Saudara-saudari
sekalian, selamat pagi dan selamat datang!
Dengan
mendedikasikan bab kedua bagi "masyarakat manusia", Konstitusi
Gaudium et Spes (GS) mengajak kita untuk memikirkan "berlipatgandanya
hubungan-hubungan timbal-balik antarmanusia" sebagai "salah satu ciri
khas dunia modern" (no. 23). Namun, kenyataan ini harus menemukan
pemenuhannya "pada tingkat yang lebih dalam ... yakni kebersamaan
pribadi-pribadi", yang di dalamnya "yang menuntut sikap saling
menghormati terhadap martabat rohani mereka yang sepenuhnya" merupakan hal
yang esensial (no. 23).
Pernyataan-pernyataan
ini, di zaman kita sekarang, memiliki kemendesakan yang semakin besar. Di satu
sisi, perkembangan teknologi, penyebaran media massa dan media sosial, serta
penggunaan kecerdasan buatan yang terus meningkat membuka berbagai kemungkinan
baru, meruntuhkan hambatan, dan menjembatani jarak; namun di sisi lain,
hubungan antarmanusia cenderung menjadi semakin kurang personal dan lebih
bersifat virtual, serta muncul risiko terbiasa menyerahkan keputusan — yang
semestinya menjadi ranah eksklusif hati nurani manusia — kepada algoritma.
Dalam konteks inilah, komunitas kristiani berupaya memberikan kontribusi dengan
memastikan bahwa hubungan sosial memiliki substansi nyata dan kedalaman yang
bersifat personal.
Konsili
mengajak kita untuk menimba kriteria dan kekuatan dari rencana penciptaan
Allah, di mana Ia menghendaki agar "semua orang membentuk satu keluarga,
dan saling menghadapi dengan sikap persaudaraan", oleh karena itu cinta
kasih terhadap Allah dan sesama merupakan perintah yang pertama dan
terbesar," yang menemukan penyingkapan penuh serta pemenuhan sempurnanya
dalam diri Kristus (bdk. GS, 24).
Kesempurnaan
pribadi manusia dan perkembangan masyarakat harus dipandang saling bergantung
erat: mempertentangkan atau memisahkan keduanya akan membuat keduanya
kehilangan makna. Sejarah, bahkan sejarah terkini, dengan jelas menegaskan
kebenaran ini; oleh karena itu, kita tidak boleh lelah menegaskan kembali —
mengutip kata-kata para Bapa Konsili Vatikan II — bahwa "subjek dan tujuan
semua lembaga sosial adalah dan memang seharusnyalah pribadi manusia;
berdasarkan
kodratnya ia sungguh-sungguh memerlukan hidup kemasyarakatan" (GS, 25).
Dari
sudut pandang ini, Gaudium et Spes menegaskan bahwa keanekaragaman orang dan
bangsa di dunia tidak boleh dianggap sebagai bahaya atau ancaman, melainkan
sebagai sumber daya untuk pengayaan dan pertumbuhan. Konflik, yang terkadang
berujung pada kekerasan, merupakan akibat dari kuasa dosa dan cara dosa
tersebut memengaruhi pola pikir serta tindakan di setiap tingkatan, sehingga
menimbulkan kehancuran dan kematian. Kita harus semakin terbuka terhadap logika
timbal balik, semangat berbagi, dan kepedulian, sebagaimana halnya yang terjadi
di antara berbagai anggota tubuh manusia (bdk. 1Kor 12:21–25).
Dalam hal
ini, Gaudium et Spes juga menyajikan definisi ringkas mengenai
"kesejahteraan umum", dengan mengingatkan bahwa hal itu mencakup
"keseluruhan kondisi kehidupan sosial yang memungkinkan kelompok-kelompok
sosial serta anggota-anggotanya secara perorangan untuk memperoleh akses yang
cukup memadai dan mudah demi pemenuhan diri mereka" (GS, 26). Pada saat
yang sama, dengan mengakui adanya saling ketergantungan antarbangsa, dokumen
tersebut menyatakan bahwa "setiap kelompok harus memperhitungkan kebutuhan-kebutuhan
serta aspirasi-aspirasi kelompok-kelompok lain yang wajar, bahkan kesejahteraan
umum segenap keluarga manusia." (GS, 27).
