Liturgical Calendar

Showing posts with label Wejangan Audiensi Umum 2021. Show all posts
Showing posts with label Wejangan Audiensi Umum 2021. Show all posts

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 29 Desember 2021 : KATEKESE TENTANG SANTO YOSEF (BAGIAN 5) - SANTO YOSEF, MIGRAN YANG TERANIAYA DAN PEMBERANI

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini kepadamu saya ingin menghadirkan Santo Yosef sebagai seorang migran yang teraniaya dan pemberani. Inilah cara Penginjil Matius menggambarkannya. Peristiwa khusus dalam kehidupan Yesus ini, yang juga melibatkan Yosef dan Maria, secara tradisional dikenal sebagai "penyingkiran ke Mesir" (bdk. Mat 2:13-23). Keluarga Nazaret menderita penghinaan seperti itu dan mengalami langsung kegentingan, ketakutan, dan kepedihan karena harus meninggalkan tanah air mereka. Saat ini begitu banyak saudara dan saudari kita masih dipaksa untuk mengalami ketidakadilan dan penderitaan serupa. Penyebabnya hampir selalu berupa kecongkakan dan kekerasan dari orang-orang yang berkuasa. Hal ini juga terjadi pada Yesus.

 

Raja Herodes belajar dari para Majus tentang kelahiran "Raja Orang Yahudi", dan berita itu mengejutkannya. Ia merasa tidak aman, ia merasa bahwa kekuasaannya terancam. Jadi, ia mengumpulkan seluruh pemimpin Yerusalem untuk mencari tahu tempat kelahiran Raja itu, dan memohon kepada para Majus untuk memberitahunya perincian yang tepat, sehingga - ia mengatakan dengan berpura-pura - ia juga bisa pergi untuk menyembah-Nya. Tetapi ketika ia menyadari bahwa para Majus telah mengambil jalan lain, ia menyusun rencana jahat : membunuh semua anak Betlehem yang berusia di bawah dua tahun, yang merupakan kurun waktu, menurut perhitungan para Majus, Yesus dilahirkan.

 

Sementara itu, seorang malaikat memerintahkan Yosef, ”Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia" (Mat 2:13). Hari ini pikirkanlah banyak orang yang merasakan dorongan hati ini : “Ayo lari, ayo lari, karena ada bahaya di sini”. Rencana Herodes mengingatkan pada rencana Firaun untuk melemparkan semua anak laki-laki orang Ibrani ke sungai Nil (bdk. Kel 1:22). Penyingkiran ke Mesir membangkitkan seluruh sejarah Israel yang dimulai dengan Abraham, yang juga tinggal di sana (bdk. Kej 12:10); hingga Yusuf, anak Yakub, yang dijual oleh saudara-saudaranya (bdk. Kej 37:36) sebelum menjadi "penguasa negeri" (bdk. Kej 41:37-57); dan Musa, yang membebaskan bangsanya dari perbudakan orang Mesir (bdk. Kel 1:18).

 

Penyingkiran Keluarga Kudus ke Mesir menyelamatkan Yesus, tetapi sayangnya tidak dapat menghalangi Herodes melakukan pembantaian. Dengan demikian kita dihadapkan pada dua kepribadian yang berlawanan : di satu sisi, Herodes dengan keganasannya, dan di sisi lain, Yusuf dengan perhatian dan keberaniannya. Herodes ingin mempertahankan kekuasaannya, keningratannya, dengan kekejaman yang tak mengenal belaskasihan, sebagaimana terbukti dengan mengeksekusi salah seorang istrinya, beberapa anaknya dan ratusan seterunya. Ia adalah orang yang kejam : untuk memecahkan masalah, ia hanya punya satu jawaban : membunuh. Ia adalah lambang dari banyak penguasa lalim di masa lalu dan hari ini. Dan bagi mereka, bagi para penguasa lalim ini, rakyat tidak diperhitungkan; kekuasaan adalah yang terpenting, dan jika mereka membutuhkan ruang untuk kekuasaan, mereka menyingkirkan rakyat. Dan ini terjadi hari ini : kita tidak perlu melihat sejarah kuno, itu terjadi hari ini. Manusia menjadi “serigala” bagi manusia lain. Sejarah penuh dengan tokoh-tokoh, yang hidup dalam belas kasihan ketakutan mereka, berusaha menaklukkan ketakutan tersebut dengan menggunakan kekuasaan secara sewenang-wenang dan melakukan tindakan kekerasan yang berperikemanusiaan. Tetapi kita tidak boleh berpikir bahwa kita hidup menurut pandangan Herodes hanya jika kita menjadi penguasa lalim, tidak; sesungguhnya, dengan sikap tersebut kita semua bisa menjadi mangsa, setiap kali kita berusaha untuk menghilangkan ketakutan kita dengan kecongkakan, bahkan meski hanya secara lisan, atau melakukan sedikt umpatan yang dimaksudkan untuk mempermalukan orang-orang yang dekat dengan kita. Kita juga memiliki dalam hati kita kemungkinan untuk menjadi Herodes-herodes kecil.

 

Yosef adalah kebalikan dari Herodes : pertama-tama, ia adalah "seorang yang tulus hati" (Mat 1:19), dan Herodes adalah seorang diktator. Selanjutnya, ia membuktikan bahwa ia berani mengikuti perintah Malaikat. Orang dapat membayangkan perubahan-perubahan yang harus ia hadapi selama perjalanan panjang dan berbahaya serta kesulitan tinggal di negeri asing, dengan bahasa yang berbeda : banyak kesulitan. Keberaniannya juga muncul pada saat ia kembali, ketika, diyakinkan oleh Malaikat, ia mengatasi ketakutannya yang dapat dimengerti dan menetap di Nazaret bersama Maria dan Yesus (bdk. Mat 2:19-23). Herodes dan Yosef adalah dua karakter yang berlawanan, mencerminkan dua wajah kemanusiaan yang selalu ada. Kesalahpahaman umum menganggap keberanian sebagai keutamaan eksklusif seorang pahlawan. Pada kenyataannya, kehidupan sehari-hari setiap orang membutuhkan keberanian. Cara hidup kita – kamu, saya, semua orang : kita tidak dapat hidup tanpa keberanian, keberanian untuk menghadapi kesulitan setiap hari. Di segala zaman dan budaya, kita menemukan manusia pemberani yang, agar selaras dengan keyakinan mereka, telah mengatasi segala macam kesulitan, dan telah menanggung ketidakadilan, kutukan, dan bahkan kematian. Keberanian identik dengan ketabahan, yang bersama-sama dengan keadilan, kehati-hatian dan kesederhanaan adalah bagian dari kelompok keutamaan manusia yang dikenal sebagai "keutamaan pokok".

