Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 4 Januari 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Pada Hari Minggu II setelah Natal Tuhan ini, pertama-tama saya ingin menyampaikan salam hangat saya kepada kamu semua. Lusa, bersamaan penutupan Pintu Suci Basilika Santo Petrus, kita akan mengakhiri Yubileum Pengharapan. Misteri Natal itu sendiri, yang masih kita hayati, mengingatkan kita bahwa dasar pengharapan kita adalah Inkarnasi Allah. Prolog Injil Yohanes, yang diletakkan Liturgi di hadapan kita hari ini, mengingatkan kita dengan jelas: “Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita” (Yoh 1:14). Sesungguhnya, pengharapan kristiani tidak didasarkan pada ramalan optimis atau perhitungan manusiawi, tetapi pada keputusan Allah untuk ambil bagian dalam perjalanan kita, sehingga kita tidak pernah sendirian dalam menjalani hidup. Inilah karya Allah: dalam Yesus, Ia menjadi salah seorang dari kita, memilih untuk tinggal bersama kita, dan berkehendak untuk selamanya menjadi Allah yang menyertai kita.

 

Kedatangan Yesus dalam kelemahan daging manusiawi membangkitkan kembali pengharapan kita. Pada saat yang sama, kita diberi kepercayaan dengan komitmen ganda: komitmen kepada Allah dan komitmen kepada sesama manusia.

 

Kita berkomitmen kepada Allah, karena sejak Ia menjadi manusia, memilih kelemahan manusiawi kita sebagai tempat kediaman-Nya, kita dipanggil untuk mempertimbangkan kembali bagaimana kita memikirkan Dia, dimulai dari tubuh Yesus, dan bukan dari ajaran yang abstrak. Oleh karena itu, kita harus terus-menerus memeriksa spiritualitas kita dan cara-cara kita mengungkapkan iman kita, untuk memastikan bahwa semuanya benar-benar terwujud dalam diri kita. Dengan kata lain, kita harus mampu merenungkan, mewartakan, dan berdoa kepada Allah yang menjumpai kita dalam diri Yesus. Ia bukanlah ilah yang jauh di surga yang sempurna di atas kita, tetapi Allah yang dekat dan mendiami bumi kita yang rapuh ini, yang hadir dalam wajah saudara-saudari kita, dan menyatakan diri-Nya dalam keadaan kehidupan sehari-hari.

 

Komitmen kita kepada semua orang juga harus konsisten. Karena Allah telah menjadi salah seorang dari kita, setiap manusia ciptaan-Nya adalah cerminan-Nya, menyandang citra-Nya dan mengandung percikan cahaya-Nya. Ini semua mengajak kita untuk mengakui martabat yang tak ternodai dari setiap orang dan mempersembahkan diri kita dalam kasih timbal balik satu sama lain. Lebih jauh lagi, Inkarnasi menuntut komitmen nyata untuk mempromosikan persaudaraan dan persekutuan. Melalui komitmen ini, solidaritas menjadi kriteria semua hubungan manusia, mengajak kita untuk berjuang demi keadilan dan perdamaian, peduli terhadap yang paling rapuh, dan membela yang lemah. Allah telah menjadi manusia; oleh karena itu, tidak ada penyembahan Allah yang sejati tanpa kepedulian terhadap umat manusia.

 

Saudara-saudari, semoga sukacita Natal mendorong kita untuk melanjutkan perjalanan kita. Marilah kita memohon kepada Bunda Maria agar membuat kita semakin siap untuk melayani Allah dan sesama kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya ingin sekali lagi menyampaikan rasa simpati saya kepada mereka yang menderita akibat tragedi di Crans-Montana, Swiss, dan memastikan doa saya untuk kaum muda yang meninggal, para korban yang terluka, dan keluarga mereka.

 

Dengan keprihatinan yang mendalam saya mengikuti perkembangan di Venezuela. Kebaikan rakyat Venezuela yang terkasih harus diutamakan di atas pertimbangan lainnya. Hal ini harus mengarah pada penanggulangan kekerasan, dan pada pengupayaan jalan keadilan dan perdamaian, menjamin kedaulatan negara, memastikan supremasi hukum yang diabadikan dalam undang-undangnya, menghormati hak asasi manusia dan hak sipil setiap orang, dan bekerjasama untuk membangun masa depan kerjasama, stabilitas, dan kerukunan yang penuh kedamaian, dengan perhatian khusus kepada kaum miskin yang sedang menderita karena situasi ekonomi yang sulit. Saya berdoa untuk semua ini, dan saya mengajakmu untuk berdoa juga, mempercayakan doa kita kepada perantaraan Bunda Maria dari Coromoto, dan kepada Santo José Gregorio Hernández dan Santa Carmen Rendiles.

