Liturgical Calendar

Showing posts with label Wejangan Angelus 2020. Show all posts
Showing posts with label Wejangan Angelus 2020. Show all posts

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 27 Desember 2020 : TENTANG KELUARGA KUDUS NAZARET


Saudara dan saudara terkasih, selamat siang!

 

Beberapa hari setelah Natal, liturgi mengundang kita untuk mengalihkan pandangan kita kepada Keluarga Kudus : Yesus, Maria dan Yusuf. Berkaca pada fakta bahwa Putra Allah berkeinginan membutuhkan kehangatan sebuah keluarga, seperti semua anak, adalah baik. Justru karena alasan ini, karena keluarga Yesus, keluarga Nazaret adalah keluarga teladan, yang di dalamnya seluruh keluarga di dunia dapat menemukan titik acuan dan inspirasi yang pasti. Di Nazaret, musim semi kehidupan manusiawi Sang Putra Allah mulai berbunga pada saat Ia dikandung berkat karya Roh Kudus di dalam rahim Perawan Maria. Di dalam tembok Rumah Nazaret yang menyambut, masa kanak-kanak Yesus terbentang dalam sukacita, dikelilingi oleh perhatian keibuan Maria dan pemeliharaan Yusuf, yang di dalamnya Yesus dapat melihat kelembutan Allah (bdk. Surat Apostolik Patris Corde, 2).

 

Meneladan Keluarga Kudus, kita dipanggil untuk menemukan kembali nilai pendidikan satuan keluarga : keluarga harus berlandaskan kasih yang selalu meregenerasi hubungan, membuka cakrawala harapan. Di dalam keluarga, kita dapat mengalami persekutuan yang tulus ketika keluarga adalah rumah doa, ketika ada kasih sayang yang sungguh mendalam dan tulus, ketika pengampunan mengatasi perselisihan, ketika kekerasan hidup sehari-hari dilunakkan oleh kelembutan timbal balik dan ada ketaatan yang teduh terhadap kehendak Allah. Dengan cara ini, keluarga membuka diri terhadap sukacita yang diberikan Allah kepada semua orang yang paham bagaimana memberi dengan sukacita. Pada saat yang sama, keluarga menemukan energi spiritual untuk terbuka terhadap dunia luar, orang lain, pelayanan saudara dan saudari, kerjasama dalam membangun dunia yang senantiasa baru dan lebih baik; oleh karena itu, mampu menjadi pembawa rangsangan positif; keluarga menginjili dengan teladan hidup. Memang benar, di dalam setiap keluarga senantiasa ada masalah, dan terkadang ada pertengkaran. “Dan, Bapa, saya bertengkar…” tetapi kita manusia, kita lemah, dan kita semua terkadang bertengkar dalam keluarga. Saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu : jika kamu bertengkar dalam keluarga, jangan akhiri hari tanpa berdamai. “Ya, saya bertengkar”, tetapi sebelum hari berakhir, berdamailah. Dan tahukah kamu mengapa? Karena perang dingin, hari demi hari, sangatlah berbahaya. Perang dingin tidak membantu. Dan kemudian, dalam keluarga ada tiga kata, tiga kalimat yang harus selalu dijaga dengan baik : “Tolong”, “terima kasih”, dan “saya minta maaf”. "Tolong", agar tidak mengganggu kehidupan orang lain. Tolong : bolehkah saya melakukan sesuatu? Apakah tidak masalah bagimu jika aku melakukan hal ini? Tolong. Senantiasa, agar tidak mengganggu. Tolong, kata pertama. “Terima kasih” : begitu banyak bantuan, begitu banyak layanan yang diberikan kepada kita dalam keluarga : senantiasa mengucapkan terima kasih. Terima kasih adalah sumber kehidupan jiwa yang mulia. "Terima kasih". Dan kemudian, yang paling sulit dikatakan : "Saya minta maaf". Karena kita senantiasa melakukan hal-hal buruk dan sangat sering seseorang tersakiti dengan hal ini : “Saya minta maaf”, “Saya minta maaf”. Jangan lupakan tiga kata tersebut : “tolong”, “terima kasih”, dan “maafkan saya”. Jika dalam sebuah keluarga, dalam lingkungan keluarga ada tiga kata tersebut maka keluarga baik-baik saja.

 

Pesta hari ini mengingatkan kita pada teladan penginjilan bersama keluarga, sekali lagi menawarkan kepada kita cita-cita kasih suami istri dan keluarga, sebagaimana digarisbawahi dalam Seruan Apostolik Amoris laetitia, yang genap lima tahun pengumumannya pada 19 Maret mendatang. Dan tanggal tersebut akan menjadi tahun untuk berkaca pada Amoris laetitia dan akan menjadi kesempatan untuk lebih berfokus pada isi dokumen tersebut. Berkaca pada Amoris laetitia ini akan tersedia bagi komunitas dan keluarga gerejawi, untuk menemani mereka dalam perjalanan. Mulai sekarang, saya mengundang semua orang untuk mengambil bagian dalam prakarsa yang akan digalakkan selama Tahun tersebut dan akan dikoordinir oleh Dikasteri untuk Kaum Awam, Keluarga dan Kehidupan. Marilah kita memercayakan perjalanan ini, bersama keluarga-keluarga di seluruh dunia, kepada Keluarga Kudus Nazaret, terutama kepada Santo Yusuf, bapa dan suami yang setia.

 

Semoga Perawan Maria, yang kepadanya kita sekarang mendaraskan doa Malaikat Tuhan, menganugerahkan keluarga-keluarga di seluruh dunia agar semakin terpesona oleh cita-cita injili Keluarga Kudus, sehingga menjadi ragi kemanusiaan baru serta kesetiakawanan sejati dan universal.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari terkasih,

 

Saya menyapa kalian semua, keluarga, kelompok dan umat perorangan yang mengikuti doa Malaikat Tuhan melalui media komunikasi sosial. Pikiran saya terutama tertuju pada keluarga-keluarga yang, selama bulan-bulan ini, telah kehilangan orang-orang yang mereka cintai atau terkena dampak pandemi. Saya juga memikirkan para dokter, para perawat, dan seluruh tenaga ahli perawatan kesehatan yang dengan keteladanan luar biasa berada di garis depan dalam memerangi penyebaran virus telah memberikan dampak sangat penting terhadap kehidupan keluarga.

 

Dan hari ini saya memercayakan seluruh keluarga kepada Allah, terutama keluarga-keluarga yang paling dicobai oleh kesulitan hidup serta momok kesalahpahaman dan perceraian. Semoga Tuhan, yang lahir di Betlehem, memberikan kepada mereka semua ketenangan dan kekuatan untuk berjalan bersama di jalan kebaikan.