 

Inilah pelajaran yang diberikan Yosef kepada kita hari ini : hidup selalu menyimpan kemalangan bagi kita, ini benar, di mana kita mungkin juga merasa terancam dan takut dalam menghadapinya. Tetapi bukan dengan mengeluarkan yang terburuk dalam diri kita, seperti yang dilakukan Herodes, kita dapat mengatasi saat-saat tertentu, justru dengan bertindak seperti Yosef, yang bereaksi terhadap rasa takut dengan keberanian untuk percaya pada penyelenggaraan Allah. Hari ini saya pikir kita butuh mendoakan seluruh migran; para migran dan semua orang yang teraniaya, dan semua orang yang menjadi korban keadaan yang merugikan : baik keadaan politik, sejarah maupun pribadi. Tetapi, marilah kita pikirkan banyak orang yang menjadi korban perang, yang ingin melarikan diri dari tanah air mereka tetapi tidak bisa; marilah kita pikirkan para migran yang berangkat di jalan itu untuk bebas, sehingga banyak dari mereka meninggal di jalan atau di laut; marilah kita memikirkan Yesus dalam pelukan Yosef dan Maria, menyingkir, dan marilah kita melihat di dalam Dia masing-masing migran hari ini. Migrasi hari ini adalah kenyataan yang tidak bisa membuat kita tutup mata. Migrasi hari ini adalah skandal sosial kemanusiaan.

 

Santo Yosef, engkau yang telah mengalami penderitaan orang-orang yang harus menyingkir. Engkau yang terpaksa menyingkir untuk menyelamatkan nyawa orang yang paling engkau sayangi, lindungilah semua orang yang menyingkir karena perang, kebencian, kelaparan. Dukunglah orang-orang yang berada dalam kesulitan, kuatkan mereka dalam harapan, serta perkenankan mereka menemukan sambutan dan kesetiakawanan. Bimbinglah langkah mereka dan bukalah hati orang-orang yang bisa membantu mereka. Amin.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris. Dalam damai Tuhan kita Yesus Kristus, semoga kamu masing-masing, dan keluargamu, menghargai sukacita Masa Natal ini, dan dalam doa mendekat kepada Sang Juruselamat yang telah datang untuk tinggal di antara kita. Semoga Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih : Dalam katekese lanjutan kita tentang Santo Yosef, kita sekarang membahas keberanian Yosef dalam menghadapi penganiayaan. Seperti banyak saudara dan saudari kita yang menghadapi ketidakadilan atau kekerasan hari ini, Yosef dan Maria terpaksa bermigrasi dari tanah air mereka, melarikan diri dari murka Raja Herodes. Diperdaya oleh para Majus mengenai tepatnya tempat kelahiran Kristus, Herodes berusaha membunuh semua anak laki-laki Betlehem yang berusia di bawah dua tahun. Menanggapi pesan malaikat, Yosef dengan berani membawa Keluarga Kudus dalam perjalanan berbahaya ke Mesir. Sekembalinya mereka ke tanah Israel, Yosef membawa mereka ke Galilea untuk mendirikan rumah di Nazaret, aman dari ancaman penerus Herodes. Sementara Herodes mewujudkan kekejaman, kecongkakan dan penyerangan, Yosef justru menunjukkan kepada kita bagaimana menanggapi tantangan dan kesulitan kita dengan kasih yang luhur, dengan berani percaya pada penyelenggaraan Allah. Saat kita mengingat ketabahan dan kasih yang ditunjukkan oleh Yosef dalam penyingkiran ke Mesir, marilah kita mendoakan semua orang yang, seperti Keluarga Kudus, menemukan diri mereka terpaksa meninggalkan tanah air mereka, agar mereka sudi diberkati dengan keberanian Santo Yosef.

______


(Peter Suriadi - Bogor, 29 Desember 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 22 Desember 2021 : KATEKESE TENTANG KELAHIRAN YESUS

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini, hanya beberapa hari sebelum Natal, saya ingin mengingat bersamamu peristiwa yang tidak dapat dilepaskan dari sejarah : kelahiran Yesus.

 

Untuk mematuhi keputusan Kaisar Agustus yang memerintahkan mereka pergi ke tempat asal mereka untuk mendaftarkan diri, Yusuf dan Maria pergi dari Nazaret ke Betlehem. Begitu mereka tiba, mereka segera mencari penginapan karena saat persalinan Maria sudah dekat. Sayangnya, mereka tidak menemukan apa pun. Jadi, Maria terpaksa melahirkan di sebuah kandang (bdk. Luk 2:1-7).

 

Marilah kita berpikir : Sang Pencipta alam semesta… Ia tidak diberikan tempat untuk dilahirkan! Mungkin ini adalah antisipasi dari apa yang akan dikatakan oleh penginjil Yohanes : “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (1:11); dan apa yang akan dikatakan Yesus sendiri : “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya" (Luk 9:58).

 

Malaikat yang mengumumkan kelahiran Yesus, dan ia melakukannya kepada beberapa gembala jelata. Dan sebuah bintang yang menunjukkan kepada para Majus jalan menuju Betlehem (bdk. Mat 2:1,9.10). Malaikat adalah utusan Allah. Bintang mengingatkan kita bahwa Allah menciptakan terang (Kej 1:3) dan Sang Kanak akan menjadi "terang dunia", sebagaimana kelak Ia mendefinisikan diri-Nya sendiri (bdk. Yoh 8:12,46), "terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang” (Yoh 1:9), yang “bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (ayat 5).

 

Para gembala mempribadikan kaum miskin Israel, rakyat jelata yang secara batiniah menghayati dengan kesadaran kekurangan mereka. Justru karena alasan ini, mereka lebih percaya kepada Allah daripada orang lain. Mereka adalah orang pertama yang melihat Putra Allah yang menjadi manusia, dan perjumpaan ini sangat mengubah diri mereka. Injil mencatat bahwa mereka kembali "sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat" (Luk 2:20).

