Liturgical Calendar

Showing posts with label Wejangan Angelus 2021. Show all posts
Showing posts with label Wejangan Angelus 2021. Show all posts

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 26 Desember 2021 : PESTA KELUARGA KUDUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini kita merayakan Pesta Keluarga Kudus Nazaret. Allah memilih keluarga yang rendah hati dan sederhana untuk datang ke tengah-tengah kita. Marilah kita renungkan dengan keheranan keindahan misteri ini, dengan menekankan dua aspek nyata bagi keluarga kita.

 

Aspek pertama : keluarga adalah cerita yang daripadanya kita berasal. Kita memiliki cerita masing-masing. Tak seorang pun dari kita dilahirkan secara ajaib, dengan tongkat ajaib. Kita semua memiliki cerita kita masing-masing dan keluarga adalah cerita yang daripadanya kita berasal. Bacaan Injil liturgi hari ini mengingatkan kita bahwa bahkan Yesus pun merupakan putra dari kisah keluarga. Kita melihat-Nya melakukan perjalanan ke Yerusalem bersama Maria dan Yusuf untuk merayakan Paskah; kemudian Ia membuat ibu dan bapa-Nya khawatir ketika mereka tidak menemukan-Nya; setelah diketemukan, Ia pulang ke rumah bersama mereka (bdk. Luk 2:41-51). Sungguh indah melihat Yesus disertakan ke dalam lingkup kasih sayang keluarga yang lahir dan tumbuh dalam belaian dan perhatian kedua orangtua-Nya. Hal ini juga penting bagi kita : kita berasal dari sebuah cerita yang terdiri dari ikatan kasih, dan orang yang kita lahirkan hari ini tidak sebegitu banyak benda-benda yang kita gunakan, tetapi dari kasih yang telah kita terima, dari kasih di dalam hati keluarga. Kita mungkin tidak dilahirkan dalam keluarga yang luar biasa, yang tanpa masalah, tetapi ini adalah kisah kita – semua orang harus berpikir : ini adalah kisahku – ini adalah akar kita : jika kita memangkasnya, kehidupan akan mengering! Allah tidak membuat kita mengembara sendirian, tetapi berjalan bersama. Marilah kita bersyukur kepada-Nya dan berdoa kepada-Nya untuk keluarga kita. Allah memikirkan kita dan menghendaki kita bersama : bersyukur, bersatu, mampu memelihara akar kita. Kita perlu memikirkan hal ini, cerita kita.

 

Aspek kedua : setiap hari kita perlu belajar bagaimana menjadi sebuah keluarga. Dalam Bacaan Injil, kita melihat bahkan dalam Keluarga Kudus segala sesuatunya tidak berjalan dengan baik : ada masalah yang tak terduga, kecemasan, penderitaan. Keluarga Kudus di kartu suci tidak ada. Maria dan Yusuf kehilangan Yesus dan mencari-Nya dengan cemas, dan baru menemukan-Nya tiga hari kemudian. Dan ketika, sedang duduk di tengah-tengah alim ulam di Bait Allah, Ia menjawab bahwa Ia harus berurusan dengan Bapa-Nya, mereka tidak mengerti. Mereka butuh waktu untuk belajar mengenal Putra mereka. Begitu pula dengan kita: setiap hari, sebuah keluarga perlu belajar bagaimana saling mendengarkan untuk saling memahami, berjalan bersama, menghadapi perselisihan dan kesulitan. Sebuah tantangan sehari-hari yang harus diatasi dengan sikap yang benar, melalui tindakan sederhana, memperhatikan rincian hubungan kita. Dan hal ini juga sangat membantu kita untuk berbicara dalam keluarga, berbicara di meja, berdialog antara orangtua dan anak, berdialog antarsaudara kandung. Ini membantu kita mengalami akar keluarga kita yang berasal dari kakek-nenek kita. Berdialog dengan kakek-nenek!

 

Lalu bagaimana hal ini dilakukan? Marilah kita melihat Maria, yang dalam Bacaan Injil hari ini berkata kepada Yesus : “Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau” (ayat 48). Bapa-Mu dan aku; tidak mengatakan, aku dan Bapa-Mu. Sebelum "aku", "kamu" lebih dulu! Marilah kita mempelajari hal ini: sebelum "aku", "kamu" lebih dulu. Dalam bahasa saya ada kata sifat untuk orang-orang yang menempatkan "aku" sebelum "kamu": "Aku, diriku dan aku, untuk diriku dan kebaikanku sendiri". Orang-orang adalah semacam ini – pertama “aku” dan kemudian “kamu”. Tidak, dalam Keluarga Kudus, pertama "kamu" dan kemudian "aku". Untuk memelihara keharmonisan dalam keluarga, kediktatoran "aku" perlu ditentang - ketika "aku" membusung. Berbahaya, ketika, alih-alih saling mendengarkan, kita saling menyalahkan; ketika, alih-alih menunjukkan saling peduli, kita terpaku pada kebutuhan kita sendiri; ketika, alih-alih berdialog, kita mengasingkan diri dengan gawai kita – menyedihkan, ketika makan malam dalam keluarga, semuanya menggunakan gawai mereka tanpa saling berbicara, semuanya berbicara di gawai mereka sendiri; ketika kita saling menuduh, selalu mengulang kalimat yang sama, menghidupkan kembali adegan lama di mana setiap orang ingin menjadi benar dan selalu berakhir dengan keheningan yang dingin, keheningan yang bisa kamu potong dengan pisau, dingin, setelah diskusi keluarga. Ini mengerikan, benar-benar mengerikan! Saya ulangi sebuah nasihat : di malam hari, ketika semuanya selesai, selalulah berdamai. Jangan pernah tidur tanpa berdamai, jika tidak maka akan terjadi “perang dingin” keesokan harinya! Dan ini berbahaya karena memicu serangkaian omelan, serangkaian kebencian. Sayangnya, berapa kali perselisihan berasal dan tumbuh di dalam tembok rumah tangga karena kurun waktu keheningan yang berkepanjangan dan dari keegoisan yang tidak terkendali! Bahkan terkadang berujung pada kekerasan fisik dan moral. Ini merusak keharmonisan dan membunuh keluarga. Marilah kita mengubah diri kita dari "aku" menjadi "kamu". Seyogyanya, apa yang lebih penting dalam sebuah keluarga adalah "kamu". Dan tolong, setiap hari, marilah kita sedikit berdoa bersama – jika kamu dapat mengusahakannya – untuk memohonkan kepada Allah karunia perdamaian. Dan marilah kita semua berkomitmen – orangtua, anak-anak, Gereja, masyarakat – untuk menopang, membela, dan melindungi keluarga yang merupakan harta kita!

