Liturgical Calendar

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK MASA PRAPASKAH 2025


Marilah kita bersama-sama menempuh perjalanan dalam pengharapan

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kita memulai peziarahan tahunan Masa Prapaskah dalam iman dan pengharapan dengan ritus tobat berupa penerimaan abu. Gereja, bunda dan guru kita, mengundang kita untuk membuka hati terhadap rahmat Allah, sehingga kita dapat merayakan dengan penuh sukacita kemenangan Paskah Kristus Tuhan atas dosa dan maut, yang membuat Santo Paulus berseru: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut, di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” (1Kor 15:54-55). Sungguh, Yesus Kristus, yang disalibkan dan bangkit, adalah pokok iman kita dan jaminan pengharapan kita dalam janji agung Bapa, yang telah digenapi dalam Putra-Nya yang terkasih: hidup yang kekal (lih. Yoh 10:28; 17:3).[1]

 

Masa Prapaskah ini, saat kita ambil bagian dalam rahmat Tahun Yubileum, saya ingin mengusulkan beberapa refleksi tentang apa artinya berjalan bersama dalam pengharapan, dan tentang panggilan pertobatan yang disampaikan Allah dalam belas kasih-Nya kepada kita semua, sebagai individu dan komunitas.

 

Pertama, melakukan perjalanan. Moto Yubileum, “Peziarah Pengharapan”, mengingatkan kita pada perjalanan panjang umat Israel menuju Tanah Terjanji, sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Keluaran. Jalan yang sulit dari perbudakan menuju kebebasan ini dikehendaki dan dituntun oleh Tuhan, yang mengasihi umat-Nya dan tetap setia kepada mereka. Sulitnya memikirkan keluaran biblis tanpa memikirkan juga saudara-saudari kita yang pada zaman kita sedang melarikan diri dari situasi kesengsaraan dan kekerasan untuk mencari kehidupan yang lebih baik bagi diri mereka dan orang-orang yang mereka kasihi. Panggilan pertama pertobatan dengan demikian datang dari kesadaran bahwa kita semua adalah peziarah dalam kehidupan ini; kita masing-masing diundang untuk berhenti dan bertanya bagaimana kehidupan kita mencerminkan fakta ini. Apakah aku sungguh sedang dalam perjalanan, atau apakah aku sedang berdiri terpaku, tidak bergerak, entah dilumpuhkan oleh rasa takut dan putus asa atau enggan untuk keluar dari zona nyamanku? Apakah aku sedang mencari cara untuk meninggalkan kesempatan dosa dan situasi yang merendahkan martabatku? Membandingkan kehidupan kita sehari-hari dengan kehidupan beberapa migran atau orang asing, belajar bagaimana bersimpati dengan pengalaman mereka dan dengan cara ini menemukan apa yang sedang diminta Allah dari kita sehingga kita dapat semakin maju dalam perjalanan kita menuju rumah Bapa akan menjadi latihan Masa Prapaskah yang baik bagi kita. Ini akan menjadi "pemeriksaan batin" yang baik bagi kita semua yang sedang dalam perjalanan.

 

Kedua, berjalan bersama. Gereja dipanggil untuk berjalan bersama, menjadi sinodal.[2] Umat Kristiani dipanggil untuk berjalan di samping sesamanya, dan jangan pernah mengembara sendirian. Roh Kudus mendorong kita untuk tidak terus menerus mementingkan diri kita, tetapi meninggalkan diri kita dan terus berjalan menuju Allah dan saudara-saudari kita.[3] Berjalan bersama berarti mempererat kesatuan yang berlandaskan martabat kita bersama sebagai anak-anak Allah (lihat Gal 3:26-28). Berjalan bersama berarti berjalan berdampingan, tanpa menyorong atau menginjak-injak sesama kita, tanpa iri hati atau munafik, tanpa membiarkan seorang pun diterlantarkan atau dikucilkan. Marilah kita semua berjalan ke arah yang sama, berkecenderungan menuju tujuan yang sama, saling memperhatikan dalam kasih dan kesabaran.

