Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI PIAZZA DELLA LIBERTÀ, CASTEL GANDOLFO 26 Juli 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Inti ajaran Yesus terletak pada misteri Kerajaan Allah, yang dalam Bacaan Injil hari ini diumpamakan dengan harta terpendam dan mutiara yang berharga (bdk. Mat 13:44–52). Kedua perumpamaan tersebut menyampaikan kejutan dari orang-orang yang menemukan sesuatu yang jauh melampaui apa yang mereka harapkan, sedemikian rupa sehingga menjual atau meninggalkan segala sesuatu tidak lagi tampak sebagai pengurbanan, melainkan keuntungan. Sesungguhnya, sejak awal, para penginjil menggambarkan panggilan Yesus untuk mengikuti-Nya sebagai sesuatu yang tak tertahankan. Sebuah pilihan bebas, namun juga mendesak dan mampu memunculkan tanggapan yang siap dan sepenuh hati. Ini adalah aspek penting pertama tentang bagaimana Allah dekat dan menyatakan diri-Nya: perjumpaan dengan Kerajaan-Nya menandai titik balik yang tidak membatasi hidup tetapi memperluasnya. Jika ada sesuatu yang harus berubah di pihak kita, itu hanya agar hidup kita dapat terbuka terhadap kemungkinan yang lebih besar, bukan lebih kecil.

 

Ada aspek kedua yang tampaknya sangat dipedulikan Yesus: orang yang menemukan harta yang terpendam di ladang kemungkinan besar adalah seorang petani, sementara mutiara diakui sebagai berharga oleh seorang pedagang, mungkin seorang pelancong. Dua perumpamaan lagi menyusul, di mana tokoh utamanya adalah nelayan dan seorang ahli Taurat yang merupakan pakar hukum lama dan baru. Perumpamaan lain membandingkan Kerajaan Allah dengan seorang perempuan yang memasukkan ragi ke dalam adonan atau merapikan rumahnya, dengan seorang raja yang merencanakan perang, seorang yang merancang sebuah menara, bendahara yang mengelola pembayaran atau investasi, dan dengan gembala dan petani. Singkatnya, Kerajaan Allah selain mengungkapkan keindahannya yang tak ternilai dengan berbagai cara juga memanggil semua orang — pria dan wanita, muda dan tua, kaya dan miskin — untuk melakukan pembaharuan yang mendalam. Setiap orang mampu memahaminya dan tertarik kepadanya.

 

Saat ini juga, Gereja adalah persekutuan orang-orang yang berbeda asal, budaya, kemampuan, dan tanggung jawab. Namun semua dipanggil untuk mengenali diri mereka "satu" di dalam Yesus Kristus: Dialah harta yang terpendam, mutiara yang sangat berharga, jala yang mengumpulkan orang-orang yang tercerai-berai. Sejak awal, Yesus memanggil dan mengumpulkan orang-orang di sekeliling-Nya yang jika tidak demikian, tidak akan pernah saling mengenal. Dengan cara ini, Ia menunjukkan bahwa Allah tidak pilih kasih, tetapi sebaliknya menawarkan kasih-Nya secara cuma-cuma, terutama kepada orang-orang kecil atau yang tersisihkan.

 

Saudara-saudari, yang perlu kita semualakukan hanyalah memohon karunia ini, karunia yang sama yang dicari oleh Raja Salomo muda (bdk. 1Raj. 3:5,7-12). Karunia untuk mengenali mutiara yang sangat berharga, membedakan harta terpendam yang layak untuk mengurbankan segalanya. Sementara budaya konsumerisme memengaruhi selera kita, terus-menerus menciptakan kebutuhan baru hanya untuk menjual solusi yang tidak pernah memuaskan, dan yang terkadang bahkan meracuni hati, kita harus belajar untuk memahami apa yang benar-benar penting: harta terpendam berupa hubungan dengan Allah yang membuka kita kepada sukacita dan membantu kita untuk menjalani hubungan kita satu sama lain dengan semakin penuh.

