Liturgical Calendar

Showing posts with label Wejangan Angelus 2022. Show all posts
Showing posts with label Wejangan Angelus 2022. Show all posts

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 28 Desember 2022 : NATAL BERSAMA SANTO FRANSISKUS DE SALES

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan sekali lagi, Selamat Natal!

 

Masa liturgi mengundang kita untuk berhenti sejenak dan merenungkan misteri Natal. Dan karena hari ini – hari ini – bertepatan dengan peringatan empat abad wafatnya Santo Fransiskus de Sales, uskup dan pujangga Gereja, kita dapat mengambil petunjuk dari beberapa pemikirannya. Ia banyak menulis tentang Natal. Sehubungan dengan itu, hari ini saya dengan senang hati mengumumkan bahwa surat apostolik untuk memperingati peringatan ini diterbitkan hari ini. Judulnya adalah Totum amoris est (Segalanya Berkaitan Dengan Kasih), mengambil ungkapan khas Santo Fransiskus de Sales. Sesungguhnya, inilah yang ia tulis dalam risalahnya tentang kasih Allah; ia menulis : “Dalam Gereja yang kudus, segala sesuatu berhubungan dengan kasih, dihayati dalam kasih, dilakukan demi kasih dan berasal dari kasih” (edisi asli Italia berasal dari : Ed. Paoline, Milan 1989, hlm. 80). Dan semoga kita semua menempuh jalan kasih ini, yang begitu indah.

 

Kemudian marilah kita mencoba menggali lebih dalam misteri kelahiran Yesus, “bersama” Santo Fransiskus de Sales, yang dengan demikian menyatukan kedua peringatan tersebut.

 

Santo Fransiskus de Sales, dalam salah satu dari banyak suratnya yang ditujukan kepada Santo Jeanne Frances de Chantal, menulis sebagai berikut: “Aku membayangkan melihat Salomo di singgasana gadingnya, seluruhnya disalut dan diukir dengan indah, yang, sebagaimana dikatakan Kitab Suci kepada kita, belum pernah diperbuat yang demikian bagi sesuatu kerajaan di bumi (1Raj 10:18-20), juga tidak ada raja yang dapat dibandingkan, kemuliaan dan kemegahannya, dengan raja yang duduk di atasnya (1Raj 10:23). Tetapi, aku seratus kali lebih suka melihat Yesus yang terkasih di palungan-Nya, daripada seluruh raja di dunia di singgasana mereka”. Indahnya apa yang ia katakan. Yesus, Raja alam semesta, tidak pernah duduk di singgasana, tidak pernah : Ia lahir di kandang – kita melihatnya digambarkan demikian [menunjukkan palungan di Aula Paulus VI] – dibungkus dengan lampin dan dibaringkan di dalam palungan; dan akhirnya Ia wafat di kayu salib dan, dibungkus dengan kain kafan, dibaringkan di dalam kubur. Memang, penginjil Lukas, dalam menceritakan kelahiran Yesus, sangat menekankan rincian palungan. Artinya sangat penting tidak hanya sebagai rincian logistik. Tetapi bagaimana memahaminya sebagai unsur simbolik? Guna memahami Mesias macam apa Dia yang lahir di Betlehem; Raja macam apa Dia, siapa Yesus itu. Melihat palungan, menatap salib, memandang hidup-Nya, suatu hidup kesederhanaan, kita dapat memahami siapa Yesus itu. Yesus adalah Putra Allah Yang menyelamatkan kita dengan menjadi manusia, seperti kita; menanggalkan kemuliaan-Nya dan merendahkan diri-Nya (bdk. Flp 2:7-8). Kita melihat misteri ini secara nyata pada titik fokus palungan, yaitu pada Sang Anak yang terbaring di dalam palungan. Ini adalah "tanda" yang diberikan Allah kepada kita pada hari Natal : pada masa para gembala di Betlehem (bdk. Luk 2:12), pada hari ini, dan akan selalu demikian. Ketika para malaikat mengumumkan kelahiran Yesus, [mereka berkata,] “Pergilah dan kamu akan menemukan Dia"; dan tandanya adalah : kamu akan menemukan seorang anak di dalam palungan. Itulah tandanya. Takhta Yesus adalah palungan atau jalan, selama hidup-Nya, berkhotbah; atau Salib di akhir hidup-Nya. Inilah takhta Raja kita.

 

Tanda ini menunjukkan kepada kita “gaya” Allah. Dan apakah gaya Allah? Jangan lupa, jangan pernah lupa : gaya Allah adalah kedekatan, kasih sayang, dan kelembutan. Allah kita dekat, penuh kasih sayang, dan lembut. Gaya Allah ini terlihat dalam diri Yesus. Dengan gaya-Nya ini, Allah menarik kita kepada diri-Nya. Ia tidak mengambil kita dengan paksa, Ia tidak memaksakan kebenaran dan keadilan-Nya kepada kita. Ia tidak menyebarkan agama kepada kita, tidak! Ia ingin menarik kita dengan kasih, dengan kelembutan, dengan kasih sayang. Dalam surat lainnya, Santo Fransiskus de Sales menulis : “Magnet menarik besi, batu ambar menarik jerami. Jadi, entah kita adalah besi dalam kekerasan kita, atau jerami dalam keringanan dan ketidakberhargaan kita, kita harus mempersatukan diri kita dengan Sang Bayi mungil ini”. Kekuatan kita, kelemahan kita, semata ditetapkan dengan sendirinya di hadapan palungan, di hadapan Yesus, atau di hadapan Salib. Yesus menelanjangi, Yesus miskin; tetapi selalu dengan gaya kedekatan, kasih sayang, dan kelembutan-Nya. Allah telah menemukan cara untuk menarik kita bagaimanapun diri kita : dengan kasih. Bukan kasih posesif dan egois, yang sayangnya begitu sering terjadi dengan kasih manusia. Kasih-Nya adalah karunia semata, rahmat semata, seluruhnya dan hanya demi kita, demi kebaikan kita. Maka Ia menarik kita masuk, dengan kasih yang tak bersenjata dan bahkan melucuti senjata ini. Karena ketika kita melihat kesederhanaan Yesus ini, kita pun menyingkirkan senjata kesombongan dan pergi, dengan rendah hati, untuk memohon keselamatan, memohon pengampunan, memohon terang bagi kehidupan kita, agar dapat bergerak maju. Jangan lupakan takhta Yesus. Palungan dan Salib : inilah takhta Yesus.

 

Aspek lain yang menonjol dalam palungan adalah kemiskinan – sungguh, ada kemiskinan di sana – dipahami sebagai pelepasan dari seluruh kesombongan duniawi. Ketika kita melihat uang yang dihabiskan untuk kesia-siaan… begitu banyak uang [dihabiskan] untuk kesia-siaan duniawi; begitu banyak usaha, begitu banyak mencari kesia-siaan; sementara Yesus membuat kita melihat dengan kerendahan hati. Santo Fransiskus de Sales menulis : “Allahku! puteriku, berapa banyak kasih sayang kudus yang ditimbulkan oleh kelahiran ini di dalam hati kita, terutama seluruh penolakan sempurna terhadap harta benda, kemegahan, … dunia ini. Aku tidak tahu entah aku menemukan misteri yang begitu manis yang memadukan kelembutan dengan penghematan, kasih dengan kemalangan, kemanisan dengan kekerasan. Kita melihat semua ini di dalam Kandang Natal. Ya, marilah kita berhati-hati agar tidak tergelincir ke dalam karikatur Natal duniawi. Dan ini menjadi masalah, karena ini adalah Natal. Tetapi hari ini kita melihat bahwa, bahkan jika ada "Natal lagi", dalam tanda kutip, karikatur Natal duniawi memerosotkan Natal menjadi perayaan konsumeris yang gila-gilaan. Kita ingin merayakan, kita ingin, tetapi ini bukan Natal, Natal adalah sesuatu yang lain. Kasih Allah bukanlah gula manis; Palungan Yesus menunjukkan hal itu kepada kita. Natal bukan kebaikan munafik yang menyembunyikan pengejaran kesenangan dan kenyamanan. Para sesepuh kita, yang memahami perang dan juga kelaparan, memahami hal ini dengan baik : Natal adalah sukacita dan perayaan, tentu saja, tetapi dalam kesederhanaan dan penghematan.

