Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 24 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Pada Hari Raya Pentakosta ini, kita dipanggil untuk merenungkan karunia Roh Kudus, yang dicurahkan dengan melimpah kepada Gereja yang baru lahir dan, hari ini, diberikan kembali kepada para anggotanya sebagai terang dan kekuatan yang menyertai mereka dalam setiap situasi kehidupan.

 

Kita dapat merenungkan gambaran Roh Kudus yang diberikan kepada kita melalui liturgi hari ini: Roh Kudus membuka pintu. Bacaan Injil memberitahu kita bahwa "murid-murid berada di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci karena mereka takut kepada para pemuka Yahudi" (Yoh 20:19), dan pada saat yang sama, Kitab Kisah Para Rasul memberitahu kita bahwa Roh Kudus datang seperti tiupan angin keras (bdk. Kis 2:2), membuka pintu-pintu itu dan mendorong murid-murid untuk keluar dan memberitakan Kabar Baik tentang Kristus yang telah bangkit.

 

Kita juga dapat bertanya pada diri kita sendiri hari ini: pintu apa yang dibuka oleh Roh Kudus?

 

Pintu pertama adalah pintu Allah sendiri, dalam arti bahwa Ia membuka bagi kita misteri Allah, sebagaimana Ia menyatakan diri-Nya dalam Yesus Kristus. Dengan karunia Roh-Nya, Allah memberi kita iman sejati, memungkinkan kita untuk memahami makna Kitab Suci, menyatakan diri-Nya dekat dengan kita, dan memungkinkan kita untuk berpartisipasi dalam kehidupan-Nya. Roh Kudus membantu kita untuk memiliki pengalaman pribadi tentang Allah, untuk bertemu dengan-Nya dalam Yesus dan bukan hanya dalam ketaatan terhadap hukum, mengenali-Nya dalam diri kita, dan menemukan tanda-tanda kehadiran-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

 

Pintu kedua adalah pintu Ruang Atas, yaitu pintu Gereja. Tanpa api Roh Kudus, Gereja tetap menjadi tawanan ketakutan, penakut dalam menghadapi tantangan dunia, tertutup pada dirinya sendiri dan karena itu tidak mampu berdialog dengan perubahan zaman. Roh Kudus membuka pintu Gereja sehingga Gereja dapat menerima dan ramah kepada semua orang, bahkan kepada mereka yang telah menutup pintu mereka kepada Allah, sesama, pengharapan, dan sukacita kehidupan. Paus Fransiskus mengingatkan bahwa kita dipanggil untuk menjadi "Gereja yang memberkati dan mendorong [...] Gereja dengan pintu terbuka bagi semua orang" (Homili pada Misa Pembukaan Sidang Umum Sinode Para Uskup, 4 Oktober 2023).

 

Akhirnya, Roh Kudus membuka pintu hati kita, membantu kita mengatasi penolakan, keegoisan, ketidakpercayaan, dan prasangka, dan memungkinkan kita untuk hidup sebagai anak-anak Allah dan saudara-saudari di antara kita sendiri. Di mana Roh Tuhan hadir, persaudaraan lahir di antara individu, kelompok, dan bangsa-bangsa di bumi, dan semua berbicara dalam satu bahasa kasih, yang mempersatukan dan menyelaraskan keragaman.

 

Saudara-saudari, bahkan di zaman kita ini, khususnya pada Hari Raya Pentakosta ini, kita harus memohon kepada Roh Kudus untuk membuka semua pintu yang masih tertutup. Kita perlu menemukan kembali Allah sebagai Bapa yang mengasihi kita, membangun Gereja di mana setiap orang merasa nyaman, dan memupuk dunia persaudaraan di mana perdamaian berkuasa di antara semua bangsa.

