Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 24 JUNI 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. III. KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM. 4. MISTERI EKARISTI

Saudara-saudari terkasih,

 

Kita akan melanjutkan katekese kita mengenai dokumen Konsili Vatikan II, khususnya Sacrosanctum Concilium (SC), Konstitusi tentang Liturgi.

 

Ketika Santo Agustinus ingin menjelaskan misteri tubuh Kristus kepada mereka yang baru dibaptis, ia mengambil perikop dari Surat Santo Paulus yang baru saja kita dengar: “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.” (1Kor. 12:27). Ia menambahkan: “Misteri tersebut juga telah kamu terima. Kepada apa adanya dirimu, kamu menjawab: Amin, dan jawabanmu ibarat tanda tanganmu. Kamu diberitahu, ‘Tubuh Kristus,’ dan kamu menjawab, ‘Amin.’ Karena itu jadilah anggota tubuh Kristus, agar "Amin"-mu menjadi benar. [...] Jadilah apa yang kamu lihat, dan terimalah apa adanya dirimu” (Khotbah 272: PL 38, 1247).

 

Segera setelah mengingat Perjamuan Terakhir Yesus, Sacrosanctum Concilium berbicara tentang Ekaristi dalam istilah-istilah Agustinus ini. Bagi umat kristiani, mengambil bagian dalam perjamuan Tuhan berarti “diajar oleh sabda Allah, disegarkan oleh santapan Tubuh Tuhan, bersyukur kepada Allah.” (bdk. SC, 48). Berkat menerima-Nya dalam sabda-Nya dan Ekaristi, kita menjadi apa yang kita terima. Kita menjadi tubuh yang kepala-Nya adalah Kristus yang telah bangkit, yang duduk di sebelah kanan Bapa (bdk. Kol. 1:18), yang menyediakan tempat bagi kita di surga (bdk. Yoh 14:3). Dengan demikian, Ekaristi adalah sakramen kerajaan yang akan datang. Ekaristi adalah Roti untuk perjalanan yang menuntun kita ke tanah air surgawi kita, sampai hari yang diberkati itu ketika “Allah menjadi semua di dalam semua” (1Kor. 15:28).

 

Perayaan liturgi mempersembahkan kurban “bukan saja melalui tangan imam, melainkan juga bersama dengannya” (SC, 48). Dari sudut pandang ini, Ekaristi adalah bentuk kurban rohani umat kristiani (bdk. Ibr. 13:16; Rm. 12:1), sebagai jalan menuju persatuan dengan Allah dan sesama. Dengan berpartisipasi di dalamnya, mereka belajar “mempersembahkan diri, dan dari hari ke hari – berkat perantaraan Kristus makin penuh dipersatukan dengan Allah dan antar mereka sendiri” (idem). Dengan demikian, dengan menggabungkan kita ke dalam Kristus, Ekaristi mengajarkan kita untuk mengadopsi gaya hidup Tuhan Yesus, yang ditandai dengan pemberian diri-Nya secara cuma-cuma. Pemberian ini menarik kita ke dalam dinamika persatuan, menawarkan penawar yang ampuh terhadap kekuatan perpecahan yang merusak dunia, komunitas, keluarga, dan hati kita (bdk. SC, 47).

 

Saudara-saudari terkasih, ketika kita mengambil bagian dalam Ekaristi, kita diundang untuk mendengarkan sabda Allah dan diberi makan di meja Tuhan, tempat Ia mempersembahkan diri-Nya kepada Bapa. Kedua bagian Misa ini, Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi, “begitu erat berhubungan sehingga merupakan satu tindakan Ibadat” (SC, 56).

 

Berkaitan dengan sabda Allah, penting untuk diingat bahwa ini bukan hanya soal memperoleh pengetahuan intelektual tentang Kitab Suci, tetapi juga menerima sabda yang “hidup dan kuat” (Ibr. 4:12), yang disabdakan Allah kepada setiap orang dan sekaligus kepada setiap individu. Sabda ini memberi makan dan menopang kita bersama dengan Roti Ekaristi dan menuntun kita dari kemerosotan dosa menuju kehidupan baru di dalam Kristus. “Ekaristi membuka kita kepada pemahaman Kitab Suci, sebagaimana Kitab Suci pada gilirannya menerangi dan menjelaskan misteri Ekaristi.” (Benediktus XVI, Verbum Domini, 55).

