Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 22 APRIL 2026 : PERJALANAN APOSTOLIK KE ALJAZAIR, KAMERUN, ANGOLA, DAN GUINEA KHATULISTIWA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Hari ini saya ingin berbicara tentang perjalanan apostolik yang saya lakukan dari tanggal 13 hingga 23 April, mengunjungi empat negara Afrika: Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa.

 

Sejak awal masa kepausan saya, saya telah memikirkan perjalanan ke Afrika. Saya bersyukur kepada Tuhan karena telah memberi saya kesempatan untuk melaksanakannya, sebagai Gembala, bertemu dan memberi semangat kepada umat Allah; dan juga mengalaminya sebagai pesan perdamaian pada saat dalam sejarah yang ditandai oleh konflik dan pelanggaran hukum internasional yang serius dan sering terjadi. Dan saya menyampaikan terima kasih yang tulus kepada para uskup dan otoritas sipil yang menyambut saya, dan kepada semua orang yang membantu mengatur kunjungan ini.

 

Penyelenggaraan ilahi menentukan perhentian pertama adalah negara tempat situs Santo Agustinus berada, yaitu Aljazair. Dengan demikian, saya mendapati diri saya, di satu sisi, mengunjungi kembali akar jati diri spiritual saya dan, di sisi lain, menyeberangi dan memperkuat jembatan yang sangat penting bagi dunia dan Gereja saat ini: jembatan dengan zaman para Bapa Gereja yang sangat produktif; jembatan dengan dunia Islam; dan jembatan dengan benua Afrika.

 

Di Aljazair, saya menerima sambutan yang tidak hanya penuh hormat tetapi juga hangat, dan kami dapat mengalami secara langsung dan menunjukkan kepada dunia bahwa memungkinkan hidup bersama sebagai saudara dan saudari, bahkan dari agama yang berbeda, ketika kita menyadari diri kita sebagai anak-anak dari satu Bapa yang Maha Pengasih. Lebih jauh lagi, ini adalah kesempatan yang tepat waktu untuk belajar dari teladan Santo Agustinus: melalui pengalaman hidup, tulisan-tulisan, dan spiritualitasnya, ia adalah seorang guru dalam mencari Allah dan kebenaran. Saat ini sebuah kesaksian yang lebih penting dari sebelumnya bagi umat kristiani dan setiap orang.

 

Di tiga negara berikutnya yang saya kunjungi, penduduknya sebagian besar beragama Kristen, dan karena itu saya mendapati diri saya tenggelam dalam suasana perayaan iman dan sambutan hangat, yang juga diperkuat oleh ciri khas rakyat Afrika. Seperti para pendahulu saya, saya pun mengalami sesuatu yang mirip dengan apa yang terjadi pada Yesus di antara orang banyak di Galilea: Ia melihat mereka haus dan lapar akan keadilan, lalu Ia menyatakan kepada mereka: “Berbahagialah orang miskin di hadapan Allah, berbahagialah orang yang lemah lembut, berbahagialah orang yang membawa damai”, dan, setelah mengakui iman mereka, Ia berkata, “Kamu adalah garam dunia dan terang dunia” (bdk. Mat 5:1-16).

 

Kunjungan ke Kamerun memungkinkan saya untuk memperkuat seruan untuk bekerja sama demi rekonsiliasi dan perdamaian, karena negara itu pun, sayangnya, ditandai oleh ketegangan dan kekerasan. Saya senang telah melakukan perjalanan ke Bamenda, di wilayah berbahasa Inggris, di mana saya mendorong orang-orang untuk bekerja sama demi perdamaian. Kamerun dikenal sebagai "miniatur Afrika", karena keragaman dan kekayaan lingkungan alam dan sumber dayanya, tetapi kita juga dapat menafsirkan ungkapan ini sebagai kebutuhan besar seluruh benua yang terdapat di Kamerun: kebutuhan akan distribusi kekayaan yang adil; kebutuhan untuk menyediakan ruang bagi kaum muda, mengatasi korupsi yang endemik, mempromosikan pembangunan menyeluruh dan berkelanjutan, melawan berbagai bentuk kolonialisme baru dengan kerjasama internasional yang berwawasan jauh ke depan. Saya berterima kasih kepada Gereja di Kamerun dan seluruh rakyat Kamerun, yang menyambut saya dengan penuh kasih, dan saya berdoa agar semangat persatuan yang terlihat selama kunjungan saya tetap hidup dan membimbing pilihan dan tindakan di masa depan.

 

Perhentian ketiga perjalanan adalah di Angola, sebuah negara besar di selatan khatulistiwa, dengan tradisi kristiani yang telah berlangsung berabad-abad, terkait dengan penjajahan Portugis. Seperti banyak negara Afrika lainnya, setelah meraih kemerdekaan, Angola mengalami masa sulit, yang ditandai dengan perang saudara yang panjang dan berdarah. Dalam kancah sejarah ini, Allah telah membimbing dan memurnikan Gereja, semakin mengubahnya dalam pelayanan Injil, peningkatan kesejahteraan manusia, rekonsiliasi, dan perdamaian. Gereja yang bebas untuk rakyat yang bebas! Di Tempat Suci Maria Mamã Muxima — yang berarti “Bunda Hati” — saya merasakan detak jantung rakyat Angola. Dan dalam berbagai pertemuan, saya bersukacita melihat begitu banyak para pelaku hidup bakti dari segala usia, sebuah nubuat tentang Kerajaan Surga di tengah-tengah umat mereka; saya melihat para katekis yang sepenuhnya mengabdikan diri untuk kebaikan komunitas; saya melihat wajah-wajah orang tua yang telah lelah karena kerja keras dan penderitaan namun berseri-seri dengan sukacita Injil; Aku melihat perempuan dan laki-laki menari mengikuti irama lagu-lagu pujian kepada Tuhan yang bangkit, dasar dari sebuah pengharapan yang mampu mengatasi kekecewaan yang disebabkan oleh ideologi dan janji-janji kosong dari orang-orang yang berkuasa.

 

Pengharapan ini menuntut komitmen nyata, dan Gereja memiliki tanggung jawab, dengan kesaksian dan pewartaan sabda Allah yang berani, mengakui hak-hak semua orang dan mempromosikan penghormatan nyata terhadap hak-hak tersebut. Dengan otoritas sipil Angola, tetapi juga dengan otoritas negara-negara lain, saya dapat meyakinkan mereka tentang kesediaan Gereja Katolik untuk terus memberikan kontribusi ini, khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan.

