Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 5 Juli 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Dalam Bacaan Injil hari ini (Mat 11:25-30), Yesus mengajak kita untuk bergabung dengan-Nya untuk bersyukur kepada Bapa, “Tuhan langit dan bumi” (ayat 25). Putra Allah yang menjadi manusia mengungkapkan kasih-Nya dengan menyertakan seluruh ciptaan dalam tindakan ucapan syukur ini.

 

Kesederhanaan dari tindakan spontan dan penuh sukacita tersebut mencerminkan cara Allah bertindak: Ia senang menyatakan diri-Nya “kepada anak-anak kecil,” sementara Ia tetap tersembunyi “dari orang-orang bijak dan yang cerdas” (ayat 25). Mereka begitu dipenuhi dengan ide-ide mereka sendiri sehingga mereka gagal mengenali kehadiran Kristus, Mesias yang datang mengunjungi umat-Nya. Kebijaksanaan manusia dengan demikian menjadi kesombongan, dan doktrin merosot menjadi keangkuhan. Sebaliknya, kebijaksanaan sejati Allah dinyatakan dalam kerendahan hati Inkarnasi, dan ajaran-Nya terutama ditujukan kepada mereka yang bergumul: “Datanglah kepada-Ku, semua yang lelah dan yang berbeban berat” (ayat 28), firman Tuhan. Mendatangi Yesus berarti menanggapi kasih-Nya dan mengambil bagian dalam hidup-Nya, bahkan sampai ke salib, seperti yang Dia sendiri ajarkan: “Jika ada yang ingin menjadi pengikut-Ku, hendaklah ia menyangkal dirinya dan memikul salibnya dan mengikuti Aku” (Mat 16:24). Justru pengorbanan diri karena kasih inilah yang menjadi “kuk” Yesus (Mat 11:29), yang merupakan inti ajaran-Nya dan jantung hikmat-Nya, yang menyala-nyala dengan kasih bagi semua orang.

 

Saudara-saudari, bagaimana mungkin beban salib itu “menyenangkan” dan “ringan” (ayat 30)? Hanya karena satu alasan: karena Tuhan sendiri memikulnya bersama kita, tidak pernah meninggalkan kita sendirian dalam beban yang kita tanggung. Sebagai guru sejati, Yesus memikul kemanusiaan yang terluka oleh kejahatan untuk menyembuhkan dan merawatnya. Hikmat yang Ia berikan kepada kita adalah pemberitaan keselamatan, dan kuk-Nya mengangkat kita dari setiap kejatuhan. Karena alasan ini, perjalanan kita mengikuti Kristus bukan asketisme yang mematikan. Sebaliknya, perjalanan kita mengikuti Kristus adalah sekolah kebebasan yang menganggap serius drama sejarah dan terus-menerus menerangi maknanya, terutama di saat-saat tergelapnya. Sesungguhnya, hanya di dalam salib Yesuslah kejahatan dikalahkan; hanya dalam penderitaan-Nya letih lesu kita yang fana menemukan penghiburan dan penebusan.

 

Dalam perbudakan, Kristus adalah pembebasan. Di tengah malapetaka perang, Kristus adalah harapan. Di saat dosa, Kristus adalah pengampunan. Inilah hikmat sejati dan jalan yang ingin kita tempuh bersama, bersatu sebagai murid dalam nama-Nya. Yesus mengajarkan hal ini kepada kita sebagai Putra, dengan menjadi saudara kita. Melalui kuasa Roh Kudus, Ia mengungkapkan kepada Gereja kebenaran tentang Allah dan umat manusia, karena “tidak seorang pun mengenal Bapa selain Putra dan orang yang kepadanya Putra itu berkenan menyingkapkan-Nya” (ayat 27).