 

Dan marilah kita mengakhiri dengan pemikiran Santo Fransiskus de Sales yang juga telah saya kutip dalam surat apostolik saya. Ia mendiktekannya kepada para suster Visitandine - pikirkan saja! - dua hari sebelum wafatnya. Dan ia berkata: “Apakah kamu melihat bayi Yesus di dalam palungan? Ia menerima semua ketidaknyamanan pada masa itu, hawa dingin yang pahit, dan segala sesuatu yang diperkenankan Bapa terjadi pada-Nya. Ia tidak menampik sedikit penghiburan yang diberikan ibu-Nya; kita tidak diberitahu bahwa Ia pernah meraih payudara ibu-Nya, tetapi menyerahkan segalanya kepada perawatan dan perhatiannya. Demikian pula, kita sendiri hendaknya tidak menginginkan atau menampik apa pun, tetapi menerima semua yang dikirimkan Allah kepada kita, dingin yang pahit dan ketidaknyamanan masa ini”, seluruhnya. Dan di sini, saudara-saudari terkasih, ada sebuah ajaran yang luar biasa, yang datang kepada kita dari Kanak Yesus melalui hikmat Santo Fransiskus de Sales : jangan menginginkan dan menampik apa pun, terimalah segala sesuatu yang dikirimkan Allah kepada kita. Tetapi berhati-hatilah! Selalu dan hanya karena kasih, selalu dan hanya karena kasih, karena Allah mengasihi kita dan hanya menginginkan kebaikan kita.

 

Marilah kita memandang palungan, yaitu takhta Yesus; marilah kita menatap Yesus di jalan Yudea, jalan Galilea, mengkhotbahkan pesan Bapa; dan marilah kita memandang Yesus di atas takhta yang lain, di kayu salib. Inilah apa yang ditawarkan Yesus kepada kita : jalan, tetapi ini adalah jalan kebahagiaan.

Kepada kamu semua dan keluargamu, selamat Natal dan Tahun Baru!

 

[Sapaan Khusus]

 

Dengan penuh kasih sayang saya menyapa para peziarah berbahasa Inggris yang ikut serta dalam Audiensi hari ini, terutama kelompok dari Amerika Serikat. Kepada kamu semua dan keluargamu, saya menyampaikan harapan baik saya untuk masa Natal yang terberkati serta tahun baru yang penuh dengan sukacita dan kedamaian. Allah memberkatimu!

 

Secara khusus saya ingin memohonkan doa kamu semua untuk Paus Emeritus Benediktus, yang mendukung Gereja dalam keheningan. Ingatlah dia - ia sakit parah - memohon kepada Tuhan untuk menghibur dan mendukungnya dalam kesaksian kasih untuk Gereja ini, sampai akhir hayatnya.

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari terkasih: Dalam masa Natal ini, renungan kita tentang kelahiran Yesus dapat ditingkatkan dengan beberapa pemikiran dari pujangga Gereja besar, Santo Fransiskus de Sales. Hari ini, pada peringatan empat abad wafatnya, saya telah menerbitkan surat apostolik baru untuk mengenang beberapa kekayaan ajarannya. Bagi Francis de Sales, misteri Natal mengarahkan pandangan kita kepada kemiskinan dan kesederhanaan palungan sebagai tanda jatidiri sejati Kristus sebagai Allah di antara kita. Allah, yang mengetahui kelemahan, dosa dan kekerasan hati kita, memilih untuk menarik kita dengan ikatan kasih, datang ke dunia kita sebagai seorang anak yang baru lahir. Kelahiran Yesus dengan demikian mengungkapkan kasih Allah yang benar-benar bebas, melimpah dan sungguh "melucuti". Santo Fransiskus mengajar kita untuk menyambut Tuhan ke dalam hati kita dengan dengan penuh sukacita meneladan ketidakterikatan-Nya terhadap kekayaan dan kekuasaan duniawi, dan, seperti bayi Yesus, dengan belajar “untuk tidak menginginkan dan menolak apa pun, menerima segala sesuatu yang dikirimkan Allah kepada kita”, dengan keyakinan penuh akan pemeliharaan kasih-Nya. Semoga palungan sederhana di Bethlehem mengilhami kita untuk meneladan kasih Allah yang tak terbatas itu, yang menjelma dalam diri Sang Kanak Betlehem, Sang Juruselamat dunia.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 28 Desember 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 26 Desember 2022 : PESTA SANTO STEFANUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi, selamat hari raya!

 

Kemarin kita merayakan Kelahiran Tuhan dan liturgi, untuk membantu kita menyambutnya dengan lebih baik, memperpanjang rentang hari raya hingga 1 Januari : selama delapan hari. Tetapi, yang mengejutkan, hari-hari ini juga memperingati beberapa tokoh dramatis para martir suci. Hari ini, misalnya, Santo Stefanus, martir kristiani pertama; lusa, orang-orang kudus yang tak berdosa, kanak-kanak yang dibunuh oleh Raja Herodes karena takut Yesus akan merebut takhtanya (bdk. Mat 2:1-18). Singkatnya, liturgi tampaknya benar-benar ingin menjauhkan kita dari dunia lampu, makan siang, dan hadiah yang mungkin kita nikmati di hari-hari ini. Mengapa?

 

Karena Natal bukanlah dongeng tentang kelahiran seorang raja, tetapi Natal adalah kedatangan Sang Juruselamat, yang membebaskan kita dari kejahatan dengan menanggung kejahatan kita : keegoisan, dosa, maut. Inilah kejahatan kita : keegoisan yang kita bawa di dalam diri kita, dosa, karena kita semua adalah orang berdosa, dan maut. Dan para martir adalah orang-orang yang paling mirip dengan Yesus. Memang, kata martir berarti saksi: para martir adalah saksi-saksi, yaitu saudara dan saudari yang, melalui hidup mereka, menunjukkan kepada kita Yesus, yang mengalahkan kejahatan dengan belas kasihan. Dan bahkan di zaman kita, banyak martir, lebih banyak daripada di masa-masa awal. Hari ini marilah kita mendoakan saudara dan saudari martir yang teraniaya ini, yang menjadi saksi-saksi Kristus. Tetapi ada baiknya kita bertanya pada diri kita : apakah aku memberikan kesaksian tentang Kristus? Dan bagaimana kita dapat berkembang dalam hal ini? Kita memang bisa terbantu dengan sosok Santo Stefanus.

 

Pertama dan terutama, Kisah Para Rasul memberitahu kita bahwa Stefanus adalah salah satu dari tujuh diakon yang telah ditahbiskan oleh komunitas Yerusalem untuk pelayanan meja, yaitu untuk amal (bdk. 6:1-6). Ini berarti kesaksian pertamanya tidak diberikan dengan kata-kata, tetapi melalui kasih yang dengannya ia melayani orang-orang yang paling membutuhkan. Tetapi Stefanus tidak membatasi dirinya pada pekerjaan bantuan ini. Ia berbicara tentang Yesus kepada orang-orang yang ditemuinya : ia berbagi iman dalam terang Sabda Allah dan ajaran para Rasul (bdk. Kis 7:1-53, 56). Inilah dimensi kedua kesaksiannya : menyambut Sabda dan menyampaikan keindahannya, menceritakan bagaimana perjumpaan dengan Yesus mengubah hidup. Hal ini sangat penting bagi Stefanus sehingga ia tidak membiarkan dirinya terintimidasi bahkan oleh ancaman para penganiayanya, bahkan ketika ia melihat keadaan menjadi buruk baginya (bdk. ayat 54). Amal dan pewartaan, inilah Stefanus. Tetapi, kesaksian terbesarnya adalah satunya lagi : ia tahu bagaimana menyatukan amal dan pewartaan. Ia menyerahkannya kepada kita pada saat kematiannya ketika, mengikuti teladan Yesus, ia mengampuni para pembunuhnya (bdk. 60; Luk 23:34).

