Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 17 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Di banyak negara di seluruh dunia, Hari Raya Kenaikan Tuhan dirayakan hari ini.

 

Gambaran Yesus –– diangkat dari bumi dan naik ke surga, sebagaimana dinyatakan Kitab Suci (bdk. Kis. 1:1-11) –– mungkin membuat kita berpikir tentang misteri ini sebagai peristiwa yang jauh di masa lalu. Namun, tidaklah demikian, karena kita dipersatukan dengan Yesus sebagai anggota satu tubuh yang dipersatukan dengan kepala. Dengan naik ke surga, Ia menarik kita bersama-Nya menuju persekutuan penuh dengan Bapa. Dalam hal ini, Santo Agustinus berkata, “kemajuan kepala adalah pengharapan anggota” (Khotbah 265, 1.2).

 

Sesungguhnya, seluruh kehidupan Kristus adalah gerakan naik. Melalui kemanusiaan-Nya, Ia merangkul dan melibatkan seluruh dunia, mengangkat dan menebus manusia dari kondisi kedosaan mereka. Dengan demikian, Ia membawa terang, pengampunan, dan pengharapan di tempat yang sebelumnya gelap, tidak adil, dan putus asa, agar manusia dapat meraih kemenangan Paskah yang definitif, di mana Putra Allah, dengan kematian-Nya, “telah menghancurkan kematian kita, dan dengan kebangkitan-Nya, membangun kembali kehidupan kita” (Prefasi I Paskah).

 

Oleh karena itu, kenaikan Yesus bukanlah janji yang jauh, melainkan ikatan yang hidup, yang juga menarik kita menuju kemuliaan surgawi, yang telah mengangkat dan memperluas cakrawala kita dalam kehidupan ini dan mengarahkan cara berpikir, merasakan, dan bertindak kita lebih dekat kepada ukuran hati Allah.

Lebih jauh lagi, dalam jalan naik ini, kita mengenali jalannya (bdk. Yoh 14:1-6). Sesungguhnya, kita menemukannya dalam diri Yesus –– dalam anugerah kehidupan, teladan, dan ajaran-Nya. Kita juga melihatnya ditunjukkan kepada kita oleh Bunda Maria dan para kudus: mereka yang ditawarkan Gereja sebagai teladan universal. Paus Fransiskus juga senang berbicara tentang orang kudus "dari pintu sebelah" (bdk. Seruan Apostolik Gaudete et Exsultate, 7), yang hidup bersama kita dalam kehidupan sehari-hari: ayah, ibu, kakek-nenek, orang-orang dari segala usia dan kondisi, yang dengan sukacita dan komitmen, berupaya untuk hidup dengan tulus sesuai dengan Injil.

 

Bersama mereka, dengan dukungan dan berkat doa mereka, kita pun dapat belajar untuk naik hari demi hari menuju surga. Sebagaiaman dikatakan Santo Paulus, kita harus berfokus pada apa pun yang benar, adil, dan patut dipuji (bdk. Flp. 4:8), dan melakukan, dengan pertolongan Allah, semua yang telah kita “dengar dan lihat” (ayat 9). Dengan cara ini, kehidupan ilahi, yang kita terima dalam baptisan dan yang terus-menerus menarik kita ke tempat yang tinggi, menuju Bapa, dapat tumbuh di dalam dan di sekitar kita serta menyebarkan buah persekutuan dan perdamaian yang berharga di dunia.

 

Semoga Maria, Ratu Surga, yang menerangi dan membimbing kita setiap saat, mendukung kita di jalan kita.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Di banyak negara, Hari Komunikasi Sedunia diperingati hari ini, yang bertema “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”, yang saya pilih untuk tahun ini. Di era kecerdasan buatan ini, saya mendorong semua orang untuk berkomitmen mempromosikan bentuk-bentuk komunikasi yang selalu menghormati kebenaran pribadi manusia, yang seharusnya menjadi fokus setiap inovasi teknologi.

 

Mulai hari ini hingga hari Minggu depan, Pekan Laudato Si’ berlangsung, yang didedikasikan untuk kepedulian terhadap ciptaan dan terinspirasi oleh Ensiklik Paus Fransiskus. Pada tahun Yubileum Santo Fransiskus dari Asisi ini, kita mengingat pesannya tentang berdamai dengan Allah, saudara-saudari kita, dan semua makhluk. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, karena perang, kemajuan ke arah ini sangat terhambat. Oleh karena itu, saya mendorong anggota Gerakan Laudato Si’ dan semua yang mempromosikan ekologi terpadu untuk memperbarui komitmen mereka. Sesungguhnya, peduli terhadap perdamaian berarti peduli terhadap kehidupan!

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara. Secara khusus, saya menyapa beberapa marching band dari Jerman, Persaudaraan “Sant’Antonu di u Monti” dari Ajaccio, dan kelompok mahasiswa dari Universitas Montana, Amerika Serikat.

 

Saya menyapa kaum muda dari Oppido Mamertina, para pemimpin kaum muda dari Lorenzaga di Keuskupan Concordia-Pordenone, dan para calon penerima Sakramen Krisma dari Keuskupan Agung Genoa.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 17 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 13 MEI 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 9. PERAWAN MARIA, TELADAN GEREJA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Konsili Vatikan II memilih untuk mendedikasikan bab terakhir Konstitusi Dogmatis tentang Gereja kepada Perawan Maria (bdk. Lumen gentium, 52-69). Ia “menerima salam sebagai anggota Gereja yang serbaunggul dan sangat istimewa, pun juga sebagai pola teladannya yang mengagumkan dalam iman dan cinta kasih.” (LG, 53). Kata-kata ini mengajak kita untuk memahami bagaimana dalam diri Maria, yang di bawah tindakan Roh Kudus menyambut dan melahirkan Putra Allah yang menjadi manusia, kita dapat mengenali baik model maupun anggota dan ibu yang serbaunggul dari seluruh komunitas gerejawi.

 

Dengan memperkenankan diri-Nya dibentuk oleh karya rahmat, yang mencapai penggenapannya dalam diri-nya, dan dengan menerima anugerah dari Yang Mahatinggi dengan iman dan kasih-Nya yang perawan, Maria adalah teladan yang sempurna dari apa yang seharusnya menjadi panggilan seluruh Gereja: ciptaan dari sabda Allah dan ibu dari anak-anak Allah, yang dilahirkan dalam ketaatan kepada karya Roh Kudus. Lebih jauh lagi, karena ia adalah orang percaya yang unggul, di mana kita ditawarkan bentuk sempurna dari keterbukaan tanpa syarat terhadap misteri ilahi dalam persekutuan umat Allah yang kudus, Maria adalah anggota yang sangat baik dari komunitas gerejawi. Akhirnya, karena Ia melahirkan anak-anak dalam Putra, dikasihi dalam Kekasih abadi yang datang di antara kita, Maria adalah ibu dari seluruh Gereja, yang dapat berpaling kepadanya dengan kepercayaan sebagai anak, dengan kepastian didengar, dilindungi, dan dikasihi.