 

Konsili Vatikan II mengimbau hendaklah khazanah harta Kitab Suci dibuka lebih lebar agar santapan sabda Allah dihidangkan secara lebih melimpah kepada umat beriman (bdk. SC, 51). Reformasi liturgi menerjemahkan permintaan ini ke dalam khazanah harta berupa Leksionarium, buku yang mengumpulkan semua bacaan Kitab Suci untuk perayaan liturgi. Kekayaan ini diambil dari sumber paling murni dari Tradisi yang hidup, yang menggabungkan kesetiaan dengan tradisi; dengan keterbukaan terhadap perkembangan yang wajar (bdk. SC, 23).

 

Permulaan Bab II Sacrosanctum Concilium dipenuhi dengan referensi kepada sungai besar Tradisi, yang berlanjut dari para Bapa Gereja hingga kita. Saya akan mengutipnya: “Pada perjamuan terakhir, pada malam Ia diserahkan, Penyelamat kita mengadakan Kurban Ekaristi Tubuh dan Darah-Nya. Dengan demikian Ia mengabadikan Kurban Salib untuk selamanya, dan mempercayakan kepada Gereja Mempelai-Nya yang terkasih kenangan wafat dan kebangkitan-Nya: sakramen cinta kasih, lambang kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan Paskah. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikaruniai jaminan kemuliaan yang akan datang” (SC, 47).

 

Saudara-saudari terkasih, marilah dengan iman kita mengambil dari sumber kehidupan ilahi ini dan memperkenankan diri kita diubah rupa oleh misteri yang kita rayakan.

 

[Sapaan Khusus]

 

Pagi ini saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok-kelompok dari Inggris, Swedia, Malawi, Tanzania, Indonesia, Singapura, Korea Selatan, Kanada, dan Amerika Serikat. Atas kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan damai dan sukacita Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, seraya kita melanjutkan rangkaian katekese tentang Konsili Vatikan II, hari ini kita memikirkan perayaan Ekaristi sebagaimana tercantum dalam Konstitusi tentang Liturgi, Sacrosanctum Concilium. Misteri suci ini digambarkan dalam bab kedua dokumen tersebut sebagai “sakramen cinta kasih, lambang kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan Paskah. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikaruniai jaminan kemuliaan yang akan datang” (n. 47). Konstitusi juga menekankan bahwa dalam Misa, umat beriman bukanlah penonton pasif. Sebaliknya, semua didorong untuk mempersembahkan diri mereka dalam persatuan dengan Yesus Kristus, kurban yang tak bernoda, kepada Bapa, melalui tangan imam dan bersama-sama dengannya. Partisipasi dalam kurban Ekaristi juga berarti dibentuk oleh sabda Allah dan diberi makan di meja tubuh Tuhan. Sesungguhnya, kedua bagian Misa ini, Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi, “begitu erat berhubungan sehingga merupakan satu tindakan Ibadat” (SC, 56). Saudara-saudari, saat kita mencari makanan rohani dari sumber kehidupan ilahi yang melimpah ini, marilah kita memperkenankan diri kita diubah rupa oleh misteri yang kita rayakan.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 24 Juni 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 21 Juni 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Dalam Bacaan Injil hari ini (Mat. 10:26-33), Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk menjalankan perutusan mereka dan menyampaikan nasihat ini kepada mereka: “Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang, dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah” (ayat 27).

 

Ia membandingkan apa yang kita dengar "secara pribadi," yaitu, apa yang ada di dalam rahasia hati kita, dengan apa panggilan kita untuk memberitakan kepada semua orang. Ia mengingatkan kita bahwa mewartakan Injil pertama dan terutama adalah berbagi keunikan perjumpaan pribadi kita masing-masing dengan-Nya.