 

Negara terakhir yang saya kunjungi adalah Guinea Khatulistiwa, 170 tahun setelah evangelisasi pertamanya. Dengan kearifan tradisi dan terang Kristus, rakyat Guinea telah melewati berbagai cobaan dalam sejarah mereka dan, dalam beberapa hari terakhir, di hadapan Paus, telah memperbarui dengan antusiasme besar tekad mereka untuk berjalan bersama menuju masa depan yang penuh pengharapan.

 

Saya tidak bisa melupakan apa yang terjadi di penjara di Bata, Guinea Khatulistiwa: para tahanan menyanyikan dengan suara lantang sebuah lagu syukur kepada Allah dan Paus, memohon agar ia berdoa “untuk dosa-dosa dan kebebasan mereka”. Saya belum pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. Dan kemudian mereka berdoa “Bapa Kami” bersama saya di tengah hujan deras. Sebuah tanda nyata Kerajaan Allah! Dan masih di tengah hujan, pertemuan besar dengan kaum muda dimulai di stadion di Bata. Sebuah perayaan sukacita kristiani, dengan kesaksian yang mengharukan dari kaum muda yang telah menemukan dalam Injil jalan menuju pertumbuhan yang bebas dan bertanggung jawab. Perayaan ini mencapai puncaknya dalam perayaan Ekaristi pada hari berikutnya, yang dengan tepat mengakhiri kunjungan ke Guinea Khatulistiwa, serta seluruh perjalanan apostolik.

 

Saudara-saudari terkasih, kunjungan Paus ini, bagi bangsa Afrika, adalah kesempatan untuk menyuarakan pendapat mereka, mengungkapkan sukacita menjadi umat Allah dan pengharapan akan masa depan yang lebih baik, martabat bagi setiap orang. Saya senang telah memberi mereka kesempatan ini, dan pada saat yang sama saya bersyukur kepada Tuhan atas apa yang telah mereka berikan kepada saya, sebuah harta yang tak ternilai bagi hati dan pelayanan saya.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Irlandia, Malta, Norwegia, Nigeria, India, Filipina, Trinidad dan Tobago, dan Amerika Serikat. Kepada kamu semua, dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Yesus yang telah bangkit! Semoga Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, hari ini saya ingin berbicara tentang perjalanan apostolik saya baru-baru ini ke empat negara: Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa. Saya telah berkeinginan untuk memulai perjalanan ini sejak awal masa kepausan saya, dan sekarang saya menyampaikan rasa syukur yang tulus kepada Tuhan karena telah memberi saya kesempatan untuk bertemu dengan umat Allah di Afrika dan meneguhkan iman mereka sebagai Penerus Santo Petrus. Waktu saya di sana dimaksudkan untuk menyampaikan pesan perdamaian kepada dunia pada saat yang ditandai oleh konflik dan pelanggaran hukum internasional yang sering terjadi. Bersamaan dengan seruan untuk perdamaian, saya juga mengecam ketidakadilan besar yang ada di negara-negara yang kaya akan sumber daya alam tersebut, mendesak komunitas internasional untuk mengatasi sikap kolonialisme baru dan terlibat dalam kerjasama yang autentik. Pada saat yang sama, Perjalanan apostolik memberi rakyat Afrika kesempatan untuk menyampaikan suara mereka dan mengungkapkan sukacita menjadi umat Allah. Dalam hal ini, saya mengucap syukur kepada Tuhan atas apa yang telah mereka berikan kepada saya: anugerah iman, pengharapan, dan kasih yang tak terukur, yang telah sangat memperkaya hidup dan pelayanan saya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 29 April 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 26 April 2026

Saudara-saudari, selamat siang dan selamat hari Minggu!

 

Seraya kita melanjutkan perjalanan kita melalui Masa Paskah, Bacaan Injil hari ini menyajikan perbandingan Yesus tentang diri-Nya dengan seorang gembala dan juga dengan pintu kandang domba (bdk. Yoh 10:1-10).

 

Yesus membuat perbandingan antara gembala dan pencuri. Bahkan, Ia berkata bahwa “siapa yang masuk ke dalam kandang domba tanpa melalui pintu, tetapi dengan memanjat dari tempat lain, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok” (ayat 1). Ia melanjutkan dengan menjelaskan hal ini lebih lanjut: “Pencuri datang hanya untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan. Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (ayat 10). Perbedaannya jelas: gembala memiliki ikatan khusus dengan domba-dombanya dan karena itu dapat masuk melalui pintu kandang domba. Di sisi lain, jika seseorang harus memanjat pagar untuk masuk, maka ia pastilah seorang pencuri yang ingin mencuri domba-domba itu.

 

Yesus memberitahu kita bahwa Ia terikat kepada kita oleh hubungan persahabatan, karena Ia mengenal kita, memanggil nama kita, membimbing kita, dan — seperti gembala yang menjaga domba-dombanya — mencari kita ketika kita tersesat dan membalut luka kita ketika kita sakit (bdk. Yeh. 34:16). Yesus tidak datang sebagai pencuri untuk mengambil hidup dan kebebasan kita, tetapi untuk menuntun kita di jalan kebenaran. Ia tidak datang untuk menjebak atau menipu hati nurani kita, tetapi untuk meneranginya dengan cahaya kebijaksanaan-Nya. Ia tidak datang untuk mencemari sukacita duniawi kita, tetapi untuk menyingkapnya kepada kebahagiaan yang lebih penuh dan lebih kekal. Mereka yang mempercayakan diri kepada-Nya tidak perlu takut, karena Ia tidak mengambil hidup kita, tetapi datang untuk memberikannya kepada kita dengan berlimpah-limpah (bdk. ayat 10).

 

Saudara-saudari, kita diundang untuk merefleksikan, dan terutama untuk waspada terhadap, pintu hati dan hidup kita, karena siapa pun yang masuk dapat menambah sukacita kita, atau mencurinya dari kita seperti pencuri. “Pencuri” dapat mengambil banyak bentuk. Mereka bisa berupa: orang-orang yang, terlepas dari penampilan lahiriahnya, menindas kebebasan kita atau gagal menghormati martabat kita; kepercayaan dan prasangka yang mencegah kita memandang orang lain dan kehidupan dengan tenang; gagasan keliru yang dapat menyebabkan kita membuat pilihan negatif; atau gaya hidup dangkal dan konsumeristik yang membuat hati kita hampa dan mendorong kita untuk terus hidup di luar diri kita sendiri. Dan janganlah kita melupakan “pencuri” yang, dengan menjarah sumber daya bumi, melancarkan perang berdarah, atau memicu kejahatan dalam bentuk apa pun, tidak melakukan apa pun selain merampas dari diri kita masing-masing kemungkinan masa depan yang ditandai dengan perdamaian dan ketenangan.

 

Kita harus bertanya pada diri kita sendiri: Siapa yang kita inginkan untuk membimbing kita dalam hidup? "Pencuri" mana yang telah mencoba menerobos masuk ke dalam kawanan domba kita? Apakah mereka berhasil, atau apakah kita berhasil menangkis mereka?

