Liturgical Calendar

Showing posts with label Wejangan Audiensi Umum 2020. Show all posts
Showing posts with label Wejangan Audiensi Umum 2020. Show all posts

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 30 Desember 2020 : KATEKESE TENTANG DOA (BAGIAN 20)


Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini, saya ingin berfokus pada doa syukur. Dan saya mengacu pada sebuah kisah yang diceritakan oleh Penginjil Lukas. Saat Yesus dalam perjalanan, sepuluh orang kusta mendekati-Nya dan memohon kepada-Nya : "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" (17:13). Kita tahu bahwa orang kusta tidak hanya menderita secara jasmani, tetapi juga peminggiran secara sosial dan agama. Mereka terpinggirkan. Yesus pantang mundur untuk bertemu mereka. Kadang-kadang, Ia melampaui batasan yang diberlakukan oleh hukum serta menjamah, merangkul dan menyembuhkan orang sakit - yang seharusnya tidak diperbolehkan. Dalam kasus ini, tidak ada kontak. Dari kejauhan, Yesus mengajak mereka untuk memperlihatkan diri kepada imam-imam (ayat 14), yang ditunjuk oleh hukum untuk menyatakan kesembuhan telah terjadi. Yesus tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia mendengarkan doa mereka, Ia mendengarkan teriakan mereka memohon belas kasihan, dan Ia segera mengutus mereka kepada para imam.

 

Sepuluh orang kusta itu percaya, mereka tidak tinggal diam di sana sampai mereka sembuh, tidak : mereka percaya dan mereka segera pergi, dan sementara mereka dalam perjalanan, mereka sembuh, kesepuluh orang kusta itu sembuh. Oleh karena itu, para imam dapat memastikan kesembuhan mereka dan mengembalikan mereka ke kehidupan normal. Tetapi di sinilah masuknya poin penting : hanya satu orang kusta, sebelum pergi kepada para imam, yang kembali untuk berterima kasih kepada Yesus dan memuji Allah atas rahmat yang diterima. Hanya satu orang kusta, sembilan orang kusta lainnya melanjutkan perjalanan mereka. Dan Yesus menunjukkan bahwa orang itu adalah orang dari kaum Samaria, semacam "bidaah" bagi orang Yahudi pada masa itu. Yesus berujar : "Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" (17:18). Kisah ini menyentuh.

 

Kisah ini, bisa dikatakan, membagi dunia menjadi dua : orang-orang yang tidak mengucap syukur dan orang-orang yang mengucap syukur; orang-orang yang menerima segalanya seolah-olah itu hak mereka, dan orang-orang yang menyambut segalanya sebagai karunia, sebagai rahmat. Katekismus mengatakan : "tiap kejadian dan kebutuhan dapat menjadi kurban syukur" (no. 2638). Doa syukur selalu dimulai di sini : mengenali bahwa rahmat mendahului kita. Kita dipikirkan sebelum kita belajar bagaimana berpikir; kita dikasihi sebelum kita belajar bagaimana mengasihi; kita diinginkan sebelum hati kita mengandung sebuah keinginan. Jika kita memandang hidup seperti ini, maka “terima kasih” menjadi kekuatan pendorong zaman kita. Dan seberapa sering kita bahkan lupa mengucapkan "terima kasih".

 

Bagi kita umat Kristiani, syukur adalah nama yang diberikan pada sakramen yang paling hakiki dari sakramen-sakramen yang ada : Ekaristi. Sebenarnya, kata Yunani tersebut, tepatnya berarti ini : syukur, ekaristi : syukur. Umat Kristiani, seperti semua orang percaya, bersyukur kepada Allah atas karunia kehidupan. Hidup terutama adalah telah menerima. Hidup terutama adalah telah menerima : telah menerima kehidupan! Kita semua lahir karena seseorang menginginkan kita memiliki kehidupan. Dan ini hanya yang pertama dari rangkaian hutang panjang yang kita tanggung karena hidup. Hutang rasa syukur. Selama hidup kita, lebih dari satu orang telah menatap kita dengan mata murni, tanpa pamrih. Seringkali, orang-orang ini adalah para pendidik, para katekis, orang-orang yang menjalankan peran melebihi apa yang diminta dari mereka. Dan mereka merangsang kita untuk bersyukur. Bahkan persahabatan adalah karunia yang seharusnya selalu kita syukuri.

 

“Terima kasih” yang harus kita ucapkan terus menerus ini, terima kasih yang dibagikan umat Kristiani kepada semua orang ini, bertumbuh dalam pertemuan dengan Yesus. Injil membuktikan bahwa ketika Yesus lewat, Ia sering menimbulkan sukacita dan pujian kepada Allah di dalam diri orang-orang yang Ia temui. Kisah Injil dipenuhi dengan manusia pendoa yang sangat tersentuh oleh kedatangan Sang Juruselamat. Dan kita juga dipanggil untuk ikut serta dalam sorak kegirangan yang luar biasa ini. Kisah sepuluh orang kusta yang disembuhkan juga menunjukkan hal ini. Secara alami, mereka semua senang karena kesehatan mereka telah pulih, diperkenankan untuk mengakhiri karantina paksa tanpa akhir yang mengucilkan mereka dari komunitas. Tetapi di antara mereka, ada yang merasakan sukacita tambahan : selain disembuhkan, ia bersukacita karena bertemu Yesus. Ia tidak hanya dibebaskan dari yang jahat, tetapi ia sekarang memiliki kepastian dikasihi. Inilah intinya : ketika kamu berterima kasih kepada seseorang, mengucapkan terima kasih, kamu mengungkapkan kepastian bahwa kamu dikasihi. Dan ini adalah langkah besar : memiliki kepastian bahwa kamu dikasihi. Langkah tersebut adalah penemuan kasih sebagai kekuatan yang mengatur dunia - seperti yang dikatakan Dante : Kasih yang "menggerakkan matahari dan bintang-bintang lain" (Surga, XXXIII, 145). Kita bukan lagi gelandangan yang berkeliaran tanpa tujuan di sana-sini, tidak : kita memiliki sebuah kediaman, kita tinggal di dalam Kristus, dan dari “kediaman” itu kita merenungkan bagian dunia lainnya yang tampak jauh lebih indah bagi kita. Kita adalah anak-anak kasih, kita adalah saudara dan saudari kasih. Kita adalah manusia yang berterima kasih.

 

Oleh karena itu, saudara-saudari, marilah kita berusaha untuk tetap senantiasa dalam sukacita berjumpa Yesus. Marilah kita memupuk kegembiraan. Sebaliknya, iblis setelah menipu kita - dengan godaan apa pun - selalu membuat kita sedih dan sendirian. Jika kita berada di dalam Kristus, tidak ada dosa dan ancaman yang dapat menghalangi kita untuk terus bersukacita dalam perjalanan kita, bersama dengan banyak rekan seperjalanan lainnya.

