Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 28 Januari 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. I. KONSTITUSI DOGMATIS DEI VERBUM. 3. SATU PERBENDAHARAAN KERAMAT. HUBUNGAN ANTARA KITAB SUCI DAN TRADISI.

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Melanjutkan membaca Dei Verbum, Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi, hari ini kita akan merefleksikan hubungan antara Kitab Suci dan Tradisi. Kita dapat mengambil dua perikop Injil sebagai latar belakang. Dalam perikop pertama, yang terjadi di Ruang Atas, Yesus, dalam khotbah-perjanjian-Nya yang luar biasa yang ditujukan kepada para murid, menegaskan: “Semua itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama kamu. Namun, Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. … Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yoh 14:25-26; 16:13).

 

Perikop kedua membawa kita ke perbukitan Galilea. Yesus yang bangkit menampakkan diri kepada para murid, yang terkejut dan ragu, dan Ia menasihati mereka, “Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat 28:19-20). Dalam kedua perikop ini, hubungan erat antara kata-kata yang diucapkan oleh Kristus dan penyebarannya sepanjang abad sangat jelas.

 

Hal inilah yang ditegaskan oleh Konsili Vatikan II, menggunakan gambaran yang menggugah: “Tradisi suci dan Kitab Suci berhubungan erat sekali dan berpadu. Sebab keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dan dengan cara tertentu bergabung menjadi satu dan menjurus ke arah tujuan yang sama.” (Dei Verbum, 9). Tradisi berkembang sepanjang sejarah melalui Gereja, yang melestarikan, menafsirkan, dan mewujudkan Sabda Allah. Katekismus Gereja Katolik (bdk. no. 113) merujuk, dalam hal ini, pada semboyan para Bapa Gereja: “Kitab Suci lebih dahulu ditulis di dalam hati Gereja daripada di atas perkamen [kertas dari kulit]”, yaitu Kitab Suci.

 

Berdasarkan terang sabda Kristus yang dikutip di atas, Konsili menegaskan bahwa “Tradisi yang berasal dari para rasul itu berkat bantuan Roh Kudus berkembang dalam Gereja” (Dei Verbum, 8). Hal ini terjadi dengan pemahaman penuh melalui “kontemplasi dan studi yang dilakukan oleh orang-orang percaya”, melalui “pemahaman yang mendalam tentang realitas spiritual yang mereka alami” dan, terutama, dengan pemberitaan para penerus rasul yang telah menerima “karunia kebenaran yang pasti”. Singkatnya, “Gereja dalam ajaran, hidup serta ibadatnya melestarikan serta meneruskan kepada semua keturunan dirinya seluruhnya, imannya seutuhnya.” (idem).

 

Ungkapan Santo Gregorius Agung yang terkenal: “Kitab Suci bertumbuh bersama orang yang membacanya”.[1] berkaitan dengan hal ini. Dan Santo Agustinus menyatakan bahwa “hanya ada satu sabda Allah yang terungkap melalui Kitab Suci, dan hanya ada satu sabda Allah yang terdengar di bibir banyak orang kudus”.[2] Dengan demikian, sabda Allah bukanlah sesuatu yang beku, melainkan realitas yang hidup dan organik yang berkembang dan tumbuh dalam Tradisi. Berkat Roh Kudus, Tradisi memahaminya dalam kekayaan kebenarannya dan mewujudkannya dalam koordinat sejarah yang berubah-ubah.

 

Dalam hal ini, usulan Santo John Henry Newman, pujangga Gereja, dalam karyanya yang berjudul Perkembangan Ajaran Kristiani sangat menarik. Ia menegaskan bahwa kekristenan, baik sebagai pengalaman komunal maupun sebagai ajaran, adalah realitas dinamis, sebagaimana ditunjukkan oleh Yesus sendiri dalam perumpamaan tentang benih (bdk. Mrk 4:26-29): realitas hidup yang berkembang berkat kekuatan vital batin.[3]

 

Rasul Paulus berulang kali menasihati murid dan rekan kerjanya Timotius: “Timotius, periharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu” (1Tim 6:20; bdk. 2Tim 1:12-14). Konstitusi Dogmatis Dei Verbum menggemakan teks Paulus ini dengan mengatakan, “Tradisi suci dan Kitab suci merupakan satu perbendaharaan keramat sabda Allah yang dipercayakan kepada Gereja”, yang ditafsirkan oleh “Wewenang Mengajar Gereja yang hidup, yang kewibawaannya dilaksanakan atas nama Yesus Kristus” (no. 10). “Perbendaharaan” adalah istilah yang, dalam arti aslinya, bersifat yuridis dan membebankan kepada pihak yang mendapatkannya kewajiban untuk menjaga isinya, yang dalam hal ini adalah iman, dan menyampaikannya secara utuh.

 

“Perbendaharaan” sabda Allah masih berada di tangan Gereja hingga hari ini, dan kita semua, dalam berbagai pelayanan gerejawi kita, harus terus melestarikannya secara utuh, sebagai pedoman bagi perjalanan kita melalui kerumitan sejarah dan keberadaan.

 

Sebagai penutup, sahabat-sahabatku, marilah kita sekali lagi mendengarkan Dei Verbum, yang mengagungkan keterkaitan Kitab Suci dan Tradisi: kitab ini menegaskan bahwa keduanya “saling berhubungan dan berpadu sedemikian rupa, sehingga yang satu tidak dapat ada tanpa kedua lainnya, dan semuanya bersama-sama, masing-masing dengan caranya sendiri, di bawah gerakan satu Roh Kudus, membantu secara berdaya guna bagi keselamatan jiwa-jiwa.” (bdk. no. 10).

 

[Imbauan]

 

Kemarin diperingati Hari Semua Korban Holocaust Sedunia, yang telah merenggut nyawa jutaan orang Yahudi dan banyak orang lainnya. Pada kesempatan peringatan tahunan yang menyakitkan ini, saya memohon kepada Yang Mahakuasa untuk memberikan karunia berupa dunia tanpa antisemitisme dan tanpa prasangka, penindasan, dan penganiayaan terhadap setiap manusia. Saya kembali mengimbau komunitas bangsa-bangsa untuk tetap waspada. Semoga kengerian genosida tidak pernah lagi ditimpakan kepada bangsa mana pun dan semoga masyarakat yang didasarkan pada rasa saling menghormati dan kebaikan bersama dapat dibangun.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Skotlandia, Irlandia, Islandia, Australia, India, dan Amerika Serikat. Atasmu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese kita tentang Konstitusi Dogmatis Dei Verbum, hari ini kita membahas hubungan antara Kitab Suci dan Tradisi. Dalam perikop Injil Yohanes yang baru saja kita dengar, Yesus berkata bahwa Ia akan mengutus Roh Kudus untuk membimbing para Rasul agar mengingat, menerapkan, dan mewartakan segala sesuatu yang telah Ia ajarkan. Kitab Suci, sabda Allah yang diinspirasi, dan Tradisi Suci, ingatan hidup Gereja, terikat erat dan membentuk satu perbendaharaan iman. Perbendaharaan ini, yang berisi keseluruhan iman kita — ajaran, ibadah, moralitas, dan lain-lain — bukanlah sesuatu yang statis tetapi dinamis karena berkembang dan dipahami lebih mendalam oleh Gereja selama berabad-abad, di bawah bimbingan Roh Kudus. Perbendaharaan, yang dipercayakan kepada Gereja, yang memelihara dan menafsirkannya dalam nama Yesus, ini membantu kita menavigasi kerumitan kehidupan untuk mencapai rumah kekal kita di surga. Semoga kita menjadi saksi yang hidup dan setia terhadap sabda Allah dalam Kitab Suci dan Tradisi.