 

Para Majus juga berada di sekitar Yesus yang baru lahir (bdk. Mat 2:1-12). Injil tidak memberitahu kita siapa para raja tersebut, atau berapa jumlahnya, atau siapa nama mereka. Satu-satunya hal yang kita ketahui dengan pasti yakni mereka datang dari negeri nun jauh di Timur (mungkin dari Babilonia, atau Arab, atau Persia pada masa itu), mereka memulai perjalanan mencari Raja orang Yahudi, yang mereka identifikasikan bersama Allah di dalam hati mereka karena mereka mengatakan ingin menyembah-Nya. Para Majus mewakili bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, terutama semua orang yang telah mencari Allah selama berabad-abad, dan yang memulai perjalanan untuk menemukan-Nya. Mereka juga mewakili orang kaya dan berkuasa, tetapi mereka sendiri bukan hamba harta milik, yang tidak "dimiliki" oleh hal-hal yang mereka yakini mereka miliki.

 

Pesan Injil jelas : kelahiran Yesus adalah peristiwa semesta yang menyangkut segenap umat manusia.

 

Saudara-saudari terkasih, kerendahan hati adalah satu-satunya cara yang membawa kita kepada Allah. Pada saat yang sama, terutama karena kerendahan hati membawa kita kepada-Nya, kerendahan hati juga membawa kita pada intisari kehidupan, makna yang paling sejati, alasan yang paling dapat dipercaya mengapa hidup benar-benar layak dijalani.

 

Hanya kerendahan hati yang membuka diri kita pada pengalaman akan kebenaran, sukacita sejati, memahami apa yang penting. Tanpa kerendahan hati kita “terputus”, kita terputus dari pemahaman akan Allah dan diri kita. Kerendahan hati diperlukan untuk memahami diri sendiri, terlebih lagi untuk memahami Allah. Para Majus bahkan mungkin hebat menurut nalar dunia, tetapi mereka menjadikan diri mereka jelata, rendah hati, dan justru karena itu mereka berhasil menemukan Yesus dan mengenali-Nya. Mereka menerima kerendahan hati dalam mencari, memulai perjalanan, meminta, mengambil risiko, membuat kesalahan.

 

Setiap orang, di lubuk hatinya, dipanggil untuk mencari Allah : kita semua memiliki kegelisahan itu. Pekerjaan kita bukanlah untuk memadamkan kegelisahan itu, tetapi membiarkannya bertumbuh karena kegelisahan itulah yang mencari Allah; dan, dengan rahmat-Nya semata, dapat menemukan-Nya. Kita dapat menjadikan doa Santo Anselmus (1033-1109) ini sebagai doa kita : “Tuhan, ajarilah aku untuk mencari-Mu, dan nyatakanlah diri-Mu kepadaku saat aku mencari, karena aku tidak dapat mencari-Mu jika Engkau tidak mengajariku caranya, atau menemukan-Mu jika Engkau tidak menyatakan diri-Mu. Perkenankan aku mencari-Mu dengan menginginkan-Mu; perkenankanlah aku menginginkan-Mu dengan mencari-Mu; perkenankanlah aku menemukan-Mu dengan mengasihi-Mu; perkenankanlah aku mengasihi-Mu dengan menemukan-Mu” (Proslogion, 1).

 

Saudara-saudari terkasih, saya ingin mengundang setiap orang ke kandang Betlehem untuk menyembah Putra Allah yang menjadi manusia. Semoga kita masing-masing mendekati kandang Natal di rumah kita sendiri atau di gereja atau di tempat lain, dan mencoba melakukan tindakan penyembahan, di dalam hati : “Aku percaya Engkau adalah Allah, bayi ini adalah Allah. Tolong, berilah aku rahmat kerendahan hati untuk bisa memahami".

 

Dalam mendekati dan berdoa di dekat kandang Natal, aku ingin menempatkan kaum miskin di barisan depan, orang-orang yang – sebagaimana biasa dinasihatkan oleh Santo Paulus VI – “harus kita kasihi karena dengan cara tertentu mereka adalah sakramen Kristus; di dalam diri mereka – dalam diri orang lapar, haus, terbuang, telanjang, sakit, dalam penjara – Ia ingin diidentifikasi secara mistik. Kita harus membantu mereka, menderita bersama mereka, dan juga mengikuti mereka karena kemiskinan adalah jalan teraman untuk memiliki Kerajaan Allah seutuhnya” (Homili, 1 Mei 1969). Karena alasan ini, kita harus memohonkan rahmat kerendahan hati : “Tuhan, agar aku tidak boleh sombong, agar aku tidak boleh berkecukupan diri, agar aku tidak boleh percaya bahwa aku adalah pusat semesta. Jadikanlah aku rendah hati. Anugerahkanlah aku rahmat kerendahan hati. Dan dengan kerendahan hati ini, semoga saya menemukan-Mu”. Satu-satunya cara; tanpa kerendahan hati kita tidak akan pernah menemukan Allah : kita akan menemukan diri kita sendiri. Alasannya, orang yang tidak rendah hati tidak memiliki cakrawala di hadapannya. Mereka hanya memiliki cermin untuk melihat diri mereka sendiri. Marilah kita memohon kepada Tuhan untuk memecahkan cermin ini sehingga kita dapat melihat ke luar, ke cakrawala, di mana Ia berada. Tetapi Ia perlu melakukan hal ini : anugerahkanlah kami rahmat dan sukacita kerendahan hati untuk mengambil jalan ini.

 

Kemudian, saudara-saudari, seperti yang dilakukan bintang dengan para Majus, saya ingin menemani ke Betlehem semua orang yang tidak memiliki kegelisahan keagamaan, yang tidak mengajukan pertanyaan tentang Allah, atau yang bahkan mungkin berperang melawan agama, semua orang yang tidak tepat diidentifikasi sebagai ateis. Saya ingin mengulangi kepada mereka pesan Konsili Vatikan II : “Gereja berpendirian, bahwa pengakuan terhadap Allah sama sekali tidak berlawanan dengan martabat manusia, sebab martabat itu didasarkan pada Allah sendiri dan disempurnakan di dalam-Nya. […] Gereja sungguh yakin, bahwa amanatnya menanggapi dambaan-dambaan hati manusia yang paling rahasia” (Gaudium et Spes, 21).