 

Terutama, marilah kita tidak lupa untuk berterima kasih : jika kita adalah pembawa rasa syukur, dunia dengan sendirinya akan menjadi lebih baik, meskipun hanya sedikit, tetapi itu sudah cukup untuk menyampaikan sedikit harapan. Dunia membutuhkan harapan. Dan dengan rasa syukur, dengan kebiasaan mengucapkan terima kasih ini, kita menyampaikan sedikit harapan. Semuanya bersatu dan semuanya terhubung, dan setiap orang perlu melakukan bagiannya di mana pun kita berada. Jalan menuju kebahagiaan adalah jalan yang dilukiskan Santo Paulus di akhir salah satu suratnya : “Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. Janganlah padamkan Roh” (1Tes 5:17-19). Jangan memadamkan Roh, betapa indahnya rancangan kehidupan! Jangan memadamkan Roh yang telah menuntun diri kita kepada rasa syukur. Terima kasih.

 

[Sapaan khusus]

 

Dengan hormat, saya menyapa umat berbahasa Inggris. Semoga kalian masing-masing, dan keluarga-keluarga kalian, menghargai sukacita masa Natal ini dan mendekat dalam doa kepada Sang Juruselamat yang telah tinggal di antara kita. Allah memberkati kalian!

 

[Himbauan]

 

Kemarin, gempa bumi di Kroasia menimbulkan korban jiwa dan menimbulkan kerusakan parah. Saya mengungkapkan kedekatan saya dengan orang-orang yang terluka dan orang-orang yang terkena dampak gempa serta secara khusus saya mendoakan orang-orang yang kehilangan nyawa dan keluarga mereka. Saya berharap para pemimpin negara, dibantu oleh komunitas internasional, dapat segera meringankan penderitaan rakyat Kroasia yang terkasih.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari yang terkasih : Sebagai bagian rangkaian katekese kita tentang doa, sekarang kita beralih ke doa syukur. Santo Lukas memberitahu kita bahwa dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan oleh Yesus, hanya satu orang yang kembali untuk berterima kasih kepada Tuhan. Perikop ini mengingatkan kita akan pentingnya bersyukur. Perikop tersebut memperlihatkan perbedaan besar antara hati yang bersyukur dan hati yang tidak bersyukur; antara orang-orang yang melihat segalanya sebagai hak mereka dan orang-orang yang menerima segalanya sebagai rahmat. Sebagai umat Kristiani, doa syukur kita diilhami oleh rasa syukur atas kasih Allah yang diwahyukan dalam kedatangan Yesus, Putra-Nya dan Sang Juruselamat kita. Kisah Injil tentang kelahiran Kristus menunjukkan kepada kita bagaimana kedatangan Mesias disambut oleh hati yang percaya dan mendoakan penggenapan janji Allah. Semoga perayaan masa Natal kita ini ditandai dengan doa syukur yang sungguh-sungguh atas pencurahan rahmat penebusan Allah atas dunia kita. Semoga doa-doa ini membesarkan hati kita serta memampukan kita untuk membawa harapan dan sukacita Injil kepada semua orang di sekitar kita, terutama kepada saudara-saudari kita yang paling membutuhkan.

____


(Peter Suriadi - Bogor, 30 Desember 2020)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 23 Desember 2020 : KATEKESE TENTANG NATAL


Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dalam katekese ini, menjelang Natal, saya ingin menawarkan beberapa bahan renungan untuk mempersiapkan perayaan Natal. Dalam liturgi Misa Tengah Malam, pemberitaan Malaikat kepada para gembala : “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk 2:10-11).

 

Meneladan para gembala, kita juga bergerak secara rohani menuju Betlehem, tempat Maria melahirkan Anak di sebuah kandang, “karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (2:7). Natal telah menjadi pesta sejagad, dan bahkan mereka yang tidak percaya merasakan daya tarik peristiwa ini. Umat Kristiani, bagaimanapun, tahu bahwa Natal adalah peristiwa yang menentukan, api kekal yang telah dinyalakan Allah di dunia, dan tidak boleh disamakan dengan hal-hal yang fana. Natal tidak boleh direduksi menjadi festival sentimental atau konsumeris belaka adalah penting. Hari Minggu lalu saya menyoroti masalah ini, menggarisbawahi bahwa konsumerisme telah membajak Natal. Tidak : Natal tidak boleh direduksi menjadi pesta sentimental atau konsumeris, penuh dengan hadiah dan harapan yang baik tetapi miskin iman Kristiani, dan juga miskin kemanusiaan. Oleh karena itu, perlunya mengekang mentalitas duniawi tertentu, yang tidak mampu menangkap inti pijar iman kita, yaitu hal ini : “Sabda itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh 1:14). Dan inilah pokok Natal; malahan, kebenaran Natal, tidak ada yang lain.

 

Natal mengundang kita untuk merenungkan, di satu sisi, drama sejarah, yang di dalamnya manusia, yang terluka oleh dosa, terus mencari kebenaran, mencari belas kasihan, dan mencari penebusan; dan, di sisi lain, kebaikan Allah, yang telah datang kepada kita untuk menyampaikan kebenaran yang menyelamatkan serta membuat kita ikut ambil bagian dalam persahabatan dan kehidupan-Nya. Dan karunia kehidupan ini : ini murni rahmat, bukan karena pahala kita. Bapa Suci pernah berkata : "Tetapi lihat di sana, di sebelah sana, di sana : carilah pahalamu dan kamu tidak akan menemukan apa pun selain rahmat". Semuanya adalah rahmat, karunia rahmat. Dan karunia rahmat ini, kita terima melalui kesederhanaan dan kemanusiaan Natal, dan karunia tersebut dapat mengenyahkan dari hati dan pikiran kita pesimisme yang telah menyebar semakin banyak saat ini sebagai akibat pandemi. Kita dapat mengatasi rasa kebingungan yang menggelisahkan itu, tidak membiarkan diri kita terbebani oleh kekalahan dan kegagalan, dengan menemukan kembali kesadaran bahwa Anak yang rendah hati dan malang itu, yang tersembunyi dan tidak berdaya, adalah Allah sendiri, yang menjadi manusia bagi kita. Konsili Vatikan II, dalam sebuah bagian terkenal dari Konstitusi Pastoral Gereja di Dunia Dewasa Ini, mengatakan kepada kita bahwa peristiwa ini menyangkut diri kita masing-masing : “Karena melalui penjelmaan-Nya Putra Allah telah mempersatukan diri-Nya dalam beberapa cara dengan setiap manusia. Ia bekerja dengan tangan manusia, berpikir dengan hati manusia, bertindak dengan pilihan manusia dan dicintai dengan hati manusia. Dilahirkan dari Perawan Maria, Ia benar-benar telah menjadi salah seorang dari kita, seperti kita dalam segala hal kecuali dosa” (Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, 22). Tetapi Yesus lahir dua ribu tahun yang lalu, apa hubungannya ini dengan saya? Kelahiran Yesus itu memengaruhi kamu, dan saya, kita masing-masing. Yesus adalah salah seorang dari kita : Allah, di dalam Yesus, adalah salah seorang dari kita.

