Saudara-saudari
sekalian, selamat pagi dan selamat datang!
Melanjutkan
refleksi kita mengenai Konstitusi Konsili Vatikan II Gaudium et Spes (GS), hari
ini kita akan membahas bab keempat bagian pertama, yang dikhususkan bagi
perutusan Gereja dalam dunia sekarang.
Pertama,
Konsili menegaskan kembali bahwa Gereja tidak berada "di atas" atau
"di samping" dunia, melainkan — boleh dikatakan — dicangkokkan ke
dalamnya. "Mundus reconciliatus Ecclesia", tulis Santo Agustinus
(Khotbah 96): Gereja adalah dunia yang telah didamaikan dengan Allah; kita
adalah peziarah di bumi yang turut merasakan kerapuhan sekaligus keindahan
dunia ini (bdk. GS, 40).
Sebagaimana
Putra Allah menjelma untuk menghidupkan dunia dan mendamaikannya dengan Bapa,
demikian pula Gereja hadir di tengah dunia sebagai tanda penjelmaan Allah, demi
mewujudkan rencana-Nya untuk menjadikan kita semua anak-anak-Nya dalam satu
keluarga besar umat manusia. Oleh karena itu, Gereja menempuh perjalanan
sejarah di tengah berbagai bangsa dan budaya, dan "keterlibatan dalam
kehidupan masyarakat ini membantu Gereja memahami dengan semakin jelas bahwa
peranannya memiliki dimensi sejarah serta membawa tanggung jawab atas cara
relasi sosial dibangun" (Ensiklik Magnifica Humanitas, 19).
Perutusan
pertama Gereja adalah membantu orang-orang untuk menaruh perhatian pada
pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang kehidupan: pertanyaan mengenai asal-usul
dan tujuan akhir kita, serta makna kasih dan penderitaan (bdk. GS, 41). Nalar
mengejar keuntungan dengan segala cara dan memanipulasi informasi berisiko
memberikan tekanan yang tidak semestinya agar orang mengikuti gaya hidup yang
berpusat pada konsumsi barang-barang materi, padahal hati kita diciptakan untuk
memandang ke atas.
Para Bapa
Konsili mengingatkan kita bahwa perutusan Gereja juga terlaksana melalui
kontribusi dalam pembangunan kota duniawi. Namun, metode dan tujuannya bukan
terutama bersifat politis; melainkan, perutusan tersebut terwujud dalam
kesaksian akan iman dan kasih, disertai dengan komitmen terhadap keadilan,
perdamaian, dan persaudaraan. Dengan menyembah Kristus — Orang Benar yang wafat
bagi orang-orang yang tidak benar — umat beriman tidak dapat menerima
penindasan terhadap kaum lemah dan miskin, ataupun struktur-struktur tidak adil
yang melanggengkan ketergantungan dan ketidakadilan. Ajaran sosial Gereja
menjadi pedoman bagi tindakan umat Kristiani, yang bekerja sama dengan semua
orang yang berkehendak baik demi memajukan kesejahteraan bersama. Oleh karena itu,
Gereja “tidak memiliki hasrat yang lebih besar selain dapat mengembangkan diri
secara bebas — demi kesejahteraan semua orang — di bawah pemerintahan jenis apa
pun yang mengakui hak-hak dasar pribadi dan keluarga serta tuntutan
kesejahteraan bersama” (GS, 42).
Demi
melaksanakan perutusan Injil secara efektif, setiap orang yang telah dibaptis
perlu berkomitmen untuk bekerja sama dengan rahmat Roh Kudus, agar iman mereka
menjadi hidup dan terwujud dalam perilaku yang konsisten. Sesungguhnya,
sebagaimana ditegaskan kembali oleh para Bapa Konsili, perceraian antara iman
yang diikrarkan dan hidup sehari-hari banyak orang “harus dipandang sebagai
suatu kesesatan yang cukup gawat pada zaman sekarang ini” (GS, 43).