 

Inilah jawaban kita atas pertanyaan tersebut : kita dapat meningkatkan kesaksian kita melalui amal terhadap saudara dan saudari kita, kesetiaan pada Sabda Allah, dan pengampunan. Amal, Sabda, pengampunan. Pengampunanlah yang menunjukkan apakah kita benar-benar melakukan amal terhadap orang lain, dan apakah kita menghayati Sabda Allah. Pengampunan [dalam bahasa Italia : perdono], memang sebagaimana tersirat dalam kata itu, karunia [dono] yang lebih besar, karunia yang kita berikan kepada orang lain karena kita adalah milik Yesus, diampuni oleh-Nya. Aku mengampuni karena aku telah diampuni : marilah kita tidak melupakan hal ini… Marilah kita berpikir, marilah kita masing-masing memikirkan kemampuan kita untuk mengampuni : bagaimana kemampuanku untuk mengampuni, di hari-hari yang di dalamnya mungkin kita menjumpai, di antara banyak orang, beberapa orang yang tidak akur dengan kita, yang telah menyakiti kita, yang dengan mereka kita tidak pernah memulihkan hubungan. Marilah kita memohon kepada Yesus yang baru lahir untuk kebaruan hati yang mampu mengampuni : kita semua membutuhkan hati yang mengampuni! Marilah kita memohonkan rahmat ini kepada Tuhan : Tuhan, semoga aku belajar untuk mengampuni. Marilah kita memohon kekuatan untuk mendoakan orang-orang yang menyakiti kita, mendoakan orang-orang yang menyakiti kita, serta mengambil langkah-langkah keterbukaan dan rekonsiliasi. Semoga hari ini Tuhan memberikan kita rahmat ini.

 

Semoga Maria, Ratu para martir, membantu kita bertumbuh dalam amal, kasih akan Sabda dan pengampunan.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Dalam suasana sukacita dan ketenangan rohani Natal yang kudus, saya menyapa dengan kasih sayang semua orang yang hadir di sini dan semua orang yang mengikuti kita melalui media. Saya mengulangi keinginan saya untuk perdamaian : perdamaian dalam keluarga, perdamaian dalam komunitas paroki dan keagamaan, perdamaian dalam gerakan dan lembaga, perdamaian bagi orang-orang yang tersiksa oleh perang, perdamaian untuk Ukraina yang terkasih dan diperangi. Ada begitu banyak bendera Ukraina di sini! Marilah kita memohon kedamaian bagi bangsa yang sedang menderita ini!

 

Pekan ini saya telah menerima banyak ucapan dari berbagai belahan dunia. Karena saya tidak dapat menanggapi satu per satu, saya mengucapkan terima kasih kepada semuanya, terutama atas karunia doa.

 

Saya mengucapkan Selamat Pesta Santo Stefanus kepada semuanya, dan mohon jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 26 Desember 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 18 Desember 2022 : ALLAH DAPAT MENGUBAH KRISIS MENJADI CAKRAWALA BARU

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini, Hari Minggu Adven IV dan terakhir, liturgi menghadirkan sosok Santo Yusuf kepada kita (bdk. Mat 1:18-24). Ia adalah seorang yang tulus hati yang akan menikah. Kita bisa membayangkan apa impiannya di masa depan – keluarga yang indah, dengan istri yang penuh kasih sayang dan banyak anak-anak yang luar biasa, serta pekerjaan yang layak – mimpi yang sederhana dan baik, mimpi orang-orang sederhana dan baik. Tetapi tiba-tiba, mimpi-mimpi ini dihadapkan kepada kedapatan yang membingungkan. Maria, tunangannya, sedang mengandung, dan anak itu bukan anaknya! Apa yang akan dirasakan Yusuf? Terkejut, menderita, bingung, bahkan mungkin jengkel dan kecewa…. Bahkan … Ia mengalami dunia di sekelilingnya sedang berantakan! Dan apa yang harus ia lakukan?

 

Hukum memberinya dua pilihan. Pilihan pertama adalah mendakwa Maria dan membuatnya membayar harga atas dugaan perselingkuhannya. Pilihan kedua adalah menceraikan Maria dengan diam-diam agar Maria tidak terkena skandal dan hukuman yang berat, yaitu menanggung beban rasa malu. Maka, Yusuf memilih pilihan kedua ini, yaitu jalan belas kasihan. Dan lihatlah, di puncak krisisnya, tepat ketika ia memikirkan dan mempertimbangkan semua ini, Allah memberinya cahaya baru di hatinya – Ia menyatakan kepadanya dalam mimpi bahwa keibuan Maria tidak terjadi karena pengkhianatan, tetapi berkat karya Roh Kudus, dan anak yang akan dilahirkannya akan menjadi Juruselamat (bdk. ayat 20-21), dan Maria akan menjadi Bunda Mesias, dan ia akan menjadi pelindung-Nya. Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf memahami bahwa mimpi terbesar setiap orang Israel yang saleh – untuk menjadi bapa sang Mesias – tergenapi baginya dengan cara yang sama sekali tidak terduga.

 

Sesungguhnya, untuk mencapai hal ini tidak cukup menjadi bagian garis keturunan Daud dan menjadi seorang pemelihara hukum yang setia, tetapi orang terutama harus mempercayakan dirinya kepada Allah, menyambut Maria dan Putranya dengan cara yang sama sekali berbeda dari yang diharapkan, berbeda dari yang pernah dilakukan. Dengan kata lain, Yusuf harus meninggalkan seluruh kepastian yang meyakinkan, rencananya yang sempurna, pengharapannya yang sah, dan membuka diri terhadap masa depan yang sepenuhnya dapat ditemukan. Dan di hadapan Allah, yang mengganggu rencananya dan meminta agar ia mempercayai-Nya, Yusuf mengatakan "ya". Keberanian Yusuf adalah kepahlawanan dan dilaksanakan dalam diam – keberaniannya adalah percaya, ia menyambut, ia bersedia, ia tidak meminta jaminan lebih lanjut.

 

Saudara-saudari, apa yang dikatakan Yusuf kepada kita hari ini? Kita juga memiliki mimpi, dan mungkin kita lebih memikirkannya, kita membicarakannya bersama saat Natal. Mungkin kita meratapi beberapa mimpi yang telah hancur dan kita melihat bahwa pengharapan terbaik kita seringkali perlu disatukan dengan situasi yang tidak terduga dan membingungkan. Dan ketika ini terjadi, Yusuf menunjukkan caranya kepada kita. Kita tidak perlu menyerah pada perasaan negatif, seperti kemarahan atau keterasingan – ini cara yang salah! Sebaliknya, kita perlu menyambut kejutan dengan penuh perhatian, kejutan dalam hidup, bahkan krisis. Ketika kita menemukan diri kita dalam krisis, kita tidak boleh membuat keputusan dengan cepat atau secara naluriah, tetapi membiarkannya melewati saringan, seperti yang dilakukan Yusuf yang “mempertimbangkan segala sesuatu” (bdk. ayat 20), dan melandaskan diri kita pada kepastian yang mendasari kemurahan Allah. Ketika seseorang mengalami krisis tanpa menyerah pada keterasingan, kemarahan, dan ketakutan, tetapi tetap membuka pintu bagi Allah, Ia dapat campur tangan. Ia adalah pakar dalam mengubah rupa krisis menjadi mimpi – ya, Allah membuka krisis menuju cakrawala baru yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, mungkin tidak seperti yang kita harapkan, tetapi dengan cara yang Ia tahu caranya. Dan ini, saudara-saudari, adalah cakrawala Allah – mengejutkan – tetapi jauh lebih agung dan indah daripada cakrawala kita! Semoga Perawan Maria membantu kita hidup terbuka terhadap kejutan Allah.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya prihatin dengan situasi yang tercipta di Koridor Lachin di Kaukasus Selatan. Saya sangat prihatin dengan kondisi genting kemanusiaan penduduk yang berisiko semakin memburuk selama musim dingin. Saya meminta semua orang yang terlibat untuk berketetapan hati untuk mengusahakan penyelesaian damai demi kebaikan rakyat.

 

Selain itu, marilah kita juga berdoa untuk perdamaian di Peru, agar kekerasan di negara itu dapat dihentikan serta jalan dialog dapat dimulai untuk mengatasi krisis politik dan sosial yang melanda penduduk.

