Liturgical Calendar

Showing posts with label Wejangan Audiensi Umum 2023. Show all posts
Showing posts with label Wejangan Audiensi Umum 2023. Show all posts

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 27 Desember 2023 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG KEBURUKAN DAN KEBAJIKAN (BAGIAN 1 : PENDAHULUAN) - MENJAGA HATI

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini saya ingin memperkenalkan sebuah rangkaian katekese – sebuah rangkaian baru – dengan tema keburukan dan kebajikan. Dan kita dapat memulainya dari bagian awal Kitab Suci, di mana Kitab Kejadian, melalui kisah nenek moyang, menyajikan dinamika kejahatan dan godaan. Marilah kita memperhatikan surga di bumi. Dalam gambaran indah yang diwakili oleh Taman Eden, muncul sosok yang akan menjadi lambang pencobaan: ular, sosok yang menggoda. Ular adalah binatang yang berbahaya: ia bergerak lambat, merayap di tanah, dan terkadang kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya – ia diam – karena ia berhasil menyamarkan dirinya dengan baik dalam lingkungannya, dan terutama, hal ini berbahaya.

 

Ketika ia mulai berkomunikasi dengan Adam dan Hawa, ia menunjukkan bahwa ia juga seorang ahli dialektika yang halus. Awalnya seperti yang dilakukan seseorang dengan gosip yang jahat, dengan pertanyaan yang jahat. Ia berkata, “Tentulah Allah berfirman: Jangan kamu makan buah dari semua pohon di taman ini, bukan?” (Kej 3:1). Ungkapan tersebut keliru: pada kenyataannya, Allah menawarkan kepada laki-laki dan perempuan semua buah dari pohon-pohon di taman itu, selain buah dari pohon tertentu: pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Larangan ini bukan dimaksudkan untuk melarang manusia menggunakan akal budinya, sebagaimana sering disalahartikan, namun merupakan ukuran kebijaksanaan. Seolah-olah mau dikatakan: kenali batas kemampuanmu, jangan merasa dirimulah penguasa segalanya, karena kesombongan adalah awal dari segala kejahatan. Oleh karena itu, kisah ini menceritakan kepada kita bahwa Allah menetapkan nenek moyang kita sebagai penguasa dan penjaga ciptaan, namun ingin melindungi mereka dari anggapan kemahakuasaan, menjadikan diri mereka penguasa atas kebaikan dan kejahatan, yang merupakan sebuah godaan – sebuah godaan yang buruk, bahkan hingga saat ini. Ini adalah jebakan paling berbahaya bagi hati manusia.

 

Sebagaimana kita ketahui, Adam dan Hawa tidak mampu menahan godaan ular. Gagasan tentang sesosok Allah yang tidak begitu baik, yang ingin membuat mereka tetap menjadi bawahan, yang ingin membuat mereka tetap tunduk kepada-Nya, tertanam dalam pikiran mereka: itulah sebabnya segalanya runtuh.

 

Dengan kisah ini, Kitab Suci menjelaskan kepada kita bahwa kejahatan tidak dimulai dalam diri manusia secara riuh rendah, ketika suatu perbuatan telah terwujud, namun kejahatan dimulai jauh lebih awal, ketika kita mulai mengkhayalkannya, merawatnya dalam khayalan, pikiran, dan akhirnya terjerat oleh bujukannya. Pembunuhan Habel tidak dimulai dengan lemparan batu, tetapi dengan dendam kesumat yang disimpan Kain, mengubahnya menjadi monster di dalam dirinya. Dalam kasus ini pun, saran Allah tidak ada gunanya.

 

Saudara-saudari, janganlah kita sekali-kali berdialog dengan iblis. Jangan pernah! Kamu tidak boleh berdebat. Yesus tidak pernah berdialog dengan iblis; Ia mengusirnya. Dan ketika berada di padang gurun, [dengan] godaan, Ia tidak menanggapinya dengan dialog; Ia hanya menanggapinya dengan sabda Kitab Suci, dengan sabda Allah. Berhati-hatilah: iblis adalah penggoda. Jangan pernah berdialog dengannya, karena ia lebih cerdas dari kita semua dan ia akan membuat kita membayarnya. Ketika godaan datang, jangan pernah berdialog. Tutuplah pintu, tutuplah jendela, tutuplah hatimu. Jadi, kita membela diri terhadap bujukan ini, karena iblis cerdik dan cerdas. Ia mencoba menggoda Yesus dengan kutipan dari Kitab Suci! Di sana ia adalah seorang teolog yang hebat. Kamu jangan berdialog dengan iblis. Apakah kamu memahami hal ini? Berhati-hatilah. Kita tidak boleh berbicara dengan iblis, dan kita tidak boleh menghibur diri dengan godaan. Jangan ada dialog. Godaan datang, kita tutup pintu. Kita menjaga hati kita.

 

Dan itulah sebabnya kita tidak berkomunikasi dengan iblis. Inilah saran – jagalah hati – yang kita temukan dalam diri para bapa, para kudus: jagalah hati. Jagalah hati. Dan kita harus memohon rahmat pembelajaran menjaga hati ini. Bagaimana menjaga hati adalah salah satu bentuk kebijaksanaan. Semoga Tuhan membantu kita [dalam] pekerjaan ini. Orang yang menjaga hati justru menjaga hartanya. Saudara-saudari, marilah kita belajar menjaga hati. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Dengan hangat saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Malta, Hong Kong dan Korea. Semoga kamu masing-masing, dan keluargamu, menyimpan dalam hati sukacita Masa Natal ini, dan mendekatkan diri dalam doa kepada Sang Juruselamat yang telah datang untuk tinggal di antara kita. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Hari ini kita memulai rangkaian katekese tentang kebajikan dan keburukan yang menentangnya. Perikop-perikop awal Kitab Suci menyajikan kepada kita drama tentang kebaikan asali, godaan dan dosa. Sang Penggoda, dalam bentuk seekor ular, bersifat halus, menimbulkan keraguan terhadap kebijaksanaan dan kehendak Allah, serta mempermainkan ambisi dan kesombongan kita. Sebagaimana kasih memiliki ganjaran, demikian pula kejahatan memiliki hukuman; hanya setelah berbuat dosa barulah kita benar-benar menghargai kesalahan yang telah kita lakukan. Kitab Suci dan para guru kehidupan rohani mendesak kita untuk mengenali dan menolak kejahatan sampai ke akar-akarnya, waspada terhadap tipu muslihat iblis, dan terutama, terus menjaga hati kita, jangan sampai dorongan dosa mengancam kedekatan kita pada Tuhan dan ketaatan kita pada rencana kasih-Nya bagi kehidupan kita.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 27 Desember 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 20 Desember 2023 : KANDANG NATAL GRECCIO, SEKOLAH KESEDERHANAAN DAN SUKACITA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Delapan ratus tahun yang lalu, pada hari Natal tahun 1223, Santo Fransiskus membuat kandang Natal yang hidup di Greccio. Sementara kandang Natal sedang dipersiapkan atau diselesaikan di rumah-rumah dan tempat-tempat lain, ada baiknya kita menemukan kembali asal-usulnya.

