Liturgical Calendar

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI KAKEK-NENEK DAN LANSIA SEDUNIA II 24 Juli 2022

"Pada masa tua pun mereka masih berbuah" (Mzm 92:15)

 

Para sahabat,

 

“Pada masa tua pun mereka masih berbuah” (Mzm 92:15). Kata-kata Pemazmur ini adalah kabar gembira, “Injil” sejati yang dapat kita wartakan kepada semua orang pada Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia II ini. Kata-kata Pemazmur tersebut bertentangan dengan apa yang dipikirkan dunia tentang tahap kehidupan ini, tetapi juga dengan sikap kepasrahan yang suram yang ditunjukkan oleh sebagian dari kita para lansia, yang memiliki sedikit harapan untuk masa depan.

 

Banyak orang takut dengan masa tua. Mereka menganggapnya semacam penyakit yang kontak apa pun dengannya sebaiknya dihindari. Lansia, menurut mereka, bukan urusan mereka dan harus dipisahkan, mungkin di rumah atau tempat di mana mereka dapat dirawat, agar kita tidak harus berurusan dengan permasalahan mereka. Ini adalah pola pikir "budaya membuang", yang membuat kita berpikir bahwa kita entah bagaimana berbeda dari orang-orang miskin dan rentan yang berada di tengah-tengah kita, jangan tersentuh oleh kelemahan mereka serta terpisah dari "mereka" dan permasalahan mereka. Kitab Suci melihat hal-hal tersebut secara berbeda. Umur panjang – demikianlah ajaran Kitab Suci – adalah berkat, dan lansia bukanlah orang buangan yang harus dijauhi, melainkan tanda yang hidup dari kebaikan Allah yang menganugerahkan kehidupan yang berkelimpahan. Berbahagialah rumah yang dihuni lansia! Berbahagialah keluarga yang menghormati lansia!

 

Masa tua bukanlah masa kehidupan yang mudah dipahami bahkan oleh kita yang sudah mengalaminya. Meskipun akhirnya tiba dengan berlalunya waktu, tidak ada seorangpun yang mempersiapkan kita untuk masa tua, dan kadang-kadang tampaknya mengejutkan kita. Masyarakat yang lebih maju menghabiskan banyak uang pada tahap kehidupan ini tanpa benar-benar membantu orang untuk memahami dan menghargainya; mereka menawarkan rencana perawatan kesehatan untuk para lansia tetapi tidak berencana untuk hidup di masa ini sepenuhnya.[1] Hal ini membuat sulit untuk melihat masa depan dan membedakan arah yang harus diambil. Di satu sisi, kita tergoda untuk menghindari masa tua dengan menyembunyikan kerutan dan berpura-pura menjadi muda selamanya, sementara di sisi lain, kita membayangkan bahwa satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah menanti saat kita, berpikir murung bahwa kita tidak bisa “masih berbuah”.

 

Kemunduran dan anak-anak yang sudah dewasa membuat banyak hal yang dulunya menyita waktu dan tenaga kita tidak lagi begitu mendesak. Mengakui kekuatan kita sedang surut atau timbulnya penyakit dapat merusak kepastian kita. Laju dunia yang cepat – yang bersamanya kita berjuang untuk mengikutinya – tampaknya tidak memberi kita alternatif selain secara tersirat menerima gagasan bahwa kita tidak berguna. Kita dapat menggemakan doa sepenuh hati Pemazmur, ”Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis” (71:9).

 

Tetapi mazmur yang sama – yang merenungkan bagaimana Tuhan telah hadir di setiap tahap kehidupan kita – mendorong kita untuk bertekun dalam pengharapan. Seiring dengan masa tua dan rambut memutih, Allah terus memberi kita karunia kehidupan dan menjaga kita agar tidak dikuasai oleh kejahatan. Jika kita percaya kepada-Nya, kita akan menemukan kekuatan untuk tetap memuji-Nya (bdk. ayat 14-20). Kita akan melihat bahwa menjadi tua lebih dari sekadar kemunduran alami tubuh atau perjalanan waktu yang tak terhindarkan, tetapi karunia umur panjang. Penuaan bukanlah kutukan, melainkan berkat!

 

Karena alasan ini, kita harus menjaga diri kita dan tetap aktif di tahun-tahun berikutnya. Hal ini juga benar dari sudut pandang spiritual : kita harus mengembangkan kehidupan batin kita dengan tekun membaca sabda Allah, berdoa setiap hari, menerima sakramen-sakramen dan ikut serta dalam liturgi. Selain hubungan kita dengan Allah, kita juga harus memupuk hubungan kita dengan sesama : pertama-tama dengan menunjukkan perhatian penuh kasih kepada keluarga kita, anak-cucu kita, bahkan juga kepada kaum miskin dan orang-orang yang menderita, dengan mendekati mereka melalui bantuan praktis dan doa kita. Ini semua akan membantu kita untuk tidak hanya merasa seperti penonton, duduk di beranda atau melihat keluar dari jendela kita, karena kehidupan terus berjalan di sekitar kita. Sebaliknya, kita harus belajar untuk memahami kehadiran Tuhan di mana pun kita berada.[2] Seperti "pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah" (bdk. Mzm 52:10), kita bisa menjadi berkat bagi orang-orang yang tinggal di sekitar kita.

 

Masa tua bukanlah saat untuk menyerah dan menurunkan layar, tetapi masa berbuah yang bertahan lama : sebuah perutusan baru menanti kita dan meminta kita untuk menatap masa depan. “Kepekaan tertentu yang dimiliki kita para lansia terhadap perhatian, pikiran, dan kasih sayang yang menjadikan kita manusiawi harus sekali lagi menjadi panggilan banyak orang. Kepekaan tersebut akan menjadi tanda kasih kita kepada generasi yang lebih muda”.[3] Hal ini akan menjadi sumbangsih kita untuk revolusi kelembutan,[4] sebuah revolusi spiritual dan tanpa kekerasan di mana saya mendorongmu, kakek-nenek dan lansia yang terkasih, untuk berperan aktif.

