Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT 16 Agustus 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Kemarin kita merenungkan sosok Santa Perawan Maria dalam ikatan tak terputuskan dengan Putranya. Bahkan kematian pun tidak dapat memisahkan kesatuan dua pribadi tersebut — baik jiwa maupun raga — yang merupakan kehidupan kekal. Setiap hari Minggu mengingatkan kita bahwa kepenuhan yang sama juga diperuntukkan bagi orang-orang yang mengikuti Yesus. Kebangkitan-Nya bukanlah peristiwa masa lampau, melainkan kehidupan baru yang merangkul kita.

 

Hal ini ditunjukkan hari ini oleh perempuan Kanaan, tokoh utama dalam Bacaan Injil yang dibacakan saat Misa (bdk. Mat 15:21-28). Meskipun ia bukan bagian dari umat-Nya dan tinggal di negeri asing, ia dengan gigih berusaha berbicara kepada Yesus, mengikuti-Nya layaknya seorang murid yang telah memiliki ikatan batin dengan-Nya. Mereka mungkin belum pernah bertemu sebelumnya, namun secara misterius, iman telah berakar dalam dirinya. Ia tidak menginginkan apa pun bagi dirinya, melainkan kedamaian bagi anak perempuannya yang sedang menderita. Ia menaruh kepercayaan kepada Yesus, yang diakui-Nya sebagai Mesias, keturunan Daud (bdk. ayat 22).

 

Penulis Injil tidak menyembunyikan hambatan yang dihadapi perempuan ini. Para murid menganggapnya sebagai gangguan, dan Yesus sendiri menanggapi permohonannya dengan sikap menolak. Sang Guru sebenarnya telah pergi dari situ dan menyingkir (bdk. ayat 21), dan kita dapat membayangkan bahwa, seperti pada kesempatan-kesempatan lain, Ia sedang mencari tempat yang sunyi untuk berdoa dan mengajar murid-murid-Nya. Namun, pada saat itu, sesuatu yang tak terduga terjadi. Dengan merefleksikan hal ini, kita dapat memahami ketaatan Yesus dalam menjalankan perutusan-Nya dengan membiarkan diri-Nya tergerak oleh apa yang Ia lihat dan dengar. Akhirnya, Ia berkata kepadanya: "Hai Ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki" (ayat 28).

 

Bahkan saat ini, Gereja dapat dikejutkan oleh karya Allah dan menyebarkan damai sejahtera Kristus melampaui batas-batas yang telah ditetapkan. Perutusannya didahului oleh rahmat ilahi yang bekerja di lubuk hati nurani kita, sehingga dalam setiap perjumpaan — bahkan yang mengacaukan rencana kita — kita dipanggil untuk mendengarkan dengan saksama seraya membuka mata dan hati terhadap apa yang ingin disampaikan Allah kepada kita.

 

Dari perempuan Kanaan tersebut kita belajar tentang kerendahan dan keteguhan hati. Berkat imannya, kita belajar bahwa perjamuan Allah tersedia bagi semua orang dan tidak ada seorang pun yang hanya mendapatkan remah-remah (bdk. ayat 26-27), karena setiap orang memiliki tempatnya sendiri di hadapan Bapa. Dalam terang iman ini, kesenjangan, diskriminasi, dan berbagai penghalang yang menginjak-injak martabat begitu banyak putra-putri Allah menjadi hal yang tak tertahankan.

 

Saudara-saudari terkasih, kita adalah Gereja Yesus Kristus di tengah dunia yang sedang dilanda kesulitan; dunia yang mendambakan kedamaian. Marilah kita memohon kepada Maria, Bunda kita, untuk menjadi perantara kita, "karena dari bibirnyalah dikumandangkan 'madah terkuat dan paling inovatif yang pernah diucapkan, yaitu Magnificat'" (Magnifica Humanitas, 244). Nyanyian seseorang yang kini memandang kenyataan melalui mata Allah dan, oleh karenanya, tidak kehilangan harapan serta bertindak dalam kasih.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari sekalian,

 

Saya kembali mengimbau diakhirinya kekerasan yang terus berlangsung terhadap penduduk sipil Palestina di Tepi Barat, dan saya mendesak komunitas internasional untuk berupaya memajukan solusi dua negara demi terwujudnya perdamaian yang adil dan abadi.

 

Pekan Olahraga Mediterranean akan dimulai pekan ini di Taranto. Ajang ini akan melibatkan berbagai negara Afrika, Asia, dan Eropa yang merupakan bagian dari kawasan Mediterania. Saya berharap ajang olahraga ini akan menjadi tanda perdamaian dan persahabatan di antara bangsa-bangsa di kawasan ini dan seluruh dunia.

 

Dan sekarang, saya menyapa kamu semua yang telah berkumpul di sini, di Castel Gandolfo, untuk doa Malaiakat Tuhan hari Minggu.

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dari berbagai negara. Saat menyapa para peziarah dari Polandia, saya menyampaikan berkat bagi banyak perempuan yang berpartisipasi dalam ziarah tradisional ke Tempat Ziarah Piekary Śląskie, di Silesia Hulu.

 

Saya ucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 16 Agustus 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 15 Agustus 2026

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Hari ini kita merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga. Perayaan ini sangat penting, baik bagi teologi Katolik maupun bagi kesalehan umat. Sungguh, perayaan ini sangat dijunjung tinggi di banyak komunitas, terutama di tempat-tempat di mana katedral atau gereja paroki didedikasikan bagi Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga.

 

Untuk merenungkan misteri iman ini, kita dapat menilik dua model ikonografi yang telah digunakan oleh para seniman selama berabad-abad untuk menggambarkan peristiwa ini.

 

Model pertama — yang juga merupakan model tertua dan satu-satunya yang digunakan selama hampir satu milenium — menggambarkan Dormitio (Tertidurnya) Bunda Allah. Ia digambarkan sedang berbaring di atas keranda, tertidur dalam kematian; di sekelilingnya tampak para Rasul yang tergerak untuk menghormatinya dalam doa; dan di tengah-tengahnya terdapat Yesus yang telah bangkit, sedang menggendong jiwa Maria layaknya seorang bayi yang baru lahir. Yesus datang untuk membawa Maria agar bersatu dengan-Nya dalam kemuliaan Allah, yang kita sebut sebagai surga. Dengan demikian, Tuhan menggenapi bagi Bunda-Nya apa yang telah Ia janjikan kepada semua sahabat-Nya: "Apabila Aku telah pergi dan menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat Aku berada, kamu pun berada" (Yoh 14:3).