 

Dan jangan lupakan tiga kata berikut yang akan sangat membantu untuk mencapai kesatuan keluarga : "Tolong" - jangan mengganggu, hormati orang lain - "Terima kasih" - saling berterima kasih, satu sama lain, dalam kesalahan. Dan permintaan maaf ini - atau ketika kita bertengkar - tolong mengucapkannya sebelum hari berakhir : berdamai sebelum hari berakhir.

 

Kepada kalian semua saya mengucapkan selamat hari Minggu dan tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat makan siang dan sampai jumpa!

______


(Peter Suriadi - Bogor, 27 Desember 2020)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 26 Desember 2020 : TENTANG PESTA SANTO STEFANUS, MARTIR PERTAMA


Saudara dan saudari terkasih, selamat siang!

 

Bacaan Injil kemarin berbicara tentang Yesus, Sang “Terang yang sesungguhnya” yang datang ke dunia, terang yang “bercahaya di dalam kegelapan” dan “kegelapan itu tidak menguasainya” (Yoh 1:9,5). Hari ini kita melihat orang yang bersaksi tentang Yesus, Santo Stefanus, yang bercahaya dalam kegelapan. Orang-orang yang bersaksi tentang Yesus bercahaya dengan terang-Nya, bukan dengan terang mereka masing-masing. Bahkan Gereja tidak memiliki terangnya sendiri. Oleh karena itu, para nenek moyang zaman dulu menyebut Gereja : "misteri bulan". Laksana bulan, yang tidak memiliki terangnya sendiri, para saksi ini tidak memiliki terangnya sendiri, mereka mampu mengambil terang Yesus dan memantulkannya. Stefanus dituduh bersalah dan dilempari dengan tak berperikemanusiaan, tetapi dalam kegelapan kebencian (yang merupakan siksaan rajam atas dirinya), ia membiarkan terang Yesus bercahaya : ia mendoakan para pembunuhnya dan mengampuni mereka, seperti Yesus di kayu salib. Ia adalah martir pertama, yaitu, saksi pertama, orang pertama dari sekumpulan saudara dan saudari yang, bahkan sampai hari ini, terus membawa terang ke dalam kegelapan - orang-orang yang menanggapi kejahatan dengan kebaikan, yang tidak menyerah pada kekerasan dan kebohongan, tetapi menghentikan daur kebencian dengan kelembutan dan kasih. Di malam-malam dunia, para saksi ini membawa fajar Allah.

 

Tetapi bagaimana mereka menjadi saksi? Meneladani Yesus, mengambil terang dari Yesus. Inilah jalan bagi setiap orang Kristiani : meneladani Yesus, mengambil terang dari Yesus. Santo Stefanus memberi kita teladan : Yesus datang untuk melayani, bukan untuk dilayani (lihat Mrk 10:45), dan Ia hidup untuk melayani, bukan untuk dilayani, serta Ia datang untuk melayani : Stefanus dipilih menjadi diakon, ia menjadi diakon, yaitu, seorang hamba, dan melayani meja orang miskin (lihat Kis 6:2). Ia mencoba untuk meneladani Tuhan setiap hari dan ia melakukannya sampai kesudahan : seperti Yesus, ia ditangkap, dihukum dan dibunuh di luar kota, serta seperti Yesus ia berdoa dan mengampuni. Saat dilempari batu, ia berkata : "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" (7:60). Stefanus menjadi saksi karena ia meneladani Yesus.

 

Sebuah pertanyaan dapat muncul: apakah saksi-saksi kebaikan ini benar-benar diperlukan ketika dunia terbenam dalam kejahatan? Apa gunanya berdoa dan mengampuni? Hanya untuk memberikan teladan yang baik? Tetapi, apa gunanya itu? Tidak, masih banyak lagi. Kita menemukan hal ini dari rincian. Teks mengatakan bahwa di antara orang-orang yang didoakan dan diampuni Stefanus ada "seorang muda yang bernama Saulus" (ayat 58), yang "menyetujui kematiannya" (8:1). Beberapa saat kemudian, oleh kasih karunia Tuhan, Saulus bertobat, menerima terang Yesus, menerimanya, bertobat, dan menjadi Paulus, misionaris terbesar dalam sejarah. Paulus dilahirkan oleh kasih karunia Allah, tetapi melalui pengampunan Stefanus, melalui kesaksian Stefanus. Itulah benih pertobatannya. Inilah bukti bahwa tindakan kasih mengubah sejarah : bahkan tindakan yang kecil, tersembunyi, setiap hari. Karena Allah menuntun sejarah melalui keberanian yang rendah hati dari orang-orang yang berdoa, mengasihi dan mengampuni. Ada begitu banyak orang kudus yang tersembunyi, orang kudus yang berada di pintu sebelah, saksai-saksi hidup yang tersembunyi, yang dengan sedikit tindakan kasih mengubah sejarah.

 

Menjadi saksi Yesus - hal ini juga berlaku untuk kita. Allah menginginkan kita hidup luar biasa melalui hal-hal biasa, hal-hal sehari-hari yang kita perbuat. Kita dipanggil untuk memberikan kesaksian tentang Yesus persis di tempat kita tinggal, di dalam keluarga kita, di tempat kerja, di mana pun, bahkan hanya dengan memberikan terang senyuman, terang yang bukan kepunyaan kita - terang berasal dari Yesus - dan bahkan hanya dengan melarikan diri dari bayang-bayang gosip dan pengaduan. Dan kemudian, ketika kita melihat sesuatu yang salah, alih-alih mengritik, menjelek-jelekkan, dan mengeluh, marilah kita mendoakan orang yang berbuat salah dan situasi yang sulit. Dan ketika sebuah percekcokan dimulai dari rumah, daripada mencoba memenangkannya, marilah kita mencoba untuk meredakannya; dan memulai kembali setiap saat, mengampuni orang yang menyinggung perasaan. Hal-hal kecil, tetapi mengubah sejarah, karena membukakan pintu, membukakan jendela untuk terang Yesus. Santo Stefanus, ketika ia menerima batu-batu kebencian, membalas dengan kata-kata pengampunan. Dengan demikian, ia mengubah sejarah. Kita juga bisa mengubah kejahatan menjadi kebaikan setiap saat seperti pepatah indah yang mengatakan : “Jadilah seperti pohon palma : orang-orang melemparinya dengan batu dan pohon itu menjatuhkan kurma”.

