Liturgical Calendar

Showing posts with label Wejangan Audiensi Umum 2024. Show all posts
Showing posts with label Wejangan Audiensi Umum 2024. Show all posts

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 18 Desember 2024 : YUBELIUM 2025. YESUS KRISTUS HARAPAN KITA. I. MASA KANAK-KANAK YESUS. 1. SILSILAH YESUS (MAT 1:1-17). MASUKNYA PUTRA ALLAH KE DALAM SEJARAH

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini kita akan memulai rangkaian katekese yang akan berlanjut sepanjang Tahun Yubelium. Temanya adalah “Yesus Kristus Harapan Kita”: karena Ia adalah tujuan peziarahan kita, dan Ia sendiri adalah jalan, jalur yang harus diikuti.

 

Bagian pertama akan membahas tentang masa kanak-kanak Yesus yang dikisahkan oleh Penginjil Matius dan Lukas (lih. Mat 1-2; Luk 1-2). Kedua Injil masa kanak-kanak mengisahkan tentang Yesus yang dikandung dari seorang perawan dan kelahiran-Nya dari rahim Maria; keduanya mengingat nubuat tentang Mesias yang digenapi di dalam Dia dan berbicara tentang legalitas kebapaan Yusuf yang mencangkokkan Putra Allah ke dalam “batang” dinasti Daud. Kita diperlihatkan Yesus yang masih bayi, anak-anak, dan remaja, yang tunduk kepada orang tuanya dan, pada saat yang sama, menyadari bahwa Ia sepenuhnya mengabdikan diri kepada Bapa dan Kerajaan-Nya. Ada perbedaan di antara kedua Injil. Lukas menceritakan peristiwa-peristiwa tersebut melalui mata Maria, Matius menceritakannya melalui mata Yusuf, dan menegaskan peran ayah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

 

Matius memulai Injilnya dan seluruh kanon Perjanjian Baru dengan "Inilah daftar nenek moyang Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham" (Mat 1:1).

 

Daftar nama yang sudah ada dalam Kitab Suci Ibrani dimaksudkan untuk menunjukkan kebenaran sejarah dan kebenaran hidup manusia. Bahkan, “silsilah Tuhan terdiri dari kisah nyata yang mencakup sejumlah tokoh yang paling tidak bermasalah, dan dosa Raja Daud juga ditekankan (lih. Mat 1:6). Namun, semuanya berpuncak pada Maria dan Kristus (lih. Mat 1:16)” (Surat tentang Pembaruan Studi Sejarah Gereja, 21 November 2024). Kemudian, muncullah kebenaran hidup manusia yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, yang membawa tiga hal: nama yang mencakup jatidiri dan perutusan yang unik; milik suatu keluarga dan suatu umat; dan akhirnya, kepatuhan iman kepada Allah Israel.

 

Silsilah adalah genre sastra, yaitu bentuk yang cocok untuk menyampaikan pesan yang sangat penting: tidak seorang pun memberikan hidup kepada dirinya sendiri, tetapi menerimanya sebagai hadiah dari orang lain. Dalam hal ini, mereka adalah orang-orang pilihan, dan mereka yang mewarisi warisan iman dari nenek moyang mereka, dalam mewariskan kehidupan kepada anak-anak mereka, juga mewariskan iman akan Allah kepada mereka.

 

Akan tetapi, tidak seperti silsilah dalam Perjanjian Lama, yang hanya mencantumkan nama laki-laki, karena di Israel ayahlah yang menentukan nama putranya, dalam daftar nenek moyang Yesus yang ditulis Matius, perempuan juga muncul. Kita menemukan lima di antaranya: Tamar, menantu perempuan Yehuda yang, setelah menjadi janda, berpura-pura menjadi pelacur untuk menjamin keturunan bagi suaminya (lih. Kej 38); Rahab, pelacur Yerikho yang membuat para penjelajah Yahudi bisa memasuki tanah terjanji dan menaklukkannya (lih. Yak 2); Rut, orang Moab yang, dalam kitab dengan nama yang sama, tetap setia kepada ibu mertuanya, merawatnya dan akan menjadi nenek buyut Raja Daud; Batsyeba, yang berzina dengan Daud yang telah membunuh suaminya, memperanakkan Salomo (lih. 2 Sam 11); dan akhirnya Maria dari Nazaret, istri Yusuf, dari keluarga Daud: dari dialah Mesias, Yesus, lahir.

 

Keempat perempuan pertama memiliki kesamaan bukan pada fakta bahwa mereka adalah orang berdosa, seperti yang kadang-kadang dikatakan, tetapi pada fakta bahwa mereka adalah orang asing bagi orang Israel. Matius menyampaikan, sebagaimana ditulis Benediktus XVI, bahwa "melalui mereka dunia orang-orang bukan Yahudi masuk ... ke dalam silsilah Yesus - perutusan-Nya kepada orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi menjadi nyata" (Kisah Masa Kanak-kanak, Milan-Vatikan 2012, 15).

 

Sementara keempat perempuan sebelumnya disebutkan di samping laki-laki yang lahir dari mereka atau orang yang memperanakkannya, Maria, di sisi lain, memperoleh keunggulan khusus: ia menandai awal yang baru. Ia sendiri adalah awal yang baru, karena dalam kisahnya bukan lagi makhluk manusia yang menjadi tokoh utama generasi, tetapi Allah sendiri. Ini jelas terlihat dari kata kerja “dilahirkan”: “Yakub [adalah] ayah Yusuf, suami Maria yang darinya Yesus dilahirkan” (Matius 1:16). Yesus adalah putra Daud, dicangkokkan oleh Yusuf ke dalam dinasti itu dan ditakdirkan untuk menjadi Mesias Israel, tetapi Ia juga adalah putra Abraham dan perempuan-perempuan asing, oleh karena itu ditakdirkan untuk menjadi “terang bagi bangsa-bangsa lain” (lih. Luk 2:32) dan “Juruselamat dunia” (Yoh 4:42).

 

Putra Allah, yang ditahbiskan bagi Bapa dengan diutus untuk menyingkapkan wajah-Nya (lih. Yoh 1:18; Yoh 14:9), memasuki dunia seperti semua anak manusia, sedemikian rupa sehingga di Nazaret Ia akan disebut "anak Yusuf" (Yoh 6:42) atau "anak tukang kayu" (Mat 13:55). Sungguh Allah dan sungguh manusia.

 

Saudara-saudari, marilah kita bangkitkan dalam diri kita kenangan penuh syukur akan para nenek moyang kita. Dan terutama, marilah kita bersyukur kepada Allah, yang, melalui Gereja Induk, telah melahirkan kita menuju kehidupan kekal, kehidupan Yesus, harapan kita.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Kita sekarang memulai rangkaian katekese baru untuk Tahun Suci dengan tema Yubelium “Yesus Kristus Harapan Kita.” Hari ini kita merenungkan kisah Injil tentang silsilah Yesus, yang mengingatkan kita bahwa hidup dan jatidiri-Nya merupakan bagian dari sejarah yang lebih besar yang mencakup leluhur-Nya, keluarga-Nya, dan iman seluruh umat Israel. Kehadiran empat perempuan bukan Yahudi dalam silsilah Matius mengingatkan kita bahwa Yesus pada akhirnya diutus untuk menjadi Juruselamat semua orang. Kelahiran Yesus dari Perawan Maria itu sendiri merupakan tanda awal yang baru bagi keluarga manusia kita. Menjelang Natal, marilah kita bersyukur atas silsilah kita sendiri, dan memperbarui komitmen kita untuk mewujudkan karunia rekonsiliasi, kedamaian, dan harapan yang dibawa Tuhan kita ke dunia ini melalui penjelmaan-Nya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 18 Desember 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 11 Desember 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG ROH KUDUS DAN SANG MEMPELAI PEREMPUAN. ROH KUDUS MENUNTUN UMAT ALLAH MENUJU YESUS, SANG PENGHARAPAN. 17 : ROH KUDUS DAN SANG MEMPELAI PEREMPUAN MENGATAKAN : DATANGLAH. ROH KUDUS DAN PENGHARAPAN KRISTIANI

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Kita telah tiba di akhir katekese tentang Roh Kudus dan Gereja. Kita akan mengabdikan refleksi terakhir ini pada judul yang kita berikan untuk seluruh rangkaian, yaitu: “Roh Kudus dan Sang Mempelai Perempuan. Roh Kudus menuntun Umat Allah menuju Yesus, sang pengharapan kita”. Judul ini merujuk pada salah satu ayat terakhir dari Kitab Suci, dalam Kitab Wahyu, yang mengatakan: “Roh dan mempelai perempuan itu berkata, ‘Datanglah’” (Why 22:17). Kepada siapa seruan ini ditujukan? Seruan ini ditujukan kepada Kristus yang bangkit. Sungguh, baik Santo Paulus (lih. 1 Kor 16:22) maupun Didaché, sebuah teks dari zaman para rasul, membuktikan bahwa dalam pertemuan-pertemuan liturgis umat kristiani perdana, terdengar seruan dalam bahasa Aram, “Maràna tha!”, yang memang berarti “Datanglah, Tuhan!”. Sebuah doa kepada Kristus, agar Iia datang.

