Saudara-saudari
terkasih, selamat hari Minggu!
Bacaan
Injil hari ini berbicara kepada kita tentang pengampunan, yang merupakan ciri
dasariah kehidupan Kristiani. Yesus mengajarkan dan memberi teladan tentang
pengampunan bahkan saat berada di kayu salib; di sana, Ia berdoa kepada Bapa
bagi orang-orang yang menganiaya-Nya dengan kata-kata yang sudah kita kenal:
"Ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat"
(Luk 23:34).
Dalam
perikop hari ini, Petrus mengajukan pertanyaan persis mengenai hal ini kepada
Sang Guru: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika
ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" (Mat 18:21). Kata-kata
Petrus mencerminkan hati yang murah hati, sebab dalam Kitab Suci angka tujuh
melambangkan kesempurnaan, dan "mengampuni tujuh kali" berarti
mengampuni dengan melimpah. Namun, tanggapan Yesus melampaui itu: "Aku
berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali
tujuh" (ayat 22); dengan kata lain, melampaui segala batas, tanpa ukuran.
Untuk
memperjelas maksud-Nya, Sang Juruselamat menyampaikan perumpamaan tentang
seorang hamba yang memiliki utang sangat besar kepada tuannya — utang yang
praktis mustahil untuk dilunasi. Meskipun utangnya sendiri telah diampuni
semata-mata karena belas kasihan, ia tidak menunjukkan belas kasihan yang sama
kepada seorang hamba lain; karenanya, ia ditegur dan mendapat hukuman berat
(ayat 23-30).
Melalui
kata-kata ini, Yesus mengingatkan kita bahwa anugerah dan pengampunan adalah
dasar keberadaan kita. Segala sesuatu dikaruniakan kepada kita oleh Allah
karena kasih yang murni, dan tak seorang pun dari kita dapat mengaku sempurna
dalam menanggapi kebaikan semacam itu. Oleh karena itu, kecuma-cumaan — yang
menjadi sumber keberadaan kita — juga merupakan pedoman terbaik bagi kehidupan
kita bersama. Kita mengalaminya setiap hari. Pengampunan sangatlah penting;
tanpanya, kita tidak dapat hidup dalam damai. Cepat atau lambat, konflik,
tuduhan, dendam, dan tindakan pembalasan akan muncul di hati kita dan di tengah
masyarakat; hal-hal ini merusak hubungan, memecah belah keluarga, dan memicu
peperangan.
Hanya
pengampunanlah yang membebaskan kita dan memulihkan cahaya, bahkan ketika
kemiskinan materi dan kemerosotan moral manusia telah menggelapkan cakrawala
serta membuat jalan hidup menjadi tak menentu. Pengampunan, bagaikan embusan
angin sepoi-sepoi, menyingkirkan awan paling pekat sekalipun hingga matahari
kembali bersinar. Santo Petrus sendiri berkali-kali mengalami hal ini dalam
hidupnya; khususnya ketika — setelah menyangkal dan meninggalkan Yesus pada
masa sengsara-Nya — ia berjumpa dengan Tuhan yang telah bangkit di tepi danau
dan mendengar-Nya mengajukan satu pertanyaan saja, "Simon ... apakah
engkau mengasihi Aku?" (Yoh 21:15). Pertanyaan itu disertai dengan ajakan,
"ikutlah Aku!" (ayat 19) — ajakan yang sama seperti saat perjumpaan
pertama mereka. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Kasih yang mengampuni
dan memulihkan ini menjadi peneguhan perutusan sang pemimpin para Rasul
tersebut.
Oleh
karena itu, marilah kita memohon kepada Perawan Maria, Bunda Kerahiman, untuk
membantu kita mengampuni — senantiasa, bahkan ketika sulit untuk mengambil
langkah pertama — serta menyebarkan, dengan keberanian dan ketekunan, cahaya
kasih yang damai dan menyembuhkan, yang mengalahkan kebencian dan meluruhkan
segala rasa dendam.
[Setelah
pendarasan doa Malaikat Tuhan]
Saudara-saudari
yang terkasih!
Dua hari
yang lalu merupakan peringatan dua puluh lima tahun serangan teroris 11
September di Amerika Serikat. Saya kembali memanjatkan doa bagi mereka yang
kehilangan nyawa dan bagi mereka yang masih menanggung luka akibat peristiwa
tragis hari itu. Di saat konflik dan kekerasan melanda begitu banyak
saudara-saudari kita, saya mengajak semua orang untuk berdoa agar Tuhan
menganugerahkan damai-Nya bagi dunia.
Kenangan
akan peristiwa tragis yang terjadi dua puluh lima tahun silam mendorong kita
untuk memperbarui komitmen kita terhadap perdamaian, terutama melalui doa, yang
kita percayakan pada perantaraan Perawan Maria.
Kini,
dengan hangat saya, menyapa kamu semua, baik umat Roma maupun para peziarah!
Saya
menyapa kelompok-kelompok dari São Paulo, Brasil, serta mereka yang datang dari
berbagai negara lainnya.
Saya
menyapa anggota Lembaga Religius Jesus Nazareno Cautivo yang tinggal di Roma,
kelompok dari Oratorium Salesian di Chieri, umat Dolianova, Sardinia, serta
para peziarah yang datang dari Asisi melalui Jalan Santo Fransiskus.
Saya
menyapa "Keluarga Bellunese" beserta Sekolah Erechim di Brasil, serta
para pengendara sepeda motor yang berkumpul untuk menunjukkan dukungan mereka
bagi perdamaian dan kehidupan.
Saya
mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua.
______
(Peter Suriadi - Bogor, 13 September 2026)