Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 31 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Masa Paskah berakhir pekan lalu dengan Hari Raya Pentakosta. Hari ini, kita merayakan misteri Allah Tritunggal, yang memberi kita kesempatan untuk merefleksikan perjalanan yang telah kita lalui. Kita mulai dengan kehidupan Allah yang diberikan kepada kita dalam Kristus Yesus. Kehidupan ini adalah persekutuan iman yang dinamis, tak habis-habisnya, dan menarik kita masuk. Sesungguhnya, Roh Kudus yang mempersatukan Bapa dan Putra telah dicurahkan ke dalam hati kita. Dengan cara ini, Gereja menjadi sakramen persekutuan, tempat perjumpaan, kasih, dan kehidupan di mana surga dan bumi telah bersentuhan.

 

Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:16-18) memperkenalkan kita kepada Nikodemus, seorang tokoh penting di Israel yang merasakan ketertarikan yang mendalam kepada Yesus. Memang, karena ingin lebih memahami sang Guru yang misterius ini dan ingin mengajukan pertanyaan kepada-Nya, Nikodemus pergi mencari-Nya di malam hari, agar tidak terlihat. Tuhan menyambutnya dan menanggapi pencariannya akan jawaban dengan serius. Yesus mengejutkan Nikodemus dengan menyatakan bahwa bahkan orang dewasa pun dapat dilahirkan kembali dan membimbingnya untuk menyadari bahwa kehidupan Allah dapat mengubah rupa hidupnya. Ketika Yesus berbicara tentang Roh Kudus, kegelapan batin Nikodemus diterangi dengan kebenaran –– kebenaran yang juga bergema di seluruh Gereja dalam perayaan hari raya kita hari ini: “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Putra-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (ayat 16). Dan juga, “Allah mengutus Putra-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia” (ayat 17).

 

Saudara-saudari terkasih, dalam misteri Allah –– Bapa, Putra, dan Roh Kudus –– kita merasa nyaman, seperti Nikodemus yang merasa tenang ketika berada di hadapan Yesus. Kehidupan Allah sungguh menakjubkan dan memikat; memberi damai bagi hati kita, yang seringkali sangat gelisah, dan memungkinkan kita untuk bertemu dengan saudara-saudari kita dalam sukacita Roh. Tritunggal membantu kita untuk mengasihi setiap orang dan segala sesuatu: kita menemukan bahwa setiap makhluk diciptakan untuk persekutuan, hubungan, dan perjumpaan. Di sisi lain, kita memahami mengapa perpecahan, polarisasi, dan penghinaan terhadap keragaman membawa kehancuran, kesedihan, dan kemandulan bagi dunia.

 

Nikodemus adalah seorang anggota Mahkamah Agama, dewan para imam besar Israel. Ketika ia mendengar kata-kata penghinaan yang ditujukan kepada Yesus di Mahkamah Agama, Nikodemus mendesak semua orang untuk mendengarkan terlebih dahulu sebelum menghukum-Nya. Ia telah menerima Roh persekutuan dari Allah melalui Kristus sendiri, yang membuka hati kepada kebenaran baru dan pembaharuan sejati. Siapa pun yang tidak menerima Roh ini akan cepat menjadi tua, berada dalam kesedihan, merasa sendirian dan tanpa sukacita di dalam hatinya. Sebaliknya, hari ini, saudara-saudari terkasih, adalah hari perayaan. Hari raya Allah juga hari raya kita. Karena alasan ini, Santo Paulus menulis kepada jemaat Korintus, demikian: Bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna, salinglah menghibur, hiduplah dalam damai sejahtera; dan Allah sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu (bdk. 2 Kor 13:11).

 

Dan sekarang, dengan doa Malaikat Tuhan, kita berpaling kepada Perawan Maria: seperti "ya"-nya kepada kehendak Ilahi, semoga "ya" kita kepada kasih Tritunggal Maha Kudus juga berbuah.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Pada bulan Mei ini, paduan suara doa untuk perdamaian telah bergema di seluruh Gereja. Terutama, melalui doa Rosario Suci – seperti rantai yang tak terputus – bangsa-bangsa yang dilanda perang telah dipercayakan kepada perantaraan Perawan Maria. Semoga Kebijaksanaan Ilahi menerangi hati nurani mereka yang berwenang dan membimbing keputusan mereka menuju pencarian yang tulus akan perdamaian yang adil dan abadi.

 

Hari ini, Italia merayakan “Hari Bantuan Nasional” ke-25. Saya menyampaikan kedekatan spiritual saya kepada orang sakit dan mereka yang merawatnya; dan saya berterima kasih serta mendorong semua yang mempromosikan budaya solidaritas dan kepedulian.

 

Dengan hangat saya menyapa kamu semua yang telah berkumpul hari ini di Lapangan Santo Petrus, baik umat Roma maupun para peziarah!

 

Secara khusus, saya menyapa Uskup dan para peziarah dari Keuskupan Kumba, Kamerun; serta paduan suara paroki dari Dunajska Luzna, Slovakia. Saya menyapa warga Polandia yang hadir dan para peserta ziarah besar ke Tempat Suci Piekary, tempat Maria dihormati sebagai Bunda Keadilan Sosial.

 

Saya menyapa Grup Alpine Rivoli, kaum muda dari San Zeno Naviglio, dan para peserta “Relay for Inclusion,” yang spanduknya dibuat oleh siswa sekolah menengah atas Italia.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 31 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 27 MEI 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. III. KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM. 2. PEMBAHARUAN LITURGI: TRADISI DAN PERKEMBANGAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Dalam Ensiklik Mediator Dei, Venerabilis Paus Pius XII menulis bahwa “Gereja tanpa diragukan lagi adalah organisme hidup, dan sebagai organisme, dalam hal liturgi suci juga, ia tumbuh, matang, berkembang, beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan keadaan duniawi, asalkan integritas ajarannya dijaga” (no. 59).

 

Sepenuhnya sesuai dengan prinsip ini, Konsili Vatikan II, dalam Pendahuluan Konstitusi Sacrosanctum Concilium (SC), mengakui “kewajibannya untuk secara istimewa mengusahakan juga pembaharuan dan pengembangan Liturgi” (no. 1). Peserta Konsili, pada kenyataannya, berkumpul dengan maksud untuk “makin meningkatkan kehidupan kristiani di antara umat beriman; menyesuaikan lebih baik lagi lembaga-lembaga yang dapat berubah dengan kebutuhan zaman kita; memajukan apa saja yang dapat membantu persatuan semua orang yang beriman akan Kristus; dan meneguhkan apa saja yang bermanfaat untuk mengundang semua orang ke dalam pangkuan Gereja” (idem).