__________

(Peter Suriadi - Bogor, 28 Januari 2026)



[1] Homiliae in Ezechielem I, VII, 8: PL 76, 843D.

[2] Enarrationes in Psalmos 103, IV, 1

[3] bdk. J.H. Newman, Esai tentang Perkembangan Ajaran Kristiani, Milan 2003, hlm. 104.

HOMILI PAUS LEO XIV DALAM IBADAT VESPERS II PESTA BERTOBATNYA SANTO PAULUS RASUL 25 Januari 2026

Saudara-saudari terkasih,

 

Dalam salah satu perikop Kitab Suci yang baru saja kita dengar, Rasul Paulus menyebut dirinya sebagai “yang paling hina dari semua rasul” (1Kor 15:9). Ia menganggap dirinya tidak layak menyandang gelar ini karena ia pernah menjadi penganiaya Gereja Allah. Namun demikian, ia bukanlah tawanan masa lalu tersebut, melainkan “seorang tahanan karena Tuhan” (Ef 4:1). Sesungguhnya, berkat rahmat Allah Paulus mengenal Tuhan Yesus yang telah bangkit, yang pertama kali menyatakan diri kepada Petrus, kemudian kepada para rasul lainnya dan ratusan pengikut Sang Jalan, dan akhirnya juga kepadanya, seorang penganiaya (bdk. 1Kor 15:3-8). Perjumpaannya dengan Tuhan yang telah bangkit menghasilkan pertobatan yang kita peringati hari ini.

 

Kedalaman pertobatan ini tercermin dalam perubahan namanya dari Saul menjadi Paulus. Oleh rahmat Allah, orang yang pernah menganiaya Yesus telah sepenuhnya diubah rupa menjadi saksi-Nya. Orang yang pernah dengan keras menentang nama Kristus kini memberitakan kasih-Nya dengan semangat yang membara, sebagaimana diungkapkan dengan jelas dalam madah yang kita nyanyikan di awal perayaan ini (bdk. Excelsam Pauli Gloriam, ayat 2). Saat kita berkumpul di hadapan jenazah rasul bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi, kita diingatkan bahwa perutusannya juga merupakan perutusan segenap umat kristiani saat ini: memberitakan Kristus dan mengajak setiap orang untuk menaruh kepercayaan mereka kepada-Nya. Setiap perjumpaan yang otentik dengan Tuhan, sesungguhnya, adalah momen yang mengubah rupa yang memberikan visi dan arah baru dalam tugas membangun tubuh Kristus (bdk. Ef 4:12).

 

Konsili Vatikan II, pada awal konstitusinya tentang Gereja, menyatakan keinginan yang kuat untuk mewartakan Injil kepada semua makhluk (bdk. Mrk 16:15) dan dengan demikian “menerangi semua orang dalam cahaya Kristus, yang bersinar pada wajah Gereja” (Lumen Gentium, 1). Dengan rendah hati dan gembira berkata kepada dunia: “Pandanglah Kristus! Mendekatlah kepada-Nya! Sambutlah sabda-Nya yang menerangi dan menghibur merupakan tugas bersama segenap umat kristiani!” (Homili dalam Misa Permulaan Pontifikasi Paus Leo XIV, 18 Mei 2025). Sahabat-sahabatku yang terkasih, setiap tahun Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristen mengajak kita untuk memperbarui komitmen kita terhadap perutusan besar ini, dengan mengingat bahwa perpecahan di antara kita – meskipun tidak menghalangi terang Kristus untuk bersinar – namun membuat wajah yang harus memantulkannya kepada dunia menjadi kurang bercahaya.

 

Tahun lalu, kita merayakan peringatan 1700 tahun Konsili Nicea. Bartolomeus, Patriark Ekumenis, mengundang kita untuk merayakan peringatan tersebut di İznik, dan saya bersyukur kepada Allah bahwa begitu banyak tradisi kristiani terwakili dalam peringatan dua bulan lalu. Mendaraskan Syahadat Nicea bersama-sama di tempat di mana syahadat tersebut dirumuskan merupakan kesaksian yang mendalam dan tak terlupakan tentang persatuan kita di dalam Kristus. Momen persaudaraan itu juga memungkinkan kita untuk memuji Tuhan atas apa yang telah Ia capai melalui para Bapa Nicea, membantu mereka untuk mengungkapkan dengan jelas kebenaran tentang Allah yang mendekati kita dalam Yesus Kristus. Semoga Roh Kudus menemukan dalam diri kita pikiran yang taat bahkan hari ini, sehingga kita dapat mewartakan iman dengan satu suara kepada orang-orang di zaman kita!

 

Dalam perikop dari Surat kepada Jemaat Efesus yang dipilih sebagai tema Pekan Doa tahun ini, kita berulang kali mendengar kata sifat "satu": satu tubuh, satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah (bdk. Ef 4:4-6). Saudara-saudari terkasih, bagaimana mungkin kata-kata yang penuh inspirasi ini tidak menyentuh hati kita? Bagaimana mungkin hati kita tidak berkobar ketika mendengarnya? Ya, “kita memiliki iman yang sama kepada satu-satunya Allah, Bapa segenap umat manusia; kita bersama-sama mengakui satu Tuhan dan Putra Allah yang sejati, Yesus Kristus, dan satu Roh Kudus, yang menginspirasi kita dan mendorong kita menuju persatuan penuh dan kesaksian bersama tentang Injil” (Surat Apostolik In Unitate Fidei, 23 November 2025, 12). Kita satu! Kita sudah satu! Marilah kita menyadarinya, mengalaminya, dan mewujudkannya!

 

Pendahulu saya yang terkasih, Paus Fransiskus, menyatakan bahwa perjalanan sinodal Gereja Katolik “adalah dan harus bersifat ekumenis, sebagaimana perjalanan ekumenis juga bersifat sinodal” (Pidato kepada Yang Mulia Mar Awa III, 19 November 2022). Hal ini tercermin dalam dua Sidang Sinode Para Uskup pada tahun 2023 dan 2024, yang ditandai dengan semangat ekumenis yang mendalam dan diperkaya oleh partisipasi banyak delegasi persaudaraan. Saya percaya ini adalah jalan untuk tumbuh bersama dalam pengetahuan bersama tentang struktur dan tradisi sinodal kita masing-masing. Saat kita menantikan peringatan 2.000 tahun sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan Yesus pada tahun 2033, marilah kita berkomitmen untuk lebih mengembangkan praktik-praktik sinodal ekumenis dan saling berbagi siapa kita, apa yang kita lakukan, dan apa yang kita ajarkan (bdk. Fransiskus, Untuk Gereja Sinodal, 24 November 2024, 137-138).

