Liturgical Calendar

Showing posts with label Wejangan Angelus 2024. Show all posts
Showing posts with label Wejangan Angelus 2024. Show all posts

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 29 Desember 2024 : PENTINGNYA SALING MENDENGARKAN DALAM KELUARGA

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Hari ini kita merayakan Keluarga Kudus dari Nazaret. Bacaan Injil menceritakan ketika Yesus, pada usia dua belas tahun, di akhir ziarah tahunan ke Yerusalem, hilang dari Maria dan Yusuf, yang kemudian menemukan-Nya di Bait Allah sedang berbicara dengan para guru (lih. Luk 2:41-52). Penginjil Lukas menyingkapkan keadaan pikiran Maria yang bertanya kepada Yesus, “Nak, mengapa Engkau berbuat demikian terhadap kami? bapak-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau” (ayat 48). Dan Yesus menjawab, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di rumah Bapa-Ku?” (ayat 49).

 

Pengalaman yang bergonti-ganti antara saat tenang dan dramatis tersebut hampir biasa terjadi dalam sebuah keluarga. Kisah tentang krisis keluarga, krisis zaman kita, seorang remaja yang sukar dan kedua orang tua yang tidak dapat memahaminya tampak. Marilah kita berhenti sejenak untuk melihat keluarga ini. Tahukah kamu mengapa Keluarga Nazareth menjadi teladan? Karena keluarga ini adalah keluarga yang berbincang, mendengarkan, berbicara. Dialog adalah unsur penting bagi sebuah keluarga! Keluarga yang tidak berkomunikasi tidak bisa menjadi keluarga yang bahagia.

 

Ada baiknya seorang ibu tidak memulai dengan teguran, tetapi dengan pertanyaan. Maria tidak menuduh dan tidak menghakimi, tetapi mencoba memahami bagaimana menerima Putra yang sangat berbeda ini dengan mendengarkan. Meskipun ada upaya ini, Bacaan Injil mengatakan bahwa Maria dan Yusuf "tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka" (ayat 50), yang menunjukkan bahwa dalam keluarga mendengarkan lebih penting daripada memahami. Mendengarkan berarti memberi perhatian kepada orang lain, mengakui haknya untuk hidup dan berpikir secara mandiri. Anak-anak membutuhkan ini. Pikirkan baik-baik, para orang tua: dengarkanlah anak-anakmu, yang membutuhkan ini!

 

Waktu makan adalah momen istimewa untuk berdialog dalam keluarga. Ada baiknya berdiam bersama di sekitar meja makan dan berbicara. Ini dapat memecahkan banyak masalah, dan terutama menyatukan generasi: anak-anak yang berbicara dengan kedua orang tua mereka, cucu-cucu yang berbicara dengan kakek-nenek mereka... Jangan pernah menutup diri atau, lebih buruk lagi, dengan kepala menoleh ke gawaimu. Hal ini jangan pernah terjadi, jangan pernah, jangan pernah. Berbicaralah, dengarkanlah satu sama lain, ini adalah dialog yang baik untukmu dan yang membuatmu tumbuh!

 

Keluarga Yesus, Maria, dan Yusuf kudus. Namun, kita telah melihat bahwa bahkan kedua orang tua Yesus tidak selalu memahami-Nya. Kita dapat merenungkan hal ini, dan janganlah kita heran jika kadang-kadang terjadi kita tidak saling memahami. Ketika hal itu terjadi, marilah kita bertanya kepada diri kita: apakah kita telah saling mendengarkan? Apakah kita menghadapi masalah dengan saling mendengarkan atau apakah kita menutup diri dalam keheningan, kadang-kadang dalam kebencian dan kesombongan? Apakah kita meluangkan sedikit waktu untuk berbincang? Apa yang dapat kita pelajari dari Keluarga Kudus hari ini adalah saling mendengarkan.

 

Marilah kita mempercayakan diri kita kepada Perawan Maria dan memohonkan karunia mendengarkan bagi keluarga kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Dengan hangat saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah. Hari ini secara khusus saya menyapa keluarga-keluarga yang hadir di sini, dan mereka yang terhubung dari rumah melalui media. Keluarga adalah sel masyarakat, keluarga adalah harta yang sangat berharga yang harus didukung dan dilindungi!

 

Pikiran saya tertuju kepada banyak keluarga di Korea Selatan yang hari ini sedang berduka setelah kecelakaan udara yang dramatis. Saya ikut mendoakan para korban yang selamat dan mereka yang telah tiada.

 

Dan marilah kita juga mendoakan keluarga-keluarga yang sedang menderita karena perang: di Ukraina, Palestina, Israel, Myanmar, Sudan, Kivu Utara yang tersiksa: marilah kita mendoakan semua keluarga yang terjebak dalam perang.

 

Saya menyapa umat Pero-Cerchiate, kelompok Dekenat Varese, kaum muda Cadoneghe dan San Pietro di Cariano; calon penerima Sakramen Krisma dari Clusone, Chiudono, Adrara San Martino dan Almenno San Bartolomeo; dan Pramuka dari Latina, Vasto dan Soviore. Dan saya menyapa kaum muda Immacolata!

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu dan akhir tahun yang teduh. Jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 29 Desember 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 26 Desember 2024 : ALLAH SELALU MENGAMPUNI SEGALANYA

Saudara-saudari terkasih, selamat pesta! Selamat pesta bagi semuanya.

 

Hari ini, tepat setelah Natal, liturgi merayakan Santo Stefanus, martir pertama. Kisah tentang pelemparan batu terhadapnya ditemukan dalam Kisah Para Rasul (lih. 6:8-12; 7:54-60) dan menyajikannya kepada kita saat, menjelang ajalnya, ia mendoakan para pembunuhnya. Dan hal ini membuat kita berpikir sejenak: faktanya, meskipun pada pandangan pertama Stefanus tampaknya menderita kekerasan tanpa daya, pada kenyataannya, sebagai orang yang benar-benar bebas, ia terus mengasihi bahkan para pembunuhnya dan mempersembahkan nyawanya bagi mereka, seperti Yesus (lih. Yoh 10:17-18; Luk 23:34); ia mempersembahkan nyawanya agar mereka sudi bertobat dan, setelah diampuni, diberikan hidup kekal.

 

Dengan cara ini, diakon Stefanus tampak bagi kita sebagai saksi Allah yang memiliki satu keinginan besar: supaya “semua orang diselamatkan” (1 Tim 2:4) – ini adalah keinginan hati Allah – supaya tidak seorang pun hilang (lih. Yoh 6:39; 17:1-26). Stefanus adalah saksi Bapa – Bapa kita – yang menginginkan yang baik dan hanya yang baik bagi setiap anak-anak-Nya, dan selalu; Bapa yang tidak mengecualikan siapa pun, Bapa yang tidak pernah lelah mencari mereka (lih. Luk 15:3-7) dan menyambut mereka kembali ketika, setelah tersesat, mereka kembali kepada-Nya dalam pertobatan (lih. Luk 15:11-32) dan Bapa yang tidak lelah mengampuni. Ingatlah ini: Allah selalu mengampuni, dan Allah mengampuni segalanya.