 

Seperti para murid pertama, kita percaya pada perantaraan Perawan Maria, tempat kediaman Roh Kudus dan Bunda Gereja.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini adalah Hari Doa untuk Gereja di Cina, peringatan liturgi Santa Perawan Maria, Penolong Umat Kristiani, yang dihormati dengan penuh devosi di Tempat Suci Sheshan di Shanghai. Marilah kita menggabungkan doa kita dengan doa umat Katolik Cina, sebagai tanda kasih sayang kita kepada mereka dan persekutuan mereka dengan Gereja universal dan dengan penerus Santo Petrus. Semoga perantaraan Ratu Surga memperolehkan bagi umat beriman di Cina rahmat persatuan dan memberikan kekuatan kepada setiap orang untuk memberi kesaksian tentang Injil dalam perjuangan sehari-hari mereka, menjadi benih pengharapan dan perdamaian. Secara khusus, saya memohon kedamaian abadi bagi para korban kecelakaan yang terjadi beberapa hari yang lalu di sebuah tambang di Cina utara.

 

Kepada Santa Maria, Penolong Umat Kristiani, kita juga mempercayakan komunitas Kristiani di Tanah Suci, Lebanon, dan seluruh Timur Tengah, yang menderita karena perang.

 

Dan sekarang saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara!

 

Secara khusus, saya menyapa kelompok penyandang disabilitas dari Polandia, serta para peziarah yang datang dengan sepeda dari Kelmis, Belgia. Selamat!

 

Saya mengucapkan selamat Hari Raya Pentakosta kepada semuanya.

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 24 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 20 MEI 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. III. KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM. 1. LITURGI DALAM MISTERI GEREJA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!


Hari ini kita memulai rangkaian katekese baru tentang dokumen pertama yang dikeluarkan oleh Konsili Vatikan II: Konstitusi tentang liturgi suci, Sacrosanctum Concilium (SC).

 

Dalam menyusun konstitusi ini, para Bapa Konsili tidak hanya berupaya melakukan reformasi upacara, tetapi juga menuntun Gereja untuk merenungkan dan memperdalam ikatan hidup yang membentuk dan mempersatukannya: misteri Kristus. Sesungguhnya, liturgi menyentuh inti misteri ini: liturgi sekaligus merupakan ruang, waktu, dan konteks di mana Gereja menerima kehidupannya dari Kristus. Karena dalam liturgi, “terlaksanalah karya penebusan kita” (SC, 2), yang menjadikan kita bangsa terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri (bdk. 1 Ptr. 2:9).

 

Sebagaimana termanifestasi dalam tiga pembaharuan – biblis, patristik, dan liturgis – yang dialami Gereja sepanjang abad kedua puluh, misteri yang dimaksud bukanlah kenyataan yang samar, melainkan rencana keselamatan Allah, yang tersembunyi sejak kekekalan dan dinyatakan dalam Kristus, menurut penegasan Santo Paulus (bdk. Ef 3:2-6). Maka, inilah misteri kristiani: peristiwa Paskah, yaitu penderitaan, kematian, kebangkitan, dan pemuliaan Kristus, yang secara sakramental dihadirkan kepada kita justru dalam liturgi, sehingga setiap kali kita ambil bagian dalam jemaat yang berkumpul “dalam nama-Nya” (bdk. Mat 18:20) kita terbenam dalam misteri ini.

 

Kristus sendiri adalah sumber batiniah misteri Gereja, umat Allah yang kudus, yang lahir dari lambung-Nya yang tertikam di kayu salib. Dalam liturgi suci, melalui kuasa Roh-Nya, Ia terus bertindak. Ia menguduskan dan mempersatukan Gereja, mempelai-Nya, dengan persembahan-Nya kepada Bapa. Ia menjalankan imamat-Nya yang benar-benar unik, Ia hadir dalam Sabda yang diwartakan, dalam sakramen-sakramen, dalam para pelayan yang merayakan, dalam komunitas yang berkumpul dan, pada tingkat tertinggi, dalam Ekaristi (bdk. SC, 7). Demikianlah, menurut Santo Agustinus (bdk. Khotbah, 277), dalam merayakan Ekaristi Gereja “menerima tubuh Tuhan dan menjadi apa yang diterimanya”: ia menjadi Tubuh Kristus, “tempat kediaman Allah dalam Roh” (Ef 2:22). Inilah “karya penebusan kita”, yang membentuk kita sesuai dengan Kristus dan membangun kita dalam persekutuan.