 

Kekuatan kerasulan apapun, sesungguhnya — mengatasi teknik dan sarana — berasal dari karya Roh Kudus di dalam diri kita dan keaslian tanggapan kita. Santo Thomas Aquino berbicara tentang khotbah sebagai penyampaian kepada orang lain apa yang telah kita renungkan: “contemplata aliis tradere” (bdk. Summa Theologiae, III, q. 40, a. 1, ad 2).

 

Kita tidak boleh berpikir bahwa kontemplasi adalah pengalaman eksklusif, yang hanya diperuntukkan bagi beberapa orang kudus atau bagi biarawan dan pertapa. Kita semua dapat melakukannya, dengan berusaha menyisihkan, di tengah-tengah komitmen kehidupan kita sehari-hari, saat-saat teduh untuk memasuki keheningan di hadapan Allah, mendengarkan suara-Nya, mempercayakan sukacita dan kekhawatiran kita kepada-Nya dan menelaah ulang kehidupan kita bersama-Nya. Hal ini membantu kita untuk memiliki iman yang semakin teguh dan sadar, dan akibatnya menjadi murid yang dapat dipercaya dan bebas, orang-orang yang mampu memantulkan terang Injil di setiap lingkungan dan situasi kehidupan, dan memberikan kesaksian tentangnya bahkan di tempat di mana nilainya tidak dipahami atau diterima.

 

Santo Matius — penulis perikop Injil yang telah kita sebutkan — menulis untuk komunitas yang hidupnya tidak mudah. ​​Mereka harus menghadapi permusuhan dan penganiayaan, sebagaimana masih dialami banyak umat kristiani saat ini di berbagai belahan dunia. Godaan untuk berkecil hati dan membiarkan kelelahan atau ketakutan mengalahkan mereka sangat besar.

 

Sekarang, seperti halnya saat itu, tetap setia pada ajaran Yesus dan mewartakan sabda-Nya: menanggapi kebencian dengan kasih, kesombongan dengan kelembutan hati, dan keputusasaan dengan ketekunan, merupakan tantangan. Karena alasan ini, kita harus memperdalam akar iman dan perutusan kita dalam hubungan yang intim dengan-Nya (bdk. Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 8). Hal ini memberi kita kekuatan untuk tidak putus asa, tetapi untuk terus berbagi dengan semua orang, dalam setiap keadaan, pesan pengharapan, kasih, dan damai-Nya. Dunia sangat membutuhkannya!

 

Semoga Bunda Maria membantu kita menjadi murid-murid misioner Tuhan Yesus, sesuai dengan panggilan kita masing-masing.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kemarin Hari Pengungsi Sedunia, yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, dirayakan bertepatan dengan peringatan ke-75 Konvensi tentang status pengungsi, yang diadopsi untuk melindungi mereka yang dianiaya dan dipaksa meninggalkan tanah air, rumah, dan keluarga mereka. Saya berharap semangat yang menginspirasi penyusunan sarana internasional penting ini juga dapat terus menerangi hati nurani para pemimpin nasional saat ini. Tidak seorang pun dapat menutup mata terhadap mereka yang mencari perlindungan dan keselamatan. Saya juga mendesak semua orang untuk menyambut mereka yang menjadi korban penganiayaan agar mereka dapat hidup dalam damai, bermartabat, dan menatap masa depan dengan penuh pengharapan.

 

Saya ingin menyapa para anggota Dialog Internasional Katolik Pentakosta. “Gereja percaya sebagaimana ia berdoa,” dan merefleksikan bersama prinsip “lex orandi, lex credendi” sangat relevan saat ini.

 

Saya menyapa dengan hangat kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara.

 

Sambil memikirkan para peziarah yang datang dari Brasil, saya menyampaikan doa untuk kaum muda yang meninggal beberapa hari lalu dalam kecelakaan lalu lintas di Negara Bagian Ceará.