 

Marilah kita kembali kepada Stefanus. Sayangnya, bahkan saat ini, di pelbagai belahan dunia, ada banyak manusia yang dianiaya, terkadang sampai mati, demi Injil. Apa yang telah kita katakan tentang Stefanus berlaku juga bagi mereka. Mereka tidak membiarkan diri mereka dibunuh oleh kelemahan, atau untuk membela ideologi, tetapi untuk membuat setiap orang ikut serta dalam karunia keselamatan. Dan mereka melakukannya pertama-tama dan terutama demi kebaikan para pembunuh mereka: bagi para pembunuh … dan mereka mendoakan para pembunuh mereka.

 

Sebuah teladan indah berkaitan hal ini diberikan kepada kita oleh Beato Christian de Chergé, yang menyebut pembunuhnya kelak sebagai “sahabat di menit terakhir”.

 

Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: apakah aku merasakan keinginan agar semua orang mengenal Allah dan diselamatkan? Apakah aku juga menginginkan kebaikan bagi mereka yang membuatku menderita? Apakah aku menaruh perhatian dan mendoakan banyak saudara-saudari yang dianiaya karena iman mereka?

 

Semoga Maria, Ratu Para Martir, membantu kita berani menjadi saksi Injil demi keselamatan dunia.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kepada kamu semua saya kembali mengucapkan selamat Natal yang kudus. Selama hari-hari ini saya telah menerima banyak pesan dan tanda kedekatan. Terima kasih. Saya ingin mengucapkan terima kasih dari lubuk hati saya kepada kami semua: setiap orang, setiap keluarga, paroki, dan lembaga. Terima kasih semuanya!

 

Kemarin petang Hari Raya Cahaya, Hanukkah, yang dirayakan selama delapan hari oleh saudara-saudari Yahudi kita di seluruh dunia dimulainya. Kepada mereka saya menyampaikan harapan saya akan perdamaian dan persaudaraan.

 

Dan saya menyapa kamu semua, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan berbagai negara. Saya kira banyak dari kamu telah melakukan perjalanan ziarah menuju Pintu Suci Basilika Santo Petrus. Perjalanan tersebut adalah tanda yang baik, tanda yang mengungkapkan makna hidup kita: menuju Yesus, yang mengasihi kita dan membuka hati-Nya untuk memerkenankan kita masuk ke dalam Kerajaan-Nya yang penuh kasih, sukacita, dan kedamaian. Pagi ini, saya membuka Pintu Suci, setelah Pintu Suci Basilika Santo Petrus, di Lembaga Pemasyarakatan Rebibbia, Roma. Lembaga Pemasyarakatan Rebibbia, bisa dikatakan, adalah "katedral kesedihan dan pengharapan".

 

Salah satu tindakan yang menjadi ciri khas Yubileum adalah penghapusan utang. Oleh karena itu, saya mengajak semua orang untuk mendukung kampanye Caritas Internationalis yang berjudul “Mengubah utang menjadi pengharapan”, meringankan beban negara-negara yang tertindas oleh utang yang tidak berkelanjutan dan mendorong pembangunan.

 

Masalah utang terkait dengan masalah perdamaian dan "pasar gelap" senjata. Jangan lagi menjajah bangsa-bangsa dengan senjata! Marilah kita berjuang untuk pelucutan senjata, marilah kita berjuang menentang kelaparan, wabah penyakit, pekerja anak. Dan marilah kita mendoakan, memohonkan, perdamaian di seluruh dunia! Perdamaian di Ukraina yang tersiksa, di Gaza, Israel, Myanmar, Kivu Utara, dan di banyak negara yang sedang berperang.

 

Saya mengucapkan selamat merayakan hari yang indah kepada semuanya. Jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 26 Desember 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 22 Desember 2024 : MARILAH BERSYUKUR KEPADA ALLAH ATAS MUKJIZAT KEHIDUPAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Saya minta maaf karena tidak bisa bersamamu di Lapangan Santo Petrus, tetapi kondisi saya semakin membaik dan tindakan pencegahan harus diambil.

 

Bacaan Injil hari ini menghadirkan kepada kita Maria yang, setelah mendengar kabar gembira Malaikat, mengunjungi Elisabet, kerabatnya yang sudah tua (bdk. Luk 1:39-45), yang juga sedang mengandung. Jadi, pertemuan mereka adalah pertemuan dua perempuan yang sedang bersukacita atas karunia keibuan yang luar biasa: Maria baru saja mengandung Yesus, sang Juruselamat dunia (bdk. Luk 1:31-35), dan Elisabet, meskipun usianya sudah lanjut, sedang mengandung Yohanes, yang akan mempersiapkan jalan bagi Mesias (bdk. Luk 1:13-17), Yohanes Pembaptis.

 

Keduanya memiliki banyak hal untuk disyukuri, dan mungkin kita merasa mereka jauh, para tokoh utama mukjizat besar tersebut umumnya tidak kita alami. Pesan yang ingin disampaikan Penginjil kepada kita, beberapa hari sebelum Natal, adalah ini, pesannya berbeda. Memang, merenungkan tanda-tanda ajaib tindakan penyelamatan Allah tidak boleh membuat kita merasa jauh dari-Nya, tetapi justru membantu kita untuk mengenali kehadiran dan kasih-Nya yang dekat denganmu, misalnya dalam karunia setiap kehidupan, karunia setiap anak, karunia ibu mereka. Karunia kehidupan. Saya membaca, di acara "A Tua Immagine", sebuah hal indah yang tertulis: tidak ada anak adalah sebuah kesalahan! Karunia kehidupan.

 

Di Lapangan Santo Petrus, bahkan hari ini, akan ada ibu-ibu dengan anak-anak mereka, dan mungkin mereka adalah beberapa yang sedang hamil. Tolong, janganlah kita bersikap acuh tak acuh terhadap kehadiran mereka: marilah kita belajar untuk mengagumi kecantikan mereka, seperti yang dilakukan Elisabet dan Maria, kecantikan para ibu hamil. Marilah kita bersyukur atas para ibu dan memuji Allah atas mukjizat kehidupan! Saya suka – saya dulu suka, karena sekarang saya tidak bisa melakukannya – ketika saya biasa naik bus, di keuskupan lain, ketika seorang ibu hamil naik bus, saya akan segera menawarkan tempat duduk kepadanya: menawarkan tempat duduk adalah sikap pengharapan dan rasa hormat!

