Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 15 Februari 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Hari ini kita akan mendengarkan sebagian dari perikop Injil tentang “Khotbah di Bukit” (bdk. Mat 5:17-37). Setelah memberitakan Khotbah di Bukit, Yesus mengajak kita untuk memasuki kebaruan Kerajaan Allah. Untuk menuntun kita dalam perjalanan ini, Ia mengungkapkan makna sebenarnya dari perintah hukum Musa. Perintah itu bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan religius lahiriah berupa perasaan “benar” di hadapan Allah, tetapi untuk membawa kita ke dalam hubungan kasih dengan Allah dan saudara-saudari kita. Karena alasan inilah, Yesus berkata bahwa Ia tidak datang untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya (bdk. ayat 17).

 

Hukum Taurat digenapi justru oleh kasih, yang membawa makna mendalam dan tujuan utamanya kepada kesempurnaan. Kita dipanggil untuk mencapai kebenaran yang “melebihi” (bdk. ayat 20) kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kebenaran yang tidak terbatas pada ketaatan terhadap perintah, tetapi yang membuka kita kepada kasih dan mendorong kita untuk mengasihi. Yesus menelaah beberapa ajaran hukum Taurat yang merujuk pada kasus-kasus konkret, dan menggunakan rumusan linguistik yang disebut antinomi untuk menunjukkan perbedaan antara kebenaran religius formal dan kebenaran Kerajaan Allah: di satu sisi, “Kamu telah mendengar bahwa kepada nenek moyang kita dikatakan,” dan di sisi lain, Yesus menegaskan, “Namun, Aku berkata kepadamu” (bdk. ayat 21-37).

 

Pendekatan ini sangat penting, karena menunjukkan bahwa hukum Taurat diberikan kepada Musa dan para nabi sebagai cara untuk mengenal Allah dan rencana-Nya bagi kita dan sejarah, atau, menggunakan ungkapan Santo Paulus, sebagai pengawas yang menuntun kita kepada-Nya (bdk. Gal 3:23-25). Tetapi sekarang, Allah sendiri, dalam pribadi Yesus, telah datang di antara kita, menggenapi hukum Taurat, menjadikan kita anak-anak Bapa dan memberi kita rahmat untuk menjalin hubungan dengan-Nya sebagai anak-anak dan sebagai saudara-saudari di antara kita.

 

Saudara-saudari, Yesus mengajarkan kita kebenaran sejati berupa kasih dan, dalam setiap perintah hukum Taurat, kita harus belajar untuk mengidentifikasi panggilan untuk mengasihi. Sesungguhnya, tidak cukup hanya menahan diri untuk tidak membunuh seseorang secara fisik jika kemudian membunuh dengan kata-kata dan merendahkan martabat orang lain (bdk. Mat 5:21-22). Demikian pula, tidak cukup hanya setia secara teknis kepada pasangan dan tidak berzina jika hubungan tersebut tidak saling memiliki kelembutan, mendengarkan, menghormati, memperhatikan, dan memiliki tujuan bersama (bdk. ayat 27-28, 31-32). Kita dapat menambahkan selain contoh yang diberikan Yesus kepada kita. Bacaan Injil menawarkan ajaran berharga ini kepada kita: kebenaran minimal tidaklah cukup; dibutuhkan kasih yang besar.

 

Marilah kita bersama-sama memohon kepada Perawan Maria, yang memberikan Kristus, yang menggenapi hukum dan rencana keselamatan, kepada dunia. Semoga ia menjadi perantara kita, membantu kita untuk lebih memahami Kerajaan Allah dan menghidupi panggilan-Nya untuk kebenaran.


[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya menyampaikan simpati saya kepada rakyat Madagaskar yang telah terdampak oleh siklon ganda, banjir, dan tanah longsor dalam waktu singkat. Saya mendoakan para korban, keluarga mereka, dan semua orang yang telah menderita kerusakan besar.

 

Dalam beberapa hari mendatang, jutaan orang di Asia Timur dan bagian lain dunia akan merayakan Tahun Baru Imlek. Semoga perayaan yang penuh sukacita ini memperkuat ikatan keluarga dan persahabatan, membawa damai ke rumah dan masyarakat, serta memberikan kesempatan untuk menatap masa depan bersama dan membangun perdamaian serta kemakmuran bagi semua. Seraya mengucapkan selamat Tahun Baru, saya menyampaikan kasih sayang saya kepada semua orang dan memohonkan berkat Tuhan bagi kamu semua.

 

Saya senang menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah, terutama umat Paroki San Lorenzo, Cadiz, Spanyol, dan mereka yang berasal dari Marche.

 

Saya juga menyapa para siswa dan guru Sekolah Katolik Semua Orang Kudus Sheffield dan Kolese Salesian Thornleigh Bolton, Inggris; Sekolah Vila Pouca de Aguiar Portugal; Colegio Altasierra Sevilla dan Sekolah Edith Stein Schillingfürst, Jerman.

 

Saya menyapa para peserta konferensi nasional Gerakan Mahasiswa Katolik (FIDAE); para calon penerima Sakramen Krisma dari Almenno San Salvatore dan mereka yang berasal dari Lugo, Rosaro, Stallavena, dan Alcenago; anak-anak dari Sekolah San Giuseppe, Bassano del Grappa dan Institut Salesian Sant’Ambrogio, Milan; serta kaum muda Petosino, Solbiate, dan Cagno.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Februari 2026)

PESAN PAUS LEO XIV UNTUK MASA PRAPASKAH 2026

Mendengarkan dan Berpuasa: Masa Prapaskah sebagai Masa Pertobatan

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Masa Prapaskah adalah masa di mana Gereja, yang dituntun rasa kepedulian keibuan, mengajak kita untuk menempatkan kembali misteri Allah di pusat kehidupan kita, guna menemukan pembaharuan dalam iman kita dan menjaga hati kita agar tidak terkikis oleh kecemasan dan pengalihan kehidupan sehari-hari.

 

Setiap jalan menuju pertobatan dimulai dengan memperkenankan sabda Allah menyentuh hati kita dan menerimanya dengan ketaatan roh. Ada hubungan antara sabda, penerimaan kita terhadapnya, dan transformasi yang ditimbulkannya. Karena alasan ini, perjalanan Paskah merupakan kesempatan yang baik untuk mendengarkan suara Tuhan dan memperbarui komitmen kita untuk mengikuti Kristus, menyertai-Nya di jalan menuju Yerusalem, di mana misteri penderitaan, wafat, dan kebangkitan-Nya akan digenapi.

