Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 22 Maret 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Pada Hari Minggu Prapaskah V ini, liturgi mewartakan Injil tentang kebangkitan Lazarus (bdk. Yoh 11:1-45).

 

Dalam perjalanan Paskah, ini adalah tanda yang berbicara tentang kemenangan Kristus atas kematian dan karunia hidup kekal, yang kita terima melalui Baptisan (bdk. Katekismus Gereja Katolik, 1265). Hari ini Yesus juga berkata kepada kita, seperti yang Ia katakan kepada Marta, saudara perempuan Lazarus: “Akulah kebangkitan dan hidup. Siapa yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh 11:25-26).

 

Liturgi dengan demikian mengajak kita, mengingat Pekan Suci semakin dekat, untuk menghidupkan kembali peristiwa-peristiwa Sengsara Tuhan — memasuki Yerusalem, Perjamuan Terakhir, pengadilan, penyaliban, penguburan — sehingga kita dapat memahami makna yang paling otentik dan membuka diri terhadap karunia rahmat yang terkandung di dalamnya.

 

Peristiwa-peristiwa ini digenapi dalam Kristus yang bangkit, yang telah menaklukkan kematian dan hidup di dalam diri kita berkat Baptisan, demi keselamatan kita dan kepenuhan hidup.

 

Rahmat-Nya menerangi dunia ini, yang tampaknya terus-menerus mencari hal-hal baru dan perubahan, bahkan dengan mengorbankan hal-hal penting — waktu, energi, nilai-nilai, kasih sayang — seolah-olah ketenaran, barang-barang materi, hiburan, dan hubungan yang fana dapat mengisi hati kita atau membuat kita abadi. Sebuah gejala kerinduan akan yang tak terbatas yang kita bawa di dalam diri kita masing-masing, sebuah kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh hal-hal yang sementara. Tidak ada yang terbatas yang dapat memuaskan dahaga batin kita, karena kita diciptakan untuk Allah, dan kita tidak menemukan kedamaian sampai kita beristirahat di dalam Dia (bdk. Pengakuan-pengakuan, I, 1.1).

 

Kisah kebangkitan Lazarus mengajak kita untuk mendengarkan kebutuhan mendalam ini dan, dengan kuasa Roh Kudus, membebaskan hati kita dari kebiasaan, pengondisian, dan cara berpikir yang, seperti batu besar, mengurung kita di dalam kubur keegoisan, materialisme, kekerasan, dan kedangkalan. Di tempat-tempat ini tidak ada kehidupan, melainkan hanya kebingungan, ketidakpuasan, dan kesepian.

 

Yesus juga berseru kepada kita: “Marilah keluar!” (Yoh 11:43), mendesak kita untuk keluar dari ruang-ruang sempit ini, diperbarui oleh rahmat-Nya, berjalan dalam terang kasih, sebagai manusia baru, yang mampu berharap dan mengasihi, tanpa perhitungan dan tanpa batas, sesuai dengan teladan amal kasih-Nya yang tak terbatas.

 

Semoga Bunda Maria membantu kita menjalani hari-hari suci ini dengan iman, kepercayaan, dan kesetiaannya, sehingga pengalaman mulia berjumpa Putranya yang bangkit dapat diperbarui dalam diri kita setiap hari.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Dengan sedih saya terus mengikuti situasi di Timur Tengah, yang seperti wilayah lain di dunia, dilanda perang dan kekerasan. Kita tidak bisa tinggal diam menghadapi penderitaan begitu banyak orang tak berdaya yang menjadi korban konflik ini. Apa yang menyakiti mereka juga menyakiti seluruh umat manusia. Kematian dan penderitaan yang disebabkan oleh perang ini adalah skandal bagi seluruh umat manusia dan seruan yang dipanjatkan kepada Allah! Dengan tegas saya kembali mengimbau untuk bertekun dalam doa, agar permusuhan dapat berhenti dan jalan menuju perdamaian akhirnya terbuka, berdasarkan dialog yang tulus dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia.

 

Hari ini Maraton Roma sedang berlangsung, diikuti banyak atlet dari seluruh dunia. Ini adalah tanda pengharapan! Semoga olahraga membuka jalan bagi perdamaian, penyertaan sosial, dan spiritualitas.

 

Dengan hangat saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara, terutama mereka yang datang dari Keuskupan Córdoba, Spanyol.