 

Bagaimana palungan muncul? Apa niat Santo Fransiskus? Ia mengatakan ini : “Aku ingin menggambarkan Anak yang lahir di Betlehem, dan dengan cara tertentu melihat dengan mata tubuh kesulitan-kesulitan yang Ia alami karena ketiadaan berbagai hal yang diperlukan untuk seorang bayi : bagaimana Ia dibaringkan di palungan dan bagaimana Ia berbaring di atas jerami di antara lembu dan keledai” (Tommaso da Celano, Vita prima, XXX, 84: FF 468). Paus Fransiskus tidak ingin menciptakan sebuah karya seni yang indah, namun melalui kandang Natal, membangkitkan keheranan atas kerendahan hati Tuhan yang luar biasa, atas kesulitan yang Ia derita, demi mengasihi kita, di gua miskin di Betlehem. Faktanya, penulis biografi Santo Fransiskus dari Asisi mencatat, “Dalam kandang Natal yang mengharukan itu, kesederhanaan injili bersinar, kemiskinan dipuji, dan kerendahan hati dikaitkan. Dan Greccio telah menjadi seperti Betlehem baru” (idem., 85).

 

Saya telah menekankan satu kata, “keheranan”. Dan ini penting. Jika kita umat Kristiani memandang palungan sebagai sesuatu yang indah, sebagai sesuatu yang bersejarah, bahkan rohani, dan berdoa, ini tidak memadai. Berhadapan dengan misteri penjelmaan Sabda, berhadapan dengan kelahiran Yesus, kita memerlukan sikap keheranan rohani ini. Jika saya, ketika berhadapan dengan misteri-misteri ini, tidak sampai pada keheranan ini, maka iman saya dangkal semata; sebuah "keyakinan komputasi". Jangan lupakan hal ini.

 

Dan salah satu ciri khas kandang Natal yaitu kandang Natal dipahami sebagai sekolah ketenangan hati. Dan hal ini ingin menyampaikan banyak hal kepada kita. Pada kenyataannya, saat ini, risiko melupakan apa yang penting dalam hidup sangat besar dan secara paradoks meningkat justru saat Natal — mentalitas Natal berubah — terjerumus dalam konsumerisme yang merusak maknanya. Konsumerisme Natal. Memang benar, kamu ingin memberi hadiah, tidak apa-apa, itu salah satu cara, tetapi hiruk pikuk berbelanja menarik perhatian ke tempat lain dan tidak ada ketenangan Natal. Marilah kita memandang palungan : keheranan di depan palungan. Kadang-kadang tidak ada ruang batin untuk heran, tetapi hanya untuk mengelola pesta, mengadakan pesta.

 

Dan kandang Natal diciptakan untuk membawa kita kembali kepada hal yang penting : kepada Allah yang datang untuk tinggal di antara kita. Itulah mengapa memandang kandang Natal penting karena membantu kita memahami apa yang penting dan juga hubungan sosial Yesus pada saat itu, keluarga, Yusuf dan Maria, serta orang-orang terkasih, para gembala. Orang-orang sebelum segala sesuatu. Dan sering kali kita mendahulukan kepentingan orang lain. Ini tidak berjalan baik.

 

Tetapi kandang Natal di Greccio selain ketenangan hati yang membuat kita melihat, juga berbicara tentang sukacita. Karena sukacita berbeda dengan bersenang-senang. Namun bersenang-senang bukan hal yang buruk jika dilakukan di jalan yang baik. Bersenang-senang bukan hal yang buruk, bersenang-senang adalah hal yang manusiawi. Namun sukacita masih lebih dalam. Lebih manusiawi. Dan terkadang ada godaan untuk bersenang-senang tanpa sukacita; bersenang-senang dengan membuat kegaduhan, tetapi tidak ada sukacita. Sedikit mirip sosok badut yang tertawa-tawa, membuat orang tertawa, namun hatinya sedih. Sukacita adalah akar kesenangan Natal.

 

Dan mengenai ketenangan hati, kronik di masa lalu mengatakan, “Dan tibalah hari kegembiraan, saat sorak-sorai! [...] Fransiskus [...] bersinar [...]. Orang-orang berbondong-bondong dan bersorak-sorai dengan sukacita yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya [...]. Semua orang pulang ke rumah dengan penuh sukacita yang tak terlukiskan" (Vita prima, XXX, 85-86: FF 469-470). Ketenangan, keheranan, menuntunmu kepada sukacita, sukacita sejati, bukan sukacita yang dibuat-buat.

 

Tetapi dari mana datangnya sukacita Natal ini? Tentu saja bukan karena membawa pulang hadiah atau mengalami perayaan mewah. Tetapi, sukacita yang meluap dari hati ketika kita secara nyata menyentuh kedekatan Yesus, kelembutan Allah, yang tidak meninggalkan kita sendirian, tetapi menghibur kita. Kedekatan, kelembutan, dan kasih sayang, itulah tiga sikap Allah. Dan memandang kandang Natal, berdoa di depan kandang Natal, kita dapat mengalami hal-hal Tuhan yang membantu kita dalam kehidupan sehari-hari.


Saudara-saudari terkasih, kandang Natal bagaikan sebuah sumur kecil yang darinya kita dapat mendekatkan diri kepada Allah, sumber pengharapan dan sukacita. Kandang Natal bagaikan Injil yang hidup, Injil rumah tangga. Bagaikan sumur dalam Kitab Suci, kandang Natal adalah tempat perjumpaan di mana kita membawa kepada Yesus harapan dan kekhawatiran hidup, seperti yang dilakukan para gembala di Betlehem dan umat Greccio. Membawa kepada Yesus harapan dan kekhawatiran hidup.


Jika, di depan kandang Natal, kita mempercayakan semua yang kita sayangi kepada Yesus, kita juga akan mengalami “sukacita yang besar” (Mat 2:10), suatu sukacita yang datang justru dari permenungan, dari semangat keheranan yang dengannya saya merenungkan misteri-misteri ini.

 

Marilah kita menuju kandang Natal. Lihatlah, setiap orang, dan biarkan hatimu merasakan sesuatu. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat kepada para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris, terutama yang datang dari Malaysia dan Nigeria. Di hari-hari terakhir sebelum perayaan kelahiran Tuhan di hari Natal, saya memohonkan atasmu dan keluargamu sukacita dan damai Tuhan Yesus, Sang Putra Allah dan Raja Damai. Allah memberkatimu!

 

[Imbauan]

 

Pikiran saya tertuju kepada orang-orang yang meninggal dan orang-orang yang terluka akibat gempa bumi dahsyat yang melanda provinsi Gansu dan Qinghai di Tiongkok, Senin lalu. Dengan kasih sayang dan doa saya dekat dengan orang-orang yang sedang menderita tersebut; saya mendorong layanan bantuan; dan saya memohonkan segenap berkat Allah yang Mahakuasa, agar Ia memberikan penghiburan dan keringanan dalam kesedihan mereka.

