Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 1 April 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 6. BATU YANG HIDUP DI DALAM GEREJA DAN SAKSI-SAKSI DI DUNIA: KAUM AWAM DI DALAM UMAT ALLAH

Saudara-saudari, selamat pagi!

 

Marilah kita melanjutkan perjalanan refleksi kita tentang Gereja sebagaimana disajikan kepada kita dalam Konstitusi Konsili Lumen gentium (LG). Hari ini kita akan meninjau bab empat, yang membahas tentang kaum awam. Marilah kita semua mengingat apa yang kerap diulangi Paus Fransiskus: “Kaum awam benar-benar adalah bagian terbesar dari umat Allah. Kaum minoritas – para pelayan tertahbis – siap melayani mereka” (Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 102).

 

Bagian Dokumen ini berupaya menjelaskan, secara positif, sifat dan misi kaum awam, setelah berabad-abad mereka hanya didefinisikan sebagai orang yang bukan bagian dari klerus atau hidup bakti. Oleh karena itu, bersamamu saya ingin membahas kembali sebuah perikop yang sangat indah yang berbicara tentang keagungan kedudukan umat Kristiani: “Jadi satulah Umat Allah yang terpilih: satu Tuhan, satu iman, satu baptisan' (Ef 4:5). Samalah martabat para anggota karena kelahiran mereka kembali dalam Kristus; sama rahmat para putra; sama pula panggilan kepada kesempurnaan; satu keselamatan, satu harapan dan tak terbagilah cinta kasih” (LG, 32).

 

Sebelum membedakan pelayanan atau status hidup, Konsili menegaskan kesetaraan semua orang yang dibaptis. Konstitusi tidak ingin kita melupakan apa yang telah ditegaskan dalam bab tentang Umat Allah, yaitu kedudukan umat mesianik ialah martabat dan kebebasan anak-anak Allah (bdk. LG, 9).

 

Tentu saja, semakin besar karunia, semakin besar pula komitmennya. Karena alasan ini, Konsili, bersama dengan martabat, juga menekankan misi kaum awam di dalam Gereja dan di dunia. Tetapi atas dasar apa misi ini didasarkan, dan terdiri dari apa? Deskripsi kaum awam yang diberikan oleh Konsili memberitahu kita: “Yang dimaksud dengan istilah awam di sini ialah semua orang beriman kristiani kecuali mereka yang termasuk golongan imam atau status religius yang diakui dalam Gereja. Jadi kaum beriman kristiani, yang berkat baptisan telah menjadi anggota Tubuh Kristus, terhimpun menjadi Umat Allah, dengan cara mereka sendiri ikut mengemban tugas imamat, kenabian dan rajawi Kristus, dan dengan demikian sesuai dengan kemampuan mereka melaksanakan perutusan segenap umat kristiani dalam Gereja dan di dunia” (LG, 31).

 

Oleh karena itu, Umat Allah yang kudus bukanlah sekadar massa yang tak berbentuk, melainkan tubuh Kristus atau, sebagaimana dikatakan Santo Agustinus, Christus totus; ia adalah komunitas yang terstruktur secara organik melalui hubungan yang berbuah antara dua bentuk partisipasi dalam imamat Kristus: imamat umum umat beriman dan imamat jabatan atau hirarkis (bdk. LG, 10). Berdasarkan baptisan, kaum awam turut serta dalam imamat Kristus. Sesungguhnya, “Imam Tertinggi dan Abadi Kristus Yesus bermaksud melangsungkan kesaksian dan palayanan-Nya melalui kaum awam juga. Maka oleh Roh-Nya Ia tiada hentinya menghidupkan dan mendorong mereka untuk menjalankan segala karya yang baik dan sempurna” (LG, 34).

 

Dalam hal ini, bagaimana mungkin kita melupakan Santo Yohanes Paulus II dan Seruan Apostolik Christifideles Laici (30 Desember 1988)? Di dalamnya, beliau menekankan bahwa “Konsili, dengan kekayaan warisan doktrinal, spiritual, dan pastoralnya, telah menulis lebih dari sebelumnya tentang kodrat, martabat, spiritualitas, misi, dan tanggung jawab kaum awam. Dan para Bapa Konsili, menggemakan kembali seruan Kristus, telah memanggil semua kaum awam, baik perempuan maupun laki-laki, untuk bekerja di kebun anggur” (no. 2). Dengan cara ini, pendahulu saya yang terhormat meluncurkan kembali kerasulan kaum awam, yang kepadanya Konsili mendedikasikan sebuah dokumen khusus, yang akan kita bahas nanti.[1]

 

Bidang kerasulan awam tidak terbatas pada Gereja, tetapi meluas ke seluruh dunia. Sesungguhnya, Gereja hadir di mana pun anak-anaknya mengaku dan memberi kesaksian tentang Injil: di tempat kerja, dalam masyarakat sipil, dan dalam semua hubungan antarmanusia, di mana pun mereka, melalui pilihan mereka, menunjukkan keindahan kehidupan kristiani, yang menubuatkan di sini dan sekarang keadilan dan perdamaian yang akan terwujud dalam Kerajaan Allah. Dunia perlu “dipenuhi oleh roh Kristus, dan lebih efektif memenuhi tujuannya dalam keadilan, cinta kasih, dan damai” (LG, 36). Dan ini hanya mungkin melalui kontribusi, pelayanan, dan kesaksian kaum awam!

 

Sebuah undangan untuk menjadi Gereja yang “keluar” yang dibicarakan Paus Fransiskus kepada kita: Gereja yang terwujud dalam sejarah, selalu terbuka untuk misi, di mana kita semua dipanggil untuk menjadi murid misioner, rasul Injil, saksi Kerajaan Allah, pembawa sukacita Kristus yang telah kita jumpai!

 

Saudara-saudari, semoga Paskah yang akan kita rayakan ini memperbarui rahmat dalam diri kita untuk menjadi, seperti Maria Magdalena, seperti Petrus dan Yohanes, saksi-saksi Yesus yang bangkit!


_____________________

Catatan Kaki

[1] Bdk. Konsili Ekumenis Vatikan II, Dekrit Apostolicam Actuositatem (18 November 1965).