 

Kita dapat mengungkapkan keseluruhan karakteristik Perawan Maria ini dengan menyebutnya seorang perempuan yang merupakan ikon dari misteri tersebut. Kata "perempuan" menyoroti kenyataan historis dari putri Israel yang belia ini, yang kepadanya diberikan kesempatan untuk menjalani pengalaman luar biasa menjadi ibu sang Mesias. Ungkapan "ikon" menekankan bahwa, di dalam dirinya, gerakan ganda turun dan naik terpenuhi: di dalam dirinya, baik pemilihan Allah yang cuma-cuma maupun persetujuan imannya yang bebas kepada-Nya bersinar. Oleh karena itu, Maria adalah perempuan yang merupakan ikon dari misteri tersebut, yaitu, ikon rencana keselamatan ilahi, yang dulunya tersembunyi dan sekarang diungkapkan sepenuhnya dalam Yesus Kristus.

 

Konsili telah mewariskan ajaran yang jelas tentang tempat unik Perawan Maria dalam karya penebusan (bdk. Lumen Gentium, 60-62). Konsili mengingatkan bahwa satu-satunya pengantara keselamatan adalah Yesus Kristus (bdk. 1 Tim 2:5-6), dan bahwa bunda-Nya yang kudus “sama sekali tidak merintangi persatuan langsung kaum beriman dengan Kristus, melainkan justru mendukungnya (bdk. LG, 60). Pada saat yang sama, “Sehubungan dengan penjelmaan Sabda ilahi Santa Perawan sejak kekal telah ditetapkan untuk menjadi Bunda Allah ... ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya juru selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrtai jiwa-jiwa. Oleh karena itu dalam tata rahmat ia menjadi Bunda kita.” (idem, 61).

 

Misteri Gereja juga tercermin dalam Perawan Maria: di dalam dirinya, umat Allah menemukan gambaran asal usul, teladan, dan tanah air mereka. Dalam Bunda Tuhan, Gereja merenungkan misterinya sendiri, bukan hanya karena ia menemukan di dalam dia teladan iman yang perawan, kasih keibuan, dan perjanjian perkawinan yang merupakan panggilannya, tetapi juga dan terutama karena di dalam dirinya ia mengenali pola dasar dirinya sendiri, sosok ideal dari apa yang seharusnya ia wujudkan.

 

Sebagaimana dapat kita lihat, refleksi tentang Bunda Perawan yang dikumpulkan dalam Lumen Gentium mengajarkan kita untuk mencintai Gereja dan melayani di dalamnya penggenapan Kerajaan Allah, yang akan datang dan yang akan sepenuhnya terwujud dalam kemuliaan.

 

Marilah kita memperkenankan diri kita dipertanyakan oleh teladan agung yang diberikan kepada kita oleh Maria, Perawan dan Bunda, dan marilah kita memohon kepadanya untuk membantu kita, melalui perantaraannya, guna menjawab apa yang diminta dari kita melalui teladannya: apakah aku menjalani partisipasiku dalam Gereja dengan iman yang rendah hati dan aktif? Apakah aku mengenali di dalam Gereja persekutuan perjanjian yang telah diberikan Allah kepadaku untuk menanggapi kasih-Nya yang tak terbatas? Apakah aku merasa bahwa aku adalah bagian dari Gereja yang hidup, dalam ketaatan kepada para gembala yang diberikan oleh Allah? Apakah aku memandang Maria sebagai teladan, anggota dan Bunda Gereja yang luar biasa, dan memohon kepadanya untuk membantuku menjadi murid Putranya yang setia?

 

Saudara-saudari, semoga Roh Kudus, yang turun atas Maria dan yang kita mohon dengan rendah hati dan penuh kepercayaan, menganugerahkan kepada kita rahmat untuk menghayati kenyataan-kenyataan yang indah ini sepenuhnya. Dan, setelah merefleksikan secara mendalam Konstitusi Lumen Gentium, marilah kita memohon kepada Perawan Maria untuk memperolehkan anugerah ini bagi kita: agar kasih kepada Gereja Bunda yang kudus tumbuh dalam diri kita semua. Amin!

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Irlandia, Tanzania, India, Indonesia, Kanada, dan Amerika Serikat. Hari ini kita memperingati Bunda Maria dari Fatima. Pada hari ini, empat puluh lima tahun yang lalu, terjadi percobaan pembunuhan terhadap Paus Yohanes Paulus II, dan karena alasan ini, saya mendedikasikan katekese saya hari ini kepada Bunda Maria. Pada saat yang sama, kita akan segera merayakan Kenaikan Tuhan, yang menandai masuknya kemanusiaan-Nya ke surga. Sambil menantikan kedatangan Yesus yang kedua dalam kemuliaan, semoga kita, seperti para Rasul, mempercayakan diri kita kepada Bunda Maria. Atas kamu dan keluargamu, dengan tulus saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Kristus Tuhan. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese kita hari ini kita merenungkan Maria, yang dalam bab terakhir Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium diakui sebagai teladan, anggota yang sempurna, dan sebagai ibu. Taat kepada kehendak Bapa, karya penebusan Putranya, dan dorongan Roh Kudus, Maria adalah teladan dari apa yang seharusnya menjadi panggilan Gereja. "Ya"-nya yang tanpa syarat menunjukkan kepada kita bagaimana menjadi anggota Gereja. Sebagai ibu kita melalui rahmat, dialah yang dapat kita datangi dengan kepercayaan seorang anak, dengan kepastian didengar, dilindungi, dan dikasihi. Secara khusus, Maria bekerja sama dalam karya keselamatan, melalui ketaatan, iman, harapan, dan kasih yang membara, untuk memulihkan melalui Putranya, kehidupan adikodrati jiwa-jiwa. Marilah kita tertantang oleh teladan kerendahan hati, iman yang aktif, dan ketaatan Maria. Marilah kita dengan murah hati menanggapi dalam kasih, memuliakan Allah dalam hati kita, dan menerima kekuatan dari sakramen-sakramen. Marilah kita memohon kepada Maria untuk membantu kita menjadi murid-murid yang setia kepada Putranya.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 13 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 10 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Dalam Bacaan Injil hari ini, kita mendengar beberapa kata yang disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya selama Perjamuan Terakhir. Saat Ia mengubah roti dan anggur menjadi ungkapan nyata kasih-Nya, Kristus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku” (Yoh 14:15). Pernyataan ini membebaskan kita dari kesalahpahaman bahwa kita dikasihi karena kita menuruti perintah-perintah, seolah-olah kebenaran kita adalah prasyarat untuk kasih Allah. Sebaliknya, kasih Allah adalah dasar kebenaran kita. Kita benar-benar menuruti perintah-perintah sesuai kehendak Allah ketika kita mengenali kasih-Nya kepada kita, sebagaimana dinyatakan Kristus kepada dunia. Oleh karena itu, kata-kata Yesus adalah undangan untuk menjalin hubungan, bukan pemerasan atau ultimatum yang menimbulkan prasangka.