 

Saya menyapa kamu semua dengan penuh kasih sayang, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara, terutama dari Slovakia dan Zagreb, para pelayan altar dari Katedral Gozo, Malta, dan komunitas Seminari Keuskupan Fréjus-Toulon, Prancis.

 

Saya menyapa rombongan dari Oratorium Pugliano Ercolano, keluarga dan pekerja pastoral dari Postojna dan Porcellengo, umat Sant’Antonio Abate, Torano Nuovo, dan Collepasso; serta para pengajar dari Institut Rocco-Cinquegrana Sant’Arpino, pramuka dari Provinsi Modena dan Roccella Jonica, dan para calon penerima sakramen krisma dari Ula Tirso, Neoneli dan Trescore Balneario.

 

Sahabat-sahabatku yang terkasih, marilah kita terus beriman kepada Allah yang Maha Damai: marilah kita berdoa, dan menunjukkan solidaritas kepada bangsa-bangsa yang menderita akibat perang. Selamat hari Minggu untuk kamu semua!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 4 Januari 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 Januari 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat Tahun Baru!

 

Meskipun irama bulan-bulan yang sedang berlalu terulang dengan sendirinya, Tuhan mengajak kita untuk memperbarui masa-masa kita dengan akhirnya mengantarkan zaman perdamaian dan persahabatan di antara semua bangsa. Tanpa keinginan untuk kebaikan ini, tidak ada gunanya membalik halaman kalender dan mengisi buku harian kita.

 

Yubileum, yang akan segera berakhir, telah mengajarkan kita bagaimana menumbuhkan pengharapan untuk sebuah dunia baru. Kita melakukan hal ini dengan mengubah hati kita kepada Allah, sehingga mengubah rupa kesalahan menjadi pengampunan, penderitaan menjadi penghiburan, dan tekad kebajikan menjadi karya yang baik. Dengan cara ini, Allah sendiri berdiam dalam sejarah dan menyelamatkannya dari kelupaan, memberikan kepada dunia Penebus kita, Yesus Kristus. Dialah Putra tunggal yang menjadi saudara kita, menerangi hati nurani orang-orang yang berkehendak baik, sehingga kita dapat membangun masa depan sebagai rumah yang ramah bagi setiap orang yang datang ke dunia.

 

Berkaitan dengan hal ini, perayaan Natal hari ini mengarahkan pandangan kita kepada Maria, yang pertama kali mengalami denyut hati Kristus. Dalam keheningan rahimnya yang perawan, Sabda kehidupan hadir sebagai denyut hati rahmat.

 

Allah, Sang Pencipta yang baik, senantiasa mengetahui hati Maria dan hati kita. Dengan menjadi manusia, Ia menyatakan hati-Nya kepada kita. Oleh karena itu, hati Yesus berdenyut untuk setiap orang; untuk orang-orang yang siap menerima-Nya, seperti para gembala, dan orang-orang yang tidak menginginkan-Nya, seperti Herodes. Hati-Nya acuh terhadap orang-orang yang tidak memiliki hati untuk sesama: hati-Nya berdenyut untuk orang-orang benar, agar mereka dapat bertekun dalam pengabdian, serta orang-orang yang tidak benar, agar mereka dapat mengubah hidup mereka dan menemukan kedamaian.

 

Juruselamat datang ke dunia dengan dilahirkan dari seorang perempuan. Marilah kita berhenti sejenak untuk menyembah peristiwa ini, yang bersinar dalam diri Santa Maria dan tercermin dalam setiap anak yang belum lahir, mengungkapkan citra ilahi yang membekas dalam kemanusiaan kita.