 

Dengan penuh sukacita saya menyapa umat Belluno dan Pordenone, Crotone dan Paroki Santa Maria delle Grazie Roma. Saya menyapa kaum muda Nave, Keuskupan Brescia, kelompok calon penerima Sakramen Krisma dari Keuskupan Florence dan perwakilan dari Associazione Direttori di Albergo.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 22 Maret 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 18 Maret 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 4. GEREJA, UMAT IMAMI DAN KENABIAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Hari ini saya ingin membahas kembali bab dua Konstitusi Konsili Vatikan II Lumen Gentium (LG), yang dikhususkan untuk Gereja sebagai umat Allah.

 

Umat ​​Mesianik (LG, 9), menerima dari Kristus partisipasi dalam jabatan imami, kenabian, dan rajani yang melaluinya misi penyelamatan-Nya dilaksanakan. Para Bapa Konsili mengajarkan bahwa Tuhan Yesus, melalui Perjanjian baru dan kekal, telah mendirikan kerajaan imami, menjadikan murid-murid-Nya sebagai ‘imamat yang rajani’ (1Ptr 2:9; bdk. 1Ptr 2:5; Why 1:6). Imamat umum umat beriman ini diberikan berkat sakramen baptis, yang memungkinkan kita untuk menyembah Allah dalam roh dan kebenaran, dan “mengakui di muka orang-orang iman yang telah mereka terima dari Allah melalui Gereja” (LG, 11). Lebih lanjut, berkat sakramen penguatan, semua orang yang dibaptis "terikat pada Gereja secara lebih sempurna, dan diperkaya dengan daya kekuatan Roh Kudus yang istimewa; dengan demikian mereka semakin diwajibkan untuk menyebarluaskan dan membela iman sebagai saksi Kristus yang sejati, dengan perkataan maupun perbuatan” (idem). Pengabdian ini merupakan akar dari misi bersama yang menyatukan pelayanan imamat umum kaum beriman dan imamat jabatan atau hirarkis.

 

Dalam hal ini, Paus Fransiskus mengamati bahwa, “Memandang Umat Allah berarti mengingat bahwa kita semua masuk ke dalam Gereja sebagai umat awam. Sakramen pertama, yang memetereikan jati diri kita selamanya, dan yang harus selalu kita banggakan, adalah Baptisan. Melalui Baptisan dan pengurapan Roh Kudus, (umat beriman) ‘disucikan menjadi kediaman rohani dan imamat suci’ (LG, 10), [sehingga] setiap orang membentuk Umat Allah yang kudus” (Surat kepada Presiden Komisi Kepausan untuk Amerika Latin, 29 Maret 2016).

 

Pelaksanaan imamat yang rajani berlangsung dalam banyak cara, semuanya bertujuan untuk pengudusan kita, pertama dan terutama melalui partisipasi dalam persembahan Ekaristi. Melalui doa, asketisme, dan amal kasih yang aktif, kita dengan demikian memberi kesaksian tentang kehidupan yang diperbarui oleh rahmat Allah (bdk. LG, 10). Sebagaimana dirangkum oleh Konsili, “Sifat suci persekutuan keimanan yang tersusun secara organis itu diwujudkan baik dengan menerima sakramen-sakramen maupun dengan mengamalkan keutamaan-keutamaan” (LG, 11).

 

Para Bapa Konsili kemudian mengajarkan bahwa Umat Allah yang kudus mengambil bagian juga dalam tugas kenabian Kristus (bdk. LG, 12). Dalam konteks ini, tema penting tentang makna iman dan konsensus umat beriman diperkenalkan. Komisi Doktrinal Konsili menetapkan bahwa sensus fidei ini “seperti suatu kemampuan seluruh Gereja, yang dengannya Gereja, dalam imannya, mengenali wahyu yang diturunkan, membedakan antara yang benar dan yang salah dalam hal iman, dan pada saat yang sama menembusnya lebih dalam dan menerapkannya lebih penuh dalam kehidupan” (bdk. Acta Synodalia, III/1, 199). Oleh karena itu, makna iman bukan milik orang percaya secara individu, tetapi sebagai anggota Umat Allah secara keseluruhan.

