Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 6 Agustus 2025 : YESUS KRISTUS PENGHARAPAN KITA. 3. PASKAH YESUS. 1. PERSIAPAN PERJAMUAN. “DI SITULAH KAMU HARUS MEMPERSIAPKANNYA UNTUK KITA!” (MRK 14:15)

Saudara-saudari terkasih,

 

Marilah kita melanjutkan perjalanan Yubileum kita dalam menemukan wajah Kristus, yang di dalam-Nya pengharapan kita terbentuk dan teguh. Hari ini kita akan mulai merefleksikan misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus. Marilah kita mulai dengan merenungkan sebuah kata yang tampaknya sederhana tetapi menyimpan rahasia berharga kehidupan kristiani: mempersiapkan.

 

Dalam Injil Markus, diceritakan bahwa "pada hari pertama Hari Raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepada-Nya, 'Ke mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?'" (Mrk. 14:12). Ini adalah pertanyaan praktis, tetapi juga penuh dengan antisipasi. Para murid menyadari bahwa sesuatu yang penting akan terjadi, tetapi mereka tidak tahu rinciannya. Jawaban Yesus hampir seperti teka-teki: "Pergilah ke kota, di sana seseorang yang membawa kendi berisi air akan menjumpaimu" (ayat 13). Rinciannya menjadi simbolis: seseorang membawa kendi, sebuah gestur khas perempuan pada masa itu; sebuah ruangan di lantai atas yang telah dipersiapkan; seorang tuan rumah yang tidak dikenal. Seolah-olah semuanya telah diatur sebelumnya. Faktanya, inilah yang terjadi. Dalam kisah ini, Injil menunjukkan bahwa kasih bukanlah hasil kebetulan, melainkan pilihan yang disadari. Kasih bukanlah reaksi sederhana, melainkan sebuah keputusan yang membutuhkan persiapan. Yesus menghadapi sengsara-Nya bukan karena fatalisme, melainkan karena kesetiaan pada jalan yang diterima dan diikuti dengan bebas dan saksama. Inilah yang menghibur kita: mengetahui bahwa anugerah hidup-Nya berasal dari kesadaran niat, bukan dorongan yang tiba-tiba.

 

"Ruang di lantai atas yang sudah disiapkan" itu memberitahu kita bahwa Allah selalu mendahului kita. Bahkan sebelum kita menyadari bahwa kita perlu disambut, Tuhan telah mempersiapkan ruang bagi kita di mana kita dapat mengenali diri kita sendiri dan merasa bahwa kita adalah sahabat-Nya. Tempat ini, pada dasarnya, adalah hati kita: sebuah "ruang" yang mungkin tampak kosong, tetapi hanya menunggu untuk dikenali, diisi, dan dihargai. Paskah, yang harus dipersiapkan oleh para murid, sesungguhnya sudah hadir di dalam hati Yesus. Ia telah memikirkan segalanya, mengatur segalanya, memutuskan segalanya. Namun, Ia meminta sahabat-sahabat-Nya untuk melakukan bagian mereka. Hal ini mengajarkan kita sesuatu yang penting bagi kehidupan rohani kita: anugerah Allah tidak meniadakan kebebasan kita, melainkan membangkitkannya. Anugerah Allah tidak meniadakan tanggung jawab kita, tetapi membuatnya berbuah.

 

Hari ini pun, seperti dulu, ada perjamuan yang harus dipersiapkan. Bukan hanya soal liturgi, tetapi juga soal kesiapan kita untuk memasuki suatu gestur yang melampaui diri kita. Ekaristi tidak hanya dirayakan di altar, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, di mana kita dapat mengalami segala sesuatu sebagai persembahan dan ucapan syukur. Mempersiapkan diri untuk merayakan ucapan syukur ini bukan berarti berbuat lebih banyak, melainkan memberi ruang. Ini berarti menyingkirkan apa yang membebani kita, mengurangi tuntutan kita, dan berhenti memiliki pengharapan yang tidak realistis. Sungguh, terlalu sering kita menyamakan persiapan dengan khayalan. Khayalan mengalihkan perhatian kita; persiapan membimbing kita. Khayalan mencari hasil; persiapan memungkinkan perjumpaan. Kasih sejati, Injil mengingatkan kita, diberikan sebelum dibalas. Kasih sejati adalah pemberian yang bersifat antisipasi. Kasih sejati tidak didasarkan pada apa yang diterima, tetapi pada apa yang ingin dipersembahkan. Itulah yang dijalani Yesus bersama murid-murid-Nya: sementara mereka masih belum mengerti, sementara salah seorang dari mereka hendak mengkhianati-Nya dan seorang lainnya hendak menyangkal-Nya, Ia sedang mempersiapkan perjamuan persekutuan bagi mereka semua.

