Saudara-saudari
terkasih, selamat pagi dan selamat datang!
Hari ini
saya ingin membahas kembali bab dua Konstitusi Konsili Vatikan II Lumen Gentium
(LG), yang dikhususkan untuk Gereja sebagai umat Allah.
Umat Mesianik (LG, 9),
menerima dari Kristus partisipasi dalam jabatan imami, kenabian, dan rajani
yang melaluinya misi penyelamatan-Nya dilaksanakan. Para Bapa Konsili
mengajarkan bahwa Tuhan Yesus, melalui Perjanjian baru dan kekal, telah
mendirikan kerajaan imami, menjadikan murid-murid-Nya sebagai ‘imamat yang
rajani’ (1Ptr 2:9; bdk. 1Ptr 2:5; Why 1:6). Imamat umum umat beriman ini
diberikan berkat sakramen baptis, yang memungkinkan kita untuk menyembah Allah
dalam roh dan kebenaran, dan “mengakui di muka orang-orang iman yang telah
mereka terima dari Allah melalui Gereja” (LG, 11). Lebih lanjut, berkat
sakramen penguatan, semua orang yang dibaptis "terikat pada Gereja secara
lebih sempurna, dan diperkaya dengan daya kekuatan Roh Kudus yang istimewa;
dengan demikian mereka semakin diwajibkan untuk menyebarluaskan dan membela
iman sebagai saksi Kristus yang sejati, dengan perkataan maupun perbuatan”
(idem). Pengabdian ini merupakan akar dari misi bersama yang menyatukan
pelayanan imamat umum kaum beriman dan imamat jabatan atau hirarkis.
Dalam hal
ini, Paus Fransiskus mengamati bahwa, “Memandang Umat Allah berarti mengingat
bahwa kita semua masuk ke dalam Gereja sebagai umat awam. Sakramen pertama,
yang memetereikan jati diri kita selamanya, dan yang harus selalu kita
banggakan, adalah Baptisan. Melalui Baptisan dan pengurapan Roh Kudus, (umat
beriman) ‘disucikan menjadi kediaman rohani dan imamat suci’ (LG, 10),
[sehingga] setiap orang membentuk Umat Allah yang kudus” (Surat kepada Presiden
Komisi Kepausan untuk Amerika Latin, 29 Maret 2016).
Pelaksanaan
imamat yang rajani berlangsung dalam banyak cara, semuanya bertujuan untuk
pengudusan kita, pertama dan terutama melalui partisipasi dalam persembahan
Ekaristi. Melalui doa, asketisme, dan amal kasih yang aktif, kita dengan
demikian memberi kesaksian tentang kehidupan yang diperbarui oleh rahmat Allah
(bdk. LG, 10). Sebagaimana dirangkum oleh Konsili, “Sifat suci persekutuan
keimanan yang tersusun secara organis itu diwujudkan baik dengan menerima
sakramen-sakramen maupun dengan mengamalkan keutamaan-keutamaan” (LG, 11).
Para Bapa
Konsili kemudian mengajarkan bahwa Umat Allah yang kudus mengambil bagian juga
dalam tugas kenabian Kristus (bdk. LG, 12). Dalam konteks ini, tema penting
tentang makna iman dan konsensus umat beriman diperkenalkan. Komisi Doktrinal
Konsili menetapkan bahwa sensus fidei ini “seperti suatu kemampuan seluruh
Gereja, yang dengannya Gereja, dalam imannya, mengenali wahyu yang diturunkan,
membedakan antara yang benar dan yang salah dalam hal iman, dan pada saat yang
sama menembusnya lebih dalam dan menerapkannya lebih penuh dalam kehidupan”
(bdk. Acta Synodalia, III/1, 199). Oleh karena itu, makna iman bukan milik
orang percaya secara individu, tetapi sebagai anggota Umat Allah secara
keseluruhan.
