Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 13 MEI 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 9. PERAWAN MARIA, TELADAN GEREJA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Konsili Vatikan II memilih untuk mendedikasikan bab terakhir Konstitusi Dogmatis tentang Gereja kepada Perawan Maria (bdk. Lumen gentium, 52-69). Ia “menerima salam sebagai anggota Gereja yang serbaunggul dan sangat istimewa, pun juga sebagai pola teladannya yang mengagumkan dalam iman dan cinta kasih.” (LG, 53). Kata-kata ini mengajak kita untuk memahami bagaimana dalam diri Maria, yang di bawah tindakan Roh Kudus menyambut dan melahirkan Putra Allah yang menjadi manusia, kita dapat mengenali baik model maupun anggota dan ibu yang serbaunggul dari seluruh komunitas gerejawi.

 

Dengan memperkenankan diri-Nya dibentuk oleh karya rahmat, yang mencapai penggenapannya dalam diri-nya, dan dengan menerima anugerah dari Yang Mahatinggi dengan iman dan kasih-Nya yang perawan, Maria adalah teladan yang sempurna dari apa yang seharusnya menjadi panggilan seluruh Gereja: ciptaan dari sabda Allah dan ibu dari anak-anak Allah, yang dilahirkan dalam ketaatan kepada karya Roh Kudus. Lebih jauh lagi, karena ia adalah orang percaya yang unggul, di mana kita ditawarkan bentuk sempurna dari keterbukaan tanpa syarat terhadap misteri ilahi dalam persekutuan umat Allah yang kudus, Maria adalah anggota yang sangat baik dari komunitas gerejawi. Akhirnya, karena Ia melahirkan anak-anak dalam Putra, dikasihi dalam Kekasih abadi yang datang di antara kita, Maria adalah ibu dari seluruh Gereja, yang dapat berpaling kepadanya dengan kepercayaan sebagai anak, dengan kepastian didengar, dilindungi, dan dikasihi.

 

Kita dapat mengungkapkan keseluruhan karakteristik Perawan Maria ini dengan menyebutnya seorang perempuan yang merupakan ikon dari misteri tersebut. Kata "perempuan" menyoroti kenyataan historis dari putri Israel yang belia ini, yang kepadanya diberikan kesempatan untuk menjalani pengalaman luar biasa menjadi ibu sang Mesias. Ungkapan "ikon" menekankan bahwa, di dalam dirinya, gerakan ganda turun dan naik terpenuhi: di dalam dirinya, baik pemilihan Allah yang cuma-cuma maupun persetujuan imannya yang bebas kepada-Nya bersinar. Oleh karena itu, Maria adalah perempuan yang merupakan ikon dari misteri tersebut, yaitu, ikon rencana keselamatan ilahi, yang dulunya tersembunyi dan sekarang diungkapkan sepenuhnya dalam Yesus Kristus.

 

Konsili telah mewariskan ajaran yang jelas tentang tempat unik Perawan Maria dalam karya penebusan (bdk. Lumen Gentium, 60-62). Konsili mengingatkan bahwa satu-satunya pengantara keselamatan adalah Yesus Kristus (bdk. 1 Tim 2:5-6), dan bahwa bunda-Nya yang kudus “sama sekali tidak merintangi persatuan langsung kaum beriman dengan Kristus, melainkan justru mendukungnya (bdk. LG, 60). Pada saat yang sama, “Sehubungan dengan penjelmaan Sabda ilahi Santa Perawan sejak kekal telah ditetapkan untuk menjadi Bunda Allah ... ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya juru selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrtai jiwa-jiwa. Oleh karena itu dalam tata rahmat ia menjadi Bunda kita.” (idem, 61).

 

Misteri Gereja juga tercermin dalam Perawan Maria: di dalam dirinya, umat Allah menemukan gambaran asal usul, teladan, dan tanah air mereka. Dalam Bunda Tuhan, Gereja merenungkan misterinya sendiri, bukan hanya karena ia menemukan di dalam dia teladan iman yang perawan, kasih keibuan, dan perjanjian perkawinan yang merupakan panggilannya, tetapi juga dan terutama karena di dalam dirinya ia mengenali pola dasar dirinya sendiri, sosok ideal dari apa yang seharusnya ia wujudkan.

