Liturgical Calendar

Featured Posts

PESAN "URBI ET ORBI" PAUS LEO XIV PADA HARI RAYA PASKAH 5 April 2026

Saudara-saudari, Kristus telah bangkit! Selamat Paskah!

 

Selama berabad-abad, Gereja dengan gembira menyanyikan peristiwa yang menjadi asal dan dasar imannya: “Kristus, pengharapanku bangkit / Kita yakin Kristus bangkit dari kematian / Kau Raja pemenang, kasihanilah” (Sekuensia Paskah).

 

Paskah adalah kemenangan kehidupan atas kematian, terang atas kegelapan, kasih atas kebencian. Kemenangan yang datang dengan harga yang sangat mahal: Kristus, Putra Allah yang hidup (bdk. Mat 16:16), harus mati — dan mati di kayu salib — setelah menderita hukuman yang tidak adil, dihina dan disiksa, dan menumpahkan seluruh darah-Nya. Sebagai Anak Domba yang dikurbankan, Ia menghapus dosa dunia (bdk. Yoh. 1:29; 1 Ptr. 1:18-19) dan dengan demikian membebaskan kita semua — dan bersama kita, seluruh ciptaan — dari kekuasaan kejahatan.

 

Namun, bagaimana Yesus mampu meraih kemenangan? Kekuatan apakah yang dengannya Ia mengalahkan musuh lama, penguasa dunia ini (bdk. Yoh 12:31) untuk selamanya? Kekuatan apakah yang dengannya Ia bangkit dari kematian, tidak kembali ke kehidupan lama-Nya, tetapi memasuki kehidupan kekal dan dengan demikian membuka jalan dari dunia ini kepada Bapa melalui tubuh-Nya?

 

Kekuatan ini, kuasa ini, adalah Allah sendiri karena Ia adalah Kasih yang menciptakan dan menghasilkan, Kasih yang setia sampai akhir dan Kasih yang mengampuni dan menebus.

 

Kristus, “Raja kita yang jaya,” berjuang dan memenangkan pertempuran melalui penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Bapa, kepada rencana keselamatan-Nya (bdk. Mat 26:42). Demikianlah Ia menempuh jalan dialog hingga akhir, bukan dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan: untuk menemukan kita yang tersesat, Ia menjadi manusia; untuk membebaskan kita yang menjadi hamba, Ia menjadi hamba; untuk memberi hidup kepada kita manusia fana, Ia membiarkan diri-Nya dibunuh di kayu salib.

 

Kuasa yang membangkitkan Kristus sepenuhnya tanpa kekerasan. Kuasa tersebut seperti biji gandum yang, setelah membusuk di tanah, tumbuh, menembus gumpalan tanah, bertunas, dan menjadi bulir gandum emas. Kuasa tersebut bahkan lebih seperti hati manusia yang, terluka oleh suatu pelanggaran, menolak naluri untuk membalas dendam dan, dipenuhi dengan belas kasihan, berdoa untuk orang yang telah melakukan pelanggaran tersebut.

 

Saudara-saudari, inilah kekuatan sejati yang membawa perdamaian bagi umat manusia, karena kekuatan ini menumbuhkan hubungan yang saling menghormati di setiap tingkatan: antarindividu, keluarga, kelompok sosial, dan bangsa. Kekuatan ini tidak mencari kepentingan pribadi, tetapi kebaikan bersama; kekuatan ini tidak berusaha memaksakan rencananya sendiri, tetapi membantu merancang dan melaksanakan rencana bersama dengan orang lain.

 

Ya, kebangkitan Kristus adalah awal dari kemanusiaan baru; kebangkitan Kristus adalah pintu masuk ke tanah perjanjian yang sejati, di mana keadilan, kebebasan, dan perdamaian berkuasa, di mana semua orang saling mengenali sebagai saudara dan saudari, anak-anak dari Bapa yang sama yang adalah Kasih, Kehidupan, dan Terang.