 

Model pertama ini menyoroti kebenaran yang paling utama. Setelah wafat dan bangkit, Kristuslah yang menuntun kita menuju tujuan penciptaan kita, yakni kehidupan kekal. Inilah yang telah direnungkan oleh berbagai generasi umat beriman saat berdoa di hadapan ikon Dormitio, dan yang dapat dikagumi di Roma, pada mosaik megah di bagian apsis (ceruk besar berbentuk setengah lingkaran) Basilika Santa Maria Maggiore.

 

Tradisi ikonografi yang lebih baru, yang berkembang kemudian di Barat, menampilkan sosok Perawan Maria secara utuh di surga, diliputi cahaya, serta kerap dikelilingi oleh para malaikat dan para kudus. Di tengah gambar tersebut tampak tubuh Perawan Maria yang telah dimuliakan, selaras dengan apa yang tertulis dalam Kitab Wahyu: "Kemudian tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya" (Why 12:1).

 

Beberapa seniman telah memadukan kedua gagasan tersebut dengan menampilkan sosok Perawan yang mulia di bagian atas gambar dan makamnya yang kosong — sering kali dipenuhi bunga beraneka warna — di bagian bawah, sementara para Rasul menatap ke arahnya di surga.

 

Model kedua ini menyoroti kebenaran bahwa Maria diangkat ke surga dengan tubuh dan jiwanya, yakni dalam keutuhan pribadinya. Sosok perempuan yang semasa di bumi memberikan daging dan darah bagi Sabda yang menjadi manusia serta mengikuti-Nya hingga mencapai persatuan sempurna dalam kurban kasih, kemudian ditarik oleh-Nya selama-lamanya ke dalam kemuliaan.

 

Dengan demikian, ikonografi ini memungkinkan kita untuk merenungkan tujuan akhir kita. Kepenuhan hidup — yang hari ini kita kagumi dengan penuh sukacita dalam diri Maria — juga menanti kita pada akhir zaman; saat Kristus yang bangkit, sebagaimana dikatakan Santo Paulus, "akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia" (Flp 3:21), serta yang dapat binasa mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati mengenakan yang tidak dapat mati (bdk. 1Kor 15:54). Kelak, dengan tubuh kita yang telah diubah rupa oleh kasih Sang Penebus, kita akan hidup selama-lamanya dalam perayaan yang tiada berkesudahan.

 

Marilah kita memuji Tuhan, yang telah melakukan perkara-perkara besar dalam diri Bunda-Nya yang kudus — yang juga menjadi Bunda kita!

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Santa Perawan Maria, yang diangkat ke dalam kemuliaan surga, merupakan tanda harapan dan penghiburan bagi seluruh umat Allah. Oleh karena itu, hari ini saya ingin memohon perantaraan keibuannya bagi komunitas-komunitas yang sangat membutuhkan penghiburan dan pembaruan harapan. Secara khususnya pikiran saya tertuju kepada saudara-saudari kita di Tanah Suci, yang juga merupakan Tanah Maria. Pikiran saya juga tertuju kepada bangsa Ukraina dan Rusia — yang keduanya dipersatukan oleh devosi bakti kepada Santa Bunda Allah — serta kepada umat kristiani yang mengalami diskriminasi atau bahkan penganiayaan.

 

Saya terus mendoakan rakyat Kolombia yang sedang menderita akibat gempa bumi. Saya menyatakan solidaritas bagi komunitas-komunitas ini dan bagi semua orang yang hidup dalam situasi sulit, dan bersama mereka saya berdoa: "Santa Maria, doakanlah kami!"

 

Saya menyapamu, umat beriman di Castel Gandolfo serta para peziarah yang datang dari Italia dan negara-negara lain. Terima kasih atas kehadiran dan doa-doamu!

 

Saya berharap semoga setiap orang dapat menikmati waktu istirahat untuk memulihkan kembali tenaga dan semangat — mungkin dengan membaca buku yang bermanfaat atau menikmati keindahan alam.

 

Selamat merayakan hari ini dengan sukacita, dan sampai jumpa besok!

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Agustus 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 12 AGUSTUS 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. III. KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM. 6. TAHUN LITURGI

Saudara-saudari yang terkasih,


Konstitusi Konsili Sacrosanctum Concilium (SC) bab lima dikhususkan untuk tahun liturgi, sebuah tema yang ingin kita bahas hari ini untuk menjelaskan nilainya dalam kehidupan setiap orang beriman.

 

Pertama, perlu dicatat bahwa cara menyebut lingkaran perayaan kristiani sebagai "tahun liturgi" ini menjadi lazim dalam bahasa gerejawi berkat karya Hamba Allah, Abbas Prosper Guéranger (1805–1875).

 

Dalam Ensiklik Mediator Dei, Paus Pius XII menyatakan bahwa tahun liturgi “bukanlah sekadar penggambaran peristiwa masa lampau yang dingin dan tak bernyawa, ataupun sekadar … catatan tentang zaman yang telah berlalu. Tahun liturgi justru merupakan Kristus sendiri yang senantiasa hidup di dalam Gereja-Nya. Di sini, Ia melanjutkan perjalanan penuh belas kasih yang telah Ia awali dengan penuh kasih semasa hidup-Nya di dunia … dengan tujuan agar manusia mengenal misteri-misteri-Nya dan menghayatinya dalam hidup mereka. Misteri-misteri ini senantiasa hadir dan berkarya” (III Divinum Officium et Annus Liturgicus, II Cyclus Mysteriorum). Dengan demikian, tahun liturgi hendaknya dipahami sebagai pembaruan terus-menerus atas karya keselamatan yang dilaksanakan Kristus dalam sejarah. Saat menempuh perjalanan melalui lingkaran waktu ini, Gereja senantiasa terhubung dengan karya penebusan Tuhan, agar seluruh umat beriman dapat dipenuhi dengan rahmat-Nya (bdk. SC, 102c).

 

Perjumpaan dengan Yesus, yang wafat dan bangkit kembali demi kita, adalah tujuan yang senantiasa diupayakan oleh Gereja, dengan menempatkan perayaan peristiwa Paskah sebagai pusat dari setiap saat.

 

Oleh karena itu, para Bapa Konsili memandang hari Minggu — "pangkal segala hari pesta" — sebagai "dasar dan inti segenap tahun liturgi" (bdk. SC, 106). Dalam berbagai bahasa modern, namanya menunjukkan bahwa hari itu adalah *dies Domini*, "hari Tuhan". Bahkan dalam bahasa-bahasa yang lebih mengutamakan sebutan "hari matahari" (Sunday, Sonntag), hubungan dengan Kristus tetap dapat dikenali: Kristus adalah "matahari kebenaran" sejati yang menerangi setiap orang!