 

Saudara-saudari terkasih, kita juga diundang untuk "mempersiapkan Paskah" Tuhan. Bukan hanya Paskah liturgis: Paskah hidup kita juga. Setiap tindakan kerelaan, setiap tindakan tanpa pamrih, setiap pengampunan yang diberikan sebelumnya, setiap upaya yang diterima dengan sabar, adalah cara untuk mempersiapkan tempat di mana Allah dapat bersemayam. Kita dapat bertanya pada diri kita sendiri: ruang apa dalam hidupku yang perlu kutata agar siap menerima Tuhan? Hari ini apa artinya "mempersiapkan" bagiku? Mungkin menolak tuntutan, berhenti menunggu orang lain berubah, mengambil langkah pertama. Mungkin lebih banyak mendengarkan, lebih sedikit bertindak, atau belajar bagaimana mempercayai apa yang telah dipersiapkan.

 

Jika kita menerima undangan untuk mempersiapkan tempat persekutuan dengan Allah dan di antara kita sendiri, kita akan menemukan bahwa kita dikelilingi oleh tanda, perjumpaan, dan kata-kata yang membimbing kita menuju ruang itu, yang luas dan telah dipersiapkan, di mana misteri kasih yang tak terbatas, yang menopang kita dan selalu mendahului kita, dirayakan tanpa henti. Semoga Tuhan menganugerahkan kita kemampuan untuk menjadi orang-orang yang rendah hati dalam mempersiapkan kehadiran-Nya. Dan, dalam kesiapan harian ini, semoga kepercayaan yang teduh itu juga bertumbuh dalam diri kita, memungkinkan kita menghadapi segala sesuatu dengan hati yang bebas. Karena di mana kasih telah dipersiapkan, kehidupan dapat sungguh berkembang.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang ikut serta dalam Audiensi hari ini, terutama mereka yang datang dari Afrika Selatan, Vietnam, Kanada, dan Amerika Serikat. Selama musim panas, waktu yang biasanya disisihkan untuk liburan dan rekreasi, marilah kita tidak mengabaikan undangan Tuhan untuk mempersiapkan hati kita dengan ikut serta secara aktif dalam Ekaristi dan melakukan tindakan amal yang murah hati. Semoga Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan Kata-kata Bapa Suci]

 

Saudara-saudari terkasih: hari ini, dalam katekese lanjutan kita tentang tema Yubileum "Kristus Pengharapan Kita", kita memulai refleksi kita tentang sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus dengan merenungkan pentingnya mempersiapkan diri untuk perjumpaan dengan Allah. Dalam perikop yang baru saja kita baca, para murid terkejut mendapati bahwa ruang atas telah dipersiapkan bagi mereka untuk merayakan Paskah. Kita diundang untuk menemukan di sini gambaran hati kita sendiri, yang dipilih dan dikhususkan oleh Tuhan sebagai tempat perjumpaan dengan-Nya. Namun, pertama-tama, kita harus menanggapi prakarsa Tuhan dengan mempersiapkan hati kita melalui tindakan nyata kasih, pengampunan, dan pengorbanan diri agar Ia sudi datang dan tinggal di dalam diri kita. Dengan memohon kerja sama kita, Ia mengingatkan kita bahwa kasih sejati — seperti Sengsara itu sendiri — bukanlah hasil kebetulan, melainkan keputusan yang sadar dan bebas untuk memberikan diri. Hari ini marilah kita memohon kepada Tuhan untuk mengajar kita bagaimana mempersiapkan diri bagi kehadiran-Nya dan agar dapat menyambut-Nya, dan orang-orang di sekitar kita, ke dalam hati kita.

