Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!
Pesta
Pembaptisan Tuhan, yang kita rayakan hari ini, menandai dimulainya Masa Biasa.
Masa liturgi ini mengajak kita untuk bersama-sama mengikuti Tuhan, mendengarkan
sabda-Nya, dan meneladan tindakan kasih-Nya kepada sesama. Dengan demikian,
kita meneguhkan dan memperbarui pembaptisan kita, sakramen yang menjadikan kita
umat kristiani, membebaskan kita dari dosa dan mengubah rupa diri kita menjadi
anak-anak Allah melalui kuasa Roh kehidupan-Nya.
Bacaan
Injil hari ini menceritakan bagaimana tanda rahmat yang mujarab ini terjadi.
Ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes di Sungai Yordan, ia melihat “Roh Allah
turun seperti burung merpati dan hinggap di atas-Nya” (Mat 3:16). Pada saat
yang sama, dari surga, suara Bapa bergema, “Inilah Anak-Ku yang terkasih” (ayat
17). Pada saat ini, seluruh keilahian hadir dalam sejarah: sama seperti sang
Anak turun ke air Sungai Yordan, Roh Kudus turun ke atas-Nya dan, melalui Dia,
diberikan kepada kita sebagai kuasa keselamatan.
Saudara-saudara
terkasih, Allah tidak memandang dunia dari jauh, tidak acuh dengan hidup,
masalah, atau pengharapan kita! Sebaliknya, Ia datang di antara kita dengan
hikmat sabda-Nya yang menjadi daging, menarik kita ke dalam rencana kasih yang
menakjubkan bagi seluruh umat manusia.
Inilah
sebabnya Yohanes Pembaptis, yang dipenuhi keheranan, bertanya kepada Yesus,
“Engkau datang kepada-Ku?” (ayat 14). Ya, dalam kekudusan-Nya, Tuhan membiarkan
diri-Nya dibaptis seperti orang berdosa, untuk mengungkapkan belas kasihan
Allah yang tak terbatas. Sang Putra tunggal, yang di dalam Dia kita adalah
saudara dan saudari, datang untuk melayani ketimbang menguasai, menyelamatkan
ketimbang menghukum. Dialah Kristus Sang Penebus. Dia memikul apa yang
seharusnya kita pikul, termasuk dosa kita, dan memberi kita apa seharusnya
menjadi milik-Nya: rahmat kehidupan baru dan kekal.
Sakramen
Baptis menjadikan peristiwa ini hadir di setiap waktu dan tempat, menyambut
kita masing-masing ke dalam Gereja, umat Allah, yang terdiri dari orang-orang
dari segala bangsa dan budaya yang dilahirkan kembali oleh Roh-Nya. Karena itu,
marilah kita dedikasikan hari ini untuk mengingat karunia besar yang telah kita
terima, dan berkomitmen untuk memberikan kesaksian tentangnya dengan sukacita
dan ketulusan. Baru hari ini, saya membaptis beberapa bayi yang baru lahir yang
telah menjadi saudara dan saudari kita dalam iman. Betapa indahnya merayakan
kasih Allah – yang memanggil kita dengan nama dan membebaskan kita dari
kejahatan – sebagai satu keluarga! Sakramen pertama ini adalah tanda suci yang
menyertai kita selamanya. Di saat-saat kegelapan, baptisan adalah terang; dalam
konflik kehidupan, baptisan merupakan rekonsiliasi; pada saat kematian,
baptisan merupakan gerbang menuju surga.
Marilah
kita berdoa bersama, memohon kepada Bunda Maria untuk menguatkan iman kita dan
misi Gereja setiap hari.
[Setelah pendarasan
doa Malaikat Tuhan]
Saudara-saudari
terkasih,
Sebagaimana
telah saya sebutkan, mengikuti kebiasaan pada Pesta Pembaptisan Tuhan, pagi ini
saya membaptis beberapa bayi yang baru lahir dari para pegawai Takhta Suci.
Sekarang saya ingin menyampaikan berkat saya kepada semua anak yang telah
menerima atau akan menerima baptisan selama hari-hari ini – di Roma dan di
seluruh dunia – dengan mempercayakan mereka kepada perlindungan keibuan Perawan
Maria. Secara khusus, saya berdoa untuk anak-anak yang lahir dalam keadaan
sulit, baik karena kondisi kesehatan maupun bahaya eksternal. Semoga rahmat
baptisan, yang menyatukan mereka dengan misteri Paskah Kristus, berbuah dalam
hidup mereka dan dalam kehidupan keluarga mereka.
Pikiran
saya tertuju pada situasi yang saat ini terjadi di Timur Tengah, khususnya di Iran
dan Suriah, di mana ketegangan yang berkelanjutan terus merenggut banyak nyawa.
Saya berharap dan berdoa agar dialog dan perdamaian dapat dipupuk dengan sabar
demi kebaikan bersama seluruh masyarakat.
Di
Ukraina, serangan-serangan baru – terutama serangan-serangan berat yang
menargetkan infrastruktur energi seiring dengan semakin dinginnya cuaca – telah
menimbulkan korban jiwa yang besar di kalangan penduduk sipil. Saya berdoa
untuk mereka yang menderita dan kembali menyerukan untuk mengakhiri kekerasan
dan upaya-upaya baru dalam mencapai perdamaian.
Dan
sekarang saya menyapa kamu semua: umat Roma dan para peziarah yang hadir hari
ini di Lapangan Santo Petrus. Grazie, terima kasih, muchas gracias!
Saya
menyapa secara khusus kelompok dari Sekolah Everest Madrid dan lembaga Bambini
Fratelli dari Guadalajara, Meksiko: Dejemos que los niños sueñen.
Saya
mengucapkan selamat hari Minggu yang penuh berkat dan kebahagiaan untuk kamu
semua!
______
(Peter Suriadi - Bogor, 12 Januari 2026)