 

Dalam sejarah pada saat itu, ada kesadaran yang kuat akan kebutuhan akan pembaharuan bentuk-bentuk ritual yang selama berabad-abad telah digunakan Gereja untuk memuliakan Allah dan menguduskan umat Kristiani. Berkat Gerakan Liturgi, keyakinan telah matang — yang kemudian diungkapkan oleh Santo Yohanes Paulus II — bahwa “terdapat ikatan yang sangat erat dan organik antara pembaharuan liturgi dan pembaharuan seluruh kehidupan Gereja. Gereja tidak hanya bertindak tetapi juga mengungkapkan dirinya dalam liturgi, hidup oleh liturgi dan mengambil kekuatan untuk hidupnya dari liturgi” (Surat Dominicae Cenae, 13).

 

Untuk mendorong akses umat beriman kepada kekayaan karunia rahmat yang diberikan oleh liturgi suci, Konstitusi Sacrosanctum Concilium kemudian menunjukkan, dengan ungkapan yang sangat efektif, arah yang harus diambil: “Supaya tradisi yang sehat dipertahankan, namun dibuka jalan juga bagi perkembangan yang wajar” (SC, 23).

 

Paus Benediktus XVI memahami dalam pernyataan ini maksud “program pembaharuan” para Bapa Konsili, “keseimbangan antara tradisi liturgi besar masa lalu dan masa depan”, mencatat bahwa “tradisi dan kemajuan sering kali dipertentangkan secara canggung”, padahal “sebenarnya, kedua konsep tersebut menyatu: tradisi adalah kenyataan yang hidup, yang karenanya mencakup prinsip perkembangan, kemajuan. Seolah-olah mengatakan bahwa sungai tradisi juga membawa sumbernya sendiri dan mengalir menuju muaranya” (Wejangan kepada peserta Kongres yang dalam rangka 50 tahun berdirinya Pontifical Athenaeum Santo Anselmus, 6 Mei 2011).

 

Konsili menegaskan legitimasi kemajuan ini, yang berakar pada Tradisi otentik, membedakan dalam liturgi “unsur yang tidak dapat diubah karena ditetapkan oleh Allah, maupun unsur-unsur yang dapat berubah, yang di sepanjang masa dapat atau bahkan harus mengalami perubahan, sekiranya mungkin telah disusupi hal-hal yang kurang serasi dengan inti hakikat Liturgi sendiri, atau sudah menjadi kurang cocok” (SC, 21). Perubahan jenis ini telah terjadi secara terus-menerus selama berabad-abad untuk memungkinkan umat beriman berpartisipasi secara berbuah, melalui tindakan ritual, dalam misteri Paskah Kristus, dasar iman Kristiani. Ibadah Gereja dengan demikian telah “diwujudkan” dalam bentuk-bentuk budaya setiap zaman dan telah mampu mempengaruhinya dan bahkan mengubahnya. Dengan demikian, liturgi telah menjadi, selama berabad-abad, kekuatan pendorong bagi evangelisasi. Saat ini, energi ini harus diperbarui secara berkelanjutan dengan tradisi Katolik yang otentik dan hidup, yaitu, sesuai dengan dinamika yang bertujuan untuk memperkenalkan umat beriman kepada kepenuhan kebenaran.

 

Oleh karena itu, dapat dipahami mengapa para Bapa Konsili merekomendasikan revisi ritus, “kecuali bila sungguh-sungguh dan pasti dituntut oleh kepentingan Gereja", hendaknya diusahakan dengan cermat, agar "bentuk-bentuk baru itu bertumbuh secara kurang lebih organis dari bentuk-bentuk yang sudah ada” (SC, 23). Demi kebaikan seluruh Gereja, setiap pembaharuan hendaknya selalu didahului oleh penyelidikan “teologis, historis, dan pastoral" yang cermat (idem). Dengan cara ini, Magisterium Konsili menyerukan untuk menghindari kebingungan di antara umat beriman, dan melarang siapa pun untuk menambahkan, meniadakan atau mengubah sesuatu dalam Liturgi atas prakarsa sendiri (bdk. SC, 22). Kemajuan yang diungkapkan dalam Konstitusi Konsili sama sekali tidak melakukan kompromi terhadap persekutuan gerejawi: sebaliknya, ia berupaya untuk menegaskan dan membinanya.

 

Oleh karena itu, saya mendesak semua orang yang dipanggil untuk mempersiapkan perayaan misteri ilahi, khususnya para imam yang menjalankan pelayanan kepresidenan liturgi, untuk selalu menjunjung tinggi rasa hormat terhadap teks dan peraturan liturgi yang berasal dari sikap batin yang terbuka dan percaya kepada Allah, yang menunjukkan kerendahan hati di hadapan kebesaran-Nya dan kesetiaan yang tulus kepada persekutuan gerejawi.

 

[Imbauan]

 

Dengan penuh keprihatinan saya mengikuti perang di Ukraina, yang telah meningkat secara signifikan dalam beberapa hari terakhir. Saya ingin menyampaikan solidaritas saya kepada semua orang yang menderita akibat serangan baru-baru ini, yang juga menargetkan warga sipil.

 

Perang tidak menyelesaikan masalah; justru memperburuknya. Perang tidak membangun keamanan; melainkan melipatgandakan penderitaan dan kebencian. Di mana rudal dan drone jatuh, harapan remuk redam, rumah dan tempat ibadah hancur, dan nyawa orang tak bersalah direnggut.

 

Saya mempercayakan semua orang yang dilanda perang kepada perlindungan Bunda Maria, Ratu Perdamaian.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang turut serta dalam audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Irlandia, Kamerun, Kenya, Nigeria, India, Pakistan, Filipina, Korea Selatan, Kanada, dan Amerika Serikat. Semoga damai sejahtera Allah menjaga pikiran dan hatimu agar kamu dapat mengenal kasih Yesus Kristus dan dengan sukacita membagikannya kepada orang lain. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam refleksi hari ini tentang Sacrosanctum Concilium, kita membahas liturgi melalui lensa tradisi dan perkembangan. Paus Pius XII menyebut Gereja sebagai “organisme hidup” yang perlu tumbuh, matang, dan beradaptasi dengan keadaan. Memang, dengan keinginan agar kehidupan Kristiani berkembang dan tumbuh, Konsili Vatikan II mengakui bahwa sudah waktunya untuk menyesuaikan beberapa unsur yang dapat diadaptasi dalam liturgi demi kesehatan dan vitalitas Gereja, untuk memperkuat dan meremajakan umat Kristiani, dan membina persatuan dan melakukan evangelisasi terhadap semua orang. Konsili menegaskan bahwa perkembangan yang wajar dalam liturgi juga harus mempertahankan tradisi yang sehat, dan unsur-unsur tertentu dalam liturgi tidak boleh berubah karena telah ditetapkan secara ilahi. Secara khusus, saya mendorong semua imam untuk menghormati teks dan norma liturgi dengan keterbukaan, kerendahan hati, kepercayaan akan kebesaran Allah, dan dengan kesetiaan yang tulus kepada persekutuan gerejawi.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 27 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 24 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Pada Hari Raya Pentakosta ini, kita dipanggil untuk merenungkan karunia Roh Kudus, yang dicurahkan dengan melimpah kepada Gereja yang baru lahir dan, hari ini, diberikan kembali kepada para anggotanya sebagai terang dan kekuatan yang menyertai mereka dalam setiap situasi kehidupan.

