta penampakan-Nya kepada dunia. Selanjutnya, Gereja memasukkan ke dalam berbagai masa tersebut penghormatan kepada Santa Perawan Maria, yang "secara tak terceraikan terlibat dalam karya penyelamatan Putranya" (SC, 103), serta "kenangan para martir dan para kudus lainnya" yang "
melambungkan pujian sempurna kepada Allah di surga serta
menjadi pengantara kita" (SC, 104).

 

Dengan demikian, tahun liturgi menghadirkan kembali — dalam bentuk sakramental — ajaran mengenai sejarah keselamatan, seraya membimbing umat beriman mulai dari penantian akan Mesias menuju kepenuhan misteri Paskah dan antisipasi akan kemuliaan di masa depan. Di dalamnya, Gereja merayakan relevansi keselamatan misteri Kristus, yang memampukan umat beriman untuk ambil bagian di dalamnya secara semakin mendalam. Oleh karena itu, tahun liturgi menjadi prinsip penuntun dan kerangka dasar bagi segala karya pastoral.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Malta dan Zimbabwe. Bagi kamu dan keluarga, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam rangkaian katekese kita yang berkelanjutan mengenai Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Liturgi, *Sacrosanctum Concilium*, hari ini kita merefleksikan tahun liturgi dan relevansinya bagi umat beriman. Tahun liturgi bukan sekadar gambaran statis peristiwa-peristiwa masa lampau, melainkan perjumpaan dengan Kristus sendiri, yang berkehendak untuk membawa umat-Nya menyelami misteri sejarah keselamatan. Hari kebangkitan Kristus dari antara orang mati merupakan inti dari tahun liturgi, sekaligus menjadi gambaran awal akan kedatangan Kristus yang kedua, saat kita semua akan bangkit kembali. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi umat beriman untuk menguduskan Hari Tuhan dengan berkumpul merayakan Ekaristi. Semoga partisipasi aktif dan kesaksian kita yang teguh membantu kita untuk semakin mendalami kenyataan bahwa kita adalah milik Kristus, dan semoga kita menantikan kedatangan-Nya dalam kemuliaan dengan penuh harapan.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Agustus 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 9 Agustus 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil hari ini mengisahkan Yesus yang mendatangi para murid-Nya dengan berjalan di atas air Danau Galilea di tengah badai (bdk. Mat 14:22-33).

 

Setelah mukjizat penggandaan roti dan ikan (bdk. Mat 14:13-21), Sang Guru meminta murid-murid-Nya untuk naik ke perahu dan berangkat, sementara Ia sendiri menepi ke gunung untuk berdoa. Begitu meninggalkan pantai, para murid mendapati diri mereka tak berdaya menghadapi angin sakal dan kesulitan untuk melaju. Setelah pengalaman luar biasa di mana mereka menjadi pelaku utama sebuah tanda ajaib, kini mereka merasa tak berdaya dan ketakutan menghadapi ancaman gelombang serta angin sakal.

 

Menjelang akhir malam, Yesus mendatangi mereka dengan berjalan di atas air yang bergelora; karena ketakutan, mereka mengira Dia adalah hantu (ayat 26). Namun, Ia berkata kepada mereka, "Tenanglah! Ini Aku, jangan takut!" (ayat 27). Kehadiran Tuhan mengubah segalanya: Petrus bahkan berhasil melangkah beberapa kali di atas gelombang menuju ke arah Yesus; namun kemudian, karena nyalinya menciut, ia mulai tenggelam, dan Yesus menyelamatkannya. Ketika Sang Guru akhirnya naik ke perahu, badai pun reda, dan sebuah pengakuan iman secara spontan muncul dari hati para murid: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah!" (ayat 33).

 

Untuk menyadari hal ini, tidaklah cukup bagi mereka sekadar menyaksikan mukjizat atau meraih keberhasilan di mata orang banyak; sebaliknya, mereka harus mengalami kelemahan diri sendiri dan, di tengah kelemahan itu, mengenali kehadiran Allah. Hanya pengalaman inilah yang mampu membuka mata dan hati mereka terhadap kedekatan-Nya, sehingga mereka dapat menemukan kedamaian bahkan di tengah badai.

 

Kelak, Yesus berkata kepada mereka, “Jika kamu percaya dan tidak bimbang... jika kamu berkata kepada gunung ini: Terangkatlah dan terbuanglah ke dalam laut! hal itu akan terjadi” (Mat 21:21). Hal ini serupa dengan apa yang mereka alami di danau: damai Kristus — yang sebelumnya berada di gunung untuk berdoa — menjangkau mereka di tengah amukan air.