 

Inilah sebabnya Tuhan memerintahkan kita untuk saling mengasihi sebagaimana Ia telah mengasihi kita (bdk. Yoh 13:34): kasih Yesuslah yang melahirkan kasih di dalam diri kita. Kristus sendiri adalah standar, ukuran kasih sejati: kasih yang setia selamanya, murni dan tanpa syarat. Kasih yang tidak mengenal "tetapi" atau "mungkin"; kasih yang memberi dari dirinya sendiri tanpa berusaha untuk memiliki; kasih yang memberi hidup tanpa mengambil imbalan apa pun. Karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita, kita pun dapat mengasihi, dan ketika kita benar-benar mengasihi Allah, kita benar-benar mengasihi satu sama lain. Itu seperti hidup itu sendiri: sama seperti orang-orang yang telah menerima hidup yang dapat hidup semata, demikian pula, orang-orang yang telah dikasihi yang dapat mengasihi semata. Oleh karena itu, perintah-perintah Tuhan adalah jalan hidup yang menyembuhkan kita dari kasih palsu. Perintah-perintah Tuhan adalah gaya hidup spiritual yang merupakan jalan menuju keselamatan.

 

Justru karena mengasihi kita, Tuhan tidak meninggalkan kita sendirian dalam cobaan hidup; Ia menjanjikan kita seorang Penolong, yaitu Sang Pembela, "Roh kebenaran" (Yoh 14:17). Karunia ini adalah karunia yang "dunia tidak dapat menerima Dia" (idem), selama dunia terus berbuat jahat, menindas orang miskin, mengucilkan orang lemah, dan membunuh orang yang tidak bersalah. Sebaliknya, mereka yang menanggapi kasih Yesus bagi semua orang akan menemukan dalam Roh Kudus sekutu yang tidak akan pernah gagal: “Kamu mengenal Dia,” kata Yesus, “sebab Ia menyertai kamu dan akan tinggal di dalam kamu” (idem). Karena itu, kita dapat memberi kesaksian tentang Allah, yang adalah kasih, selalu dan di mana pun. Kasih bukanlah gagasan pikiran manusiawi, tetapi kenyataan hidup ilahi, yang melaluinya segala sesuatu diciptakan dari ketiadaan dan ditebus dari kematian.

 

Dengan menawarkan kepada kita kasih sejati dan kekal, Yesus berbagi dengan kita jati diri-Nya sebagai Putra yang terkasih: “Aku ada di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (ayat 20). Persekutuan hidup yang menyeluruh ini menyangkal sang Penuduh — musuh sang Penolong, roh yang menentang sang pembela kita. Sesungguhnya, sementara Roh Kudus adalah kuasa kebenaran, Penuduh adalah “bapa pendusta” (Yoh 8:44), yang berusaha untuk mengadu domba manusia dengan Allah dan manusia satu sama lain: kebalikan dari apa yang dilakukan Yesus dengan menyelamatkan kita dari kejahatan dan mempersatukan kita sebagai umat saudara dan saudari di dalam Gereja.

 

Saudara-saudari terkasih, dengan penuh syukur atas karunia ini, marilah kita mempercayakan diri kita kepada perantaraan Perawan Maria, Bunda Kasih Ilahi.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya telah mengetahui dengan keprihatinan mendalam berbagai laporan mengenai meningkatnya kekerasan di wilayah Sahel, khususnya di Chad dan Mali, yang baru-baru ini mengalami serangan teroris. Saya menyampaikan jaminan ketulusan doa saya untuk para korban dan kedekatan rohani saya kepada semua orang yang menderita akibat peristiwa tragis tersebut. Saya sangat berharap agar segala bentuk kekerasan dapat terhenti, dan saya mendorong semua upaya yang bertujuan untuk memupuk perdamaian dan pembangunan di negeri tercinta itu.

 

Setiap tahun, pada tanggal 10 Mei, kita merayakan “Hari Persahabatan Koptik-Katolik”. Saya menyampaikan salam persaudaraan saya kepada Yang Mulia Paus Tawadros II dan meyakinkan seluruh Gereja Koptik terkasih bahwa saya akan mengingat mereka dalam doa. Saya berharap perjalanan persahabatan kita akan membawa kita kepada persatuan yang sempurna di dalam Kristus, yang telah menyebut kita sebagai “sahabat” (bdk. Yoh 15:15).

 

Dan sekarang, dengan hangat saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara!

 

Secara khusus, saya menyapa kelompok “Guardie d’Onore al Sacro Cuore di Gesù,” dari berbagai kota di seluruh Italia serta “Volontari per l’evangelizzazione” yang terhubung dengan keluarga Radio Maria. Dengan hangat saya juga menyapa para sukarelawan dari lembaga “Komen Italia,” yang saya ucapkan terima kasih atas komitmen mereka terhadap pencegahan kanker payudara.

 

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Kepulauan Canary yang, dengan keramahan khas mereka, menyambut kapal pesiar Hondius dan para penumpang yang terinfeksi Hantavirus. Saya berharap dapat bertemu kamu semua bulan depan selama kunjungan saya ke kepulauan tersebut.

 

Hari ini, kita secara khusus mengenang semua ibu. Melalui perantaraan Maria, Bunda Yesus dan Bunda kita sendiri, marilah kita berdoa dengan penuh kasih dan syukur untuk setiap ibu, khususnya mereka yang hidup dalam keadaan yang sangat sulit. Terima kasih! Semoga Allah memberkatimu!

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu yang penuh berkat kepada semuanya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 10 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 6 MEI 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 8. GEREJA, PEZIARAH DALAM SEJARAH MENUJU TANAH AIR SURGAWI

Saudara-saudari, selamat pagi dan selamat datang!


Saat kita berfokus pada bagian dari Bab VII Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Gereja hari ini, marilah kita merefleksikan salah satu ciri khasnya: dimensi eskatologisnya. Gereja, pada kenyataannya, menempuh perjalanan melalui sejarah duniawi ini selalu menuju tujuan akhirnya, yaitu tanah air surgawi. Ini adalah dimensi penting yang, bagaimanapun, sering kita abaikan atau remehkan, karena kita terlalu fokus pada apa yang langsung terlihat dan dinamika yang lebih konkret dari kehidupan komunitas kristiani.

 

Gereja adalah umat Allah yang menempuh perjalanan sejarah, yang menjadikan Kerajaan Allah sebagai tujuan dari semua tindakannya (bdk. LG, 9). Yesus mengawali Gereja justru dengan mewartakan Kerajaan kasih, keadilan, dan perdamaian ini (bdk. LG, 5). Karena itu, kita dipanggil untuk memikirkan komunitas dan dimensi kosmik keselamatan dalam Kristus dan mengarahkan pandangan kita ke cakrawala akhir ini, mengukur dan mengevaluasi segala sesuatu dari sudut pandang ini.

 

Dalam sejarah Gereja hidup dalam pelayanan kedatangan Kerajaan Allah di dunia. Ia mewartakan sabda janji ini kepada semua orang dan selalu; ia menerima perjanjian itu dalam perayaan sakramen-sakramen, khususnya Ekaristi; ia mempraktikkan logikanya dan mengalaminya dalam hubungan kasih dan pelayanan. Lebih jauh lagi, ia tahu bahwa ia adalah tempat dan sarana di mana persatuan dengan Kristus diwujudkan "lebih erat" (LG, 48), sementara pada saat yang sama mengakui bahwa keselamatan dapat diberikan oleh Allah dalam Roh Kudus bahkan di luar batas-batasnya yang terlihat.

