Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 3 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Selama Masa Paskah, sebagaimana Gereja perdana, kita kembali kepada perkataan Yesus, yang mengungkapkan makna penuhnya dalam terang penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Apa yang pernah luput dari perhatian para murid atau menyebabkan mereka menderita kini kembali terlintas dalam pikiran mereka, menghangatkan hati mereka, dan memenuhi mereka dengan pengharapan.

 

Bacaan Injil yang diwartakan hari Minggu ini menyajikan dialog Sang Guru dengan murid-murid-Nya selama Perjamuan Terakhir. Secara khusus, kita mendengar sebuah janji yang melibatkan kita sejak saat ini dalam misteri kebangkitan-Nya. Yesus berkata, “Apabila Aku telah pergi dan menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat Aku berada, kamu pun berada” (Yoh 14:3). Dengan demikian, para Rasul menemukan bahwa Allah menyediakan tempat bagi setiap orang. Dua orang dari mereka telah mengalami hal ini selama perjumpaan pertama mereka dengan Yesus di tepi Sungai Yordan. Yesus memperhatikan mereka yang mengikuti-Nya dan mengundang mereka senja itu untuk mengunjungi tempat tinggal-Nya (bdk. Yoh 1:39). Bahkan sekarang, dihadapkan dengan kematian, Yesus berbicara tentang sebuah rumah, tetapi kali ini rumah yang sangat besar. Rumah tersebut adalah rumah Bapa-Nya dan Bapa kita, di sana ada ruang untuk semua orang. Sang Putra menggambarkan diri-Nya sebagai hamba yang menyiapkan ruang, sehingga setiap saudara atau saudari, ketika tiba, dapat menemukan ruang mereka sendiri yang sudah siap dan merasa seolah-olah mereka selalu dirindukan dan akhirnya ditemukan.

 

Saudara-saudara terkasih, di dunia lama tempat kita masih menjalani perjalanan ini, yang menarik perhatian adalah tempat-tempat eksklusif, pengalaman yang hanya dapat diakses oleh sedikit orang, dan hak istimewa untuk memasuki tempat yang tidak dapat diakses orang lain. Namun, di dunia baru tempat Yesus yang bangkit menuntun kita, apa yang paling berharga berada dalam jangkauan setiap orang. Namun ini tidak membuatnya kurang menarik. Sebaliknya, apa yang terbuka untuk semua orang sekarang membawa sukacita. Rasa syukur menggantikan persaingan; sambutan mengatasi pengucilan; dan kelimpahan tidak lagi menimbulkan kesenjangan. Terutama, tidak ada seorang pun yang disalahartikan sebagai orang lain, dan tidak ada seorang pun yang hilang. Kematian mengancam untuk menghapus nama dan ingatan seseorang, tetapi di dalam Allah setiap orang sepenuhnya menjadi dirinya sendiri. Sesungguhnya, inilah yang kita cari sepanjang hidup kita, terkadang rela melakukan apa saja hanya untuk mendapatkan sedikit perhatian dan pengakuan.

 

“Percayalah,” kata Yesus kepada kita. Itulah rahasianya! “Percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku” (Yoh 14:1). Justru percaya inilah yang membebaskan hati kita dari kecemasan akan kepemilikan dan perolehan, dan dari khayalan bahwa kita harus mengejar posisi bergengsi untuk memiliki nilai. Setiap orang sudah memiliki nilai yang tak terbatas dalam misteri Allah, yang merupakan kenyataan yang sesungguhnya. Dengan saling mengasihi seperti Yesus telah mengasihi kita, kita menyampaikan kesadaran ini kepada satu sama lain. Inilah perintah baru; dengan cara ini, kita mengantisipasi surga di bumi dan mengungkapkan kepada semua orang bahwa persaudaraan dan perdamaian adalah panggilan kita. Sesungguhnya, melalui kasih, di tengah banyak saudara dan saudari, setiap orang menemukan bahwa mereka diciptakan secara unik.