 

Sebagaimana dapat kita lihat, refleksi tentang Bunda Perawan yang dikumpulkan dalam Lumen Gentium mengajarkan kita untuk mencintai Gereja dan melayani di dalamnya penggenapan Kerajaan Allah, yang akan datang dan yang akan sepenuhnya terwujud dalam kemuliaan.

 

Marilah kita memperkenankan diri kita dipertanyakan oleh teladan agung yang diberikan kepada kita oleh Maria, Perawan dan Bunda, dan marilah kita memohon kepadanya untuk membantu kita, melalui perantaraannya, guna menjawab apa yang diminta dari kita melalui teladannya: apakah aku menjalani partisipasiku dalam Gereja dengan iman yang rendah hati dan aktif? Apakah aku mengenali di dalam Gereja persekutuan perjanjian yang telah diberikan Allah kepadaku untuk menanggapi kasih-Nya yang tak terbatas? Apakah aku merasa bahwa aku adalah bagian dari Gereja yang hidup, dalam ketaatan kepada para gembala yang diberikan oleh Allah? Apakah aku memandang Maria sebagai teladan, anggota dan Bunda Gereja yang luar biasa, dan memohon kepadanya untuk membantuku menjadi murid Putranya yang setia?

 

Saudara-saudari, semoga Roh Kudus, yang turun atas Maria dan yang kita mohon dengan rendah hati dan penuh kepercayaan, menganugerahkan kepada kita rahmat untuk menghayati kenyataan-kenyataan yang indah ini sepenuhnya. Dan, setelah merefleksikan secara mendalam Konstitusi Lumen Gentium, marilah kita memohon kepada Perawan Maria untuk memperolehkan anugerah ini bagi kita: agar kasih kepada Gereja Bunda yang kudus tumbuh dalam diri kita semua. Amin!

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Irlandia, Tanzania, India, Indonesia, Kanada, dan Amerika Serikat. Hari ini kita memperingati Bunda Maria dari Fatima. Pada hari ini, empat puluh lima tahun yang lalu, terjadi percobaan pembunuhan terhadap Paus Yohanes Paulus II, dan karena alasan ini, saya mendedikasikan katekese saya hari ini kepada Bunda Maria. Pada saat yang sama, kita akan segera merayakan Kenaikan Tuhan, yang menandai masuknya kemanusiaan-Nya ke surga. Sambil menantikan kedatangan Yesus yang kedua dalam kemuliaan, semoga kita, seperti para Rasul, mempercayakan diri kita kepada Bunda Maria. Atas kamu dan keluargamu, dengan tulus saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Kristus Tuhan. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese kita hari ini kita merenungkan Maria, yang dalam bab terakhir Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium diakui sebagai teladan, anggota yang sempurna, dan sebagai ibu. Taat kepada kehendak Bapa, karya penebusan Putranya, dan dorongan Roh Kudus, Maria adalah teladan dari apa yang seharusnya menjadi panggilan Gereja. "Ya"-nya yang tanpa syarat menunjukkan kepada kita bagaimana menjadi anggota Gereja. Sebagai ibu kita melalui rahmat, dialah yang dapat kita datangi dengan kepercayaan seorang anak, dengan kepastian didengar, dilindungi, dan dikasihi. Secara khusus, Maria bekerja sama dalam karya keselamatan, melalui ketaatan, iman, harapan, dan kasih yang membara, untuk memulihkan melalui Putranya, kehidupan adikodrati jiwa-jiwa. Marilah kita tertantang oleh teladan kerendahan hati, iman yang aktif, dan ketaatan Maria. Marilah kita dengan murah hati menanggapi dalam kasih, memuliakan Allah dalam hati kita, dan menerima kekuatan dari sakramen-sakramen. Marilah kita memohon kepada Maria untuk membantu kita menjadi murid-murid yang setia kepada Putranya.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 13 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 10 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Dalam Bacaan Injil hari ini, kita mendengar beberapa kata yang disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya selama Perjamuan Terakhir. Saat Ia mengubah roti dan anggur menjadi ungkapan nyata kasih-Nya, Kristus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku” (Yoh 14:15). Pernyataan ini membebaskan kita dari kesalahpahaman bahwa kita dikasihi karena kita menuruti perintah-perintah, seolah-olah kebenaran kita adalah prasyarat untuk kasih Allah. Sebaliknya, kasih Allah adalah dasar kebenaran kita. Kita benar-benar menuruti perintah-perintah sesuai kehendak Allah ketika kita mengenali kasih-Nya kepada kita, sebagaimana dinyatakan Kristus kepada dunia. Oleh karena itu, kata-kata Yesus adalah undangan untuk menjalin hubungan, bukan pemerasan atau ultimatum yang menimbulkan prasangka.