 

Santo Yohanes Paulus II, dalam Surat Apostolik Dies Domini (31 Mei 1998), mengajarkan bahwa hari Minggu adalah hari Tuhan, hari Gereja, hari manusia, dan pada akhirnya, "hari dari segala hari". "Karena hari Minggu merupakan Paskah mingguan — yang mengenangkan dan menghadirkan kembali hari saat Kristus bangkit dari antara orang mati — hari ini juga menyingkapkan makna waktu. ... Berawal dari kebangkitan, hari ini melintasi waktu manusiawi — bulan, tahun, dan abad — bagaikan anak panah penunjuk arah yang mengarahkannya pada tujuan akhirnya: kedatangan Kristus yang kedua. Hari Minggu menjadi bayangan awal bagi hari terakhir, yakni hari parusia" (75), saat kita semua akan bangkit kembali.

 

Untuk menguduskan hari Minggu, merayakan Ekaristi adalah hal yang mendasar. Mendengarkan Sabda dan menyambut tubuh Kristus — menurut para Bapa Konsili — mengandaikan adanya perhimpunan in unum (bdk. SC, 106), yakni berkumpulnya umat beriman dengan penuh sukacita. Dalam perhimpunan ini, komunitas Kristiani mewujudkan persekutuannya dengan Tuhan serta memberikan kesaksian bahwa mereka adalah milik Kristus dan setia kepada Gereja. Perhimpunan ini tidak dapat digantikan oleh kehadiran yang semata-mata bersifat virtual, ataupun direduksi menjadi sekadar pertemuan yang pasif. Sesungguhnya, perhimpunan liturgis terlaksana melalui partisipasi aktif saudara-saudari yang dipanggil bersama untuk “mengucap syukur kepada Allah, yang 'melahirkan mereka kembali ke dalam pengharapan
yang hidup berkat kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang
mati' (1Ptr 1:3)” (SC, 106).

 

Sehubungan dengan hal ini, saya mendorong semua pihak untuk mengupayakan kondisi terbaik agar mereka yang tidak dapat meluangkan waktu dari pekerjaan pada hari Minggu pun tetap dapat mengikuti Misa Kudus.

 

Saudara-saudari terkasih, tahun liturgi, yang ditandai oleh hari-hari Minggu, memiliki sejarah yang menarik di mana iman dan devosi Gereja saling terjalin. Sesungguhnya, sejak abad kedua Masehi, perayaan Paskah mingguan dilengkapi dengan perayaan Paskah tahunan — "hari raya agung Paskah" (SC, 102) — yang berlangsung selama masa penuh sukacita selama lima puluh hari, memuncak pada hari Pentakosta, dan dipersiapkan melalui masa Prapaskah yang bercorak pertobatan (bdk. SC, 109). Perkembangan masa Natal, yang terjadi kemudian dan meneladani masa Paskah, memungkinkan kita untuk menghayati kembali misteri Inkarnasi Sabda Allah, kelahiran-Nya, serta penampakan-Nya kepada dunia. Selanjutnya, Gereja memasukkan ke dalam berbagai masa tersebut penghormatan kepada Santa Perawan Maria, yang "secara tak terceraikan terlibat dalam karya penyelamatan Putranya" (SC, 103), serta "kenangan para martir dan para kudus lainnya" yang "
melambungkan pujian sempurna kepada Allah di surga serta
menjadi pengantara kita" (SC, 104).

 

Dengan demikian, tahun liturgi menghadirkan kembali — dalam bentuk sakramental — ajaran mengenai sejarah keselamatan, seraya membimbing umat beriman mulai dari penantian akan Mesias menuju kepenuhan misteri Paskah dan antisipasi akan kemuliaan di masa depan. Di dalamnya, Gereja merayakan relevansi keselamatan misteri Kristus, yang memampukan umat beriman untuk ambil bagian di dalamnya secara semakin mendalam. Oleh karena itu, tahun liturgi menjadi prinsip penuntun dan kerangka dasar bagi segala karya pastoral.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Malta dan Zimbabwe. Bagi kamu dan keluarga, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam rangkaian katekese kita yang berkelanjutan mengenai Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Liturgi, *Sacrosanctum Concilium*, hari ini kita merefleksikan tahun liturgi dan relevansinya bagi umat beriman. Tahun liturgi bukan sekadar gambaran statis peristiwa-peristiwa masa lampau, melainkan perjumpaan dengan Kristus sendiri, yang berkehendak untuk membawa umat-Nya menyelami misteri sejarah keselamatan. Hari kebangkitan Kristus dari antara orang mati merupakan inti dari tahun liturgi, sekaligus menjadi gambaran awal akan kedatangan Kristus yang kedua, saat kita semua akan bangkit kembali. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi umat beriman untuk menguduskan Hari Tuhan dengan berkumpul merayakan Ekaristi. Semoga partisipasi aktif dan kesaksian kita yang teguh membantu kita untuk semakin mendalami kenyataan bahwa kita adalah milik Kristus, dan semoga kita menantikan kedatangan-Nya dalam kemuliaan dengan penuh harapan.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Agustus 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 9 Agustus 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil hari ini mengisahkan Yesus yang mendatangi para murid-Nya dengan berjalan di atas air Danau Galilea di tengah badai (bdk. Mat 14:22-33).

 

Setelah mukjizat penggandaan roti dan ikan (bdk. Mat 14:13-21), Sang Guru meminta murid-murid-Nya untuk naik ke perahu dan berangkat, sementara Ia sendiri menepi ke gunung untuk berdoa. Begitu meninggalkan pantai, para murid mendapati diri mereka tak berdaya menghadapi angin sakal dan kesulitan untuk melaju. Setelah pengalaman luar biasa di mana mereka menjadi pelaku utama sebuah tanda ajaib, kini mereka merasa tak berdaya dan ketakutan menghadapi ancaman gelombang serta angin sakal.

 

Menjelang akhir malam, Yesus mendatangi mereka dengan berjalan di atas air yang bergelora; karena ketakutan, mereka mengira Dia adalah hantu (ayat 26). Namun, Ia berkata kepada mereka, "Tenanglah! Ini Aku, jangan takut!" (ayat 27). Kehadiran Tuhan mengubah segalanya: Petrus bahkan berhasil melangkah beberapa kali di atas gelombang menuju ke arah Yesus; namun kemudian, karena nyalinya menciut, ia mulai tenggelam, dan Yesus menyelamatkannya. Ketika Sang Guru akhirnya naik ke perahu, badai pun reda, dan sebuah pengakuan iman secara spontan muncul dari hati para murid: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah!" (ayat 33).