 

Kenyataan ini memberikan banyak sukacita dan keberanian kepada kita. Allah tidak memandang rendah kita, dari jauh, Ia tidak melewati kita, Ia tidak ditampik oleh kesengsaraan kita, Ia tidak hanya berbalut tubuh secara dangkal, tetapi Ia sepenuhnya mengambil kodrat kita dan keadaan manusiawi kita. Ia tidak meniadakan apa pun kecuali dosa : satu-satunya hal yang tidak Ia miliki. Seluruh umat manusia berada di dalam Dia. Ia mengambil semua yang kita miliki, sama seperti kita. Hal ini penting untuk memahami iman Kristiani, Santo Agustinus, merenungkan perjalanan pertobatannya, menulis dalam Pengakuan-pengakuan : “Karena aku tidak berpegang pada Yesus Kristus Tuhanku, aku, merendahkan diri, kepada Sang Rendah Hati; ataupun aku tidak tahu ke mana kelemahan-Nya akan membimbing kita” (Pengakuan-pengakuan VII, 8). Dan apakah "kelemahan" Yesus? "Kelemahan" Yesus adalah sebuah "ajaran"! Karena "kelemahan" Yesus mengungkapkan kasih Allah kepada kita. Natal adalah pesta Kasih yang menjelma, kasih yang lahir bagi kita di dalam Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah terang umat manusia yang bersinar dalam kegelapan, memberi makna bagi keberadaan manusia dan seluruh sejarah.

 

Saudara dan saudari yang terkasih, semoga cerminan singkat ini membantu kita merayakan Natal dengan kesadaran yang lebih besar. Tetapi ada cara lain untuk mempersiapkan, yang ingin saya ingatkan kepada kamu dan saya, dan yang berada dalam jangkauan semua orang : sedikit merenung, dalam keheningan, di depan palungan. Tampilan adegan Kelahiran Yesus adalah katekese dari kenyataan ini, dari apa yang telah dilakukan tahun itu, hari itu, yang telah kita dengar dalam Injil. Oleh karena itu tahun lalu saya menulis surat, yang akan bagus untuk kita ambil lagi. Surat tersebut berjudul "Admirabile signum", "Gambar yang mempesona". Di sekolah Santo Fransiskus dari Asisi, kita bisa menjadi seperti anak kecil dengan berhenti sejenak untuk merenungkan adegan Kelahiran, dan dengan memperkenankan keheranan akan cara "luar biasa" yang dikehendaki Allah untuk datang ke dunia terlahir kembali di dalam diri kita. Marilah kita memohon rahmat keherana : di hadapan misteri ini, kenyataan yang begitu lembut, begitu indah, begitu dekat dengan hati kita, agar Tuhan sudi memberikan kita rahmat keheranan, untuk berjumpa dengan-Nya, mendekat kepada-Nya, semakin mendekat kepada kita semua. Hal ini akan menghidupkan kembali kelembutan dalam diri kita. Suatu hari, ketika saya berbicara dengan beberapa ilmuwan, kami berbicara tentang kecerdasan buatan dan robot … ada robot yang diprogram untuk semua orang dan segalanya, dan ini terus berkembang. Dan saya berkata kepada mereka, "Tetapi apa yang tidak akan pernah bisa dilakukan robot?" Mereka memikirkannya, mereka memberi saran, tetapi pada akhirnya mereka semua sepakat tentang satu hal : kelembutan. Robot tidak akan pernah mampu melakukan hal ini. Dan inilah yang diberikan Allah kepada kita, hari ini : suatu cara yang menakjubkan yang di dalamnya Allah ingin datang ke dunia, dan hal ini membangkitkan kelembutan dalam diri kita, kelembutan manusiawi mendekati kelembutan Allah. Dan hari ini kita sangat membutuhkan kelembutan, kita sangat membutuhkan jamahan manusiawi, dalam menghadapi begitu banyak kesengsaraan! Jika pandemi memaksa kita untuk semakin jauh, Yesus, di palungan, menunjukkan kepada kita cara kelembutan untuk saling mendekat, menjadi manusiawi. Marilah kita mengikuti jalan ini. Selamat Natal!

 

[Sapaan Khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat yang berbahasa Inggris. Di hari-hari terakhir sebelum Natal ini, saya memohonkan atas kalian dan keluarga kalian sukacita dan damai Tuhan Yesus. Tuhan memberkati kalian!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari yang terkasih : Menjelang Natal, kita bersiap untuk mendengarkan sekali lagi pesan penuh sukacita dari malaikat kepada para gembala di Betlehem : “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa : Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan” (Luk 2:10-12). Seperti para gembala, kita juga dipanggil untuk melakukan perjalanan rohani menuju Betlehem untuk mencari dan menemukan Yesus, terang abadi Allah yang bersinar di dunia. Natal mengundang kita untuk mengatasi mentalitas duniawi tertentu yang membutakan kita dari pokok iman kita : Sabda yang menjadi manusia yang diam di antara kita. Natal mengingatkan kita bahwa rencana kekal Allah bersinggungan dengan sejarah kita dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik. Tahun ini, di tengah krisis kesehatan global, Natal dapat membantu kita melihat ke depan dan merangkul harapan yang ditawarkan Yesus yang baru lahir kepada kita. Ketika kita merenung dan berdoa di depan kandang Natal, semoga kita menjadi semakin menyadari kedekatan dan kasih Allah yang lembut, yang mengambil rupa daging demi keselamatan kita. Natal ini, semoga Yesus dilahirkan kembali dalam diri kita masing-masing, sehingga melalui hidup kita, kita dapat membawa sukacita dan harapan baru bagi semua orang.

____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 23 Desember 2020)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 16 Desember 2020 : KATEKESE TENTANG DOA (BAGIAN 19)


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Orang-orang yang berdoa tidak pernah berpaling dari dunia. Jika doa tidak mengumpulkan suka dan duka, harapan dan keresahan umat manusia, doa menjadi kegiatan "dekoratif", cara berperilaku yang dangkal, teatrikal, dan menyendiri. Kita semua membutuhkan hal batiniah : pengunduran diri dalam ruang dan waktu yang didedikasikan untuk hubungan kita dengan Allah. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa kita menghindari kenyataan. Dalam doa, Allah “mengambil kita, memberkati kita, kemudian memecah-mecahkan kita dan memberikan kita”, untuk memuaskan rasa lapar semua orang. Di dalam tangan Allah, setiap umat Kristiani dipanggil untuk menjadi roti yang dipecah-pecahkan dan dibagikan. Artinya, doa itu nyata, bukan pelarian.