 

Marilah kita kembali ke rumah dengan kidung malaikat : "Damai di bumi bagi orang yang berkenan kepada-Nya!" Marilah kita selalu ingat : “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita […] Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh 4:10,19), Ia telah mencari kita. Jangan melupakan hal ini.

 

Inilah alasan untuk sukacita kita : kita dikasihi, kita dicari, Tuhan mencari kita untuk menemukan kita, untuk semakin mengasihi kita. Inilah alasan bersukacita : mengetahui bahwa kita dikasihi tanpa pamrih, kita selalu dikasihi terlebih dahulu oleh Allah, dengan kasih yang begitu nyata sehingga Ia mengambil rupa daging dan datang untuk tinggal di tengah-tengah kita, dalam Bayi yang kita lihat di dalam kandang Natal. Kasih ini memiliki nama dan wajah : Yesus adalah nama dan wajah kasih – inilah landasan sukacita kita.

 

Saudara-saudari, saya mengucapkan Selamat Natal, Natal yang bahagia dan kudus. Dan saya menginginkan hal itu – ya, ada harapan baik, reuni keluarga, hal ini selalu sangat indah – tetapi mungkin juga ada kesadaran bahwa Allah datang “untukku”. Biarkan semua orang mengatakan hal ini : Allah datang untukku. Kesadaran bahwa untuk mencari Allah, menemukan Allah, menerima Allah, diperlukan kerendahan hati : mencari dengan kerendahan hati rahmat memecahkan cermin kesombongan, kebanggaan, melihat diri kita sendiri. Memandang Yesus, memandang cakrawala, memandang Allah yang datang kepada kita dan menyentuh hati kita dengan kegelisahan yang memberi kita harapan. Selamat Natal!

 

[Imbauan]

 

Selama kunjungan saya ke Siprus dan Yunani, saya dapat sekali lagi secara pribadi menyentuh kemanusiaan yang terluka dalam diri para pengungsi dan migran. Saya juga mencatat bagaimana hanya beberapa negara Eropa yang menanggung sebagian besar konsekuensi dari fenomena migrasi ini di wilayah Mediterania, sementara pada kenyataannya, diperlukan tanggung jawab bersama yang tanpa kecuali oleh negara mana pun. Secara khusus, berkat keterbukaan yang melimpah dari pihak berwenang Italia, saya dapat membawa ke Roma sekelompok orang yang saya temui selama perjalanan saya : beberapa dari mereka berada di sini di antara kita hari ini. Selamat datang! Sebagai Gereja, kita akan mengurus mereka selama beberapa bulan mendatang. Inilah tanda kecil yang saya harapkan akan menjadi perangsang bagi negara-negara Eropa lainnya, agar mereka memperkenankan komunitas gerejawi setempat untuk merawat saudara-saudari lain yang sangat membutuhkan penempatan kembali.

 

Padahal, ada banyak Gereja lokal, kongregasi keagamaan dan organisasi Katolik yang siap menyambut dan mendampingi mereka menuju penyatupaduan yang bermanfaat. Yang dibutuhkan hanyalah pintu yang terbuka!

 

[Sapaan khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris. Saat kita bersiap untuk merayakan Natal, saya memohonkan atas kamu dan keluargamu sukacita dan damai dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih : Pada hari-hari sebelum Natal ini, kita bercermin pada peristiwa-peristiwa seputar kelahiran Sang Juruselamat kita, yang terutama ditandai dengan kesederhanaan dan kerendahan hati. Inilah jalan, dalam rencana kasih Allah, yang diambil oleh Maria dan Yusuf, yang dengan taat melakukan perjalanan menuju kota Betlehem yang sederhana, dan dengan rendah hati berkenan membaringkan Kristus yang baru lahir di dalam palungan (bdk. Luk 2:1-7). Para gembala jelata adalah orang pertama yang menyaksikan penjelmaan Putra Allah. Para Majus pun, meski tidak miskin secara materi, merendahkan diri di hadapan Sang Raja yang masih bayi, yang mengungkapkan kasih Allah bagi orang-orang dari segala bangsa. Segenap manusia dipanggil untuk menyembah Kristus yang baru lahir, yang secara khusus mengidentifikasi dirinya dengan kaum miskin. Santo Paulus VI mengajarkan bahwa kaum miskin dalam arti tertentu adalah sakramen Kristus. Seraya kita dipanggil untuk mengasihi dan membantu mereka dalam karya amal, kaum miskin membantu kita, dengan mengarahkan kita ke jalan yang paling pasti menuju Kerajaan Allah: kerajaan kerendahan hati (bdk. Homili, 1 Mei 1969). Natal ini, dengan rendah hati mengakui kasih tanpa syarat yang dinyatakan Allah kepada kita dalam Sang Sabda yang menjadi manusia, semoga kita mengalami kesembuhan, sukacita dan damai sejahtera yang dibawa oleh Kanak Yesus.

____


(Peter Suriadi - Bogor, 22 Desember 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 15 Desember 2021 : KATEKESE TENTANG SANTO YOSEF (BAGIAN 4) - SANTO YOSEF, MANUSIA KEHENINGAN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

 

Marilah kita melanjutkan perjalanan kita bercermin pada Santo Yosef (Yusuf). Setelah menjabarkan lingkungan di mana ia tinggal, perannya dalam sejarah keselamatan dan ketulusannya serta Maria, tunangannya, hari ini saya ingin membahas aspek pribadi penting lainnya : keheningan. Sangat sering saat ini kita membutuhkan keheningan. Keheningan itu penting. Saya dikejutkan oleh sebuah ayat dari Kitab Kebijaksanaan yang dibaca dengan mengingat Natal, yang mengatakan : "Sebab sementara sunyi senyap meliputi segala sesuatu, firman-Mu yang mahakuasa melompat dari dalam sorga" (18:14-15). Saat paling hening, Allah mewujudkan diri-Nya. Memikirkan keheningan di zaman ini di mana keheningan tampaknya tidak memiliki banyak nilai adalah penting.