 

Dunia kita sedang melewati masa pencobaan dan ujian, dimulai dengan wabah pandemi yang tiba-tiba dan ganas, serta kemudian perang yang merusak perdamaian dan pembangunan dalam skala global. Juga bukan suatu kebetulan bahwa perang kembali ke Eropa pada saat generasi yang mengalaminya pada abad terakhir sedang sekarat. Krisis besar ini berisiko membius kita pada kenyataan “epidemi” lain serta bentuk kekerasan meluas lainnya yang mengancam keluarga manusia dan rumah kita bersama.

 

Semua ini menunjukkan perlunya perubahan yang mendalam, pertobatan, yang melucuti hati dan menuntun kita untuk melihat sesama sebagai saudara atau saudari kita. Kita kakek-nenek dan lansia memiliki tanggung jawab besar : mengajar manusia zaman kita untuk menghargai sesama dengan pemahaman yang sama dan tatapan penuh kasih sebagaimana kita memandang cucu kita. Kita sendiri telah bertumbuh dalam kemanusiaan dengan peduli terhadap sesama, dan sekarang kita dapat menjadi guru dari cara hidup yang damai dan penuh perhatian kepada orang-orang yang paling membutuhkan. Sikap ini mungkin disalahartikan sebagai kelemahan atau kepasrahan, tetapi akan menjadikan kita orang yang lemah lembut, bukan agresif dan kasar, yang akan memiliki bumi (bdk. Mat 5:5).

 

Salah satu buah yang harus dihasilkan panggilan kita adalah melindungi dunia. “Kakek-nenek kita memeluk kita dan menggendong kita di lutut mereka”;[5] sekaranglah saatnya kita terus menggendong di lutut kita – dengan bantuan praktis atau hanya dengan doa – tidak hanya cucu kita tetapi juga banyak cucu yang ketakutan yang belum pernah kita temui dan yang mungkin sedang melarikan diri dari perang atau penderitaan dampaknya. Marilah kita menyimpan di dalam hati kita – seperti Santo Yosef, yang adalah seorang bapa yang penuh kasih dan perhatian – anak-anak kecil di Ukraina, Afghanistan, Sudan Selatan…

 

Banyak dari kita telah sampai pada kesadaran yang bijak dan rendah hati akan apa yang sangat dibutuhkan dunia kita : mengakui kita tidak diselamatkan sendirian, dan kebahagiaan adalah roti yang kita pecahkan bersama. Marilah kita bersaksi tentang hal ini di hadapan orang-orang yang secara keliru berpikir bahwa mereka dapat menemukan kepuasan dan kesuksesan pribadi dalam pertikaian. Semua orang, bahkan yang paling lemah di antara kita, dapat melakukan hal ini. Fakta bahwa kita membiarkan diri kita diperhatikan – seringkali oleh orang-orang yang datang dari negara lain – dengan sendirinya merupakan cara untuk mengatakan bahwa hidup bersama dalam damai tidak hanya mungkin, tetapi juga perlu.

 

Kakek-nenek yang terkasih, lansia yang terkasih, kita dipanggil untuk menjadi pengrajin revolusi kelembutan di dunia kita! Marilah kita melakukannya dengan belajar untuk semakin sering dan semakin baik menggunakan sarana paling berharga yang kita miliki dan, tentu saja, yang paling cocok untuk usia kita : doa. “Marilah kita juga menjadi, seolah-olah, penyair doa : marilah kita mengembangkan citarasa untuk menemukan kata-kata kita, marilah kita sekali lagi menjumput apa yang diajarkan sabda Allah”.[6] Doa kita yang penuh kepercayaan dapat melakukan banyak hal : dapat mengiringi jeritan kesakitan mereka yang menderita, dan dapat membantu mengubah hati. Kita bisa menjadi "'paduan suara' abadi dari tempat kudus spiritual yang agung, di mana doa permohonan dan madah pujian menopang komunitas yang bekerja keras dan berjuang di ranah kehidupan".[7]

 

Hari Kakek-nenek dan Lansia Sedunia adalah kesempatan untuk menyatakan sekali lagi, dengan sukacita, bahwa Gereja ingin merayakan bersama dengan semua orang yang - dalam kata-kata Kitab Suci - “hari-harinya telah dipenuhi” Tuhan. Marilah kita rayakan bersama! Saya memintamu untuk membuat Hari Kakek-nenek dan Lansia Sedunia ini dikenal di paroki dan komunitasmu; mencari para lansia yang merasa paling sendirian, di rumah atau di tempat tinggal mereka. Marilah kita pastikan bahwa tidak ada yang merasa sendirian pada hari ini. Mengharapkan kunjungan dapat mengubah rupa hari-hari ketika kita berpikir bahwa kita tidak memiliki apa-apa untuk dinanti-nantikan; sejak perjumpaan awal, persahabatan baru bisa muncul. Mengunjungi lansia yang hidup sendirian adalah karya belas kasihan di zaman kita!

 

Marilah kita memohon kepada Bunda Maria, Bunda kasih yang lembut, untuk menjadikan kita semua ahli revolusi kelembutan, sehingga bersama-sama kita dapat membebaskan dunia dari momok kesepian dan iblis perang.

 

Kepada kamu semua, dan orang-orang yang kamu kasihi, saya menyampaikan berkat serta jaminan kedekatan dan kasih sayang saya. Dan saya memintamu, tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya!

 

Roma, Santo Yohanes Lateran, 3 Mei 2022, Pesta Santo Filipus dan Yakobus Rasul


FRANSISKUS

_____

 

(dialihbahasakan oleh Peter Suriadi - Bogor, 11 Mei 2022)



[1]Katekese tentang Masa Tua – 1. Rahmat Waktu dan Perjanjian Masa Kehidupan (23 Februari 2022).

