Saudara-saudari yang terkasih, selamat pagi!
Dalam Hari Minggu Adven IV dan terakhir ini, Bacaan Injil (bdk. Mat
1:18-24) menuntun kita menuju Natal melalui pengalaman Yusuf, sosok yang
tampaknya tingkatan kedua, tetapi dalam sikapnya segenap kebijaksanaan
Kristiani tercakup. Ia, bersama dengan Yohanes Pembaptis dan Maria, adalah
salah satu kepribadian yang ditawarkan Liturgi kepada kita untuk Masa Adven
dan, dari ketiganya, ia adalah yang paling sederhana. Ia tidak berkhotbah, ia
tidak berbicara tetapi berusaha melakukan kehendak Allah. Dan ia melakukannya
dengan bercorak Injil dan Sabda Bahagia. Kita berpikir : “ "Berbahagialah
orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan
Sorga” (Mat 5:3). Dan Yusuf miskin karena ia hidup dari yang pokok, ia bekerja,
ia hidup dari bekerja. Kemiskinan yang menjadi ciri khas dari orang-orang yang
sadar bahwa segala sesuatu bergatung pada Allah dan di dalam Dia menaruh
segenap kepercayaan mereka.