 

Mendengarkan

 

Tahun ini, pertama-tama saya ingin membahas pentingnya memberi ruang bagi sabda melalui mendengarkan. Kesediaan untuk mendengarkan adalah cara pertama kita menunjukkan keinginan untuk menjalin hubungan dengan seseorang.

 

Dengan mewahyukan diri-Nya kepada Musa di dalam nyala api yang keluar dari semak duri, Allah sendiri mengajarkan kepada kita bahwa mendengarkan adalah salah satu ciri khas-Nya: “Sungguh Aku telah memperhatikan kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir. Aku telah mendengar teriakan mereka” (Kel 3:7). Mendengar teriakan orang-orang yang tertindas adalah awal dari kisah pembebasan di mana Tuhan memanggil Musa, mengutusnya untuk membuka jalan keselamatan bagi anak-anak-Nya yang telah diperbudak.

 

Allah kita adalah Allah yang berupaya melibatkan kita. Bahkan hari ini Ia membagikan kepada kita apa yang ada di dalam hati-Nya. Karena itu, mendengarkan sabda dalam liturgi mengajarkan kita untuk mendengarkan kebenaran kenyataan. Di tengah banyaknya suara yang hadir dalam kehidupan pribadi kita dan masyarakat, Kitab Suci membantu kita untuk mengenali dan menanggapi teriakan orang-orang yang menderita dan sengsara. Guna membina keterbukaan batin untuk mendengarkan ini, kita harus memperkenankan Allah mengajari kita bagaimana mendengarkan sebagaimana mestinya. Kita harus menyadari bahwa “kondisi kaum miskin adalah seruan yang, sepanjang sejarah manusia, senantiasa menantang kehidupan, masyarakat, sistem politik dan ekonomi kita, dan, tak terkecuali, Gereja.”[1]

 

Berpuasa

 

Jika Masa Prapaskah adalah waktu untuk mendengarkan, puasa adalah cara konkret untuk mempersiapkan diri menerima sabda Allah. Menahan diri terhadap makanan adalah praktik asketis kuno yang penting dalam jalan pertobatan. Justru karena melibatkan tubuh, puasa memudahkan kita untuk mengenali apa "rasa lapar" kita dan apa yang kita anggap perlu untuk kebutuhan hidup kita. Lebih jauh lagi, puasa membantu kita untuk mengidentifikasi dan mengelola "nafsu makan" kita, menjaga rasa lapar dan haus kita akan keadilan tetap hidup dan membebaskan kita dari rasa puas diri. Dengan demikian, puasa mengajarkan kita untuk berdoa dan bertindak secara bertanggung jawab terhadap sesama.

 

Dengan wawasan spiritual, Santo Agustinus membantu kita memahami ketegangan antara saat ini dan penggenapan di masa depan yang menjadi ciri khas penjagaan hati ini. Ia mengamati bahwa: “Dalam perjalanan hidup di dunia ini, laki-laki dan perempuan wajib lapar dan haus akan keadilan, tetapi kepuasan hanya ada di kehidupan selanjutnya. Para malaikat merasa puas dengan roti ini, makanan ini. Di sisi lain, umat manusia lapar akan roti dan makanan ini; kita semua tertarik padanya dalam keinginan kita. Menjangkau keinginan ini membentangkan jiwa dan meningkatkan kapasitasnya.”[2] Dengan cara ini dipahami bahwa puasa tidak hanya memungkinkan kita untuk mengendalikan keinginan kita, memurnikannya dan membuatnya semakin bebas, tetapi juga membentangkannya, sehingga terarah kepada Allah dan berbuat baik.

 

Tetapi, untuk melaksanakan puasa sesuai dengan karakter Injil dan menghindari godaan yang mengarah pada kesombongan, puasa harus dijalani dalam iman dan kerendahan hati. Puasa harus berlandaskan persekutuan dengan Tuhan, karena “mereka yang tidak dapat memelihara diri mereka dengan sabda Allah tidak berpuasa dengan benar.”[3] Sebagai tanda nyata dari komitmen batin kita untuk berpaling dari dosa dan kejahatan dengan pertolongan rahmat, puasa juga harus mencakup bentuk-bentuk penyangkalan diri lainnya yang bertujuan untuk membantu kita memperoleh gaya hidup yang semakin sederhana, karena “hanya kesederhanaanlah yang membuat kehidupan kristiani kuat dan otentik.”[4]

 

Dalam hal ini, saya ingin mengajakmu kepada bentuk pantang yang sangat praktis dan seringkali tidak dihargai: yaitu menahan diri dari kata-kata yang menyinggung dan menyakiti sesama kita. Marilah kita mulai dengan melucuti bahasa kita, menghindari kata-kata kasar dan penilaian yang terburu-buru, menahan diri dari fitnah dan berbicara buruk tentang mereka yang tidak ada di hadapan kita dan tidak dapat membela diri. Sebaliknya, marilah kita berusaha untuk menimbang kata-kata kita dan menumbuhkan kebaikan dan rasa hormat dalam keluarga kita, di antara teman-teman kita, di tempat kerja, di media sosial, dalam debat politik, di media, dan dalami komunitas kristiani. Dengan cara ini, kata-kata kebencian akan digantikan kata-kata pengharapan dan perdamaian.

 

Bersama-sama

 

Akhirnya, Masa Prapaskah menekankan aspek komunal dari mendengarkan sabda dan berpuasa. Kitab Suci sendiri menggarisbawahi dimensi ini dalam berbagai cara. Misalnya, Kitab Nehemia menceritakan bagaimana orang Israel berkumpul untuk mendengarkan Kitab Taurat Tuhan dibacakan di muka umum, bersiap untuk mengucapkan pengakuan iman dan menjalankan ibadah mereka dengan berpuasa, sehingga memperbarui perjanjian mereka dengan Allah (bdk. 9:1-3).

 

Demikian pula, paroki, keluarga, kelompok gerejawi, dan komunitas religius kita dipanggil untuk melakukan perjalanan bersama selama Masa Prapaskah, di mana mendengarkan sabda Allah, serta jeritan kaum miskin dan bumi, menjadi bagian dari kehidupan komunitas kita, dan puasa menjadi landasan bagi pertobatan yang tulus. Dalam konteks ini, pertobatan tidak hanya merujuk pada hati nurani kita, tetapi juga pada kualitas hubungan dan dialog kita. Atinya, kita harus memperkenankan diri kita ditantang kenyataan dan mengenali apa yang benar-benar menuntun keinginan kita — baik di dalam komunitas gerejawi kita maupun dalam hal kehausan umat manusia akan keadilan dan rekonsiliasi.