 

[Imbauan]

 

Hari ini peringatan delapan puluh tahun jatuhnya bom atom di kota Hiroshima, Jepang, dan dua hari lagi kita akan mengenang bom atom di kota Nagasaki. Saya ingin mendoakan semua orang yang telah menderita dampak fisik, psikologis, dan sosialnya. Meskipun tahun-tahun telah berlalu, peristiwa tragis tersebut merupakan peringatan universal terhadap kehancuran yang disebabkan oleh perang, khususnya senjata nuklir. Saya berharap di dunia masa kini, yang ditandai oleh ketegangan yang kuat dan pertikaian berdarah, keamanan yang ilusif yang didasarkan pada ancaman kehancuran bersama dapat digantikan oleh perangkat keadilan, praktik dialog, dan kepercayaan pada persaudaraan.
____

(Peter Suriadi - Bogor, 7 Agustus 2025)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 3 Agustus 2025

Sahabat-sahabat terkasih,

 

Tuhan Yesus hadir di antara kita dan di dalam diri kita: segala sesuatu dan semua orang dalam Ekaristi. Bersatu dengan-Nya, kami ingin menyampaikan "ucapan terima kasih" yang sebesar-besarnya kepada Bapa atas anugerah hari-hari Yubileummu ini. Hari-hari ini merupakan curahan rahmat bagi Gereja dan seluruh dunia! Hal ini dimungkinkan berkat keikutsertaan kamu masing-masing. Untuk itu, dengan sepenuh hati saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kamu masing-masing. Secara khusus, saya sedang memikirkan dua peziarah muda, Maria dan Pascale, seorang Spanyol dan seorang Mesir, yang telah meninggal dunia pada hari-hari ini. Saya memercayakan mereka kepada Tuhan. Saya berterima kasih kepada para uskup, imam, biarawan, dan pendidik yang mendampingimu, serta semua yang telah mendoakan peristiwa ini dan ikut serta secara rohani.

 

Dalam persekutuan dengan Kristus, sumber damai sejahtera dan pengharapan kita bagi dunia, kita semakin dekat dengan orang muda yang menderita berbagai kejahatan paling serius, yang disebabkan oleh sesama manusia. Kita bersama orang muda Gaza, kita bersama orang muda Ukraina, bersama mereka yang berada di setiap negeri yang berlumuran darah akibat perang. Saudara-saudari mudaku, kamu adalah tanda bahwa dunia yang berbeda itu mungkin: dunia persaudaraan dan persahabatan, di mana konflik tidak diselesaikan dengan senjata melainkan dengan dialog.

 

Ya, bersama Kristus itu mungkin! Dengan kasih-Nya, dengan pengampunan-Nya, dan dengan kuasa Roh-Nya. Sahabat-sahabatku terkasih, bersatu dengan Yesus, bagaikan carang pada pokok anggur, kamu akan berbuah lebat. Kamu akan menjadi garam dunia dan terang dunia. Kamu akan menjadi benih pengharapan di tempat tinggalmu, dalam keluargamu, di antara teman-temanmu, di sekolah, di tempat kerja, dan dalam olahraga. Kamu akan menjadi benih pengharapan bersama Kristus, pengharapan kita.

 

Setelah Yubileum ini, "ziarah pengharapan" orang muda berlanjut dan akan membawa kita ke Asia! Saya memperbarui undangan yang disampaikan Paus Fransiskus di Lisbon dua tahun lalu. Orang muda dari seluruh dunia akan berkumpul bersama Penerus Petrus untuk merayakan Hari Orang Muda Sedunia di Seoul, Korea, dari tanggal 3 hingga 8 Agustus 2027. Temanya adalah "Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia!" (Yoh. 16:33). Justru pengharapan yang bersemayam dalam hati kitalah yang memberi kita kekuatan untuk mewartakan kemenangan Kristus yang bangkit atas kejahatan dan maut; dan kamu, para peziarah pengharapan muda, akan menjadi saksi kemenangan ini sampai ke ujung bumi! Saya menantikan kehadiranmu di Seoul: marilah kita terus bermimpi dan berharap bersama.

 

Marilah kita memercayakan diri kita kepada perlindungan keibuan Perawan Maria.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Agustus 2025)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 30 Juli 2025 : YESUS KRISTUS PENGHARAPAN KITA. 2. KEHIDUPAN YESUS. PERUMPAMAAN 12. PENYEMBUHAN SEORANG TULI DAN GAGAP. MEREKA TERAMAT TAKJUB DAN BERKATA, "IA MELAKUKAN SEGALA-GALANYA DENGAN BAIK; YANG TULI DIJADIKAN-NYA MENDENGAR, YANG BISU DIJADIKAN-NYA BERKATA-KATA." (MRK 7:37)

Saudara-saudari terkasih,

 

Dengan katekese ini, kita mengakhiri perjalanan kita melalui kehidupan publik Yesus, yang ditandai dengan perjumpaan, perumpamaan, dan penyembuhan.