 

Hari ini, marilah kita mendoakan orang-orang yang menderita penganiayaan oleh karena nama Yesus. Sayangnya mereka banyak. Ada lebih daripada awal Gereja. Marilah kita memercayakan saudara-saudari ini kepada Bunda Maria, agar dengan lemah lembut mereka dapat menanggapi penindasan dan, sebagai saksi-saksi Yesus yang sesungguhnya Yesus, mereka dapat menaklukkan kejahatan dengan kebaikan.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari terkasih,

 

Saya menyapa kalian semua, keluarga, kelompok, dan umat perorangan yang mengikuti saat doa ini melalui sarana komunikasi sosial. Kita harus melakukannya seperti ini untuk menghindari orang datang ke Lapangan. Oleh karena itu, kita sedang bekerjasama dengan peraturan yang telah ditetapkan pihak berwenang, untuk membantu kita semua keluar dari pandemi ini.

 

Semoga suasana Natal yang penuh sukacita yang berlanjut hingga hari ini kembali memenuhi hati kita, membangkitkan keinginan setiap orang untuk merenungkan Yesus di dalam palungan, melayani dan mengasihi-Nya dalam diri orang-orang yang ada di dekat kita.

 

Dalam hari-hari ini, saya telah menerima salam Natal dari Roma dan pelbagai belahan dunia. Tidak mungkin untuk menanggapi semua orang, tetapi sekarang saya menggunakan kesempatan ini untuk mengungkapkan rasa terima kasih, terutama atas karunia doa yang telah kalian persembahkan untuk saya, yang dengan rela saya tanggapi.

 

Selamat Pesta Santo Stefanus. Tolong, teruslah mendoakan saya.

 

Selamat menikmati makanan kalian dan sampai jumpa!

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 20 Desember 2020


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat siang!

 

Pada Hari Minggu Adven IV dan terakhir ini, Bacaan Injil sekali lagi menawarkan Kabar Sukacita kepada kita. “Bersukacitalah” kata malaikat kepada Maria, “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus” (Luk 1:28,31). Tampaknya murni pengumuman sukacita, yang ditakdirkan untuk membuat Perawan Maria bahagia. Di antara para perempuan masa itu, perempuan mana yang tidak bermimpi menjadi ibu Mesias? Namun seiring dengan sukacita, kata-kata itu meramalkan pencobaan besar bagi Maria. Mengapa? Karena pada saat itu ia masih "bertunangan" (ayat 27); ia belum menikah. Ia bertunangan dengan Yusuf. Dalam situasi seperti itu, Hukum Musa menetapkan tidak memperbolehkan persetubuhan atau hidup bersama. Oleh karena itu, dengan memiliki seorang putra, Maria akan melanggar Hukum, dan hukuman bagi perempuan sangat mengerikan : rajam (lihat Ul 22:20-21). Pastinya pesan ilahi akan memenuhi hati Maria dengan terang dan kekuatan; meskipun demikian, ia mendapati dirinya dihadapkan pada keputusan penting : mengatakan "ya" kepada Allah, mempertaruhkan segalanya, bahkan nyawanya, atau menolak undangan dan melanjutkan kehidupannya yang biasa.

 

Apa yang diperbuatnya? Ia menjawab sebagai berikut : “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Namun dalam bahasa yang tertulis pada Injil, tidak sekadar “jadilah”. Ungkapan tersebut menunjukkan keinginan yang kuat, menunjukkan keinginan bahwa sesuatu akan terjadi. Dengan kata lain, Maria tidak berkata : “Jika itu harus terjadi, biarlah terjadi…, demikian pun jika tidak …”. Bukan sikap terima nasib. Tidak, ia tidak mengungkapkan penerimaan yang lemah dan terserah, melainkan ia mengungkapkan keinginan yang kuat, keinginan yang riang. Ia tidak pasif, tapi aktif. Ia tidak terserah Allah, ia mengikatkan dirinya pada Allah. Ia adalah perempuan yang sedang jatuh cinta yang siap sepenuhnya dan segera untuk melayani Tuhannya. Ia bisa saja meminta sedikit waktu untuk memikirkannya, atau bahkan lebih banyak penjelasan tentang apa yang akan terjadi; mungkin ia bisa menetapkan beberapa persyaratan ... Sebaliknya, ia tidak membutuhkan waktu, ia tidak membuat Allah menunggu, ia tidak menunda.

 

Seberapa sering - mari kita pikirkan diri kita sendiri sekarang - seberapa sering hidup kita berupa penundaan, bahkan kehidupan rohani! Misalnya, saya tahu berdoa baik bagi saya, tetapi hari ini saya tidak punya waktu… besok… dengan mengatakan “besok, besok, besok”, kita menunda sesuatu : saya akan melakukannya besok. Saya tahu pentingnya membantu seseorang, ya, saya harus melakukannya: Saya akan melakukannya besok. Hari ini, di ambang Natal, Maria mengajak kita untuk tidak menunda, tetapi mengatakan "ya". “Haruskah saya berdoa!” “Ya, saya akan mengusahakan dan berdoa”. “Haruskah saya membantu orang lain? Ya". Bagaimana saya harus melakukannya? Dan saya melakukannya. Tanpa menundanya. Setiap "ya" membutuhkan sesuatu, setiap "ya" ada harganya, tetapi selalu lebih murah daripada biaya "ya"-nya yang berani dan cepat, "jadilah padaku menurut perkataanmu itu" tersebut, yang membawakan kita keselamatan.

 

Lalu, "ya" apa yang bisa kita katakan? Alih-alih mengeluh di masa-masa sulit ini tentang apa yang pandemi halangi terhadap diri kita, marilah kita berbuat sesuatu untuk seseorang yang memiliki lebih sedikit : bukan hadiah kesekian untuk diri kita sendiri dan teman-teman kita, tetapi untuk orang yang membutuhkan yang tidak terpikirkan oleh siapa pun! Dan nasihat lainnya : agar Yesus lahir di dalam diri kita, marilah kita mempersiapkan hati kita, marilah kita pergi berdoa, jangan biarkan diri kita terbawa arus konsumerisme. “Ah, saya harus membeli hadiah, saya harus melakukan ini dan itu”. Kegilaan dalam melakukan sesuatu, semakin banyak. Yesuslah yang penting. Konsumerisme tidak ditemukan dalam palungan di Betlehem : ada kenyataan, kemiskinan, cinta. Marilah kita mempersiapkan hati kita untuk menjadi seperti hati Maria: bebas dari kejahatan, menyambut, siap menerima Allah.