 

Sahabat-sahabat terkasih, seraya kita mengucap syukur kepada Tuhan atas kepercayaan penuh kasih yang telah Ia berikan kepada kita, marilah kita memohon kepada Maria, Ratu Damai, untuk menjadi perantara kebaikan Gereja dan seluruh dunia.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kamis lalu, 2 Juli, Pastor Fransiskus Xavier Tru’o’ng Bǚu dikanonisasi di Tempat Kudus Tac Say, Vietnam. Beliau dibunuh pada tahun 1946 karena kebencian terhadap iman (in odium fidei). Di tengah penindasan dan kekerasan, beliau membela hak-hak rakyat dan tidak meninggalkan umat parokinya. Semoga perantaraan dan doanya menguatkan semua orang yang mewartakan Injil dalam situasi penganiayaan saat ini.

 

Saya menyapa dengan hangat kamu semua yang berkumpul hari ini di Lapangan Santo Petrus.

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dari Brasil dan Paduan Suara Universitas Mérida, Venezuela. Saya terus mengingat dalam doa saya para korban gempa bumi dan seluruh rakyat Venezuela. Semoga Tuhan menguatkan mereka di masa-masa sulit ini.

 

Secara khusus saya menyapa beberapa kelompok dari Polandia: para imam yang baru ditahbiskan dari Ordo Saudara Dina Kapusin Provinsi Kraków; Paduan Suara Anak-anak Keuskupan Agung Łódź, yang didampingi oleh Uskup Pembantu mereka; dan kelompok dari Keuskupan Legnica.

 

Saya juga menyapa kaum muda dari Bellagio dan Paduan Suara Jubilaeum dari Augusta, Sisilia, bersama walikota dan pastor mereka.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 5 Juli 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 29 Juni 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini kita merayakan Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, pelindung Roma. Hari raya ini mengingatkan kita pada ikatan awal yang menyatukan Gereja Roma dengan semua Gereja lain di dunia dalam persekutuan iman dan kasih.

 

Kesaksian kedua Rasul ini bagaikan meterai Perjanjian Baru. Darah yang mereka tumpahkan di kota ini mengungkapkan kedalaman kasih Allah yang telah diberikan Tuhan Yesus kepada kita. Ya, melalui perkataan dan kemartiran mereka, Injil Kristus, bisa dikatakan, telah berakar di Roma, mengungkapkan di sini, di ibu kota kekaisaran, kekuatannya untuk memperbarui melalui pengetahuan baru tentang Allah dan martabat tak terbatas setiap manusia, pemahaman baru tentang kekuasaan, bukan sebagai kekuasaan mutlak, tetapi sebagai pelayanan bagi kehidupan manusia.

 

Bahkan hari ini, Tuhan, yang wafat dan bangkit karena kasih, menyatakan diri-Nya melalui para saksi-Nya, menjangkau pusat dan pinggiran, ibu kota dan daerah terpencil, melalui suara, wajah, dan pilihan berani dari mereka yang telah menanggapi panggilan-Nya "Ikutlah Aku!" Dengan demikian, hari raya ini membawa kita ke dalam perutusan Petrus dan Paulus, yaitu, ke dalam perutusan Yesus sendiri. Allah menaruh kepercayaan-Nya kepada kita, manusia berdosa yang tidak sempurna namun telah diampuni, agar rahmat-Nya dapat bersinar melalui hidup kita, dan kuasa-Nya yang mengubah rupa kejahatan menjadi kebaikan dapat dinyatakan.

 

Saudara-saudari terkasih, rasanya Petrus dan Paulus tidak mungkin lebih berbeda satu sama lain. Mereka berbeda dalam latar belakang, pendidikan, dan karakter, tidak hanya sebelum tetapi juga setelah mereka dipanggil, karena Tuhan yang satu tidak menjadikan mereka sama. Petrus dan Paulus memahami dan mewartakan Injil, kekhasan suaranya masing-masing; dan Roh Kudus, dalam menginspirasi para penulis Kitab Suci, tidak ingin perbedaan mereka disembunyikan. Sesungguhnya, perbedaan-perbedaan ini disajikan kepada kita sebagai kabar baik. Di dalam Kolegium Para Rasul, Petrus dan Paulus bukanlah musuh. Sebaliknya, dalam arti tertentu mereka menjadi simbol dari banyak keragaman lain yang disatukan oleh Roh yang satu menjadi satu kesatuan. Dengan cara ini, santo pelindung Gereja Roma mengalami tantangan persekutuan; mereka mengenal, melayani, dan mewartakannya sebagai sakramen kehidupan ilahi. Kesaksian mereka telah memberikan kontribusi yang menentukan untuk memastikan bahwa kehadiran kekristenan dalam sejarah diarahkan bukan kepada kekuasaan, tetapi kepada pelayanan, persatuan, dan rekonsiliasi.