 

Hari ini, Bacaan Injil mengajak kita untuk percaya kepada Tuhan. Ia tidak datang untuk mengambil apa pun dari kita. Sebaliknya, Ia adalah Gembala yang baik yang meningkatkan kehidupan dan menawarkannya kepada kita dengan berlimpah-limpah. Semoga Bunda Maria selalu menyertai kita dalam perjalanan kita dan menjadi perantara kita dan seluruh dunia.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini merupakan peringatan 40 tahun Tragedi Chernobyl, yang meninggalkan bekas luka mendalam pada hati nurani umat manusia. Tragedi ini menjadi peringatan mengenai risiko yang melekat dalam penggunaan teknologi yang semakin canggih. Marilah kita serahkan mereka yang telah meninggal dan semua yang masih menderita akibat bencana tersebut kepada kerahiman Allah. Saya berharap kebijaksanaan dan tanggung jawab akan selalu berlaku di setiap tingkat pengambilan keputusan sehingga semua penggunaan energi atom dapat ditempatkan untuk melayani kehidupan dan perdamaian.

 

Sekarang saya menyapamu, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara: selamat datang!

 

Saya menyapa para Ksatria dan Wanita dari Ordo Santo Georgius dan Ordo Eropa dari Wangsa Habsburg-Lorraine. Saya menyapa anak-anak dari kelompok tari “Malva” dari Brovary, Ukraina; Paduan Suara Cantica Sacra dari Keuskupan Agung Trnava, Slovakia; umat dari Wina, Madrid, dan Kepulauan Canary; dan para guru dari Sekolah “São Tomás”, Lisbon.

 

Saya juga menyapa sekelompok besar orang muda dari Val Camonica Keuskupan Brescia, dan para pelayan altar muda dari Biadene dan Caonada; serta umat beriman dari Treviso, Vicenza, Crotone, Cariati, Oria dan Lecce; dan para peserta konferensi Lembaga Rasul Kerahiman Ilahi.

 

Secara khusus saya menyapa anggota keluarga dan sahabat para imam baru Keuskupan Roma, yang saya tahbiskan pagi ini di Basilika Santo Petrus: mohon terus mendampingi para pelayan Injil muda ini dengan doa-doamu.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 26 April 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI KILAMBA (ANGOLA} 19 April 2026

Saudara-saudari terkasih,

 

Sekarang kita akan bersama-sama berdoa kepada Maria, Regina Caeli, Ratu Surga, dengan dia – Bunda dan pendamping kita dalam perjalanan hidup – ambil bagian dalam sukacita kebangkitan.

 

Dengan lagu penuh sukacita ini, kita tidak ingin menghapus atau membungkam tangisan mereka yang menderita, tetapi sebaliknya ingin merangkul dan menyatukan mereka dengan suara kita dalam keselarasan baru, sehingga bahkan dalam penderitaan sekali pun cahaya iman tetap hidup, dan dengannya, mengharapkan dunia yang lebih baik.

 

Saya sangat sedih atas peningkatan serangan baru-baru ini terhadap Ukraina, yang terus menimpa warga sipil juga. Saya menyampaikan solidaritas saya bagi mereka yang menderita dan meyakinkan seluruh rakyat Ukraina akan doa saya. Saya kembali mengimbau agar senjata-senjata berhenti berbunyi dan jalan dialog tetap ditempuh.

 

Namun, gencatan senjata yang diumumkan di Lebanon memberikan alasan untuk berharap; merupakan secercah pengharapan bagi rakyat Lebanon dan wilayah Levant. Saya mendorong mereka yang berupaya mencapai solusi diplomatik untuk melanjutkan perundingan perdamaian, sehingga penghentian permusuhan di seluruh Timur Tengah dapat menjadi permanen.

 

Kristus telah menaklukkan kematian, dan dengan kepastian inilah kita semua, bersatu dengan Dia dan dalam Dia sebagai satu Tubuh, berkomitmen hari ini dan setiap hari, terlepas dari rintangan dan kesulitan, untuk menyebarkan di sekitar kita buah-buah Paskah yaitu kasih, keadilan sejati, dan perdamaian.

 

Semoga Bunda Yesus, Bunda hati kita, membantu kita untuk selalu merasakan kehadiran Putra-Nya yang telah bangkit, hidup dan kuat, dekat dengan kita.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 19 April 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 12 April 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu dan sekali lagi selamat Paskah!

 

Hari ini, pada Hari Minggu Paskah II, yang didedikasikan untuk Kerahiman Ilahi oleh Santo Yohanes Paulus II, Bacaan Injil menceritakan penampakan Yesus yang telah bangkit kepada Rasul Tomas (bdk. Yoh 20:19–31). Peristiwa ini terjadi delapan hari setelah Paskah, ketika komunitas berkumpul bersama. Di sana, Tomas bertemu dengan Sang Guru, yang mengundangnya untuk melihat bekas paku dan memasukkan tangannya ke dalam luka di lambung-Nya, dan percaya (bdk. ayat 27). Adegan ini mengajak kita untuk merefleksikan perjumpaan kita dengan Yesus yang telah bangkit. Di mana kita dapat menemukan-Nya? Bagaimana kita dapat mengenali-Nya? Bagaimana kita dapat percaya? Santo Yohanes, yang menceritakan peristiwa itu, memberi kita petunjuk yang tepat: Tomas bertemu Yesus pada hari kedelapan, di tengah komunitas yang berkumpul, dan mengenali-Nya dalam tanda-tanda pengurbanan-Nya. Pengakuan imannya, yang tertinggi di seluruh Injil Yohanes, muncul dari pengalaman ini: “Tuhanku dan Allahku!” (ayat 28).

 

Tentu saja, tidak selalu mudah untuk percaya. Tidak mudah bagi Thomas, dan juga tidak mudah bagi kita untuk percaya. Iman perlu dipelihara dan diteguhkan. Karena alasan ini, pada “hari kedelapan” — yaitu, setiap hari Minggu — Gereja mengajak kita untuk melakukan seperti yang dilakukan para murid pertama: berkumpul bersama dan merayakan Ekaristi. Selama Misa, kita mendengarkan sabda Yesus, kita berdoa, kita menyatakan iman kita, kita ambil bagian dalam kasih karunia Allah, kita mempersembahkan hidup kita dalam persatuan dengan Kurban Kristus. Tubuh dan darah-Nya memberi kita santapan, sehingga kita pun dapat menjadi saksi kebangkitan-Nya, sebagaimana ditunjukkan istilah “Misa,” yang berarti “pengutusan,” atau “misi” (bdk. Katekismus Gereja Katolik, 1332).

