Liturgical Calendar

Showing posts with label Wejangan Angelus 2023. Show all posts
Showing posts with label Wejangan Angelus 2023. Show all posts

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM PESTA KELUARGA KUDUS (YESUS, MARIA DAN YUSUF) 31 Desember 2023 : KELUARGA KUDUS NAZARET MENUNJUKKAN ALLAH MENYERTAI KITA DI SAAT-SAAT SULIT

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!


Hari ini kita merayakan Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yusuf. Bacaan Injil menunjukkan kepada kita Bait Allah di Yerusalem, untuk persembahan Sang Bayi kepada Tuhan (bdk. Luk 2:22-40).

 

Keluarga Kudus tiba di Bait Allah dengan membawa persembahan yang paling sederhana di antara persembahan yang ditentukan, sebuah kesaksian atas kemiskinan mereka. Pada akhirnya, Maria menerima nubuat : “Suatu pedang juga akan menembus jiwamu sendiri” (ayat 35). Mereka tiba dalam kemiskinan, dan berangkat pulang dengan penuh penderitaan. Hal ini mengejutkan – tetapi bagaimana bisa, Keluarga Yesus, satu-satunya keluarga dalam sejarah yang bisa membanggakan kehadiran Allah dalam wujud manusia di antara mereka, bukannya kaya, malah miskin! Bukannya hal-hal mudah, keluarga ini rupanya menemui berbagai kendala! Bukannya terbebas dari kesulitan, keluarga ini malah tenggelam dalam kesedihan yang luar biasa!

 

Cara Keluarga Kudus menjalani kehidupan mereka, miskin, menghadapi kendala, dengan kesedihan yang begitu besar ini menceritakan apa kepada keluarga kita? Sesuatu yang sangat indah diceritakan kepada kita : Allah, yang sering kita bayangkan mengatasi berbagai persoalan, datang untuk menjalani hidup kita dengan berbagai persoalannya. Ia menyelamatkan kita dengan cara ini. Ia tidak datang sebagai manusia dewasa, tetapi manusia yang sungguh mungil. Sebagai anak laki-laki dari seorang ibu dan seorang ayah, Ia hidup dalam sebuah keluarga di mana Ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tumbuh, belajar, menjalani kehidupan sehari-hari, dalam ketersembunyian dan keheningan. Dan Ia tidak menghindari kesulitan. Sebaliknya, dengan memilih sebuah keluarga, sebuah keluarga yang “ahli dalam penderitaan”, Ia mengatakan hal ini kepada keluarga kita: “Jika kamu menghadapi kesulitan, Aku tahu apa yang kamu alami. Aku mengalaminya. Aku, ibu dan ayah-Ku, kami mengalaminya sehingga kami dapat mengatakan kepada keluargamu juga: Kamu tidak sendirian!”.

 

Yusuf dan Maria “heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Yesus” (bdk. Luk 2:33) karena mereka tidak pernah mengira Simeon yang telah berusia lanjut dan Hana, seorang nabiah, akan mengatakan hal-hal ini. Mereka heran. Saya ingin merenungkan hal ini hari ini, tentang kemampuan mereka untuk heran. Mampu heran adalah rahasia untuk berkembang dengan baik sebagai sebuah keluarga, bukan terbiasa membiasakan berbagai hal; justru mengetahui bagaimana heran akan Allah yang menyertai kita. Dan kemudian heran akan keluarga kita. Dan menurut saya, ada baiknya para pasutri mengetahui cara mengagumi pasangannya, misalnya dengan menggandeng tangannya, dan menatap mata pasangannya dengan lembut selama beberapa detik di petang hari. Dengan lembut – keheranan selalu membawa kita kepada kelembutan. Kelembutan adalah keindahan dalam sebuah pernikahan. Dan kemudian, heran akan mukjizat kehidupan, mukjizat anak-anak, meluangkan waktu untuk bermain bersama mereka dan mendengarkan mereka. Dan saya bertanya kepadamu, para ayah dan para ibu: Apakah kamu punya waktu untuk bermain dengan anak-anakmu? Mengajak mereka jalan-jalan? Kemarin, saya mendengar kabar dari seseorang via telepon, dan saya bertanya kepadanya: “Di mana kamu?” “Oh, aku di taman. Aku mengajak anak-anakku jalan-jalan”. Ini adalah pola asuh yang baik. Dan kemudian, heran akan kebijaksanaan kakek-nenek: sering kali, kita mengucilkan kakek-nenek dari kehidupan kita. Tidak: kakek-nenek adalah sumber kebijaksanaan. Marilah kita belajar bagaimana heran akan kebijaksanaan kakek-nenek kita, kisah-kisah mereka. Kakek-nenek membawa kita kembali kepada apa yang hakiki. Terakhir, heran akan kisah cinta kita – kita masing-masing memiliki kisah cinta, dan Tuhan membuat kita berjalan dalam cinta – heran akan hal ini. Dan juga, tentu saja, kehidupan kita memiliki aspek negatif. Namun juga heran akan kebaikan Allah yang telah berjalan bersama kita, meski kita tidak begitu ahli dalam hal itu.

 

Semoga Maria, ratu keluarga, membantu kita untuk heran. Hari ini, marilah kita mohon rahmat untuk bisa heran. Semoga Bunda Maria membantu kita setiap hari heran akan apa yang baik, dan memahami bagaimana mengajarkan kepada orang lain betapa indahnya heran.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Sayangnya, perayaan Natal di Nigeria diwarnai dengan kekerasan serius di Negara Bagian Plateau yang memakan banyak korban. Saya mendoakan mereka dan keluarga mereka. Semoga Allah membebaskan Nigeria dari kekejaman ini! Dan saya juga mendoakan semua orang yang kehilangan nyawa dalam ledakan truk tanker di Liberia.

 

Marilah kita terus mendoakan orang-orang yang sedang menderita akibat perang: rakyat Ukraina yang terkepung, rakyat Palestina dan Israel, rakyat Sudan dan banyak lainnya. Di penghujung tahun, marilah kita berani bertanya pada diri kita: Berapa banyak kehidupan manusia hancur akibat pertikaian bersenjata? Berapa banyak orang yang meninggal? Dan berapa banyak kehancuran, penderitaan, kemiskinan? Semoga orang-orang yang mempunyai kepentingan dalam pertikaian ini mendengarkan suara hati nurani mereka. Dan jangan lupakan penderitaan Rohingya!

 

Setahun yang lalu, Paus Benediktus XVI mengakhiri perjalanan awalnya, setelah dengan penuh kasih dan bijaksana melayani Gereja. Kita merasakan begitu banyak kasih sayang, rasa terima kasih dan kekaguman padanya. Ia memberkati dan menyertai kita dari surga. Tepuk tangan untuk Benediktus XVI!