 

Berkaitan dengan hal ini, Konstitusi Lumen Gentium membuat pernyataan penting: Gereja adalah “sakramen keselamatan bagi semua orang” (LG, 48), yaitu, tanda dan sarana kepenuhan hidup dan kedamaian yang dipromosikan oleh Allah. Ini berarti Gereja tidak sepenuhnya mengidentifikasi diri dengan Kerajaan Allah, tetapi merupakan benih dan permulaannya, karena penggenapannya akan diberikan kepada umat manusia dan kosmos hanya pada akhirnya. Oleh karena itu, orang-orang percaya kepada Kristus menjalani sejarah duniawi ini, yang ditandai dengan pematangan kebaikan tetapi juga dengan ketidakadilan dan penderitaan, tanpa tertipu atau putus asa; mereka hidup dipandu oleh janji yang diterima dari Dia yang akan “menjadikan segala sesuatu baru” (Why. 21:5). Karena itu, Gereja mewujudkan misinya di antara “sudah” permulaan Kerajaan Allah dalam diri Yesus, dan “belum” penggenapan yang dijanjikan dan dinantikan. Sebagai penjaga pengharapan yang menerangi jalan, ia juga diberi misi untuk berbicara dengan jelas menolak segala sesuatu yang mematikan kehidupan dan menghambat perkembangannya, serta mengambil posisi yang mendukung kaum miskin, kaum yang dieksploitasi, korban kekerasan dan perang, dan semua orang yang menderita jasmani dan rohani (bdk. Kompendium Ajaran Sosial Gereja, no. 159).

 

Sebagai tanda dan sakramen Kerajaan Allah, Gereja adalah umat Allah yang berziarah di bumi yang, dengan mengacu pada janji terakhir, membaca dan menafsirkan dinamika sejarah melalui Injil, mengecam kejahatan dalam segala bentuknya dan mewartakan, dalam perkataan dan perbuatan, keselamatan yang ingin Kristus wujudkan bagi seluruh umat manusia dan Kerajaan-Nya yang adil, penuh kasih, dan damai. Oleh karena itu, Gereja tidak mewartakan dirinya sendiri; sebaliknya, segala sesuatu di dalamnya harus mengarah pada keselamatan di dalam Kristus.

 

Dari sudut pandang ini, Gereja dipanggil untuk dengan rendah hati mengakui kerapuhan dan kefanaan manusiawi dari lembaga-lembaganya sendiri yang, meskipun melayani Kerajaan Allah, menanggung citra dunia yang fana ini (bdk. LG, 48). Tidak ada lembaga gerejawi yang dapat diperlakukan mutlak; sesungguhnya, karena mereka ada dalam sejarah dan waktu, mereka dipanggil untuk terus menerus bertobat, memperbarui bentuk dan mereformasi struktur, terus menerus meregenerasi hubungan, sehingga mereka benar-benar dapat memenuhi misi mereka.

 

Dalam cakrawala Kerajaan Allah, kita juga harus memahami hubungan antara umat Kristiani yang menjalankan misi mereka saat ini, dan mereka yang telah menyelesaikan kehidupan duniawi mereka dan berada dalam keadaan penyucian atau kebahagiaan. Lumen Gentium, pada kenyataannya, menegaskan bahwa semua umat kristiani membentuk satu Gereja, ada persekutuan dan pembagian barang rohani yang didasarkan pada persatuan dengan Kristus dari semua orang percaya, sebuah fraterna sollicitudo antara Gereja duniawi dan Gereja surgawi: persekutuan orang-orang kudus yang dialami khususnya dalam liturgi (bdk. LG, 49-51). Dengan mendoakan orang-orang yang telah meninggal dan mengikuti jejak mereka yang telah hidup sebagai murid Yesus, kita pun dikuatkan dalam perjalanan kita dan memperkuat penyembahan kita kepada Allah: ditandai oleh satu Roh dan dipersatukan dalam satu liturgi, bersama dengan mereka yang telah mendahului kita dalam iman, kita memuji dan memuliakan Tritunggal Mahakudus.

 

Marilah kita bersyukur kepada para Bapa Konsili karena telah mengingatkan kita akan aspek terpenting dan terindah sebagai seorang kristiani, dan semoga kita berusaha untuk mengembangkannya dalam hidup kita.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Belgia, Belanda, Finlandia, Ghana, Uganda, Selandia Baru, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Kanada, dan Amerika Serikat. Secara khusus saya menyapa para dosen dan mahasiswa dari Universitas Florida, Saint Mary’s College, dan Christendom College, serta semua yang berpartisipasi dalam Konferensi Kecerdasan Buatan di Universitas Gregorian. Atas kamu semua, dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan kedamaian Yesus yang telah bangkit! Semoga Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]


Saudara-saudari terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang Lumen Gentium, kita berfokus pada dimensi eskatologis Gereja. Sebagai “sakramen keselamatan bagi semua orang,” Gereja adalah tanda dan sarana kepenuhan janji Allah. Sebagai umat Allah yang berziarah, Gereja menafsirkan sejarah melalui lensa Injil dan berbicara dengan tegas menentang segala kejahatan. Pada saat yang sama, Gereja mengakui perlunya pertobatan terus-menerus agar dapat memenuhi misinya dengan benar. Sebagai anggota Tubuh yang sama, kita pun dipanggil untuk pembaharuan. Kita melakukan ini dengan tetap berada dalam persekutuan dengan Kristus dan satu sama lain. Seluruh Gereja paling erat bersatu dalam pujian kita kepada Allah dalam liturgi. Di sana kita berdoa untuk umat beriman yang telah meninggal dan meminta para Santo untuk menjadi pengantarakita agar kita semua dapat menerima kepenuhan janji-janji Allah dalam Kerajaan Surga.
____

(Peter Suriadi - Bogor, 6 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 3 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Selama Masa Paskah, sebagaimana Gereja perdana, kita kembali kepada perkataan Yesus, yang mengungkapkan makna penuhnya dalam terang penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Apa yang pernah luput dari perhatian para murid atau menyebabkan mereka menderita kini kembali terlintas dalam pikiran mereka, menghangatkan hati mereka, dan memenuhi mereka dengan pengharapan.

 

Bacaan Injil yang diwartakan hari Minggu ini menyajikan dialog Sang Guru dengan murid-murid-Nya selama Perjamuan Terakhir. Secara khusus, kita mendengar sebuah janji yang melibatkan kita sejak saat ini dalam misteri kebangkitan-Nya. Yesus berkata, “Apabila Aku telah pergi dan menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat Aku berada, kamu pun berada” (Yoh 14:3). Dengan demikian, para Rasul menemukan bahwa Allah menyediakan tempat bagi setiap orang. Dua orang dari mereka telah mengalami hal ini selama perjumpaan pertama mereka dengan Yesus di tepi Sungai Yordan. Yesus memperhatikan mereka yang mengikuti-Nya dan mengundang mereka senja itu untuk mengunjungi tempat tinggal-Nya (bdk. Yoh 1:39). Bahkan sekarang, dihadapkan dengan kematian, Yesus berbicara tentang sebuah rumah, tetapi kali ini rumah yang sangat besar. Rumah tersebut adalah rumah Bapa-Nya dan Bapa kita, di sana ada ruang untuk semua orang. Sang Putra menggambarkan diri-Nya sebagai hamba yang menyiapkan ruang, sehingga setiap saudara atau saudari, ketika tiba, dapat menemukan ruang mereka sendiri yang sudah siap dan merasa seolah-olah mereka selalu dirindukan dan akhirnya ditemukan.