 

Saya menyapa kamu semua dengan kasih sayang, kamu yang datang dari Roma, dari Italia, dan dari berbagai belahan dunia. Secara khusus saya menyapa umat dari California, dan umat yang berasal dari Madrid, serta kelompok-kelompok dari Praia A Mare, Catania, Caraglio, dan dari Paroki Santi Protomartiri Roma.

 

Marilah kita mohon kepada Perawan Maria, yang liturginya mengundang kita untuk berkontemplasi pada Minggu Adven IV ini, menjamah hati orang-orang yang dapat menghentikan perang di Ukraina. Janganlah kita lupakan penderitaan rakyat tersebut, terutama bayi, orang tua, orang sakit. Marilah kita berdoa. Marilah kita berdoa.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu dan semoga perjalananmu selama tahap terakhir Masa Adven ini dapat berjalan dengan baik. Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang dan sampai jumpa.

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 18 Desember 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 11 Desember 2022 : BELAJAR DARI KERAGUAN YOHANES PEMBAPTIS

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil Hari Minggu Adven III ini berbicara kepada kita tentang Yohanes Pembaptis yang, ketika ada di dalam penjara, mengutus murid-muridnya untuk bertanya kepada Yesus : "Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?" (Mat 11:3). Memang, Yohanes, yang mendengar tentang karya Yesus, dihinggapi keraguan apakah Ia sungguh Mesias atau bukan. Bahkan, ia membayangkan seorang Mesias yang keras yang akan datang dan melakukan keadilan dengan kuasa dengan menghukum para pendosa. Sekarang, justru, Yesus memiliki kata-kata dan sikap belas kasih terhadap semua orang; rahmat pengampunan ada di tengah-tengah perbuatan-Nya : orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (ayat 5). Namun, ada baiknya kita melihat lebih dekat krisis Yohanes Pembaptis ini, karena krisis tersebut juga dapat memberitahu kita sesuatu yang penting.

 

Teks tersebut menekankan bahwa Yohanes ada di dalam penjara, dan hal ini, selain sebagai tempat fisik, membuat kita berpikir tentang situasi batin yang dialaminya : di dalam penjara ada kegelapan, tidak ada kemungkinan untuk melihat dengan jelas dan melihat melampauinya. Akibatnya, Yohanes Pembaptis tidak lagi dapat mengenali Yesus sebagai Mesias yang dinanti-nantikan. Ia dilanda keraguan, dan ia mengutus para muridnya untuk menyelidiki : "Pergilah dan lihatlah apakah Ia Mesias atau bukan". Kita heran bahwa hal ini harus terjadi pada Yohanes, orang yang telah membaptis Yesus di sungai Yordan dan telah menunjukkan Yesus kepada murid-muridnya sebagai Anak Domba Allah (bdk. Yoh 1:29). Ini justru berarti bahwa bahkan orang yang paling beriman sekali pun melewati terowongan keraguan. Dan ini bukan hal yang buruk; justru terkadang penting untuk pertumbuhan rohani : kita terbantu memahami bahwa Allah senantiasa lebih besar dari yang kita bayangkan. Karya-Nya mengejutkan dibandingkan dengan perhitungan kita; perbuatan-Nya berbeda, senantiasa, melebihi kebutuhan dan harapan kita; serta oleh karena itu, kita tidak boleh berhenti mencari Dia dan berpaling ke wajah-Nya yang sesungguhnya. Seorang teolog besar pernah berkata bahwa Allah “perlu ditemukan kembali secara bertahap... terkadang meyakini bahwa kita kehilangan Dia” (H. De Lubac, Sur les chemins de Dieu). Inilah yang dilakukan Yohanes Pembaptis : dalam keraguan, ia tetap mencari Dia, mempertanyakan Dia, “berdebat” dengan Dia dan akhirnya menemukan Dia kembali. Yohanes, yang didefinisikan oleh Yesus sebagai seorang yang terbesar di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan (bdk. Mat 11:11), mengajarkan kita, singkatnya, untuk tidak menutup Allah dalam pola pikir kita sendiri. Hal ini senantiasa merupakan bahaya, godaan : menjadikan diri kita sebagai Allah menurut ukuran kita, Allah untuk dipergunakan. Dan Allah adalah sesuatu yang lain.

 

Saudara-saudari, kita juga kadang-kadang menemukan diri kita dalam situasinya, di dalam penjara batin, tidak dapat mengenali kebaruan Tuhan, yang mungkin kita tawan dengan anggapan bahwa kita sudah mengetahui segalanya tentang Dia. Saudara-saudari terkasih, kita tidak pernah tahu segalanya tentang Allah, tidak pernah! Mungkin yang kita pikirkan adalah Allah yang kuat yang melakukan apa yang Ia inginkan, bukannya Allah yang lemah lembut, Allah yang penuh belas kasihan dan cinta, yang senantiasa ikut campur dengan menghormati kebebasan dan pilihan kita. Mungkin kita bahkan menemukan diri kita berkata kepada-Nya : "Apakah Engkau sungguh, begitu rendah hati, Allah yang sedang datang untuk menyelamatkan kita?". Dan hal serupa dapat terjadi pada diri kita dengan saudara-saudari kita juga : kita memiliki gagasan, prasangka dan kita menempelkan label yang kaku kepada orang lain, terutama yang kita rasa berbeda dengan kita. Masa Adven, adalah waktu untuk menjungkirbalikkan cara pandang kita, membiarkan diri kita dikejutkan oleh kerahiman Allah.

 

Keheranan : Allah senantiasa membuat heran. Kita lihat, belum lama ini, di acara televisi “A Sua Immagine”, mereka berbicara tentang ketakjuban. Allah senantiasa merupakan sosok yang membangkitkan ketakjuban dalam dirimu. Sebuah waktu – Adven – yang di dalamnya, mempersiapkan palungan kelahiran untuk Bayi Yesus, kita kembali mempelajari siapa Tuhan; waktu untuk meninggalkan anggapan dan prasangka tertentu tentang Allah dan saudara-saudari kita. Masa Adven adalah waktu di mana, alih-alih memikirkan karunia untuk diri kita sendiri, kita dapat memberikan kata-kata dan bersikap menghibur mereka yang terluka, seperti yang diperbuat Yesus terhadap orang buta, tuli, dan lumpuh.

 

Semoga Bunda Maria memegang tangan kita, seperti seorang ibu, semoga ia memegang tangan kita pada hari-hari persiapan Natal ini, dan membantu kita mengenali dalam kekecilan sang Bayi kebesaran Allah yang sedang datang.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Kemarin, di Barbacena, Brasil, Isabel Cristina Mrad Campos dibeatifikasi. Perempuan belia ini dibunuh pada tahun 1982 dalam usia dua puluh tahun, karena kebencian terhadap iman, karena telah mempertahankan martabatnya sebagai seorang perempuan dan nilai kekudusannya. Semoga teladan kepahlawanannya mengilhami khususnya kaum muda untuk memberikan kesaksian iman dan kelekatan pada Injil secara melimpah. Tepuk tangan meriah untuk sang beata baru!

 

Saya mengikuti dengan sedih dan prihatin berita dari Sudan Selatan tentang bentrokan kekerasan beberapa hari terakhir. Marilah kita berdoa kepada Tuhan untuk perdamaian dan rekonsiliasi nasional, agar serangan dapat dihentikan dan warga sipil selalu dihormati.

 

Hari ini adalah Hari Gunung Sedunia, yang mengundang kita untuk menyadari pentingnya sumber daya yang luar biasa ini bagi kehidupan planet dan umat manusia. Tema tahun ini – “Perempuan memindahkan gunung” – memang benar, perempuan memindahkan gunung! – mengingatkan kita akan peran perempuan dalam merawat lingkungan dan menjaga tradisi penduduk gunung. Dari orang gunung kita belajar rasa kebersamaan dan berjalan bersama.