[2]Katekese tentang Masa Tua – 5. Kesetiaan terhadap Kunjungan Allah demi Generasi Berikutnya (30 Maret 2022).

[3]Katekese tentang Masa Tua – 3. Masa Tua, Sumber untuk Kaum Muda Periang (16 Maret 2022).

[4]Katekese tentang Santo Yosef – 8. Santo Yosef, Bapa Kelembutan (19 Januari 2022).

[5]Homili dalam Misa Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia (25 Juli 2021).

[6]Katekese tentang Keluarga – 7. Kakek-Nenek (11 Maret 2015).

[7]Idem.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 8 Mei 2022 : MENDENGARKAN, MENGENAL DAN MENGIKUT YESUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini berbicara kepada kita tentang ikatan yang ada di antara Tuhan dan kita masing-masing (bdk. Yoh 10:27-30). Dalam berbuat demikian, Yesus menggunakan gambar yang lembut, gambar yang indah dari gembala yang tinggal bersama domba-dombanya. Dan Ia menjelaskannya dengan tiga kata kerja : "Domba-domba-Ku", Yesus berkata, "mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku" (ayat 27). Tiga kata kerja : mendengarkan, mengenal, mengikut. Marilah kita melihat ketiga kata kerja ini.

 

Pertama-tama, domba-domba mendengarkan suara sang gembala. Prakarsa selalu datang dari Tuhan. Segalanya berasal dari rahmat-Nya : Dialah yang memanggil kita untuk bersekutu dengan-Nya. Tetapi persekutuan ini terjadi jika kita membuka diri untuk mendengarkan. Jika kita tuli, Ia tidak bisa memberi kita persekutuan ini. Bukalah diri kita untuk mendengarkan, karena mendengarkan menyiratkan ketersediaan, menyiratkan ketaatan, menyiratkan waktu yang didedikasikan untuk dialog. Hari ini, kita dibanjiri dengan kata-kata dan desakan untuk selalu memiliki sesuatu untuk dikatakan atau dilakukan. Seberapa sering dua orang sedang berbicara dan orang yang satu tidak menunggu orang yang lain menuntaskan pikirannya, tetapi memotongnya di tengah kalimat, dan menanggapi …. Tetapi jika kita tidak memperkenankan orang lain untuk berbicara, tidak ada mendengarkan. Inilah penyakit zaman kita. Hari ini, kita dibanjiri dengan kata-kata, oleh desakan untuk selalu memiliki sesuatu untuk dikatakan atau dilakukan. Kita takut akan keheningan. Betapa sulitnya untuk saling mendengarkan! Mendengarkan sampai akhir, memperkenankan orang lain mengungkapkan diri, mendengarkan dalam keluarga kita, mendengarkan di sekolah, mendengarkan di tempat kerja, dan bahkan dalam Gereja! Tetapi bagi Tuhan, pertama-tama perlu untuk mendengarkan. Ia adalah Sabda Bapa, dan umat kristiani adalah seorang anak yang sedang mendengarkan, dipanggil untuk hidup dengan Sabda Allah di tangan. Hari ini marilah kita bertanya pada diri kita sendiri apakah kita adalah anak-anak yang sedang mendengarkan, apakah kita menemukan waktu untuk Sabda Allah, apakah kita memberi ruang dan perhatian kepada saudara-saudari kita, apakah kita tahu bagaimana mendengarkan sampai orang lain selesai berbicara, tanpa memotong apa yang dikatakannya. Orang-orang yang mendengarkan orang lain tahu bagaimana mendengarkan Tuhan juga, dan sebaliknya. Dan mereka mengalami sesuatu yang sangat indah, yaitu Tuhan sendiri mendengarkan – Ia mendengarkan kita ketika kita berdoa kepada-Nya, ketika kita mencurahkan isi hati kepada-Nya, ketika kita berseru kepada-Nya.

 

Mendengarkan Yesus dengan demikian menjadi cara kita untuk menemukan bahwa Ia mengenal kita. Inilah kata kerja kedua yang berhubungan dengan Sang Gembala yang baik. Ia mengenal domba-domba-Nya. Tetapi ini tidak hanya berarti bahwa Ia mengenal banyak hal tentang diri kita. Mengenal dalam pengertian biblis juga berarti mengasihi. Mengenal berarti bahwa Tuhan, “seraya Ia membaca batin kita”, mengasihi kita, Ia tidak menghukum kita. Jika kita mendengarkan-Nya, kita menemukan hal ini – yakni Tuhan mengasihi kita. Cara menemukan kasih Tuhan adalah dengan mendengarkan-Nya. Dengan demikian, hubungan kita dengan-Nya tidak lagi bersifat umum, dingin, atau berkedok. Yesus sedang mengusahakan persahabatan yang hangat, kepercayaan, keintiman. Ia ingin memberi kita kesadaran baru dan luar biasa – yakni mengenal bahwa kita selalu dikasihi oleh-Nya dan, oleh karena itu, kita tidak pernah ditinggalkan sendirian. Berada bersama Sang Gembala yang baik memungkinkan kita untuk menghayati pengalaman seperti yang dikatakan pemazmur : “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku” (Mzm 23:4). Ia menopang kita terutama dalam penderitaan kita, dalam kesulitan kita, dalam krisis kita – yang gelap – dengan melaluinya. Jadi, khususnya dalam situasi sulit, kita dapat menemukan bahwa kita dikenal dan dikasihi oleh Tuhan. Maka, marilah kita bertanya pada diri kita sendiri : Apakah aku memperkenankan Tuhan mengenalku? Apakah aku memberi ruang untuk-Nya dalam hidupku? Apakah aku membawa apa yang sedang kuhidupi kepada-Nya? Dan gagasan apa yang kumiliki tentang Dia setelah berkali-kali aku mengalami kedekatan-Nya, belas kasihan-Nya, kelembutan-Nya? Bahwa Tuhan dekat, bahwa Tuhan adalah Sang Gembala yang baik?