 

“Jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Inilah kata terakhir Perawan Maria untuk Hari Minggu Adven terakhir ini, dan inilah undangan untuk mengambil langkah tulus menuju Natal. Karena jika kelahiran Yesus tidak menjamah hidup kita - hidup saya, hidupmu, hidupmu, hidup kita, hidup semua orang - jika kelahiran Yesus tidak menjamah hidup kita, kelahiran itu akan berlalu dengan sia-sia. Sekarang dalam doa Malaikat Tuhan, kita juga akan mengucapkan “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu”: Semoga Bunda Maria membantu kita mengucapkannya dengan hidup kita, dengan pendekatan kita pada hari-hari terakhir ini guna mempersiapkan diri kita dengan baik untuk Natal.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari yang terkasih, pandemi virus Corona telah menyebabkan kesusahan terutama bagi pekerja maritim. Banyak dari mereka - diperkirakan 400.000 di seluruh dunia - terdampar di kapal, di luar ketentuan kontrak mereka, dan tidak dapat kembali ke rumah. Saya memohon kepada Perawan Maria, Stella Maris, untuk menghibur orang-orang ini dan semua yang berada dalam situasi sulit, serta saya mendorong pemerintah untuk melakukan semua yang mereka bisa untuk memungkinkan orang-orang itu kembali ke orang-orang yang mereka cintai.

 

Tahun ini para penyelenggara memiliki gagasan bagus untuk mengadakan pameran "100 Adegan Natal" di bawah barisan tiang. Ada banyak pajangan kelahiran yang benar-benar merupakan katekese iman umat Allah. Saya mengundang kalian untuk mengunjungi adegan kelahiran di bawah barisan tiang, untuk memahami bagaimana orang-orang mencoba menunjukkan bagaimana Yesus dilahirkan melalui karya seni. Tempat tidur bayi di bawah barisan tiang adalah katekese luar biasa iman kita.

 

 

Saya menyapa kalian semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara, keluarga, kelompok paroki, lembaga dan umat beriman. Semoga Natal, sekarang sudah dekat, menjadi kesempatan bagi kita masing-masing untuk membaharui batin, doa, pertobatan, langkah maju dalam iman dan persaudaraan di antara kita sendiri. Marilah kita melihat sekeliling kita, marilah kita melihat terutama mereka yang membutuhkan : saudara yang menderita, di manapun ia berada, adalah salah seorang dari kita. Ia adalah Yesus di dalam palungan : orang yang menderita adalah Yesus. Mari kita sedikit memikirkan hal ini. Perkenankan Natal merupakan kedekatan dengan Yesus, dalam saudara dan saudari ini. Di dalam saudara yang membutuhkan, ada Kelahiran Yesus yang harus kita tuju dalam kesetiakawanan. Inilah adegan Natal yang hidup : adegan Natal di mana kita benar-benar bertemu Sang Penebus dalam diri orang-orang yang membutuhkan. Oleh karena itu, marilah kita melakukan perjalanan menuju malam kudus dan menunggu penggenapan misteri keselamatan.

 

Dan kepada semuanya saya mengucapkan selamat Hari Minggu. Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat makan siang, dan sampai jumpa!

____

 

(Peter Suriadi – Bogor, 20 Desember 2020)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 13 Desember 2020 : JANGAN LUPA BERSUKACITA


Saudara dan saudari yang terkasih,

 

Selamat pagi!

 

Ajakan untuk bersukacita adalah ciri khas Masa Adven : pengharapan akan kelahiran Yesus yang kita alami adalah penuh sukacita, agak seperti ketika kita menantikan kunjungan orang yang sangat kita cintai, misalnya, seorang sahabat yang lama tidak kita lihat, seorang kerabat .... Kita berada dalam antisipasi yang penuh sukacita. Dan dimensi sukacita ini muncul khususnya hari ini, Hari Minggu Adven III, yang dibuka dengan seruan Santo Paulus : "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan" (Antifon Pembuka; bdk. Flp 4:4,5). "Bersukacitalah!" Sukacita Kristiani. Dan apa alasan dari sukacita ini? Karena "Tuhan sudah dekat" (ayat 5). Semakin dekat Tuhan dengan kita, semakin besar sukacita yang kita rasakan; semakin jauh Dia, semakin banyak dukacita yang kita rasakan. Inilah aturan bagi umat Kristiani. Suatu ketika seorang filsuf mengatakan sesuatu yang kurang lebih seperti ini : “Saya tidak mengerti bagaimana hari ini seseorang bisa percaya, karena mereka yang mengatakannya adalah orang-orang dengan raut wajah saat acara pemakaman. Mereka tidak memberikan kesaksian tentang sukacita kebangkitan Yesus Kristus”. Banyak orang Kristiani memiliki raut wajah itu, ya, raut wajah saat acara pemakaman, raut wajah kesedihan .... Tetapi Kristus telah bangkit! Kristus mengasihimu! Dan kamu tidak bersukacita? Marilah kita pikirkan sedikit tentang hal ini dan marilah kita bertanya : “Apakah aku bersukacita karena Tuhan dekat denganku, karena Tuhan mengasihiku, karena Tuhan telah menebusku?”.

 

Hari ini Injil menurut Yohanes menyajikan kepada kita sosok biblis yang - tidak termasuk Bunda Maria dan Santo Yusuf - pertama dan paling sepenuhnya mengalami pengharapan akan Mesias dan sukacita melihat-Nya tiba : secara alami, kita sedang berbicara tentang Yohanes Pembaptis (bdk. Yoh 1:6-8,19-28).

 

Penginjil memperkenalkannya secara resmi : "Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu" (ayat 6-7). Yohanes Pembaptis adalah saksi pertama Yesus, dengan perkataan dan arunia hidupnya. Keempat Injil sepakat dalam menunjukkan bahwa ia menggenapi perutusannya dengan menunjukkan Yesus sebagai Kristus, Sosok yang diutus oleh Allah, dijanjikan oleh para nabi. Yohanes adalah pemimpin pada masanya. Kemasyhurannya telah menyebar ke seluruh Yudea dan sekitarnya, ke Galilea. Tetapi ia tidak menyerah bahkan dalam sekejap pun pada godaan untuk memperhatikan dirinya : ia senantiasa mengarahkan dirinya kepada Dia yang datang kemudian. Ia biasa mengatakan : “Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak" (ayat 27). Senantiasa tertuju pada Tuhan. Seperti Bunda Maria : senantiasa tertuju pada Tuhan : “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”. Tuhan senantiasa berada di pusat. Para kudus di sekitar-Nya, tertuju pada Tuhan. Dan orang yang tidak tertuju pada Tuhan tidak kudus! Inilah syarat pertama sukacita Kristiani : tidak berpusat pada diri sendiri dan menempatkan Yesus sebagai pusat. Ini bukan keterasingan, karena Yesus sungguh pusatnya; Ia adalah terang yang memberi arti penuh bagi kehidupan setiap manusia yang datang ke dunia ini. Dinamisme kasih tersebut juga menuntun saya untuk keluar dari diri saya sendiri, bukan untuk kehilangan diri sendiri saya tetapi menemukan diri saya lagi, seraya saya memberikan diri saya, seraya saya mengusahakan kebaikan orang lain.