 

Saya menyapa umat Roma, para peziarah, kelompok paroki, lembaga dan kaum muda. Hari ini, secara khusus saya menyapa seluruh keluarga yang hadir serta mereka yang terhubung melalui televisi dan sarana komunikasi lainnya. Kita jangan melupakan keluarga adalah sel dasar masyarakat: keluarga harus selalu dipertahankan dan ditopang!

 

Saya menyapa tim bola voli nasional putra U-18 Italia, dan saya menyapa “sosok-sosok” Natal hidup dari Marcellano, Umbria.

 

Dan kepada semuanya saya mengucapkan selamat hari Minggu – berkat bagi keluargamu – dan kepadamu saya juga mengucapkan selamat mengakhiri tahun dengan tentram. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 31 Desember 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 26 Desember 2023 : MERENUNGKAN SAULUS DAN STEFANUS, ORANG YANG MENGANIAYA DAN ORANG YANG DIANIAYA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini, tepat setelah Natal, kita merayakan Pesta Santo Stefanus, martir pertama. Kisah kemartirannya kita temukan dalam Kisah Para Rasul (bdk. Bab 6-7), yang menggambarkan ia sebagai orang yang memiliki reputasi yang baik, yang menyajikan makanan kepada orang miskin dan memberikan amal (bdk. 6:3). Dan justru karena keunggulannya ini, ia tidak bisa tidak memberikan kesaksian tentang apa yang paling berharga baginya: ia memberikan kesaksian tentang imannya kepada Yesus, dan ini memicu kemarahan musuh-musuhnya, yang tanpa ampun melemparinya dengan batu sampai mati. Dan ini semua terjadi di hadapan seorang muda bernama Saulus, seorang penganiaya jemaat kristiani yang bersemangat, yang bertindak sebagai “penjamin” eksekusi tersebut (bdk. 7:58).

 

Marilah kita renungkan sejenak kejadian ini: Saulus dan Stefanus, orang yang menganiaya dan orang yang dianiaya. Tampaknya ada tembok yang tidak bisa ditembus di antara mereka, sekuat fundamentalisme pemuda Farisi dan batu yang dilemparkan ke arah orang yang dijatuhi hukuman mati. Namun, di luar apa yang terlihat, ada sesuatu yang lebih kuat yang mempersatukan mereka: sesungguhnya, melalui kesaksian Stefanus, Tuhan telah mempersiapkan dalam hati Saulus, tanpa disadarinya, pertobatan yang akan menuntunnya menjadi seorang Rasul besar. Stefanus, pelayanannya, doanya, iman yang ia wartakan, keberaniannya, dan terutama pengampunannya di saat kematian, tidaklah sia-sia. Dikatakan, pada saat penganiayaan – dan saat ini juga tepat untuk mengatakannya – “darah para martir adalah benih umat Kristiani”. Tampaknya penganiayaan tidak berakhir tanpa apa-apa, justru pada kenyataannya, pengorbanannya menanam benih yang, berlawanan arah dengan batu, menanamkan dirinya secara tersembunyi di dada saingan terjahatnya.

 

Saat ini, dua ribu tahun kemudian, sayangnya kita melihat penganiayaan terus berlanjut: masih ada penganiayaan terhadap umat kristiani. Masih ada orang – dan banyak di antara mereka – yang menderita dan mati untuk memberikan kesaksian tentang Yesus, sama seperti ada orang yang dihukum di berbagai tingkatan karena bertindak sesuai dengan Injil, dan mereka yang berusaha keras untuk memberikan kesaksian tentang Yesus. setiap hari untuk setia, tanpa basa-basi, pada tugas-tugas baik mereka, sementara dunia mencemooh dan memberitakan sebaliknya. Saudara-saudari ini mungkin juga tampak gagal, namun kini kita melihat bahwa kenyataannya tidak demikian. Faktanya, sekarang dan dulu, benih pengorbanan mereka, yang tampaknya mati, bertunas dan menghasilkan buah, karena Allah, melalui mereka, terus melakukan mukjizat (bdk. Kis 18:9-10), mengubah hati dan menyelamatkan manusia.

 

Marilah kita bertanya pada diri kita: apakah aku peduli dan mendoakan mereka yang, di berbagai belahan dunia, masih menderita dan mati demi iman saat ini? Begitu banyak orang yang dibunuh karena iman mereka. Dan sebaliknya, apakah aku mencoba memberikan kesaksian tentang Injil secara berkesinambungan, dengan lemah lembut dan percaya diri? Apakah aku percaya benih kebaikan akan berbuah meski aku tidak langsung melihat hasilnya?

 

Semoga Maria, Ratu Para Martir, membantu kita memberikan kesaksian tentang Yesus.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya memperbarui kepada kamu segenap harapan akan perdamaian dan kebaikan yang mengalir dari kelahiran Tuhan. Dan saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih kepada kamu semua yang telah mengirimi saya ucapan selamat dari Roma dan pelbagai belahan dunia. Terima kasih, terutama atas doamu! Dan teruslah mendoakan Paus! Dibutuhkan.

 

Dalam semangat kesaksian Santo Stefanus, saya dekat dengan umat kristiani yang mengalami diskriminasi, dan saya mendorong mereka untuk terus melakukan amal kasih kepada semua orang, berjuang secara damai demi keadilan dan kebebasan beragama.

 

Saya juga mempercayakan doa perdamaian bagi masyarakat yang dilanda perang kepada perantaraan Martir pertama. Media menunjukkan kepada kita apa yang dihasilkan oleh perang: kita telah melihat Suriah, kita melihat Gaza. Bayangkan Ukraina yang tersiksa. Gurun kematian. Apakah ini yang kita inginkan? Masyarakat menginginkan perdamaian. Mari kita berdoa untuk perdamaian. Mari kita berjuang untuk perdamaian.

 

Saya juga mempercayakan doa perdamaian bagi bangsa-bangsa yang dilanda perang kepada perantaraan sang martir pertama. Media menunjukkan kepada kita apa yang dihasilkan oleh perang: kita telah melihat Suriah, kita melihat Gaza. Bayangkanlah Ukraina yang tersiksa. Sebuah gurun kematian. Apakah ini yang kita inginkan? Bangsa-bangsa menginginkan perdamaian. Marilah kita berdoa untuk perdamaian. Marilah kita berjuang untuk perdamaian.

