Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 8 Maret 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

 

Sejak abad-abad pertama sejarah Gereja, dialog antara Yesus dan perempuan Samaria, penyembuhan orang yang buta sejak lahirnya, dan kebangkitan Lazarus menerangi jalan orang-orang yang, pada Paskah, akan menerima baptisan dan memulai hidup baru. Keagungan perikop-perikop Injil ini, yang kita baca mulai hari Minggu ini, dimaksudkan untuk membantu para katekumen dalam perjalanan mereka menjadi umat kristiani. Pada saat yang sama, perikop-perikop ini didengarkan kembali oleh seluruh komunitas orang percaya untuk membantu mereka menjadi umat kristiani yang lebih otentik dan penuh sukacita.

 

Sesungguhnya, Yesus adalah jawaban atas kehausan kita. Sebagaimana yang Ia sampaikan kepada perempuan Samaria, perjumpaan dengan-Nya membangkitkan di kedalaman setiap orang “mata air yang yang terus menerus memancar sampai pada hidup yang kekal” (Yoh 4:14). Betapa banyak orang di seluruh dunia yang bahkan hingga hari ini mencari mata air rohani ini! “Kadang-kadang aku juga ada di sana,” tulis Etty Hillesum muda dalam buku hariannya. “Tetapi lebih sering batu dan kerikil menyumbat sumur, dan Allah terkubur di bawahnya. Kemudian Ia harus digali kembali.”[1] Sahabat-sahabatku, tidak ada energi yang lebih baik digunakan selain yang didedikasikan untuk membebaskan hati kita. Karena alasan ini, masa Prapaskah adalah sebuah anugerah: kita memulai pekan ketiga dan sekarang kita dapat mengintensifkan perjalanan ini!

 

Tertulis juga dalam Bacaan Injil bahwa: “Datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan” (Yoh 4:27). Mereka enggan menerima misi-Nya sebagai misi mereka sendiri, sehingga Sang Guru harus mendorong mereka: “Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Namun, Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang sudah menguning dan matang untuk dituai” (Yoh 4:35). Tuhan masih mengatakan kepada Gereja-Nya: “Angkatlah matamu dan kenalilah kejutan-kejutan Allah!” Di ladang, empat bulan sebelum musim menuai, orang praktis tidak melihat apa pun. Tetapi di sana, di tempat kita tidak melihat apa pun, rahmat sudah bekerja dan buah-buahnya siap untuk dipetik. Tuaian melimpah: mungkin pekerjanya sedikit karena mereka teralihkan oleh kegiatan lain. Yesus, di sisi lain, penuh perhatian. Menurut kebiasaan, Ia seharusnya mengabaikan perempuan Samaria itu; namun, Yesus bercakap-cakap dengannya, mendengarkannya, dan menunjukkan rasa hormat kepadanya – tanpa agenda tersembunyi dan tanpa memandang rendah.

 

Alangkah banyak orang dalam Gereja juga mencari kepekaan ini, ketersediaan ini! Dan alangkah indahnya ketika kita meluangkan waktu untuk memberikan perhatian kepada orang yang sedang kita jumpai, sebagaimana kita lihat dalam perikop ini. Secara rohani Yesus sangat dipenuhi keinginan Allah untuk menjangkau orang-orang di tingkat terdalam sehingga Ia bahkan lupa makan (bdk. Yoh 4:34). Dengan demikian, perempuan Samaria tersebut menjadi perempuan penginjil pertama. Karena kesaksiannya, banyak orang dari desanya yang dipandang rendah dan ditolak datang untuk berjumpa Yesus, dan di dalam diri mereka juga iman mengalir seperti air murni.

 

Saudara-saudari, hari ini marilah kita memohon kepada Maria, Bunda Gereja, agar dapat melayani, bersama Yesus dan seperti Yesus, menjadi orang-orang yang haus akan kebenaran dan keadilan. Ini bukanlah waktu untuk mempertentangkan satu gereja dengan gereja lain, "kita" dengan "mereka": orang-orang yang menyembah Allah berusaha untuk menjadi orang-orang pecinta damai, yang menyembah Dia dalam roh dan kebenaran (bdk. Yoh 4:23-24).