 

Saudara-saudara terkasih, di dunia lama tempat kita masih menjalani perjalanan ini, yang menarik perhatian adalah tempat-tempat eksklusif, pengalaman yang hanya dapat diakses oleh sedikit orang, dan hak istimewa untuk memasuki tempat yang tidak dapat diakses orang lain. Namun, di dunia baru tempat Yesus yang bangkit menuntun kita, apa yang paling berharga berada dalam jangkauan setiap orang. Namun ini tidak membuatnya kurang menarik. Sebaliknya, apa yang terbuka untuk semua orang sekarang membawa sukacita. Rasa syukur menggantikan persaingan; sambutan mengatasi pengucilan; dan kelimpahan tidak lagi menimbulkan kesenjangan. Terutama, tidak ada seorang pun yang disalahartikan sebagai orang lain, dan tidak ada seorang pun yang hilang. Kematian mengancam untuk menghapus nama dan ingatan seseorang, tetapi di dalam Allah setiap orang sepenuhnya menjadi dirinya sendiri. Sesungguhnya, inilah yang kita cari sepanjang hidup kita, terkadang rela melakukan apa saja hanya untuk mendapatkan sedikit perhatian dan pengakuan.

 

“Percayalah,” kata Yesus kepada kita. Itulah rahasianya! “Percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku” (Yoh 14:1). Justru percaya inilah yang membebaskan hati kita dari kecemasan akan kepemilikan dan perolehan, dan dari khayalan bahwa kita harus mengejar posisi bergengsi untuk memiliki nilai. Setiap orang sudah memiliki nilai yang tak terbatas dalam misteri Allah, yang merupakan kenyataan yang sesungguhnya. Dengan saling mengasihi seperti Yesus telah mengasihi kita, kita menyampaikan kesadaran ini kepada satu sama lain. Inilah perintah baru; dengan cara ini, kita mengantisipasi surga di bumi dan mengungkapkan kepada semua orang bahwa persaudaraan dan perdamaian adalah panggilan kita. Sesungguhnya, melalui kasih, di tengah banyak saudara dan saudari, setiap orang menemukan bahwa mereka diciptakan secara unik.

 

Oleh karena itu, marilah kita berdoa kepada Santa Maria, Bunda Gereja, agar setiap komunitas kristiani menjadi rumah yang terbuka bagi semua orang dan memperhatikan setiap orang.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Bulan Mei telah dimulai: di seluruh Gereja, sukacita berkumpul dalam nama Maria, Bunda kita, diperbarui, terutama dengan berdoa Rosario bersama. Kita menghidupkan kembali pengalaman hari-hari di antara kenaikan Yesus dan Pentakosta, ketika para murid berkumpul di ruang atas untuk memohon Roh Kudus. Santa Maria tetap berada di tengah-tengah mereka, hatinya menjaga api yang menghidupkan doa semua orang. Saya mempercayakan ujud saya kepadamu, khususnya untuk persekutuan di dalam Gereja dan perdamaian dunia.

 

Hari ini merupakan Hari Kebebasan Pers Sedunia, yang dipromosikan oleh UNESCO. Sayangnya, hak ini sering dilanggar — kadang-kadang secara terang-terangan, kadang-kadang secara lebih halus. Marilah kita mengingat banyak jurnalis dan reporter yang telah menjadi korban perang dan kekerasan.

 

Dengan hangat saya menyapa kamu semua — umat Roma dan para peziarah yang datang dari berbagai negara!

 

Saya menyambut para guru — baik rohaniwan maupun awam — dari sekolah-sekolah Hermanas Franciscanas de los Sagrados Corazones, serta umat dari Madrid, Granada, Minneapolis, dan Malaysia; dan warga Peru yang membentuk Lembaga Virgen de Chapi de Arequipa di Roma.

 

Saya menyapa Lembaga Meter, yang selama tiga puluh tahun telah berkomitmen untuk membela anak-anak di bawah umur dari momok pelecehan, sambil melibatkan komunitas gerejani dan sipil serta mempromosikan pendidikan yang bertujuan untuk mendukung korban dan mendorong pencegahan. Terima kasih atas pengabdianmu!

 

Saya senang menyapa umat dari Padua, Gruppo Giovani Valdaso dan Punto Giovani Komunitas Camillian Piossasco, Aksi Katolik Vikariat Noale, kaum muda dari Verolanuova dan Cadignano, paduan suara kaum muda Coredo-Predaia dan para siswa dari Liceo Fardella – Ximenes, Trapani.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 22 APRIL 2026 : PERJALANAN APOSTOLIK KE ALJAZAIR, KAMERUN, ANGOLA, DAN GUINEA KHATULISTIWA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Hari ini saya ingin berbicara tentang perjalanan apostolik yang saya lakukan dari tanggal 13 hingga 23 April, mengunjungi empat negara Afrika: Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa.

 

Sejak awal masa kepausan saya, saya telah memikirkan perjalanan ke Afrika. Saya bersyukur kepada Tuhan karena telah memberi saya kesempatan untuk melaksanakannya, sebagai Gembala, bertemu dan memberi semangat kepada umat Allah; dan juga mengalaminya sebagai pesan perdamaian pada saat dalam sejarah yang ditandai oleh konflik dan pelanggaran hukum internasional yang serius dan sering terjadi. Dan saya menyampaikan terima kasih yang tulus kepada para uskup dan otoritas sipil yang menyambut saya, dan kepada semua orang yang membantu mengatur kunjungan ini.

 

Penyelenggaraan ilahi menentukan perhentian pertama adalah negara tempat situs Santo Agustinus berada, yaitu Aljazair. Dengan demikian, saya mendapati diri saya, di satu sisi, mengunjungi kembali akar jati diri spiritual saya dan, di sisi lain, menyeberangi dan memperkuat jembatan yang sangat penting bagi dunia dan Gereja saat ini: jembatan dengan zaman para Bapa Gereja yang sangat produktif; jembatan dengan dunia Islam; dan jembatan dengan benua Afrika.

 

Di Aljazair, saya menerima sambutan yang tidak hanya penuh hormat tetapi juga hangat, dan kami dapat mengalami secara langsung dan menunjukkan kepada dunia bahwa memungkinkan hidup bersama sebagai saudara dan saudari, bahkan dari agama yang berbeda, ketika kita menyadari diri kita sebagai anak-anak dari satu Bapa yang Maha Pengasih. Lebih jauh lagi, ini adalah kesempatan yang tepat waktu untuk belajar dari teladan Santo Agustinus: melalui pengalaman hidup, tulisan-tulisan, dan spiritualitasnya, ia adalah seorang guru dalam mencari Allah dan kebenaran. Saat ini sebuah kesaksian yang lebih penting dari sebelumnya bagi umat kristiani dan setiap orang.