 

Terakhir, kata kerja yang ketiga : domba-domba yang mendengar, dan yang menemukan bahwa mereka dikenal, mengikut : mereka mendengarkan, mereka mengalami bahwa mereka dikenal oleh Tuhan dan mereka mengikut Tuhan yang adalah Gembala mereka. Apa yang dilakukan orang-orang yang mengikut Kristus? Mereka pergi ke mana pun Ia pergi, di sepanjang jalan yang sama, ke arah yang sama. Mereka pergi mencari orang-orang yang sesat (bdk. Luk 15:4), tertarik pada orang-orang yang jauh, memperhatikan situasi orang-orang yang menderita, tahu bagaimana menangis dengan orang-orang yang menangis, mereka mengulurkan tangan mereka kepada sesama mereka, memanggul orang-orang itu di bahu mereka. Dan aku? Apakah aku memperkenankan Yesus mengasihiku, dan dengan memperkenankan-Nya mengasihiku, apakah aku beralih dari mengasihi-Nya menjadi meneladani-Nya? Semoga Santa Perawan Maria membantu kita mendengarkan Kristus, semakin mengenal-Nya dan mengikut-Nya di jalan pelayanan. Mendengarkan-Nya, mengenal-Nya, mengikut-Nya.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kemarin, di San Ramon, Peru, María Agustina Rivas Lopez dibeatifikasi. Dikenal sebagai Aguchita, ia adalah seorang biarawati dari Kongregasi Bunda Cinta Kasih Sang Gembala yang Baik yang terbunuh dalam kebencian terhadap iman pada tahun 1990. Meskipun sadar ia mempertaruhkan nyawanya, sang misionaris yang heroik ini selalu berada di dekat kaum miskin, terutama para perempuan pribumi. dan petani, bersaksi tentang Injil keadilan dan perdamaian. Semoga teladannya memicu keinginan setiap orang untuk melayani Kristus dengan setia dan berani. Tepuk tangan meriah untuk sang beata baru!

 

Hari ini adalah Hari Minggu Panggilan yang bertema “Dipanggil unttuk Membangun Keluarga Manusia”. Semoga komunitas Kristiani di setiap benua berdoa kepada Tuhan untuk karunia panggilan imamat, hidup bakti, pilihan menjadi misionaris, dan perkawinan. Hari Minggu Panggilan adalah hari di mana, berkat pembaptisan, kita semua merasa terpanggil untuk mengikuti Yesus, mengatakan ya kepada-Nya, meneladani-Nya sehingga menemukan sukacita dengan memberikan hidup kita, melayani Injil dengan sukacita dan antusias. Dalam konteks ini, saya ingin mengucapkan selamat kepada para imam baru Keuskupan Roma yang ditahbiskan pagi ini di Basilika Santo Yohanes Lateran.

 

Saat ini, banyak umat berkumpul di sekitar patung Maria yang dihormati di Tempat Kudus Pompei, untuk mendaraskan permohonan yang terpancar dari hati Beato Bartolo Longo. Berlutut dalam roh di depan gambar Perawan Maria, saya mempercayakan kepadanya keinginan kuat untuk perdamaian banyak orang di berbagai belahan dunia yang menderita bencana perang yang tidak berperikemanusiaan. Secara khusus, saya mempersembahkan penderitaan dan air mata rakyat Ukraina kepada Santa Perawan Maria. Di hadapan kegilaan perang, tolong, marilah kita terus berdoa Rosario untuk perdamaian setiap hari. Dan marilah kita berdoa untuk para pemimpin bangsa, agar mereka tidak kehilangan “denyut nadi rakyat” yang menginginkan perdamaian dan yang tahu betul bahwa senjata tidak pernah mencapainya, tidak pernah.

 

Marilah kita juga berdoa untuk para korban ledakan yang terjadi di sebuah hotel besar di ibu kota Kuba, Havana. Semoga Kristus yang bangkit menuntun mereka ke rumah Bapa dan memberikan penghiburan kepada kerabat mereka.

 

Saya menyapa kamu semua dari Roma serta para peziarah dari Italia dan banyak negara lainnya. Secara khusus, saya menyapa umat dari Amerika Serikat, Polandia dan Keuskupan Nantes (Prancis). Saya menyapa Keluarga Passionis, yang merayakan tiga ratus tahun Yubileum pendiriannya; mereka yang menderita fibromyalgia, yang saya harap menerima perawatan yang diperlukan; serta umat dari Napoli, Pomigliano d'Arco, Reggio Calabria dan Foggia; anak-anak dari kelas krisma Zogno (Bergamo), dan San Ferdinando di Roma. Sapaan khusus tertuju kepada kelompok pengungsi Ukraina dan keluarga-keluarga yang menampung mereka dari Macchie, dekat Perugia. Saya juga menyapa para pemimpin Komunitas Sant'Egidio dari Amerika Latin.

 

Hari ini adalah Hari Ibu di banyak negara. Marilah kita dengan penuh kasih mengingat ibu kita – tepuk tangan untuk para ibu kita – bahkan mereka yang tidak lagi bersama kita di sini, tetapi yang hidup di hati kita. Doa kita, kasih sayang kita, dan harapan terbaik kita untuk semua ibu kita.

 

Selamat hari Minggu untuk kamu semua! Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu dan sampai jumpa.

