Saudara-saudari
terkasih, selamat hari Minggu!
Bacaan
Injil hari ini (bdk. Yoh 1:29-34) berbicara kepada kita tentang Yohanes
Pembaptis, yang mengenali Yesus sebagai Anak Domba Allah, Mesias, dan
menyatakan: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” (ayat 29).
Ia menambahkan: “Aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan
kepada Israel” (ayat 31).
Yohanes
mengakui Yesus sebagai Juruselamat; ia memberitakan keilahian dan perutusan
Yesus kepada bangsa Israel, lalu menyingkir setelah menyelesaikan tugasnya,
yang dibuktikan dengan perkataan: “Sesudah aku akan datang seorang yang telah
mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku” (ayat 30).
Yohanes
Pembaptis adalah seorang yang sangat dicintai oleh orang banyak, sampai-sampai
ia ditakuti oleh penguasa di Yerusalem (bdk. Yoh 1:19). Akan mudah baginya
untuk memanfaatkan ketenaran ini; namun, ia tidak menyerah pada godaan
kesuksesan dan popularitas. Di hadapan Yesus, ia menyadari kekecilannya dan
memberi ruang bagi kebesaran Yesus. Yohanes tahu bahwa ia diutus untuk
mempersiapkan jalan bagi Tuhan (bdk. Mik 1:3; Yes 40:3), dan ketika Tuhan
datang, dengan sukacita dan rendah hati ia mengakui kehadiran Allah dan
menyingkir dari sorotan.
Alangkah
pentingnya kesaksiannya bagi kita hari ini! Memang, persetujuan, konsensus, dan
daya terawang seringkali diberi kepentingan yang berlebihan, sampai-sampai
membentuk gagasan, perilaku, dan bahkan kehidupan batin orang-orang. Hal ini menyebabkan
penderitaan dan perpecahan, serta menimbulkan gaya hidup dan hubungan yang
rapuh, mengecewakan, dan membelenggu. Sebenarnya, kita tidak membutuhkan
"pengganti kebahagiaan" ini. Sukacita dan kebesaran kita tidak
didasarkan pada khayalan kesuksesan atau ketenaran yang bersifat sementara,
tetapi pada kesadaran bahwa kita dikasihi dan dikehendaki oleh Bapa Surgawi
kita.
Kasih
yang dibicarakan Yesus adalah kasih Allah yang bahkan hari ini datang di antara
kita, bukan untuk memukau kita dengan pertunjukan yang spektakuler, tetapi
untuk turut serta dalam pergumulan kita dan memikul beban kita. Dengan berbuat
demikian, Ia mengungkapkan kepada kita kebenaran tentang siapa kita dan betapa
berharganya kita di mata-Nya.
Saudara-saudara
terkasih, janganlah kita membiarkan diri kita teralihkan dari kehadiran Tuhan
di tengah-tengah kita. Janganlah kita menyia-nyiakan waktu dan energi kita
mengejar penampilan. Sebaliknya, marilah kita belajar dari Yohanes Pembaptis
untuk tetap waspada, mencintai kesederhanaan, tulus dalam perkataan kita, hidup
dengan bijaksana, dan mengembangkan kedalaman pikiran dan hati. Marilah kita
puas dengan apa yang penting dan meluangkan waktu setiap hari, jika
memungkinkan, untuk momen khusus berhenti sejenak dalam keheningan untuk berdoa,
melakukan refleksi, dan mendengarkan – dengan kata lain, “menyendiri di padang
gurun”, untuk bertemu Tuhan dan tinggal bersama-Nya.
Semoga
Bunda Maria, teladan kesederhanaan, kebijaksanaan, dan kerendahan hati,
membantu kita dalam tekad ini.
[Setelah pendarasan
doa Malaikat Tuhan]
Saudara-saudari
terkasih,
Hari
ini menandai dimulainya Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristen. Asal usul
prakarsa ini bermula dua abad yang lalu, dan Paus Leo XIII sangat mendorongnya.
Tepat seratus tahun yang lalu, “Saran untuk Pekan Doa untuk Persatuan Umat
Kristen” diterbitkan untuk pertama kalinya. Tema tahun ini diambil dari Surat
Santo Paulus kepada Jemaat di Efesus: “Satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana
kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu”
(4:4). Doa dan renungan ini dipersiapkan oleh kelompok ekumenis yang
dikoordinasikan oleh Departemen Hubungan Antar Gereja Apostolik Armenia. Selama
hari-hari ini, saya mengajak segenap komunitas Katolik untuk memperdalam doa
mereka untuk persatuan penuh dan nyata dari segenap umat Kristen.
Tanggung
jawab kita untuk persatuan harus disertai dengan komitmen teguh terhadap
perdamaian dan keadilan di dunia. Hari ini, saya ingin secara khusus
mengingatkan penderitaan besar rakyat di bagian timur Republik Demokratik
Kongo. Banyak yang terpaksa meninggalkan negara mereka – terutama ke Burundi –
karena kekerasan, dan mereka menghadapi krisis kemanusiaan yang serius. Marilah
kita berdoa agar dialog untuk rekonsiliasi dan perdamaian selalu terwujud di
antara pihak-pihak yang berkonflik.
Saya
juga ingin memastikan doa saya bagi para korban banjir baru-baru ini di Afrika bagian selatan.
Saya
menyapa dengan hangat kamu semua, umat Roma dan para peziarah!
Dengan
senang hati saya menyapa rombongan dari Sekolah Piggot, Wargrave, Inggris,
serta rombongan Fratres dari komunitas Paroki Compitese. Saya juga menyapa umat
dari berbagai negara, keluarga, dan lembaga. Terima kasih atas kehadiran dan
doa-doamu!
Saya
mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua.
______
(Peter Suriadi - Bogor, 18 Januari 2026)