 

Semoga pengantaraan Maria, Takhta Kebijaksanaan, mengarahkan keinginan kita akan kehidupan kepada Yesus, sehingga di dalam Dia keinginan itu dapat menemukan pemenuhannya yang sempurna.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kemarin, di Lebanon, Elias Hoayek, Patriark Maronit Antiokhia dari tahun 1899 hingga 1931 dan pendiri Kongregasi Suster-suster Maronit Keluarga Kudus, telah dibeatifikasi. Selama lebih dari tiga puluh tahun, ia memimpin Gereja Maronit dengan dedikasi dan kepekaan pastoral yang besar. Seorang yang penuh dialog dan harapan, ia adalah pemimpin gerejawi, sosial, dan politik yang luar biasa, sehingga dikenal sebagai "Bapa Lebanon Raya." Semoga doa dan pengantaraan beato baru ini selalu menyertai umat Maronit di seluruh dunia, dan memperoleh karunia perdamaian bagi seluruh rakyat Lebanon, negeri yang sangat saya cintai.

 

Saya terus mengikuti dengan keprihatinan mendalam kekerasan yang sedang berlangsung dan meningkat di Tanah Suci, di mana, dalam beberapa hari terakhir, banyak warga sipil, baik di Tepi Barat maupun Gaza, sekali lagi menjadi korban. Saya menyampaikan permohonan tulus untuk kembali ke perundingan guna mencapai solusi politik yang adil, yang didasarkan pada martabat dan hak yang sama bagi setiap manusia. Pada saat yang sama, saya mendesak penolakan terhadap tindakan militer lebih lanjut dan keputusan sepihak, terutama yang melanggar penghormatan dan status quo tempat-tempat suci masing-masing agama.

 

Saya juga memperbarui permohonan mengenai situasi di seluruh Timur Tengah, di mana intensifikasi operasi militer sekali lagi telah menimbulkan kekerasan dan kehancuran, membahayakan nyawa warga sipil yang tak terhitung jumlahnya dan semakin memperburuk kekurangan air minum dan listrik. Dari lubuk hati saya mendesak semua pihak yang terlibat untuk menghentikan serangan dan segera membuka kembali jalur dialog dan diplomasi, sehingga perdamaian yang didambakan untuk seluruh wilayah dapat dicapai tanpa penundaan.

 

Marilah kita terus mendoakan semua orang di seluruh dunia yang menderita karena perang. Semoga Tuhan menyentuh hati dan menerangi pikiran mereka yang berkuasa, sehingga rekonsiliasi dan perdamaian segera terwujud.

 

Saat kebakaran hutan yang dahsyat melanda berbagai wilayah Prancis dan Spanyol, saya menyampaikan rasa simpati saya kepada semua yang terkena dampak dan mengajak semua orang untuk mendoakan mereka dan para petugas darurat yang terlibat dalam upaya bantuan.

 

Hari ini kita merayakan Hari Kakek Nenek dan Lansia Sedunia yang keenam, yang temanya diambil dari kata-kata Nabi Yesaya: “Aku tidak akan melupakan engkau” (Yes. 49:15). Bersama-sama, marilah kita mengucap syukur kepada Tuhan atas karunia yang diberikan para lansia kepada Gereja dan masyarakat. Marilah kita juga berkomitmen untuk menghormati dan menghargai peran berharga yang mereka mainkan, dan memastikan bahwa mereka selalu menerima perawatan, perhatian, dan bantuan yang layak mereka terima.

Saya menyampaikan salam hangat kepada kamu semua yang hadir di sini, serta kepada orang-orang yang datang dari berbagai bagian Italia dan dari seluruh dunia!

 

Secara khusus saya menyapa para peziarah yang tergabung dalam Opera della Chiesa dan para uskup yang mendampingi mereka; saya menyambut dan menyapa anak-anak dari Rumah Belas Kasih di Chortkiv, Ukraina, yang merupakan tamu paroki Santo Mikael Malaikat Agung di Nocera Superiore; kepada kaum muda dari Paroki Manerbio; kepada mereka yang mengikuti Pertemuan Kaum Muda Internasional yang diselenggarakan dalam rangka peringatan dua abad wafatnya Santa Jeanne-Antide Thouret; kepada para peziarah muda dari gerakan mahasiswa Katolik Ӧnze-Lieve-Vrouw Ster-Der-Zee, Maldegem, Belgia; dan kepada para kadet Sekolah Pelatihan Carabinieri di Velletri, yang didampingi oleh pastor dan pimpinan mereka.

 

Saya juga menyapa anggota Lembaga Pria Katolik Kamerun.