 

Kita dapat merenungkan gambaran Roh Kudus yang diberikan kepada kita melalui liturgi hari ini: Roh Kudus membuka pintu. Bacaan Injil memberitahu kita bahwa "murid-murid berada di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci karena mereka takut kepada para pemuka Yahudi" (Yoh 20:19), dan pada saat yang sama, Kitab Kisah Para Rasul memberitahu kita bahwa Roh Kudus datang seperti tiupan angin keras (bdk. Kis 2:2), membuka pintu-pintu itu dan mendorong murid-murid untuk keluar dan memberitakan Kabar Baik tentang Kristus yang telah bangkit.

 

Kita juga dapat bertanya pada diri kita sendiri hari ini: pintu apa yang dibuka oleh Roh Kudus?

 

Pintu pertama adalah pintu Allah sendiri, dalam arti bahwa Ia membuka bagi kita misteri Allah, sebagaimana Ia menyatakan diri-Nya dalam Yesus Kristus. Dengan karunia Roh-Nya, Allah memberi kita iman sejati, memungkinkan kita untuk memahami makna Kitab Suci, menyatakan diri-Nya dekat dengan kita, dan memungkinkan kita untuk berpartisipasi dalam kehidupan-Nya. Roh Kudus membantu kita untuk memiliki pengalaman pribadi tentang Allah, untuk bertemu dengan-Nya dalam Yesus dan bukan hanya dalam ketaatan terhadap hukum, mengenali-Nya dalam diri kita, dan menemukan tanda-tanda kehadiran-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

 

Pintu kedua adalah pintu Ruang Atas, yaitu pintu Gereja. Tanpa api Roh Kudus, Gereja tetap menjadi tawanan ketakutan, penakut dalam menghadapi tantangan dunia, tertutup pada dirinya sendiri dan karena itu tidak mampu berdialog dengan perubahan zaman. Roh Kudus membuka pintu Gereja sehingga Gereja dapat menerima dan ramah kepada semua orang, bahkan kepada mereka yang telah menutup pintu mereka kepada Allah, sesama, pengharapan, dan sukacita kehidupan. Paus Fransiskus mengingatkan bahwa kita dipanggil untuk menjadi "Gereja yang memberkati dan mendorong [...] Gereja dengan pintu terbuka bagi semua orang" (Homili pada Misa Pembukaan Sidang Umum Sinode Para Uskup, 4 Oktober 2023).

 

Akhirnya, Roh Kudus membuka pintu hati kita, membantu kita mengatasi penolakan, keegoisan, ketidakpercayaan, dan prasangka, dan memungkinkan kita untuk hidup sebagai anak-anak Allah dan saudara-saudari di antara kita sendiri. Di mana Roh Tuhan hadir, persaudaraan lahir di antara individu, kelompok, dan bangsa-bangsa di bumi, dan semua berbicara dalam satu bahasa kasih, yang mempersatukan dan menyelaraskan keragaman.

 

Saudara-saudari, bahkan di zaman kita ini, khususnya pada Hari Raya Pentakosta ini, kita harus memohon kepada Roh Kudus untuk membuka semua pintu yang masih tertutup. Kita perlu menemukan kembali Allah sebagai Bapa yang mengasihi kita, membangun Gereja di mana setiap orang merasa nyaman, dan memupuk dunia persaudaraan di mana perdamaian berkuasa di antara semua bangsa.

 

Seperti para murid pertama, kita percaya pada perantaraan Perawan Maria, tempat kediaman Roh Kudus dan Bunda Gereja.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini adalah Hari Doa untuk Gereja di Cina, peringatan liturgi Santa Perawan Maria, Penolong Umat Kristiani, yang dihormati dengan penuh devosi di Tempat Suci Sheshan di Shanghai. Marilah kita menggabungkan doa kita dengan doa umat Katolik Cina, sebagai tanda kasih sayang kita kepada mereka dan persekutuan mereka dengan Gereja universal dan dengan penerus Santo Petrus. Semoga perantaraan Ratu Surga memperolehkan bagi umat beriman di Cina rahmat persatuan dan memberikan kekuatan kepada setiap orang untuk memberi kesaksian tentang Injil dalam perjuangan sehari-hari mereka, menjadi benih pengharapan dan perdamaian. Secara khusus, saya memohon kedamaian abadi bagi para korban kecelakaan yang terjadi beberapa hari yang lalu di sebuah tambang di Cina utara.

 

Kepada Santa Maria, Penolong Umat Kristiani, kita juga mempercayakan komunitas Kristiani di Tanah Suci, Lebanon, dan seluruh Timur Tengah, yang menderita karena perang.

 

Dan sekarang saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara!

 

Secara khusus, saya menyapa kelompok penyandang disabilitas dari Polandia, serta para peziarah yang datang dengan sepeda dari Kelmis, Belgia. Selamat!

 

Saya mengucapkan selamat Hari Raya Pentakosta kepada semuanya.

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 24 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 20 MEI 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. III. KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM. 1. LITURGI DALAM MISTERI GEREJA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!


Hari ini kita memulai rangkaian katekese baru tentang dokumen pertama yang dikeluarkan oleh Konsili Vatikan II: Konstitusi tentang liturgi suci, Sacrosanctum Concilium (SC).

 

Dalam menyusun konstitusi ini, para Bapa Konsili tidak hanya berupaya melakukan reformasi upacara, tetapi juga menuntun Gereja untuk merenungkan dan memperdalam ikatan hidup yang membentuk dan mempersatukannya: misteri Kristus. Sesungguhnya, liturgi menyentuh inti misteri ini: liturgi sekaligus merupakan ruang, waktu, dan konteks di mana Gereja menerima kehidupannya dari Kristus. Karena dalam liturgi, “terlaksanalah karya penebusan kita” (SC, 2), yang menjadikan kita bangsa terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri (bdk. 1 Ptr. 2:9).

 

Sebagaimana termanifestasi dalam tiga pembaharuan – biblis, patristik, dan liturgis – yang dialami Gereja sepanjang abad kedua puluh, misteri yang dimaksud bukanlah kenyataan yang samar, melainkan rencana keselamatan Allah, yang tersembunyi sejak kekekalan dan dinyatakan dalam Kristus, menurut penegasan Santo Paulus (bdk. Ef 3:2-6). Maka, inilah misteri kristiani: peristiwa Paskah, yaitu penderitaan, kematian, kebangkitan, dan pemuliaan Kristus, yang secara sakramental dihadirkan kepada kita justru dalam liturgi, sehingga setiap kali kita ambil bagian dalam jemaat yang berkumpul “dalam nama-Nya” (bdk. Mat 18:20) kita terbenam dalam misteri ini.

