Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 18 Februari 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 1. MISTERI GEREJA, SAKRAMEN PERSATUAN DENGAN ALLAH, DAN PERSATUAN SELURUH UMAT MANUSIA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Ketika Konsili Vatikan II, yang dokumen-dokumennya kita dedikasikan untuk katekese ini, ingin menggambarkan Gereja, perhatian utama mereka adalah menjelaskan asal-usulnya. Untuk melakukan hal itu, dalam Konstitusi Dogmatis Lumen gentium, yang disetujui pada 21 November 1964, mereka mengambil istilah "misteri" dari surat-surat Santo Paulus. Dengan memilih kata ini, mereka tidak bermaksud mengatakan bahwa Gereja adalah sesuatu yang samar atau tidak dapat dipahami, sebagaimana umumnya dipikirkan ketika kata "misteri" terdengar. Justru sebaliknya: sesungguhnya, ketika Santo Paulus menggunakan kata itu, terutama dalam Surat kepada Jemaat Efesus, ia ingin menunjukkan suatu kenyataan yang sebelumnya tersembunyi dan sekarang diungkapkan.

 

Hal ini merujuk pada rencana Allah, yang memiliki tujuan: mempersatukan semua ciptaan berkat tindakan pendamaian Yesus Kristus, suatu tindakan yang terlaksana dalam wafat-Nya di kayu salib. Hal ini dialami pertama-tama dalam jemaat yang berkumpul untuk perayaan liturgi: di sana, perbedaan direlatifkan, dan yang terpenting adalah kebersamaan karena kita ditarik oleh kasih Kristus, yang merobohkan tembok pemisah antara manusia dan kelompok sosial (bdk. Ef 2:14). Bagi Santo Paulus, misteri adalah perwujudan dari apa yang ingin dicapai Allah bagi seluruh umat manusia, dan dinyatakan dalam pengalaman-pengalaman setempat, yang secara bertahap meluas hingga mencakup segenap manusia dan bahkan kosmos.

 

Kondisi umat manusia adalah kondisi fragmentasi yang tidak mampu diperbaiki oleh manusia, meskipun kecenderungan menuju persatuan bersemayam di dalam hati mereka. Tindakan Yesus Kristus memasuki kondisi ini melalui kuasa Roh Kudus, dan mengatasi kekuatan perpecahan dan Sang Pemecah itu sendiri. Berkumpul bersama untuk merayakan, setelah percaya pada pemberitaan Injil, dialami sebagai daya tarik yang diberikan oleh salib Kristus, yang merupakan perwujudan tertinggi kasih Allah. Perasaan dipanggil bersama-sama oleh Allah: inilah sebabnya istilah ekklesia digunakan, yaitu, perkumpulan orang-orang yang menyadari bahwa mereka telah dipanggil bersama-sama. Jadi, ada kesamaan tertentu antara misteri ini dan Gereja: Gereja adalah misteri yang menjadi dapat dipahami.

 

Kumpulan ini, justru karena diwujudkan oleh Allah, tidak dapat dibatasi hanya pada sekelompok orang, melainkan ditakdirkan untuk menjadi pengalaman seluruh umat manusia. Oleh karena itu, Konsili Vatikan II, pada awal Konstitusi Lumen Gentium, menyatakan bahwa: “Gereja dalam Kristus bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia” (no. 1). Dengan penggunaan istilah “sakramen” dan penjelasan yang menyertainya, dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Gereja adalah ungkapan dari apa yang ingin dicapai Allah dalam sejarah umat manusia; oleh karena itu, dengan melihat Gereja, kita dapat sampai batas tertentu memahami rencana Allah, misteri tersebut. Dalam pengertian ini, Gereja adalah sebuah tanda. Selain itu, istilah “sarana” ditambahkan pada istilah “sakramen”, justru untuk menunjukkan bahwa Gereja adalah tanda yang aktif. Memang, ketika Allah bekerja dalam sejarah, Ia melibatkan dalam aktivitas-Nya orang-orang yang menjadi objek tindakan-Nya. Melalui Gerejalah Allah mencapai tujuan-Nya untuk membawa manusia kepada-Nya dan mempersatukan mereka satu sama lain.