 

Dalam liturgi suci, persekutuan ini dicapai melalui “upacara dan doa-doa” (SC, 48). Upacara Gereja mengungkapkan imannya – sesuai dengan pepatah yang sudah dikenal lex orandi, lex credendi – dan sekaligus membentuk jatidiri gerejawi: Sabda yang diwartakan, perayaan sakramen, gerak tubuh, keheningan, ruang – semua ini mewakili dan memberi bentuk kepada umat yang dikumpulkan oleh Bapa, tubuh Kristus, bait Roh Kudus. Setiap perayaan dengan demikian menjadi epifani sejati Gereja dalam doa, Santo Yohanes Paulus II mengingatkan (Surat Apostolik Vicesimus Quintus Annus, 9).

 

Jika liturgi melayani misteri Kristus, kita memahami mengapa liturgi didefinisikan sebagai “puncak yang dituju kegiatan Gereja ... bagaikan dari sumber, mengalirlah rahmat kepada kita” (SC, 10). Memang benar bahwa tindakan Gereja tidak terbatas pada liturgi saja; namun, semua aktivitasnya (khotbah, pelayanan kepada kaum miskin, pendampingan kenyataan manusiawi) bertemu menuju “puncak” ini. Sebaliknya, liturgi menopang umat beriman dengan membenamkan mereka selalu dan kembali dalam Paskah Tuhan dan, dengan demikian, melalui pewartaan Sabda, perayaan sakramen dan doa bersama, mereka disegarkan, didorong, dan diperbarui dalam komitmen mereka terhadap iman dan perutusan mereka. Dengan kata lain, partisipasi umat beriman dalam tindakan liturgi bersifat “internal” sekaligus “eksternal”.

 

Hal ini juga berarti panggilan untuk mewujudnyatakannya dalam kehidupan sehari-hari, dalam dinamika etis dan spiritual, sehingga liturgi yang dirayakan diterjemahkan ke dalam kehidupan dan menuntut keberadaan yang setia, yang mampu mewujudkan apa yang telah dialami dalam perayaan tersebut: dengan cara inilah hidup kita menjadi "persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah", yang menggenapi "ibadah rohani" kita (Rm. 12:1).

 

Dengan cara ini, “liturgi setiap hari membangun mereka yang berada di dalam Gereja menjadi kenisah suci dalam Tuhan” (SC, 2), dan membentuk komunitas terbuka, yang menyambut semua orang. Sesungguhnya, liturgi didiami oleh Roh Kudus, memperkenalkan kita kepada kehidupan Kristus, menjadikan kita tubuh-Nya dan, dalam segala dimensinya, merupakan tanda persatuan seluruh umat manusia di dalam Kristus. Paus Fransiskus mengatakan, “Dunia masih belum mengetahuinya, tetapi setiap orang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba (Why. 19:9)” (Surat Apostolik Desiderio Desideravi, 5).

 

Saudara-saudari terkasih, marilah kita memperkenankan diri kita dibentuk secara batiniah oleh upacara, simbol, gerak tubuh, dan terutama kehadiran Kristus yang hidup dalam liturgi, yang akan kita dapatkan kesempatan untuk menjelajahinya dalam katekese-katekese mendatang.

