Liturgical Calendar

Showing posts with label Wejangan Audiensi Umum 2015. Show all posts
Showing posts with label Wejangan Audiensi Umum 2015. Show all posts

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 3 Agustus 2016 : TENTANG HARI ORANG MUDA SEDUNIA DAN KUNJUNGANNYA KE POLANDIA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini, saya ingin merenungkan secara singkat tentang perjalanan apostolik yang saya lakukan di hari-hari terakhir ke Polandia.

Kesempatan perjalanan tersebut adalah Hari Orang Muda Sedunia, 25 tahun setelah perayaan bersejarah itu di Czestochowa, tak lama setelah jatuhnya "Tirai Besi". Lebih dari 25 tahun ini, Polandia telah berubah, Eropa telah berubah dan dunia telah berubah, dan Hari Orang Muda Sedunia ini menjadi sebuah tanda kenabian bagi Polandia, Eropa dan dunia. Generasi baru dari orang-orang muda - para pewaris dan para penerus peziarahan yang diprakarsai oleh Santo Yohanes Paulus II - memberikan jawaban atas tantangan hari ini. Mereka memberikan sebuah tanda harapan, dan tanda ini disebut persaudaraan, karena, pada kenyataannya, dalam dunia yang berperang ini, kita memerlukan persaudaraan, kedekatan, dialog dan persahabatan. Dan ini adalah sebuah tanda harapan : ketika ada persaudaraan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 13 April 2016 : TENTANG YESUS SEBAGAI "TABIB ILAHI"

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Kita mendengar Injil tentang panggilan Matius. Matius adalah seorang "pemungut cukai," yaitu seorang penagih pajak untuk Kekaisaran Romawi dan, oleh karena itu, dianggap sebagai seorang pendosa publik. Namun, Yesus memanggilnya untuk mengikuti Dia dan untuk menjadi murid-Nya. Matius menerima, dan mengundang Dia untuk makan di rumahnya bersama-sama dengan murid-murid. Kemudian muncul sebuah perdebatan di antara orang-orang Farisi dan murid-murid Yesus karena yang terakhir berbagi meja dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. "Tetapi Engkau tidak bisa pergi ke rumah orang-orang ini", kata mereka kepada Yesus, pada kenyataannya, bukannya menjauh dari mereka, malahan Ia sering mengunjungi rumah-rumah mereka dan duduk dengan mereka. Ini berarti bahwa mereka juga dapat menjadi murid-murid-Nya. Demikian juga, memang benar bahwa menjadi orang-orang Kristen tidaklah membuat kita nirdosa. Seperti Matius sang pemungut cukai, kita masing-masing mempercayakan diri kita kepada rahmat Tuhan kendati dosa-dosa kita. Kita semua orang-orang berdosa; kita semua telah berdosa. Dengan memanggil Matius, Yesus menunjukkan kepada orang-orang berdosa bahwa Ia tidak memandang masa lalu mereka, pada kondisi sosial mereka, pada kebiasaan batin, melainkan membuka sebuah masa depan baru bagi mereka. Saya pernah mendengar sebuah pepatah yang baik : "Tidak ada orang kudus tanpa masa lalu dan tidak ada orang berdosa tanpa masa depan". Inilah apa yang Yesus lakukan. Tidak ada orang kudus tanpa berdosa, seorang gembala tanpa masa depan. Cukuplah menanggapi undangan tersebut dengan kerendahan dan ketulusan hati. Gereja bukanlah jemaat orang-orang yang sempurna, tetapi jemaat murid-murid dalam perjalanan, yang mengikuti Tuhan, karena mereka mengakui diri mereka orang-orang dosa dan membutuhkan pengampunan-Nya. Oleh karena itu, kehidupan Kristen adalah sekolah kerendahan hati yang terbuka terhadap rahmat.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 30 Desember 2015 : TENTANG KELAHIRAN YESUS

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam hari-hari Natal ini, kita ditempatkan di depan Kanak-kanak Yesus. Saya yakin bahwa di rumah-rumah kita masih banyak keluarga telah membuat palungan mereka, meneruskan tradisi yang baik ini yang berasal dari Santo Fransiskus dari Asisi dan yang membuat tetap hidup, di dalam hati kita, misteri Allah yang menjadi manusia.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 16 Desember 2015 : TENTANG YUBILEUM LUAR BIASA KERAHIMAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Hari Minggu lalu, Pintu Suci dibuka di Basilika Santo Yohanes Lateran, Katedral Keuskupan Roma, dan sebuah Pintu Kerahiman dibuka di Katedral setiap keuskupan sedunia, serta di tempat-tempat suci dan gereja-gereja yang ditunjuk oleh para uskup. Yubileum ada di seluruh dunia, tidak hanya di Roma. Saya menginginkan tanda Pintu Suci ini hadir di setiap Gereja partikular, sehingga Yubileum Kerahiman bisa menjadi sebuah pengalaman yang dibagikan oleh setiap orang. Jadi Tahun Suci dapat berlangsung di seluruh Gereja dan dirayakan di setiap keuskupan seperti di Roma. Selain itu, Pintu Suci yang pertama dibuka pada kenyataannya di jantung Afrika. Dan Roma, lihatlah, adalah tanda kelihatan persekutuan semesta. Semoga persekutuan gerejawi ini menjadi lebih intens, sehingga Gereja adalah sebuah tanda yang hidup dari kasih dan kerahiman Bapa di dunia.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 9 Desember 2015 : KERAHIMAN DAPAT MEMBANTU MEMBANGUN SEBUAH DUNIA YANG LEBIH MANUSIAWI