 

Saudara-saudara terkasih, marilah kita memohon rahmat Prapaskah yang menuntun kita untuk semakin memperhatikan Allah dan kaum lemah. Marilah kita memohon kekuatan yang berasal dari jenis puasa yang juga membentangkan menuju penggunaan bahasa kita, sehingga kata-kata yang menyakitkan dapat berkurang dan memberi ruang yang lebih besar bagi suara sesama kita. Marilah kita berupaya menjadikan komunitas kita tempat di mana jeritan mereka yang menderita mendapat sambutan, dan mendengarkan membuka jalan menuju pembebasan, membuat kita siap dan bersemangat untuk berkontribusi dalam membangun peradaban kasih.

 

Dengan tulus saya memberkati kamu semua dan perjalanan Masa Prapaskahmu.

 

Vatikan, 5 Februari 2026, Peringatan wajib Santa Agata, Perawan dan Martir

 

LEO PP. XIV



[1] Seruan Apostolik Dilexi Te (4 Oktober 2025), 9.

[2] Agustinus, Manfaat Puasa, 1, 1.

[3] Benediktus XVI, Katekese (9 Maret 2011).

[4] Paulus VI, Katekese (8 Februari 1978).

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 11 Februari 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. I. KONSTITUSI DOGMATIS DEI VERBUM. 5. SABDA ALLAH DALAM KEHIDUPAN GEREJA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Dalam katekese hari ini kita akan melihat adanya hubungan yang mendalam dan vital antara sabda Allah dan Gereja, ikatan yang diungkapkan oleh Dei Verbum, Konstitusi Konsili Vatikan II, bab enam. Gereja adalah rumah yang sah bagi Kitab Suci. Di bawah inspirasi Roh Kudus, Kitab Suci berasal dari umat Allah, dan ditujukan untuk umat Allah. Dalam komunitas kristiani, Kitab Suci, dapat dikatakan, memiliki habitatnya: sesungguhnya, dalam kehidupan dan iman Gereja, Kitab Suci menemukan ruang di mana ia dapat mengungkapkan maknanya dan mewujudkan kekuatannya.

 

Konsili Vatikan II mengingatkan kita bahwa “Kitab-kitab ilahi seperti juga tubuh Tuhan sendiri selalu dihormati oleh Gereja, yang terutama dalam Liturgi suci tiada hentinya menyambut roti kehidupan dari meja sabda Allah maupun tubuh Kristus, dan menyajikannya kepada umat beriman. Lebih lanjut, “Kitab-kitab itu bersama dengan Tradisi Suci selalu dipandang dan tetap dipandang sebagai norma imannya yang tinggi” (Dei Verbum, 21).

 

Gereja tidak pernah berhenti merefleksikan nilai Kitab Suci. Setelah Konsili, momen yang sangat penting berkaitan dengan hal ini adalah Sidang Umum Biasa Sinode Para Uskup dengan tema “Sabda Allah dalam kehidupan dan perutusan Gereja” pada bulan Oktober 2008. Paus Benediktus XVI mengumpulkan hasilnya dalam Seruan Pasca-Sinodal Verbum Domini (30 September 2010), di mana beliau menegaskan: “Hubungan intrinsik antara sabda dan iman memperjelas bahwa hermeneutika biblis yang otentik hanya dapat diperoleh dalam iman Gereja, yang memiliki paradigma dalam fiat Maria… latar utama penafsiran Kitab Suci adalah kehidupan Gereja” (no. 29).

 

Karenanya, dalam komunitas gerejawi, Kitab Suci menemukan ruang lingkup untuk melaksanakan tugas khususnya dan mencapai tujuannya: memperkenalkan Kristus dan membuka dialog dengan Allah. Sesungguhnya, “ketidaktahuan akan Kitab Suci adalah ketidaktahuan akan Kristus”.[1] Ungkapan Santo Hieronimus yang terkenal ini mengingatkan kita akan tujuan utama membaca dan merenungkan Kitab Suci: mengenal Kristus dan, melalui Dia, menjalin hubungan dengan Allah, hubungan yang dapat dipahami sebagai percakapan, dialog. Dan Konstitusi Dei Verbum menyajikan wahyu kepada kita tepat sebagai dialog, di mana Allah berbicara kepada manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya (bdk. DV, 2). Hal ini terjadi ketika kita membaca Kitab Suci dengan sikap batiniah doa: Allah kemudian datang kepada kita dan memulai percakapan dengan kita.

 

Kitab Suci, yang dipercayakan kepada Gereja dan dipelihara serta dijelaskan olehnya, memainkan peran aktif: sesungguhnya, dengan kemanjuran dan kekuatannya, Kitab Suci menopang dan menguatkan komunitas kristiani. Segenap umat beriman dipanggil untuk minum dari mata air ini, pertama dan terutama dalam perayaan Ekaristi dan sakramen-sakramen lainnya. Kecintaan terhadap Kitab Suci dan keakraban dengannya harus membimbing mereka yang melayani Sabda: uskup, imam, diakon, katekis. Karya para ekseget dan mereka yang bergelut dengan ilmu pengetahuan biblis sangat berharga, dan Kitab Suci memiliki tempat sentral dalam teologi, yang menemukan landasan dan jiwanya dalam sabda Allah.

 

Gereja sangat menginginkan sabda Allah dapat menjangkau setiap anggotanya dan memelihara perjalanan iman mereka. Tetapi sabda Allah juga mendorong Gereja melampaui dirinya sendiri; sabda Allah terus membukanya kepada perutusan bagi setiap orang. Memang, kita hidup dikelilingi oleh begitu banyak kata-kata, tetapi betapa banyak di antaranya yang kosong! Terkadang kita bahkan mendengarkan kata-kata bijak, yang bagaimanapun tidak memengaruhi takdir akhir kita. Sebaliknya, sabda Allah menjawab dahaga kita akan makna, akan kebenaran tentang hidup kita. Satu-satunya sabda yang selalu baru: mengungkapkan misteri Allah kepada kita, sabda itu tak habis-habisnya, sabda itu tidak pernah berhenti menawarkan kekayaannya.