 

Keempat Injil tidak berisi satu kata pun yang diucapkan oleh Yosef (Yusuf) dari Nazareth : tidak sepatah katapun, ia tidak pernah berbicara. Ini tidak berarti bahwa ia pendiam, tidak : ada alasan yang lebih mendalam mengapa keempat Injil tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dengan keheningannya, Yosef (Yusuf) menegaskan apa yang ditulis Santo Agustinus : “Sejauh Sabda itu – yaitu, Sabda yang menjadi manusia – tumbuh di dalam diri kita, kata-kata makin berkurang”.[1] Sejauh Yesus, kehidupan rohani, tumbuh, kata-kata makin berkurang. Apa yang bisa kita gambarkan sebagai "burung beo", berbicara seperti burung beo, terus-menerus, sedikit berkurang. Yohanes Pembaptis sendiri, yaitu “suara orang yang berseru-seru di padang gurun : Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi Tuhan” (Mat 3:3), mengatakan dalam kaitannya dengan Sang Sabda, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:30). Ini berarti Ia harus berbicara dan aku harus diam, dan melalui keheningannya, Yosef (Yusuf) mengundang kita untuk meninggalkan ruang bagi kehadiran Sang Sabda yang menjadi manusia, bagi Yesus.

 

Keheningan Yosef (Yusuf) bukan bersifat bisu, ia bukan pendiam; keheningan Yosef (Yusuf) penuh dengan mendengarkan, keheningan yang giat, keheningan yang memunculkan kedalamannya yang luar biasa. “Bapa mengucapkan sepatah kata, dan sepatah kata itu adalah Putra-Nya”, ulas Santo Yohanes dari Salib, Bapa mengucapkan sepatah kata dan sepatah kata itu adalah Putra-Nya - “dan sepatah kata itu selalu berbicara dalam keheningan abadi, dan dalam keheningan sepatah kata itu harus didengar oleh jiwa”.[2]

 

Yesus dibesarkan di “sekolah” ini, di rumah Nazaret, dengan teladan sehari-hari Maria dan Yosef (Yusuf). Dan tidak mengherankan bahwa Ia sendirian mencari ruang keheningan dalam hari-hari-Nya (bdk. Mat 14:23) dan mengundang murid-murid-Nya untuk memiliki pengalaman seperti itu dengan keteladanan : "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" (Mrk 6:31).

 

Alangkah baiknya jika kita masing-masing, mengikuti teladan Santo Yosef (Yusuf), mampu memulihkan ranah kehidupan kontemplatif ini, terbuka lebar dalam keheningan. Tetapi kita semua tahu dari pengalaman bahwa itu tidak mudah : keheningan membuat kita sedikit takut, karena keheningan meminta kita untuk menyelidiki diri kita sendiri dan menghadapi bagian dari diri kita yang sesungguhnya. Dan banyak orang takut akan keheningan, mereka harus berbicara, dan berbicara, dan berbicara, atau mendengarkan radio atau televisi… tetapi mereka tidak dapat menerima keheningan karena mereka takut. Filsuf Pascal mengamati bahwa "segenap ketidakbahagiaan manusia muncul dari satu fakta, bahwa mereka tidak dapat berdiam diri di ruangan mereka sendiri".[3]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, marilah kita belajar dari Santo Yosef (Yusuf) bagaimana mengolah ruang untuk keheningan yang di dalamnya Sabda lain dapat muncul, yaitu Yesus, Sang Sabda : Sabda Roh Kudus yang bersemayam di dalam diri kita, yang dibawa oleh Yesus. Tidak mudah untuk mengenali Suara itu, yang sangat sering dikacaukan dengan ribuan suara kekhawatiran, godaan, keinginan, dan harapan yang bersemayam di dalam diri kita; tetapi tanpa latihan yang justru datang dari pelaksanaan keheningan ini, lidah kita juga bisa merana. Tanpa pelaksanaan keheningan, lidah kita juga bisa merana. Alih-alih membuat kebenaran bersinar, justru bisa menjadi senjata yang berbahaya. Sesungguhnya perkataan kita bisa menjadi sanjungan, sesumbar, dusta, fitnah dan umpatan. Sebuah kenyataan yang tak dapat dipungkiri bahwa, sebagaimana kita diingatkan oleh Kitab Sirakh, “Sudah banyak yang tewas karena mata pedang, tetapi belum sebanyak yang gugur karena lidah” (28:18), lidah membunuh lebih banyak daripada mata pedang. Yesus mengatakan dengan jelas : siapa pun yang berbicara buruk tentang saudara atau saudarinya, siapa pun yang memfitnah sesamanya, adalah seorang pembunuh (bdk. Mat 5:21-22). Membunuh dengan lidah. Kita tidak percaya hal ini, tetapi merupakan kebenaran. Marilah kita sedikit berpikir tentang saat-saat kita telah membunuh dengan lidah : kita akan malu! Tetapi akan ada baiknya untuk kita, amat sangat baik.

 

Kebijaksanaan biblis menegaskan bahwa "hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya" (Ams 18:21). Dan Rasul Yakobus, dalam Suratnya, yang kita baca di awal, mengembangkan tema kuno tentang kekuatan, positif dan negatif, dari kata dengan contoh-contoh yang mencolok, dan ia berkata : “Barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya ... Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar ... Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk” (3:2-10).

 

Inilah sebabnya mengapa kita harus belajar dari Yosef (Yusuf) untuk menumbuhkan keheningan : ruang batin di zaman kita di mana kita memberi Roh kesempatan untuk meregenerasi diri kita, menghibur kita, membetulkan diri kita. Saya tidak mengatakan jatuh ke dalam kebisuan, tidak. Keheningan. Tetapi sangat sering, kita masing-masing melihat ke dalam diri kita, ketika kita sedang mengerjakan sesuatu dan ketika kita selesai, segera kita mencari telepon untuk melakukan panggilan lain … kita selalu seperti ini. Dan ini tidak membantu, ini membuat kita tergelincir ke dalam kedangkalan. Kedalaman hati tumbuh dengan keheningan, keheningan yang tidak bisu seperti yang saya katakan, tetapi yang meninggalkan ruang untuk kebijaksanaan, bercermin dan Roh Kudus. Kita takut saat-saat keheningan. Jangan sampai kita takut! Ini akan membuat kita baik. Dan selain bermanfaatnya bagi hati kita, juga akan menyembuhkan lidah kita, perkataan kita dan terutama pilihan kita. Faktanya, Yosef (Yusuf) menggabungkan keheningan dengan tindakan. Ia tidak berbicara, tetapi ia bertindak, dan dengan demikian menunjukkan apa yang pernah dikatakan Yesus kepada murid-murid-Nya: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 7:21). Keheningan. Kata-kata yang berbuah ketika kita berbicara, dan kita mengingat lagu itu : "Pembebasan bersyarat, pembebasan bersyarat, pembebasan bersyarat ...", kata-kata, kata-kata, kata-kata, dan tanpa hakekat. Keheningan, berbicara dengan cara yang benar, dan sedikit menggigit lidahmu, yang terkadang baik ketimbang mengatakan hal-hal bodoh.