 

Sahabat-sahabat terkasih, seiring berakhirnya Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristen, saya menyampaikan salam hangat kepada Kurt Kardinal Koch, kepada para anggota, konsultan, dan staf Dikasteri untuk Mempromosikan Persatuan Umat Kristen, serta kepada para anggota dialog teologis dan prakarsa lain yang dipromosikan oleh Dikasteri. Saya bersyukur atas kehadiran sejumlah pemimpin dan perwakilan dari berbagai Gereja dan persekutuan kristiani di seluruh dunia dalam liturgi ini, khususnya Metropolitan Polykarpos, yang mewakili Patriarkat Ekumenis, Uskup Agung Khajag Barsamian, dari Gereja Apostolik Armenia, dan Uskup Anthony Ball, atas nama Persekutuan Anglikan. Saya juga menyapa para mahasiswa penerima beasiswa dari Komite untuk Kerja Sama Budaya dengan Gereja Ortodoks dan Gereja Ortodoks Oriental dari Dikasteri untuk Mempromosikan Persatuan Umat Kristiani, para mahasiswa Institut Ekumenis Bossey dari Dewan Gereja Sedunia, serta kelompok-kelompok ekumenis dan para peziarah yang berpartisipasi dalam perayaan ini.

 

Materi Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristen tahun ini disiapkan oleh Gereja-gereja Armenia. Dengan rasa syukur yang mendalam, kita mengenang kesaksian kristiani yang berani dari bangsa Armenia sepanjang sejarah, sebuah sejarah di mana kemartiran telah menjadi ciri yang langgeng. Saat kita mengakhiri Pekan Doa ini, kita menghormati kenangan akan Santo Katolikos Nersès Å norhali “yang Maha Pengasih,” katolikos suci yang bekerja untuk persatuan Gereja pada abad ke-12. Ia mendahului zamannya dalam memahami bahwa pengupayaan persatuan adalah tugas yang dipercayakan kepada semua umat beriman, dan bahwa pengupayaan itu membutuhkan pemulihan ingatan. Pendahulu saya yang terhormat, Santo Yohanes Paulus II, mengingatkan bahwa Santo Nerses juga mengajarkan kepada kita sikap yang harus kita adopsi dalam perjalanan ekumenis kita: “Umat kristiani harus memiliki keyakinan batin yang mendalam bahwa persatuan itu penting, bukan untuk keuntungan strategis atau keuntungan politik tetapi demi pemberitaan Injil” (Homili pada Perayaan Ekumenis, 26 September 2001).

 

Menurut tradisi, Armenia adalah negara kristiani pertama, setelah Raja Tiridates dibaptis oleh Santo Gregorius sang penerang pada tahun 301. Kita mengucap syukur atas para pembawa kabar keselamatan yang berani menyebarkan iman kepada Yesus Kristus di seluruh Eropa Timur dan Barat. Kita berdoa agar benih Injil terus berbuah di benua ini dalam persatuan, keadilan, dan kekudusan, demi perdamaian di antara bangsa-bangsa di seluruh dunia.

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 25 Januari 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 25 Januari 2026

Saudara-saudari, selamat hari Minggu!

 

Setelah Ia dibaptis, Yesus mulai berkhotbah dan memanggil murid-murid-Nya yang pertama: Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya, serta Yakobus dan Yohanes (bdk. Mat 4:12-22). Dengan merefleksikan lebih dalam kisah dalam Bacaan Injil hari ini, kita dapat mengajukan dua pertanyaan kepada diri kita sendiri. Pertanyaan pertama berkaitan dengan waktu perutusan Yesus, dan pertanyaan kedua berkaitan dengan tempat yang Ia pilih untuk berkhotbah dan memanggil para rasul-Nya. Kita dapat bertanya: Kapan Ia mengawalinyai? Dan di mana Ia mengawalinya?

 

Pertama-tama, Bacaan Injil memberitahu kita bahwa Yesus memulai khotbah-Nya “ketika Ia mendengar bahwa Yohanes telah ditahan” (ayat 12). Oleh karena itu, Ia mengawalinya pada saat yang tampaknya tidak tepat. Yohanes Pembaptis baru saja ditahan dalam penjara, dan para pemimpin umat tampaknya enggan menerima kebaruan Mesias. Rupanya, suatu waktu yang membutuhkan kehati-hatian. Namun, justru dalam situasi yang gelap inilah Yesus mulai membawa terang Kabar Baik: “Kerajaan Surga sudah dekat” (ayat 17).

 

Dalam kehidupan kita, baik secara individu maupun sebagai Gereja, pergumulan batin atau keadaan yang kita anggap tidak menguntungkan dapat membuat kita meyakini bahwa hal tersebut bukanlah waktu yang tepat untuk mewartakan Injil, mengambil keputusan, memilih, atau mengubah situasi. Namun, dengan cara ini, kita berisiko menjadi lumpuh karena keraguan atau terpenjara oleh kehati-hatian yang berlebihan, sedangkan Bacaan Injil mengajak kita untuk berani percaya. Allah bekerja setiap saat; setiap saat adalah “waktu Allah,” bahkan ketika kita merasa belum siap atau ketika situasi tampak tidak menguntungkan.

 

Bacaan Injil juga memberikan kita wawasan tentang tempat tertentu di mana Yesus mengawali perutusan-Nya di muka umum. Kita diberitahu bahwa Ia “meninggalkan Nazaret dan tinggal di Kapernaum” (ayat 13). Dengan demikian, Ia tetap tinggal di Galilea – wilayah yang sebagian besar dihuni oleh orang-orang kafir yang telah diubah oleh perdagangan menjadi persimpangan jalan dan tempat pertemuan. Kita dapat menggambarkannya sebagai wilayah multikultural, yang dilalui oleh orang-orang dari berbagai asal dan afiliasi agama. Dalam pengertian ini, Bacaan Injil mengungkapkan bahwa Mesias, meskipun berasal dari Israel, melampaui batas-batas tanah kelahirannya untuk memberitakan Allah yang mendekati setiap orang. Ia adalah Allah yang tidak mengecualikan siapa pun, dan yang datang bukan hanya untuk orang-orang yang "murni," tetapi sepenuhnya masuk ke dalam kerumitan situasi dan hubungan manusiawi. Oleh karena itu, sebagai umat kristiani, kita pun harus mengatasi godaan untuk mengasingkan diri. Injil harus diberitakan dan dihayati di setiap lingkungan, berfungsi sebagai ragi persaudaraan dan perdamaian di antara semua individu, budaya, agama, dan bangsa.

 

Saudara-saudari, seperti para murid pertama, kita dipanggil untuk menerima undangan Tuhan dengan sukacita, mengetahui bahwa setiap waktu dan setiap tempat dalam kehidupan kita dipenuhi oleh kehadiran dan kasih-Nya. Marilah kita berdoa kepada Perawan Maria, agar ia memperolehkan bagi kita kepercayaan batin ini dan menyertai kita dalam perjalanan kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari Minggu ini, Hari Minggu Biasa III, adalah Hari Minggu Sabda Allah. Paus Fransiskus menetapkannya tujuh tahun yang lalu untuk mempromosikan pengetahuan tentang Kitab Suci di seluruh Gereja dan perhatian yang lebih besar kepada Sabda Allah dalam Liturgi dan dalam kehidupan komunitas. Saya berterima kasih dan mendorong semua orang yang berkomitmen dengan iman dan kasih pada prioritas ini.

 

Bahkan hingga saat ini, Ukraina terus dilanda serangan, membuat seluruh penduduknya terpapar dinginnya musim dingin. Saya mengikuti situasi ini dengan penuh duka, dan saya turut berduka cita serta mendoakan mereka yang menderita. Berlanjutnya permusuhan, dengan konsekuensi yang semakin serius bagi warga sipil, memperlebar jurang pemisah antarbangsa dan semakin menjauhkan peluang untuk perdamaian yang adil dan abadi. Saya mengajak semua orang untuk meningkatkan upaya mereka mengakhiri perang ini.