 

Saudara-saudari terkasih, hidup di dalam Gereja membuat kita belajar bahwa Kitab Suci sepenuhnya berkaitan dengan Yesus Kristus, dan kita mengalami bahwa inilah alasan mendalam atas nilai dan kekuatannya. Kristus adalah sabda Bapa yang hidup, Sabda Allah yang menjadi manusia. Seluruh Kitab Suci mewartakan pribadi dan kehadiran-Nya yang menyelamatkan, bagi kita masing-masing dan seluruh umat manusia. Karena itu, marilah kita membuka hati dan pikiran kita untuk menerima karunia ini, mengikuti teladan Maria, Bunda Gereja.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Belanda, Swedia, Israel, dan Amerika Serikat. Rabu depan, Masa Prapaskah dimulai. Masa Prapaskah adalah waktu untuk memperdalam pengetahuan dan kasih kita akan Tuhan, memeriksa hati dan hidup kita, serta memfokuskan kembali pandangan kita kepada Yesus dan kasih-Nya kepada kita. Semoga hari doa, puasa, dan sedekah yang akan datang menjadi sumber kekuatan saat setiap hari kita berusaha memikul salib kita sendiri dan mengikuti Kristus. Atasmu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese kita tentang Konstitusi Dogmatis Dei Verbum, hari ini kita telah membahas hubungan yang mendalam dan vital antara sabda Allah dan Gereja. Kitab Suci, yang telah dipercayakan kepada Gereja dan dijaga olehnya, mengungkapkan maknanya dan menunjukkan kekuatannya dalam kehidupan dan iman Gereja, terutama dalam perayaan Ekaristi Kudus. Karena alasan ini, Gereja terus-menerus merenungkan dan menafsirkan Kitab Suci karena Kitab Suci adalah sarana yang dengannya kita mengenal sabda Allah yang hidup dan menjelma, yaitu Yesus Kristus. Sesungguhnya, berdoa dengan Kitab Suci membuka pintu bagi hubungan yang intim dengan Allah yang melalui tulisan-tulisan suci ini mengundang kita untuk bercakap-cakap dengan-Nya. Santo Hieronimus menunjukkan dengan tepat bahwa ketidaktahuan akan Kitab Suci adalah ketidaktahuan akan Allah. Dengan mengingatkan hal ini, saya mendorongmu untuk membaca dan merenungkan sabda Allah yang diinspirasikan setiap hari. Semoga sabda Allah memelihara hati dan pikiran kita serta menuntun kita kepada kepenuhan hidup.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 11 Februari 2026)



[1]S. Girolamo, Comm. in Is., Prol.: PL 24, 17 B.

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 8 Februari 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Setelah menyampaikan Khotbah di Bukit, Yesus berbicara kepada mereka yang mempraktikkannya, mengatakan bahwa berkat khotbah tersebut bumi tidak lagi sama dan dunia tidak lagi dalam kegelapan. “Kamu adalah garam dunia… Kamu adalah terang dunia” (Mat 5:13-14). Sesungguhnya, sukacita sejati itulah yang memberi cita rasa pada kehidupan dan menampakkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Sukacita ini muncul dari cara hidup, cara mendiami bumi dan hidup bersama yang harus diinginkan dan dipilih. Itulah kehidupan yang bersinar dalam Yesus, cita rasa baru dari perkataan dan perbuatan-Nya. Setelah berjumpa Yesus dalam kemiskinan-Nya di hadapan Allah, kelemahlembutan dan kesucian hati-Nya, rasa lapar dan haus-Nya akan kebenaran, yang tidak mengunci rahmat dan damai sebagai kekuatan transformasi dan rekonsiliasi, mereka yang menjauhkan diri dari semua ini tampak hambar dan membosankan.

 

Nabi Yesaya mencantumkan tindakan nyata yang mengatasi ketidakadilan: memecah-mecah roti bagi orang yang lapar, membawa ke rumah kita orang miskin yang tak punya rumah, memberi pakaian kepada orang yang kita lihat telanjang, tidak mengabaikan sesama kita dan orang-orang di rumah kita sendiri (bdk. 58:7). Nabi Yesaya melanjutkan, “Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar danlukamu akan pulih dengan segera” (ayat 8). Di satu sisi, ada terang yang tidak dapat disembunyikan karena sebesar mentari yang mengusir kegelapan setiap pagi; di sisi lain, ada luka yang pernah terasa membakar dan sekarang sedang pulih.

 

Memang, menyakitkan kehilangan rasa dan melepaskan sukacita; namun memiliki luka ini di dalam hati kita memungkinkan. Yesus tampaknya memperingatkan mereka yang mendengarkan-Nya untuk tidak melepaskan sukacita. Garam yang telah menjadi tawar, kata-Nya, “tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang” (Mat 5:13). Betapa banyak orang — mungkin kita sendiri — merasa tidak berharga atau hancur. Seolah-olah terang mereka telah disembunyikan. Namun, Yesus memberitakan Allah yang tidak akan pernah membuang kita, seorang Bapa yang peduli akan nama dan keunikan kita. Setiap luka, bahkan yang terdalam sekalipun, akan dipulihkan dengan menerima perkataan Sabda Bahagia dan mengembalikan kita ke jalan Injil.

 

Selain itu, perbuatan keterbukaan dan perhatian kepada sesama akan membangkitkan kembali sukacita. Namun, pada saat yang sama, melalui kesederhanaannya, tindakan-tindakan tersebut membuat kita bertentangan dengan dunia. Yesus sendiri dicobai di padang gurun untuk mengikuti jalan lain, menegaskan jatidiri-Nya, menyanjung diri-Nya dan memiliki dunia di kaki-Nya. Namun Ia menolak jalan yang akan menyebabkan Dia kehilangan jati diri-Nya yang sejati, jatidiri yang kita temukan setiap hari Minggu dalam Roti yang dipecah-pecahkan, yang merupakan kehidupan yang diberikan dan kasih yang hening.

 

Saudara-saudari, marilah kita dipelihara dan diterangi oleh persekutuan dengan Yesus. Tanpa kesombongan, kita akan menjadi seperti kota yang terletak di atas bukit, bukan hanya terlihat, tetapi juga mengundang dan menyambut: kota Allah di mana setiap orang, jauh di lubuk hatinya, ingin hidup dan menemukan kedamaian. Marilah kita sekarang mengarahkan pandangan dan doa kita kepada Maria, pintu gerbang surga, agar ia membantu kita untuk menjadi dan tetap menjadi murid Putra-Nya.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kemarin di Huércal-Overa, Spanyol, Pastor Salvatore Valera Parra dikanonisasi. Beliau adalah seorang pastor paroki yang sepenuhnya mengabdikan diri kepada umatnya, rendah hati dan murah hati dalam amal kasih pastoral. Teladan imamatnya yang berfokus pada hal-hal yang penting dapat menginspirasi para imam masa kini untuk setia menjalani setiap hari dengan kesederhanaan dan asketisme.

