Liturgical Calendar

Featured Posts

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 18 Januari 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil hari ini (bdk. Yoh 1:29-34) berbicara kepada kita tentang Yohanes Pembaptis, yang mengenali Yesus sebagai Anak Domba Allah, Mesias, dan menyatakan: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” (ayat 29). Ia menambahkan: “Aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel” (ayat 31).

 

Yohanes mengakui Yesus sebagai Juruselamat; ia memberitakan keilahian dan perutusan Yesus kepada bangsa Israel, lalu menyingkir setelah menyelesaikan tugasnya, yang dibuktikan dengan perkataan: “Sesudah aku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku” (ayat 30).

 

Yohanes Pembaptis adalah seorang yang sangat dicintai oleh orang banyak, sampai-sampai ia ditakuti oleh penguasa di Yerusalem (bdk. Yoh 1:19). Akan mudah baginya untuk memanfaatkan ketenaran ini; namun, ia tidak menyerah pada godaan kesuksesan dan popularitas. Di hadapan Yesus, ia menyadari kekecilannya dan memberi ruang bagi kebesaran Yesus. Yohanes tahu bahwa ia diutus untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan (bdk. Mik 1:3; Yes 40:3), dan ketika Tuhan datang, dengan sukacita dan rendah hati ia mengakui kehadiran Allah dan menyingkir dari sorotan.

 

Alangkah pentingnya kesaksiannya bagi kita hari ini! Memang, persetujuan, konsensus, dan daya terawang seringkali diberi kepentingan yang berlebihan, sampai-sampai membentuk gagasan, perilaku, dan bahkan kehidupan batin orang-orang. Hal ini menyebabkan penderitaan dan perpecahan, serta menimbulkan gaya hidup dan hubungan yang rapuh, mengecewakan, dan membelenggu. Sebenarnya, kita tidak membutuhkan "pengganti kebahagiaan" ini. Sukacita dan kebesaran kita tidak didasarkan pada khayalan kesuksesan atau ketenaran yang bersifat sementara, tetapi pada kesadaran bahwa kita dikasihi dan dikehendaki oleh Bapa Surgawi kita.

 

Kasih yang dibicarakan Yesus adalah kasih Allah yang bahkan hari ini datang di antara kita, bukan untuk memukau kita dengan pertunjukan yang spektakuler, tetapi untuk turut serta dalam pergumulan kita dan memikul beban kita. Dengan berbuat demikian, Ia mengungkapkan kepada kita kebenaran tentang siapa kita dan betapa berharganya kita di mata-Nya.

 

Saudara-saudara terkasih, janganlah kita membiarkan diri kita teralihkan dari kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita. Janganlah kita menyia-nyiakan waktu dan energi kita mengejar penampilan. Sebaliknya, marilah kita belajar dari Yohanes Pembaptis untuk tetap waspada, mencintai kesederhanaan, tulus dalam perkataan kita, hidup dengan bijaksana, dan mengembangkan kedalaman pikiran dan hati. Marilah kita puas dengan apa yang penting dan meluangkan waktu setiap hari, jika memungkinkan, untuk momen khusus berhenti sejenak dalam keheningan untuk berdoa, melakukan refleksi, dan mendengarkan – dengan kata lain, “menyendiri di padang gurun”, untuk bertemu Tuhan dan tinggal bersama-Nya.

 

Semoga Bunda Maria, teladan kesederhanaan, kebijaksanaan, dan kerendahan hati, membantu kita dalam tekad ini.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini menandai dimulainya Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristen. Asal usul prakarsa ini bermula dua abad yang lalu, dan Paus Leo XIII sangat mendorongnya. Tepat seratus tahun yang lalu, “Saran untuk Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristen” diterbitkan untuk pertama kalinya. Tema tahun ini diambil dari Surat Santo Paulus kepada Jemaat di Efesus: “Satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu” (4:4). Doa dan renungan ini dipersiapkan oleh kelompok ekumenis yang dikoordinasikan oleh Departemen Hubungan Antar Gereja Apostolik Armenia. Selama hari-hari ini, saya mengajak segenap komunitas Katolik untuk memperdalam doa mereka untuk persatuan penuh dan nyata dari segenap umat Kristen.