Gaudium
et Spes memberikan perhatian khusus (bdk. GS, 43) pada perutusan kaum awam
yang, berkat pembaptisan mereka, dipanggil untuk menghidupkan dunia dengan
semangat Kristiani dan visi Injil. Lingkup utama bagi kegiatan ini — yang dapat
pula digambarkan sebagai kegiatan yang bersifat imami — tentu saja adalah
keluarga dan tempat kerja, namun perutusan ini juga mencakup setiap ranah
kehidupan.
Akhirnya,
Gereja senantiasa memperhatikan apa yang sedang terjadi dan berkembang di
tengah masyarakat (bdk. GS, 44). Merupakan tugas seluruh Umat Allah — terutama
para gembala dan teolog — untuk melakukan pembedaan roh terhadap hal-hal dalam
budaya zaman kita yang patut mendapat perhatian, dengan senantiasa menjadikan
Sabda Allah dan Tradisi Gereja sebagai tolok ukur utama dalam pembedaan
tersebut. Hal ini menuntut sikap batin yang seimbang dan bebas dari sekadar
mengikuti kecenderungan budaya; sikap yang mampu memandang dunia secara positif
namun tetap teguh dalam menjaga serta mewartakan pesan Injil secara utuh.
Sesungguhnya, “kekristenan tidak akan menjadi menarik dengan cara mengencerkan
isinya ataupun melunakkan tuntutannya” (Pidato pada Sidang Pleno Dikasteri
untuk Evangelisasi – Bagian tentang Pertanyaan-Pertanyaan Mendasar mengenai
Evangelisasi di Dunia, 28 Mei 2026).
Saudara-saudari
terkasih, dalam perjalanannya melintasi sejarah, “Gereja memiliki satu tujuan
tunggal: supaya datanglah Kerajaan Allah dan terwujudlah keselamatan segenap
bangsa manusia” (GS, 45). Gereja mengupayakan tujuan ini terutama melalui
kekudusan pribadi dan kasih persaudaraan. Santo Paulus VI menulis: “Tanpa tanda
kekudusan ini, perkataan kita akan sulit menyentuh hati manusia zaman sekarang.
Perkataan itu berisiko menjadi sia-sia dan tidak membuahkan hasil” (Seruan
Apostolik Evangelii Nuntiandi, 76). Oleh karena itu, marilah kita membuka diri
terhadap karya Roh Kudus, agar Ia memampukan kita hidup dalam kekudusan dan
kasih, sehingga dunia dapat percaya dan memiliki pengharapan.
[Sapaan
Khusus]
Saya
menyapa dengan hangat seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang
mengikuti Audiensi hari ini, khususnya mereka yang datang dari Inggris,
Skotlandia, Irlandia, Uganda, Afrika Selatan, Australia, Selandia Baru, India,
Indonesia, Filipina, Sri Lanka, Kanada, dan Amerika Serikat. Atas kamu
masing-masing dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita
Yesus Kristus. Semoga Allah memberkati kamu semua!
[Ringkasan
dalam bahasa Inggris]
Saudara-saudari
terkasih, pagi ini kita kembali merefleksikan Gaudium et Spes seraya menyoroti
perutusan Gereja dalam dunia sekarang. Sebagaimana Putra Allah menjelma menjadi
manusia demi melaksanakan perutusan penebusan-Nya, demikian pula Gereja hadir di
dunia sebagai tanda hidup akan rencana Allah untuk mendamaikan dunia dengan
diri-Nya. Dengan mencermati tanda-tanda zaman melalui terang Injil, Gereja
menjalankan tugas ini dengan membantu orang-orang menjawab
pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang kehidupan serta berkontribusi bagi
masyarakat melalui kesaksian iman dan kasih. Agar perutusan ini terlaksana
secara efektif, Gereja mengandalkan kerja sama setiap orang yang telah dibaptis
dengan rahmat Roh Kudus serta upaya mereka dalam mengejar kekudusan. Kaum awam,
khususnya, dipanggil untuk menjiwai budaya tempat mereka hidup dengan semangat
Kristiani. Dalam panggilan kita untuk membangun Kerajaan Allah, semoga kita
memperbarui upaya kita menuju pengudusan diri, keadilan, dan kasih
persaudaraan, sehingga menjadi tanda pengharapan bagi semua orang.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 7 Oktober 2026)