 

Mari kita akhiri dengan doa:

 

Santo Yosef, manusia keheningan,

engkau yang dalam Injil tidak mengucapkan sepatah kata pun,

ajari kami untuk berpuasa dari kata-kata yang sia-sia,

untuk menemukan kembali nilai kata-kata yang meneguhkan, mendorong, menghibur, dan mendukung.

Dekatlah dengan mereka yang menderita akibat kata-kata yang menyakitkan,

seperti fitnah dan umpatan,

dan tolonglah kami untuk senantiasa menyelaraskan perkataan dengan perbuatan. Amin.

 

Terima kasih.

___________________________________


[Imbauan]

 

Dalam beberapa jam terakhir telah terjadi ledakan dahsyat di Cap-Heitien, Haiti utara, di mana banyak orang, termasuk banyak anak-anak, kehilangan nyawa mereka. Haiti yang malang, satu demi satu; mereka adalah orang-orang yang menderita. Marilah kita berdoa, marilah kita berdoa untuk Haiti, mereka adalah orang-orang baik, orang-orang religius, tetapi mereka sangat menderita. Saya dekat dengan penduduk kota itu dan keluarga para korban, serta yang terluka. Saya mengundangmu untuk bergabung dengan saya dalam mendoakan saudara-saudari kita, yang sangat dicobai ini.

_______________________________________


[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris, terutama kelompok dari Nigeria dan Amerika Serikat. Saya berdoa agar kamu masing-masing, dan keluargamu, dapat mengalami hari-hari terakhir Adven sebagai persiapan yang bermanfaat bagi kedatangan Sang Juruselamat dunia yang baru lahir. Semoga Allah memberkatimu!

_______________________________________


[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari terkasih : Dalam katekese lanjutan kita tentang Santo Yosef, kita sekarang membahas Yosef sebagai “manusia keheningan”. Keempat Injil tidak melaporkan satu pun kata yang diucapkannya, namun menampilkan Yosef sebagai model mendengarkan Sabda Allah yang penuh perhatian dan bertindak berdasarkan hal itu. Memang, keheningan Yosef adalah tanda hati yang kontemplatif, menegaskan pengamatan Santo Agustinus bahwa, “ketika Sabda Allah makin meningkat, kata-kata manusia kandas” (Khotbah 288:5). Kerendahan hati Yosef yang teduh mengajarkan kita untuk memberi ruang di dalam hati kita bagi Kristus, dan dengan demikian membedakan kehendak Bapa bagi hidup kita. Yesus belajar pentingnya keheningan dari teladan Yosef dan Maria, dan pada gilirannya mengajar murid-murid-Nya untuk memeliharanya. Kita juga dipanggil untuk melatih keheningan batin dan mendengarkan sabda Allah dengan penuh perhatian, jangan sampai kekhawatiran, godaan, dan ketakutan kita sehari-hari menyesatkan kata-kata yang kita ucapkan dan melukai sesama. Meskipun tidak mudah, memelihara keheningan kontemplatif adalah jalan pasti menuju pengetahuan diri yang otentik dan pertumbuhan rohani. Semoga kita belajar dari teladan keheningan Santo Yosef untuk memperkenankan Tuhan mengisi hati kita dan membimbing kata-kata kita dalam pelayanan kebenaran-Nya dan dalam kasih amal terhadap semua saudara dan saudari kita.

______



(Peter Suriadi - Bogor, 15 Desember 2021)



[1]Wacana 288, 5: PL 38, 1307.

[2]Dichos de luz y amor, BAC, Madrid, 417, n. 99.

[3]Pensées, 139.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 1 Desember 2021 : KATEKESE TENTANG SANTO YOSEF (BAGIAN 3) - SANTO YOSEF : ORANG YANG TULUS HATI DAN SUAMI MARIA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

 

Marilah kita melanjutkan perjalanan kita bercermin pada pribadi Santo Yosef (Yusuf). Hari ini, saya ingin memperdalam perihal "ketulushatian"-nya dan sebagai "tunangan Maria", serta dengan demikian memberikan pesan kepada semua pasangan yang sudah bertunangan, dan juga para pengantin baru. Banyak peristiwa yang terkait Yosef (Yusuf) mengisi kisah-kisah apokrif, yaitu Injil nonkanonik, yang bahkan telah mempengaruhi seni dan berbagai tempat ibadah. Tulisan-tulisan yang tidak ada di dalam Kitab Suci ini adalah kisah-kisah yang diberikan oleh kesalehan Kristiani pada masa itu dan merupakan tanggapan atas keinginan untuk mengisi ruang kosong dalam teks-teks Injil kanonik, yang ada di dalam Kitab Suci, yang menyediakan bagimu segala sesuatu yang penting bagi iman dan kehidupan Kristiani.

 

Penginjil Matius – hal ini penting. Apa yang dikatakan Injil tentang Yosef (Yusuf)? Apa yang dikatakan Injil-injil apokrif ini bukan sesuatu yang jelek atau buruk, tidak! Injil-injil apokrif, meskipun indah, bukan Sabda Allah. Sebaliknya, keempat Injil yang ada di dalam Kitab Suci adalah Sabda Allah. Salah satunya adalah penginjil Matius yang mendefinisikan Yosef (Yusuf) sebagai orang yang “tulus hati”. Marilah kita dengarkan paparannya : “Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut : Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam” (1:18-19). Karena orang-orang yang bertunangan, ketika sang tunangan tidak setia, atau hamil, mereka dapat mendakwanya! Mereka harus mendakwanya. Dan para wanita tersebut kemudian dilempari batu saat itu. Tetapi Yosef (Yusuf) tulus hati. Ia berkata : “Tidak, aku tidak akan melakukan hal ini. Aku akan pergi dengan tenang”.