 

Pada Hari Perdamaian Sedunia ini, marilah kita semua berdoa bersama untuk perdamaian: pertama, di antara bangsa-bangsa yang berlumuran darah akibat konflik dan penderitaan, tetapi juga di dalam rumah kita, di dalam keluarga yang terluka oleh kekerasan atau penderitaan. Dengan keyakinan bahwa Kristus, pengharapan kita, adalah matahari keadilan yang tak pernah terbenam, marilah kita dengan penuh keyakinan memohon perantaraan Maria, Bunda Allah dan Bunda Gereja.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Dengan hangat saya menyapa kamu semua yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus pada hari pertama tahun ini, dan saya menyampaikan harapan yang baik untuk perdamaian. Dengan rasa syukur yang mendalam, saya menyapa balik Presiden Republik Italia, Sergio Mattarella.

 

Sejak 1 Januari 1968, atas permintaan Paus Santo Paulus VI, hari ini dirayakan Hari Perdamaian Sedunia. Dalam Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia 2026, saya ingin mengulangi harapan yang diajukan Tuhan kepada saya ketika memanggil saya untuk pelayanan ini: “Damai sejahtera bagi kamu semua!” Damai sejahtera yang tanpa senjata dan melucuti senjata, yang datang dari Allah, sebuah anugerah kasih-Nya yang tanpa syarat, dan dipercayakan kepada tanggung jawab kita.

 

Saudara-saudari terkasih, dengan rahmat Kristus, hari ini marilah kita mulai untuk membangun tahun perdamaian, melucuti senjata hati kita dan menjauhkan diri dari segala kekerasan.

 

Saya menyampaikan penghargaan atas berbagai prakarsa yang dipromosikan pada kesempatan ini di seluruh dunia. Secara khusus, saya mengingat pawai nasional yang berlangsung kemarin malam di Catania, dan saya menyapa para peserta pawai hari ini yang diselenggarakan oleh komunitas Sant’Egidio.

 

Saya juga menyapa kelompok siswa dan guru dari Richland, New Jersey, dan seluruh umat Roma dan peziarah yang hadir.

 

Pada awal tahun ini, yang merupakan peringatan delapan abad wafatnya Santo Fransiskus, saya ingin menyampaikan berkat ini kepada setiap orang, yang diambil dari Kitab Suci: “Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.”

 

Semoga Santa Bunda Maria menuntun kita dalam perjalanan kita di tahun yang baru. Salam hangat untuk semuanya!

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Januari 2026)

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM IBADAT VERPERS PERTAMA DAN TE DEUM HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA BUNDA ALLAH 31 Desember 2025

Saudara-saudari terkasih!

 

Liturgi Vespers Pertama Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah sangat kaya, baik karena misteri yang menakjubkan yang dirayakannya maupun karena posisinya di penghujung tahun kalender. Antifon dari Kitab Mazmur dan Magnificat menekankan peristiwa paradoks tentang Allah yang lahir dari seorang perawan, atau dengan kata lain, tentang keibuan ilahi Maria. Pada saat yang sama, perayaan ini, yang mengakhiri Oktaf Natal, mencakup peralihan dari satu tahun ke tahun berikutnya dan meluaskan berkat dari Dia "yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang" (Why 1:8). Terlebih lagi, hari ini kita merayakannya di penghujung Tahun Yubileum, di jantung kota Roma, di makam Santo Petrus, sehingga Te Deum yang akan segera bergema di Basilika ini ingin meluas untuk menyuarakan semua hati dan wajah yang telah melewati bawah kubah ini dan melalui jalan-jalan kota ini.

 

Dalam bacaan Kitab Suci, kita telah mendengar salah satu rangkuman menakjubkan dari Rasul Paulus: “Namun, setelah genap waktunya, Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat, untuk menebus orang-orang yang berada di bawah hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” (Gal 4:4-5). Cara pemaparan misteri Kristus ini membuat kita berpikir tentang sebuah rencana, sebuah rencana besar bagi sejarah umat manusia. Sebuah rencana yang misterius, tetapi dengan pusat yang jelas, seperti gunung tinggi yang diterangi matahari di tengah hutan lebat: pusat ini adalah “kegenapan waktu.”

 

Dan justru kata — ‘rencana’ — inilah yang bergema dalam kidung Surat kepada Jemaat Efesus: “Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi.” (Ef 1:9-10).

 

Saudara-saudari, di zaman kita ini kita merasakan kebutuhan akan rencana yang bijaksana, penuh kebajikan, dan belas kasih. Semoga rencana itu bebas dan membebaskan, penuh kedamaian, dan kesetiaan, sebagaimana diwartakan oleh Perawan Maria dalam kidung pujiannya: “Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia” (Luk 1:50).