 

Saya menyapamu, umat Roma dan para peziarah, keluarga, kelompok paroki, komunitas dan lembaga keagamaan. Saya mengajakmu untuk berhenti sejenak di depan kandang Natal besar di Lapangan Santo Petrus, yang terinspirasi oleh kandang Natal yang dibuat Santo Fransiskus di Greccio delapan ratus tahun yang lalu. Saat kamu mengamati patung-patung dalam kandang Natal tersebut, kamu akan melihat ciri umum pada wajah dan sikap badan mereka: ketakjuban. Kamu akan melihat keajaiban yang menjadi kekaguman. Semoga kita membiarkan diri kita dilanda kekaguman berhadapan dengan kelahiran Tuhan. Saya harap kamu menyimpan hal ini dalam dirimu: keajaiban yang menjadi penyembahan.

 

Dan terima kasih kepada kamu semua, kepada kaum muda Immakulata, dan banyak orang yang ada di sini di hadapan saya!

 

Saya mengucapkan selamat berpesta kepada kamu semua! Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 26 Desember 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 24 Desember 2023 : NAUNGAN

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Hari ini, pada Hari Minggu Adven IV, Bacaan Injil menyajikan peristiwa Kabar Sukacita (bdk. Luk 1:26-39). Ketika menjelaskan kepada Maria bagaimana ia akan mengandung Yesus, malaikat berkata kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasu dan kuasa Allah Yang Maha Tinggi akan menaungi engkau” (ayat 35). Marilah kita berhenti sejenak pada gambaran ini, naungan.

 

Di wilayah yang selalu cerah seperti wilayah Maria, awan yang melintas, pohon yang tahan terhadap kekeringan dan memberikan perlindungan, atau tenda yang nyaman dapat memberikan pertolongan dan perlindungan. Naungan adalah anugerah yang menyegarkan, dan malaikat menggambarkan bagaimana Roh Kudus turun atas Maria, dan inilah cara Allah bertindak: Allah selalu bertindak sebagai cinta lembut yang merangkul, yang menyuburkan, yang melindungi, tanpa melakukan kekerasan, tanpa melanggar kebebasan. Inilah cara Allah bertindak.

 

Gagasan tentang naungan pelindung adalah gambaran yang sering muncul dalam Kitab Suci. Kita memikirkan naungan yang menyertai umat Allah di padang gurun (bdk. Kel 13:21-22). Singkatnya, “naungan” menggambarkan kebaikan Allah. Seolah-olah Ia berkata, kepada Maria tetapi juga kepada kita semua saat ini, “Aku di sini untukmu dan Aku menawarkan diriku sebagai tempat kamu berlindung dan bernaung: datanglah di bawah naungan-Ku, tinggallah bersama-Ku”. Saudara-saudari, beginilah cara kerja kasih Allah yang melimpah. Dan juga sesuatu yang, dengan cara tertentu, dapat kita alami di antara kita; misalnya ketika di antara teman, pasangan, suami-istri, pasangan, orang tua, dan anak-anak, kita bersikap lemah lembut, kita penuh hormat, kita peduli terhadap orang lain dengan baik. Marilah kita renungkan kebaikan Allah.

 

Beginilah cara Allah mengasihi, dan Ia memanggil kita untuk melakukan hal yang sama: menyambut, melindungi, dan menghormati orang lain. Pikirkanlah semua orang, pikirkanlah mereka yang terpinggirkan, mereka yang jauh dari kegembiraan Natal saat ini. Marilah kita memikirkan semua orang dengan kebaikan Allah. Ingatlah kata ini: kebaikan Allah.

 

Maka, pada Malam Natal, marilah kita bertanya pada diri kita: “Apakah aku ingin membiarkan diriku diselimuti oleh naungan Roh Kudus, oleh kelemahlembutan Allah, oleh kebaikan Allah, memberikan ruang bagi-Nya di dalam hatiku, mendekati pengampunan-Nya, mendekati Ekaristi?” Dan kemudian: “Untuk orang-orang yang kesepian dan membutuhkan, bisakah aku menjadi naungan yang menyegarkan, persahabatan yang menghibur?”

 

Semoga Maria membantu kita untuk terbuka dan menyambut kehadiran Allah, yang dengan lemah lembut datang menyelamatkan kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan berbagai belahan dunia. Secara khusus, saya menyapa delegasi warga negara Italia yang tinggal di wilayah yang secara resmi diakui sebagai wilayah yang sangat tercemar dan telah lama menunggu pembersihannya. Saya menyatakan kesetiakawanan terhadap kelompok ini dan berharap suara mereka didengar.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu dan Malam Natal kepada kamu semua dalam doa, dalam kehangatan kasih sayang, dan dalam ketenangan. Perkenankan saya memberikan satu anjuran: jangan merancukan perayaan dengan konsumerisme! Kita bisa – dan sebagai umat Kristiani kita harus – merayakannya dengan sederhana, tanpa menyia-nyiakan, dan dengan berbagi dengan mereka yang yang berkekurangan atau tidak memiliki teman. Kita dekat dengan saudara-saudari kita yang menderita akibat perang. Kita memikirkan Palestina, Israel, Ukraina. Kita juga memikirkan mereka yang menderita karena kesengsaraan, kelaparan, dan perbudakan. Semoga Allah yang mengambil hati manusia untuk diri-Nya menanamkan kemanusiaan ke dalam hati manusia!

 

Dan jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu! Dan Selamat Natal untuk kamu semua! Sampai jumpa!

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 24 Desember 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 17 Desember 2023 : BERSAKSI TENTANG TERANG

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini, Hari Minggu Adven III, Bacaan Injil berbicara kepada kita tentang perutusan Yohanes Pembaptis (bdk. Yoh 1:6-8,19-28), yang menunjukkan ia adalah nabi yang diutus Allah untuk “bersaksi tentang terang” (ayat 8 ). Marilah kita merenungkan hal ini : bersaksi tentang terang.

 

Kesaksian. Yohanes Pembaptis tentu saja orang yang luar biasa. Orang-orang berkumpul untuk mendengarkannya, tertarik dengan sikapnya yang tidak plin-plan dan tulus (bdk. ayat 6-7). Kesaksiannya muncul melalui bahasanya yang terus terang, perilakunya yang jujur, dan ketegasan hidupnya. Semua ini membuatnya berbeda dari orang-orang terkenal dan berkuasa lainnya pada masa itu, yang justru banyak berinvestasi dalam penampilan. Orang-orang seperti dia – jujur, bebas dan berani – adalah sosok yang cemerlang dan mempesona: mereka memotivasi kita untuk melampaui keadaan biasa-biasa saja dan pada gilirannya menjadi teladan kehidupan yang baik bagi orang lain. Di setiap zaman, Tuhan mengutus orang-orang seperti ini. Tahukah kita cara mengenali mereka? Apakah kita mencoba belajar dari kesaksian mereka, dan membiarkan diri kita tertantang? Atau lebih tepatnya, apakah kita membiarkan diri kita terpesona oleh orang-orang yang modis? Kemudian kita terjebak dalam perilaku buatan.

