Saudara-saudari
terkasih, selamat pagi dan selamat datang!
Hal
pertama yang ingin saya sampaikan adalah terima kasih! Terima kasih atas
dukungan doa-doamu. Puji syukur kepada Allah atas kemurahan hati-Nya. Marilah
kita semua memperbarui kepercayaan kita kepada kebaikan dan kerahiman Allah.
Konstitusi
pastoral Konsili Vatikan II Gaudium et Spes (GS), setelah menguraikan martabat
pribadi manusia dan panggilannya di dunia pada bagian pertama, kemudian
membahas — dalam terang Injil dan pengalaman manusia — beberapa isu dunia
sekarang ini yang paling mendesak pada bagian kedua (bdk. GS, 46). Dokumen ini
berfokus terutama pada perkawinan dan keluarga, dengan keyakinan bahwa
“keselamatan pribadi maupun masyarakat manusiawi dan kristiani erat berhubungan
dengan kesejahteraan rukun perkawinan dan keluarga” (GS, 47).
Untuk
itu, dokumen ini tidak sekadar menegaskan kembali nilai dan tujuan perkawinan
serta keluarga, melainkan menawarkan pemahaman yang diperbarui mengenai
perkawinan sebagai “persekutuan hidup dan kasih suami-istri yang mesra” (GS,
48). Dengan tetap menyertakan dimensi hukum perkawinan sebagai suatu kontrak,
dasar dari persatuan ini diakui sebagai “perjanjian suami-istri”, yang dipahami
sebagai “tindakan manusiawi, yakni saling menyerahkan diri dan saling menerima
antara suami dan istri” (GS, 48). Saling memberikan diri antara pria dan wanita
— sehingga “mereka bukan lagi dua, melainkan satu daging” (Mat 19:6) — menjadi
landasan bagi tuntutan akan “kesetiaan sepenuhnya” dan “kesatuan yang tak
terpisahkan” di antara suami dan istri, yang secara nyata terungkap dalam
kelahiran dan pengasuhan anak-anak (bdk. GS, 48). Sebagai cermin Tritunggal
Mahakudus, cinta kasih suami-istri dan cinta kasih orang tua — melalui Sakramen
Perkawinan — “dibimbing serta diperkaya berkat daya penebusan Kristus”,
sehingga suami dan istri dapat saling mengasihi “seperti Kristus mengasihi
Gereja dan menyerahkan diri untuknya” (GS, 48).
Setelah
menjelaskan hakikat perkawinan dalam terang cinta Kristus — yang merupakan
kebenaran dari cinta kasih manusiawi sekaligus ilahi — Gaudium et Spes
mengalihkan perhatiannya pada cinta kasih suami-istri dan kesuburan dalam
perkawinan. Cinta kasih suami-istri tidak terbatas pada ketertarikan erotis —
meskipun hal itu juga tercakup di dalamnya — melainkan melibatkan seluruh
kehendak pasangan, menghidupkan kasih sayang dalam hati mereka, serta
diungkapkan melalui perasaan dan tindakan yang penuh kelembutan (bdk. GS, 49).
Dengan merangkul kebaikan pribadi seutuhnya, baik pria maupun wanita — yang
memiliki martabat setara — cinta ini meresapi seluruh kehidupan pasangan dan
terungkap dalam tindakan-tindakan yang secara khusus hanya ada dalam perkawinan
(bdk. GS, 49). Selain melambangkan cinta kasih yang utuh dari satu pribadi
kepada pribadi lainnya, keintiman yang khas di antara suami dan istri ini
menumbuhkan semangat saling memberikan diri serta memperkaya sukacita yang
mereka alami bersama (bdk. GS, 49).
Selanjutnya,
kesuburan cinta kasih suami-istri terwujud dalam prokreasi anak, yang merupakan
“anugerah terbesar dalam perkawinan” (GS, 50). Dengan meneruskan dan mendidik
kehidupan manusia — yang tidak boleh ditolak dengan cara apa pun — suami-istri
menjadi “mitra kerja cinta kasih Allah Pencipta dan bagaikan penterjemah-Nya”
(idem). Karena dipanggil untuk menunaikan tugas penuh tanggung jawab manusiawi
serta kristiani, mereka hendaknya membentuk pendirian yang sehat, sambil
mengindahkan baik kesejahteraan mereka sendiri maupun kesejahteraan anak-anak,
baik yang sudah lahir maupun yang mereka perkirakan masih akan ada.