 

Secara khusus saya menyapa orang-orang yang ikut serta dalam festival Sagra delle Pesche di Castel Gandolfo, yang telah membawa hasil panen mereka untuk diberkati.

 

Petang ini, prosesi tradisional Madonna Fiumarola akan berlangsung di Sungai Tiber, Roma. Semoga Maria, Bunda Yesus, memperolehkan bagi semua orang yang berpartisipasi dalam tradisi indah ini, dan bagi kita masing-masing, rahmat untuk menjalani hidup setiap hari sesuai dengan ajaran Injil.

 

Dan saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 26 Juli 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI PIAZZA DELLA LIBERTÀ (CASTEL GANDOLFO) 19 Juli 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Setelah perumpamaan tentang seorang penabur, Yesus melanjutkan khotbahnya kepada orang banyak menggunakan serangkaian gambaran: gandum yang baik dan lalang, biji sesawi dan ragi dalam adonan (bdk. Mat 13:24–43).

 

Ketiga perumpamaan singkat ini mengingatkan kita akan kedatangan Kerajaan Allah dalam sejarah, tindakannya dalam kehidupan manusia, dan cara kerajaan itu tumbuh, berkembang, dan mengubah dunia dari dalam. Melalui gambaran-gambaran ini, Yesus memperingatkan kita terhadap godaan untuk berpikir bahwa Allah adalah sosok yang kuat yang memaksakan diri dengan kekerasan, yang mengambil alih dan mendominasi, atau yang datang dengan kemenangan. Sebaliknya, Allah menyukai kerendahan hati, tanda kasih-Nya yang bijaksana, yang dengannya Ia memberi kita kebebasan untuk menerima atau menolak-Nya. Kasih-Nya terasa bahkan di antara lalang, bertindak secara tersembunyi dan tak terlihat seperti benih terkecil, dan mengembangkan adonan tanpa mengeluarkan suara.

 

Saudara-saudari, melalui perumpamaan-perumpamaan ini, Yesus mengungkapkan sesuatu yang penting tentang cara Allah bekerja dalam hidup kita dan dalam sejarah. Terkadang kita mengharapkan Allah melakukan sesuatu yang spektakuler; kita ingin Ia campur tangan dari atas, segera mencabuti lalang kejahatan. Kita membayangkan Allah yang kuat dan berkuasa, dan, sayangnya, kita juga mencontohkan cara kita menjadi orang kristiani dan cara kita menjadi Gereja berdasarkan gambaran ini. Namun, Kerajaan Allah menyebar bahkan di tengah-tengah lalang, sehingga kita perlu melatih pandangan kita agar dapat membedakan kebaikan yang tumbuh di tengah kegelapan kejahatan, dan menghindari penilaian yang terburu-buru. Kerajaan itu datang seperti benih terkecil dan karena itu membutuhkan kesabaran dalam menyertai proses ini, sehingga kita dapat mengenalinya dalam hal-hal kecil kehidupan sehari-hari dan dalam kesederhanaan kehidupan biasa. Kerajaan itu tumbuh tak terlihat seperti ragi dalam tepung, dan dengan demikian kita terbebas dari keputusasaan dan diundang untuk beriman bahkan ketika tampaknya Allah tidak hadir. Sesungguhnya, Ia selalu bersama kita, dan kasih-Nya selalu siap membantu kita.

 

Cara Allah bertindak juga harus menjadi cara kita hidup, baik sebagai individu maupun sebagai Gereja, di tengah kenyataan yang mengelilingi kita. Kita dipanggil untuk mengadopsi pendekatan yang berpusat pada Injil, tanpa terburu-buru menentang orang lain melalui penilaian yang arogan, tanpa memaksakan diri melalui kekuasaan dan paksaan, dan tanpa kehilangan kepercayaan pada karya Allah. Sebagaimana dikatakan Kardinal Ratzinger saat itu, ini adalah soal menundukkan diri pada nalar benih — yang bukan nalar kesuksesan dan kebesaran, tetapi nalar merendahkan diri dan melayani orang lain (bdk. Wejangan kepada Para Katekis dan Guru Agama, 10 Desember 2000). Dengan cara ini, kita akan menjadi seperti benih-benih kecil Injil yang bertunas, dan ragi kasih yang mengubah rupa adonan dunia.