 

Untuk menyadari hal ini, tidaklah cukup bagi mereka sekadar menyaksikan mukjizat atau meraih keberhasilan di mata orang banyak; sebaliknya, mereka harus mengalami kelemahan diri sendiri dan, di tengah kelemahan itu, mengenali kehadiran Allah. Hanya pengalaman inilah yang mampu membuka mata dan hati mereka terhadap kedekatan-Nya, sehingga mereka dapat menemukan kedamaian bahkan di tengah badai.

 

Kelak, Yesus berkata kepada mereka, “Jika kamu percaya dan tidak bimbang... jika kamu berkata kepada gunung ini: Terangkatlah dan terbuanglah ke dalam laut! hal itu akan terjadi” (Mat 21:21). Hal ini serupa dengan apa yang mereka alami di danau: damai Kristus — yang sebelumnya berada di gunung untuk berdoa — menjangkau mereka di tengah amukan air.

 

Maka, mukjizat ini mengajarkan kita sesuatu yang penting. Pertama, agar kita tidak terlena oleh keberhasilan dan tidak pernah bersikap angkuh. Pada saat yang sama, agar kita tidak putus asa, bahkan di saat-saat kelam ketika kita merasa tak berdaya menghadapi masalah dan — meskipun telah berupaya — kita justru tampak mundur bukannya maju. Apa pun keadaannya, Yesus tidak meninggalkan kita; dan jika dengan rendah hati kita menyambut-Nya masuk ke dalam perahu kehidupan kita — melalui doa, sakramen, dan mendengarkan Sabda-Nya — maka di dalam Dia, kita akan menemukan damai, terang, dan kekuatan untuk perjalanan hidup kita.

 

Semoga Maria, yang dinyatakan berbahagia karena imannya (bdk. Luk 1:45), membantu kita untuk hidup dalam penyerahan diri yang penuh kepercayaan kepada Allah.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dengan penuh keprihatinan saya terus mengikuti situasi tragis di Sudan, khususnya di kota El-Obeid. Seraya mengungkapkan kedekatan rohani saya dengan seluruh rakyat negara tersebut, saya kembali mengimbau pihak-pihak yang berwenang untuk menjamin koridor kemanusiaan bagi penduduk sipil. Pada saat yang sama, saya mendesak masyarakat internasional untuk mendukung upaya-upaya yang bertujuan segera mewujudkan gencatan senjata. Marilah kita berdoa agar Tuhan menguatkan mereka yang sedang menderita, melunakkan hati mereka yang menebar kekerasan, serta menganugerahkan perdamaian yang telah lama dinantikan.

 

Laporan yang memprihatinkan mengenai orang-orang tak berdosa yang tewas dan terluka di Ukraina dan Rusia terus bermunculan. Peristiwa-peristiwa ini terjadi silih berganti — bahkan kian meningkat frekuensinya — sehingga mengakibatkan bertambahnya jumlah korban sipil, termasuk anak-anak. Doa dan simpati saya tertuju kepada keluarga korban, mereka yang terluka, serta semua pihak yang menderita akibat konflik yang masih berlangsung ini. Di tengah penderitaan yang begitu hebat ini, saya kembali mengimbau dengan sungguh-sungguh agar hukum kemanusiaan dihormati dan kedua belah pihak menghentikan serangan terhadap sasaran sipil. Perang hanya akan memicu perang lebih lanjut dan menimbulkan penderitaan yang luar biasa. Sudah saatnya mengakhiri lingkaran kekerasan yang kejam ini serta memberi ruang bagi diplomasi dan dialog, demi membuka jalan menuju perdamaian.

 

Dan kini, saya menyapa dengan hangat kamu semua, baik umat Roma maupun para peziarah dari berbagai negara!

 

Secara khusus saya menyapa kaum muda dari Komunitas Santa Maria Magdalena Keuskupan Agung Milan, yang telah menempuh perjalanan di jalur *Via Francigena* dari Siena menuju Roma; serta para anggota Pramuka dari Enna yang telah mengadakan perkemahan di kawasan perbukitan sekitar Roma; dan juga kaum muda dari Pernumia, Keuskupan Padua.

 

Kehadiran begitu banyak kelompok orang muda, yang memilih untuk meluangkan sebagian waktu liburan musim panas mereka bagi kegiatan pembinaan dan persahabatan, merupakan tanda harapan, sebagaimana halnya pertemuan kaum muda Fransiskan yang dengan sukacita saya jumpai Kamis lalu di Asisi.

 

Kepada kamu semua, kaum muda yang mendengarkan saya, saya ingin mengingatkan bahwa pada masa ini kalender liturgi menyajikan kepada kita teladan luar biasa dari para kudus; saya mengajakmu untuk mengenal mereka lebih dekat. Kemarin kita memperingati Santo Dominikus yang luar biasa, pendiri Ordo Pewarta; hari ini, Santa Teresa Benedikta dari Salib (Edith Stein), seorang biarawati Karmelit yang wafat di Auschwitz dan merupakan salah satu santa pelindung Eropa; besok, Santo Laurensius, diakon Gereja Roma; dan lusa, Santa Klara dari Asisi, yang meninggalkan kehidupan penuh kenyamanan demi mengikuti Yesus yang miskin dan rendah hati, mengikuti jejak langkah sesama warga kotanya, Santo Fransiskus. Kaum muda yang terkasih, perkenankanlah dirimu diinspirasi oleh para saksi Injil yang menjadi teladan ini!

 

Terima kasih kepada kamu semua yang telah hadir di sini, dan selamat menikmati hari Minggu yang penuh berkat!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 9 Agustus 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 5 AGUSTUS 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. III. KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM. 5. DOA GEREJA

Saudara-saudari, selamat pagi dan selamat datang!

 

Dalam katekese ini, kita akan melanjutkan refleksi kita tentang Konstitusi Konsili Vatikan II tentang liturgi, Sacrosanctum Concilium (SC). Hari ini kita akan melihat dimensi gerejawi dari doa liturgi.

 

Sebagaimana disarankan Rasul Paulus, Roh Kuduslah yang mengajari kita berdoa. Sejak hari Pentakosta, Roh Kudus berdiam di dalam Gereja, menginspirasi setiap aktivitasnya dan, khususnya, doa. Kehidupan komunitas perdana, yang lahir di Yerusalem setelah Paskah Yesus, adalah kehidupan dalam Roh yang diberikan oleh Tuhan yang telah bangkit. “Sejak itu Gereja tidak pernah lalai mengadakan pertemuan untuk merayakan misteri Paskah; di situ mereka membaca 'apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci' (Luk 24:27); mereka merayakan Ekaristi, yang 'menghadirkan kemenangan dan kejayaan-Nya atas maut', dan sekaligus mengucap syukur kepada 'Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan' (2Kor 9:15) dalam Kristus Yesus, 'untuk memuji keagungan-Nya' (Ef 1:12) dengan kekuatan Roh Kudus.” (SC, 6).