 

Kristus sendiri adalah sumber batiniah misteri Gereja, umat Allah yang kudus, yang lahir dari lambung-Nya yang tertikam di kayu salib. Dalam liturgi suci, melalui kuasa Roh-Nya, Ia terus bertindak. Ia menguduskan dan mempersatukan Gereja, mempelai-Nya, dengan persembahan-Nya kepada Bapa. Ia menjalankan imamat-Nya yang benar-benar unik, Ia hadir dalam Sabda yang diwartakan, dalam sakramen-sakramen, dalam para pelayan yang merayakan, dalam komunitas yang berkumpul dan, pada tingkat tertinggi, dalam Ekaristi (bdk. SC, 7). Demikianlah, menurut Santo Agustinus (bdk. Khotbah, 277), dalam merayakan Ekaristi Gereja “menerima tubuh Tuhan dan menjadi apa yang diterimanya”: ia menjadi Tubuh Kristus, “tempat kediaman Allah dalam Roh” (Ef 2:22). Inilah “karya penebusan kita”, yang membentuk kita sesuai dengan Kristus dan membangun kita dalam persekutuan.

 

Dalam liturgi suci, persekutuan ini dicapai melalui “upacara dan doa-doa” (SC, 48). Upacara Gereja mengungkapkan imannya – sesuai dengan pepatah yang sudah dikenal lex orandi, lex credendi – dan sekaligus membentuk jatidiri gerejawi: Sabda yang diwartakan, perayaan sakramen, gerak tubuh, keheningan, ruang – semua ini mewakili dan memberi bentuk kepada umat yang dikumpulkan oleh Bapa, tubuh Kristus, bait Roh Kudus. Setiap perayaan dengan demikian menjadi epifani sejati Gereja dalam doa, Santo Yohanes Paulus II mengingatkan (Surat Apostolik Vicesimus Quintus Annus, 9).

 

Jika liturgi melayani misteri Kristus, kita memahami mengapa liturgi didefinisikan sebagai “puncak yang dituju kegiatan Gereja ... bagaikan dari sumber, mengalirlah rahmat kepada kita” (SC, 10). Memang benar bahwa tindakan Gereja tidak terbatas pada liturgi saja; namun, semua aktivitasnya (khotbah, pelayanan kepada kaum miskin, pendampingan kenyataan manusiawi) bertemu menuju “puncak” ini. Sebaliknya, liturgi menopang umat beriman dengan membenamkan mereka selalu dan kembali dalam Paskah Tuhan dan, dengan demikian, melalui pewartaan Sabda, perayaan sakramen dan doa bersama, mereka disegarkan, didorong, dan diperbarui dalam komitmen mereka terhadap iman dan perutusan mereka. Dengan kata lain, partisipasi umat beriman dalam tindakan liturgi bersifat “internal” sekaligus “eksternal”.

 

Hal ini juga berarti panggilan untuk mewujudnyatakannya dalam kehidupan sehari-hari, dalam dinamika etis dan spiritual, sehingga liturgi yang dirayakan diterjemahkan ke dalam kehidupan dan menuntut keberadaan yang setia, yang mampu mewujudkan apa yang telah dialami dalam perayaan tersebut: dengan cara inilah hidup kita menjadi "persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah", yang menggenapi "ibadah rohani" kita (Rm. 12:1).

 

Dengan cara ini, “liturgi setiap hari membangun mereka yang berada di dalam Gereja menjadi kenisah suci dalam Tuhan” (SC, 2), dan membentuk komunitas terbuka, yang menyambut semua orang. Sesungguhnya, liturgi didiami oleh Roh Kudus, memperkenalkan kita kepada kehidupan Kristus, menjadikan kita tubuh-Nya dan, dalam segala dimensinya, merupakan tanda persatuan seluruh umat manusia di dalam Kristus. Paus Fransiskus mengatakan, “Dunia masih belum mengetahuinya, tetapi setiap orang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba (Why. 19:9)” (Surat Apostolik Desiderio Desideravi, 5).

 

Saudara-saudari terkasih, marilah kita memperkenankan diri kita dibentuk secara batiniah oleh upacara, simbol, gerak tubuh, dan terutama kehadiran Kristus yang hidup dalam liturgi, yang akan kita dapatkan kesempatan untuk menjelajahinya dalam katekese-katekese mendatang.

 

[Sapaan Khusus]

 

Pagi ini saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok-kelompok dari Inggris, Irlandia, Tanzania, India, Jepang, Malaysia, Filipina, Vietnam, Kanada, dan Amerika Serikat, serta para Pelindung Seni di Museum Vatikan dari Kanada. Atas kamu semua, dan atas keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Yesus yang telah bangkit! Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, seiring kita melanjutkan rangkaian katekese tentang Konsili Vatikan II, hari ini kita akan membahas Konstitusi Dogmatis tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium. Dokumen ini mengajarkan bahwa liturgi membenamkan kita dalam misteri penderitaan, kematian, kebangkitan, dan pemuliaan Kristus. Melalui upacara dan doa-doa liturgi, dan berkat kuasa Roh Kudus, Yesus menjalankan imamat-Nya dan menguduskan Gereja, mempelai-Nya, menyatukannya dengan persembahan-Nya sendiri kepada Bapa. Sesungguhnya, Kristus hadir dalam sabda yang diwartakan, dalam sakramen-sakramen, dalam para pelayan, dalam komunitas, dan terutama dalam Ekaristi. Marilah kita memperkenankan diri kita dibentuk dari dalam oleh upacara, simbol, gerak tubuh, dan terutama oleh kehadiran Kristus yang hidup dalam liturgi, yang akan kita telaah lebih lanjut.

 

[Sapaan Pembuka dari Bapa Suci kepada Yang Mulia Aram I, Katolikos Kilikia]

 

Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Damai sejahtera bagimu.

 

Saudara-saudari, saya sangat senang menyapa Yang Mulia Aram I, Katolikos Kilikia dari Gereja Apostolik Armenia, beserta delegasi terhormat yang menyertainya. Kunjungan persaudaraan ini merupakan kesempatan penting untuk memperkuat ikatan persatuan yang telah ada di antara kita, saat kita bergerak menuju persekutuan penuh di antara Gereja-gereja kita.

 

Yang Mulia, pada hari-hari ini ketika kita mempersiapkan diri untuk Pentakosta, saya memohonkan rahmat Roh Kudus atas peziarahanmu ke makam Rasul Petrus dan Rasul Paulus, dan saya mengajak semua yang hadir untuk berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan agar kunjungan dan pertemuanmu dapat menjadi langkah selanjutnya di jalan menuju persatuan penuh. Marilah kita juga berdoa untuk perdamaian di Lebanon dan Timur Tengah, yang sekali lagi terkoyak oleh kekerasan dan perang.

 

Yang Mulia, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya yang sebesar-besarnya atas komitmen pribadimu yang terus-menerus terhadap ekumenisme, terutama terhadap dialog teologis internasional antara Gereja Katolik dan Gereja-gereja Ortodoks Timur.

