Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 27 MEI 2026 : DOKUMEN KONSILI VATIKAN II. III. KONSTITUSI SACROSANCTUM CONCILIUM. 2. PEMBAHARUAN LITURGI: TRADISI DAN PERKEMBANGAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Dalam Ensiklik Mediator Dei, Venerabilis Paus Pius XII menulis bahwa “Gereja tanpa diragukan lagi adalah organisme hidup, dan sebagai organisme, dalam hal liturgi suci juga, ia tumbuh, matang, berkembang, beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan keadaan duniawi, asalkan integritas ajarannya dijaga” (no. 59).

 

Sepenuhnya sesuai dengan prinsip ini, Konsili Vatikan II, dalam Pendahuluan Konstitusi Sacrosanctum Concilium (SC), mengakui “kewajibannya untuk secara istimewa mengusahakan juga pembaharuan dan pengembangan Liturgi” (no. 1). Peserta Konsili, pada kenyataannya, berkumpul dengan maksud untuk “makin meningkatkan kehidupan kristiani di antara umat beriman; menyesuaikan lebih baik lagi lembaga-lembaga yang dapat berubah dengan kebutuhan zaman kita; memajukan apa saja yang dapat membantu persatuan semua orang yang beriman akan Kristus; dan meneguhkan apa saja yang bermanfaat untuk mengundang semua orang ke dalam pangkuan Gereja” (idem).

 

Dalam sejarah pada saat itu, ada kesadaran yang kuat akan kebutuhan akan pembaharuan bentuk-bentuk ritual yang selama berabad-abad telah digunakan Gereja untuk memuliakan Allah dan menguduskan umat Kristiani. Berkat Gerakan Liturgi, keyakinan telah matang — yang kemudian diungkapkan oleh Santo Yohanes Paulus II — bahwa “terdapat ikatan yang sangat erat dan organik antara pembaharuan liturgi dan pembaharuan seluruh kehidupan Gereja. Gereja tidak hanya bertindak tetapi juga mengungkapkan dirinya dalam liturgi, hidup oleh liturgi dan mengambil kekuatan untuk hidupnya dari liturgi” (Surat Dominicae Cenae, 13).

 

Untuk mendorong akses umat beriman kepada kekayaan karunia rahmat yang diberikan oleh liturgi suci, Konstitusi Sacrosanctum Concilium kemudian menunjukkan, dengan ungkapan yang sangat efektif, arah yang harus diambil: “Supaya tradisi yang sehat dipertahankan, namun dibuka jalan juga bagi perkembangan yang wajar” (SC, 23).

 

Paus Benediktus XVI memahami dalam pernyataan ini maksud “program pembaharuan” para Bapa Konsili, “keseimbangan antara tradisi liturgi besar masa lalu dan masa depan”, mencatat bahwa “tradisi dan kemajuan sering kali dipertentangkan secara canggung”, padahal “sebenarnya, kedua konsep tersebut menyatu: tradisi adalah kenyataan yang hidup, yang karenanya mencakup prinsip perkembangan, kemajuan. Seolah-olah mengatakan bahwa sungai tradisi juga membawa sumbernya sendiri dan mengalir menuju muaranya” (Wejangan kepada peserta Kongres yang dalam rangka 50 tahun berdirinya Pontifical Athenaeum Santo Anselmus, 6 Mei 2011).

 

Konsili menegaskan legitimasi kemajuan ini, yang berakar pada Tradisi otentik, membedakan dalam liturgi “unsur yang tidak dapat diubah karena ditetapkan oleh Allah, maupun unsur-unsur yang dapat berubah, yang di sepanjang masa dapat atau bahkan harus mengalami perubahan, sekiranya mungkin telah disusupi hal-hal yang kurang serasi dengan inti hakikat Liturgi sendiri, atau sudah menjadi kurang cocok” (SC, 21). Perubahan jenis ini telah terjadi secara terus-menerus selama berabad-abad untuk memungkinkan umat beriman berpartisipasi secara berbuah, melalui tindakan ritual, dalam misteri Paskah Kristus, dasar iman Kristiani. Ibadah Gereja dengan demikian telah “diwujudkan” dalam bentuk-bentuk budaya setiap zaman dan telah mampu mempengaruhinya dan bahkan mengubahnya. Dengan demikian, liturgi telah menjadi, selama berabad-abad, kekuatan pendorong bagi evangelisasi. Saat ini, energi ini harus diperbarui secara berkelanjutan dengan tradisi Katolik yang otentik dan hidup, yaitu, sesuai dengan dinamika yang bertujuan untuk memperkenalkan umat beriman kepada kepenuhan kebenaran.