 

Sebaliknya Yohanes bercahaya sejauh ia bersaksi tentang terang. Tetapi apa terangnya? Ia sendiri menanggapi ketika ia menyatakan dengan jelas kepada orang banyak yang berbondong-bondong mendengarkannya bahwa ia bukan terang itu, ia bukan Mesias (bdk. ayat 19-20). Terang itu adalah Yesus, Sang Anak Domba Allah, “Allah yang menyelamatkan”. Hanya Dia yang menebus, memerdekakan, menyembuhkan dan mencerahkan. Inilah sebabnya mengapa Yohanes adalah “suara” yang menemani saudara-saudarinya mendengarkan Sabda; ia melayani tanpa mencari kehormatan atau sorotan: ia adalah pelita, sedangkan terang adalah Kristus yang hidup (bdk. ayat 26-27; Yoh 5:35).

 

Saudara-saudari, keteladanan Yohanes Pembaptis mengajarkan kita setidaknya dua hal. Pertama, kita tidak bisa menyelamatkan diri kita sendiri: hanya di dalam Allah kita menemukan terang kehidupan. Dan kedua, kita masing-masing, melalui pelayanan, tidak plin-plan, kerendahan hati, kesaksian hidup – dan selalu berkat rahmat Allah – dapat menjadi pelita yang bersinar dan membantu orang lain menemukan jalan untuk bertemu Yesus.

 

Maka, marilah kita bertanya pada diri kita: Di tempat tinggalku, bagaimana aku bisa bersaksi tentang terang, bersaksi tentang Kristus di sini dan sekarang pada Natal ini, bukan di masa depan yang jauh?

 

Semoga Maria, cermin kekudusan, membantu kita menjadi orang-orang yang memantulkan Yesus, terang yang datang ke dunia.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kemarin di Tempat Suci Bunda Maria Luján, Argentina, Eduardo Kardinal Pironio dibeatifikasi, seorang gembala yang rendah hati dan bersemangat, seorang saksi harapan, pembela kaum miskin. Ia bekerjasama dengan Santo Yohanes Paulus II dalam mengembangkan kaum awam dan Hari Orang Muda Sedunia. Semoga keteladanannya membantu kita menjadi Gereja yang bergerak keluar, yang mendampingi semua orang dalam perjalanan mereka, terutama mereka yang paling lemah. Tepuk tangan meriah untuk sang beato baru!

 

Hari ini saya ingin mengenang ribuan migran yang mencoba menyeberang melalui Hutan Darién yang terletak di antara Kolombia dan Panama. Seringkali keluarga-keluarga yang memiliki anak-anak menempuh jalan yang berbahaya, tertipu oleh orang-orang yang secara palsu menjanjikan perjalanan yang singkat dan aman, dianiaya dan dirampok. Tak sedikit yang kehilangan nyawa di hutan. Upaya gabungan diperlukan oleh negara-negara yang terkena dampak langsung dan komunitas internasional untuk mencegah situasi tragis ini berlalu begitu saja, dan bersama-sama memberikan tanggapan kemanusiaan.

 

Dan janganlah kita melupakan saudara-saudari kita yang sedang menderita akibat perang, di Ukraina, di Palestina dan Israel, dan di wilayah pertikaian lainnya. Menjelang Natal, semoga dedikasi terhadap terbukanya jalan perdamaian diperkuat.

 

Saya terus menerima berita yang sangat serius dan menyedihkan tentang Gaza. Warga sipil tak bersenjata menjadi sasaran bom dan tembakan. Dan ini terjadi bahkan di dalam kompleks paroki Keluarga Kudus, di mana tidak ada teroris, melainkan keluarga, anak-anak, orang sakit dan berkebutuhan khusus, para biarawati. Seorang ibu dan putrinya, Ibu Nahida Khalil Anton dan putrinya Samar Kamal Anton, tewas, dan orang-orang lainnya terluka oleh penembak saat mereka pergi ke kamar mandi… Rumah Suster Bunda Teresa rusak, generator mereka hancur. Ada yang mengatakan, “Ini adalah terorisme dan perang”. Ya, ini perang, ini terorisme. Itulah sebabnya Kitab Suci mengatakan bahwa “Allah yang menghentikan peperangan … mematahkan busur panah dan menumpulkan tombak” (bdk. Mzm 46:9). Marilah kita berdoa kepada Tuhan untuk perdamaian.

 

Saya menyapa kamu semua, keluarga, kelompok paroki dan lembaga, yang datang ke Roma dari Italia dan pelbagai belahan dunia lainnya. Secara khusus, saya menyapa para peziarah dari Amerika Serikat dan Polandia; umat dari Mormanno, Acilia dan Viterbo.

 

Dan sekarang saya menyapamu, anak-anak terkasih dari oratorium dan sekolah di Roma yang telah membawa patung Bayi Yesus untuk diberkati. Saya memberkati patung-patung tersebut. Dengan memberkati patung Bayi Yesusmu, saya memintamu berdoa di depan Kandang Natal untuk anak-anak yang akan mengalami masa Natal yang sulit di tempat-tempat di mana terjadi perang, di kamp-kamp pengungsi, dalam situasi kesengsaraan yang mendalam. Terima kasih telah melakukan hal ini, dan Selamat Natal untuk kamu semua dan keluargamu. Tepuk tangan untuk anak-anak!

 

Saya mengucapkan selamat Hari Minggu kepada kamu semua. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makananmu dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 17 Desember 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 10 Desember 2023 : PADANG GURUN DAN SUARA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Pada Hari Minggu Adven II ini, Bacaan Injil berbicara kepada kita tentang Yohanes Pembaptis, pendahulu Yesus (bdk. Mrk 1:1-8), dan menggambarkannya sebagai “suara orang yang berseru-seru di padang gurun” (ayat 3). Padang gurun, tempat kosong, tempat kamu tidak dapat berkomunikasi; dan suara, sarana untuk berbicara – kedua gambaran tersebut tampak seperti saling bertentangan. Namun keduanya tergabung dalam diri Yohanes Pembaptis.