____


(Peter Suriadi - Bogor, 8 Mei 2022)

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI MINGGU PANGGILAN KE-59 8 Mei 2022

Dipanggil untuk Membangun Keluarga Manusia

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Pada saat angin dingin perang dan penindasan sedang berhembus dan ketika kita sering menjumpai tanda-tanda pengutuban, kita sebagai Gereja telah melakukan proses sinodal : kita merasakan mendesaknya kebutuhan untuk melakukan perjalanan bersama, memupuk semangat mendengarkan, keikutsertaan dan berbagi. Bersama dengan semua orang yang berkehendak baik, kita ingin membantu membangun keluarga manusia, menyembuhkan luka-lukanya dan menuntunnya menuju masa depan yang lebih baik. Pada Hari Minggu Panggilan ke-59 ini, saya ingin bersamamu merenungkan makna yang lebih luas dari "panggilan" dalam konteks Gereja sinodal, Gereja yang mendengarkan Allah dan dunia.

 

Dipanggil untuk bersama-sama menjadi pelaku utama perutusan Gereja

 

Sinodalitas, perjalanan bersama, adalah panggilan dasariah Gereja. Hanya dengan cakrawala ini kita dimungkinkan untuk membedakan dan menghargai berbagai panggilan, karisma dan pelayanan. Kita tahu bahwa keberadaan Gereja adalah untuk mewartakan Kabar Baik, berangkat dan menabur benih Injil dalam sejarah. Perutusan ini hanya dapat dilaksanakan jika seluruh lingkup kegiatan pastoral saling bekerjasama dan, yang lebih penting, melibatkan semua murid Tuhan. Karena “berkat keutamaan sakramen baptis yang telah diterima, setiap anggota umat Allah menjadi murid misioner (bdk. Mat 28:19). Setiap pribadi yang telah dibaptis, apa pun posisinya dalam Gereja atau tingkat pendidikan dalam iman, adalah subyek pewartaan Kabar Baik” (Evangelii Gaudium, 120). Kita harus waspada terhadap mentalitas yang akan memisahkan imam dan awam, menganggap imam sebagai pelaku utama dan awam sebagai pelaksana, dan hendaknya bersama-sama mengemban perutusan kristiani sebagai Umat Allah, awam dan gembala. Gereja secara keseluruhan adalah komunitas pewarta Kabar Baik.

 

Dipanggil untuk menjadi penjaga satu sama lain dan ciptaan

 

Kata "panggilan" tidak boleh dipahami secara terbatas, karena hanya merujuk pada orang-orang yang mengikuti Tuhan melalui hidup bakti tertentu. Kita semua dipanggil untuk ambil bagian dalam perutusan Kristus untuk menyatukan kembali umat manusia yang terpenggal-penggal dan mendamaikannya dengan Allah. Setiap manusia, bahkan sebelum berjumpa Kristus dan memeluk iman kristiani, menerima dengan karunia kehidupan sebuah panggilan dasariah : kita masing-masing adalah ciptaan yang dikehendaki dan dikasihi Allah; kita masing-masing memiliki tempat yang unik dan istimewa dalam benak Allah. Dalam kehidupan kita, setiap saat kita dipanggil untuk menumbuhkan percikan ilahi ini, menghadirkannya dalam hati setiap manusia, dan dengan demikian memberi sumbangan untuk pertumbuhan umat manusia yang diilhami oleh kasih dan penerimaan timbal balik. Kita dipanggil untuk menjadi penjaga satu sama lain, memperkuat ikatan kerukunan dan berbagi, dan menyembuhkan luka-luka ciptaan agar keindahannya tidak hancur. Singkatnya, kita dipanggil untuk menjadi satu keluarga di dalam rumah ciptaan bersama yang luar biasa, dalam keanekaragaman unsur-unsurnya yang telah didamaikan. Dalam arti luas ini, tidak hanya perorangan yang memiliki “panggilan”, tetapi juga berbagai macam masyarakat, komunitas, dan kelompok.

 

Dipanggil untuk menyambut tatapan Allah

 

Dalam panggilan umum yang luar biasa ini, Allah menyampaikan panggilan khusus kepada kita masing-masing. Ia menjamah hidup kita dengan kasih-Nya dan mengarahkannya ke tujuan akhir kita, menuju penggenapan yang melampaui ambang kematian. Demikianlah bagaimana Allah ingin melihat hidup kita dan bagaimana Ia masih melihatnya.

 

Michelangelo Buonarroti dikatakan telah mempertahankan agar setiap bongkahan batu berisi patung di dalamnya, dan terserah pematung untuk mengungkapnya. Jika hal itu berlaku bagi seorang seniman, apalagi bagi Allah! Dalam diri perempuan belia Nazaret Ia melihat Bunda Allah. Dalam diri Simon sang nelayan Ia melihat Petrus, batu karang tempat ia akan mendirikan Gereja-Nya. Dalam diri Lewi sang pemungut cukai Ia mengenali rasul dan penginjil Matius, dan dalam diri Saulus, seorang penganiaya kejam umat kristiani, ia melihat Paulus, rasul bangsa-bangsa bukan Yahudi. Tatapan Allah yang penuh kasih senantiasa menemui kita, menjamah kita, membebaskan kita dan mengubah rupa kita, menjadikan kita pribadi baru.

 

Itulah apa yang terjadi dalam setiap panggilan : kita bertemu dengan tatapan Allah, yang memanggil kita. Panggilan, seperti kekudusan, bukanlah pengalaman luar biasa yang diperuntukkan bagi segelintir orang. Sama seperti ada "kekudusan para kudus dari pintu sebelah" (bdk. Gaudete et Exsultate, 6-9), demikian juga ada panggilan untuk semua orang, karena tatapan dan panggilan Allah tertuju kepada setiap orang.