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi.

Kemarin, saya membuka sini, di Basilika Santo Petrus, Pintu Suci Yubileum Kerahiman, setelah membukanya di Katedral Bangui di Republik Afrika Tengah. Hari ini, saya ingin merenungkan bersama kalian makna Tahun Suci ini, menanggapi pertanyaan : Mengapa Yubileum Kerahiman? Apa artinya ini?

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 2 Desember 2015 : TENTANG KUNJUNGANNYA KE AFRIKA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam hari-hari terakhir, saya melakukan kunjungan apostolik saya yang pertama ke Afrika. Afrika indah! Saya berterima kasih kepada Tuhan atas karunia besar dari-Nya, yang memungkinkan saya mengunjungi tiga negara : pertama Kenya, kemudian Uganda dan akhirnya Republik Afrika Tengah. Saya mengungkapkan lagi terima kasih saya kepada para otoritas sipil dan kepada para uskup negara-negara ini karena telah menerima saya, dan saya berterima kasih kepada semua orang yang bekerja sama dalam banyak hal. Saya menyampaikan terima kasih saya yang tulus!

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 18 November 2015 : TENTANG PINTU KERAHIMAN

Saudara dan saudari, selamat pagi!

Dengan permenungan ini kita telah tiba di ambang Yubileum, ia dekat. Di hadapan kita adalah pintu, tetapi bukan hanya Pintu Suci, pintu lain - pintu besar Kerahiman Allah, dan ia adalah sebuah pintu yang indah! - yang menerima pertobatan kita, menawarkan rahmat pengampunan-Nya. Pintu tersebut dengan murah hati terbuka; sedikit keberanian dibutuhkan dari pihak kita untuk melintasi ambang. Kita masing-masing memiliki di dalam diri kita hal-hal yang membebani kita. Kita semua. Kita semua orang-orang berdosa! Marilah kita memanfaatkan momen ini yang sedang datang dan melintasi ambang kerahiman Allah ini, yang tidak pernah lelah mengampuni, tidak pernah lelah menanti kita! Ia memandang kita, Ia selalu berada di samping kita. Beranilah! Marilah kita masuk melalui pintu ini!

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 11 November 2015 : TENTANG HIDUP DAN BERSAMA-SAMA SEBAGAI SEBUAH KELUARGA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Selama hari-hari ini Gereja Italia sedang mengadakan Kongres Nasional-nya di Fiorentina - para kardinal, para uskup, para pelaku hidup bakti, dan kaum awam semuanya bersama-sama. Saya mengundang kalian untuk berdoa satu kali Salam Maria kepada Bunda Maria bagi mereka.

[Salam Maria.....]

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 4 November 2015 : TENTANG MEMBERI DAN MENERIMA PENGAMPUNAN DALAM KELUARGA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Sidang Sinode Para Uskup, yang berakhir beberapa saat lalu, mencerminkan secara mendalam panggilan dan perutusan keluarga dalam kehidupan Gereja dan kehidupan masyarakat masa kini. Itu adalah peristiwa rahmat. Pada akhirnya para Bapa Sinode memberi saya teks kesimpulan-kesimpulan mereka. Saya ingin teks ini diterbitkan sehingga semua orang akan menjadi para peserta dalam karya yang telah melihat kita berkomitmen bersama-sama selama dua tahun. Ini bukan saat untuk membahas kesimpulan-kesimpulan tersebut, yang padanya saya sendiri harus renungkan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 28 Oktober 2015 : TENTANG 50 TAHUN SEJAK NOSTRA AETATE

Rabu, 28 Oktober 2015 pukul 10.00 waktu Roma, Audiensi Umum "Antaragama" berlangsung di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, yang bertepatan dengan ulang tahun ke-50 berlakunya deklarasi konsilis "Nostra Aetate". Pada awal audiensi, Paus Fransiskus menyambut orang-orang sakit dan para lansia yang berkumpul di Aula Paulus VI karena cuaca buruk.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 21 Oktober 2015 : KESETIAAN PADA JANJI MERUPAKAN SEBUAH MAHAKARYA UMAT MANUSIA

Saudara dan saudari, selamat pagi!