 

Semoga Perawan Maria, suami Yusuf, ibu Yesus, melindungi keluarga kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Sekarang saya beralih ke para pasutri di seluruh dunia. Hari ini, pada Pesta Keluarga Kudus, sebuah Surat yang saya tulis tentang kamu sedang diterbitkan. Surat tersebut adalah hadiah Natal saya untukmu, para pasutri – sebuah dorongan, tanda kedekatan saya, dan juga kesempatan untuk bermeditasi. Pentingnya merenungkan dan mengalami kebaikan dan kelembutan Allah yang, dengan tangan kebapaan-Nya, membimbing langkah para pasutri di jalan kebaikan. Semoga Tuhan memberikan kekuatan kepada para pasutri untuk melanjutkan perjalanan yang telah dijalani.

 

Hari ini saya juga ingin mengingatkan bahwa kita semakin dekat dengan Pertemuan Keluarga Sedunia. Saya mengundang kamu semua untuk mempersiapkan diri untuk acara ini terutama melalui doa dan menghayatinya di keuskupanmu bersama dengan keluarga-keluarga lainnya.

 

Dan berbicara tentang keluarga, saya memiliki perhatian, perhatian nyata, setidaknya di sini di Italia : musim dingin demografis. Tampaknya banyak pasutri memilih untuk tidak memiliki anak atau hanya memiliki satu anak. Pikirkan tentang hal ini. Ini adalah sebuah tragedi. Beberapa menit yang lalu, saya melihat di Sua Immagine bagaimana mereka sedang berbicara tentang masalah serius ini, musim dingin demografis. Marilah kita melakukan segala yang mungkin untuk mendapatkan kembali kesadaran untuk mengatasi musim dingin demografis yang bertentangan dengan keluarga kita, tentang negara kita, bahkan terhadap masa depan kita.

 

Saya menyapa kamu semua para peziarah yang datang dari Italia dan berbagai negara. Saya melihat orang Polandia ini, orang Brasil, dan saya melihat orang Kolombia di sana… keluarga, kelompok paroki, lembaga. Saya kembali mengharapkan agar permenungan akan Bayi Yesus, jantung dan pusat perayaan Natal, dapat mengobarkan sikap persaudaraan dan berbagi dalam keluarga dan komunitas. Dan untuk sedikit merayakan Natal, ada baiknya berkunjung ke 100 Adegan Kelahiran yang berada di bawah barisan tiang. Ini akan membantu kita juga.

 

Pada hari-hari ini, saya telah menerima pesan Natal dari Roma dan pelbagai belahan dunia. Sayangnya, tidak mungkin bagi saya untuk menanggapi semuanya, tetapi saya mendoakan semua orang dan terutama berterima kasih atas banyaknya doa-doa yang telah kamu janjikan untuk diucapkan. Doakan saya! Jangan lupakan ini! Terima kasih banyak, dan Selamat Pesta Keluarga Kudus! Selamat menikmati makan siang dan sampai jumpa!

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 26 Desember 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 19 Desember 2021 : BERANGKAT DAN LANGSUNG BERJALAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini, Hari Minggu Adven IV, menceritakan kunjungan Maria kepada Elisabet (bdk. Luk 1:39-45). Setelah menerima pemberitahuan malaikat, Perawan Maria tidak tinggal di rumah, memikirkan apa yang telah terjadi dan mempertimbangkan masalah dan kesukaran tersembunyi, yang tentu saja bukan tidak ada : karena, gadis malang, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan kabar ini, dengan budaya masa itu... Ia tidak mengerti... Ia justru pertama-tama memikirkan seseorang yang membutuhkan; ketimbang berkutat dengan masalahnya sendiri, ia memikirkan seseorang yang membutuhkan, ia memikirkan Elisabet, kerabatnya, yang sudah lanjut usia dan sedang mengandung seorang anak, sesuatu yang aneh dan ajaib. Maria berangkat dengan kemurahan hati, tanpa membiarkan dirinya tertunda oleh ketidaknyamanan perjalanan, menanggapi dorongan batin yang memanggilnya untuk mendekat dan membantu. Jalan yang panjang, kilometer demi kilometer, dan tidak ada bus untuk pergi ke sana : ia berjalan kaki. Ia berangkat untuk membantu. Bagaimana? Dengan berbagi kebahagiaannya. Maria memberi Elisabet sukacita Yesus, sukacita yang dibawanya dalam hati dan rahimnya. Ia pergi kepadanya dan menyatakan perasaannya, dan pernyataan perasaan ini kemudian menjadi doa, Magnificat, yang kita semua tahu. Dan teks itu mengatakan bahwa Bunda Maria "berangkat dan langsung berjalan" (ayat 39).

 

Ia berangkat dan langsung berjalan. Dalam bentangan terakhir perjalanan Adven, marilah kita dibimbing oleh dua kata kerja ini. Berangkat dan langsung berjalan : inilah dua gerakan yang dibuat Maria dan ia mengundang kita juga untuk melakukannya saat Natal mendekat. Pertama-tama, berangkat. Setelah pemberitahuan malaikat, masa sulit menanti Perawan Maria : kehamilannya yang tak terduga menyingkapkan kepadanya kesalahpahaman dan bahkan hukuman berat, bahkan hukuman rajam, dalam budaya masa itu. Bayangkan betapa banyak keprihatinan dan kekhawatiran yang ia miliki! Namun demikian, ia tidak berputus asa, ia tidak berkecil hati : ia berangkat. Ia tidak tunduk kepada masalahnya, tetapi kepada Allah. Dan ia tidak memikirkan kepada siapa harus meminta bantuan, tetapi kepada siapa harus memberikan bantuan. Ia selalu memikirkan orang lain : itulah Maria, selalu memikirkan kebutuhan orang lain. Kelak ia akan melakukan hal yang sama, pada pesta perkawinan di Kana, ketika ia menyadari bahwa tidak ada lagi anggur. Tidak ada lagi anggur adalah masalah orang lain, tetapi ia memikirkannya dan mencari solusi. Maria selalu memikirkan orang lain. Ia juga memikirkan kita.

 

Dari Bunda Maria, marilah kita mempelajari cara bereaksi ini : berangkat, terutama ketika kesulitan mengancam untuk menghancurkan kita. Bangkit, agar tidak terjebak dalam masalah, tenggelam dalam rasa mengasihani diri sendiri atau jatuh ke dalam kesedihan yang melumpuhkan kita. Tetapi mengapa berangkat? Karena Allah luar biasa dan siap mengangkat kita jika kita menjangkau-Nya. Jadi marilah kita membuang pikiran negatif, ketakutan yang menghalangi setiap dorongan hati dan yang menghalangi kita untuk bergerak maju. Dan kemudian marilah kita perbuat seperti yang diperbuat Maria : marilah kita melihat sekeliling dan mencari seseorang yang dapat kita bantu! Apakah ada seorang tua yang saya kenal yang dapat saya beri sedikit bantuan, teman? Semuanya, pikirkanlah. Atau menawarkan pelayanan kepada seseorang, kebaikan, panggilan telepon? Tetapi siapa yang bisa aku bantu? Aku berangkat dan aku membantu. Dengan membantu orang lain, kita membantu diri kita untuk bangkit dari kesulitan.