Lumen
Gentium berfokus pada aspek terakhir ini, dan menempatkannya dalam kaitannya
dengan Gereja yang tidak dapat sesat, yang inheren dengan ketidakdapatsesatan
Paus Roma dan yang dilayaninya. “Keseluruhan kaum beriman, yang telah diurapi
oleh Yang Kudus (bdk. 1Yoh 2:20 dan 27), tidak dapat sesat dalam beriman; dan
sifat mereka yang istimewa itu mereka tampilkan melalui perasaan iman
adikodrati segenap umat, bila dari Uskup hingga para awam beriman yang
terkecil, mereka secara keseluruhan menyatakan kesepakatan mereka tentang
perkara-perkara iman dan kesusilaan.” (LG, 12). Oleh karena itu, Gereja,
sebagai persekutuan umat beriman – yang secara alami mencakup para gembala –
tidak mungkin keliru dalam hal iman: organ yang melaluinya kebenaran ini
dipelihara, yang didasarkan pada pengurapan Roh Kudus, adalah rasa iman
adikodrati dari seluruh Umat Allah, yang diwujudkan dalam konsensus umat
beriman. Dari kesatuan ini, yang dijaga oleh Magisterium Gereja, maka setiap
orang yang dibaptis adalah agen aktif penginjilan, yang dipanggil untuk
memberikan kesaksian yang konsisten bagi Kristus sesuai dengan karunia kenabian
yang dianugerahkan Tuhan kepada seluruh Gereja-Nya.
Sesungguhnya,
Roh Kudus, yang datang kepada kita dari Kristus yang telah bangkit, “Di
kalangan umat dari segala lapisan Ia membagi-bagikan rahmat istimewa pula, yang
menjadikan mereka cakap dan bersedia untuk menerima pelbagai karya atau tugas,
yang berguna untuk membaharui Gereja serta meneruskan pembangunannya” (LG, 12).
Demonstrasi khusus dari vitalitas karismatik ini ditawarkan oleh hidup bakti,
yang terus menerus tumbuh dan berkembang melalui karya rahmat. Lembaga-lembaga
gerejawi juga merupakan contoh yang cemerlang dari keberagaman dan kesuburan
buah-buah rohani untuk pembangunan Umat Allah.
[Sapaan
Khusus]
Saya
menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi
hari ini, khususnya kelompok dari Nigeria, Tanzania, Indonesia, Filipina,
Thailand, dan Amerika Serikat. Dengan doa dan harapan baik agar Masa Prapaskah
ini menjadi masa rahmat dan pembaruan rohani bagimu dan keluargamu, saya
memohonkan sukacita dan damai dalam Tuhan kita Yesus Kristus bagi kamu semua.
[Ringkasan
dalam bahasa Inggris]
Saudara-saudari
terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang Konsili Vatikan II, hari ini
kita menelaah partisipasi umat beriman dalam tugas imami, kenabian, dan rajani
Yesus Kristus, sebagaimana yang disajikan oleh Konstitusi Dogmatis Lumen
Gentium. Melalui sakramen baptis, kita masing-masing dipanggil untuk ambil
bagian dalam imamat rajani Kristus (1Ptr 2:9) dan menyembah Dia dalam roh dan
kebenaran, terutama melalui partisipasi kita dalam Ekaristi. Kita juga ambil
bagian dalam tugas kenabian Yesus, karena kita dipanggil untuk memberi
kesaksian tentang kebenaran iman. Sesungguhnya, para Bapa Konsili mengajarkan
bahwa “keseluruhan kaum beriman ... tidak dapat sesat dalam beriman; dan sifat
mereka yang istimewa itu mereka tampilkan melalui perasaan iman adikodrati
segenap umat, bila dari Uskup hingga para awam beriman yang terkecil, mereka
secara keseluruhan menyatakan kesepakatan mereka tentang perkara-perkara iman
dan kesusilaan” (LG, 12). Bersama dengan karunia-karunia yang dimiliki oleh
semua anggota Gereja, Roh Kudus terus memberikan rahmat khusus kepada umat
beriman untuk memperkaya dan membangun tubuh Kristus. Penting bagi kita untuk
menyadari berbagai karunia ini dan mengungkapkan rasa syukur kita kepada Allah
karena telah memperkenankan kita untuk menjadi bagian dari karya
keselamatan-Nya.
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 18 Maret 2026)