Dalam permenungan terakhir kita merenungkan janji-janji penting yang dibuat para orang tua kepada anak-anak mereka, ketika mereka dipikirkan dalam kasih dan dikandung dalam rahim.

Kita dapat menambahkan bahwa, memandangnya dengan baik, kenyataan seluruh keluarga didirikan pada sebuah janji : pikirkanlah tentang hal ini dengan baik : jatidiri keluarga didirikan pada sebuah janji. Dapat dikatakan bahwa keluarga hidup dari janji kasih dan kesetiaan yang dibuat pria dan wanita satu sama lain. Ini berarti komitmen menerima dan mendidik anak-anak, tetapi juga dilakukan dalam merawat lansia, para orangtua, dalam melindungi dan membantu para anggota keluarga yang terlemah, dalam saling membantu untuk memenuhi sifat-sifatnya dan menerima keterbatasan-keterbatasannya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 14 Oktober 2015 : TENTANG BERJANJI KEPADA ANAK-ANAK

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Ketika prakiraan cuaca yang agak tidak menentu dan hujan diperkirakan, Audiensi hari ini dibuat serentak di dua tempat : kita, di sini, di Lapangan (Santo Petrus) dan 700 orang sakit di Aula Paulus VI, yang sedang mengikuti Audiensi di layar raksasa. Kita semua bersatu dan kita menyambut mereka dengan tepuk tangan.

Kata Yesus hari ini kuat : "Celakalah dunia oleh karena skandal". Yesus realistis dan Ia mengatakan : "Tidak dapat dipungkiri bahwa skandal datang, tetapi celakalah orang yang menyebabkan skandal itu". Sebelum memulai katekese, atas nama Gereja saya ingin meminta maaf kepada kalian atas skandal-skandal yang telah terjadi di masa-masa belakangan ini, entah di Roma ataupun di Vatikan, yang karenanya saya meminta maaf.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 7 Oktober 2015 : TENTANG HUBUNGAN ANTARA GEREJA DAN KELUARGA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Beberapa hari yang lalu Sinode Para Uskup dimulai dengan tema "Panggilan dan perutusan keluarga dalam Gereja dan dalam dunia masa kini". Keluarga yang mengikuti jalan Tuhan secara dasariah adalah memberikan kesaksian kasih Allah dan jasa-jasanya, oleh karena itu, seluruh dedikasi yang mana Gereja mampu. Sinode diadakan untuk menafsirkan untuk hari ini perhatian dan kepedulian Gereja ini. Kita menyertai perjalanan Sinode terutama dengan doa kita dan perhatian kita. Dan dalam periode ini, katekese akan menjadi permenungan-permenungan yang diilhami oleh beberapa aspek hubungan - yang pasti bisa kita katakan tak terpisahkan! - antara Gereja dan keluarga, dengan cakrawala terbuka untuk kebaikan seluruh komunitas umat manusia.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 30 September 2015 : TENTANG PERJALANAN APOSTOLIK KE KUBA DAN AMERIKA SERIKAT

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Audiensi hari ini akan berada di dua tempat : di sini di Lapangan (Santo Petrus) dan juga di Aula Paulus VI, tempat banyak orang sakit berada, yang sedang mengikuti Audiensi di layar besar. Ketika cuaca sangat tidak baik, kami memutuskan mereka harus berada di ruang tertutup dan lebih tentram. Marilah kita saling bergabung dan saling menyapa.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 16 September 2015 : TENTANG KEPENTINGAN SEJAGAT KELUARGA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Ini adalah permenungan terakhir kita tentang masalah perkawinan dan keluarga. Kita berada pada malam yang indah dan memerlukan peristiwa-peristiwa, yang secara langsung berhubungan dengan tema besar ini : Pertemuan Keluarga Sedunia di Philadelphia dan Sinode Para Uskup di sini di Roma. Keduanya memiliki keluasan di seluruh dunia, yang berhubungan dengan dimensi sejagat Kekristenan, tetapi juga dengan kepentingan sejagat komunitas manusia yang mendasar dan tak tergantikan ini, pada kenyataannya, adalah keluarga.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 9 September 2015 : TENTANG KELUARGA DAN KOMUNITAS KRISTIANI