 

[Sapaan Khusus]

 

Pagi ini saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok-kelompok dari Inggris, Irlandia, Tanzania, India, Jepang, Malaysia, Filipina, Vietnam, Kanada, dan Amerika Serikat, serta para Pelindung Seni di Museum Vatikan dari Kanada. Atas kamu semua, dan atas keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Yesus yang telah bangkit! Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, seiring kita melanjutkan rangkaian katekese tentang Konsili Vatikan II, hari ini kita akan membahas Konstitusi Dogmatis tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium. Dokumen ini mengajarkan bahwa liturgi membenamkan kita dalam misteri penderitaan, kematian, kebangkitan, dan pemuliaan Kristus. Melalui upacara dan doa-doa liturgi, dan berkat kuasa Roh Kudus, Yesus menjalankan imamat-Nya dan menguduskan Gereja, mempelai-Nya, menyatukannya dengan persembahan-Nya sendiri kepada Bapa. Sesungguhnya, Kristus hadir dalam sabda yang diwartakan, dalam sakramen-sakramen, dalam para pelayan, dalam komunitas, dan terutama dalam Ekaristi. Marilah kita memperkenankan diri kita dibentuk dari dalam oleh upacara, simbol, gerak tubuh, dan terutama oleh kehadiran Kristus yang hidup dalam liturgi, yang akan kita telaah lebih lanjut.

 

[Sapaan Pembuka dari Bapa Suci kepada Yang Mulia Aram I, Katolikos Kilikia]

 

Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Damai sejahtera bagimu.

 

Saudara-saudari, saya sangat senang menyapa Yang Mulia Aram I, Katolikos Kilikia dari Gereja Apostolik Armenia, beserta delegasi terhormat yang menyertainya. Kunjungan persaudaraan ini merupakan kesempatan penting untuk memperkuat ikatan persatuan yang telah ada di antara kita, saat kita bergerak menuju persekutuan penuh di antara Gereja-gereja kita.

 

Yang Mulia, pada hari-hari ini ketika kita mempersiapkan diri untuk Pentakosta, saya memohonkan rahmat Roh Kudus atas peziarahanmu ke makam Rasul Petrus dan Rasul Paulus, dan saya mengajak semua yang hadir untuk berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan agar kunjungan dan pertemuanmu dapat menjadi langkah selanjutnya di jalan menuju persatuan penuh. Marilah kita juga berdoa untuk perdamaian di Lebanon dan Timur Tengah, yang sekali lagi terkoyak oleh kekerasan dan perang.

 

Yang Mulia, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya yang sebesar-besarnya atas komitmen pribadimu yang terus-menerus terhadap ekumenisme, terutama terhadap dialog teologis internasional antara Gereja Katolik dan Gereja-gereja Ortodoks Timur.

 

Selamat datang, Yang Mulia, para uskup terkasih dan sahabat-sahabat terkasih! Bersama-sama, marilah kita memohon perantaraan Santo Gregorius Sang Penerang, Santo Gregorius dari Nareg, Santo Nerses yang Berbudi Luhur dan, terutama, Bunda Maria, agar mereka menerangi jalan kita menuju kepenuhan persatuan yang kita semua dambakan.
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 20 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 17 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Di banyak negara di seluruh dunia, Hari Raya Kenaikan Tuhan dirayakan hari ini.

 

Gambaran Yesus –– diangkat dari bumi dan naik ke surga, sebagaimana dinyatakan Kitab Suci (bdk. Kis. 1:1-11) –– mungkin membuat kita berpikir tentang misteri ini sebagai peristiwa yang jauh di masa lalu. Namun, tidaklah demikian, karena kita dipersatukan dengan Yesus sebagai anggota satu tubuh yang dipersatukan dengan kepala. Dengan naik ke surga, Ia menarik kita bersama-Nya menuju persekutuan penuh dengan Bapa. Dalam hal ini, Santo Agustinus berkata, “kemajuan kepala adalah pengharapan anggota” (Khotbah 265, 1.2).

 

Sesungguhnya, seluruh kehidupan Kristus adalah gerakan naik. Melalui kemanusiaan-Nya, Ia merangkul dan melibatkan seluruh dunia, mengangkat dan menebus manusia dari kondisi kedosaan mereka. Dengan demikian, Ia membawa terang, pengampunan, dan pengharapan di tempat yang sebelumnya gelap, tidak adil, dan putus asa, agar manusia dapat meraih kemenangan Paskah yang definitif, di mana Putra Allah, dengan kematian-Nya, “telah menghancurkan kematian kita, dan dengan kebangkitan-Nya, membangun kembali kehidupan kita” (Prefasi I Paskah).