 

Saya menyapa kamu semua, di sini di Roma, dari Italia dan berbagai belahan dunia. Secara khusus, saya menyapa umat dari Barcelona, Valencia, Alicante, Beirut, Kairo, serta dari Meksiko dan Polandia. Saya menyapa komunitas Katolik Tanzania di Italia; kelompok paroki dari Terni, Panzano di Chianti, Perugia, Nozza di Vestone; Paduan Suara Alpini Roma; dan perwakilan warga yang tinggal di daerah paling tercemar di Italia, dengan harapan mendapatkan penyelesaian yang adil untuk masalah serius mereka dan penyakit yang berasal dari lingkungan yang tercemar ini.

 

Dan saya ingin menyampaikan salam hangat kepada para tahanan di penjara “Due Palazzi” Padua : Saya menyapamu dengan penuh kasih sayang!

 

Dan sekarang saya akan memberkati "Bambinelli", patung kecil Bayi Yesus yang kamu, anak laki-laki dan perempuan, bawa ke sini dan kemudian, pulang ke rumah, akan ditempatkan di Kandang Natal. Saya mengajakmu untuk berdoa, di depan palungan, agar kelahiran Tuhan membawa cahaya kedamaian bagi anak-anak di seluruh dunia, terutama mereka yang terpaksa menjalani hari-hari peperangan yang mengerikan dan kelam, perang di Ukraina ini yang menghancurkan banyak kehidupan, begitu banyak kehidupan, dan banyak anak-anak. Pemberkatan Bambinelli… [Paus memberkati patung kecil Bayi Yesus].

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu dan melakukan perjalanan yang baik menuju kelahiran Tuhan. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 11 Desember 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 8 Desember 2022 : MARIA MEMBANTU KITA MENJAGA KECANTIKAN KITA DARI KEJAHATAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat hari raya!

 

Bacaan Injil Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda hari ini memperkenalkan kita ke dalam rumah Maria untuk menceritakan Kabar Sukacita (bdk. Luk 1:26-38). Malaikat Gabriel menyapa Perawan Maria seperti ini : “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (ayat 28). Ia tidak memanggilnya dengan namanya, Maria, tetapi dengan nama baru, yang ia tidak ketahui : engkau yang dikaruniai. Engkau yang dikaruniai, dan oleh karenanya bebas dari dosa, adalah nama yang diberikan Allah kepadanya dan kita rayakan hari ini.

 

Tetapi marilah kita pikirkan keheranan Maria : baru pada saat itulah ia menemukan jatidirinya yang sebenarnya. Memang, dengan memanggilnya dengan nama itu, Allah mengungkapkan kepadanya rahasia terbesarnya, yang sebelumnya tidak diketahui olehnya. Hal serupa juga bisa terjadi pada diri kita. Dalam arti apa? Dalam artian bahwa kita para pendosa juga telah menerima karunia awal yang telah memenuhi hidup kita, suatu kebaikan yang lebih besar dari apa pun juga : kita telah menerima karunia asli. Kita berbicara banyak tentang dosa asal, tetapi kita juga telah menerima karunia asal, yang seringkali tidak kita sadari.

 

Apa itu, karunia asli ini? Itulah yang kita terima pada saat kita dibaptis, oleh karena itu ada baiknya kita mengingatnya, dan bahkan merayakannya! Saya akan mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu : rahmat yang diterima pada saat kita dibaptis ini penting. Tetapi berapa banyak dari kamu yang ingat tanggal baptisanmu, tanggal berapa kamu dibaptis? Pikirkan tentang hal itu. Dan jika kamu tidak ingat, ketika kamu pulang, tanyakan kepada bapa baptismu, ibu baptismu, ayah atau ibumu : "Kapan aku dibaptis?", karena hari itu adalah hari rahmat yang besar, awal kehidupan baru, hari rahmat asli yang kita miliki. Allah turun ke dalam hidup kita hari itu, dan kita menjadi anak-anak kesayangan-Nya selamanya. Ini adalah kecantikan asli kita, yang karenanya kita penuh dengan sukacita! Hari ini, Maria, terkejut dengan rahmat yang membuatnya cantik sejak saat pertama hidupnya, membuat kita terkagum-kagum akan kecantikan kita. Kita dapat menangkap ini melalui rupa busana putih Pembaptisan; busana itu mengingatkan kita bahwa, di luar kejahatan yang telah menodai kita selama bertahun-tahun, ada kebaikan dalam diri kita yang lebih besar dari seluruh kejahatan yang telah menimpa. Marilah kita dengarkan gemanya, marilah kita dengar Allah berkata kepada kita : “Putra-Ku, putri-Ku, Aku mengasihimu dan Aku senantiasa bersamamu, engkau penting bagi-Ku, hidupmu berharga”. Itulah pesan Allah kepada kita. Ketika berbagai hal tidak berjalan dengan baik dan kita berputus asa, ketika kita berputus asa dan berisiko merasa tidak berguna atau salah, marilah kita berpikir tentang hal ini, tentang rahmat asli ini. Dan Allah beserta kita, Allah besertaku sejak hari itu. Marilah kita pikirkan lagi.

 

Hari ini sabda Allah mengajarkan kita hal penting lainnya : bahwa menjaga kecantikan kita membutuhkan biaya, menuntut perjuangan. Memang, Bacaan Injil menunjukkan kepada kita keberanian Maria yang mengatakan “Ya” kepada Allah, yang memilih risiko Allah; dan perikop dari Kitab Kejadian, tentang dosa asal, berbicara kepada kita tentang pertempuran melawan si penggoda dan godaannya (bdk. Kej 3:15). Tetapi kita mengetahui hal ini dari pengalaman juga, kita semua : butuh usaha untuk memilih yang baik, dibutuhkan biaya; dibutuhkan upaya untuk menjaga kebaikan yang ada pada diri kita. Pikirkanlah berapa kali kita telah menyia-nyiakannya dengan menyerah pada iming-iming kejahatan, licik demi kepentingan kita atau melakukan sesuatu yang akan mengotori hati kita; atau bahkan membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak berguna atau berbahaya, menunda-nunda doa, misalnya, dan mengatakan "Hari ini aku tidak bisa", atau mengatakan "Aku tidak bisa" kepada mereka yang membutuhkan kita, padahal sebenarnya kita bisa.

 

Tetapi hari ini, dihadapkan pada semua ini, kita memiliki kabar baik : Maria, satu-satunya manusia tanpa dosa dalam sejarah, bersama kita dalam pertempuran, ia adalah saudari kita dan, terutama, Bunda kita. Dan kita, yang berjuang untuk memilih yang baik, bisa mempercayakan diri kita kepadanya. Dengan mempercayakan diri kita, menguduskan diri kita kepada Maria, kita mengatakan kepadanya : “Pegang tanganku, Bunda, tuntunlah aku : bersama engkau aku akan memiliki lebih banyak kekuatan dalam pertempuran melawan kejahatan; bersama engkau aku akan menemukan kembali kecantikan asliku”. Hari ini marilah kita mempercayakan diri kita kepada Maria, marilah kita mempercayakan diri kita kepada Maria setiap hari, mengulangi kepadanya : “Maria, aku mempercayakan hidupku kepada engkau, aku mempercayakan keluargaku, pekerjaanku, aku mempercayakan hatiku dan perjuanganku. Aku mempersembahkan diriku kepada engkau”. Semoga Maria yang dikandung tanpa noda membantu kita menjaga kecantikan kita dari kejahatan.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah. Secara khusus, saya menyapa para pengikut Gerakan Pekerja Kristiani dan perwakilan dari Rocca di Papa dengan obor yang akan menyalakan Bintang Natal di mercu suar kota.

 

Pada Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, Aksi Katolik Italia menjalani pembaharuan keanggotaannya. Saya menyampaikan pemikiran saya kepada lembaga keuskupan dan parokinya, mendorong setiap orang untuk berkembang dengan sukacita dalam melayani Injil dan Gereja.