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kabar yang sangat mengkhawatirkan terus berdatangan dari Iran dan seluruh Timur Tengah. Selain episode kekerasan dan kehancuran serta iklim kebencian dan ketakutan yang meluas, ada juga kekhawatiran bahwa konflik akan menyebar dan negara-negara lain di kawasan itu, termasuk Lebanon tercinta, mungkin akan kembali terjerumus ke dalam ketidakstabilan.

 

Kita memanjatkan doa yang tulus kepada Tuhan, agar suara gemuruh bom berhenti, senjata-senjata terdiam, dan tercipta ruang untuk dialog di mana suara rakyat dapat didengar. Saya mempercayakan ujud ini kepada Bunda Maria, Ratu Perdamaian, agar ia menjadi perantara orang-orang yang menderita karena perang dan menuntun hati menuju jalan rekonsiliasi dan harapan.

 

Hari ini, 8 Maret, adalah Hari Perempuan Sedunia. Kita memperbarui komitmen kita, yang bagi kita umat kristiani berlandaskan Injil, untuk mengakui kesetaraan martabat laki-laki dan perempuan. Sayangnya, banyak perempuan, sejak kecil hingga dewasa, masih mengalami diskriminasi dan menderita berbagai bentuk kekerasan. Secara khusus, saya menyampaikan solidaritas dan doa saya kepada mereka.

 

Saya menyapa para mahasiswa dari College Station Texas, Kansas City (Missouri), dan Fort Wayne (Indiana) Amerika Serikat, serta dari Jerez dan Cádiz, Spanyol, dan juga kelompok-kelompok peziarah dari Peru, Panama, Honduras, Meksiko, dan Chili.

 

Saya menyapa umat Brescia, Castrolibero, Gravina di Puglia, Perugia, dan Paroki San Clemente Papa dan San Pio da Pietrelcina, Roma.

 

Saya menyapa komunitas “Casa di Maria” Roma, kelompok calon penerima Sakramen Krisma Keuskupan Orvieto-Todi, anak-anak dari Mantova, dan tim rugby dari Rovigo.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu yang penuh berkah kepada semuanya.

__________________________ ____

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Maret 2026)



[1]Etty Hillesum, Buku Harian, London 1985, 58-59.

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 4 Maret 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 2. GEREJA,, KENYATAAN YANG KASAT MATA DAN SPIRITUAL

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Hari ini, kita akan melanjutkan menelusuri Konstitusi Konsili Vatikan II Lumen Gentium, sebuah konstitusi dogmatis tentang Gereja.

 

Pada bab pertama, yang terutama dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan tentang apa itu Gereja, Gereja digambarkan sebagai "satu kenyataan yang kompleks" (no. 8). Sekarang kita bertanya pada diri sendiri: apa yang dimaksud dengan kompleksitas ini? Beberapa mungkin menjawab bahwa Gereja kompleks karena 'rumit' dan karena itu sulit dijelaskan; yang lain mungkin berpikir bahwa kompleksitasnya berasal dari fakta bahwa Gereja adalah sebuah lembaga yang sarat dengan sejarah dua ribu tahun, dengan karakteristik yang berbeda dari kelompok sosial atau agama lainnya. Namun, dalam bahasa Latin, kata 'kompleks' lebih menunjukkan kesatuan yang teratur dari berbagai aspek atau dimensi dalam satu kenyataan yang sama. Karena alasan ini, Lumen Gentium dapat menegaskan bahwa Gereja adalah tubuh yang terorganisir dengan baik, di mana dimensi manusiawi dan ilahi hidup berdampingan tanpa pemisahan dan tanpa kebingungan.

 

Dimensi pertama langsung terlihat, yaitu Gereja adalah komunitas orang-orang yang berbagi sukacita dan perjuangan menjadi orang kristiani, dengan kekuatan dan kelemahan mereka, mewartakan Injil dan menjadi tanda kehadiran Kristus yang menyertai kita dalam perjalanan hidup kita. Namun aspek ini – yang juga terlihat dalam organisasi kelembagaannya – tidak cukup untuk menggambarkan hakikat Gereja yang sesungguhnya, karena Gereja juga memiliki dimensi ilahi. Dimensi ilahi ini bukan berupa kesempurnaan ideal atau keunggulan spiritual para anggotanya, melainkan kenyataan bahwa Gereja dibentuk oleh rencana Allah bagi umat manusia, yang terwujud dalam Kristus.