 

Persatuan dengan Allah tercermin dalam persatuan umat manusia. Inilah pengalaman keselamatan. Bukan suatu kebetulan bahwa dalam Konstitusi Lumen Gentium, pada Bab 7, yang didedikasikan untuk sifat eskatologis Gereja musafir, sekali lagi digunakan deskripsi Gereja sebagai sakramen, dengan spesifikasi “keselamatan”: “Adapun Kristus, yang ditinggikan dari bumi, menarik semua orang kepada diri-Nya (lih. Yoh. 12:32 yun). Sesudah bangkit dari kematian (lih. Rm 6:9) Ia mengutus Roh-Nya yang menghidupkan ke dalam hati para murid-Nya, dan melalui Roh itu Ia menjadikan Tubuh-Nya, yakni Gereja, sakramen keselamatan bagi semua orang. Ia duduk di sisi kanan Bapa, namun tiada hentinya berkarya di dunia, untuk mengantar orang-orang kepada Gereja, dan melalui Gereja menyatukan mereka lebih erat dengan diri-Nya; lagi pula untuk memberi mereka santapan Tubuh dan Darah-Nya sendiri, serta dengan demikian mengikutsertakan mereka dalam kehidupan-Nya yang mulia”.

 

Teks ini memungkinkan kita untuk memahami hubungan antara tindakan pemersatu Paskah Yesus, yang merupakan misteri penderitaan, waft, dan kebangkitan-Nya, dan jatidiri Gereja. Pada saat yang sama, teks ini membuat kita bersyukur menjadi bagian dari Gereja, tubuh Kristus yang bangkit dan satu umat Allah yang berziarah melalui sejarah, yang hidup sebagai kehadiran yang menguduskan di tengah-tengah umat manusia yang masih terpecah-pecah, sebagai tanda persatuan dan rekonsiliasi yang efektif di antara bangsa-bangsa.

 

[Sapaan Khusus]

 

Pagi ini saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, terutama mereka yang datang dari Inggris, Skotlandia, Irlandia, Finlandia, Belanda, Filipina, dan Amerika Serikat. Secara khusus saya menyapa para mahasiswa Pusat Roma Universitas Loyola Chicago. Saat kita memulai perjalanan Masa Prapaskah kita hari ini, marilah kita memohon kepada Tuhan untuk menganugerahkan kepada kita karunia pertobatan hati yang sejati agar kita dapat semakin baik menanggapi kasih-Nya kepada kita dan membagikan kasih itu kepada orang-orang di sekitar kita. Atas kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dalam katekese lanjutan kita tentang Konsili Vatikan II, kita telah merefleksikan berbagai aspek Wahyu Ilahi. Secara khusus, kita telah melihat bagaimana Allah memilih untuk menyatakan diri-Nya, dengan menyatakan misteri kasih dari rencana ilahi-Nya untuk mempersatukan semua orang kepada-Nya melalui Putra-Nya, Yesus Kristus. Sesungguhnya, hanya dalam misteri inilah kita dapat memahami baik asal usul maupun misi Gereja. Dalam terang ini, hari ini kita beralih untuk menelaah Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, yang menyajikan Gereja sebagai tanda dan sarana rencana keselamatan ini. Sebagai tanda karena komunitas Gereja membuat persatuan yang ditetapkan oleh Kristus melalui salib dan kebangkitan-Nya terlihat oleh dunia saat ini. Sebagai sarana karena melalui Gereja Allah mencapai tujuan-Nya untuk mempersatukan manusia kepada diri-Nya dan membawa mereka bersama-sama. Saat kita menempuh perjalanan melalui dunia yang masih ditandai oleh perpecahan, marilah kita memohon kepada Tuhan untuk terus membimbing Gereja-Nya dalam misi pengudusan dan rekonsiliasi.

___________

(Peter Suriadi - Bogor, 19 Februari 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 15 Februari 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Hari ini kita akan mendengarkan sebagian dari perikop Injil tentang “Khotbah di Bukit” (bdk. Mat 5:17-37). Setelah memberitakan Khotbah di Bukit, Yesus mengajak kita untuk memasuki kebaruan Kerajaan Allah. Untuk menuntun kita dalam perjalanan ini, Ia mengungkapkan makna sebenarnya dari perintah hukum Musa. Perintah itu bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan religius lahiriah berupa perasaan “benar” di hadapan Allah, tetapi untuk membawa kita ke dalam hubungan kasih dengan Allah dan saudara-saudari kita. Karena alasan inilah, Yesus berkata bahwa Ia tidak datang untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya (bdk. ayat 17).