 

Sore ini saya akan pergi ke Basilika Santa Maria Maggiore untuk berdoa kepada Salus Populi Romani, dan langsung setelah itu ke Spanish Steps untuk melakukan tindakan penghormatan dan doa tradisional di kaki monumen Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Saya memohon keadamu untuk bergabung dengan saya secara rohani dalam gerakan ini, yang mengungkapkan devosi bakti kepada Bunda kita, yang kepada pengantaraannya kita mempercayakan keinginan semesta untuk perdamaian, khususnya bagi Ukraina yang bermartir, yang sangat menderita. Saya memikirkan kata-kata Malaikat Gabriel kepada Maria : “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil”. Dengan pertolongan Allah, perdamaian menjadi mungkin; perlucutan senjata menjadi mungkin. Allah bahkan menginginkan niat baik kita. Semoga Bunda Maria menolong kita untuk berbalik kepada rencana Allah.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari raya dan perjalanan Adven yang baik, untuk semua orang yang ada di sini: untuk kaum muda Immakulata, hari ini adalah hari raya mereka! Semoga Bunda Maria membantu kita. Allah menginginkan niat baik kita : semoga Bunda Maria membantu kita untuk berbalik kepada rencana Allah. Selamat hari raya, dan selamat menempuh perjalanan Adven, serta tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang, dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 9 Desember 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 4 Desember 2022 : YOHANES PEMBAPTIS DAN “REAKSI ALERGI”-NYA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi, selamat hari Minggu!

 

Hari ini, Hari Minggu Adven II, Bacaan Injil liturgi menghadirkan sosok Yohanes Pembaptis. Teks mengatakan bahwa Yohanes “memakai jubah bulu unta", "makanannya belalang dan madu hutan” (Mat 3:4), dan ia mengundang semua orang untuk bertobat. Dan ia mengatakan ini : “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (ayat 2) Dan ia memberitakan dekatnya Kerajaan Surga. Singkatnya, ia adalah orang yang keras dalam bersikap dan radikal, yang pada pandangan pertama mungkin tampak kasar dan dapat menimbulkan rasa takut tertentu. Namun sekali lagi, kita dapat bertanya pada diri kita mengapa Gereja menawarkannya setiap tahun sebagai rekan perjalanan utama kita selama Masa Adven ini. Apa yang tersembunyi di balik kekerasan sikapnya, di balik tampilannya yang keras? Apa rahasia Yohanes? Apa pesan yang disampaikan Gereja kepada kita hari ini bersama Yohanes?

 

Sesungguhnya, Yohanes Pembaptis, lebih dari sekadar orang yang keras dalam bersikap, adalah orang yang alergi terhadap sikap bermuka dua. Dengarkan baik-baik hal ini : alergi terhadap kepalsuan. Misalnya, ketika orang-orang Farisi dan Saduki, yang terkenal munafik, mendekatinya, “reaksi alergi”-nya cukup kuat! Bahkan, beberapa dari mereka mungkin mendatanginya karena penasaran atau untuk mendapatkan sesuatu karena Yohanes telah menjadi sangat populer. Orang-orang Farisi dan Saduki ini percaya bahwa mereka bersama-sama memiliki segalanya dan, berhadapan dengan seruan terus terang dari Yohanes Pembaptis, membenarkan diri, dengan mengatakan : “Abraham adalah bapa kami!” (ayat 9). Jadi, karena sikap bermuka dua dan berprasangka, mereka tidak menyambut saat rahmat, kesempatan untuk memulai hidup baru. Mereka tertutup dengan anggapan bahwa mereka benar. Maka, Yohanes memberitahu mereka, “Hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan!” (ayat 8). Ini adalah jeritan kasih, seperti jeritan seorang bapa yang melihat putranya menghancurkan diri dan berkata kepadanya, “Jangan mencampakkan hidupmu!”. Intinya, saudara-saudari terkasih, kemunafikan adalah bahaya terbesar karena ia bahkan dapat merusak kenyataan yang paling suci. Kemunafikan adalah bahaya serius. Inilah sebabnya mengapa Yohanes Pembaptis – sebagaimana Yesus nantinya – bersikap keras terhadap orang-orang munafik. Kita dapat membaca, misalnya, Matius bab 23 di mana Yesus berbicara sangat keras kepada orang-orang munafik pada masa itu. Dan mengapa Yohanes Pembaptis dan juga Yesus melakukan hal ini? Untuk mengguncang mereka. Sebaliknya, orang-orang yang merasa bahwa mereka adalah orang berdosa “datang kepadanya [Yohanes], lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis olehnya [Yohanes] (ayat 5). Oleh karena itu, kepakaran tidak penting untuk menyambut Allah, melainkan kerendahan hati. Inilah jalan untuk menyambut Allah. Bukan kepakaran – “Kami kuat, kami adalah orang-orang hebat!”. Tidak tidak. Kerendahan hati. Aku orang berdosa. Tetapi tidak secara abstrak, tidak – “oleh karena ini dan ini dan ini”. Kita masing-masing perlu mengakui dosa kita, kegagalan kita, kemunafikan kita. Butuh turun dari tumpuan dan dibenamkan ke dalam air pertobatan.

 

Saudara-saudari terkasih, Yohanes Pembaptis dan “reaksi alergi”-nya membuat kita berpikir. Bukankah kita kadang-kadang mirip dengan orang-orang Farisi itu? Mungkin kita melihat orang lain dari atas ke bawah, berpikir bahwa kita lebih baik dari mereka, kita mengendalikan hidup kita, kita tidak membutuhkan Allah, atau Gereja, atau saudara-saudari kita setiap hari. Kita lupa bahwa dalam satu kasus apakah sah memandang rendah orang lain : bangkitlah ketika perlu membantu mereka. Ini satu kasus; kasus lainnya pun tidak sah. Masa Adven adalah masa rahmat untuk menanggalkan topeng kita – kita masing-masing memilikinya – dan berbaris dengan mereka yang rendah hati, untuk dibebaskan dari anggapan yakin bisa mencukupi diri sendiri, untuk pergi mengakui dosa-dosa kita, yang tersembunyi, dan menyambut pengampunan Allah, memohon pengampunan dari mereka yang telah kita sakiti. Inilah cara memulai hidup baru. Hanya ada satu cara, jalan kerendahan hati – disucikan dari rasa superioritas, dari formalisme dan kemunafikan, untuk melihat diri kita, bersama dengan saudara-saudari kita, sebagai orang berdosa, dan melihat Yesus sebagai Sang Juruselamat yang datang kepada kita, bukan kepada orang lain, kepada kita, sama seperti kita, dengan kemiskinan, kesengsaraan dan kegagalan kita, terutama dengan kebutuhan kita untuk dibangkitkan, diampuni dan diselamatkan.

 

Dan marilah kita mengingat satu hal : bersama Yesus, selalu ada kemungkinan untuk memulai kembali. Tidak pernah ada kata terlambat. Selalu ada kemungkinan untuk memulai kembali. Kuatkan hati. Ia dekat dengan kita dan ini adalah masa pertobatan. Setiap orang mungkin berpikir : "Aku memiliki situasi ini di dalam diriku, masalah ini yang membuatku malu". Tetapi Yesus ada di sampingmu. Mulailah kembali. Selalu ada kemungkinan untuk mengambil langkah maju. Ia menunggu kita dan tidak pernah lelah dengan kita. Ia tidak pernah lelah! Dan ketika kita sedang menjengkelkan, Ia tidak pernah lelah! Marilah kita mendengarkan seruan Yohanes Pembaptis untuk berbalik kepada Allah. Dan jangan biarkan Masa Adven ini berlalu seperti hari-hari dalam kalender karena ini adalah masa rahmat, rahmat bagi kita juga, di sini dan saat ini! Semoga Maria, hamba Tuhan yang rendah hati, membantu kita untuk bertemu dengan Dia, Yesus, dan saudara-saudari kita di jalan kerendahan hati, yang merupakan satu-satunya jalan yang akan membantu kita untuk terus maju.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Dengan penuh kasih sayang saya menyapa kamu semua yang datang dari Italia dan dari berbagai negara : keluarga, paroki, lembaga dan perorangan. Saya bahkan melihat bendera – Spanyol, Polandia, Argentina – banyak bendera. Selamat datang untuk semuanya. Secara khusus, saya menyapa para peziarah Spanyol dari Madrid, Salamanca, Bolaños de Calatrava dan La Solana. Menyapa mereka yang berasal dari Polandia, saya ingin berterima kasih kepada mereka yang mendukung hari doa dan penggalangan dana untuk Gereja di Eropa Timur.