 

Di zaman kita, dalam konteks yang didominasi oleh pola pikir efisiensi dan konsumerisme, doa mungkin tampak tidak berarti dan sepele. Di dunia di mana sains dan teknologi mengklaim memberikan semua jawaban, berdoa mungkin tampak sebagai bentuk pelarian. Lebih jauh lagi, bahkan di banyak keluarga kristiani, tradisi doa tidak lagi diwariskan, sementara banyak orang berisiko menganggapnya hanya sebagai teknik psikologis lain yang bertujuan untuk kesejahteraan pribadi. Namun, doa, sebagai dimensi fundamental kemanusiaan kita, layak untuk ditemukan kembali dalam bentuknya yang sebenarnya.

 

Konstitusi Sacrosanctum Concilium menanggapi kebutuhan ini dengan serius. Hal ini sangat menyenangkan Paus Santo Paulus VI, yang, saat mengumumkan dokumen pertama yang disetujui oleh Konsili Vatikan II, menyatakan: “Allah adalah yang utama; doa adalah kewajiban utama kita; liturgi adalah sumber utama kehidupan ilahi yang dikomunikasikan kepada kita, sekolah utama kehidupan spiritual kita” (Wejangan, Basilika Santo Petrus, 4 Desember 1963).

 

Sesungguhnya, dalam Konstitusi tersebut, istilah “doa” merujuk pada liturgi secara keseluruhan. Sudut pandang ini sangat penting, karena hal inilah yang menuntun reformasi liturgi, menjadikan partisipasi aktif umat beriman sebagai pilar utamanya. Liturgi disajikan pertama dan terutama sebagai tempat perjumpaan, inisiatif Allah dalam mendekatkan diri kepada umat manusia melalui Putra-Nya, “Sabda yang menjadi daging dan diurapi Roh Kuduss” (SC, 5), yang kepada-Nya kita dapat menanggapi “melalui Kristus, bersama Kristus dan di dalam Kristus, dalam persatuan Roh Kudus”, berkat "doa Kristus besertatubuh-Nya kepada Bapa” (SC, 84).

 

Oleh karena itu, Santo Paulus VI sangat menginginkan agar Ibadat Harian, doa publik harian Gereja, yang tak terpisahkan dari Ekaristi, dapat meresapi, menghidupkan, menuntun, dan mengungkapkan seluruh doa kristiani, serta secara efektif memelihara kehidupan spiritual umat Allah (bdk. Konstitusi Apostolik Laudis Canticum).

 

Agar keinginan ini dapat terwujud, Ibadat Harian perlu dihayati dan dijalankan secara lebih utuh dalam kehidupan sehari-hari umat beriman maupun komunitas-komunitas. Bagi banyak orang yang ingin belajar berdoa — terutama para katekumen — ibadat ini dapat menjadi jalan serta sekolah doa Kristiani.

 

Setiap pekan dan setiap hari, Ekaristi dan Ibadat Harian merupakan napas kehidupan Gereja yang mengalirkan Roh Kudus ke seluruh tubuhnya. Dalam doa ini, Kristus “menghimpun seluruh umat manusia di sekeliling-Nya, dan mengikutsertakannya melambungkan kidung pujian ilahi-Nya” (SC, 83). Dengan demikian, hari demi hari, kita semakin dipersatukan dengan misteri Paskah dan diserupakan dengan Dia.

 

Santo Agustinus menegaskan bahwa “Ketika kita berbicara kepada Allah dalam doa memohon belas kasih, kita tidak memisahkan Sang Putra dari Dia; dan ketika berdoa tubuh Sang Putra tidak memisahkan Sang Kepalanya dari dirinya sendiri: dan Dialah satu-satunya Juruselamat bagi tubuh-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus, Putra Allah, yang berdoa bagi diri kita maupun berdoa di dalam diri kita, serta kepada-Nya kita berdoa. Ia berdoa bagi kita sebagai Imam kita; Ia berdoa di dalam diri kita sebagai Kepala kita; dan kepada-Nya kita berdoa sebagai Allah kita. Oleh karena itu, marilah kita mengenali kata-kata kita di dalam diri-Nya, dan kata-kata-Nya di dalam diri kita” (Enarr. in psalmum LXXXVI: PL 37, 1081).

 

Terikat erat dengan Ekaristi — yang cahayanya terus dipancarkan olehnya — Ibadat Harian menguduskan waktu dalam kehidupan kita sehari-hari: pada pagi hari kita mengawali hari dengan iman dan syukur; pada tengah hari kita memohon kekuatan untuk tetap setia di tengah segala kesibukan kita; pada petang hari, saat pekerjaan usai, Ibadat Sore (Vespers) menyertai saat matahari terbenam; dan pada malam hari, kita beristirahat sambil menyerahkan diri dalam damai Allah. Setiap Ibadat merupakan suatu tindakan pengharapan: sepanjang peziarahan di dunia ini, kita berjaga-jaga seraya menantikan kedatangan kembali Tuhan yang mulia bersama seluruh Gereja.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya mereka yang berasal dari Inggris, Malta, dan Amerika Serikat. Saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus bagimu dan keluargamu. Semoga Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Dalam rangkaian lanjutan katekese kita mengenai Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Liturgi, *Sacrosanctum Concilium*, hari ini kita mengarahkan perhatian pada dimensi gerejawi doa liturgis Gereja. Jauh dari sikap menjauhi dunia dan segala kebutuhannya, segenap doa — terutama dalam keseluruhan liturgi — merupakan dimensi hakiki dari kemanusiaan kita. Dalam doa, kita menyatukan diri dengan Yesus untuk mempersembahkan pujian dan syukur kepada Allah Bapa, melalui kuasa Roh Kudus. Secara khusus, Santo Paulus VI mengungkapkan kerinduan agar Ibadat Harian — doa publik harian Gereja — didoakan oleh seluruh anggota tubuh Kristus. Dengan cara ini, kita memperkenankan Roh Kudus menghembuskan napas-Nya ke dalam setiap pikiran dan tindakan kita, serta menginspirasi pengalaman yang lebih mendalam akan misteri Paskah. Saudara-saudari, semoga kita memperoleh santapan rohani yang kita butuhkan dalam peziarahan duniawi ini dengan cara berhimpun bersama seluruh Gereja dalam doa liturgisnya, seraya kita menantikan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 5 Agustus 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 2 Agustus 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Ketika kita mendengarkan Bacaan Injil, kita sering mendengar bahwa Yesus melakukan tanda-tanda, yaitu tindakan-tindakan yang mengungkapkan dedikasi khusus-Nya kepada kita dan keselamatan yang Ia bawa ke dunia. Tuhan digambarkan sebagai Pribadi yang memberi makna bagi kehidupan kita, membebaskan kita dari kejahatan dan dosa.