 

Maka, mukjizat ini mengajarkan kita sesuatu yang penting. Pertama, agar kita tidak terlena oleh keberhasilan dan tidak pernah bersikap angkuh. Pada saat yang sama, agar kita tidak putus asa, bahkan di saat-saat kelam ketika kita merasa tak berdaya menghadapi masalah dan — meskipun telah berupaya — kita justru tampak mundur bukannya maju. Apa pun keadaannya, Yesus tidak meninggalkan kita; dan jika dengan rendah hati kita menyambut-Nya masuk ke dalam perahu kehidupan kita — melalui doa, sakramen, dan mendengarkan Sabda-Nya — maka di dalam Dia, kita akan menemukan damai, terang, dan kekuatan untuk perjalanan hidup kita.

 

Semoga Maria, yang dinyatakan berbahagia karena imannya (bdk. Luk 1:45), membantu kita untuk hidup dalam penyerahan diri yang penuh kepercayaan kepada Allah.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dengan penuh keprihatinan saya terus mengikuti situasi tragis di Sudan, khususnya di kota El-Obeid. Seraya mengungkapkan kedekatan rohani saya dengan seluruh rakyat negara tersebut, saya kembali mengimbau pihak-pihak yang berwenang untuk menjamin koridor kemanusiaan bagi penduduk sipil. Pada saat yang sama, saya mendesak masyarakat internasional untuk mendukung upaya-upaya yang bertujuan segera mewujudkan gencatan senjata. Marilah kita berdoa agar Tuhan menguatkan mereka yang sedang menderita, melunakkan hati mereka yang menebar kekerasan, serta menganugerahkan perdamaian yang telah lama dinantikan.

 

Laporan yang memprihatinkan mengenai orang-orang tak berdosa yang tewas dan terluka di Ukraina dan Rusia terus bermunculan. Peristiwa-peristiwa ini terjadi silih berganti — bahkan kian meningkat frekuensinya — sehingga mengakibatkan bertambahnya jumlah korban sipil, termasuk anak-anak. Doa dan simpati saya tertuju kepada keluarga korban, mereka yang terluka, serta semua pihak yang menderita akibat konflik yang masih berlangsung ini. Di tengah penderitaan yang begitu hebat ini, saya kembali mengimbau dengan sungguh-sungguh agar hukum kemanusiaan dihormati dan kedua belah pihak menghentikan serangan terhadap sasaran sipil. Perang hanya akan memicu perang lebih lanjut dan menimbulkan penderitaan yang luar biasa. Sudah saatnya mengakhiri lingkaran kekerasan yang kejam ini serta memberi ruang bagi diplomasi dan dialog, demi membuka jalan menuju perdamaian.

 

Dan kini, saya menyapa dengan hangat kamu semua, baik umat Roma maupun para peziarah dari berbagai negara!

 

Secara khusus saya menyapa kaum muda dari Komunitas Santa Maria Magdalena Keuskupan Agung Milan, yang telah menempuh perjalanan di jalur *Via Francigena* dari Siena menuju Roma; serta para anggota Pramuka dari Enna yang telah mengadakan perkemahan di kawasan perbukitan sekitar Roma; dan juga kaum muda dari Pernumia, Keuskupan Padua.

 

Kehadiran begitu banyak kelompok orang muda, yang memilih untuk meluangkan sebagian waktu liburan musim panas mereka bagi kegiatan pembinaan dan persahabatan, merupakan tanda harapan, sebagaimana halnya pertemuan kaum muda Fransiskan yang dengan sukacita saya jumpai Kamis lalu di Asisi.

 

Kepada kamu semua, kaum muda yang mendengarkan saya, saya ingin mengingatkan bahwa pada masa ini kalender liturgi menyajikan kepada kita teladan luar biasa dari para kudus; saya mengajakmu untuk mengenal mereka lebih dekat. Kemarin kita memperingati Santo Dominikus yang luar biasa, pendiri Ordo Pewarta; hari ini, Santa Teresa Benedikta dari Salib (Edith Stein), seorang biarawati Karmelit yang wafat di Auschwitz dan merupakan salah satu santa pelindung Eropa; besok, Santo Laurensius, diakon Gereja Roma; dan lusa, Santa Klara dari Asisi, yang meninggalkan kehidupan penuh kenyamanan demi mengikuti Yesus yang miskin dan rendah hati, mengikuti jejak langkah sesama warga kotanya, Santo Fransiskus. Kaum muda yang terkasih, perkenankanlah dirimu diinspirasi oleh para saksi Injil yang menjadi teladan ini!