 

Saudara-saudari, pada hari-hari ini kita suka menciptakan suasana yang meriah dengan lampu, hiasan, dan musik Natal. Namun, marilah kita ingat untuk mengungkapkan perasaan gembira setiap kali kita menjumpai seorang ibu yang sedang menggendong atau mengandung seorang anak. Dan ketika hal itu terjadi pada kita, marilah kita berdoa dalam hati kita dan marilah kita juga berkata, seperti Elisabet, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu!” (Luk 1:42); marilah kita bernyanyi, seperti Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan” (Luk 1:46), agar peran masing-masing ibu dapat diberkati, dan dalam diri setiap ibu di dunia, semoga nama Allah disyukuri dan ditinggikan, yang mempercayakan kepada manusia kuasa untuk memberikan kehidupan kepada anak-anak!

 

Kita akan segera memberkati "Bambinelli" (patung bayi Yesus) yang kamu bawa. Saya membawa milik saya: Bambinelli ini diberikan kepada saya oleh Uskup Agung Santa Fé; dibuat oleh penduduk asli Ekuador... Bambinelli telah kamu bawa. Kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri, apakah aku bersyukur kepada Tuhan karena Ia menjadikan diri-Nya manusia seperti kita, untuk ambil bagian dalam seluruh keberadaan kita, kecuali dosa? Apakah aku memuji Tuhan dan bersyukur kepada-Nya atas setiap anak yang lahir? Ketika aku berjumpa seorang ibu hamil, apakah aku baik kepadanya? Apakah aku mendukung dan membela nilai sakral kehidupan anak-anak sejak mereka dikandung dalam rahim ibu?

 

Semoga Maria, yang terberkati di antara semua perempuan, membuat kita mampu mengalami rasa takjub dan syukur di hadapan misteri kehidupan yang baru lahir.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya mengikuti berita dari Mozambik dengan penuh perhatian dan keprihatinan, dan saya ingin menyampaikan kembali pesan pengharapan, perdamaian, dan rekonsiliasi kepada rakyat terkasih tersebut. Saya berdoa agar dialog dan pengupayaan kebaikan bersama, yang didukung oleh iman dan niat baik, dapat menang atas ketidakpercayaan dan perselisihan.

 

Ukraina yang tersiksa terus dilanda serangan terhadap kota tersebut, yang terkadang merusak sekolah, rumah sakit, dan gereja. Semoga senjata dibungkam dan lagu-lagu Natal bergema! Marilah kita berdoa untuk gencatan senjata di semua medan perang, di Ukraina, Tanah Suci, di seluruh Timur Tengah, dan seluruh dunia, pada hari Natal. Dan sedih saya memikirkan Gaza, begitu banyak kekejaman; anak-anak yang ditembak dengan senapan mesin, pemboman sekolah dan rumah sakit... Begitu banyak kekejaman!

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah, dengan kasih sayang. Saya menyapa delegasi warga negara Italia yang tinggal di wilayah yang telah lama menunggu reklamasi demi melindungi kesehatan mereka. Saya mengungkapkan kedekatan saya dengan penduduk ini, terutama kepada mereka yang menderita tragedi baru-baru ini di Calenzano.

 

Pagi ini, saya merasa gembira bisa bersama anak-anak, bersama ibu mereka, yang menghadiri Apotik Santa Marta Vatikan, yang dikelola oleh Suster-suster Vinsensian. Mereka adalah biarawati yang baik! Di antara mereka ada seorang biarawati yang bagaikan nenek bagi semua orang, Suster Antoinette yang baik, yang saya kenang dengan penuh kasih. Dan anak-anak ini – jumlahnya banyak! – memenuhi hati saya dengan sukacita. Saya ulangi: “Tidak ada anak adalah sebuah kesalahan”.

 

Dan sekarang saya akan memberkati "Bambinelli": Saya telah membawa Bambinelli saya. Patung-patung bayi Yesus yang kamu, anak-anak dan orang muda terkasih, bawa ke sini dan yang kemudian, setelah kembali ke rumah, akan kamu taruh di dalam Kandang Natal. Saya berterima kasih atas perbuatan sederhana namun penting ini. Dengan segenap hati saya memberkati kamu semua, orang tuamu, kakek nenekmu, keluargamu! Dan tolong, jangan lupakan kakek nenekmu! Semoga tidak ada seorang pun tinggal sendirian selama hari-hari ini.

 

Dan saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Semoga Tuhan memberkatimu. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 23 Desember 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 8 Desember 2024 : MANUSIAWI DAN ILAHI BERJUMPA SATU SAMA LAIN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat hari raya!

 

Hari ini, pada Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, Bacaan Injil menceritakan kepada kita tentang salah satu momen terpenting dan terindah dalam sejarah umat manusia: Kabar Sukacita (lih. Luk 1:26-38), ketika jawaban "ya" Maria kepada Malaikat Agung Gabriel memperkenankan penjelmaan Yesus, Putra Allah. Sebuah adegan yang mengilhami keheranan dan emosi terbesar karena Allah, Yang Mahatinggi, Yang Mahakuasa, melalui Malaikat berbicara dengan seorang gadis belia dari Nazaret, meminta kerjasamanya untuk rencana keselamatan-Nya. Jika hari ini kamu memiliki sedikit waktu, lihatlah Injil Santo Lukas dan bacalah adegan ini. Saya yakin itu akan bermanfaat bagimu, sangat bermanfaat!

 

Seperti dalam adegan penciptaan Adam, yang dilukis oleh Michelangelo di Kapel Sistina, di mana jari Bapa surgawi menyentuh jari manusia; demikian pula di sini manusiawi dan ilahi berjumpa satu sama lain, pada awal Penebusan kita, keduanya bertemu dengan kelembutan yang luar biasa, pada saat yang terberkati ketika Perawan Maria mengucapkan "ya"-nya. Ia adalah seorang perempuan di sebuah desa kecil di pinggiran dan dipanggil selamanya ke pusat sejarah: pada jawabannya bergantung nasib umat manusia, yang dapat tersenyum dan berharap lagi, karena takdirnya telah ditempatkan di tangan yang baik. Dialah yang akan melahirkan Juruselamat, yang dikandung oleh Roh Kudus.

 

Kemudian, Maria, sebagaimana Malaikat Agung Gabriel menyapanya, "penuh rahmat" (Luk 1:28), yang tak bernoda, yang sepenuhnya melayani Sabda Allah, selalu bersama Tuhan, yang kepada-Nya ia mempercayakan diri sepenuhnya. Dalam dirinya, tidak ada yang menentang kehendak-Nya, tidak ada yang menentang kebenaran dan kasih. Inilah keterberkatannya, yang akan dikidungkan oleh semua generasi. Marilah kita juga bersukacita karena Yang Tak Bernoda telah memberi kita Yesus, yang adalah keselamatan kita!

