Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 25 Agustus 2019 : MEMASUKI PINTU YANG SESAK MENUJU SURGA


Saudara-saudari yang terkasih,

Bacaan Injil hari Ini (Luk 13:22-30), memaparkan kepada kita Yesus lewat, mengajar melalui kota-kota dan desa-desa, bepergian menuju Yerusalem, di mana Ia tahu bahwa Ia harus wafat di kayu salib demi keselamatan seluruh manusia. Dalam skenario ini, seorang mengajukan pertanyaan kepada Tuhan, mengatakan : "Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?" (ayat 23). Masalah tersebut menjadi perdebatan pada saat itu, dan ada berbagai cara untuk menafsirkan Kitab Suci, dalam hal ini. Tetapi Yesus menjungkirbalikkan pertanyaan itu - karena lebih berfokus pada mutunya : “Sedikit sajakah orang? ... ” - dan sebagai gantinya menempatkan jawaban pada tingkat tanggung jawab, mengundang kita untuk menggunakan waktu sekarang dengan baik. Pada kenyataannya, Ia berkata : “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (ayat 24).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 21 Agustus 2019 : TENTANG KISAH PARA RASUL (Kis 4:32-35) – BAGIAN 5


Saudara-saudari yang terkasih, selamat pagi!

Umat Kristiani lahir dari pencurahan Roh Kudus yang berlimpah dan tumbuh berkat 'ragi' berbagi di antara saudara-saudari di dalam Kristus. Ada dinamika kesetiakawanan yang membangun Gereja sebagai keluarga Allah, di mana pusatnya adalah pengalaman koinonia. Apa artinya ini, kata yang asing ini? Kata Yunani ini berarti "menyatukan", "menempatkan bersama" menjadi sebuah umat, bukan mengasingkan diri. Inilah pengalaman umat Kristian perdana, yaitu, “berbagi”, “berkomunikasi,” “berpartisipasi”, bukan mengasingkan diri. Dalam Gereja, asal mulanya, koinonia ini, umat ini, terutama merujuk pada partisipasi dalam tubuh dan darah Kristus. Kita memasuki persekutuan dengan Yesus dan dari persekutuan dengan Yesus ini, kita tiba pada persekutuan dengan saudara-saudari kita. Dan persekutuan dengan tubuh dan darah Kristus ini, pada Misa Kudus, diterjemahkan menjadi kesatuan persaudaraan, dan oleh karena itu juga terhadap apa yang paling sulit bagi kita : mengumpulkan barang-barang dan uang kolekte untuk mendukung Gereja Induk di Yerusalem (Rm 12:13; 2Kor 8–9) dan gereja-gereja lain. Jika kamu ingin tahu apakah kamu orang Kristiani yang baik, kamu harus berdoa, bersekutu, dan menerima sakramen rekonsiliasi. Tetapi tanda bahwa hatimu telah bertobat, adalah ketika pertobatan tiba di sakumu masing-masing, menyentuh minat kita masing-masing : inilah tempat kita melihat apakah seseorang bermurah hati dengan sesamanya, jika mereka membantu orang-orang yang paling lemah, orang-orang yang paling miskin: Ketika pertobatan tiba di sana, kamu yakin itulah pertobatan sejati. Jika tetap hanya dalam kata-kata, itu bukan pertobatan yang baik.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 18 Agustus 2019 : PERKENANKAN API YESUS MENGUBAH HATI KITA, MEMPERBARUI HIDUP KITA


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Dalam Bacaan Injil hari ini (Luk 12:49-53), Yesus memperingatkan para murid bahwa waktu untuk mengambil keputusan telah tiba. Kedatangan-Nya ke dunia, pada kenyataannya, bertepatan dengan waktu untuk membuat pilihan yang menentukan : memilih Injil tidak dapat ditunda. Dan untuk lebih memahami panggilan-Nya, Ia menggunakan gambaran api yang dibawa-Nya ke bumi. Karena itu, Ia berkata: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!". Kata-kata ini dimaksudkan untuk membantu para murid meninggalkan sikap malas, tidak peduli, acuh tak acuh, dan ketertutupan, untuk menyambut api kasih Allah; kasih yang, seperti yang diingatkan oleh Santo Paulus, “telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus" (Rm. 5:5). Karena Roh Kudus yang membuat kita mengasihi Allah dan membuat kita mengasihi sesama kita; Roh Kuduslah yang kita miliki di dalam diri kita.

SURAT PAUS FRANSISKUS UNTUK PARA IMAM DALAM RANGKA 160 TAHUN WAFATNYA SANTO PENYEMBUH ASAL ARS, SANTO YOHANES MARIA VIANNEY


Kepada para imam saudaraku

Saudara-saudara yang terkasih,

Seratus enam puluh tahun telah berlalu sejak wafatnya Santo Penyembuh asal Ars, yang diberikan oleh Paus Pius XI sebagai pelindung para imam paroki di seluruh dunia.[1] Sehubungan dengan hal ini, pada hari pestanya, saya menulis surat ini tidak hanya untuk para imam paroki tetapi juga untuk kamu semua, para imam saudaraku, yang secara diam-diam “meninggalkan segalanya” untuk membenamkan diri dalam kehidupan sehari-hari komunitasmu. Seperti Santo Penyembuh asal Ars, kamu melayani "di parit-parit", sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari (bdk. Mat 20:12), menghadapi berbagai situasi yang tak berujung dalam upayamu untuk memberi perhatian dan menemani umat Allah. Saya ingin mengatakan sepatah kata kepada kamu masing-masing yang, sering tanpa gembar-gembor dan dengan biaya pribadi, di tengah keletihan, kelemahan dan kesedihan, melaksanakan perutusan pelayananmu demi Allah dan demi umatmu. Meskipun berbagai kesulitan dalam perjalanan, kamu sedang menulis halaman-halaman terbaik kehidupan imami.