 

Masa Prapaskah ini, Allah sedang meminta kita untuk menelaah apakah dalam hidup kita, dalam keluarga kita, di tempat-tempat di mana kita bekerja dan menghabiskan waktu kita, kita mampu berjalan bersama dengan sesama kita, mendengarkan mereka, menahan godaan untuk menjadi egois dan hanya memikirkan kebutuhan kita. Marilah kita bertanya kepada diri kita di hadapan Tuhan apakah, sebagai uskup, imam, pelaku hidup bakti dan awam dalam pelayanan Kerajaan Allah, kita bekerja sama dengan sesama kita. Apakah kita menunjukkan diri kita ramah, dengan gerakan nyata, kepada mereka yang dekat maupun yang jauh. Apakah kita membuat sesama kita merasa menjadi bagian komunitas atau menjaga jarak terhadap mereka.[4] Jadi, ini adalah panggilan kedua pertobatan: panggilan sinodalitas.

 

Ketiga, marilah kita bersama-sama berjalan dalam pengharapan, karena kita telah diberi sebuah janji. Semoga pengharapan yang tidak mengecewakan (bdk. Rm 5:5), pesan utama Yubileum,[5] menjadi fokus perjalanan Masa Prapaskah kita menuju kemenangan Paskah. Sebagaimana diajarkan Paus Benediktus XVI dalam Ensiklik Spe Salvi, “manusia membutuhkan kasih yang tanpa syarat. Ia membutuhkan kepastian, yang mendorongnya berkata: 'Sebab aku yakin, bahwa baik maut maupun hidup, baik malaikat-malaikat maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita' (Rm 8:38-39).[6] Kristus, harapanku, telah bangkit![7] Ia hidup dan berkuasa dalam kemuliaan. Maut telah diubah menjadi kemenangan, dan iman serta pengharapan besar umat Kristiani terletak pada hal ini: kebangkitan Kristus!

 

Lalu, inilah panggilan ketiga pertobatan: panggilan pengharapan, percaya kepada Allah dan janji-Nya yang agung tentang hidup yang kekal. Marilah kita bertanya kepada diri kita: Apakah aku yakin bahwa Tuhan mengampuni dosa-dosaku? Atau apakah aku bertindak seolah-olah aku dapat menyelamatkan diriku? Apakah aku merindukan keselamatan dan memohon pertolongan Allah untuk mencapainya? Apakah secara nyata aku mengalami pengharapan yang memungkinkanku untuk menafsirkan peristiwa-peristiwa sejarah dan mengilhami dalam diriku komitmen terhadap keadilan dan persaudaraan, merawat rumah kita bersama dan sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun merasa dikucilkan?

 

Saudara-saudari, berkat kasih Allah dalam Yesus Kristus, kita diteguhkan dalam pengharapan yang tidak mengecewakan (bdk. Rm 5:5). Pengharapan adalah “sauh yang kuat dan aman”.[8] Pengharapan menggerakkan Gereja untuk berdoa supaya “semua orang diselamatkan” (1Tim 2:4) dan menantikan persatuannya dengan Kristus, Mempelainya, dalam kemuliaan surgawi. Inilah doa Santa Teresa dari Avila: “Berharaplah, hai jiwaku, berharaplah! Engkau tidak mengetahui hari dan waktu. Berjaga-jagalah dengan penuh perhatian. Segala sesuatu berlalu dengan cepat, walaupun ketidaksabaranmu membuat hal yang pasti jadi diragukan dan membuat waktu yang singkat menjadi panjang” (Seruan Jiwa kepada Allah, 15:3).[9]


Semoga Perawan Maria, Bunda Pengharapan, menjadi perantara kita dan menemani kita dalam perjalanan Masa Prapaskah.

 

Roma, Santo Yohanes Lateran, 6 Februari 2025

Peringatan wajib Santo Paul Miki dan kawan-kawan, martir

 

FRANSISKUS



[1] Bdk. Ensiklik Dilexit Nos (24 Oktober 2024), 220.

[2] Bdk. Homili dalam Misa Kanonisasi Giovanni Battista Scalabrini dan Artemide Zatti, 9 Oktober 2022.

[3] Idem.

[4] Idem.