 

Selamat datang, Yang Mulia, para uskup terkasih dan sahabat-sahabat terkasih! Bersama-sama, marilah kita memohon perantaraan Santo Gregorius Sang Penerang, Santo Gregorius dari Nareg, Santo Nerses yang Berbudi Luhur dan, terutama, Bunda Maria, agar mereka menerangi jalan kita menuju kepenuhan persatuan yang kita semua dambakan.
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 20 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 17 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Di banyak negara di seluruh dunia, Hari Raya Kenaikan Tuhan dirayakan hari ini.

 

Gambaran Yesus –– diangkat dari bumi dan naik ke surga, sebagaimana dinyatakan Kitab Suci (bdk. Kis. 1:1-11) –– mungkin membuat kita berpikir tentang misteri ini sebagai peristiwa yang jauh di masa lalu. Namun, tidaklah demikian, karena kita dipersatukan dengan Yesus sebagai anggota satu tubuh yang dipersatukan dengan kepala. Dengan naik ke surga, Ia menarik kita bersama-Nya menuju persekutuan penuh dengan Bapa. Dalam hal ini, Santo Agustinus berkata, “kemajuan kepala adalah pengharapan anggota” (Khotbah 265, 1.2).

 

Sesungguhnya, seluruh kehidupan Kristus adalah gerakan naik. Melalui kemanusiaan-Nya, Ia merangkul dan melibatkan seluruh dunia, mengangkat dan menebus manusia dari kondisi kedosaan mereka. Dengan demikian, Ia membawa terang, pengampunan, dan pengharapan di tempat yang sebelumnya gelap, tidak adil, dan putus asa, agar manusia dapat meraih kemenangan Paskah yang definitif, di mana Putra Allah, dengan kematian-Nya, “telah menghancurkan kematian kita, dan dengan kebangkitan-Nya, membangun kembali kehidupan kita” (Prefasi I Paskah).

 

Oleh karena itu, kenaikan Yesus bukanlah janji yang jauh, melainkan ikatan yang hidup, yang juga menarik kita menuju kemuliaan surgawi, yang telah mengangkat dan memperluas cakrawala kita dalam kehidupan ini dan mengarahkan cara berpikir, merasakan, dan bertindak kita lebih dekat kepada ukuran hati Allah.

Lebih jauh lagi, dalam jalan naik ini, kita mengenali jalannya (bdk. Yoh 14:1-6). Sesungguhnya, kita menemukannya dalam diri Yesus –– dalam anugerah kehidupan, teladan, dan ajaran-Nya. Kita juga melihatnya ditunjukkan kepada kita oleh Bunda Maria dan para kudus: mereka yang ditawarkan Gereja sebagai teladan universal. Paus Fransiskus juga senang berbicara tentang orang kudus "dari pintu sebelah" (bdk. Seruan Apostolik Gaudete et Exsultate, 7), yang hidup bersama kita dalam kehidupan sehari-hari: ayah, ibu, kakek-nenek, orang-orang dari segala usia dan kondisi, yang dengan sukacita dan komitmen, berupaya untuk hidup dengan tulus sesuai dengan Injil.

 

Bersama mereka, dengan dukungan dan berkat doa mereka, kita pun dapat belajar untuk naik hari demi hari menuju surga. Sebagaiaman dikatakan Santo Paulus, kita harus berfokus pada apa pun yang benar, adil, dan patut dipuji (bdk. Flp. 4:8), dan melakukan, dengan pertolongan Allah, semua yang telah kita “dengar dan lihat” (ayat 9). Dengan cara ini, kehidupan ilahi, yang kita terima dalam baptisan dan yang terus-menerus menarik kita ke tempat yang tinggi, menuju Bapa, dapat tumbuh di dalam dan di sekitar kita serta menyebarkan buah persekutuan dan perdamaian yang berharga di dunia.

 

Semoga Maria, Ratu Surga, yang menerangi dan membimbing kita setiap saat, mendukung kita di jalan kita.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Di banyak negara, Hari Komunikasi Sedunia diperingati hari ini, yang bertema “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”, yang saya pilih untuk tahun ini. Di era kecerdasan buatan ini, saya mendorong semua orang untuk berkomitmen mempromosikan bentuk-bentuk komunikasi yang selalu menghormati kebenaran pribadi manusia, yang seharusnya menjadi fokus setiap inovasi teknologi.

 

Mulai hari ini hingga hari Minggu depan, Pekan Laudato Si’ berlangsung, yang didedikasikan untuk kepedulian terhadap ciptaan dan terinspirasi oleh Ensiklik Paus Fransiskus. Pada tahun Yubileum Santo Fransiskus dari Asisi ini, kita mengingat pesannya tentang berdamai dengan Allah, saudara-saudari kita, dan semua makhluk. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, karena perang, kemajuan ke arah ini sangat terhambat. Oleh karena itu, saya mendorong anggota Gerakan Laudato Si’ dan semua yang mempromosikan ekologi terpadu untuk memperbarui komitmen mereka. Sesungguhnya, peduli terhadap perdamaian berarti peduli terhadap kehidupan!

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara. Secara khusus, saya menyapa beberapa marching band dari Jerman, Persaudaraan “Sant’Antonu di u Monti” dari Ajaccio, dan kelompok mahasiswa dari Universitas Montana, Amerika Serikat.

 

Saya menyapa kaum muda dari Oppido Mamertina, para pemimpin kaum muda dari Lorenzaga di Keuskupan Concordia-Pordenone, dan para calon penerima Sakramen Krisma dari Keuskupan Agung Genoa.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 17 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 13 MEI 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 9. PERAWAN MARIA, TELADAN GEREJA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Konsili Vatikan II memilih untuk mendedikasikan bab terakhir Konstitusi Dogmatis tentang Gereja kepada Perawan Maria (bdk. Lumen gentium, 52-69). Ia “menerima salam sebagai anggota Gereja yang serbaunggul dan sangat istimewa, pun juga sebagai pola teladannya yang mengagumkan dalam iman dan cinta kasih.” (LG, 53). Kata-kata ini mengajak kita untuk memahami bagaimana dalam diri Maria, yang di bawah tindakan Roh Kudus menyambut dan melahirkan Putra Allah yang menjadi manusia, kita dapat mengenali baik model maupun anggota dan ibu yang serbaunggul dari seluruh komunitas gerejawi.

 

Dengan memperkenankan diri-Nya dibentuk oleh karya rahmat, yang mencapai penggenapannya dalam diri-nya, dan dengan menerima anugerah dari Yang Mahatinggi dengan iman dan kasih-Nya yang perawan, Maria adalah teladan yang sempurna dari apa yang seharusnya menjadi panggilan seluruh Gereja: ciptaan dari sabda Allah dan ibu dari anak-anak Allah, yang dilahirkan dalam ketaatan kepada karya Roh Kudus. Lebih jauh lagi, karena ia adalah orang percaya yang unggul, di mana kita ditawarkan bentuk sempurna dari keterbukaan tanpa syarat terhadap misteri ilahi dalam persekutuan umat Allah yang kudus, Maria adalah anggota yang sangat baik dari komunitas gerejawi. Akhirnya, karena Ia melahirkan anak-anak dalam Putra, dikasihi dalam Kekasih abadi yang datang di antara kita, Maria adalah ibu dari seluruh Gereja, yang dapat berpaling kepadanya dengan kepercayaan sebagai anak, dengan kepastian didengar, dilindungi, dan dikasihi.

