Injil hari ini (Mrk 8:27-35) menyajikan kepada kita Yesus yang, dalam perjalanan menuju Kaisarea Filipi, bertanya kepada para murid : "Kata orang, siapakah Aku ini?" (Mrk 8:27). Mereka menjawab bahwa beberapa orang meyakini Ia adalah Yohanes Pembaptis yang lahir kembali, lainnya mengatakan Elia atau seorang dari para nabi besar". Orang-orang menghargai Yesus, mereka menganggap-Nya "utusan Allah", tetapi masih tidak bisa mengenali-Nya sebagai Mesias yang diramalkan dan lama ditunggu-tunggu. "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini" (ayat 29). Ini adalah pertanyaan yang terpenting, yang dengannya Yesus berbicara langsung kepada mereka yang telah mengikuti-Nya, untuk menguji iman mereka. Petrus, atas nama semua murid, berseru dengan terus terang : "Engkau adalah Mesias" (ayat 29). Yesus tetap terkejut oleh iman Petrus, Ia mengakui bahwa itu adalah buah dari rahmat khusus Allah Bapa. Dan sekarang Ia secara terbuka mengungkapkan kepada para murid yang menanti-nantikan-Nya di Yerusalem itu, bahwa Dialah "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan ..... lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari" (ayat 31).
WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 9 September 2015 : TENTANG KELUARGA DAN KOMUNITAS KRISTIANI
Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!
Hari ini saya ingin memusatkan perhatian kita pada ikatan di antara keluarga dan komunitas Kristiani. Ia, dapat dikatakan, adalah sebuah ikatan "alami", karena Gereja adalah sebuah keluarga rohani dan keluarga adalah Gereja kecil (bdk. Lumen Gentium, 9). Komunitas Kristiani adalah rumah dari orang-orang yang percaya kepada Yesus sebagai sumber persaudaraan di antara semua orang. Gereja berjalan di tengah bangsa-bangsa, dalam sejarah pria dan wanita, sejarah para ayah dan ibu, sejarah para putra dan putri : ini adalah sejarah yang penting bagi Tuhan. Peristiwa-peristiwa besar kekuatan-kekuatan duniawi tertulis dalam buku-buku sejarah, dan mereka tetap di sana. Namun, sejarah kasih sayang umat manusia tertulis langsung di dalam hati Allah; dan ia adalah sejarah yang masih dalam kekekalan. Ini adalah tempat kehidupan dan iman. Keluarga adalah tempat inisiasi kita - tak tergantikan, tak terhapuskan - terhadap sejarah ini, terhadap sejarah kehidupan kekal ini yang akan berakhir dengan permenungan akan Allah untuk selama-lamanya di Surga. Tetapi ia dimulai dalam keluarga! Oleh karena itu, keluarga sangat penting. Putra Allah mempelajari sejarah manusia dengan cara ini, dan Ia menghayatinya hingga kesudahan (bdk. Ibr 2:18;5:8).
Hari ini saya ingin memusatkan perhatian kita pada ikatan di antara keluarga dan komunitas Kristiani. Ia, dapat dikatakan, adalah sebuah ikatan "alami", karena Gereja adalah sebuah keluarga rohani dan keluarga adalah Gereja kecil (bdk. Lumen Gentium, 9). Komunitas Kristiani adalah rumah dari orang-orang yang percaya kepada Yesus sebagai sumber persaudaraan di antara semua orang. Gereja berjalan di tengah bangsa-bangsa, dalam sejarah pria dan wanita, sejarah para ayah dan ibu, sejarah para putra dan putri : ini adalah sejarah yang penting bagi Tuhan. Peristiwa-peristiwa besar kekuatan-kekuatan duniawi tertulis dalam buku-buku sejarah, dan mereka tetap di sana. Namun, sejarah kasih sayang umat manusia tertulis langsung di dalam hati Allah; dan ia adalah sejarah yang masih dalam kekekalan. Ini adalah tempat kehidupan dan iman. Keluarga adalah tempat inisiasi kita - tak tergantikan, tak terhapuskan - terhadap sejarah ini, terhadap sejarah kehidupan kekal ini yang akan berakhir dengan permenungan akan Allah untuk selama-lamanya di Surga. Tetapi ia dimulai dalam keluarga! Oleh karena itu, keluarga sangat penting. Putra Allah mempelajari sejarah manusia dengan cara ini, dan Ia menghayatinya hingga kesudahan (bdk. Ibr 2:18;5:8).
WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 6 September 2015 : TENTANG MEMULIHKAN KOMUNIKASI
Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!
Injil hari ini (Mrk 7:31-37) berkaitan dengan penyembuhan Yesus atas seorang yang tuli dan tidak dapat berbicara, sebuah peristiwa yang luar biasa yang menunjukkan bagaimana Yesus mengadakan kembali komunikasi penuh manusia dengan Allah dan dengan orang lain. Mukjizat terjadi di daerah Dekapolis, yaitu, di wilayah yang sama sekali kafir; dengan demikian, orang tuli yang dibawa ke hadapan Yesus ini menjadi lambang dari seorang yang tidak beriman yang menyelesaikan sebuah perjalanan menuju iman. Akibatnya, ketuliannya mengungkapkan ketidakmampuan untuk mendengar dan memahami, bukan hanya kata-kata manusia, tetapi juga Sabda Allah. Dan Santo Paulus mengingatkan kita bahwa "iman timbul dari pendengaran".
Injil hari ini (Mrk 7:31-37) berkaitan dengan penyembuhan Yesus atas seorang yang tuli dan tidak dapat berbicara, sebuah peristiwa yang luar biasa yang menunjukkan bagaimana Yesus mengadakan kembali komunikasi penuh manusia dengan Allah dan dengan orang lain. Mukjizat terjadi di daerah Dekapolis, yaitu, di wilayah yang sama sekali kafir; dengan demikian, orang tuli yang dibawa ke hadapan Yesus ini menjadi lambang dari seorang yang tidak beriman yang menyelesaikan sebuah perjalanan menuju iman. Akibatnya, ketuliannya mengungkapkan ketidakmampuan untuk mendengar dan memahami, bukan hanya kata-kata manusia, tetapi juga Sabda Allah. Dan Santo Paulus mengingatkan kita bahwa "iman timbul dari pendengaran".
WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 2 September 2015 : TENTANG KELUARGA-KELUARGA YANG BERBAGI IMAN
Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!
Dalam tahap akhir perjalanan katekese kita tentang keluarga ini, kita melihat cara keluarga menjalani tanggung jawab untuk mengkomunikasi iman, untuk meneruskan iman, baik itu di dalam maupun di luar dirinya.
Awalnya, beberapa ungkapan injili dapat datang ke pikiran yang tampaknya mempertentangkan ikatan keluarga dan mengikuti Yesus. Misalnya, kata-kata kuat ini yang kita semua tahu dan dengar: "Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku" (Mat 10:37-38).
Dalam tahap akhir perjalanan katekese kita tentang keluarga ini, kita melihat cara keluarga menjalani tanggung jawab untuk mengkomunikasi iman, untuk meneruskan iman, baik itu di dalam maupun di luar dirinya.
Awalnya, beberapa ungkapan injili dapat datang ke pikiran yang tampaknya mempertentangkan ikatan keluarga dan mengikuti Yesus. Misalnya, kata-kata kuat ini yang kita semua tahu dan dengar: "Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku" (Mat 10:37-38).