 

Hukum Taurat digenapi justru oleh kasih, yang membawa makna mendalam dan tujuan utamanya kepada kesempurnaan. Kita dipanggil untuk mencapai kebenaran yang “melebihi” (bdk. ayat 20) kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kebenaran yang tidak terbatas pada ketaatan terhadap perintah, tetapi yang membuka kita kepada kasih dan mendorong kita untuk mengasihi. Yesus menelaah beberapa ajaran hukum Taurat yang merujuk pada kasus-kasus konkret, dan menggunakan rumusan linguistik yang disebut antinomi untuk menunjukkan perbedaan antara kebenaran religius formal dan kebenaran Kerajaan Allah: di satu sisi, “Kamu telah mendengar bahwa kepada nenek moyang kita dikatakan,” dan di sisi lain, Yesus menegaskan, “Namun, Aku berkata kepadamu” (bdk. ayat 21-37).

 

Pendekatan ini sangat penting, karena menunjukkan bahwa hukum Taurat diberikan kepada Musa dan para nabi sebagai cara untuk mengenal Allah dan rencana-Nya bagi kita dan sejarah, atau, menggunakan ungkapan Santo Paulus, sebagai pengawas yang menuntun kita kepada-Nya (bdk. Gal 3:23-25). Tetapi sekarang, Allah sendiri, dalam pribadi Yesus, telah datang di antara kita, menggenapi hukum Taurat, menjadikan kita anak-anak Bapa dan memberi kita rahmat untuk menjalin hubungan dengan-Nya sebagai anak-anak dan sebagai saudara-saudari di antara kita.

 

Saudara-saudari, Yesus mengajarkan kita kebenaran sejati berupa kasih dan, dalam setiap perintah hukum Taurat, kita harus belajar untuk mengidentifikasi panggilan untuk mengasihi. Sesungguhnya, tidak cukup hanya menahan diri untuk tidak membunuh seseorang secara fisik jika kemudian membunuh dengan kata-kata dan merendahkan martabat orang lain (bdk. Mat 5:21-22). Demikian pula, tidak cukup hanya setia secara teknis kepada pasangan dan tidak berzina jika hubungan tersebut tidak saling memiliki kelembutan, mendengarkan, menghormati, memperhatikan, dan memiliki tujuan bersama (bdk. ayat 27-28, 31-32). Kita dapat menambahkan selain contoh yang diberikan Yesus kepada kita. Bacaan Injil menawarkan ajaran berharga ini kepada kita: kebenaran minimal tidaklah cukup; dibutuhkan kasih yang besar.

 

Marilah kita bersama-sama memohon kepada Perawan Maria, yang memberikan Kristus, yang menggenapi hukum dan rencana keselamatan, kepada dunia. Semoga ia menjadi perantara kita, membantu kita untuk lebih memahami Kerajaan Allah dan menghidupi panggilan-Nya untuk kebenaran.


[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya menyampaikan simpati saya kepada rakyat Madagaskar yang telah terdampak oleh siklon ganda, banjir, dan tanah longsor dalam waktu singkat. Saya mendoakan para korban, keluarga mereka, dan semua orang yang telah menderita kerusakan besar.

 

Dalam beberapa hari mendatang, jutaan orang di Asia Timur dan bagian lain dunia akan merayakan Tahun Baru Imlek. Semoga perayaan yang penuh sukacita ini memperkuat ikatan keluarga dan persahabatan, membawa damai ke rumah dan masyarakat, serta memberikan kesempatan untuk menatap masa depan bersama dan membangun perdamaian serta kemakmuran bagi semua. Seraya mengucapkan selamat Tahun Baru, saya menyampaikan kasih sayang saya kepada semua orang dan memohonkan berkat Tuhan bagi kamu semua.

 

Saya senang menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah, terutama umat Paroki San Lorenzo, Cadiz, Spanyol, dan mereka yang berasal dari Marche.

 

Saya juga menyapa para siswa dan guru Sekolah Katolik Semua Orang Kudus Sheffield dan Kolese Salesian Thornleigh Bolton, Inggris; Sekolah Vila Pouca de Aguiar Portugal; Colegio Altasierra Sevilla dan Sekolah Edith Stein Schillingfürst, Jerman.