 

Yohanes Pembaptis melakukan perjalanan panjang untuk menjadi saksi Yesus. Perjalanan sukacita bukanlah berjalan-jalan di taman. Perlu kerja keras untuk senantiasa bersukacita. Yohanes meninggalkan segalanya, di masa mudanya, untuk mengutamakan Allah, mendengarkan Sabda-Nya dengan segenap hati dan segenap kekuatannya. Yohanes menarik diri ke padang gurun, menelanjangi dirinya dari segala hal yang berlebihan, agar lebih bebas mengikuti angin Roh Kudus. Tentu saja, beberapa ciri kepribadiannya unik, tidak dapat terulangi; ciri-ciri tersebut tidak dapat dianjurkan untuk semua orang. Tetapi kesaksiannya bersifat paradigmatik bagi siapa pun yang ingin mencari makna hidupnya dan menemukan sukacita sejati. Secara khusus, Yohanes Pembaptis adalah teladan bagi mereka yang ada dalam Gereja yang dipanggil untuk mewartakan Kristus kepada orang lain : mereka dapat melakukannya hanya dengan melepaskan diri dari diri mereka sendiri dan dari keduniawian, dengan tidak menarik orang-orang kepada diri mereka sendiri tetapi mengarahkan mereka kepada Yesus.

 

Inilah sukacita : mengarahkan kepada Yesus. Dan sukacita harus menjadi ciri khas iman kita. Dan di saat-saat kelam, sukacita batin itu, memahami bahwa Tuhan beserta saya, bahwa Tuhan beserta kita, bahwa Tuhan telah bangkit. Tuhan! Tuhan! Tuhan! Inilah pusat kehidupan kita, dan inilah pusat sukacita kita. Pikirkan baik-baik hari ini : bagaimana saya bersikap? Apakah saya orang yang bersukacita yang tahu bagaimana menyampaikan sukacita menjadi orang Kristiani, atau apakah saya senantiasa seperti orang-orang yang sedih itu, seperti yang saya katakan sebelumnya, yang tampaknya berada di acara pemakaman? Jika saya tidak memiliki sukacita iman saya, saya tidak dapat memberikan kesaksian dan orang lain akan berkata : “Tetapi jika iman begitu menyedihkan, lebih baik tidak beriman”.

 

Dengan mendaraskan doa Malaikat Tuhan sekarang, kita melihat semua ini terwujud sepenuhnya dalam diri Perawan Maria : ia diam-diam menantikan Sabda keselamatan Allah; ia menyambutnya; ia mendengarkannya; ia mengandungnya. Dalam dirinya, Allah menjadi dekat. Inilah sebabnya Gereja menyebut Maria sebagai “Penyebab sukacita kita”.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, saya menyambut kalian semua, umat Roma dan para peziarah.

 

Secara khusus saya menyapa kelompok yang telah datang sebagai perwakilan dari keluarga dan anak-anak Roma, untuk acara pemberkatan patung-patung “Bayi Yesus”, sebuah acara yang diselenggarakan oleh Centro Oratori Romani. Tahun ini hanya sedikit dari kalian yang berada di sini karena pandemi, tetapi saya tahu bahwa banyak anak dan remaja berkumpul di pusat kaum muda dan di rumah mereka serta mengikuti kami melalui sarana komunikasi. Saya menyampaikan salam kepada semuanya dan saya memberkati patung Yesus, yang akan ditempatkan di Kandang Natal, sebuah tanda harapan dan sukacita. Dalam keheningan, marilah kita memberkati patung Bayi Yesus : Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Ketika kalian berdoa di rumah, di depan Kandang Natal bersama keluarga kalian, perkenankan dirimu tertarik oleh kelembutan Bayi Yesus, yang lahir miskin dan lemah di antara kita, untuk memberikan kasih-Nya kepada kita.

 

Kepada semuanya saya mengucapkan selamat hari Minggu. Jangan lupakan sukacita! Umat Kristiani bersukacita dalam hati, bahkan dalam pencobaan. Mereka bersukacita karena mereka dekat dengan Yesus : Dialah yang memberi kita sukacita. Dan, tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang. Sampai jumpa!

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 8 Desember 2020 : TENTANG HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIKANDUNG TANPA NODA


Saudara-saudari yang terkasih, selamat siang!

 

Pesta liturgi hari ini merayakan salah satu keajaiban kisah keselamatan : Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Meskipun ia diselamatkan oleh Kristus, tetapi dengan cara yang luar biasa, karena Allah menghendaki bunda Putra-Nya tidak terjamah kesengsaraan dosa sejak ia dikandung. Jadi, sepanjang hidupnya di dunia, Maria bebas dari noda dosa, ia adalah "sang penuh rahmat" (Luk 1:28), sebagaimana malaikat memanggilnya. Ia diistimewakan oleh tindakan tunggal Roh Kudus agar senantiasa tetap dalam hubungan yang sempurna dengan Putranya, Yesus. Malahan, ia adalah murid Yesus : bunda dan murid-Nya. Tetapi tidak ada dosa dalam dirinya.

 

Dalam madah yang sangat indah yang membuka surat kepada jemaat Efesus (lihat 1:3-6,11-12), Santo Paulus membuat kita memahami bahwa setiap manusia diciptakan oleh Allah untuk kepenuhan kekudusan, untuk keindahan yang dikenakan Bunda Maria sejak awal. Tujuan panggilan kita tersebut juga merupakan rahmat Allah bagi kita, yang karenanya, Rasul Paulus mengatakan bahwa Ia “telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya” (ayat 4); Ia menentukan kita (lihat ayat 5), di dalam Kristus untuk benar-benar bebas dari dosa suatu hari nanti. Dan ini adalah rahmat, bersifat cuma-cuma, karunia Allah.