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Delapan ratus tahun yang lalu pada Natal ini, di Greccio, Santo Fransiskus dari Asisi menciptakan kembali adegan kelahiran Tuhan kita. Tradisi indah memasang palungan di dalam keluarga dan komunitas kita mengingatkan kita akan makna sesungguhnya kelahiran Kristus: kedekatan dengan Tuhan kita, yang datang di antara kita dalam kemiskinan untuk memperkaya kita dengan karunia kasih-Nya yang menyelamatkan. Semoga perenungan kita terhadap palungan mengilhami kita untuk merayakan hari-hari suci ini dalam kesederhanaan, sukacita rohani dan rasa syukur atas karunia kehadiran Kristus di antara kita, sumber harapan kita, terang hidup kita dan janji perdamaian bagi dunia kita yang bermasalah.
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 20 Desember 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 13 Desember 2023 : HASRAT PENGINJILAN : SEMANGAT KERASULAN ORANG PERCAYA (BAGIAN 30) - EFATA, GEREJA, TERBUKALAH

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Hari ini kita akan mengakhiri rangkaian katekese yang bertema semangat kerasulan, yang di dalamnya kita telah memperkenankan Sabda Allah mengilhami kita, membantu menumbuhkan semangat untuk mewartakan Injil. Dan hal ini melibatkan setiap umat Kristiani. Marilah kita perhatikan fakta bahwa dalam Pembaptisan, petugas upacara, sambil menyentuh telinga dan bibir orang yang dibaptis, berkata: “Semoga Tuhan Yesus, yang membuat orang tuli mendengar dan orang bisu berkata-kata, mengabulkan agar kamu segera menerima sabda-Nya dan mengakukan iman" (bdk. Mrk 7:31-35).


Dan kita telah mendengar tentang mukjizat Yesus. Penginjil Markus berusaha keras menjelaskan di mana mukjizat ini terjadi : menuju “Danau Galilea” (Mrk 7:31). Apa persamaan kedua wilayah ini? Faktanya kedua wilayah tersebut sebagian besar dihuni oleh orang-orang kafir. Kedua wilayah tersebut tidak dihuni oleh orang-orang Yahudi, tetapi kebanyakan oleh orang-orang kafir. Para murid pergi bersama Yesus, yang dapat membuka telinga dan mulut, sehingga terjadi fenomena bisu, tuli, yang juga merupakan metafora dalam Kitab Suci, menandakan tertutup terhadap panggilan Allah. Ada orang yang tuli secara fisik, namun di dalam Kitab Suci, orang yang tuli terhadap Sabda Allah adalah orang yang bisu, dan tidak menyampaikan Sabda Allah.


Ada tanda yang menunjukkan lainnya: Injil melaporkan perkataan Yesus yang menentukan dalam bahasa Aram. Efata yang artinya terbukalah, semoga telinga terbuka, lidah terbuka. Dan efata merupakan undangan yang ditujukan bukan kepada orang tuli, yang tidak dapat mendengarkan-Nya, melainkan ditujukan kepada murid-murid pada masa itu dan di segala zaman. Kita juga, yang telah menerima efatha Roh dalam Pembaptisan, dipanggil untuk bersikap terbuka. “Bersikaplah terbuka”, Yesus berkata kepada setiap orang percaya dan Gereja-Nya: terbukalah karena pesan Injil membutuhkanmu untuk mempersaksikan dan mewartakannya! Dan ini juga membuat kita berpikir tentang sikap umat Kristiani: umat Kristiani harus terbuka terhadap Sabda Allah dan melayani sesama. Umat Kristiani yang tertutup selalu berakhir buruk karena mereka bukan umat Kristiani. Mereka adalah para ideolog ketertutupan. Orang Kristiani harus terbuka terhadap pewartaan Sabda, dan menyambut saudara-saudarinya. Dan inilah sebabnya efata, kata “terbukalah” ini, merupakan sebuah undangan kepada kita semua untuk membuka diri.

 

Bahkan di bagian akhir Injil, Yesus mempercayakan kepada kita hasrat misioner-Nya : berangkat, pergi dan berhasrat, pergi dan mewartakan Injil.

 

Saudara-saudara, marilah kita semua merasa terpanggil, sebagai orang-orang yang dibaptis, untuk menjadi saksi-saksi dan mewartakan Yesus. Dan marilah kita memohon rahmat, sebagai Gereja, untuk mewujudkan pertobatan pastoral dan misioner. Di tepi Danau Galilea, Tuhan bertanya kepada Petrus apakah ia mengasihi-Nya dan kemudian memintanya untuk menggembalakan domba-Nya (bdk. ayat 15-17). Marilah kita juga bertanya pada diri kita. Marilah kita masing-masing menanyakan pertanyaan ini pada diri kita, marilah kita bertanya pada diri kita: Apakah aku benar-benar mengasihi Tuhan sampai pada titik ingin mewartakan Dia? Apakah aku ingin menjadi saksi-Nya atau aku puas menjadi murid-Nya? Apakah aku menaruh hati pada orang-orang yang kutemui, membawa mereka kepada Yesus dalam doa? Apakah aku ingin melakukan sesuatu agar sukacita Injil, yang telah mengubah hidupku, dapat membuat hidup mereka semakin indah? Marilah kita memikirkan hal ini, marilah kita memikirkan pertanyaan-pertanyaan ini dan melanjutkan kesaksian kita.

 

[Imbauan]

 

Saya masih terus mengikuti perang di Israel dan Palestina dengan penuh keprihatinan.

 

Saya kembali mengimbau untuk segera melakukan gencatan senjata kemanusiaan. Ada banyak penderitaan di sana. Saya mendorong semua pihak yang terlibat untuk melanjutkan perundingan, dan saya meminta semua orang untuk membuat komitmen mendesak guna memastikan bantuan kemanusiaan dapat menjangkau masyarakat Gaza, yang berada di ujung tanduk dan sangat membutuhkannya.

 

Semoga seluruh sandera dibebaskan. Mereka melihat adanya harapan dalam gencatan senjata baru-baru ini. Semoga penderitaan besar yang dialami Israel dan Palestina berakhir.

 

Tolong: tidak pada senjata, ya pada perdamaian!

 

[Sapaan Khusus]

 

Dengan hangat saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya rombongan dari Malaysia dan Amerika Serikat. Saya berdoa agar kamu masing-masing, dan keluargamu, dapat mengalami masa Adven yang terberkati sebagai persiapan menyambut kedatangan Sang Juruselamat yang baru lahir pada hari Natal. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Katekese hari ini mengakhiri rangkaian refleksi kita mengenai semangat kerasulan dan perutusan baptisan kita untuk menjadi saksi-saksi yang penuh sukacita bagi Injil Yesus Kristus. Dalam upacara Pembaptisan, bibir kita diberkati sebagai tanda bahwa, dilahirkan kembali di dalam Kristus berkat kuasa Roh Kudus, kita diutus untuk membagikan kepada sesama kita Kabar Baik tentang penebusan kita dan martabat baru kita sebagai putra dan putri angkat Bapa. Semoga kasih Allah, yang dicurahkan ke dalam hati kita melalui karunia Roh Kudus, mengilhami dalam diri kita semangat yang semakin besar untuk perutusan Gereja dalam mewartakan Injil, mendekatkan segenap hati kepada Kristus dan berupaya menyebarkan Kerajaan kekudusan, keadilan dan perdamaian-Nya.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 14 Desember 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 6 Desember 2023 : HASRAT PENGINJILAN : SEMANGAT KERASULAN ORANG PERCAYA (BAGIAN 29)

Saudara-saudari terkasih,

 

Dalam katekese-katekese terakhir kita melihat pewartaan Injil adalah sebuah sukacita, bagi semua orang, dan ditujukan untuk hari kini. Sekarang marilah kita temukan ciri terakhir yang hakiki : pewartaan perlu dilakukan dalam Roh Kudus. Memang benar, untuk “menyampaikan Allah”, sukacita kesaksian yang dapat dipercaya, universalitas pewartaan dan ketepatan waktu pesan tidak memadai. Tanpa Roh Kudus, seluruh semangat sia-sia dan bersifat kerasulan palsu: semangat itu hanya akan menjadi milik kita sendiri dan tidak akan menghasilkan buah.