 

Hari ini adalah Hari Kusta Sedunia. Saya menyampaikan rasa simpati saya kepada semua orang yang terkena penyakit ini. Saya menyampaikan dukungan kepada Lembaga Sahabat Raoul Follereau di Italia dan semua orang yang merawat pasien kusta, terutama komitmen mereka untuk melindungi martabat pasien.

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara! Secara khusus, saya menyapa paduan suara Paroki Rakovski, Bulgaria, kelompok Quinceañera dari Panama, para siswa Institut Zurbarán, Badajoz, Spanyol; serta para calon penerima sakramen krisma dari Paroki San Marco Vecchio, Florence, komunitas sekolah Institut Komprehensif Erodoto, Corigliano-Rossano, dan Lembaga Sukarelawan Cuori Aperti, Lecce.

 

Dengan hangat saya menyapa orang muda Aksi Katolik Roma, bersama dengan orang tua, pendidik, dan imam mereka, yang telah menyelenggarakan Karavan Perdamaian. Anak-anak dan orang muda yang terkasih, saya berterima kasih kepadamu karena kamu membantu kami orang dewasa untuk melihat dunia dari sudut pandang lain: yaitu kerja sama antarmanusia dan antarbangsa. Terima kasih! Jadilah pembawa damai di rumah, di sekolah, dalam olahraga, di mana pun. Jangan pernah melakukan kekerasan, baik dengan kata-kata maupun dengan gestur. Jangan pernah! Kejahatan hanya dapat dikalahkan dengan kebaikan.

 

Bersama dengan orang muda ini, marilah kita berdoa untuk perdamaian: di Ukraina, Timur Tengah, dan setiap wilayah di mana, sayangnya, terjadi pertempuran demi kepentingan yang bukan kepentingan rakyat. Perdamaian dibangun atas dasar penghormatan terhadap bangsa-bangsa!

 

Hari ini menandai berakhirnya Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen. Sore hari, sesuai tradisi, saya akan merayakan Vespers di Basilika Santo Paulus di Luar Tembok bersama perwakilan umat kristiani lainnya. Saya berterima kasih kepada semua yang akan berpartisipasi, termasuk melalui media, dan saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 25 Januari 2026)

 

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 21 Januari 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. I. KONSTITUSI DOGMATIS DEI VERBUM. 2. YESUS KRISTUS, PEWAHYUAN BAPA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Kita akan melanjutkan katekese tentang Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II Dei Verbum tentang Wahyu Ilahi. Kita telah melihat Allah menyatakan diri-Nya dalam dialog perjanjian, di mana Ia berbicara kepada kita sebagai sahabat. Oleh karena itu, pengetahuan relasional tersebut, tidak hanya menyampaikan gagasan, tetapi juga ambil bagian dalam sejarah dan memanggil untuk saling bersekutu. Penggenapan wahyu ini terjadi dalam perjumpaan historis dan pribadi di mana Allah sendiri memberikan diri-Nya kepada kita, menjadikan diri-Nya hadir, dan kita menemukan bahwa kita dikenal dalam kebenaran terdalam kita. Itulah yang terjadi dalam Yesus Kristus. Dokumen tersebut menyatakan: “Melalui wahyu itu kebenaran yang sedalam-dalamnya tentang Allah dan keselamatan manusia nampak bagi kita dalam Kristus, yang sekaligus menandai pengantara dan kepenuhan seluruh wahyu” (DV, 2).

 

Yesus menyatakan Bapa kepada kita dengan melibatkan kita dalam hubungan-Nya dengan Dia. Dalam Anak yang diutus oleh Allah Bapa, “manusia dapat menghadap Bapa dalam Roh Kudus dan ikut serta dalam kodrat ilahi” (idem.). Oleh karena itu, kita mencapai pengetahuan penuh tentang Allah dengan memasuki hubungan Anak dengan Bapa-Nya, berdasarkan tindakan Roh Kudus. Hal ini dibuktikan, misalnya, oleh Penginjil Lukas ketika ia menceritakan doa sukacita Bapa: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyingkapkan-Nya” (Luk 10:21-22).

 

Berkat Yesus, kita mengenal Allah sebagaimana kita dikenal oleh-Nya (bdk. Gal 4:9; 1Kor 13:13). Sesungguhnya, di dalam Kristus, Allah telah menyatakan diri-Nya kepada kita dan, pada saat yang sama, Ia telah menyatakan kepada kita jatidiri kita yang sesungguhnya sebagai anak-anak-Nya, yang diciptakan menurut rupa Sabda. “Sabda kekal, yang menyinari semua orang” (DV 4), mengungkapkan kebenaran mereka di mata Bapa: “Bapa-Mu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat 6:5; 6:8), kata Yesus, dan Ia menambahkan bahwa “Bapa-Mu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu” (bdk. Mat 6:32). Yesus Kristus adalah tempat di mana kita mengenali kebenaran Allah Bapa, sementara kita menemukan diri kita dikenal oleh-Nya sebagai anak-anak di dalam Anak, yang dipanggil kepada takdir yang sama yaitu kehidupan yang penuh. Santo Paulus menulis: “Setelah genap waktunya, Allah mengutus Anak-Nya… supaya kita diterima menjadi anak. Karena kamu adalah anak, Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru, ‘'Ya Abba! , ya Bapa!” (Gal 4:4-6).

 

Akhirnya, Yesus Kristus menyatakan Bapa dengan kemanusiaan-Nya sendiri. Justru karena Ia adalah Sabda yang menjelma dan tinggal di antara manusia, Yesus menyatakan Allah kepada kita dengan kemanusiaan-Nya yang sejati dan utuh: “Siapa yang telah melihat Yesus, ia telah melihat Bapa (Yoh 14:9) dengan segenap kehadiran dan penampilan-Nya, dengan sabda maupun karya-Nya, dengan tanda-tanda serta mukjizat-mukjizatnya, namun terutama dengan wafat dan kebangkitan-Nya penuh kemuliaan dari maut, akhirnya dengan mengutus Roh Kebenaran” (DV, 4). Untuk mengenal Allah dalam Kristus, kita harus menerima kemanusiaan-Nya seutuhnya: kebenaran Allah tidak sepenuhnya terungkap jika kebenaran itu mengurangi sesuatu dari sisi manusiawi, sama seperti keutuhan kemanusiaan Yesus tidak mengurangi kepenuhan karunia ilahi. Justru kemanusiaan Yesus yang utuh itulah yang memberitahu kita kebenaran tentang Bapa (bdk. Yoh 1:18).

 

Bukan hanya wafat dan kebangkitan Yesus yang menyelamatkan kita dan menyatukan kita, tetapi juga pribadi-Nya: Tuhan yang menjadi manusia, lahir, menyembuhkan, mengajar, menderita, wafat, bangkit kembali, dan tetap berada di antara kita. Karena itu, untuk menghormati keagungan penjelmaan, tidak cukup hanya menganggap Yesus sebagai saluran penyampaian kebenaran intelektual. Jika Yesus memiliki tubuh yang nyata, komunikasi kebenaran Allah terwujud dalam tubuh itu, dengan cara sendiri dalam memahami dan merasakan kenyataan, dengan cara sendiri dalam menghuni dan menjalani dunia. Yesus sendiri mengajak kita untuk berbagi persepsi-Nya tentang kenyataan: “Pandanglah burung-burung di udara, yang tidak menabur, tidak menuai, dan tidak mengumpulkan dalam lumbung, namun Bapa Surgawi memberi mereka makan. Bukankah kamu lebih berharga daripada mereka?” (Mat 6:26).