 

Inilah sebabnya Tuhan memerintahkan kita untuk saling mengasihi sebagaimana Ia telah mengasihi kita (bdk. Yoh 13:34): kasih Yesuslah yang melahirkan kasih di dalam diri kita. Kristus sendiri adalah standar, ukuran kasih sejati: kasih yang setia selamanya, murni dan tanpa syarat. Kasih yang tidak mengenal "tetapi" atau "mungkin"; kasih yang memberi dari dirinya sendiri tanpa berusaha untuk memiliki; kasih yang memberi hidup tanpa mengambil imbalan apa pun. Karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita, kita pun dapat mengasihi, dan ketika kita benar-benar mengasihi Allah, kita benar-benar mengasihi satu sama lain. Itu seperti hidup itu sendiri: sama seperti orang-orang yang telah menerima hidup yang dapat hidup semata, demikian pula, orang-orang yang telah dikasihi yang dapat mengasihi semata. Oleh karena itu, perintah-perintah Tuhan adalah jalan hidup yang menyembuhkan kita dari kasih palsu. Perintah-perintah Tuhan adalah gaya hidup spiritual yang merupakan jalan menuju keselamatan.

 

Justru karena mengasihi kita, Tuhan tidak meninggalkan kita sendirian dalam cobaan hidup; Ia menjanjikan kita seorang Penolong, yaitu Sang Pembela, "Roh kebenaran" (Yoh 14:17). Karunia ini adalah karunia yang "dunia tidak dapat menerima Dia" (idem), selama dunia terus berbuat jahat, menindas orang miskin, mengucilkan orang lemah, dan membunuh orang yang tidak bersalah. Sebaliknya, mereka yang menanggapi kasih Yesus bagi semua orang akan menemukan dalam Roh Kudus sekutu yang tidak akan pernah gagal: “Kamu mengenal Dia,” kata Yesus, “sebab Ia menyertai kamu dan akan tinggal di dalam kamu” (idem). Karena itu, kita dapat memberi kesaksian tentang Allah, yang adalah kasih, selalu dan di mana pun. Kasih bukanlah gagasan pikiran manusiawi, tetapi kenyataan hidup ilahi, yang melaluinya segala sesuatu diciptakan dari ketiadaan dan ditebus dari kematian.

 

Dengan menawarkan kepada kita kasih sejati dan kekal, Yesus berbagi dengan kita jati diri-Nya sebagai Putra yang terkasih: “Aku ada di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (ayat 20). Persekutuan hidup yang menyeluruh ini menyangkal sang Penuduh — musuh sang Penolong, roh yang menentang sang pembela kita. Sesungguhnya, sementara Roh Kudus adalah kuasa kebenaran, Penuduh adalah “bapa pendusta” (Yoh 8:44), yang berusaha untuk mengadu domba manusia dengan Allah dan manusia satu sama lain: kebalikan dari apa yang dilakukan Yesus dengan menyelamatkan kita dari kejahatan dan mempersatukan kita sebagai umat saudara dan saudari di dalam Gereja.