 

Memahami perilaku Yosef (Yusuf) terhadap Maria, akan sangat membantu untuk mengingat kebiasaan pernikahan Israel kuno. Pernikahan mencakup dua tahap yang dirumuskan dengan baik. Tahap pertama semacam pertunangan resmi yang sudah menyiratkan situasi baru. Secara khusus, seraya terus tinggal di rumah pihak ayah selama satu tahun, sang wanita sebenarnya sudah dianggap sebagai “istri” dari sang tunangannya. Mereka masih belum hidup bersama, tetapi sepertinya ia sudah menjadi istri seseorang. Tahap kedua adalah perpindahan sang mempelai wanita dari rumah ayahnya ke rumah mempelai pria. Ini berlangsung dengan perarakan meriah yang mengakhiri tahap pernikahan. Dan sahabat-sahabat mempelai wanita menemaninya ke sana. Berdasarkan kebiasaan-kebiasaan ini, fakta bahwa “sebelum mereka hidup bersama, Maria kedapatan sedang mengandung” membuat Sang Perawan didakwa melakukan perzinahan. Dan, menurut Hukum kuno, kesalahannya dihukum dengan rajam (bdk. Ul 22:20-21). Namun demikian, penafsiran yang lebih moderat telah terjadi setelah ini dalam praktik Yahudi kemudian yang hanya memberlakukan tindakan perceraian bersamaan dengan konsekuensi perdata dan pidana bagi sang wanita, tetapi tidak dirajam.

 

Injil mengatakan bahwa Yosef (Yusuf) "tulus hati" justru karena ia tunduk pada hukum sebagaimana orang Israel yang saleh lainnya. Tetapi di dalam dirinya, cintanya kepada Maria dan kepercayaannya pada Maria menunjukkan suatu cara agar ia dapat tetap menaati hukum dan menyelamatkan kehormatan sang mempelai wanita. Ia memutuskan untuk menceraikannya dengan diam-diam, tanpa membuat keributan, tanpa membuatnya dipermalukan di depan umum. Ia memilih jalan kerahasiaan, tanpa pengadilan atau balas dendam. Alangkah kudusnya Yosef (Yusuf)! Kita, segera setelah kita memiliki sedikit gosip, sesuatu yang memalukan tentang orang lain, kita langsung membicarakannya! Diam, Yosef (Yusuf). Diam.

 

Tetapi penginjil Matius segera menambahkan : “Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: 'Yosef (Yusuf), anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus'. 'Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka'" (1:20.21). Suara Allah campur tangan dalam pemahaman Yosef (Yusuf). Dalam mimpi, Ia mengungkapkan makna yang lebih besar dari keadilan-Nya. Alangkah pentingnya kita masing-masing membina kehidupan yang adil dan, pada saat yang sama, selalu merasakan perlunya pertolongan Allah untuk memperluas wawasan kita dan mempertimbangkan keadaan hidup dari sudut pandang yang selalu berbeda dan lebih luas. Sering kali, kita merasa terpenjara oleh apa yang telah terjadi pada diri kita : “Tetapi lihatlah apa yang terjadi pada diriku!” – dan kita tetap terpenjara dalam hal buruk yang terjadi pada diri kita. Tetapi terutama di depan beberapa keadaan dalam kehidupan yang awalnya tampak dramatis, sebuah takdir tersembunyi yang terbentuk dari waktu ke waktu dan bahkan menerangi makna penderitaan yang telah menyentuh kita. Godaannya adalah menutupi penderitaan, dalam pemikiran bahwa hal-hal baik tidak pernah terjadi pada diri kita. Dan ini tidak baik untuk kita. Ini menuntunmu kepada kesedihan dan kepahitan. Hati yang pahit sangat jelek.

 

Saya ingin kita berhenti sejenak untuk bercermin pada rincian kisah yang diceritakan dalam Injil yang sering terabaikan ini. Maria dan Yosef (Yusuf) saling bertunangan. Mereka mungkin telah membina impian dan harapan mengenai kehidupan dan masa depan mereka. Tanpa dinyana, Allah tampaknya telah memasukkan diri-Nya ke dalam kehidupan mereka dan, meskipun pada awalnya sulit bagi mereka, keduanya membuka hati mereka lebar-lebar terhadap kenyataan yang ada di hadapan mereka.

 

Saudara dan saudari terkasih, hidup kita seringkali tidak seperti yang kita bayangkan. Apalagi dalam hubungan cinta dan kasih sayang, sulit untuk beralih dari nalar jatuh cinta ke nalar cinta yang dewasa. Kita perlu beralih dari nafsu birahi ke cinta yang dewasa. Kamu, para pengantin baru, pikirkan hal ini. Tahap pertama selalu ditandai dengan pesona tertentu yang membuat kita hidup tenggelam dalam khayalan yang seringkali tidak berdasarkan kenyataan dan fakta – tahap jatuh cinta. Namun justru ketika jatuh cinta dengan segala pengharapannya tampak akan berakhir, di situlah cinta sejati dimulai atau cinta sejati masuk di sana. Faktanya, mencintai bukanlah menuntut orang lain, atau kehidupan, hendaknya sesuai dengan khayalan kita. Sebaliknya, mencintai berarti memilih dengan kebebasan penuh untuk bertanggung jawab atas kehidupan seseorang ketika saatnya tiba. Inilah sebabnya Yosef (Yusuf) memberi kita pelajaran penting. Ia memilih Maria dengan "mata terbuka". Kita dapat mengatakan “dengan segala risikonya”. Pikirkan tentang hal ini : dalam Injil Yohanes, teguran yang dilakukan oleh para ahli Taurat kepada Yesus adalah : “Kami tidak dilahirkan dari zinah”, mengacu pada pelacuran. Mereka tahu bagaimana Maria tetap hamil dan mereka ingin membuang kotoran ke ibu Yesus. Bagi saya, ini adalah bagian yang terburuk, yang paling jahat, dalam Injil. Dan risiko Yosef (Yusuf) memberi kita pelajaran ini : menerima kehidupan apa adanya. Apakah Allah campur tangan di sana? Saya menerimanya. Dan Yosef (Yusuf) berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan : Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia" – tanpa tinggal bersama Maria sedang menantikan seorang anaklaki-laki – "sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus” (Mat 1:24-25). Pasangan Kristiani yang telah bertunangan dipanggil untuk memberikan cinta seperti ini yang memiliki keberanian untuk beralih dari nalar jatuh cinta ke nalar cinta yang dewasa. Ini adalah pilihan yang menuntut ketimbang memenjarakan hidup, dapat membentengi cinta agar bertahan ketika menghadapi cobaan waktu. Cinta pasangan berkembang dalam kehidupan dan menjadi dewasa setiap hari. Cinta selama pertunangan sedikit – perkenankan saya menggunakan kata tersebut – sedikit romantis. Kamu semua pernah mengalami hal ini, tetapi kemudian cinta yang dewasa dimulai, cinta yang hidup setiap hari, dari pekerjaan, dari anak-anak yang datang… Dan terkadang romantisme itu sedikit menghilang, bukan? Tetapi bukankah itu cinta? Ya, tetapi cinta yang dewasa. “Tetapi tahukah Bapa, terkadang kami bertengkar…” Ini sudah terjadi sejak zaman Adam dan Hawa hingga saat ini, eh! Pertengkaran pasangan itu adalah makanan kita sehari-hari, eh! "Tetapi kita seharusnya tidak bertengkar?" Ya, ya, kamu harus. Itu terjadi. Saya tidak mengatakan kamu harus melakukannya, tetapi itu terjadi. “Dan, Bapa, terkadang kami meninggikan suara kami…” Itu terjadi. "Dan bahkan ada kalanya piring berterbangan". Itu terjadi. Tetapi apa yang bisa dilakukan agar ini tidak merusak kehidupan pernikahan?