 

Saya senang menyapa Aksi Katolik dari Aversa, bersama dengan Uskup Spinillo; serta umat dari Palermo, Sutrio dan Saronno; calon penerima sakramen Krisma dari Pattada, Keuskupan Ozieri; dan umat Paroki Sant'Enrico Roma.

 

Kepada semuanya saya mengucapkan selamat hari Minggu dan melanjutkan perjalanan Adven. Hari Kamis ini, kita akan merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Kepada pengantaraannya, marilah kita percayakan doa-doa kita untuk perdamaian, terutama untuk rakyat Ukraina yang tersiksa.

 

Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang dan sampai jumpa.!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 5 Desember 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 27 November 2022 : BAGAIMANA TUHAN KELAK DATANG SERTA BAGAIMANA KITA KELAK MENGENALI DAN MENYAMBUT-NYA?

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi, selamat hari Minggu!

 

Dalam Bacaan Injil liturgi hari ini kita mendengar janji indah yang memperkenalkan kita kepada Masa Adven : “Tuhanmu datang” (Mat 24:42). Ini adalah landasan pengharapan kita, apa yang mendukung kita bahkan di saat-saat paling sulit dan menyakitkan dalam hidup kita : Allah akan datang, Allah sudah dekat dan akan datang. Marilah kita tidak pernah melupakan hal ini! Tuhan selalu datang, Tuhan mengunjungi kita, Tuhan mendekatkan diri-Nya, dan akan kembali di akhir zaman untuk menyambut kita dalam pelukan-Nya. Dihadapkan kata ini, kita bertanya pada diri kita : Bagaimana Tuhan kelak datang? Dan bagaimana kita kelak mengenali dan menyambut-Nya? Marilah kita membahas secara singkat dua pertanyaan ini.

 

Pertanyaan pertama : bagaimana Tuhan kelak datang? Sangat sering kita mendengar dikatakan bahwa Tuhan hadir di jalan kita, Ia menyertai kita dan berbicara kepada kita. Tetapi mungkin, karena kita terganggu oleh banyak hal, kebenaran ini tetap hanya teoretis bagi kita; ya, kita tahu bahwa Tuhan kelak datang tetapi kita tidak hidup menurut kebenaran ini, atau kita membayangkan bahwa Tuhan kelak datang dengan cara yang spektakuler, mungkin melalui suatu tanda yang ajaib. Dan sebaliknya, Yesus berkata bahwa Ia akan datang seperti pada "zaman Nuh" (bdk. ayat 37). Dan apa yang mereka lakukan pada zaman Nuh? Singkatnya, perkara kehidupan sehari-hari yang lumrah, seperti biasanya : "makan dan minum, kawin dan mengawinkan" (ayat 38). Marilah kita mengingat hal ini : Allah tersembunyi dalam hidup kita, Ia selalu ada – Ia tersembunyi dalam situasi yang paling umum dan paling biasa dalam hidup kita. Ia tidak datang dalam peristiwa luar biasa, tetapi dalam perkara sehari-hari; Ia mewujudkan diri-Nya dalam perkara sehari-hari. Ia ada di sana, dalam pekerjaan kita sehari-hari, dalam perjumpaan secara tidak sengaja, dalam menghadapi seseorang yang membutuhkan, bahkan ketika kita menghadapi hari-hari yang tampak kelabu dan monoton, di sanalah kita menemukan Allah, yang memanggil kita, berbicara kepada kita dan mengilhami perbuatan kita.

 

Tetapi, ada pertanyaan kedua : bagaimana kita kelak mengenali dan menyambut Tuhan? Kita harus berjaga-jaga, siap siaga, waspada. Yesus memperingatkan kita : ada bahaya kita tidak menyadari kedatangan-Nya dan tidak siap sedia untuk kunjungan-Nya. Pada kesempatan lain saya ingat apa yang dikatakan Santo Agustinus : “Aku takut akan Tuhan yang lewat” (Khotbah, 88, 14.13), yaitu, aku takut Ia kelak lewat dan aku kelak tidak mengenali-Nya! Memang, Yesus mengatakan bahwa orang-orang pada zaman Nuh itu makan dan minum "tetapi mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua" (ayat 39). Perhatikan ini : mereka tidak menyadari apa-apa! Mereka asyik dengan urusan mereka sendiri dan tidak menyadari bahwa air bah akan segera datang. Memang, Yesus mengatakan bahwa, ketika Ia kelak datang, “kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan” (ayat 40). Dalam arti apa? Apa bedanya? Singkatnya, yang seorang siap siaga, ia menunggu, mampu melihat kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan yang lain terganggu, “terseret”, dan tidak memperhatikan apa pun.

 

Saudara-saudari, dalam Masa Adven ini, marilah kita terguncang dari kelambanan kita dan marilah kita bangun dari tidur kita! Marilah kita mencoba bertanya pada diri kita : apakah aku sadar akan apa yang sedang aku jalani, apakah aku siap siaga, apakah aku berjaga-jaga? Apakah aku berusaha mengenali kehadiran Allah dalam situasi sehari-hari, atau apakah aku terganggu dan sedikit kewalahan oleh berbagai hal? Jika kita tidak menyadari kedatangan-Nya hari ini, kita juga tidak akan siap ketika Ia datang di akhir zaman. Oleh karena itu saudara-saudari sekalian, marilah kita tetap berjaga-jaga! Menanti Tuhan datang, menanti Tuhan datang dekat dengan kita, karena Ia ada di sana, tetapi siap sedia menanti. Dan semoga Santa Perawan, perempuan penantian, yang tahu bagaimana memahami Allah yang lewat dalam kehidupan Nazaret yang sederhana dan tersembunyi serta menyambut-Nya di dalam rahimnya, membantu kita dalam perjalanan ini untuk penuh perhatian menanti Tuhan yang ada di antara kita dan lewat.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya mengikuti dengan keprihatinan meningkatnya kekerasan dan bentrokan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan di Negara Palestina dan di Israel. Rabu lalu, dua serangan yang bersifat pengecut di Yerusalem melukai banyak orang dan menewaskan seorang anak laki-laki Israel; dan pada hari yang sama, selama bentrokan bersenjata di Nablus, seorang anak laki-laki Palestina tewas. Kekerasan membunuh masa depan, menghancurkan kehidupan kaum muda dan melemahkan harapan akan perdamaian. Marilah kita mendoakan para pemuda yang meninggal ini dan keluarga mereka, terutama ibu mereka. Saya berharap pihak berwenang Israel dan Palestina akan lebih siap mengambil hati untuk mengupayakan dialog, membangun rasa saling percaya, yang tanpanya tidak akan pernah ada penyelesaian damai di Tanah Suci.

 

Dan saya juga ingin mengingat Burkhard Scheffler, yang meninggal tiga hari lalu di sini di bawah barisan tiang Lapangan Santo Petrus; ia mati kedinginan.

 

Dengan penuh kasih saya menyapa kamu semua, dari Italia dan berbagai negara, terutama para peziarah dari Warsawa dan Granada, perwakilan komunitas Rumania dan komunitas Timor Leste yang hadir di Roma, serta warga Ekuador yang sedang merayakan Pesta Bunda Maria dari El Quinche. Saya menyapa para relawan Palang Merah Acerenza, Ente Nazionale Pro Loco d'Italia, serta umat Turin, Pinerolo, Palermo, Grottammare dan Campobasso. Secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepada para pembuat roti Italia, dengan harapan mereka dapat mengatasi kesulitan saat ini.

 

Saya menyapa para peserta pawai yang berlangsung pagi ini untuk mengecam kekerasan seksual terhadap perempuan, sayangnya sebuah kenyataan yang umum dan tersebar luas di mana-mana serta juga digunakan sebagai senjata perang. Janganlah kita bosan mengatakan tidak untuk perang, tidak untuk kekerasan, ya untuk dialog, ya untuk perdamaian; khususnya bagi rakyat Ukraina yang bermartir. Kemarin kita mengingat tragedi Holodomor.

