Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 22 APRIL 2026 : PERJALANAN APOSTOLIK KE ALJAZAIR, KAMERUN, ANGOLA, DAN GUINEA KHATULISTIWA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Hari ini saya ingin berbicara tentang perjalanan apostolik yang saya lakukan dari tanggal 13 hingga 23 April, mengunjungi empat negara Afrika: Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa.

 

Sejak awal masa kepausan saya, saya telah memikirkan perjalanan ke Afrika. Saya bersyukur kepada Tuhan karena telah memberi saya kesempatan untuk melaksanakannya, sebagai Gembala, bertemu dan memberi semangat kepada umat Allah; dan juga mengalaminya sebagai pesan perdamaian pada saat dalam sejarah yang ditandai oleh konflik dan pelanggaran hukum internasional yang serius dan sering terjadi. Dan saya menyampaikan terima kasih yang tulus kepada para uskup dan otoritas sipil yang menyambut saya, dan kepada semua orang yang membantu mengatur kunjungan ini.

 

Penyelenggaraan ilahi menentukan perhentian pertama adalah negara tempat situs Santo Agustinus berada, yaitu Aljazair. Dengan demikian, saya mendapati diri saya, di satu sisi, mengunjungi kembali akar jati diri spiritual saya dan, di sisi lain, menyeberangi dan memperkuat jembatan yang sangat penting bagi dunia dan Gereja saat ini: jembatan dengan zaman para Bapa Gereja yang sangat produktif; jembatan dengan dunia Islam; dan jembatan dengan benua Afrika.

 

Di Aljazair, saya menerima sambutan yang tidak hanya penuh hormat tetapi juga hangat, dan kami dapat mengalami secara langsung dan menunjukkan kepada dunia bahwa memungkinkan hidup bersama sebagai saudara dan saudari, bahkan dari agama yang berbeda, ketika kita menyadari diri kita sebagai anak-anak dari satu Bapa yang Maha Pengasih. Lebih jauh lagi, ini adalah kesempatan yang tepat waktu untuk belajar dari teladan Santo Agustinus: melalui pengalaman hidup, tulisan-tulisan, dan spiritualitasnya, ia adalah seorang guru dalam mencari Allah dan kebenaran. Saat ini sebuah kesaksian yang lebih penting dari sebelumnya bagi umat kristiani dan setiap orang.

 

Di tiga negara berikutnya yang saya kunjungi, penduduknya sebagian besar beragama Kristen, dan karena itu saya mendapati diri saya tenggelam dalam suasana perayaan iman dan sambutan hangat, yang juga diperkuat oleh ciri khas rakyat Afrika. Seperti para pendahulu saya, saya pun mengalami sesuatu yang mirip dengan apa yang terjadi pada Yesus di antara orang banyak di Galilea: Ia melihat mereka haus dan lapar akan keadilan, lalu Ia menyatakan kepada mereka: “Berbahagialah orang miskin di hadapan Allah, berbahagialah orang yang lemah lembut, berbahagialah orang yang membawa damai”, dan, setelah mengakui iman mereka, Ia berkata, “Kamu adalah garam dunia dan terang dunia” (bdk. Mat 5:1-16).

 

Kunjungan ke Kamerun memungkinkan saya untuk memperkuat seruan untuk bekerja sama demi rekonsiliasi dan perdamaian, karena negara itu pun, sayangnya, ditandai oleh ketegangan dan kekerasan. Saya senang telah melakukan perjalanan ke Bamenda, di wilayah berbahasa Inggris, di mana saya mendorong orang-orang untuk bekerja sama demi perdamaian. Kamerun dikenal sebagai "miniatur Afrika", karena keragaman dan kekayaan lingkungan alam dan sumber dayanya, tetapi kita juga dapat menafsirkan ungkapan ini sebagai kebutuhan besar seluruh benua yang terdapat di Kamerun: kebutuhan akan distribusi kekayaan yang adil; kebutuhan untuk menyediakan ruang bagi kaum muda, mengatasi korupsi yang endemik, mempromosikan pembangunan menyeluruh dan berkelanjutan, melawan berbagai bentuk kolonialisme baru dengan kerjasama internasional yang berwawasan jauh ke depan. Saya berterima kasih kepada Gereja di Kamerun dan seluruh rakyat Kamerun, yang menyambut saya dengan penuh kasih, dan saya berdoa agar semangat persatuan yang terlihat selama kunjungan saya tetap hidup dan membimbing pilihan dan tindakan di masa depan.