 

Saya menyapa para calon penerima Sakramen Krisma dari dua paroki di Ozieri, Sardinia.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 22 Juni 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 17 Juni 2026 : PERJALANAN APOSTOLIK KE SPANYOL

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Hari ini, saya ingin membagikan beberapa refleksi tentang perjalanan apostolik yang saya lakukan pekan lalu ke Spanyol, mengunjungi Madrid, Barcelona, ​​Biara Montserrat, dan Kepulauan Canary.

 

Setelah perjalanan panjang di empat negara Afrika, kali ini saya mendapati diri saya berada di sebuah negara Eropa dengan tradisi Katolik yang kuno dan sangat kaya. Dan tampak jelas bahwa dewasa ini di Spanyol, yang telah mengalami perubahan sosial dan budaya yang signifikan, Paus disambut di mana-mana dengan antusiasme dan kesediaan untuk mendengarkan. Untuk ini saya mengucap syukur kepada Allah dan seluruh rakyat Spanyol, Raja dan otoritas sipil, para uskup dan komunitas gerejawi.

 

Umat Allah memberi saya penghiburan yang besar melalui ungkapan iman dan kasih sayang mereka yang penuh sukacita. Dari pihak saya, saya meneguhkan umat dan, sebagai Uskup Roma, saya mendorong mereka untuk mengatasi setiap bentuk perpecahan dan konflik dengan selalu mempromosikan persekutuan, dialog, dan persatuan dalam keanekaragaman. Inilah pelayanan Penerus Petrus, pelayanan yang menemukan ungkapan khusus dalam perjalanan apostolik, yang setiap kali disesuaikan dengan situasi gerejawi dan sosial negara-negara yang dikunjungi.

 

Berkaitan dengan Spanyol, saya dapat mengamati dengan penuh sukacita bahwa orang-orang dari segala usia dan situasi telah menantikan kunjungan Paus. Saya menemukan banyak sekali orang di mana-mana, yang menyambut saya dengan sangat hangat. Ini bukanlah sesuatu yang dianggap remeh, tetapi patut direfleksikan. Tentu saja, partisipasi seperti itu, pertama-tama, sebagaimana saya katakan, mengungkapkan iman rakyat Spanyol. Pada saat yang sama, saya percaya hal itu mengungkapkan kebutuhan yang luas untuk menemukan persatuan berdasarkan landasan yang benar dan mendalam, yang bukan ideologis atau berdasarkan kepentingan pihak tertentu — landasan yang, pada akhirnya, hanya dapat dijamin oleh Kristus, dan disampaikan dalam kehidupan manusia melalui Injil, melalui "inkulturasi" yang diperlukan. Hal itu dapat terjadi karena pesannya sepenuhnya menjawab kedua kebutuhan ini: pencarian kebenaran dan dahaga akan keadilan.

 

Di Madrid dan Barcelona, ​​kami berkumpul di Katedral yang megah serta di stadion-stadion modern. Kami berdoa Rosario suci di Biara Montserrat. Kami merayakan Misa di Sagrada Familia sebuah simbol agung, simfoni batu dan cahaya yang berbicara kepada setiap orang tentang misteri kristiani. Perjumpaan kuno dan modern, tradisi Katolik dan budaya masa kini ini memungkinkan saya untuk merasakan secara langsung karakter Eropa, kekayaannya yang tak ternilai, sebagai kenyataan yang hidup, bukan sesuatu dari masa lalu. Sebuah warisan yang harus dijaga dengan cermat, sehingga dapat diinvestasikan dalam dunia global saat ini dengan tantangan-tantangan pentingnya: perdamaian, ekologi terpadu, pembangunan yang adil dan berkelanjutan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Semua tantangan ini diakui dengan jelas oleh Konsili Vatikan II, dan yang kemudian diangkat kembali oleh Magisterium, hingga ensiklik saya baru-baru ini, Magnifica Humanitas, yang bertujuan untuk melindungi pribadi manusia di era kecerdasan buatan.