 

Jadi, manusia pendoa mencari kesunyian dan keheningan, bukan agar tidak terganggu, tetapi untuk mendengarkan suara Allah dengan lebih baik. Kadang-kadang mereka sama sekali menarik diri dari dunia, secara diam-diam di kamar mereka, sebagaimana dianjurkan Yesus (lihat Mat 6:6). Tetapi di mana pun mereka berada, mereka selalu membuka pintu hati mereka lebar-lebar : sebuah pintu terbuka bagi mereka yang berdoa meski tidak tahu bagaimana berdoa; bagi mereka yang tidak berdoa sama sekali tetapi yang membawa dalam diri mereka jeritan yang menyesakkan, permohonan yang tersembunyi; bagi mereka yang telah berbuat salah dan tersesat… Barangsiapa dapat mengetuk pintu seseorang yang berdoa menemukan hati yang welas asih yang tidak mengecualikan siapa pun. Doa berasal dari hati dan suara kita serta memberikan hati dan suara tersebut kepada begitu banyak orang yang tidak tahu bagaimana berdoa atau yang tidak ingin berdoa atau kepada orang yang tidak sudi berdoa : kita adalah hati dan suara orang-orang ini, melambungkan kepada Yesus, melambungkan kepada Bapa sebagai pengantara. Dalam kesendirian mereka yang berdoa, entah kesendirian tersebut berlangsung lama atau hanya setengah jam, berdoa, mereka yang berdoa memisahkan diri dari segalanya dan dari setiap orang untuk menemukan segalanya dan setiap orang di dalam Allah. Orang-orang ini mendoakan seluruh dunia, memikul kesedihan dan dosanya di pundak mereka. Mereka mendoakan setiap orang : mereka seperti "antena" Allah di dunia ini. Orang yang berdoa melihat wajah Kristus dalam setiap orang miskin yang mengetuk pintu, dalam setiap orang yang telah kehilangan makna. Dalam Katekismus kita membaca : “doa pengantaraan - yang dimohonkan atas nama orang lain (…) telah menjadi ciri khas hati yang sesuai dengan kerahiman Allah”. Hal ini indah. Ketika kita berdoa, kita sesuai dengan kerahiman Allah; memiliki kerahiman atas dosa-dosa kita, penuh kerahiman dengan diri kita sendiri, tetapi juga penuh kerahiman terhadap semua orang yang telah meminta untuk didoakan, mereka yang ingin kita doakan sesuai dengan hati Allah. Inilah doa yang benar : sesuai dengan kerahiman Allah, dengan hati-Nya yang rahim. “Pada masa Gereja, doa pengantaraan orang Kristen mengambil bagian dalam doa pengantaraan Kristus; ialah ungkapan persekutuan orang-orang kudus” (no. 2635). Apa artinya mengambil bagian dalam doa pengantaraan Kristus? Ketika saya menjadi pengantara untuk seseorang atau mendoakan seseorang : karena Kristus ada di hadapan Bapa Ia adalah Pengantara, Ia mendoakan kita, Ia berdoa dengan menunjukkan kepada Bapa luka-luka tangan-Nya karena secara fisik Yesus hadir di hadapan Bapa dengan tubuh-Nya. Dan Yesus adalah Pengantara kita dan berdoa adalah menjadi sedikit seperti Yesus : menjadi pengantara di dalam Yesus kepada Bapa, demi orang lain. Hal ini sangat indah.

 

Hati manusia cenderung ke arah doa. Hanya hati manusia. Barangsiapa tidak mengasihi saudara atau saudarinya tidak berdoa dengan sungguh-sungguh. Seseorang mungkin berkata: ia tidak bisa berdoa jika diliputi kebencian; ia tidak bisa berdoa ketika diliputi ketidakpedulian. Doa dipersembahkan hanya dalam semangat kasih. Mereka yang tidak suka berpura-pura berdoa, mereka yakin bahwa mereka sedang berdoa, tetapi mereka tidak sedang berdoa karena ketiadaan semangat yang tepat, yaitu kasih. Di dalam Gereja, mereka yang terbiasa dengan kesedihan dan kegembiraan orang lain menggali lebih dalam dibandingkan orang-orang yang menyelidiki “sistem utama” dunia. Oleh karena hal ini, pengalaman manusiawi hadir dalam setiap doa, karena apa pun kesalahan yang dilakukan orang, kesalahan-kesalahan tersebut tidak boleh ditiadakan atau disingkirkan.

 

Ketika orang percaya, digerakkan oleh Roh Kudus, mendoakan orang-orang berdosa, tidak ada pilihan yang dibuat, tidak ada penghakiman atau penghukuman yang diucapkan : mereka mendoakan semua orang. Dan mereka mendoakan diri mereka sendiri. Pada saat itu mereka tahu bahwa mereka tidak jauh berbeda dari orang yang mereka doakan. Mereka menyadari bahwa mereka adalah orang-orang berdosa di antara orang-orang berdosa dan mereka mendoakan semua orang. Pelajaran dari perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai selalu hidup dan selalu relevan (lihat Luk 18:9-14) : kita tidak lebih baik dari siapa pun, kita semua adalah saudara dan saudari yang menanggung kerapuhan, penderitaan dan sama-sama berdosa. Oleh karena itu, kita dapat mengucapkan doa ini kepada Allah : “Tuhan, di antara yang hidup tidak seorang pun yang benar di hadapan-Mu" (lihat Mzm 143:2). Inilah apa yang dikatakan dalam salah satu Mazmur : “Tuhan, di antara yang hidup tidak seorang pun yang benar di hadapan-Mu, tak seorang pun dari kita : kita semua adalah orang berdosa - kita semua memiliki hutang, masing-masing dengan saldo terhutang yang harus dibayar; tak seorang pun tanpa dosa di mata-Mu. Tuhan, kasihanilah kami!". Dan dengan semangat ini, doa berbuah karena dengan rendah hati kita berjalan ke hadapan Allah dan mendoakan semua orang. Sebaliknya, orang Farisi berdoa dengan angkuh : “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan pendosa : aku orang benar, selalu selalu melakukan …”. Hal ini bukan doa : hal ini adalah melihat diri sendiri dalam sebuah cermin, hal ini tidak melihat kenyataan diri sendiri, tidak. Seperti melihat dirimu dibuat-buat dalam sebuah cermin karena harga dirimu.

 

Dunia terus berjalan berkat rantai orang-orang yang berdoa ini, yang menjadi pengantara, dan yang sebagian besar tidak dikenal… tetapi bukan tidak dikenal oleh Allah! Ada banyak umat Kristiani tanpa nama yang, pada saat penganiayaan, telah mengulangi perkataan Tuhan kita : “ "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Luk 23:34).

 

Sang Gembala yang baik tetap setia bahkan di hadapan kesadaran akan dosa umat-Nya : Sang Gembala yang baik terus menjadi Bapa bahkan ketika anak-anak-Nya menjauhkan diri dan meninggalkan-Nya. Ia bertekun dalam pelayanan-Nya sebagai Gembala bahkan bersama orang-orang yang telah menumpahkan darah tangan-Nya; Ia tidak menutup hati-Nya terhadap mereka yang bahkan telah membuat-Nya menderita.