 

Padang gurun. Yohanes berkhotbah di sana, dekat Sungai Yordan, dekat tempat umatnya memasuki tanah terjanji berabad-abad sebelumnya (bdk. Yosua 3:1-17). Dengan melakukan hal ini, ia seperti mengatakan: untuk mendengarkan Tuhan, kita harus kembali ke tempat di mana, selama empat puluh tahun, Ia menyertai, melindungi dan mendidik umat-Nya, di padang gurun. Ini adalah tempat yang sunyi dan penting, di mana seseorang tidak mampu memikirkan hal-hal yang tidak berguna, namun perlu berkonsentrasi pada apa yang sangat diperlukan agar dapat hidup.

 

Dan ini adalah pengingat yang senantiasa relevan : untuk melanjutkan perjalanan hidup, kita perlu melepaskan diri dari hal-hal yang “lebih”, karena hidup dengan baik bukan berarti dipenuhi dengan hal-hal yang tak berguna, tetapi terbebas dari hal-hal yang berlebihan, menggali lebih dalam di dalam diri kita untuk berpegang pada apa yang benar-benar penting di hadapan Allah. Hanya jika, melalui keheningan dan doa, kita memberikan ruang bagi Yesus, yang adalah Sabda Bapa, kita akan tahu bagaimana caranya terbebas dari pencemaran kata-kata dan obrolan yang sia-sia. Keheningan dan ketenangan – dari kata-kata, dari penggunaan benda-benda, dari media dan media sosial – ini bukan sekadar praktik umum dalam kehidupan devosional di mana seseorang mempersembahkan pengurbanan kecil, ketetapan, atau usulan untuk melakukan perbuatan baik kepada Tuhan kita atau Bunda Maria maupun kebajikan, keduanya merupakan unsur hakiki dalam kehidupan Kristiani.

 

Dan kita sampai pada gambaran kedua, suara. Ini adalah cara kita mewujudkan apa yang kita pikirkan dan apa yang kita simpan dalam hati kita. Oleh karena itu, kita memahami bahwa suara sangat berkaitan dengan keheningan, karena suara mengungkapkan apa kedewasaan di dalam diri, dari mendengarkan apa yang disarankan oleh Roh Kudus. Saudara-saudari, jika seseorang tidak tahu bagaimana caranya diam, kecil kemungkinannya ia akan mempunyai sesuatu yang baik untuk diucapkan; sementara, semakin penuh perhatian terhadap keheningan, semakin kuat kata-katanya. Dalam diri Yohanes Pembaptis, suara itu dikaitkan dengan keaslian pengalamannya dan kemurnian hatinya.

 

Kita bisa bertanya pada diri kita : Apa arti keheningan dalam hari-hariku? Apakah keheningan yang hampa, dan mungkin menindas? Ataukah ruang untuk mendengarkan, berdoa, menjaga hati? Apakah hidupku seadanya atau dipenuhi dengan hal-hal yang tidak berguna? Sekalipun berarti melawan arus, marilah kita menghargai keheningan, ketenangan, dan mendengarkan. Semoga Maria, Perawan Keheningan, membantu kita untuk mencintai gurun, menjadi suara-suara yang dapat dipercaya yang bersaksi tentang kedatangan Putranya.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Tujuh puluh lima tahun yang lalu, pada tanggal 10 Desember 1948, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia ditandatangani. Deklarasi tersebut bagaikan rencana induk. Banyak langkah yang telah diambil, masih banyak pula yang perlu dilakukan, dan sayangnya, terkadang ada langkah mundur yang diambil. Komitmen terhadap hak asasi manusia tidak pernah selesai! Dalam hal ini, saya dekat dengan semua orang yang, tanpa gembar-gembor, dalam kehidupan nyata sehari-hari, berjuang dan secara pribadi membayar harga untuk membela hak-hak mereka yang tidak diperhitungkan.

 

Saya menyambut baik pembebasan sejumlah besar tahanan Armenia dan Azerbaijan. Saya menaruh harapan besar pada tanda-tanda positif antara Armenia dan Azerbaijan, untuk perdamaian di Kaukasus Selatan, serta saya mendorong kedua pihak dan para pemimpin mereka untuk segera menyelesaikan perjanjian perdamaian.

 

Dalam beberapa hari lagi, pekerjaan COP28 mengenai iklim, yang sedang berlangsung di Dubai, akan selesai. Saya meminta kamu semua mendoakan hasil yang baik demi perawatan rumah kita bersama dan perlindungan masyarakat.

Dan kita terus mendoakan penduduk yang sedang menderita akibat perang. Kita sedang menuju Natal: Apakah kita mampu, dengan bantuan Allah, mengambil langkah-langkah perdamaian nyata? Ini tidak mudah; kita tahu itu. Pertikaian-pertikaian tertentu mempunyai akar sejarah yang kuat. Namun kita juga memiliki kesaksian dari para orang-orang yang telah bekerja dengan bijaksana dan sabar demi hidup berdampingan secara damai. Biarkan teladan mereka diikuti! Biarkan segala upaya dilakukan untuk mengatasi dan menyingkirkan penyebab pertikaian, dan pada saat yang sama – berbicara tentang hak asasi manusia – melindungi warga sipil, rumah sakit, tempat ibadah, membebaskan sandera dan menjamin hak asasi manusia. Janganlah kita melupakan Ukraina, Palestina, Israel yang babak belur.


Saya memanjatkan doa untuk para korban kebakaran yang terjadi dua hari lalu di rumah sakit di Tivoli.

 

Dengan sepenuh hati menyapa kamu semua, para peziarah dari Roma, dan Italia, dan belahan dunia lainnya, khususnya umat San Nicola Manfredi, para pramuka dewasa dari Scafati serta kelompok orang muda dari Nevoli, Gerenzano dan Rovigo.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makananmu dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 10 Desember 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN : 8 Desember 2023 : BELAJAR DARI DUA SIKAP MARIA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat hari raya!


Hari ini, pada Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, Bacaan Injil menyajikan kepada kita kisah Kabar Sukacita (bdk. Luk 1:26-38). Bacaan Injil memperlihatkan dua sikap Maria yang membantu kita memahami bagaimana ia menjaga karunia istimewa yang diterimanya – hati yang benar-benar bebas dari dosa. Kedua sikap ini berupa keheranan terhadap karya Allah dan kesetiaan dalam hal-hal sederhana.