 

Masa yang kita jalani ini juga membutuhkan penyembuhan. Dunia kita ditandai oleh iklim kekerasan dan kebencian yang merendahkan martabat manusia. Kita hidup dalam masyarakat yang semakin sakit akibat semacam "bulimia" koneksi media sosial: kita terlalu terhubung, dibombardir oleh gambar-gambar, terkadang palsu atau terputar balik. Kita dibanjiri oleh pesan-pesan yang tak terhitung jumlahnya yang membangkitkan badai emosi yang kontradiktif dalam diri kita.

 

Dalam skenario ini, mungkin saja dalam diri kita muncul keinginan untuk mematikan segala-galanya. Kita mungkin memilih untuk tidak merasakan apa pun lagi. Bahkan kata-kata kita pun berisiko disalahpahami, dan kita mungkin tergoda untuk menutup diri dalam keheningan, ke dalam ketiadaan komunikasi di mana, terlepas dari kedekatan kita, kita tidak lagi mampu saling mengatakan hal-hal yang paling sederhana dan mendalam.

 

Sehubungan dengan hal ini, hari ini saya ingin merenungkan sebuah perikop Injil Markus yang menggambarkan kita sebagai seorang yang tidak dapat berbicara atau mendengar (bdk. Mrk 7:31-37). Sebagaimana terkadang dapat terjadi pada diri kita, mungkin orang ini memilih untuk tidak berbicara lagi karena ia merasa tidak dipahami; ia memilih untuk mematikan setiap suara karena ia telah kecewa dan terluka oleh apa yang telah didengarnya. Sebenarnya, yang tidak dapat berbicara atau mendengar bukan orang yang pergi kepada Yesus untuk disembuhkan, melainkan orang-orang yang membawanya. Kita mungkin berpikir bahwa orang-orang yang membawanya kepada Sang Guru khawatir akan keterasingannya. Namun, komunitas kristiani juga telah melihat dalam diri orang-orang ini gambaran Gereja, yang mendampingi setiap orang kepada Yesus agar mereka dapat mendengarkan sabda-Nya. Kisah ini terjadi di wilayah kafir, sehingga kita berada dalam konteks di mana suara-suara lain cenderung menenggelamkan suara Allah.

 

Tingkah laku Yesus mungkin awalnya tampak aneh, karena Ia menarik orang ini ke samping (ayat 33a). Dengan cara ini, Ia seolah menekankan keterasingannya, tetapi jika dicermati lebih dekat, hal itu membantu kita memahami apa yang ada di balik kesunyian dan ketertutupan orang ini, seolah-olah Yesus telah merasakan kebutuhannya akan keintiman dan kedekatan.

 

Sebelum hal lain, Yesus menawarkan kedekatan yang hening kepadanya, melalui gestur yang menunjukkan sebuah perjumpaan yang mendalam: Ia menyentuh telinga dan lidah orang ini (bdk. ayat 33b). Yesus tidak menggunakan banyak kata; Ia hanya mengatakan apa yang diperlukan pada saat itu: "Terbukalah!" (ayat 34). Markus menggunakan kata dalam bahasa Aram — Efata — seolah-olah untuk membiarkan kita mendengar, hampir "secara langsung" bunyi dan napas kata tersebut. Kata yang sederhana dan indah ini mengandung undangan yang ditujukan Yesus kepada orang ini yang telah berhenti mendengarkan dan berbicara. Seolah-olah Yesus berkata kepadanya, "Terbukalah terhadap dunia yang menakutkanmu ini! Terbukalah terhadap hubungan yang telah mengecewakanmu! Terbukalah terhadap kehidupan yang telah kamu tinggalkan!". Menutup diri, pada kenyataannya, bukanlah solusi.

 

Setelah perjumpaan dengan Yesus, orang itu tidak hanya mulai berbicara lagi, tetapi ia melakukannya dengan "terus terang" (ayat 35). Kata keterangan ini, yang disisipkan oleh Penginjil, tampaknya menyiratkan sesuatu yang lebih mendalam tentang alasan ia diam. Mungkin orang ini berhenti berbicara karena ia merasa mengatakan sesuatu dengan cara yang salah, mungkin ia merasa tidak mampu. Kita semua mengalami apa artinya disalahpahami, merasa bahwa kita tidak benar-benar didengar. Kita semua perlu memohon kepada Tuhan untuk memulihkan cara kita berkomunikasi, bukan hanya agar kita menjadi lebih efektif, tetapi juga agar kita tidak melukai orang lain dengan perkataan kita.