 

Saudara-saudari, melalui kebangkitan-Nya, dengan lebih kuat lagi Tuhan menghadapkan kita pada kenyataan dramatis kebebasan kita. Di hadapan kubur yang kosong, kita dapat dipenuhi dengan pengharapan dan kekaguman, seperti para murid, atau dengan ketakutan seperti para penjaga dan orang-orang Farisi, yang terpaksa melakukan kebohongan dan tipu daya daripada mengakui bahwa Ia yang telah dihukum benar-benar telah bangkit (bdk. Mat 28:11-15)!

 

Dalam terang Paskah, marilah kita membiarkan diri kita dikagumi oleh Kristus! Marilah kita membiarkan hati kita diubah rupa oleh kasih-Nya yang besar kepada kita! Biarlah mereka yang memiliki senjata meletakkannya! Biarlah mereka yang memiliki kuasa untuk melancarkan perang memilih perdamaian! Bukan perdamaian yang dipaksakan dengan kekerasan, tetapi melalui dialog! Bukan dengan keinginan untuk mendominasi orang lain, tetapi untuk bertemu dengan mereka!

 

Kita semakin terbiasa dengan kekerasan, pasrah menerimanya, dan menjadi acuh tak acuh. Acuh tak acuh terhadap kematian ribuan orang. Acuh tak acuh terhadap dampak kebencian dan perpecahan yang ditimbulkan oleh konflik. Acuh tak acuh terhadap konsekuensi ekonomi dan sosial yang ditimbulkannya, yang kita semua rasakan. Ada peningkatan "globalisasi ketidakpedulian," meminjam ungkapan yang disukai Paus Fransiskus, yang setahun lalu dari balkon ini menyampaikan kata-kata terakhirnya kepada dunia, mengingatkan kita: "Betapa besar dahaga akan kematian, pembunuhan, yang kita saksikan setiap hari dalam banyak konflik yang berkecamuk di berbagai belahan dunia!" (Pesan Urbi et Orbi, 20 April 2025).

 

Salib Kristus selalu mengingatkan kita akan penderitaan dan kesakitan yang mengelilingi kematian dan penderitaan mendalam yang ditimbulkannya. Kita semua takut akan kematian, dan karena takut kita berpaling, lebih memilih untuk tidak melihat. Kita tidak bisa terus acuh tak acuh! Dan kita tidak bisa pasrah terhadap kejahatan! Santo Agustinus mengajarkan, "Jika kamu takut mati, cintailah kebangkitan!" (Khotbah 124, 4). Marilah kita juga mengasihi kebangkitan, yang mengingatkan kita bahwa kejahatan bukanlah kata terakhir, karena telah dikalahkan oleh Yesus yang bangkit.

 

Ia melewati kematian untuk memberi kita kehidupan dan damai sejahtera: “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan Aku memberi kepadamu tidak seperti dunia memberi” (Yoh 14:27). Damai sejahtera yang diberikan Yesus kepada kita bukanlah sekadar keheningan senjata, tetapi damai sejahtera yang menyentuh dan mengubah hati kita masing-masing! Marilah kita membiarkan diri kita diubah oleh damai sejahtera Kristus! Marilah kita menyuarakan seruan damai sejahtera yang muncul dari hati kita! Karena alasan ini, saya mengundang semua orang untuk bergabung dengan saya dalam doa bersama untuk perdamaian yang akan kita rayakan di Basilika Santo Petrus pada hari Sabtu, 11 April mendatang.

 

Pada hari perayaan ini, marilah kita meninggalkan setiap keinginan akan konflik, dominasi, dan kekuasaan, dan memohon kepada Tuhan untuk menganugerahkan damai sejahtera-Nya kepada dunia yang dilanda perang dan ditandai oleh kebencian dan ketidakpedulian yang membuat kita merasa tidak berdaya dalam menghadapi kejahatan. Kepada Tuhan kita mempercayakan semua hati yang menderita dan menantikan damai sejahtera sejati yang hanya dapat diberikan oleh-Nya. Marilah kita mempercayakan diri dan membuka hati kita kepada-Nya! Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru (bdk. Why. 21:5).

 

Selamat Paskah!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 5 April 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 1 April 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 6. BATU YANG HIDUP DI DALAM GEREJA DAN SAKSI-SAKSI DI DUNIA: KAUM AWAM DI DALAM UMAT ALLAH

Saudara-saudari, selamat pagi!

