Saudara-saudari
terkasih, Selamat Hari Minggu!
Bacaan
Injil hari ini (Mat 9:36–10:8) membawakan kita sebuah karunia besar, karena
Bacaan Injil ini menarik semua orang yang mendengarnya ke dalam pandangan
Yesus: sebuah kisah yang menjadi saksi perhatian akan pandangan ini, serta
memberitahu kita apa yang dilihat Tuhan. Sesungguhnya kita membaca bahwa “melihat
orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka,
karena mereka lelah dan terlantar” (ayat 36). Setelah menjadi saudara kita,
Putra Allah memandang orang banyak, Ia memandang umat manusia: Ia melihat
penindasan yang membebani dan kekerasan yang menyebabkan kekuatan memudar. Ia
melihat luka-luka perang dan kekosongan konsumerisme. Ia melihat wajah-wajah
yang direduksi menjadi topeng, keluarga-keluarga yang tercerai-berai oleh
kejahatan, dan kaum muda yang disesatkan oleh cita-cita palsu. Yesus melihat
dan mengasihi. Ia mengasihi dan menderita untuk dan bersama kita: belas
kasihan-Nya tidak hanya mengungkapkan kedekatan persaudaraan, tetapi juga
keinginan-Nya untuk menebus.
Karena Ia
mengenal hati kita dan peduli pada kita. Dengan memandang sangat banyak orang
seperti “domba yang tidak mempunyai gembala” (ayat 36), Kristus mengabdikan
diri-Nya kepada semua orang sebagai Gembala yang baik dan, sebagai Tuan yang
punya tuaian, mengutus pekerja-pekerja ke ladang dunia (bdk. ayat 38). Apa
tugas mereka? Mereka harus menawarkan penghiburan Allah kepada orang-orang yang
menderita dengan membawa kasih di tempat kesengsaraan berada, pengharapan di
tempat penderitaan berada, iman di tempat ketidakpercayaan berada.
Bacaan
Injil mencantumkan nama dua belas “pekerja” pertama: mereka adalah murid-murid
yang dijadikan rasul, yaitu misionaris dan pengkhotbah. Di antara mereka, yang
pertama kita temukan adalah Simon, yang disebut Petrus. Tetapi kita juga
menemukan Yudas Iskariot, yang disebutkan terakhir, untuk mengingatkan kita
bahwa seseorang dapat mengikuti Yesus dan mengkhianati-Nya. Meskipun demikian,
Bacaan Injil tetap menjadi sabda yang hidup dan benar bagi semua orang. Kabar
Baik yang melintas selama berabad-abad sama, selalu muda, segar, dan membebaskan:
“Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat 10:7). Ya, Kerajaan Surga sudah dekat karena
di dalam Yesus Kristus, Allah mendekati setiap orang, bangsa dan negara. Ketika
Injil ini diberitakan dan dihayati, kejahatan runtuh bagaikan enyahnya penyakit
(bdk. ayat 8), bagaikan malam yang memberi jalan kepada fajar, kematian yang
ditaklukkan oleh Yesus yang bangkit.
Beginilah
cara pandangan Yesus mengubah rupa kenyataan. Dipenuhi kasih, prakarsa-Nya
melahirkan umat baru, Gereja, yang dipanggil untuk melanjutkan perutusan para
rasul: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, berikanlah pula dengan cuma-cuma”
(ayat 8). Ya, karunia Yesus sepenuhnya cuma-cuma, karena nilainya melebihi
segala ukuran: tidak mungkin untuk memperolehnya atau “membelinya”. Rahmat ini
adalah nama indah dari belas kasihan Allah, yang mencari kita di mana pun kita
berada, untuk menarik kita kepada-Nya. “Karena itu, mintalah kepada Tuan yang
punya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Mat
9:38)!
Saudara-saudari
terkasih, tugas penginjilan bermula dari karunia Allah, yang di dalam Kristus
menjadi pengampunan bagi dunia, pelayanan kepada yang paling lemah dan miskin,
dan komitmen terhadap keadilan. Marilah kita memohon pertolongan Bunda Maria,
yang penuh rahmat, agar kita dapat menanggapi dengan sukacita dan keberanian
panggilan perutusan Yesus kepada kita.
[Sesudah
pendarasan doa Malaikat Tuhan]
Saudara-saudari
terkasih,
Pertama-tama,
saya menyampaikan rasa syukur saya kepada Tuhan karena memperkenankan
perjalanan apostolik yang telah saya lakukan di Spanyol. Saya juga berterima
kasih kepada rakyat Spanyol yang telah menyambut saya dengan antusiasme dan
pengabdian yang besar. Saya sangat berterima kasih kepada Yang Mulia Raja;
dengan penuh kasih sayang saya berterima kasih kepada para uskup, semua
komunitas yang saya kunjungi, dan seluruh Gereja di Spanyol. Semoga Tuhan
senantiasa memberkati Spanyol!
Saya juga
ingin mengenang beberapa orang yang baru saja dibeatifikasi: para imam diosesan
Václav Drbola dan Jan Bula, dari Moravia; dan Jan Šwierc dan delapan rekannya,
imam Salesian Polandia. Semuanya dibeatifikasi sebagai martir, sebagai korban
penganiayaan oleh rezim totaliter karena kesetiaan mereka kepada Kristus.
Kemarin di Mato Grosso, Brasil, Nazareno Lanciotti, seorang imam misionaris
Roma, juga dibeatifikasi; ia juga seorang martir, karena ia membela kaum miskin
atas nama Injil. Semoga teladan dan pengantaraan para saksi yang berani ini
menopang perutusan para imam dan seluruh Gereja.
Saya
meyakinkan rakyat Filipina, yang beberapa hari lalu dilanda gempa bumi dahsyat,
akan kedekatan saya. Saya mendoakan para korban yang meninggal dan keluarga
mereka, para korban luka dan semua orang yang menderita karena bencana ini.
Dan
sekarang saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai
negara!
Saya
menyapa para anggota Komisi Internasional untuk Dialog antara Murid-murid
Kristus dan Gereja Katolik. Semoga renunganmu membantu kita untuk bertumbuh
dalam persekutuan.
Saya
menyapa para peziarah dari Amerika Serikat, khususnya umat dari New Jersey dan
Sekolah Hati Kudus Carrollton di Miami, Florida. Saya menyapa para penerima
sakramen krisma dari Bergamo, Komunitas “Casa di Maria” — yang oleh Paus
Fransiskus disebut sebagai “anak-anak Maria Tak Bernoda” — dan kelompok paroki
dari Santa Maria delle Grazie dan Santa Francesca Cabrini Roma.
Saya
mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua!
____
(Peter Suriadi - Bogor, 14 Juni 2026)