[5] Bdk. Bulla Spes Non Confundit, 1.

[6] Ensiklik Spe Salvi (30 November 2007), 26.

[7] Bdk. Sekuensia Paskah.

[8] Bdk. Katekismus Gereja Katolik , 1820.

[9] Idem, 1821.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 19 Februari 2025 : YESUS KRISTUS PENGHARAPAN KITA. 1. BAYI YESUS. 6. “MEREKA MELIHAT ANAK ITU ... MEREKA SUJUD MENYEMBAH DIA” (MAT 2:11). KUNJUNGAN ORANG-ORANG MAJUS KEPADA RAJA YANG BARU DILAHIRKAN

Saudara-saudari terkasih,

 

Dalam Injil tentang masa kanak-kanak Yesus ada satu kisah yang hanya dipaparkan oleh Matius: kunjungan orang-orang Majus. Tertarik oleh kemunculan sebuah bintang, yang dalam banyak budaya merupakan pertanda kelahiran seseorang yang istimewa, beberapa orang bijak berangkat melakukan perjalanan dari timur, tanpa mengetahui dengan pasti ke mana mereka akan pergi. Mereka adalah orang-orang Majus, orang-orang yang tidak termasuk dalam umat perjanjian. Terakhir kali kita berbicara tentang para gembala Betlehem, yang dipinggirkan oleh masyarakat Ibrani karena mereka dianggap "tidak murni"; hari ini kita menjumpai kategori lain, orang-orang asing, yang segera datang untuk memberi penghormatan kepada Putra Allah yang masuk ke dalam sejarah dengan kedudukan sebagai raja yang sepenuhnya telah ada sebelumnya. Oleh karena itu, Injil memberitahu kita dengan jelas bahwa orang-orang miskin dan orang-orang asing diundang sebagai orang-orang pertama yang bertemu dengan Allah yang menjadi seorang anak, Juruselamat dunia.

 

Orang-orang Majus dianggap sebagai perwakilan dari ras purba, yang dilahirkan oleh tiga putra Nuh, dan tiga benua yang dikenal pada zaman dahulu, Asia, Afrika, dan Eropa, serta tiga tahap kehidupan manusia: muda, dewasa, dan tua. Terlepas dari semua kemungkinan penafsiran, mereka adalah orang-orang yang tidak tinggal diam, tetapi, seperti orang-orang pilihan dalam sejarah Kitab Suci, merasakan kebutuhan untuk bergerak, berangkat. Mereka adalah orang-orang yang mampu melihat melampaui diri mereka, yang tahu bagaimana melihat ke atas.

 

Ketertarikan pada bintang yang muncul di langit membuat mereka mulai bergerak ke tanah Yudea, ke Yerusalem, tempat mereka bertemu Raja Herodes. Kebersahajaan dan kepercayaan mereka dalam meminta informasi tentang raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu berbenturan dengan kelicikan Herodes, yang merasa khawatir akan kehilangan takhtanya, segera mencoba untuk mendapatkan pandangan yang lebih baik, menghubungi para ahli Taurat dan meminta mereka untuk menyelidiki.

 

Dengan demikian, kekuasaan penguasa duniawi menunjukkan segenap kelemahannya. Para ahli mengetahui Kitab Suci dan merujuk kepada raja tempat di mana, menurut nubuat Mikha, pemimpin dan gembala umat Israel akan dilahirkan (Mi 5:1): Betlehem yang kecil, dan bukan Yerusalem yang besar! Memang, sebagaimana diingatkan Paulus kepada jemaat Korintus, "apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk mempermalukan apa yang kuat" (1 Kor 1:27).

 

Namun, para ahli Taurat, yang mampu mengidentifikasi tempat kelahiran Mesias dengan tepat, menunjukkan jalan kepada orang lain, tetapi mereka sendiri tidak bergerak! Memang, tidak cukup hanya mengetahui teks-teks tentang nubuat untuk menyelaraskan diri dengan frekuensi ilahi; kita harus membiarkan teks-teks tersebut masuk ke dalam diri kita dan membiarkan sabda Allah membangkitkan kerinduan untuk mencari, menyalakan keinginan untuk melihat Allah.