 

Namun, rencana-rencana lain, baik hari ini maupun kemarin, menyelimuti dunia. Rencana-rencana itu lebih merupakan strategi yang bertujuan untuk menaklukkan pasar, wilayah, dan area pengaruh. Strategi bersenjata, yang diselubungi pidato-pidato munafik, proklamasi ideologis, dan motif keagamaan yang palsu.

 

Tetapi Santa Bunda Allah, yang terkecil dan tertinggi di antara ciptaan, melihat segala sesuatu dengan mata Allah: Ia melihat bahwa dengan perbuatan tangan-Nya, Yang Mahatinggi menghancurkan rencana orang yang congkak hatinya, menurunkan orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang yang rendah, melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa (bdk. Luk 1:51-53).

 

Bunda Yesus adalah perempuan yang dengannya Allah, dalam kegenapan waktu, menuliskan Sabda yang mengungkapkan misteri itu. Ia tidak memaksakannya: Ia terlebih dahulu menyampaikannya ke dalam hatinya dan, setelah menerima "ya" darinya, Ia menuliskannya dengan kasih yang tak terkatakan di dalam dagingnya. Demikianlah, pengharapan Allah terjalin dengan pengharapan Maria, keturunan Abraham menurut daging dan terutama menurut iman.

 

Allah senang berharap dengan hati orang-orang kecil, dan Ia melakukannya dengan melibatkan mereka dalam rencana keselamatan-Nya. Semakin indah rencana itu, semakin besar pengharapannya. Dan sesungguhnya, dunia terus berjalan seperti ini, didorong oleh pengharapan begitu banyak orang sederhana, yang tidak dikenal tetapi dikenal oleh Allah, yang meskipun demikian percaya pada hari esok yang lebih baik, karena mereka tahu bahwa masa depan berada di tangan Dia yang menawarkan pengharapan terbesar kepada mereka.

 

Salah satu dari orang-orang itu adalah Simon, seorang nelayan dari Galilea, yang oleh Yesus disebut Petrus. Allah Bapa menganugerahkan kepadanya iman yang tulus dan melimpah sehingga Tuhan dapat membangun komunitas-Nya di atasnya (bdk. Mat 16:18). Dan kita masih di sini hari ini berdoa di makamnya, tempat para peziarah dari seluruh dunia datang untuk memperbarui iman mereka kepada Yesus Kristus, Putra Allah. Hal ini terjadi secara khusus selama Tahun Suci yang akan segera berakhir.

 

Yubileum adalah tanda besar sebuah dunia baru, yang diperbarui dan diperdamaikan sesuai dengan rencana Allah. Dan dalam rencana ini, Penyelenggaraan Ilahi telah menyediakan tempat khusus bagi kota Roma ini. Bukan karena kemuliaannya, bukan karena kekuasaannya, tetapi karena Petrus dan Paulus dan begitu banyak martir lainnya menumpahkan darah mereka di sini demi Kristus. Itulah sebabnya Roma adalah kota Yubileum.

 

Apa yang dapat kita harapkan untuk Roma? Semoga kota ini dapat memenuhi pengharapan orang-orang kecilnya. Bagi anak-anak, para lansia yang kesepian dan lemah, keluarga-keluarga yang berjuang untuk bertahan hidup, pria dan wanita yang datang dari jauh dengan pengharapan akan kehidupan yang bermartabat.

 

Hari ini, sahabat-sahabatku, marilah kita bersyukur kepada Allah atas karunia Yubileum, yang telah menjadi tanda besar dari rencana pengharapan-Nya bagi umat manusia dan dunia. Dan marilah kita bersyukur kepada semua orang yang, dalam bulan-bulan dan hari-hari tahun 2025, bekerja untuk melayani para peziarah dan menjadikan Roma lebih ramah. Inilah pengharapan Paus Fransiskus kita yang terkasih setahun yang lalu. Saya ingin hal itu terjadi lagi, dan saya akan mengatakan bahkan lebih lagi setelah masa rahmat ini. Semoga kota ini, yang dijiwai oleh pengharapan kristiani, melayani rencana kasih Allah bagi keluarga umat manusia. Semoga Santa Bunda Maria, Salus Populi Romani, menjadi perantaraan kita untuk memperoleh hal ini.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Januari 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 31 Desember 2025

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Kita sedang berkumpul untuk momen refleksi ini pada hari terakhir tahun kalender, menjelang akhir Yubileum dan di tengah-tengah masa Natal.