 

Gereja, dalam semua anggotanya, memiliki perutusan untuk melaksanakan doa pengantaraan : menjadi pengantara bagi orang lain. Hal ini terutama berlaku bagi mereka yang menjalankan peran tanggung jawab : para orangtua, para guru, para pelayan tertahbis, para pembesar komunitas… Seperti Abraham dan Musa, mereka kadang-kadang harus "membela" orang-orang yang dipercayakan kepada mereka di hadapan Allah. Pada kenyataannya, kita sedang berbicara tentang melindungi mereka dengan mata dan hati Allah, dengan kasih sayang dan kelembutan-Nya yang tiada tandingannya. Berdoa dengan kelembutan demi orang lain.

 

Saudara dan saudari, kita semua adalah daun di pohon yang sama : setiap daun yang jatuh mengingatkan kita akan kesalehan besar yang harus saling dipelihara dalam doa. Jadi marilah kita saling mendoakan. Saling mendoakan akan baik untuk kita dan semua orang. Terima kasih.

 

[Sapaan khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat berbahasa Inggris. Dalam perjalanan Adven kita, semoga terang Kristus menerangi jalan kita serta mengenyahkan seluruh kegelapan dan ketakutan dari hati kita. Atas kalian dan keluarga kalian, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kalian!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, dalam rangkaian katekese kita tentang doa Kristiani, sekarang kita beralih ke doa pengantaraan. Seturut teladan dan ajaran Yesus, setiap kali kita berdoa dalam keheningan dan kesendirian, alangkah lebih baik untuk mendengarkan Tuhan, kita tidak bersembunyi dari kebutuhan orang lain, tetapi membuka hati kita terhadap kesedihan dan ketakutan mereka. Katekismus mengajarkan bahwa doa pengantaraan kita, dalam persekutuan dengan segenap orang kudus, mengambil bagian dalam doa pengantaraan Kristus (bdk. No. 2635). Sementara seluruh Gereja diutus untuk menjadi pengantara bagi semua orang - terutama bagi mereka yang menderita, mereka yang tidak tahu bagaimana berdoa atau telah tersesat dalam kehidupan mereka - tugas ini jatuh terutama pada mereka yang memegang posisi tanggung jawab, seperti para orangtua, para guru atau para imam. Meski sering tersembunyi dari dunia, pengantaraan kita tidak pernah tersembunyi dari Allah, yang selalu mendengarkan orang-orang yang berseru kepada-Nya. Seperti Kristus Sang Gembala yang baik bersama Bapa surgawi-Nya menjadi Pengantara bagi seluruh anak-anak-Nya, semoga doa pengantaraan kita selalu memperhatikan mereka yang paling membutuhkan, dan dengan demikian memberi sumbangan pada jaringan pengantaraan besar yang menopang kehidupan dunia.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 9 Desember 2020 : KATEKESE TENTANG DOA (BAGIAN 18)


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Marilah kita lanjutkan pembahasan kita tentang doa. Doa Kristiani sepenuhnya manusiawi - kita berdoa sebagai manusia, sebagaimana kita adanya - doa Kristiani mengandung pujian dan permohonan. Memang, ketika Yesus mengajarkan murid-murid-Nya berdoa, Ia melakukannya dengan doa "Bapa Kami", sehingga kita dapat menempatkan diri dalam hubungan kepercayaan bakti dengan Allah, dan mengajukan seluruh permasalahan kita kepada-Nya. Kepada Allah, kita memanjatkan karunia teratas : pengudusan nama-Nya di antara manusia, kedatangan kerajaan-Nya, perwujudan kehendak-Nya demi kebaikan dunia. Katekismus mengingatkan hal tersebut : “Untuk itu terdapat satu hierarki permohonan : pertama-tama kita memohon Kerajaan dan sesudah itu segala sesuatu yang kita butuhkan untuk menerimanya dan untuk turut bekerja demi kedatangannya” (no. 2632). Tetapi dalam doa "Bapa Kami", kita juga mendoakan karunia yang paling sederhana, karunia sehari-hari yang paling penting, seperti "roti harian" - yang juga berarti kesehatan, rumah, pekerjaan, hal-hal sehari-hari; dan juga berarti Ekaristi, yang diperlukan untuk hidup di dalam Kristus; dan kita juga mendoakan pengampunan dosa - yang merupakan masalah sehari-hari; kita senantiasa membutuhkan pengampunan - dan oleh karena itu kedamaian dalam hubungan kita; dan akhirnya, agar Ia membantu kita menghadapi pencobaan dan membebaskan kita dari yang jahat.

 

Memohon, memanjatkan doa. Ini sangat manusiawi. Marilah kita kembali mendengarkan Katekismus : “Dalam doa permohonan terungkap kesadaran akan hubungan kita dengan Allah. Kita adalah makhluk, dan karena itu, bukan asal-usul kita sendiri, bukan tuan atas keberadaan kita, dan juga bukan tujuan kita yang terakhir. Sebagai orang berdosa, kita orang Kristen pun tahu bahwa kita selalu saja memalingkan diri dari Bapa kita. Permohonan itu sendiri sudah merupakan langkah berbalik kepada Allah” (no. 2629).

 

Jika seseorang merasa jahat karena ia telah melakukan hal-hal yang jahat - ia adalah orang berdosa - ketika ia mendaraskan doa "Bapa Kami", ia sudah mendekati Allah. Kadang-kadang kita bisa meyakini bahwa kita tidak membutuhkan apa pun, bahwa diri kita memadai, dan kita hidup sepenuhnya dalam kecukupan diri. Hal ini kadang-kadang terjadi! Tetapi cepat atau lambat khayalan ini lenyap. Manusia adalah doa permohonan, yang kadang-kadang menjadi seruan, sering tertahan. Jiwa menyerupai tanah yang kering dan tandus, seperti dikatakan pemazmur (lihat Mzm 63:2). Kita semua mengalami, pada suatu saat atau saat lainnya dalam keberadaan kita, saat melankolis, kesendirian. Alkitab tidak malu menunjukkan keadaan manusiawi kita, yang ditandai oleh penyakit, ketidakadilan, pengkhianatan sahabat, atau ancaman musuh. Kadang-kadang segala sesuatu tampaknya runtuh, kehidupan yang dijalani sejauh ini sia-sia. Dan dalam situasi ini, ketika segala sesuatu tampaknya berantakan, hanya ada satu jalan keluar : seruan, doa “Tuhan, tolonglah aku!”. Doa dapat membuka secercah cahaya dalam kegelapan yang paling kelam. “Tuhan, tolonglah aku!”. Hal ini membuka : doa membuka jalan, doa membuka jalan kecil.