 

Saya menyapa sekretariat FIAC (Forum Internasional Aksi Katolik), yang berkumpul di Roma pada kesempatan Sidang Kedelapan.

 

Dan kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu dan menjalani Masa Adven. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang, dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 27 November 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 13 November 2022 : KETAHANAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi, hari Minggu yang terberkati!


Bacaan Injil hari ini membawa kita ke Yerusalem, di tempat yang paling suci : Bait Allah. Di sana, di sekitar Yesus, beberapa orang berbicara tentang kemegahan bangunan yang mengagumkan itu, yang “dihiasi dengan batu yang indah-indah” (Luk 21:5). Tetapi Tuhan menyatakan, “Akan datang harinya di mana tidak ada satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan” (Luk 21:6). Ia kemudian menambahkan ceritanya, menjelaskan bagaimana dalam sejarah hampir semuanya runtuh : akan ada, kata-Nya, pemberontakan dan peperangan, gempa bumi dan kelaparan, penyakit sampar dan penganiayaan (bdk. ayat 9-17). Seolah-olah mau dikatakan : kita hendaknya tidak terlalu percaya pada kenyataan duniawi yang akan berlalu. Inilah kata-kata bijak, yang bagaimanapun bisa membuat kita agak pahit. Sudah ada banyak hal yang keliru. Tetapi mengapa Tuhan membuat pernyataan negatif seperti itu? Sesungguhnya Ia tidak berniat untuk membuat pernyataan negatif, sebaliknya – memberi kita ajaran yang berharga, yaitu jalan keluar dari semua kerawanan ini. Dan apa jalan keluarnya? Bagaimana kita bisa keluar dari kenyataan yang berlalu dan akan berlalu, dan tidak akan ada lagi?

 

Ajaran tersebut terletak pada sebuah kata yang mungkin akan mengejutkan kita. Kristus mengungkapkannya dalam kalimat terakhir Bacaan Injil, ketika Ia berkata : “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (ayat 19). Ketahanan. Apa itu ketahanan? Kata itu menunjukkan "sangat ketat"; tetapi ketat dalam arti apa? Dengan diri kita, menganggap diri kita tidak sesuai baku? Tidak. Dengan orang lain, menjadi kaku dan tidak lentur? Bukan ini juga. Yesus meminta kita untuk menjadi "ketat", tanpa kompromi, gigih dalam apa yang ada di dalam hati, dalam apa yang penting. Karena, apa yang benar-benar penting, seringkali tidak sesuai dengan apa yang menarik minat kita. Seperti orang-orang di Bait Allah, kita sering memprioritaskan pekerjaan tangan kita, pencapaian kita, tradisi agama dan sipil kita, simbol sakral dan sosial kita. Ini baik-baik saja, tetapi kita memberikan terlalu banyak prioritas kepada semua itu. Hal-hal ini penting, tetapi semuanya akan berlalu. Sebaliknya, Yesus berkata untuk berkonsentrasi pada apa yang tinggal, menghindari mengabdikan hidup kita untuk membangun sesuatu yang kemudian akan diruntuhkan, seperti Bait Allah itu, dan lupa untuk membangun apa yang tidak akan runtuh, membangun di atas sabda-Nya, di atas cinta, di atas kebaikan. Bertahan, ketat dan tegas dalam membangun apa yang tidak akan berlalu.

 

Maka, inilah ketahanan : membangun kebaikan setiap hari. Bertahan berarti terus menerus tetap dalam kebaikan, terutama ketika kenyataan di sekitar kita mendesak kita untuk melakukan sebaliknya. Mari kita renungkan beberapa contoh : saya tahu bahwa doa itu penting, tetapi, seperti semua orang, saya juga selalu punya banyak pekerjaan, jadi saya menundanya : “Tidak, saya sibuk sekarang, saya tidak bisa, saya 'akan melakukannya nanti'. Atau, saya melihat banyak orang licik yang memanfaatkan situasi, yang menghindari aturan, jadi saya juga berhenti mematuhinya dan bertahan dalam keadilan dan legalitas: “Tetapi jika bajingan ini melakukannya, saya juga akan melakukannya!”. Waspadalah terhadap hal ini! Dan kembali : saya melakukan pelayanan di Gereja, untuk komunitas, untuk orang miskin, tetapi saya melihat banyak orang di waktu luang mereka hanya berpikir untuk bersenang-senang, jadi saya merasa ingin menyerah dan melakukan apa yang mereka lakukan. Karena saya tidak melihat hasilnya, atau saya bosan, atau tidak membuat saya bahagia.

 

Ketahanan, sebaliknya, adalah tetap dalam kebaikan. Marilah kita bertanya pada diri kita : seperti apa ketahanan saya? Apakah saya berkesinambungan, atau apakah aku mengamalkan iman, keadilan dan kasih menurut saat tertentu : aku berdoa jika aku menginginkannya; aku adil, bersedia dan membantu jika cocok untukku; sedangkan jika aku tidak puas, jika tidak ada yang berterima kasih kepadaku, apakah aku berhenti? Singkatnya, apakah doa dan pelayananku bergantung pada keadaan atau pada hati yang teguh di dalam Tuhan? Jika kita bertahan – Yesus mengingatkan kita – kita tidak perlu takut, bahkan dalam peristiwa kehidupan yang menyedihkan dan buruk, bahkan dalam kejahatan yang kita lihat di sekitar kita, karena kita tetap berpijak pada kebaikan. Dostoevsky menulis: “Jangan takut akan dosa manusia. Kasihilah seorang manusia bahkan dalam dosanya, karena serupa dengan Sang Kasih Ilahi dan merupakan cinta tertinggi di bumi” (Karamazov Bersaudara, II, 6, 3g). Ketahanan adalah cerminan dalam dunia kasih Allah, karena kasih Allah itu setia, berkesinambungan, tidak pernah berubah.

Semoga Bunda Maria, hamba Tuhan, bertekun dalam doa (bdk. Kis 1:12), membentengi ketahanan kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]


Saudara-saudari terkasih


Besok akan menjadi peringatan pertama peluncuran Ajang Aksi Laudato Si', yang mempromosikan pertobatan ekologis dan gaya hidup yang selaras dengannya. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah merangkul prakarsa ini : ada sekitar enam ribu peserta, termasuk perorangan, keluarga, lembaga, bisnis, dan lembaga keagamaan, budaya dan kesehatan. Ini adalah awal yang sangat baik untuk perjalanan tujuh tahun yang ditujukan untuk menanggapi jeritan bumi dan orang miskin. Saya mendorong misi ini, yang sangat penting untuk masa depan umat manusia, sehingga dapat menumbuhkan dalam diri setiap orang ketetapan hati yang tulus untuk memelihara ciptaan.


Dari sudut pandang ini, saya ingin mengingat Konferensi Tingkat Tinggi COP27 tentang Perubahan Iklim, yang berlangsung di Mesir. Saya berharap langkah-langkah maju akan dibuat, dengan keberanian dan tekad, setelah Perjanjian Paris.


Marilah kita selalu tetap dekat dengan saudara-saudari kita di Ukraina yang menjadi martir. Dekat dalam doa dan dengan kesetiakawanan nyata. Perdamaian itu mungkin! Janganlah kita menyerah pada peperangan.

 

Dan saya menyapa kamu semua, para peziarah dari Italia dan berbagai negara, keluarga, paroki, lembaga dan umat perorangan. Secara khusus, saya menyapa grup karismatik “El Shaddai” dari Amerika Serikat, musisi “bandoneon” Uruguay – saya melihat benderamu di sana, bravo! – Misi Katolik Yunani Rumania di Paris, perwakilan pastoral sekolah dari Limoges dan Tulle dengan uskup masing-masing, dan anggota komunitas Eritrea di Milan, yang kepadanya saya memastikan doa saya untuk negara mereka. Saya senang menyapa para pelayan altar Ovada, Koperasi “Nuova Famiglia” Monza, perlindungan sipil Lecco, umat Perugia, Pisa, Sassari, Catania dan Bisceglie, serta para putra dan putri Yang Dikandung Tanpa Noda.

 

Kepada kamu semua, saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang, dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 12 November 2022)