 

Kembali mulai berbicara dengan benar adalah awal dari sebuah perjalanan, belum tujuan akhir. Bahkan, Yesus melarang orang itu berbicara tentang apa yang telah terjadi padanya (bdk. ayat 36). Untuk benar-benar mengenal Yesus, kita harus menyelesaikan sebuah perjalanan; kita harus tetap bersama-Nya dan juga melewati sengsara-Nya. Ketika kita telah melihat Dia dihina dan menderita, ketika kita telah mengalami kuasa penyelamatan dari salib-Nya, barulah kita dapat berkata bahwa kita telah sungguh-sungguh mengenal-Nya. Tidak ada jalan pintas untuk menjadi murid Yesus.

 

Saudara-saudari terkasih, marilah kita memohon kepada Tuhan agar kita belajar berkomunikasi dengan jujur dan bijaksana. Marilah kita berdoa bagi semua orang yang terluka oleh perkataan orang lain. Marilah kita berdoa bagi Gereja, agar ia tidak pernah gagal dalam misinya untuk menuntun umat kepada Yesus, agar mereka dapat mendengar sabda-Nya, disembuhkan olehnya, dan pada gilirannya menjadi pembawa pesan keselamatan-Nya.

[Imbauan]

Saya kembali menyampaikan duka cita mendalam atas serangan teroris brutal yang terjadi pada malam antara tanggal 26 dan 27 Juli di Komanda, di bagian timur Republik Demokratik Kongo, di mana lebih dari 40 umat kristiani tewas di sebuah gereja saat doa bersama, dan di rumah mereka sendiri. Seraya saya memercayakan para korban kepada kerahiman Allah yang penuh kasih, saya berdoa bagi mereka yang terluka dan umat kristiani di seluruh dunia yang terus menderita kekerasan dan penganiayaan. Saya mendesak mereka yang memiliki tanggung jawab lokal dan internasional untuk bekerja sama guna mencegah tragedi semacam itu.

 

Pada tanggal 1 Agustus akan diperingati 50 tahun penandatanganan Akta Final Helsinki. Terdorong oleh keinginan untuk menjamin keamanan selama Perang Dingin, 35 negara memulai babak geopolitik baru, yang mendorong pemulihan hubungan antara Timur dan Barat. Peristiwa ini juga menandai kebangkitan kembali minat terhadap hak asasi manusia, dengan penekanan khusus pada kebebasan beragama — yang dianggap sebagai salah satu landasan arsitektur kerja sama yang saat itu sedang berkembang, "dari Vancouver hingga Vladivostok." Partisipasi aktif Takhta Suci dalam Konferensi Helsinki — diwakili oleh Uskup Agung Agostino Casaroli — membantu memajukan komitmen politik dan moral terhadap perdamaian. Saat ini, lebih dari sebelumnya, sangatlah penting untuk menjaga semangat Helsinki: berdialog secara terus-menerus, memperkuat kerja sama, dan menjadikan diplomasi sebagai jalan yang dipilih untuk mencegah dan menyelesaikan konflik.


[Sapaan]

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang berpartisipasi dalam Audiensi hari ini, terutama mereka yang datang dari Inggris, Skotlandia, Irlandia, Swedia, Afrika Selatan, Selandia Baru, Hong Kong, India, Jepang, Malaysia, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, Kanada, dan Amerika Serikat. Seraya menyapa dengan penuh kasih sayang kepada seluruh kaum muda yang hadir hari ini yang berpartisipasi dalam Yubileum Orang Muda, saya mendorongmu untuk membuka hati terhadap kasih Allah yang menyembuhkan, agar kamu dapat menjadi mercusuar pengharapan yang semakin terang di dunia. Tuhan memberkati kamu semua!