 

Saudara-saudari, dengan merenungkan misteri ini, kita dapat bertanya kepada diri kita: di zaman kita, yang dirusak oleh perang serta bertekad untuk menguasai dan mendominasi, di manakah aku menaruh harapanku? Pada kekuatan, pada uang, pada teman-teman yang berkuasa? Apakah aku menaruh harapanku di sana? Atau pada belas kasihan Allah yang tak terbatas? Dan dalam menghadapi model-model palsu yang mengilap yang beredar di media dan internet, di manakah aku mencari kebahagiaanku? Di manakah harta hatiku? Apakah dalam kenyataan bahwa Allah mengasihiku dengan murah hati, kasih-Nya selalu mendahuluiku, dan siap mengampuniku ketika aku kembali bertobat kepada-Nya? Dalam harapan bakti kepada kasih Allah itu? Atau apakah aku menipu diriku dengan mencoba menegaskan ego dan keinginanku dengan segala cara?

 

Saudara-saudari, saat pembukaan Pintu Suci Yubelium semakin dekat, marilah kita membuka pintu hati dan pikiran bagi Tuhan. Ia dilahirkan dari Maria yang Tak Bernoda: marilah kita mohon perantaraan Maria. Dan saya akan memberimu sedikit nasihat. Hari ini adalah hari yang baik memutuskan untuk melakukan Pengakuan Dosa yang baik. Jika kamu tidak dapat melakukannya hari ini, pekan ini, hingga hari Minggu depan, bukalah hatimu dan Tuhan akan mengampuni segalanya, segalanya, segalanya. Jadi, di tangan Maria, kita akan lebih bahagia.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Pada Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda ini, saya sangat dekat dengan rakyat Nikaragua. Saya mengundangmu untuk bergabung dalam doa bagi Gereja dan rakyat Nikaragua, yang merayakan Yang Maha Murni, sebagai Bunda dan Pelindung, dan menyampaikan seruan iman dan harapan kepadanya. Semoga Bunda surgawi menjadi penghibur bagi orang-orang yang berada dalam kesulitan dan ketidakpastian, serta membuka hati setiap orang, sehingga jalan dialog yang penuh rasa hormat dan membangun dapat diupayakan, untuk memajukan perdamaian, persaudaraan, dan kerukunan di negara ini.

 

Dan marilah kita terus berdoa untuk perdamaian, di Ukraina yang tersiksa, di Timur Tengah – Palestina, Israel, Lebanon, sekarang Suriah – di Myanmar, Sudan dan di mana pun orang-orang menderita karena perang dan kekerasan. Saya memohon kepada para pemerintah dan masyarakat internasional, agar kita dapat mencapai pesta Kelahiran dengan gencatan senjata di semua medan perang.

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah. Secara khusus, peziarahan Pembantu Hati Kudus dari Spanyol, kelompok “Oasi Mamma dell’Amore”, umat dari Amerika Serikat, dari Honduras dan Australia, serta umat dari Calderara di Reno, Corpolò dan Grado, dan para calon penerima Sakramen Krisma dari paroki San Pio da Pietrelcina Roma.

 

Hari ini, saya ingin meminta kamu semua untuk berdoa bagi para narapidana yang dijatuhi hukuman mati di Amerika Serikat. Saya yakin jumlahnya ada tiga belas atau lima belas orang. Marilah kita berdoa agar hukuman mereka diringankan, diubah. Marilah kita pikirkan saudara-saudari kita ini dan mohon kepada Tuhan agar mereka diselamatkan dari kematian.

 

Hari ini, di paroki-paroki Italia, keterikatan pada Aksi Katolik diperbarui. Saya berharap semua anggota menjalani perjalanan pertobatan, pelayanan, dan komitmen kerasulan yang baik. Saya dengan sepenuh hati memberkati umat Rocca di Papa dan obor yang akan mereka gunakan untuk menyalakan bintang besar di Benteng kota mereka yang indah untuk menghormati Maria yang Tak Bernoda. Dan saya dekat dengan para pekerja Siena, Fabriano, dan Ascoli Piceno yang membela hak untuk bekerja, yang merupakan hak untuk bermartabat, dalam kesetiakawanan! Semoga pekerjaan mereka tidak dirampas karena alasan ekonomi dan keuangan.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu dan selamat merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Kita akan bertemu sore ini di Piazza di Spagna. Dan jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Desember 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 Desember 2024: ANGKATLAH KEPALAMU DAN JAGALAH HATIMU JANGAN DIBEBANI

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini (Luk 21:25-28, 34-36), Hari Minggu Adven I, berbicara kepada kita tentang pergolakan kosmik serta kecemasan dan ketakutan dalam diri manusia. Dalam konteks ini, Yesus menyampaikan sebuah kata harapan kepada para pengikut-Nya: "Bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat" (ayat 28). Yang menjadi perhatian Sang Guru adalah supaya hati mereka jangan dibebani (lih. ayat 34) dan supaya mereka berjaga-jaga menantikan kedatangan Anak Manusia.

 

Undangan Yesus adalah ini: Angkatlah kepalamu dan jagalah hatimu jangan dibebani.

 

Sesungguhnya, banyak orang sezaman Yesus, yang dihadapkan dengan berbagai peristiwa dahsyat yang mereka lihat sedang terjadi di sekitar mereka – penganiayaan, pertikaian, bencana alam – dicengkeram oleh kecemasan dan berpikir bahwa akhir dunia akan segera tiba. Hati mereka dibebani oleh ketakutan. Namun, Yesus ingin membebaskan mereka dari berbagai kecemasan dan keyakinan palsu yang ada saat ini, menunjukkan kepada mereka cara untuk tetap berjaga-jaga di dalam hati mereka, cara membaca berbagai peristiwa berdasarkan rencana Allah, yang mengerjakan keselamatan bahkan dalam berbagai peristiwa paling dramatis dalam sejarah. Itulah sebabnya Ia menyarankan agar mereka mengalihkan pandangan mereka ke surga untuk memahami hal-hal di bumi: “Bangkitlah dan angkatlah kepalamu” (ayat 28). Indahnya … “Bangkitlah dan angkatlah kepalamu”.

 

Saudara-saudari, bagi kita juga anjuran Yesus ini penting: “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan dibebani” (ayat 34). Kita semua, dalam banyak momen kehidupan, bertanya pada diri kita: apa yang dapat kulakukan untuk memiliki hati yang riang, hati yang berjaga, hati yang bebas? Hati yang tidak membiarkan dirinya diremukkan oleh kesedihan? Dan kesedihan itu mengerikan, mengerikan. Sungguh, bisa saja terjadi kecemasan, ketakutan, dan kekhawatiran tentang kehidupan pribadi kita atau tentang apa yang sedang terjadi di dunia saat ini membebani kita seperti batu-batu besar dan melemparkan kita ke dalam keputusasaan. Jika kekhawatiran membebani hati kita dan mendorong kita untuk menutup diri, Yesus, sebaliknya, mengundang kita untuk mengangkat kepala kita, percaya pada kasih-Nya yang ingin menyelamatkan kita dan mendekati kita dalam setiap situasi keberadaan kita, Ia meminta kita untuk memberi ruang bagi-Nya untuk kembali menemukan harapan.