 

Kita dapat mengungkapkan keseluruhan karakteristik Perawan Maria ini dengan menyebutnya seorang perempuan yang merupakan ikon dari misteri tersebut. Kata "perempuan" menyoroti kenyataan historis dari putri Israel yang belia ini, yang kepadanya diberikan kesempatan untuk menjalani pengalaman luar biasa menjadi ibu sang Mesias. Ungkapan "ikon" menekankan bahwa, di dalam dirinya, gerakan ganda turun dan naik terpenuhi: di dalam dirinya, baik pemilihan Allah yang cuma-cuma maupun persetujuan imannya yang bebas kepada-Nya bersinar. Oleh karena itu, Maria adalah perempuan yang merupakan ikon dari misteri tersebut, yaitu, ikon rencana keselamatan ilahi, yang dulunya tersembunyi dan sekarang diungkapkan sepenuhnya dalam Yesus Kristus.

 

Konsili telah mewariskan ajaran yang jelas tentang tempat unik Perawan Maria dalam karya penebusan (bdk. Lumen Gentium, 60-62). Konsili mengingatkan bahwa satu-satunya pengantara keselamatan adalah Yesus Kristus (bdk. 1 Tim 2:5-6), dan bahwa bunda-Nya yang kudus “sama sekali tidak merintangi persatuan langsung kaum beriman dengan Kristus, melainkan justru mendukungnya (bdk. LG, 60). Pada saat yang sama, “Sehubungan dengan penjelmaan Sabda ilahi Santa Perawan sejak kekal telah ditetapkan untuk menjadi Bunda Allah ... ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya juru selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrtai jiwa-jiwa. Oleh karena itu dalam tata rahmat ia menjadi Bunda kita.” (idem, 61).

 

Misteri Gereja juga tercermin dalam Perawan Maria: di dalam dirinya, umat Allah menemukan gambaran asal usul, teladan, dan tanah air mereka. Dalam Bunda Tuhan, Gereja merenungkan misterinya sendiri, bukan hanya karena ia menemukan di dalam dia teladan iman yang perawan, kasih keibuan, dan perjanjian perkawinan yang merupakan panggilannya, tetapi juga dan terutama karena di dalam dirinya ia mengenali pola dasar dirinya sendiri, sosok ideal dari apa yang seharusnya ia wujudkan.

 

Sebagaimana dapat kita lihat, refleksi tentang Bunda Perawan yang dikumpulkan dalam Lumen Gentium mengajarkan kita untuk mencintai Gereja dan melayani di dalamnya penggenapan Kerajaan Allah, yang akan datang dan yang akan sepenuhnya terwujud dalam kemuliaan.

 

Marilah kita memperkenankan diri kita dipertanyakan oleh teladan agung yang diberikan kepada kita oleh Maria, Perawan dan Bunda, dan marilah kita memohon kepadanya untuk membantu kita, melalui perantaraannya, guna menjawab apa yang diminta dari kita melalui teladannya: apakah aku menjalani partisipasiku dalam Gereja dengan iman yang rendah hati dan aktif? Apakah aku mengenali di dalam Gereja persekutuan perjanjian yang telah diberikan Allah kepadaku untuk menanggapi kasih-Nya yang tak terbatas? Apakah aku merasa bahwa aku adalah bagian dari Gereja yang hidup, dalam ketaatan kepada para gembala yang diberikan oleh Allah? Apakah aku memandang Maria sebagai teladan, anggota dan Bunda Gereja yang luar biasa, dan memohon kepadanya untuk membantuku menjadi murid Putranya yang setia?

 

Saudara-saudari, semoga Roh Kudus, yang turun atas Maria dan yang kita mohon dengan rendah hati dan penuh kepercayaan, menganugerahkan kepada kita rahmat untuk menghayati kenyataan-kenyataan yang indah ini sepenuhnya. Dan, setelah merefleksikan secara mendalam Konstitusi Lumen Gentium, marilah kita memohon kepada Perawan Maria untuk memperolehkan anugerah ini bagi kita: agar kasih kepada Gereja Bunda yang kudus tumbuh dalam diri kita semua. Amin!

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Irlandia, Tanzania, India, Indonesia, Kanada, dan Amerika Serikat. Hari ini kita memperingati Bunda Maria dari Fatima. Pada hari ini, empat puluh lima tahun yang lalu, terjadi percobaan pembunuhan terhadap Paus Yohanes Paulus II, dan karena alasan ini, saya mendedikasikan katekese saya hari ini kepada Bunda Maria. Pada saat yang sama, kita akan segera merayakan Kenaikan Tuhan, yang menandai masuknya kemanusiaan-Nya ke surga. Sambil menantikan kedatangan Yesus yang kedua dalam kemuliaan, semoga kita, seperti para Rasul, mempercayakan diri kita kepada Bunda Maria. Atas kamu dan keluargamu, dengan tulus saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Kristus Tuhan. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese kita hari ini kita merenungkan Maria, yang dalam bab terakhir Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium diakui sebagai teladan, anggota yang sempurna, dan sebagai ibu. Taat kepada kehendak Bapa, karya penebusan Putranya, dan dorongan Roh Kudus, Maria adalah teladan dari apa yang seharusnya menjadi panggilan Gereja. "Ya"-nya yang tanpa syarat menunjukkan kepada kita bagaimana menjadi anggota Gereja. Sebagai ibu kita melalui rahmat, dialah yang dapat kita datangi dengan kepercayaan seorang anak, dengan kepastian didengar, dilindungi, dan dikasihi. Secara khusus, Maria bekerja sama dalam karya keselamatan, melalui ketaatan, iman, harapan, dan kasih yang membara, untuk memulihkan melalui Putranya, kehidupan adikodrati jiwa-jiwa. Marilah kita tertantang oleh teladan kerendahan hati, iman yang aktif, dan ketaatan Maria. Marilah kita dengan murah hati menanggapi dalam kasih, memuliakan Allah dalam hati kita, dan menerima kekuatan dari sakramen-sakramen. Marilah kita memohon kepada Maria untuk membantu kita menjadi murid-murid yang setia kepada Putranya.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 13 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA RATU SURGA 10 Mei 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Dalam Bacaan Injil hari ini, kita mendengar beberapa kata yang disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya selama Perjamuan Terakhir. Saat Ia mengubah roti dan anggur menjadi ungkapan nyata kasih-Nya, Kristus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku” (Yoh 14:15). Pernyataan ini membebaskan kita dari kesalahpahaman bahwa kita dikasihi karena kita menuruti perintah-perintah, seolah-olah kebenaran kita adalah prasyarat untuk kasih Allah. Sebaliknya, kasih Allah adalah dasar kebenaran kita. Kita benar-benar menuruti perintah-perintah sesuai kehendak Allah ketika kita mengenali kasih-Nya kepada kita, sebagaimana dinyatakan Kristus kepada dunia. Oleh karena itu, kata-kata Yesus adalah undangan untuk menjalin hubungan, bukan pemerasan atau ultimatum yang menimbulkan prasangka.