Bertolak
dari premis ini, para Bapa Konsili kemudian menjabarkan beberapa
"konsekuensi-konsekuensi praktis yang cukup mendesak" (GS, 27). Yang
pertama dan terutama adalah penghormatan terhadap pribadi manusia. Gaudium et
Spes menyatakan: "Selain itu apa saja yang berlawanan dengan kehidupan
sendiri, misalnya bentuk pembunuhan yang mana pun juga, penumpasan suku,
pengguguran, eutanasia dan bunuh diri yang disengaja; apa pun yang melanggar
keutuhan pribadi manusia, seperti pemenggalan anggota badan, siksaan yang
ditimpakan pada jiwa maupun raga, usaha-usaha paksaan psikologis; apa pun yang
melukai martabat manusia, seperti kondisi-kondisi hidup yang tidak layak
manusiawi, pemenjaraan yang sewenang-wenang, pembuangan orang-orang,
perbudakan, pelacuran, perdagangan wanita dan anak-anak muda; begitu pula
kondisi-kondisi kerja yang memalukan, sehingga kaum buruh diperalat semata-mata
untuk menarik keuntungan, dan tidak diperlakukan sebagai pribadi-pribadi yang
bebas dan bertanggung jawab: itu semua dan hal-hal lain yang serupa memang
perbuatan yang keji" (GS, 27).
Konsekuensi
kedua: kesetaraan hakiki antara semua manusia, yang menuntut keadilan sosial.
Dokumen tersebut menyatakan: “Setiap cara diskriminasi dalam hak-hak asasi
pribadi, entah bersifat sosial entah budaya, berdasarkan jenis kelamin, suku,
warna kulit, kondisi sosial, bahasa atau agama, harus diatasi dan disingkirkan,
karena bertentangan dengan maksud Allah” (GS, 29).
Akhirnya,
para Bapa Konsili mendesak kita untuk mengatasi pola pikir individualistis
serta mengadopsi sikap tanggung jawab dan partisipasi (bdk. GS, 30-31).
Saudara-saudari
terkasih, visi tentang umat manusia sebagai suatu "masyarakat
manusia" merupakan warisan berharga yang ditinggalkan oleh Konsili Vatikan
II bagi kita. Visi ini membantu kita semua untuk melakukan pembedaan roh — baik
secara pribadi maupun bersama — agar kita dapat mengevaluasi secara bertanggung
jawab berbagai proyek sosial dan politik masa kini, berdasarkan kriteria
martabat pribadi manusia, keadilan sosial, dan partisipasi bebas dalam
mewujudkan kesejahteraan bersama. Sebab, masa depan umat manusia bergantung
pada komitmen setiap orang untuk bekerja sama dengan Allah dan sesama dalam
membangun dunia yang lebih manusiawi (bdk. GS, 30).
[Sapaan
Khusus]
Saya
menyapa dengan hangat seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang
mengikuti Audiensi hari ini, khususnya mereka yang berasal dari Inggris,
Skotlandia, Norwegia, Ghana, Afrika Selatan, Uganda, Australia, India, Israel,
Filipina, Vietnam, Kanada, dan Amerika Serikat. Saya memohonkan sukacita dan
damai Tuhan kita Yesus Kristus bagimu dan keluargamu. Semoga Allah memberkati
kamu semua!
[Ringkasan
dalam bahasa Inggris]
Saudara-saudari
terkasih, dalam rangkaian katekese kita mengenai dokumen Konsili Vatikan II,
Gaudium et Spes, hari ini kita memusatkan perhatian pada pentingnya hubungan
antarmanusia. Pemahaman kita tentang masyarakat manusia berlandaskan pada
martabat pribadi manusia. Alih-alih memandang perbedaan sebagai bahaya atau
ancaman, visi tentang umat manusia sebagai komunitas pribadi memampukan kita
untuk bekerja sama demi mengupayakan kesejahteraan bersama. Ketika kita beralih
dari pola pikir individualistis menuju sikap tanggung jawab dan partisipasi
dalam upaya membangun dunia yang lebih manusiawi dan adil, hubungan sosial pun
diperkaya dengan makna nyata dan kedalaman pribadi. Hubungan-hubungan tersebut
juga turut berkontribusi pada pemenuhan diri setiap pribadi manusia serta
pembangunan masyarakat. Saudara-saudari terkasih, marilah kita memperbarui
komitmen kita untuk mewujudkan — di dalam Kristus — anugerah kemanusiaan kita
yang sangat berharga.
______
(Peter Suriadi - Bogor, 16 September 2026)