 

Saudara-saudari terkasih, dengan penuh syukur atas karunia ini, marilah kita mempercayakan diri kita kepada perantaraan Perawan Maria, Bunda Kasih Ilahi.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya telah mengetahui dengan keprihatinan mendalam berbagai laporan mengenai meningkatnya kekerasan di wilayah Sahel, khususnya di Chad dan Mali, yang baru-baru ini mengalami serangan teroris. Saya menyampaikan jaminan ketulusan doa saya untuk para korban dan kedekatan rohani saya kepada semua orang yang menderita akibat peristiwa tragis tersebut. Saya sangat berharap agar segala bentuk kekerasan dapat terhenti, dan saya mendorong semua upaya yang bertujuan untuk memupuk perdamaian dan pembangunan di negeri tercinta itu.

 

Setiap tahun, pada tanggal 10 Mei, kita merayakan “Hari Persahabatan Koptik-Katolik”. Saya menyampaikan salam persaudaraan saya kepada Yang Mulia Paus Tawadros II dan meyakinkan seluruh Gereja Koptik terkasih bahwa saya akan mengingat mereka dalam doa. Saya berharap perjalanan persahabatan kita akan membawa kita kepada persatuan yang sempurna di dalam Kristus, yang telah menyebut kita sebagai “sahabat” (bdk. Yoh 15:15).

 

Dan sekarang, dengan hangat saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara!

 

Secara khusus, saya menyapa kelompok “Guardie d’Onore al Sacro Cuore di Gesù,” dari berbagai kota di seluruh Italia serta “Volontari per l’evangelizzazione” yang terhubung dengan keluarga Radio Maria. Dengan hangat saya juga menyapa para sukarelawan dari lembaga “Komen Italia,” yang saya ucapkan terima kasih atas komitmen mereka terhadap pencegahan kanker payudara.

 

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Kepulauan Canary yang, dengan keramahan khas mereka, menyambut kapal pesiar Hondius dan para penumpang yang terinfeksi Hantavirus. Saya berharap dapat bertemu kamu semua bulan depan selama kunjungan saya ke kepulauan tersebut.

 

Hari ini, kita secara khusus mengenang semua ibu. Melalui perantaraan Maria, Bunda Yesus dan Bunda kita sendiri, marilah kita berdoa dengan penuh kasih dan syukur untuk setiap ibu, khususnya mereka yang hidup dalam keadaan yang sangat sulit. Terima kasih! Semoga Allah memberkatimu!

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu yang penuh berkat kepada semuanya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 10 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 6 MEI 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 8. GEREJA, PEZIARAH DALAM SEJARAH MENUJU TANAH AIR SURGAWI

Saudara-saudari, selamat pagi dan selamat datang!


Saat kita berfokus pada bagian dari Bab VII Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Gereja hari ini, marilah kita merefleksikan salah satu ciri khasnya: dimensi eskatologisnya. Gereja, pada kenyataannya, menempuh perjalanan melalui sejarah duniawi ini selalu menuju tujuan akhirnya, yaitu tanah air surgawi. Ini adalah dimensi penting yang, bagaimanapun, sering kita abaikan atau remehkan, karena kita terlalu fokus pada apa yang langsung terlihat dan dinamika yang lebih konkret dari kehidupan komunitas kristiani.

 

Gereja adalah umat Allah yang menempuh perjalanan sejarah, yang menjadikan Kerajaan Allah sebagai tujuan dari semua tindakannya (bdk. LG, 9). Yesus mengawali Gereja justru dengan mewartakan Kerajaan kasih, keadilan, dan perdamaian ini (bdk. LG, 5). Karena itu, kita dipanggil untuk memikirkan komunitas dan dimensi kosmik keselamatan dalam Kristus dan mengarahkan pandangan kita ke cakrawala akhir ini, mengukur dan mengevaluasi segala sesuatu dari sudut pandang ini.

 

Dalam sejarah Gereja hidup dalam pelayanan kedatangan Kerajaan Allah di dunia. Ia mewartakan sabda janji ini kepada semua orang dan selalu; ia menerima perjanjian itu dalam perayaan sakramen-sakramen, khususnya Ekaristi; ia mempraktikkan logikanya dan mengalaminya dalam hubungan kasih dan pelayanan. Lebih jauh lagi, ia tahu bahwa ia adalah tempat dan sarana di mana persatuan dengan Kristus diwujudkan "lebih erat" (LG, 48), sementara pada saat yang sama mengakui bahwa keselamatan dapat diberikan oleh Allah dalam Roh Kudus bahkan di luar batas-batasnya yang terlihat.