 

Marilah kita melihat sikap pertama: keheranan. Malaikat berkata kepada Maria, “"Salam, hai engkau yang dikaruniai! Tuhan menyertai engkau” (bdk. ayat 28). Dan Penginjil Lukas mencatat Perawan Maria “terkejut ... lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu" (ayat 29). Ia terkejut, terpukul, gelisah: ia terheran-heran ketika mendengar dirinya disebut “penuh rahmat” – Bunda Maria rendah hati – yakni dipenuhi dengan kasih Allah. Ini merupakan sikap yang sangat mulia: terheran-heran akan karunia Allah, tidak pernah meremehkannya, menghargai nilainya, bersukacita atas kepercayaan dan kelembutan yang diberikannya. Dan penting juga untuk menunjukkan keheranan ini di hadapan orang lain, berbicara dengan rendah hati tentang karunia Allah, tentang kebaikan yang diterima, dan bukan hanya tentang permasalahan sehari-hari. Menjadi lebih positif. Kita dapat bertanya pada diri kita sendiri : Tahukah aku bagaimana caranya merasa heran akan karya Allah? Apakah suatu saat aku dipenuhi rasa ingin tahu dan membagikannya kepada seseorang? Atau apakah aku selalu berfokus pada hal-hal buruk, hal-hal yang menyedihkan?

 

Dan sekarang sikap kedua : kesetiaan dalam hal-hal sederhana. Sebelum Kabar Sukacita, Injil tidak mengatakan apa pun tentang Maria. Ia ditampilkan sebagai seorang gadis sederhana, yang tampaknya setara dengan banyak orang lain yang tinggal di desanya. Seorang gadis muda yang, justru karena kesederhanaannya, menjaga kemurnian hati tak bernoda yang dengannya, berkat karunia Allah, ia dikandung. Dan ini juga penting, karena untuk menyambut karunia Allah yang luar biasa, kita perlu mengetahui cara menghargai karunia yang lebih sering kita jumpai dan yang kurang terlihat.

Justru dengan kesetiaan dalam kebaikan setiap hari, Bunda Maria memperkenankan karunia Allah bertumbuh dalam dirinya. Inilah cara ia melatih dirinya untuk menanggapi Tuhan, mengatakan “ya” kepada-Nya sepanjang hidupnya.


Maka, marilh kita bertanya pada diri kita : Apakah aku percaya bahwa kesetiaan kepada Allah itu penting baik dalam situasi sehari-hari maupun dalam perjalanan rohaniku? Dan jika aku memercayai hal ini, apakah aku mempunyai waktu untuk membaca Injil, berdoa, ikut serta dalam Ekaristi dan menerima pengampunan sakramental, melakukan tindakan nyata dalam pelayanan tanpa pamrih? Ini adalah pilihan-pilihan kecil sehari-hari, pilihan-pilihan yang diperlukan untuk menyambut kehadiran Tuhan.

 

Semoga Maria yang dikandung tanpa noda membantu kita keheranan akan karunia Allah dan menanggapinya dengan kemurahan hati yang penuh kesetiaan setiap hari.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Dengan hangat saya menyapa umat Roma serta para peziarah dari Italia dan berbagai negara, khususnya umat Novoli dan para calon penerima sakramen krisma dari Cingoli.

 

Pada Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda ini, keanggotaan Aksi Katolik diperbarui di paroki-paroki Italia. Saya mendorong semua anggota, dari yang termuda sampai yang tertua, untuk menjadi batu hidup dalam Gereja dan ragi yang baik dalam masyarakat. Semoga berjalan lancar!


Dengan segenap hati saya memberkati umat Rocca di Papa dan obor yang akan mereka gunakan untuk menyalakan bintang besar benteng kota mereka yang indah untuk menghormati Maria yang dikandung tanpa noda.

Saya menyampaikan salam saya bagi umat Keuskupan Québec, Kanada, yang hari ini merayakan pesta pelindung mereka, Maria yang dikandung tanpa noda, dan mencanangkan Yubileum peringatan 350 tahun Keuskupan tersebut. Québec adalah keuskupan pertama yang didirikan di Kanada. Semoga kamu menjalani tahun Yubileum dengan baik dan semoga Perawan Maria menyertai kamu semua!

 

Dan sekarang saya dengan sukacita mengumumkan bahwa pada tanggal 25 dan 26 Mei tahun depan, kita akan merayakan Hari Anak Sedunia yang pertama di Roma. Prakarsa ini, yang diselenggarakan oleh Dikasteri Kebudayaan dan Pendidikan, menjawab pertanyaan : Dunia macam apa yang ingin kita wariskan kepada anak-anak yang sedang bertumbuh? Seperti Yesus, kita ingin menempatkan anak-anak sebagai pusat dan peduli terhadap mereka.

 

Sore ini, saya akan pergi dulu ke Santa Maria Maggiore dan kemudian ke Piazza di Spagna untuk berdoa kepada Bunda Maria. Saya memohon kepada semuanya, terutama umat Roma, untuk bersatu secara rohani dengan saya dalam tindakan mempercayakan kepada Bunda kita ini, berdoa khususnya untuk perdamaian, perdamaian di Ukraina, perdamaian di Palestina dan Israel, dan di setiap negeri yang terluka oleh perang. Marilah kita memohon perdamaian, agar hati menjadi damai, agar ada perdamaian!

 

Dan saya mengucapkan Selamat Hari Raya kepada kamu semua dan menjalani Masa Adven yang penuh berkat di bawah tuntunan Perawan Maria. Secara khusus, saya menyapa kaum muda Imakulata, hari ini adalah harimu! Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Desember 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI CASA SANTA MARTA (VATIKAN) 3 Desember 2023 : PERHATIKANLAH SESAMAMU PADA MASA ADVEN INI

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini juga saya tidak akan bisa membacakan semuanya : saya sudah lebih baik, tetapi suara saya masih belum bagus. Monsinyur Braida akan membacakan katekese.

 

Hari ini, Hari Minggu Adven I, dalam Bacaan Injil singkat yang ditawarkan liturgi kepada kita (bdk. Mrk 13:33-37), Yesus menyampaikan nasihat yang sederhana dan langsung kepada kita, sebanyak tiga kali : “Berjaga-jagalah” (ayat 33, 35, 37).

 

Jadi, temanya adalah kewaspadaan. Bagaimana kita harus memahaminya? Kadang-kadang kita menganggap keutamaan ini sebagai sikap yang dimotivasi oleh ketakutan akan malapetaka yang akan datang, seolah-olah sebuah meteor akan jatuh dari langit dan mengancam, jika kita tidak menghindarinya pada waktunya, akan membuat kita kewalahan. Namun kewaspadaan Kristiani bukan semua itu!