 

Marilah kita memohon kepada Bunda Maria, yang tahu bagaimana menerima benih Sabda dalam kerendahan hatinya, untuk menopang kita dalam perjalanan kita dan menjadi perantara bagi kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Selama saya beristirahat beberapa hari, sekali lagi saya menyampaikan salam dan rasa terima kasih saya kepada kamu semua, penduduk Castel Gandolfo, dan saya dengan gembira menyambut para peziarah yang datang dari seluruh penjuru dunia!

 

Kita terus mengikuti dengan penuh perhatian peristiwa yang terjadi di berbagai negara yang dilanda perang dan kekerasan. Janganlah kita melupakan mereka yang menderita dan meninggal karena pertikaian ini, dan marilah kita meningkatkan doa-doa kita yang terus-menerus pada upaya-upaya mulia untuk perdamaian.

 

Saya menyapa Komunitas Cenacolo Mother Elvira, yang berkumpul di Saluzzo untuk Festival Kehidupan; Gerakan Keluarga Baru Focolari yang berkumpul untuk Sekolah Internasional; para siswa Meksiko yang berpartisipasi dalam Sekolah Musim Panas APRA; dan kelompok dari Persekutuan Pandangan Dunia Katolik.

 

Saya menyampaikan salam kepada para anggota muda Regnum Christi yang mengikuti Kursus Pembina Internasional, dan saya juga menyapa mereka yang mengikuti “Ziarah Singa,” didampingi oleh Uskup Anthony Percy, Uskup Pembantu Keuskupan Sydney, Australia.

 

Saya juga menyapa keluarga dan anak-anak yang dibantu oleh Suster-suster Amal Kasih Maria Diangkat ke Surga dari Roma, kaum muda dari Paroki Juru Selamat Suci di Yerusalem, kelompok anak-anak dari Paroki Santo Agustinus dari Bovolenta dan para peziarah dari Akademi Liturgi Rzeszów.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu yang penuh kedamaian!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 19 Juli 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI PIAZZA DELLA LIBERTÀ (CASTEL GANDOLFO) 12 Juli 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Dalam liturgi hari ini, penginjil Matius menyajikan kepada kita perumpamaan tentang seorang penabur (bdk. Mat. 13:1–23), yang menggambarkan kemurahan hati dan kepercayaan Allah melalui taburan sabda-Nya di dalam hati kita dan kuasa-Nya di dalam diri kita.

 

Yesus sendiri, Sabda yang menjadi daging, yang memberikan hidup-Nya untuk keselamatan kita, adalah benih yang terus ditabur Bapa di seluruh dunia sehingga, dengan kematian-Nya, Ia akan menghasilkan banyak buah (bdk. Yoh 12:24). Memang benar bahwa terkadang Ia menemukan tanah yang keras dan tidak tanggap dalam diri kita, di lain waktu tanah yang terganggu, seperti jalan yang terjal, tanah berbatu-batu, atau semak duri. Namun ada juga saat-saat ketika Ia menemukan tanah yang menerima dan subur, dan kemudian mulai terjadi mukjizat kasih yang memiliki kuasa untuk mengubah rupa segalanya — sebagaimana tidak diragukan lagi telah kita alami dalam hidup kita. Karena alasan ini, Bapa tidak pernah berhenti menabur, karena Ia tahu bahwa kuasa kasih-Nya lebih kuat daripada kelemahan kita (bdk. 2Kor. 12:9-10).

 

Mengacu pada “benih” sabda Allah, Santo Yohanes Krisostomus bertanya, “Bagaimana mungkin menabur di antara semak duri, di tanah berbatu-natu, atau di jalan setapak masuk akal? Dalam hal benih dan tanah, tidak masuk akal; tetapi dalam hal jiwa dan ajaran, sama sekali patut dipuji” (Homili tentang Injil Matius, 44, 5), karena di tangan Allah dimungkinkan bahwa “tanah berbatu-batu dapat diuba rupah menjadi tanah yang subur; jalan setapak tidak lagi diinjak-injak atau terbuka bagi setiap orang yang lewat, bahkan menjadi tanah yang subur; dan semak duri dapat disingkirkan dan benih dapat menikmati keamanan sepenuhnya” (Homili tentang Injil Matius, 44, 5).