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, terutama mereka yang datang dari Nigeria, Filipina, dan Amerika Serikat. Secara khusus saya menyapa para mahasiswa yang berpartisipasi dalam Konferensi Universitas Internasional UNIV 2026. Semoga Pekan Suci ini menuntun kita untuk merayakan kebangkitan Tuhan Yesus dengan hati yang dimurnikan dan diperbarui oleh rahmat Roh Kudus. Atas kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dalam lanjutan katekese kita mengenai Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, hari ini kita akan membahas kaum awam. Ketimbang membatasi diri pada definisi kaum awam berdasarkan apa yang sesungguhnya, Konsili Vatikan II berupaya untuk menjelaskan martabat asali mereka sebagai anggota Umat Allah dan menggarisbawahi kekhasan peran mereka dalam misi Gereja. Setelah dipersatukan dalam Kristus melalui baptisan, kaum awam dijadikan peserta dengan cara mereka sendiri dalam tugas imamat, kenabian, dan kerajaan-Nya. Gereja hadir di mana pun anak-anaknya mengakui Injil dan memberi kesaksian tentang Kristus. Karena alasan ini, kaum awam, baik laki-laki maupun perempua, secara khusus dipanggil untuk membawa kehadiran Kristus ke semua bidang kehidupan dan dengan demikian mengubahnya dari dalam dengan memberi kesaksian tentang keindahan hidup dalam Kristus dan kuasa rahmat-Nya yang meninggikan.
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 1 April 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 29 Maret 2026

Saudara-saudari terkasih,


Pada awal Pekan Suci, doa kita lebih dari sebelumnya tertuju kepada umat kristiani di Timur Tengah, yang menderita akibat konflik brutal dan, dalam banyak kasus, tidak dapat sepenuhnya mengikuti liturgi hari-hari suci ini. Seraya Gereja merenungkan misteri sengsara Tuhan, kita tidak boleh melupakan mereka yang hari ini benar-benar turut merasakan penderitaan-Nya. Pencobaan mereka menantang hati nurani kita semua. Marilah kita memanjatkan doa kepada Sang Raja Damai agar Ia menopang bangsa-bangsa yang terluka oleh perang dan membuka jalan nyata menuju rekonsiliasi dan perdamaian.

 

Saya juga ingin mempercayakan kepada Tuhan para pekerja maritim yang telah menjadi korban konflik. Saya berdoa untuk mereka yang meninggal, terluka, dan keluarga mereka. Daratan, langit, dan laut semuanya diciptakan untuk kehidupan dan perdamaian!

 

Marilah kita juga berdoa untuk semua migran yang telah meninggal di laut, terutama mereka yang kehilangan nyawa dalam beberapa hari terakhir di lepas pantai Kreta.

 

Saya menyapa dan berterima kasih kepada kamu semua – baik umat Roma maupun para peziarah – yang telah ambil bagian dalam liturgi ini! Bersama-sama, marilah kita sekarang berpaling kepada Perawan Maria, mempercayakan semua doa kita kepada perantaraannya. Semoga ia membimbing kita selama hari-hari suci ini, agar kita dapat mengikuti Yesus, Juruselamat kita, dengan iman dan kasih.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 29 Maret 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 25 Maret 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 5. DIBANGUN DI ATAS DASAR PARA RASUL. GEREJA DALAM DIMENSI HIERARKISNYA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Kita akan melanjutkan katekese kita tentang dokumen-dokumen Konsili Vatikan II, membahas Lumen Gentium (LG), Konstitusi Dogmatis tentang Gereja. Setelah menyajikan Gereja sebagai Umat Allah, hari ini kita akan menelaah bentuk hierarkisnya.

 

Gereja Katolik didirikan di atas para Rasul, yang diangkat Kristus sebagai tiang penopang hidup tubuh mistik-Nya, dan memiliki susunan hierarkis yang bekerja untuk melayani persatuan, misi, dan pengudusan semua anggotanya. Tatanan suci ini secara permanen dibangun di atas dasar para Rasul (bdk. Ef 2:20; Why 21:14), sebagai saksi yang berwenang atas kebangkitan Yesus (bdk. Kis 1:22; 1Kor 15:7) dan diutus oleh Tuhan sendiri untuk menjalankan misi ke dunia (bdk. Mrk 16:15; Mat 28:19). Karena para Rasul dipanggil untuk dengan setia memelihara ajaran keselamatan Sang Guru (bdk. 2Tim 1:13–14), mereka meneruskan pelayanan mereka kepada orang-orang yang, sampai kedatangan Kristus kembali, terus menguduskan, membimbing, dan mengajar Gereja “melalui para penerus mereka dalam jabatan pastoral” (Katekismus Gereja Katolik, no. 857).

 

Suksesi apostolik ini, yang berlandaskan Injil dan Tradisi, ditelaah lebih lanjut dalam Bab III Lumen Gentium, yang berjudul “susunan hierarki Gereja dan khususnya episkopat”. Konsili mengajarkan bahwa susunan hierarki bukanlah bangunan manusiawi, yang berfungsi untuk organisasi internal Gereja sebagai badan sosial (bdk. LG, 8), tetapi lembaga ilahi yang bertujuan untuk melestarikan misi yang diberikan oleh Kristus kepada para Rasul hingga akhir zaman.

 

Fakta bahwa tema ini dibahas dalam Bab III, setelah dua bab pertama membahas hakikat Gereja itu sendiri (bdk. Acta Synodalia III/1, 209–210), tidak berarti bahwa konstitusi hierarkis merupakan unsur selanjutnya sehubungan dengan Umat Allah: sebagaimana dicatat dalam Dekrit Ad Gentes, “para Rasul merupakan benih-benih Israel baru, pun sekaligus awal mula hierarki suci” (no. 5), karena mereka adalah komunitas orang-orang yang ditebus oleh misteri Paskah Kristus, yang dibangun sebagai sarana keselamatan bagi dunia.

Untuk memahami maksud Konsili, disarankan untuk membaca dengan saksama judul Bab III dari Lumen Gentium, yang menjelaskan susunan fundamental Gereja, yang diterima dari Allah Bapa melalui Putra dan digenapi oleh pencurahan Roh Kudus. Para Bapa Konsili tidak ingin menyajikan unsur-unsur kelembagaan Gereja, sebagaimana yang mungkin tersirat dari kata benda "konstitusi" jika dipahami dalam arti modern. Dokumen tersebut lebih berfokus pada "imamat jabatan atau hierarkis", kendati "berbeda hakikatnya dan bukan hanya tingkatnya" dari imamat umum kaum beriman, saling terarahkan dan "keduanya dengan cara khasnya masing-masing mengambil bagian dalam satu imamat Kristus" (LG, 10). Dengan demikian, Konsili membahas pelayanan yang diberikan kepada orang yang dikaruniai sacra potestas, kuasa suci (bdk. LG, 18) untuk melayani Gereja: Konsili berfokus khususnya pada episkopat (LG, 18–27), kemudian pada presbiterat (LG, 28) dan diakonat (LG, 29) sebagai tingkatan dari satu sakramen imamat.

 

Oleh karena itu, dengan kata sifat “hierarkis”, Konsili bermaksud untuk menunjukkan asal usul suci pelayanan apostolik dalam karya Yesus, Gembala yang baik, serta hubungan internalnya. Para Uskup, pertama dan terutama, dan melalui mereka para imam dan diakon, telah menerima tugas (dalam bahasa Latin munera), yang menuntun mereka untuk melayani “semua yang termasuk Umat Allah”, sehingga, “dengan bebas dan teratur bekerja sama untuk mencapai tujuan tadi, dan dengan demikian mencapai keselamatan. (LG, 18).

 

Lumen Gentium berulang kali dan secara efektif mengingatkan sifat kolegial dan komunal dari misi apostolik ini, menegaskan kembali bahwa “tugas yang oleh Tuhan diserahkan kepada para gembala umat-Nya itu, sungguh-sungguh merupakan pengabdian, yang dalam Kitab Suci” (LG, 24). Oleh karena itu, kita dapat memahami mengapa Santo Paulus VI memaparkan hierarki sebagai kenyataan yang “lahir dari kasih Kristus, untuk memenuhi, menyebarkan, dan memastikan penyampaian yang utuh dan berbuah dari kekayaan iman, teladan, ajaran, dan karisma yang diwariskan oleh Kristus kepada Gereja-Nya” (Wejangan, 14 September 1964, dalam Acta Synodalia III/1, 147).