 

Oleh karena itu, kenaikan Yesus bukanlah janji yang jauh, melainkan ikatan yang hidup, yang juga menarik kita menuju kemuliaan surgawi, yang telah mengangkat dan memperluas cakrawala kita dalam kehidupan ini dan mengarahkan cara berpikir, merasakan, dan bertindak kita lebih dekat kepada ukuran hati Allah.

Lebih jauh lagi, dalam jalan naik ini, kita mengenali jalannya (bdk. Yoh 14:1-6). Sesungguhnya, kita menemukannya dalam diri Yesus –– dalam anugerah kehidupan, teladan, dan ajaran-Nya. Kita juga melihatnya ditunjukkan kepada kita oleh Bunda Maria dan para kudus: mereka yang ditawarkan Gereja sebagai teladan universal. Paus Fransiskus juga senang berbicara tentang orang kudus "dari pintu sebelah" (bdk. Seruan Apostolik Gaudete et Exsultate, 7), yang hidup bersama kita dalam kehidupan sehari-hari: ayah, ibu, kakek-nenek, orang-orang dari segala usia dan kondisi, yang dengan sukacita dan komitmen, berupaya untuk hidup dengan tulus sesuai dengan Injil.

 

Bersama mereka, dengan dukungan dan berkat doa mereka, kita pun dapat belajar untuk naik hari demi hari menuju surga. Sebagaiaman dikatakan Santo Paulus, kita harus berfokus pada apa pun yang benar, adil, dan patut dipuji (bdk. Flp. 4:8), dan melakukan, dengan pertolongan Allah, semua yang telah kita “dengar dan lihat” (ayat 9). Dengan cara ini, kehidupan ilahi, yang kita terima dalam baptisan dan yang terus-menerus menarik kita ke tempat yang tinggi, menuju Bapa, dapat tumbuh di dalam dan di sekitar kita serta menyebarkan buah persekutuan dan perdamaian yang berharga di dunia.

 

Semoga Maria, Ratu Surga, yang menerangi dan membimbing kita setiap saat, mendukung kita di jalan kita.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Di banyak negara, Hari Komunikasi Sedunia diperingati hari ini, yang bertema “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”, yang saya pilih untuk tahun ini. Di era kecerdasan buatan ini, saya mendorong semua orang untuk berkomitmen mempromosikan bentuk-bentuk komunikasi yang selalu menghormati kebenaran pribadi manusia, yang seharusnya menjadi fokus setiap inovasi teknologi.

 

Mulai hari ini hingga hari Minggu depan, Pekan Laudato Si’ berlangsung, yang didedikasikan untuk kepedulian terhadap ciptaan dan terinspirasi oleh Ensiklik Paus Fransiskus. Pada tahun Yubileum Santo Fransiskus dari Asisi ini, kita mengingat pesannya tentang berdamai dengan Allah, saudara-saudari kita, dan semua makhluk. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, karena perang, kemajuan ke arah ini sangat terhambat. Oleh karena itu, saya mendorong anggota Gerakan Laudato Si’ dan semua yang mempromosikan ekologi terpadu untuk memperbarui komitmen mereka. Sesungguhnya, peduli terhadap perdamaian berarti peduli terhadap kehidupan!

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara. Secara khusus, saya menyapa beberapa marching band dari Jerman, Persaudaraan “Sant’Antonu di u Monti” dari Ajaccio, dan kelompok mahasiswa dari Universitas Montana, Amerika Serikat.