 

Pada masa awal itu, seruan itu berlatar belakang yang kita gambarkan hari ini sebagai eskatologis. Sungguh, seruan itu mengungkapkan harapan yang membara akan kedatangan Tuhan yang mulia. Dan seruan ini, dan harapan yang diungkapkannya, tidak pernah padam di dalam Gereja. Bahkan hari ini, dalam Misa, segera setelah konsekrasi, Gereja mewartakan wafat dan kebangkitan Kristus "seraya kita menantikan harapan dan kedatangan-Nya yang membahagiakan". Gereja menantikan kedatangan Tuhan.

 

Namun harapan akan kedatangan Kristus yang terakhir ini bukan satu-satunya harapan. Harapan itu juga telah disertai dengan harapan akan kedatangan-Nya yang terus-menerus dalam situasi peziarahan Gereja saat ini. Dan kedatangan inilah yang terutama dipikirkan Gereja, ketika, digerakkan oleh Roh Kudus, Gereja berseru kepada Yesus: "Datanglah!".

 

Suatu perubahan, atau lebih baik, katakanlah, suatu perkembangan, yang penuh makna, telah terjadi berkenaan dengan seruan “Datanglah”, “Datanglah, Tuhan!”. Seruan itu tidak hanya ditujukan kepada Kristus, tetapi juga kepada Roh Kudus sendiri! Dia yang berseru sekarang adalah Dia yang kita serukan. “Datanglah!” adalah seruan yang dengannya kita mengawali hampir semua madah dan doa Gereja yang ditujukan kepada Roh Kudus: “Datanglah, Roh Kudus”, kita ucapkan dalam Veni Creator, dan “Datanglah, Roh Kudus”, “Veni Sancte Spiritus”, dalam rangkaian Pentakosta; dan seterusnya, dalam banyak doa lainnya. Adalah tepat bahwa demikianlah seharusnya, karena, setelah kebangkitan, Roh Kudus adalah “alter ego” Kristus yang sejati, Dia yang menggantikan-Nya, yang membuat-Nya hadir dan bekerja dalam Gereja. Dialah yang “memberitakan … hal-hal yang akan datang” (lih. Yoh 16:13) serta membuatnya diinginkan dan diharapkan. Itulah sebabnya Kristus dan Roh Kudus tidak dapat dipisahkan, juga dalam tata cara keselamatan.

 

Roh Kudus adalah sumber pengharapan kristiani yang terus mengalir. Santo Paulus mewariskan kita kata-kata yang berharga ini, inilah yang dikatakan Paulus: “Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kuasa Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan” (Rm 15:13). Jika Gereja adalah sebuah perahu, Roh Kudus adalah layar yang mendorongnya dan membiarkannya maju di lautan sejarah, baik hari ini sebagaimana di masa lalu!

 

Pengharapan bukan kata kosong, atau keinginan samar kita agar segala sesuatunya berubah menjadi yang terbaik; pengharapan adalah suatu kepastian, karena didasarkan pada kesetiaan Allah terhadap janji-janji-Nya. Dan inilah sebabnya harapan disebut sebagai kebajikan teologis: karena harapan diresapi oleh Allah dan memiliki Allah sebagai penjaminnya. Harapan bukan kebajikan pasif, yang hanya menunggu segala sesuatu terjadi. Pengharapan adalah kebajikan yang sangat aktif yang membantu mewujudkannya. Seseorang yang berjuang untuk pembebasan kaum miskin menulis kata-kata ini: “Roh Kudus adalah sumber dari jeritan kaum miskin. Ia adalah kekuatan yang diberikan kepada mereka yang tidak memiliki kekuatan. Ia memimpin perjuangan untuk emansipasi dan realisasi penuh orang-orang yang tertindas”.

 

Orang kristiani tidak boleh merasa puas dengan memiliki pengharapan; ia juga harus memancarkan pengharapan, menjadi penabur pengharapan. Pengharapan adalah karunia terindah yang dapat diberikan Gereja kepada seluruh umat manusia, terutama pada saat-saat ketika segala sesuatu tampaknya berjalan lambat.

 

Rasul Petrus menasihati jemaat perdana dengan kata-kata ini: "Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban tentang pengharapan yang ada padamu." Namun, ia menambahkan sebuah anjuran: "Tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat" (1 Ptr 3:15-16). Dan ini karena bukan kekuatan argumen yang akan meyakinkan orang, melainkan kasih yang kita tahu bagaimana menanamkannya pada mereka. Ini adalah bentuk penginjilan perdana dan paling efektif. Dan ini terbuka untuk semua orang!

 

Saudara-saudari terkasih, semoga Roh Kudus senantiasa membantu kita untuk "berlimpah dalam pengharapan oleh kebajikan Roh Kudus! Terima kasih.

 

[Imbauan]

 

Setiap hari saya mengikuti apa yang terjadi di Suriah, di momen yang sangat sensitif dalam sejarahnya. Saya berharap solusi politik dapat dicapai, tanpa pertikaian atau perpecahan lebih lanjut, yang dapat secara bertanggung jawab meningkatkan stabilitas dan persatuan negara. Saya berdoa, melalui perantaraan Perawan Maria, agar rakyat Suriah dapat hidup dalam damai dan aman di tanah air tercinta mereka, dan agar berbagai agama dapat berjalan bersama dalam persahabatan dan saling menghormati demi kebaikan bangsa, yang menderita akibat perang selama bertahun-tahun.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya mereka yang datang dari Inggris dan Amerika Serikat. Saya berdoa agar kamu masing-masing dan keluargamu dapat mengalami Masa Adven yang penuh berkat sebagai persiapan untuk kedatangan, pada hari Natal, Yesus yang baru lahir, Putra Allah dan Raja Damai. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Dalam katekese terakhir tentang Roh Kudus dan Gereja, kita membahas Roh Kudus sebagai sumber pengharapan Gereja akan kedatangan kembali Tuhan dalam kemuliaan dan penggenapan rencana penyelamatan-Nya di akhir zaman. Perjanjian Baru diakhiri dengan Roh Kudus dan Sang Mempelai Perempuan, Gereja, yang berseru dengan penuh harapan, “Datanglah, Tuhan Yesus” (bdk. Why 22:17.20). Tradisi Gereja juga memohon Roh Kudus dengan doa kuno, “Datanglah, Roh Kudus”, memohon agar Ia meneguhkan kepercayaan kita pada janji-janji Kristus dan menguatkan kita dalam kesetiaan pada perutusan kita untuk memberi kesaksian tentang pengharapan yang ditawarkan oleh Injil. Sebagai orang kristiani, kita dipanggil tidak hanya untuk memiliki pengharapan tetapi juga untuk memancarkan pengharapan, sehingga semua orang dapat mengenal Tuhan serta dengan penuh sukacita menantikan kedatangan kerajaan-Nya yang kudus, adil, dan damai.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 11 Desember 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 4 Desember 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG ROH KUDUS DAN SANG MEMPELAI PEREMPUAN. ROH KUDUS MENUNTUN UMAT ALLAH MENUJU YESUS, SANG PENGHARAPAN. 16 : MEMBERITAKAN INJIL DALAM ROH KUDUS. ROH KUDUS DAN PENGINJILAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Setelah merenungkan tindakan Roh Kudus yang menguduskan dan berkarisma, kita akan mendedikasikan katekese ini pada aspek lain: karya penginjilan Roh Kudus, yaitu, tentang peran pewartaan dalam Gereja.