 

Lumen Gentium berfokus pada aspek terakhir ini, dan menempatkannya dalam kaitannya dengan Gereja yang tidak dapat sesat, yang inheren dengan ketidakdapatsesatan Paus Roma dan yang dilayaninya. “Keseluruhan kaum beriman, yang telah diurapi oleh Yang Kudus (bdk. 1Yoh 2:20 dan 27), tidak dapat sesat dalam beriman; dan sifat mereka yang istimewa itu mereka tampilkan melalui perasaan iman adikodrati segenap umat, bila dari Uskup hingga para awam beriman yang terkecil, mereka secara keseluruhan menyatakan kesepakatan mereka tentang perkara-perkara iman dan kesusilaan.” (LG, 12). Oleh karena itu, Gereja, sebagai persekutuan umat beriman – yang secara alami mencakup para gembala – tidak mungkin keliru dalam hal iman: organ yang melaluinya kebenaran ini dipelihara, yang didasarkan pada pengurapan Roh Kudus, adalah rasa iman adikodrati dari seluruh Umat Allah, yang diwujudkan dalam konsensus umat beriman. Dari kesatuan ini, yang dijaga oleh Magisterium Gereja, maka setiap orang yang dibaptis adalah agen aktif penginjilan, yang dipanggil untuk memberikan kesaksian yang konsisten bagi Kristus sesuai dengan karunia kenabian yang dianugerahkan Tuhan kepada seluruh Gereja-Nya.

 

Sesungguhnya, Roh Kudus, yang datang kepada kita dari Kristus yang telah bangkit, “Di kalangan umat dari segala lapisan Ia membagi-bagikan rahmat istimewa pula, yang menjadikan mereka cakap dan bersedia untuk menerima pelbagai karya atau tugas, yang berguna untuk membaharui Gereja serta meneruskan pembangunannya” (LG, 12). Demonstrasi khusus dari vitalitas karismatik ini ditawarkan oleh hidup bakti, yang terus menerus tumbuh dan berkembang melalui karya rahmat. Lembaga-lembaga gerejawi juga merupakan contoh yang cemerlang dari keberagaman dan kesuburan buah-buah rohani untuk pembangunan Umat Allah.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Nigeria, Tanzania, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Amerika Serikat. Dengan doa dan harapan baik agar Masa Prapaskah ini menjadi masa rahmat dan pembaruan rohani bagimu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai dalam Tuhan kita Yesus Kristus bagi kamu semua.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang Konsili Vatikan II, hari ini kita menelaah partisipasi umat beriman dalam tugas imami, kenabian, dan rajani Yesus Kristus, sebagaimana yang disajikan oleh Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium. Melalui sakramen baptis, kita masing-masing dipanggil untuk ambil bagian dalam imamat rajani Kristus (1Ptr 2:9) dan menyembah Dia dalam roh dan kebenaran, terutama melalui partisipasi kita dalam Ekaristi. Kita juga ambil bagian dalam tugas kenabian Yesus, karena kita dipanggil untuk memberi kesaksian tentang kebenaran iman. Sesungguhnya, para Bapa Konsili mengajarkan bahwa “keseluruhan kaum beriman ... tidak dapat sesat dalam beriman; dan sifat mereka yang istimewa itu mereka tampilkan melalui perasaan iman adikodrati segenap umat, bila dari Uskup hingga para awam beriman yang terkecil, mereka secara keseluruhan menyatakan kesepakatan mereka tentang perkara-perkara iman dan kesusilaan” (LG, 12). Bersama dengan karunia-karunia yang dimiliki oleh semua anggota Gereja, Roh Kudus terus memberikan rahmat khusus kepada umat beriman untuk memperkaya dan membangun tubuh Kristus. Penting bagi kita untuk menyadari berbagai karunia ini dan mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah karena telah memperkenankan kita untuk menjadi bagian dari karya keselamatan-Nya.
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 18 Maret 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 15 Maret 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil Hari Minggu Prapaskah IV menceritakan penyembuhan seorang yang buta sejak lahirnya (bdk. Yoh 9:1–41). Melalui simbolisme kisah ini, Penginjil Yohanes berbicara kepada kita tentang misteri keselamatan: ketika kita berada dalam kegelapan, ketika umat manusia berjalan dalam kekelaman (bdk. Yes 9:2), Allah mengutus Putra-Nya sebagai terang dunia, untuk mencelikkan mata orang buta dan menerangi hidup kita.

 

Para nabi telah mengumumkan bahwa Mesias akan mencelikkan mata orang buta (bdk. Yes 29:18; 35:5; Mzm 146:8). Yesus sendiri menegaskan keaslian misi-Nya dengan menunjukkan bahwa “orang buta melihat” (Mat 11:5), dan Ia memperkenalkan diri dengan kata-kata: “Akulah terang dunia” (Yoh 8:12). Tentu saja, kita semua dapat mengatakan bahwa kita “buta sejak lahir,” karena dengan kekuatan sendiri kita tidak dapat melihat misteri kehidupan dalam segala kedalamannya. Itulah sebabnya Allah menjadi manusia dalam diri Yesus, agar tanah liat kemanusiaan kita, yang dibentuk oleh napas rahmat-Nya, dapat menerima terang baru, terang yang mampu membantu kita melihat diri sendiri, orang lain, dan Allah dalam kebenaran.