 

Semoga Tuhan, melalui perantaraan Santo Petrus dan Santo Paulus, menganugerahkan kepada kita rahmat untuk semakin menghargai kekatolikan Gereja, menyadari nilainya dalam membina perjumpaan persaudaraan di antara individu dan bangsa-bangsa, menghindari segala sesuatu yang mengikis atau merusak persekutuan, bertekun di jalan ekumenis dan dalam dialog yang penuh perhatian dan jujur ​​dengan semua orang.

 

Semoga Maria, Ratu Para Rasul, selalu melindungi umat Allah, di Roma dan di seluruh dunia.
____________________

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Pada hari ini, ketika pengumpulan dana Peter's Pence diadakan, saya sangat berterima kasih kepada semua orang yang, melalui pemberian mereka, mendukung pelayanan saya sebagai Penerus Santo Petrus. Marilah kita terus berjalan bersama dalam iman dan persekutuan.

Saat kita merayakan hari raya santo pelindung kita, saya menyampaikan harapan baik kepada penduduk Roma dan kepada semua orang yang tinggal di kota ini. Saya menyampaikan perhatian khusus, disertai doa, kepada orang sakit, orang yang kesepian, dan mereka yang berada di penjara. Saya berterima kasih kepada para pastor paroki dan semua imam, serta para biarawan dan biarawati yang bekerja di Roma, karena melalui kehadiran dan pelayanan harian mereka, mereka menjaga agar jantung kristiani kota ini tetap berdetak.

 

Saya menyapa para sukarelawan dari lembaga Pro Loco Italia yang telah membuat rangkaian bunga di Via della Conciliazione dan Lapangan Pius XII. Terima kasih dan selamat! Saya juga berterima kasih kepada penyelenggara “Girandola di Castel Sant’Angelo,” yang tahun ini akan didedikasikan untuk Santo Fransiskus dan Kidung Ciptaan-nya. Saya juga senang menyambut dua persaudaraan: persaudaraan asal Spanyol Nuestra Señora del Carmen del Camino de Zamora, dan Persaudaraan Agonizzanti dari Artena.

Saya menyapa para tunawisma yang berada di Lapangan Santo Petrus hari ini untuk membagikan “L’Osservatore di strada,” sebuah suplemen “L’Osservatore Romano.” Terima kasih dan semoga sukses bagi mereka yang menjaga keberlangsungan surat kabar ini!

 

Saya mengucapkan selamat hari raya kepada semuanya!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 29 Juni 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 28 Juni 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Dalam Bacaan Injil hari ini (Mat 10:37–42), kita mendengar beberapa nasihat Yesus tentang bagaimana mengikuti Dia dan menjadi saksi kerajaan-Nya. Ini bukan hanya perihal tindakan lahiriah, tetapi juga tentang sepenuhnya mengabdikan diri pada hubungan yang penuh kasih dengan Dia. Agar berbuah, kasih membutuhkan setidaknya tiga hal: ketidakterikatan, kehilangan, dan keramahan.