 

Menurut sebuah pepatah dari Timur Jauh, “memandang telur, orang bijak dapat melihat elang; memandang benih, ia melihat sekilas sebuah pohon besar; memandang orang berdosa ia melihat orang kudus”. Demikianlah bagaimana Allah memandang kita : dalam diri kita masing-masing, Ia melihat potensi tertentu, kadang-kadang tanpa kita sadari, dan sepanjang hidup kita Ia bekerja tanpa kenal lelah agar kita dapat menempatkan potensi ini untuk kepentingan bersama.

 

Panggilan muncul dengan cara ini, berkat karya seni Sang Pematung ilahi yang menggunakan "tangan"-Nya untuk membuat kita keluar dari diri kita sendiri dan memanggil kita untuk menjadi sang mahakarya. Sabda Allah, yang membebaskan kita dari kemelekatan pada diri sendiri, teristimewa mampu memurnikan, mencerahkan, dan menciptakan kembali diri kita. Jadi marilah kita mendengarkan sabda itu, agar semakin terbuka terhadap panggilan yang dipercayakan Allah kepada kita! Dan marilah kita juga belajar untuk mendengarkan saudara-saudari seiman kita, karena nasihat dan teladan mereka dapat membantu mengungkapkan rencana Allah, yang menunjukkan kepada kita jalan-jalan baru yang harus ditempuh.

 

Dipanggil untuk menanggapi tatapan Allah

 

Tatapan Allah yang penuh kasih dan berdaya cipta bertemu kita dengan cara yang sepenuhnya unik di dalam Yesus. Penginjil Markus memberitahu kita bahwa, ketika berbicara dengan seorang muda kaya, “Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya” (10:21). Tatapan Yesus ini, penuh kasih, bersandar atas diri kita masing-masing. Saudara-saudari, marilah kita memperkenankan diri kita tergerak oleh tatapan ini untuk memperkenankan-Nya menuntun kita keluar dari diri kita sendiri! Marilah kita juga belajar untuk saling memandang sedemikian rupa sehingga semua orang yang hidup bersama kita dan kita jumpai – siapa pun mereka – akan merasa disambut dan menemukan bahwa ada Seseorang yang memandang mereka dengan kasih dan mengundang mereka untuk mengembangkan potensi mereka sepenuhnya.

 

Hidup kita berubah ketika kita menyambut tatapan ini. Seluruhnya menjadi dialog panggilan antara diri kita dengan Allah, dan juga dialog antara diri kita dengan sesama kita. Dialog yang, dialami secara mendalam, membuat kita semakin menjadi diri kita sendiri. Bagi kaum tertahbis, panggilan adalah menjadi sarana rahmat dan belas kasihan Kristus. Bagi para pelaku hidup bakti, panggilan adalah menjadi pujian bagi Allah dan nubuat kemanusiaan baru. Bagi orang-orang yang berkeluarga, panggilan adalah karunia timbal balik serta menjadi pemberi dan guru kehidupan. Dalam setiap panggilan dan pelayanan gerejawi, kita dipanggil untuk melihat sesama kita dan dunia melalui mata Allah, mengutamakan kebaikan dan menyebarkan kasih dengan perbuatan dan perkataan kita.

 

Di sini saya ingin menyebutkan pengalaman Dr José Gregorio Hernández Cisneros. Saat bekerja sebagai dokter di Caracas, Venezuela, ia ingin menjadi Fransiskan Ordo Ketiga. Kemudian, ia berpikir untuk menjadi seorang biarawan dan imam, tetapi kesehatannya tidak memungkinkan. Ia mulai memahami bahwa panggilannya adalah profesi medis, yang di dalamnya ia mengabdikan diri terutama untuk melayani kaum miskin. Ia mengabdikan diri tanpa pamrih bagi orang-orang yang telah terjangkit epidemi di seluruh dunia yang dikenal sebagai "flu Spanyol". Ia meninggal, tertabrak mobil, ketika ia meninggalkan apotik setelah membeli obat untuk salah seorang pasiennya yang sudah lanjut usia. Seorang saksi yang memberi keteladanan tentang apa artinya menerima panggilan Tuhan dan menerimanya sepenuhnya, ia dibeatifikasi setahun yang lalu.

 

Dipanggil untuk membangun dunia persaudaraan

 

Sebagai umat kristiani, kita tidak hanya menerima panggilan secara perorangan; kita juga dipanggil bersama-sama. Kita laksana lantai mosaik. Masing-masing indah dalam dirinya sendiri, tetapi hanya ketika disatukan mereka membentuk sebuah gambar. Kita masing-masing bercahaya laksana sebuah bintang dalam hati Allah dan dalam cakrawala alam semesta. Tetapi, pada saat yang sama, kita dipanggil untuk membentuk rasi bintang yang dapat menuntun dan menerangi jalan umat manusia, dimulai dari tempat kita tinggal. Inilah misteri Gereja : perayaan perbedaan, tanda dan sarana dari seluruh panggilan umat manusia. Karena alasan ini, Gereja harus menjadi semakin sinodal : mampu berjalan bersama, bersatu dalam keanekaragaman yang selaras, di mana setiap orang dapat ikut serta secara aktif dan memiliki sesuatu untuk disumbangkan.

 

Ketika kita berbicara tentang “panggilan”, maka, panggilan bukan hanya tentang memilih jalan hidup ini atau itu, mengabdikan hidup untuk pelayanan tertentu atau tertarik pada karisma keluarga rohani, gerakan, atau komunitas gerejawi. Panggilan berkenaan dengan mewujudkan impian Allah, visi persaudaraan yang agung yang dihargai Yesus ketika Ia berdoa kepada Bapa “supaya mereka semua menjadi satu” (Yoh 17:21). Setiap panggilan dalam Gereja, dan dalam arti yang lebih luas dalam masyarakat, memberi sumbangan bagi tujuan bersama : merayakan di antara kita keselarasan berbagai karunia yang dapat dibawa oleh Roh Kudus semata. Para imam, para pelaku hidup bakti, kaum awam : marilah kita melakukan perjalanan dan bekerja bersama-sama dalam memberikan kesaksian akan kebenaran bahwa satu keluarga besar manusia yang bersatu dalam kasih bukanlah visi utopis, tetapi tujuan utama Allah menciptakan kita.

