Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 13 Agustus 2025 : YESUS KRISTUS PENGHARAPAN KITA. 3. PASKAH YESUS. 2. PENGKHIANATAN. “BUKAN AKU, YA?” (MRK. 14:19)

Saudara-saudari terkasih,

 

Marilah kita melanjutkan perjalanan kita di sekolah Injil, mengikuti jejak Yesus di hari-hari terakhir hidup-Nya. Hari ini kita akan berhenti sejenak pada sebuah adegan yang intim, dramatis, namun juga sangat nyata: momen ketika, dalam perjamuan Paskah, Yesus menyatakan bahwa salah seorang dari dua belas murid-Nya akan mengkhianati-Nya: "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku, yaitu dia yang makan dengan Aku" (Mrk. 14:18).

 

Kata-kata yang keras. Yesus mengucapkannya bukan untuk mengutuk, melainkan untuk menunjukkan bagaimana kasih, jika sejati, tak dapat hidup tanpa kebenaran. Ruangan di lantai atas, tempat segala sesuatu dipersiapkan dengan cermat sebelumnya, tiba-tiba dipenuhi keheningan yang menyakitkan, berupa pertanyaan, kecurigaan, dan kerentanan. Penderitaan yang kita juga pahami betul, ketika bayang-bayang pengkhianatan menyelimuti hubungan terdekat.

 

Namun, cara Yesus berbicara tentang apa yang akan terjadi sungguh mengejutkan. Ia tidak meninggikan suara-Nya, tidak menunjuk jari-Nya, atau menyebut nama Yudas. Ia berbicara sedemikian rupa sehingga setiap orang dapat bertanya pada dirinya sendiri. Dan inilah yang sebenarnya terjadi. Santo Markus memberitahu kita: "Mereka pun menjadi sedih dan seorang demi seorang berkata kepada-Nya, 'Bukan aku, yah?'" (Mrk. 14:19).

 

Sahabat-sahabat terkasih, pertanyaan ini – “Bukan aku, yah?” – mungkin termasuk pertanyaan paling tulus yang dapat kita ajukan kepada diri kita sendiri. Bukan pertanyaan orang yang tidak bersalah, melainkan pertanyaan murid yang menyadari betapa rapuhnya dirinya. Bukan jeritan orang yang bersalah, melainkan bisikan orang yang, meskipun ingin mengasihi, menyadari bahwa ia mampu menyakiti. Dalam kesadaran inilah perjalanan keselamatan dimulai.

 

Yesus tidak mencela untuk merendahkan. Ia mengatakan kebenaran karena Ia ingin menyelamatkan. Dan untuk diselamatkan, kita perlu merasakan: merasakan bahwa kita terlibat, merasakan bahwa kita dikasihi terlepas dari segalanya, merasakan bahwa kejahatan itu nyata tetapi bukan akhir. Hanya mereka yang telah mengenal kebenaran kasih yang mendalam yang dapat menerima luka pengkhianatan.

 

Reaksi para murid bukan kemarahan, melainkan kesedihan. Mereka tidak gusar, melainkan berduka. Kesakitan muncul dari kemungkinan nyata untuk terlibat. Dan justru kesedihan inilah, jika disambut dengan tulus, menjadi tempat pertobatan. Injil tidak mengajarkan kita untuk menyangkal kejahatan, melainkan mengenalinya sebagai kesempatan yang menyakitkan untuk kelahiran kembali.

 

Yesus kemudian menambahkan sebuah frasa yang meresahkan dan membuat kita berpikir. "Celakalah orang yang membuat Anak Manusia itu diserahkan. Lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan" (Mrk. 14:21). Kata-kata itu memang kasar, tetapi harus dipahami dengan baik: bukan kutukan, melainkan jeritan penderitaan. Dalam bahasa Yunani, "celakalah" itu terdengar seperti ratapan, sebuah "aduh", sebuah seruan belas kasihan yang tulus dan mendalam.

 

Kita terbiasa menghakimi. Sebaliknya, Allah menerima penderitaan. Ketika Ia melihat kejahatan, Ia tidak membalasnya, melainkan berduka. Dan "lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan" bukanlah kutukan yang dipaksakan secara apriori, melainkan sebuah kebenaran yang dapat kita pahami: jika kita mengingkari kasih yang telah melahirkan kita, jika dengan berkhianat kita menjadi tidak setia pada diri kita sendiri, maka kita sungguh kehilangan makna kedatangan kita ke dunia, dan kita menjauhkan diri dari keselamatan.