 

Oleh karena itu, marilah kita berdoa kepada Santa Maria, Bunda Gereja, agar setiap komunitas kristiani menjadi rumah yang terbuka bagi semua orang dan memperhatikan setiap orang.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Bulan Mei telah dimulai: di seluruh Gereja, sukacita berkumpul dalam nama Maria, Bunda kita, diperbarui, terutama dengan berdoa Rosario bersama. Kita menghidupkan kembali pengalaman hari-hari di antara kenaikan Yesus dan Pentakosta, ketika para murid berkumpul di ruang atas untuk memohon Roh Kudus. Santa Maria tetap berada di tengah-tengah mereka, hatinya menjaga api yang menghidupkan doa semua orang. Saya mempercayakan ujud saya kepadamu, khususnya untuk persekutuan di dalam Gereja dan perdamaian dunia.

 

Hari ini merupakan Hari Kebebasan Pers Sedunia, yang dipromosikan oleh UNESCO. Sayangnya, hak ini sering dilanggar — kadang-kadang secara terang-terangan, kadang-kadang secara lebih halus. Marilah kita mengingat banyak jurnalis dan reporter yang telah menjadi korban perang dan kekerasan.

 

Dengan hangat saya menyapa kamu semua — umat Roma dan para peziarah yang datang dari berbagai negara!

 

Saya menyambut para guru — baik rohaniwan maupun awam — dari sekolah-sekolah Hermanas Franciscanas de los Sagrados Corazones, serta umat dari Madrid, Granada, Minneapolis, dan Malaysia; dan warga Peru yang membentuk Lembaga Virgen de Chapi de Arequipa di Roma.

 

Saya menyapa Lembaga Meter, yang selama tiga puluh tahun telah berkomitmen untuk membela anak-anak di bawah umur dari momok pelecehan, sambil melibatkan komunitas gerejani dan sipil serta mempromosikan pendidikan yang bertujuan untuk mendukung korban dan mendorong pencegahan. Terima kasih atas pengabdianmu!

 

Saya senang menyapa umat dari Padua, Gruppo Giovani Valdaso dan Punto Giovani Komunitas Camillian Piossasco, Aksi Katolik Vikariat Noale, kaum muda dari Verolanuova dan Cadignano, paduan suara kaum muda Coredo-Predaia dan para siswa dari Liceo Fardella – Ximenes, Trapani.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 22 APRIL 2026 : PERJALANAN APOSTOLIK KE ALJAZAIR, KAMERUN, ANGOLA, DAN GUINEA KHATULISTIWA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Hari ini saya ingin berbicara tentang perjalanan apostolik yang saya lakukan dari tanggal 13 hingga 23 April, mengunjungi empat negara Afrika: Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa.

 

Sejak awal masa kepausan saya, saya telah memikirkan perjalanan ke Afrika. Saya bersyukur kepada Tuhan karena telah memberi saya kesempatan untuk melaksanakannya, sebagai Gembala, bertemu dan memberi semangat kepada umat Allah; dan juga mengalaminya sebagai pesan perdamaian pada saat dalam sejarah yang ditandai oleh konflik dan pelanggaran hukum internasional yang serius dan sering terjadi. Dan saya menyampaikan terima kasih yang tulus kepada para uskup dan otoritas sipil yang menyambut saya, dan kepada semua orang yang membantu mengatur kunjungan ini.

 

Penyelenggaraan ilahi menentukan perhentian pertama adalah negara tempat situs Santo Agustinus berada, yaitu Aljazair. Dengan demikian, saya mendapati diri saya, di satu sisi, mengunjungi kembali akar jati diri spiritual saya dan, di sisi lain, menyeberangi dan memperkuat jembatan yang sangat penting bagi dunia dan Gereja saat ini: jembatan dengan zaman para Bapa Gereja yang sangat produktif; jembatan dengan dunia Islam; dan jembatan dengan benua Afrika.