 

Surat Pertama Petrus mendefinisikan para rasul sebagai “orang-orang yang menyampaikan Injil kepada kamu oleh Roh Kudus” (lih. 1:12). Dalam ungkapan ini kita menemukan dua unsur penyusun pewartaan kristiani: isinya, yaitu Injil, dan sarananya, yaitu Roh Kudus. Mari kita bahas satu per satu.

 

Dalam Perjanjian Baru, kata “Injil” memiliki dua makna utama. Kata ini dapat merujuk pada salah satu dari keempat Injil kanonik: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, dan menurut definisi ini, Injil berarti kabar baik yang diwartakan oleh Yesus selama hidup-Nya di bumi. Setelah Paskah, kata “Injil” mendapat makna baru sebagai kabar baik tentang Yesus, yaitu misteri Paskah tentang wafat dan kebangkitan Tuhan. Inilah apa yang disebut Rasul Paulus sebagai “Injil” ketika ia menulis: “Sebab, aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Rm 1:16).

 

Pewartaan Yesus dan selanjutnya pewartaan para Rasul juga memuat semua tugas moral yang bersumber dari Injil, mulai dari sepuluh perintah Allah sampai perintah “baru” tentang kasih. Namun, jika kita tidak ingin kembali kepada kesalahan yang dikecam oleh Rasul Paulus, yaitu mendahulukan hukum Taurat ketimbang kasih karunia dan perbuatan ketimbang iman, maka kita harus selalu memulai dari pewartaan tentang apa yang telah dilakukan Kristus kepada kita. Oleh karena itu, Anjuran Apostolik Evangelii Gaudium sangat menekankan kerygma atau “pewartaan”, sebagai yang pertama dari kedua hal ini, yang menjadi dasar penerapan moral.

 

Memang, “dalam katekese juga, kita telah menemukan ada peran pokok pewartaan pertama atau kerygma, yang hendaknya menjadi pusat dari semua kegiatan penginjilan dan seluruh upaya untuk pembaruan Gereja. … Pewartaan pertama ini disebut “pertama” bukan karena ada pada awal dan kemudian dapat dilupakan atau digantikan oleh hal-hal lain yang lebih penting. Pewartaan ini pertama dalam arti kualitatif karena merupakan pewartaan utama, yang harus kita dengar lagi dan lagi dengan berbagai cara, yang harus kita wartakan dengan satu atau lain cara melalui proses katekese, di setiap tingkat dan setiap saat. … Kita tidak seharusnya berpikir bahwa dalam katekese kerygma ditinggalkan demi pembinaan yang dianggap lebih “solid.” Tak ada yang lebih solid, mendalam, aman, dan bermakna dan penuh kebijaksanaan daripada pewartaan awal.” (no. 164-165), yaitu, kerygma.

 

Sejauh ini, kita telah melihat isi pewartaan kristiani. Akan tetapi, kita juga harus mengingat sarana pewartaannya. Injil harus diwartakan “oleh Roh Kudus” (1 Ptr 1:12). Gereja harus melakukan persis sebagaimana dikatakan Yesus di awal pelayanan-Nya di muka umum: “Roh Tuhan ada pada-Ku, karena Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin” (Luk 4:18). Melakukan pewartaan dengan urapan Roh Kudus berarti menyampaikan, bersama dengan gagasan dan ajaran, kehidupan dan keyakinan iman kita. Melakukan pewartaan berarti “baik perkataan maupun pemberitaan tidak disampaikan dengan hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti kekuatan Roh” (1 Kor 2:4), sebagaimana ditulis Santo Paulus.

 

Mudah untuk mengatakannya, tetapi, mungkin ada yang keberatan, bagaimana pewartaan dapat dilakukan jika pewartaan tidak bergantung pada kita, tetapi pada kedatangan Roh Kudus? Pada kenyataannya, ada satu hal yang bergantung pada kita, atau lebih tepatnya dua, dan saya akan menyebutkannya secara singkat. Yang pertama adalah doa. Roh Kudus datang kepada mereka yang berdoa, karena Bapa surgawi – sebagaimana tertulis – “memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Luk 11:13), terutama jika kita meminta kepada-Nya untuk mewartakan Injil Putra-Nya! Celakalah mereka yang memberitakan Injil tanpa berdoa! Mereka menjadi orang-orang yang didefinisikan oleh Rasul Paulus sebagai “gong yang berkumandang dan simbal yang gemerincing” (lih. 1 Kor 13:1).

 

Jadi, hal pertama yang bergantung pada kita adalah berdoa, agar Roh Kudus datang. Yang kedua adalah tidak ingin memberitakan diri kita sendiri, tetapi Yesus Tuhan (lih. 2 Kor 4:5). Ini berhubungan dengan pewartaan. Kadang-kadang ada pewartaan yang panjang, dua puluh menit, tiga puluh menit… Tetapi, tolong, para pewarta hendaknya mewartakan sebuah gagasan, sebuah perasaan dan panggilan untuk bertindak. Setelah delapan menit pewartaan mulai memudar, tidak dipahami. Dan saya katakan ini kepada para pewarta [tepuk tangan] – saya dapat melihat bahwa kamu suka mendengar ini! Kadang-kadang kita melihat orang-orang yang, ketika pewartaan dimulai, pergi keluar untuk merokok dan kemudian kembali lagi. Tolong, pewartaan hendaknya menjadi sebuah gagasan, sebuah perasaan dan panggilan untuk bertindak. Dan pewartaan tidak boleh lebih dari sepuluh menit. Ini sangat penting.

 

Hal kedua yang ingin saya katakan adalah, bukan keinginan untuk mewartakan diri sendiri, melainkan Tuhan. Tidak perlu berkutat pada hal ini, karena siapa pun yang terlibat dalam melakukan penginjilan tahu apa artinya tidak mewartakan diri sendiri. Saya akan membatasi diri pada penerapan khusus dari persyaratan ini. Tidak ingin mewartakan diri sendiri juga menyiratkan tidak selalu mengutamakan prakarsa pastoral yang digagas oleh kita dan dikaitkan dengan nama kita, tetapi dengan sukarela bekerja sama, jika diminta, dalam prakarsa komunitas, atau yang dipercayakan kepada kita karena ketaatan.

 

Semoga Roh Kudus membantu kita, menyertai kita, dan mengajar Gereja bagaimana mewartakan Injil dengan cara ini kepada orang-orang di zaman ini! Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya mereka yang datang dari Belanda, Australia, Indonesia, Amerika Serikat, Jepang, dan Singapura. Saya berdoa agar kamu masing-masing, dan keluargamu, dapat mengalami Masa Adven yang penuh berkat sebagai persiapan untuk kedatangan Sang Juruselamat yang baru lahir pada hari Natal. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Dalam katekese lanjutan kita tentang Roh Kudus, kita sekarang membahas peran Roh Kudus dalam perutusan Gereja untuk mewartakan Injil. Surat Pertama Petrus menggambarkan para Rasul sebagai mereka yang “memberitakan Injil oleh Roh Kudus” (bdk. 1 Ptr 1:12). Injil, tentu saja, adalah pesan penuh sukacita tentang kedatangan Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus dan diteguhkan oleh pewartaan para Rasul tentang wafat dan kebangkitan-Nya menuju kehidupan baru. “Kabar baik” ini adalah dasar bagi semua katekese dan pengajaran selanjutnya, termasuk tuntutan moral murid-murid Kristus. Pewartaan Injil terjadi “oleh Roh Kudus”, yang memampukan kita untuk berbicara dengan penuh keyakinan dan mencerminkan pesan yang kita beritakan melalui cara hidup kita. Marilah kita berdoa agar di zaman kita Roh Kudus sudi membangkitkan saksi-saksi yang semakin penuh sukacita, kudus dan meyakinkan bagi Tuhan yang bangkit dan kebenaran Injil-Nya yang menyelamatkan.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 4 Desember 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 27 November 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG ROH KUDUS DAN SANG MEMPELAI PEREMPUAN. ROH KUDUS MENUNTUN UMAT ALLAH MENUJU YESUS, SANG PENGHARAPAN. 15 : BUAH ROH KUDUS. SUKACITA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Setelah berbicara tentang rahmat pengudusan dan kemudian karisma, hari ini saya ingin melihat kenyataan yang ketiga. Kenyataan yang pertama, rahmat pengudusan; kenyataan yang kedua, karisma; dan apakah kenyataan yang ketiga? Sebuah kenyataan yang terkait dengan tindakan Roh Kudus: “buah Roh”. Sesuatu yang aneh. Apakah buah Roh itu? Santo Paulus memberikan daftarnya dalam Surat kepada Jemaat di Galatia. Ia menulis ini, dengarkan baik-baik: “Buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri” (5:22). Sembilan: inilah “buah Roh”. Tetapi apakah “buah Roh” ini?