 

Marilah kita berdoa, saudara-saudari, agar Umat Allah, di tengah peristiwa sejarah yang dramatis, dapat semakin menanggapi panggilan ini. Marilah kita memohon terang Roh Kudus, sehingga kita semua dapat menemukan tempat yang tepat dan memberikan yang terbaik dari diri kita sendiri dalam rencana ilahi yang agung ini!

 

Roma, Santo Yohanes Lateran, 8 Mei 2022, Hari Minggu Paskah IV.

 

FRANSISKUS

 

(dialihbahasakan oleh Peter Suriadi dari https://www.vatican.va/content/francesco/en/messages/vocations/documents/20220508-messaggio-59-gm-vocazioni.html)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 4 Mei 2022 : KATEKESE TENTANG USIA TUA (BAGIAN 8)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dalam perjalanan katekese tentang usia tua ini, hari ini kita bertemu dengan seorang tokoh biblis – dan orang tua – bernama Eleazar, yang hidup pada masa penganiayaan Antiokus Epifanes. Ia adalah sosok yang luar biasa. Sosoknya memberi kita kesaksian tentang adanya hubungan khusus antara kesetiaan usia tua dan kehormatan iman. Ia adalah orang yang dibanggakan, bukan? Tepatnya saya ingin berbicara tentang kehormatan iman, bukan hanya tentang keteguhan, pewartaan, dan hambatan iman. Kehormatan iman secara berkala mendapat tekanan, bahkan tekanan kekerasan, dari budaya penguasa, yang berusaha merendahkannya dengan memperlakukannya sebagai temuan arkeologis, atau takhayul lawas, jimat yang sudah ketinggalan zaman, dan sebagainya.

 

Kisah biblis – kita telah mendengar sebuah perikop pendek, tetapi ada baiknya untuk membaca seluruhnya – menceritakan tentang orang-orang Yahudi yang dipaksa atas titah raja untuk makan daging yang dikorbankan untuk berhala. Saat giliran Eleazar, seorang lelaki tua yang sangat disegani semua orang, berusia 90-an; sangat dihormati oleh semua orang – pihak berwenang – para pejabat kerajaan menasihatinya untuk berpura-pura, yaitu berpura-pura makan daging tanpa benar-benar melakukannya. Kemunafikan. Kemunafikan agama. Ada begitu banyak! Ada begitu banyak kemunafikan agama, kemunafikan klerus, ada begitu banyak. Orang-orang ini mengatakan kepadanya, “Jadilah sedikit munafik, tidak ada seorang pun yang akan memperhatikan". Dengan cara ini Eleazar akan selamat, dan – mereka mengatakan – atas nama persahabatan ia akan menerima sikap belas kasihan dan kasih sayang mereka. Jalan keluar yang munafik. Lagi pula, mereka bersikeras, itu adalah sikap sepele, berpura-pura makan tetapi tidak makan, sikap yang tidak penting.

 

Perkara sepele, Eleazar menanggapinya yang tenang dan tegas berlandaskan pada keberatan yang melanda kita. Inilah poin utamanya : tidak menghormati iman di usia tua, selama beberapa waktu, tidak dapat dibandingkan dengan warisan yang harus ditinggalkannya kepada orang muda, kepada seluruh generasi yang akan datang. Tetapi Eleazar melakukannya dengan baik! Seorang lelaki tua yang telah hidup dalam keterpaduan iman sepanjang hidupnya, dan yang sekarang menyesuaikan diri dengan berpura-pura menolaknya, mengutuk generasi baru untuk berpikir bahwa seluruh iman telah menjadi sebuah kepalsuan, penutup luar yang dapat ditinggalkan, membayangkannya dapat dipertahankan secara batiniah. Dan tidak demikian, kata Eleazar. Perilaku seperti itu tidak menghormati iman, bahkan di hadapan Allah. Dan dampak dari penyepelean lahiriah ini akan menghancurkan kehidupan batiniah orang muda. Tetapi inilah keteguhan orang yang menganggap orang muda! Ia mempertimbangkan warisan masa depannya, ia memikirkan bangsanya.

 

Usia tua persisnya – dan bukankah ini indah untuk semua orang tua! – yang muncul di sini sebagai tempat yang menentukan, tempat yang tak tergantikan untuk kesaksian ini. Orang tua yang, karena kerentanannya, menerima bahwa pengamalan iman tidak relevan, akan membuat orang muda percaya bahwa iman tidak memiliki hubungan nyata dengan kehidupan. Akan tampak bagi mereka, sejak awal, sebagai seperangkat perilaku yang, jika perlu, dapat dipalsukan atau disembunyikan, karena tidak ada satu pun yang sangat penting bagi kehidupan.

 

