Saudara-saudari
terkasih, selamat hari Minggu!
Setelah
perumpamaan tentang seorang penabur, Yesus melanjutkan khotbahnya kepada orang
banyak menggunakan serangkaian gambaran: gandum yang baik dan lalang, biji
sesawi dan ragi dalam adonan (bdk. Mat 13:24–43).
Ketiga
perumpamaan singkat ini mengingatkan kita akan kedatangan Kerajaan Allah dalam
sejarah, tindakannya dalam kehidupan manusia, dan cara kerajaan itu tumbuh,
berkembang, dan mengubah dunia dari dalam. Melalui gambaran-gambaran ini, Yesus
memperingatkan kita terhadap godaan untuk berpikir bahwa Allah adalah sosok
yang kuat yang memaksakan diri dengan kekerasan, yang mengambil alih dan
mendominasi, atau yang datang dengan kemenangan. Sebaliknya, Allah menyukai
kerendahan hati, tanda kasih-Nya yang bijaksana, yang dengannya Ia memberi kita
kebebasan untuk menerima atau menolak-Nya. Kasih-Nya terasa bahkan di antara
lalang, bertindak secara tersembunyi dan tak terlihat seperti benih terkecil,
dan mengembangkan adonan tanpa mengeluarkan suara.
Saudara-saudari,
melalui perumpamaan-perumpamaan ini, Yesus mengungkapkan sesuatu yang penting
tentang cara Allah bekerja dalam hidup kita dan dalam sejarah. Terkadang kita
mengharapkan Allah melakukan sesuatu yang spektakuler; kita ingin Ia campur
tangan dari atas, segera mencabuti lalang kejahatan. Kita membayangkan Allah
yang kuat dan berkuasa, dan, sayangnya, kita juga mencontohkan cara kita
menjadi orang kristiani dan cara kita menjadi Gereja berdasarkan gambaran ini.
Namun, Kerajaan Allah menyebar bahkan di tengah-tengah lalang, sehingga kita
perlu melatih pandangan kita agar dapat membedakan kebaikan yang tumbuh di
tengah kegelapan kejahatan, dan menghindari penilaian yang terburu-buru.
Kerajaan itu datang seperti benih terkecil dan karena itu membutuhkan kesabaran
dalam menyertai proses ini, sehingga kita dapat mengenalinya dalam hal-hal
kecil kehidupan sehari-hari dan dalam kesederhanaan kehidupan biasa. Kerajaan
itu tumbuh tak terlihat seperti ragi dalam tepung, dan dengan demikian kita
terbebas dari keputusasaan dan diundang untuk beriman bahkan ketika tampaknya
Allah tidak hadir. Sesungguhnya, Ia selalu bersama kita, dan kasih-Nya selalu
siap membantu kita.
Cara
Allah bertindak juga harus menjadi cara kita hidup, baik sebagai individu
maupun sebagai Gereja, di tengah kenyataan yang mengelilingi kita. Kita
dipanggil untuk mengadopsi pendekatan yang berpusat pada Injil, tanpa
terburu-buru menentang orang lain melalui penilaian yang arogan, tanpa
memaksakan diri melalui kekuasaan dan paksaan, dan tanpa kehilangan kepercayaan
pada karya Allah. Sebagaimana dikatakan Kardinal Ratzinger saat itu, ini adalah
soal menundukkan diri pada nalar benih — yang bukan nalar kesuksesan dan
kebesaran, tetapi nalar merendahkan diri dan melayani orang lain (bdk. Wejangan
kepada Para Katekis dan Guru Agama, 10 Desember 2000). Dengan cara ini, kita
akan menjadi seperti benih-benih kecil Injil yang bertunas, dan ragi kasih yang
mengubah rupa adonan dunia.
Marilah
kita memohon kepada Bunda Maria, yang tahu bagaimana menerima benih Sabda dalam
kerendahan hatinya, untuk menopang kita dalam perjalanan kita dan menjadi
perantara bagi kita.
[Setelah
pendarasan doa Malaikat Tuhan]
Saudara-saudari
terkasih,
Selama
saya beristirahat beberapa hari, sekali lagi saya menyampaikan salam dan rasa
terima kasih saya kepada kamu semua, penduduk Castel Gandolfo, dan saya dengan
gembira menyambut para peziarah yang datang dari seluruh penjuru dunia!
Kita
terus mengikuti dengan penuh perhatian peristiwa yang terjadi di berbagai
negara yang dilanda perang dan kekerasan. Janganlah kita melupakan mereka yang
menderita dan meninggal karena pertikaian ini, dan marilah kita meningkatkan
doa-doa kita yang terus-menerus pada upaya-upaya mulia untuk perdamaian.
Saya
menyapa Komunitas Cenacolo Mother Elvira, yang berkumpul di Saluzzo untuk
Festival Kehidupan; Gerakan Keluarga Baru Focolari yang berkumpul untuk Sekolah
Internasional; para siswa Meksiko yang berpartisipasi dalam Sekolah Musim Panas
APRA; dan kelompok dari Persekutuan Pandangan Dunia Katolik.
Saya
menyampaikan salam kepada para anggota muda Regnum Christi yang mengikuti
Kursus Pembina Internasional, dan saya juga menyapa mereka yang mengikuti
“Ziarah Singa,” didampingi oleh Uskup Anthony Percy, Uskup Pembantu Keuskupan
Sydney, Australia.
Saya
juga menyapa keluarga dan anak-anak yang dibantu oleh Suster-suster Amal Kasih
Maria Diangkat ke Surga dari Roma, kaum muda dari Paroki Juru Selamat Suci di
Yerusalem, kelompok anak-anak dari Paroki Santo Agustinus dari Bovolenta dan
para peziarah dari Akademi Liturgi Rzeszów.
Saya
mengucapkan selamat hari Minggu yang penuh kedamaian!
____
(Peter Suriadi - Bogor, 19 Juli 2026)



.jpeg)