[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang tema Yubileum "Yesus Kristus Pengharapan Kita", hari ini kita menutup refleksi kita tentang pelayanan publik Yesus dengan penyembuhan seorang tuli dan gagap. Sebagaimana kita dengar dalam Bacaan Injil, dalam sebuah sikap kedekatan, Yesus memisahkan orang itu dari orang banyak dan menyembuhkannya dengan kata-kata dan sentuhan-Nya. Saat ini, banyak orang mengasingkan diri dalam keputusasaan dan tampaknya kehilangan kemampuan berkomunikasi, mungkin karena mereka sering merasa terluka dan disalahpahami dalam interaksi mereka dengan orang lain. Kita membutuhkan saat-saat intim dengan Yesus agar kita dapat mendengar Ia berkata, "Efata," yang berarti, "Terbukalah." Ia memampukan kita untuk melihat melampaui masalah kita dan menempatkan keterampilan mendengarkan dan berkomunikasi kita untuk melayani orang lain. Sebagaimana teman-teman orang tuli itu membawanya kepada Yesus, kita juga dipanggil untuk menjadi saksi kuasa penyembuhan Yesus dan membawa orang lain kepada-Nya, agar mereka dapat mendengarkan kata-kata-Nya, mengalami sentuhan-Nya, dipenuhi dengan pengharapan, dan disembuhkan.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 31 Juli 2025)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 27 Juli 2025

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil hari ini menyajikan Yesus yang mengajarkan doa Bapa Kami kepada murid-murid-Nya (bdk. Luk 11:1-13). Doa inilah yang mempersatukan seluruh umat kristiani, yang di dalamnya Tuhan mengundang kita untuk menyapa Allah sebagai "Abba", "Bapa", dengan "dengan kepercayaan seorang anak ... keberanian yang rendah hati, dan kepastian bahwa dicintai" (Katekismus Gereja Katolik, 2778).

 

Katekismus Gereja Katolik mengungkapkan hal ini dengan sangat baik: "Di dalam doa Tuhan kita diwahyukan kepada diri kita sendiri, karena serentak Bapa diwahyukan kepada kita." (idem, 2783). Hal ini sungguh benar adanya karena semakin kita berdoa dengan penuh keyakinan kepada Bapa surgawi kita, semakin kita menyadari bahwa kita adalah anak-anak terkasih dan semakin kita mengenal kebesaran kasih-Nya (bdk. Rm. 8:14-17).

 

Bacaan Injil hari ini selanjutnya menggambarkan ciri-ciri kebapaan Allah melalui gambaran yang gamblang: seseorang yang bangun di tengah malam untuk membantu seorang sahabatnya menyambut tamu tak terduga; dan seorang orang tua yang peduli untuk memberikan hal-hal yang baik kepada anak-anaknya.

 

Gambaran ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah berpaling dari kita ketika kita datang kepada-Nya, bahkan jika kita terlambat mengetuk pintu-Nya, mungkin setelah kesalahan, kesempatan yang terlewat, kegagalan, atau bahkan jika, untuk menyambut kita, Ia harus "membangunkan" anak-anak-Nya yang sedang tidur di rumah (bdk. Luk 11:7). Sungguh, dalam keluarga besar Gereja, Bapa tidak ragu untuk menjadikan kita semua peserta dalam setiap tindakan kasih-Nya. Tuhan selalu mendengarkan kita ketika kita berdoa kepada-Nya. Jika Ia terkadang menanggapi dengan cara atau di saat-saat yang sulit dipahami, itu karena Ia bertindak dengan kebijaksanaan dan pemeliharaan, yang melampaui pemahaman kita. Maka, bahkan di saat-saat seperti ini, marilah kita tidak berhenti berdoa — dan berdoa dengan keyakinan — karena di dalam Dia kita akan selalu menemukan terang dan kekuatan.

 

Ketika kita mendaraskan doa Bapa Kami, selain merayakan rahmat menjadi anak-anak Allah, kita juga mengungkapkan komitmen kita untuk menanggapi karunia ini dengan saling mengasihi sebagai saudara-saudari di dalam Kristus. Merenungkan hal ini, salah seorang Bapa Gereja menulis: “Kita harus ingat... dan tahu bahwa ketika kita menyebut Allah ‘Bapa kita’, kita harus berperilaku sebagai anak-anak Allah” (Santo Siprianus dari Kartago, De Dom. orat., 11), dan yang lain menambahkan: “Engkau tidak dapat menyebut Allah sumber segala kebaikan sebagai Bapamu jika engkau memelihara hati yang kejam dan tidak manusiawi; karena dalam hal ini engkau tidak lagi memiliki tanda kebaikan Bapa surgawi dalam dirimu” (Santo Yohanes Krisostomus, De orat. Dom., 3). Kita tidak dapat berdoa kepada Allah sebagai “Bapa” dan kemudian bersikap kasar dan tidak peka terhadap orang lain. Sebaliknya, penting untuk membiarkan diri kita diubah rupa oleh kebaikan, kesabaran, belas kasih-Nya, sehingga wajah-Nya dapat tercermin dalam wajah kita seperti dalam sebuah cermin.