 

Saudara-saudari, dengan mengikuti jalan Yesus sampai akhir, kita mencapai kepastian bahwa tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah. “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?”, tulis Santo Paulus lagi. “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama Dia?” (Rm 8:31-32). Berkat Yesus, umat kristiani mengenal Allah Bapa dan mempercayakan diri kepada-Nya dengan penuh keyakinan.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini kita melanjutkan katekese kita tentang Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II Dei Verbum dengan membahas peran Putra Allah dalam Wahyu Ilahi. Wahyu Allah tentang diri-Nya kepada umat-Nya melalui perkataan dan perbuatan selama berabad-abad mencapai penggenapannya dalam penjelmaan Sabda, ketika Allah menjadi manusia. Sesungguhnya, “Melalui wahyu itu kebenaran yang sedalam-dalamnya tentang Allah dan keselamatan manusia nampak bagi kita dalam Kristus, yang sekaligus menandai pengantara dan kepenuhan seluruh wahyu”” (Dei Verbum, 2). Putra, melalui penjelmaan, kehidupan, wafat, dan kebangkitan-Nya, tidak hanya memungkinkan kita untuk melihat Bapa di dalam diri-Nya, tetapi juga mengundang kita untuk memasuki hubungan-Nya sendiri dengan Bapa, berdasarkan tindakan Roh Kudus. Dengan menerima undangan ini, kita menjadi putra dan putri melalui Putra dan menjadi peserta dalam kodrat Allah. Marilah kita dipenuhi dengan rasa syukur saat kita merenungkan panggilan kita yang luhur sebagai anak-anak Allah yang terkasih, mempercayakan diri kita kepada Bapa dengan keyakinan yang tak terbatas.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya kelompok-kelompok dari Inggris Raya, Belanda, dan Amerika Serikat. Sambil terus berdoa untuk persatuan umat Kristen, saya menyapa Delegasi Ekumenis dari Lembaga Katolik untuk Ekumenisme dan Dewan Gereja-Gereja Belanda. Atas kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kamu semua!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 21 Januari 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 18 Januari 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil hari ini (bdk. Yoh 1:29-34) berbicara kepada kita tentang Yohanes Pembaptis, yang mengenali Yesus sebagai Anak Domba Allah, Mesias, dan menyatakan: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” (ayat 29). Ia menambahkan: “Aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel” (ayat 31).

 

Yohanes mengakui Yesus sebagai Juruselamat; ia memberitakan keilahian dan perutusan Yesus kepada bangsa Israel, lalu menyingkir setelah menyelesaikan tugasnya, yang dibuktikan dengan perkataan: “Sesudah aku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku” (ayat 30).

 

Yohanes Pembaptis adalah seorang yang sangat dicintai oleh orang banyak, sampai-sampai ia ditakuti oleh penguasa di Yerusalem (bdk. Yoh 1:19). Akan mudah baginya untuk memanfaatkan ketenaran ini; namun, ia tidak menyerah pada godaan kesuksesan dan popularitas. Di hadapan Yesus, ia menyadari kekecilannya dan memberi ruang bagi kebesaran Yesus. Yohanes tahu bahwa ia diutus untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan (bdk. Mik 1:3; Yes 40:3), dan ketika Tuhan datang, dengan sukacita dan rendah hati ia mengakui kehadiran Allah dan menyingkir dari sorotan.

 

Alangkah pentingnya kesaksiannya bagi kita hari ini! Memang, persetujuan, konsensus, dan daya terawang seringkali diberi kepentingan yang berlebihan, sampai-sampai membentuk gagasan, perilaku, dan bahkan kehidupan batin orang-orang. Hal ini menyebabkan penderitaan dan perpecahan, serta menimbulkan gaya hidup dan hubungan yang rapuh, mengecewakan, dan membelenggu. Sebenarnya, kita tidak membutuhkan "pengganti kebahagiaan" ini. Sukacita dan kebesaran kita tidak didasarkan pada khayalan kesuksesan atau ketenaran yang bersifat sementara, tetapi pada kesadaran bahwa kita dikasihi dan dikehendaki oleh Bapa Surgawi kita.

 

Kasih yang dibicarakan Yesus adalah kasih Allah yang bahkan hari ini datang di antara kita, bukan untuk memukau kita dengan pertunjukan yang spektakuler, tetapi untuk turut serta dalam pergumulan kita dan memikul beban kita. Dengan berbuat demikian, Ia mengungkapkan kepada kita kebenaran tentang siapa kita dan betapa berharganya kita di mata-Nya.

 

Saudara-saudara terkasih, janganlah kita membiarkan diri kita teralihkan dari kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita. Janganlah kita menyia-nyiakan waktu dan energi kita mengejar penampilan. Sebaliknya, marilah kita belajar dari Yohanes Pembaptis untuk tetap waspada, mencintai kesederhanaan, tulus dalam perkataan kita, hidup dengan bijaksana, dan mengembangkan kedalaman pikiran dan hati. Marilah kita puas dengan apa yang penting dan meluangkan waktu setiap hari, jika memungkinkan, untuk momen khusus berhenti sejenak dalam keheningan untuk berdoa, melakukan refleksi, dan mendengarkan – dengan kata lain, “menyendiri di padang gurun”, untuk bertemu Tuhan dan tinggal bersama-Nya.

 

Semoga Bunda Maria, teladan kesederhanaan, kebijaksanaan, dan kerendahan hati, membantu kita dalam tekad ini.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini menandai dimulainya Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristen. Asal usul prakarsa ini bermula dua abad yang lalu, dan Paus Leo XIII sangat mendorongnya. Tepat seratus tahun yang lalu, “Saran untuk Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristen” diterbitkan untuk pertama kalinya. Tema tahun ini diambil dari Surat Santo Paulus kepada Jemaat di Efesus: “Satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu” (4:4). Doa dan renungan ini dipersiapkan oleh kelompok ekumenis yang dikoordinasikan oleh Departemen Hubungan Antar Gereja Apostolik Armenia. Selama hari-hari ini, saya mengajak segenap komunitas Katolik untuk memperdalam doa mereka untuk persatuan penuh dan nyata dari segenap umat Kristen.

 

Tanggung jawab kita untuk persatuan harus disertai dengan komitmen teguh terhadap perdamaian dan keadilan di dunia. Hari ini, saya ingin secara khusus mengingatkan penderitaan besar rakyat di bagian timur Republik Demokratik Kongo. Banyak yang terpaksa meninggalkan negara mereka – terutama ke Burundi – karena kekerasan, dan mereka menghadapi krisis kemanusiaan yang serius. Marilah kita berdoa agar dialog untuk rekonsiliasi dan perdamaian selalu terwujud di antara pihak-pihak yang berkonflik.

 

Saya juga ingin memastikan doa saya bagi para korban banjir baru-baru ini di Afrika bagian selatan.

 

Saya menyapa dengan hangat kamu semua, umat Roma dan para peziarah!

 

Dengan senang hati saya menyapa rombongan dari Sekolah Piggot, Wargrave, Inggris, serta rombongan Fratres dari komunitas Paroki Compitese. Saya juga menyapa umat dari berbagai negara, keluarga, dan lembaga. Terima kasih atas kehadiran dan doa-doamu!