 

Dan apa yang dimiliki Maria sejak awal, akan kita miliki pada akhirnya, setelah kita melewati “bejana” rahmat Allah yang memurnikan. Rahmat Allah, yang kita terima dengan setia merupakan apa yang membukakan pintu surga bagi kita. Tetapi, bahkan orang-orang yang paling tidak berdosa sekalipun, ditandai oleh dosa asal dan berjuang dengan segenap kekuatan mereka untuk melawan akibatnya. Mereka melewati “pintu sempit” menuju kehidupan (lihat Luk 13:24). Dan tahukah kamu siapa orang pertama yang kita yakini masuk surga? Tahukah kamu siapa? Seorang "penyamun" : salah seorang dari dua penjahat yang disalibkan bersama Yesus. Dan ia berpaling kepada Yesus dan berkata : "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja". Dan Ia menjawab : “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk 23:42-43). Saudara dan saudari, rahmat Allah ditawarkan kepada semua orang; dan banyak orang yang paling hina di bumi ini akan menjadi orang pertama berada di surga (lihat Mrk 10:31).

 

Tetapi berhati-hatilah. Tidak ada gunanya pintar - terus-menerus menunda evaluasi yang sungguh-sungguh atas kehidupan kita, mengambil keuntungan dari kesabaran Tuhan. Ia sabar. Ia menanti kita, Ia senantiasa siap memberikan rahmat kepada kita. Kita mungkin bisa menipu orang-orang, tetapi tidak bisa menipu Allah; Ia mengetahui hati kita lebih baik daripada diri kita sendiri. Marilah kita memanfaatkan momen saat ini! Ya, inilah pemahaman umat Kristiani tentang menggapai hari. Tidak menikmati kehidupan di setiap momen yang berlalu - tidak, ini adalah pemahaman duniawi. Tetapi menggapai hari ini, mengatakan "tidak" terhadap kejahatan dan "ya" terhadap Allah, membuka diri kita terhadap rahmat-Nya, mulai dari sekarang dan seterusnya berhenti memikirkan diri kita sendiri, menyeret diri kita ke dalam kemunafikan dan menghadapi kenyataan kita apa adanya - inilah kita apa adanya - menyadari bahwa kita belum mengasihi Allah dan sesama sebagaimana seharusnya. Dan mengakuinya, inilah awal perjalanan pertobatan, pertama-tama memohon pengampunan Tuhan dalam Sakramen Rekonsiliasi, dan kemudian memulihkan kecemaran yang terjadi pada sesama. Tetapi senantiasa terbuka terhadap rahmat : Tuhan mengetuk pintu kita, Ia mengetuk hati kita untuk masuk ke dalam persahabatan dengan kita, dalam persekutuan, memberikan keselamatan kepada kita.

 

Dan bagi kita, ini adalah jalan untuk menjadi "kudus dan tak bercela". Keindahan Bunda kita yang tidak bernoda tiada taranya, tetapi pada saat yang sama menarik kita. Marilah kita memercayakan diri kita kepada Maria dan mengatakan "tidak" terhadap dosa dan "ya" terhadap rahmat sekarang juga dan selamanya.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saya menyapa kalian semua, umat Roma, dan para peziarah dari berbagai negara, serta saya menyapa kelompok “Imakulata”, hari ini, pada Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda : mereka luar biasa, mereka senantiasa berada di sini!

 

Hari ini, anggota Aksi Katolik Italia memperbarui komitmen mereka terhadap Lembaga. Saya menyampaikan salam kepada kalian dan mengharapkan yang terbaik untuk kalian. Saya juga berdoa agar Kristus terbentuk di dalam diri kalian, seperti yang ditulis Santo Paulus, dan agar kalian menjadi para pengrajin persaudaraan.

 

Saya menyapa perwakilan kota Rocca di Papa yang hari ini, menurut tradisi, akan menyalakan bintang Natal di benteng kota. Semoga terang Kristus senantiasa menerangi komunitas kalian.

 

Seperti yang kalian ketahui, sore ini penghormatan tradisional terhadap Yang Dikandung Tanpa Noda di Piazza di Spagna tidak akan berlangsung, untuk menghindari resiko berkumpulnya massa, seperti yang ditetapkan oleh otoritas sipil, yang perlu kita patuhi. Tetapi hal ini tidak menghalangi kita untuk mempersembahkan kepada Bunda kita bunga yang paling disukainya : doa, penebusan dosa, hati yang terbuka terhadap rahmat.

 

Meskipun demikian, pagi-pagi sekali, saya secara pribadi pergi ke Piazza di Spagna dan kemudian ke [Basilika] Santa Maria Magiore untuk merayakan Misa.

 

Saya mengucapkan Selamat Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda kepada semuanya. Dan, tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang, dan sampai jumpu!

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Desember 2020)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 6 Desember 2020 : ADVEN ADALAH PERJALANAN PERTOBATAN


Saudara dan saudari terkasih,

 

Selamat pagi!

 

Bacaan Injil hari Minggu ini (Mrk 1:1-8) memperkenalkan pribadi dan karya Yohanes Pembaptis. Ia mengungkapkan kepada orang-orang sezamannya sebuah rencana perjalanan iman yang mirip dengan yang diusulkan Masa Adven kepada kita : perjalanan kita mempersiapkan diri untuk menerima Tuhan pada hari Natal. Rencana perjalanan iman ini adalah rencana perjalanan pertobatan. Apa arti kata 'pertobatan'? Dalam Alkitab pertobatan berarti, pertama-tama dan terutama, mengubah arah dan orientasi; dan dengan demikian juga mengubah cara berpikir kita. Dalam kehidupan moral dan spiritual, bertobat berarti mengubah diri kita dari kejahatan menjadi kebaikan, dari dosa menjadi cinta kepada Allah. Dan inilah apa yang sedang diajarkan Yohanes Pembaptis, yang di gurun Yudea “memberitakan baptisan pertobatan untuk pengampunan dosa” (ayat 4). Menerima baptisan adalah tanda lahiriah dan kasat mata dari pertobatan orang-orang yang telah mendengarkan khotbahnya dan memutuskan untuk melakukan penebusan dosa. Baptisan yang terjadi dengan penenggelaman di sungai Yordan, di dalam air, terbukti tak berarti; baptisan tersebut hanya sebuah tanda dan tidak ada artinya jika tidak ada kemauan untuk melakukan penebusan  dosa dan mengubah hidup kita.

 

Pertobatan melibatkan kesedihan atas dosa yang dilakukan, keinginan untuk bebas daripadanya, niat untuk menyingkirkannya dari kehidupan kita selamanya. Untuk menyingkirkan dosa, menolak segala sesuatu yang berhubungan dengan dosa penting juga; mentalitas duniawi, penghargaan yang berlebihan untuk kenyamanan, penghargaan yang berlebihan untuk kesenangan, untuk kesejahteraan, untuk kekayaan adalah hal-hal yang berhubungan dengan dosa dan perlu ditolak. Contoh yang menggambarkan hal ini datang kepada kita sekali lagi dari Injil hari ini dalam pribadi Yohanes Pembaptis : seorang laki-laki yang sederhana yang menyangkal hal yang berlebihan dan mengusahakan yang pokok. Ini adalah aspek pertama dari pertobatan : ketidakterikatan terhadap dosa dan keduniawian : Memulai sebuah perjalanan ketidakterikatan terhadap hal-hal ini.