 

Yesus menjelaskannya dengan sebuah perumpamaan, berbicara tentang seorang majikan yang akan pulang, dan tentang hamba-hambanya yang menantikannya (bdk. ayat 34). Hamba dalam Kitab Suci adalah “orang yang dipercaya” oleh sang majikan, yang sering kali menjalin hubungan kerjasama dan kasih sayang. Bayangkan saja, misalnya, Musa didefinisikan sebagai hamba Allah (bdk. Bil 12:7), dan bahkan Maria berkata tentang dirinya sendiri, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan” (Luk 1:38). Jadi, kewaspadaan para hamba bukanlah rasa takut, melainkan kerinduan, penantian untuk berangkat menemui majikan mereka yang akan datang. Mereka tetap bersiap untuk kepulangannya karena mereka peduli terhadapnya, karena mereka berpikir bahwa ketika ia pulang, mereka akan membuat dia menemukan rumah yang ramah dan tertata rapi; mereka senang melihatnya, sampai-sampai mereka menantikan kepulangannya sebagai pesta bagi seluruh keluarga besar di mana mereka menjadi bagiannya.

 

Dengan pengharapan yang penuh kasih sayang inilah kita juga ingin mempersiapkan diri menyambut Yesus : pada hari Natal yang akan kita rayakan beberapa pekan lagi; di akhir zaman, ketika Ia akan datang dalam kemuliaan-Nya; setiap hari, ketika Ia datang menemui kita dalam Ekaristi, dalam Sabda-Nya, dalam diri saudara-saudari kita, khususnya orang-orang yang paling membutuhkan.

 

Maka secara khusus pada pekan-pekan ini marilah kita persiapkan rumah hati dengan penuh kepedulian, agar tertata rapi dan ramah tamah. Justru, berjaga-jaga berarti menjaga hati tetap siap. Begitulah sikap penjaga, yang di malam hari tidak tergiur rasa letih, tidak tertidur, namun tetap terjaga menanti datangnya terang. Tuhan adalah terang kita dan alangkah baiknya jika kita mencondongkan hati untuk menyambut-Nya dengan doa dan menjamu-Nya dengan kasih, dua persiapan yang bisa dikatakan membuat-Nya nyaman. Berkaitan dengan hal ini, ada cerita bahwa Santo Martinus dari Tours, seorang pendoa, setelah memberikan separuh jubahnya kepada seorang miskin, bermimpi tentang Yesus yang mengenakan separuh jubah yang telah ia berikan itu. Inilah program yang baik untuk Masa Adven : berjumpa Yesus yang datang dalam diri setiap saudara-saudari yang membutuhkan kita dan berbagi dengan mereka apa yang kita bisa bagikan : mendengarkan, waktu, bantuan nyata.

 

Para sahabat terkasih, ada baiknya hari ini kita bertanya pada diri kita bagaimana kita dapat mempersiapkan hati yang menyambut Tuhan. Kita dapat melakukannya dengan mendekati pengampunan-Nya, Sabda-Nya, Meja-Nya, mencari ruang untuk berdoa, menyambut orang-orang yang membutuhkan. Marilah kita memupuk pengharapan-Nya tanpa memperkenankan diri kita teralihkan oleh banyak hal yang sia-sia, dan tanpa mengeluh terus-menerus, namun menjaga hati tetap waspada, yaitu rindu kepada-Nya, berjaga dan siap, tidak sabar untuk bertemu dengan-Nya.

 

Semoga Perawan Maria, perempuan penantian, membantu kita menerima kedatangan Putranya.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Situasi Israel dan Palestina genting. Sungguh menyedihkan bagi kita karena gencatan senjata telah dilanggar : ini berarti kematian, kehancuran, kesengsaraan. Banyak sandera telah dibebaskan, namun banyak yang masih berada di Gaza. Marilah kita memikirkan mereka, keluarga mereka yang telah melihat terang, harapan untuk kembali merangkul orang yang mereka cintai. Di Gaza terdapat banyak penderitaan; ada kekurangan kebutuhan pokokr. Saya berharap semua pihak yang terlibat dapat mencapai kesepakatan gencatan senjata baru sesegera mungkin dan menemukan penyelesaian selain senjata, serta mencoba mengambil jalan berani menuju perdamaian.

Saya ingin mendoakan para korban penyerangan yang terjadi pagi ini di Filipina, di mana sebuah bom meledak saat Misa. Saya dekat dengan keluarga dan masyarakat Mindanao, yang telah sangat menderita.


Meski dari kejauhan, saya mengikuti jalannya COP 28 (Conference of States Parties to the United Nations Framework Convention on Climate Change) di Dubai dengan penuh perhatian. Saya dekat. Saya mengulangi seruan saya untuk menanggapi perubahan iklim dengan perubahan politik yang nyata; marilah kita keluar dari seluk-beluk partikularisme dan nasionalisme, pola pikir masa lalu, dan merangkul visi bersama, semua melakukan segala upaya sekarang, tanpa penundaan, demi perubahan global yang diperlukan.

 

Hari ini adalah Hari Penyandang Disabilitas Sedunia. Menyambut dan mengikutsertakan mereka yang mengalami kondisi ini membantu masyarakat secara keseluruhan menjadi semakin manusiawi. Dalam keluarga, dalam paroki, di sekolah, di tempat kerja, dalam olah raga : marilah kita belajar menghargai setiap orang dengan mutu dan kemampuan mereka, tidak mengecualikan siapa pun.

 

Saya menyapa kamu semua dengan penuh kasih sayang, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan belahan dunia lainnya, khususnya masyarakat Polandia yang ambil bagian dalam acara yang diselenggarakan di Roma untuk menghormati keluarga martir Ulma, yang baru-baru ini dibeatifikasi.

 

Saya menyapa seluruh peziarah dan kelompok paroki dari Florence, Siena, Brindisi, Cosenza dan Adrano.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu dan menjalani Masa Adven. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Desember 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI CASA SANTA MARTA (VATIKAN) 26 November 2023 : ORANG YANG DIBERKATI

Saudara-saudari terkasih, hari Minggu yang terberkati!

 

Hari ini saya tidak dapat muncul di jendela karena saya mempunyai masalah radang paru-paru, dan Monsinyur Braida akan membacakan permenungan. Ia mengenalnya dengan baik karena dialah yang menulisnya, dan ia selalu melakukannya dengan sangat baik! Terima kasih banyak atas kehadiranmu.

 

Hari ini, hari Minggu terakhir tahun liturgi dan Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Alam Semesta, Bacaan Injil berbicara kepada kita tentang penghakiman terakhir (Mat 25:31-46) dan memberitahu kita penghakiman akan didasarkan pada kasih.