 

Dalam Evangelii Gaudium saya mengingatkan bahwa “Yesus adalah pewarta yang pertama dan terbesar. Dalam setiap kegiatan pewartaan, keutamaan adalah milik Tuhan, yang telah memanggil kita untuk bekerja sama bersama-Nya dan yang menuntun kita dengan kuasa Roh-Nya” (no. 12). Inilah keutamaan Roh Kudus! Oleh karena itu, Tuhan mengumpamakan dinamisme Kerajaan Allah dengan “seseorang yang menaburkan] benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu” (Mrk 4:26-27). Roh adalah pelaku utamanya; ia selalu mendahului para misionaris dan membuat buah tumbuh. Pemahaman ini sangat menghibur kita! Dan pemahaman ini membantu kita untuk menjelaskan hal lain yang juga sama menentukannya : yaitu, dalam semangat apostoliknya, Gereja tidak mewartakan dirinya sendiri, melainkan rahmat, karunia, dan Roh Kudus justru merupakan karunia Allah, sebagaimana dikatakan Yesus kepada perempuan Samaria (bdk. Yoh 4:10).

 

Namun, keutamaan Roh Kudus tidak boleh membuat kita bermalas-malasan. Keyakinan tidak membenarkan pemisahan. Daya hidup benih yang tumbuh dengan sendirinya tidak membuat petani terbengkalai di ladang. Yesus, dalam memberikan rekomendasi terakhirnya sebelum naik ke surga, berkata, “Kamu akan menerima kuasa bila Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku … sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8).


Tuhan tidak meninggalkan kita catatan kuliah teologis atau pedoman pastoral untuk diterapkan, namun Roh Kudus yang mengilhami perutusan. Dan prakarsa berani yang ditanamkan Roh dalam diri kita menuntun kita untuk meneladan gaya-Nya, yang selalu memiliki dua ciri : kreativitas dan kesederhanaan.


Kreativitas, mewartakan Yesus dengan sukacita, kepada semua orang dan hari ini. Di zaman kita ini, yang tidak membantu kita memiliki pandangan hidup religius, dan di mana pewartaan di berbagai tempat menjadi semakin sulit, sukar, tampaknya tidak membuahkan hasil, godaan untuk berhenti dari pelayanan pastoral mungkin timbul. Mungkin kita berlindung pada zona aman, seperti kebiasaan mengulangi hal-hal yang selalu kita lakukan, atau pada seruan spiritualitas intimis yang memikat, atau bahkan pada pemahaman yang salah tentang sentralitas liturgi. Godaan-godaan tersebut merupakan godaan yang menyamar sebagai kesetiaan terhadap tradisi, namun sering kali, alih-alih tanggapan terhadap Roh, godaan-godaan tersebut merupakan reaksi terhadap ketidakpuasan pribadi. Sebaliknya, kreativitas pastoral, berani dalam Roh, bersemangat dalam semangat misioner-Nya, adalah bukti kesetiaan kepada-Nya. Oleh karena itu, saya menulis bahwa “Yesus juga dapat menerobos kategori-kategori membosankan yang kita sertakan pada-Nya dan Dia senantiasa membuat kita takjub dengan daya cipta ilahi-Nya. Kapan pun kita berusaha kembali kepada sumber dan memulihkan kesegaran asli Injil, jalan-jalan baru muncul, lorong-lorong kreativitas baru terbuka, dengan berbagai bentuk ungkapan, tanda-tanda dan kata-kata yang lebih fasih dengan makna baru bagi dunia dewasa ini” (Evangelii Gaudium, 11).

Oleh karena itu, kreativitas; dan kemudian kesederhanaan, tepatnya karena Roh membawa kita ke sumbernya, ke “pewartaan pertama”. Memang benar, “api Roh … [yang] membimbing kita untuk percaya akan Yesus Kristus yang, dengan wafat dan kebangkitan-Nya, mewahyukan dan menyampaikan kepada kita belas kasih Bapa
yang tanpa batas” (Evangelii Gaudium, no. 164). Ini adalah pewartaan pertama, yang hendaknya “menjadi pusat dari semua kegiatan evangelisasi dan seluruh upaya untuk pembaruan Gereja"; disuarakan berulang-ulang : 'Yesus Kristus mencintaimu; Ia menyerahkan hidup-Nya untuk menyelamatkanmu; dan sekarang Ia tinggal di sampingmu setiap hari untuk menerangi, menguatkan dan membebaskanmu'” (Evangelii Gaudium, no. 164).


Saudara-saudari, marilah kita membiarkan diri kita ditarik oleh Roh dan memohon kepada-Nya setiap hari; semoga Ia menjadi sumber keberadaan dan pekerjaan kita; semoga Ia menjadi asal muasal setiap kegiatan, perjumpaan, pertemuan dan pewartaan. Ia menghidupkan dan meremajakan Gereja: bersama-Nya kita tidak boleh takut, karena Ia, yang merupakan keselarasan, selalu menyatukan kreativitas dan kesederhanaan, mengilhami persekutuan dan perutusan, terbuka terhadap keberagaman dan menuntun kembali pada persatuan. Dialah kekuatan kita, nafas pewartaan kita, sumber semangat kerasulan. Datanglah, Roh Kudus!

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa seluruh peziarah berbahasa Inggris, khususnya kelompok dari Malta, Australia, Jepang, Indonesia dan Amerika Serikat. Kepada kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dalam katekese lanjutan kita mengenai semangat kerasulan, kini kita merenungkan bagaimana pewartaan Injil selalu terjadi dalam kuasa Roh Kudus. Sebagai karunia Allah (bdk. Yoh 4:10), Roh mempersiapkan, menopang dan mendorong pertumbuhan dan kehidupan baru dalam Gereja. Namun dalam setiap kegiatan evangelisasi, keutamaan selalu ada pada Allah Bapa, yang telah mengutus Putra-Nya ke tengah-tengah kita dan menganugerahkan karunia Roh Kudus kepada Gereja. Dalam kesaksian kita terhadap Kristus yang bangkit, kita dipanggil untuk meneladan kreativitas dan kesederhanaan yang merupakan ciri khas karya Roh Kudus. Semoga api Roh Kudus terus berkobar di dalam diri kita, menguatkan kita dalam kesatuan dan semangat misioner, ketika kita berusaha menjadi saksi sukacita keselamatan kita di dalam Kristus, bahkan sampai ke ujung bumi.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 6 Desember 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 29 November 2023 : HASRAT PENGINJILAN : SEMANGAT KERASULAN ORANG PERCAYA (BAGIAN 28) - PEWARTAAN DITUJUKAN UNTUK HARI INI (3)

Saudara-saudari terkasih,

 

Dua pekan terakhir kita telah melihat pewartaan Kristiani adalah sebuah sukacita, dan ditujukan untuk semua orang; hari ini kita akan melihat aspek ketiga : pewartaan Kristiani ditujukan untuk hari ini.