 

Tanggung jawab kita untuk persatuan harus disertai dengan komitmen teguh terhadap perdamaian dan keadilan di dunia. Hari ini, saya ingin secara khusus mengingatkan penderitaan besar rakyat di bagian timur Republik Demokratik Kongo. Banyak yang terpaksa meninggalkan negara mereka – terutama ke Burundi – karena kekerasan, dan mereka menghadapi krisis kemanusiaan yang serius. Marilah kita berdoa agar dialog untuk rekonsiliasi dan perdamaian selalu terwujud di antara pihak-pihak yang berkonflik.

 

Saya juga ingin memastikan doa saya bagi para korban banjir baru-baru ini di Afrika bagian selatan.

 

Saya menyapa dengan hangat kamu semua, umat Roma dan para peziarah!

 

Dengan senang hati saya menyapa rombongan dari Sekolah Piggot, Wargrave, Inggris, serta rombongan Fratres dari komunitas Paroki Compitese. Saya juga menyapa umat dari berbagai negara, keluarga, dan lembaga. Terima kasih atas kehadiran dan doa-doamu!

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 18 Januari 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 14 Januari 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. I. KONSTITUSI DOGMATIS DEI VERBUM. 1. ALLAH BERBICARA KEPADA MANUSIA SEPERTI KEPADA SAHABAT (BACAAN: YOH 15:15)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Kita telah memulai rangkaian katekese tentang Konsili Vatikan II. Hari ini kita akan mulai menelaah lebih dekat Konstitusi Dogmatis Dei Verbum, tentang Wahyu Ilahi. Dei Verbum adalah salah satu dokumen yang terindah dan terpenting dari Konsili dan, untuk memperkenalkannya, mungkin bermanfaat untuk mengingat kata-kata Yesus: “Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat tuannya. Namun, Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yoh 15:15). Inilah poin dasariah dari iman kristiani, yang diingatkan oleh Dei Verbum kepada kita: Yesus Kristus secara radikal mengubah hubungan manusia dengan Allah, yang selanjutnya menjadi hubungan persahabatan. Oleh karena itu, kasih merupakan satu-satunya syarat perjanjian baru.

 

Santo Agustinus, ketika mengulas perikop Injil Yohanes ini, menekankan sudut pandang rahmat, yang semata dapat menjadikan kita sahabat Allah dalam Putra-Nya (Ulasan Injil Yohanes, Homili 86). Memang, sebuah semboyan kuno menyatakan: “Amicitia aut pares invenit, aut facit”, “persahabatan lahir di antara yang setara, atau menjadikan mereka setara”. Kita tidak setara dengan Allah, tetapi Allah sendiri menjadikan kita serupa dengan Dia dalam Putra-Nya.

 

Karena alasan ini, sebagaimana dapat kita lihat di seluruh Kitab Suci, dalam Perjanjian terdapat momen jarak pertama, di mana perjanjian antara Allah dan umat manusia selalu tetap tidak setangkup: Allah adalah Allah dan kita adalah ciptaan. Namun, dengan kedatangan Putra dalam daging manusiawi, Perjanjian terbuka pada tujuan akhirnya: dalam Yesus, Allah menjadikan kita putra dan putri, serta memanggil kita untuk menjadi seperti Dia, meskipun dalam kemanusiaan kita yang rapuh. Oleh karena itu, kemiripan kita dengan Allah tidak dicapai melalui pelanggaran dan dosa, sebagaimana disarankan ular kepada Hawa (bdk. Kej 3:5), tetapi dalam hubungan kita dengan Putra yang menjadi manusia.