"Gnosis" lawas yang menyimpang, yang merupakan jebakan yang sangat kuat dan sangat menggoda bagi kekristenan awal, berteori dengan tepat tentang hal ini, ini adalah perkara lawas : iman adalah spiritualitas, bukan pengamalan; kekuatan pikiran, bukan bentuk kehidupan. Kesetiaan dan kehormatan iman, menurut bid'ah ini, tidak ada hubungannya dengan perilaku hidup, kelembagaan komunitas, lambang tubuh. Tidak ada hubungannya dengan itu. Rayuan sudut pandang ini kuat, karena menafsirkan, dengan caranya sendiri, kebenaran yang tak terbantahkan : iman tidak pernah dapat direndahkan menjadi seperangkat aturan diet atau pengamalan sosial. Iman adalah sesuatu yang lain. Masalahnya yaitu radikalisasi Gnostik dari kebenaran ini meniadakan realisme iman Kristiani, karena iman Kristiani realistis. Iman Kristiani tidak hanya mengucapkan syahadat : iman Kristiani memikirkan Syahadat serta memahami dan melaksanakan Syahadat. Bekerja dengan tangan kita. Sebaliknya, tawaran gnostik ini berpura-pura, tetapi [membayangkan] bahwa yang penting adalah kamu memiliki spiritualitas batin, dan kemudian kamu dapat melakukan apa pun yang kamu inginkan. Dan ini tidak kristiani. Bid'ah gnostik pertama, yang sangat sesuai zaman saat ini, dalam begitu banyak pusat spiritualitas dan sebagainya. Kesaksian umat ini, yang menunjukkan tanda-tanda nyata Allah dalam kehidupan komunitas dan menolak penyimpangan pikiran melalui perilaku tubuh, dibuatnya menjadi hampa.

 

Godaan gnostik, yang merupakan salah satu – marilah kita gunakan kata – bid’ah, salah satu penyimpangan agama saat ini; godaan gnostik tetap ada. Dalam banyak kecenderungan dalam masyarakat dan budaya kita, pengamalan iman mengalami penggambaran negatif, terkadang dalam bentuk ironi budaya, terkadang dengan marginalisasi terselubung. Pengamalan iman bagi para gnostik ini, yang sudah ada pada zaman Yesus, dianggap lahiriah yang tidak berguna dan bahkan berbahaya, sebagai sisa-sisa lawas, sebagai takhayul terselubung. Singkatnya, sesuatu untuk orang tua. Tekanan yang diberikan oleh kritik tanpa pandang bulu ini terhadap generasi muda sangat kuat. Tentu saja, kita tahu bahwa pengamalan iman dapat menjadi pengamalan lahiriah tanpa jiwa. Justru, bukankah ini adalah bahaya lain? Dan bukankah benar demikian? Tetapi pada dirinya sendiri tidak demikian. Mungkin bagi kita yang lebih tua – dan masih ada beberapa di sini – untuk mengembalikan kehormatannya, membuatnya terpadu, yang merupakan kesaksian Eleazar : keteguhan sampai akhir. Pengamalan iman bukan lambang kelemahan kita, bukan, melainkan lambang kekuatannya. Kita bukan lagi orang muda. Kita tidak sedang bersenda-gurau ketika kita berangkat di jalan Tuhan!

 

Iman layak dihormati dan dihargai sampai akhir : iman telah mengubah hidup kita, iman telah memurnikan pikiran kita, iman telah mengajari kita menyembah Allah dan mengasihi sesama kita. Iman adalah berkat untuk semua orang! Tetapi iman secara keseluruhan, bukan hanya sebagian saja. Seperti Eleazar, kita tidak dapat menukar iman kita dengan beberapa hari tenang. Kita akan menunjukkan, dengan segala kerendahan hati dan ketegasan, tepatnya di usia tua kita, bahwa percaya bukan sesuatu "untuk orang tua". Tidak. Iman adalah perkara kehidupan. Percaya kepada Roh Kudus, yang membuat segala sesuatu menjadi baru, dan Ia dengan senang hati akan membantu kita.

 

Saudara-saudari lansia yang terkasih – jangan katakan tua, kita berada dalam kelompok yang sama – tolong lihatlah orang-orang muda : mereka sedang memperhatikan kita. Mereka sedang memperhatikan kita. Jangan lupa itu. Saya teringat akan film pascaperang yang luar biasa : The Children Are Watching Us (Anak-anak Sedang Memperhatikan Kita). Kita dapat mengatakan hal yang sama dengan orang muda : orang muda sedang memperhatikan kita dan keteguhan kita dapat membuka jalan kehidupan yang indah bagi mereka. Sebaliknya, kemunafikan akan sangat merugikan. Marilah kita saling mendoakan. Semoga Allah memberkati kita semua para orang tua. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, terutama mereka yang berasal dari Inggris, Norwegia, Kanada, dan Amerika Serikat. Saya juga menyapa para anggota dari berbagai kelompok ekumenis dan antaragama yang hadir. Dalam sukacita Kristus yang bangkit, saya memohonkan atasmu dan keluargamu belas kasihan Allah Bapa kita. Semoga Tuhan memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih : Dalam katekese lanjutan kita tentang makna dan nilai usia tua dalam terang sabda Allah, sekarang kita membahas teladan Eleazar, sebagaimana ditemukan dalam Kitab II Makabe. Pada saat penganiayaan yang kejam, orang-orang Yahudi dipaksa di bawah kepedihan kematian untuk makan daging yang dikorbankan untuk berhala. Sebagai anggota masyarakat yang sudah lanjut usia dan dihormati, Eleazar diberitahu bahwa jika ia hanya berpura-pura melakukannya, nyawanya akan terselamatkan. Daripada mengkhianati imannya kepada Allah, Eleazar lebih memilih kematian. Kesaksiannya tentang kebenaran dan martabat iman, bahkan dengan mengorbankan nyawanya, dengan demikian menjadi teladan yang kuat bagi orang muda. Eleazar menunjukkan bahwa iman bukanlah gagasan abstrak atau seperangkat aturan yang harus diikuti, tetapi ketetapan seluruh keberadaan kita kepada Allah. Di zaman kita sekarang, kesaksian orang tua tentang pengamalan iman yang jelas dan teguh dapat melawan kuatnya kekuatan budaya yang menganggap iman itu ketinggalan zaman atau tidak relevan. Dengan menunjukkan martabat kehidupan iman yang terungkap dalam ibadah komunitas dan tindakan amal, orang tua dapat membantu memperkuat tatanan masyarakat dan menawarkan kepada orang muda model keterpaduan dan kesetiaan yang berlaku untuk setiap jenjang usia.

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 4 Mei 2022)