 

Dengan memulihkan penglihatan kepada orang buta dan pendengaran kepada orang tuli, Kristus melakukan lebih dari sekadar perbuatan ajaib; Ia memberitakan kepada semua orang bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Dengan cara ini, Bacaan Injil hari ini (Mat 14:13–21) bersaksi bahwa Yesus tidak hanya memulihkan indra orang-orang yang kehilangan indranya, tetapi Ia juga memenuhi indra kita dengan hal-hal yang baik. Kepada orang tuli yang mendapatkan kembali pendengarannya, Tuhan memberitakan Kabar Baik untuk didengar; kepada orang buta yang mendapatkan kembali penglihatannya, Yesus menunjukkan keagungan karya penebusan yang sedang dilakukan baginya. Demikian pula, Yesus memberi makan kepada orang-orang yang lapar. Kisah penggandaan roti menunjukkan kepada kita bahwa perjumpaan dengan Tuhan adalah pengalaman yang memelihara. Di padang gurun, yaitu, ketika kita membutuhkan sesuatu, Kristus adalah roti kehidupan. Bersama-Nya, kebutuhan kita terpenuhi dengan berlimpah: “Mereka semuanya makan sampai kenyang,” dan tersisa sebanyak “dua belas bakul penuh” (ayat 20). Angka ini menyoroti anugerah Tuhan bersifat universal, dan pemeliharaan ilahi-Nya bagi kita tidak pernah gagal.

 

Saudara-saudari terkasih, Kristus sungguh memuaskan rasa lapar umat manusia, rasa lapar kita akan kebenaran dan kehidupan. Tindakan-Nya mengajarkan kita bahwa tidak ada yang terbuang ketika dibagikan. Sebaliknya, penimbunan dan pemborosan adalah dua sisi kejahatan yang sama: keserakahan. Penyakit rohani ini mematikan indra, yang menjadi mabuk oleh kekayaan, sampai-sampai membuat orang melupakan mereka yang menangis karena lapar dan berteriak karena haus. Dan demikianlah, di tengah kemewahan yang berbau busuk, kita menemukan tangan-tangan terulur orang-orang yang tidak memiliki makanan, rumah-rumah yang menghanguskan orang-orang yang tidak memiliki kedamaian.

 

Di tengah gurun perang dan kesombongan, marilah kita memikirkan betapa baiknya Tuhan “menengadah ke langit dan mengucap syukur,” “memecah-mecah roti dan memberikannya” kepada murid-murid-Nya, supaya mereka memberikannya kepada orang banyak (bdk. ayat 19). Dalam mukjizat kasih ini, kita mengenali tindakan-tindakan khas Yesus, yang mencapai puncaknya dalam Perjamuan Terakhir, karena saat itulah Putra Allah memberikan hidup-Nya sendiri sebagai saudara kita dalam kemanusiaan. Saat kita menikmati rahmat Ekaristi, marilah kita berkomitmen untuk menjadi saksi keindahannya dalam tindakan sehari-hari kita, dimulai dengan mengucap syukur atas makanan di meja makan bersama keluarga dan teman. Dalam persekutuan dengan Yesus, bahkan liburan pun dapat menjadi waktu ketenangan persaudaraan, jika kita menjangkau sesama kita yang membutuhkan.

 

Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Perawan Maria, Bunda kita yang terkasih, agar Ia membantu kita bertumbuh dalam kasih, supaya jangan ada seorang pun yang kekurangan rezeki sehari-hari.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya sedang mengikuti dengan penuh keprihatinan situasi yang mengkhawatirkan di Ceuta, dan berdoa kepada Allah agar, melalui perantaraan Bunda Maria dari Afrika, solusi dapat ditemukan untuk membawa perdamaian, stabilitas, dan keadilan.

 

Marilah kita terus berdoa untuk perdamaian, agar peperangan di seluruh dunia berhenti dan solusi diplomatik untuk konflik dapat ditemukan. Marilah kita mengingat semua korban permusuhan, terutama yang paling lemah dan tak berdaya: anak-anak, orang tua, dan orang sakit. Semoga Tuhan menghibur orang-orang yang menderita dan memberkati karya orang-orang yang memberikan bantuan dan penghiburan.

 

Pada hari-hari ini dirayakan “Pengampunan Asisi”. Santo Fransiskus memperoleh indulgensi ini dari Paus Honorius III pada tahun 1216, setelah terinspirasi — saat berdoa di Porziuncola — oleh penglihatan tentang Yesus dan Maria yang dikelilingi oleh para malaikat. Marilah kita bersyukur kepada Tuhan atas karunia besar ini dan menghargainya, terutama pada tahun peringatan kedelapan abad wafatnya Santo Fransiskus, yang meninggal di Porziuncola pada tanggal 3 Oktober 1226.

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara: khususnya, para “Giovanissimi” dari Paroki Saccolongo dan Paroki Creola (Padua), kaum muda Paroki Santo Yohanes Bosco di Altamura, dan kaum muda Kerjasama Pastoral Castelfranco Veneto, yang didampingi oleh para imam dan pemimpin mereka.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 2 Agustus 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI PIAZZA DELLA LIBERTÀ, CASTEL GANDOLFO 26 Juli 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Inti ajaran Yesus terletak pada misteri Kerajaan Allah, yang dalam Bacaan Injil hari ini diumpamakan dengan harta terpendam dan mutiara yang berharga (bdk. Mat 13:44–52). Kedua perumpamaan tersebut menyampaikan kejutan dari orang-orang yang menemukan sesuatu yang jauh melampaui apa yang mereka harapkan, sedemikian rupa sehingga menjual atau meninggalkan segala sesuatu tidak lagi tampak sebagai pengurbanan, melainkan keuntungan. Sesungguhnya, sejak awal, para penginjil menggambarkan panggilan Yesus untuk mengikuti-Nya sebagai sesuatu yang tak tertahankan. Sebuah pilihan bebas, namun juga mendesak dan mampu memunculkan tanggapan yang siap dan sepenuh hati. Ini adalah aspek penting pertama tentang bagaimana Allah dekat dan menyatakan diri-Nya: perjumpaan dengan Kerajaan-Nya menandai titik balik yang tidak membatasi hidup tetapi memperluasnya. Jika ada sesuatu yang harus berubah di pihak kita, itu hanya agar hidup kita dapat terbuka terhadap kemungkinan yang lebih besar, bukan lebih kecil.