 

Berbeda dengan karunia, yang diberikan Roh kepada siapa yang Ia kehendaki dan kapan Ia kehendaki demi kebaikan Gereja, buah Roh, saya ulangi - kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri - adalah hasil kerjasama antara kasih karunia dan kebebasan kita. Buah ini selalu mengungkapkan kreativitas pribadi, yang di dalamnya "iman bekerja oleh kasih" (lih. Gal 5:6), terkadang dengan cara yang mengejutkan dan penuh sukacita. Tidak semua orang dalam Gereja dapat menjadi rasul, tidak semua orang dapat menjadi nabi, tidak semua orang dapat menjadi penginjil, tidak semua orang; tetapi kita semua, tidak pandang bulu, dapat dan harus menjadi pekerja yang beramal kasih, sabar, rendah hati, untuk perdamaian, dan seterusnya. Tetapi kita semua, ya, harus beramal kasih, harus sabar, harus rendah hati, pekerja untuk perdamaian dan bukan untuk perang.

 

Di antara buah Roh yang disebutkan oleh Rasul Paulus, saya ingin menyoroti salah satunya, mengingat kata pembuka Seruan Apostolik Evangelii Gaudium: “Sukacita Injil memenuhi hati dan hidup semua orang yang menjumpai Yesus. Mereka yang menerima tawaran penyelamatan-Nya dibebaskan dari dosa, penderitaan, kehampaan batin dan kesepian. Bersama Kristus sukacita senantiasa dilahirkan kembali.” (no. 1). Kadang-kadang akan ada saat-saat sedih, tetapi selalu ada kedamaian. Bersama Yesus, ada sukacita dan kedamaian.

 

Sukacita, buah Roh, memiliki kesamaan dengan sukacita manusiawi lainnya, yakni perasaan kepenuhan dan pemenuhan, yang membuat kita berharap sukacita itu akan bertahan selamanya. Akan tetapi, kita tahu dari pengalaman bahwa tidak demikian, karena segala sesuatu di sini berlalu dengan cepat. Segala sesuatu berlalu dengan cepat. Marilah kita pikirkan bersama: masa muda, kemudaan – berlalu dengan cepat; kesehatan, kekuatan, kesejahteraan, persahabatan, cinta... Itu semua bertahan selama seratus tahun, tetapi kemudian... tidak lebih. Itu semua segera berlalu. Lagipula, meskipun hal-hal ini tidak berlalu dengan cepat, setelah beberapa saat hal-hal itu tidak lagi memadai, atau bahkan menjadi membosankan, karena, sebagaimana dikatakan Santo Agustinus kepada Allah: “Engkau telah menciptakan kami untuk diri-Mu, dan hati kami gelisah sampai beristirahat di dalam diri-Mu”[1]. Ada kegelisahan hati untuk mencari keindahan, kedamaian, kasih, sukacita.

 

Sukacita Injil, sukacita penginjilan, tidak seperti sukacita lainnya, dapat diperbarui setiap hari dan menjangkit. “Hanya berkat perjumpaan –atau perjumpaan yang dibarui– dengan kasih Allah ini, yang berkembang dalam suatu persahabatan yang memperkaya, kita dibebaskan dari kesempitan dan keterkungkungan diri. ... Di sini kita menemukan sumber dan ilham dari semua upaya evangelisasi kita. Karena, jika kita telah menerima kasih yang memulihkan makna pada hidup kita, bagaimana kita tak mampu membagikan kasih tersebut pada sesama?” (Evangelii Gaudium, 8). Itulah ciri ganda sukacita sebagai buah Roh: sukacita tidak hanya tidak tunduk pada keausan waktu yang tak terelakkan, tetapi berlipat ganda ketika dibagikan kepada sesama! Sukacita sejati dibagikan kepada sesama; bahkan menyebar.

 

Lima abad yang lalu, seorang santo bernama Filipus Neri tinggal di Roma – di sini di Roma. Ia telah tercatat dalam sejarah sebagai santo sukacita. Dengarkan ini dengan saksama: santo sukacita. Ia biasa mengatakan kepada anak-anak miskin dan terlantar di Oratoriumnya: “Anak-anakku, bergembiralah; aku tidak ingin ada keraguan atau kesedihan; engkau tidak berbuat dosa sudah cukup bagiku”. Dan sekali lagi: “Jadilah baik, jika kamu bisa!”. Akan tetapi, yang kurang dikenal adalah dari manakah sumber sukacitanya berasal. Santo Filipus Neri memiliki kasih yang begitu besar kepada Allah sehingga kadang-kadang hatinya terasa seperti akan meledak di dadanya. Sukacitanya, dalam arti yang sesungguhnya, adalah buah Roh. Ia berpartisipasi dalam Yubileum tahun 1575, yang diperkayanya dengan praktik, yang dipertahankan setelahnya, yaitu kunjungan ke Tujuh Gereja. Pada masanya, ia adalah seorang penginjil sejati melalui sukacita. Dan ia memiliki hal ini, seperti Yesus yang selalu mengampuni, yang mengampuni segalanya. Barangkali sebagian dari kita mungkin berpikir: “Tetapi aku telah melakukan dosa ini, dan ini tidak akan diampuni…”. Dengarkan ini dengan saksama. Allah mengampuni segalanya, Allah selalu mengampuni. Dan inilah sukacita: diampuni oleh Allah. Dan saya selalu berkata kepada para imam dan bapa pengakuan: “Ampunilah segalanya, jangan terlalu banyak mengajukan pertanyaan; tetapi ampunilah segalanya, segalanya, dan selalu”.


Kata “Injil” berarti kabar gembira. Karena itu, Injil tidak dapat disampaikan dengan wajah muram dan masam, tetapi dengan sukacita orang yang telah menemukan harta yang terpendam dan mutiara yang berharga. Ingatlah nasihat Santo Paulus kepada jemaat Filipi, yang sekarang ia sampaikan kepada kita semua, dan yang telah kita dengar di awal: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!” (Flp 4:4-5).

 

Saudara-saudari terkasih, bergembiralah, dengan sukacita Yesus di dalam hati kita. Terima kasih.


[Sapaan Khusus]



Saya menyapa dengan hangat para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang turut serta dalam Audiensi hari ini, khususnya mereka yang datang dari Australia, Israel, Malaysia, Filipina, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Secara khusus saya menyapa para anggota Delegasi Afrika untuk Peziarahan Keadilan dan Perdamaian dan saya meyakinkan mereka akan doa saya untuk misi penting mereka. Atas kamu semua, dan atas keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus! Allah memberkatimu!