 

Aspek lain dari pertobatan adalah tujuan perjalanan tersebut, yaitu mencari Allah dan kerajaan-Nya. Ketidakterikatan terhadap hal-hal duniawi serta mencari Allah dan kerajaan-Nya. Meninggalkan kenyamanan dan mentalitas duniawi bukanlah tujuan itu sendiri; melakukan penebusan dosa bukanlah asketis : seorang Kristiani bukanlah seorang "pelaku asketis". Asketis adalah sesuatu yang lain. Ketidakterikatan bukanlah tujuan itu sendiri tetapi merupakan sarana untuk mencapai sesuatu yang lebih besar, yaitu kerajaan Allah, persekutuan dengan Allah, persahabatan dengan Allah. Tetapi ini tidak mudah, karena ada banyak ikatan yang mengikat erat kita dengan dosa; tidak mudah ... Godaan selalu meruntuhkan, meruntuhkan, dan dengan demikian ikatan tersebut membuat kita tetap dekat dengan dosa : ketidakteguhan, keputusasaan, kedengkian, lingkungan yang tidak baik, contoh yang buruk. Kadang-kadang kerinduan yang kita rasakan terhadap Tuhan terlalu lemah dan sepertinya Allah diam saja; janji penghiburan-Nya tampak jauh dan tidak nyata bagi kita, seperti gambaran gembala yang penuh perhatian dan peduli, yang bergema hari ini dalam Bacaan dari kitab nabi Yesaya (40:1,11). Maka kita tergoda untuk mengatakan bahwa tidak mungkin untuk benar-benar bertobat. Betapa sering kita mendengar keputusasaan ini! “Tidak, aku tidak bisa melakukannya. Aku baru saja mulai, dan kemudian aku kembali”. Dan hal ini buruk. Tetapi itu mungkin. Itu mungkin. Ketika kamu memiliki pikiran yang mengecewakan ini, jangan tinggal di sana, karena hal ini adalah pasir apung. Pasir apung : pasir apung keberadaan yang biasa-biasa saja. Ini adalah hal biasa-biasa saja. Apa yang dapat kita lakukan dalam kasus ini, ketika kita ingin pergi tetapi merasa tidak dapat melakukannya? Pertama-tama, ingatkan diri kita sendiri bahwa pertobatan adalah rahmat : tidak ada yang bisa bertobat dengan kekuatannya sendiri. Pertobatan adalah rahmat yang diberikan Allah kepadamu, dan oleh karena itu kita perlu memohonkannya dengan paksa. Memohon kepada Allah untuk mengubah kita hingga tingkatan di mana kita membuka diri terhadap keindahan, kebaikan, kelembutan Allah. Pikirkan tentang kelembutan Allah. Allah bukanlah Bapa yang jahat, Bapa yang tidak baik, tidak. Ia lembut. Ia sangat mengasihi kita, seperti Gembala yang baik, yang mencari domba terakhir dari kawanan domba-Nya. Demikianlah kasih, dan ini adalah pertobatan : rahmat Allah. Kamu mulai berjalan, karena Dialah yang menggerakkanmu untuk berjalan, dan kamu akan melihat bagaimana Ia akan sampai. Berdoa, berjalan, dan kamu akan selalu maju selangkah.

 

Semoga Santa Maria, yang akan kita rayakan lusa sebagai Yang Dikandung Tanpa Noda, membantu kita untuk semakin memisahkan diri kita dari dosa dan keduniawian, guna membuka diri kita terhadap Allah, terhadap Sabda-Nya, terhadap kasih-Nya yang memulihkan dan menyelamatkan.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, saya dengan sepenuh hati menyapa kalian semua yang hadir di sini - dengan cuaca buruk ini, kalian pemberani - umat Roma dan para peziarah, serta mereka yang terhubung melalui media.

 

Seperti yang kalian lihat, di Lapangan [Santo Petrus] pohon Natal telah dipancangkan dan Kandang Natal sedang didirikan. Pada hari-hari ini, juga di banyak rumah, kedua tanda Natal ini sedang dipersiapkan, untuk menyenangkan anak-anak … dan juga orang dewasa! Keduanya adalah tanda-tanda harapan, terutama di masa sulit ini. Marilah kita memastikan bahwa kita tidak berhenti pada tanda itu, tetapi memahami maknanya, yaitu, menuju Yesus, menuju kasih Allah yang dinyatakan-Nya kepada kita; merengkuh kebaikan yang tak terbatas yang Ia jadikan bersinar di dunia. Tidak ada pandemi, tidak ada krisis yang bisa memadamkan cahaya ini. Marilah kita memperkenankannya masuk ke dalam hati kita, dan marilah kita mengulurkan tangan kepada mereka yang paling membutuhkan. Dengan cara ini, Allah akan lahir baru di dalam diri kita dan di antara kita.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 29 NOVEMBER 2020 : TENTANG MASA ADVEN


Saudara dan saudari terkasih, selamat siang!

 

Hari ini, Hari Minggu Adven I, tahun liturgi baru dimulai. Di dalamnya, Gereja menandai berlalunya waktu dengan perayaan peristiwa-peristiwa utama dalam kehidupan Yesus dan kisah keselamatan. Dengan melakukan hal itu, sebagai Ibu, Gereja menerangi jalan keberadaan kita, mendukung kita dalam pekerjaan sehari-hari dan membimbing kita menuju perjumpaan terakhir dengan Kristus. Liturgi hari ini mengundang kita untuk menjalani “Masa penting” pertama, yaitu Masa Adven, awal tahun liturgi, Adven, yang mempersiapkan kita untuk Natal, dan oleh karena itu Adven adalah saat pengharapan dan saat harapan. Pengharapan dan harapan.