 

Kemurahan hati Allah kepada kita tidak lurus-lurus saja tetapi bijaksana. Ia melihat di dalam diri kita potensi kebaikan yang, kadang-kadang, kita sendiri mungkin gagal untuk mengenalinya. Oleh karena itu, Tuhan, yang lebih mengenal isi hati kita daripada diri kita sendiri, tidak pernah berhenti percaya kepada kita — kepada kita apa adanya dan apa jadinya kita, hari demi hari, jika kita mempercayakan diri kita kepada-Nya dengan iman.

 

Demikianlah, dari kemurahan hati dan kepercayaan yang dengannya benih ditabur, dan dari kerendahan hati dan keterbukaan yang dengannya benih diterima, buah-buah Roh Kudus tumbuh di dalam diri kita dan menyebar. Santo Paulus mengajarkan bahwa buah-buah Roh ialah “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri” (Gal 5:22). Betapa besar kebutuhan dunia kita akan buah-buah Roh: dipenuhi dan diubah rupa oleh buah-buah Roh!

 

Oleh karena itu, marilah kita bertekad, terutama selama hari-hari liburan musim panas ini, meluangkan waktu untuk mendengarkan, membaca, dan merenungkan sabda Allah, sehingga memupuk — bersama dengan istirahat dan rekreasi yang sehat — momen-momen hening dan doa yang bermakna. Dengan cara ini, kita akan kembali ke aktivitas kita yang biasa dengan tubuh dan jiwa yang diperbarui, siap untuk mewartakan Kabar Baik Injil dan semakin mampu berkontribusi pada pertumbuhan Kerajaan Allah.

 

Semoga Maria, Ratu Para Rasul dan Bintang Penginjilan, menolong kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya menyapa penduduk kota yang indah ini, Castel Gandolfo, tempat saya beristirahat selama beberapa hari, dan dengan gembira saya menyapa kamu semua, para peziarah dari seluruh penjuru dunia!

 

Sayangnya, angin perang kembali berhembus di Timur Tengah, Ukraina, dan pelbagai belahan dunia lainnya, menabur kekerasan, teror, dan kematian, dan sekali lagi menimpa banyak orang yang tidak bersalah. Jangan biarkan angin ini memadamkan nyala api harapan dan perdamaian, bahkan ketika tampak rapuh dan redup.

 

Saya kembali mengharapkan kita sudi terus berjuang di jalan dialog, perjumpaan, dan diplomasi. Inilah satu-satunya jalan yang mampu mengarah pada perdamaian yang adil dan abadi, di mana bangsa-bangsa dapat hidup dalam rekonsiliasi, keamanan bersama, dan penghormatan terhadap martabat setiap orang.

 

Hari ini adalah “Hari Minggu Laut.” Saya memikirkan semua pelaut, nelayan, dan pekerja pelabuhan di seluruh dunia yang, meskipun ditandai dengan perpisahan dari orang-orang terkasih dan terkadang oleh rasa takut akan gejolak yang terjadi di laut, tetap menopang perdagangan dan kehidupan banyak orang melalui kerja keras dan kesabaran mereka.

 

Akhirnya, saya memanjatkan doa untuk banyak umat Polandia yang berkumpul untuk ziarah tahunan dengan ikon Jasna Góra, agar, sebagai “murid misioner,” mereka dapat menjadi saksi-saksi Injil yang penuh sukacita.

____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Juli 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 5 Juli 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Dalam Bacaan Injil hari ini (Mat 11:25-30), Yesus mengajak kita untuk bergabung dengan-Nya untuk bersyukur kepada Bapa, “Tuhan langit dan bumi” (ayat 25). Putra Allah yang menjadi manusia mengungkapkan kasih-Nya dengan menyertakan seluruh ciptaan dalam tindakan ucapan syukur ini.

 