 

Berkaitan dengan hal ini, Konstitusi Lumen Gentium membuat pernyataan penting: Gereja adalah “sakramen keselamatan bagi semua orang” (LG, 48), yaitu, tanda dan sarana kepenuhan hidup dan kedamaian yang dipromosikan oleh Allah. Ini berarti Gereja tidak sepenuhnya mengidentifikasi diri dengan Kerajaan Allah, tetapi merupakan benih dan permulaannya, karena penggenapannya akan diberikan kepada umat manusia dan kosmos hanya pada akhirnya. Oleh karena itu, orang-orang percaya kepada Kristus menjalani sejarah duniawi ini, yang ditandai dengan pematangan kebaikan tetapi juga dengan ketidakadilan dan penderitaan, tanpa tertipu atau putus asa; mereka hidup dipandu oleh janji yang diterima dari Dia yang akan “menjadikan segala sesuatu baru” (Why. 21:5). Karena itu, Gereja mewujudkan misinya di antara “sudah” permulaan Kerajaan Allah dalam diri Yesus, dan “belum” penggenapan yang dijanjikan dan dinantikan. Sebagai penjaga pengharapan yang menerangi jalan, ia juga diberi misi untuk berbicara dengan jelas menolak segala sesuatu yang mematikan kehidupan dan menghambat perkembangannya, serta mengambil posisi yang mendukung kaum miskin, kaum yang dieksploitasi, korban kekerasan dan perang, dan semua orang yang menderita jasmani dan rohani (bdk. Kompendium Ajaran Sosial Gereja, no. 159).

 

Sebagai tanda dan sakramen Kerajaan Allah, Gereja adalah umat Allah yang berziarah di bumi yang, dengan mengacu pada janji terakhir, membaca dan menafsirkan dinamika sejarah melalui Injil, mengecam kejahatan dalam segala bentuknya dan mewartakan, dalam perkataan dan perbuatan, keselamatan yang ingin Kristus wujudkan bagi seluruh umat manusia dan Kerajaan-Nya yang adil, penuh kasih, dan damai. Oleh karena itu, Gereja tidak mewartakan dirinya sendiri; sebaliknya, segala sesuatu di dalamnya harus mengarah pada keselamatan di dalam Kristus.

 

Dari sudut pandang ini, Gereja dipanggil untuk dengan rendah hati mengakui kerapuhan dan kefanaan manusiawi dari lembaga-lembaganya sendiri yang, meskipun melayani Kerajaan Allah, menanggung citra dunia yang fana ini (bdk. LG, 48). Tidak ada lembaga gerejawi yang dapat diperlakukan mutlak; sesungguhnya, karena mereka ada dalam sejarah dan waktu, mereka dipanggil untuk terus menerus bertobat, memperbarui bentuk dan mereformasi struktur, terus menerus meregenerasi hubungan, sehingga mereka benar-benar dapat memenuhi misi mereka.

 

Dalam cakrawala Kerajaan Allah, kita juga harus memahami hubungan antara umat Kristiani yang menjalankan misi mereka saat ini, dan mereka yang telah menyelesaikan kehidupan duniawi mereka dan berada dalam keadaan penyucian atau kebahagiaan. Lumen Gentium, pada kenyataannya, menegaskan bahwa semua umat kristiani membentuk satu Gereja, ada persekutuan dan pembagian barang rohani yang didasarkan pada persatuan dengan Kristus dari semua orang percaya, sebuah fraterna sollicitudo antara Gereja duniawi dan Gereja surgawi: persekutuan orang-orang kudus yang dialami khususnya dalam liturgi (bdk. LG, 49-51). Dengan mendoakan orang-orang yang telah meninggal dan mengikuti jejak mereka yang telah hidup sebagai murid Yesus, kita pun dikuatkan dalam perjalanan kita dan memperkuat penyembahan kita kepada Allah: ditandai oleh satu Roh dan dipersatukan dalam satu liturgi, bersama dengan mereka yang telah mendahului kita dalam iman, kita memuji dan memuliakan Tritunggal Mahakudus.