 

Namun, justru di sana, di titik tergelap, terang tidak padam. Sebaliknya, ia mulai bersinar. Karena jika kita menyadari batas kita, jika kita membiarkan diri kita disentuh oleh penderitaan Kristus, maka kita akhirnya dapat dilahirkan kembali. Iman tidak menghindarkan kita dari kemungkinan berdosa, tetapi selalu menawarkan jalan keluar: yaitu belas kasihan.

 

Yesus tidak mengalami skandal oleh kerapuhan kita. Ia tahu betul bahwa tidak ada persahabatan yang kebal terhadap risiko pengkhianatan. Namun Yesus tetap percaya. Ia terus duduk di meja bersama para pengikut-Nya. Ia tidak berhenti memecah-mecahkan roti, bahkan untuk orang-orang yang akan mengkhianati-Nya. Inilah kuasa Allah yang diam-diam: Ia tidak pernah meninggalkan meja kasih, bahkan ketika Ia tahu Ia akan ditinggalkan sendirian.

 

Saudara-saudari terkasih, kita juga dapat bertanya kepada diri kita sendiri hari ini, dengan tulus: "Bukan aku, yah?". Bukan untuk merasa tertuduh, melainkan untuk membuka ruang bagi kebenaran di dalam hati kita. Keselamatan dimulai di sini: dengan kesadaran bahwa kita mungkin saja yang mengingkari kepercayaan kita kepada Allah, tetapi kita juga bisa menjadi orang yang mengumpulkannya, melindunginya, dan memperbaruinya.

 

Pada akhirnya, inilah pengharapan: mengetahui bahwa meskipun kita gagal, Allah tidak akan pernah mengecewakan kita. Bahkan jika kita mengkhianati-Nya, Ia tidak pernah berhenti mengasihi kita. Dan jika kita membiarkan diri kita tersentuh oleh kasih ini – rendah hati, terluka, tetapi selalu setia – maka kita dapat benar-benar dilahirkan kembali. Dan kita bisa mulai hidup tidak lagi sebagai pengkhianat, tetapi sebagai anak-anak yang selalu dicintai.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang ikut serta dalam Audiensi hari ini, khususnya rombongan dari Inggris, Hungaria, Malta, Kenya, Afrika Selatan, Uganda, Zambia, India, Indonesia, Irak, Yerusalem, Filipina, Vietnam, Barbados, dan Amerika Serikat. Selagi kita mempersiapkan diri untuk merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga pada tanggal 15 Agustus, saya memercayakanmu dan keluargamu kepada pemeliharaan Bunda Maria yang lembut. Melalui perantaraannya, semoga kamu dikuatkan dalam kelemahanmu, dihibur dalam pencobaanmu, serta diberikan sukacita serta damai sejahtera Yesus Kristus, Putranya. Allah memberkatimu.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese kita tentang tema Yubileum "Kristus Pengharapan Kita", kita melanjutkan refleksi kita tentang sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus dengan merenungkan pewahyuan Yesus pada Perjamuan Terakhir bahwa salah seorang murid-Nya akan mengkhianati-Nya. Meskipun terkesan kasar, perkataan Yesus tidak dimaksudkan untuk mengutuk atau mempermalukan sang pengkhianat-Nya. Sebaliknya, perkataan itu merupakan kebenaran yang diucapkan dengan kasih, kasih ssayang, dan dukacita yang mendalam. Ketika kita merenungkan hidup kita sendiri dengan jujur, pertanyaan para Rasul menjadi pertanyaan kita sendiri: "Bukan aku, yah?" Mengajukan pertanyaan ini membuka ruang bagi kebenaran di dalam hati kita. Hal ini penting karena keterbukaan terhadap keselamatan dimulai dengan kesadaran bahwa kita dapat mengingkari kepercayaan kepada Tuhan melalui dosa-dosa kita. Terlepas dari kesalahan kita, pengharapan kita tetap terletak pada kenyataan bahwa bahkan jika kita mengecewakan-Nya, Ia tidak akan pernah mengecewakan kita; jika kita mengkhianati-Nya, Ia tidak akan pernah mengkhianati kita. Maka, marilah kita membiarkan diri kita disentuh oleh kasih-Nya yang penuh pengampunan, agar kita sungguh-sungguh dilahirkan kembali sebagai anak-anak-Nya yang terkasih.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 13 Agustus 2025)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 10 Agustus 2025

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Dalam Bacaan Injil hari ini, Yesus mengajak kita untuk memikirkan bagaimana kita akan menginvestasikan harta kita, yaitu hidup kita (bdk. Luk 12:32-48). Ia berkata, "Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah!" (ayat 33).