 

Saudari-saudari terkasih, marilah kita berdoa kepada Tuhan agar Ia mengutus kepada Gereja-Nya para pelayan yang bersemangat dengan kasih Injil, yang mengabdikan diri untuk kebaikan semua orang yang dibaptis, dan para misionaris yang berani di setiap penjuru dunia.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, terutama mereka yang datang dari Inggris, Irlandia, Tanzania, Israel, Arab Saudi, dan Amerika Serikat. Secara khusus saya menyapa para mahasiswa Program Roma Universitas Dallas. Saat kita melanjutkan perjalanan Paskah kita, marilah kita memohon kepada Tuhan agar menganugerahkan kepada kita rahmat untuk meneladan Bunda Maria dalam "ya"-nya yang sepenuhnya kepada Tuhan, dan dengan demikian membuka hati kita kepada kehendak-Nya bagi hidup kita. Atas kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih,

Dalam katekese kita yang sedang berlangsung tentang Konsili Vatikan II, hari ini kita merefleksikan ajaran Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium mengenai susunan hierarkis Gereja. Dalam hal ini, penting untuk diingat bahwa Gereja bukanlah sesuatu yang kita ciptakan, tetapi merupakan lembaga ilahi yang didirikan oleh Yesus sendiri. Kristus menunjuk para rasul, menempatkan Petrus sebagai kepala mereka, dan mengutus mereka untuk melanjutkan misi penyelamatan-Nya sampai kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan. Untuk melestarikan misi yang sama ini, para pelayan diberi kuasa suci untuk menjadi penerus para Rasul sebagai Uskup, yang pelayanannya juga diikuti oleh para imam dan diakon melalui Sakramen Imamat. Dengan turut serta dalam pelayanan Yesus, Gembala yang baik, mereka dikuduskan untuk melayani umat beriman, membangun Gereja, dan memastikan penyebaran iman yang berbuah. Karena itu, marilah kita memohon kepada Tuhan agar terus memberkati Gereja-Nya dengan gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Nya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 25 Maret 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 22 Maret 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Pada Hari Minggu Prapaskah V ini, liturgi mewartakan Injil tentang kebangkitan Lazarus (bdk. Yoh 11:1-45).

 

Dalam perjalanan Paskah, ini adalah tanda yang berbicara tentang kemenangan Kristus atas kematian dan karunia hidup kekal, yang kita terima melalui Baptisan (bdk. Katekismus Gereja Katolik, 1265). Hari ini Yesus juga berkata kepada kita, seperti yang Ia katakan kepada Marta, saudara perempuan Lazarus: “Akulah kebangkitan dan hidup. Siapa yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh 11:25-26).

 

Liturgi dengan demikian mengajak kita, mengingat Pekan Suci semakin dekat, untuk menghidupkan kembali peristiwa-peristiwa Sengsara Tuhan — memasuki Yerusalem, Perjamuan Terakhir, pengadilan, penyaliban, penguburan — sehingga kita dapat memahami makna yang paling otentik dan membuka diri terhadap karunia rahmat yang terkandung di dalamnya.

 

Peristiwa-peristiwa ini digenapi dalam Kristus yang bangkit, yang telah menaklukkan kematian dan hidup di dalam diri kita berkat Baptisan, demi keselamatan kita dan kepenuhan hidup.

 

Rahmat-Nya menerangi dunia ini, yang tampaknya terus-menerus mencari hal-hal baru dan perubahan, bahkan dengan mengorbankan hal-hal penting — waktu, energi, nilai-nilai, kasih sayang — seolah-olah ketenaran, barang-barang materi, hiburan, dan hubungan yang fana dapat mengisi hati kita atau membuat kita abadi. Sebuah gejala kerinduan akan yang tak terbatas yang kita bawa di dalam diri kita masing-masing, sebuah kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh hal-hal yang sementara. Tidak ada yang terbatas yang dapat memuaskan dahaga batin kita, karena kita diciptakan untuk Allah, dan kita tidak menemukan kedamaian sampai kita beristirahat di dalam Dia (bdk. Pengakuan-pengakuan, I, 1.1).

 

Kisah kebangkitan Lazarus mengajak kita untuk mendengarkan kebutuhan mendalam ini dan, dengan kuasa Roh Kudus, membebaskan hati kita dari kebiasaan, pengondisian, dan cara berpikir yang, seperti batu besar, mengurung kita di dalam kubur keegoisan, materialisme, kekerasan, dan kedangkalan. Di tempat-tempat ini tidak ada kehidupan, melainkan hanya kebingungan, ketidakpuasan, dan kesepian.

 

Yesus juga berseru kepada kita: “Marilah keluar!” (Yoh 11:43), mendesak kita untuk keluar dari ruang-ruang sempit ini, diperbarui oleh rahmat-Nya, berjalan dalam terang kasih, sebagai manusia baru, yang mampu berharap dan mengasihi, tanpa perhitungan dan tanpa batas, sesuai dengan teladan amal kasih-Nya yang tak terbatas.

 

Semoga Bunda Maria membantu kita menjalani hari-hari suci ini dengan iman, kepercayaan, dan kesetiaannya, sehingga pengalaman mulia berjumpa Putranya yang bangkit dapat diperbarui dalam diri kita setiap hari.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Dengan sedih saya terus mengikuti situasi di Timur Tengah, yang seperti wilayah lain di dunia, dilanda perang dan kekerasan. Kita tidak bisa tinggal diam menghadapi penderitaan begitu banyak orang tak berdaya yang menjadi korban konflik ini. Apa yang menyakiti mereka juga menyakiti seluruh umat manusia. Kematian dan penderitaan yang disebabkan oleh perang ini adalah skandal bagi seluruh umat manusia dan seruan yang dipanjatkan kepada Allah! Dengan tegas saya kembali mengimbau untuk bertekun dalam doa, agar permusuhan dapat berhenti dan jalan menuju perdamaian akhirnya terbuka, berdasarkan dialog yang tulus dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia.

 

Hari ini Maraton Roma sedang berlangsung, diikuti banyak atlet dari seluruh dunia. Ini adalah tanda pengharapan! Semoga olahraga membuka jalan bagi perdamaian, penyertaan sosial, dan spiritualitas.

 

Dengan hangat saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara, terutama mereka yang datang dari Keuskupan Córdoba, Spanyol.

 

Dengan penuh sukacita saya menyapa umat Belluno dan Pordenone, Crotone dan Paroki Santa Maria delle Grazie Roma. Saya menyapa kaum muda Nave, Keuskupan Brescia, kelompok calon penerima Sakramen Krisma dari Keuskupan Florence dan perwakilan dari Associazione Direttori di Albergo.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 22 Maret 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 18 Maret 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 4. GEREJA, UMAT IMAMI DAN KENABIAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Hari ini saya ingin membahas kembali bab dua Konstitusi Konsili Vatikan II Lumen Gentium (LG), yang dikhususkan untuk Gereja sebagai umat Allah.