 

Maka, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: apakah hatiku dibebani oleh ketakutan, kekhawatiran, dan kecemasan tentang masa depan? Apakah aku tahu bagaimana memandang peristiwa sehari-hari dan perubahan sejarah dengan mata Allah, dalam doa, dengan cakrawala yang lebih luas? Atau apakah aku membiarkan diriku diliputi keputusasaan? Semoga Masa Adven ini menjadi kesempatan yang berharga untuk mengangkat pandangan kita kepada-Nya, yang mencerahkan hati kita dan menopang kita dalam perjalanan kita.

 

Sekarang marilah kita memohon kepada Perawan Maria, yang bahkan di saat-saat pencobaan pun siap menerima rencana Allah.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Beberapa hari ini, empat puluh tahun Perjanjian Perdamaian dan Persahabatan antara Argentina dan Chili diperingati. Dengan mediasi Takhta Suci, pertikaian mengerikan yang telah membawa Argentina dan Chili ke ambang perang pun berakhir. Ini menunjukkan bahwa, ketika kita meninggalkan penggunaan senjata dan terlibat dalam dialog, jalan yang baik telah ditempuh.

 

Saya menyambut baik gencatan senjata yang telah dicapai dalam beberapa hari terakhir di Lebanon, dan saya berharap agar hal itu dapat dihormati oleh semua pihak, sehingga memungkinkan penduduk di wilayah yang terlibat dalam pertikaian – baik Lebanon maupun Israel – untuk segera kembali ke rumah dengan selamat, juga dengan bantuan yang sangat berharga dari tentara Lebanon dan pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam situasi ini, saya menyampaikan seruan mendesak kepada semua politisi Lebanon, agar Presiden Republik Lebanon dapat segera dipilih dan lembaga-lembaga kembali berfungsi normal, sehingga dapat melanjutkan reformasi yang diperlukan dan memastikan negara berperan sebagai teladan hidup berdampingan secara damai antara berbagai agama. Saya berharap secercah perdamaian yang telah muncul dapat mengarah pada gencatan senjata di semua lini, terutama di Gaza. Saya sangat menginginkan pembebasan orang-orang Israel yang masih disandera, dan akses terhadap bantuan kemanusiaan bagi penduduk Palestina yang tertimpa musibah. Dan marilah kita berdoa untuk Suriah, di mana sayangnya perang kembali telah berkobar, menelan banyak korban. Saya sangat dekat dengan Gereja di Suriah. Marilah kita berdoa!

 

Saya menyampaikan keprihatinan dan kesedihan saya atas pertikaian yang terus menyebabkan pertumpahan darah di Ukraina yang tersiksa. Selama hampir tiga tahun kita telah menyaksikan serangkaian kematian, cidera, kekerasan, dan kehancuran yang mengerikan... Anak-anak, perempuan, orang tua, dan kaum lemah adalah korban pertama. Perang adalah kengerian, perang adalah penghinaan terhadap Allah dan kemanusiaan, perang tidak menyisakan siapa pun, perang selalu merupakan kekalahan, kekalahan bagi seluruh umat manusia. Pikirkan bahwa musim dingin sudah dekat, dan berisiko memperburuk kondisi jutaan orang yang mengungsi. Itu akan menjadi bulan-bulan yang sangat sulit bagi mereka. Kebetulan perang dan cuaca dingin itu tragis. Saya sekali lagi memperbarui seruan saya kepada masyarakat internasional, dan kepada setiap orang yang beritikad baik, untuk melakukan segala upaya untuk menghentikan perang ini, serta mewujudkan dialog, persaudaraan, dan rekonsiliasi. Biarlah ada komitmen baru di setiap tingkatan. Dan saat kita mempersiapkan Natal, saat kita menantikan kelahiran Sang Raja Damai, biarlah orang-orang ini diberi harapan nyata. Pengupayaan perdamaian bukan hanya tanggung jawab beberapa orang, tetapi semua orang. Jika pembiasaan dan ketidakpedulian terhadap kengerian perang berlaku, seluruh umat manusia akan kalah. Seluruh umat manusia akan kalah. Saudara-saudari terkasih, janganlah kita lelah berdoa bagi penduduk yang sangat dicobai itu, dan marilah kita memohon kepada Allah karunia perdamaian.

 

Dengan penuh kasih sayang saya menyapa kamu semua, umat Roma serta para peziarah yang datang dari Italia dan berbagai negara. Secara khusus, saya menyapa kelompok dari Barcelona, ​​Murcia, dan Valencia – dan memikirkan Valencia, betapa menderitanya mereka – serta dari Gerovo, Kroasia. Saya menyapa umat Arco di Trento dan Sciacca, serta kelompok Roma Gioventù Ardente Mariana. Dan saya menyapa orang muda Immacolata.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu dan mengawali Masa Adven kepada kamu semua. Jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang, dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Desember 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 24 November 2024 : MAKNA BARU KATA “RAJA” DAN KATA “DUNIA”


Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!


Bacaan Injil dalam liturgi hari ini (Yoh 18:33-37) memperlihatkan kepada kita Yesus di hadapan Pontius Pilatus. Ia telah diserahkan kepada pengadil Romawi untuk dijatuhi hukuman mati. Namun, dialog singkat dimulai antara keduanya, antara Yesus dan Pilatus. Melalui pertanyaan-pertanyaan Pilatus dan jawaban-jawaban Tuhan, dua kata khususnya diubah rupa, memperoleh makna baru. Dua kata: kata “raja” dan kata “dunia.”

 

Awalnya Pilatus bertanya kepada Yesus, “Apakah Engkau raja orang Yahudi?” (ayat 33). Berpikir seperti seorang pejabat kekaisaran, ia ingin memahami apakah orang di hadapannya berpotensi mengancam. Baginya, seorang raja berwenang memerintah atas seluruh rakyatnya. Dan ini akan menjadi ancaman baginya, bukan? Yesus mengaku sebagai raja, ya, tetapi dengan cara yang sama sekali berbeda! Yesus adalah seorang raja sejauh Ia seorang saksi: Ia adalah orang yang mengatakan kebenaran (lih. ayat 37). Kuasa rajani Yesus, Sang Sabda yang menjelma, sesungguhnya terletak dalam sabda-Nya, dalam sabda-Nya yang efektif, yang mengubah rupa dunia.