 

Ekaristi hari Minggu sangat penting bagi kehidupan kristiani. Besok saya akan berangkat untuk melakukan perjalanan apostolik ke Afrika. Beberapa martir Gereja Afrika awal, khususnya Para Martir Abitene, telah meninggalkan kesaksian yang indah dalam hal ini. Ketika diberi kesempatan untuk menyelamatkan hidup mereka dengan meninggalkan perayaan Ekaristi, mereka menjawab bahwa mereka tidak dapat hidup tanpa merayakan Hari Tuhan. Di sanalah iman kita tumbuh dan diperkuat. Di sanalah upaya kita, meskipun terbatas, disatukan oleh rahmat Allah dengan tindakan para anggota satu tubuh — tubuh Kristus — untuk mewujudkan satu rencana keselamatan besar yang mencakup seluruh umat manusia. Melalui Ekaristi, tangan kita menjadi "tangan Kristus yang bangkit," memberikan kesaksian akan kehadiran, belas kasihan, dan damai-Nya. Tanda pekerjaan, pengurbanan, penyakit, dan berlalunya tahun sering terukir di tangan kita, seperti halnya dalam kelembutan belaian, jabat tangan, atau gestur amal kasih.

 

Saudara-saudari terkasih, di dunia yang sangat membutuhkan perdamaian, lebih dari sebelumnya kita dituntut untuk teguh dan setia dalam perjumpaan ekaristis kita dengan Tuhan yang telah bangkit, sehingga kita dapat tampil sebagai saksi amal kasih dan pembawa pesan perdamaian. Semoga Perawan Maria membantu kita melakukan hal ini, ia yang diberkati karena ia adalah orang pertama yang percaya tanpa melihat (bdk. Yoh 20:29).

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini, banyak Gereja Timur merayakan Paskah menurut kalender Julian. Dalam persekutuan iman di dalam Tuhan yang bangkit, saya menyampaikan harapan tulus saya untuk perdamaian kepada semua komunitas ini. Saya menyertai pengharapan ini dengan doa yang sungguh-sungguh untuk semua orang yang menderita akibat perang, khususnya untuk rakyat Ukraina yang terkasih. Semoga terang Kristus membawa penghiburan bagi hati yang berduka dan memperkuat pengharapan akan perdamaian. Semoga perhatian komunitas internasional terhadap tragedi perang ini tidak goyah!

 

Di hari-hari duka, ketakutan, dan pengharapan yang teguh kepada Allah ini, saya merasa lebih dekat dari sebelumnya dengan rakyat Lebanon yang terkasih. Prinsip kemanusiaan, yang tertanam dalam hati nurani setiap orang dan diakui dalam hukum internasional, mengandung kewajiban moral untuk melindungi penduduk sipil dari dampak mengerikan perang. Saya mengimbau pihak-pihak yang bertikai untuk menyatakan gencatan senjata dan segera mencari solusi damai.

 

Rabu depan merupakan peringatan tiga tahun dimulainya pertikaian berdarah di Sudan. Betapa besar penderitaan rakyat Sudan, korban tak berdosa dari tragedi yang tidak manusiawi ini! Dengan tulus saya kembali mengimbau pihak-pihak yang bertikai untuk membungkam senjata mereka dan memulai, tanpa prasyarat, dialog yang tulus yang bertujuan untuk mengakhiri perang saudara ini sesegera mungkin.

 

Sekarang, saya menyapa kamu semua – umat Roma dan para peziarah – terutama umat yang merayakan Hari Minggu Kerahiman Ilahi di Tempat Kudus Santo Spirito, Sassia.

 

Saya menyapa Musikverein Kleinraming, dari Keuskupan Linz di Austria, umat yang datang dari Polandia, kaum muda dari Collège Saint Jean de Passy Paris, dan mereka yang berasal dari berbagai negara dari Gerakan Focolare. Saya juga menyapa rombongan peziarah dari komunitas San Benedetto Po dan para calon penerima sakramen krisma dari Santarcangelo di Romagna dan San Vito.

 

Besok saya akan melakukan perjalanan apostolik selama sepuluh hari ke empat negara Afrika: Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa. Mohon doakan saya.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu.

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 13 April 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 8 April 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 7. KEKUDUSAN DAN NASIHAT INJILI DALAM GEREJA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Lumen Gentium (LG), Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Gereja, mendedikasikan seluruh bab, bab kelima, untuk panggilan universal menuju kekudusan bagi seluruh umat beriman: kita masing-masing dipanggil untuk hidup dalam rahmat Allah, mempraktikkan keutamaan dan meneladan Kristus. Kekudusan, menurut konstitusi konsili tersebut, bukan hak istimewa bagi segelintir orang, tetapi karunia yang mengharuskan setiap orang yang dibaptis untuk berupaya mencapai kesempurnaan kasih, yaitu, kepenuhan kasih kepada Allah dan sesama. Sesungguhnya, kasih adalah inti dari kekudusan yang merupakan panggilan semua orang percaya: ditanamkan oleh Bapa, melalui Putra Yesus, keutamaan ini “mengarahkan dan menjiwai semua upaya kekudusan, dan membawanya sampai ke tujuannya” (LG, 42). Tingkat kekudusan tertinggi, seperti pada masa-masa awal Gereja, adalah kemartiran, “kesaksian iman dan cinta kasih yang amat luhur” (LG, 50: karena alasan ini, Konsili mengajarkan bahwa setiap orang percaya harus siap untuk mengakui Kristus bahkan sampai dengan titik darah penghabisan (bdk. LG, 42), seperti yang selalu terjadi dan terus berlanjut hingga saat ini. Kesiapan untuk memberi kesaksian ini terwujud setiap kali umat kristiani mewariskan tanda-tanda iman dan kasih di dalam masyarakat, dengan berkomitmen pada keadilan.

 

Seluruh sakramen, terutama Ekaristi, adalah santapan yang memupuk kehidupan kudus, menyatukan setiap orang dengan Kristus, teladan dan ukuran kekudusan. Ia, sebagai kepala gan gembalanya, menguduskan Gereja: kekudusan, dari sudut pandang ini, adalah karunia-Nya, yang terwujud dalam kehidupan kita sehari-hari setiap kali kita menerimanya dengan penuh sukacita dan berkomitmen menanggapinya. Berkaitan dengan hal ini, Santo Paulus VI, dalam Audiensi Umum tanggal 20 Oktober 1965, mengingatkan bahwa Gereja, agar otentik, menghendaki semua rrang yang dibaptis haruslah “kudus, yaitu benar-benar layak, kuat, dan setia sebagai anak-anak Gereja”. Hal ini terwujud sebagai transformasi batin, di mana kehidupan setiap orang menjadi seruoa dengan Kristus berkat kuasa Roh Kudus (bdk. Roma 8:29; LG, 40).