 

Dan janganlah kita melupakan rakyat Ukraina yang tersiksa. Mereka sangat menderita. Dan kamu anak-anak, orang muda, pikirkanlah anak-anak dan orang muda Ukraina yang menderita saat ini, tanpa pemanas, di musim dingin yang sangat keras dan parah. Berdoalah untuk anak-anak dan orang muda Ukraina. Apakah kamu sudi melakukannya? Apakah kamu sudi berdoa? Kamu semua. Jangan lupa. Dan marilah kita juga berdoa untuk perdamaian di Tanah Suci: Nazaret, Palestina, Israel... Semoga ada perdamaian, semoga ada perdamaian. Rakyat sangat menderita. Marilah kita berdoa untuk perdamaian, bersama-sama.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Dalam katekese lanjutan kita tentang Roh Kudus dalam kehidupan Gereja, kita sekarang membahas apa yang secara tradisional disebut “buah Roh Kudus”, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (bdk. Gal 5:22). Buah ini adalah hasil kerja sama bebas kita dengan rahmat Roh yang bekerja dalam hidup kita. Hari ini marilah kita merenungkan salah satu buah ini, yang secara khusus sangat saya sayangi: karunia sukacita rohani. Berbeda dengan sukacita duniawi yang bersifat sementara, Roh menganugerahkan kepada kita sukacita yang mendalam dan abadi yang lahir dari kehadiran-Nya di dalam hati kita. Sukacita kasih Allah tidak hanya memenuhi hidup kita tetapi juga mengilhami kita untuk berbagi sukacita itu dengan orang lain. Santo Paulus mendorong kita untuk “bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan” (Flp 4:4). Semoga kesaksian kita tentang “sukacita Injil” membantu orang-orang di sekitar kita untuk menemukan damai sejahtera bagi hati mereka yang gelisah dan, di dalam Kristus, makna baru bagi hidup mereka.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 27 November 2024)



[1] Pengakuan-pengakuan, I, 1.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 20 November 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG ROH KUDUS DAN SANG MEMPELAI PEREMPUAN. ROH KUDUS MENUNTUN UMAT ALLAH MENUJU YESUS, SANG PENGHARAPAN. 14 : KARUNIA SANG MEMPELAI PEREMPUAN. KARISMA, KARUNIA ROH KUDUS UNTUK KEPENTINGAN BERSAMA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dalam tiga katekese terakhir, kita berbicara tentang karya pengudusan Roh Kudus yang terwujud dalam sakramen-sakramen, dalam doa dan dengan mengikuti teladan Bunda Allah. Namun, marilah kita mendengarkan apa yang dikatakan sebuah teks terkenal dari Konsil Vatikan II: “Selain itu Roh Kudus juga tidak hanya menguduskan dan membimbing Umat Allah melalui sakramen-sakramen serta pelayanan-pelayanan, melainkan Ia juga 'memberikan karunia-Nya kepada tiap-tiap orang, seperti yang dikehendaki-Nya’'" (1Kor 12:11) (Lumen Gentium, 12). Kita juga memiliki karunia pribadi yang diberikan Roh Kudus kepada kita masing-masing.

 

Oleh karena itu, tiba saatnya untuk berbicara juga tentang cara kedua Roh Kudus bekerja, yaitu tindakan karismatik. Dua unsur berkontribusi untuk mendefinisikan apa itu karisma. Sebuah kata yang agak sulit, saya akan menjelaskannya. Pertama, karisma adalah karunia yang diberikan “untuk kepentingan bersama” (1 Kor 12:7), untuk kepentingan semua orang. Dengan kata lain, karisma tidak ditujukan terutama dan biasanya untuk pengudusan pribadi, tetapi untuk “pelayanan” komunitas (lih. 1 Ptr 4:10). Ini adalah aspek pertama. Kedua, karisma adalah karunia yang diberikan “kepada satu orang”, atau “kepada beberapa orang” secara khusus, tidak dengan cara yang sama kepada semua orang, dan inilah yang membedakannya dari rahmat pengudusan, dari kebajikan teologis dan dari sakramen-sakramen, yang justru sama dan umum bagi semua orang. Karisma diberikan kepada orang atau komunitas tertentu. Karisma adalah karunia yang diberikan Allah kepadamu.

 

Konsili menjelaskan hal ini juga. Konsili mengatakan, “Di kalangan umat dari segala lapisan Roh Kudus membagi-bagikan rahmat istimewa pula, yang menjadikan mereka cakap dan bersedia untuk menerima pelbagai karya atau tugas, yang berguna untuk membaharui Gereja serta meneruskan pembangunannya, menurut ayat berikut : 'Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama' (1Kor 12:7)".

 

Karisma adalah "permata" atau hiasan yang dibagikan Roh Kudus untuk membuat Sang Mempelai Kristus lebih cantik. Dengan demikian, orang dapat memahami mengapa teks Konsili diakhiri dengan nasihat berikut: "Karisma-karisma itu, entah yang amat menyolok, entah yang lebih sederhana dan tersebar lebih luas, sangat sesuai dan berguna untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan Gereja; maka hendaknya diterima dengan rasa syukur dan gembira" (LG 12).

 

Paus Benediktus XVI menegaskan: "Siapa pun yang mempertimbangkan sejarah era pasca-Konsili dapat mengenali proses pembaruan sejati, yang sering kali mengambil bentuk yang tak terduga dalam gerakan-gerakan yang hidup dan membuat vitalitas Gereja yang kudus hampir nyata". Dan inilah karisma yang diberikan kepada suatu kelompok, melalui seseorang.

 

Kita harus menemukan kembali karisma-karisma itu, karena hal ini memastikan bahwa pengembangan kaum awam, dan khususnya kaum perempuan, dipahami bukan hanya sebagai fakta kelembagaan dan sosiologis, tetapi juga dalam dimensi biblis dan spiritualnya. Memang, kaum awam bukan orang-orang kecil, bukan, kaum awam bukan bentuk kolaborator eksternal atau pasukan pembantu kaum klerus, bukan! Mereka memiliki karisma dan karunia masing-masing yang dapat mereka gunakan untuk berkontribusi dalam perutusan Gereja.

 

Marilah kita tambahkan hal lain: ketika kita berbicara tentang karisma, kita harus segera menghilangkan kesalahpahaman: yaitu mengidentifikasinya dengan karunia dan kemampuan yang spektakuler atau luar biasa; sebaliknya, karisma adalah karunia biasa – kita masing-masing memiliki karisma sendiri – yang memiliki nilai luar biasa jika diilhami oleh Roh Kudus dan diwujudkan dengan cinta dalam situasi kehidupan. Penafsiran karisma seperti itu penting, karena banyak umat kristiani, ketika mereka mendengar pembicaraan tentang karisma, mengalami kesedihan atau kekecewaan, karena mereka yakin bahwa mereka tidak memilikinya, dan merasa bahwa mereka dikucilkan atau orang kristiani kelas dua. Tidak, mereka bukan orang kristiani kelas dua, bukan, tiap-tiap orang memiliki karisma pribadi dan juga karisma komunitas. Santo Agustinus menanggapi orang-orang pada masanya dengan perbandingan yang sangat fasih: ‘Jika kamu mengasihi,’ katanya kepada umatnya, “Jika kamu mengasihi, maka kamu tidak memiliki apa-apa: jika kamu mengasihi kesatuan, siapa pun yang memiliki sesuatu dalam kesatuan itu juga memilikinya untukmu. Di dalam tubuh, hanya mata yang melihat; tetapi apakah hanya untuk dirinya sendiri mata melihat? Ia melihat baik untuk tangan dan kaki, dan untuk semua anggota tubuh lainnya”.[1]

 

Hal ini menyingkapkan rahasia mengapa kasih didefinisikan oleh Rasul Paulus sebagai “jalan yang lebih utama lagi” (1 Kor 12:31): kasih membuatku mengasihi Gereja, atau komunitas tempatku tinggal dan, dalam kesatuan, semua karisma, bukan hanya beberapa, adalah “miliku”, sebagaimana karisma“ku”, meskipun tampaknya kecil, adalah milik semua orang dan untuk kepentingan semua orang. Kasih melipatgandakan karisma; kasih menjadikan karisma seseorang, karisma satu orang, menjadi karisma semua orang. Terima kasih!