 

Di Aljazair, saya menerima sambutan yang tidak hanya penuh hormat tetapi juga hangat, dan kami dapat mengalami secara langsung dan menunjukkan kepada dunia bahwa memungkinkan hidup bersama sebagai saudara dan saudari, bahkan dari agama yang berbeda, ketika kita menyadari diri kita sebagai anak-anak dari satu Bapa yang Maha Pengasih. Lebih jauh lagi, ini adalah kesempatan yang tepat waktu untuk belajar dari teladan Santo Agustinus: melalui pengalaman hidup, tulisan-tulisan, dan spiritualitasnya, ia adalah seorang guru dalam mencari Allah dan kebenaran. Saat ini sebuah kesaksian yang lebih penting dari sebelumnya bagi umat kristiani dan setiap orang.

 

Di tiga negara berikutnya yang saya kunjungi, penduduknya sebagian besar beragama Kristen, dan karena itu saya mendapati diri saya tenggelam dalam suasana perayaan iman dan sambutan hangat, yang juga diperkuat oleh ciri khas rakyat Afrika. Seperti para pendahulu saya, saya pun mengalami sesuatu yang mirip dengan apa yang terjadi pada Yesus di antara orang banyak di Galilea: Ia melihat mereka haus dan lapar akan keadilan, lalu Ia menyatakan kepada mereka: “Berbahagialah orang miskin di hadapan Allah, berbahagialah orang yang lemah lembut, berbahagialah orang yang membawa damai”, dan, setelah mengakui iman mereka, Ia berkata, “Kamu adalah garam dunia dan terang dunia” (bdk. Mat 5:1-16).

 

Kunjungan ke Kamerun memungkinkan saya untuk memperkuat seruan untuk bekerja sama demi rekonsiliasi dan perdamaian, karena negara itu pun, sayangnya, ditandai oleh ketegangan dan kekerasan. Saya senang telah melakukan perjalanan ke Bamenda, di wilayah berbahasa Inggris, di mana saya mendorong orang-orang untuk bekerja sama demi perdamaian. Kamerun dikenal sebagai "miniatur Afrika", karena keragaman dan kekayaan lingkungan alam dan sumber dayanya, tetapi kita juga dapat menafsirkan ungkapan ini sebagai kebutuhan besar seluruh benua yang terdapat di Kamerun: kebutuhan akan distribusi kekayaan yang adil; kebutuhan untuk menyediakan ruang bagi kaum muda, mengatasi korupsi yang endemik, mempromosikan pembangunan menyeluruh dan berkelanjutan, melawan berbagai bentuk kolonialisme baru dengan kerjasama internasional yang berwawasan jauh ke depan. Saya berterima kasih kepada Gereja di Kamerun dan seluruh rakyat Kamerun, yang menyambut saya dengan penuh kasih, dan saya berdoa agar semangat persatuan yang terlihat selama kunjungan saya tetap hidup dan membimbing pilihan dan tindakan di masa depan.

 

Perhentian ketiga perjalanan adalah di Angola, sebuah negara besar di selatan khatulistiwa, dengan tradisi kristiani yang telah berlangsung berabad-abad, terkait dengan penjajahan Portugis. Seperti banyak negara Afrika lainnya, setelah meraih kemerdekaan, Angola mengalami masa sulit, yang ditandai dengan perang saudara yang panjang dan berdarah. Dalam kancah sejarah ini, Allah telah membimbing dan memurnikan Gereja, semakin mengubahnya dalam pelayanan Injil, peningkatan kesejahteraan manusia, rekonsiliasi, dan perdamaian. Gereja yang bebas untuk rakyat yang bebas! Di Tempat Suci Maria Mamã Muxima — yang berarti “Bunda Hati” — saya merasakan detak jantung rakyat Angola. Dan dalam berbagai pertemuan, saya bersukacita melihat begitu banyak para pelaku hidup bakti dari segala usia, sebuah nubuat tentang Kerajaan Surga di tengah-tengah umat mereka; saya melihat para katekis yang sepenuhnya mengabdikan diri untuk kebaikan komunitas; saya melihat wajah-wajah orang tua yang telah lelah karena kerja keras dan penderitaan namun berseri-seri dengan sukacita Injil; Aku melihat perempuan dan laki-laki menari mengikuti irama lagu-lagu pujian kepada Tuhan yang bangkit, dasar dari sebuah pengharapan yang mampu mengatasi kekecewaan yang disebabkan oleh ideologi dan janji-janji kosong dari orang-orang yang berkuasa.