 

Pada titik ini, Herodes, yang bertindak secara diam-diam, seperti yang dilakukan oleh para penipu dan pelaku kekerasan, bertanya kepada orang-orang Majus tentang saat yang tepat bintang itu muncul dan mendorong mereka untuk melanjutkan perjalanan dan kemudian kembali untuk menyampaikan kabar kepadanya, sehingga ia juga dapat pergi menyembah bayi yang baru dilahirkan itu. Bagi mereka yang terikat dengan kekuasaan, Yesus bukanlah harapan yang harus disambut, tetapi ancaman yang harus disingkirkan!

 

Ketika orang-orang Majus kembali berangkat, bintang itu muncul lagi dan menuntun mereka kepada Yesus, tanda bahwa ciptaan dan sabda tentang nubuat mewakili alfabet yang dengannya Allah berbicara dan membiarkan Diri-Nya ditemukan. Pemandangan bintang itu mengilhami sukacita yang tak tertahankan dalam diri orang-orang itu, karena Roh Kudus, yang menggerakkan hati siapa pun yang dengan tulus mencari Allah, juga memenuhinya dengan sukacita. Setelah memasuki rumah, orang-orang Majus itu sujud, menyembah Yesus dan mempersembahkan kepada-Nya hadiah-hadiah yang berharga, yang layak bagi seorang raja, yang layak bagi Allah. Mengapa? Apa yang mereka lihat? Seorang penulis kuno menulis: mereka melihat "tubuh mungil yang sederhana yang telah diambil alih oleh Sabda; namun kemuliaan keilahian tidak tersembunyi dari mereka. Mereka melihat seorang bayi; tetapi mereka menyembah Allah” (Cromazio Di Aquileia, Ulasan tentang Injil Matius, 5:1). Dengan demikian orang-orang Majus menjadi orang-orang kafir pertama yang percaya, gambaran Gereja yang terdiri dari berbagai bahasa dan bangsa.

 

Saudara-saudari terkasih, marilah kita juga mengikuti jejak orang-orang Majus, para “peziarah pengharapan” yang dengan keberanian besar mengarahkan langkah, hati, dan harta benda mereka kepada Dia yang menjadi pengharapan bukan hanya bagi Israel tetapi juga bagi segala bangsa. Marilah kita belajar untuk menyembah Allah dalam kekecilan-Nya, dalam kekuasaan-Nya yang tidak menghancurkan tetapi justru membebaskan dan memampukan kita untuk melayani dengan bermartabat. Dan marilah kita mempersembahkan kepada-Nya hadiah-hadiah yang paling indah, untuk mengungkapkan iman dan kasih kita.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 19 Februari 2025)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 12 Februari 2025 : YESUS KRISTUS PENGHARAPAN KITA. 1. BAYI YESUS. 5. “HARI INI TELAH LAHIR BAGIMU JURUSELAMAT, YAITU MESIAS, TUHAN” (LUK 2:11). KELAHIRAN YESUS DAN KUNJUNGAN PARA GEMBALA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dalam perjalanan katekese Yubileum kita tentang Yesus, pengharapan kita, hari ini kita akan merenungkan peristiwa kelahiran-Nya di Betlehem.

 

Putra Allah memasuki sejarah sebagai teman seperjalanan kita, dan mulai melakukan perjalanan saat masih dalam kandungan ibu-Nya. Penginjil Lukas memberitahu kita bahwa segera setelah Ia dikandung, Ia pergi dari Nazaret ke rumah Zakharia dan Elisabet; dan kemudian, pada akhir kehamilan, dari Nazaret ke Betlehem untuk cacah jiwa. Maria dan Yusuf terpaksa pergi ke kota Raja Daud, tempat Yusuf juga dilahirkan. Mesias yang telah lama dinantikan, Putra Allah Yang Maha Tinggi, membiarkan diri-Nya dicacah, yaitu dicacah dan didaftarkan, seperti warga negara lainnya. Ia tunduk pada maklumat seorang kaisar, Kaisar Agustus, yang menganggap dirinya sebagai penguasa seluruh bumi.