 

Kita umat manusia ambil bagian memohonkan pertolongan ini bersama makhluk lainnya. Kita bukan satu-satunya makhluk yang "berdoa" di dalam alam semesta yang tanpa batas ini : pelbagai makhluk menyandang keinginan akan Allah. Dan Santo Paulus sendiri mengungkapkannya dengan cara ini. Ia berkata : “Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita" (Rm 8: 22-23). Ini bagus. Di dalam diri kita bergema seruan beraneka ragam makhluk : pepohonan, bebatuan, binatang. Semuanya merindukan penggenapan. Tertulianus menulis, ”Setiap makhluk berdoa; ternak dan binatang buas berdoa dan berlutut; dan ketika mereka keluar dari lapisan dan sarang, mereka menengadah ke langit tanpa mulut kosong, membuat nafas mereka bergetar menurut cara mereka sendiri. Bahkan, burung-burung juga, keluar dari sarang, mengangkat diri mereka ke surga, dan bukannya tangan, melebarkan sayap mereka, dan agak tampak seperti berdoa” (De oratione, XXIX). Ini adalah ungkapan puitis yang mengomentari apa yang dikatakan Santo Paulus : "segala makhluk sama-sama mengeluh". Tetapi kita adalah satu-satunya makhluk yang berdoa secara sadar, memahami bahwa kita berbicara kepada Bapa, dan berdialog dengan Bapa.

 

Oleh karena itu, kita seharusnya tidak perlu kaget jika merasa perlu untuk berdoa, jangan malu. Dan, terutama saat kita membutuhkan, memohonlah. Yesus, berbicara tentang bendahara yang tidak jujur, yang harus memberi pertanggungjawaban kepada majikannya, mengatakan hal ini : “Mengemis aku malu”. Dan banyak dari kita memiliki perasaan ini : kita malu untuk meminta, meminta bantuan, juga meminta sesuatu dari seseorang yang dapat membantu kita, untuk mencapai tujuan kita, dan kita juga malu untuk meminta kepada Allah. “Tidak, hal ini tidak bisa dilakukan”. Jangan malu untuk berdoa. “Tuhan, aku membutuhkan ini”, “Tuhan, aku berada dalam kesulitan”, “Tolonglah aku!” : Seruan, seruan hati kepada Allah yang adalah Bapa. Dan juga melakukannya di saat-saat bahagia, tidak hanya di saat-saat buruk, tetapi juga di saat-saat bahagia, bersyukur kepada Allah atas segala sesuatu yang diberikan kepada kita, dan tidak menerima begitu saja atau seolah-olah piutang kita : semuanya rahmat. Kita harus mempelajari hal ini. Allah senantiasa memberi kita, senantiasa, dan segalanya rahmat, segalanya. Rahmat Allah. Namun, kita tidak boleh secara spontan mencekik permohonan yang muncul dalam diri kita. Doa permohonan sejalan dengan penerimaan keterbatasan kita dan kodrat kita sebagai makhluk. Kita bahkan mungkin tidak mencapai titik kepercayaan kepada Allah, tetapi sulit untuk tidak percaya pada doa : doa ada begitu saja, doa menampilkan dirinya kepada kita sebagai seruan; dan kita semua mengenal suara hati ini yang mungkin tetap diam untuk waktu yang lama, tetapi suatu hari terbangun dan berseru.

 

Dan, saudara dan saudari, kita tahu bahwa Allah akan menanggapi. Tidak ada doa dalam Kitab Mazmur yang menimbulkan ratapan yang tetap tidak didengar. Allah senantiasa menjawab : mungkin hari ini, besok, tetapi Ia senantiasa menjawab, dengan satu atau lain cara. Ia senantiasa menjawab. Alkitab mengulanginya berkali-kali : Allah mendengarkan seruan orang-orang yang memanggil-Nya. Bahkan permasalahan enggan kita, yang tetap ada di lubuk hati kita, yang malu untuk kita ungkapkan : Bapa mendengarkan permasalahan tersebut dan kepada kita ingin memberikan Roh Kudus, yang mengilhami setiap doa dan mengubah segalanya. Saudara dan saudari, dalam doa senantiasa ada permasalahan kesabaran, senantiasa mendukung penantian. Sekarang kita berada dalam Masa Adven, masa yang berciri khas pengharapan; pengharapan akan Natal. Kita sedang menanti. Hal ini jelas terlihat. Tetapi seluruh hidup kita juga berada dalam penantian. Dan doa senantiasa berada dalam pengharapan, karena kita tahu bahwa Allah akan menjawabnya. Bahkan kematian menggigil ketakutan ketika seorang Kristiani berdoa, karena ia tahu bahwa setiap orang yang berdoa memiliki sekutu yang lebih kuat daripadanya : Tuhan yang bangkit. Kematian telah dikalahkan di dalam Kristus, dan harinya akan tiba ketika segalanya akan menjadi babak akhir, dan ia tidak akan lagi mencemooh hidup dan kebahagiaan kita.

 

Marilah kita belajar untuk tetap menanti; dalam pengharapan akan Tuhan. Tuhan datang mengunjungi kita, tidak hanya dalam pesta-pesta besar ini - Natal, Paskah - tetapi Tuhan mengunjungi kita setiap hari, dalam keintiman hati kita jika kita sedang menanti. Dan sangat sering kita tidak menyadari bahwa Tuhan berada di dekat kita, bahwa Ia mengetuk pintu kita, dan kita membiarkan-Nya lewat. “Aku takut akan Allah ketika Ia lewat”, Santo Agustinus biasa mengatakannya. “Aku takut Ia akan lewat dan aku tidak akan menyadarinya”. Dan Tuhan lewat, Tuhan datang, Tuhan mengetuk. Tetapi jika telingamu dipenuhi dengan suara lain, kamu tidak akan mendengar panggilan Tuhan.

 

Saudara dan saudari, tetaplah dalam penantian : inilah doa. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat berbahasa Inggris. Dalam perjalanan Adven kita, semoga terang Kristus menerangi jalan kita dan menyingkirkan seluruh kegelapan dan ketakutan dari hati kita. Atas kalian dan keluarga kalian, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Tuhan memberkati kalian!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, dalam rangkaian katekese kita tentang doa Kristiani, sekarang kita beralih ke doa permohonan. Katekismus menjelaskan bahwa dalam setiap doa kita memohonkan kedatangan Kerajaan Allah dalam hidup kita dan dalam dunia kita. Yesus mengajarkan kita untuk berdoa kepada Bapa surgawi kita, mengakui bahwa kita sepenuhnya tergantung kepada-Nya dan percaya sepenuhnya pada penyelenggaraan-Nya, bahkan pada saat-saat tergelap dalam hidup kita. Doa permohonan muncul secara alami dalam hati manusia. Dalam Alkitab kita melihat doa kepada Allah yang tak terhitung jumlahnya untuk campur tangan dalam ketidakberdayaan kita menghadapi situasi penyakit, ketidakadilan, pengkhianatan dan keputusasaan. Bahkan seruan sederhana, "Tuhan, tolonglah aku!" adalah doa yang kuat. Allah senantiasa mendengarkan seruan orang-orang yang memanggil-Nya. Santo Paulus memberitahu kita bahwa doa kita menggemakan kerinduan semua makhluk akan kedatangan Kerajaan (bdk. Rm 8:22-24) dan penggenapan rencana penyelamatan Allah. Kita memanjatkan doa permohonan dengan keyakinan kepada Dia yang telah menang atas semua kejahatan melalui salib dan kebangkitan Putra-Nya serta pengutusan Roh Kudus, yang menjadi perantara atas nama kita dan diam-diam bekerja untuk mengubah rupa segala sesuatu.