 

Umat ​​Mesianik (LG, 9), menerima dari Kristus partisipasi dalam jabatan imami, kenabian, dan rajani yang melaluinya misi penyelamatan-Nya dilaksanakan. Para Bapa Konsili mengajarkan bahwa Tuhan Yesus, melalui Perjanjian baru dan kekal, telah mendirikan kerajaan imami, menjadikan murid-murid-Nya sebagai ‘imamat yang rajani’ (1Ptr 2:9; bdk. 1Ptr 2:5; Why 1:6). Imamat umum umat beriman ini diberikan berkat sakramen baptis, yang memungkinkan kita untuk menyembah Allah dalam roh dan kebenaran, dan “mengakui di muka orang-orang iman yang telah mereka terima dari Allah melalui Gereja” (LG, 11). Lebih lanjut, berkat sakramen penguatan, semua orang yang dibaptis "terikat pada Gereja secara lebih sempurna, dan diperkaya dengan daya kekuatan Roh Kudus yang istimewa; dengan demikian mereka semakin diwajibkan untuk menyebarluaskan dan membela iman sebagai saksi Kristus yang sejati, dengan perkataan maupun perbuatan” (idem). Pengabdian ini merupakan akar dari misi bersama yang menyatukan pelayanan imamat umum kaum beriman dan imamat jabatan atau hirarkis.

 

Dalam hal ini, Paus Fransiskus mengamati bahwa, “Memandang Umat Allah berarti mengingat bahwa kita semua masuk ke dalam Gereja sebagai umat awam. Sakramen pertama, yang memetereikan jati diri kita selamanya, dan yang harus selalu kita banggakan, adalah Baptisan. Melalui Baptisan dan pengurapan Roh Kudus, (umat beriman) ‘disucikan menjadi kediaman rohani dan imamat suci’ (LG, 10), [sehingga] setiap orang membentuk Umat Allah yang kudus” (Surat kepada Presiden Komisi Kepausan untuk Amerika Latin, 29 Maret 2016).

 

Pelaksanaan imamat yang rajani berlangsung dalam banyak cara, semuanya bertujuan untuk pengudusan kita, pertama dan terutama melalui partisipasi dalam persembahan Ekaristi. Melalui doa, asketisme, dan amal kasih yang aktif, kita dengan demikian memberi kesaksian tentang kehidupan yang diperbarui oleh rahmat Allah (bdk. LG, 10). Sebagaimana dirangkum oleh Konsili, “Sifat suci persekutuan keimanan yang tersusun secara organis itu diwujudkan baik dengan menerima sakramen-sakramen maupun dengan mengamalkan keutamaan-keutamaan” (LG, 11).

 

Para Bapa Konsili kemudian mengajarkan bahwa Umat Allah yang kudus mengambil bagian juga dalam tugas kenabian Kristus (bdk. LG, 12). Dalam konteks ini, tema penting tentang makna iman dan konsensus umat beriman diperkenalkan. Komisi Doktrinal Konsili menetapkan bahwa sensus fidei ini “seperti suatu kemampuan seluruh Gereja, yang dengannya Gereja, dalam imannya, mengenali wahyu yang diturunkan, membedakan antara yang benar dan yang salah dalam hal iman, dan pada saat yang sama menembusnya lebih dalam dan menerapkannya lebih penuh dalam kehidupan” (bdk. Acta Synodalia, III/1, 199). Oleh karena itu, makna iman bukan milik orang percaya secara individu, tetapi sebagai anggota Umat Allah secara keseluruhan.

 

Lumen Gentium berfokus pada aspek terakhir ini, dan menempatkannya dalam kaitannya dengan Gereja yang tidak dapat sesat, yang inheren dengan ketidakdapatsesatan Paus Roma dan yang dilayaninya. “Keseluruhan kaum beriman, yang telah diurapi oleh Yang Kudus (bdk. 1Yoh 2:20 dan 27), tidak dapat sesat dalam beriman; dan sifat mereka yang istimewa itu mereka tampilkan melalui perasaan iman adikodrati segenap umat, bila dari Uskup hingga para awam beriman yang terkecil, mereka secara keseluruhan menyatakan kesepakatan mereka tentang perkara-perkara iman dan kesusilaan.” (LG, 12). Oleh karena itu, Gereja, sebagai persekutuan umat beriman – yang secara alami mencakup para gembala – tidak mungkin keliru dalam hal iman: organ yang melaluinya kebenaran ini dipelihara, yang didasarkan pada pengurapan Roh Kudus, adalah rasa iman adikodrati dari seluruh Umat Allah, yang diwujudkan dalam konsensus umat beriman. Dari kesatuan ini, yang dijaga oleh Magisterium Gereja, maka setiap orang yang dibaptis adalah agen aktif penginjilan, yang dipanggil untuk memberikan kesaksian yang konsisten bagi Kristus sesuai dengan karunia kenabian yang dianugerahkan Tuhan kepada seluruh Gereja-Nya.

 

Sesungguhnya, Roh Kudus, yang datang kepada kita dari Kristus yang telah bangkit, “Di kalangan umat dari segala lapisan Ia membagi-bagikan rahmat istimewa pula, yang menjadikan mereka cakap dan bersedia untuk menerima pelbagai karya atau tugas, yang berguna untuk membaharui Gereja serta meneruskan pembangunannya” (LG, 12). Demonstrasi khusus dari vitalitas karismatik ini ditawarkan oleh hidup bakti, yang terus menerus tumbuh dan berkembang melalui karya rahmat. Lembaga-lembaga gerejawi juga merupakan contoh yang cemerlang dari keberagaman dan kesuburan buah-buah rohani untuk pembangunan Umat Allah.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Nigeria, Tanzania, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Amerika Serikat. Dengan doa dan harapan baik agar Masa Prapaskah ini menjadi masa rahmat dan pembaruan rohani bagimu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai dalam Tuhan kita Yesus Kristus bagi kamu semua.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang Konsili Vatikan II, hari ini kita menelaah partisipasi umat beriman dalam tugas imami, kenabian, dan rajani Yesus Kristus, sebagaimana yang disajikan oleh Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium. Melalui sakramen baptis, kita masing-masing dipanggil untuk ambil bagian dalam imamat rajani Kristus (1Ptr 2:9) dan menyembah Dia dalam roh dan kebenaran, terutama melalui partisipasi kita dalam Ekaristi. Kita juga ambil bagian dalam tugas kenabian Yesus, karena kita dipanggil untuk memberi kesaksian tentang kebenaran iman. Sesungguhnya, para Bapa Konsili mengajarkan bahwa “keseluruhan kaum beriman ... tidak dapat sesat dalam beriman; dan sifat mereka yang istimewa itu mereka tampilkan melalui perasaan iman adikodrati segenap umat, bila dari Uskup hingga para awam beriman yang terkecil, mereka secara keseluruhan menyatakan kesepakatan mereka tentang perkara-perkara iman dan kesusilaan” (LG, 12). Bersama dengan karunia-karunia yang dimiliki oleh semua anggota Gereja, Roh Kudus terus memberikan rahmat khusus kepada umat beriman untuk memperkaya dan membangun tubuh Kristus. Penting bagi kita untuk menyadari berbagai karunia ini dan mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah karena telah memperkenankan kita untuk menjadi bagian dari karya keselamatan-Nya.
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 18 Maret 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 15 Maret 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil Hari Minggu Prapaskah IV menceritakan penyembuhan seorang yang buta sejak lahirnya (bdk. Yoh 9:1–41). Melalui simbolisme kisah ini, Penginjil Yohanes berbicara kepada kita tentang misteri keselamatan: ketika kita berada dalam kegelapan, ketika umat manusia berjalan dalam kekelaman (bdk. Yes 9:2), Allah mengutus Putra-Nya sebagai terang dunia, untuk mencelikkan mata orang buta dan menerangi hidup kita.