 

Perhentian ketiga perjalanan adalah di Angola, sebuah negara besar di selatan khatulistiwa, dengan tradisi kristiani yang telah berlangsung berabad-abad, terkait dengan penjajahan Portugis. Seperti banyak negara Afrika lainnya, setelah meraih kemerdekaan, Angola mengalami masa sulit, yang ditandai dengan perang saudara yang panjang dan berdarah. Dalam kancah sejarah ini, Allah telah membimbing dan memurnikan Gereja, semakin mengubahnya dalam pelayanan Injil, peningkatan kesejahteraan manusia, rekonsiliasi, dan perdamaian. Gereja yang bebas untuk rakyat yang bebas! Di Tempat Suci Maria Mamã Muxima — yang berarti “Bunda Hati” — saya merasakan detak jantung rakyat Angola. Dan dalam berbagai pertemuan, saya bersukacita melihat begitu banyak para pelaku hidup bakti dari segala usia, sebuah nubuat tentang Kerajaan Surga di tengah-tengah umat mereka; saya melihat para katekis yang sepenuhnya mengabdikan diri untuk kebaikan komunitas; saya melihat wajah-wajah orang tua yang telah lelah karena kerja keras dan penderitaan namun berseri-seri dengan sukacita Injil; Aku melihat perempuan dan laki-laki menari mengikuti irama lagu-lagu pujian kepada Tuhan yang bangkit, dasar dari sebuah pengharapan yang mampu mengatasi kekecewaan yang disebabkan oleh ideologi dan janji-janji kosong dari orang-orang yang berkuasa.

 

Pengharapan ini menuntut komitmen nyata, dan Gereja memiliki tanggung jawab, dengan kesaksian dan pewartaan sabda Allah yang berani, mengakui hak-hak semua orang dan mempromosikan penghormatan nyata terhadap hak-hak tersebut. Dengan otoritas sipil Angola, tetapi juga dengan otoritas negara-negara lain, saya dapat meyakinkan mereka tentang kesediaan Gereja Katolik untuk terus memberikan kontribusi ini, khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan.

 

Negara terakhir yang saya kunjungi adalah Guinea Khatulistiwa, 170 tahun setelah evangelisasi pertamanya. Dengan kearifan tradisi dan terang Kristus, rakyat Guinea telah melewati berbagai cobaan dalam sejarah mereka dan, dalam beberapa hari terakhir, di hadapan Paus, telah memperbarui dengan antusiasme besar tekad mereka untuk berjalan bersama menuju masa depan yang penuh pengharapan.

 

Saya tidak bisa melupakan apa yang terjadi di penjara di Bata, Guinea Khatulistiwa: para tahanan menyanyikan dengan suara lantang sebuah lagu syukur kepada Allah dan Paus, memohon agar ia berdoa “untuk dosa-dosa dan kebebasan mereka”. Saya belum pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. Dan kemudian mereka berdoa “Bapa Kami” bersama saya di tengah hujan deras. Sebuah tanda nyata Kerajaan Allah! Dan masih di tengah hujan, pertemuan besar dengan kaum muda dimulai di stadion di Bata. Sebuah perayaan sukacita kristiani, dengan kesaksian yang mengharukan dari kaum muda yang telah menemukan dalam Injil jalan menuju pertumbuhan yang bebas dan bertanggung jawab. Perayaan ini mencapai puncaknya dalam perayaan Ekaristi pada hari berikutnya, yang dengan tepat mengakhiri kunjungan ke Guinea Khatulistiwa, serta seluruh perjalanan apostolik.

 

Saudara-saudari terkasih, kunjungan Paus ini, bagi bangsa Afrika, adalah kesempatan untuk menyuarakan pendapat mereka, mengungkapkan sukacita menjadi umat Allah dan pengharapan akan masa depan yang lebih baik, martabat bagi setiap orang. Saya senang telah memberi mereka kesempatan ini, dan pada saat yang sama saya bersyukur kepada Tuhan atas apa yang telah mereka berikan kepada saya, sebuah harta yang tak ternilai bagi hati dan pelayanan saya.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Irlandia, Malta, Norwegia, Nigeria, India, Filipina, Trinidad dan Tobago, dan Amerika Serikat. Kepada kamu semua, dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Yesus yang telah bangkit! Semoga Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, hari ini saya ingin berbicara tentang perjalanan apostolik saya baru-baru ini ke empat negara: Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa. Saya telah berkeinginan untuk memulai perjalanan ini sejak awal masa kepausan saya, dan sekarang saya menyampaikan rasa syukur yang tulus kepada Tuhan karena telah memberi saya kesempatan untuk bertemu dengan umat Allah di Afrika dan meneguhkan iman mereka sebagai Penerus Santo Petrus. Waktu saya di sana dimaksudkan untuk menyampaikan pesan perdamaian kepada dunia pada saat yang ditandai oleh konflik dan pelanggaran hukum internasional yang sering terjadi. Bersamaan dengan seruan untuk perdamaian, saya juga mengecam ketidakadilan besar yang ada di negara-negara yang kaya akan sumber daya alam tersebut, mendesak komunitas internasional untuk mengatasi sikap kolonialisme baru dan terlibat dalam kerjasama yang autentik. Pada saat yang sama, Perjalanan apostolik memberi rakyat Afrika kesempatan untuk menyampaikan suara mereka dan mengungkapkan sukacita menjadi umat Allah. Dalam hal ini, saya mengucap syukur kepada Tuhan atas apa yang telah mereka berikan kepada saya: anugerah iman, pengharapan, dan kasih yang tak terukur, yang telah sangat memperkaya hidup dan pelayanan saya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 29 April 2026)