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 18 Januari 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 14 Januari 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. I. KONSTITUSI DOGMATIS DEI VERBUM. 1. ALLAH BERBICARA KEPADA MANUSIA SEPERTI KEPADA SAHABAT (BACAAN: YOH 15:15)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Kita telah memulai rangkaian katekese tentang Konsili Vatikan II. Hari ini kita akan mulai menelaah lebih dekat Konstitusi Dogmatis Dei Verbum, tentang Wahyu Ilahi. Dei Verbum adalah salah satu dokumen yang terindah dan terpenting dari Konsili dan, untuk memperkenalkannya, mungkin bermanfaat untuk mengingat kata-kata Yesus: “Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat tuannya. Namun, Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yoh 15:15). Inilah poin dasariah dari iman kristiani, yang diingatkan oleh Dei Verbum kepada kita: Yesus Kristus secara radikal mengubah hubungan manusia dengan Allah, yang selanjutnya menjadi hubungan persahabatan. Oleh karena itu, kasih merupakan satu-satunya syarat perjanjian baru.

 

Santo Agustinus, ketika mengulas perikop Injil Yohanes ini, menekankan sudut pandang rahmat, yang semata dapat menjadikan kita sahabat Allah dalam Putra-Nya (Ulasan Injil Yohanes, Homili 86). Memang, sebuah semboyan kuno menyatakan: “Amicitia aut pares invenit, aut facit”, “persahabatan lahir di antara yang setara, atau menjadikan mereka setara”. Kita tidak setara dengan Allah, tetapi Allah sendiri menjadikan kita serupa dengan Dia dalam Putra-Nya.

 

Karena alasan ini, sebagaimana dapat kita lihat di seluruh Kitab Suci, dalam Perjanjian terdapat momen jarak pertama, di mana perjanjian antara Allah dan umat manusia selalu tetap tidak setangkup: Allah adalah Allah dan kita adalah ciptaan. Namun, dengan kedatangan Putra dalam daging manusiawi, Perjanjian terbuka pada tujuan akhirnya: dalam Yesus, Allah menjadikan kita putra dan putri, serta memanggil kita untuk menjadi seperti Dia, meskipun dalam kemanusiaan kita yang rapuh. Oleh karena itu, kemiripan kita dengan Allah tidak dicapai melalui pelanggaran dan dosa, sebagaimana disarankan ular kepada Hawa (bdk. Kej 3:5), tetapi dalam hubungan kita dengan Putra yang menjadi manusia.

 

Kata-kata Tuhan Yesus yang telah kita ingat – “Aku menyebut kamu sahabat” – diulangi dalam Konstitusi Dei Verbum, yang menegaskan: “Maka dengan wahyu itu Allah yang tidak kelihatan (lih. Kol 1:15; 1Tim 1:17) dari kelimpahan cinta kasih-Nya menyapa manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya (lih. Kel 33:11; Yoh 15:14-15), dan bergaul dengan mereka (lih. Bar 3:38), untuk mengundang mereka ke dalam persekutuan dengan diri-Nya dan menyambut mereka di dalamnya.” (no. 2). Dalam Kitab Kejadian Allah telah berbicara dengan orang tua pertama kita, terlibat dalam dialog dengan mereka (bdk. Dei Verbum, 3); dan ketika dialog ini terputus oleh dosa, Sang Pencipta tidak berhenti mengusahakan perjumpaan dengan ciptaan-Nya dan menetapkan perjanjian dengan mereka. Dalam Wahyu kristiani, yaitu ketika Allah menjadi manusia dalam Putra-Nya untuk mencari kita, dialog yang telah terputus dipulihkan secara definitif: Perjanjian itu baru dan kekal, tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Wahyu Allah, kemudian, memiliki kodrat persahabatan dialogis dan, seperti dalam pengalaman persahabatan manusiawi, ia tidak menolerir keheningan, tetapi dipelihara oleh saling mengatakan yang benar.

 

Konstitusi Dei Verbum juga mengingatkan kita akan hal ini: Allah berbicara kepada kita. Pentingnya mengenali perbedaan antara kata-kata dan obrolan: obrolan berhenti di permukaan dan tidak mencapai persekutuan antarmanusia, sedangkan dalam hubungan yang autentik, kata-kata tidak hanya berfungsi untuk bertukar informasi dan berita, tetapi untuk mengungkapkan siapa kita. Kata-kata memiliki dimensi pewahyuan yang menciptakan hubungan dengan orang lain. Dengan cara ini, dengan berbicara kepada kita, Allah mengungkapkan diri-Nya kepada kita sebagai Sekutu yang mengundang kita untuk bersahabat dengan-Nya.

 

Dari sudut pandang ini, mendengarkan adalah sikap pertama yang perlu dikembangkan agar Sabda ilahi dapat menembus pikiran dan hati kita; pada saat yang sama, kita dituntut untuk berbicara dengan Allah, bukan untuk menyampaikan kepada-Nya apa yang sudah Ia ketahui, tetapi untuk mengungkapkan diri kita kepada diri kita sendiri.

 

Oleh karena itu, dibutuhkan doa, di mana kita dipanggil untuk hidup dan mengembangkan persahabatan dengan Tuhan. Hal ini dicapai pertama-tama dalam doa liturgis dan komunitas, di mana kita tidak memutuskan apa yang harus didengar dari Sabda Allah, tetapi Ia sendiri yang berbicara kepada kita melalui Gereja; kemudian dicapai dalam doa pribadi, yang terjadi di dalam batin hati dan pikiran. Waktu yang didedikasikan untuk doa, meditasi, dan refleksi harus ada dalam hari dan pekan seorang kristiani. Hanya ketika kita berbicara dengan Allah, kita juga dapat berbicara tentang Dia.

 

Pengalaman kita menunjukkan bahwa persahabatan dapat berakhir melalui tindakan putus hubungan yang dramatis, atau karena serangkaian tindakan pengabaian sehari-hari yang mengikis hubungan hingga sirna. Jika Yesus memanggil kita untuk menjadi sahabat, janganlah kita mengabaikan panggilan ini. Marilah kita menyambutnya, marilah kita memelihara hubungan ini, dan kita akan menemukan bahwa persahabatan dengan Allah adalah keselamatan kita.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kita memulai rangkaian katekese baru tentang Konsili Vatikan II dengan mempertimbangkan Dei Verbum, Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi. Sebagaimana bacaan Kitab Suci hari ini mengingatkan kita, Yesus menyebut kita sahabat karena Ia telah mengungkapkan kepada kita segala sesuatu yang telah Ia dengar dari Bapa. Melalui Wahyu, yang mencapai kepenuhannya dalam Yesus, Sabda yang menjadi daging, kita diundang untuk ambil bagian dalam kehidupan Allah sebagai anak-anak-Nya dalam Kristus. Kita diingatkan bahwa persahabatan dengan Allah bukan hanya sebuah karunia, tetapi juga sebuah undangan yang membutuhkan tanggapan, seperti dalam hubungan apa pun. Untuk memupuk persahabatan ini, kita harus meluangkan waktu bersama Allah dalam doa, baik secara pribadi maupun terutama melalui Liturgi, di mana komunitas berkumpul untuk mendengarkan sabda Allah dengan bimbingan Gereja. Bersama-sama, marilah kita menanggapi undangan Tuhan dengan segenap hati dan menemukan dalam persahabatan dengan Dia misteri keselamatan sejati kita.