Oleh karena itu, Gereja sekaligus merupakan komunitas duniawi dan tubuh mistik Kristus, jemaat yang kasat mata dan misteri rohani, satu kenyataan yang hadir dalam sejarah dan suatu umat yang sedang menuju surga (LG, 8; CCC, 771).

Dimensi manusiawi dan ilahi terintegrasi secara harmonis, tanpa satu menutupi yang lain; demikianlah Gereja hidup dalam paradoks ini. Gereja adalah satu kenyataan yang sekaligus manusiawi dan ilahi, yang menerima manusia berdosa dan menuntunnya kepada Allah.

  

Untuk menjelaskan kondisi gerejawi ini, Lumen Gentium merujuk pada kehidupan Kristus. Faktanya, orang-orang yang bertemu Yesus di sepanjang jalan Palestina mengalami kemanusiaan-Nya, mata-Nya, tangan-Nya, suara-Nya. Mereka yang memutuskan untuk mengikuti-Nya tergerak justru oleh pengalaman tatapan-Nya yang menyambut, sentuhan tangan-Nya yang memberkati, kata-kata pembebasan dan penyembuhan-Nya. Namun, pada saat yang sama, dengan mengikuti Manusia itu, para murid membuka diri untuk bertemu Allah. Sesungguhnya, daging Kristus, wajah-Nya, tingkah laku-Nya dan kata-kata-Nya secara nyata mewujudkan Allah yang tak kasat mata.

 

Dalam terang kenyataan Yesus, kita sekarang dapat kembali kepada Gereja: ketika kita melihatnya dengan saksama, kita menemukan dimensi manusiawi yang terdiri dari orang-orang nyata, yang terkadang mewujudkan keindahan Injil dan di lain waktu berjuang dan membuat kesalahan seperti orang lain. Namun, justru melalui anggota-anggotanya dan aspek-aspek duniawinya yang terbatas itulah kehadiran Kristus dan tindakan penyelamatan-Nya terwujud. Sebagaimana dikatakan Paus Benediktus XVI, tidak ada pertentangan antara Injil dan lembaga; Sebaliknya, struktur Gereja justru berfungsi untuk “mewujudnyatakan Injil di zaman kita” (Wejangan kepada Para Uskup Swiss, 9 November 2006). Gereja yang ideal dan murni, terpisah dari dunia, tidak ada; hanya Gereja Kristus yang satu, yang terwujud dalam sejarah.

 

Inilah yang membentuk kekudusan Gereja: kenyataannya, Kristus berdiam di dalamnya dan terus memberikan diri-Nya melalui kelemahan dan kerapuhan anggota-anggotanya. Dengan merenungkan mukjizat abadi yang terjadi di dalamnya, kita memahami ‘metode Allah’: Ia membuat diri-Nya kasat mata melalui kelemahan ciptaan, terus menyatakan diri-Nya dan bertindak. Karena alasan ini, Paus Fransiskus, dalam Evangelii Gaudium, mengajak kita semua untuk belajar ““melepaskan alas kaki kita di depan tanah kudus orang lain (bdk. Kel. 3:5)” (no. 169). Hal ini memungkinkan kita hingga hari ini untuk membangun Gereja: bukan hanya dengan mengatur bentuk-bentuknya yang kasat mata, tetapi dengan membangun bangunan rohani yang merupakan tubuh Kristus, melalui persekutuan dan kasih di antara kita.

 

Sesungguhnya, kasih terus-menerus menghasilkan kehadiran Yesus yang bangkit. “Sekiranya kita semua dapat memusatkan pikiran kita pada satu hal saja, yaitu kasih! Itulah satu-satunya hal, kamu lihat, yang melampaui segala sesuatu, dan tanpanya segala sesuatu menjadi tidak berarti, dan yang menarik segala sesuatu kepada dirinya sendiri, di mana pun ia berada” (Khotbah 354, 6, 6).