 

Marilah kita bersyukur kepada para Bapa Konsili karena telah mengingatkan kita akan aspek terpenting dan terindah sebagai seorang kristiani, dan semoga kita berusaha untuk mengembangkannya dalam hidup kita.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Belgia, Belanda, Finlandia, Ghana, Uganda, Selandia Baru, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Kanada, dan Amerika Serikat. Secara khusus saya menyapa para dosen dan mahasiswa dari Universitas Florida, Saint Mary’s College, dan Christendom College, serta semua yang berpartisipasi dalam Konferensi Kecerdasan Buatan di Universitas Gregorian. Atas kamu semua, dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan kedamaian Yesus yang telah bangkit! Semoga Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]


Saudara-saudari terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang Lumen Gentium, kita berfokus pada dimensi eskatologis Gereja. Sebagai “sakramen keselamatan bagi semua orang,” Gereja adalah tanda dan sarana kepenuhan janji Allah. Sebagai umat Allah yang berziarah, Gereja menafsirkan sejarah melalui lensa Injil dan berbicara dengan tegas menentang segala kejahatan. Pada saat yang sama, Gereja mengakui perlunya pertobatan terus-menerus agar dapat memenuhi misinya dengan benar. Sebagai anggota Tubuh yang sama, kita pun dipanggil untuk pembaharuan. Kita melakukan ini dengan tetap berada dalam persekutuan dengan Kristus dan satu sama lain. Seluruh Gereja paling erat bersatu dalam pujian kita kepada Allah dalam liturgi. Di sana kita berdoa untuk umat beriman yang telah meninggal dan meminta para Santo untuk menjadi pengantarakita agar kita semua dapat menerima kepenuhan janji-janji Allah dalam Kerajaan Surga.
____

(Peter Suriadi - Bogor, 6 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 3 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Selama Masa Paskah, sebagaimana Gereja perdana, kita kembali kepada perkataan Yesus, yang mengungkapkan makna penuhnya dalam terang penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Apa yang pernah luput dari perhatian para murid atau menyebabkan mereka menderita kini kembali terlintas dalam pikiran mereka, menghangatkan hati mereka, dan memenuhi mereka dengan pengharapan.

 

Bacaan Injil yang diwartakan hari Minggu ini menyajikan dialog Sang Guru dengan murid-murid-Nya selama Perjamuan Terakhir. Secara khusus, kita mendengar sebuah janji yang melibatkan kita sejak saat ini dalam misteri kebangkitan-Nya. Yesus berkata, “Apabila Aku telah pergi dan menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat Aku berada, kamu pun berada” (Yoh 14:3). Dengan demikian, para Rasul menemukan bahwa Allah menyediakan tempat bagi setiap orang. Dua orang dari mereka telah mengalami hal ini selama perjumpaan pertama mereka dengan Yesus di tepi Sungai Yordan. Yesus memperhatikan mereka yang mengikuti-Nya dan mengundang mereka senja itu untuk mengunjungi tempat tinggal-Nya (bdk. Yoh 1:39). Bahkan sekarang, dihadapkan dengan kematian, Yesus berbicara tentang sebuah rumah, tetapi kali ini rumah yang sangat besar. Rumah tersebut adalah rumah Bapa-Nya dan Bapa kita, di sana ada ruang untuk semua orang. Sang Putra menggambarkan diri-Nya sebagai hamba yang menyiapkan ruang, sehingga setiap saudara atau saudari, ketika tiba, dapat menemukan ruang mereka sendiri yang sudah siap dan merasa seolah-olah mereka selalu dirindukan dan akhirnya ditemukan.