 

Tahun lalu tentu saja ditandai dengan peristiwa-peristiwa penting: beberapa di antaranya menggembirakan, seperti peziarahan begitu banyak umat beriman pada kesempatan Tahun Suci; peristiwa-peristiwa lara, seperti wafatnya mendiang Paus Fransiskus, dan skenario peperangan yang terus mengguncang planet ini. Pada akhirnya, Gereja mengajak kita untuk menyerahkan segalanya kepada Tuhan, mempercayakan diri kita kepada penyelenggaraan-Nya, dan memohon kepada-Nya untuk memperbarui, di dalam diri kita dan di sekitar kita, di hari-hari mendatang, hal-hal menakjubkan dari rahmat dan belas kasih-Nya.

 

Dalam dinamika inilah tradisi nyanyian khidmat Te Deum, yang dengannya kita akan mengucap syukur kepada Tuhan malam ini atas berbagai berkat yang telah kita terima, menemukan tempatnya. Kita akan menyanyikan, “Allah Tuhan kami, Engkau kami muliakan.”, “Di dalam Engkau, Tuhan, kami berharap pada-Mu”, “Kasihanilah kami”. Berkaitan hal ini, Paus Fransiskus mengamati bahwa sementara “rasa syukur duniawi, pengharapan duniawi tampak jelas… namun mereka terfokus pada diri sendiri, pada kepentingannya… Sebaliknya, dalam Liturgi ini… kita menghirup suasana yang sama sekali berbeda: suasana pujian, kekaguman, dan syukur” (Homili Vespers Pertama Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah, 31 Desember 2023).

 

Dan dengan sikap inilah hari ini kita dipanggil untuk melakukan refleksi atas apa yang telah dilakukan Tuhan bagi kita selama setahun terakhir, serta memeriksa hati nurani kita dengan jujur, mengevaluasi tanggapan kita terhadap anugerah-Nya dan memohon pengampunan atas segenap waktu kita gagal menghargai inspirasi-Nya dan melipatgandakan talenta yang telah Ia percayakan kepada kita dengan sebaik-baiknya (bdk. Mat 25:14-30).

 

Hal ini membawa kita untuk merenungkan tanda besar lain yang telah menyertai kita dalam beberapa bulan terakhir: yaitu "perjalanan" dan "tujuan". Tahun ini, banyak sekali peziarah datang dari seluruh dunia untuk berdoa di makam Santo Petrus dan menegaskan ketaatan mereka kepada Kristus. Hal ini mengingatkan kita bahwa seluruh hidup kita adalah sebuah perjalanan, yang tujuan akhirnya melampaui ruang dan waktu, digenapi dalam perjumpaan dengan Allah dan dalam persekutuan penuh dan kekal dengan Dia (bdk. Katekismus Gereja Katolik, 1024). Kita juga akan memohon hal ini dalam doa Te Deum, ketika kita mengatakan, “Satukanlah kami dengan orang kudus dalam kemuliaan-Mu”. Bukan suatu kebetulan Santo Paulus VI mendefinisikan Yubileum sebagai tindakan iman yang agung dalam “antisipasi takdir masa depan ... yang sudah kita cicipi dan ... persiapkan” (Audiensi Umum, 17 Desember 1975).

 

Dan dalam terang eskatologis perjumpaan antara yang terbatas dan yang tak terbatas ini, tanda ketiga dapat dilihat: perjalanan melalui Pintu Suci, yang telah dilalui oleh begitu banyak dari kita, berdoa dan memohon pengampunan bagi diri kita sendiri dan orang-orang yang kita cintai. Ini mengungkapkan "ya" kita kepada Allah, yang dengan pengampunan-Nya mengundang kita untuk melintasi ambang kehidupan baru, yang dijiwai oleh rahmat, dimodelkan berdasarkan Injil, dikobarkan oleh "kasih kepada sesama, yang dalam definisinya ... setiap orang termasuk ... yang membutuhkan pengertian, pertolongan, penghiburan, pengorbanan, meskipun secara pribadi tidak kita kenal, meskipun mengganggu dan bermusuhan, tetapi dikaruniai martabat yang tak tertandingi sebagai seorang saudara" (Santo Paulus VI, Khotbah pada kesempatan penutupan Tahun Suci, 25 Desember 1975; bdk. Katekismus Gereja Katolik, 1826-1827). Ini adalah "ya" kita untuk kehidupan yang dijalani dengan komitmen di masa kini dan berorientasi pada kekekalan.