 

Kata-kata Tuhan Yesus yang telah kita ingat – “Aku menyebut kamu sahabat” – diulangi dalam Konstitusi Dei Verbum, yang menegaskan: “Maka dengan wahyu itu Allah yang tidak kelihatan (lih. Kol 1:15; 1Tim 1:17) dari kelimpahan cinta kasih-Nya menyapa manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya (lih. Kel 33:11; Yoh 15:14-15), dan bergaul dengan mereka (lih. Bar 3:38), untuk mengundang mereka ke dalam persekutuan dengan diri-Nya dan menyambut mereka di dalamnya.” (no. 2). Dalam Kitab Kejadian Allah telah berbicara dengan orang tua pertama kita, terlibat dalam dialog dengan mereka (bdk. Dei Verbum, 3); dan ketika dialog ini terputus oleh dosa, Sang Pencipta tidak berhenti mengusahakan perjumpaan dengan ciptaan-Nya dan menetapkan perjanjian dengan mereka. Dalam Wahyu kristiani, yaitu ketika Allah menjadi manusia dalam Putra-Nya untuk mencari kita, dialog yang telah terputus dipulihkan secara definitif: Perjanjian itu baru dan kekal, tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Wahyu Allah, kemudian, memiliki kodrat persahabatan dialogis dan, seperti dalam pengalaman persahabatan manusiawi, ia tidak menolerir keheningan, tetapi dipelihara oleh saling mengatakan yang benar.

 

Konstitusi Dei Verbum juga mengingatkan kita akan hal ini: Allah berbicara kepada kita. Pentingnya mengenali perbedaan antara kata-kata dan obrolan: obrolan berhenti di permukaan dan tidak mencapai persekutuan antarmanusia, sedangkan dalam hubungan yang autentik, kata-kata tidak hanya berfungsi untuk bertukar informasi dan berita, tetapi untuk mengungkapkan siapa kita. Kata-kata memiliki dimensi pewahyuan yang menciptakan hubungan dengan orang lain. Dengan cara ini, dengan berbicara kepada kita, Allah mengungkapkan diri-Nya kepada kita sebagai Sekutu yang mengundang kita untuk bersahabat dengan-Nya.

 

Dari sudut pandang ini, mendengarkan adalah sikap pertama yang perlu dikembangkan agar Sabda ilahi dapat menembus pikiran dan hati kita; pada saat yang sama, kita dituntut untuk berbicara dengan Allah, bukan untuk menyampaikan kepada-Nya apa yang sudah Ia ketahui, tetapi untuk mengungkapkan diri kita kepada diri kita sendiri.

 

Oleh karena itu, dibutuhkan doa, di mana kita dipanggil untuk hidup dan mengembangkan persahabatan dengan Tuhan. Hal ini dicapai pertama-tama dalam doa liturgis dan komunitas, di mana kita tidak memutuskan apa yang harus didengar dari Sabda Allah, tetapi Ia sendiri yang berbicara kepada kita melalui Gereja; kemudian dicapai dalam doa pribadi, yang terjadi di dalam batin hati dan pikiran. Waktu yang didedikasikan untuk doa, meditasi, dan refleksi harus ada dalam hari dan pekan seorang kristiani. Hanya ketika kita berbicara dengan Allah, kita juga dapat berbicara tentang Dia.

 