 

Kita hampir selalu mendengar hal-hal buruk dibicarakan hari ini. Tentu saja, dengan adanya peperangan, perubahan iklim, ketidakadilan dan migrasi di seluruh dunia, krisis keluarga dan harapan, tidak ada kekurangan yang perlu dikhawatirkan. Secara umum, hari kini tampaknya dihuni oleh budaya yang menempatkan individu di atas segalanya dan teknologi sebagai pusat segalanya, dengan kemampuannya memecahkan banyak masalah dan kemajuan besar di berbagai bidang. Namun pada saat yang sama, budaya kemajuan teknis-individu ini mengarah pada penegasan kebebasan yang tidak ingin membatasi dirinya dan tidak peduli pada mereka yang tertinggal. Oleh karena itu, besarnya cita-cita manusia terbawa ke dalam nalar ekonomi yang seringkali rakus, dengan visi hidup yang tidak berpihak pada mereka yang tidak produktif dan bergumul untuk melihat melampaui hal-hal yang ada. Kita bahkan dapat mengatakan bahwa kita berada dalam peradaban pertama dalam sejarah yang secara global berupaya untuk mengelola masyarakat manusia tanpa kehadiran Allah, terkonsentrasi di kota-kota besar yang tetap mendatar meskipun terdapat gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.

 

Kisah tentang kota Babel dan menaranya terlintas dalam pikiran (bdk. Kej 11:1-9). Kisah tersebut menceritakan sebuah proyek sosial yang melibatkan pengorbanan segenap individualitas demi efisiensi kolektif. Umat ​​​​manusia hanya berbicara dalam satu bahasa – kita dapat mengatakan bahwa ia memiliki “cara berpikir tunggal” – seolah-olah diselimuti semacam mantra umum yang menyerap keunikan masing-masing bahasa ke dalam gelembung keseragaman. Kemudian Allah mengacaukan bahasa-bahasa tersebut dengan menegakkan kembali perbedaan-perbedaan, menciptakan kembali kondisi-kondisi untuk mengembangkan keunikan, menghidupkan kembali keberagaman di mana ideologi ingin memaksakan ketunggalan. Tuhan juga mengalihkan perhatian umat manusia dari igauan kemahakuasaan : “Marilah kita mencari nama”, kata penduduk Babel (ayat 4) yang meninggikan derajat, yang ingin mencapai surga, untuk menempatkan diri mereka di tempat Allah. Namun hal ini adalah ambisi yang berbahaya, mengasingkan, dan merusak, dan Tuhan, dengan mengacaukan harapan-harapan ini, melindungi umat manusia, mencegah bencana yang akan datang. Kisah ini benar-benar tampak hangat : bahkan hari ini, keterpaduan, alih-alih persaudaraan dan perdamaian, sering kali berlandaskan ambisi, nasionalisme, persetujuan oleh pihak berwenang, dan tatanan tekno-ekonomi yang menanamkan keyakinan bahwa Allah tidak penting dan tidak berguna : karena kita tidak mencari semakin banyak pengetahuan, tetapi terutama demi semakin banyak kekuasaan. Sebuah godaan yang meliputi tantangan-tantangan besar dalam budaya hari kini.

 

Dalam Evangelii Gaudium saya mencoba menggambarkan hal-hal lain (bdk. no. 52-75), namun yang terpenting saya menyerukan “evangelisasi yang mampu memberi terang kepada cara-cara baru berelasi dengan Allah, dengan sesama serta dengan dunia sekitar kita, dan yang membangkitkan nilai-nilai dasar. Evangelisasi ini harus menjangkau tempat-tempat di mana narasi-narasi dan paradigma-paradigma baru sedang dibentuk, dengan membawa sabda Yesus kepada relung terdalam jiwa-jiwa di kota-kota kita” (no. 74). Dengan kata lain, Yesus hanya bisa diwartakan dengan cara hidup dalam budaya pada masa kita; dan selalu mencamkan kata-kata Rasul Paulus tentang hari ini : “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu” (2 Kor 6:2). Oleh karena itu, tidak perlu membandingkan hari kini dengan visi-visi alternatif di masa lalu. Juga tidak cukup hanya sekadar mengulang-ulang keyakinan agama yang sudah ada, yang, betapapun benarnya, menjadi abstrak seiring berjalannya waktu. Suatu kebenaran menjadi semakin dapat dipercaya bukan karena kita meninggikan suara saat menyampaikannya, namun karena kebenaran tersebut dipersaksikan dalam kehidupan kita.

 

Semangat kerasulan bukan sekadar pengulangan gaya yang sudah ada, melainkan kesaksian bahwa Injil masih hidup bagi kita hari ini. Menyadari hal ini, marilah kita memandang usia dan budaya kita sebagai suatu karunia. Keduanya adalah milik kita, dan melakukan evangelisasii terhadap keduanya tidak berarti menghakimi mereka dari jauh, juga bukan berdiri di balkon dan meneriakkan nama Yesus, melainkan turun ke jalan, pergi ke tempat di mana kita tinggal, mengunjungi tempat-tempat di mana kita menderita, bekerja, belajar dan merenung, mendiami persimpangan jalan di mana umat manusia berbagi apa yang bermakna bagi hidup mereka. Itu berarti, sebagai Gereja, menjadi ragi bagi “dialog, perjumpaan, persatuan. Bagaimana pun rumusan keimanan kita merupakan buah dialog dan perjumpaan antarbudaya, komunitas, dan berbagai situasi. Kita tidak boleh takut akan dialog: sebaliknya, justru konfrontasi dan kritik yang membantu kita menjaga teologi agar tidak diubah menjadi ideologi” (Pidato pada Kongres Nasional V Gereja Italia, Florence, 10 November 2015).

 

Berdiri di persimpangan jalan hari ini penting. Meninggalkannya akan memiskinkan Injil dan menjadikan Gereja hanya sebuah sekte. Sebaliknya, dengan sering mengunjunginya, kita sebagai umat Kristiani akan terbantu untuk memahami dengan cara yang baru alasan-alasan pengharapan kita, mengekstrak dan berbagi dari perbendaharaan iman kita “harta yang baru dan apa yang lama” (Mat 13:52). Singkatnya, mengatasi keinginan untuk mempertobatkan dunia hari ini, kita perlu mengubah pelayanan pastoral agar dapat menjelmakan Injil dengan lebih baik pada hari kini (bdk. Evangelii gaudium, 25). Marilah kita menjadikan keinginan Yesus sebagai keinginan kita: membantu sesama musafir agar tidak kehilangan kerinduan akan Allah, membuka hati mereka kepada-Nya dan menemukan hanya Dia yang, hari ini dan selamanya, memberikan damai dan sukacita bagi umat manusia.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah berbahasa Inggris, khususnya yang datang dari Australia, Malaysia dan Filipina. Saya berdoa agar kamu masing-masing dan keluargamu dapat mengalami Masa Adven yang terberkati, yang akan dimulai pada hari Minggu ini, sebagai persiapan datangnya, pada hari Natal, kelahiran Yesus, Putra Allah dan Raja Damai. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Dalam katekese lanjutan kita tentang semangat kerasulan, kita merenungkan Seruan Apostolik Evangelii Gaudium dan seruannya untuk mewartakan “sukacita Injil” di sini dan sekarang ini, di zaman kita saat ini. Kita dapat mudah berkecil hati pada saat-saat ketika Allah tampaknya tidak memiliki tempat dan keinginan terdalam hati manusia sering kali tampak tertahan oleh obsesi terhadap uang dan kekuasaan. Namun Santo Paulus mengingatkan kita bahwa dalam rencana Allah, inilah waktu perkenanan, hari penyelamatan. Oleh karena itu, semangat kerasulan mendorong kita, yang telah mengenal rahmat sabda Allah yang sedang mengubah rupa dan sukacita Injil, untuk menemukan cara-cara baru membawa perbendaharaan itu ke tempat-tempat di mana kita tinggal, belajar dan bekerja, serta mewujudkannya dalam kehidupan kita. terutama melalui rasa hormat, kasih sayang, dan kelembutan kata-kata kita, kasih Yesus bagi setiap individu. Semoga kita, melalui perjumpaan kita sehari-hari, menjadi saksi-saksi pengharapan dan pembawa Injil, yang mengilhami semua orang yang kita temui untuk membuka lebar-lebar pintu bagi Dia yang mampu memberikan sukacita dan damai hari ini dan selamanya.
______