 

Gerakan kedua adalah langsung berjalan. Ini tidak berarti melanjutkan dengan kegelisahan, dengan tergesa-gesa, tidak, langsung berjalan tidak berarti demikian. Langsung berjalan justru berarti menjalani hari-hari kita dengan langkah penuh sukacita, melihat ke depan dengan percaya diri, tanpa menyeret kaki kita, sebagai hamba sungut-sungut – sungut-sungut ini merusak begitu banyak kehidupan, karena kita mulai bersungut-sungut dan bersungut-sungut, dan kehidupan terkuras habis. Bersungut-sungut membuatmu selalu mencari seseorang untuk dipersalahkan. Dalam perjalanannya ke rumah Elisabet, Maria berjalan dengan langkah cepat seorang yang hati dan hidupnya penuh akan Allah, penuh akan sukacita-Nya. Maka, marilah kita bertanya pada diri kita sendiri, agar bermanfaat untuk kita : bagaimana “langkah”-ku? Apakah aku proaktif atau apakah aku berlama-lama dalam kemurungan, kesedihan? Apakah aku bergerak maju dengan harapan atau aku berhenti dan mengasihani diriku sendiri? Jika kita melanjutkan langkah gerutuan dan berbicara yang melelahkan, kita tidak akan membawa Allah kepada siapa pun, kita hanya akan membawa kepahitan dan hal-hal gelap. Sebaliknya, menumbuhkan selera humor yang sehat, seperti yang dilakukan, misalnya, Santo Thomas More atau Santo Filipus Neri, sangat baik. Kita juga dapat meminta rahmat ini, rahmat selera humor yang sehat ini : rahmat selera humor yang sehat sangat baik. Janganlah kita lupa bahwa tindakan amal pertama yang dapat kita lakukan untuk sesama kita adalah dengan memberikan wajah yang tenang dan tersenyum kepadanya. Tindakan ini membawakan mereka sukacita Yesus, seperti yang dilakukan Maria dengan Elisabet.

 

Semoga Bunda Allah menggandeng tangan kita, dan semoga ia membantu kita bangkit dan bergegas menuju Natal!

_______________________________________


[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudara terkasih,

 

Saya mengungkapkan kedekatan saya dengan rakyat Filipina yang terkena dampak topan yang dahsyat, yang telah menghancurkan banyak rumah. Semoga Santo Niño membawa penghiburan dan harapan bagi keluarga yang paling membutuhkan; dan semoga ia mengilhami bantuan praktis dalam diri kita semua! Pertolongan pertama yang tulus adalah doa.

 

Saya menyapa kamu semua, para peziarah dari Italia dan dari berbagai negara. Secara khusus, saya menyapa komunitas Peru Roma dan kelompok cerita rakyat yang berkumpul di sini dalam rangka merayakan penghormatan "Niño Jesús Andino" dari Chopcca, tempat asal adegan Kelahiran yang didirikan di Lapangan ini. Terima kasih! Saya menyapa Kelompok Musik Soriano al Cimino. Saya ingin mendengarkan mereka nanti... [kelompok musik ini menyanyikan "Selamat Ulang Tahun"] Mereka bermain dengan baik, mereka ini! Saya menyapa umat Terni, Pramuka Marigliano dan kaum muda Cingoli, Macerata.

 

Dan kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu dan menjalani masa Adven terakhir yang mempersiapkan kita untuk kelahiran Yesus. Semoga ini menjadi masa pengharapan dan kerjasama bagi kita semua : berharap, harapan dan doa, dalam persekutuan Perawan Maria, perempuan pengharapan. Dan jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa. Dan sekarang kelompok musik, semoga memainkan sesuatu yang indah!

____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 19 Desember 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 12 Desember 2021 : APAKAH YANG HARUS KAMI PERBUAT?

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil (Luk. 3:10-18) dalam liturgi hari ini, Hari Minggu Adven III, menghadirkan kepada kita berbagai kelompok orang – orang banyak, para pemungut cukai dan para prajurit – yang tersentuh oleh khotbah Yohanes Pembaptis, bertanya kepadanya : “Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?" (Luk 3:10). Apa yang harus kami perbuat? Inilah pertanyaan yang mereka ajukan. Marilah kita sedikit bercermin pada pertanyaan ini.

 

Pertanyaan itu tidak berasal dari perasaan kewajiban. Justru hati tersentuh oleh Tuhan. Antusiasme kedatangan-Nyalah yang membuat mereka bertanya : apa yang harus kami perbuat? Kemudian Yohanes berkata : “Tuhan sudah dekat. Apa yang harus kami perbuat?" Marilah kita memberi contoh : marilah kita memikirkan orang terkasih yang akan mengunjungi kita. Kita dengan penuh sukacita dan bahkan tidak sabar menunggu orang itu. Untuk menyambut orang tersebut, kita akan melakukan apa yang perlu dilakukan : kita akan membersihkan rumah, kita akan menyiapkan makan malam terbaik, mungkin hadiah… Singkatnya, ada hal-hal yang akan kita perbuat. Hal serupa berlaku dengan Tuhan. Sukacita kedatangan-Nya membuat kita bertanya : apa yang harus kita perbuat? Tetapi Allah melambungkan pertanyaan ini ke tingkat yang lebih tinggi : apa yang harus kuperbuat dengan kehidupanku? Untuk apakah aku dipanggil? Akan menjadi apakah aku?

 

Dengan mengajukan pertanyaan ini, Injil mengingatkan kita akan sesuatu yang penting : hidup memiliki tugas bagi kita. Hidup bukan tanpa makna; hidup tidak dibiarkan begitu saja. Tidak! Hidup adalah karunia yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, mengatakan kepada kita : temukanlah siapa dirimu, dan bekerja keraslah untuk membuat impian hidupmu menjadi kenyataan! Kita masing-masing – jangan melupakan hal ini – memiliki sebuah perutusan yang harus diselesaikan.

 

Jadi, jangan takut untuk bertanya kepada Tuhan : apa yang harus diperbuat? Marilah kita mengajukan pertanyaan ini berulang kali kepada-Nya. Hal ini juga kembali muncul dalam Kitab Suci : dalam Kisah Para Rasul, beberapa orang, mendengar Petrus yang menyatakan kebangkitan Yesus, “sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: 'Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?'" (2:37). Marilah kita juga bertanya pada diri kita sendiri : apa yang sebaiknya kuperbuat untuk diriku sendiri dan untuk saudara-saudariku? Bagaimana aku bisa berkontribusi untuk hal ini? Bagaimana aku dapat berkontribusi untuk kebaikan Gereja, untuk kebaikan masyarakat? Musim Adven dimaksudkan untuk hal ini : berhenti dan bertanya kepada diri sendiri bagaimana mempersiapkan Natal. Kita sangat sibuk dengan segala persiapan, dengan hadiah dan hal-hal yang berlalu. Tetapi marilah kita bertanya pada diri sendiri apa yang harus kita perbuat untuk Yesus dan sesama! Apa yang harus kita perbuat?