 

Ada aspek kedua yang tampaknya sangat dipedulikan Yesus: orang yang menemukan harta yang terpendam di ladang kemungkinan besar adalah seorang petani, sementara mutiara diakui sebagai berharga oleh seorang pedagang, mungkin seorang pelancong. Dua perumpamaan lagi menyusul, di mana tokoh utamanya adalah nelayan dan seorang ahli Taurat yang merupakan pakar hukum lama dan baru. Perumpamaan lain membandingkan Kerajaan Allah dengan seorang perempuan yang memasukkan ragi ke dalam adonan atau merapikan rumahnya, dengan seorang raja yang merencanakan perang, seorang yang merancang sebuah menara, bendahara yang mengelola pembayaran atau investasi, dan dengan gembala dan petani. Singkatnya, Kerajaan Allah selain mengungkapkan keindahannya yang tak ternilai dengan berbagai cara juga memanggil semua orang — pria dan wanita, muda dan tua, kaya dan miskin — untuk melakukan pembaharuan yang mendalam. Setiap orang mampu memahaminya dan tertarik kepadanya.

 

Saat ini juga, Gereja adalah persekutuan orang-orang yang berbeda asal, budaya, kemampuan, dan tanggung jawab. Namun semua dipanggil untuk mengenali diri mereka "satu" di dalam Yesus Kristus: Dialah harta yang terpendam, mutiara yang sangat berharga, jala yang mengumpulkan orang-orang yang tercerai-berai. Sejak awal, Yesus memanggil dan mengumpulkan orang-orang di sekeliling-Nya yang jika tidak demikian, tidak akan pernah saling mengenal. Dengan cara ini, Ia menunjukkan bahwa Allah tidak pilih kasih, tetapi sebaliknya menawarkan kasih-Nya secara cuma-cuma, terutama kepada orang-orang kecil atau yang tersisihkan.

 

Saudara-saudari, yang perlu kita semualakukan hanyalah memohon karunia ini, karunia yang sama yang dicari oleh Raja Salomo muda (bdk. 1Raj. 3:5,7-12). Karunia untuk mengenali mutiara yang sangat berharga, membedakan harta terpendam yang layak untuk mengurbankan segalanya. Sementara budaya konsumerisme memengaruhi selera kita, terus-menerus menciptakan kebutuhan baru hanya untuk menjual solusi yang tidak pernah memuaskan, dan yang terkadang bahkan meracuni hati, kita harus belajar untuk memahami apa yang benar-benar penting: harta terpendam berupa hubungan dengan Allah yang membuka kita kepada sukacita dan membantu kita untuk menjalani hubungan kita satu sama lain dengan semakin penuh.

 

Semoga pengantaraan Maria, Takhta Kebijaksanaan, mengarahkan keinginan kita akan kehidupan kepada Yesus, sehingga di dalam Dia keinginan itu dapat menemukan pemenuhannya yang sempurna.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kemarin, di Lebanon, Elias Hoayek, Patriark Maronit Antiokhia dari tahun 1899 hingga 1931 dan pendiri Kongregasi Suster-suster Maronit Keluarga Kudus, telah dibeatifikasi. Selama lebih dari tiga puluh tahun, ia memimpin Gereja Maronit dengan dedikasi dan kepekaan pastoral yang besar. Seorang yang penuh dialog dan harapan, ia adalah pemimpin gerejawi, sosial, dan politik yang luar biasa, sehingga dikenal sebagai "Bapa Lebanon Raya." Semoga doa dan pengantaraan beato baru ini selalu menyertai umat Maronit di seluruh dunia, dan memperoleh karunia perdamaian bagi seluruh rakyat Lebanon, negeri yang sangat saya cintai.

 

Saya terus mengikuti dengan keprihatinan mendalam kekerasan yang sedang berlangsung dan meningkat di Tanah Suci, di mana, dalam beberapa hari terakhir, banyak warga sipil, baik di Tepi Barat maupun Gaza, sekali lagi menjadi korban. Saya menyampaikan permohonan tulus untuk kembali ke perundingan guna mencapai solusi politik yang adil, yang didasarkan pada martabat dan hak yang sama bagi setiap manusia. Pada saat yang sama, saya mendesak penolakan terhadap tindakan militer lebih lanjut dan keputusan sepihak, terutama yang melanggar penghormatan dan status quo tempat-tempat suci masing-masing agama.

 

Saya juga memperbarui permohonan mengenai situasi di seluruh Timur Tengah, di mana intensifikasi operasi militer sekali lagi telah menimbulkan kekerasan dan kehancuran, membahayakan nyawa warga sipil yang tak terhitung jumlahnya dan semakin memperburuk kekurangan air minum dan listrik. Dari lubuk hati saya mendesak semua pihak yang terlibat untuk menghentikan serangan dan segera membuka kembali jalur dialog dan diplomasi, sehingga perdamaian yang didambakan untuk seluruh wilayah dapat dicapai tanpa penundaan.

 

Marilah kita terus mendoakan semua orang di seluruh dunia yang menderita karena perang. Semoga Tuhan menyentuh hati dan menerangi pikiran mereka yang berkuasa, sehingga rekonsiliasi dan perdamaian segera terwujud.

 

Saat kebakaran hutan yang dahsyat melanda berbagai wilayah Prancis dan Spanyol, saya menyampaikan rasa simpati saya kepada semua yang terkena dampak dan mengajak semua orang untuk mendoakan mereka dan para petugas darurat yang terlibat dalam upaya bantuan.

 

Hari ini kita merayakan Hari Kakek Nenek dan Lansia Sedunia yang keenam, yang temanya diambil dari kata-kata Nabi Yesaya: “Aku tidak akan melupakan engkau” (Yes. 49:15). Bersama-sama, marilah kita mengucap syukur kepada Tuhan atas karunia yang diberikan para lansia kepada Gereja dan masyarakat. Marilah kita juga berkomitmen untuk menghormati dan menghargai peran berharga yang mereka mainkan, dan memastikan bahwa mereka selalu menerima perawatan, perhatian, dan bantuan yang layak mereka terima.

Saya menyampaikan salam hangat kepada kamu semua yang hadir di sini, serta kepada orang-orang yang datang dari berbagai bagian Italia dan dari seluruh dunia!

 

Secara khusus saya menyapa para peziarah yang tergabung dalam Opera della Chiesa dan para uskup yang mendampingi mereka; saya menyambut dan menyapa anak-anak dari Rumah Belas Kasih di Chortkiv, Ukraina, yang merupakan tamu paroki Santo Mikael Malaikat Agung di Nocera Superiore; kepada kaum muda dari Paroki Manerbio; kepada mereka yang mengikuti Pertemuan Kaum Muda Internasional yang diselenggarakan dalam rangka peringatan dua abad wafatnya Santa Jeanne-Antide Thouret; kepada para peziarah muda dari gerakan mahasiswa Katolik Ӧnze-Lieve-Vrouw Ster-Der-Zee, Maldegem, Belgia; dan kepada para kadet Sekolah Pelatihan Carabinieri di Velletri, yang didampingi oleh pastor dan pimpinan mereka.