 

Marilah kita melanjutkan perjalanan refleksi kita tentang Gereja sebagaimana disajikan kepada kita dalam Konstitusi Konsili Lumen gentium (LG). Hari ini kita akan meninjau bab empat, yang membahas tentang kaum awam. Marilah kita semua mengingat apa yang kerap diulangi Paus Fransiskus: “Kaum awam benar-benar adalah bagian terbesar dari umat Allah. Kaum minoritas – para pelayan tertahbis – siap melayani mereka” (Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 102).

 

Bagian Dokumen ini berupaya menjelaskan, secara positif, sifat dan misi kaum awam, setelah berabad-abad mereka hanya didefinisikan sebagai orang yang bukan bagian dari klerus atau hidup bakti. Oleh karena itu, bersamamu saya ingin membahas kembali sebuah perikop yang sangat indah yang berbicara tentang keagungan kedudukan umat Kristiani: “Jadi satulah Umat Allah yang terpilih: satu Tuhan, satu iman, satu baptisan' (Ef 4:5). Samalah martabat para anggota karena kelahiran mereka kembali dalam Kristus; sama rahmat para putra; sama pula panggilan kepada kesempurnaan; satu keselamatan, satu harapan dan tak terbagilah cinta kasih” (LG, 32).

 

Sebelum membedakan pelayanan atau status hidup, Konsili menegaskan kesetaraan semua orang yang dibaptis. Konstitusi tidak ingin kita melupakan apa yang telah ditegaskan dalam bab tentang Umat Allah, yaitu kedudukan umat mesianik ialah martabat dan kebebasan anak-anak Allah (bdk. LG, 9).

 

Tentu saja, semakin besar karunia, semakin besar pula komitmennya. Karena alasan ini, Konsili, bersama dengan martabat, juga menekankan misi kaum awam di dalam Gereja dan di dunia. Tetapi atas dasar apa misi ini didasarkan, dan terdiri dari apa? Deskripsi kaum awam yang diberikan oleh Konsili memberitahu kita: “Yang dimaksud dengan istilah awam di sini ialah semua orang beriman kristiani kecuali mereka yang termasuk golongan imam atau status religius yang diakui dalam Gereja. Jadi kaum beriman kristiani, yang berkat baptisan telah menjadi anggota Tubuh Kristus, terhimpun menjadi Umat Allah, dengan cara mereka sendiri ikut mengemban tugas imamat, kenabian dan rajawi Kristus, dan dengan demikian sesuai dengan kemampuan mereka melaksanakan perutusan segenap umat kristiani dalam Gereja dan di dunia” (LG, 31).

 

Oleh karena itu, Umat Allah yang kudus bukanlah sekadar massa yang tak berbentuk, melainkan tubuh Kristus atau, sebagaimana dikatakan Santo Agustinus, Christus totus; ia adalah komunitas yang terstruktur secara organik melalui hubungan yang berbuah antara dua bentuk partisipasi dalam imamat Kristus: imamat umum umat beriman dan imamat jabatan atau hirarkis (bdk. LG, 10). Berdasarkan baptisan, kaum awam turut serta dalam imamat Kristus. Sesungguhnya, “Imam Tertinggi dan Abadi Kristus Yesus bermaksud melangsungkan kesaksian dan palayanan-Nya melalui kaum awam juga. Maka oleh Roh-Nya Ia tiada hentinya menghidupkan dan mendorong mereka untuk menjalankan segala karya yang baik dan sempurna” (LG, 34).

 

Dalam hal ini, bagaimana mungkin kita melupakan Santo Yohanes Paulus II dan Seruan Apostolik Christifideles Laici (30 Desember 1988)? Di dalamnya, beliau menekankan bahwa “Konsili, dengan kekayaan warisan doktrinal, spiritual, dan pastoralnya, telah menulis lebih dari sebelumnya tentang kodrat, martabat, spiritualitas, misi, dan tanggung jawab kaum awam. Dan para Bapa Konsili, menggemakan kembali seruan Kristus, telah memanggil semua kaum awam, baik perempuan maupun laki-laki, untuk bekerja di kebun anggur” (no. 2). Dengan cara ini, pendahulu saya yang terhormat meluncurkan kembali kerasulan kaum awam, yang kepadanya Konsili mendedikasikan sebuah dokumen khusus, yang akan kita bahas nanti.[1]