 

Setelah pertanyaan, “apa yang harus kami perbuat?”, Injil mencantumkan jawaban Yohanes Pembaptis yang berbeda untuk setiap kelompok. Bahkan, Yohanes menyarankan kepada orang yang mempunyai dua helai baju agar membaginya dengan yang tidak punya; kepada para pemungut cukai yang menagih pajak, ia berkata : "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan" (Luk 3:13); kepada para prajurit : “Jangan merampas atau memeras dari siapa pun (bdk. ayat 14). Ia menyampaikan kata tertentu kepada setiap orang yang menanggapi situasi aktual mereka dalam kehidupan. Hal ini memberi kita pengajaran yang berharga : iman menjelma dalam kehidupan nyata. Iman bukan teori abstrak. Iman bukanlah teori abstrak, teori umum – tidak! Iman menyentuh kita secara pribadi dan mengubah hidup kita masing-masing. Marilah kita memikirkan keberwujudan iman kita. Apakah imanku abstrak, sesuatu yang abstrak atau nyata? Apakah iman menuntunku untuk melayani, meringankan sesama?

 

Jadi, sebagai kesimpulan, marilah kita bertanya pada diri kita sendiri : apa yang harus kita perbuat secara nyata dalam hari-hari ini ketika kita mendekati Natal? Bagaimana aku bisa melakukan bagianku? Marilah kita memilih sesuatu yang nyata, meskipun kecil, yang disesuaikan dengan situasi hidup kita, dan marilah terus melakukannya untuk mempersiapkan kita menghadapi Natal ini. Sebagai contoh : saya dapat menelepon orang yang sendirian, mengunjungi orang tua itu atau orang yang sakit itu, melakukan sesuatu untuk melayani orang miskin, seseorang yang membutuhkan. Meski begitu : mungkin saya perlu memohon pengampunan, memberikan pengampunan, menjernihkan situasi, membayar hutang. Mungkin saya telah mengabaikan doa dan setelah sekian lama berlalu, inilah saatnya untuk memohon pengampunan Tuhan. Saudara dan saudari, marilah temukan sesuatu yang nyata dan perbuatlah! Semoga Bunda Maria membantu kita, yang di dalam rahimnya Allah mengambil rupa daging.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari terkasih,

 

Saya ingin meyakinkanmu tentang doa saya untuk Ukraina yang terkasih, untuk semua Gereja dan komunitas keagamaannya, serta untuk seluruh rakyatnya sehingga ketegangan yang dialaminya dapat diselesaikan melalui dialog internasional yang serius dan bukan dengan senjata. Sebuah statistik yang saya baca baru-baru ini sangat membuat saya sedih : lebih banyak senjata diproduksi tahun ini daripada tahun lalu. Senjata bukanlah jalan yang tepat. Semoga Kelahiran Tuhan membawa kedamaian di Ukraina.

 

Saya juga mendoakan para korban angin puting beliung yang melanda Kentucky dan daerah-daerah lain di Amerika Serikat.

 

Dan sekarang, perkenankan saya untuk beralih ke bahasa Spanyol sehingga saya dapat dengan hangat menyapa komunitas di seluruh benua Amerika Latin dan Filipina – berapa banyak bendera dari negara-negara Amerika Latin – yang telah berkumpul di sini di Lapangan Santo Petrus untuk mendaraskan Rosario dalam rangka menghormati Perawan dari Guadalupe dan menguduskan diri kepadanya, selamat! Saya mengucapkan selamat kepadamu yang, dengan melakukan hal ini, telah mempersatukan diri dengan umat dari Alaska hingga Patagonia yang merayakan Bunda Maria dari Guadalupe, Bunda Allah yang benar yang kita hidupi, setiap tanggal 12 Desember. Semoga Perawan dari Guadalupe dan Santo Juan Diego mengajari kita bagaimana untuk selalu berjalan bersama dari pinggiran menuju pusat dalam persekutuan dengan Penerus para Rasul, yaitu para Uskup, untuk menyampaikan kabar baik kepada semua orang. Pengalaman ini harus diulang lagi dan lagi. Dengan cara ini, Allah, yang adalah persekutuan, akan menggerakkan kita menuju pertobatan dan pembaruan Gereja dan masyarakat, yang sangat kita butuhkan di Amerika – situasi di banyak negara Amerika Latin sangat menyedihkan – serta di seluruh dunia. dunia. Saya senang bahwa melalui tindakan iman, dan kesaksian publik seperti apa yang kamu lakukan hari ini, kita memulai persiapan untuk Yubileum Guadalupe pada tahun 2031, dan Yubileum Penebusan pada tahun 2033, kita harus selalu melihat ke depan, bukan? Semuanya bersama-sama – Viva la Virgen de Guadalupe!

 

Saya juga menyampaikan harapan terbaik untuk Caritas International yang merayakan hari jadinya yang ke-70. Caritas adalah seorang gadis kecil, eh! Caritas perlu tumbuh dan menjadi lebih kuat! Di seluruh dunia, Caritas adalah tangan kasih Gereja yang terulur kepada orang miskin dan paling rentan, yang di dalam diri mereka Kristus hadir. Saya mengundangmu untuk mengembangkan pelayananmu dengan kerendahan hati dan kreativitas untuk menjangkau orang yang paling terpinggirkan dan mendorong perkembangan terpadu sebagai penangkal budaya "membuang" dan ketidakpedulian. Secara khusus, saya mendorong “Bersama-sama Kita Berkampanye” internasionalmu, yang berlandaskan kekuatan komunitas dalam mempromosikan kepedulian terhadap ciptaan dan kaum miskin. Luka yang ditimbulkan pada rumah kita bersama memiliki dampak menghancurkan. Tetapi masyarakat dapat berkontribusi menuju pertobatan ekologis yang diperlukan. Karena alasan ini, saya mengundangmu untuk mematuhi kampanye Caritas International. Dan kepadamu, sahabat Caritas International, lanjutkan karyamu dalam merampingkan organisasi sehingga uang tidak masuk ke organisasi tetapi ke orang miskin. Rampingkan organisasi dengan baik.

 

Dan saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah; terutama kamu, anak laki-laki dan perempuan yang datang dengan patung Bayi Yesus kepunyaanmu untuk menerima berkat. Pada akhirnya, saya akan memberkati semua figur Bayi Yesus. Saya berterima kasih kepada Pusat Oratori Roma, dan saya memintamu untuk menyampaikan salam Natal saya kepada kakek-nenekmu dan semua orang yang kamu kasihi.

 

Saya menyapa umat Leiria (Portugal) dan umat Paroki Santo Aloysius Gonzaga Roma. Saya menyapa anak-anak dari Civitavecchia yang sedang mempersiapkan diri untuk Komuni Pertama, dan anak-anak dari Bunda Maria Bintang Penginjilan Roma yang sedang mempersiapkan Sakramen Krisma. Saya menyapa Pramuka Dewasa dari Rimini dan San Marino-Montefeltro serta kelompok pekerja dari sekolah di Sondrio, serta penduduk desa Ardea yang saya dorong untuk berdedikasi berdialog untuk menjaga wilayah mereka. Saya juga menyapa rombongan dari Senigallia (Marche).