 

Lukas menempatkan kelahiran Yesus pada "waktu yang dapat ditentukan secara pasti" dan dalam "latar geografis yang ditunjukkan secara pasti", sehingga "yang sejagat dan yang berwujud saling bersentuhan" (Benediktus XVI, Narasi Kelahiran, 2012, 77). Allah, yang datang ke dalam sejarah, tidak membongkar tatanan dunia, tetapi ingin menerangi dan menciptakannya kembali dari dalam.

 

Betlehem berarti “rumah roti”. Di sana, hari-hari melahirkan telah digenapi bagi Maria dan di sanalah Yesus lahir, roti yang turun dari surga untuk memuaskan rasa lapar dunia (lih. Yoh 6:51). Malaikat Gabriel telah mengumumkan kelahiran Raja mesianik sebagai tanda kebesaran: “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan engkau harus menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Maha Tinggi. Tuhan Allah akan memberikan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan” (Luk 1:31-33).

 

Namun, Yesus dilahirkan dengan cara yang sama sekali belum pernah terjadi sebelumnya bagi seorang raja. Sungguh, “ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung. Ia membedungnya lalu membaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di penginapan” (Luk 2:6-7). Putra Allah tidak dilahirkan di istana kerajaan, melainkan di belakang rumah, di tempat hewan dipelihara.

 

Lukas dengan demikian menunjukkan kepada kita bahwa Allah tidak datang ke dunia dengan pernyataan-pernyataan yang berkumandang; Ia tidak menyatakan diri-Nya dengan kegaduhan, tetapi memulai perjalanan-Nya dengan kerendahan hati. Dan siapakah saksi-saksi pertama dari peristiwa ini? Mereka adalah para gembala: orang-orang yang kurang berbudaya, berbau busuk karena kontak terus-menerus dengan hewan, mereka hidup di pinggiran masyarakat. Namun, mereka mempraktikkan pekerjaan yang dengannya Allah sendiri menyatakan diri-Nya kepada umat-Nya (lih. Kej 48:15;49:24; Mzm 23:1; 80:2; Yes 40:11). Allah memilih mereka sebagai penerima kabar terindah yang pernah berkumandang dalam sejarah: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk segala bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Mesias, Tuhan, di kota Daud. Inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi yang dibedung dan terbaring di dalam palungan."

 

Tempat untuk bertemu Sang Mesias adalah palungan. Memang, setelah penantian seperti itu, “bagi Juruselamat dunia, bagi Dia yang di dalam-Nya telah diciptakan segala sesuatu (bdk. Kol 1:16), tidak ada tempat lagi” (Benediktus XVI, Narasi Kelahiran, 2012, 80). Para gembala kemudian mengetahui bahwa di tempat yang sangat sederhana, yang disediakan bagi hewan, Sang Mesias yang telah lama dinantikan telah lahir, dan Ia lahir bagi mereka, untuk menjadi Juruselamat mereka, gembala mereka. Berita ini membuka hati mereka untuk takjub, memuji, dan mewartakan dengan penuh sukacita. ‘Tidak seperti banyak orang lain, yang sibuk dengan banyak hal, para gembala menjadi orang pertama yang melihat hal yang paling penting: rahmat keselamatan. Orang-orang yang rendah hati dan miskin yang menyambut peristiwa Penjelmaan” (Surat Apostolik Admirabile Signum, 5).

 

Saudara-saudari, marilah kita juga memohon rahmat untuk menjadi seperti para gembala, mampu untuk takjub dan memuji Allah, dan mampu untuk menghargai apa yang telah dipercayakan-Nya kepada kita: talenta, karisma, panggilan kita dan orang-orang yang Ia tempatkan di samping kita. Marilah kita memohon kepada Tuhan agar mampu melihat dalam kelemahan kekuatan luar biasa Sang Putra Allah, yang datang untuk memperbarui dunia dan mengubah rupa hidup kita dengan rencana-Nya yang penuh harapan bagi segenap umat manusia.