 

Melalui berbagai pertemuan, saya merasakan kebutuhan untuk mendengar suara Paus, Injil pengharapan bagi umat manusia dewasa ini, yang sangat diuji oleh dampak negatif dari model pembangunan yang menyesatkan. Saya menyadari kebutuhan ini, yang terwujud dalam banyak kesaksian yang dapat saya dengar — kesaksian yang terkadang mengharukan, terkadang mencerahkan — juga dan terutama pada wajah anak-anak kecil dan kaum miskin yang saya temui: anak yang membacakan suratnya kepada saya di paroki; beberapa korban pelecehan, yang meminta untuk didengar; para narapidana yang menunggu saya di penjara; kaum muda yang penuh dengan kecemasan dan aspirasi; para migran di pusat-pusat penerimaan di Kepulauan Canary.

 

Justru di sanalah, di Kepulauan Canary — penghentian terakhir perjalanan — saya mendapatkan wawasan yang menyeluruh. Wawasan itu diberikan kepada saya, di satu sisi, oleh lokasi geografis kepulauan itu sendiri; dan, di sisi lain, oleh kenyataan Gereja lokal yang menyambut sejumlah besar migran yang terpaksa, terutama dari Afrika. Kita tahu bahwa fenomena migrasi itu rumit dan membutuhkan rencana aksi yang organik dan terkoordinasi. Tetapi penafsiran ini membuka sudut pandang yang berbeda dan lebih luas: hal ini memungkinkan kita untuk memahami bagaimana kita dipanggil untuk menafsirkan kembali Injil di dunia dewasa ini, saling bertukar karunia budaya kita masing-masing, dan khususnya, produk yang dihasilkan di dalamnya oleh keberhasilan pesan Kristus. Dan salah satu buahnya adalah dialog antarmanusia dan antarbangsa, sebuah perjumpaan dalam semangat persaudaraan, yang memungkinkan kita untuk menemukan dan menghargai nilai-nilai satu sama lain. Perjalanan ini tidak mudah. Selain membutuhkan niat baik dan pertolongan Allah, perjalanan ini merupakan jalan yang mengarah pada peradaban kasih.

 

Saudara-saudari terkasih, moto perjalanan apostolik ini adalah “Alzad la mirada”, “Lihatlah sekelilingmu!” (bdk. Yoh 4:35). Yesus menyampaikan kata-kata ini kepada murid-murid-Nya yang pertama, untuk mengajari mereka melihat keinginan akan hidup, kebenaran, dan kepenuhan dalam diri manusia dan orang banyak. Tuhan mengulangi kata-kata itu kepada saya terlebih dahulu, dan berkat rahmat-Nya saya juga mengalaminya selama perjalanan ini. Hari ini, saya ingin membagikan ajakan ini kepadamu: marilah kita melihat sekeliling kita! Marilah kita belajar dari Yesus untuk melihat sesama kita, orang-orang, dan dunia, “melalui mata Allah”, yaitu, dengan kasih, hormat, dan bela rasa.

 

Akhirnya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah berdoa untuk keberhasilan perjalanan apostolik ini, terutama para biarawati kontemplatif, yang, syukur kepada Allah, sangat banyak di Spanyol. Teruslah berdoa, agar, melalui perantaraan Perawan Maria, benih yang telah saya tabur dapat menghasilkan buah yang melimpah. Terima kasih!

 

[Imbauan]

 

Saya menyambut dengan puas kesepakatan yang dicapai antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat, yang akan ditandatangani pada hari Jumat, sebagai hasil yang menggembirakan dari dialog dan negosiasi yang sabar. Saya menyampaikan rasa terima kasih saya kepada negara-negara yang telah bekerja untuk memfasilitasi pertemuan antara kedua pihak dan memungkinkan kesepakatan ini terwujud. Saya berharap kesepakatan ini dapat membantu memperkuat kepercayaan bersama, keamanan, dan stabilitas di Timur Tengah, dengan mempromosikan jalur dialog dan kerjasama antarbangsa.