 

Pengharapan ini menuntut komitmen nyata, dan Gereja memiliki tanggung jawab, dengan kesaksian dan pewartaan sabda Allah yang berani, mengakui hak-hak semua orang dan mempromosikan penghormatan nyata terhadap hak-hak tersebut. Dengan otoritas sipil Angola, tetapi juga dengan otoritas negara-negara lain, saya dapat meyakinkan mereka tentang kesediaan Gereja Katolik untuk terus memberikan kontribusi ini, khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan.

 

Negara terakhir yang saya kunjungi adalah Guinea Khatulistiwa, 170 tahun setelah evangelisasi pertamanya. Dengan kearifan tradisi dan terang Kristus, rakyat Guinea telah melewati berbagai cobaan dalam sejarah mereka dan, dalam beberapa hari terakhir, di hadapan Paus, telah memperbarui dengan antusiasme besar tekad mereka untuk berjalan bersama menuju masa depan yang penuh pengharapan.

 

Saya tidak bisa melupakan apa yang terjadi di penjara di Bata, Guinea Khatulistiwa: para tahanan menyanyikan dengan suara lantang sebuah lagu syukur kepada Allah dan Paus, memohon agar ia berdoa “untuk dosa-dosa dan kebebasan mereka”. Saya belum pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. Dan kemudian mereka berdoa “Bapa Kami” bersama saya di tengah hujan deras. Sebuah tanda nyata Kerajaan Allah! Dan masih di tengah hujan, pertemuan besar dengan kaum muda dimulai di stadion di Bata. Sebuah perayaan sukacita kristiani, dengan kesaksian yang mengharukan dari kaum muda yang telah menemukan dalam Injil jalan menuju pertumbuhan yang bebas dan bertanggung jawab. Perayaan ini mencapai puncaknya dalam perayaan Ekaristi pada hari berikutnya, yang dengan tepat mengakhiri kunjungan ke Guinea Khatulistiwa, serta seluruh perjalanan apostolik.

 

Saudara-saudari terkasih, kunjungan Paus ini, bagi bangsa Afrika, adalah kesempatan untuk menyuarakan pendapat mereka, mengungkapkan sukacita menjadi umat Allah dan pengharapan akan masa depan yang lebih baik, martabat bagi setiap orang. Saya senang telah memberi mereka kesempatan ini, dan pada saat yang sama saya bersyukur kepada Tuhan atas apa yang telah mereka berikan kepada saya, sebuah harta yang tak ternilai bagi hati dan pelayanan saya.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Irlandia, Malta, Norwegia, Nigeria, India, Filipina, Trinidad dan Tobago, dan Amerika Serikat. Kepada kamu semua, dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Yesus yang telah bangkit! Semoga Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, hari ini saya ingin berbicara tentang perjalanan apostolik saya baru-baru ini ke empat negara: Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa. Saya telah berkeinginan untuk memulai perjalanan ini sejak awal masa kepausan saya, dan sekarang saya menyampaikan rasa syukur yang tulus kepada Tuhan karena telah memberi saya kesempatan untuk bertemu dengan umat Allah di Afrika dan meneguhkan iman mereka sebagai Penerus Santo Petrus. Waktu saya di sana dimaksudkan untuk menyampaikan pesan perdamaian kepada dunia pada saat yang ditandai oleh konflik dan pelanggaran hukum internasional yang sering terjadi. Bersamaan dengan seruan untuk perdamaian, saya juga mengecam ketidakadilan besar yang ada di negara-negara yang kaya akan sumber daya alam tersebut, mendesak komunitas internasional untuk mengatasi sikap kolonialisme baru dan terlibat dalam kerjasama yang autentik. Pada saat yang sama, Perjalanan apostolik memberi rakyat Afrika kesempatan untuk menyampaikan suara mereka dan mengungkapkan sukacita menjadi umat Allah. Dalam hal ini, saya mengucap syukur kepada Tuhan atas apa yang telah mereka berikan kepada saya: anugerah iman, pengharapan, dan kasih yang tak terukur, yang telah sangat memperkaya hidup dan pelayanan saya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 29 April 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 26 April 2026

Saudara-saudari, selamat siang dan selamat hari Minggu!