 

Saya menyapa para peserta konferensi nasional Gerakan Mahasiswa Katolik (FIDAE); para calon penerima Sakramen Krisma dari Almenno San Salvatore dan mereka yang berasal dari Lugo, Rosaro, Stallavena, dan Alcenago; anak-anak dari Sekolah San Giuseppe, Bassano del Grappa dan Institut Salesian Sant’Ambrogio, Milan; serta kaum muda Petosino, Solbiate, dan Cagno.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Februari 2026)

PESAN PAUS LEO XIV UNTUK MASA PRAPASKAH 2026

Mendengarkan dan Berpuasa: Masa Prapaskah sebagai Masa Pertobatan

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Masa Prapaskah adalah masa di mana Gereja, yang dituntun rasa kepedulian keibuan, mengajak kita untuk menempatkan kembali misteri Allah di pusat kehidupan kita, guna menemukan pembaharuan dalam iman kita dan menjaga hati kita agar tidak terkikis oleh kecemasan dan pengalihan kehidupan sehari-hari.

 

Setiap jalan menuju pertobatan dimulai dengan memperkenankan sabda Allah menyentuh hati kita dan menerimanya dengan ketaatan roh. Ada hubungan antara sabda, penerimaan kita terhadapnya, dan transformasi yang ditimbulkannya. Karena alasan ini, perjalanan Paskah merupakan kesempatan yang baik untuk mendengarkan suara Tuhan dan memperbarui komitmen kita untuk mengikuti Kristus, menyertai-Nya di jalan menuju Yerusalem, di mana misteri penderitaan, wafat, dan kebangkitan-Nya akan digenapi.

 

Mendengarkan

 

Tahun ini, pertama-tama saya ingin membahas pentingnya memberi ruang bagi sabda melalui mendengarkan. Kesediaan untuk mendengarkan adalah cara pertama kita menunjukkan keinginan untuk menjalin hubungan dengan seseorang.

 

Dengan mewahyukan diri-Nya kepada Musa di dalam nyala api yang keluar dari semak duri, Allah sendiri mengajarkan kepada kita bahwa mendengarkan adalah salah satu ciri khas-Nya: “Sungguh Aku telah memperhatikan kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir. Aku telah mendengar teriakan mereka” (Kel 3:7). Mendengar teriakan orang-orang yang tertindas adalah awal dari kisah pembebasan di mana Tuhan memanggil Musa, mengutusnya untuk membuka jalan keselamatan bagi anak-anak-Nya yang telah diperbudak.

 

Allah kita adalah Allah yang berupaya melibatkan kita. Bahkan hari ini Ia membagikan kepada kita apa yang ada di dalam hati-Nya. Karena itu, mendengarkan sabda dalam liturgi mengajarkan kita untuk mendengarkan kebenaran kenyataan. Di tengah banyaknya suara yang hadir dalam kehidupan pribadi kita dan masyarakat, Kitab Suci membantu kita untuk mengenali dan menanggapi teriakan orang-orang yang menderita dan sengsara. Guna membina keterbukaan batin untuk mendengarkan ini, kita harus memperkenankan Allah mengajari kita bagaimana mendengarkan sebagaimana mestinya. Kita harus menyadari bahwa “kondisi kaum miskin adalah seruan yang, sepanjang sejarah manusia, senantiasa menantang kehidupan, masyarakat, sistem politik dan ekonomi kita, dan, tak terkecuali, Gereja.”[1]

 

Berpuasa

 

Jika Masa Prapaskah adalah waktu untuk mendengarkan, puasa adalah cara konkret untuk mempersiapkan diri menerima sabda Allah. Menahan diri terhadap makanan adalah praktik asketis kuno yang penting dalam jalan pertobatan. Justru karena melibatkan tubuh, puasa memudahkan kita untuk mengenali apa "rasa lapar" kita dan apa yang kita anggap perlu untuk kebutuhan hidup kita. Lebih jauh lagi, puasa membantu kita untuk mengidentifikasi dan mengelola "nafsu makan" kita, menjaga rasa lapar dan haus kita akan keadilan tetap hidup dan membebaskan kita dari rasa puas diri. Dengan demikian, puasa mengajarkan kita untuk berdoa dan bertindak secara bertanggung jawab terhadap sesama.