Pengalaman kita menunjukkan bahwa persahabatan dapat berakhir melalui tindakan putus hubungan yang dramatis, atau karena serangkaian tindakan pengabaian sehari-hari yang mengikis hubungan hingga sirna. Jika Yesus memanggil kita untuk menjadi sahabat, janganlah kita mengabaikan panggilan ini. Marilah kita menyambutnya, marilah kita memelihara hubungan ini, dan kita akan menemukan bahwa persahabatan dengan Allah adalah keselamatan kita.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kita memulai rangkaian katekese baru tentang Konsili Vatikan II dengan mempertimbangkan Dei Verbum, Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi. Sebagaimana bacaan Kitab Suci hari ini mengingatkan kita, Yesus menyebut kita sahabat karena Ia telah mengungkapkan kepada kita segala sesuatu yang telah Ia dengar dari Bapa. Melalui Wahyu, yang mencapai kepenuhannya dalam Yesus, Sabda yang menjadi daging, kita diundang untuk ambil bagian dalam kehidupan Allah sebagai anak-anak-Nya dalam Kristus. Kita diingatkan bahwa persahabatan dengan Allah bukan hanya sebuah karunia, tetapi juga sebuah undangan yang membutuhkan tanggapan, seperti dalam hubungan apa pun. Untuk memupuk persahabatan ini, kita harus meluangkan waktu bersama Allah dalam doa, baik secara pribadi maupun terutama melalui Liturgi, di mana komunitas berkumpul untuk mendengarkan sabda Allah dengan bimbingan Gereja. Bersama-sama, marilah kita menanggapi undangan Tuhan dengan segenap hati dan menemukan dalam persahabatan dengan Dia misteri keselamatan sejati kita.

 

[Sapaan Khusus]

 

Pagi ini saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, terutama mereka yang datang dari Irlandia, Australia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kepada kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kamu semua!
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 14 Januari 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 11 Januari 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Pesta Pembaptisan Tuhan, yang kita rayakan hari ini, menandai dimulainya Masa Biasa. Masa liturgi ini mengajak kita untuk bersama-sama mengikuti Tuhan, mendengarkan sabda-Nya, dan meneladan tindakan kasih-Nya kepada sesama. Dengan demikian, kita meneguhkan dan memperbarui pembaptisan kita, sakramen yang menjadikan kita umat kristiani, membebaskan kita dari dosa dan mengubah rupa diri kita menjadi anak-anak Allah melalui kuasa Roh kehidupan-Nya.

 

Bacaan Injil hari ini menceritakan bagaimana tanda rahmat yang mujarab ini terjadi. Ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes di Sungai Yordan, ia melihat “Roh Allah turun seperti burung merpati dan hinggap di atas-Nya” (Mat 3:16). Pada saat yang sama, dari surga, suara Bapa bergema, “Inilah Anak-Ku yang terkasih” (ayat 17). Pada saat ini, seluruh keilahian hadir dalam sejarah: sama seperti sang Anak turun ke air Sungai Yordan, Roh Kudus turun ke atas-Nya dan, melalui Dia, diberikan kepada kita sebagai kuasa keselamatan.

 

Saudara-saudara terkasih, Allah tidak memandang dunia dari jauh, tidak acuh dengan hidup, masalah, atau pengharapan kita! Sebaliknya, Ia datang di antara kita dengan hikmat sabda-Nya yang menjadi daging, menarik kita ke dalam rencana kasih yang menakjubkan bagi seluruh umat manusia.

 

Inilah sebabnya Yohanes Pembaptis, yang dipenuhi keheranan, bertanya kepada Yesus, “Engkau datang kepada-Ku?” (ayat 14). Ya, dalam kekudusan-Nya, Tuhan membiarkan diri-Nya dibaptis seperti orang berdosa, untuk mengungkapkan belas kasihan Allah yang tak terbatas. Sang Putra tunggal, yang di dalam Dia kita adalah saudara dan saudari, datang untuk melayani ketimbang menguasai, menyelamatkan ketimbang menghukum. Dialah Kristus Sang Penebus. Dia memikul apa yang seharusnya kita pikul, termasuk dosa kita, dan memberi kita apa seharusnya menjadi milik-Nya: rahmat kehidupan baru dan kekal.