 

Para nabi telah mengumumkan bahwa Mesias akan mencelikkan mata orang buta (bdk. Yes 29:18; 35:5; Mzm 146:8). Yesus sendiri menegaskan keaslian misi-Nya dengan menunjukkan bahwa “orang buta melihat” (Mat 11:5), dan Ia memperkenalkan diri dengan kata-kata: “Akulah terang dunia” (Yoh 8:12). Tentu saja, kita semua dapat mengatakan bahwa kita “buta sejak lahir,” karena dengan kekuatan sendiri kita tidak dapat melihat misteri kehidupan dalam segala kedalamannya. Itulah sebabnya Allah menjadi manusia dalam diri Yesus, agar tanah liat kemanusiaan kita, yang dibentuk oleh napas rahmat-Nya, dapat menerima terang baru, terang yang mampu membantu kita melihat diri sendiri, orang lain, dan Allah dalam kebenaran.

 

Sungguh mengejutkan bahwa, selama berabad-abad, pendapat telah menyebar dan bertahan hingga hari ini bahwa iman adalah semacam "lompatan dalam kegelapan," penolakan terhadap pemikiran, sehingga memiliki iman berarti percaya "secara buta." Namun, Bacaan Injil menunjukkan kepada kita bahwa melalui kontak dengan Kristus, mata kita dicelikkan. Sesungguhnya, para pemuka agama bertanya dengan tegas kepada orang buta yang disembuhkan: "Bagaimana matamu menjadi celik?" (Yoh 9:10); dan kembali bertanya: "Bagaimana Ia mencelikkan matamu?" (ayat 26).

 

Saudara-saudari, kita pun disembuhkan oleh kasih Kristus dan dipanggil untuk menghidupi iman kita dengan "mata yang dicelikkan." Iman bukanlah tindakan buta, pengabaian akal budi atau penarikan diri ke dalam semacam kepastian religius yang menyebabkan kita mengalihkan pandangan kita dari dunia. Namun, iman membantu kita untuk melihat segala sesuatu "melihat segala sesuatu sebagaimana Yesus sendiri melihatnya, dengan mata-Nya sendiri. Ini adalah mengambil bagian dalam cara Dia melihat." (Lumen Fidei, 18). Dalam pengertian ini, iman adalah ajakan untuk "mencelikkan mata kita," seperti yang dilakukan Tuhan, terutama terhadap penderitaan orang lain dan kesengsaraan dunia.

 

Dewasa ini, khususnya di tengah banyaknya pertanyaan hati manusia, serta situasi tragis ketidakadilan, kekerasan, dan penderitaan yang menandai zaman kita, sangat penting agar iman kita waspada, penuh perhatian, dan profetik. Iman juga harus mencelikkan mata kita terhadap kegelapan dunia, dan membawa terang Injil kepada orang lain melalui komitmen kita terhadap perdamaian, keadilan, dan solidaritas.

 

Marilah kita memohon kepada Bunda Maria untuk menjadi perantara kita, agar terang Kristus dapat mencelikka mata hati kita dan memungkinkan kita untuk memberi kesaksian tentang Dia dengan kesederhanaan dan keberanian.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Selama dua pekan terakhir, rakyat Timur Tengah menderita akibat kekerasan perang yang mengerikan. Ribuan orang tak berdosa telah tewas, dan tak terhitung lainnya terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Saya kembali mendoakan dan mendekatkan diri kepada semua orang yang kehilangan orang yang mereka cintai dalam serangan-serangan yang telah menghantam sekolah, rumah sakit, dan daerah pemukiman.

 

Situasi di Lebanon sangat mengkhawatirkan. Saya berharap jalan dialog akan muncul untuk mendukung pemerintah negara dalam menerapkan solusi jangka panjang terhadap krisis serius yang sedang terjadi, demi kebaikan bersama seluruh rakyat Lebanon.

 

Atas nama umat kristiani di Timur Tengah, dan semua orang yang berkehendak baik, saya memohon kepada mereka yang bertanggung jawab atas konflik ini: hentikan tembakan! Semoga jalan dialog dapat dibuka kembali! Kekerasan tidak akan pernah membawa keadilan, stabilitas, dan perdamaian yang sedang dinantikan bangsa-bangsa.

 

Saya menyapa kamu semua yang berkumpul di sini hari ini di Lapangan Santo Petrus.

 

Saya menyapa umat yang datang dari Valencia dan Barcelona, Spanyol, serta Palermo.

 

Dengan sukacita, saya menyapa beberapa kelompok orang muda yang bersiap menerima Sakramen Krisma: dari Berceto, Keuskupan Parma; dari Tuto, Keuskupan Florence; dari Torre Maina dan Gorzano, Keuskupan Modena-Nonantola. Saya juga menyapa orang muda dari Paroki Santo Gregorius Agung Roma, serta Paroki Capriano del Colle dan Paroki Azzano Mella, Keuskupan Brescia.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 15 Maret 2026)


WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 11 Maret 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 3. GEREJA, UMAT ALLAH

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Melanjutkan refleksi kita tentang Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium (LG), hari ini kita akan membahas bab kedua, yang dikhususkan untuk Umat Allah.

 

Allah, yang menciptakan dunia dan umat manusia, dan yang ingin menyelamatkan setiap manusia, melaksanakan karya keselamatan-Nya dalam sejarah, sungguh memilih suatu umat dan berdiam di antara mereka. Karena alasan inilah, Ia memanggil Abraham dan menjanjikan kepadanya keturunan sebanyak bintang di langit dan pasir di tepi laut (bdk. Kej 22:17-18). Dengan anak-anak Abraham, setelah membebaskan mereka dari perbudakan, Allah mengadakan perjanjian dengan mereka, serta menyertai, memelihara, dan mengumpulkan mereka kembali setiap kali mereka tersesat. Oleh karena itu, jati diri umat ini diberikan berkat tindakan Allah dan beriman kepada-Nya. Mereka dipanggil untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain, seperti mercusuar yang akan menarik semua bangsa, seluruh umat manusia, kepada diri-Nya (bdk. Yes 2:1-5).