 

Saudara-saudari terkasih, liturgi hari ini mengajak kita, melalui doa dan amal, untuk merasa dikasihi dan mengasihi sebagaimana Allah mengasihi kita: dengan keterbukaan, keleluasaan, kepedulian bersama, dan tanpa tipu daya. Marilah kita mohon kepada Maria untuk membantu kita menanggapi panggilan ini, agar kita dapat mewujudkan manisnya wajah Bapa.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini kita merayakan Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia V, yang bertema: "Berbahagialah orang yang tidak kehilangan pengharapan." Marilah kita memandang kakek-nenek dan lansia sebagai saksi pengharapan, yang mampu menunjukkan jalan bagi generasi mendatang. Janganlah kita meninggalkan mereka sendirian, melainkan, jalinlah ikatan kasih dan doa bersama mereka.

 

Hati saya dekat dengan semua orang yang sedang menderita akibat konflik dan kekerasan di seluruh dunia. Secara khusus, saya berdoa bagi mereka yang terdampak bentrokan di sepanjang perbatasan antara Thailand dan Kamboja, terutama anak-anak dan keluarga yang mengungsi. Semoga Sang Raja Damai menginspirasi semua orang untuk mengupayakan dialog dan rekonsiliasi.

 

Saya juga berdoa bagi para korban kekerasan di Suriah selatan.

 

Saya sedang mengikuti dengan penuh keprihatinan situasi kemanusiaan yang memprihatinkan di Gaza, di mana penduduk sipil menderita kelaparan parah serta terus terpapar kekerasan dan kematian. Saya kembali menyampaikan permohonan tulus untuk gencatan senjata, pembebasan sandera, dan penghormatan penuh terhadap hukum humaniter.

 

Setiap manusia memiliki martabat yang melekat, yang dianugerahkan oleh Allah sendiri. Saya mendesak semua pihak yang terlibat dalam konflik untuk mengakui martabat ini dan mengakhiri setiap tindakan yang melanggarnya. Saya menyerukan negosiasi yang bertujuan untuk mengamankan masa depan yang damai bagi semua orang, dan penolakan terhadap apa pun yang dapat membahayakannya.

 

Saya memercayakan kepada Maria, Ratu Perdamaian, para korban konflik yang tak berdosa dan para pemimpin yang memiliki kuasa untuk menyelesaikannya.

 

Saya menyapa rekan-rekan dari Radio Vatikan/Berita Vatikan, yang, untuk lebih dekat dengan umat dan para peziarah selama Tahun Yubileum, telah meresmikan sebuah stasiun kecil di bawah tiang Bernini bersama dengan L’Osservatore Romano. Terima kasih atas pelayananmu dalam berbagai bahasa, yang membawa suara Paus ke dunia. Dan terima kasih kepada semua jurnalis yang berkontribusi dalam menyampaikan perdamaian dan kebenaran.

 

Saya menyapa kamu semua yang datang dari Italia dani berbagai belahan dunia, khususnya para kakek-nenek dari San Cataldo, para biarawan muda Kapusin Eropa, para calon penerima Sakramen Krisma dari gugus Paroki Grantorto-Carturo, kaum muda dari Montecarlo di Lucca, dan para Pramuka Licata.

 

Saya menyapa dengan penuh kasih sayang kaum muda dari berbagai negara yang telah berkumpul di Roma untuk Yubileum Orang Muda. Saya berharap hal ini akan menjadi kesempatan bagi kamu masing-masing untuk berjumpa dengan Kristus, dan dikuatkan oleh-Nya dalam iman dan komitmenmu untuk mengikuti Kristus dengan keutuhan hidup.

 

Petang ini, perarakan "Madonna Fiumarola" akan berlangsung di Sungai Tiber. Semoga semua yang berpartisipasi dalam tradisi Maria yang indah ini belajar dari Bunda Yesus bagaimana menghayati Injil dalam kehidupan sehari-hari! Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 27 Juli 2025)