 

Di tiga negara berikutnya yang saya kunjungi, penduduknya sebagian besar beragama Kristen, dan karena itu saya mendapati diri saya tenggelam dalam suasana perayaan iman dan sambutan hangat, yang juga diperkuat oleh ciri khas rakyat Afrika. Seperti para pendahulu saya, saya pun mengalami sesuatu yang mirip dengan apa yang terjadi pada Yesus di antara orang banyak di Galilea: Ia melihat mereka haus dan lapar akan keadilan, lalu Ia menyatakan kepada mereka: “Berbahagialah orang miskin di hadapan Allah, berbahagialah orang yang lemah lembut, berbahagialah orang yang membawa damai”, dan, setelah mengakui iman mereka, Ia berkata, “Kamu adalah garam dunia dan terang dunia” (bdk. Mat 5:1-16).

 

Kunjungan ke Kamerun memungkinkan saya untuk memperkuat seruan untuk bekerja sama demi rekonsiliasi dan perdamaian, karena negara itu pun, sayangnya, ditandai oleh ketegangan dan kekerasan. Saya senang telah melakukan perjalanan ke Bamenda, di wilayah berbahasa Inggris, di mana saya mendorong orang-orang untuk bekerja sama demi perdamaian. Kamerun dikenal sebagai "miniatur Afrika", karena keragaman dan kekayaan lingkungan alam dan sumber dayanya, tetapi kita juga dapat menafsirkan ungkapan ini sebagai kebutuhan besar seluruh benua yang terdapat di Kamerun: kebutuhan akan distribusi kekayaan yang adil; kebutuhan untuk menyediakan ruang bagi kaum muda, mengatasi korupsi yang endemik, mempromosikan pembangunan menyeluruh dan berkelanjutan, melawan berbagai bentuk kolonialisme baru dengan kerjasama internasional yang berwawasan jauh ke depan. Saya berterima kasih kepada Gereja di Kamerun dan seluruh rakyat Kamerun, yang menyambut saya dengan penuh kasih, dan saya berdoa agar semangat persatuan yang terlihat selama kunjungan saya tetap hidup dan membimbing pilihan dan tindakan di masa depan.

 

Perhentian ketiga perjalanan adalah di Angola, sebuah negara besar di selatan khatulistiwa, dengan tradisi kristiani yang telah berlangsung berabad-abad, terkait dengan penjajahan Portugis. Seperti banyak negara Afrika lainnya, setelah meraih kemerdekaan, Angola mengalami masa sulit, yang ditandai dengan perang saudara yang panjang dan berdarah. Dalam kancah sejarah ini, Allah telah membimbing dan memurnikan Gereja, semakin mengubahnya dalam pelayanan Injil, peningkatan kesejahteraan manusia, rekonsiliasi, dan perdamaian. Gereja yang bebas untuk rakyat yang bebas! Di Tempat Suci Maria Mamã Muxima — yang berarti “Bunda Hati” — saya merasakan detak jantung rakyat Angola. Dan dalam berbagai pertemuan, saya bersukacita melihat begitu banyak para pelaku hidup bakti dari segala usia, sebuah nubuat tentang Kerajaan Surga di tengah-tengah umat mereka; saya melihat para katekis yang sepenuhnya mengabdikan diri untuk kebaikan komunitas; saya melihat wajah-wajah orang tua yang telah lelah karena kerja keras dan penderitaan namun berseri-seri dengan sukacita Injil; Aku melihat perempuan dan laki-laki menari mengikuti irama lagu-lagu pujian kepada Tuhan yang bangkit, dasar dari sebuah pengharapan yang mampu mengatasi kekecewaan yang disebabkan oleh ideologi dan janji-janji kosong dari orang-orang yang berkuasa.

 

Pengharapan ini menuntut komitmen nyata, dan Gereja memiliki tanggung jawab, dengan kesaksian dan pewartaan sabda Allah yang berani, mengakui hak-hak semua orang dan mempromosikan penghormatan nyata terhadap hak-hak tersebut. Dengan otoritas sipil Angola, tetapi juga dengan otoritas negara-negara lain, saya dapat meyakinkan mereka tentang kesediaan Gereja Katolik untuk terus memberikan kontribusi ini, khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan.

 

Negara terakhir yang saya kunjungi adalah Guinea Khatulistiwa, 170 tahun setelah evangelisasi pertamanya. Dengan kearifan tradisi dan terang Kristus, rakyat Guinea telah melewati berbagai cobaan dalam sejarah mereka dan, dalam beberapa hari terakhir, di hadapan Paus, telah memperbarui dengan antusiasme besar tekad mereka untuk berjalan bersama menuju masa depan yang penuh pengharapan.

 

Saya tidak bisa melupakan apa yang terjadi di penjara di Bata, Guinea Khatulistiwa: para tahanan menyanyikan dengan suara lantang sebuah lagu syukur kepada Allah dan Paus, memohon agar ia berdoa “untuk dosa-dosa dan kebebasan mereka”. Saya belum pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. Dan kemudian mereka berdoa “Bapa Kami” bersama saya di tengah hujan deras. Sebuah tanda nyata Kerajaan Allah! Dan masih di tengah hujan, pertemuan besar dengan kaum muda dimulai di stadion di Bata. Sebuah perayaan sukacita kristiani, dengan kesaksian yang mengharukan dari kaum muda yang telah menemukan dalam Injil jalan menuju pertumbuhan yang bebas dan bertanggung jawab. Perayaan ini mencapai puncaknya dalam perayaan Ekaristi pada hari berikutnya, yang dengan tepat mengakhiri kunjungan ke Guinea Khatulistiwa, serta seluruh perjalanan apostolik.

 

Saudara-saudari terkasih, kunjungan Paus ini, bagi bangsa Afrika, adalah kesempatan untuk menyuarakan pendapat mereka, mengungkapkan sukacita menjadi umat Allah dan pengharapan akan masa depan yang lebih baik, martabat bagi setiap orang. Saya senang telah memberi mereka kesempatan ini, dan pada saat yang sama saya bersyukur kepada Tuhan atas apa yang telah mereka berikan kepada saya, sebuah harta yang tak ternilai bagi hati dan pelayanan saya.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Irlandia, Malta, Norwegia, Nigeria, India, Filipina, Trinidad dan Tobago, dan Amerika Serikat. Kepada kamu semua, dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Yesus yang telah bangkit! Semoga Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, hari ini saya ingin berbicara tentang perjalanan apostolik saya baru-baru ini ke empat negara: Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa. Saya telah berkeinginan untuk memulai perjalanan ini sejak awal masa kepausan saya, dan sekarang saya menyampaikan rasa syukur yang tulus kepada Tuhan karena telah memberi saya kesempatan untuk bertemu dengan umat Allah di Afrika dan meneguhkan iman mereka sebagai Penerus Santo Petrus. Waktu saya di sana dimaksudkan untuk menyampaikan pesan perdamaian kepada dunia pada saat yang ditandai oleh konflik dan pelanggaran hukum internasional yang sering terjadi. Bersamaan dengan seruan untuk perdamaian, saya juga mengecam ketidakadilan besar yang ada di negara-negara yang kaya akan sumber daya alam tersebut, mendesak komunitas internasional untuk mengatasi sikap kolonialisme baru dan terlibat dalam kerjasama yang autentik. Pada saat yang sama, Perjalanan apostolik memberi rakyat Afrika kesempatan untuk menyampaikan suara mereka dan mengungkapkan sukacita menjadi umat Allah. Dalam hal ini, saya mengucap syukur kepada Tuhan atas apa yang telah mereka berikan kepada saya: anugerah iman, pengharapan, dan kasih yang tak terukur, yang telah sangat memperkaya hidup dan pelayanan saya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 29 April 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 26 April 2026

Saudara-saudari, selamat siang dan selamat hari Minggu!