 

Saudara-saudara terkasih, di dunia lama tempat kita masih menjalani perjalanan ini, yang menarik perhatian adalah tempat-tempat eksklusif, pengalaman yang hanya dapat diakses oleh sedikit orang, dan hak istimewa untuk memasuki tempat yang tidak dapat diakses orang lain. Namun, di dunia baru tempat Yesus yang bangkit menuntun kita, apa yang paling berharga berada dalam jangkauan setiap orang. Namun ini tidak membuatnya kurang menarik. Sebaliknya, apa yang terbuka untuk semua orang sekarang membawa sukacita. Rasa syukur menggantikan persaingan; sambutan mengatasi pengucilan; dan kelimpahan tidak lagi menimbulkan kesenjangan. Terutama, tidak ada seorang pun yang disalahartikan sebagai orang lain, dan tidak ada seorang pun yang hilang. Kematian mengancam untuk menghapus nama dan ingatan seseorang, tetapi di dalam Allah setiap orang sepenuhnya menjadi dirinya sendiri. Sesungguhnya, inilah yang kita cari sepanjang hidup kita, terkadang rela melakukan apa saja hanya untuk mendapatkan sedikit perhatian dan pengakuan.

 

“Percayalah,” kata Yesus kepada kita. Itulah rahasianya! “Percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku” (Yoh 14:1). Justru percaya inilah yang membebaskan hati kita dari kecemasan akan kepemilikan dan perolehan, dan dari khayalan bahwa kita harus mengejar posisi bergengsi untuk memiliki nilai. Setiap orang sudah memiliki nilai yang tak terbatas dalam misteri Allah, yang merupakan kenyataan yang sesungguhnya. Dengan saling mengasihi seperti Yesus telah mengasihi kita, kita menyampaikan kesadaran ini kepada satu sama lain. Inilah perintah baru; dengan cara ini, kita mengantisipasi surga di bumi dan mengungkapkan kepada semua orang bahwa persaudaraan dan perdamaian adalah panggilan kita. Sesungguhnya, melalui kasih, di tengah banyak saudara dan saudari, setiap orang menemukan bahwa mereka diciptakan secara unik.

 

Oleh karena itu, marilah kita berdoa kepada Santa Maria, Bunda Gereja, agar setiap komunitas kristiani menjadi rumah yang terbuka bagi semua orang dan memperhatikan setiap orang.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Bulan Mei telah dimulai: di seluruh Gereja, sukacita berkumpul dalam nama Maria, Bunda kita, diperbarui, terutama dengan berdoa Rosario bersama. Kita menghidupkan kembali pengalaman hari-hari di antara kenaikan Yesus dan Pentakosta, ketika para murid berkumpul di ruang atas untuk memohon Roh Kudus. Santa Maria tetap berada di tengah-tengah mereka, hatinya menjaga api yang menghidupkan doa semua orang. Saya mempercayakan ujud saya kepadamu, khususnya untuk persekutuan di dalam Gereja dan perdamaian dunia.

 

Hari ini merupakan Hari Kebebasan Pers Sedunia, yang dipromosikan oleh UNESCO. Sayangnya, hak ini sering dilanggar — kadang-kadang secara terang-terangan, kadang-kadang secara lebih halus. Marilah kita mengingat banyak jurnalis dan reporter yang telah menjadi korban perang dan kekerasan.

 

Dengan hangat saya menyapa kamu semua — umat Roma dan para peziarah yang datang dari berbagai negara!

 

Saya menyambut para guru — baik rohaniwan maupun awam — dari sekolah-sekolah Hermanas Franciscanas de los Sagrados Corazones, serta umat dari Madrid, Granada, Minneapolis, dan Malaysia; dan warga Peru yang membentuk Lembaga Virgen de Chapi de Arequipa di Roma.

 

Saya menyapa Lembaga Meter, yang selama tiga puluh tahun telah berkomitmen untuk membela anak-anak di bawah umur dari momok pelecehan, sambil melibatkan komunitas gerejani dan sipil serta mempromosikan pendidikan yang bertujuan untuk mendukung korban dan mendorong pencegahan. Terima kasih atas pengabdianmu!

 

Saya senang menyapa umat dari Padua, Gruppo Giovani Valdaso dan Punto Giovani Komunitas Camillian Piossasco, Aksi Katolik Vikariat Noale, kaum muda dari Verolanuova dan Cadignano, paduan suara kaum muda Coredo-Predaia dan para siswa dari Liceo Fardella – Ximenes, Trapani.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Mei 2026)