(Peter Suriadi - Bogor, 29 November 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 22 November 2023 : HASRAT PENGINJILAN : SEMANGAT KERASULAN ORANG PERCAYA (BAGIAN 27) - PEWARTAAN DITUJUKAN UNTUK SEMUA ORANG (2)

Saudara-saudari terkasih,


Setelah melihat, di masa lampau, pewartaan kristiani adalah sebuah sukacita, hari ini marilah kita berfokus pada aspek yang kedua : pewartaan kristiani ditujukan untuk semua orang, pewartaan kristiani adalah sebuah sukacita bagi semua orang. Ketika kita sungguh bertemu Tuhan Yesus, keajaiban perjumpaan ini merasuki hidup kita dan menuntut kita untuk melampaui diri kita. Ia menginginkan hal ini, agar Injil-Nya diperuntukkan bagi semua orang. Memang di dalamnya terdapat “kekuatan yang memanusiawikan”, kepenuhan hidup yang ditujukan untuk setiap manusia, karena Kristus telah lahir, wafat, dan bangkit kembali bagi semua orang. Bagi semua orang: tak seorang pun dikecualikan.

 

Dalam Evangelii Gaudium kita membaca semua orang mempunyai “hak untuk menerima Injil. Umat kristiani berkewajiban mewartakan Injil tanpa mengecualikan seorang pun, bukan sebagai orang yang memaksakan suatu kewajiban baru, melainkan sebagai orang yang berbagi sukacita, yang menunjukkan suatu cakrawala yang indah dan yang menawarkan suatu perjamuan menggiurkan. Gereja bertumbuh tidak melalui upaya penyebaran agama, tetapi 'melalui daya tarik'” (no. 14). Saudara-saudari, marilah kita merasa bahwa kita sedang melayani tujuan menjagat Injil, yaitu bagi semua orang; dan marilah kita menunjukkan keistimewaan kita berdasarkan kemampuan kita untuk keluar dari diri kita sendiri. Agar sebuah pewartaan menjadi kenyataan, kita harus meninggalkan keegoisan diri kita – dan perkenankanlah diri kita juga mempunyai kemampuan untuk melintasi segenap batas. Umat kristiani lebih sering berkumpul di pelataran gereja daripada di sakristi, dan pergi “ke segala jalan dan lorong kota” (Luk 14:21). Mereka harus terbuka dan ekspansif, umat Kristiani harus “ekstrovert”, dan karakter mereka ini berasal dari Yesus, yang menjadikan kehadiran-Nya di dunia sebagai perjalanan yang berkesinambungan, bertujuan untuk menjangkau semua orang, bahkan belajar dari beberapa perjumpaan-Nya.

 

Dalam pengertian ini, Injil melaporkan perjumpaan Yesus yang mengejutkan dengan seorang perempuan asing, seorang perempuan Kanaan yang memohon kepada-Nya untuk menyembuhkan putrinya yang sakit (bdk. Mat 15:21-28). Yesus menolak, dengan mengatakan bahwa Ia diutus hanya “kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel" dan “tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing” (ayat 24, 26). Tetapi perempuan itu, dengan desakan khas orang sederhana, menjawab bahwa “anjing itu juga makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya" (ayat 27). Yesus terkejut dengan jawaban tersebut dan berkata, “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki" (ayat 28). Perjumpaan dengan perempuan ini memiliki sesuatu yang unik. Tidak hanya seseorang yang membuat Yesus berubah pikiran, dan seorang perempuan, seorang asing dan seorang kafir, tetapi Tuhan juga mendapat kepastian bahwa pewartaan-Nya tidak boleh terbatas pada para pengikut-Nya, tetapi terbuka bagi semua orang.

 

Kitab Suci menunjukkan kepada kita bahwa ketika Allah memanggil seseorang dan membuat perjanjian dengan beberapa dari mereka, kriterianya selalu seperti ini : memilih seseorang untuk menjangkau orang lain, inilah kriteria Allah, kriteria panggilan Allah. Seluruh sahabat Allah telah merasakan keindahan, tetapi juga tanggung jawab dan beban karena “dipilih” oleh-Nya. Dan setiap orang pernah merasakan keputusasaan ketika menghadapi kelemahannya atau kepastiannya hilang. Tetapi mungkin godaan terbesarnya adalah menganggap panggilan yang diterima sebagai suatu keistimewaan : tolong, jangan, sesungguhnya panggilan bukan suatu keistimewaan. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita mempunyai keistimewaan dibandingkan dengan orang lain – tidak. Panggilan ditujukan untuk suatu pelayanan. Dan Allah memilih kita untuk mengasihi semua orang, untuk menjangkau semua orang.

 

Godaan mengidentifikasikan kekristenan dengan suatu budaya, dengan suatu etnis, dengan suatu sistem, terhindari. Meskipun dengan cara ini sifat harfiah Katoliknya lenyap, atau justru lebih tepat, untuk semua orang, bersifat sejagat : bukan segelintir orang-orang pilihan kelas satu. Janganlah kita lupa : Allah memilih beberapa orang untuk mengasihi semua orang. Cakrawala kesejagatan ini. Injil bukan hanya untukku, tetapi untuk semua orang; janganlah kita melupakan hal ini. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris, khususnya rombongan dari Inggris, Finlandia, Belanda, Malaysia, Filipina, Korea dan Amerika Serikat. Kepada kamu semua saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dalam katekese lanjutan kita mengenai semangat kerasulan, kita merenungkan Seruan Apostolik Evangelii Gaudium dan seruannya untuk mewartakan “sukacita Injil”. Sukacita itu dimaksudkan untuk semua orang, karena Tuhan yang bangkit ingin memanggil semua manusia untuk ikut ambil bagian dalam kepenuhan hidup. Sesuai dengan perutusan yang kita terima pada saat pembaptisan, kita mempunyai kewajiban untuk membagikan Injil kepada semua orang yang kita jumpai, tanpa kecuali, karena Kristus telah lahir, wafat, dan bangkit kembali untuk semua orang. Kitab Suci menyingkapkan bahwa ketika Allah memanggil seseorang untuk menjadi murid, Ia juga mengutus mereka sebagai saksi kasih-Nya yang menebus. Gereja sendiri bersifat “katolik”, sejagat, karena ia telah dipercayakan dengan perutusan memuridkan semua bangsa, sekaligus memupuk persatuan yang menghormati dan mendamaikan kekayaan sejarah dan budaya yang beraneka ragam. Semoga kita yang telah merasakan keindahan dan sukacita Injil menjadi semakin sadar bahwa pesannya adalah kabar baik bagi semua orang, dan berusaha untuk menunjukkan wajah Gereja yang menyambut dan merangkul semua orang.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 23 November 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 15 November 2023 : HASRAT PENGINJILAN : SEMANGAT KERASULAN ORANG PERCAYA (BAGIAN 26) - PEWARTAAN ADALAH SUKACITA (1)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Setelah berjumpa beberapa saksi pewartaan Injil, saya mengusulkan untuk merangkum rangkaian katekese tentang semangat kerasulan ini dalam empat poin, yang diilhami oleh Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, yang ulang tahunnya yang kesepuluh kita rayakan pada bulan ini. Poin pertama yang akan kita lihat hari ini, poin pertama dari empat poin, tidak dapat tidak berhubungan dengan sikap yang menjadi dasar hakikat gerakan penginjilan : sukacita. Sukacita. Pesan kristiani, sebagaimana telah kita dengar dari perkataan malaikat kepada para gembala, adalah pewartaan “sukacita yang besar” (Luk. 2:10). Dan alasannya? Kabar baik, kejutan, peristiwa yang indah? Terlebih lagi, Seseorang : Yesus! Dialah Allah yang menjadi manusia yang datang kepada kita. Oleh karena itu, pertanyaannya, saudara-saudari terkasih, bukan apakah akan mewartakannya, melainkan bagaimana cara mewartakannya, dan “bagaimana” ini adalah sukacita. Entah kita mewartakan Yesus dengan sukacita, maupun kita tidak mewartakan Dia, karena cara lain untuk mewartakan Dia tidak mampu membawa kenyataan Yesus yang sesungguhnya.