 

Dan saya mengucapkan selamat hari Minggu untuk kamu semua. Sekali lagi, kita memberi penghormatan kepada Bunda Maria dari Guadalupe. Viva la Virgen de Guadalupe!. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu dan sampai jumpa.

____


(Peter Suriadi - Bogor, 12 Desember 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 8 Desember 2021 : HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIKANDUNG TANPA NODA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil untuk Liturgi hari ini, Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, membawa kita ke rumah Nazaret, tempat ia menerima kabar baik malaikat (bdk. Luk 1:26-38). Di dalam dinding rumah tangga, seseorang mengungkapkan dirinya lebih baik daripada di tempat lain. Dan justru di dalam keintiman rumah tangga itulah Injil memberi kita rincian yang mengungkapkan keindahan hati Maria.

 

Malaikat memanggilnya "penuh rahmat". Jika ia penuh rahmat, itu berarti Bunda Maria bebas dari kejahatan : ia tanpa dosa, Tak Bernoda. Sekarang, atas salam malaikat itu, Maria – teks mengatakan – “bertanya di dalam hatinya” (Luk 1:29). Ia tidak hanya terkejut, tetapi juga bertanya di dalam hatinya. Menerima salam, penghormatan, dan pujian yang agung terkadang membawa risiko menimbulkan kebanggaan dan keangkuhan. Marilah kita ingat bahwa Yesus tidak lemah lembut dengan orang-orang yang berjalan-jalan mengusahakan sambutan di lapangan, sanjungan, dilihat orang (bdk. Luk 20:46). Maria, sebaliknya, tidak meninggikan dirinya, tetapi bertanya di dalam hatinya; alih-alih merasa senang, ia merasa takjub. Sapaan malaikat tampaknya terlalu agung untuknya. Mengapa? Karena hatinya merasa kecil, dan kekecilan itu, kerendahan hati itu menarik perhatian Allah.

 

Di dalam tembok rumah Nazaret, kita melihat karakteristik hati Maria yang luar biasa. Bagaimana hati Maria? Setelah menerima pujian tertinggi, ia bertanya di dalam hatinya karena ia mendengar apa yang ditujukan kepadanya tidak ada kaitannya dengan dirinya. Faktanya, Maria tidak membanggakan keistimewaan dirinya, ia tidak mengklaim apa pun, ia tidak memperhitungkan apa pun berdasarkan jasanya. Ia tidak memuaskan diri, ia tidak meninggikan diri. Karena dalam kerendahan hatinya, ia tahu bahwa ia menerima segalanya dari Allah. Oleh karena itu, terbebas dari dirinya, ia sepenuhnya terarah kepada Allah dan sesama. Maria Tak Bernoda tidak melihat dirinya sendiri. Inilah kerendahan hati yang sesungguhnya : tidak memandang diri sendiri, tetapi memandang Allah dan sesama.

 

Marilah kita ingat bahwa kesempurnaan Maria, sang penuh rahmat, dinyatakan oleh malaikat di dalam dinding rumahnya – bukan di alun-alun utama kota Nazaret, tetapi di sana, dalam ketersembunyian, dalam kerendahan hati yang terbesar. Di rumah kecil Nazaret itu berdenyut jantung terbesar yang pernah dimiliki makhluk mana pun. Saudara dan saudari terkasih, inilah berita luar biasa bagi kita! Karena Tuhan sedang memberitahu kita bahwa untuk melakukan perbuatan yang mahabesar, Ia tidak membutuhkan sarana yang besar dan kemampuan kita yang sangat tinggi, melainkan kerendahan hati kita, mata kita terbuka kepada-Nya, dan juga terbuka kepada sesama. Dengan isyarat ini, di dalam tembok rumah kecil yang miskin, Allah mengubah sejarah. Bahkan hari ini, Ia ingin melakukan hal-hal besar bersama kita dalam kehidupan sehari-hari kita : dalam keluarga kita, di tempat kerja, dalam lingkungan sehari-hari. Rahmat Allah suka bekerja di sana melebihi peristiwa-peristiwa besar sejarah. Tetapi, saya bertanya pada diri saya sendiri, apakah kita mempercayai hal ini? Atau lebih tepatnya apakah kita berpikir bahwa kekudusan adalah utopia, sesuatu untuk orang dalam, khayalan saleh yang tidak sesuai dengan kehidupan biasa?

 

Marilah kita memohon rahmat kepada Bunda Maria : agar ia membebaskan kita dari gagasan yang menyesatkan bahwa Injil adalah satu hal dan kehidupan adalah hal lain; agar ia menyalakan antusiasme dalam diri kita untuk mencita-citakan kekudusan yang tidak ada hubungannya dengan kartu dan gambar kudus, tetapi dengan rendah hati dan penuh sukacita menghayati, seperti Bunda Maria, apa yang terjadi setiap hari, terbebas dari diri kita, dengan mata tertuju pada Allah dan sesama yang kita temui. Jangan berkecil hati : Tuhan telah memberikan semua orang hal-hal yang diperlukan untuk menenun kekudusan di dalam kehidupan kita sehari-hari! Dan ketika kita dilanda keraguan bahwa kita tidak dapat berhasil, kesedihan karena tidak memadai, marilah kita memperkenankan Bunda Maria melihat kita dengan “mata belas kasihan”-nya, karena tidak pernah seorang pun yang memohon pertolongannya tidak dihiraukan!

 

[Setelah pendarasan doa Malikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dua hari yang lalu saya kembali dari perjalanan saya di Siprus dan Yunani. Saya berterima kasih kepada Tuhan atas peziarahan ini; saya berterima kasih kepada kamu semua atas doa yang menyertai saya, dan penduduk di kedua negara tercinta itu, bersama dengan para pemimpin sipil dan agama mereka, atas kasih sayang dan kebaikan yang mereka berikan kepada saya. Kepada kamu semua, sekali lagi saya katakan : terima kasih!

 

Siprus adalah mutiara di Mediterania, mutiara dengan keindahan yang langka, yang bagaimanapun juga menanggung luka kawat berduri, penderitaan dinding yang memisahkannya. Di Siprus saya merasa seperti di rumah sendiri; saya menemukan saudara dan saudari dalam diri setiap orang. Saya menyimpan di dalam hati saya setiap pertemuan, khususnya Misa di stadion di Nicosia. Saya tergerak oleh Saudara Gereja Ortodoks, Chrysostomos, yang terkasih, ketika ia berbicara kepada saya tentang Gereja Bunda : sebagai umat Kristiani kita mengikuti jalan yang berbeda, tetapi kita adalah anak-anak Gereja Yesus, yang adalah seorang Bunda, dan menyertai dan memelihara kita, yang membuat kita terus berjalan, seluruhnya sebagai saudara-saudari. Harapan saya untuk Siprus adalah agar Siprus selalu menjadi laboratorium persaudaraan, di mana perjumpaan menang atas konfrontasi, di mana kita menyambut saudara dan saudari kita, terutama ketika ia miskin, tercampakkan, seorang migran. Saya ulangi, berhadapan dengan sejarah, di hadapan wajah-wajah orang-orang yang hijrah, kita tidak bisa tinggal diam, kita tidak bisa berpaling.