 

Seraya kita melanjutkan perjalanan kita melalui Masa Paskah, Bacaan Injil hari ini menyajikan perbandingan Yesus tentang diri-Nya dengan seorang gembala dan juga dengan pintu kandang domba (bdk. Yoh 10:1-10).

 

Yesus membuat perbandingan antara gembala dan pencuri. Bahkan, Ia berkata bahwa “siapa yang masuk ke dalam kandang domba tanpa melalui pintu, tetapi dengan memanjat dari tempat lain, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok” (ayat 1). Ia melanjutkan dengan menjelaskan hal ini lebih lanjut: “Pencuri datang hanya untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan. Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (ayat 10). Perbedaannya jelas: gembala memiliki ikatan khusus dengan domba-dombanya dan karena itu dapat masuk melalui pintu kandang domba. Di sisi lain, jika seseorang harus memanjat pagar untuk masuk, maka ia pastilah seorang pencuri yang ingin mencuri domba-domba itu.

 

Yesus memberitahu kita bahwa Ia terikat kepada kita oleh hubungan persahabatan, karena Ia mengenal kita, memanggil nama kita, membimbing kita, dan — seperti gembala yang menjaga domba-dombanya — mencari kita ketika kita tersesat dan membalut luka kita ketika kita sakit (bdk. Yeh. 34:16). Yesus tidak datang sebagai pencuri untuk mengambil hidup dan kebebasan kita, tetapi untuk menuntun kita di jalan kebenaran. Ia tidak datang untuk menjebak atau menipu hati nurani kita, tetapi untuk meneranginya dengan cahaya kebijaksanaan-Nya. Ia tidak datang untuk mencemari sukacita duniawi kita, tetapi untuk menyingkapnya kepada kebahagiaan yang lebih penuh dan lebih kekal. Mereka yang mempercayakan diri kepada-Nya tidak perlu takut, karena Ia tidak mengambil hidup kita, tetapi datang untuk memberikannya kepada kita dengan berlimpah-limpah (bdk. ayat 10).

 

Saudara-saudari, kita diundang untuk merefleksikan, dan terutama untuk waspada terhadap, pintu hati dan hidup kita, karena siapa pun yang masuk dapat menambah sukacita kita, atau mencurinya dari kita seperti pencuri. “Pencuri” dapat mengambil banyak bentuk. Mereka bisa berupa: orang-orang yang, terlepas dari penampilan lahiriahnya, menindas kebebasan kita atau gagal menghormati martabat kita; kepercayaan dan prasangka yang mencegah kita memandang orang lain dan kehidupan dengan tenang; gagasan keliru yang dapat menyebabkan kita membuat pilihan negatif; atau gaya hidup dangkal dan konsumeristik yang membuat hati kita hampa dan mendorong kita untuk terus hidup di luar diri kita sendiri. Dan janganlah kita melupakan “pencuri” yang, dengan menjarah sumber daya bumi, melancarkan perang berdarah, atau memicu kejahatan dalam bentuk apa pun, tidak melakukan apa pun selain merampas dari diri kita masing-masing kemungkinan masa depan yang ditandai dengan perdamaian dan ketenangan.

 

Kita harus bertanya pada diri kita sendiri: Siapa yang kita inginkan untuk membimbing kita dalam hidup? "Pencuri" mana yang telah mencoba menerobos masuk ke dalam kawanan domba kita? Apakah mereka berhasil, atau apakah kita berhasil menangkis mereka?

 

Hari ini, Bacaan Injil mengajak kita untuk percaya kepada Tuhan. Ia tidak datang untuk mengambil apa pun dari kita. Sebaliknya, Ia adalah Gembala yang baik yang meningkatkan kehidupan dan menawarkannya kepada kita dengan berlimpah-limpah. Semoga Bunda Maria selalu menyertai kita dalam perjalanan kita dan menjadi perantara kita dan seluruh dunia.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini merupakan peringatan 40 tahun Tragedi Chernobyl, yang meninggalkan bekas luka mendalam pada hati nurani umat manusia. Tragedi ini menjadi peringatan mengenai risiko yang melekat dalam penggunaan teknologi yang semakin canggih. Marilah kita serahkan mereka yang telah meninggal dan semua yang masih menderita akibat bencana tersebut kepada kerahiman Allah. Saya berharap kebijaksanaan dan tanggung jawab akan selalu berlaku di setiap tingkat pengambilan keputusan sehingga semua penggunaan energi atom dapat ditempatkan untuk melayani kehidupan dan perdamaian.

 

Sekarang saya menyapamu, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara: selamat datang!

 

Saya menyapa para Ksatria dan Wanita dari Ordo Santo Georgius dan Ordo Eropa dari Wangsa Habsburg-Lorraine. Saya menyapa anak-anak dari kelompok tari “Malva” dari Brovary, Ukraina; Paduan Suara Cantica Sacra dari Keuskupan Agung Trnava, Slovakia; umat dari Wina, Madrid, dan Kepulauan Canary; dan para guru dari Sekolah “São Tomás”, Lisbon.

 

Saya juga menyapa sekelompok besar orang muda dari Val Camonica Keuskupan Brescia, dan para pelayan altar muda dari Biadene dan Caonada; serta umat beriman dari Treviso, Vicenza, Crotone, Cariati, Oria dan Lecce; dan para peserta konferensi Lembaga Rasul Kerahiman Ilahi.

 

Secara khusus saya menyapa anggota keluarga dan sahabat para imam baru Keuskupan Roma, yang saya tahbiskan pagi ini di Basilika Santo Petrus: mohon terus mendampingi para pelayan Injil muda ini dengan doa-doamu.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 26 April 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI KILAMBA (ANGOLA} 19 April 2026

Saudara-saudari terkasih,

 

Sekarang kita akan bersama-sama berdoa kepada Maria, Regina Caeli, Ratu Surga, dengan dia – Bunda dan pendamping kita dalam perjalanan hidup – ambil bagian dalam sukacita kebangkitan.

 

Dengan lagu penuh sukacita ini, kita tidak ingin menghapus atau membungkam tangisan mereka yang menderita, tetapi sebaliknya ingin merangkul dan menyatukan mereka dengan suara kita dalam keselarasan baru, sehingga bahkan dalam penderitaan sekali pun cahaya iman tetap hidup, dan dengannya, mengharapkan dunia yang lebih baik.

 

Saya sangat sedih atas peningkatan serangan baru-baru ini terhadap Ukraina, yang terus menimpa warga sipil juga. Saya menyampaikan solidaritas saya bagi mereka yang menderita dan meyakinkan seluruh rakyat Ukraina akan doa saya. Saya kembali mengimbau agar senjata-senjata berhenti berbunyi dan jalan dialog tetap ditempuh.

 

Namun, gencatan senjata yang diumumkan di Lebanon memberikan alasan untuk berharap; merupakan secercah pengharapan bagi rakyat Lebanon dan wilayah Levant. Saya mendorong mereka yang berupaya mencapai solusi diplomatik untuk melanjutkan perundingan perdamaian, sehingga penghentian permusuhan di seluruh Timur Tengah dapat menjadi permanen.