 

Sakramen Baptis menjadikan peristiwa ini hadir di setiap waktu dan tempat, menyambut kita masing-masing ke dalam Gereja, umat Allah, yang terdiri dari orang-orang dari segala bangsa dan budaya yang dilahirkan kembali oleh Roh-Nya. Karena itu, marilah kita dedikasikan hari ini untuk mengingat karunia besar yang telah kita terima, dan berkomitmen untuk memberikan kesaksian tentangnya dengan sukacita dan ketulusan. Baru hari ini, saya membaptis beberapa bayi yang baru lahir yang telah menjadi saudara dan saudari kita dalam iman. Betapa indahnya merayakan kasih Allah – yang memanggil kita dengan nama dan membebaskan kita dari kejahatan – sebagai satu keluarga! Sakramen pertama ini adalah tanda suci yang menyertai kita selamanya. Di saat-saat kegelapan, baptisan adalah terang; dalam konflik kehidupan, baptisan merupakan rekonsiliasi; pada saat kematian, baptisan merupakan gerbang menuju surga.

 

Marilah kita berdoa bersama, memohon kepada Bunda Maria untuk menguatkan iman kita dan misi Gereja setiap hari.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Sebagaimana telah saya sebutkan, mengikuti kebiasaan pada Pesta Pembaptisan Tuhan, pagi ini saya membaptis beberapa bayi yang baru lahir dari para pegawai Takhta Suci. Sekarang saya ingin menyampaikan berkat saya kepada semua anak yang telah menerima atau akan menerima baptisan selama hari-hari ini – di Roma dan di seluruh dunia – dengan mempercayakan mereka kepada perlindungan keibuan Perawan Maria. Secara khusus, saya berdoa untuk anak-anak yang lahir dalam keadaan sulit, baik karena kondisi kesehatan maupun bahaya eksternal. Semoga rahmat baptisan, yang menyatukan mereka dengan misteri Paskah Kristus, berbuah dalam hidup mereka dan dalam kehidupan keluarga mereka.

 

Pikiran saya tertuju pada situasi yang saat ini terjadi di Timur Tengah, khususnya di Iran dan Suriah, di mana ketegangan yang berkelanjutan terus merenggut banyak nyawa. Saya berharap dan berdoa agar dialog dan perdamaian dapat dipupuk dengan sabar demi kebaikan bersama seluruh masyarakat.

 

Di Ukraina, serangan-serangan baru – terutama serangan-serangan berat yang menargetkan infrastruktur energi seiring dengan semakin dinginnya cuaca – telah menimbulkan korban jiwa yang besar di kalangan penduduk sipil. Saya berdoa untuk mereka yang menderita dan kembali menyerukan untuk mengakhiri kekerasan dan upaya-upaya baru dalam mencapai perdamaian.

 

Dan sekarang saya menyapa kamu semua: umat Roma dan para peziarah yang hadir hari ini di Lapangan Santo Petrus. Grazie, terima kasih, muchas gracias!

 

Saya menyapa secara khusus kelompok dari Sekolah Everest Madrid dan lembaga Bambini Fratelli dari Guadalajara, Meksiko: Dejemos que los niños sueñen.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu yang penuh berkat dan kebahagiaan untuk kamu semua!
______

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Januari 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 7 Januari 2026 : KONSILI VATIKAN II MELALUI DOKUMEN-DOKUMENNYA. KATEKESE PENGANTAR

Saudara-saudari, selamat pagi dan selamat datang!

 

Pada Tahun Yubileum kita telah berfokus pada misteri kehidupan Yesus. Kini kita akan memulai rangkaian katekese baru yang akan didedikasikan untuk Konsili Vatikan II dan pembacaan ulang dokumen-dokumennya. Suatu kesempatan berharga untuk menemukan kembali keindahan dan pentingnya peristiwa gerejawi ini. Santo Yohanes Paulus II, pada akhir Yubileum 2000, menyatakan, “Saya merasa lebih dari sebelumnya berkewajiban untuk menunjukkan Konsili sebagai rahmat besar yang diberikan kepada Gereja pada abad kedua puluh” (Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte, 57).