 

Sementara itu, berita menyedihkan terus muncul mengenai perang di Ukraina, yang terus meningkat: begitu banyak korban jiwa yang tidak bersalah, pekerja bantuan yang tewas, gereja dan situs warisan budaya yang hancur akibat kebakaran. Pikiran saya bersama mereka yang berduka atas kehilangan orang yang mereka cintai, bersama mereka yang terluka, dan bersama mereka yang, di tengah kekerasan, terus melayani kehidupan dengan berani. Saya mengajak semua orang untuk berdoa agar perang ini segera berakhir. Marilah kita memohon kepada Tuhan untuk membuka jalan menuju dialog, memadamkan kebencian, dan mewujudkan perdamaian yang adil dan abadi.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, terutama mereka yang datang dari Inggris, Kamerun, Taiwan, Filipina, dan Amerika Serikat. Seiring dimulainya liburan musim panas bagi banyak orang, semoga waktu ini menjadi kesempatan untuk semakin dekat dengan Tuhan melalui saat doa dan untuk saling mendukung melalui tindakan amal yang berlimpah. Kepada kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan damai dan kesatuan dari Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dalam katekese hari ini, saya ingin membagikan beberapa refleksi kepadamu tentang perjalanan apostolik saya ke Spanyol pekan lalu. Sepanjang perjalanan, saya terhibur melihat ungkapan iman dan kasih sayang yang penuh sukacita yang ditunjukkan oleh umat Allah, serta kerumunan orang yang menyambut saya dengan begitu hangat. Selama berbagai acara, saya merasakan bukan hanya iman rakyat Spanyol yang berakar dalam, tetapi juga keinginan akan persatuan dan harapan yang hanya dapat ditemukan di dalam Kristus dan kasih-Nya kepada kita. Pengalaman itu mengingatkan saya akan kekayaan budaya Eropa, warisan Katolik yang kuat, dan peran yang dapat dimainkannya dewasa ini dalam mempromosikan perdamaian, penghormatan terhadap martabat manusia, dan dialog persaudaraan saat kita berupaya membangun peradaban kasih yang sejati. Sebagaimana kamu ketahui, moto perjalanan itu adalah “Lihatlah sekelilingmu!” (bdk. Yoh 4:35), dan saya ingin menyampaikan undangan ini kepadamu juga: angkatlah pandanganmu kepada Tuhan. Dan marilah kita belajar dari-Nya untuk melihat sesama dan dunia di sekeliling kita seperti yang Ia lihat. Terima kasih kepada semua orang yang telah mendoakan keberhasilan perjalanan apostolik ini. Mohon terus mendoakan agar perjalanan ini menghasilkan buah yang berlimpah.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 17 Juni 2026)

PESAN PAUS LEO XIV UNTUK HARI KAKEK-NENEK DAN LANSIA SEDUNIA VI (PESTA SANTO YOAKIM DAN SANTA ANA, 26 JULI 2026)

Aku tidak akan melupakan engkau (Yes. 49:15)

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Melalui Nabi Yesaya, Tuhan berjanji bahwa Ia tidak akan pernah melupakan kita. Ia meyakinkan kita bahwa Ia telah melukiskan wajah kita di telapak tangan-Nya (bdk. Yes. 49:16) dan bahwa kasih-Nya lebih besar daripada kasih seorang ibu kepada anaknya (bdk. Yes. 49:15). Nabi Yesaya memberi kita gambaran sekilas tentang dialog yang intim dan intens di mana Allah berbicara, dengan istilah yang akrab, kepada setiap orang secara individu dan kepada umat secara keseluruhan. Bahkan hari ini, kita dapat membaca kata-kata ini merujuk kepada kita masing-masing, dan setiap orang dapat mendengar bahwa “Aku tidak akan melupakan engkau” diucapkan langsung kepada mereka.