 

Pertama, ketidakterikatan. Yesus berkata, “Siapa saja yang mengasihi ayah atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (ayat 37). Ketika Tuhan mulai mengutus para rasul-Nya, Ia ingin mereka bebas dari segala ikatan. Namun, ini berlaku untuk semua orang, karena bahkan hubungan yang paling penting pun menemukan kepenuhannya melalui kasih yang diberikan Kristus kepada kita. Pertimbangkan kehidupan perkawinan: kehidupan perkawinan hanya dapat dijalani sepenuhnya dengan “meninggalkan” rumah orang tua (bdk. Mat. 19:5) untuk berkomitmen pada kehidupan perkawinan. Kita juga dapat mempertimbangkan pengasuhan anak-anak. Kita membantu mereka untuk memenuhi diri mereka sendiri dan bahagia dengan mengajari mereka untuk “berdiri di atas kaki mereka sendiri” dan membuat pilihan mereka sendiri. Santo Agustinus berkata, “Sangat menyakitkan berpisah dari apa yang kita cintai. Namun, bahkan petani pun untuk sementara kehilangan apa yang ditaburnya” (Khotbah 330:2). Hanya dengan “kehilangan” benih yang ditabur di tanah, kita dapat melihatnya mekar.

 

Dalam pengertian ini, kasih juga berarti kehilangan. Kita sulit memahami hal ini, terutama di dunia di mana kehilangan dipandang sebagai kelemahan dan kita terobsesi dengan memiliki dan menguasai. Namun, kasih hanya berbuah dalam pengurbanan diri: ketika kita rela kehilangan sedikit diri kita untuk memberi ruang bagi orang lain; kehilangan sedikit waktu untuk mendengarkan seorang sahabat; kehilangan sedikit kenyamanan untuk berbagi di saat kesulitan. Menurut Bacaan Injil, mereka yang hanya berpegang teguh pada hidup mereka untuk diri mereka sendiri sebenarnya kehilangan hidup mereka (bdk. ayat 39), karena mereka tidak membuka diri terhadap sukacita kasih dan dengan demikian menjadi mandul. Inilah sebabnya mengapa Yesus mengajak kita untuk merangkul salib. Ia mempersembahkan diri-Nya, kehilangan diri-Nya, dan dengan cara inilah kita dimungkinkan untuk menerima hidup-Nya dengan berlimpah-limpah. Dengan cara yang sama, jika kita hidup dengan nalar pemberian diri, kita pun akan mampu menghasilkan kehidupan baru dalam hubungan kita.

 

Terakhir, keramahan. Kasih diungkapkan melalui pilihan dan tindakan nyata; melalui komitmen yang berupa gestur kecil sehari-hari, seperti menawarkan segelas air kepada seseorang yang haus (bdk. ayat 42). Yesus mengutus murid-murid-Nya mendahului-Nya tanpa bekal, sehingga, dengan bergantung pada bantuan orang lain, mereka akan menginspirasi keramahan pada orang-orang yang mereka temui. Dengan menyambut mereka yang datang dalam nama Yesus, kita menyambut Dia dan Bapa surgawi yang mengutus-Nya. Sesungguhnya, mengasihi Tuhan selalu melibatkan penyambutan saudara-saudari kita.

 

Saudara-saudara terkasih, marilah kita berdoa kepada Perawan Maria, yang mengasihi Putranya, mengetahui bahwa ia juga akan kehilangan-Nya. Semoga ia membantu kita untuk menjadi saksi yang rendah hati dan penuh sukacita akan kasih Kristus.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya ingin menyampaikan solidaritas saya kepada saudara-saudari kita di Venezuela yang terkena dampak gempa bumi baru-baru ini, yang telah menyebabkan banyak kematian dan luka-luka, serta kerusakan properti yang luas. Sambil berdoa kepada Tuhan untuk ketenangan kekal bagi yang meninggal, saya memperbarui solidaritas rohani saya dengan keluarga mereka, orang-orang yang terluka, dan semua yang telah terguncang oleh tragedi ini. Saya juga ingin menyampaikan rasa terima kasih dan dukungan saya kepada mereka yang dengan murah hati bekerja mengupayakan pencarian dan penyelamatan serta memberikan bantuan.

 

Sekarang saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah. Terima kasih telah datang di tengah terik matahari ini!