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, India, Filipina, Singapura, Vietnam, dan Amerika Serikat. Dengan doa dan harapan baik agar masa Prapaskah ini menjadi masa rahmat dan pembaruan rohani bagimu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai dalam Tuhan kita Yesus Kristus bagi kamu semua.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang Konsili Vatikan II, hari ini kita menelaah misteri dimensi manusiawi dan ilahi Gereja sebagaimana disajikan Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium. Sama seperti kemanusiaan Yesus langsung kasat mata bagi mereka yang berjalan di sisi-Nya, demikian pula dimensi manusiawi Gereja mudah dipahami: Gereja adalah komunitas orang-orang yang, dengan karunia dan kekurangan mereka, berupaya mewartakan Injil dalam struktur yang kasat mata. Namun, mereka yang mengikuti Yesus lebih dekat menyadari bahwa kemanusiaan-Nya — pandangan kasih-Nya, tindakan belas kasih-Nya, dan sabda-Nya yang penuh kuasa — menampilkan keilahian-Nya, yang menuntun mereka kepada keselamatan. Dengan cara yang sama, melalui dimensi Gereja yang kasat mata dan manusiawi, roh Kristus dan tindakan penyelamatan-Nya hadir dan aktif di dunia. Marilah kita berupaya menjadi saksi sejati kasih Kristus sehingga semua orang dapat mengenali dalam diri kita dan di antara kita kasih yang menjadi ciri khas orang kristeia isejati dan membangun Gereja.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 4 Maret 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 Maret 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil hari ini melukiskan gambaran yang cemerlang bagi kita semua saat menceritakan perubahan rupa Tuhan (bdk. Mat 17:1-9). Dalam penggambaran ini, Penginjil mengambil inspirasi dari ingatan para Rasul, menggambarkan Kristus di antara Musa dan Elia. Sabda yang menjadi daging berdiri di antara Hukum dan para Nabi: Dia adalah Hikmat yang hidup, yang menggenapi setiap sabda ilahi. Segala sesuatu yang telah diperintahkan dan diinspirasikan Allah kepada manusia menemukan ungkapan penuh dan definitifnya dalam diri Yesus.

 

Sama seperti pada hari pembaptisan-Nya di Sungai Yordan, demikian pula hari ini di gunung kita mendengar suara Bapa yang menyatakan, “Inilah Anak-Ku yang terkasih,” sementara Roh Kudus menaungi Yesus dalam “awan yang terang” (Mat 17:5). Bacaan Injil menggunakan ungkapan unik ini untuk menggambarkan bagaimana Allah menyatakan diri-Nya. Ketika Ia menyatakan diri-Nya, Tuhan membuat kelimpahan-Nya terlihat oleh pandangan kita: berdiri di hadapan Yesus, yang wajah-Nya bercahaya “seperti matahari” dan pakaian-Nya menjadi “putih berkilauan” (bdk. ayat 2), para murid menyaksikan kemuliaan manusiawi Allah. Petrus, Yakobus, dan Yohanes merenungkan kemuliaan yang rendah hati, yang tidak ditampilkan sebagai tontonan bagi orang banyak, tetapi dalam keintiman yang khidmat.

 

Perubahan rupa merupakan pertanda terang Paskah: suatu peristiwa kematian dan kebangkitan, kegelapan dan terang baru yang dipancarkan Kristus kepada semua tubuh yang dicambuk oleh kekerasan, disalibkan oleh penderitaan, atau ditinggalkan dalam kesengsaraan. Sesungguhnya, sementara kejahatan mereduksi daging kita menjadi komoditas atau massa anonim, daging yang sama ini bersinar dengan kemuliaan Allah. Sang Penebus dengan demikian mengubah luka-luka sejarah, menerangi pikiran dan hati kita: wahyu-Nya adalah karunia keselamatan! Apakah ini memikat kita? Apakah kita melihat wajah Allah yang sejati dengan tatapan kagum dan penuh kasih?

 

Jawaban Bapa terhadap keputusasaan ateisme adalah karunia Putra-Nya, Sang Juruselamat; Roh Kudus menebus kita dari kesepian agnostisisme dengan menawarkan kepada kita persekutuan hidup dan rahmat yang kekal; dan sebagai tanggapan terhadap iman kita yang lemah, janji kebangkitan di masa depan dikumandangkan. Inilah yang dilihat para murid dalam kemuliaan Kristus, tetapi butuh waktu bagi mereka untuk memahaminya (bdk. Mat 17:9), waktu dalam keheningan untuk mendengarkan sabda, waktu untuk pertobatan agar dapat menikmati persekutuan Tuhan.

 

Saat kita mengalami hal ini selama Masa Prapaskah, marilah kita memohon kepada Maria, guru doa dan bintang fajar, untuk menuntun kita dalam iman.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya sedang mengikuti dengan keprihatinan mendalam apa yang terjadi di Timur Tengah dan Iran selama masa yang penuh gejolak ini. Stabilitas dan perdamaian tidak dicapai melalui saling mengancam, atau melalui penggunaan senjata, yang menabur kehancuran, penderitaan, dan kematian, tetapi hanya melalui dialog yang masuk akal, tulus, dan bertanggung jawab.