 

Kata-kata ini memenuhi diri kita dengan penghiburan dan pegharapan. Kata-kata ini adalah jawaban atas perasaan menyakitkan yang mengganggu hati: “Tuhan telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku” (Yes. 49:14). Betapa seringnya dalam Kitab Suci, terutama dalam Kitab Mazmur, doa muncul dari orang-orang yang putus asa karena merasa bahwa hidup mereka tidak menarik bagi siapa pun dan diabaikan! Perasaan menyakitkan karena dilupakan, sayangnya, dialami oleh banyak orang, dan di antara mereka terdapat cukup banyak orang lanjut usia.


Kasih Allah, yang tidak melupakan siapa pun, menawarkan diri sebagai tindakan keadilan dan tanggapan terhadap keadaan tanpa nama di mana kehidupan manusia terlalu sering berakhir dengan kehilangan makna. Kehidupan banyak orang lanjut usia, khususnya, tampaknya tertutup oleh tabir yang mengaburkan fitur wajah mereka dan menyelimuti mereka dalam keterlupaan. Inilah yang terjadi di rumah-rumah di mana kesepian berkuasa dan juga di fasilitas perawatan di mana keunikan setiap orang berisiko direduksi menjadi nomor tempat tidur atau penyakit.

 

Perayaan Hari Kakek Nenek dan Lansia Sedunia merupakan kesempatan untuk menemukan kembali panggilan Gereja untuk menjadi ibu bagi semua orang dan di usia berapa pun selalu mungkin untuk mengenali diri kita sebagai putra dan putri Allah. Oleh karena itu, semoga hari ini menjadi inspirasi bagi semua orang, terutama kaum muda, untuk menghidupkan kembali kebiasaan indah mengunjungi kakek nenek mereka, anggota keluarga yang lanjut usia, dan bahkan orang-orang yang tidak memiliki siapa pun yang mengunjungi mereka. Bawalah kepada mereka, melalui pesan ini dan kehadiranmu, kedekatan dan kasih sayang Paus. Pastikanlah kata-kata dalam Kitab Nabi Yesaya, "Aku tidak akan melupakan engkau," mengambil bentuk perjumpaan yang lembut dan penuh kasih sayang. “Di era yang mengutamakan kecepatan dan fragmentasi, manusia masih merindukan untuk menerima kepedulian dan pengakuan dari pikiran yang penuh perhatian, kata-kata yang baik, dan tangan yang mampu menunjukkan kelembutan. Budaya digital melipatgandakan koneksi dan menawarkan peluang baru untuk berinteraksi; namun, hati manusia tetap memiliki kebutuhan yang tak terelakkan akan kedekatan yang tulus” (Ensiklik Magnifica Humanitas, 239).

 

Gereja memahami penderitaan para anggotanya yang lanjut usia; Ia sangat menyadari bahwa mereka terlalu sering dipandang melalui kacamata stereotip dan dianggap sebagai beban; ia sadar bahwa ekonomi yang berorientasi pada keuntungan melemahkan ikatan keluarga; ia tahu bahwa banyak orang lanjut usia ditinggalkan oleh anak-anak yang terpaksa bermigrasi atau, dalam beberapa kasus, berperang. Karena semua alasan ini, dengan penuh sukacita ia menyatakan janji Tuhan: “Tetapi Aku tidak akan melupakan engkau!”

 

Menemukan, sebagaimana dikatakan Yohanes Paulus I, bahwa kita adalah penerima “kasih kekal Allah, sungguh merupakan suatu sukacita, di usia berapa pun, tetapi terutama ketika kita tidak lagi muda. Kita tahu: Ia selalu membuka mata-Nya bagi kita, bahkan ketika keadaan tampak gelap. Ia adalah Bapa kita; terlebih lagi Ia adalah Ibu kita” (Doa Malaikat Tuhan, 10 September 1978). Sekalipun tidak mudah untuk berpikir seperti ini, kenyataannya bahwa bahkan di usia tua pun kita tidak berhenti menjadi anak laki-laki dan perempuan; oleh karena itu, undangan untuk kembali ke pelukan Allah — yang kasih-Nya bersifat kebapaan dan keibuan — tetap berharga di usia berapa pun.

