Liturgical Calendar

Showing posts with label Wejangan Angelus 2018. Show all posts
Showing posts with label Wejangan Angelus 2018. Show all posts

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 30 Desember 2018 : KELUARGA ADALAH HARTA YANG HARUS SELALU DILINDUNGI DAN DIPERTAHANKAN

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Hari ini kita merayakan Pesta Keluarga Kudus, dan liturgi mengundang kita untuk merenungkan pengalaman Maria, Yusuf, dan Yesus, yang dipersatukan oleh kasih yang kuat dan dijiwai oleh kepercayaan yang besar pada Allah. Perikop Injil hari ini (bdk. Luk 2:41-52) menceritakan perjalanan keluarga Nazaret ke Yerusalem, untuk pesta Paskah. Namun, dalam perjalanan pulang, Yusuf dan Maria menyadari bahwa Putra mereka yang berusia 12 tahun tidak berada bersama dengan orang-orang seperjalanan mereka. Setelah tiga hari mencari dan takut, mereka menemukan Dia berada di Bait Allah, duduk di antara para alim ulama, berniat untuk bertukar pikiran dengan mereka. Saat melihat Sang Putra, Maria dan Yusuf “tercengang” (ayat 48) dan Ibu-Nya mengungkapkan kecemasan mereka, dengan mengatakan : “ Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau” (ayat 48). Ketercengangan - mereka “tercengang” - dan cemas - “dengan cemas, bapa-Mu dan aku” - adalah dua unsur yang ingin saya beri perhatian : ketercengangan dan kecemasan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 26 Desember 2018 : SANTO STEFANUS MEMPERCAYAKAN HIDUPNYA KEPADA ALLAH DAN MENGAMPUNI

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Sukacita Natal masih membanjiri hati kita : pemberitaan yang menakjubkan bahwa Kristus dilahirkan untuk kita berlanjut dan membawa damai bagi dunia. Dalam suasana sukacita ini, hari ini kita merayakan Pesta Santo Stefanus, diakon dan martir pertama. Mengenang Santo Stefanus pada saat kelahiran Yesus mungkin tampak aneh, karena munculnya pertentangan yang tajam antara sukacita Betlehem dan drama Stefanus, yang dirajam di Yerusalem dalam penganiayaan awal terhadap Gereja yang baru lahir. Sesungguhnya, tidaklah demikian, karena Kanak Yesus adalah Putra Allah yang menjadi manusia, yang akan menyelamatkan umat manusia dengan wafat di kayu Salib. Sekarang, kita merenungkan Dia yang terbungkus kain lampin di dalam palungan; setelah penyaliban-Nya, Ia akan terbungkus lagi dan ditempatkan di dalam kubur.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 23 Desember 2018 : BUNDA MARIA ADALAH SOKOGURU IMAN DAN CINTA KASIH

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Liturgi Hari Minggu Adven IV ini menempatkan pertama-tama sosok Maria, Bunda Perawan, yang menantikan untuk melahirkan Yesus, Sang Juruselamat dunia. Kita mengarahkan pandangan kita pada-Nya, sokoguru iman dan cinta kasih, serta kita dapat bertanya pada diri kita sendiri: apa yang dipikirkannya selama berbulan-bulan menanti? Jawabannya berasal, pada kenyataannya, dari perikop Injil hari ini, kisah kunjungan Maria kepada Elisabet, saudara perempuannya yang lebih tua (bdk. Luk 1:39-45). Malaikat Gabriel telah menyatakan kepadanya bahwa Elisabet sedang menantikan seorang anak laki-laki dan ia sudah berada di bulan yang keenam (bdk. Luk 1:26.36). Dan kemudian Perawan Maria, yang baru saja mengandung Yesus oleh karya Allah, pergi dengan tergesa-gesa dari Nazaret di Galilea menuju pegunungan Yudea dan bertemu dengan sepupunya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 8 Desember 2018 : MARIA HIDUP DENGAN "AKU INI", BUKAN DENGAN "AKU BERSEMBUNYI”

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi dan selamat Hari Raya!