 

[Sapaan Khusus]

 

Dengan hangat saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya mereka yang datang dari Norwegia, Australia, Korea Selatan, Taiwan, Filipina, dan Amerika Serikat. Atas kamu semua, dan atas keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus! Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Dalam katekese kita tentang Roh Kudus dalam kehidupan Gereja, kita sekarang beralih dari karya pengudusan Roh Kudus ke pembangunan tubuh Kristus melalui pencurahan karunia-karunia karismatik. Karisma, dalam kekayaan segenap keanekaragamannya, adalah rahmat khusus yang dianugerahkan kepada individu-individu untuk membangun Gereja dalam kesatuan dan kekudusan. Konsili Vatikan II berbicara tentang pentingnya karisma-karisma khusus yang dianugerahkan kepada kaum awam, yang dengannya mereka, dan khususnya kaum perempuan, memberikan sumbangan bagi perutusan Gereja. Santo Paulus mengingatkan kita bahwa karunia-karunia ini, baik besar maupun kecil, melayani amal kasih, kasih Kristus yang menjadi sumber dan yang kepadanya karunia-karunia itu diarahkan. Marilah kita bersyukur kepada Roh Kudus karena telah menghiasi Gereja dengan karunia-karunia yang beraneka ragam ini dan memohon kepada-Nya untuk terus menganugerahkannya dengan berlimpah.

 

[Pemberitahuan dan Imbauan]

 

Pada kesempatan Hari Hak Anak dan Remaja Sedunia yang diselenggarakan hari ini, saya ingin mengumumkan bahwa pada tanggal 3 Februari mendatang, Pertemuan Sedunia Perihal Hak Anak, yang bertajuk “Cintailah dan Lindungi Mereka”, akan diselenggarakan di Vatikan, dengan partisipasi para ahli dan tokoh dari berbagai negara. Pertemuan ini akan menjadi kesempatan untuk mengidentifikasi cara-cara baru dalam membantu dan melindungi jutaan anak yang masih belum memiliki hak, yang hidup dalam kondisi yang tidak menentu, yang dieksploitasi dan dianiaya, dan yang menderita akibat perang yang dramatis.

 

Ada sekelompok anak yang sedang mempersiapkan Hari Hak Anak dan Remaja Sedunia ini, terima kasih kepada kamu semua yang telah melakukan hal ini. Dan di sini, ada seorang gadis pemberani yang datang ke sini... sekarang mereka semua datang! Anak-anak memang seperti itu: satu orang mulai dan kemudian mereka semua datang” Marilah kita sambut anak-anak! Terima kasih! Selamat pagi!

 

Saya ingin mengatakan bahwa tahun depan, selama Yubelium untuk Kaum Remaja, saya akan melakukan kanonisasi Beato Carlo Acutis, dan pada Yubelium untuk Orang Muda, tahun depan, saya akan melakukan kanonisasi Beato Pier Giorgio Frassati.

 

Kemarin peringatan seribu hari invasi Ukraina, tonggak tragis bagi para korban dan kehancuran yang ditimbulkannya, tetapi pada saat yang sama merupakan bencana yang memalukan bagi seluruh umat manusia! Namun, ini tidak boleh membuat kita patah semangat untuk terus berdiri di samping rakyat Ukraina yang tersiksa, atau memohon perdamaian dan berusaha agar senjata digantikan oleh dialog dan konfrontasi oleh perjumpaan.

 

Beberapa hari yang lalu saya menerima sepucuk surat dari seorang mahasiswa asal Ukraina yang isinya: “Bapa, ketika pada hari Rabu nanti Anda mengingat negaraku dan berkesempatan berbicara kepada seluruh dunia tentang 1000 hari perang yang mengerikan ini, saya mohon kepada Anda, janganlah hanya berbicara tentang penderitaan kami, tetapi jadilah saksi bagi iman kami: meskipun iman kami tidak sempurna, nilainya tidak berkurang; iman kami melukiskan gambaran Kristus yang bangkit dengan sapuan kuas yang menyakitkan. Akhir-akhir ini terlalu banyak kematian dalam hidup saya. Hidup di kota yang dihantam rudal dan melukai puluhan warga sipil, menyaksikan begitu banyak air mata adalah hal yang sulit. Saya ingin melarikan diri, saya ingin kembali menjadi anak kecil yang dipeluk ibu saya, saya ingin berada dalam keheningan dan cinta, tetapi saya bersyukur kepada Allah karena melalui penderitaan ini, saya belajar untuk semakin mengasihi. Penderitaan bukan sekadar jalan menuju kemarahan dan keputusasaan; jika berlandaskan iman, ia adalah guru kasih yang baik. Bapa, jika penderitaan menyakitkan, itu berarti kamu mengasihi; oleh karena itu, ketika kamu berbicara tentang penderitaan kita, ketika kamu mengingat seribu hari penderitaan, ingatlah juga seribu hari kasih, karena hanya kasih, iman, dan harapan yang memberikan makna sejati pada luka-luka”. Itulah yang dituliskan mahasiswa universitas Ukraina tersebut.

____

(Peter Suriadi - Bogor, 20 November 2024)



[1] Santo Agustinus, Traktat perihal Injil Yohanes, 32,8.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 13 November 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG ROH KUDUS DAN SANG MEMPELAI PEREMPUAN. ROH KUDUS MENUNTUN UMAT ALLAH MENUJU YESUS, SANG PENGHARAPAN. 13 : SURAT YANG DITULIS DENGAN ROH DARI ALLAH YANG HIDUP: MARIA DAN ROH KUDUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Di antara berbagai sarana yang digunakan Roh Kudus untuk melaksanakan karya pengudusan-Nya di dalam Gereja – Sabda Allah, sakramen-sakramen, doa – ada satu yang sangat khusus, yaitu kesalehan Maria. Dalam tradisi Katolik ada semboyan ini, perkataan ini: “Ad Iesum per Mariam”, yaitu, “kepada Yesus melalui Maria”. Bunda Maria memperkenankan kita untuk melihat Yesus. Ia selalu membuka pintu bagi kita! Bunda Maria adalah ibu yang menuntun kita dengan tangannya menuju Yesus. Bunda Maria tidak pernah tertuju pada dirinya sendiri, Bunda Maria tertuju pada Yesus. Dan inilah kesalehan Maria: tertuju pada Yesus melalui tangan Bunda Maria. Pengantara sejati dan satu-satunya antara kita dan Kristus, sebagaimana ditunjukkan oleh Yesus sendiri, adalah Roh Kudus. Maria adalah salah satu sarana yang digunakan Roh Kudus untuk membawa kita kepada Yesus.[1]

 

Santo Paulus mendefinisikan jemaat Kristiani sebagai “surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging” (2 Kor 3:3). Maria, sebagai murid pertama dan figur Gereja, juga merupakan surat yang ditulis dengan Roh dari Allah yang hidup. Justru karena alasan ini, ia dapat “dikenal dan dibaca oleh semua orang” (2 Kor 3:2), bahkan oleh mereka yang tidak tahu bagaimana membaca buku-buku teologi, yaitu “orang kecil” yang kepadanya Yesus berkata bahwa rahasia Kerajaan Allah, yang tersembunyi bagi orang bijak, telah dinyatakan (lih. Mat 11:25).

 

Dengan mengatakan “Ya” – ketika Maria menerima dan berkata kepada Malaikat, “Ya, biarlah kehendak Tuhan yang terjadi” dan menerima untuk menjadi ibu Yesus – seolah-olah Maria berkata kepada Allah: “Ini aku, aku adalah loh batu yang akan ditulisi: biarlah Sang Penulis menulis apa yang dikehendaki-Nya, buatlah dariku segala apa yang dikehendaki Tuhan”[2]. Pada waktu itu, orang-orang menulis pada loh-loh batu berlapis lilin; sekarang kita akan mengatakan bahwa Maria mempersembahkan dirinya seperti selembar kertas kosong yang di atasnya Tuhan dapat menulis apa pun yang Ia inginkan. Jawaban “Ya” Maria kepada Malaikat – sebagaimana ditulis oleh seorang penafsir terkenal – melambangkan “puncak dari semua perilaku keagamaan di hadapan Allah, karena Maria mengungkapkan, dengan cara yang paling tinggi, ketersediaan pasif yang dipadukan dengan kesiapan aktif, kekosongan terdalam yang menyertai kepenuhan terbesar”[3].