 

Konsili menegaskan bahwa “Semua telah terjadi untuk menyiapkan dan melambangkan perjanjian baru dan sempurna, yang akan diadakan dalam Kristus, dan demi perwahyuan lebih penuh yang akan disampaikan melalui Sabda Allah sendiri yang menjadi daging” (LG, 9). Sesungguhnya, Kristuslah yang, dengan memberikan tubuh dan darah-Nya, mempersatukan umat ini di dalam diri-Nya secara definitif. Kini umat tersebut mencakup seluruh bangsa; dipersatukan berkat iman kepada-Nya, ketaatan kepada-Nya, hidup yang sama seperti Dia, dijiwai oleh Roh Kristus bangkit. Inilah Gereja: umat Allah yang memperoleh keberadaannya dari tubuh Kristus[1] dan mereka sendiri adalah tubuh Kristus;[2] bukan umat seperti umat lainnya, tetapi Umat Allah, yang dipanggil bersama oleh-Nya dan mencakup seluruh bangsa manusia di bumi. Prinsip pemersatu Gereja bukanlah bahasa, budaya, etnis, melainkan iman kepada Kristus: oleh karena itu, Gereja – menurut ungkapan yang luar biasa dari Konsili – adalah kumpulan “semua orang yang beriman mengarahkan pandangan kepada Yesus” (LG, 9).

 

Umat Allah adalah umat mesianik, justru karena Kristus, Sang Mesias, adalah kepala mereka. Mereka yang menjadi bagiannya tidak membanggakan jasa atau gelar, tetapi hanya pada karunia keberadaan, di dalam Kristus dan melalui Dia, sebagai anak-anak Allah. Oleh karena itu, melebihi tugas atau fungsi apa pun, dicangkokkan ke dalam Kristus, menjadi anak-anak Allah berkat rahmat, benar-benar penting dalam Gereja. Ini juga satu-satunya gelar kehormatan yang harus kita usahakan sebagai umat kristiani. Kita berada di dalam Gereja untuk menerima hidup dari Bapa tanpa henti dan hidup sebagai anak-anak-Nya dan saudara-saudari di antara kita. Akibatnya, hukum yang menghidupkan hubungan dalam Gereja adalah kasih, sebagaimana kita terima dan alami dalam Yesus; dan tujuannya adalah Kerajaan Allah, yang ke arahnya Gereja berjalan bersama dengan seluruh umat manusia.

 

Bersatu dalam Kristus, Tuhan dan Juruselamat semua orang, Gereja tidak pernah dapat menutup diri, tetapi terbuka bagi dan untuk setiap orang. Jika orang percaya kepada Kristus termasuk di dalamnya, Konsili mengingatkan kita bahwa “Semua orang dipanggil kepada Umat Allah yang baru. Maka umat itu, yang tetap satu dan tunggal, harus disebarluaskan ke seluruh dunia dan melalui segala abad, supaya terpenuhilah rencana kehendak Allah, yang pada awal mula menciptakan satu kodrat manusia, dan menetapkan untuk akhirnya menghimpun dan mempersatukan lagi anak-anak-Nya yang tersebar” (LG, 13). Bahkan mereka yang belum menerima Injil pun, dengan cara tertentu, terarah kepada umat Allah, dan Gereja, yang bekerja sama dalam misi Kristus, dipanggil untuk menyebarkan Injil di mana-mana dan kepada setiap orang (bdk. LG 17), sehingga setiap orang dapat berhubungan dengan Kristus. Ini berarti bahwa di dalam Gereja ada, dan harus ada, tempat bagi setiap orang, dan setiap umat kristiani dipanggil untuk mewartakan Injil dan memberi kesaksian di setiap lingkungan tempat ia tinggal dan bekerja. Dengan demikian, bangsa ini menunjukkan kekatolikannya, menerima kekayaan dan sumber daya dari berbagai budaya dan, pada saat yang sama, menawarkan kepada mereka kebaruan Injil untuk menyucikan dan mengangkat mereka (bdk. LG, 13).

 

Dalam hal ini, Gereja adalah satu tetapi mencakup semua orang. Seorang teolog besar menggambarkannya demikian: “Bahtera Keselamatan yang unik harus menyambut segenap keragaman manusia ke dalam ruang utamanya yang luas. Satu-satunya ruang perjamuan, makanan yang dibagikannya diambil dari seluruh ciptaan. Pakaian Kristus yang tanpa jahitan, juga – dan hal yang sama – pakaian Yusuf, dengan banyak warnanya”.[3]

 

Memahami Gereja adalah umat di mana semua orang dari berbagai bangsa, bahasa, dan budaya hidup bersama dalam iman – terutama di zaman kita, yang dilanda begitu banyak konflik dan perang – merupakan tanda pengharapan yang besar: tanda yang ditempatkan di jantung kemanusiaan, pengingat dan nubuat tentang persatuan dan perdamaian yang diserukan Allah Bapa kepada semua anak-Nya.

 

[Imbauan]

 

Hari ini di Qlayaa, Lebanon, pemakaman Pastor Pierre El Raii, Pastor Paroki Maronit dari salah satu pedesaan kristiani di Lebanon selatan, sedang dirayakan. Pedesaan ini sekali lagi mengalami tragedi perang. Saya turut berduka cita bersama seluruh rakyat Lebanon di masa-masa sulit ini.

 

Dalam bahasa Arab, “El Raii” berarti “gembala”. Pastor Pierre adalah gembala sejati, yang selalu berada di samping umatnya, dengan kasih dan pengurbanan Yesus Sang Gembala yang baik. Begitu mendengar bahwa beberapa umatnya terluka dalam pemboman, ia bergegas membantu mereka tanpa ragu-ragu. Semoga Tuhan menganugerahkan darah yang ditumpahkannya menjadi benih perdamaian bagi Lebanon tercinta.

 

Saudara-saudari terkasih, marilah kita terus mendoakan perdamaian di Iran dan seluruh Timur Tengah, terutama banyak korban sipil, termasuk banyak anak-anak yang tidak bersalah. Semoga doa kita menjadi penghibur bagi mereka yang menderita dan benih pengharapan untuk masa depan.

 

[Sapaan khusus]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, kita merefleksikan karya penyelamatan Allah dalam sejarah dengan memilih suatu umat sebagai milik-Nya. Ia membuat perjanjian dengan Abraham dan memanggil umat-Nya untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain. Dengan cara ini, Ia menubuatkan perjanjian baru dan sempurna dalam Yesus Kristus. Dengan wafat dan kebangkitan-Nya, Yesus mengumpulkan semua bangsa, laki-laki dan perempuan dari berbagai bangsa, bahasa, dan budaya ke dalam mempelai-Nya, Gereja. Gereja adalah umat Allah yang baru, yang dipersatukan oleh iman dan dijiwai oleh kasih Kristus untuk mewartakan Injil kepada seluruh dunia. Kita pun, sebagai anggota Gereja, dipanggil untuk menjadi tanda-tanda pengharapan dan menyebarkan pesan Bapa, yang ingin mengumpulkan semua anak-anak-Nya kepada diri-Nya.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Denmark, Australia, dan Amerika Serikat. Seraya mendoakan dan mengharapkan Masa Prapaskah ini menjadi masa rahmat dan pembaruan rohani bagimu dan keluargamu, saya memohonkan atas kamu semua sukacita dan damai dalam Tuhan kita Yesus Kristus.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 11 Maret 2026)



[1] Bdk. J. Ratzinger, Umat Allah yang Baru, Brescia 1992, 97.