 

Inilah sebabnya Tuhan memerintahkan kita untuk saling mengasihi sebagaimana Ia telah mengasihi kita (bdk. Yoh 13:34): kasih Yesuslah yang melahirkan kasih di dalam diri kita. Kristus sendiri adalah standar, ukuran kasih sejati: kasih yang setia selamanya, murni dan tanpa syarat. Kasih yang tidak mengenal "tetapi" atau "mungkin"; kasih yang memberi dari dirinya sendiri tanpa berusaha untuk memiliki; kasih yang memberi hidup tanpa mengambil imbalan apa pun. Karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita, kita pun dapat mengasihi, dan ketika kita benar-benar mengasihi Allah, kita benar-benar mengasihi satu sama lain. Itu seperti hidup itu sendiri: sama seperti orang-orang yang telah menerima hidup yang dapat hidup semata, demikian pula, orang-orang yang telah dikasihi yang dapat mengasihi semata. Oleh karena itu, perintah-perintah Tuhan adalah jalan hidup yang menyembuhkan kita dari kasih palsu. Perintah-perintah Tuhan adalah gaya hidup spiritual yang merupakan jalan menuju keselamatan.

 

Justru karena mengasihi kita, Tuhan tidak meninggalkan kita sendirian dalam cobaan hidup; Ia menjanjikan kita seorang Penolong, yaitu Sang Pembela, "Roh kebenaran" (Yoh 14:17). Karunia ini adalah karunia yang "dunia tidak dapat menerima Dia" (idem), selama dunia terus berbuat jahat, menindas orang miskin, mengucilkan orang lemah, dan membunuh orang yang tidak bersalah. Sebaliknya, mereka yang menanggapi kasih Yesus bagi semua orang akan menemukan dalam Roh Kudus sekutu yang tidak akan pernah gagal: “Kamu mengenal Dia,” kata Yesus, “sebab Ia menyertai kamu dan akan tinggal di dalam kamu” (idem). Karena itu, kita dapat memberi kesaksian tentang Allah, yang adalah kasih, selalu dan di mana pun. Kasih bukanlah gagasan pikiran manusiawi, tetapi kenyataan hidup ilahi, yang melaluinya segala sesuatu diciptakan dari ketiadaan dan ditebus dari kematian.

 

Dengan menawarkan kepada kita kasih sejati dan kekal, Yesus berbagi dengan kita jati diri-Nya sebagai Putra yang terkasih: “Aku ada di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (ayat 20). Persekutuan hidup yang menyeluruh ini menyangkal sang Penuduh — musuh sang Penolong, roh yang menentang sang pembela kita. Sesungguhnya, sementara Roh Kudus adalah kuasa kebenaran, Penuduh adalah “bapa pendusta” (Yoh 8:44), yang berusaha untuk mengadu domba manusia dengan Allah dan manusia satu sama lain: kebalikan dari apa yang dilakukan Yesus dengan menyelamatkan kita dari kejahatan dan mempersatukan kita sebagai umat saudara dan saudari di dalam Gereja.

 

Saudara-saudari terkasih, dengan penuh syukur atas karunia ini, marilah kita mempercayakan diri kita kepada perantaraan Perawan Maria, Bunda Kasih Ilahi.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya telah mengetahui dengan keprihatinan mendalam berbagai laporan mengenai meningkatnya kekerasan di wilayah Sahel, khususnya di Chad dan Mali, yang baru-baru ini mengalami serangan teroris. Saya menyampaikan jaminan ketulusan doa saya untuk para korban dan kedekatan rohani saya kepada semua orang yang menderita akibat peristiwa tragis tersebut. Saya sangat berharap agar segala bentuk kekerasan dapat terhenti, dan saya mendorong semua upaya yang bertujuan untuk memupuk perdamaian dan pembangunan di negeri tercinta itu.

 

Setiap tahun, pada tanggal 10 Mei, kita merayakan “Hari Persahabatan Koptik-Katolik”. Saya menyampaikan salam persaudaraan saya kepada Yang Mulia Paus Tawadros II dan meyakinkan seluruh Gereja Koptik terkasih bahwa saya akan mengingat mereka dalam doa. Saya berharap perjalanan persahabatan kita akan membawa kita kepada persatuan yang sempurna di dalam Kristus, yang telah menyebut kita sebagai “sahabat” (bdk. Yoh 15:15).

 

Dan sekarang, dengan hangat saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara!

 

Secara khusus, saya menyapa kelompok “Guardie d’Onore al Sacro Cuore di Gesù,” dari berbagai kota di seluruh Italia serta “Volontari per l’evangelizzazione” yang terhubung dengan keluarga Radio Maria. Dengan hangat saya juga menyapa para sukarelawan dari lembaga “Komen Italia,” yang saya ucapkan terima kasih atas komitmen mereka terhadap pencegahan kanker payudara.

 

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Kepulauan Canary yang, dengan keramahan khas mereka, menyambut kapal pesiar Hondius dan para penumpang yang terinfeksi Hantavirus. Saya berharap dapat bertemu kamu semua bulan depan selama kunjungan saya ke kepulauan tersebut.

 

Hari ini, kita secara khusus mengenang semua ibu. Melalui perantaraan Maria, Bunda Yesus dan Bunda kita sendiri, marilah kita berdoa dengan penuh kasih dan syukur untuk setiap ibu, khususnya mereka yang hidup dalam keadaan yang sangat sulit. Terima kasih! Semoga Allah memberkatimu!

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu yang penuh berkat kepada semuanya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 10 Mei 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 6 MEI 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. II. KONSTITUSI DOGMATIS LUMEN GENTIUM. 8. GEREJA, PEZIARAH DALAM SEJARAH MENUJU TANAH AIR SURGAWI

Saudara-saudari, selamat pagi dan selamat datang!


Saat kita berfokus pada bagian dari Bab VII Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Gereja hari ini, marilah kita merefleksikan salah satu ciri khasnya: dimensi eskatologisnya. Gereja, pada kenyataannya, menempuh perjalanan melalui sejarah duniawi ini selalu menuju tujuan akhirnya, yaitu tanah air surgawi. Ini adalah dimensi penting yang, bagaimanapun, sering kita abaikan atau remehkan, karena kita terlalu fokus pada apa yang langsung terlihat dan dinamika yang lebih konkret dari kehidupan komunitas kristiani.