 

Dunia: inilah kata kedua. "Dunia" yang dimaksud Pontius Pilatus adalah dunia tempat yang kuat berkuasa atas yang lemah, yang kaya atas yang miskin, yang kejam atas yang lemah lembut. Dengan kata lain, sayangnya dunia yang kita kenal dengan baik. Yesus adalah Raja, tetapi kerajaan-Nya bukan dari dunia Pilatus, dan juga bukan dari dunia ini (ayat 36). Dunia Yesus, sesungguhnya, adalah dunia baru, dunia kekal, yang dipersiapkan Allah bagi semua orang dengan menyerahkan nyawa-Nya demi keselamatan kita. Itulah kerajaan surga, yang dibawa Kristus ke dunia ini dengan mencurahkan anugerah dan kebenaran (lih. Yoh. 1:17). Dunia, yang Yesus adalah Rajanya, menebus ciptaan yang dirusak oleh kejahatan dengan kuasa yang sesuai dengan kasih ilahi. Yesus menyelamatkan ciptaan, karena Yesus membebaskan, Yesus mengampuni, Yesus membawa kedamaian dan keadilan. "Tetapi apakah ini Bapa yang sesungguhnya?" – "Ya". Bagaimana keadaan jiwamu? Apakah ada sesuatu yang membebaninya? Beberapa dosa lama? Yesus selalu mengampuni. Inilah kerajaan Yesus. Jika ada sesuatu yang buruk di dalam dirimu, mintalah pengampunan. Dan Ia selalu mengampuni.

 

Saudara-saudari, Yesus berbicara kepada Pilatus dari dekat, tetapi Pilatus tetap menjauh dari-Nya karena ia hidup di dunia yang berbeda. Pilatus tidak membuka diri terhadap kebenaran, meskipun kebenaran itu ada di hadapannya. Ia akan membiarkan Yesus disalibkan. Ia akan memerintahkan “Raja orang Yahudi” (Yoh 19:19) ditulis di atas kayu salib, tetapi tanpa memahami makna kata ini: “Raja orang Yahudi”, makna kata-kata ini. Tetapi Kristus datang ke dunia, ke dunia ini. Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Nya (lih. Yoh 18:37). Suara-Nya adalah suara Raja semesta alam, yang menyelamatkan kita.

 

Saudara-saudari, mendengarkan Tuhan membawa terang ke dalam hati dan hidup kita. Jadi, marilah kita mencoba bertanya kepada diri kita sendiri – masing-masing orang bertanya dalam hati kepada dirinya sendiri : dapatkah aku mengatakan bahwa Yesus adalah “raja”-ku? Atau apakah aku memiliki “raja” lain di dalam hatiku? Dalam arti apa? Apakah sabda-Nya menjadi penuntunku, kepastianku? Apakah aku melihat di dalam Dia wajah Allah yang penuh belas kasihan yang selalu mengampuni, selalu mengampuni, yang sedang menunggu kita untuk memberikan pengampunan-Nya?

 

Marilah kita berdoa bersama kepada Maria, hamba Tuhan, seraya kita menantikan Kerajaan Allah dengan penuh harapan.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Hari ini kedua orang muda Korea ini telah menerima salib yang digunakan selama Hari Orang Muda Sedunia, yang akan diadakan di Seoul. Mereka akan membawanya ke Korea untuk mempersiapkan Hari Orang Muda Sedunia. Tepuk tangan meriah untuk orang Korea! Dan juga tepuk tangan meriah untuk orang muda Portugis yang telah mengembalikan salib.

 

Kemarin, di Barcelona, ​​Pastor Cayetano Clausellas Ballvé dan umat awam Antonio Tort Reixachs dibeatifikasi. Mereka dibunuh, karena kebencian terhadap iman, di Spanyol, pada tahun 1936. Marilah kita bersyukur kepada Allah atas karunia besar para saksi teladan bagi Kristus dan Injil ini. Marilah kita bertepuk tangan untuk kedua beato baru ini!

 

Hari ini, Hari Orang Muda Sedunia ke-39 dirayakan di Gereja-gereja tertentu, dengan tema: “Mereka yang Berharap kepada Tuhan, Berjalan Tanpa Lelah” (bdk. Yes 40:31). Bahkan orang muda terkadang merasa lelah, jika mereka tidak berharap kepada Tuhan! Saya menyapa delegasi dari Portugal dan Korea Selatan, yang “meneruskan obor” persiapan, untuk Hari Orang Muda Sedunia di Seoul pada tahun 2027. Tepuk tangan meriah untuk kedua delegasi tersebut.

 

Sebagaimana telah saya umumkan, pada tanggal 27 April mendatang, selama Yubelium Remaja, saya akan menyatakan Beato Carlo Acutis sebagai santo. Selain itu, setelah diberitahu oleh Dikasteri Perihal Orang Kudus bahwa proses studi perihal Beato Pier Giorgio Frassati akan segera berakhir dengan sukses, saya berencana untuk melakukan kanonisasi terhadapnya pada tanggal 3 Agustus mendatang, selama Yubelium Orang Muda, setelah menerima pendapat dari para kardinal. Tepuk tangan meriah untuk kedua calon santo baru.

 

Besok Myanmar merayakan Hari Raya Nasionalnya, untuk mengenang protes mahasiswa pertama yang mengantarkan negara ini menuju kemerdekaan, serta dalam prospek masa yang damai dan demokratis yang masih diperjuangkan hingga saat ini. Saya menyatakan kedekatan saya dengan seluruh penduduk Myanmar, khususnya mereka yang menderita karena pertikaian yang sedang berlangsung, khususnya kedekatan saya dengan mereka yang paling rentan: anak-anak, orang tua, orang sakit, dan semua pengungsi, termasuk Rohingya. Kepada semua pihak yang terlibat, saya sampaikan permohonan yang tulus: semoga semua senjata dibungkam dan semoga dialog yang tulus dan menyertakan dibuka, yang dapat memastikan perdamaian abadi.

 

Dan dengan hangat saya menyapa kamu semua, umat dan para peziarah Roma. Secara khusus, saya menyapa kelompok umat yang datang dari Malta, Israel, Slovenia, dan Spanyol, serta dari Keuskupan Mostar-Duvno dan Keuskupan Trebinje-Mrkan dan dari wilayah Biara Fossanova.

 

Dan marilah kita terus berdoa untuk Ukraina yang bermartir, yang sedang sangat menderita, marilah kita berdoa untuk Palestina, Israel, Lebanon, dan Sudan. Marilah kita memohon perdamaian.

 

Dan kepada semuanya, saya mengucapkan selamat hari Minggu. Jangan lupa untuk mendoakan saya.