 

Menghadapi kemungkinan tragedi yang sangat besar, saya menyampaikan permohonan tulus kepada semua pihak yang terlibat untuk memikul tanggung jawab moral dalam menghentikan pilinan kekerasan sebelum menjadi jurang yang tak terjembatani. Semoga diplomasi kembali memainkan peran yang semestinya, dan semoga kesejahteraan rakyat yang mendambakan kehidupan damai yang berlandaskan keadilan, dijunjung tinggi. Dan marilah kita terus berdoa untuk perdamaian.

 

Pada hari-hari ini, berita yang mengkhawatirkan tentang bentrokan antara Pakistan dan Afghanistan juga telah tiba. Saya mendesak agar dialog kembali dilakukan. Marilah kita berdoa bersama agar kerukunan dapat terwujud dalam semua konflik di seluruh dunia. Hanya perdamaian, karunia Allah, yang dapat menyembuhkan luka di antara bangsa-bangsa.

 

Saya ingin menyampaikan rasa simpati saya kepada mereka yang sangat terdampak banjir di negara bagian Minas Gerais, Brasil. Saya berdoa untuk para korban, keluarga yang kehilangan rumah mereka, dan semua yang terlibat dalam upaya penyelamatan.

 

Saya menyapa dengan hangat kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara, khususnya kelompok warga Kamerun yang tinggal di Roma, didampingi oleh Presiden Konferensi Wali Gereja mereka, yang, semoga Allah berkenan, akan saya kunjungi pada bulan April.

 

Saya menyapa umat dari Keuskupan Iași, Rumania, Keuskupan Budimir, Košice, Slovakia, Keuskupan Massachusetts, Amerika Serikat, dan Persaudaraan Santísimo Cristo de la Buena Muerte, Jaén, Spanyol.

 

Saya menyapa umat dari Napoli, Torre del Greco, dan Afragola; dari Caraglio dan Valle Grana; dari Comitini, Crotone, Silvi Marina, dan Paroki Santo Luigi Gonzaga, Roma; serta para pemimpin pramuka dari kelompok “Val d’Illasi”, dekat Verona, dan kaum muda dari Faenza yang telah menerima Sakramen Krisma.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Maret 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 22 Februari 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Hari ini, pada Minggu Prapaskah I, Bacaan Injil menceritakan tentang Yesus yang, dibawa oleh Roh Kudus, memasuki padang gurun dan dicobai oleh Iblis (bdk. Mat 4:1–11). Setelah berpuasa selama empat puluh hari, Ia merasakan beban kemanusiaan-Nya: secara fisik, melalui rasa lapar, dan secara moral, melalui godaan iblis. Dalam hal ini, Ia mengalami perjuangan yang sama dengan perjuangan yang kita semua hadapi dalam perjalanan kehidupan kita. Dengan menolak si jahat, Ia menunjukkan bagaimana kita pun dapat mengatasi tipu daya dan jerat Iblis.

 

Melalui Sabda kehidupan ini, liturgi mengajak kita untuk memandang Masa Prapaskah sebagai jalan yang bercahaya. Melalui doa, puasa, dan sedekah, kita dapat memperbarui kerjasama kita dengan Tuhan dalam membentuk hidup kita sebagai mahakarya yang unik. Ini termasuk membiarkan Dia membersihkan noda dan menyembuhkan luka dosa, saat kita berkomitmen untuk membiarkan hidup kita berkembang dalam keindahan hingga mencapai kepenuhan kasih — satu-satunya sumber kebahagiaan sejati.

 

Tentu saja, ini adalah perjalanan yang menuntut. Selalu ada risiko putus asa atau tergoda untuk memilih jalan yang lebih mudah menuju kepuasan, seperti kekayaan, ketenaran, dan kekuasaan (bdk. Mat 4:3-8). Godaan-godaan ini, yang dihadapi Yesus sendiri, hanyalah pengganti yang buruk untuk sukacita yang menjadi tujuan kita diciptakan. Pada akhirnya, godaan-godaan itu membuat kita tidak puas, gelisah, dan hampa.