 

Sungguh mengejutkan bahwa, selama berabad-abad, pendapat telah menyebar dan bertahan hingga hari ini bahwa iman adalah semacam "lompatan dalam kegelapan," penolakan terhadap pemikiran, sehingga memiliki iman berarti percaya "secara buta." Namun, Bacaan Injil menunjukkan kepada kita bahwa melalui kontak dengan Kristus, mata kita dicelikkan. Sesungguhnya, para pemuka agama bertanya dengan tegas kepada orang buta yang disembuhkan: "Bagaimana matamu menjadi celik?" (Yoh 9:10); dan kembali bertanya: "Bagaimana Ia mencelikkan matamu?" (ayat 26).

 

Saudara-saudari, kita pun disembuhkan oleh kasih Kristus dan dipanggil untuk menghidupi iman kita dengan "mata yang dicelikkan." Iman bukanlah tindakan buta, pengabaian akal budi atau penarikan diri ke dalam semacam kepastian religius yang menyebabkan kita mengalihkan pandangan kita dari dunia. Namun, iman membantu kita untuk melihat segala sesuatu "melihat segala sesuatu sebagaimana Yesus sendiri melihatnya, dengan mata-Nya sendiri. Ini adalah mengambil bagian dalam cara Dia melihat." (Lumen Fidei, 18). Dalam pengertian ini, iman adalah ajakan untuk "mencelikkan mata kita," seperti yang dilakukan Tuhan, terutama terhadap penderitaan orang lain dan kesengsaraan dunia.

 

Dewasa ini, khususnya di tengah banyaknya pertanyaan hati manusia, serta situasi tragis ketidakadilan, kekerasan, dan penderitaan yang menandai zaman kita, sangat penting agar iman kita waspada, penuh perhatian, dan profetik. Iman juga harus mencelikkan mata kita terhadap kegelapan dunia, dan membawa terang Injil kepada orang lain melalui komitmen kita terhadap perdamaian, keadilan, dan solidaritas.

 

Marilah kita memohon kepada Bunda Maria untuk menjadi perantara kita, agar terang Kristus dapat mencelikka mata hati kita dan memungkinkan kita untuk memberi kesaksian tentang Dia dengan kesederhanaan dan keberanian.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Selama dua pekan terakhir, rakyat Timur Tengah menderita akibat kekerasan perang yang mengerikan. Ribuan orang tak berdosa telah tewas, dan tak terhitung lainnya terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Saya kembali mendoakan dan mendekatkan diri kepada semua orang yang kehilangan orang yang mereka cintai dalam serangan-serangan yang telah menghantam sekolah, rumah sakit, dan daerah pemukiman.

 

Situasi di Lebanon sangat mengkhawatirkan. Saya berharap jalan dialog akan muncul untuk mendukung pemerintah negara dalam menerapkan solusi jangka panjang terhadap krisis serius yang sedang terjadi, demi kebaikan bersama seluruh rakyat Lebanon.

 

Atas nama umat kristiani di Timur Tengah, dan semua orang yang berkehendak baik, saya memohon kepada mereka yang bertanggung jawab atas konflik ini: hentikan tembakan! Semoga jalan dialog dapat dibuka kembali! Kekerasan tidak akan pernah membawa keadilan, stabilitas, dan perdamaian yang sedang dinantikan bangsa-bangsa.

 

Saya menyapa kamu semua yang berkumpul di sini hari ini di Lapangan Santo Petrus.

 

Saya menyapa umat yang datang dari Valencia dan Barcelona, Spanyol, serta Palermo.

 

Dengan sukacita, saya menyapa beberapa kelompok orang muda yang bersiap menerima Sakramen Krisma: dari Berceto, Keuskupan Parma; dari Tuto, Keuskupan Florence; dari Torre Maina dan Gorzano, Keuskupan Modena-Nonantola. Saya juga menyapa orang muda dari Paroki Santo Gregorius Agung Roma, serta Paroki Capriano del Colle dan Paroki Azzano Mella, Keuskupan Brescia.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Maret 2026)


WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 11 Maret 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 3. GEREJA, UMAT ALLAH

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Melanjutkan refleksi kita tentang Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium (LG), hari ini kita akan membahas bab kedua, yang dikhususkan untuk Umat Allah.