 

Lumen Gentium menggambarkan kekudusan Gereja Katolik sebagai salah satu ciri konstitutifnya, menerima dalam iman, karena Gereja diyakini “tidak dapat kehilangan kekudusannya” (LG, 39): ini tidak berarti bahwa Gereja kudus dalam arti penuh dan sempurna, tetapi bahwa Gereja dipanggil untuk menegaskan karunia ilahi ini selama peziarahannya menuju tujuan kekal, berjalan “di tengah penganiayaan dunia dan penghiburan Allah” (Santo Agustinus, De civitate Dei 51,2; LG, 8). Kenyataan dosa yang menyedihkan di dalam Gereja, yaitu di dalam diri kita semua, mengajak setiap orang untuk melakukan perubahan hidup yang sungguh-sungguh, mempercayakan diri kita kepada Allah, yang memperbarui kita dalam kasih. Justru kasih yang tak terbatas inilah yang menjadi tujuan kita. Rahmat, yang menguduskan Gereja, yang mempercayakan kepada kita sebuah perutusan yang harus dijalankan hari demi hari: yaitu pertobatan kita. Oleh karena itu, kekudusan tidak hanya bersifat praktis, seolah-olah dapat direduksi menjadi komitmen etis, betapapun besarnya, tetapi menyangkut esensi kehidupan kristiani itu sendiri, baik pribadi maupun komunal.

 

Dari sudut pandang ini, peran menentukan dimainkan oleh hidup bakti, yang dibahas konstitusi konsili dalam bab keenam (bdk. no. 43-47). Dalam Umat Allah yang kudus, hal itu merupakan tanda kenabian dunia baru, yang dialami di sini dan sekarang dalam sejarah. Sesungguhnya, tanda-tanda Kerajaan Allah, yang sudah hadir dalam misteri Gereja, adalah nasihat-nasihat injili yang membentuk setiap pengalaman khidup bakti: kemiskinan, kekudusan, dan ketaatan. Ketiga keutamaan ini bukan aturan yang membelenggu kebebasan, tetapi karunia Roh Kudus yang membebaskan, yang melaluinya sebagian umat beriman sepenuhnya dikuduskan kepada Allah. Kemiskinan mengungkapkan kepercayaan penuh kepada penyelenggaraan ilahi, membebaskan seseorang dari perhitungan dan kepentingan diri sendiri; ketaatan mengambil model dari pengurbanan diri yang Kristus persembahkan kepada Bapa, membebaskan seseorang dari kecurigaan dan dominasi; kekudusan adalah karunia hati yang utuh dan murni dalam kasih, untuk melayani Allah dan Gereja.

 

Dengan menyesuaikan diri dengan gaya hidup ini, para pelaku hidup bakti memberi kesaksian tentang panggilan universal kekudusan seluruh Gereja, dalam bentuk kemuridan yang radikal. Nasihat-nasihat injili menunjukkan partisipasi penuh dalam kehidupan Kristus, hingga salib: justru melalui pengurbanan Yesus yang disalib kita semua ditebus dan disucikan! Dengan merenungkan peristiwa ini, kita tahu bahwa tidak ada pengalaman manusia yang tidak ditebus Allah: bahkan penderitaan, yang dialami dalam persatuan dengan penderitaan Tuhan, menjadi jalan kekudusan. Rahmat yang mengubah dan mengubah rupa hidup ini menguatkan kita dalam setiap pencobaan, mengarahkan kita bukan pada cita-cita yang jauh, tetapi pada perjumpaan dengan Allah, yang menjadi manusia karena kasih. Semoga Santa Perawan Maria, Bunda dari Sabda yang menjelma, selalu menopang dan melindungi perjalanan kita.

 

[Imbauan]

 

Setelah beberapa jam terakhir yang penuh ketegangan di Timur Tengah dan seluruh dunia, saya menyambut dengan puas, dan sebagai tanda pengharapan yang mendalam, pengumuman gencatan senjata sesegera selama dua pekan. Hanya dengan kembali ke meja perundingan kita dapat mengakhiri perang.

 

Saya mendesakmu untuk menyertai masa kerja diplomatik yang rumit ini dengan doa, dengan pengharapan bahwa kesediaan untuk terlibat dalam dialog dapat menjadi sarana untuk menyelesaikan situasi konflik lainnya di dunia.

 

Saya mengulangi undangan saya kepada semua orang untuk bergabung dengan saya dalam Doa Vigili untuk Perdamaian, yang akan kita rayakan di Basilika Santo Petrus pada hari Sabtu, 11 April 2026.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti audiensi hari ini, khususnya kelompok-kelompok dari Inggris, Irlandia, Nigeria, Australia, Filipina, Vietnam, dan Amerika Serikat. Dalam sukacita Kristus yang telah bangkit, saya memohonkan rahmat kasih Allah Bapa kita atas kamu dan keluargamu. Semoga Tuhan memberkati kamu semua dan semoga damai sejahtera-Nya menyertai kamu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese hari ini tentang Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, kita mengarahkan perhatian kita pada panggilan universal untuk kekudusan. Setiap orang yang dibaptis dipanggil untuk menjadi kudus: hidup dalam rahmat Allah, mempraktikkan keutamaan dan menjadi serupa dengan Kristus. Intinya adalah mengasihi Allah dan sesama, dan ungkapan terbesarnya adalah kemartiran, kesaksian iman dan cinta kasih yang amat luhur. Karena alasan ini, Gereja mengajarkan bahwa orang percaya harus siap untuk mengakui Kristus sampai menumpahkan darah. Namun, transformasi batin yang membentuk kita sesuai dengan Kristus tidak mungkin tanpa bantuan sakramen-sakramen, terutama Ekaristi. Dalam hal ini, saya ingin secara khusus menyebut para pelaku hidup bakti yang menguduskan hidup mereka bagi Allah melalui nasihat-nasihat injili: kemiskinan, kekudusan, dan ketaatan yang menyatakan kepercayaan penuh mereka pada penyelenggaraan ilahi, yang dimodelkan pada pemberian diri Kristus kepada Bapa dengan hati yang murni. Melalui hidup mereka, para pelaku hidup bakti secara radikal memberi kesaksian tentang kepenuhan hidup dalam Kristus, bahkan hingga di kayu salib.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 9 April 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 6 April 2026

Saudara-saudari terkasih, Kristus telah bangkit! Selamat Paskah!

