Saudara-saudari
terkasih, selamat hari Minggu!
Dalam
liturgi hari ini, melalui perkataan Nabi Yesaya, Tuhan memberikan kita alasan
kuat untuk berharap; Ia menyatakan bahwa rancangan-Nya bukan rancangan kita,
dan jalan-Nya bukan jalan kita (bdk. Yes 55:8). Ya, rancangan Allah jauh lebih
besar — dan, boleh dikatakan, lebih "manusiawi" — daripada apa yang
dapat kita bayangkan atau wujudkan sebagai manusia yang tak luput dari dosa.
Oleh karena itu, seruan sang Nabi Yesaya — yang kini terasa lebih relevan dari
sebelumnya — mengajak kita untuk meninggalkan jalan kita yang keliru dan
kembali kepada Tuhan, sumber kerahiman dan pengampunan (ayat 6–7).
Dalam
Bacaan Injil, perumpamaan Yesus menggambarkan kebaruan dari apa yang telah
Allah persiapkan untuk kita; namun, perumpamaan itu juga menyingkapkan
penolakan yang biasanya kita tunjukkan terhadap keadilan yang lebih murah hati
dan kasih yang lebih besar. Secara khusus, hari ini kita mendengar kisah
tentang para pekerja yang dipanggil untuk bekerja di kebun anggur (bdk. Mat
20:1–16) — ada yang bekerja seharian penuh, ada yang hanya beberapa jam, dan
ada pula yang baru mulai bekerja saat matahari hampir terbenam. Namun, inti
perumpamaan ini terletak pada saat pembayaran upah: sang pemilik kebun menepati
janjinya kepada para pekerja yang dipekerjakan sejak pagi hari dan membayar
mereka sesuai kesepakatan; namun, ia juga ingin mereka melihat kebaikannya dan
—tepat di hadapan mata mereka — ia memperlakukan para pekerja terakhir dengan
cara yang sama.
Ada satu
rincian yang tidak boleh luput dari perhatian kita. Sang pemilik kebun
memberikan perintah khusus kepada mandornya agar para pekerja dibayar
"mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk
pertama" (Mat 20:8). Reaksi negatif dari mereka yang telah bekerja
seharian sebenarnya bisa saja dihindari; namun, hal itu terjadi secara sengaja
karena penyataan kebaikan Allah ditujukan bagi semua orang, bukan hanya bagi
segelintir orang. Allah memiliki cara yang berbeda dan gagasan baru, bahkan
bagi mereka yang menganggap diri mereka sebagai yang pertama dan meyakini bahwa
mereka telah memperoleh apa yang mereka miliki berkat usaha sendiri, serta
merasa pantas mendapatkan hasil yang telah mereka capai. Sebaliknya, kita semua
memperoleh sukacita, kebijaksanaan, dan masa depan yang lebih baik ketika hukum
kasih mengintervensi hukum perhitungan, ketika pengalaman akan kerahiman
melampaui sekadar perhitungan jasa, dan ketika anugerah damai sejahtera meredam
persaingan serta mendekatkan kita satu sama lain dalam semangat syukur.
Saudara-saudari,
sungguh suatu rahmat menjadi rekan sekerja Allah, bekerja di kebun anggur-Nya,
serta melayani Kerajaan-Nya yang adil dan damai! Tidak ada tempat bagi
kecemburuan atau perpecahan di mana pembaruan dari Allah itu merekah. Oleh
karena itu, marilah kita mencari Tuhan selagi Ia berkenan ditemui; marilah kita
berseru kepada-Nya selagi Ia dekat; marilah kita meninggalkan jalan yang sesat
dan rancangan yang jahat (bdk. Yes 55:6–7).
Marilah
kita memandang Bunda yang kudus, sebab ia adalah ciptaan seperti kita namun
tanpa noda. Dengan demikian, ia dapat membantu kita untuk menaruh harapan
kepada Allah dan menyerahkan diri kita pada kerahiman-Nya, agar jalan-Nya
menjadi jalan kita dan rancangan-Nya menjadi rancangan kita.
[Setelah
pendarasan Doa Malaikat Tuhan]
Saudara-saudari
terkasih,
Dengan
penuh keprihatinan, saya mengikuti perkembangan krisis kemanusiaan yang sedang
terjadi di beberapa wilayah Somalia, di mana tindak kekerasan dan cuaca ekstrem
memperparah kondisi kehidupan penduduk yang sudah sangat rentan, khususnya kaum
perempuan dan anak-anak. Saya mengharapkan keterlibatan penuh komunitas
internasional, agar saudara-saudari kita tidak kekurangan bantuan yang mereka
butuhkan.
Kini saya
menyapamu, umat Roma dan para peziarah.
Saya
menyapa Uskup dan umat Keuskupan Toruń, Polandia, yang sedang mengunjungi
tempat-tempat terjadinya mukjizat Ekaristi di Italia; serta keluarga-keluarga
dari Keuskupan Spiš, Slovakia.
Saya
menyapa para imam Yesuit yang sedang memulai masa studi baru mereka di Roma,
dan kelompok Paroki Keluarga Kudus dari Nazaret Roma, bersama dengan klub
olahraga “Centocelle” dan Oratorium “San Giuseppe Manyanet”.
Saya
menyampaikan berkat bagi umat Pescantina, dekat Verona, yang hari ini berkumpul
di Monumen bagi Mantan Tahanan untuk mengenang mereka yang dideportasi dan
ditawan selama Perang Dunia II. Saya melakukan hal ini untuk menegaskan bahwa
kita tidak boleh lupa, melainkan harus belajar dari sejarah agar tidak
mengulangi kesalahan masa lalu.
Sahabat-sahabat
terkasih, terima kasih telah datang. Saya ucapkan selamat hari Minggu kepada
kamu semua!
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 20 September 2026)