 

Selamat makan siang dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 24 November 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 17 November 2024 : MENCERMATI APA YANG AKAN BERLALU DAN APA YANG AKAN TETAP ADA

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Dalam Bacaan Injil liturgi hari ini, Yesus menggambarkan suatu kesengsaraan besar: "matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak tidak akan memancarkan sinarnya" (Mrk 13:24). Menghadapi penderitaan ini, banyak orang mungkin berpikir tentang akhir dunia, tetapi Tuhan menggunakan kesempatan itu untuk memberikan penafsiran yang berbeda, dengan mengatakan: "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu" (Mrk 13:31).

 

Kita dapat mencermati ungkapan ini: apa yang akan berlalu dan apa yang akan tetap ada.

 

Pertama-tama, apa yang akan berlalu. Dalam beberapa situasi dalam hidup kita, ketika kita mengalami krisis atau mengalami kegagalan, serta ketika kita melihat sekeliling kita penderitaan yang disebabkan oleh perang, kekerasan, bencana alam, kita merasa bahwa semuanya akan berakhir, dan kita merasa bahwa bahkan hal-hal yang paling indah pun akan berlalu. Akan tetapi, krisis dan kegagalan, meskipun menyakitkan, penting, karena keduanya mengajarkan kita untuk memberikan bobot yang sepantasnya kepada segala sesuatu, bukan untuk melekatkan hati kita pada kenyataan dunia ini, karena semuanya akan berlalu: semuanya ditakdirkan untuk memudar.

 

Pada saat yang sama, Yesus berbicara tentang apa yang akan tetap ada. Segala sesuatu akan berlalu, tetapi perkataan-Nya tidak akan berlalu: perkataan Yesus akan tetap ada untuk selamanya. Karena itu, Ia mengundang kita untuk percaya kepada Injil, yang berisi janji keselamatan dan kekekalan, serta tidak hidup dalam derita kematian. Sebab sementara segala sesuatu berlalu, Kristus tetap ada. Di dalam Dia, di dalam Kristus, suatu hari nanti kita akan menemukan kembali hal-hal dan orang-orang yang telah meninggal dan yang telah menyertai kita dalam keberadaan kita di bumi. Dalam terang janji kebangkitan ini, setiap kenyataan memiliki makna baru: segala sesuatu akan mati dan kita juga suatu hari nanti akan mati, tetapi kita tidak akan kehilangan apa pun dari apa yang telah kita bangun dan cintai, karena kematian akan menjadi awal dari kehidupan baru.



Saudara-saudari, bahkan dalam kesengsaraan, dalam krisis, dalam kegagalan, Injil mengundang kita untuk melihat kehidupan dan sejarah tanpa takut kehilangan apa yang akan berakhir, tetapi dengan bersukacita untuk apa yang akan tetap ada. Janganlah kita lupa bahwa Allah sedang mempersiapkan bagi kita masa depan kehidupan dan sukacita.


Maka, marilah kita bertanya kepada diri kita: apakah kita terikat pada hal-hal duniawi, yang cepat berlalu, atau pada sabda Tuhan, yang tetap ada dan menuntun kita menuju kekekalan? Marilah kita mengajukan pertanyaan ini kepada diri kita. Pertanyaan tersebut akan membantu kita.

 

Dan marilah kita berdoa kepada Santa Perawan Maria, yang mempercayakan diri sepenuhnya kepada sabda Allah, agar Ia dapat menjadi perantara kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kemarin di Shkodra, dua martir dibeatifikasi: Luigi Palić, imam Ordo Saudara Dina, dan Gjon Gazulli, imam diosesan, korban penganiayaan agama pada abad kedua puluh. Dan hari ini, di Freiburg im Breisgau, seorang martir lainnya dibeatifikasi, imam Max Josef Metzger, pendiri Institut Sekuler Kristus Raja, yang ditentang oleh Nazi karena komitmen keagamaannya yang mendukung perdamaian. Semoga teladan para martir ini menghibur begitu banyak umat kristiani yang mengalami diskriminasi karena iman mereka di zaman kita. Marilah kita bertepuk tangan untuk para beato baru!

 

Hari ini kita merayakan Hari Orang Miskin Sedunia, yang bertema: “Doa dari mulut orang miskin sampai ke telinga Tuhan” (Sir 21:5). Saya berterima kasih kepada mereka yang, di keuskupan dan paroki, telah mengorganisir prakarsa solidaritas dengan orang-orang yang paling tidak beruntung. Dan pada hari ini, marilah kita juga mengingat semua korban kecelakaan lalu lintas: marilah kita mendoakan mereka, keluarga mereka, dan berupaya mencegah kecelakaan.

 

Saya akan mengajukan sebuah pertanyaan; setiap orang dapat mengajukan pertanyaan ini kepada diri mereka sendiri: apakah aku tidak punya sesuatu untuk diberikan kepada orang miskin? Ketika aku memberi sedekah, apakah aku menyentuh tangan orang miskin dan menatap matanya? Saudara-saudari, janganlah kita lupa bahwa orang miskin tidak bisa menunggu!

 

Saya bergabung dengan Gereja di Italia, yang besok kembali akan mengadakan Hari Doa untuk para korban dan penyintas pelecehan. Setiap pelecehan adalah pengkhianatan kepercayaan, pengkhianatan kehidupan! Doa sangat diperlukan untuk "membangun kembali kepercayaan".

 

Saya juga ingin mengingat semua nelayan, pada kesempatan Hari Perikanan Sedunia, yang akan berlangsung Kamis depan: Maria, Bintang Laut, lindungilah para nelayan dan keluarga mereka.

 

Dan dengan kasih sayang saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah. Secara khusus, umat dari Ponta Delgada dan Zagabria; Escolanía del Monasterio de San Lorenzo de El Escorial dan komunitas Ekuador di Roma, yang merayakan Virgen del Quinche. Saya menyapa kelompok dari Chioggia dan Caorle; pemadam kebakaran dari Romeno, Trento, dan paduan suara Paroki Nesso, Como.

 

Saudara-saudari, marilah kita berdoa untuk perdamaian; di Ukraina yang tersiksa, di Palestina, Israel, Lebanon, Myanmar, dan Sudan. Perang merendahkan martabat kita, mendorong kita untuk menoleransi kejahatan yang tidak dapat diterima. Semoga para pemimpin mendengarkan seruan orang-orang yang sedang memohonkan perdamaian.

 

Sapaan untuk kaum muda Immacolata. Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua. Dan jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 17 November 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 10 November 2024 : TAWARKAN KELEMBUTAN, JAUHI KEMUNAFIKAN

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini (lih. Mrk 12:38-44) menceritakan kepada kita tentang Yesus yang, di Bait Allah di Yerusalem, mengecam sikap munafik beberapa ahli Taurat di hadapan orang banyak (lih. ayat 38-40).