 

Santo Paulus (lihat 1 Kor 1:3-9) menunjukkan sasaran pengharapan kita. Apa itu? "Pernyataan Tuhan" (ayat 7). Rasul Paulus mengundang jemaat Kristiani di Korintus, dan kita juga, untuk memusatkan perhatian kita pada perjumpaan dengan Yesus. Bagi seorang Kristiani, hal yang paling penting adalah perjumpaan terus menerus dengan Tuhan, berada bersama Tuhan. Dan dengan cara ini, terbiasa tinggal bersama Tuhan Sang Empunya Kehidupan, kita mempersiapkan diri untuk perjumpaan itu, untuk bersama Tuhan selama-lamanya. Dan perjumpaan yang menentukan ini akan tiba di kesudahan dunia. Tetapi Tuhan datang setiap hari, sehingga, dengan rahmat-Nya, kita dapat mencapai kebaikan dalam hidup kita sendiri dan dalam kehidupan orang lain. Allah kita adalah Allah yang datang, jangan lupakan hal ini : Allah adalah Allah yang datang, yang senantiasa datang. Penantian kita tidak akan dikecewakan oleh-Nya! Tuhan tidak pernah mengecewakan. Ia mungkin akan membuat kita menunggu, Ia akan membuat kita menunggu beberapa saat dalam kegelapan untuk membiarkan pengharapan kita matang, tetapi Dia tidak pernah mengecewakan. Tuhan selalu datang, Dia selalu di sisi kita. Kadang-kadang Dia tidak membuat diri-Nya terlihat, tetapi Ia senantiasa datang. Ia datang pada saat yang tepat dalam sejarah dan menjadi manusia untuk menanggung dosa-dosa kita - pesta Kelahiran memperingati kedatangan Yesus yang pertama dalam saat yang bersejarah -; Ia akan datang di akhir zaman sebagai hakim semesta; Ia datang setiap hari untuk mengunjungi umat-Nya, mengunjungi setiap pria dan wanita yang menerima-Nya dalam Sabda, dalam Sakramen, di dalam diri saudara dan saudari mereka. Yesus, Kitab Suci mengatakan kepada kita, ada di depan pintu dan mengetuk. Setiap hari. Ia ada di depan pintu hati kita. Ia mengetuk. Tahukah kamu bagaimana mendengarkan Tuhan yang mengetuk, yang telah datang hari ini untuk mengunjungimu, yang mengetuk hatimu dengan gelisah, dengan sebuah gagasan, dengan ilham? Ia datang ke Betlehem, Ia akan datang di akhir dunia, tetapi setiap hari Ia datang kepada kita. Camkan, lihat apa yang kamu rasakan dalam hatimu saat Tuhan mengetuk.

 

Kita sangat menyadari bahwa hidup terdiri dari pasang surut, terang dan bayang-bayang. Kita masing-masing mengalami saat-saat kecewa, gagal dan tersesat. Selain itu, situasi yang kita jalani, ditandai dengan pandemi, menimbulkan kekhawatiran, ketakutan, dan keputusasaan pada banyak orang; kita beresiko jatuh ke dalam pesimisme, beresiko jatuh ke dalam ketertutupan dan sikap acuh tak acuh. Bagaimana seharusnya reaksi kita dalam menghadapi semua ini? Mazmur hari ini menyarankan : “Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan. Dialah penolong kita dan perisai kita! Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya” (Mzm 33:20-21). Artinya, jiwa yang menunggu, dengan percaya diri menunggu Tuhan, memungkinkan kita untuk menemukan kenyamanan dan keberanian di saat-saat gelap hidup kita. Dan apa yang membangkitkan keberanian dan janji yang dapat dipercaya ini? Keduanya berasal dari mana? Keduanya lahir dari harapan. Dan harapan tidak mengecewakan, kebajikan yang menuntun kita ke depan, memandang perjumpaan dengan Tuhan.

 

Adven adalah panggilan terus menerus untuk berharap : Adven mengingatkan kita bahwa Allah hadir dalam sejarah untuk menuntunnya ke tujuan akhirnya dan menuntun kita menuju kegenapannya, yaitu Tuhan, Tuhan Yesus Kristus. Allah hadir dalam sejarah umat manusia, Ia adalah “Allah beserta kita”, Allah tidak jauh, Ia senantiasa beserta kita, sejauh itu Ia sangat sering mengetuk pintu hati kita. Allah berjalan di samping kita untuk mendukung kita. Allah tidak meninggalkan kita; Ia menyertai kita melalui peristiwa-peristiwa dalam hidup kita untuk membantu kita menemukan makna perjalanan makna kehidupan sehari-hari, untuk memberi kita keberanian ketika kita berada di bawah tekanan atau ketika kita menderita. Di tengah badai kehidupan, Allah senantiasa mengulurkan tangan-Nya kepada kita dan membebaskan kita dari berbagai ancaman. Ini indah! Dalam kitab Ulangan ada bagian yang sangat indah, yang di dalamnya Nabi Musa berkata kepada orang-orang : "Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti Tuhan, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya?" Tidak seorang pun, hanya kita yang memiliki rahmat memiliki Allah yang dekat dengan kita ini. Kita menantikan Allah, kita berharap Ia mewujudkan diri-Nya, tetapi Ia juga berharap kita mewujudkan diri kita kepada-Nya!

 

Semoga Santa Maria, perempuan pengharapan, menyertai langkah kita di awal tahun liturgi baru ini, dan membantu kita memenuhi tugas murid-murid Yesus, yang ditunjukkan oleh Rasul Petrus : Dan apa tugas ini? Mempertanggungjawabkan pengharapan yang ada di dalam diri kita (lihat 1 Ptr 3:15).

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari yang terkasih,

 

Saya ingin mengungkapkan kedekatan saya dengan penduduk Amerika Tengah yang dilanda angin topan yang kuat. Secara khusus saya mengingat Pulau San Andrés, Providencia dan Santa Catalina, serta pantai Pasifik di utara Kolombia. Saya mendoakan semua negara yang sedang menderita akibat bencana ini.

 

Dengan hangat saya kembali menyapa kalian, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara. Secara khusus, saya menyapa orang-orang yang, sayangnya dalam jumlah yang sangat terbatas, telah datang pada kesempatan pengangkatan para kardinal baru, yang berlangsung kemarin sore. Marilah kita mendoakan tiga belas orang anggota baru Dewan Kardinal tersebut.

 

Kepada kalian semua saya mengucapkan bahagia hari Minggu dan bahagia perjalanan Adven. Marilah kita mencoba membawa kebaikan bahkan dari situasi sulit yang ditimbulkan oleh pandemi pada kita : ketenangan yang semakin besar, bijaksana dan hormat kepada orang lain yang mungkin membutuhkan, juga beberapa saat doa di dalam keluarga, dengan kesederhanaan. Ketiga hal ini akan sangat membantu kita : ketenangan hati yang semakin besar, bijaksana dan hormat kepada orang lain yang mungkin membutuhkan, dan, yang paling penting, juga beberapa saat doa di dalam keluarga, dengan kesederhanaan. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang, dan sampai jumpa.