 

Salam ini, yang penuh dengan ketakjuban dan sukacita, akan menyertai kita sepanjang pekan ini. Seraya kita merayakan hari baru yang telah diciptakan Tuhan bagi kita, liturgi memberitakan masuknya seluruh ciptaan ke dalam zaman keselamatan: dalam nama Yesus, keputusasaan akan kematian disingkirkan untuk selama-lamanya.

 

Bacaan Injil hari ini (Mat 28:8–15) mengajak kita untuk memilih antara dua kisah: kisah para perempuan yang berjumpa Tuhan yang telah bangkit (ayat 9–11), dan kisah para penjaga yang disuap oleh para pemimpin Mahkamah Agama (ayat 11–14). Kisah pertama memberitakan kemenangan Kristus atas kematian; kisah kedua menegaskan kematian selalu menang dalam setiap keadaan. Menurut versi mereka, Yesus tidak bangkit; sebaliknya, tubuh-Nya dicuri. Dari fakta yang sama — kubur kosong — muncul dua penafsiran: ditafsirkan sebagai sumber kehidupan baru dan kekal, ditafsirkan juga sebagai kematian yang pasti dan definitif.

 

Kontras ini mengajak kita untuk merefleksikan nilai kesaksian kristiani dan keutuhan komunikasi manusia. Seringkali, pewartaan kebenaran dikaburkan oleh apa yang kita sebut "berita palsu" saat ini — kebohongan, sindiran, dan tuduhan yang tidak berdasar. Namun, di hadapan rintangan seperti itu, kebenaran tidak tetap tersembunyi; sebaliknya, kebenaran muncul untuk menemui kita, hidup dan bersinar, menerangi bahkan kegelapan yang paling pekat. Sama seperti Ia berbicara kepada para perempuan di kubur, Yesus berbicara kepada kita hari ini: "Jangan takut. Pergi dan katakanlah" (ayat 10). Dengan cara ini, Ia menjadi Kabar Baik yang harus dipersaksikan di dunia. Paskah Tuhan adalah Paskah kita — Paskah seluruh umat manusia — karena manusia yang mati untuk kita ini adalah Anak Allah, yang memberikan hidup-Nya untuk kita. Sama seperti Yesus yang bangkit, yang selalu hidup dan hadir, membebaskan masa lalu dari akhir yang menghancurkan, demikian pula pemberitaan Paskah menebus masa depan kita dari kubur.

 

Saudara-saudari terkasih, alangkah pentingnya Injil ini menjangkau, terutama, mereka yang tertindas oleh kejahatan yang merusak sejarah dan membingungkan hati nurani! Saya memikirkan orang-orang yang menderita akibat perang, umat kristiani yang dianiaya karena iman mereka, anak-anak yang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Mewartakan misteri Paskah Kristus baik dengan perkataan maupun perbuatan berarti memberikan suara baru kepada pengharapan — pengharapan yang selama ini tercekik oleh tangan orang-orang yang kejam. Di mana pun diwartakan, Kabar Baik menerangi setiap kegelapan, di setiap zaman.

 

Dengan kasih sayang yang mendalam, dalam terang Tuhan yang telah bangkit, hari ini kita mengenang Paus Fransiskus, yang pada Senin Paskah tahun lalu kembali kepada Tuhan. Seraya kita mengingat kesaksian iman dan kasihnya yang mendalam, marilah kita berdoa bersama kepada Perawan Maria, Takhta Kebijaksanaan, agar kita dapat menjadi pembawa kabar kebenaran yang semakin bersinar.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya menyapa dengan hangat kamu semua, para peziarah terkasih dari Italia dan berbagai negara lainnya. Saya menyapa, khususnya, kaum muda dari Dekanat Appiano Gentile. Pikiran saya tertuju kepada semua orang di berbagai belahan dunia yang ikut serta dalam prakarsa yang diselenggarakan untuk “Hari Olahraga Internasional untuk Pembangunan dan Perdamaian”, dan saya kembali menyerukan agar olahraga, dengan bahasa persaudaraan universalnya, dapat menjadi tempat yang penyertaan dan perdamaian.

 

Saya berterima kasih kepada semua orang yang telah mengirimkan pesan ucapan selamat Paskah selama beberapa hari ini. Saya sangat berterima kasih atas doa-doamu. Melalui perantaraan Bunda Maria, semoga Allah membalas kamu masing-masing dengan anugerah-Nya!

 

Saya berharap kamu menghabiskan Senin Paskah ini dan hari-hari dalam Oktaf Paskah – di mana kita terus merayakan kebangkitan Kristus – dengan sukacita dan iman. Marilah kita terus mendoakan anugerah perdamaian bagi seluruh dunia.

 

Selamat Senin Paskah!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 6 April 2026)

PESAN "URBI ET ORBI" PAUS LEO XIV PADA HARI RAYA PASKAH 5 April 2026

Saudara-saudari, Kristus telah bangkit! Selamat Paskah!

 

Selama berabad-abad, Gereja dengan gembira menyanyikan peristiwa yang menjadi asal dan dasar imannya: “Kristus, pengharapanku bangkit / Kita yakin Kristus bangkit dari kematian / Kau Raja pemenang, kasihanilah” (Sekuensia Paskah).

 

Paskah adalah kemenangan kehidupan atas kematian, terang atas kegelapan, kasih atas kebencian. Kemenangan yang datang dengan harga yang sangat mahal: Kristus, Putra Allah yang hidup (bdk. Mat 16:16), harus mati — dan mati di kayu salib — setelah menderita hukuman yang tidak adil, dihina dan disiksa, dan menumpahkan seluruh darah-Nya. Sebagai Anak Domba yang dikurbankan, Ia menghapus dosa dunia (bdk. Yoh. 1:29; 1 Ptr. 1:18-19) dan dengan demikian membebaskan kita semua — dan bersama kita, seluruh ciptaan — dari kekuasaan kejahatan.

 

Namun, bagaimana Yesus mampu meraih kemenangan? Kekuatan apakah yang dengannya Ia mengalahkan musuh lama, penguasa dunia ini (bdk. Yoh 12:31) untuk selamanya? Kekuatan apakah yang dengannya Ia bangkit dari kematian, tidak kembali ke kehidupan lama-Nya, tetapi memasuki kehidupan kekal dan dengan demikian membuka jalan dari dunia ini kepada Bapa melalui tubuh-Nya?

 

Kekuatan ini, kuasa ini, adalah Allah sendiri karena Ia adalah Kasih yang menciptakan dan menghasilkan, Kasih yang setia sampai akhir dan Kasih yang mengampuni dan menebus.

 

Kristus, “Raja kita yang jaya,” berjuang dan memenangkan pertempuran melalui penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Bapa, kepada rencana keselamatan-Nya (bdk. Mat 26:42). Demikianlah Ia menempuh jalan dialog hingga akhir, bukan dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan: untuk menemukan kita yang tersesat, Ia menjadi manusia; untuk membebaskan kita yang menjadi hamba, Ia menjadi hamba; untuk memberi hidup kepada kita manusia fana, Ia membiarkan diri-Nya dibunuh di kayu salib.