 

Dengan dukacita dan keprihatinan saya mengetahui tentang serangan baru-baru ini terhadap berbagai komunitas di Nigeria yang menyebabkan banyak korban jiwa. Saya menyampaikan doa dan simpati saya kepada semua korban kekerasan dan terorisme. Saya juga berharap agar pihak berwenang terus bekerja dengan tekad untuk memastikan keselamatan dan perlindungan jiwa setiap warga negara.

 

Hari ini, pada Pesta Santa Josephine Bakhita, kita merayakan Hari Doa dan Refleksi Sedunia Melawan Perdagangan Manusia. Saya berterima kasih kepada para rohaniwan/rohanniwati dan semua pihak yang berkomitmen untuk memerangi dan memberantas bentuk-bentuk perbudakan yang ada. Bersama mereka, saya katakan: perdamaian dimulai dengan martabat!

 

Saya memastikan doa saya bagi rakyat Portugal, Maroko, Spanyol — khususnya Grazalema di Andalusia — dan Italia selatan, terutama Niscemi di Sisilia, yang telah terkena dampak banjir dan tanah longsor. Saya mendorong masyarakat untuk tetap bersatu dan saling mendukung, dengan perlindungan Bunda Maria.

 

Sekarang, saya menyapa kamu semua: umat Roma, dan para peziarah dari Italia dan berbagai negara. Saya menyapa umat Melilla, Murcia, dan Malaga, Spanyol; umat yang berasal dari Belarus, Lituania, dan Latvia; para siswa Olivenza, Spanyol, dan umat yang sedang mempersiapkan Sakramen Krisma di Malta. Saya juga menyapa kaum muda dari tiga oratorium di Keuskupan Brescia yang terhubung dengan kita.

 

Marilah kita terus berdoa untuk perdamaian. Sejarah mengajarkan kita bahwa strategi kekuatan ekonomi dan militer tidak memberikan masa depan bagi umat manusia. Masa depan terletak pada rasa hormat dan persaudaraan antarbangsa.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Februari 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 4 Februari 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. I. KONSTITUSI DOGMATIS DEI VERBUM. 4. KITAB SUCI, SABDA ALLAH DALAM BAHASA MANUSIA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Dei Verbum, Konstitusi Konsili Vatikan II, yang sedang kita refleksikan selama beberapa pekan ini, menunjukkan dalam Kitab Suci, yang dibaca dalam Tradisi Gereja yang hidup, terdapat ranah istimewa untuk perjumpaan di mana Allah terus berbicara kepada orang-orang di segala zaman, sehingga, dengan mendengarkan, mereka dapat mengenal dan mengasihi-Nya. Namun, teks biblis tidak ditulis dalam bahasa surgawi atau bahasa adikodrati. Sesungguhnya, sebagaimana pelajaran yang kita dapatkan dari kehidupan sehari-hari, dua orang yang berbicara dengan bahasa yang berbeda tidak dapat saling memahami, tidak dapat berdialog, dan tidak dapat membangun hubungan. Dalam beberapa kasus, membuat diri dipahami oleh orang lain adalah tindakan kasih yang pertama. Inilah sebabnya mengapa Allah memilih untuk berbicara menggunakan bahasa manusia dan dengan demikian, berbagai penulis, yang diilhami oleh Roh Kudus, telah menulis teks-teks Kitab Suci. Dokumen Konsili mengingatkan kita, “Sebab sabda Allah, yang diungkapkan dengan bahasa manusia, telah menyerupai pembicaraan manusiawi, seperti dulu Sabda Bapa yang kekal, dengan mengenakan daging kelemahan manusiawi, telah menjadi serupa dengan manusia.” (DV, 13). Oleh karena itu, bukan hanya dalam isinya, tetapi juga dalam bahasanya, Kitab Suci mengungkapkan kerendahan hati Allah yang penuh belas kasih terhadap manusia, dan keinginan-Nya untuk dekat dengan mereka.

 

Sepanjang sejarah Gereja, hubungan antara Penulis ilahi dan penulis manusiawi dari teks-teks suci telah dipelajari. Selama beberapa abad, banyak teolog berupaya membela inspirasi ilahi Kitab Suci, nyaris menganggap penulis manusiawi hanya sebagai alat pasif Roh Kudus. Dalam beberapa waktu terakhir, refleksi telah mengevaluasi kembali kontribusi para hagiograf (penulis suci) dalam penulisan teks-teks suci, sampai pada titik di mana dokumen Konsili menyebut Allah sebagai "penulis" utama Kitab Suci, tetapi juga menyebut para hagiograf sebagai "penulis sejati" Kitab Suci (bdk. DV, 11). Seorang penafsir ulung abad lalu emgamati bahwa, "mereduksi aktivitas manusia menjadi sekadar juru tulis bukan memuliakan aktivitas ilahi". Allah tidak pernah mematikan manusia dan potensi mereka!

 

Oleh karena itu, jika Kitab Suci adalah sabda Allah dalam bahasa manusia, setiap pendekatan terhadapnya yang mengabaikan atau menyangkal salah satu dari dua dimensi ini terbukti parsial. Oleh karena itu, penafsiran yang benar terhadap teks suci dapat mengesampingkan lingkungan historis tempat teks tersebut berkembang dan bentuk sastra yang digunakan; justru, mengabaikan studi tentang bahasa manusia yang digunakan Allah berisiko mengarah pada penafsiran fundamentalis atau spiritualis terhadap Kitab Suci, yang mengkhianati maknanya. Prinsip ini juga berlaku untuk pewartaan sabda Allah: jika kehilangan kontak dengan kenyataan, dengan harapan dan penderitaan manusia, jika digunakan bahasa yang tidak dapat dipahami, tidak komunikatif atau anakronistik, maka pewartaan tersebut tidak efektif. Di segala zaman, Gereja dipanggil untuk menyampaikan kembali sabda Allah dalam bahasa yang mampu diwujudkan dalam sejarah dan menjangkau hati. Paus Fransiskus mengingatkan kita, “Kapan pun kita berusaha kembali kepada sumber dan memulihkan kesegaran asli Injil, jalan-jalan baru muncul, lorong-lorong kreativitas baru terbuka, dengan berbagai bentuk ungkapan, tanda-tanda dan kata-kata yang lebih fasih dengan makna baru bagi dunia dewasa ini. Setiap bentuk pewartaan Injil yang autentik selalu “baru.”[1]

 

Di sisi lain, pembacaan Kitab Suci yang mengabaikan asal-usul ilahinya dan akhirnya memahaminya sebagai ajaran manusia semata, sebagai sesuatu yang hanya dipelajari dari sudut pandang teknis atau sebagai "teks masa lalu saja" juga mereduksi. Sebaliknya, terutama ketika diwartakan dalam konteks liturgi, Kitab Suci dimaksudkan untuk berbicara kepada umat beriman masa kini, menyentuh kehidupan mereka saat ini dengan masalah-masalah mereka, menerangi langkah-langkah yang harus diambil dan keputusan yang harus dibuat. Hal ini hanya dimungkinkan ketika umat beriman membaca dan menafsirkan teks-teks suci di bawah bimbingan Roh yang juga mengilhami mereka (bdk. DV, 12).