Hari ini, Sabda Allah menghadirkan kepada kita sebuah alternatif. Dalam Bacaan Pertama (Kej 3:9-15,20) ada orang yang, pada permulaan, mengatakan tidak kepada Allah, dan dalam Bacaan Injil (Luk 1:26-38) ada Maria yang, pada saat Kabar Sukacita, mengatakan ya kepada Allah. Dalam kedua bacaan tersebut Allahlah yang mencari manusia. Tetapi dalam kasus pertama Allah pergi kepada Adam, setelah dosa, dan bertanya kepadanya : “Di manakah engkau?” (Kej 3:9), dan Adam menjawab : “Aku bersembunyi” (ayat 10). Namun, dalam kasus kedua, Allah pergi kepada Maria, tanpa dosa, yang menjawab : “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan” (Luk 1:38). "Aku ini" adalah kebalikan dari "Aku bersembunyi". "Aku ini" membuka kita kepada Allah, sementara dosa menutup, mengasingkan, menyebabkan kita sendirian dengan diri kita.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 16 Desember 2018 : TENTANG HARI MINGGU ADVEN III (HARI MINGGU GAUDETE)

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam Hari Minggu Adven III ini, liturgi mengajak untuk bersukacita - dengarkan dengan saksama : bersukacitalah. Nabi Zefanya berpaling kepada sisa umat Israel dengan kata-kata ini : “Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem!” (3:14). Bertempik-soraklah dengan sukacita, beria-rialah, bersukacitalah : inilah ajakan hari Minggu ini. Penduduk Kota Suci dipanggil untuk bersukacita karena Tuhan telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atas mereka (bdk. ayat 15). Allah telah mengampuni, Ia tidak ingin menghukum! Akibatnya, tidak ada lagi alasan bagi umat untuk bersedih dan susah, tetapi semuanya mengarah pada rasa syukur penuh sukacita kepada Allah, yang selalu ingin membebaskan dan menyelamatkan umat yang Ia kasihi. Dan kasih Tuhan bagi umat-Nya tiada henti-hentinya, seperti kelembutan seorang ayah bagi anak-anaknya, seorang suami bagi istrinya, seperti yang kembali dikatakan oleh nabi Zefanya : “Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai” (ayat 17). Inilah - disebut demikian - Hari Minggu Sukacita : Hari Minggu Adven III, menjelang Natal.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 9 Desember 2018 : TENTANG PERLUNYA PERJALANAN PERTOBATAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Hari Minggu lalu liturgi mengajak kita untuk menjalani Masa Adven dan menantikan Tuhan dengan sikap waspada dan juga sikap doa : “berjaga-jagalah” dan “berdoalah”. Hari ini, Hari Minggu Adven II, liturgi menunjukkan kepada kita bagaimana hakekat penantian semacam itu : melakukan perjalanan pertobatan, bagaimana mewujudkan penantian ini. Kepada kita Bacaan Injil memaparkan, sebagai pemandu dalam perjalanan ini, sosok Yohanes Pembaptis, yang “pergi ke seluruh daerah Yordan, memberitakan baptisan pertobatan untuk pengampunan dosa” (Luk 3:3). Untuk menggambarkan perutusan Yohanes Pembaptis, penginjil Lukas mengutip nubuat kuno nabi Yesaya, yang mengatakan hal ini : “Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata” (ayat 4-5).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 2 Desember 2018 : TENTANG MASA ADVEN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Masa Adven dimulai hari ini, masa liturgi yang mempersiapkan kita untuk Natal, mengundang kita untuk memberi perhatian dan membuka hati kita guna menyambut Yesus. Selama Masa Adven kita tidak hanya menantikan Natal, kita diundang untuk membangkitkan kembali pengharapan akan kedatangan Kristus yang mulia - ketika Ia akan kembali pada akhir zaman - mempersiapkan diri kita untuk pada akhirnya berjumpa Dia dengan pilihan yang tidak plin-plan dan berani. Kita mengingat Natal; kita menantikan kedatangan Kristus yang mulia, dan juga perjumpaan pribadi kita - hari di mana Tuhan akan memanggil kita. Selama empat pekan ini kita dipanggil untuk keluar dari cara hidup yang biasa dan terima nasib, serta memupuk harapan, memupuk impian <kita> untuk masa depan yang baru. Injil hari Minggu ini (bdk. Luk 21:25-28.34-36) sesungguhnya menunjukkan haluan ini dan menempatkan kita berjaga-jaga agar tidak membiarkan diri kita tertindas oleh gaya hidup yang berpusat diri atau oleh garangnya irama hari-hari. Kata-kata Yesus bergema dengan sangat tajam : “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat [...] Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa" (ayat 34, 36).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 25 November 2018 : TENTANG HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi! Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Alam Semesta, yang kita rayakan hari ini, ditempatkan pada akhir tahun liturgi dan mengingatkan bahwa kehidupan ciptaan tidak berkembang secara kebetulan tetapi berlanjut ke tujuan akhir : kepastian pengejawantahan Kristus, Tuhan sejarah dan segenap ciptaan. Kesudahan sejarah akan menjadi pemerintahan-Nya yang kekal. Perikop Injil hari ini (bdk. Yoh 18:33b-37) memberitahu kita tentang Kerajaan ini, kerajaan Kristus, menceritakan situasi Yesus dipermalukan setelah ditangkap di Taman Getsemani : diikat, dihina, dituduh dan digiring di hadapan penguasa Yerusalem. Dan kemudian Ia diajukan ke penguasa Roma, sebagai orang yang berusaha melawan kekuasaan politik, untuk menjadi Raja orang Yahudi. Pilatus kemudian melakukan penyelidikan dan dalam penyelidikan yang dramatis, ia dua kali menanyakan kepada-Nya apakah Ia raja (bdk. ayat 33b.37). Dan pada mulanya, Yesus menjawab bahwa Kerajaan-Nya “bukan dari dunia ini” (ayat 36). Kemudian Ia menegaskan : "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja" (ayat 37). Terbukti dari seluruh kehidupan-Nya Yesus tidak memiliki ambisi politik. Kita ingat bahwa setelah penggandaan roti, orang-orang, yang antusias oleh karena mukjizat tersebut, ingin memaklumkan-Nya sebagai raja, untuk menggulingkan kekuasaan Romawi dan membangun kembali kerajaan Israel. Namun, bagi Yesus, Kerajaan Allah adalah sesuatu yang lain, dan tentu saja bukan disebabkan oleh pemberontakan, kekerasan, dan kekuatan senjata. Oleh karena itu, Ia mundur ke gunung seorang diri untuk berdoa (bdk. Yoh 6:5-15). Sekarang, menjawab Pilatus, Ia membuatnya memperhatikan bahwa para murid-Nya tidak berjuang untuk membela-Nya. Ia berkata : "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi” (ayat 36).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 18 November 2018 : TENTANG KESUDAHAN DAN TUJUAN SEJARAH MANUSIA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam perikop Injil hari Minggu ini (bdk. Mrk 13:24-32), Tuhan ingin memberi petunjuk kepada murid-murid-Nya tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang. Petunjuk tersebut bukan, pertama-tama, sebuah wejangan tentang kesudahan dunia; sebaliknya, petunjuk tersebut adalah undangan untuk menjalani masa sekarang dengan baik, serta berjaga-jaga dan selalu siap ketika kita dipanggil untuk memberikan pertanggungjawaban atas kehidupan kita. Yesus berkata : "Pada masa itu, sesudah siksaan itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit, dan kuasa-kuasa langit akan goncang" (ayat 24-25). Kata-kata ini membuat kita memikirkan permulaan Kitab Kejadian - kisah penciptaan : matahari, bulan, bintang-bintang, yang pada permulaan masa bersinar teratur dan membawa terang, tanda kehidupan, dijelaskan di sini dalam peluruhan mereka, seraya mereka jatuh ke dalam kegelapan dan kekacauan, tanda kesudahan. Sebaliknya, terang yang akan bersinar pada hari terakhir itu akan menjadi unik dan baru : terang tersebut akan merupakan terang Tuhan Yesus yang akan datang dalam kemuliaan bersama semua orang kudus. Dalam perjumpaan itu kita akhirnya akan melihat wajah-Nya dalam terang Tritunggal sepenuhnya; Wajah yang berseri-seri dengan kasih, yang di hadapannya, seluruh umat manusia juga akan muncul dalam kebenaran yang penuh.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 11 November 2018 : TENTANG AHLI TAURAT YANG PONGAH DAN JANDA YANG MISKIN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Kisah Injil hari ini (bdk. Mrk 12:38-44) menutup rangkaian ajaran yang disampaikan Yesus di Bait Suci Yerusalem dan menyoroti dua tokoh yang bertolak belakang : ahli Taurat dan janda. Tetapi mengapa mereka bertolak belakang? Ahli Taurat mewakili orang-orang penting, kaya dan berpengaruh. Yang lainnya, janda, mewakili orang-orang kecil, miskin dan lemah. Pada kenyataannya penilaian Yesus yang tegas berkaitan dengan ahli-ahli Taurat, tidak menyangkut seluruh golongan, tetapi mengacu pada orang-orang yang mempertontonkan kedudukan sosial mereka, yang pongah dengan gelar "Rabi" mereka, yaitu, guru, yang suka dinanti-nantikan dan menduduki tempat terdepan (bdk. ayat 38-39). Yang lebih buruk adalah kepongahan mereka terutama bersifat keagamaan karena mereka - Yesus mengatakan - “mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang” (ayat 40) dan memanfaatkan Allah untuk membanggakan diri mereka sebagai para penjaga hukum-Nya. Dan sikap merasa lebih unggul dan pongah ini membuat mereka menghina orang-orang yang terhitung kecil dan berada dalam kedudukan ekonomi yang kurang beruntung, seperti janda.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 4 November 2018 : TENTANG MENGASIHI ALLAH DAN MENGASIHI SESAMA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Pusat Injil hari Minggu ini (bdk. Mrk 12:28b-34), adalah hukum kasih : mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus : “Hukum manakah yang paling utama?” (ayat 28). Ia menjawab dengan mengutip pengakuan iman yang digunakan setiap orang Israel untuk membuka dan menutup harinya yang dimulai dengan kata-kata "Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa" (Ul 6:4). Jadi, Israel menjaga imannya dalam kenyataan dasariah dari seluruh keyakinannya : hanya ada satu Tuhan dan Tuhan adalah “milik kita”, dalam arti Ia mengikatkan diri-Nya kepada kita dengan perjanjian yang tak terhapuskan; Ia telah mengasihi kita, Ia mengasihi kita dan Ia akan mengasihi kita selamanya. Dari sumber inilah, mengasihi Allah inilah hukum ganda tersebut bermula : “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu [...] Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (ayat 30-31).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 November 2018 : SABDA BAHAGIA, JALAN MENUJU KEKUDUSAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi dan selamat hari raya!