 

Allah, yang menciptakan dunia dan umat manusia, dan yang ingin menyelamatkan setiap manusia, melaksanakan karya keselamatan-Nya dalam sejarah, sungguh memilih suatu umat dan berdiam di antara mereka. Karena alasan inilah, Ia memanggil Abraham dan menjanjikan kepadanya keturunan sebanyak bintang di langit dan pasir di tepi laut (bdk. Kej 22:17-18). Dengan anak-anak Abraham, setelah membebaskan mereka dari perbudakan, Allah mengadakan perjanjian dengan mereka, serta menyertai, memelihara, dan mengumpulkan mereka kembali setiap kali mereka tersesat. Oleh karena itu, jati diri umat ini diberikan berkat tindakan Allah dan beriman kepada-Nya. Mereka dipanggil untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain, seperti mercusuar yang akan menarik semua bangsa, seluruh umat manusia, kepada diri-Nya (bdk. Yes 2:1-5).

 

Konsili menegaskan bahwa “Semua telah terjadi untuk menyiapkan dan melambangkan perjanjian baru dan sempurna, yang akan diadakan dalam Kristus, dan demi perwahyuan lebih penuh yang akan disampaikan melalui Sabda Allah sendiri yang menjadi daging” (LG, 9). Sesungguhnya, Kristuslah yang, dengan memberikan tubuh dan darah-Nya, mempersatukan umat ini di dalam diri-Nya secara definitif. Kini umat tersebut mencakup seluruh bangsa; dipersatukan berkat iman kepada-Nya, ketaatan kepada-Nya, hidup yang sama seperti Dia, dijiwai oleh Roh Kristus bangkit. Inilah Gereja: umat Allah yang memperoleh keberadaannya dari tubuh Kristus[1] dan mereka sendiri adalah tubuh Kristus;[2] bukan umat seperti umat lainnya, tetapi Umat Allah, yang dipanggil bersama oleh-Nya dan mencakup seluruh bangsa manusia di bumi. Prinsip pemersatu Gereja bukanlah bahasa, budaya, etnis, melainkan iman kepada Kristus: oleh karena itu, Gereja – menurut ungkapan yang luar biasa dari Konsili – adalah kumpulan “semua orang yang beriman mengarahkan pandangan kepada Yesus” (LG, 9).

 

Umat Allah adalah umat mesianik, justru karena Kristus, Sang Mesias, adalah kepala mereka. Mereka yang menjadi bagiannya tidak membanggakan jasa atau gelar, tetapi hanya pada karunia keberadaan, di dalam Kristus dan melalui Dia, sebagai anak-anak Allah. Oleh karena itu, melebihi tugas atau fungsi apa pun, dicangkokkan ke dalam Kristus, menjadi anak-anak Allah berkat rahmat, benar-benar penting dalam Gereja. Ini juga satu-satunya gelar kehormatan yang harus kita usahakan sebagai umat kristiani. Kita berada di dalam Gereja untuk menerima hidup dari Bapa tanpa henti dan hidup sebagai anak-anak-Nya dan saudara-saudari di antara kita. Akibatnya, hukum yang menghidupkan hubungan dalam Gereja adalah kasih, sebagaimana kita terima dan alami dalam Yesus; dan tujuannya adalah Kerajaan Allah, yang ke arahnya Gereja berjalan bersama dengan seluruh umat manusia.

 

Bersatu dalam Kristus, Tuhan dan Juruselamat semua orang, Gereja tidak pernah dapat menutup diri, tetapi terbuka bagi dan untuk setiap orang. Jika orang percaya kepada Kristus termasuk di dalamnya, Konsili mengingatkan kita bahwa “Semua orang dipanggil kepada Umat Allah yang baru. Maka umat itu, yang tetap satu dan tunggal, harus disebarluaskan ke seluruh dunia dan melalui segala abad, supaya terpenuhilah rencana kehendak Allah, yang pada awal mula menciptakan satu kodrat manusia, dan menetapkan untuk akhirnya menghimpun dan mempersatukan lagi anak-anak-Nya yang tersebar” (LG, 13). Bahkan mereka yang belum menerima Injil pun, dengan cara tertentu, terarah kepada umat Allah, dan Gereja, yang bekerja sama dalam misi Kristus, dipanggil untuk menyebarkan Injil di mana-mana dan kepada setiap orang (bdk. LG 17), sehingga setiap orang dapat berhubungan dengan Kristus. Ini berarti bahwa di dalam Gereja ada, dan harus ada, tempat bagi setiap orang, dan setiap umat kristiani dipanggil untuk mewartakan Injil dan memberi kesaksian di setiap lingkungan tempat ia tinggal dan bekerja. Dengan demikian, bangsa ini menunjukkan kekatolikannya, menerima kekayaan dan sumber daya dari berbagai budaya dan, pada saat yang sama, menawarkan kepada mereka kebaruan Injil untuk menyucikan dan mengangkat mereka (bdk. LG, 13).