 

Dengarkan aku baik-baik : jangan pernah mengakhiri hari tanpa berdamai. "Kami berkelahi. Ya Tuhan, aku mengatakan kata-kata yang buruk. Aku mengatakan hal-hal yang mengerikan. Tetapi sekarang, mengakhiri hari, aku harus berdamai”. Kamu tahu mengapa? Karena perang dingin keesokan harinya sangat berbahaya. Jangan biarkan perang dimulai keesokan harinya. Untuk itu, berdamailah sebelum tidur. "Tetapi, Bapa, Bapa tahu, aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan diri untuk berdamai setelah situasi mengerikan yang kami alami". Sangat mudah. Lakukan hal ini (Paus membelai pipinya) dan perdamaian sudah tercipta. Ingatlah hal ini selalu. Ingatlah selalu : jangan pernah mengakhiri hari tanpa berdamai. Dan hal ini akan membantumu dalam kehidupan pernikahanmu. Bagi mereka dan semua suami istri yang ada di sini. Gerakan dari jatuh cinta ke cinta yang dewasa ini adalah pilihan yang menuntut, tetapi kita harus memilih jalan itu.

 

Kali ini juga, marilah kita tutup dengan doa kepada Santo Yosef (Yusuf).

 

Santo Yosef (Yusuf),

Engkau yang mengasihi Maria dengan bebas,

dan memilih untuk meninggalkan angan-anganmu demi memberi jalan kepada kenyataan,

tolonglah kami masing-masing untuk memperkenankan diri kami dikejutkan oleh Allah

dan menerima kehidupan bukan sebagai sesuatu yang tidak terduga untuk membela diri,

tetapi sebagai misteri yang menyembunyikan rahasia kebahagiaan sejati.

Anugerahkanlah sukacita dan radikalitas bagi segenap orang Kristiani yang telah bertunangan,

seraya senantiasa menyadari

hanya belas kasihan dan pengampunan yang memungkinkan cinta. Amin.

 

Terima kasih.

 

[Imbauan]

 

Hari ini adalah Hari AIDS Sedunia. Sebuah kesempatan penting untuk mengingat banyak orang yang terkena virus ini. Bagi kebanyakan orang, di beberapa wilayah di dunia, akses ke perawatan yang diperlukan tidak tersedia. Saya mengharapkan dimungkinkanya ada komitmen baru dalam kesetiakawanan untuk menjamin perawatan kesehatan yang adil dan efektif.

 

Besok saya akan pergi ke Siprus dan kemudian ke Yunani untuk mengunjungi penduduk negara-negara tercinta ini yang kaya akan sejarah, spiritualitas, dan peradaban. Ini akan menjadi perjalanan ke sumber iman apostolik dan persaudaraan di antara umat Kristiani dari berbagai pengakuan. Saya juga akan memiliki kesempatan untuk mendekati umat manusia yang terluka dalam diri begitu banyak migran yang mencari harapan : saya akan mengunjungi Lesbos. Saya meminta kamu semua, tolong, untuk menyertai saya dengan doamu. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyambut para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, terutama kelompok-kelompok dari Amerika Serikat. Saya mendoakan agar kamu masing-masing, dan keluargamu, dapat mengalami bahagia Adven, sebagai persiapan untuk kedatangan Sang Juruselamat dunia yang baru lahir. Semoga Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari terkasih : Dalam katekese lanjutan kita tentang Santo Yosef (Yusuf), sekarang kita bercermin pada gambaran Santo Matius tentang Yosef (Yusuf) sebagai “seorang yang tulus hati” dan “suami Maria”. Sebagai putra Israel yang saleh, Yosef (Yusuf) dengan rela tunduk pada persyaratan Hukum Taurat dan ajarannya tentang pernikahan. Setelah mengetahui bahwa Maria sudah mengandung, karena cinta dan perhatiannya, Yosef (Yusuf) berusaha untuk tidak mempermalukannya dengan menceraikannya di muka umum. Kemudian, dalam mimpi, Yusuf mengetahui dari seorang malaikat bahwa tidaklah keliru ia hendaknya menikahi Maria, karena Maria mengandung putranya berkat kuasa Roh Kudus. Berkat pemeliharaan Allah, Yosef (Yusuf) sampai pada pemahaman yang lebih dalam tentang keadilan ilahi dan tuntutan otentiknya. Keterbukaan Yosef (Yusuf) dan Maria terhadap rencana penyelamatan Allah membawa cinta mereka menuju kedewasaan yang diungkapkan dalam keutamaan kekudusan, kesetiaan, rasa hormat, dan kerendahan hati. Jauh dari membatasi kebebasan kita, keutamaan-keutamaan ini justru memberikan arah dan ketahanan cinta kita. Dalam pemahaman ini, Yosef (Yusuf) dan Maria dapat menjadi teladan tidak hanya bagi kaum muda yang telah bertunangan, tetapi juga bagi kita semua, yang juga di tengah tantangan hidup yang tak terelakkan, terpanggil untuk menemukan sukacita dan kebebasan sejati yang berasal dari perhatian dan pemeliharaan Allah yang tulus atas kehidupan kita.

______



(Peter Suriadi - Bogor, 1 Desember 2021)