 

[Sapaan Khusus]

 

Pagi ini saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, terutama mereka yang datang dari Irlandia, Australia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kepada kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kamu semua!
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 14 Januari 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 11 Januari 2026

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Pesta Pembaptisan Tuhan, yang kita rayakan hari ini, menandai dimulainya Masa Biasa. Masa liturgi ini mengajak kita untuk bersama-sama mengikuti Tuhan, mendengarkan sabda-Nya, dan meneladan tindakan kasih-Nya kepada sesama. Dengan demikian, kita meneguhkan dan memperbarui pembaptisan kita, sakramen yang menjadikan kita umat kristiani, membebaskan kita dari dosa dan mengubah rupa diri kita menjadi anak-anak Allah melalui kuasa Roh kehidupan-Nya.

 

Bacaan Injil hari ini menceritakan bagaimana tanda rahmat yang mujarab ini terjadi. Ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes di Sungai Yordan, ia melihat “Roh Allah turun seperti burung merpati dan hinggap di atas-Nya” (Mat 3:16). Pada saat yang sama, dari surga, suara Bapa bergema, “Inilah Anak-Ku yang terkasih” (ayat 17). Pada saat ini, seluruh keilahian hadir dalam sejarah: sama seperti sang Anak turun ke air Sungai Yordan, Roh Kudus turun ke atas-Nya dan, melalui Dia, diberikan kepada kita sebagai kuasa keselamatan.

 

Saudara-saudara terkasih, Allah tidak memandang dunia dari jauh, tidak acuh dengan hidup, masalah, atau pengharapan kita! Sebaliknya, Ia datang di antara kita dengan hikmat sabda-Nya yang menjadi daging, menarik kita ke dalam rencana kasih yang menakjubkan bagi seluruh umat manusia.

 

Inilah sebabnya Yohanes Pembaptis, yang dipenuhi keheranan, bertanya kepada Yesus, “Engkau datang kepada-Ku?” (ayat 14). Ya, dalam kekudusan-Nya, Tuhan membiarkan diri-Nya dibaptis seperti orang berdosa, untuk mengungkapkan belas kasihan Allah yang tak terbatas. Sang Putra tunggal, yang di dalam Dia kita adalah saudara dan saudari, datang untuk melayani ketimbang menguasai, menyelamatkan ketimbang menghukum. Dialah Kristus Sang Penebus. Dia memikul apa yang seharusnya kita pikul, termasuk dosa kita, dan memberi kita apa seharusnya menjadi milik-Nya: rahmat kehidupan baru dan kekal.

 

Sakramen Baptis menjadikan peristiwa ini hadir di setiap waktu dan tempat, menyambut kita masing-masing ke dalam Gereja, umat Allah, yang terdiri dari orang-orang dari segala bangsa dan budaya yang dilahirkan kembali oleh Roh-Nya. Karena itu, marilah kita dedikasikan hari ini untuk mengingat karunia besar yang telah kita terima, dan berkomitmen untuk memberikan kesaksian tentangnya dengan sukacita dan ketulusan. Baru hari ini, saya membaptis beberapa bayi yang baru lahir yang telah menjadi saudara dan saudari kita dalam iman. Betapa indahnya merayakan kasih Allah – yang memanggil kita dengan nama dan membebaskan kita dari kejahatan – sebagai satu keluarga! Sakramen pertama ini adalah tanda suci yang menyertai kita selamanya. Di saat-saat kegelapan, baptisan adalah terang; dalam konflik kehidupan, baptisan merupakan rekonsiliasi; pada saat kematian, baptisan merupakan gerbang menuju surga.

 

Marilah kita berdoa bersama, memohon kepada Bunda Maria untuk menguatkan iman kita dan misi Gereja setiap hari.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Sebagaimana telah saya sebutkan, mengikuti kebiasaan pada Pesta Pembaptisan Tuhan, pagi ini saya membaptis beberapa bayi yang baru lahir dari para pegawai Takhta Suci. Sekarang saya ingin menyampaikan berkat saya kepada semua anak yang telah menerima atau akan menerima baptisan selama hari-hari ini – di Roma dan di seluruh dunia – dengan mempercayakan mereka kepada perlindungan keibuan Perawan Maria. Secara khusus, saya berdoa untuk anak-anak yang lahir dalam keadaan sulit, baik karena kondisi kesehatan maupun bahaya eksternal. Semoga rahmat baptisan, yang menyatukan mereka dengan misteri Paskah Kristus, berbuah dalam hidup mereka dan dalam kehidupan keluarga mereka.

 

Pikiran saya tertuju pada situasi yang saat ini terjadi di Timur Tengah, khususnya di Iran dan Suriah, di mana ketegangan yang berkelanjutan terus merenggut banyak nyawa. Saya berharap dan berdoa agar dialog dan perdamaian dapat dipupuk dengan sabar demi kebaikan bersama seluruh masyarakat.

 

Di Ukraina, serangan-serangan baru – terutama serangan-serangan berat yang menargetkan infrastruktur energi seiring dengan semakin dinginnya cuaca – telah menimbulkan korban jiwa yang besar di kalangan penduduk sipil. Saya berdoa untuk mereka yang menderita dan kembali menyerukan untuk mengakhiri kekerasan dan upaya-upaya baru dalam mencapai perdamaian.

 

Dan sekarang saya menyapa kamu semua: umat Roma dan para peziarah yang hadir hari ini di Lapangan Santo Petrus. Grazie, terima kasih, muchas gracias!

 

Saya menyapa secara khusus kelompok dari Sekolah Everest Madrid dan lembaga Bambini Fratelli dari Guadalajara, Meksiko: Dejemos que los niños sueñen.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu yang penuh berkat dan kebahagiaan untuk kamu semua!
______

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Januari 2026)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 7 Januari 2026 : KONSILI VATIKAN II MELALUI DOKUMEN-DOKUMENNYA. KATEKESE PENGANTAR

Saudara-saudari, selamat pagi dan selamat datang!

 

Pada Tahun Yubileum kita telah berfokus pada misteri kehidupan Yesus. Kini kita akan memulai rangkaian katekese baru yang akan didedikasikan untuk Konsili Vatikan II dan pembacaan ulang dokumen-dokumennya. Suatu kesempatan berharga untuk menemukan kembali keindahan dan pentingnya peristiwa gerejawi ini. Santo Yohanes Paulus II, pada akhir Yubileum 2000, menyatakan, “Saya merasa lebih dari sebelumnya berkewajiban untuk menunjukkan Konsili sebagai rahmat besar yang diberikan kepada Gereja pada abad kedua puluh” (Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte, 57).

 

Bersamaan dengan peringatan Konsili Nicea, pada tahun 2025 kita memperingati tujuh puluh tahun Konsili Vatikan II. Meskipun waktu yang memisahkan kita dari peristiwa ini tidak begitu lama, juga benar adanya generasi uskup, teolog, dan umat beriman Konsili Vatikan II tidak lagi bersama kita. Oleh karena itu, selain kita mendengar seruan untuk tidak membiarkan nubuatnya memudar, terus mencari cara dan sarana untuk menerapkan wawasannya, mengenalnya kembali secara saksama, dan melakukannya bukan melalui "desas-desus" atau penafsiran yang telah diberikan, tetapi dengan membaca ulang dokumen-dokumennya dan merenungkan isinya juga penting. Sesungguhnya, Magisterium masih menjadi bintang penuntun perjalanan Gereja saat ini. Berkaitan dengan hal ini, Paus Benediktus XVI mengajarkan, "Seiring berjalannya waktu, dokumen-dokumen Konsili Vatikan II tidak kehilangan relevansinya; bahkan, ajaran-ajarannya terbukti sangat relevan dengan situasi baru Gereja dan masyarakat global saat ini" (Wejangan Pertama di Akhir Konselebrasi Ekaristi dengan Anggota Dewan Kardinal, 20 April 2005).