 

Inilah sebabnya mengapa seorang kristiani yang tidak senang, seorang kristiani yang sedih, seorang kristiani yang tidak puas, atau yang lebih buruk lagi, seorang kristiani yang penuh kebencian atau dendam, tidak dapat dipercaya. Orang ini akan berbicara tentang Yesus tetapi tidak seorang pun akan percaya kepadanya! Suatu kali seseorang berkata kepada saya, berbicara tentang orang-orang kristiani ini, “Tetapi mereka adalah orang-orang kristiani yang berwajah buruk!”, maksudnya, mereka tidak mengungkapkan apa pun, mereka memang seperti itu, dan sukacita itu penting. Penting untuk menjaga perasaan kita. Penginjilan bekerja secara cuma-cuma, karena berasal dari kepenuhan, bukan dari tekanan. Dan ketika kita melakukan penginjilan – kita mencoba melakukan hal ini, namun tidak berhasil – berdasarkan ideologi : Injil adalah sebuah pewartaan, sebuah pewartaan sukacita. Ideologi itu dingin, seluruhnya. Injil memiliki kehangatan sukacita. Ideologi tidak tahu bagaimana caranya tersenyum; Injil adalah senyuman, membuatmu tersenyum karena menyentuh jiwa dengan Kabar Baik.

 

Kelahiran Yesus, dalam sejarah maupun dalam kehidupan, adalah sumber sukacita: pikirkan apa yang terjadi pada kedua murid Emaus, yang tidak dapat mempercayai sukacita mereka, dan yang lainnya, kemudian, para murid bersama-sama, ketika Yesus pergi ke Ruang Atas, tidak dapat mempercayai sukacita mereka. Sukacita memiliki Yesus yang bangkit. Perjumpaan dengan Yesus selalu mendatangkan sukacita bagimu, dan jika hal ini tidak terjadi padamu, maka perjumpaan bukan perjumpaan yang sesungguhnya dengan Yesus.

 

Dan apa yang dilakukan Yesus terhadap para murid menunjukkan kepada kita bahwa orang pertama yang perlu menerima Injil adalah para murid. Orang yang pertama-tama perlu diinjili adalah kita: kita umat Kristiani. Dan hal ini sangat penting. Tenggelam dalam lingkungan yang serba cepat dan penuh kebingungan saat ini, kita juga mungkin mendapati diri kita menghayati iman kita dengan perasaan penolakan yang halus, terbujuk bahwa Injil tidak perlu lagi didengarkan dan tidak lagi layak diperjuangkan untuk diwartakan. Kita bahkan mungkin tergoda dengan gagasan membiarkan “orang lain” mengambil jalannya sendiri. Sebaliknya, justru inilah saat yang tepat untuk kembali kepada Injil dan menemukan bahwa Kristus “senantiasa muda dan merupakan sumber kebaruan yang tetap” (bdk. Evangelii Gaudium, 11).

 

Maka, seperti kedua murid Emaus, kita kembali ke kehidupan sehari-hari dengan antusiasme laksana orang yang telah menemukan harta karun : keduanya bersukacita, karena mereka telah menemukan Yesus, dan Ia mengubah hidup mereka. Dan kita menemukan bahwa umat manusia dipenuhi dengan saudara-saudari yang menunggu kata-kata pengharapan. Injil dinantikan bahkan sampai hari ini. Orang-orang masa kini sama seperti orang-orang sepanjang masa: mereka membutuhkannya. Bahkan peradaban ketidakpercayaan yang terprogram dan sekularitas yang dilembagakan; memang, khususnya masyarakat yang memperkenankan ruang makna keagamaan, membutuhkan Yesus. Inilah saat yang tepat untuk pewartaan Yesus. Oleh karena itu, saya ingin mengatakan sekali lagi kepada semua orang : “Sukacita Injil memenuhi hati dan hidup semua orang yang menjumpai Yesus. Mereka yang menerima tawaran penyelamatan-Nya dibebaskan dari dosa, penderitaan, kehampaan batin dan kesepian. Bersama Kristus sukacita senantiasa dilahirkan kembali".. Jangan lupakan hal ini. Dan jika seseorang tidak merasakan sukacita ini, ia harus bertanya pada dirinya sendiri apakah ia telah menemukan Yesus. Sebuah sukacita batin. Injil merupakan jalan sukacita, selalu merupakan pewartaan agung. “Saya mengajak seluruh umat Kristiani, di mana pun, pada saat ini juga, untuk membarui perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus" (Evangelii Gaudium, 1, 1.3). Kamu masing-masing, luangkan sedikit waktu dan berpikirlah : “Yesus, Engkau ada di dalam diriku. Aku ingin berjumpa-Mu setiap hari. Engkau adalah sesosok Pribadi, Engkau bukan suatu gagasan; Engkau adalah rekan seperjalanan, Engkau bukan sebuah program. Engkau, Yesus, adalah sumber sukacita. Engkau adalah awal mula penginjilan. Engkau, Yesus, adalah sumber sukacita!”. Amin.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya peziarah dari Inggris, Malaysia, Filipina, Korea, dan Amerika Serikat. Atas kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Dalam katekese lanjutan kita mengenai semangat kerasulan, kita sekarang beralih ke Seruan Apostolik Evangelii Gaudium dan seruannya untuk memperbarui pewartaan “sukacita Injil”. Alasan sukacita itu, yang pertama kali diwartakan oleh para malaikat di Betlehem, adalah perjumpaan pribadi kita dengan Yesus, yang kini telah bangkit dari kematian, menawarkan kepada kita janji akan kehidupan baru dan kekal.

 

Kita melihat hal ini dalam kisah Injil tentang kedua murid yang bertemu dengan Tuhan yang bangkit di jalan menuju Emaus. Dengan hati yang berkobar-kobar oleh Sabda Allah yang Ia wartakan kepada mereka, mereka kemudian mengenali Dia saat memecah-mecahkan roti dan dengan penuh sukacita kembali ke Yerusalem untuk mewartakan kebangkitan-Nya kepada orang lain.