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini saya ingin memusatkan perhatian kita pada ikatan di antara keluarga dan komunitas Kristiani. Ia, dapat dikatakan, adalah sebuah ikatan "alami", karena Gereja adalah sebuah keluarga rohani dan keluarga adalah Gereja kecil (bdk. Lumen Gentium, 9). Komunitas Kristiani adalah rumah dari orang-orang yang percaya kepada Yesus sebagai sumber persaudaraan di antara semua orang. Gereja berjalan di tengah bangsa-bangsa, dalam sejarah pria dan wanita, sejarah para ayah dan ibu, sejarah para putra dan putri : ini adalah sejarah yang penting bagi Tuhan. Peristiwa-peristiwa besar kekuatan-kekuatan duniawi tertulis dalam buku-buku sejarah, dan mereka tetap di sana. Namun, sejarah kasih sayang umat manusia tertulis langsung di dalam hati Allah; dan ia adalah sejarah yang masih dalam kekekalan. Ini adalah tempat kehidupan dan iman. Keluarga adalah tempat inisiasi kita - tak tergantikan, tak terhapuskan - terhadap sejarah ini, terhadap sejarah kehidupan kekal ini yang akan berakhir dengan permenungan akan Allah untuk selama-lamanya di Surga. Tetapi ia dimulai dalam keluarga! Oleh karena itu, keluarga sangat penting. Putra Allah mempelajari sejarah manusia dengan cara ini, dan Ia menghayatinya hingga kesudahan (bdk. Ibr 2:18;5:8).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 2 September 2015 : TENTANG KELUARGA-KELUARGA YANG BERBAGI IMAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam tahap akhir perjalanan katekese kita tentang keluarga ini, kita melihat cara keluarga menjalani tanggung jawab untuk mengkomunikasi iman, untuk meneruskan iman, baik itu di dalam maupun di luar dirinya.

Awalnya, beberapa ungkapan injili dapat datang ke pikiran yang tampaknya mempertentangkan ikatan keluarga dan mengikuti Yesus. Misalnya, kata-kata kuat ini yang kita semua tahu dan dengar: "Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku" (Mat 10:37-38).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 26 Agustus 2015) : TENTANG BERDOA SEBAGAI SEBUAH KELUARGA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Setelah merenungkan tentang bagaimana keluarga menghayati waktu perayaan dan waktu kerja, kita sekarang memikirkan waktu doa. Keluh kesah orang-orang Kristiani yang paling sering harus dilakukan, pada kenyataannya, dengan waktu : "Saya harus lebih banyak berdoa ... saya menginginkannya, tetapi saya sering tidak punya waktu". Kita mendengar ini terus menerus. Penyesalan ini tentu saja tulus, karena hati manusia selalu berusaha berdoa, bahkan tanpa menyadarinya, dan jika tidak menemukannya, ia tidak memiliki kedamaian. Namun, untuk menemukannya, perlu menanamkan dalam hati sebuah cinta yang "hangat" bagi Allah, sebuah cinta yang penuh kasih sayang.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 19 Agustus 2015 : TENTANG MAKNA KERJA DALAM KEHIDUPAN KELUARGA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Setelah merenungkan nilai perayaan dalam kehidupan keluarga, hari ini kita berhenti pada unsur pelengkap, yaitu unsur kerja. Baik perayaan maupun kerja merupakan bagian dari rencana kreatif Allah.

Kerja, biasa dikatakan, diperlukan untuk menyokong keluarga, bagi anak-anak untuk bertumbuh, untuk memastikan kehidupan yang bermartabat bagi orang-orangnya yang terkasih. Hal terbaik yang dapat dikatakan tentang orang yang serius dan jujur adalah: "Ia adalah seorang pekerja", pada kenyataannya, ia benar-benar orang yang bekerja, ia adalah orang yang tidak hidup dari punggung orang lain. Ada begitu banyak orang Argentina hari ini, saya telah melihat, dan saya akan mengatakan seperti yang kita katakan : <"Jangan berbuat berdasarkan hal ini">.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 12 Agustus 2015 : TENTANG PERAYAAN DALAM KEHIDUPAN KELUARGA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini kita mengawali sebuah kursus singkat permenungan tentang tiga dimensi yang mendenyutkan waktu, boleh dikatakan, dari irama kehidupan keluarga : perayaan, karya dan doa.

Kita awali dengan perayaan. Hari ini kita akan berbicara tentang perayaan. Dan kita mengatakan dengan segera bahwa sebuah perayaan adalah sebuah rekaan Allah. Kita mengingat kesimpulan dari Kisah Penciptaan dalam Kitab Kejadian, yang kita dengar: "Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu" (2:2-3). Allah sendiri mengajarkan kita pentingnya mendedikasikan suatu waktu untuk merenungkan dan menikmati apa yang dilakukan dengan baik dalam karya itu. Saya berbicara tentang karya, tentu saja, bukan hanya dalam arti sebuah pekerjaan atau profesi, tetapi dalam arti yang lebih luas: setiap tindakan yang dengannya kita laki-laki dan perempuan dapat bekerjasama dalam karya kreatif Allah.