 

Ketika Paus Santo Yohanes XXIII membuka Konsili pada 11 Oktober 1962, beliau menyebutnya sebagai fajar hari terang bagi seluruh Gereja. Karya dari banyak Bapa Gereja yang dikumpulkan dari Gereja-gereja di seluruh benua memang membuka jalan bagi masa gerejawi yang baru. Berkat kekayaan refleksi biblis, teologis, dan liturgis yang mencakup abad kedua puluh, Konsili Vatikan II menemukan kembali wajah Allah sebagai Bapa yang, di dalam Kristus, memanggil kita untuk menjadi anak-anak-Nya; Konsili memandang Gereja dalam terang Kristus, terang bangsa-bangsa, sebagai misteri persekutuan dan sakramen persatuan antara Allah dan umat-Nya; Konsili memulai reformasi liturgis yang penting, menempatkan di pusatnya misteri keselamatan dan partisipasi aktif dan sadar dari seluruh Umat Allah. Pada saat yang sama, Konsili membantu kita untuk membuka diri terhadap dunia dan merangkul perubahan serta tantangan zaman modern dalam dialog dan tanggung jawab bersama, sebagai Gereja yang ingin membuka tangannya kepada umat manusia, menyuarakan pengharapan dan kecemasan bangsa-bangsa, dan bekerjasama membangun masyarakat yang lebih adil dan bersaudara.

 

Berkat Konsili Vatikan II, Gereja “memiliki sesuatu untuk dikatakan, sebuah pesan untuk disampaikan, sebuah komunikasi untuk dilakukan” (Santo Paulus VI, Ensiklik Ecclesiam Suam, 65), berupaya mengupayakan kebenaran melalui dialog ekumenis dan lintas agama, serta dialog dengan orang-orang yang berkehendak baik.

 

Semangat ini, disposisi batin ini, harus menjadi ciri khas kehidupan spiritual kita dan aksi pastoral Gereja, karena kita masih harus mencapai reformasi gerejawi secara lebih penuh dalam arti pelayanan dan, dalam menghadapi tantangan saat ini, kita dipanggil untuk terus menjadi penafsir yang waspada terhadap tanda-tanda zaman, pewarta Injil yang penuh sukacita, saksi keadilan dan perdamaian yang berani. Pada awal Konsili, Mgr. Albino Luciani, yang kemudian menjadi Paus Yohanes Paulus I, sebagai Uskup Vittorio Veneto, menulis secara kenabian, “Seperti biasa, ada kebutuhan untuk mencapai bukan sekadar organisasi atau metode atau struktur, tetapi kekudusan yang lebih dalam dan lebih luas. ... Mungkin buah-buah Konsili yang sangat baik dan melimpah akan terlihat setelah berabad-abad dan akan matang dengan bersusah payah mengatasi konflik dan situasi yang merugikan”.[1] Menemukan kembali Konsili, sebagaimana dikatakan Paus Fransiskus, membantu kita untuk “mengembalikan keutamaan kepada Allah, kepada apa yang hakiki: kepada Gereja yang sangat mengasihi Tuhannya dan semua orang yang dikasihi-Nya” (Homili pada peringatan enam puluh tahun dimulainya Konsili Vatikan II, 11 Oktober 2022).

 

Saudara-saudari, kata-kata Santo Paulus VI kepada para Bapa Konsili di akhir masa jabatannya tetap menjadi prinsip penuntun kita saat ini. Beliau menegaskan bahwa telah tiba waktunya untuk meninggalkan sidang Konsili dan pergi menuju umat manusia untuk menyampaikan kabar baik Injil, dengan kesadaran bahwa mereka telah mengalami masa rahmat di mana masa lalu, masa kini, dan masa depan terangkum: “Masa lalu: karena di sini, berkumpul di tempat ini, kita memiliki Gereja Kristus dengan tradisi, sejarah, konsili-konsili, para pujangga, para kudusnya; masa kini, karena kita saling berpamitan untuk pergi menuju dunia saat ini dengan kesengsaraan, penderitaan, dan dosa-dosanya, tetapi juga dengan pencapaiannya yang luar biasa, nilai-nilai dan kebajikannya; dan terakhir, masa depan ada di sini dalam seruan yang sangat mendesak akan keadilan dari bangsa-bangsa di dunia, keinginan mereka akan perdamaian, dahaga mereka, entah disadari atau tidak, akan kehidupan yang lebih baik, kehidupan yang justru dapat dan ingin diberikan oleh Gereja Kristus kepada mereka” (Santo Paulus VI, Pesan kepada Para Bapa Konsili, 8 Desember 1965).

 

Hal ini juga berlaku bagi kita. Saat kita mendekati dokumen-dokumen Konsili Vatikan II dan menemukan kembali relevansi kenabian dan kemasakiniannya, kita menyambut kekayaan tradisi kehidupan Gereja dan, pada saat yang sama, kita mempertanyakan diri kita sendiri tentang masa kini dan memperbarui sukacita kita dalam berlari menuju dunia untuk membawa Injil kerajaan Allah, kerajaan kasih, keadilan, dan damai.

 

 [Sapaan Khusus]

 

Pagi ini saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya mereka yang berasal dari Inggris, Irlandia, Australia, Kanada, dan Amerika Serikat. Kepada kamu semua dan keluargamu, saya menyampaikan doa dan harapan baik untuk masa Natal yang penuh berkah serta tahun baru yang penuh sukacita dan kedamaian. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, hari ini kita memulai rangkaian katekese baru yang didedikasikan untuk Konsili Vatikan II dan untuk merefleksikan dokumen-dokumennya. Karya para Bapa Konsili membuka jalan bagi masa gerejawi baru, dengan berpusat pada misteri keselamatan dan kesatuan antara Allah dan umat-Nya. Pada saat yang sama, Konsili membuka Gereja untuk mengupayakan dialog dengan orang-orang yang berkehendak baik demi dunia yang lebih adil dan bersaudara. Kita melihat bahwa dokumen-dokumen tersebut tidak kehilangan relevansinya dan tetap relevan dengan tuntutan dan tantangan masa kini. Mempelajari dokumen-dokumen Konsili secara saksama akan membantu kita menjadi penafsir yang cermat terhadap tanda-tanda zaman, dan mewartakan Injil kepada semua orang. Saat kita melakukan perjalanan untuk menemukan kembali ajaran-ajaran Konsili Vatikan II, marilah kita menyambut masa lalu dengan kekayaan tradisinya; marilah kita memikirkan masa kini dengan suka dan dukanya; dan marilah kita menatap masa depan dengan seruan mendesak untuk keadilan, kasih, dan perdamaian yang lebih besar.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 7 Januari 2026)



[1]A. Luciani – Yohanes Paulus I, Catatan tentang Konsili, dalam Opera omnia, vol. II, Vittorio Veneto 1959-1962. Discorsi, scritti, articoli, Padua 1988, 451-453.