 

Ia menasihati kita untuk tidak menyimpan sendiri karunia yang telah diberikan Allah kepada kita, melainkan menggunakannya dengan murah hati untuk kebaikan sesama, terutama mereka yang paling membutuhkan pertolongan kita. Bukan sekadar berbagi harta benda yang kita miliki, tetapi menempatkan keterampilan, waktu, kasih, kehadiran, dan belas kasih kita untuk melayani sesama. Singkatnya, segala sesuatu dalam rencana Allah yang menjadikan kita masing-masing sebagai harta yang tak ternilai dan tak tergantikan, aset yang hidup dan bernapas, harus dipupuk dan diinvestasikan agar bertumbuh. Jika tidak, karunia ini akan mengering dan berkurang nilainya, atau akhirnya dirampas oleh orang-orang yang seperti pencuri, merampasnya sebagai sesuatu yang hanya untuk dikonsumsi.

 

Karunia Allah yang kita miliki tidak diciptakan untuk digunakan dengan cara seperti itu. Kita membutuhkan ruang, kebebasan, dan hubungan untuk mencapai kepuasan dan mengungkapkan diri. Kita membutuhkan kasih, yang dengan sendirinya mengubah rupa dan memuliakan setiap aspek keberadaan kita, menjadikan kita semakin serupa dengan Allah. Bukan suatu kebetulan bahwa Yesus mengucapkan kata-kata ini ketika Ia berada di jalan menuju Yerusalem, di mana Ia akan mengurbankan diri-Nya di kayu salib demi keselamatan kita.

 

Karya belas kasihan adalah bank yang paling aman dan menguntungkan di mana kita dapat mempercayakan harta keberadaan kita, karena di sana, sebagaimana diajarkan Injil, dengan "dua uang tembaga", yaitu uang receh terkecil, bahkan janda miskin pun menjadi orang terkaya di dunia (bdk. Mrk. 12:41-44).

 

Berkaitan hal ini, Santo Agustinus berkata, "Jika kamu memberi satu pon uang tembaga dan menerima satu pon uang perak, atau memberi satu pon uang perak dan menerima satu pon uang emas, kamu akan bersukacita atas keberuntunganmu. Apa yang kamu berikan pasti akan diubah rupa; yang akan datang kepadamu bukan emas, bukan perak, melainkan kehidupan kekal" (Khotbah 390, 2, PL 39, 1706). Dan ia menjelaskan alasannya: "Apa yang kamu berikan akan diubah rupa, karena kamu sendiri akan diubah" (idem).

 

Untuk memahami maksudnya, kita bisa membayangkan seorang ibu yang merangkul anak-anaknya: bukankah ia orang tercantik dan terkaya di dunia? Atau sepasang kekasih, ketika mereka bersama: bukankah mereka merasa seperti raja dan ratu? Kita bisa memikirkan banyak contoh lainnya.

 

Oleh karena itu, di mana pun kita berada, dalam keluarga, di paroki, sekolah, atau tempat kerja, kita hendaknya berusaha untuk tidak melewatkan kesempatan apa pun untuk bertindak dengan kasih. Inilah jenis kewaspadaan yang diminta Yesus dari kita: bertumbuh dalam kebiasaan untuk saling memperhatikan, siap sedia, dan peka terhadap satu sama lain, sebagaimana Ia menyertai kita setiap saat.

 

Saudari-saudari, marilah kita memercayakan kepada Maria kehendak dan tanggung jawab ini: semoga ia, Sang Bintang Fajar, membantu kita menjadi "penjaga" belas kasihan dan perdamaian di dunia yang ditandai oleh banyak perpecahan. Santo Yohanes Paulus II mengajarkan hal ini kepada kita (bdk. Vigili Doa untuk Hari Orang Muda Sedunia ke-15, 19 Agustus 2000). Dan dengan cara yang indah, begitu pula orang muda yang datang ke Roma dalam rangka Yubileum.