 

Kristus telah menaklukkan kematian, dan dengan kepastian inilah kita semua, bersatu dengan Dia dan dalam Dia sebagai satu Tubuh, berkomitmen hari ini dan setiap hari, terlepas dari rintangan dan kesulitan, untuk menyebarkan di sekitar kita buah-buah Paskah yaitu kasih, keadilan sejati, dan perdamaian.

 

Semoga Bunda Yesus, Bunda hati kita, membantu kita untuk selalu merasakan kehadiran Putra-Nya yang telah bangkit, hidup dan kuat, dekat dengan kita.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 19 April 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 12 April 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu dan sekali lagi selamat Paskah!

 

Hari ini, pada Hari Minggu Paskah II, yang didedikasikan untuk Kerahiman Ilahi oleh Santo Yohanes Paulus II, Bacaan Injil menceritakan penampakan Yesus yang telah bangkit kepada Rasul Tomas (bdk. Yoh 20:19–31). Peristiwa ini terjadi delapan hari setelah Paskah, ketika komunitas berkumpul bersama. Di sana, Tomas bertemu dengan Sang Guru, yang mengundangnya untuk melihat bekas paku dan memasukkan tangannya ke dalam luka di lambung-Nya, dan percaya (bdk. ayat 27). Adegan ini mengajak kita untuk merefleksikan perjumpaan kita dengan Yesus yang telah bangkit. Di mana kita dapat menemukan-Nya? Bagaimana kita dapat mengenali-Nya? Bagaimana kita dapat percaya? Santo Yohanes, yang menceritakan peristiwa itu, memberi kita petunjuk yang tepat: Tomas bertemu Yesus pada hari kedelapan, di tengah komunitas yang berkumpul, dan mengenali-Nya dalam tanda-tanda pengurbanan-Nya. Pengakuan imannya, yang tertinggi di seluruh Injil Yohanes, muncul dari pengalaman ini: “Tuhanku dan Allahku!” (ayat 28).

 

Tentu saja, tidak selalu mudah untuk percaya. Tidak mudah bagi Thomas, dan juga tidak mudah bagi kita untuk percaya. Iman perlu dipelihara dan diteguhkan. Karena alasan ini, pada “hari kedelapan” — yaitu, setiap hari Minggu — Gereja mengajak kita untuk melakukan seperti yang dilakukan para murid pertama: berkumpul bersama dan merayakan Ekaristi. Selama Misa, kita mendengarkan sabda Yesus, kita berdoa, kita menyatakan iman kita, kita ambil bagian dalam kasih karunia Allah, kita mempersembahkan hidup kita dalam persatuan dengan Kurban Kristus. Tubuh dan darah-Nya memberi kita santapan, sehingga kita pun dapat menjadi saksi kebangkitan-Nya, sebagaimana ditunjukkan istilah “Misa,” yang berarti “pengutusan,” atau “misi” (bdk. Katekismus Gereja Katolik, 1332).

 

Ekaristi hari Minggu sangat penting bagi kehidupan kristiani. Besok saya akan berangkat untuk melakukan perjalanan apostolik ke Afrika. Beberapa martir Gereja Afrika awal, khususnya Para Martir Abitene, telah meninggalkan kesaksian yang indah dalam hal ini. Ketika diberi kesempatan untuk menyelamatkan hidup mereka dengan meninggalkan perayaan Ekaristi, mereka menjawab bahwa mereka tidak dapat hidup tanpa merayakan Hari Tuhan. Di sanalah iman kita tumbuh dan diperkuat. Di sanalah upaya kita, meskipun terbatas, disatukan oleh rahmat Allah dengan tindakan para anggota satu tubuh — tubuh Kristus — untuk mewujudkan satu rencana keselamatan besar yang mencakup seluruh umat manusia. Melalui Ekaristi, tangan kita menjadi "tangan Kristus yang bangkit," memberikan kesaksian akan kehadiran, belas kasihan, dan damai-Nya. Tanda pekerjaan, pengurbanan, penyakit, dan berlalunya tahun sering terukir di tangan kita, seperti halnya dalam kelembutan belaian, jabat tangan, atau gestur amal kasih.

 

Saudara-saudari terkasih, di dunia yang sangat membutuhkan perdamaian, lebih dari sebelumnya kita dituntut untuk teguh dan setia dalam perjumpaan ekaristis kita dengan Tuhan yang telah bangkit, sehingga kita dapat tampil sebagai saksi amal kasih dan pembawa pesan perdamaian. Semoga Perawan Maria membantu kita melakukan hal ini, ia yang diberkati karena ia adalah orang pertama yang percaya tanpa melihat (bdk. Yoh 20:29).

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini, banyak Gereja Timur merayakan Paskah menurut kalender Julian. Dalam persekutuan iman di dalam Tuhan yang bangkit, saya menyampaikan harapan tulus saya untuk perdamaian kepada semua komunitas ini. Saya menyertai pengharapan ini dengan doa yang sungguh-sungguh untuk semua orang yang menderita akibat perang, khususnya untuk rakyat Ukraina yang terkasih. Semoga terang Kristus membawa penghiburan bagi hati yang berduka dan memperkuat pengharapan akan perdamaian. Semoga perhatian komunitas internasional terhadap tragedi perang ini tidak goyah!

 

Di hari-hari duka, ketakutan, dan pengharapan yang teguh kepada Allah ini, saya merasa lebih dekat dari sebelumnya dengan rakyat Lebanon yang terkasih. Prinsip kemanusiaan, yang tertanam dalam hati nurani setiap orang dan diakui dalam hukum internasional, mengandung kewajiban moral untuk melindungi penduduk sipil dari dampak mengerikan perang. Saya mengimbau pihak-pihak yang bertikai untuk menyatakan gencatan senjata dan segera mencari solusi damai.

 

Rabu depan merupakan peringatan tiga tahun dimulainya pertikaian berdarah di Sudan. Betapa besar penderitaan rakyat Sudan, korban tak berdosa dari tragedi yang tidak manusiawi ini! Dengan tulus saya kembali mengimbau pihak-pihak yang bertikai untuk membungkam senjata mereka dan memulai, tanpa prasyarat, dialog yang tulus yang bertujuan untuk mengakhiri perang saudara ini sesegera mungkin.

 

Sekarang, saya menyapa kamu semua – umat Roma dan para peziarah – terutama umat yang merayakan Hari Minggu Kerahiman Ilahi di Tempat Kudus Santo Spirito, Sassia.

 

Saya menyapa Musikverein Kleinraming, dari Keuskupan Linz di Austria, umat yang datang dari Polandia, kaum muda dari Collège Saint Jean de Passy Paris, dan mereka yang berasal dari berbagai negara dari Gerakan Focolare. Saya juga menyapa rombongan peziarah dari komunitas San Benedetto Po dan para calon penerima sakramen krisma dari Santarcangelo di Romagna dan San Vito.

 

Besok saya akan melakukan perjalanan apostolik selama sepuluh hari ke empat negara Afrika: Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa. Mohon doakan saya.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu.

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 13 April 2026)