 

Demikianlah Bunda Allah menjadi alat Roh Kudus dalam karya pengudusan-Nya. Di tengah limpahan kata-kata yang diucapkan dan ditulis tentang Allah, Gereja, dan kekudusan (yang hanya mampu dibaca dan dipahami sepenuhnya hanya sedikit orang, atau bahkan tidak seorang pun), Maria mengusulkan beberapa kata yang dapat diucapkan oleh setiap orang, bahkan yang paling sederhana, pada setiap kesempatan: “lihatlah” dan “jadilah”. Maria adalah orang yang berkata “Ya” kepada Tuhan, dan dengan teladannya dan dengan perantaraannya mendesak kita untuk mengatakan “Ya” kepada-Nya juga, setiap kali kita dihadapkan pada tindakan ketaatan yang harus dilakukan atau cobaan yang harus diatasi.

 

Dalam setiap masa sejarah kita, tetapi khususnya pada saat ini, Gereja menemukan dirinya dalam situasi yang sama dengan komunitas kristiani setelah kenaikan Yesus ke surga. Gereja harus mewartakan Injil kepada semua bangsa, tetapi sedang menunggu “kuasa dari atas” agar dapat melakukannya. Dan janganlah kita lupa bahwa pada waktu itu, sebagaimana kita baca dalam Kisah Para Rasul, para pengikut Yesus berkumpul di sekitar “Maria, ibu Yesus” (Kis 1:14).

 

Memang benar bahwa ada juga perempuan lain yang bersamanya di Ruang Atas, tetapi kehadirannya berbeda dan unik. Antara dia dan Roh Kudus ada ikatan yang unik dan tidak dapat dihancurkan secara kekal, yaitu pribadi Kristus sendiri, “yang dikandung dari Roh Kudus dan lahir dari Perawan Maria”, sebagaimana kita daraskan dalam Syahadat. Penginjil Lukas dengan sengaja menyoroti keterkaitan antara kedatangan Roh Kudus atas Maria dalam Kabar Sukacita dan kedatangan-Nya kepada para murid pada hari Pentakosta, dengan menggunakan beberapa ungkapan yang identik dalam kedua peristiwa tersebut.

 

Santo Fransiskus dari Asisi, dalam salah satu doanya, menyapa Bunda Maria sebagai “putri dan hamba Bapa surgawi, Raja yang Mahakuasa, Bunda Tuhan kita Yesus Kristus yang Mahatinggi, dan Mempelai Roh Kudus”[4]. Putri Bapa, Mempelai Roh Kudus! Hubungan unik antara Maria dan Tritunggal Mahakudus tidak dapat digambarkan dengan kata-kata yang lebih sederhana.

 

Sebagaimana semua gambaran, gambaran tentang “Mempelai Roh Kudus” ini tidak boleh dianggap mutlak, tetapi harus dipahami karena mengandung banyak kebenaran, dan ini adalah kebenaran yang sangat indah. Ia adalah mempelai wanita, tetapi sebelum itu, ia adalah murid Roh Kudus. Mempelai wanita dan murid. Marilah kita belajar darinya untuk taat kepada inspirasi Roh, terutama ketika Ia menyarankan kita untuk “segera bangkit” dan pergi untuk menolong seseorang yang membutuhkan kita, seperti yang dilakukannya tepat setelah malaikat meninggalkannya (lih. Luk 1:39). Terima kasih!

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa seluruh peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang ikut serta dalam Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Indonesia, Jepang, Korea, Belanda, Filipina, dan Amerika Serikat. Secara khusus, saya menyapa para imam, para pelaku hidup bakti, dan para seminaris dari Tanzania, yang datang ke Roma untuk belajar. Atas kamu semua, dan atas keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih:

Dalam katekese lanjutan kita tentang Roh Kudus dalam kehidupan Gereja, kita sekarang membahas hubungan unik Roh Kudus dengan Santa Perawan Maria. Dalam karya Roh Kudus yang menuntun kita kepada Yesus, Bunda Maria memainkan peran istimewa. Santo Fransiskus dari Asisi menggambarkan Maria sebagai Mempelai Roh Kudus, karena berkat "fiat"-nya – “ya” terhadap rencana Bapa – ia menjadi Bunda dari Putra Allah yang menjelma. Dipenuhi dengan Roh Kudus, Bunda Maria menjadi murid Tuhan yang pertama dan model seluruh murid Kristus. Melalui kehadiran dan perantaraannya sebagai ibu, semoga ia mengajar kita untuk menjadi seperti dirinya yang taat terhadap bisikan Roh, mencari kehendak Allah dalam doa dan untuk dalam kasih berangkat untuk memenuhi kebutuhan saudara-saudari kita.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 13 November 2024)



[1]Bdk. H. Mühlen, Una mystica persona, Paderborn 1967: terjemahan bahasa Italia Roma 1968, 575+.

[2]Ulasan Injil Lukas, fragmen. 18 (GCS 49, hlm. 227).

[3]H. Schürmann, Das Lukasevangelium, Friburgo in Br. 1968: terjemahan bahasa Italia Brescia 1983, 154.

[4]Fonti Francescane, Assisi 1986, no. 281.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 6 November 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG ROH KUDUS DAN SANG MEMPELAI PEREMPUAN. ROH KUDUS MENUNTUN UMAT ALLAH MENUJU YESUS, SANG PENGHARAPAN. 12 : ROH KUDUS MENJADI PENGANTARA KITA. ROH KUDUS DAN DOA KRISTIANI

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Tindakan pengudusan Roh Kudus, selain sabda Allah dan sakramen-sakramen, terungkap dalam doa, dan untuk itulah kita ingin mempersembahkan perrnenungan hari ini: doa. Roh Kudus adalah subjek sekaligus objek doa kristiani. Artinya, Dialah yang memberikan doa dan Dialah yang diberikan melalui doa. Kita berdoa untuk menerima Roh Kudus, dan kita menerima Roh Kudus agar dapat berdoa dengan sungguh-sungguh, yaitu, sebagai anak-anak Allah, bukan sebagai hamba. Marilah kita sedikit memikirkan hal ini: berdoalah sebagai anak-anak Allah, bukan sebagai hamba. Kita harus selalu berdoa dengan kebebasan. “Hari ini saya harus berdoa untuk ini, ini, dan ini, karena saya telah berjanji untuk ini, ini dan ini. Kalau tidak, saya akan masuk neraka”. Tidak, itu bukan doa! Doa itu bebas. Kamu berdoa ketika Roh Kudus membantumu untuk berdoa. Kamu berdoa ketika kamu merasakan kebutuhan untuk berdoa di dalam hatimu, dan ketika kamu tidak merasakan apa pun, kamu berhenti dan bertanya, “Mengapa aku tidak merasakan keinginan untuk berdoa? Apa yang sedang terjadi dalam hidupku?”. Namun, spontanitas dalam doa selalu menjadi hal yang paling membantu kita. Inilah yang dimaksud dengan berdoa sebagai anak-anak, bukan sebagai hamba.


Pertama-tama, kita harus berdoa untuk menerima Roh Kudus. Dalam hal ini, Yesus memiliki perkataan yang sangat tepat dalam Injil: "Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya?" (Luk 11:13). Setiap orang, kita masing-masing, tahu bagaimana memberi hal yang baik kepada anak-anak kecil, entah itu anak-anak kita, kakek-nenek kita, atau teman-teman kita. Anak-anak kecil selalu menerima hal yang baik dari kita. Namun, Bapa tidak akan memberikan Roh Kudus kepada kita? Dan ini seharusnya memberi kita keberanian untuk terus maju dengan hal ini. Dalam Perjanjian Baru, kita melihat Roh Kudus selalu turun selama doa. Ia turun ke atas Yesus dalam pembaptisan di Sungai Yordan, ketika Ia "sedang berdoa" (Luk 3:21), dan Ia turun pada hari Pentakosta ke atas para murid, ketika mereka "bertekun dengan sehati dalam doa" bersama (Kis 1:14).