 

Dalam hal ini, Kitab Suci berfungsi untuk memelihara kehidupan dan amal kasih umat beriman, sebagaimana diingatkan oleh Santo Agustinus: “Siapa pun yang… mengira bahwa ia memahami Kitab Suci… tetapi memberikan penafsiran yang tidak berkecenderungan membangun kasih baik kepada Allah maupun sesama kita, belum memahaminya sebagaimana seharusnya.”[2] Asal usul ilahi Kitab Suci juga mengingatkan bahwa Injil, yang dipercayakan kepada kesaksian orang-orang yang dibaptis, meskipun mencakup segenap dimensi kehidupan dan kenyataan, melampauinya: Injil tidak dapat direduksi menjadi sekadar pesan filantropis atau sosial, tetapi merupakan pemberitaan penuh sukacita akan kehidupan penuh dan kekal yang telah diberikan Allah kepada kita di dalam Yesus.

 

Saudara-saudari terkasih, marilah kita bersyukur kepada Tuhan karena, dalam kebaikan-Nya, Ia memastikan hidup kita tidak kekurangan nutrisi penting dari sabda-Nya, dan marilah kita berdoa agar perkataan kita, dan terlebih lagi kehidupan kita, tidak mengaburkan kasih Allah yang diceritakan di dalamnya.


***

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saya mendesak semua orang untuk mendukung dengan doa saudara-saudari kita di Ukraina, yang sedang diuji berat oleh dampak pemboman yang kembali terjadi, termasuk menghantam infrastruktur energi. Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya atas prakarsa solidaritas yang dipromosikan oleh keuskupan-keuskupan Katolik di Polandia dan negara-negara lain, yang sedang berupaya membantu bangsa tersebut melewati masa dingin yang ekstrem ini.

 

Besok Perjanjian New START yang ditandatangani pada tahun 2010 oleh Presiden Amerika Serikat dan Federasi Rusia, yang merupakan langkah signifikan dalam membendung perkembangan pesat senjata nuklir, berakhir. Saya kembali mendukung setiap upaya membangun yang mendukung perlucutan senjata dan saling percaya, saya mendesak agar sarana ini tidak ditinggalkan tanpa berupaya memastikan tindak lanjutnya yang nyata dan efektif. Situasi saat ini menuntut agar segala upaya dilakukan untuk mencegah perlombaan senjata baru yang akan semakin mengancam perdamaian antarbangsa. Mengganti nalar ketakutan dan ketidakpercayaan dengan etos bersama yang mampu menuntun pilihan menuju kebaikan bersama dan menjadikan perdamaian sebagai harta yang harus dihargai oleh semua lebih mendesak dari sebelumnya.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, terutama kelompok dari Irlandia, Denmark, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Secara khusus saya menyapa para siswa dari SMP dan SMA Junshin serta para mahasiswa dan dosen Universitas Fransiskan Steubenville. Atas kamu semua, dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese kita yang berkelanjutan tentang Konstitusi Dogmatis Dei Verbum, kita merefleksikan penulisan ilahi dan manusiawi dari Kitab Suci. Allah adalah penulis utama Kitab Suci dan Ia memilih untuk menyatakan diri-Nya dengan menggunakan bahasa manusia. Sesungguhnya, berbagai penulis Kitab Suci bukanlah sarana pasif, tetapi diinspirasi secara ilahi untuk menyampaikan sabda Allah dengan menggunakan bentuk sastra dan metode kreatif yang menggabungkan gambaran dan teladan dari zaman mereka. Meskipun Kitab Suci adalah teks yang berakar pada kebenaran sejarah, ia juga mengandung kedalaman spiritual yang tak terbatas yang berbicara kepada orang-orang dari segala zaman dan tempat, yang terutama menyampaikan kasih dan kehendak Allah untuk menyelamatkan kita. Marilah kita bersyukur kepada Allah atas sabda-Nya yang menyehatkan hidup kita, menerangi jalan kita, dan mengingatkan kita akan janji hidup kekal.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 4 Februari 2026)



[1]Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), 11.

[2]S. Agostino, De doctrina christiana I, 36, 40.

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 Februari 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Liturgi hari ini mewartakan sebuah perikop yang indah dari Kabar Baik yang diwartakan Yesus kepada segenap umat manusia: Injil Sabda Bahagia (Mat 5:1-12). Sesungguhnya, Sabda Bahagia adalah terang yang dinyalakan Tuhan dalam kegelapan sejarah, mengungkapkan rencana keselamatan yang digenapi Bapa melalui Putra, dengan kuasa Roh Kudus.

 

Di atas bukit, Kristus memberikan hukum baru kepada murid-murid-Nya, yang tidak lagi tertulis di atas loh batu. Hukum tersebut memperbarui hidup kita dan menjadikannya baik, bahkan ketika dunia tampaknya telah mengecewakan kita dan penuh dengan penderitaan. Hanya Allah yang benar-benar dapat menyebut orang miskin dan tertindas berbahagia (bdk. ayat 3-4), karena Dia adalah kebaikan tertinggi yang memberikan diri-Nya kepada semua orang dengan kasih yang tak terbatas. Hanya Allah yang dapat memuaskan mereka yang mencari damai dan keadilan (bdk. ayat 6:9), karena Dia adalah hakim yang adil atas dunia dan pencipta damai abadi. Hanya di dalam Allah orang-orang yang lemah lembut, berbelaskasihan, dan suci hatinya menemukan sukacita (ayat 5:7-8), karena Dialah penggenapan pengharapan mereka. Dalam penganiayaan, Allah adalah sumber penebusan; dalam kebohongan, Dia adalah sauh kebenaran. Karena itu, Yesus menyatakan: “Bersukacita dan bergembiralah!” (ayat 12).