Bacaan Pertama hari ini, dari Kitab Wahyu (7:2-4,9-14), berbicara kepada kita tentang Surga dan menempatkan di hadapan kita “suatu kumpulan besar orang banyak”, tidak dapat terhitung banyaknya, "dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa” (Why 7:9). Mereka adalah orang-orang kudus. Apa yang mereka lakukan "di sana"? Mereka bernyanyi bersama; memuji Allah dengan sukacita. Akan menyenangkan mendengarkan nyanyian mereka ... tetapi kita bisa membayangkannya. Apakah kamu tahu kapannya? Selama Misa, ketika kita menyanyikan “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah semesta alam ...“. Kitab Suci mengatakan itu adalah nyanyian rohani yang berasal dari Surga, yang dinyanyikan di sana (bdk. Yes 6:3; Why 4:8), sebuah madah pujian. Kemudian, menyanyikan “Kudus”, kita bukan hanya memikirkan para kudus tetapi kita melakukan apa yang mereka lakukan. Pada saat Misa tersebut, kita dipersatukan dengan mereka lebih dari sebelumnya. Dan kita dipersatukan dengan semua orang kudus - tidak hanya dengan orang-orang yang paling terkenal dalam penanggalan, tetapi juga dengan orang-orang “dari pintu sebelah”, dengan kerabat dan kenalan kita, yang sekarang menjadi bagian dari kelompok besar itu.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 28 Oktober 2018

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi! Tetapi sepertinya pagi tidak begitu bagus! [Hujan dan berangin].