Itulah satu-satunya "kekuatan" yang kita miliki atas Roh Allah. Kekuatan doa: Ia tidak menentang doa. Kita berdoa, dan Ia datang. Di Gunung Karmel, para nabi palsu Baal – ingat perikop Kitab Suci tersebut – berusaha untuk meminta api dari surga untuk persembahan mereka, tetapi tidak terjadi apa-apa, karena mereka adalah penyembah berhala, mereka menyembah Allah yang tidak ada. Elia mulai berdoa, dan api turun dan membakar persembahan (lih. 1 Raj 18:20-38). Gereja mengikuti contoh ini dengan setia: Gereja selalu memohon “Datanglah! Datanglah!” kepada Roh Kudus, “Datanglah”, setiap kali Gereja menyapa Roh Kudus. Dan Gereja melakukan ini terutama dalam Misa, agar Ia sudi turun seperti embun serta menguduskan roti dan anggur untuk kurban Ekaristi.



Namun ada aspek lain, yang paling penting dan memberi semangat bagi kita: Roh Kudus adalah sosok yang memberi kita doa yang benar. Santo Paulus menegaskan hal ini: “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita. Sebab, kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, memohon untuk orang-orang kudus.” (bdk. Rm 8:26-27).


Benar, kita tidak tahu bagaimana berdoa, kita tidak tahu. Kita harus belajar setiap hari. Alasan di balik kelemahan doa kita ini diungkapkan di masa lalu hanya dalam satu kata, yang digunakan dalam tiga cara berbeda: sebagai kata sifat, sebagai kata benda, dan sebagai kata keterangan. Mudah diingat, bahkan bagi mereka yang tidak mengerti bahasa Latin, dan perlu diingat, karena kata itu sendiri mengandung seluruh risalah, ketiga hal ini. Kita manusia, menurut pepatah itu, “mali, mala, male petimus”, yang artinya, karena kita jahat (mali), kita meminta hal-hal yang salah (mala) dan dengan cara yang salah (male). Yesus berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah … dan semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33); sebaliknya, kita mencari hal-hal yang lebih, yaitu kepentingan kita – berkali-kali – dan kita sama sekali lupa untuk meminta Kerajaan Allah. Marilah kita meminta Kerajaan Allah kepada Tuhan, dan segala sesuatu akan datang bersama-Nya.

 

Ya, Roh Kudus datang untuk menolong kita dalam kelemahan kita, tetapi Ia melakukan sesuatu yang lebih penting lagi: Ia bersaksi kepada kita bahwa kita adalah anak-anak Allah dan menempatkan pada bibir kita: “Ya Abba, ya Bapa!” (Rm 8:15; Gal 4:6). Kita tidak dapat mengatakan “Ya Abba, ya Bapa!”. Kita tidak dapat mengatakan “Bapa” tanpa kekuatan Roh Kudus. Doa kristiani bukan manusia di satu ujung telepon, berbicara kepada Allah di ujung yang lain; tidak, justru Allah yang berdoa di dalam diri kita! Kita berdoa kepada Allah melalui Allah. Berdoa berarti menempatkan diri di dalam Allah, agar Allah masuk ke dalam diri kita.

 

Justru dalam doa, Roh Kudus dinyatakan sebagai “Parakletos”, yaitu pengacara dan pembela. Ia tidak menuduh kita di hadapan Bapa, tetapi membela kita. Ya, Ia membela kita, Ia menginsafkan kita akan kenyataan bahwa kita adalah orang berdosa (lih. Yoh 16:8), tetapi Ia melakukannya untuk membuat kita mampu menikmati sukacita belas kasihan Bapa, bukan untuk menghancurkan kita dengan perasaan bersalah yang sia-sia. Bahkan ketika hati kita mencela kita karena sesuatu, Ia mengingatkan kita bahwa "Allah lebih besar daripada hati kita" (1 Yoh 3:20). Allah lebih besar dari dosa kita. Kita semua adalah orang berdosa, tetapi pikirkan: mungkin beberapa dari kamu - saya tidak tahu - sangat takut karena hal-hal yang telah mereka lakukan, takut dicela oleh Allah, takut akan banyak hal dan tidak dapat menemukan kedamaian. Berdoalah, berserulah kepada Roh Kudus, dan Ia akan mengajarmu bagaimana memohon pengampunan. Dan apakah kamu tahu sesuatu? Allah tidak tahu banyak tata bahasa, dan ketika kita memohon pengampunan, Ia tidak membiarkan kita menyelesaikannya! "Karena..." dan di sana, Ia tidak membiarkan kita menyelesaikan kata pengampunan. Ia mengampuni kita terlebih dahulu, Ia selalu mengampuni, dan Ia selalu berada di samping kita untuk mengampuni kita, sebelum kita melengkapi kata pengampunan. Kita berkata “Karena…” dan Bapa selalu mengampuni kita.

 

Roh Kudus menjadi pengantara dan pada gilirannya Ia juga mengajarkan kita bagaimana menjadi pengantara saudara-saudari kita – Ia menjadi pengantara kita dan mengajarkan kita bagaimana menjadi pengantara sesama kita. Ia mengajarkan kita doa pengantaraan: mendoakan orang ini, mendoakan orang sakit itu, orang yang berada di dalam penjara, berdoa… bahkan mendoakan ibu mertua kita! Dan berdoalah, selalu. Selalu. Doa ini khususnya berkenan kepada Allah, karena doa ini adalah doa yang paling cuma-cuma dan altruistis. Ketika seseorang mendoakan setiap orang, terjadilah – sebagaimana biasa dikatakan Santo Ambrosius – setiap orang mendoakan seseorang; doa berlipat ganda.[1] Begitulah doa. Ini adalah tugas yang sangat berharga dan perlu di dalam Gereja, khususnya selama masa persiapan untuk Yubelium ini: mempersatukan diri kita dengan Sang Penghibur yang “menjadi pengantara kita semua sesuai dengan rencana Allah”. Tetapi janganlah berdoa seperti burung beo, saya mohon! Jangan berkata, “Blah, blah, blah…”. Tidak. Katakanlah “Tuhan”, tetapi katakan dengan hatimu. “Tolonglah aku, Tuhan”, “Tuhan, aku mengasihi-Mu." Dan ketika kamu mendoakan Doa Bapa Kami, ucapkanlah “Bapa, Engkau adalah Bapaku”. Berdoalah dengan hati, bukan dengan bibir; jangan seperti burung beo.

 

Semoga Roh Kudus membantu kita dalam doa, yang sangat kita butuhkan. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa seluruh peziarah berbahasa Inggris, khususnya kelompok dari Inggris, Ghana, Malaysia, Filipina, dan Amerika Serikat. Saya juga menyapa para imam yang datang dari Inggris dan Wales, yang sedang merayakan ulang tahun penting tahbisan imamat. Atas kamu semua dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih:

 

Dalam katekese lanjutan kita tentang Roh Kudus dalam kehidupan Gereja, kita sekarang membahas peranan Roh dalam doa. Dalam Injil, Yesus mengajarkan kita untuk berdoa memohon karunia Roh Kudus, yang tinggal di dalam hati kita dan bersaksi bahwa, dalam persatuan dengan Tuhan yang bangkit, kita benar-benar putra dan putri Bapa surgawi kita. Dibimbing oleh Roh Kudus, kita benar-benar berdoa sebagaimana mestinya, baik secara pribadi maupun dalam perayaan Liturgi Gereja. Sebagai "Parakletos", Pembela dan Penghibur kita, Roh Kudus tidak hanya menjadi pengantara kita, tetapi juga memampukan kita, dalam kesatuan tubuh mistik Kristus, untuk melakukan hal yang sama bagi kebutuhan saudara-saudari kita. Saat kita menantikan Tahun Suci yang akan datang, marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk menganugerahkan kepada kita, dan kepada seluruh keluarga manusia, karunia kekudusan, kesatuan, keadilan, dan kedamaian-Nya.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 6 November 2024)



[1] De Cain et Abel, I, 39.