 

Seraya kita melanjutkan perjalanan kita melalui Masa Paskah, Bacaan Injil hari ini menyajikan perbandingan Yesus tentang diri-Nya dengan seorang gembala dan juga dengan pintu kandang domba (bdk. Yoh 10:1-10).

 

Yesus membuat perbandingan antara gembala dan pencuri. Bahkan, Ia berkata bahwa “siapa yang masuk ke dalam kandang domba tanpa melalui pintu, tetapi dengan memanjat dari tempat lain, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok” (ayat 1). Ia melanjutkan dengan menjelaskan hal ini lebih lanjut: “Pencuri datang hanya untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan. Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (ayat 10). Perbedaannya jelas: gembala memiliki ikatan khusus dengan domba-dombanya dan karena itu dapat masuk melalui pintu kandang domba. Di sisi lain, jika seseorang harus memanjat pagar untuk masuk, maka ia pastilah seorang pencuri yang ingin mencuri domba-domba itu.

 

Yesus memberitahu kita bahwa Ia terikat kepada kita oleh hubungan persahabatan, karena Ia mengenal kita, memanggil nama kita, membimbing kita, dan — seperti gembala yang menjaga domba-dombanya — mencari kita ketika kita tersesat dan membalut luka kita ketika kita sakit (bdk. Yeh. 34:16). Yesus tidak datang sebagai pencuri untuk mengambil hidup dan kebebasan kita, tetapi untuk menuntun kita di jalan kebenaran. Ia tidak datang untuk menjebak atau menipu hati nurani kita, tetapi untuk meneranginya dengan cahaya kebijaksanaan-Nya. Ia tidak datang untuk mencemari sukacita duniawi kita, tetapi untuk menyingkapnya kepada kebahagiaan yang lebih penuh dan lebih kekal. Mereka yang mempercayakan diri kepada-Nya tidak perlu takut, karena Ia tidak mengambil hidup kita, tetapi datang untuk memberikannya kepada kita dengan berlimpah-limpah (bdk. ayat 10).

 

Saudara-saudari, kita diundang untuk merefleksikan, dan terutama untuk waspada terhadap, pintu hati dan hidup kita, karena siapa pun yang masuk dapat menambah sukacita kita, atau mencurinya dari kita seperti pencuri. “Pencuri” dapat mengambil banyak bentuk. Mereka bisa berupa: orang-orang yang, terlepas dari penampilan lahiriahnya, menindas kebebasan kita atau gagal menghormati martabat kita; kepercayaan dan prasangka yang mencegah kita memandang orang lain dan kehidupan dengan tenang; gagasan keliru yang dapat menyebabkan kita membuat pilihan negatif; atau gaya hidup dangkal dan konsumeristik yang membuat hati kita hampa dan mendorong kita untuk terus hidup di luar diri kita sendiri. Dan janganlah kita melupakan “pencuri” yang, dengan menjarah sumber daya bumi, melancarkan perang berdarah, atau memicu kejahatan dalam bentuk apa pun, tidak melakukan apa pun selain merampas dari diri kita masing-masing kemungkinan masa depan yang ditandai dengan perdamaian dan ketenangan.

 

Kita harus bertanya pada diri kita sendiri: Siapa yang kita inginkan untuk membimbing kita dalam hidup? "Pencuri" mana yang telah mencoba menerobos masuk ke dalam kawanan domba kita? Apakah mereka berhasil, atau apakah kita berhasil menangkis mereka?