 

Gereja adalah umat Allah yang menempuh perjalanan sejarah, yang menjadikan Kerajaan Allah sebagai tujuan dari semua tindakannya (bdk. LG, 9). Yesus mengawali Gereja justru dengan mewartakan Kerajaan kasih, keadilan, dan perdamaian ini (bdk. LG, 5). Karena itu, kita dipanggil untuk memikirkan komunitas dan dimensi kosmik keselamatan dalam Kristus dan mengarahkan pandangan kita ke cakrawala akhir ini, mengukur dan mengevaluasi segala sesuatu dari sudut pandang ini.

 

Dalam sejarah Gereja hidup dalam pelayanan kedatangan Kerajaan Allah di dunia. Ia mewartakan sabda janji ini kepada semua orang dan selalu; ia menerima perjanjian itu dalam perayaan sakramen-sakramen, khususnya Ekaristi; ia mempraktikkan logikanya dan mengalaminya dalam hubungan kasih dan pelayanan. Lebih jauh lagi, ia tahu bahwa ia adalah tempat dan sarana di mana persatuan dengan Kristus diwujudkan "lebih erat" (LG, 48), sementara pada saat yang sama mengakui bahwa keselamatan dapat diberikan oleh Allah dalam Roh Kudus bahkan di luar batas-batasnya yang terlihat.

 

Berkaitan dengan hal ini, Konstitusi Lumen Gentium membuat pernyataan penting: Gereja adalah “sakramen keselamatan bagi semua orang” (LG, 48), yaitu, tanda dan sarana kepenuhan hidup dan kedamaian yang dipromosikan oleh Allah. Ini berarti Gereja tidak sepenuhnya mengidentifikasi diri dengan Kerajaan Allah, tetapi merupakan benih dan permulaannya, karena penggenapannya akan diberikan kepada umat manusia dan kosmos hanya pada akhirnya. Oleh karena itu, orang-orang percaya kepada Kristus menjalani sejarah duniawi ini, yang ditandai dengan pematangan kebaikan tetapi juga dengan ketidakadilan dan penderitaan, tanpa tertipu atau putus asa; mereka hidup dipandu oleh janji yang diterima dari Dia yang akan “menjadikan segala sesuatu baru” (Why. 21:5). Karena itu, Gereja mewujudkan misinya di antara “sudah” permulaan Kerajaan Allah dalam diri Yesus, dan “belum” penggenapan yang dijanjikan dan dinantikan. Sebagai penjaga pengharapan yang menerangi jalan, ia juga diberi misi untuk berbicara dengan jelas menolak segala sesuatu yang mematikan kehidupan dan menghambat perkembangannya, serta mengambil posisi yang mendukung kaum miskin, kaum yang dieksploitasi, korban kekerasan dan perang, dan semua orang yang menderita jasmani dan rohani (bdk. Kompendium Ajaran Sosial Gereja, no. 159).

 

Sebagai tanda dan sakramen Kerajaan Allah, Gereja adalah umat Allah yang berziarah di bumi yang, dengan mengacu pada janji terakhir, membaca dan menafsirkan dinamika sejarah melalui Injil, mengecam kejahatan dalam segala bentuknya dan mewartakan, dalam perkataan dan perbuatan, keselamatan yang ingin Kristus wujudkan bagi seluruh umat manusia dan Kerajaan-Nya yang adil, penuh kasih, dan damai. Oleh karena itu, Gereja tidak mewartakan dirinya sendiri; sebaliknya, segala sesuatu di dalamnya harus mengarah pada keselamatan di dalam Kristus.

 

Dari sudut pandang ini, Gereja dipanggil untuk dengan rendah hati mengakui kerapuhan dan kefanaan manusiawi dari lembaga-lembaganya sendiri yang, meskipun melayani Kerajaan Allah, menanggung citra dunia yang fana ini (bdk. LG, 48). Tidak ada lembaga gerejawi yang dapat diperlakukan mutlak; sesungguhnya, karena mereka ada dalam sejarah dan waktu, mereka dipanggil untuk terus menerus bertobat, memperbarui bentuk dan mereformasi struktur, terus menerus meregenerasi hubungan, sehingga mereka benar-benar dapat memenuhi misi mereka.

 

Dalam cakrawala Kerajaan Allah, kita juga harus memahami hubungan antara umat Kristiani yang menjalankan misi mereka saat ini, dan mereka yang telah menyelesaikan kehidupan duniawi mereka dan berada dalam keadaan penyucian atau kebahagiaan. Lumen Gentium, pada kenyataannya, menegaskan bahwa semua umat kristiani membentuk satu Gereja, ada persekutuan dan pembagian barang rohani yang didasarkan pada persatuan dengan Kristus dari semua orang percaya, sebuah fraterna sollicitudo antara Gereja duniawi dan Gereja surgawi: persekutuan orang-orang kudus yang dialami khususnya dalam liturgi (bdk. LG, 49-51). Dengan mendoakan orang-orang yang telah meninggal dan mengikuti jejak mereka yang telah hidup sebagai murid Yesus, kita pun dikuatkan dalam perjalanan kita dan memperkuat penyembahan kita kepada Allah: ditandai oleh satu Roh dan dipersatukan dalam satu liturgi, bersama dengan mereka yang telah mendahului kita dalam iman, kita memuji dan memuliakan Tritunggal Mahakudus.

 

Marilah kita bersyukur kepada para Bapa Konsili karena telah mengingatkan kita akan aspek terpenting dan terindah sebagai seorang kristiani, dan semoga kita berusaha untuk mengembangkannya dalam hidup kita.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Belgia, Belanda, Finlandia, Ghana, Uganda, Selandia Baru, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Kanada, dan Amerika Serikat. Secara khusus saya menyapa para dosen dan mahasiswa dari Universitas Florida, Saint Mary’s College, dan Christendom College, serta semua yang berpartisipasi dalam Konferensi Kecerdasan Buatan di Universitas Gregorian. Atas kamu semua, dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan kedamaian Yesus yang telah bangkit! Semoga Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]


Saudara-saudari terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang Lumen Gentium, kita berfokus pada dimensi eskatologis Gereja. Sebagai “sakramen keselamatan bagi semua orang,” Gereja adalah tanda dan sarana kepenuhan janji Allah. Sebagai umat Allah yang berziarah, Gereja menafsirkan sejarah melalui lensa Injil dan berbicara dengan tegas menentang segala kejahatan. Pada saat yang sama, Gereja mengakui perlunya pertobatan terus-menerus agar dapat memenuhi misinya dengan benar. Sebagai anggota Tubuh yang sama, kita pun dipanggil untuk pembaharuan. Kita melakukan ini dengan tetap berada dalam persekutuan dengan Kristus dan satu sama lain. Seluruh Gereja paling erat bersatu dalam pujian kita kepada Allah dalam liturgi. Di sana kita berdoa untuk umat beriman yang telah meninggal dan meminta para Santo untuk menjadi pengantarakita agar kita semua dapat menerima kepenuhan janji-janji Allah dalam Kerajaan Surga.
____

(Peter Suriadi - Bogor, 6 Mei 2026)