Kesederhanaan dari tindakan spontan dan penuh sukacita tersebut mencerminkan cara Allah bertindak: Ia senang menyatakan diri-Nya “kepada anak-anak kecil,” sementara Ia tetap tersembunyi “dari orang-orang bijak dan yang cerdas” (ayat 25). Mereka begitu dipenuhi dengan ide-ide mereka sendiri sehingga mereka gagal mengenali kehadiran Kristus, Mesias yang datang mengunjungi umat-Nya. Kebijaksanaan manusia dengan demikian menjadi kesombongan, dan doktrin merosot menjadi keangkuhan. Sebaliknya, kebijaksanaan sejati Allah dinyatakan dalam kerendahan hati Inkarnasi, dan ajaran-Nya terutama ditujukan kepada mereka yang bergumul: “Datanglah kepada-Ku, semua yang lelah dan yang berbeban berat” (ayat 28), firman Tuhan. Mendatangi Yesus berarti menanggapi kasih-Nya dan mengambil bagian dalam hidup-Nya, bahkan sampai ke salib, seperti yang Dia sendiri ajarkan: “Jika ada yang ingin menjadi pengikut-Ku, hendaklah ia menyangkal dirinya dan memikul salibnya dan mengikuti Aku” (Mat 16:24). Justru pengorbanan diri karena kasih inilah yang menjadi “kuk” Yesus (Mat 11:29), yang merupakan inti ajaran-Nya dan jantung hikmat-Nya, yang menyala-nyala dengan kasih bagi semua orang.

 

Saudara-saudari, bagaimana mungkin beban salib itu “menyenangkan” dan “ringan” (ayat 30)? Hanya karena satu alasan: karena Tuhan sendiri memikulnya bersama kita, tidak pernah meninggalkan kita sendirian dalam beban yang kita tanggung. Sebagai guru sejati, Yesus memikul kemanusiaan yang terluka oleh kejahatan untuk menyembuhkan dan merawatnya. Hikmat yang Ia berikan kepada kita adalah pemberitaan keselamatan, dan kuk-Nya mengangkat kita dari setiap kejatuhan. Karena alasan ini, perjalanan kita mengikuti Kristus bukan asketisme yang mematikan. Sebaliknya, perjalanan kita mengikuti Kristus adalah sekolah kebebasan yang menganggap serius drama sejarah dan terus-menerus menerangi maknanya, terutama di saat-saat tergelapnya. Sesungguhnya, hanya di dalam salib Yesuslah kejahatan dikalahkan; hanya dalam penderitaan-Nya letih lesu kita yang fana menemukan penghiburan dan penebusan.

 

Dalam perbudakan, Kristus adalah pembebasan. Di tengah malapetaka perang, Kristus adalah harapan. Di saat dosa, Kristus adalah pengampunan. Inilah hikmat sejati dan jalan yang ingin kita tempuh bersama, bersatu sebagai murid dalam nama-Nya. Yesus mengajarkan hal ini kepada kita sebagai Putra, dengan menjadi saudara kita. Melalui kuasa Roh Kudus, Ia mengungkapkan kepada Gereja kebenaran tentang Allah dan umat manusia, karena “tidak seorang pun mengenal Bapa selain Putra dan orang yang kepadanya Putra itu berkenan menyingkapkan-Nya” (ayat 27).

 

Sahabat-sahabat terkasih, seraya kita mengucap syukur kepada Tuhan atas kepercayaan penuh kasih yang telah Ia berikan kepada kita, marilah kita memohon kepada Maria, Ratu Damai, untuk menjadi perantara kebaikan Gereja dan seluruh dunia.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kamis lalu, 2 Juli, Pastor Fransiskus Xavier Tru’o’ng Bǚu dikanonisasi di Tempat Kudus Tac Say, Vietnam. Beliau dibunuh pada tahun 1946 karena kebencian terhadap iman (in odium fidei). Di tengah penindasan dan kekerasan, beliau membela hak-hak rakyat dan tidak meninggalkan umat parokinya. Semoga perantaraan dan doanya menguatkan semua orang yang mewartakan Injil dalam situasi penganiayaan saat ini.

 

Saya menyapa dengan hangat kamu semua yang berkumpul hari ini di Lapangan Santo Petrus.

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dari Brasil dan Paduan Suara Universitas Mérida, Venezuela. Saya terus mengingat dalam doa saya para korban gempa bumi dan seluruh rakyat Venezuela. Semoga Tuhan menguatkan mereka di masa-masa sulit ini.

 

Secara khusus saya menyapa beberapa kelompok dari Polandia: para imam yang baru ditahbiskan dari Ordo Saudara Dina Kapusin Provinsi Kraków; Paduan Suara Anak-anak Keuskupan Agung Łódź, yang didampingi oleh Uskup Pembantu mereka; dan kelompok dari Keuskupan Legnica.

 

Saya juga menyapa kaum muda dari Bellagio dan Paduan Suara Jubilaeum dari Augusta, Sisilia, bersama walikota dan pastor mereka.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 5 Juli 2026)