 

Pemandangan yang dihadirkan kepada kita adalah sebuah ruangan nan megah, di mana Yesus, “Anak Manusia” (ayat 31) bersemayam di atas takhta. Semua bangsa dikumpulkan di hadapan-Nya dan yang paling menonjol di antara mereka adalah “yang diberkati” (ayat 34), sahabat-sahabat Sang Raja. Tetapi siapa mereka? Apa keistimewaan sahabat-sahabat ini di mata Tuhan mereka? Menurut kriteria dunia, sahabat-sahabat raja haruslah mereka yang memberinya kekayaan dan kekuasaan, yang membantunya menaklukkan wilayah, memenangkan pertempuran, menjadikan dirinya hebat di antara penguasa lainnya, mungkin tampil sebagai bintang di dunia. halaman depan surat kabar atau media sosial, dan kepada mereka ia harus mengucapkan: “Terima kasih, karena engkau telah membuatku kaya dan terkenal, membuat aku iri dan gentar”. Ini sesuai dengan kriteria dunia.

 

Tetapi menurut kriteria Yesus, sahabat adalah bukan mereka: sahabat adalah orang yang telah melayani orang-orang yang paling lemah. Hal ini karena Anak Manusia adalah Raja yang sama sekali berbeda, yang menyebut orang miskin sebagai “saudara”, yang mengidentifikasikan diri dengan orang yang lapar, haus, orang asing, orang sakit, orang dalam penjara, dan berkata, “Segala sesuatu yang telah kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (ayat 40). Dia adalah Raja yang peka terhadap masalah kelaparan, kebutuhan akan tumpangan, penyakit dan pemenjaraan (bdk. ayat 35-36): semua kenyataan yang sayangnya terlalu aktual. Mereka yang kelaparan, tunawisma, sering kali berpakaian semampu mereka, memadati jalan-jalan kita: kita bertemu mereka setiap hari. Dan juga sehubungan dengan kelemahan dan pemenjaraan, kita semua tahu apa artinya sakit, melakukan kesalahan dan menanggung akibatnya.

 

Nah, Bacaan Injil hari ini memberitahu kita bahwa yang “diberkati” adalah mereka yang menanggapi bentuk-bentuk kemiskinan ini dengan kasih, dengan pelayanan: bukan dengan berpaling, tetapi dengan memberi makanan dan minuman, pakaian, tumpangan, berkunjung; singkatnya, dengan mendekati mereka yang membutuhkan. Dan ini adalah karena Yesus, Raja kita yang menyebut diri-Nya Anak Manusia, menemukan saudara-saudari kesayangan-Nya dalam diri pria dan wanita yang paling rapuh. “Pengadilan kerajaan”-Nya diadakan di mana ada orang-orang yang menderita dan membutuhkan bantuan. Ini adalah “pengadilan” Raja kita. Dan gaya yang digunakan oleh sahabat-sahabat-Nya, yaitu mereka yang memiliki Yesus sebagai Tuhan, untuk membedakan diri mereka adalah gaya-Nya : kasih sayang, belas kasihan, kelembutan. Mereka memuliakan hati dan turun seperti minyak ke atas luka orang-orang yang terluka oleh kehidupan.

 

Jadi, saudara-saudari, marilah kita bertanya pada diri kita : apakah kita percaya martabat raja yang sejati berupa belas kasihan? Apakah kita percaya pada kekuatan kasih? Apakah kita percaya amal kasih adalah perwujudan manusia yang paling rajawi, dan merupakan persyaratan yang sangat diperlukan bagi umat Kristiani? Dan yang terakhir, sebuah pertanyaan khusus: apakah aku adalah sahabat Raja, yaitu apakah aku secara pribadi merasa terlibat dalam kebutuhan orang-orang menderita yang kutemui di perjalananku?

Semoga Maria, Ratu Surga dan Bumi, membantu kita untuk mengasihi Yesus Raja kita di antara saudara-saudara-Nya yang paling hina.


[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini di Gereja-Gereja partikular kita merayakan Hari Orang Muda Sedunia ke-38, dengan tema "Bersukacita dalam Pengharapan". Saya memberkati mereka yang ambil bagian dalam prakarsa yang diselenggarakan di keuskupan-keuskupan, yang merupakan kelanjutan dari Hari Orang Muda Sedunia di Lisbon. Saya merangkul kaum muda, masa kini dan masa depan dunia, serta saya mendorong mereka untuk menjadi pelaku utama yang penuh sukacita dalam kehidupan Gereja.

 

Kemarin Ukraina yang tersiksa memperingati Holodomor, genosida yang dilakukan oleh rezim Soviet yang, 90 tahun lalu, menyebabkan jutaan orang mati kelaparan. Luka yang terkoyak itu, bukannya sembuh, malah menjadi semakin pedih dengan kekejaman perang yang terus menerus membuat bangsa tercinta ini menderita. Bagi semua orang yang terkoyak oleh pertikaian, marilah kita terus berdoa tanpa kenal lelah, karena doa adalah kekuatan perdamaian yang menghentikan jalinan kebencian, yang memutus siklus balas dendam dan membuka jalan rekonsiliasi yang tidak terduga. Hari ini marilah kita bersyukur kepada Allah karena pada akhirnya ada gencatan senjata antara Israel dan Palestina, serta beberapa sandera telah dibebaskan. Marilah kita berdoa agar mereka semua dibebaskan sesegera mungkin – pikirkanlah keluarga mereka! -, agar semakin banyak bantuan kemanusiaan dapat masuk ke Gaza, dan dialog harus dilakukan: dialog adalah satu-satunya cara, satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian. Orang-orang yang tidak menginginkan dialog tidak menginginkan perdamaian.

Selain perang, dunia kita juga terancam oleh bahaya besar lainnya, yaitu bahaya iklim, yang membahayakan kehidupan di bumi, khususnya generasi mendatang. Dan ini bertentangan dengan rencana Allah yang menciptakan segala sesuatu untuk kehidupan. Oleh karena itu, akhir pekan depan, saya akan berangkat ke Uni Emirat Arab untuk berbicara di COP 28 di Dubai pada hari Sabtu.. Saya berterima kasih kepada semua orang yang menemani perjalanan ini dengan doa dan komitmen untuk menjaga kelestarian rumah bersama.

Saya menyapamu dengan penuh kasih sayang, para peziarah dari Italia dan belahan dunia lain, khususnya dari Pakistan, Polandia dan Portugal. Saya menyapa umat Civitavecchia, Tarquinia dan Piacenza, serta Deputazione San Vito Martire Lequile, Lecce. Saya menyapa calon penerima sakramen krisma dari Viserba, Rimini; Grup “Assisi nel vento”, dan Paduan Suara “Don Giorgio Trotta” dari Vieste.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat meniikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 27 November 2023)