 

Terima kasih kepada kamu semua yang telah hadir di sini, dan selamat menikmati hari Minggu yang penuh berkat!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 9 Agustus 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 5 AGUSTUS 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. III. KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM. 5. DOA GEREJA

Saudara-saudari, selamat pagi dan selamat datang!

 

Dalam katekese ini, kita akan melanjutkan refleksi kita tentang Konstitusi Konsili Vatikan II tentang liturgi, Sacrosanctum Concilium (SC). Hari ini kita akan melihat dimensi gerejawi dari doa liturgi.

 

Sebagaimana disarankan Rasul Paulus, Roh Kuduslah yang mengajari kita berdoa. Sejak hari Pentakosta, Roh Kudus berdiam di dalam Gereja, menginspirasi setiap aktivitasnya dan, khususnya, doa. Kehidupan komunitas perdana, yang lahir di Yerusalem setelah Paskah Yesus, adalah kehidupan dalam Roh yang diberikan oleh Tuhan yang telah bangkit. “Sejak itu Gereja tidak pernah lalai mengadakan pertemuan untuk merayakan misteri Paskah; di situ mereka membaca 'apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci' (Luk 24:27); mereka merayakan Ekaristi, yang 'menghadirkan kemenangan dan kejayaan-Nya atas maut', dan sekaligus mengucap syukur kepada 'Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan' (2Kor 9:15) dalam Kristus Yesus, 'untuk memuji keagungan-Nya' (Ef 1:12) dengan kekuatan Roh Kudus.” (SC, 6).

 

Di zaman kita, dalam konteks yang didominasi oleh pola pikir efisiensi dan konsumerisme, doa mungkin tampak tidak berarti dan sepele. Di dunia di mana sains dan teknologi mengklaim memberikan semua jawaban, berdoa mungkin tampak sebagai bentuk pelarian. Lebih jauh lagi, bahkan di banyak keluarga kristiani, tradisi doa tidak lagi diwariskan, sementara banyak orang berisiko menganggapnya hanya sebagai teknik psikologis lain yang bertujuan untuk kesejahteraan pribadi. Namun, doa, sebagai dimensi fundamental kemanusiaan kita, layak untuk ditemukan kembali dalam bentuknya yang sebenarnya.

 

Konstitusi Sacrosanctum Concilium menanggapi kebutuhan ini dengan serius. Hal ini sangat menyenangkan Paus Santo Paulus VI, yang, saat mengumumkan dokumen pertama yang disetujui oleh Konsili Vatikan II, menyatakan: “Allah adalah yang utama; doa adalah kewajiban utama kita; liturgi adalah sumber utama kehidupan ilahi yang dikomunikasikan kepada kita, sekolah utama kehidupan spiritual kita” (Wejangan, Basilika Santo Petrus, 4 Desember 1963).

 

Sesungguhnya, dalam Konstitusi tersebut, istilah “doa” merujuk pada liturgi secara keseluruhan. Sudut pandang ini sangat penting, karena hal inilah yang menuntun reformasi liturgi, menjadikan partisipasi aktif umat beriman sebagai pilar utamanya. Liturgi disajikan pertama dan terutama sebagai tempat perjumpaan, inisiatif Allah dalam mendekatkan diri kepada umat manusia melalui Putra-Nya, “Sabda yang menjadi daging dan diurapi Roh Kuduss” (SC, 5), yang kepada-Nya kita dapat menanggapi “melalui Kristus, bersama Kristus dan di dalam Kristus, dalam persatuan Roh Kudus”, berkat "doa Kristus besertatubuh-Nya kepada Bapa” (SC, 84).

 

Oleh karena itu, Santo Paulus VI sangat menginginkan agar Ibadat Harian, doa publik harian Gereja, yang tak terpisahkan dari Ekaristi, dapat meresapi, menghidupkan, menuntun, dan mengungkapkan seluruh doa kristiani, serta secara efektif memelihara kehidupan spiritual umat Allah (bdk. Konstitusi Apostolik Laudis Canticum).

 

Agar keinginan ini dapat terwujud, Ibadat Harian perlu dihayati dan dijalankan secara lebih utuh dalam kehidupan sehari-hari umat beriman maupun komunitas-komunitas. Bagi banyak orang yang ingin belajar berdoa — terutama para katekumen — ibadat ini dapat menjadi jalan serta sekolah doa Kristiani.