 

Saya juga menyapa anggota Lembaga Pria Katolik Kamerun.

 

Secara khusus saya menyapa orang-orang yang ikut serta dalam festival Sagra delle Pesche di Castel Gandolfo, yang telah membawa hasil panen mereka untuk diberkati.

 

Petang ini, prosesi tradisional Madonna Fiumarola akan berlangsung di Sungai Tiber, Roma. Semoga Maria, Bunda Yesus, memperolehkan bagi semua orang yang berpartisipasi dalam tradisi indah ini, dan bagi kita masing-masing, rahmat untuk menjalani hidup setiap hari sesuai dengan ajaran Injil.

 

Dan saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 26 Juli 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI PIAZZA DELLA LIBERTÀ (CASTEL GANDOLFO) 19 Juli 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Setelah perumpamaan tentang seorang penabur, Yesus melanjutkan khotbahnya kepada orang banyak menggunakan serangkaian gambaran: gandum yang baik dan lalang, biji sesawi dan ragi dalam adonan (bdk. Mat 13:24–43).

 

Ketiga perumpamaan singkat ini mengingatkan kita akan kedatangan Kerajaan Allah dalam sejarah, tindakannya dalam kehidupan manusia, dan cara kerajaan itu tumbuh, berkembang, dan mengubah dunia dari dalam. Melalui gambaran-gambaran ini, Yesus memperingatkan kita terhadap godaan untuk berpikir bahwa Allah adalah sosok yang kuat yang memaksakan diri dengan kekerasan, yang mengambil alih dan mendominasi, atau yang datang dengan kemenangan. Sebaliknya, Allah menyukai kerendahan hati, tanda kasih-Nya yang bijaksana, yang dengannya Ia memberi kita kebebasan untuk menerima atau menolak-Nya. Kasih-Nya terasa bahkan di antara lalang, bertindak secara tersembunyi dan tak terlihat seperti benih terkecil, dan mengembangkan adonan tanpa mengeluarkan suara.

 

Saudara-saudari, melalui perumpamaan-perumpamaan ini, Yesus mengungkapkan sesuatu yang penting tentang cara Allah bekerja dalam hidup kita dan dalam sejarah. Terkadang kita mengharapkan Allah melakukan sesuatu yang spektakuler; kita ingin Ia campur tangan dari atas, segera mencabuti lalang kejahatan. Kita membayangkan Allah yang kuat dan berkuasa, dan, sayangnya, kita juga mencontohkan cara kita menjadi orang kristiani dan cara kita menjadi Gereja berdasarkan gambaran ini. Namun, Kerajaan Allah menyebar bahkan di tengah-tengah lalang, sehingga kita perlu melatih pandangan kita agar dapat membedakan kebaikan yang tumbuh di tengah kegelapan kejahatan, dan menghindari penilaian yang terburu-buru. Kerajaan itu datang seperti benih terkecil dan karena itu membutuhkan kesabaran dalam menyertai proses ini, sehingga kita dapat mengenalinya dalam hal-hal kecil kehidupan sehari-hari dan dalam kesederhanaan kehidupan biasa. Kerajaan itu tumbuh tak terlihat seperti ragi dalam tepung, dan dengan demikian kita terbebas dari keputusasaan dan diundang untuk beriman bahkan ketika tampaknya Allah tidak hadir. Sesungguhnya, Ia selalu bersama kita, dan kasih-Nya selalu siap membantu kita.

 

Cara Allah bertindak juga harus menjadi cara kita hidup, baik sebagai individu maupun sebagai Gereja, di tengah kenyataan yang mengelilingi kita. Kita dipanggil untuk mengadopsi pendekatan yang berpusat pada Injil, tanpa terburu-buru menentang orang lain melalui penilaian yang arogan, tanpa memaksakan diri melalui kekuasaan dan paksaan, dan tanpa kehilangan kepercayaan pada karya Allah. Sebagaimana dikatakan Kardinal Ratzinger saat itu, ini adalah soal menundukkan diri pada nalar benih — yang bukan nalar kesuksesan dan kebesaran, tetapi nalar merendahkan diri dan melayani orang lain (bdk. Wejangan kepada Para Katekis dan Guru Agama, 10 Desember 2000). Dengan cara ini, kita akan menjadi seperti benih-benih kecil Injil yang bertunas, dan ragi kasih yang mengubah rupa adonan dunia.

 

Marilah kita memohon kepada Bunda Maria, yang tahu bagaimana menerima benih Sabda dalam kerendahan hatinya, untuk menopang kita dalam perjalanan kita dan menjadi perantara bagi kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Selama saya beristirahat beberapa hari, sekali lagi saya menyampaikan salam dan rasa terima kasih saya kepada kamu semua, penduduk Castel Gandolfo, dan saya dengan gembira menyambut para peziarah yang datang dari seluruh penjuru dunia!

 

Kita terus mengikuti dengan penuh perhatian peristiwa yang terjadi di berbagai negara yang dilanda perang dan kekerasan. Janganlah kita melupakan mereka yang menderita dan meninggal karena pertikaian ini, dan marilah kita meningkatkan doa-doa kita yang terus-menerus pada upaya-upaya mulia untuk perdamaian.

 

Saya menyapa Komunitas Cenacolo Mother Elvira, yang berkumpul di Saluzzo untuk Festival Kehidupan; Gerakan Keluarga Baru Focolari yang berkumpul untuk Sekolah Internasional; para siswa Meksiko yang berpartisipasi dalam Sekolah Musim Panas APRA; dan kelompok dari Persekutuan Pandangan Dunia Katolik.

 

Saya menyampaikan salam kepada para anggota muda Regnum Christi yang mengikuti Kursus Pembina Internasional, dan saya juga menyapa mereka yang mengikuti “Ziarah Singa,” didampingi oleh Uskup Anthony Percy, Uskup Pembantu Keuskupan Sydney, Australia.

 

Saya juga menyapa keluarga dan anak-anak yang dibantu oleh Suster-suster Amal Kasih Maria Diangkat ke Surga dari Roma, kaum muda dari Paroki Juru Selamat Suci di Yerusalem, kelompok anak-anak dari Paroki Santo Agustinus dari Bovolenta dan para peziarah dari Akademi Liturgi Rzeszów.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu yang penuh kedamaian!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 19 Juli 2026)