____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 10 Agustus 2025)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 6 Agustus 2025 : YESUS KRISTUS PENGHARAPAN KITA. 3. PASKAH YESUS. 1. PERSIAPAN PERJAMUAN. “DI SITULAH KAMU HARUS MEMPERSIAPKANNYA UNTUK KITA!” (MRK 14:15)

Saudara-saudari terkasih,

 

Marilah kita melanjutkan perjalanan Yubileum kita dalam menemukan wajah Kristus, yang di dalam-Nya pengharapan kita terbentuk dan teguh. Hari ini kita akan mulai merefleksikan misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus. Marilah kita mulai dengan merenungkan sebuah kata yang tampaknya sederhana tetapi menyimpan rahasia berharga kehidupan kristiani: mempersiapkan.

 

Dalam Injil Markus, diceritakan bahwa "pada hari pertama Hari Raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepada-Nya, 'Ke mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?'" (Mrk. 14:12). Ini adalah pertanyaan praktis, tetapi juga penuh dengan antisipasi. Para murid menyadari bahwa sesuatu yang penting akan terjadi, tetapi mereka tidak tahu rinciannya. Jawaban Yesus hampir seperti teka-teki: "Pergilah ke kota, di sana seseorang yang membawa kendi berisi air akan menjumpaimu" (ayat 13). Rinciannya menjadi simbolis: seseorang membawa kendi, sebuah gestur khas perempuan pada masa itu; sebuah ruangan di lantai atas yang telah dipersiapkan; seorang tuan rumah yang tidak dikenal. Seolah-olah semuanya telah diatur sebelumnya. Faktanya, inilah yang terjadi. Dalam kisah ini, Injil menunjukkan bahwa kasih bukanlah hasil kebetulan, melainkan pilihan yang disadari. Kasih bukanlah reaksi sederhana, melainkan sebuah keputusan yang membutuhkan persiapan. Yesus menghadapi sengsara-Nya bukan karena fatalisme, melainkan karena kesetiaan pada jalan yang diterima dan diikuti dengan bebas dan saksama. Inilah yang menghibur kita: mengetahui bahwa anugerah hidup-Nya berasal dari kesadaran niat, bukan dorongan yang tiba-tiba.

 

"Ruang di lantai atas yang sudah disiapkan" itu memberitahu kita bahwa Allah selalu mendahului kita. Bahkan sebelum kita menyadari bahwa kita perlu disambut, Tuhan telah mempersiapkan ruang bagi kita di mana kita dapat mengenali diri kita sendiri dan merasa bahwa kita adalah sahabat-Nya. Tempat ini, pada dasarnya, adalah hati kita: sebuah "ruang" yang mungkin tampak kosong, tetapi hanya menunggu untuk dikenali, diisi, dan dihargai. Paskah, yang harus dipersiapkan oleh para murid, sesungguhnya sudah hadir di dalam hati Yesus. Ia telah memikirkan segalanya, mengatur segalanya, memutuskan segalanya. Namun, Ia meminta sahabat-sahabat-Nya untuk melakukan bagian mereka. Hal ini mengajarkan kita sesuatu yang penting bagi kehidupan rohani kita: anugerah Allah tidak meniadakan kebebasan kita, melainkan membangkitkannya. Anugerah Allah tidak meniadakan tanggung jawab kita, tetapi membuatnya berbuah.

 

Hari ini pun, seperti dulu, ada perjamuan yang harus dipersiapkan. Bukan hanya soal liturgi, tetapi juga soal kesiapan kita untuk memasuki suatu gestur yang melampaui diri kita. Ekaristi tidak hanya dirayakan di altar, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, di mana kita dapat mengalami segala sesuatu sebagai persembahan dan ucapan syukur. Mempersiapkan diri untuk merayakan ucapan syukur ini bukan berarti berbuat lebih banyak, melainkan memberi ruang. Ini berarti menyingkirkan apa yang membebani kita, mengurangi tuntutan kita, dan berhenti memiliki pengharapan yang tidak realistis. Sungguh, terlalu sering kita menyamakan persiapan dengan khayalan. Khayalan mengalihkan perhatian kita; persiapan membimbing kita. Khayalan mencari hasil; persiapan memungkinkan perjumpaan. Kasih sejati, Injil mengingatkan kita, diberikan sebelum dibalas. Kasih sejati adalah pemberian yang bersifat antisipasi. Kasih sejati tidak didasarkan pada apa yang diterima, tetapi pada apa yang ingin dipersembahkan. Itulah yang dijalani Yesus bersama murid-murid-Nya: sementara mereka masih belum mengerti, sementara salah seorang dari mereka hendak mengkhianati-Nya dan seorang lainnya hendak menyangkal-Nya, Ia sedang mempersiapkan perjamuan persekutuan bagi mereka semua.