 

Sabda Bahagia ini tetap sebuah paradoks hanya bagi mereka yang percaya bahwa Allah berbeda dibandingkan sebagaimana dinyatakan Kristus. Mereka yang mengharapkan orang-orang yang sombong selalu memerintah bumi terkejut dengan kata-kata Tuhan. Mereka yang terbiasa berpikir bahwa kebahagiaan hanya milik orang kaya mungkin percaya bahwa Yesus sedang tertipu. Namun, penipuan itu justru terletak pada kurangnya iman kepada Kristus. Dialah orang miskin yang berbagi hidup-Nya dengan semua orang, orang yang lemah lembut yang bertahan dalam penderitaan, pembawa damai yang dianiaya hingga mati di kayu salib.

 

Dengan cara ini, Yesus menerangi makna sejarah. Sejarah tidak lagi ditulis oleh para penakluk, melainkan oleh Allah, yang mampu mewujudkannya dengan menyelamatkan orang-orang yang tertindas. Sang Putra memandang dunia melalui kasih Bapa. Di sisi lain, sebagaimana dikatakan Paus Fransiskus, ada "para ahli khayalan. Kita tidak boleh mengikuti mereka karena mereka tidak mampu memberi kita pengharapan" (Doa Malaikat Tuhan, 17 Februari 2019). Sebaliknya, Allah memberikan pengharapan ini terutama kepada orang-orang yang oleh dunia dianggap tidak memiliki pengharapan.

 

Oleh karena itu, saudara-saudari terkasih, Sabda Bahagia menjadi ukuran kebahagiaan kita, yang menuntun kita untuk bertanya apakah kita menganggapnya sebagai pencapaian yang harus dibeli atau karunia yang harus dibagikan; apakah kita menempatkannya pada benda-benda yang dikonsumsi atau pada hubungan yang menyertai kita. Sesungguhnya karena Kristus (bdk. Mat 5:11) dan berkat Dia, pahitnya pencobaan diubah rupa menjadi sukacita orang-orang yang ditebus. Yesus tidak berbicara tentang penghiburan yang jauh, tetapi tentang rahmat yang tetap yang selalu menopang kita, terutama di masa-masa kesukaran.

 

Sabda Bahagia meninggikan orang yang rendah dan menyadarkan orang-orang yang congkak hati dalam pikiran terdalam mereka (bdk. Luk 1:51). Karena itu, kita memohon perantaraan Perawan Maria, hamba Tuhan, yang oleh segala keturunan disebut berbahagia.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya telah menerima kabar yang sangat mengkhawatirkan mengenai peningkatan ketegangan antara Kuba dan Amerika Serikat, dua negara tetangga. Saya menggemakan pesan para uskup Kuba, mengajak semua pihak yang bertanggung jawab untuk mempromosikan dialog yang tulus dan efektif, guna menghindari kekerasan dan setiap tindakan yang dapat meningkatkan penderitaan rakyat Kuba yang terkasih. Semoga Bunda Maria dari Caridad del Cobre membantu dan melindungi semua anak-anak negeri tercinta itu!

 

Jumat depan, Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina akan dimulai, diikuti oleh Paralimpiade. Saya menyampaikan harapan terbaik saya kepada para penyelenggara dan semua atlet. Acara olahraga besar ini mengirimkan pesan persaudaraan yang kuat dan membangkitkan kembali harapan akan dunia yang damai. Inilah juga makna dari gencatan senjata Olimpiade, sebuah kebiasaan kuno yang menyertai Olimpiade. Saya mengharapkan semua orang yang peduli dengan perdamaian antarbangsa dan berada di posisi berwenang akan mengambil kesempatan ini untuk melakukan tindakan nyata berupa peredaan ketegangan dan dialog.

 

Hari ini di Italia dirayakan Hari Nasional untuk Korban Sipil Perang dan Konflik di Seluruh Dunia. Sayangnya, prakarsa ini masih sangat relevan. Setiap hari ada lebih banyak korban sipil akibat aksi bersenjata, aksi yang secara terbuka melanggar moralitas dan hukum. Mereka yang tewas dan terluka kemarin dan hari ini akan benar-benar dihormati ketika ketidakadilan yang tak tertahankan ini berakhir.

 

Saya meyakinkanmu akan doa saya untuk para korban meninggal dan mereka yang menderita akibat badai yang melanda Portugal dan Italia selatan dalam beberapa hari terakhir. Jangan juga kita lupakan rakyat Mozambik yang sangat terdampak banjir.

 

Salam hangat untuk kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara!

 

Secara khusus, saya senang menyapa anggota gerakan Luce-Vita dari Keuskupan Siedlce, Polandia, yang didampingi oleh Uskup Auksiler mereka. Saya menyapa kelompok umat dari Paraná Argentina, Chojnice, Warsawa, Wrocław, dan Wagrowiec Polandia, Pula dan Sinj Kroasia, Kota Guatemala dan San Salvador, serta para siswa dari Institut Rodríguez Moñino Badajoz dan mereka yang berasal dari Cuenca, Spanyol. Saya juga menyapa umat yang berdevosi kepada Bunda Maria Mukjizat dari Corbetta, dekat Milan.

 

Saya mengucapkan terima kasih dari lubuk hati saya atas doa-doamu dan selamat hari Minggu kepada semuanya!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Februari 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 28 Januari 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. I. KONSTITUSI DOGMATIS DEI VERBUM. 3. SATU PERBENDAHARAAN KERAMAT. HUBUNGAN ANTARA KITAB SUCI DAN TRADISI.

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Melanjutkan membaca Dei Verbum, Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi, hari ini kita akan merefleksikan hubungan antara Kitab Suci dan Tradisi. Kita dapat mengambil dua perikop Injil sebagai latar belakang. Dalam perikop pertama, yang terjadi di Ruang Atas, Yesus, dalam khotbah-perjanjian-Nya yang luar biasa yang ditujukan kepada para murid, menegaskan: “Semua itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama kamu. Namun, Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. … Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yoh 14:25-26; 16:13).

 

Perikop kedua membawa kita ke perbukitan Galilea. Yesus yang bangkit menampakkan diri kepada para murid, yang terkejut dan ragu, dan Ia menasihati mereka, “Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat 28:19-20). Dalam kedua perikop ini, hubungan erat antara kata-kata yang diucapkan oleh Kristus dan penyebarannya sepanjang abad sangat jelas.

 

Hal inilah yang ditegaskan oleh Konsili Vatikan II, menggunakan gambaran yang menggugah: “Tradisi suci dan Kitab Suci berhubungan erat sekali dan berpadu. Sebab keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dan dengan cara tertentu bergabung menjadi satu dan menjurus ke arah tujuan yang sama.” (Dei Verbum, 9). Tradisi berkembang sepanjang sejarah melalui Gereja, yang melestarikan, menafsirkan, dan mewujudkan Sabda Allah. Katekismus Gereja Katolik (bdk. no. 113) merujuk, dalam hal ini, pada semboyan para Bapa Gereja: “Kitab Suci lebih dahulu ditulis di dalam hati Gereja daripada di atas perkamen [kertas dari kulit]”, yaitu Kitab Suci.