 

Orang-orang ini diberi peran penting dalam komunitas Israel: mereka membaca, menyalin, dan menafsirkan Kitab Suci. Karena itu, mereka sangat dihormati dan orang-orang menghormati mereka.

 

Namun, melampaui penampilan mereka, perilaku mereka sering kali tidak sesuai dengan apa yang mereka ajarkan. Mereka tidak konsisten. Bahkan, beberapa orang, karena hak istimewa dan kekuasaan yang mereka nikmati, memandang rendah orang lain "dari atas" – ini sangat buruk, memandang rendah orang lain dari atas – mereka berpura-pura dan, bersembunyi di balik tampak muka kehormatan dan legalisme yang penuh kepura-puraan, sewenang-wenang dengan mempergunakan hak istimewa mereka dan bahkan terang-terangan melakukan pencurian yang merugikan orang-orang yang paling lemah, seperti para janda (lih. ayat 40). Alih-alih menggunakan peran yang diberikan kepada mereka untuk melayani orang lain, mereka menjadikannya sebagai alat kesombongan dan manipulasi. Dan bahkan terjadi, pada mereka, doa berada dalam bahaya karena tidak lagi menjadi saat perjumpaan dengan Tuhan, tetapi sebuah kesempatan untuk memamerkan kewibawaan dan kesalehan yang mengelabui, yang berguna untuk menarik perhatian orang dan memperoleh persetujuan (lih. ayat 40). Ingatlah apa yang dikatakan Yesus tentang doa orang Farisi dan pemungut cukai (lih. Luk 18:9-14).

 

Mereka – tidak semuanya – berperilaku seperti orang-orang yang korup, memelihara sistem sosial dan keagamaan yang mewajarkan mengambil keuntungan dari orang lain tanpa sepengetahuannya, terutama orang yang paling tidak berdaya, melakukan ketidakadilan dan memastikan mereka kebalan hukum.

 

Yesus memperingatkan untuk menjauhi orang-orang ini, “berhati-hati” terhadap mereka (lih. ayat 38), jangan meniru mereka. Memang, dengan sabda dan teladan-Nya, seperti kita ketahui, Ia mengajarkan hal-hal yang sangat berbeda tentang otoritas. Berkenaan dengan otoritas Ia berbicara mengenai pengurbanan diri dan pelayanan yang rendah hati (lih. Mrk 10:42-45), kelembutan keibuan dan kebapaan terhadap semua orang (lih. Luk 11:11-13), terutama orang-orang yang paling membutuhkan (Luk 10:25-37). Ia mengundang mereka yang terlibat di dalamnya untuk melihat orang lain dari posisi kekuasaan mereka, bukan untuk mempermalukan mereka, tetapi mengangkat mereka, memberi mereka harapan dan pertolongan.

 

Jadi, saudara-saudari, kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri: bagaimana aku berperilaku dalam lingkup tanggung jawabku? Apakah aku bertindak dengan rendah hati, atau apakah aku membanggakan posisiku? Apakah aku murah hati dan penuh hormat terhadap orang lain, atau apakah aku memperlakukan mereka secara kasar dan otoriter? Dan dengan saudara-saudariku yang paling rapuh, apakah aku dekat dengan mereka, apakah aku tahu bagaimana menundukkan kepala untuk menolong mengangkat mereka?

 

Semoga Perawan Maria membantu kita melawan godaan kemunafikan dalam diri kita – Yesus mengatakan kepada mereka bahwa mereka adalah orang-orang munafik, kemunafikan adalah godaan besar –, dan membantu kita untuk berbuat baik, dengan sederhana dan tanpa pamer.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Don Giuseppe Torres Padilla, salah seorang pendiri Kongregasi Suster-suster Persekutuan Salib, dinyatakan sebagai Beato di Sevilla kemarin. Ia tinggal di Spanyol pada abad ke-19, dan dikenal sebagai seorang imam pengakuan dosa dan pembimbing rohani, yang memberikan kesaksian tentang amal kasih yang besar kepada mereka yang membutuhkan. Semoga teladannya menguatkan para imam dalam pelayanan mereka. Tepuk tangan meriah untuk beato baru ini!

 

Tiga tahun lalu, Ajang Aksi Laudato Si’ diluncurkan. Saya berterima kasih kepada mereka yang bekerja dalam mendukung prakarsa ini. Dalam hal ini, saya berharap Konferensi Perubahan Iklim COP29, yang akan dimulai besok di Baku, dapat memberikan kontribusi yang efektif untuk melindungi rumah kita bersama.

 

Saya dekat dengan penduduk Pulau Flores di Indonesia, yang dilanda letusan gunung berapi; saya berdoa untuk para korban, kerabat mereka, dan para pengungsi. Dan saya tegaskan kembali ingatan saya untuk penduduk Valencia dan wilayah lain di Spanyol, yang menghadapi dampak banjir. Saya akan mengajukan pertanyaan kepadamu: apakah kamu telah berdoa untuk Valencia? Apakah kamu telah berpikir untuk memberikan kontribusi guna membantu penduduk tersebut? Hanya sebuah pertanyaan.

 

Berita dari Mozambik mengkhawatirkan. Saya mengajak semua orang untuk terlibat dalam dialog, toleransi, dan tanpa henti mengupayakan solusi yang adil. Marilah kita berdoa untuk seluruh penduduk Mozambik, agar situasi saat ini tidak menyebabkan mereka kehilangan kepercayaan pada jalan demokrasi, keadilan, dan perdamaian.

 

Dan marilah kita terus berdoa untuk Ukraina yang tersiksa, di mana bahkan rumah sakit dan bangunan sipil lainnya telah diserang; dan marilah kita berdoa untuk Palestina, Israel, Lebanon, Myanmar, dan Sudan. Marilah kita berdoa untuk perdamaian di seluruh dunia.

 

Hari ini Gereja Italia merayakan Hari Mengucap Syukur. Saya mengucapkan terima kasih kepada sektor pertanian, dan saya mendorong pengolahan tanah dengan cara menjaga kesuburannya juga untuk generasi mendatang.

 

Dengan penuh kasih sayang saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah, serta kaum muda Immacolata. Secara khusus, umat dari Kazakhstan, Moskow, New York, Bastia di Corsica, Beja dan Algarve di Portugal, Warsawa, Lublin dan daerah lain di Polandia. Saya menyapa Komite untuk mempromosikan Global Educational Compact, dengan perwakilan dari berbagai universitas Katolik; saya menyapa para calon penerima Sakramen Krisma dari Empoli; para relawan dari Bank Pangan dan Grup Musik Italia dari Korps Transportasi dan Material. Mari kita berharap grup musik itu akan memainkan sesuatu yang indah untuk kita!

 

Dan kepada kamu semua, saya mengucapkan selamat hari Minggu. Jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 10 November 2024)