 

Dengan wawasan spiritual, Santo Agustinus membantu kita memahami ketegangan antara saat ini dan penggenapan di masa depan yang menjadi ciri khas penjagaan hati ini. Ia mengamati bahwa: “Dalam perjalanan hidup di dunia ini, laki-laki dan perempuan wajib lapar dan haus akan keadilan, tetapi kepuasan hanya ada di kehidupan selanjutnya. Para malaikat merasa puas dengan roti ini, makanan ini. Di sisi lain, umat manusia lapar akan roti dan makanan ini; kita semua tertarik padanya dalam keinginan kita. Menjangkau keinginan ini membentangkan jiwa dan meningkatkan kapasitasnya.”[2] Dengan cara ini dipahami bahwa puasa tidak hanya memungkinkan kita untuk mengendalikan keinginan kita, memurnikannya dan membuatnya semakin bebas, tetapi juga membentangkannya, sehingga terarah kepada Allah dan berbuat baik.

 

Tetapi, untuk melaksanakan puasa sesuai dengan karakter Injil dan menghindari godaan yang mengarah pada kesombongan, puasa harus dijalani dalam iman dan kerendahan hati. Puasa harus berlandaskan persekutuan dengan Tuhan, karena “mereka yang tidak dapat memelihara diri mereka dengan sabda Allah tidak berpuasa dengan benar.”[3] Sebagai tanda nyata dari komitmen batin kita untuk berpaling dari dosa dan kejahatan dengan pertolongan rahmat, puasa juga harus mencakup bentuk-bentuk penyangkalan diri lainnya yang bertujuan untuk membantu kita memperoleh gaya hidup yang semakin sederhana, karena “hanya kesederhanaanlah yang membuat kehidupan kristiani kuat dan otentik.”[4]

 

Dalam hal ini, saya ingin mengajakmu kepada bentuk pantang yang sangat praktis dan seringkali tidak dihargai: yaitu menahan diri dari kata-kata yang menyinggung dan menyakiti sesama kita. Marilah kita mulai dengan melucuti bahasa kita, menghindari kata-kata kasar dan penilaian yang terburu-buru, menahan diri dari fitnah dan berbicara buruk tentang mereka yang tidak ada di hadapan kita dan tidak dapat membela diri. Sebaliknya, marilah kita berusaha untuk menimbang kata-kata kita dan menumbuhkan kebaikan dan rasa hormat dalam keluarga kita, di antara teman-teman kita, di tempat kerja, di media sosial, dalam debat politik, di media, dan dalami komunitas kristiani. Dengan cara ini, kata-kata kebencian akan digantikan kata-kata pengharapan dan perdamaian.

 

Bersama-sama

 

Akhirnya, Masa Prapaskah menekankan aspek komunal dari mendengarkan sabda dan berpuasa. Kitab Suci sendiri menggarisbawahi dimensi ini dalam berbagai cara. Misalnya, Kitab Nehemia menceritakan bagaimana orang Israel berkumpul untuk mendengarkan Kitab Taurat Tuhan dibacakan di muka umum, bersiap untuk mengucapkan pengakuan iman dan menjalankan ibadah mereka dengan berpuasa, sehingga memperbarui perjanjian mereka dengan Allah (bdk. 9:1-3).

 

Demikian pula, paroki, keluarga, kelompok gerejawi, dan komunitas religius kita dipanggil untuk melakukan perjalanan bersama selama Masa Prapaskah, di mana mendengarkan sabda Allah, serta jeritan kaum miskin dan bumi, menjadi bagian dari kehidupan komunitas kita, dan puasa menjadi landasan bagi pertobatan yang tulus. Dalam konteks ini, pertobatan tidak hanya merujuk pada hati nurani kita, tetapi juga pada kualitas hubungan dan dialog kita. Atinya, kita harus memperkenankan diri kita ditantang kenyataan dan mengenali apa yang benar-benar menuntun keinginan kita — baik di dalam komunitas gerejawi kita maupun dalam hal kehausan umat manusia akan keadilan dan rekonsiliasi.