 

Oleh karena itu, dapat dipahami mengapa para Bapa Konsili merekomendasikan revisi ritus, “kecuali bila sungguh-sungguh dan pasti dituntut oleh kepentingan Gereja", hendaknya diusahakan dengan cermat, agar "bentuk-bentuk baru itu bertumbuh secara kurang lebih organis dari bentuk-bentuk yang sudah ada” (SC, 23). Demi kebaikan seluruh Gereja, setiap pembaharuan hendaknya selalu didahului oleh penyelidikan “teologis, historis, dan pastoral" yang cermat (idem). Dengan cara ini, Magisterium Konsili menyerukan untuk menghindari kebingungan di antara umat beriman, dan melarang siapa pun untuk menambahkan, meniadakan atau mengubah sesuatu dalam Liturgi atas prakarsa sendiri (bdk. SC, 22). Kemajuan yang diungkapkan dalam Konstitusi Konsili sama sekali tidak melakukan kompromi terhadap persekutuan gerejawi: sebaliknya, ia berupaya untuk menegaskan dan membinanya.

 

Oleh karena itu, saya mendesak semua orang yang dipanggil untuk mempersiapkan perayaan misteri ilahi, khususnya para imam yang menjalankan pelayanan kepresidenan liturgi, untuk selalu menjunjung tinggi rasa hormat terhadap teks dan peraturan liturgi yang berasal dari sikap batin yang terbuka dan percaya kepada Allah, yang menunjukkan kerendahan hati di hadapan kebesaran-Nya dan kesetiaan yang tulus kepada persekutuan gerejawi.

 

[Imbauan]

 

Dengan penuh keprihatinan saya mengikuti perang di Ukraina, yang telah meningkat secara signifikan dalam beberapa hari terakhir. Saya ingin menyampaikan solidaritas saya kepada semua orang yang menderita akibat serangan baru-baru ini, yang juga menargetkan warga sipil.

 

Perang tidak menyelesaikan masalah; justru memperburuknya. Perang tidak membangun keamanan; melainkan melipatgandakan penderitaan dan kebencian. Di mana rudal dan drone jatuh, harapan remuk redam, rumah dan tempat ibadah hancur, dan nyawa orang tak bersalah direnggut.

 

Saya mempercayakan semua orang yang dilanda perang kepada perlindungan Bunda Maria, Ratu Perdamaian.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang turut serta dalam audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Irlandia, Kamerun, Kenya, Nigeria, India, Pakistan, Filipina, Korea Selatan, Kanada, dan Amerika Serikat. Semoga damai sejahtera Allah menjaga pikiran dan hatimu agar kamu dapat mengenal kasih Yesus Kristus dan dengan sukacita membagikannya kepada orang lain. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam refleksi hari ini tentang Sacrosanctum Concilium, kita membahas liturgi melalui lensa tradisi dan perkembangan. Paus Pius XII menyebut Gereja sebagai “organisme hidup” yang perlu tumbuh, matang, dan beradaptasi dengan keadaan. Memang, dengan keinginan agar kehidupan Kristiani berkembang dan tumbuh, Konsili Vatikan II mengakui bahwa sudah waktunya untuk menyesuaikan beberapa unsur yang dapat diadaptasi dalam liturgi demi kesehatan dan vitalitas Gereja, untuk memperkuat dan meremajakan umat Kristiani, dan membina persatuan dan melakukan evangelisasi terhadap semua orang. Konsili menegaskan bahwa perkembangan yang wajar dalam liturgi juga harus mempertahankan tradisi yang sehat, dan unsur-unsur tertentu dalam liturgi tidak boleh berubah karena telah ditetapkan secara ilahi. Secara khusus, saya mendorong semua imam untuk menghormati teks dan norma liturgi dengan keterbukaan, kerendahan hati, kepercayaan akan kebesaran Allah, dan dengan kesetiaan yang tulus kepada persekutuan gerejawi.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 27 Mei 2026)