Pagi ini, di Basilika Santo Petrus, kita merayakan Misa Penutupan Sidang Sinode Para Uskup yang didedikasikan untuk kaum muda. Bacaan Pertama (Yer 31:7-9) sangat selaras dengan saat ini karena merupakah sebuah kata harapan, yang diberikan Allah kepada umat-Nya. Sebuah kata penghiburan, yang berlandaskan pada kenyataan bahwa Allah adalah Bapa bagi umat-Nya; Ia mengasihi mereka dan memperhatikan mereka sebagai anak-anak-Nya (bdk. ayat 9); Ia membuka di hadapan mereka cakrawala masa depan, jalan yang mudah dilalui, yang mudah dilaksanakan, yang padanya "orang buta dan lumpuh, ada perempuan yang mengandung bersama-sama dengan perhimpunan yang melahirkan" (ayat 8) yaitu, orang-orang dalam kesulitan, akan dapat berjalan - karena harapan Allah bukanlah khayalan belaka, seperti beberapa iklan, di mana semuanya sehat dan indah, tetapi harapan Allah adalah sebuah janji bagi umat yang sesungguhnya, dengan titik-titik baik dan titik-titik buruk, memiliki kesanggupan dan kerapuhan, seperti kita semua : harapan Allah adalah sebuah janji bagi umat seperti kita.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 21 Oktober 2018 : PELAYANAN ADALAH OBAT PENAWAR BAGI PARA PENCARI KEMULIAAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Perikop Injil hari ini (bdk. Mrk 10:35-45) menggambarkan Yesus yang, sekali lagi dan dengan penuh kesabaran, mencoba untuk membetulkan murid-murid-Nya dengan mengubah mentalitas duniawi mereka menjadi mentalitas Allah. Kesempatan diberikan kepada-Nya oleh dua bersaudara Yakobus dan Yohanes, dua orang yang pertama kali sungguh bertemu Yesus dan dipanggil untuk mengikuti-Nya. Saat ini mereka telah menempuh perjalanan panjang bersama-Nya dan termasuk dalam kelompok kedua belas Rasul. Oleh karena itu, ketika mereka sedang dalam perjalanan ke Yerusalem, di mana para murid dengan cemas berharap agar Yesus, pada kesempatan Paskah, akhirnya akan mendirikan Kerajaan Allah, kedua bersaudara itu memberanikan diri, mendekati dan menyampaikan permintaan mereka kepada Sang Guru : "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu" (ayat 37).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 7 Oktober 2018 : PERKAWINAN YANG TAK TERCERAIKAN ADALAH MAKSUD AWAL SANG PENCIPTA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari Minggu ini (bdk. Mrk 10:2-16) menyajikan kepada kita perkataan Yesus tentang perkawinan. Kisah ini dibuka dengan pancingan orang-orang Farisi yang menanyakan kepada Yesus apakah sah menurut hukum seorang laki-laki menceraikan istrinya sebagaimana ditetapkan oleh hukum Musa (bdk. ayat 2-4). Dengan kebijaksanaan dan kewenangan yang berasal dari Bapa-Nya, Yesus, pertama-tama, mengkaji ulang anjuran Musa yang mengatakan : “Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa - yakni sang pemberi hukum terdahulu - menuliskan perintah ini untuk kamu” (ayat 5). Anjuran tersebut, yaitu, sebuah kelonggaran yang berfungsi untuk menutupi kegagalan egoisme kita, tetapi tidak sesuai dengan maksud asli Sang Pencipta.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 30 September 2018 : TENTANG PERLUNYA KETERBUKAAN DAN KEBEBASAN DALAM MEWARTAKAN INJIL

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari Minggu ini (bdk. Mrk 9:38-43.45.47-48) menyajikan kepada kita salah satu hal yang sungguh mengandung pelajaran tentang kehidupan Yesus bersama para murid-Nya. Mereka telah melihat seseorang, yang bukan bagian dari kelompok pengikut Yesus, mengusir setan demi nama Yesus, dan karena itu mereka ingin mecegahnya. Dengan antusiasme khas semangat kaum muda, Yohanes merujuk kejadian itu kepada Sang Guru untuk mencari dukungan. Namun, Yesus menjawab sebaliknya : “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita” (ayat 39-40).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI TAMAN SANTAKOS, KAUNAS (LITHUANIA) 23 September 2018

Saudara dan saudari terkasih,

Bacaan Pertama hari ini, dari Kitab Kebijaksanaan (Keb 2:12,17-20) berbicara tentang penganiayaan terhadap orang-orang saleh, orang-orang yang “kehadiran semata” mengganggu orang-orang durhaka. Orang-orang durhaka digambarkan sebagai orang-orang yang menindas orang-orang miskin, yang tidak memiliki belas kasihan kepada para janda dan tidak menunjukkan rasa hormat kepada orang-orang lanjut usia (bdk. 2:17-20). Orang-orang durhaka meminta untuk percaya bahwa "kekuasaan adalah norma keadilan". Mereka menguasai orang-orang yang lemah, menggunakan kekuasaan mereka untuk memaksakan suatu cara berpikir, suatu ideologi, suatu pola pikir yang sedang berlaku. Mereka menggunakan kekerasan atau penindasan untuk menundukkan orang-orang yang hanya dengan kehidupan sehari-hari mereka yang jujur, terus terang, kerja keras, dan suka bergaul, menunjukkan bahwa semacam dunia yang berbeda, semacam masyarakat yang berbeda, adalah mungkin. Orang-orang durhaka tidak puas dengan melakukan apa pun yang mereka sukai, menyerah pada setiap perubahan keinginan mereka yang mendadak; mereka tidak menginginkan orang lain, dengan berbuat baik, menunjukkan siapa mereka. Dalam diri orang-orang durhaka, kejahatan selalu berusaha menghancurkan kebaikan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 16 September 2018 : TENTANG PERTANYAAN "SIAPAKAH YESUS?"