 

Setiap pekan dan setiap hari, Ekaristi dan Ibadat Harian merupakan napas kehidupan Gereja yang mengalirkan Roh Kudus ke seluruh tubuhnya. Dalam doa ini, Kristus “menghimpun seluruh umat manusia di sekeliling-Nya, dan mengikutsertakannya melambungkan kidung pujian ilahi-Nya” (SC, 83). Dengan demikian, hari demi hari, kita semakin dipersatukan dengan misteri Paskah dan diserupakan dengan Dia.

 

Santo Agustinus menegaskan bahwa “Ketika kita berbicara kepada Allah dalam doa memohon belas kasih, kita tidak memisahkan Sang Putra dari Dia; dan ketika berdoa tubuh Sang Putra tidak memisahkan Sang Kepalanya dari dirinya sendiri: dan Dialah satu-satunya Juruselamat bagi tubuh-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus, Putra Allah, yang berdoa bagi diri kita maupun berdoa di dalam diri kita, serta kepada-Nya kita berdoa. Ia berdoa bagi kita sebagai Imam kita; Ia berdoa di dalam diri kita sebagai Kepala kita; dan kepada-Nya kita berdoa sebagai Allah kita. Oleh karena itu, marilah kita mengenali kata-kata kita di dalam diri-Nya, dan kata-kata-Nya di dalam diri kita” (Enarr. in psalmum LXXXVI: PL 37, 1081).

 

Terikat erat dengan Ekaristi — yang cahayanya terus dipancarkan olehnya — Ibadat Harian menguduskan waktu dalam kehidupan kita sehari-hari: pada pagi hari kita mengawali hari dengan iman dan syukur; pada tengah hari kita memohon kekuatan untuk tetap setia di tengah segala kesibukan kita; pada petang hari, saat pekerjaan usai, Ibadat Sore (Vespers) menyertai saat matahari terbenam; dan pada malam hari, kita beristirahat sambil menyerahkan diri dalam damai Allah. Setiap Ibadat merupakan suatu tindakan pengharapan: sepanjang peziarahan di dunia ini, kita berjaga-jaga seraya menantikan kedatangan kembali Tuhan yang mulia bersama seluruh Gereja.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya mereka yang berasal dari Inggris, Malta, dan Amerika Serikat. Saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus bagimu dan keluargamu. Semoga Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Dalam rangkaian lanjutan katekese kita mengenai Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Liturgi, *Sacrosanctum Concilium*, hari ini kita mengarahkan perhatian pada dimensi gerejawi doa liturgis Gereja. Jauh dari sikap menjauhi dunia dan segala kebutuhannya, segenap doa — terutama dalam keseluruhan liturgi — merupakan dimensi hakiki dari kemanusiaan kita. Dalam doa, kita menyatukan diri dengan Yesus untuk mempersembahkan pujian dan syukur kepada Allah Bapa, melalui kuasa Roh Kudus. Secara khusus, Santo Paulus VI mengungkapkan kerinduan agar Ibadat Harian — doa publik harian Gereja — didoakan oleh seluruh anggota tubuh Kristus. Dengan cara ini, kita memperkenankan Roh Kudus menghembuskan napas-Nya ke dalam setiap pikiran dan tindakan kita, serta menginspirasi pengalaman yang lebih mendalam akan misteri Paskah. Saudara-saudari, semoga kita memperoleh santapan rohani yang kita butuhkan dalam peziarahan duniawi ini dengan cara berhimpun bersama seluruh Gereja dalam doa liturgisnya, seraya kita menantikan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 5 Agustus 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 2 Agustus 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Ketika kita mendengarkan Bacaan Injil, kita sering mendengar bahwa Yesus melakukan tanda-tanda, yaitu tindakan-tindakan yang mengungkapkan dedikasi khusus-Nya kepada kita dan keselamatan yang Ia bawa ke dunia. Tuhan digambarkan sebagai Pribadi yang memberi makna bagi kehidupan kita, membebaskan kita dari kejahatan dan dosa.

