Saudara-saudari
terkasih, selamat hari Minggu!
Liturgi
hari ini mewartakan sebuah perikop yang indah dari Kabar Baik yang diwartakan
Yesus kepada segenap umat manusia: Injil Sabda Bahagia (Mat 5:1-12).
Sesungguhnya, Sabda Bahagia adalah terang yang dinyalakan Tuhan dalam kegelapan
sejarah, mengungkapkan rencana keselamatan yang digenapi Bapa melalui Putra,
dengan kuasa Roh Kudus.
Di
atas bukit, Kristus memberikan hukum baru kepada murid-murid-Nya, yang tidak
lagi tertulis di atas loh batu. Hukum tersebut memperbarui hidup kita dan
menjadikannya baik, bahkan ketika dunia tampaknya telah mengecewakan kita dan
penuh dengan penderitaan. Hanya Allah yang benar-benar dapat menyebut orang
miskin dan tertindas berbahagia (bdk. ayat 3-4), karena Dia adalah kebaikan
tertinggi yang memberikan diri-Nya kepada semua orang dengan kasih yang tak
terbatas. Hanya Allah yang dapat memuaskan mereka yang mencari damai dan
keadilan (bdk. ayat 6:9), karena Dia adalah hakim yang adil atas dunia dan
pencipta damai abadi. Hanya di dalam Allah orang-orang yang lemah lembut,
berbelaskasihan, dan suci hatinya menemukan sukacita (ayat 5:7-8), karena
Dialah penggenapan pengharapan mereka. Dalam penganiayaan, Allah adalah sumber
penebusan; dalam kebohongan, Dia adalah sauh kebenaran. Karena itu, Yesus
menyatakan: “Bersukacita dan bergembiralah!” (ayat 12).
Sabda
Bahagia ini tetap sebuah paradoks hanya bagi mereka yang percaya bahwa Allah
berbeda dibandingkan sebagaimana dinyatakan Kristus. Mereka yang mengharapkan
orang-orang yang sombong selalu memerintah bumi terkejut dengan kata-kata
Tuhan. Mereka yang terbiasa berpikir bahwa kebahagiaan hanya milik orang kaya
mungkin percaya bahwa Yesus sedang tertipu. Namun, penipuan itu justru terletak
pada kurangnya iman kepada Kristus. Dialah orang miskin yang berbagi hidup-Nya
dengan semua orang, orang yang lemah lembut yang bertahan dalam penderitaan,
pembawa damai yang dianiaya hingga mati di kayu salib.
Dengan
cara ini, Yesus menerangi makna sejarah. Sejarah tidak lagi ditulis oleh para
penakluk, melainkan oleh Allah, yang mampu mewujudkannya dengan menyelamatkan
orang-orang yang tertindas. Sang Putra memandang dunia melalui kasih Bapa. Di
sisi lain, sebagaimana dikatakan Paus Fransiskus, ada "para ahli khayalan.
Kita tidak boleh mengikuti mereka karena mereka tidak mampu memberi kita
pengharapan" (Doa Malaikat Tuhan, 17 Februari 2019). Sebaliknya, Allah
memberikan pengharapan ini terutama kepada orang-orang yang oleh dunia dianggap
tidak memiliki pengharapan.
Oleh
karena itu, saudara-saudari terkasih, Sabda Bahagia menjadi ukuran kebahagiaan
kita, yang menuntun kita untuk bertanya apakah kita menganggapnya sebagai
pencapaian yang harus dibeli atau karunia yang harus dibagikan; apakah kita
menempatkannya pada benda-benda yang dikonsumsi atau pada hubungan yang
menyertai kita. Sesungguhnya karena Kristus (bdk. Mat 5:11) dan berkat Dia,
pahitnya pencobaan diubah rupa menjadi sukacita orang-orang yang ditebus. Yesus
tidak berbicara tentang penghiburan yang jauh, tetapi tentang rahmat yang tetap
yang selalu menopang kita, terutama di masa-masa kesukaran.
Sabda
Bahagia meninggikan orang yang rendah dan menyadarkan orang-orang yang congkak
hati dalam pikiran terdalam mereka (bdk. Luk 1:51). Karena itu, kita memohon
perantaraan Perawan Maria, hamba Tuhan, yang oleh segala keturunan disebut
berbahagia.
[Setelah pendarasan
doa Malaikat Tuhan]
Saudara-saudari
terkasih,
Saya
telah menerima kabar yang sangat mengkhawatirkan mengenai peningkatan
ketegangan antara Kuba dan Amerika Serikat, dua negara tetangga. Saya
menggemakan pesan para uskup Kuba, mengajak semua pihak yang bertanggung jawab
untuk mempromosikan dialog yang tulus dan efektif, guna menghindari kekerasan
dan setiap tindakan yang dapat meningkatkan penderitaan rakyat Kuba yang
terkasih. Semoga Bunda Maria dari Caridad del Cobre membantu dan melindungi
semua anak-anak negeri tercinta itu!
Jumat
depan, Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina akan dimulai, diikuti oleh
Paralimpiade. Saya menyampaikan harapan terbaik saya kepada para penyelenggara
dan semua atlet. Acara olahraga besar ini mengirimkan pesan persaudaraan yang
kuat dan membangkitkan kembali harapan akan dunia yang damai. Inilah juga makna
dari gencatan senjata Olimpiade, sebuah kebiasaan kuno yang menyertai
Olimpiade. Saya mengharapkan semua orang yang peduli dengan perdamaian
antarbangsa dan berada di posisi berwenang akan mengambil kesempatan ini untuk
melakukan tindakan nyata berupa peredaan ketegangan dan dialog.
Hari
ini di Italia dirayakan Hari Nasional untuk Korban Sipil Perang dan Konflik di
Seluruh Dunia. Sayangnya, prakarsa ini masih sangat relevan. Setiap hari ada
lebih banyak korban sipil akibat aksi bersenjata, aksi yang secara terbuka
melanggar moralitas dan hukum. Mereka yang tewas dan terluka kemarin dan hari
ini akan benar-benar dihormati ketika ketidakadilan yang tak tertahankan ini
berakhir.
Saya
meyakinkanmu akan doa saya untuk para korban meninggal dan mereka yang
menderita akibat badai yang melanda Portugal dan Italia selatan dalam beberapa
hari terakhir. Jangan juga kita lupakan rakyat Mozambik yang sangat terdampak
banjir.
Salam
hangat untuk kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara!
Secara
khusus, saya senang menyapa anggota gerakan Luce-Vita dari Keuskupan Siedlce,
Polandia, yang didampingi oleh Uskup Auksiler mereka. Saya menyapa kelompok
umat dari Paraná Argentina, Chojnice, Warsawa, Wrocław, dan Wagrowiec Polandia,
Pula dan Sinj Kroasia, Kota Guatemala dan San Salvador, serta para siswa dari
Institut Rodríguez Moñino Badajoz dan mereka yang berasal dari Cuenca, Spanyol.
Saya juga menyapa umat yang berdevosi kepada Bunda Maria Mukjizat dari
Corbetta, dekat Milan.
Saya
mengucapkan terima kasih dari lubuk hati saya atas doa-doamu dan selamat hari
Minggu kepada semuanya!
______
(Peter Suriadi - Bogor, 1 Februari 2026)