_____


*(Peter Suriadi - Bogor, 9 Desember 2020)*

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 2 Desember 2020 : KATEKESE TENTANG DOA (BAGIAN 17)


Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini kita akan berkaca pada dimensi pokok doa : berkat. Kita melanjutkan berkaca tentang doa. Dalam kisah penciptaan (lihat Kej 1-2), Allah terus menerus memberkati kehidupan, senantiasa. Ia memberkati binatang (1:22), Ia memberkati laki-laki dan perempuan (1:28), akhirnya, Ia memberkati hari Sabat, hari istirahat dan kenikmatan seluruh ciptaan (2:3). Allahlah yang memberkati. Dalam perikop-perikop awal Alkitab, ada pengulangan berkat yang terus-menerus. Allah memberkati, tetapi manusia juga memuja, dan segera mereka menemukan bahwa berkat memiliki kekuatan khusus yang menyertai orang-orang yang menerimanya sepanjang hidupnya, serta mengelola hati orang-orang tersebut untuk memperkenankan Allah mengubahnya (lihat Konstitusi Konsili Vatikan II Sacrosanctum Concilium, 61).

 

Oleh karena itu, pada awal dunia, ada seorang Allah yang "berbicara dengan baik"[1], yang memberkati. Ia melihat bahwa setiap pekerjaan tangan-Nya adalah baik dan indah, serta ketika Ia menciptakan manusia, dan penciptaan selesai, Ia menyadari bahwa Ia “sungguh amat baik” (Kej 1:31). Tak lama kemudian, keindahan yang telah dikesankan Allah dalam karya-Nya akan berubah, dan manusia akan menjadi makhluk yang merosot, sudi menyebarkan kejahatan dan kematian ke dunia; tetapi tidak ada yang dapat menghilangkan kesan asli kebaikan Allah yang Ia tempatkan di dunia, dalam kodrat manusia, di dalam diri kita semua : kemampuan memuja dan diberkati. Allah tidak membuat kesalahan dengan penciptaan maupun dengan penciptaan manusia. Harapan dunia sepenuhnya terletak pada berkat Allah : Ia terus menginginkan kebaikan kita[2], Ia adalah yang pertama, seperti kata penyair Péguy,[3] yang terus mengharapkan kebaikan kita.

 

Berkat terbesar Allah adalah Yesus Kristus; Putra-Nya adalah berkat Allah yang terbesar. Ia adalah berkat bagi seluruh umat manusia, Ia adalah berkat yang menyelamatkan kita semua. Ia adalah Sabda yang kekal yang dengannya Bapa memberkati kita "ketika kita masih berdosa" (Rm 5:8), Santo Paulus berkata : Sabda menjadi daging dan dipersembahkan bagi kita di kayu salib.

 

Dengan penuh perasaan, Santo Paulus menyatakan rencana kasih Allah. Dan ia mengatakannya seperti ini : "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya” (Ef 1:3-6). Tidak ada dosa yang dapat sepenuhnya menghapus rupa Kristus yang ada dalam diri kita masing-masing. Tidak ada dosa yang dapat menghapus rupa yang telah diberikan Allah kepada kita - rupa Kristus. Dosa dapat menodainya, tetapi tidak mengenyahkannya dari kerahiman Allah. Orang berdosa bisa tetap melakukan kesalahan untuk waktu yang lama, tetapi Allah sabar sampai akhir, mengharapkan hati orang berdosa itu pada akhirnya akan terbuka dan berubah. Allah laksana seorang bapa yang baik, Ia adalah Bapa, dan laksana seorang ibu yang baik, Ia juga ibu yang baik : keduanya tidak pernah berhenti mengasihi anak mereka, tidak peduli kesalahan apa yang dilakukannya, senantiasa. Apa yang terlintas di benak saya adalah seringnya saya melihat orang-orang mengantri untuk memasuki sebuah penjara, berapa banyak ibu yang mengantri untuk melihat anak mereka yang dipenjara. Mereka tidak berhenti mengasihi anak mereka dan mereka tahu bahwa orang-orang yang lewat di dalam bis sedang berpikir : “Ah, itu adalah ibu dari seorang narapidana …”. Mereka tidak malu sehubungan dengan hal ini. Ya, mereka malu tetapi mereka melanjutkan. Sama seperti anak mereka lebih penting daripada rasa malu mereka, maka kita lebih penting bagi Allah daripada semua dosa yang bisa kita lakukan. Karena Ia adalah seorang Bapa, Ia adalah seorang Ibu, Ia adalah kasih yang sesungguhnya, Ia telah memberkati kita selamanya. Dan Ia tidak akan pernah berhenti memberkati kita.

 

Sungguh sebuah pengalaman yang mengesankan membaca teks-teks biblis tentang berkat di dalam sebuah penjara, atau di dalam sebuah kelompok rehabilitasi. Agar orang-orang ini mendengar bahwa mereka masih diberkati, terlepas dari kesalahan besar mereka, bahwa Bapa surgawi terus menginginkan kebaikan mereka dan mengharapkan mereka pada akhirnya akan membuka diri terhadap kebaikan. Bahkan jika kerabat terdekat mereka telah meninggalkan mereka - banyak yang meninggalkan mereka, orang-orang tersebut tidak seperti para ibu itu yang menunggu dalam kehidupan untuk melihat mereka, mereka tidak penting, orang-orang tersebut meninggalkan mereka - orang-orang tersebut telah meninggalkan mereka karena orang-orang tersebut sekarang menilai mereka tidak dapat ditebus, bagi Allah mereka senantiasa anak-anak. Allah tidak dapat menghapus dalam diri kita rupa putra dan putri, kita masing-masing adalah putra-Nya, putri-Nya. Kadang-kadang kita melihat berbagai mukjizat terjadi : laki-laki dan perempuan yang terlahir kembali karena mereka menemukan berkat yang telah mengurapi mereka sebagai anak-anak ini. Karena rahmat Allah mengubah kehidupan : Ia menerima kita apa adanya, tetapi Ia tidak pernah meninggalkan kita apa adanya.