 

Di Siprus, seperti di Lesvos, saya dapat menatap mata penderitaan ini : tolong, marilah kita lihat mata orang-orang tercampakkan yang kita temui, marilah kita terhasut oleh wajah anak-anak, anak-anak migran yang putus asa. Marilah kita memperkenankan diri tergerak oleh penderitaan mereka untuk bereaksi terhadap ketidakpedulian kita; marilah kita melihat wajah mereka, membangunkan diri kita dari tidur kebiasaan!

 

Kemudian dengan rasa syukur saya memikirkan Yunani. Di sana juga saya menerima sambutan persaudaraan. Di Athena saya merasa tenggelam dalam kebesaran sejarah, dalam ingatan akan Eropa : humanisme, demokrasi, kebijaksanaan, iman. Di sana juga saya mengalami mistik keutuhan : dalam pertemuan dengan saudara saya para Uskup dan komunitas Katolik, dalam Misa meriah yang dirayakan pada Hari Tuhan, dan kemudian dengan kaum muda yang datang dari begitu banyak tempat, beberapa dari tempat yang sangat jauh, untuk menghayati dan berbagi sukacita Injil. Dan kembali, saya mengalami karunia memeluk Uskup Agung Gereja Ortodoks, Hieronymos : pertama beliau menyambut saya di rumahnya dan hari berikutnya ia datang mengunjungi saya. Saya menyimpan persaudaraan ini dalam hati saya. Saya mempercayakan kepada Bunda Allah banyak benih perjumpaan dan harapan yang telah ditebarkan dalam peziarahan ini. Saya memohon kepadamu untuk terus mendoakan agar benih-benih tersebut dapat bertunas dalam kesabaran dan berkembang dalam iman.

 

Hari ini adalah akhir tahun yang didedikasikan untuk Santo Yosef, Pelindung Gereja Semesta. Dan lusa, 10 Desember, Yubileum Loreto akan berakhir. Semoga rahmat kedua peristiwa ini terus bekerja dalam kehidupan kita dan dalam kehidupan komunitas kita. Semoga Perawan Maria dan Santo Yosef membimbing kita di jalan menuju kekudusan!

 

Dan saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah! Harapan khusus untuk Aksi Katolik Italia : semoga menjadi gimnasium sinodalitas di berbagai keuskupan dan paroki. Saya menyapa anak-anak Paduan Suara "Milleunavoce", umat Zaragoza dan kaum muda Valdemoro, Keuskupan Getafe, Spanyol - orang-orang Spanyol membuat diri mereka didengar, oke! - Serta delegasi Kotamadya Rocca di Papa, dengan obor yang akan menyalakan Bintang Natal di Benteng kota. Saya menyapa sekelompok orang Meksiko dari Negara Bagian Puebla.

 

Dan saya mengucapkan selamat hari raya kepada kamu semua, terutama kamu anak-anak Immacolata, ini adalah pestamu! Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya, dan saya akan menrdoakanmu. Nikmati makananmu dan sampai jumpa.

______


(Peter Suriadi - Bogor, 8 Desember 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 28 November 2021 : BERJAGA-JAGALAH SENANTIASA SAMBIL BERDOA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Injil liturgi hari ini, Hari Minggu Adven I, berbicara kepada kita tentang kedatangan Tuhan di akhir zaman. Yesus mengumumkan peristiwa yang suram dan menyedihkan, tetapi justru pada titik ini Ia mengundang kita untuk tidak takut. Mengapa? Karena segala suatunya akan baik-baik sajakah? Tidak, tetapi karena Ia akan datang. Yesus akan kembali seperti yang dijanjikan-Nya. Inilah yang dikatakan-Nya : “Bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat” (Luk 21:28). Sungguh menyenangkan mendengar Sabda yang membesarkan hati ini : bangkit dan mengangkat muka kita karena tepat pada saat-saat ketika segala sesuatu tampaknya akan berakhir, Tuhan datang untuk menyelamatkan kita. Kita menantikan-Nya dengan sukacita, bahkan di tengah kesengsaraan, selama krisis kehidupan dan peristiwa-peristiwa dramatis dalam sejarah. Kita menantikan-Nya.

 

Tetapi bagaimana kita mengangkat muka kita dan tidak tenggelam dalam kesulitan, penderitaan dan kekalahan? Yesus menunjukkan jalan dengan pengingat yang kuat : “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan … Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa” (Luk 21:34, 36).

 

"Berjaga-jagalah": Berjaga-jaga. Marilah kita berfokus pada aspek penting kehidupan Kristiani ini. Dari kata-kata Kristus, kita melihat bahwa berjaga-jaga terkait dengan kesiapsediaan : siap sedia, jangan terganggu, yaitu, tetap terbangun! Inilah arti berjaga-jaga : tidak membiarkan hati kita menjadi malas atau kehidupan rohani kita melunak menjadi biasa-biasa saja. Berhati-hatilah karena kita bisa menjadi “umat Kristiani yang mengantuk” – dan kita tahu ada banyak umat Kristiani yang tertidur, yang terbius oleh keduniawian rohani – umat Kristiani tanpa semangat rohani, tanpa intensitas doa, tanpa kegairahan perutusan, tanpa semangat Injil; umat Kristiani yang selalu melihat ke dalam, tidak mampu melihat ke cakrawala. Dan ini mengarah kepada "tertidur": menggerakkan segala sesuatunya dengan kelembaman, jatuh ke dalam sikap apatis, acuh tak acuh terhadap segala sesuatu kecuali apa yang nyaman bagi kita. Kehidupan yang berjalan ke depan dengan cara ini menyedihkan karena tidak ada kebahagiaan.

 

Kita perlu berjaga-jaga agar kehidupan kita sehari-hari tidak menjadi rutinitas, dan, seperti dikatakan Yesus, agar kita tidak terbebani oleh kecemasan hidup (bdk. ayat 34). Jadi hari ini adalah saat yang tepat untuk bertanya pada diri kita sendiri : apa yang membebani hatiku? Apa yang membebani semangatku? Apa yang membuatku berjalan untuk duduk di kursi malas? Sungguh menyedihkan melihat umat Kristiani “di kursi berlengan”! Apakah hal biasa-biasa saja yang melumpuhkanku, sifat buruk yang menghancurkanku ke tanah dan menghalangiku mengangkat muka? Dan mengenai beban yang membebani pundak saudara-saudara kita, apakah aku menyadarinya atau acuh tak acuh terhadapnya? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang bagus untuk diajukan kepada diri kita, karena pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu menjaga hati kita dari sikap apatis. Lalu apakah apatis itu? Apatis adalah musuh besar kehidupan rohani dan juga kehidupan Kristiani. Apatis adalah jenis kemalasan yang membuat kita terjerumus ke dalam kesedihan, menghilangkan semangat hidup dan keinginan untuk melakukan sesuatu. Semangat buruk yang menjebak jiwa dalam sikap apatis, merampas sukacitanya. Dimulai dengan kesedihan meluncur ke bawah sehingga tidak ada sukacita. Kitab Amsal mengatakan : “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Ams 4:23). Jagalah hatimu : itu artinya berjaga-jaga! Tetap terbangun dan jagalah hatimu.