 

Saudara-saudara terkasih, marilah kita memohon rahmat Prapaskah yang menuntun kita untuk semakin memperhatikan Allah dan kaum lemah. Marilah kita memohon kekuatan yang berasal dari jenis puasa yang juga membentangkan menuju penggunaan bahasa kita, sehingga kata-kata yang menyakitkan dapat berkurang dan memberi ruang yang lebih besar bagi suara sesama kita. Marilah kita berupaya menjadikan komunitas kita tempat di mana jeritan mereka yang menderita mendapat sambutan, dan mendengarkan membuka jalan menuju pembebasan, membuat kita siap dan bersemangat untuk berkontribusi dalam membangun peradaban kasih.

 

Dengan tulus saya memberkati kamu semua dan perjalanan Masa Prapaskahmu.

 

Vatikan, 5 Februari 2026, Peringatan wajib Santa Agata, Perawan dan Martir

 

LEO PP. XIV



[1] Seruan Apostolik Dilexi Te (4 Oktober 2025), 9.

[2] Agustinus, Manfaat Puasa, 1, 1.

[3] Benediktus XVI, Katekese (9 Maret 2011).

[4] Paulus VI, Katekese (8 Februari 1978).

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 11 Februari 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. I. KONSTITUSI DOGMATIS DEI VERBUM. 5. SABDA ALLAH DALAM KEHIDUPAN GEREJA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Dalam katekese hari ini kita akan melihat adanya hubungan yang mendalam dan vital antara sabda Allah dan Gereja, ikatan yang diungkapkan oleh Dei Verbum, Konstitusi Konsili Vatikan II, bab enam. Gereja adalah rumah yang sah bagi Kitab Suci. Di bawah inspirasi Roh Kudus, Kitab Suci berasal dari umat Allah, dan ditujukan untuk umat Allah. Dalam komunitas kristiani, Kitab Suci, dapat dikatakan, memiliki habitatnya: sesungguhnya, dalam kehidupan dan iman Gereja, Kitab Suci menemukan ruang di mana ia dapat mengungkapkan maknanya dan mewujudkan kekuatannya.

 

Konsili Vatikan II mengingatkan kita bahwa “Kitab-kitab ilahi seperti juga tubuh Tuhan sendiri selalu dihormati oleh Gereja, yang terutama dalam Liturgi suci tiada hentinya menyambut roti kehidupan dari meja sabda Allah maupun tubuh Kristus, dan menyajikannya kepada umat beriman. Lebih lanjut, “Kitab-kitab itu bersama dengan Tradisi Suci selalu dipandang dan tetap dipandang sebagai norma imannya yang tinggi” (Dei Verbum, 21).

 

Gereja tidak pernah berhenti merefleksikan nilai Kitab Suci. Setelah Konsili, momen yang sangat penting berkaitan dengan hal ini adalah Sidang Umum Biasa Sinode Para Uskup dengan tema “Sabda Allah dalam kehidupan dan perutusan Gereja” pada bulan Oktober 2008. Paus Benediktus XVI mengumpulkan hasilnya dalam Seruan Pasca-Sinodal Verbum Domini (30 September 2010), di mana beliau menegaskan: “Hubungan intrinsik antara sabda dan iman memperjelas bahwa hermeneutika biblis yang otentik hanya dapat diperoleh dalam iman Gereja, yang memiliki paradigma dalam fiat Maria… latar utama penafsiran Kitab Suci adalah kehidupan Gereja” (no. 29).

 

Karenanya, dalam komunitas gerejawi, Kitab Suci menemukan ruang lingkup untuk melaksanakan tugas khususnya dan mencapai tujuannya: memperkenalkan Kristus dan membuka dialog dengan Allah. Sesungguhnya, “ketidaktahuan akan Kitab Suci adalah ketidaktahuan akan Kristus”.[1] Ungkapan Santo Hieronimus yang terkenal ini mengingatkan kita akan tujuan utama membaca dan merenungkan Kitab Suci: mengenal Kristus dan, melalui Dia, menjalin hubungan dengan Allah, hubungan yang dapat dipahami sebagai percakapan, dialog. Dan Konstitusi Dei Verbum menyajikan wahyu kepada kita tepat sebagai dialog, di mana Allah berbicara kepada manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya (bdk. DV, 2). Hal ini terjadi ketika kita membaca Kitab Suci dengan sikap batiniah doa: Allah kemudian datang kepada kita dan memulai percakapan dengan kita.