 

Saya menyapa umat dari Keuskupan Kumba di Kamerun, dan mereka yang berasal dari berbagai negara lain.

 

Saya menyapa para biarawan muda Camillian; kelompok paroki dari Priolo Gargallo, Avola, Regalbuto dan Bari; Pramuka dari Rovereto; dan kaum muda dari Mestrino, Keuskupan Padua, yang telah menerima Komuni Kudus Pertama dan Sakramen Krisma.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya! Sampai jumpa besok pada Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 28 Juni 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 24 JUNI 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. III. KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM. 4. MISTERI EKARISTI

Saudara-saudari terkasih,

 

Kita akan melanjutkan katekese kita mengenai dokumen Konsili Vatikan II, khususnya Sacrosanctum Concilium (SC), Konstitusi tentang Liturgi.

 

Ketika Santo Agustinus ingin menjelaskan misteri tubuh Kristus kepada mereka yang baru dibaptis, ia mengambil perikop dari Surat Santo Paulus yang baru saja kita dengar: “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.” (1Kor. 12:27). Ia menambahkan: “Misteri tersebut juga telah kamu terima. Kepada apa adanya dirimu, kamu menjawab: Amin, dan jawabanmu ibarat tanda tanganmu. Kamu diberitahu, ‘Tubuh Kristus,’ dan kamu menjawab, ‘Amin.’ Karena itu jadilah anggota tubuh Kristus, agar "Amin"-mu menjadi benar. [...] Jadilah apa yang kamu lihat, dan terimalah apa adanya dirimu” (Khotbah 272: PL 38, 1247).

 

Segera setelah mengingat Perjamuan Terakhir Yesus, Sacrosanctum Concilium berbicara tentang Ekaristi dalam istilah-istilah Agustinus ini. Bagi umat kristiani, mengambil bagian dalam perjamuan Tuhan berarti “diajar oleh sabda Allah, disegarkan oleh santapan Tubuh Tuhan, bersyukur kepada Allah.” (bdk. SC, 48). Berkat menerima-Nya dalam sabda-Nya dan Ekaristi, kita menjadi apa yang kita terima. Kita menjadi tubuh yang kepala-Nya adalah Kristus yang telah bangkit, yang duduk di sebelah kanan Bapa (bdk. Kol. 1:18), yang menyediakan tempat bagi kita di surga (bdk. Yoh 14:3). Dengan demikian, Ekaristi adalah sakramen kerajaan yang akan datang. Ekaristi adalah Roti untuk perjalanan yang menuntun kita ke tanah air surgawi kita, sampai hari yang diberkati itu ketika “Allah menjadi semua di dalam semua” (1Kor. 15:28).

 

Perayaan liturgi mempersembahkan kurban “bukan saja melalui tangan imam, melainkan juga bersama dengannya” (SC, 48). Dari sudut pandang ini, Ekaristi adalah bentuk kurban rohani umat kristiani (bdk. Ibr. 13:16; Rm. 12:1), sebagai jalan menuju persatuan dengan Allah dan sesama. Dengan berpartisipasi di dalamnya, mereka belajar “mempersembahkan diri, dan dari hari ke hari – berkat perantaraan Kristus makin penuh dipersatukan dengan Allah dan antar mereka sendiri” (idem). Dengan demikian, dengan menggabungkan kita ke dalam Kristus, Ekaristi mengajarkan kita untuk mengadopsi gaya hidup Tuhan Yesus, yang ditandai dengan pemberian diri-Nya secara cuma-cuma. Pemberian ini menarik kita ke dalam dinamika persatuan, menawarkan penawar yang ampuh terhadap kekuatan perpecahan yang merusak dunia, komunitas, keluarga, dan hati kita (bdk. SC, 47).

 

Saudara-saudari terkasih, ketika kita mengambil bagian dalam Ekaristi, kita diundang untuk mendengarkan sabda Allah dan diberi makan di meja Tuhan, tempat Ia mempersembahkan diri-Nya kepada Bapa. Kedua bagian Misa ini, Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi, “begitu erat berhubungan sehingga merupakan satu tindakan Ibadat” (SC, 56).