 

Hari ini, Bacaan Injil mengajak kita untuk percaya kepada Tuhan. Ia tidak datang untuk mengambil apa pun dari kita. Sebaliknya, Ia adalah Gembala yang baik yang meningkatkan kehidupan dan menawarkannya kepada kita dengan berlimpah-limpah. Semoga Bunda Maria selalu menyertai kita dalam perjalanan kita dan menjadi perantara kita dan seluruh dunia.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini merupakan peringatan 40 tahun Tragedi Chernobyl, yang meninggalkan bekas luka mendalam pada hati nurani umat manusia. Tragedi ini menjadi peringatan mengenai risiko yang melekat dalam penggunaan teknologi yang semakin canggih. Marilah kita serahkan mereka yang telah meninggal dan semua yang masih menderita akibat bencana tersebut kepada kerahiman Allah. Saya berharap kebijaksanaan dan tanggung jawab akan selalu berlaku di setiap tingkat pengambilan keputusan sehingga semua penggunaan energi atom dapat ditempatkan untuk melayani kehidupan dan perdamaian.

 

Sekarang saya menyapamu, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara: selamat datang!

 

Saya menyapa para Ksatria dan Wanita dari Ordo Santo Georgius dan Ordo Eropa dari Wangsa Habsburg-Lorraine. Saya menyapa anak-anak dari kelompok tari “Malva” dari Brovary, Ukraina; Paduan Suara Cantica Sacra dari Keuskupan Agung Trnava, Slovakia; umat dari Wina, Madrid, dan Kepulauan Canary; dan para guru dari Sekolah “São Tomás”, Lisbon.

 

Saya juga menyapa sekelompok besar orang muda dari Val Camonica Keuskupan Brescia, dan para pelayan altar muda dari Biadene dan Caonada; serta umat beriman dari Treviso, Vicenza, Crotone, Cariati, Oria dan Lecce; dan para peserta konferensi Lembaga Rasul Kerahiman Ilahi.

 

Secara khusus saya menyapa anggota keluarga dan sahabat para imam baru Keuskupan Roma, yang saya tahbiskan pagi ini di Basilika Santo Petrus: mohon terus mendampingi para pelayan Injil muda ini dengan doa-doamu.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 26 April 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI KILAMBA (ANGOLA} 19 April 2026

Saudara-saudari terkasih,

 

Sekarang kita akan bersama-sama berdoa kepada Maria, Regina Caeli, Ratu Surga, dengan dia – Bunda dan pendamping kita dalam perjalanan hidup – ambil bagian dalam sukacita kebangkitan.

 

Dengan lagu penuh sukacita ini, kita tidak ingin menghapus atau membungkam tangisan mereka yang menderita, tetapi sebaliknya ingin merangkul dan menyatukan mereka dengan suara kita dalam keselarasan baru, sehingga bahkan dalam penderitaan sekali pun cahaya iman tetap hidup, dan dengannya, mengharapkan dunia yang lebih baik.

 

Saya sangat sedih atas peningkatan serangan baru-baru ini terhadap Ukraina, yang terus menimpa warga sipil juga. Saya menyampaikan solidaritas saya bagi mereka yang menderita dan meyakinkan seluruh rakyat Ukraina akan doa saya. Saya kembali mengimbau agar senjata-senjata berhenti berbunyi dan jalan dialog tetap ditempuh.

 

Namun, gencatan senjata yang diumumkan di Lebanon memberikan alasan untuk berharap; merupakan secercah pengharapan bagi rakyat Lebanon dan wilayah Levant. Saya mendorong mereka yang berupaya mencapai solusi diplomatik untuk melanjutkan perundingan perdamaian, sehingga penghentian permusuhan di seluruh Timur Tengah dapat menjadi permanen.

 

Kristus telah menaklukkan kematian, dan dengan kepastian inilah kita semua, bersatu dengan Dia dan dalam Dia sebagai satu Tubuh, berkomitmen hari ini dan setiap hari, terlepas dari rintangan dan kesulitan, untuk menyebarkan di sekitar kita buah-buah Paskah yaitu kasih, keadilan sejati, dan perdamaian.

 

Semoga Bunda Yesus, Bunda hati kita, membantu kita untuk selalu merasakan kehadiran Putra-Nya yang telah bangkit, hidup dan kuat, dekat dengan kita.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 19 April 2026)