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam Bacaan Injil hari ini (bdk. Mrk 8:27-35), muncul kembali pertanyaan yang ditemukan di seluruh Markus Injil : siapakah Yesus? Namun, kali ini Yesus sendiri yang mengajukannya kepada murid-murid-Nya, membantu mereka secara bertahap untuk menjawab pertanyaan dasariah tentang jatidiri-Nya. Sebelum bertanya kepada dua belas rasul-Nya secara langsung, Yesus ingin mendengar dari mereka apa yang dipikirkan orang tentang Dia - dan Ia mengenal dengan baik bahwa para murid sangat peka terhadap ketenaran Sang Guru! Oleh karena itu, Ia bertanya: "Kata orang, siapakah Aku ini?" (ayat 27). Pertanyaan itu muncul karena orang-orang menganggap Yesus sebagai nabi yang agung. Tetapi, pada kenyataannya, Ia tidak tertarik dengan pendapat dan pergunjingan orang. Ia juga tidak tertarik menanggapi para murid-Nya atas pertanyaan-pertanyaan-Nya dengan rumusan siap pakai, mengutip berbagai kepribadian terkenal dari Kitab Suci, karena iman yang dikurangi menjadi sebuah rumusan adalah iman yang rabun dekat.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 9 September 2018 : TENTANG MUKJIZAT PENYEMBUHAN SEORANG YANG TULI DAN GAGAP

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Bacaan Injil hari Minggu ini (bdk. Mrk 7:31-37) mengacu pada kisah mukjizat penyembuhan seorang yang tuli dan gagap, yang diperbuat oleh Yesus. Mereka membawa seorang tuli dan gagap kepada-Nya dan meminta Dia untuk meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Ia, malahan, melakukan berbagai gerakan pada orang itu : pertama-tama, Ia memisahkan dia dari orang banyak. Pada kesempatan ini, seperti pada orang-orang lainnya, Yesus selalu bertindak dengan kehati-hatian. Ia tidak ingin membuat orang-orang terkesan; Ia tidak sedang mencari ketenaran atau kesuksesan, tetapi Ia hanya ingin berbuat baik kepada orang-orang. Ia mengajar kita dengan keteladanan ini bahwa kebaikan dilakukan tanpa hiruk-pikuk, tanpa pamer, tanpa “terdengar bunyi terompet”. Kebaikan dilakukan dengan keheningan.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 2 September 2018 : TENTANG KEASLIAN KETAATAN KITA TERHADAP SABDA ALLAH

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari Minggu ini kita mengambil kembali Bacaan Injil Markus. Dalam perikop hari ini (bdk. Mrk 7:1-8.14-15.21-23), Yesus menyampaikan tema penting bagi kita semua umat beriman : keaslian ketaatan kita terhadap sabda Allah, menentang setiap pencemaran duniawi atau formalisme hukum. Kisah dimulai dengan keberatan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang ditujukan kepada Yesus, menuduh murid-murid-Nya tidak mengikuti aturan-aturan ritual menurut tradisi. Dengan demikian para lawan bicara tersebut bermaksud untuk menyerang kewenangan dan dapat dipercayanya Yesus sebagai Guru karena mereka berkata : “Tetapi Guru ini mengijinkan para murid untuk tidak memenuhi ketentuan tradisi”. Namun, Yesus menjawab dengan keras, dengan mengatakan : “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis : Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia” (ayat 6-7). Demikianlah perkataan Yesus, dengan perkataan yang jelas dan kuat! Munafik adalah, boleh dikatakan, salah satu kata sifat yang paling kuat yang digunakan Yesus dalam Injil dan Ia mengatakannya tertuju kepada para guru agama : para ahli Taurat, orang-orang Farisi ... “Munafik”, kata Yesus.