 

Seperti kedua murid itu, kita juga perlu berjumpa Tuhan secara baru dalam Sabda-Nya dan kehadiran sakramental-Nya, untuk membagikan pesan Injil yang memerdekakan kepada orang lain. Di dunia kita yang bermasalah, begitu banyak orang menunggu sebuah kata pengharapan. Semoga seluruh umat Kristiani menerima tantangan untuk berbagi sukacita perjumpaan mereka dengan Tuhan yang telah bangkit, kehidupan baru yang dianugerahkan oleh Roh-Nya, dan kebebasan yang lahir dari kepercayaan pada janji-janji-Nya.

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 15 November 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 8 November 2023 : HASRAT PENGINJILAN : SEMANGAT KERASULAN ORANG PERCAYA (BAGIAN 25) - MADELEINE DELBRÊL. SUKACITA IMAN DI KALANGAN ORANG-ORANG TIDAK PERCAYA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!


Di antara banyak saksi semangat pewartaan Injil, para penginjil yang bersemangat, hari ini saya akan menghadirkan seorang perempuan Prancis abad ke-20, hamba Allah, Venerabilis Madeleine Delbrêl. Ia dilahirkan pada tahun 1904 dan meninggal pada tahun 1964, seorang pekerja sosial, penulis dan mistikus, dan tinggal selama lebih dari tiga puluh tahun di kalangan pekerja miskin di pinggiran Kota Paris. Terpesona oleh perjumpaannya dengan Tuhan, ia menulis : “Setelah kita mengenal sabda Allah, kita tidak mempunyai hak untuk tidak menerimanya; begitu kita menerimanya, kita tidak punya hak untuk tidak membiarkannya menjelma di dalam diri kita; begitu sabda Allah telah menjelma di dalam diri kita, kita tidak mempunyai hak untuk menyimpannya untuk diri kita sendiri : sejak saat itu, kita menjadi milik mereka yang menantikannya” (La santità della gente comune, Milan 2020, 71). Indah : indahnya apa yang ia tulis.

 

Setelah pada masa remaja ia menganut paham agnostisisme – ia tidak percaya pada apa pun – pada usia sekitar dua puluh tahun, Madeleine berjumpa Tuhan, dan ia terkejut dengan kesaksian beberapa sahabatnya yang beriman. Ia berangkat mencari Allah, menyuarakan kehausan mendalam yang ia rasakan di dalam dirinya, dan menyadari "kekosongan yang meneriakkan kesedihan di dalam dirinya” adalah Allah yang mencarinya (Abbagliata da Dio. Corrispondenza, 1910-1941, Milan 2007, 96). Sukacita iman menuntunnya untuk berevolusi menuju pilihan hidup yang sepenuhnya berserah kepada Allah, dalam hati Gereja dan dalam hati dunia, sungguh ikut serta dalam persaudaraan kehidupan “orang-orang jalanan”. Oleh karena itu, secara puitis ia berkata kepada Yesus : “Agar dapat bersama-Mu di jalan-Mu, kami harus pergi, bahkan ketika kemalasan kami meminta kami untuk tetap tinggal. Engkau telah memilih kami untuk tetap berada dalam keseimbangan yang tidak lazim, keseimbangan yang dapat dicapai dan dipertahankan hanya dalam gerakan, hanya dalam momentum. Mirip seperti sepeda, yang tidak akan bisa berdiri tegak jika rodanya tidak berputar … Kami dapat berdiri tegak hanya dengan maju, bergerak, dalam gelombang cinta kasih”. Inilah yang ia sebut sebagai “spiritualitas sepeda” (Umorismo nell’Amore. Meditazioni e poesie, Milan 2011, 56). Hanya dengan bergerak, dalam perjalanan, kita hidup dalam keseimbangan iman, yang merupakan ketidakseimbangan, tetapi memang seperti itu : seperti sepeda. Jika kamu berhenti, sepeda tidak akan berdiri tegak.

 

Madeleine mempunyai hati yang selalu ramah, dan ia membiarkan dirinya ditantang oleh jeritan kaum miskin. Ia merasa Allah yang hidup dalam Injil harus berkobar di dalam diri kita sampai kita membawa nama-Nya kepada mereka yang belum menemukannya. Dalam semangat ini, yang berorientasi pada gejolak dunia dan jeritan kaum miskin, Madeleine merasa terpanggil untuk “menghidupi kasih Yesus sepenuhnya dan seutuhnya, mulai dari minyak orang Samaria yang baik hati hingga cuka Golgota, sehingga memberi-Nya kasih demi kasih … karena, dengan mengasihi-Nya tanpa syarat dan membiarkan diri kita dikasihi sepenuhnya, dua perintah utama cinta kasih terwujud di dalam diri kita bahkan menjadi satu” (La vocation de la charité, 1, Œuvres complètes XIII, Bruyères-le-Châtel, 138-139).

 

Yang terakhir, Madeleine mengajarkan kita satu hal lagi : dengan menginjili kita diinjili: dengan menginjili kita diinjili. Oleh karena itu, ia sering berkata, menggemakan Santo Paulus : “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. aku tidak menginjili diriku”. Memang benar, menginjili berarti menginjili diri kita. Dan ini adalah ajaran yang indah.

 

Melihat kesaksian Injil ini, kita juga belajar bahwa dalam setiap pribadi atau situasi sosial atau keadaan hidup kita, Tuhan hadir dan memanggil kita untuk mengisi waktu kita, berbagi kehidupan kita dengan orang lain, berbaur dengan sukacita dan dukacita dunia. Secara khusus, ia mengajarkan kita bahwa bahkan lingkungan yang sekuler sekalipun dapat membantu terjadinya pertobatan, karena kontak dengan orang-orang yang tidak beriman akan mendorong orang-orang beriman untuk terus-menerus merevisi cara mereka beriman dan menemukan kembali iman sebagai yang hakiki (bdk. Noi dell estrade, Milan 1988 , 268).

 

Semoga Madeleine Delbrêl mengajari kita untuk menghayati iman “sedang bepergian” ini, bisa dikatakan demikian, iman yang berbuah ini yang menjadikan setiap tindakan iman sebagai tindakan cinta kasih dalam pewartaan Injil. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya rombongan dari Inggris, Denmark, Australia, Indonesia, Malaysia, dan Amerika Serikat. Bagi kamu semua saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari yang terkasih: Dalam katekese kita tentang semangat kerasulan, kita telah merenungkan penyebaran Injil melalui kesaksian umat Kristiani di setiap waktu dan tempat. Hari ini kita beralih ke hamba Allah Madeleine Delbrêl, seorang pekerja sosial, penulis, dan mistikus asal Prancis abad ke-20. Setelah mengalami masa agnostisisme di masa mudanya, Madeleine berjumpa Kristus melalui kesaksian para sahabatnya dan, setelah bertobat, ia memilih untuk menjalani kehidupan yang sepenuhnya mengabdi kepada Allah, dalam hati Gereja dan dunia. Madeleine sangat tersentuh oleh penderitaan masyarakat miskin dan penderitaan mereka yang berjuang untuk menemukan makna kehidupan; ia melihat hal ini sebagai panggilan mendesak untuk membangkitkan kembali semangat misioner dalam Gereja dewasa ini. Selama lebih dari tiga dekade, ia tinggal, berdoa dan bekerja di kalangan masyarakat miskin di pinggiran Kota Paris. Teladan semangat apostolik Madeleine Delbrêl mengingatkan kita akan perutusan baptisan kita untuk berbagi sukacita Injil dengan orang lain, dan, dalam prosesnya, bertumbuh dalam kesetiaan terhadap dua perintah yaitu mengasihi Allah dan mengasihi seluruh saudara-saudari kita.

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 8 November 2023)