 

Dan marilah kita menambahkan sebuah bahan penting : rahasia untuk berjaga-jaaga adalah doa. Bahkan, Yesus berkata : “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa” (Luk 21:36). Doa adalah apa yang membuat pelita hati tetap menyala. Ini benar terutama ketika kita merasa bahwa kegairahan kita telah mereda. Doa menyalakannya kembali, karena doa membawa kita kembali kepada Allah, ke pusat segala sesuatu. Doa membangunkan kembali jiwa dari tidur dan memfokuskannya pada apa yang penting, pada tujuan keberadaan. Bahkan selama hari-hari tersibuk kita, kita tidak boleh mengabaikan doa. Doa hati dapat membantu kita, sering mengulangi doa-doa pendek. Misalnya, selama Masa Adven, kita bisa membiasakan diri untuk berkata, “Datanglah, ya Tuhan Yesus”. Hanya kata-kata ini, tetapi mengulanginya : "Datanglah, ya Tuhan Yesus". Masa persiapan menuju Natal ini indah : kita memikirkan adegan kelahiran dan Natal, jadi marilah kita berkata dari hati : “Datanglah, ya Tuhan Yesus”. Marilah kita ulangi doa ini sepanjang hari : jiwa akan tetap berjaga-jaga! “Datanglah, ya Tuhan Yesus”, adalah doa yang bisa kita semua panjatkan bersama-sama sebanyak tiga kali. “Datanglah, ya Tuhan Yesus”, “Datanglah, ya Tuhan Yesus”, “Datanglah, ya Tuhan Yesus”.

 

Dan sekarang kita berdoa kepada Bunda Maria : semoga ia yang menanti Tuhan dengan hati yang berjaga-jaga menyertai kita selama perjalanan Masa Adven kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari terkasih,

 

Kemarin saya bertemu dengan para anggota lembaga, kelompok migran, dan orang-orang yang ambil bagian dalam perjalanan dengan semangat persaudaraan. Mereka ada di sini di Lapangan [Santo Petrus] dengan spanduk besar! Selamat datang! Tetapi berapa banyak migran yang menghadapi, bahkan selama hari-hari ini, bahaya besar, dan berapa banyak migran yang kehilangan nyawa mereka di perbatasan kita! Saya merasa sedih mendengar berita tentang situasi di mana begitu banyak dari mereka menemukan diri mereka sendiri. Saya memikirkan mereka yang meninggal saat menyeberangi Selat Inggris, mereka yang berada di perbatasan Belarusia, banyak di antaranya adalah anak-anak, dan mereka yang tenggelam di Laut Tengah. Ada begitu banyak kesedihan ketika memikirkan mereka. Dari mereka yang dipulangkan ke Afrika Utara, mereka ditangkap oleh para pedagang yang mengubah mereka menjadi budak : mereka menjual wanita dan menyiksa pria... Saya memikirkan mereka yang, juga pekan ini, telah mencoba menyeberangi Laut Tengah untuk mencari negeri yang lebih baik dan malahan menemukan kuburan mereka di sana; dan begitu banyak lainnya. Saya memastikan doa saya bagi para migran yang menemukan diri mereka dalam situasi krisis ini. Ketahuilah juga bahwa dari hati, saya selalu dekat denganmu, dalam doa dan tindakan. Saya berterima kasih kepada semua lembaga baik Gereja Katolik maupun di tempat lain, terutama lembaga Karitas nasional dan semua pihak yang berkomitmen untuk meringankan penderitaan mereka. Saya memperbaharui seruan saya yang tulus kepada mereka yang dapat berkontribusi pada penyelesaian masalah ini, terutama otoritas sipil dan militer, sehingga pemahaman dan dialog pada akhirnya dapat mengatasi segala macam instrumentalisasi serta berkeinginan dan berupaya menemukan solusi yang menghormati kemanusiaan orang-orang ini. Marilah kita mengingat para migran, penderitaan mereka, dan marilah kita berdoa bersama-sama dalam keheningan... (saat hening).

 

Saya menyapa kamu semua para peziarah yang datang dari Italia dan berbagai negara; Saya melihat banyak bendera dari berbagai negara. Saya menyapa keluarga, kelompok paroki, dan lembaga. Secara khusus, saya menyapa umat dari Timor Timur - saya melihat bendera di sana - dari Polandia dan dari Lisbon; serta umat dari Tivoli.

 

Kepada semuanya saya mengucapkan selamat hari Minggu, selamat menjalani Masa Adven, dan selamat menjalani Masa menuju Natal, menuju Tuhan. Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat makan siang dan sampai jumpa!

____


(Peter Suriadi - Bogor, 28 November 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 21 November 2021 : KRISTUS RAJA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini, hari Minggu terakhir Tahun Liturgi, diakhiri dengan penegasan yang dibuat oleh Yesus yang mengatakan : "Aku adalah raja" (Yoh 18:37). Ia mengucapkan kata-kata ini di hadapan Pilatus, sementara orang banyak berteriak-teriak agar Ia dapat dihukum mati. Ia berkata : "Aku adalah raja", dan orang banyak berteriak-teriak agar Ia dihukum mati. Cukup kontras. Saat yang menentukan telah tiba. Sebelumnya, tampaknya Yesus tidak ingin orang-orang mengangkat-Nya sebagai raja : kita ingat ketika, setelah penggandaan roti dan ikan, Ia mengundurkan diri untuk berdoa (bdk. Yoh 6:14-15).

 

Faktanya, kerajaan Yesus sama sekali berbeda dari kerajaan dunia. “Kerajaan-Ku”, kata-Nya kepada Pilatus, “bukan dari dunia ini” (Yoh 18:36). Ia tidak datang untuk menguasai tetapi untuk melayani. Ia tidak datang di tengah tanda-tanda kekuasaan, tetapi dengan kekuasaan tanda-tanda. Ia tidak berbusana dengan lencana yang berharga, tetapi Ia telanjang di kayu salib. Dan justru melalui tulisan yang diletakkan di kayu salib itulah Yesus kemudian didefinisikan sebagai "raja" (bdk. Yoh 19:19). Kerajaan-Nya benar-benar di luar ukuran manusia! Kita bisa mengatakan bahwa Ia tidak seperti raja-raja lainnya, tetapi Ia adalah Raja bagi raja-raja lain. Marilah kita bercermin pada hal ini : di hadapan Pilatus, Kristus mengatakan bahwa Ia adalah raja pada saat orang banyak menentang-Nya; tetapi ketika orang banyak mengikuti dan mengelu-elukan-Nya, Ia tetap menjauhi pengelu-elukan ini. Artinya, Yesus menunjukkan bahwa Ia secara berdaulat bebas dari keinginan ketenaran dan kemuliaan duniawi. Dan kita – marilah kita bertanya pada diri kita sendiri – apakah kita tahu bagaimana meneladani-Nya dalam segi ini? Apakah kita tahu bagaimana menguasai kecenderungan kita untuk terus-menerus dicari dan diakui, atau apakah kita melakukan segalanya untuk dihargai oleh orang lain? Maka, saya bertanya : apa yang penting? Apakah tepuk tangan atau pelayanan yang penting berkenaan dengan apa yang kita lakukan, khususnya mengenai ketetapan Kristiani kita?