 

Kuasa yang membangkitkan Kristus sepenuhnya tanpa kekerasan. Kuasa tersebut seperti biji gandum yang, setelah membusuk di tanah, tumbuh, menembus gumpalan tanah, bertunas, dan menjadi bulir gandum emas. Kuasa tersebut bahkan lebih seperti hati manusia yang, terluka oleh suatu pelanggaran, menolak naluri untuk membalas dendam dan, dipenuhi dengan belas kasihan, berdoa untuk orang yang telah melakukan pelanggaran tersebut.

 

Saudara-saudari, inilah kekuatan sejati yang membawa perdamaian bagi umat manusia, karena kekuatan ini menumbuhkan hubungan yang saling menghormati di setiap tingkatan: antarindividu, keluarga, kelompok sosial, dan bangsa. Kekuatan ini tidak mencari kepentingan pribadi, tetapi kebaikan bersama; kekuatan ini tidak berusaha memaksakan rencananya sendiri, tetapi membantu merancang dan melaksanakan rencana bersama dengan orang lain.

 

Ya, kebangkitan Kristus adalah awal dari kemanusiaan baru; kebangkitan Kristus adalah pintu masuk ke tanah perjanjian yang sejati, di mana keadilan, kebebasan, dan perdamaian berkuasa, di mana semua orang saling mengenali sebagai saudara dan saudari, anak-anak dari Bapa yang sama yang adalah Kasih, Kehidupan, dan Terang.

 

Saudara-saudari, melalui kebangkitan-Nya, dengan lebih kuat lagi Tuhan menghadapkan kita pada kenyataan dramatis kebebasan kita. Di hadapan kubur yang kosong, kita dapat dipenuhi dengan pengharapan dan kekaguman, seperti para murid, atau dengan ketakutan seperti para penjaga dan orang-orang Farisi, yang terpaksa melakukan kebohongan dan tipu daya daripada mengakui bahwa Ia yang telah dihukum benar-benar telah bangkit (bdk. Mat 28:11-15)!

 

Dalam terang Paskah, marilah kita membiarkan diri kita dikagumi oleh Kristus! Marilah kita membiarkan hati kita diubah rupa oleh kasih-Nya yang besar kepada kita! Biarlah mereka yang memiliki senjata meletakkannya! Biarlah mereka yang memiliki kuasa untuk melancarkan perang memilih perdamaian! Bukan perdamaian yang dipaksakan dengan kekerasan, tetapi melalui dialog! Bukan dengan keinginan untuk mendominasi orang lain, tetapi untuk bertemu dengan mereka!

 

Kita semakin terbiasa dengan kekerasan, pasrah menerimanya, dan menjadi acuh tak acuh. Acuh tak acuh terhadap kematian ribuan orang. Acuh tak acuh terhadap dampak kebencian dan perpecahan yang ditimbulkan oleh konflik. Acuh tak acuh terhadap konsekuensi ekonomi dan sosial yang ditimbulkannya, yang kita semua rasakan. Ada peningkatan "globalisasi ketidakpedulian," meminjam ungkapan yang disukai Paus Fransiskus, yang setahun lalu dari balkon ini menyampaikan kata-kata terakhirnya kepada dunia, mengingatkan kita: "Betapa besar dahaga akan kematian, pembunuhan, yang kita saksikan setiap hari dalam banyak konflik yang berkecamuk di berbagai belahan dunia!" (Pesan Urbi et Orbi, 20 April 2025).

 

Salib Kristus selalu mengingatkan kita akan penderitaan dan kesakitan yang mengelilingi kematian dan penderitaan mendalam yang ditimbulkannya. Kita semua takut akan kematian, dan karena takut kita berpaling, lebih memilih untuk tidak melihat. Kita tidak bisa terus acuh tak acuh! Dan kita tidak bisa pasrah terhadap kejahatan! Santo Agustinus mengajarkan, "Jika kamu takut mati, cintailah kebangkitan!" (Khotbah 124, 4). Marilah kita juga mengasihi kebangkitan, yang mengingatkan kita bahwa kejahatan bukanlah kata terakhir, karena telah dikalahkan oleh Yesus yang bangkit.

 

Ia melewati kematian untuk memberi kita kehidupan dan damai sejahtera: “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan Aku memberi kepadamu tidak seperti dunia memberi” (Yoh 14:27). Damai sejahtera yang diberikan Yesus kepada kita bukanlah sekadar keheningan senjata, tetapi damai sejahtera yang menyentuh dan mengubah hati kita masing-masing! Marilah kita membiarkan diri kita diubah oleh damai sejahtera Kristus! Marilah kita menyuarakan seruan damai sejahtera yang muncul dari hati kita! Karena alasan ini, saya mengundang semua orang untuk bergabung dengan saya dalam doa bersama untuk perdamaian yang akan kita rayakan di Basilika Santo Petrus pada hari Sabtu, 11 April mendatang.

 

Pada hari perayaan ini, marilah kita meninggalkan setiap keinginan akan konflik, dominasi, dan kekuasaan, dan memohon kepada Tuhan untuk menganugerahkan damai sejahtera-Nya kepada dunia yang dilanda perang dan ditandai oleh kebencian dan ketidakpedulian yang membuat kita merasa tidak berdaya dalam menghadapi kejahatan. Kepada Tuhan kita mempercayakan semua hati yang menderita dan menantikan damai sejahtera sejati yang hanya dapat diberikan oleh-Nya. Marilah kita mempercayakan diri dan membuka hati kita kepada-Nya! Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru (bdk. Why. 21:5).

 

Selamat Paskah!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 5 April 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 1 April 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 6. BATU YANG HIDUP DI DALAM GEREJA DAN SAKSI-SAKSI DI DUNIA: KAUM AWAM DI DALAM UMAT ALLAH

Saudara-saudari, selamat pagi!

 

Marilah kita melanjutkan perjalanan refleksi kita tentang Gereja sebagaimana disajikan kepada kita dalam Konstitusi Konsili Lumen gentium (LG). Hari ini kita akan meninjau bab empat, yang membahas tentang kaum awam. Marilah kita semua mengingat apa yang kerap diulangi Paus Fransiskus: “Kaum awam benar-benar adalah bagian terbesar dari umat Allah. Kaum minoritas – para pelayan tertahbis – siap melayani mereka” (Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 102).