 

Marilah kita memikirkan apa yang dilakukan Yesus terhadap Zakheus (lihat Luk 19:1-10), misalnya. Semua orang melihat kejahatan dalam dirinya; sebaliknya, Yesus melihat secercah kebaikan, dan dari hal itu - dari keingintahuannya untuk melihat Yesus - Ia memperkenankan kerahiman yang menyelamatkan lewat. Jadi, pertama-tama hati Zakeus diubah, dan kemudian hidupnya. Yesus melihat berkat Bapa yang tak terhapuskan dalam diri orang-orang yang ditolak dan disangkal. Ia adalah orang berdosa di depan umum, ia telah melakukan begitu banyak hal yang mengerikan, tetapi Yesus melihat tanda yang tak terhapuskan dari berkat Bapa dan oleh karena itu, Ia memiliki rasa iba. Ungkapan yang sering diulang dalam Injil, “Ia tergerak oleh rasa iba”, dan rasa iba itu menuntun-Nya untuk menolong Zakheus dan mengubah hatinya. Terlebih lagi, Yesus datang untuk menyamakan diri-Nya dengan setiap orang yang membutuhkan (lihat Mat 25:31-46). Dalam perikop tentang penghakiman terakhir di mana kita semua akan diadili, Matius 25, Yesus berkata : “Aku ada di sana, ketika Aku lapar, ketika Aku telanjang, Aku di dalam penjara, ketika Aku di rumah sakit, Aku ada di sana”.

 

Kepada Allah yang memberkati, kita juga menanggapi dengan memuja - Allah telah mengajari kita bagaimana memuja dan kita harus memuja - melalui doa pujian, penyembahan, ucapan syukur. Katekismus menulis : “Doa yang memberkati adalah jawaban manusia atas anugerah-anugerah Allah. Karena Allah memberkati, maka hati manusia dapat memuja Dia yang adalah sumber segala berkat” (no. 2626). Doa adalah sukacita dan ucapan syukur. Allah tidak menunggu kita untuk mengubah diri sebelum mulai mengasihi kita, tetapi Ia mengasihi kita jauh sebelumnya, ketika kita masih berdosa.

 

Kita tidak hanya bisa memuja Allah yang memberkati kita ini; kita harus memberkati setiap orang di dalam Dia, semua orang, memuja Allah serta memberkati saudara dan saudari kita, memberkati dunia - dan ini adalah akar kelembutan Kristiani, kemampuan untuk merasa diberkati dan kemampuan untuk memuja. Jika kita semua melakukan hal ini, pasti tidak akan ada peperangan. Dunia ini membutuhkan berkat, serta kita dapat memuja dan menerima berkat. Bapa mengasihi kita. Satu-satunya hal yang tersisa bagi kita adalah sukacita memuja-Nya, dan sukacita bersyukur kepada-Nya, serta daripada-Nya belajar memberkati, bukan mengutuk. Di sini hanya satu kata untuk orang-orang yang memiliki kebiasaan mengutuk, orang-orang yang senantiasa memiliki kata-kata buruk, umpatan, di bibir dan di dalam hati mereka. Kita masing-masing dapat berpikir : Apakah aku memiliki kebiasaan mengutuk seperti ini? Dan mohonkanlah rahmat Tuhan untuk mengubah kebiasaan ini karena kita memiliki hati yang diberkati dan kutukan tidak bisa muncul dari hati yang telah diberkati. Semoga Tuhan mengajarkan kita jangan pernah mengutuk, tetapi memberkati.

 

[Sapaan Khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat berbahasa Inggris. Dalam perjalanan Adven kita, semoga terang Kristus menerangi jalan kita serta mengenyahkan semua kegelapan dan ketakutan dari hati kita. Atas kalian dan keluarga kalian, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kalian!

 

[SERUAN]

 

Saya ingin memastikan doa saya untuk Nigeria, di mana darah sekali lagi tertumpah dalam serangan teroris. Sabtu lalu, di timur laut negara itu, lebih dari seratus orang petani dibunuh secara tak berperikemanusiaan. Semoga Allah menyambut mereka dalam damai-Nya dan menghibur keluarga mereka, serta mengubah hati mereka yang melakukan kekejaman serupa yang sangat menghina nama-Nya.

 

Hari ini 40 tahun peringatan wafatnya empat misionaris Amerika Utara yang terbunuh di El Salvador : dua orang biarawati tarekat Maryknoll, Ita Ford dan Maura Clarke, seorang biarawati Ursulin, Dorthy Kazel serta seorang sukarelawan Jean Donovan. Pada tanggal 2 Desember 1980, mereka diculik, diperkosa dan dibunuh oleh kelompok paramiliter. Mereka sedang bertugas di El Salvador dalam rangka perang saudara. Dengan pengabdian injili, dan menjalankan resiko besar, mereka sedang membawa makanan dan obat-obatan untuk para pengungsi dan sedang membantu keluarga yang lebih miskin. Para perempuan ini menjalankan iman mereka dengan kemurahan hati yang besar. Mereka adalah teladan bagi setiap orang untuk menjadi murid-murid misioner yang setia.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, dalam rangkaian katekese kita tentang doa Kristiani, sekarang kita membahas pentingnya berkat sebagai dimensi pokok doa. "Memberkati" secara harfiah berarti "mengucapkan sesuatu yang baik". Dalam menciptakan dan memelihara dunia, Allah mengucapkan kata yang baik; Ia “memberkati” ciptaan-Nya dan melihatnya “baik”. Allah tidak menahan berkat-Nya bahkan setelah kita berpaling dalam dosa, tetapi terus menginginkan kebaikan kita. Dalam sejarah keselamatan, berkat terbesar Allah adalah Yesus Kristus sendiri. Santo Paulus menasihati kita untuk memuja Allah, yang telah memberkati kita di dalam Kristus, dan menjadikan kita putra dan putri-Nya yang terkasih (bdk. Ef 1:3-6). Sebagai tanggapan atas berkat Allah, kita pada gilirannya memuja Dia, sumber dari segala kebaikan, melalui doa pujian, penyembahan, dan ucapan syukur kita. Seperti yang diajarkan Katekismus : “Doa yang memberkati adalah jawaban manusia atas anugerah-anugerah Allah” (No. 2626). Semoga kita senantiasa menemukan sukacita dalam memuja Bapa dengan rasa syukur atas kebaikan yang tak terbatas yang telah ditunjukkan-Nya kepada kita dalam memberikan Putra-Nya kepada kita.



[1]Catatan penerjemah : kata Italia untuk berkat adalah benedire: bene (baik), dire (berbicara), yang secara harfiah sesuai dengan kata benediction dalam bahasa Inggris.

[2]Catatan penerjemah : terjemahan literal dari ungkapan kata Italia volere bene : volere (keinginan atau kehendak), bene (baik); ungkapan ini sering digunakan dalam bahasa Italia untuk mengatakan "Aku mencintaimu".

[3]Serambi Misteri Kebajikan Kedua; edisi pertama, Le porche du mystère de la deuxième vertu, diterbitkan tahun 1911.