 

Bersamaan dengan peringatan Konsili Nicea, pada tahun 2025 kita memperingati tujuh puluh tahun Konsili Vatikan II. Meskipun waktu yang memisahkan kita dari peristiwa ini tidak begitu lama, juga benar adanya generasi uskup, teolog, dan umat beriman Konsili Vatikan II tidak lagi bersama kita. Oleh karena itu, selain kita mendengar seruan untuk tidak membiarkan nubuatnya memudar, terus mencari cara dan sarana untuk menerapkan wawasannya, mengenalnya kembali secara saksama, dan melakukannya bukan melalui "desas-desus" atau penafsiran yang telah diberikan, tetapi dengan membaca ulang dokumen-dokumennya dan merenungkan isinya juga penting. Sesungguhnya, Magisterium masih menjadi bintang penuntun perjalanan Gereja saat ini. Berkaitan dengan hal ini, Paus Benediktus XVI mengajarkan, "Seiring berjalannya waktu, dokumen-dokumen Konsili Vatikan II tidak kehilangan relevansinya; bahkan, ajaran-ajarannya terbukti sangat relevan dengan situasi baru Gereja dan masyarakat global saat ini" (Wejangan Pertama di Akhir Konselebrasi Ekaristi dengan Anggota Dewan Kardinal, 20 April 2005).

 

Ketika Paus Santo Yohanes XXIII membuka Konsili pada 11 Oktober 1962, beliau menyebutnya sebagai fajar hari terang bagi seluruh Gereja. Karya dari banyak Bapa Gereja yang dikumpulkan dari Gereja-gereja di seluruh benua memang membuka jalan bagi masa gerejawi yang baru. Berkat kekayaan refleksi biblis, teologis, dan liturgis yang mencakup abad kedua puluh, Konsili Vatikan II menemukan kembali wajah Allah sebagai Bapa yang, di dalam Kristus, memanggil kita untuk menjadi anak-anak-Nya; Konsili memandang Gereja dalam terang Kristus, terang bangsa-bangsa, sebagai misteri persekutuan dan sakramen persatuan antara Allah dan umat-Nya; Konsili memulai reformasi liturgis yang penting, menempatkan di pusatnya misteri keselamatan dan partisipasi aktif dan sadar dari seluruh Umat Allah. Pada saat yang sama, Konsili membantu kita untuk membuka diri terhadap dunia dan merangkul perubahan serta tantangan zaman modern dalam dialog dan tanggung jawab bersama, sebagai Gereja yang ingin membuka tangannya kepada umat manusia, menyuarakan pengharapan dan kecemasan bangsa-bangsa, dan bekerjasama membangun masyarakat yang lebih adil dan bersaudara.

 

Berkat Konsili Vatikan II, Gereja “memiliki sesuatu untuk dikatakan, sebuah pesan untuk disampaikan, sebuah komunikasi untuk dilakukan” (Santo Paulus VI, Ensiklik Ecclesiam Suam, 65), berupaya mengupayakan kebenaran melalui dialog ekumenis dan lintas agama, serta dialog dengan orang-orang yang berkehendak baik.

 

Semangat ini, disposisi batin ini, harus menjadi ciri khas kehidupan spiritual kita dan aksi pastoral Gereja, karena kita masih harus mencapai reformasi gerejawi secara lebih penuh dalam arti pelayanan dan, dalam menghadapi tantangan saat ini, kita dipanggil untuk terus menjadi penafsir yang waspada terhadap tanda-tanda zaman, pewarta Injil yang penuh sukacita, saksi keadilan dan perdamaian yang berani. Pada awal Konsili, Mgr. Albino Luciani, yang kemudian menjadi Paus Yohanes Paulus I, sebagai Uskup Vittorio Veneto, menulis secara kenabian, “Seperti biasa, ada kebutuhan untuk mencapai bukan sekadar organisasi atau metode atau struktur, tetapi kekudusan yang lebih dalam dan lebih luas. ... Mungkin buah-buah Konsili yang sangat baik dan melimpah akan terlihat setelah berabad-abad dan akan matang dengan bersusah payah mengatasi konflik dan situasi yang merugikan”.[1] Menemukan kembali Konsili, sebagaimana dikatakan Paus Fransiskus, membantu kita untuk “mengembalikan keutamaan kepada Allah, kepada apa yang hakiki: kepada Gereja yang sangat mengasihi Tuhannya dan semua orang yang dikasihi-Nya” (Homili pada peringatan enam puluh tahun dimulainya Konsili Vatikan II, 11 Oktober 2022).