 

Saya menyapa kaum muda dari Oppido Mamertina, para pemimpin kaum muda dari Lorenzaga di Keuskupan Concordia-Pordenone, dan para calon penerima Sakramen Krisma dari Keuskupan Agung Genoa.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 17 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 13 MEI 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 9. PERAWAN MARIA, TELADAN GEREJA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Konsili Vatikan II memilih untuk mendedikasikan bab terakhir Konstitusi Dogmatis tentang Gereja kepada Perawan Maria (bdk. Lumen gentium, 52-69). Ia “menerima salam sebagai anggota Gereja yang serbaunggul dan sangat istimewa, pun juga sebagai pola teladannya yang mengagumkan dalam iman dan cinta kasih.” (LG, 53). Kata-kata ini mengajak kita untuk memahami bagaimana dalam diri Maria, yang di bawah tindakan Roh Kudus menyambut dan melahirkan Putra Allah yang menjadi manusia, kita dapat mengenali baik model maupun anggota dan ibu yang serbaunggul dari seluruh komunitas gerejawi.

 

Dengan memperkenankan diri-Nya dibentuk oleh karya rahmat, yang mencapai penggenapannya dalam diri-nya, dan dengan menerima anugerah dari Yang Mahatinggi dengan iman dan kasih-Nya yang perawan, Maria adalah teladan yang sempurna dari apa yang seharusnya menjadi panggilan seluruh Gereja: ciptaan dari sabda Allah dan ibu dari anak-anak Allah, yang dilahirkan dalam ketaatan kepada karya Roh Kudus. Lebih jauh lagi, karena ia adalah orang percaya yang unggul, di mana kita ditawarkan bentuk sempurna dari keterbukaan tanpa syarat terhadap misteri ilahi dalam persekutuan umat Allah yang kudus, Maria adalah anggota yang sangat baik dari komunitas gerejawi. Akhirnya, karena Ia melahirkan anak-anak dalam Putra, dikasihi dalam Kekasih abadi yang datang di antara kita, Maria adalah ibu dari seluruh Gereja, yang dapat berpaling kepadanya dengan kepercayaan sebagai anak, dengan kepastian didengar, dilindungi, dan dikasihi.

 

Kita dapat mengungkapkan keseluruhan karakteristik Perawan Maria ini dengan menyebutnya seorang perempuan yang merupakan ikon dari misteri tersebut. Kata "perempuan" menyoroti kenyataan historis dari putri Israel yang belia ini, yang kepadanya diberikan kesempatan untuk menjalani pengalaman luar biasa menjadi ibu sang Mesias. Ungkapan "ikon" menekankan bahwa, di dalam dirinya, gerakan ganda turun dan naik terpenuhi: di dalam dirinya, baik pemilihan Allah yang cuma-cuma maupun persetujuan imannya yang bebas kepada-Nya bersinar. Oleh karena itu, Maria adalah perempuan yang merupakan ikon dari misteri tersebut, yaitu, ikon rencana keselamatan ilahi, yang dulunya tersembunyi dan sekarang diungkapkan sepenuhnya dalam Yesus Kristus.

 

Konsili telah mewariskan ajaran yang jelas tentang tempat unik Perawan Maria dalam karya penebusan (bdk. Lumen Gentium, 60-62). Konsili mengingatkan bahwa satu-satunya pengantara keselamatan adalah Yesus Kristus (bdk. 1 Tim 2:5-6), dan bahwa bunda-Nya yang kudus “sama sekali tidak merintangi persatuan langsung kaum beriman dengan Kristus, melainkan justru mendukungnya (bdk. LG, 60). Pada saat yang sama, “Sehubungan dengan penjelmaan Sabda ilahi Santa Perawan sejak kekal telah ditetapkan untuk menjadi Bunda Allah ... ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya juru selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrtai jiwa-jiwa. Oleh karena itu dalam tata rahmat ia menjadi Bunda kita.” (idem, 61).

 

Misteri Gereja juga tercermin dalam Perawan Maria: di dalam dirinya, umat Allah menemukan gambaran asal usul, teladan, dan tanah air mereka. Dalam Bunda Tuhan, Gereja merenungkan misterinya sendiri, bukan hanya karena ia menemukan di dalam dia teladan iman yang perawan, kasih keibuan, dan perjanjian perkawinan yang merupakan panggilannya, tetapi juga dan terutama karena di dalam dirinya ia mengenali pola dasar dirinya sendiri, sosok ideal dari apa yang seharusnya ia wujudkan.