 

Bagi banyak orang, menemukan kelembutan Allah terjadi sepanjang hidup mereka, terkadang bahkan di tahap akhir kehidupan. Memang, tidak seperti di masa lalu, mencapai usia tua tanpa pernah mengalami iman sejati menjadi semakin umum. Dalam kasus seperti itu, usia tua — dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dengan semakin mendesak selama masa kehidupan ini — dapat menjadi waktu yang tepat untuk memulai atau melanjutkan kehidupan spiritual. Dalam perjalanan baru ini, kita dapat menyadari bahwa Allah, sebagaimana dikatakan Santo Agustinus, “adalah seorang ibu karena Ia menyayangi, memelihara, merawat, dan melindungi” (Ulasan Mazmur 27, II, 18). Kesadaran ini membantu kita untuk tidak merasa malu akan kerapuhan yang muncul dan juga untuk memahami bahwa kita selalu saling membutuhkan serta membutuhkan perhatian serta kepedulian. Kepada Allah yang mendekati kita dan yang kepada-Nya kita mempelajari mengenali kelembutan-Nya, kini kita dapat berpaling dengan kepercayaan bakti dalam doa. Tidak pernah terlambat untuk mulai berpaling kepada-Nya. Anugerah yang luar biasa dimungkinkan bagi setiap orang.

 

Saudara-saudari lanjut usia yang terkasih, Paus Fransiskus menyebutmu “umat baru” (Katekese, 23 Februari 2022), karena jumlah orang lanjut usia belum pernah sebesar ini dalam sejarah manusia. Oleh karena itu, merefleksikan bersamamu, “umat baru” ini, tentang apa panggilan kita ketika kerapuhan — pendamping manusia sejak lahir — tampaknya mengambil alih jauh lebih penting dari sebelumnya. Saya ingin mengatakan kepadamu: jangan takut akan kerapuhan! Justru kelemahan inilah yang menyimpan potensi baru yang juga menerangi tahap kehidupan lainnya. Sesungguhnya, ketika “kita mengakui kerapuhan kita, hati kita menjadi terbuka untuk saling mendukung dan memohon kepada Dia yang dapat memberikan apa yang tidak dapat dijamin oleh kekuatan manusia: rekonsiliasi hati yang mendalam dan, bersamanya, kedamaian sejati” (Pertemuan dengan komunitas Aljazair, Basilika Bunda Maria dari Afrika, Aljir, 13 April 2026).

 

Inilah cara kita dapat menjalani usia tua sebagai umat kristiani: “rapuh” namun sekaligus “dipanggil.” Seorang laki-laki dan seorang perempuan, sesungguhnya, dapat dilahirkan kembali di usia tua (bdk. Yoh 3:4-6) dan berseru, bersama Nabi Yesaya: “Dengan berbalik kepada Tuhan dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu” (Yes. 30:15). Kekuatan ini dapat menjadi ajakan untuk tidak menggunakan cara-cara kesombongan dan kekuasaan untuk memastikan hidup berdampingan antarmanusia, tetapi cara-cara rekonsiliasi dan perdamaian sejati. Di masa ini, yang dengan sangat kejam ditandai oleh kekerasan perang dan keresahan sosial, banyak lansia yang bertanya-tanya seperti apa dunia tempat cucu-cucu mereka akan tumbuh dewasa. Saya mendesakmu, sahabat-sahabat terkasih, untuk bergabung dengan saya untuk mendoakan dengan sungguh-sungguh perdamaian segera datang ke seluruh dunia.

 

Saudara-saudari lanjut usia terkasih, saya berterima kasih atas dukunganmu setiap hari dengan doa-doamu, terutama ketika kamu berdoa Rosario Suci. Saya menyampaikan rasa syukur ini dari lubuk hati saya dan menyampaikan doa ini kepadamu: semoga Tuhan senantiasa memperbarui iman, harapan, dan kasih kita — Ia yang tidak akan melupakan kita!

 

Vatikan, 15 Juni 2026

 

Leo XIV

______

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Juni 2026)