Pertimbangan semacam itu — yang pada akhirnya wajib diadakan oleh suami-istri
sendiri di hadapan Allah — menuntut agar suara hati mereka disesuaikan dengan
hukum ilahi, menganut bimbingan Wewenang Mengajar Gereja yang dalam terang
Injil memberi tafsiran autentik kepada hukum itu (bdk. GS, 50).
Penekanan
pada persekutuan penuh cinta kasih dan kesuburan untuk menghasilkan keturunan
dalam perkawinan menuntun Konsili untuk menolak kemungkinan adanya
“pertentangan yang sesungguhnya antara hukum-hukum ilahi tentang penyaluran
hidup dan usaha memupuk cinta kasih suami-istri yang sejati” (GS, 51).
Sebaliknya, Konsili menegaskan bahwa “bila soalnya bagaimana menyelaraskan
cinta kasih suami-istri dengan penyaluran kehidupan secara bertanggung jawab”,
kita harus “menghormati arti sepenuhnya yang ada pada saling penyerahan diri
dan pada keturunan manusiawi, dalam konteks cinta kasih yang sejati” (GS, 51).
Dari sini, tersirat pula bahwa “kehidupan sejak saat pembuahan harus dilindungi
dengan sangat cermat”, dengan menolak “pengguguran dan pembunuhan anak”; serta
bahwa “ tindakan yang khas bagi hidup perkawinan sendiri, yang diatur sesuai
dengan martabat manusiawi yang sejati, wajib dihadapi dengan sikap hormat yang
sungguh mendalam” (GS, 51).
Ajaran
Gaudium et Spes mengenai komunitas suami-istri dan keluarga selanjutnya
menyoroti fungsi sosial keluarga — yang didefinisikan sebagai “sekolah
kemanusiaan yang lebih mendalam” dan “dasar masyarakat” (GS, 52) — serta
menyerukan kepada semua pihak yang mengemban tanggung jawab sosial, khususnya
di bidang politik dan budaya, untuk berkewajiban “dengan tekun mengembangkan
nilai-nilai perkawinan dan keluarga” (GS, 52).
Saudara-saudari
terkasih, tugas ini kini jauh lebih mendesak daripada sebelumnya. Gereja sangat
menyadari hal ini, sebagaimana terlihat dari perhatian pastoral para Paus yang
silih berganti sejak Konsili terakhir, hingga dua Sidang Sinode yang diselenggarakan
oleh Paus Fransiskus — yang baru-baru ini kembali dibahas oleh para pemimpin
Gereja Katolik Timur dan para Ketua Konferensi Waligereja. Semoga Keluarga
Kudus dari Nazaret menerangi perjalanan kita dan melindungi keluarga-keluarga
di seluruh dunia.
[Sapaan
Khusus]
Saya
menyapa dengan hangat seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang
hadir dalam Audiensi hari ini. Bagi kamu semua beserta keluarga, saya
memohonkan sukacita dan damai sejahtera Tuhan kita Yesus Kristus. Allah
memberkati kamu semua!
[Ringkasan
dalam bahasa Inggris]
Saudara-saudari
terkasih, dalam lanjutan katekese kita mengenai Gaudium et Spes, hari ini kita
membahas martabat perkawinan dan keluarga dalam konteks tantangan masa kini.
Para Bapa Konsili menyadari bahwa kesejahteraan semua orang dalam masyarakat
sangat erat kaitannya dengan kesehatan perkawinan dan keluarga. Mereka berupaya
menghadirkan visi baru tentang cinta kasih suami-istri sebagai persekutuan
mesra yang mencerminkan kehidupan Allah Tritunggal, serta berakar pada — dan
diperkaya oleh — kuasa penebusan Kristus. Oleh karena itu, marilah kita berdoa
memohon berkat dan perlindungan Allah bagi semua keluarga.
______
(Peter Suriadi - Bogor, 21 Oktober 2026)