 

Bidang kerasulan awam tidak terbatas pada Gereja, tetapi meluas ke seluruh dunia. Sesungguhnya, Gereja hadir di mana pun anak-anaknya mengaku dan memberi kesaksian tentang Injil: di tempat kerja, dalam masyarakat sipil, dan dalam semua hubungan antarmanusia, di mana pun mereka, melalui pilihan mereka, menunjukkan keindahan kehidupan kristiani, yang menubuatkan di sini dan sekarang keadilan dan perdamaian yang akan terwujud dalam Kerajaan Allah. Dunia perlu “dipenuhi oleh roh Kristus, dan lebih efektif memenuhi tujuannya dalam keadilan, cinta kasih, dan damai” (LG, 36). Dan ini hanya mungkin melalui kontribusi, pelayanan, dan kesaksian kaum awam!

 

Sebuah undangan untuk menjadi Gereja yang “keluar” yang dibicarakan Paus Fransiskus kepada kita: Gereja yang terwujud dalam sejarah, selalu terbuka untuk misi, di mana kita semua dipanggil untuk menjadi murid misioner, rasul Injil, saksi Kerajaan Allah, pembawa sukacita Kristus yang telah kita jumpai!

 

Saudara-saudari, semoga Paskah yang akan kita rayakan ini memperbarui rahmat dalam diri kita untuk menjadi, seperti Maria Magdalena, seperti Petrus dan Yohanes, saksi-saksi Yesus yang bangkit!


_____________________

Catatan Kaki

[1] Bdk. Konsili Ekumenis Vatikan II, Dekrit Apostolicam Actuositatem (18 November 1965).

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, terutama mereka yang datang dari Nigeria, Filipina, dan Amerika Serikat. Secara khusus saya menyapa para mahasiswa yang berpartisipasi dalam Konferensi Universitas Internasional UNIV 2026. Semoga Pekan Suci ini menuntun kita untuk merayakan kebangkitan Tuhan Yesus dengan hati yang dimurnikan dan diperbarui oleh rahmat Roh Kudus. Atas kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dalam lanjutan katekese kita mengenai Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, hari ini kita akan membahas kaum awam. Ketimbang membatasi diri pada definisi kaum awam berdasarkan apa yang sesungguhnya, Konsili Vatikan II berupaya untuk menjelaskan martabat asali mereka sebagai anggota Umat Allah dan menggarisbawahi kekhasan peran mereka dalam misi Gereja. Setelah dipersatukan dalam Kristus melalui baptisan, kaum awam dijadikan peserta dengan cara mereka sendiri dalam tugas imamat, kenabian, dan kerajaan-Nya. Gereja hadir di mana pun anak-anaknya mengakui Injil dan memberi kesaksian tentang Kristus. Karena alasan ini, kaum awam, baik laki-laki maupun perempua, secara khusus dipanggil untuk membawa kehadiran Kristus ke semua bidang kehidupan dan dengan demikian mengubahnya dari dalam dengan memberi kesaksian tentang keindahan hidup dalam Kristus dan kuasa rahmat-Nya yang meninggikan.
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 1 April 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 29 Maret 2026

Saudara-saudari terkasih,


Pada awal Pekan Suci, doa kita lebih dari sebelumnya tertuju kepada umat kristiani di Timur Tengah, yang menderita akibat konflik brutal dan, dalam banyak kasus, tidak dapat sepenuhnya mengikuti liturgi hari-hari suci ini. Seraya Gereja merenungkan misteri sengsara Tuhan, kita tidak boleh melupakan mereka yang hari ini benar-benar turut merasakan penderitaan-Nya. Pencobaan mereka menantang hati nurani kita semua. Marilah kita memanjatkan doa kepada Sang Raja Damai agar Ia menopang bangsa-bangsa yang terluka oleh perang dan membuka jalan nyata menuju rekonsiliasi dan perdamaian.