[2] Bdk. Y. M.J. Congar, Umat Mesianik, Brescia 1976, 75.

[3] Bdk. H. de Lubac, Katolisisme: Sebuah Studi Tentang Dogma Dalam Kaitannya Dengan Takdir Bersama Umat Manusia (Catholicisme: Les aspects sociaux du dogme).

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 8 Maret 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

 

Sejak abad-abad pertama sejarah Gereja, dialog antara Yesus dan perempuan Samaria, penyembuhan orang yang buta sejak lahirnya, dan kebangkitan Lazarus menerangi jalan orang-orang yang, pada Paskah, akan menerima baptisan dan memulai hidup baru. Keagungan perikop-perikop Injil ini, yang kita baca mulai hari Minggu ini, dimaksudkan untuk membantu para katekumen dalam perjalanan mereka menjadi umat kristiani. Pada saat yang sama, perikop-perikop ini didengarkan kembali oleh seluruh komunitas orang percaya untuk membantu mereka menjadi umat kristiani yang lebih otentik dan penuh sukacita.

 

Sesungguhnya, Yesus adalah jawaban atas kehausan kita. Sebagaimana yang Ia sampaikan kepada perempuan Samaria, perjumpaan dengan-Nya membangkitkan di kedalaman setiap orang “mata air yang yang terus menerus memancar sampai pada hidup yang kekal” (Yoh 4:14). Betapa banyak orang di seluruh dunia yang bahkan hingga hari ini mencari mata air rohani ini! “Kadang-kadang aku juga ada di sana,” tulis Etty Hillesum muda dalam buku hariannya. “Tetapi lebih sering batu dan kerikil menyumbat sumur, dan Allah terkubur di bawahnya. Kemudian Ia harus digali kembali.”[1] Sahabat-sahabatku, tidak ada energi yang lebih baik digunakan selain yang didedikasikan untuk membebaskan hati kita. Karena alasan ini, masa Prapaskah adalah sebuah anugerah: kita memulai pekan ketiga dan sekarang kita dapat mengintensifkan perjalanan ini!

 

Tertulis juga dalam Bacaan Injil bahwa: “Datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan” (Yoh 4:27). Mereka enggan menerima misi-Nya sebagai misi mereka sendiri, sehingga Sang Guru harus mendorong mereka: “Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Namun, Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang sudah menguning dan matang untuk dituai” (Yoh 4:35). Tuhan masih mengatakan kepada Gereja-Nya: “Angkatlah matamu dan kenalilah kejutan-kejutan Allah!” Di ladang, empat bulan sebelum musim menuai, orang praktis tidak melihat apa pun. Tetapi di sana, di tempat kita tidak melihat apa pun, rahmat sudah bekerja dan buah-buahnya siap untuk dipetik. Tuaian melimpah: mungkin pekerjanya sedikit karena mereka teralihkan oleh kegiatan lain. Yesus, di sisi lain, penuh perhatian. Menurut kebiasaan, Ia seharusnya mengabaikan perempuan Samaria itu; namun, Yesus bercakap-cakap dengannya, mendengarkannya, dan menunjukkan rasa hormat kepadanya – tanpa agenda tersembunyi dan tanpa memandang rendah.

 

Alangkah banyak orang dalam Gereja juga mencari kepekaan ini, ketersediaan ini! Dan alangkah indahnya ketika kita meluangkan waktu untuk memberikan perhatian kepada orang yang sedang kita jumpai, sebagaimana kita lihat dalam perikop ini. Secara rohani Yesus sangat dipenuhi keinginan Allah untuk menjangkau orang-orang di tingkat terdalam sehingga Ia bahkan lupa makan (bdk. Yoh 4:34). Dengan demikian, perempuan Samaria tersebut menjadi perempuan penginjil pertama. Karena kesaksiannya, banyak orang dari desanya yang dipandang rendah dan ditolak datang untuk berjumpa Yesus, dan di dalam diri mereka juga iman mengalir seperti air murni.

 

Saudara-saudari, hari ini marilah kita memohon kepada Maria, Bunda Gereja, agar dapat melayani, bersama Yesus dan seperti Yesus, menjadi orang-orang yang haus akan kebenaran dan keadilan. Ini bukanlah waktu untuk mempertentangkan satu gereja dengan gereja lain, "kita" dengan "mereka": orang-orang yang menyembah Allah berusaha untuk menjadi orang-orang pecinta damai, yang menyembah Dia dalam roh dan kebenaran (bdk. Yoh 4:23-24).

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kabar yang sangat mengkhawatirkan terus berdatangan dari Iran dan seluruh Timur Tengah. Selain episode kekerasan dan kehancuran serta iklim kebencian dan ketakutan yang meluas, ada juga kekhawatiran bahwa konflik akan menyebar dan negara-negara lain di kawasan itu, termasuk Lebanon tercinta, mungkin akan kembali terjerumus ke dalam ketidakstabilan.

 

Kita memanjatkan doa yang tulus kepada Tuhan, agar suara gemuruh bom berhenti, senjata-senjata terdiam, dan tercipta ruang untuk dialog di mana suara rakyat dapat didengar. Saya mempercayakan ujud ini kepada Bunda Maria, Ratu Perdamaian, agar ia menjadi perantara orang-orang yang menderita karena perang dan menuntun hati menuju jalan rekonsiliasi dan harapan.

 

Hari ini, 8 Maret, adalah Hari Perempuan Sedunia. Kita memperbarui komitmen kita, yang bagi kita umat kristiani berlandaskan Injil, untuk mengakui kesetaraan martabat laki-laki dan perempuan. Sayangnya, banyak perempuan, sejak kecil hingga dewasa, masih mengalami diskriminasi dan menderita berbagai bentuk kekerasan. Secara khusus, saya menyampaikan solidaritas dan doa saya kepada mereka.

 

Saya menyapa para mahasiswa dari College Station Texas, Kansas City (Missouri), dan Fort Wayne (Indiana) Amerika Serikat, serta dari Jerez dan Cádiz, Spanyol, dan juga kelompok-kelompok peziarah dari Peru, Panama, Honduras, Meksiko, dan Chili.

 

Saya menyapa umat Brescia, Castrolibero, Gravina di Puglia, Perugia, dan Paroki San Clemente Papa dan San Pio da Pietrelcina, Roma.

 

Saya menyapa komunitas “Casa di Maria” Roma, kelompok calon penerima Sakramen Krisma Keuskupan Orvieto-Todi, anak-anak dari Mantova, dan tim rugby dari Rovigo.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu yang penuh berkah kepada semuanya.

__________________________ ____

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Maret 2026)



[1]Etty Hillesum, Buku Harian, London 1985, 58-59.

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 4 Maret 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 2. GEREJA,, KENYATAAN YANG KASAT MATA DAN SPIRITUAL

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Hari ini, kita akan melanjutkan menelusuri Konstitusi Konsili Vatikan II Lumen Gentium, sebuah konstitusi dogmatis tentang Gereja.