 

Kitab Suci, yang dipercayakan kepada Gereja dan dipelihara serta dijelaskan olehnya, memainkan peran aktif: sesungguhnya, dengan kemanjuran dan kekuatannya, Kitab Suci menopang dan menguatkan komunitas kristiani. Segenap umat beriman dipanggil untuk minum dari mata air ini, pertama dan terutama dalam perayaan Ekaristi dan sakramen-sakramen lainnya. Kecintaan terhadap Kitab Suci dan keakraban dengannya harus membimbing mereka yang melayani Sabda: uskup, imam, diakon, katekis. Karya para ekseget dan mereka yang bergelut dengan ilmu pengetahuan biblis sangat berharga, dan Kitab Suci memiliki tempat sentral dalam teologi, yang menemukan landasan dan jiwanya dalam sabda Allah.

 

Gereja sangat menginginkan sabda Allah dapat menjangkau setiap anggotanya dan memelihara perjalanan iman mereka. Tetapi sabda Allah juga mendorong Gereja melampaui dirinya sendiri; sabda Allah terus membukanya kepada perutusan bagi setiap orang. Memang, kita hidup dikelilingi oleh begitu banyak kata-kata, tetapi betapa banyak di antaranya yang kosong! Terkadang kita bahkan mendengarkan kata-kata bijak, yang bagaimanapun tidak memengaruhi takdir akhir kita. Sebaliknya, sabda Allah menjawab dahaga kita akan makna, akan kebenaran tentang hidup kita. Satu-satunya sabda yang selalu baru: mengungkapkan misteri Allah kepada kita, sabda itu tak habis-habisnya, sabda itu tidak pernah berhenti menawarkan kekayaannya.

 

Saudara-saudari terkasih, hidup di dalam Gereja membuat kita belajar bahwa Kitab Suci sepenuhnya berkaitan dengan Yesus Kristus, dan kita mengalami bahwa inilah alasan mendalam atas nilai dan kekuatannya. Kristus adalah sabda Bapa yang hidup, Sabda Allah yang menjadi manusia. Seluruh Kitab Suci mewartakan pribadi dan kehadiran-Nya yang menyelamatkan, bagi kita masing-masing dan seluruh umat manusia. Karena itu, marilah kita membuka hati dan pikiran kita untuk menerima karunia ini, mengikuti teladan Maria, Bunda Gereja.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Belanda, Swedia, Israel, dan Amerika Serikat. Rabu depan, Masa Prapaskah dimulai. Masa Prapaskah adalah waktu untuk memperdalam pengetahuan dan kasih kita akan Tuhan, memeriksa hati dan hidup kita, serta memfokuskan kembali pandangan kita kepada Yesus dan kasih-Nya kepada kita. Semoga hari doa, puasa, dan sedekah yang akan datang menjadi sumber kekuatan saat setiap hari kita berusaha memikul salib kita sendiri dan mengikuti Kristus. Atasmu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese kita tentang Konstitusi Dogmatis Dei Verbum, hari ini kita telah membahas hubungan yang mendalam dan vital antara sabda Allah dan Gereja. Kitab Suci, yang telah dipercayakan kepada Gereja dan dijaga olehnya, mengungkapkan maknanya dan menunjukkan kekuatannya dalam kehidupan dan iman Gereja, terutama dalam perayaan Ekaristi Kudus. Karena alasan ini, Gereja terus-menerus merenungkan dan menafsirkan Kitab Suci karena Kitab Suci adalah sarana yang dengannya kita mengenal sabda Allah yang hidup dan menjelma, yaitu Yesus Kristus. Sesungguhnya, berdoa dengan Kitab Suci membuka pintu bagi hubungan yang intim dengan Allah yang melalui tulisan-tulisan suci ini mengundang kita untuk bercakap-cakap dengan-Nya. Santo Hieronimus menunjukkan dengan tepat bahwa ketidaktahuan akan Kitab Suci adalah ketidaktahuan akan Allah. Dengan mengingatkan hal ini, saya mendorongmu untuk membaca dan merenungkan sabda Allah yang diinspirasikan setiap hari. Semoga sabda Allah memelihara hati dan pikiran kita serta menuntun kita kepada kepenuhan hidup.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 11 Februari 2026)



[1]S. Girolamo, Comm. in Is., Prol.: PL 24, 17 B.