 

Bagian Dokumen ini berupaya menjelaskan, secara positif, sifat dan misi kaum awam, setelah berabad-abad mereka hanya didefinisikan sebagai orang yang bukan bagian dari klerus atau hidup bakti. Oleh karena itu, bersamamu saya ingin membahas kembali sebuah perikop yang sangat indah yang berbicara tentang keagungan kedudukan umat Kristiani: “Jadi satulah Umat Allah yang terpilih: satu Tuhan, satu iman, satu baptisan' (Ef 4:5). Samalah martabat para anggota karena kelahiran mereka kembali dalam Kristus; sama rahmat para putra; sama pula panggilan kepada kesempurnaan; satu keselamatan, satu harapan dan tak terbagilah cinta kasih” (LG, 32).

 

Sebelum membedakan pelayanan atau status hidup, Konsili menegaskan kesetaraan semua orang yang dibaptis. Konstitusi tidak ingin kita melupakan apa yang telah ditegaskan dalam bab tentang Umat Allah, yaitu kedudukan umat mesianik ialah martabat dan kebebasan anak-anak Allah (bdk. LG, 9).

 

Tentu saja, semakin besar karunia, semakin besar pula komitmennya. Karena alasan ini, Konsili, bersama dengan martabat, juga menekankan misi kaum awam di dalam Gereja dan di dunia. Tetapi atas dasar apa misi ini didasarkan, dan terdiri dari apa? Deskripsi kaum awam yang diberikan oleh Konsili memberitahu kita: “Yang dimaksud dengan istilah awam di sini ialah semua orang beriman kristiani kecuali mereka yang termasuk golongan imam atau status religius yang diakui dalam Gereja. Jadi kaum beriman kristiani, yang berkat baptisan telah menjadi anggota Tubuh Kristus, terhimpun menjadi Umat Allah, dengan cara mereka sendiri ikut mengemban tugas imamat, kenabian dan rajawi Kristus, dan dengan demikian sesuai dengan kemampuan mereka melaksanakan perutusan segenap umat kristiani dalam Gereja dan di dunia” (LG, 31).

 

Oleh karena itu, Umat Allah yang kudus bukanlah sekadar massa yang tak berbentuk, melainkan tubuh Kristus atau, sebagaimana dikatakan Santo Agustinus, Christus totus; ia adalah komunitas yang terstruktur secara organik melalui hubungan yang berbuah antara dua bentuk partisipasi dalam imamat Kristus: imamat umum umat beriman dan imamat jabatan atau hirarkis (bdk. LG, 10). Berdasarkan baptisan, kaum awam turut serta dalam imamat Kristus. Sesungguhnya, “Imam Tertinggi dan Abadi Kristus Yesus bermaksud melangsungkan kesaksian dan palayanan-Nya melalui kaum awam juga. Maka oleh Roh-Nya Ia tiada hentinya menghidupkan dan mendorong mereka untuk menjalankan segala karya yang baik dan sempurna” (LG, 34).

 

Dalam hal ini, bagaimana mungkin kita melupakan Santo Yohanes Paulus II dan Seruan Apostolik Christifideles Laici (30 Desember 1988)? Di dalamnya, beliau menekankan bahwa “Konsili, dengan kekayaan warisan doktrinal, spiritual, dan pastoralnya, telah menulis lebih dari sebelumnya tentang kodrat, martabat, spiritualitas, misi, dan tanggung jawab kaum awam. Dan para Bapa Konsili, menggemakan kembali seruan Kristus, telah memanggil semua kaum awam, baik perempuan maupun laki-laki, untuk bekerja di kebun anggur” (no. 2). Dengan cara ini, pendahulu saya yang terhormat meluncurkan kembali kerasulan kaum awam, yang kepadanya Konsili mendedikasikan sebuah dokumen khusus, yang akan kita bahas nanti.[1]

 

Bidang kerasulan awam tidak terbatas pada Gereja, tetapi meluas ke seluruh dunia. Sesungguhnya, Gereja hadir di mana pun anak-anaknya mengaku dan memberi kesaksian tentang Injil: di tempat kerja, dalam masyarakat sipil, dan dalam semua hubungan antarmanusia, di mana pun mereka, melalui pilihan mereka, menunjukkan keindahan kehidupan kristiani, yang menubuatkan di sini dan sekarang keadilan dan perdamaian yang akan terwujud dalam Kerajaan Allah. Dunia perlu “dipenuhi oleh roh Kristus, dan lebih efektif memenuhi tujuannya dalam keadilan, cinta kasih, dan damai” (LG, 36). Dan ini hanya mungkin melalui kontribusi, pelayanan, dan kesaksian kaum awam!

 

Sebuah undangan untuk menjadi Gereja yang “keluar” yang dibicarakan Paus Fransiskus kepada kita: Gereja yang terwujud dalam sejarah, selalu terbuka untuk misi, di mana kita semua dipanggil untuk menjadi murid misioner, rasul Injil, saksi Kerajaan Allah, pembawa sukacita Kristus yang telah kita jumpai!

 

Saudara-saudari, semoga Paskah yang akan kita rayakan ini memperbarui rahmat dalam diri kita untuk menjadi, seperti Maria Magdalena, seperti Petrus dan Yohanes, saksi-saksi Yesus yang bangkit!


_____________________

Catatan Kaki

[1] Bdk. Konsili Ekumenis Vatikan II, Dekrit Apostolicam Actuositatem (18 November 1965).

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, terutama mereka yang datang dari Nigeria, Filipina, dan Amerika Serikat. Secara khusus saya menyapa para mahasiswa yang berpartisipasi dalam Konferensi Universitas Internasional UNIV 2026. Semoga Pekan Suci ini menuntun kita untuk merayakan kebangkitan Tuhan Yesus dengan hati yang dimurnikan dan diperbarui oleh rahmat Roh Kudus. Atas kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dalam lanjutan katekese kita mengenai Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium, hari ini kita akan membahas kaum awam. Ketimbang membatasi diri pada definisi kaum awam berdasarkan apa yang sesungguhnya, Konsili Vatikan II berupaya untuk menjelaskan martabat asali mereka sebagai anggota Umat Allah dan menggarisbawahi kekhasan peran mereka dalam misi Gereja. Setelah dipersatukan dalam Kristus melalui baptisan, kaum awam dijadikan peserta dengan cara mereka sendiri dalam tugas imamat, kenabian, dan kerajaan-Nya. Gereja hadir di mana pun anak-anaknya mengakui Injil dan memberi kesaksian tentang Kristus. Karena alasan ini, kaum awam, baik laki-laki maupun perempua, secara khusus dipanggil untuk membawa kehadiran Kristus ke semua bidang kehidupan dan dengan demikian mengubahnya dari dalam dengan memberi kesaksian tentang keindahan hidup dalam Kristus dan kuasa rahmat-Nya yang meninggikan.
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 1 April 2026)