 

Dalam hal ini, Gereja adalah satu tetapi mencakup semua orang. Seorang teolog besar menggambarkannya demikian: “Bahtera Keselamatan yang unik harus menyambut segenap keragaman manusia ke dalam ruang utamanya yang luas. Satu-satunya ruang perjamuan, makanan yang dibagikannya diambil dari seluruh ciptaan. Pakaian Kristus yang tanpa jahitan, juga – dan hal yang sama – pakaian Yusuf, dengan banyak warnanya”.[3]

 

Memahami Gereja adalah umat di mana semua orang dari berbagai bangsa, bahasa, dan budaya hidup bersama dalam iman – terutama di zaman kita, yang dilanda begitu banyak konflik dan perang – merupakan tanda pengharapan yang besar: tanda yang ditempatkan di jantung kemanusiaan, pengingat dan nubuat tentang persatuan dan perdamaian yang diserukan Allah Bapa kepada semua anak-Nya.

 

[Imbauan]

 

Hari ini di Qlayaa, Lebanon, pemakaman Pastor Pierre El Raii, Pastor Paroki Maronit dari salah satu pedesaan kristiani di Lebanon selatan, sedang dirayakan. Pedesaan ini sekali lagi mengalami tragedi perang. Saya turut berduka cita bersama seluruh rakyat Lebanon di masa-masa sulit ini.

 

Dalam bahasa Arab, “El Raii” berarti “gembala”. Pastor Pierre adalah gembala sejati, yang selalu berada di samping umatnya, dengan kasih dan pengurbanan Yesus Sang Gembala yang baik. Begitu mendengar bahwa beberapa umatnya terluka dalam pemboman, ia bergegas membantu mereka tanpa ragu-ragu. Semoga Tuhan menganugerahkan darah yang ditumpahkannya menjadi benih perdamaian bagi Lebanon tercinta.

 

Saudara-saudari terkasih, marilah kita terus mendoakan perdamaian di Iran dan seluruh Timur Tengah, terutama banyak korban sipil, termasuk banyak anak-anak yang tidak bersalah. Semoga doa kita menjadi penghibur bagi mereka yang menderita dan benih pengharapan untuk masa depan.

 

[Sapaan khusus]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, kita merefleksikan karya penyelamatan Allah dalam sejarah dengan memilih suatu umat sebagai milik-Nya. Ia membuat perjanjian dengan Abraham dan memanggil umat-Nya untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain. Dengan cara ini, Ia menubuatkan perjanjian baru dan sempurna dalam Yesus Kristus. Dengan wafat dan kebangkitan-Nya, Yesus mengumpulkan semua bangsa, laki-laki dan perempuan dari berbagai bangsa, bahasa, dan budaya ke dalam mempelai-Nya, Gereja. Gereja adalah umat Allah yang baru, yang dipersatukan oleh iman dan dijiwai oleh kasih Kristus untuk mewartakan Injil kepada seluruh dunia. Kita pun, sebagai anggota Gereja, dipanggil untuk menjadi tanda-tanda pengharapan dan menyebarkan pesan Bapa, yang ingin mengumpulkan semua anak-anak-Nya kepada diri-Nya.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Denmark, Australia, dan Amerika Serikat. Seraya mendoakan dan mengharapkan Masa Prapaskah ini menjadi masa rahmat dan pembaruan rohani bagimu dan keluargamu, saya memohonkan atas kamu semua sukacita dan damai dalam Tuhan kita Yesus Kristus.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 11 Maret 2026)



[1] Bdk. J. Ratzinger, Umat Allah yang Baru, Brescia 1992, 97.

[2] Bdk. Y. M.J. Congar, Umat Mesianik, Brescia 1976, 75.

[3] Bdk. H. de Lubac, Katolisisme: Sebuah Studi Tentang Dogma Dalam Kaitannya Dengan Takdir Bersama Umat Manusia (Catholicisme: Les aspects sociaux du dogme).