 

Berkaitan dengan sabda Allah, penting untuk diingat bahwa ini bukan hanya soal memperoleh pengetahuan intelektual tentang Kitab Suci, tetapi juga menerima sabda yang “hidup dan kuat” (Ibr. 4:12), yang disabdakan Allah kepada setiap orang dan sekaligus kepada setiap individu. Sabda ini memberi makan dan menopang kita bersama dengan Roti Ekaristi dan menuntun kita dari kemerosotan dosa menuju kehidupan baru di dalam Kristus. “Ekaristi membuka kita kepada pemahaman Kitab Suci, sebagaimana Kitab Suci pada gilirannya menerangi dan menjelaskan misteri Ekaristi.” (Benediktus XVI, Verbum Domini, 55).

 

Konsili Vatikan II mengimbau hendaklah khazanah harta Kitab Suci dibuka lebih lebar agar santapan sabda Allah dihidangkan secara lebih melimpah kepada umat beriman (bdk. SC, 51). Reformasi liturgi menerjemahkan permintaan ini ke dalam khazanah harta berupa Leksionarium, buku yang mengumpulkan semua bacaan Kitab Suci untuk perayaan liturgi. Kekayaan ini diambil dari sumber paling murni dari Tradisi yang hidup, yang menggabungkan kesetiaan dengan tradisi; dengan keterbukaan terhadap perkembangan yang wajar (bdk. SC, 23).

 

Permulaan Bab II Sacrosanctum Concilium dipenuhi dengan referensi kepada sungai besar Tradisi, yang berlanjut dari para Bapa Gereja hingga kita. Saya akan mengutipnya: “Pada perjamuan terakhir, pada malam Ia diserahkan, Penyelamat kita mengadakan Kurban Ekaristi Tubuh dan Darah-Nya. Dengan demikian Ia mengabadikan Kurban Salib untuk selamanya, dan mempercayakan kepada Gereja Mempelai-Nya yang terkasih kenangan wafat dan kebangkitan-Nya: sakramen cinta kasih, lambang kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan Paskah. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikaruniai jaminan kemuliaan yang akan datang” (SC, 47).

 

Saudara-saudari terkasih, marilah dengan iman kita mengambil dari sumber kehidupan ilahi ini dan memperkenankan diri kita diubah rupa oleh misteri yang kita rayakan.

 

[Sapaan Khusus]

 

Pagi ini saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok-kelompok dari Inggris, Swedia, Malawi, Tanzania, Indonesia, Singapura, Korea Selatan, Kanada, dan Amerika Serikat. Atas kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan damai dan sukacita Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, seraya kita melanjutkan rangkaian katekese tentang Konsili Vatikan II, hari ini kita memikirkan perayaan Ekaristi sebagaimana tercantum dalam Konstitusi tentang Liturgi, Sacrosanctum Concilium. Misteri suci ini digambarkan dalam bab kedua dokumen tersebut sebagai “sakramen cinta kasih, lambang kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan Paskah. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikaruniai jaminan kemuliaan yang akan datang” (n. 47). Konstitusi juga menekankan bahwa dalam Misa, umat beriman bukanlah penonton pasif. Sebaliknya, semua didorong untuk mempersembahkan diri mereka dalam persatuan dengan Yesus Kristus, kurban yang tak bernoda, kepada Bapa, melalui tangan imam dan bersama-sama dengannya. Partisipasi dalam kurban Ekaristi juga berarti dibentuk oleh sabda Allah dan diberi makan di meja tubuh Tuhan. Sesungguhnya, kedua bagian Misa ini, Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi, “begitu erat berhubungan sehingga merupakan satu tindakan Ibadat” (SC, 56). Saudara-saudari, saat kita mencari makanan rohani dari sumber kehidupan ilahi yang melimpah ini, marilah kita memperkenankan diri kita diubah rupa oleh misteri yang kita rayakan.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 24 Juni 2026)