 

Berdasarkan terang sabda Kristus yang dikutip di atas, Konsili menegaskan bahwa “Tradisi yang berasal dari para rasul itu berkat bantuan Roh Kudus berkembang dalam Gereja” (Dei Verbum, 8). Hal ini terjadi dengan pemahaman penuh melalui “kontemplasi dan studi yang dilakukan oleh orang-orang percaya”, melalui “pemahaman yang mendalam tentang realitas spiritual yang mereka alami” dan, terutama, dengan pemberitaan para penerus rasul yang telah menerima “karunia kebenaran yang pasti”. Singkatnya, “Gereja dalam ajaran, hidup serta ibadatnya melestarikan serta meneruskan kepada semua keturunan dirinya seluruhnya, imannya seutuhnya.” (idem).

 

Ungkapan Santo Gregorius Agung yang terkenal: “Kitab Suci bertumbuh bersama orang yang membacanya”.[1] berkaitan dengan hal ini. Dan Santo Agustinus menyatakan bahwa “hanya ada satu sabda Allah yang terungkap melalui Kitab Suci, dan hanya ada satu sabda Allah yang terdengar di bibir banyak orang kudus”.[2] Dengan demikian, sabda Allah bukanlah sesuatu yang beku, melainkan realitas yang hidup dan organik yang berkembang dan tumbuh dalam Tradisi. Berkat Roh Kudus, Tradisi memahaminya dalam kekayaan kebenarannya dan mewujudkannya dalam koordinat sejarah yang berubah-ubah.

 

Dalam hal ini, usulan Santo John Henry Newman, pujangga Gereja, dalam karyanya yang berjudul Perkembangan Ajaran Kristiani sangat menarik. Ia menegaskan bahwa kekristenan, baik sebagai pengalaman komunal maupun sebagai ajaran, adalah realitas dinamis, sebagaimana ditunjukkan oleh Yesus sendiri dalam perumpamaan tentang benih (bdk. Mrk 4:26-29): realitas hidup yang berkembang berkat kekuatan vital batin.[3]

 

Rasul Paulus berulang kali menasihati murid dan rekan kerjanya Timotius: “Timotius, periharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu” (1Tim 6:20; bdk. 2Tim 1:12-14). Konstitusi Dogmatis Dei Verbum menggemakan teks Paulus ini dengan mengatakan, “Tradisi suci dan Kitab suci merupakan satu perbendaharaan keramat sabda Allah yang dipercayakan kepada Gereja”, yang ditafsirkan oleh “Wewenang Mengajar Gereja yang hidup, yang kewibawaannya dilaksanakan atas nama Yesus Kristus” (no. 10). “Perbendaharaan” adalah istilah yang, dalam arti aslinya, bersifat yuridis dan membebankan kepada pihak yang mendapatkannya kewajiban untuk menjaga isinya, yang dalam hal ini adalah iman, dan menyampaikannya secara utuh.

 

“Perbendaharaan” sabda Allah masih berada di tangan Gereja hingga hari ini, dan kita semua, dalam berbagai pelayanan gerejawi kita, harus terus melestarikannya secara utuh, sebagai pedoman bagi perjalanan kita melalui kerumitan sejarah dan keberadaan.

 

Sebagai penutup, sahabat-sahabatku, marilah kita sekali lagi mendengarkan Dei Verbum, yang mengagungkan keterkaitan Kitab Suci dan Tradisi: kitab ini menegaskan bahwa keduanya “saling berhubungan dan berpadu sedemikian rupa, sehingga yang satu tidak dapat ada tanpa kedua lainnya, dan semuanya bersama-sama, masing-masing dengan caranya sendiri, di bawah gerakan satu Roh Kudus, membantu secara berdaya guna bagi keselamatan jiwa-jiwa.” (bdk. no. 10).

 

[Imbauan]

 

Kemarin diperingati Hari Semua Korban Holocaust Sedunia, yang telah merenggut nyawa jutaan orang Yahudi dan banyak orang lainnya. Pada kesempatan peringatan tahunan yang menyakitkan ini, saya memohon kepada Yang Mahakuasa untuk memberikan karunia berupa dunia tanpa antisemitisme dan tanpa prasangka, penindasan, dan penganiayaan terhadap setiap manusia. Saya kembali mengimbau komunitas bangsa-bangsa untuk tetap waspada. Semoga kengerian genosida tidak pernah lagi ditimpakan kepada bangsa mana pun dan semoga masyarakat yang didasarkan pada rasa saling menghormati dan kebaikan bersama dapat dibangun.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Skotlandia, Irlandia, Islandia, Australia, India, dan Amerika Serikat. Atasmu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese kita tentang Konstitusi Dogmatis Dei Verbum, hari ini kita membahas hubungan antara Kitab Suci dan Tradisi. Dalam perikop Injil Yohanes yang baru saja kita dengar, Yesus berkata bahwa Ia akan mengutus Roh Kudus untuk membimbing para Rasul agar mengingat, menerapkan, dan mewartakan segala sesuatu yang telah Ia ajarkan. Kitab Suci, sabda Allah yang diinspirasi, dan Tradisi Suci, ingatan hidup Gereja, terikat erat dan membentuk satu perbendaharaan iman. Perbendaharaan ini, yang berisi keseluruhan iman kita — ajaran, ibadah, moralitas, dan lain-lain — bukanlah sesuatu yang statis tetapi dinamis karena berkembang dan dipahami lebih mendalam oleh Gereja selama berabad-abad, di bawah bimbingan Roh Kudus. Perbendaharaan, yang dipercayakan kepada Gereja, yang memelihara dan menafsirkannya dalam nama Yesus, ini membantu kita menavigasi kerumitan kehidupan untuk mencapai rumah kekal kita di surga. Semoga kita menjadi saksi yang hidup dan setia terhadap sabda Allah dalam Kitab Suci dan Tradisi.

__________

(Peter Suriadi - Bogor, 28 Januari 2026)



[1] Homiliae in Ezechielem I, VII, 8: PL 76, 843D.

[2] Enarrationes in Psalmos 103, IV, 1

[3] bdk. J.H. Newman, Esai tentang Perkembangan Ajaran Kristiani, Milan 2003, hlm. 104.