 

Saudara-saudari terkasih, kita juga diundang untuk "mempersiapkan Paskah" Tuhan. Bukan hanya Paskah liturgis: Paskah hidup kita juga. Setiap tindakan kerelaan, setiap tindakan tanpa pamrih, setiap pengampunan yang diberikan sebelumnya, setiap upaya yang diterima dengan sabar, adalah cara untuk mempersiapkan tempat di mana Allah dapat bersemayam. Kita dapat bertanya pada diri kita sendiri: ruang apa dalam hidupku yang perlu kutata agar siap menerima Tuhan? Hari ini apa artinya "mempersiapkan" bagiku? Mungkin menolak tuntutan, berhenti menunggu orang lain berubah, mengambil langkah pertama. Mungkin lebih banyak mendengarkan, lebih sedikit bertindak, atau belajar bagaimana mempercayai apa yang telah dipersiapkan.

 

Jika kita menerima undangan untuk mempersiapkan tempat persekutuan dengan Allah dan di antara kita sendiri, kita akan menemukan bahwa kita dikelilingi oleh tanda, perjumpaan, dan kata-kata yang membimbing kita menuju ruang itu, yang luas dan telah dipersiapkan, di mana misteri kasih yang tak terbatas, yang menopang kita dan selalu mendahului kita, dirayakan tanpa henti. Semoga Tuhan menganugerahkan kita kemampuan untuk menjadi orang-orang yang rendah hati dalam mempersiapkan kehadiran-Nya. Dan, dalam kesiapan harian ini, semoga kepercayaan yang teduh itu juga bertumbuh dalam diri kita, memungkinkan kita menghadapi segala sesuatu dengan hati yang bebas. Karena di mana kasih telah dipersiapkan, kehidupan dapat sungguh berkembang.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang ikut serta dalam Audiensi hari ini, terutama mereka yang datang dari Afrika Selatan, Vietnam, Kanada, dan Amerika Serikat. Selama musim panas, waktu yang biasanya disisihkan untuk liburan dan rekreasi, marilah kita tidak mengabaikan undangan Tuhan untuk mempersiapkan hati kita dengan ikut serta secara aktif dalam Ekaristi dan melakukan tindakan amal yang murah hati. Semoga Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan Kata-kata Bapa Suci]

 

Saudara-saudari terkasih: hari ini, dalam katekese lanjutan kita tentang tema Yubileum "Kristus Pengharapan Kita", kita memulai refleksi kita tentang sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus dengan merenungkan pentingnya mempersiapkan diri untuk perjumpaan dengan Allah. Dalam perikop yang baru saja kita baca, para murid terkejut mendapati bahwa ruang atas telah dipersiapkan bagi mereka untuk merayakan Paskah. Kita diundang untuk menemukan di sini gambaran hati kita sendiri, yang dipilih dan dikhususkan oleh Tuhan sebagai tempat perjumpaan dengan-Nya. Namun, pertama-tama, kita harus menanggapi prakarsa Tuhan dengan mempersiapkan hati kita melalui tindakan nyata kasih, pengampunan, dan pengorbanan diri agar Ia sudi datang dan tinggal di dalam diri kita. Dengan memohon kerja sama kita, Ia mengingatkan kita bahwa kasih sejati — seperti Sengsara itu sendiri — bukanlah hasil kebetulan, melainkan keputusan yang sadar dan bebas untuk memberikan diri. Hari ini marilah kita memohon kepada Tuhan untuk mengajar kita bagaimana mempersiapkan diri bagi kehadiran-Nya dan agar dapat menyambut-Nya, dan orang-orang di sekitar kita, ke dalam hati kita.