 

Saudara-saudari, kata-kata Santo Paulus VI kepada para Bapa Konsili di akhir masa jabatannya tetap menjadi prinsip penuntun kita saat ini. Beliau menegaskan bahwa telah tiba waktunya untuk meninggalkan sidang Konsili dan pergi menuju umat manusia untuk menyampaikan kabar baik Injil, dengan kesadaran bahwa mereka telah mengalami masa rahmat di mana masa lalu, masa kini, dan masa depan terangkum: “Masa lalu: karena di sini, berkumpul di tempat ini, kita memiliki Gereja Kristus dengan tradisi, sejarah, konsili-konsili, para pujangga, para kudusnya; masa kini, karena kita saling berpamitan untuk pergi menuju dunia saat ini dengan kesengsaraan, penderitaan, dan dosa-dosanya, tetapi juga dengan pencapaiannya yang luar biasa, nilai-nilai dan kebajikannya; dan terakhir, masa depan ada di sini dalam seruan yang sangat mendesak akan keadilan dari bangsa-bangsa di dunia, keinginan mereka akan perdamaian, dahaga mereka, entah disadari atau tidak, akan kehidupan yang lebih baik, kehidupan yang justru dapat dan ingin diberikan oleh Gereja Kristus kepada mereka” (Santo Paulus VI, Pesan kepada Para Bapa Konsili, 8 Desember 1965).

 

Hal ini juga berlaku bagi kita. Saat kita mendekati dokumen-dokumen Konsili Vatikan II dan menemukan kembali relevansi kenabian dan kemasakiniannya, kita menyambut kekayaan tradisi kehidupan Gereja dan, pada saat yang sama, kita mempertanyakan diri kita sendiri tentang masa kini dan memperbarui sukacita kita dalam berlari menuju dunia untuk membawa Injil kerajaan Allah, kerajaan kasih, keadilan, dan damai.

 

 [Sapaan Khusus]

 

Pagi ini saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya mereka yang berasal dari Inggris, Irlandia, Australia, Kanada, dan Amerika Serikat. Kepada kamu semua dan keluargamu, saya menyampaikan doa dan harapan baik untuk masa Natal yang penuh berkah serta tahun baru yang penuh sukacita dan kedamaian. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita memulai rangkaian katekese baru yang didedikasikan untuk Konsili Vatikan II dan untuk merefleksikan dokumen-dokumennya. Karya para Bapa Konsili membuka jalan bagi masa gerejawi baru, dengan berpusat pada misteri keselamatan dan kesatuan antara Allah dan umat-Nya. Pada saat yang sama, Konsili membuka Gereja untuk mengupayakan dialog dengan orang-orang yang berkehendak baik demi dunia yang lebih adil dan bersaudara. Kita melihat bahwa dokumen-dokumen tersebut tidak kehilangan relevansinya dan tetap relevan dengan tuntutan dan tantangan masa kini. Mempelajari dokumen-dokumen Konsili secara saksama akan membantu kita menjadi penafsir yang cermat terhadap tanda-tanda zaman, dan mewartakan Injil kepada semua orang. Saat kita melakukan perjalanan untuk menemukan kembali ajaran-ajaran Konsili Vatikan II, marilah kita menyambut masa lalu dengan kekayaan tradisinya; marilah kita memikirkan masa kini dengan suka dan dukanya; dan marilah kita menatap masa depan dengan seruan mendesak untuk keadilan, kasih, dan perdamaian yang lebih besar.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 7 Januari 2026)



[1]A. Luciani – Yohanes Paulus I, Catatan tentang Konsili, dalam Opera omnia, vol. II, Vittorio Veneto 1959-1962. Discorsi, scritti, articoli, Padua 1988, 451-453.