 

Pada bab pertama, yang terutama dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan tentang apa itu Gereja, Gereja digambarkan sebagai "satu kenyataan yang kompleks" (no. 8). Sekarang kita bertanya pada diri sendiri: apa yang dimaksud dengan kompleksitas ini? Beberapa mungkin menjawab bahwa Gereja kompleks karena 'rumit' dan karena itu sulit dijelaskan; yang lain mungkin berpikir bahwa kompleksitasnya berasal dari fakta bahwa Gereja adalah sebuah lembaga yang sarat dengan sejarah dua ribu tahun, dengan karakteristik yang berbeda dari kelompok sosial atau agama lainnya. Namun, dalam bahasa Latin, kata 'kompleks' lebih menunjukkan kesatuan yang teratur dari berbagai aspek atau dimensi dalam satu kenyataan yang sama. Karena alasan ini, Lumen Gentium dapat menegaskan bahwa Gereja adalah tubuh yang terorganisir dengan baik, di mana dimensi manusiawi dan ilahi hidup berdampingan tanpa pemisahan dan tanpa kebingungan.

 

Dimensi pertama langsung terlihat, yaitu Gereja adalah komunitas orang-orang yang berbagi sukacita dan perjuangan menjadi orang kristiani, dengan kekuatan dan kelemahan mereka, mewartakan Injil dan menjadi tanda kehadiran Kristus yang menyertai kita dalam perjalanan hidup kita. Namun aspek ini – yang juga terlihat dalam organisasi kelembagaannya – tidak cukup untuk menggambarkan hakikat Gereja yang sesungguhnya, karena Gereja juga memiliki dimensi ilahi. Dimensi ilahi ini bukan berupa kesempurnaan ideal atau keunggulan spiritual para anggotanya, melainkan kenyataan bahwa Gereja dibentuk oleh rencana Allah bagi umat manusia, yang terwujud dalam Kristus.

Oleh karena itu, Gereja sekaligus merupakan komunitas duniawi dan tubuh mistik Kristus, jemaat yang kasat mata dan misteri rohani, satu kenyataan yang hadir dalam sejarah dan suatu umat yang sedang menuju surga (LG, 8; CCC, 771).

Dimensi manusiawi dan ilahi terintegrasi secara harmonis, tanpa satu menutupi yang lain; demikianlah Gereja hidup dalam paradoks ini. Gereja adalah satu kenyataan yang sekaligus manusiawi dan ilahi, yang menerima manusia berdosa dan menuntunnya kepada Allah.

  

Untuk menjelaskan kondisi gerejawi ini, Lumen Gentium merujuk pada kehidupan Kristus. Faktanya, orang-orang yang bertemu Yesus di sepanjang jalan Palestina mengalami kemanusiaan-Nya, mata-Nya, tangan-Nya, suara-Nya. Mereka yang memutuskan untuk mengikuti-Nya tergerak justru oleh pengalaman tatapan-Nya yang menyambut, sentuhan tangan-Nya yang memberkati, kata-kata pembebasan dan penyembuhan-Nya. Namun, pada saat yang sama, dengan mengikuti Manusia itu, para murid membuka diri untuk bertemu Allah. Sesungguhnya, daging Kristus, wajah-Nya, tingkah laku-Nya dan kata-kata-Nya secara nyata mewujudkan Allah yang tak kasat mata.

 

Dalam terang kenyataan Yesus, kita sekarang dapat kembali kepada Gereja: ketika kita melihatnya dengan saksama, kita menemukan dimensi manusiawi yang terdiri dari orang-orang nyata, yang terkadang mewujudkan keindahan Injil dan di lain waktu berjuang dan membuat kesalahan seperti orang lain. Namun, justru melalui anggota-anggotanya dan aspek-aspek duniawinya yang terbatas itulah kehadiran Kristus dan tindakan penyelamatan-Nya terwujud. Sebagaimana dikatakan Paus Benediktus XVI, tidak ada pertentangan antara Injil dan lembaga; Sebaliknya, struktur Gereja justru berfungsi untuk “mewujudnyatakan Injil di zaman kita” (Wejangan kepada Para Uskup Swiss, 9 November 2006). Gereja yang ideal dan murni, terpisah dari dunia, tidak ada; hanya Gereja Kristus yang satu, yang terwujud dalam sejarah.

 

Inilah yang membentuk kekudusan Gereja: kenyataannya, Kristus berdiam di dalamnya dan terus memberikan diri-Nya melalui kelemahan dan kerapuhan anggota-anggotanya. Dengan merenungkan mukjizat abadi yang terjadi di dalamnya, kita memahami ‘metode Allah’: Ia membuat diri-Nya kasat mata melalui kelemahan ciptaan, terus menyatakan diri-Nya dan bertindak. Karena alasan ini, Paus Fransiskus, dalam Evangelii Gaudium, mengajak kita semua untuk belajar ““melepaskan alas kaki kita di depan tanah kudus orang lain (bdk. Kel. 3:5)” (no. 169). Hal ini memungkinkan kita hingga hari ini untuk membangun Gereja: bukan hanya dengan mengatur bentuk-bentuknya yang kasat mata, tetapi dengan membangun bangunan rohani yang merupakan tubuh Kristus, melalui persekutuan dan kasih di antara kita.

 

Sesungguhnya, kasih terus-menerus menghasilkan kehadiran Yesus yang bangkit. “Sekiranya kita semua dapat memusatkan pikiran kita pada satu hal saja, yaitu kasih! Itulah satu-satunya hal, kamu lihat, yang melampaui segala sesuatu, dan tanpanya segala sesuatu menjadi tidak berarti, dan yang menarik segala sesuatu kepada dirinya sendiri, di mana pun ia berada” (Khotbah 354, 6, 6).

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, India, Filipina, Singapura, Vietnam, dan Amerika Serikat. Dengan doa dan harapan baik agar masa Prapaskah ini menjadi masa rahmat dan pembaruan rohani bagimu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai dalam Tuhan kita Yesus Kristus bagi kamu semua.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang Konsili Vatikan II, hari ini kita menelaah misteri dimensi manusiawi dan ilahi Gereja sebagaimana disajikan Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium. Sama seperti kemanusiaan Yesus langsung kasat mata bagi mereka yang berjalan di sisi-Nya, demikian pula dimensi manusiawi Gereja mudah dipahami: Gereja adalah komunitas orang-orang yang, dengan karunia dan kekurangan mereka, berupaya mewartakan Injil dalam struktur yang kasat mata. Namun, mereka yang mengikuti Yesus lebih dekat menyadari bahwa kemanusiaan-Nya — pandangan kasih-Nya, tindakan belas kasih-Nya, dan sabda-Nya yang penuh kuasa — menampilkan keilahian-Nya, yang menuntun mereka kepada keselamatan. Dengan cara yang sama, melalui dimensi Gereja yang kasat mata dan manusiawi, roh Kristus dan tindakan penyelamatan-Nya hadir dan aktif di dunia. Marilah kita berupaya menjadi saksi sejati kasih Kristus sehingga semua orang dapat mengenali dalam diri kita dan di antara kita kasih yang menjadi ciri khas orang kristeia isejati dan membangun Gereja.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 4 Maret 2026)