***

[Imbauan]

Saya memikirkan banyak negara yang sedang berperang. Saudari-saudari, marilah kita berdoa untuk perdamaian. Marilah kita melakukan yang terbaik untuk perdamaian. Jangan lupa bahwa perang adalah kekalahan. Selalu. Kita tidak dilahirkan untuk membunuh, tetapi untuk membuat orang-orang tumbuh. Semoga jalan menuju perdamaian ditemukan. Mohonlah, dalam doa harianmu, mohonlah perdamaian. Ukraina yang tersiksa... betapa menderitanya. Kemudian, pikirkan Palestina, Israel, Myanmar, Kivu Utara, Sudan Selatan. Begitu banyak negara yang sedang berperang. Mohon, marilah kita berdoa untuk perdamaian. Marilah kita melakukan penebusan dosa untuk perdamaian.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris, khususnya mereka yang berasal dari Inggris, Irlandia Utara, Malta, Swedia, Australia, Indonesia, Filipina, dan Amerika Serikat. Secara khusus saya menyapa para seminaris dari Pontificial Irish College dan saya memastikan doa saya untuk studi mereka guna menjadi imam. Saya mengharapkan Yubileum Pengharapan saat ini dapat menjadi masa rahmat dan pembaruan rohani bagimu dan keluargamu. Saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan Yesus atas kamu semua.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Dalam katekese lanjutan kita tentang tema Tahun Suci ini, “Yesus Kristus Pengharapan Kita”, sekarang kita merenungkan kerendahan hati Putra Allah, yang memilih untuk memasuki sejarah manusiawi kita bukan dengan pewartaan yang mengumandang, tetapi dalam kemiskinan dan kesederhanaan. Lahir di Betlehem, sebuah kota yang namanya berarti “Rumah Roti”, Yesus – Roti yang turun dari surga untuk memuaskan rasa lapar dunia (bdk. Yoh 6:51) – dibaringkan dalam palungan karena tidak ada tempat penginapan bagi-Nya. Kabar gembira tentang kelahiran Juruselamat pertama-tama diwartakan kepada para gembala yang hina. Di sini kita melihat bahwa dalam rencana Allah, “orang-orang yang rendah hati dan miskinlah yang menyambut peristiwa Penjelmaan” (Admirabile Signum, 5). Seperti para gembala, semoga kita bersukacita dalam keajaiban kasih Allah, yang dinyatakan dalam ketersembunyian dan kelemahan, dan mengakui pengharapan kita terletak dalam kekuatan kasih yang hening itu sehingga dapat mengubah hidup kita.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Februari 2025)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 9 Februari 2025

Saudara-saudari terkasih,

 

Sebelum mengakhiri perayaan ini, saya ingin menyapa kamu semua, yang telah menghidupkan kembali peziarahan Yubileum Angkatan Bersenjata, Kepolisian, dan Aparat Keamanan ini. Saya berterima kasih kepada para pejabat sipil yang terhormat atas kehadiran mereka, dan para ordinaris dan imam militer atas pelayanan pastoral mereka. Saya menyampaikan salam saya kepada semua aparat militer di seluruh dunia, dan saya ingin mengingat ajaran Gereja dalam hal ini. Konsili Vatikan II mengatakan: “Mereka sendiri hendaknya memandang diri sebagai pelayan-pelayan keamanan dan kebebasan rakyat” (Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, 79). Layanan bersenjata ini harus dilaksanakan hanya untuk pertahanan yang sah, tidak pernah untuk memaksakan kekuasaan atas bangsa lain, selalu menaati konvensi internasional tentang masalah konflik (lih. idem), dan sebelum itu, dalam penghormatan yang sakral bagi kehidupan dan ciptaan.

 

Saudara-saudari, marilah kita berdoa untuk perdamaian, di Ukraina yang tersiksa, Palestina, Israel dan seluruh Timur Tengah, Myanmar, Kivu, dan Sudan. Semoga senjata dibungkam di mana pun, dan semoga seruan rakyat, yang memohon perdamaian, didengar!

 

Marilah kita percayakan doa kita kepada perantaraan Perawan Maria, Ratu Perdamaian.

 

Angelus Domini…


_____

(Peter Suriadi - Bogor, 9 Februari 2025)