 

Yesus tidak hanya melarikan diri dari pengupayaan kebesaran duniawi, tetapi Ia juga membuat hati orang-orang yang mengikuti-Nya bebas dan berdaulat. Saudara dan saudari terkasih, Ia membebaskan kita dari tunduk pada kejahatan. Kerajaan-Nya sedang membebaskan, tidak ada satu pun yang menindas berkenaan dengannya. Ia memperlakukan setiap murid sebagai sahabat, bukan sebagai kawula. Bahkan saat berada di atas segenap penguasa, Ia tidak menarik garis pemisah antara diri-Nya dan orang lain. Sebaliknya, Ia ingin memiliki saudara dan saudari untuk berbagi sukacita yang ada pada-Nya (bdk. Yoh 15:11). Kita tidak kehilangan apa pun dalam mengikuti-Nya – tidak ada yang hilang, tidak – tetapi kita memperoleh martabat karena Kristus tidak menginginkan perbudakan di sekeliling-Nya, tetapi orang-orang yang bebas. Dan – kita dapat bertanya pada diri kita sekarang – dari mana kebebasan Yesus berasal? Kita menemukan hal itu dengan kembali kepada penegasan yang Ia buat di hadapan Pilatus : “Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran” (Yoh 18:37).

 

Kebebasan Yesus berasal dari kebenaran. Kebenaranlah yang memerdekakan kita (bdk. Yoh 8:32). Tetapi kebenaran Yesus bukanlah sebuah gagasan, sesuatu yang abstrak : kebenaran Yesus adalah kenyataan, Ia sendiri yang membuat kebenaran di dalam diri kita yang membebaskan kita dari kebohongan dan kepalsuan di dalam diri kita, dari ucapan ganda. Bersama Yesus, kita menjadi benar. Kehidupan orang Kristiani bukanlah permainan di mana kamu dapat mengenakan topeng yang paling cocok untukmu. Karena ketika Yesus memerintah di dalam hati, Ia membebaskannya dari kemunafikan, Ia membebaskannya dari akal-akalan, dari kepalsuan. Bukti terbaik bahwa Kristus adalah raja kita adalah ketidakterikatan dengan apa yang mencemari kehidupan, yang menjadikannya mendua, buram, sedih. Ketika hidup menjadi mendua – sedikit di sana sini – hidup menjadi menyedihkan, sangat menyedihkan. Kita harus selalu menghadapi keterbatasan dan kekurangan kita, tentu saja : kita semua adalah orang-orang berdosa. Tetapi ketika kita hidup di bawah ketuhanan Yesus, kita tidak menjadi rusak, kita tidak menjadi palsu, cenderung menutupi kebenaran. Kita tidak menjalani kehidupan ganda. Ingatlah hal ini baik-baik : kita semua adalah orang-orang berdosa, ya; rusak, jangan pernah, jangan pernah. Orang berdosa, ya; rusak, jangan pernah. Semoga Bunda Maria membantu kita mencari setiap hari kebenaran Yesus, Raja Semesta Alam, yang membebaskan kita dari perbudakan duniawi dan mengajarkan kita untuk menguasai kejahatan kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Hari ini, untuk pertama kalinya pada Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, Hari Orang Muda Sedunia dirayakan di seluruh Gereja partikular. Inilah sebabnya ada dua orang muda dari Roma di samping saya, mewakili seluruh kaum muda Roma. Dengan hormat saya menyapa para pemuda dan pemudi dari Keuskupan kita, dan saya berharap seluruh kaum muda di dunia dapat merasa bahwa mereka adalah bagian yang hidup dari Gereja, pelaku utama perutusannya. Terima kasih sudah datang! Dan jangan sebal bahwa memerintah adalah melayani. Apakah memerintah itu? Memerintah berarti melayani. Semua bersama-sama : memerintah adalah melayani. Seperti yang diajarkan Sang Raja kita. Sekarang saya meminta orang-orang muda ini untuk menyapamu. Katakan sesuatu [Paus Fransiskus berkata kepada sang pemudi].

 

Pemudi : Selamat Hari Orang Muda Sedunia untuk kamu semua!

 

Paus Fransiskus : Katakan sesuatu yang kreatif [kepada sang pemuda].

 

Pemuda : Marilah kita bersaksi bahwa percaya kepada Yesus itu indah!

 

Paus Fransiskus : Lihat hal itu! Ini indah! Terima kasih. Tetaplah di sini [kepada kedua orang muda].

 

Hari ini juga merupakan Hari Perikanan Sedunia. Saya menyapa semua nelayan dan saya mendoakan mereka yang hidup dalam kondisi sulit, sayangnya, dalam kerja paksa. Saya mendorong para kapelan dan para sukarelawan Stella Maris untuk melanjutkan pelayanan pastoral mereka kepada orang-orang ini dan keluarga mereka.

 

Dan hari ini kita juga mengingat semua korban lalu lintas jalan raya : kita mendoakan mereka dan kita berketetapan untuk mencegah kecelakaan.

 

Saya juga ingin mendorong prakarsa Perserikatan Bangsa-bangsa yang saat ini sedang berjalan untuk semakin mengupayakan pengendalian perdagangan senjata.

 

Kemarin di Katowice, Polandia, Jan Franciszek Macha yang dibunuh dalam kebencian terhadap iman pada tahun 1941 dalam konteks penganiayaan terhadap Gereja selama rezim Nazi dibeatifikasi. Dalam kegelapan penjara, ia menemukan di dalam Allah kekuatan dan kelembutan untuk menghadapi kalvari itu. Semoga kemartirannya menjadi benih harapan dan kedamaian yang berlimpah. Tepuk tangan meriah untuk sang beato baru.

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara, khususnya mereka yang datang dari Polandia dan Amerika Serikat. Saya menyapa para pramuka dari Keuskupan Agung Braga, Portugal. Secara khusus, saya menyapa komunitas Ekuador di Roma yang sedang merayakan Perawan dari El Quinche. Saya menyapa umat dari Sant'Antimo (Napoli) dan Catania; para calon penerima Sakramen Krisma dari Pattada; dan para sukarelawan Bank Pangan (Banco Alimentari) yang sedang mempersiapkan Hari Pengumpulan Pangan Nasional (Giornata della colletta alimentare) Sabtu depan. Terima kasih banyak! Dan juga kepada anggota Immacolata. Kepada kamu semua, saya mengucapkan selamat hari Minggu. Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makananmu dan sampai jumpa!

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 21 November 2021)