 

Saya juga ingin mempercayakan kepada Tuhan para pekerja maritim yang telah menjadi korban konflik. Saya berdoa untuk mereka yang meninggal, terluka, dan keluarga mereka. Daratan, langit, dan laut semuanya diciptakan untuk kehidupan dan perdamaian!

 

Marilah kita juga berdoa untuk semua migran yang telah meninggal di laut, terutama mereka yang kehilangan nyawa dalam beberapa hari terakhir di lepas pantai Kreta.

 

Saya menyapa dan berterima kasih kepada kamu semua – baik umat Roma maupun para peziarah – yang telah ambil bagian dalam liturgi ini! Bersama-sama, marilah kita sekarang berpaling kepada Perawan Maria, mempercayakan semua doa kita kepada perantaraannya. Semoga ia membimbing kita selama hari-hari suci ini, agar kita dapat mengikuti Yesus, Juruselamat kita, dengan iman dan kasih.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 29 Maret 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 25 Maret 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 5. DIBANGUN DI ATAS DASAR PARA RASUL. GEREJA DALAM DIMENSI HIERARKISNYA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Kita akan melanjutkan katekese kita tentang dokumen-dokumen Konsili Vatikan II, membahas Lumen Gentium (LG), Konstitusi Dogmatis tentang Gereja. Setelah menyajikan Gereja sebagai Umat Allah, hari ini kita akan menelaah bentuk hierarkisnya.

 

Gereja Katolik didirikan di atas para Rasul, yang diangkat Kristus sebagai tiang penopang hidup tubuh mistik-Nya, dan memiliki susunan hierarkis yang bekerja untuk melayani persatuan, misi, dan pengudusan semua anggotanya. Tatanan suci ini secara permanen dibangun di atas dasar para Rasul (bdk. Ef 2:20; Why 21:14), sebagai saksi yang berwenang atas kebangkitan Yesus (bdk. Kis 1:22; 1Kor 15:7) dan diutus oleh Tuhan sendiri untuk menjalankan misi ke dunia (bdk. Mrk 16:15; Mat 28:19). Karena para Rasul dipanggil untuk dengan setia memelihara ajaran keselamatan Sang Guru (bdk. 2Tim 1:13–14), mereka meneruskan pelayanan mereka kepada orang-orang yang, sampai kedatangan Kristus kembali, terus menguduskan, membimbing, dan mengajar Gereja “melalui para penerus mereka dalam jabatan pastoral” (Katekismus Gereja Katolik, no. 857).

 

Suksesi apostolik ini, yang berlandaskan Injil dan Tradisi, ditelaah lebih lanjut dalam Bab III Lumen Gentium, yang berjudul “susunan hierarki Gereja dan khususnya episkopat”. Konsili mengajarkan bahwa susunan hierarki bukanlah bangunan manusiawi, yang berfungsi untuk organisasi internal Gereja sebagai badan sosial (bdk. LG, 8), tetapi lembaga ilahi yang bertujuan untuk melestarikan misi yang diberikan oleh Kristus kepada para Rasul hingga akhir zaman.

 

Fakta bahwa tema ini dibahas dalam Bab III, setelah dua bab pertama membahas hakikat Gereja itu sendiri (bdk. Acta Synodalia III/1, 209–210), tidak berarti bahwa konstitusi hierarkis merupakan unsur selanjutnya sehubungan dengan Umat Allah: sebagaimana dicatat dalam Dekrit Ad Gentes, “para Rasul merupakan benih-benih Israel baru, pun sekaligus awal mula hierarki suci” (no. 5), karena mereka adalah komunitas orang-orang yang ditebus oleh misteri Paskah Kristus, yang dibangun sebagai sarana keselamatan bagi dunia.