 

[Imbauan]

 

Hari ini peringatan delapan puluh tahun jatuhnya bom atom di kota Hiroshima, Jepang, dan dua hari lagi kita akan mengenang bom atom di kota Nagasaki. Saya ingin mendoakan semua orang yang telah menderita dampak fisik, psikologis, dan sosialnya. Meskipun tahun-tahun telah berlalu, peristiwa tragis tersebut merupakan peringatan universal terhadap kehancuran yang disebabkan oleh perang, khususnya senjata nuklir. Saya berharap di dunia masa kini, yang ditandai oleh ketegangan yang kuat dan pertikaian berdarah, keamanan yang ilusif yang didasarkan pada ancaman kehancuran bersama dapat digantikan oleh perangkat keadilan, praktik dialog, dan kepercayaan pada persaudaraan.
____

(Peter Suriadi - Bogor, 7 Agustus 2025)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 3 Agustus 2025

Sahabat-sahabat terkasih,

 

Tuhan Yesus hadir di antara kita dan di dalam diri kita: segala sesuatu dan semua orang dalam Ekaristi. Bersatu dengan-Nya, kami ingin menyampaikan "ucapan terima kasih" yang sebesar-besarnya kepada Bapa atas anugerah hari-hari Yubileummu ini. Hari-hari ini merupakan curahan rahmat bagi Gereja dan seluruh dunia! Hal ini dimungkinkan berkat keikutsertaan kamu masing-masing. Untuk itu, dengan sepenuh hati saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kamu masing-masing. Secara khusus, saya sedang memikirkan dua peziarah muda, Maria dan Pascale, seorang Spanyol dan seorang Mesir, yang telah meninggal dunia pada hari-hari ini. Saya memercayakan mereka kepada Tuhan. Saya berterima kasih kepada para uskup, imam, biarawan, dan pendidik yang mendampingimu, serta semua yang telah mendoakan peristiwa ini dan ikut serta secara rohani.

 

Dalam persekutuan dengan Kristus, sumber damai sejahtera dan pengharapan kita bagi dunia, kita semakin dekat dengan orang muda yang menderita berbagai kejahatan paling serius, yang disebabkan oleh sesama manusia. Kita bersama orang muda Gaza, kita bersama orang muda Ukraina, bersama mereka yang berada di setiap negeri yang berlumuran darah akibat perang. Saudara-saudari mudaku, kamu adalah tanda bahwa dunia yang berbeda itu mungkin: dunia persaudaraan dan persahabatan, di mana konflik tidak diselesaikan dengan senjata melainkan dengan dialog.

 

Ya, bersama Kristus itu mungkin! Dengan kasih-Nya, dengan pengampunan-Nya, dan dengan kuasa Roh-Nya. Sahabat-sahabatku terkasih, bersatu dengan Yesus, bagaikan carang pada pokok anggur, kamu akan berbuah lebat. Kamu akan menjadi garam dunia dan terang dunia. Kamu akan menjadi benih pengharapan di tempat tinggalmu, dalam keluargamu, di antara teman-temanmu, di sekolah, di tempat kerja, dan dalam olahraga. Kamu akan menjadi benih pengharapan bersama Kristus, pengharapan kita.

 

Setelah Yubileum ini, "ziarah pengharapan" orang muda berlanjut dan akan membawa kita ke Asia! Saya memperbarui undangan yang disampaikan Paus Fransiskus di Lisbon dua tahun lalu. Orang muda dari seluruh dunia akan berkumpul bersama Penerus Petrus untuk merayakan Hari Orang Muda Sedunia di Seoul, Korea, dari tanggal 3 hingga 8 Agustus 2027. Temanya adalah "Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia!" (Yoh. 16:33). Justru pengharapan yang bersemayam dalam hati kitalah yang memberi kita kekuatan untuk mewartakan kemenangan Kristus yang bangkit atas kejahatan dan maut; dan kamu, para peziarah pengharapan muda, akan menjadi saksi kemenangan ini sampai ke ujung bumi! Saya menantikan kehadiranmu di Seoul: marilah kita terus bermimpi dan berharap bersama.

 

Marilah kita memercayakan diri kita kepada perlindungan keibuan Perawan Maria.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Agustus 2025)