 

Sebagaimana dapat kita lihat, refleksi tentang Bunda Perawan yang dikumpulkan dalam Lumen Gentium mengajarkan kita untuk mencintai Gereja dan melayani di dalamnya penggenapan Kerajaan Allah, yang akan datang dan yang akan sepenuhnya terwujud dalam kemuliaan.

 

Marilah kita memperkenankan diri kita dipertanyakan oleh teladan agung yang diberikan kepada kita oleh Maria, Perawan dan Bunda, dan marilah kita memohon kepadanya untuk membantu kita, melalui perantaraannya, guna menjawab apa yang diminta dari kita melalui teladannya: apakah aku menjalani partisipasiku dalam Gereja dengan iman yang rendah hati dan aktif? Apakah aku mengenali di dalam Gereja persekutuan perjanjian yang telah diberikan Allah kepadaku untuk menanggapi kasih-Nya yang tak terbatas? Apakah aku merasa bahwa aku adalah bagian dari Gereja yang hidup, dalam ketaatan kepada para gembala yang diberikan oleh Allah? Apakah aku memandang Maria sebagai teladan, anggota dan Bunda Gereja yang luar biasa, dan memohon kepadanya untuk membantuku menjadi murid Putranya yang setia?

 

Saudara-saudari, semoga Roh Kudus, yang turun atas Maria dan yang kita mohon dengan rendah hati dan penuh kepercayaan, menganugerahkan kepada kita rahmat untuk menghayati kenyataan-kenyataan yang indah ini sepenuhnya. Dan, setelah merefleksikan secara mendalam Konstitusi Lumen Gentium, marilah kita memohon kepada Perawan Maria untuk memperolehkan anugerah ini bagi kita: agar kasih kepada Gereja Bunda yang kudus tumbuh dalam diri kita semua. Amin!

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Irlandia, Tanzania, India, Indonesia, Kanada, dan Amerika Serikat. Hari ini kita memperingati Bunda Maria dari Fatima. Pada hari ini, empat puluh lima tahun yang lalu, terjadi percobaan pembunuhan terhadap Paus Yohanes Paulus II, dan karena alasan ini, saya mendedikasikan katekese saya hari ini kepada Bunda Maria. Pada saat yang sama, kita akan segera merayakan Kenaikan Tuhan, yang menandai masuknya kemanusiaan-Nya ke surga. Sambil menantikan kedatangan Yesus yang kedua dalam kemuliaan, semoga kita, seperti para Rasul, mempercayakan diri kita kepada Bunda Maria. Atas kamu dan keluargamu, dengan tulus saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Kristus Tuhan. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese kita hari ini kita merenungkan Maria, yang dalam bab terakhir Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium diakui sebagai teladan, anggota yang sempurna, dan sebagai ibu. Taat kepada kehendak Bapa, karya penebusan Putranya, dan dorongan Roh Kudus, Maria adalah teladan dari apa yang seharusnya menjadi panggilan Gereja. "Ya"-nya yang tanpa syarat menunjukkan kepada kita bagaimana menjadi anggota Gereja. Sebagai ibu kita melalui rahmat, dialah yang dapat kita datangi dengan kepercayaan seorang anak, dengan kepastian didengar, dilindungi, dan dikasihi. Secara khusus, Maria bekerja sama dalam karya keselamatan, melalui ketaatan, iman, harapan, dan kasih yang membara, untuk memulihkan melalui Putranya, kehidupan adikodrati jiwa-jiwa. Marilah kita tertantang oleh teladan kerendahan hati, iman yang aktif, dan ketaatan Maria. Marilah kita dengan murah hati menanggapi dalam kasih, memuliakan Allah dalam hati kita, dan menerima kekuatan dari sakramen-sakramen. Marilah kita memohon kepada Maria untuk membantu kita menjadi murid-murid yang setia kepada Putranya.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 13 Mei 2026)