Untuk memahami maksud Konsili, disarankan untuk membaca dengan saksama judul Bab III dari Lumen Gentium, yang menjelaskan susunan fundamental Gereja, yang diterima dari Allah Bapa melalui Putra dan digenapi oleh pencurahan Roh Kudus. Para Bapa Konsili tidak ingin menyajikan unsur-unsur kelembagaan Gereja, sebagaimana yang mungkin tersirat dari kata benda "konstitusi" jika dipahami dalam arti modern. Dokumen tersebut lebih berfokus pada "imamat jabatan atau hierarkis", kendati "berbeda hakikatnya dan bukan hanya tingkatnya" dari imamat umum kaum beriman, saling terarahkan dan "keduanya dengan cara khasnya masing-masing mengambil bagian dalam satu imamat Kristus" (LG, 10). Dengan demikian, Konsili membahas pelayanan yang diberikan kepada orang yang dikaruniai sacra potestas, kuasa suci (bdk. LG, 18) untuk melayani Gereja: Konsili berfokus khususnya pada episkopat (LG, 18–27), kemudian pada presbiterat (LG, 28) dan diakonat (LG, 29) sebagai tingkatan dari satu sakramen imamat.

 

Oleh karena itu, dengan kata sifat “hierarkis”, Konsili bermaksud untuk menunjukkan asal usul suci pelayanan apostolik dalam karya Yesus, Gembala yang baik, serta hubungan internalnya. Para Uskup, pertama dan terutama, dan melalui mereka para imam dan diakon, telah menerima tugas (dalam bahasa Latin munera), yang menuntun mereka untuk melayani “semua yang termasuk Umat Allah”, sehingga, “dengan bebas dan teratur bekerja sama untuk mencapai tujuan tadi, dan dengan demikian mencapai keselamatan. (LG, 18).

 

Lumen Gentium berulang kali dan secara efektif mengingatkan sifat kolegial dan komunal dari misi apostolik ini, menegaskan kembali bahwa “tugas yang oleh Tuhan diserahkan kepada para gembala umat-Nya itu, sungguh-sungguh merupakan pengabdian, yang dalam Kitab Suci” (LG, 24). Oleh karena itu, kita dapat memahami mengapa Santo Paulus VI memaparkan hierarki sebagai kenyataan yang “lahir dari kasih Kristus, untuk memenuhi, menyebarkan, dan memastikan penyampaian yang utuh dan berbuah dari kekayaan iman, teladan, ajaran, dan karisma yang diwariskan oleh Kristus kepada Gereja-Nya” (Wejangan, 14 September 1964, dalam Acta Synodalia III/1, 147).

 

Saudari-saudari terkasih, marilah kita berdoa kepada Tuhan agar Ia mengutus kepada Gereja-Nya para pelayan yang bersemangat dengan kasih Injil, yang mengabdikan diri untuk kebaikan semua orang yang dibaptis, dan para misionaris yang berani di setiap penjuru dunia.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, terutama mereka yang datang dari Inggris, Irlandia, Tanzania, Israel, Arab Saudi, dan Amerika Serikat. Secara khusus saya menyapa para mahasiswa Program Roma Universitas Dallas. Saat kita melanjutkan perjalanan Paskah kita, marilah kita memohon kepada Tuhan agar menganugerahkan kepada kita rahmat untuk meneladan Bunda Maria dalam "ya"-nya yang sepenuhnya kepada Tuhan, dan dengan demikian membuka hati kita kepada kehendak-Nya bagi hidup kita. Atas kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih,

Dalam katekese kita yang sedang berlangsung tentang Konsili Vatikan II, hari ini kita merefleksikan ajaran Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium mengenai susunan hierarkis Gereja. Dalam hal ini, penting untuk diingat bahwa Gereja bukanlah sesuatu yang kita ciptakan, tetapi merupakan lembaga ilahi yang didirikan oleh Yesus sendiri. Kristus menunjuk para rasul, menempatkan Petrus sebagai kepala mereka, dan mengutus mereka untuk melanjutkan misi penyelamatan-Nya sampai kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan. Untuk melestarikan misi yang sama ini, para pelayan diberi kuasa suci untuk menjadi penerus para Rasul sebagai Uskup, yang pelayanannya juga diikuti oleh para imam dan diakon melalui Sakramen Imamat. Dengan turut serta dalam pelayanan Yesus, Gembala yang baik, mereka dikuduskan untuk melayani umat beriman, membangun Gereja, dan memastikan penyebaran iman yang berbuah. Karena itu, marilah kita memohon kepada Tuhan agar terus memberkati Gereja-Nya dengan gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Nya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 25 Maret 2026)