 

Dengan memulihkan penglihatan kepada orang buta dan pendengaran kepada orang tuli, Kristus melakukan lebih dari sekadar perbuatan ajaib; Ia memberitakan kepada semua orang bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Dengan cara ini, Bacaan Injil hari ini (Mat 14:13–21) bersaksi bahwa Yesus tidak hanya memulihkan indra orang-orang yang kehilangan indranya, tetapi Ia juga memenuhi indra kita dengan hal-hal yang baik. Kepada orang tuli yang mendapatkan kembali pendengarannya, Tuhan memberitakan Kabar Baik untuk didengar; kepada orang buta yang mendapatkan kembali penglihatannya, Yesus menunjukkan keagungan karya penebusan yang sedang dilakukan baginya. Demikian pula, Yesus memberi makan kepada orang-orang yang lapar. Kisah penggandaan roti menunjukkan kepada kita bahwa perjumpaan dengan Tuhan adalah pengalaman yang memelihara. Di padang gurun, yaitu, ketika kita membutuhkan sesuatu, Kristus adalah roti kehidupan. Bersama-Nya, kebutuhan kita terpenuhi dengan berlimpah: “Mereka semuanya makan sampai kenyang,” dan tersisa sebanyak “dua belas bakul penuh” (ayat 20). Angka ini menyoroti anugerah Tuhan bersifat universal, dan pemeliharaan ilahi-Nya bagi kita tidak pernah gagal.

 

Saudara-saudari terkasih, Kristus sungguh memuaskan rasa lapar umat manusia, rasa lapar kita akan kebenaran dan kehidupan. Tindakan-Nya mengajarkan kita bahwa tidak ada yang terbuang ketika dibagikan. Sebaliknya, penimbunan dan pemborosan adalah dua sisi kejahatan yang sama: keserakahan. Penyakit rohani ini mematikan indra, yang menjadi mabuk oleh kekayaan, sampai-sampai membuat orang melupakan mereka yang menangis karena lapar dan berteriak karena haus. Dan demikianlah, di tengah kemewahan yang berbau busuk, kita menemukan tangan-tangan terulur orang-orang yang tidak memiliki makanan, rumah-rumah yang menghanguskan orang-orang yang tidak memiliki kedamaian.

 

Di tengah gurun perang dan kesombongan, marilah kita memikirkan betapa baiknya Tuhan “menengadah ke langit dan mengucap syukur,” “memecah-mecah roti dan memberikannya” kepada murid-murid-Nya, supaya mereka memberikannya kepada orang banyak (bdk. ayat 19). Dalam mukjizat kasih ini, kita mengenali tindakan-tindakan khas Yesus, yang mencapai puncaknya dalam Perjamuan Terakhir, karena saat itulah Putra Allah memberikan hidup-Nya sendiri sebagai saudara kita dalam kemanusiaan. Saat kita menikmati rahmat Ekaristi, marilah kita berkomitmen untuk menjadi saksi keindahannya dalam tindakan sehari-hari kita, dimulai dengan mengucap syukur atas makanan di meja makan bersama keluarga dan teman. Dalam persekutuan dengan Yesus, bahkan liburan pun dapat menjadi waktu ketenangan persaudaraan, jika kita menjangkau sesama kita yang membutuhkan.

 

Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Perawan Maria, Bunda kita yang terkasih, agar Ia membantu kita bertumbuh dalam kasih, supaya jangan ada seorang pun yang kekurangan rezeki sehari-hari.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya sedang mengikuti dengan penuh keprihatinan situasi yang mengkhawatirkan di Ceuta, dan berdoa kepada Allah agar, melalui perantaraan Bunda Maria dari Afrika, solusi dapat ditemukan untuk membawa perdamaian, stabilitas, dan keadilan.

 

Marilah kita terus berdoa untuk perdamaian, agar peperangan di seluruh dunia berhenti dan solusi diplomatik untuk konflik dapat ditemukan. Marilah kita mengingat semua korban permusuhan, terutama yang paling lemah dan tak berdaya: anak-anak, orang tua, dan orang sakit. Semoga Tuhan menghibur orang-orang yang menderita dan memberkati karya orang-orang yang memberikan bantuan dan penghiburan.

 

Pada hari-hari ini dirayakan “Pengampunan Asisi”. Santo Fransiskus memperoleh indulgensi ini dari Paus Honorius III pada tahun 1216, setelah terinspirasi — saat berdoa di Porziuncola — oleh penglihatan tentang Yesus dan Maria yang dikelilingi oleh para malaikat. Marilah kita bersyukur kepada Tuhan atas karunia besar ini dan menghargainya, terutama pada tahun peringatan kedelapan abad wafatnya Santo Fransiskus, yang meninggal di Porziuncola pada tanggal 3 Oktober 1226.

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara: khususnya, para “Giovanissimi” dari Paroki Saccolongo dan Paroki Creola (Padua), kaum muda Paroki Santo Yohanes Bosco di Altamura, dan kaum muda Kerjasama Pastoral Castelfranco Veneto, yang didampingi oleh para imam dan pemimpin mereka.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 2 Agustus 2026)