 

Sahabat-sahabat terkasih, marilah kita merenungkan tanda-tanda ini dalam terang Natal. Santo Leo Agung, berkaitan hal ini, melihat perayaan Kelahiran Yesus sebagai maklumat sukacita bagi semua orang: “Hendaklah orang kudus bersukacita,” beliau berseru, “karena ia sedang mendekati pahalanya; hendaklah orang berdosa bersukacita, karena ia ditawari pengampunan; hendaklah orang yang tidak percaya kepada Allah meneguhkan hati, karena ia dipanggil kepada kehidupan” (Ceramah Pertama tentang Kelahiran Tuhan, 1).

 

Hari ini undangan-Nya ditujukan kepada kita semua, yang kudus karena baptisan, karena Allah telah menjadi pendamping kita dalam perjalanan menuju kehidupan sejati; kepada kita orang berdosa, karena, setelah diampuni, dengan rahmat-Nya kita dapat bangkit dan memulai kembali; dan akhirnya, kepada kita, yang miskin dan rapuh, karena Tuhan, dengan menjadikan kelemahan kita sebagai kelemahan-Nya sendiri, telah menebusnya dan menunjukkan kepada kita keindahan dan kekuatan kemanusiaan-Nya yang sempurna (bdk. Yoh 1:14).

 

Oleh karena itu, saya ingin mengakhiri dengan mengingat kata-kata yang digunakan Santo Paulus VI, pada akhir Yubileum tahun 1975, untuk menggambarkan pesan fundamentalnya. Pesan tersebut, beliau mengatakan, terkandung dalam satu kata: "kasih". Dan beliau menambahkan, “Allah adalah Kasih! Inilah wahyu yang tak terkatakan yang dengannya Yubileum, melalui pengajaran, indulgensi, pengampunan, dan akhirnya kedamaiannya, yang penuh dengan air mata dan sukacita, telah berusaha untuk memenuhi jiwa kita hari ini dan hidup kita esok hari: Allah adalah Kasih! Allah mengasihiku! Allah menantikanku, dan aku telah menemukan Dia! Allah adalah belas kasih! Allah adalah pengampunan! Allah adalah keselamatan! Allah, ya, Allah adalah kehidupan!” (Audiensi Umum, 17 Desember 1975). Semoga pemikiran ini menyertai kita dalam peralihan dari tahun lama ke tahun baru, dan kemudian senantiasa, dalam hidup kita.

 

[Sapaan Khusus]

 

Pagi ini saya menyapa dengan hangat seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, terutama mereka yang datang dari Australia, Cina, Palestina, Filipina, dan Amerika Serikat. Saat kita mempersiapkan perayaan Hari Raya Santa Perawan Maria, Bunda Allah, besok, marilah kita mempercayakan tahun yang akan datang kepada perantaraan keibuannya. Kepada kamu semua dan keluargamu, saya menyampaikan doa dan harapan baik saya untuk masa Natal yang terberkati serta tahun baru yang penuh sukacita dan kedamaian. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dalam perikop Kitab Suci yang telah kita dengarkan, Santo Paulus mengingatkan kita bahwa Allah mampu melakukan jauh lebih banyak daripada yang dapat kita minta atau bayangkan. Malam ini, dengan percaya pada kuasa dan kasih ini, kita akan menyanyikan Te Deum sebagai ucapan syukur atas banyak anugerah yang telah kita terima dari Allah sepanjang tahun ini. Kita juga diundang untuk melakukan refleksi bagaimana kita, pada gilirannya, telah menanggapi anugerah tersebut, dan memohon belas kasih Allah, seperti banyak peziarah yang telah melewati Pintu Suci untuk mengupayakan pengampunan. Tahun Yubileum ini telah menjadi pengingat yang kuat bahwa hidup itu sendiri adalah sebuah perjalanan menuju perjumpaan dan persekutuan dengan Allah, yang telah menjadi sahabat kita dengan ambil bagian dalam kemanusiaan kita. Selama masa Natal ini, marilah kita membuka hati kita kepada kasih Allah yang menjadi kasat mata dalam Anak yang lahir di Betlehem, dan dengan demikian turut serta dalam sukacita keselamatan.
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 31 Desember 2025)