 

Oleh karena itu, Santo Paulus VI mengajarkan bahwa pertobatan—jauh dari memiskinkan kemanusiaan kita — justru memperkaya, memurnikan, dan memperkuatnya, saat kita bergerak menuju cakrawala yang “bertujuan untuk mengasihi dan menyerahkan diri kepada Allah” (Konstitusi Apostolik Paenitemini, 17 Februari 1966, I). Sesungguhnya, seraya membuat kita menyadari keterbatasan kita, pertobatan juga memberi kita kekuatan untuk mengatasinya dan hidup, dengan pertolongan Allah, dalam persekutuan yang semakin dalam dengan Dia dan sesama kita.

 

Dalam masa rahmat ini, marilah kita dengan murah hati mempraktikkan pertobatan, bersamaan dengan doa dan karya belas kasih. Marilah kita menciptakan ruang untuk keheningan dengan mematikan televisi, radio, dan gawai untuk sementara waktu. Marilah kita merenungkan sabda Allah, menerima sakramen-sakramen, dan mendengarkan suara Roh Kudus yang berbicara kepada kita di dalam hati kita. Marilah kita juga saling mendengarkan — dalam keluarga, tempat kerja, dan komunitas kita. Marilah kita meluangkan waktu untuk mereka yang sendirian, terutama orang lanjut usia, orang miskin, dan orang sakit. Dengan melepaskan apa yang berlebihan, kita dapat berbagi apa yang kita hemat dengan mereka yang membutuhkan. Kemudian, sebagaimana diajarkan Santo Agustinus, doa kita yang dipanjatkan dengan cara ini — “dengan kerendahan hati dan amal kasih, dengan berpuasa dan memberi, dengan menahan diri dan mengampuni, dengan membalas perbuatan baik dan tidak membalas perbuatan buruk, dengan berpaling dari kejahatan dan melakukan kebaikan” (Khotbah, 206, 3) — akan sampai ke surga dan memberi kita kedamaian.

 

Kita mempercayakan perjalanan Masa Prapaskah kita kepada Perawan Maria, Bunda kita yang selalu menolong anak-anaknya di saat-saat pencobaan.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Empat tahun telah berlalu sejak dimulainya perang melawan Ukraina. Pikiran tulus saya tetap terfokus pada situasi tragis yang terjadi di depan mata seluruh dunia: begitu banyak korban, begitu banyak nyawa dan keluarga yang hancur, kehancuran yang begitu besar, penderitaan yang tak terkatakan! Setiap perang benar-benar merupakan luka yang ditimbulkan atas seluruh umat manusia; perang meninggalkan kematian, kehancuran, dan jejak penderitaan yang membekas dari generasi ke generasi.

 

Perdamaian tidak dapat ditunda. Kebutuhan mendesak yang harus bersemayam di dalam hati kita dan diterjemahkan ke dalam keputusan yang bertanggung jawab. Karena alasan ini, dengan sepenuh hati saya kembali mengimbau: hentikan senjata, hentikan pemboman, capailah gencatan senjata segera, dan perkuatlah dialog untuk membuka jalan menuju perdamaian.

 

Saya mengajak semua orang untuk bergabung dalam doa bagi rakyat Ukraina yang sedang berjuang dan bagi semua orang yang menderita akibat perang ini dan setiap konflik di dunia, agar karunia perdamaian yang telah lama dinantikan dapat menyinari hari-hari kita.

 

Sekarang saya menyapa kamu semua: umat Roma dan para peziarah dari Italia dan berbagai negara lainnya.

 

Dengan hangat saya memberkati para Suster Pekerja Yesus yang sedang memperingati seratus tahun berdirinya tarekat mereka. Saya menyapa Sekolah Santo Yosef Calasanzio Prievidza, Slovakia, dan saya mendukung lembaga-lembaga yang berkomitmen untuk bersama-sama mengatasi penyakit langka.

 

Saya menyapa kelompok Kerasulan Doa dari Biella; umat dari Nicosia, Castelfranco Veneto, dan dekenat Melegnano; para calon penerima sakramen krisma dari Boltiere; kaum muda komunitas pastoral Santa Maria Magdalena Milan; dan para pramuka dari Tarquinia.

Kepada semuanya saya mengucapkan selamat hari Minggu dan semoga perjalanan Masa Prapaskahmu berbuah.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 23 Februari 2026)