Liturgical Calendar

Showing posts with label Wejangan Regina Caeli 2021. Show all posts
Showing posts with label Wejangan Regina Caeli 2021. Show all posts

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 23 Mei 2021 : TENTANG HARI RAYA PENTAKOSTA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

 

Kitab Kisah Para Rasul (bdk. 2:1-11) menceritakan apa yang terjadi di Yerusalem 50 hari setelah Paskah Yesus. Para murid berkumpul di Ruang Atas, dan Perawan Maria bersama mereka. Tuhan yang bangkit telah memberitahu mereka untuk tetap tinggal di kota sampai menerima karunia Roh Kudus yang turun atas mereka. Dan ini terungkap dengan "bunyi" yang tiba-tiba mereka dengar datang dari surga, seperti "tiupan angin keras" yang memenuhi seluruh rumah mereka (bdk. ayat 2). Jadi, peristiwa tersebut menyangkut pengalaman nyata tetapi juga pengalaman simbolis. Sesuatu yang terjadi tetapi juga memberi kita pesan simbolis untuk seluruh hidup kita.

 

Pengalaman ini mengungkapkan bahwa Roh Kudus seperti angin yang mengalir kencang dan bebas; yaitu, Ia memberi kita kekuatan dan kebebasan : angin yang mengalir kencang dan bebas. Ia tidak bisa dikendalikan, dihentikan, atau diukur; arahnya juga tidak dapat diramalkan. Ia tidak dapat dipahami dalam kemendesakan manusiawi kita - kita selalu mencoba untuk membingkai sesuatu - Ia tidak memperkenankan diri-Nya terjebak dalam metode dan prasangka kita. Roh Kudus berasal dari Allah Bapa dan Putra-Nya Yesus Kristus serta tercurah ke atas Gereja; Ia tercurah ke atas diri kita masing-masing, memberikan kehidupan pada pikiran dan hati kita. Seperti dinyatakan dalam Syahadat : Ia adalah “Tuhan yang menghidupkan”. Ia memiliki kekuatan karena Ia adalah Allah, dan Ia memberi hidup.

 

Pada hari Pentakosta, murid-murid Yesus masih bingung dan takut. Mereka belum berani keluar di tempat terbuka. Kita juga, kadang-kadang, lebih suka tetap berada di dalam tembok pelindung lingkungan kita. Tetapi Tuhan tahu bagaimana menjangkau kita dan membukakan pintu bagi hati kita. Ke atas diri kita Ia mengutus Roh Kudus yang menyelimuti kita dan mengatasi seluruh keragu-raguan kita, meruntuhkan pertahanan kita, membongkar kepastian palsu kita. Roh Kudus menjadikan kita ciptaan baru, seperti yang hari itu dilakukan-Nya terhadap para Rasul : Ia memperbarui kita, ciptaan baru.

 

Setelah menerima Roh Kudus mereka tidak lagi seperti sebelumnya - Ia mengubah mereka, bahkan mereka pergi dan mulai memberitakan Yesus, memberitakan bahwa Yesus telah bangkit, bahwa Tuhan menyertai kita, sedemikian rupa sehingga masing-masing orang memahami mereka dalam bahasanya sendiri. Karena Roh Kudus bersifat universal; Ia tidak menghilangkan perbedaan budaya, perbedaan pemikiran, tidak. Ia untuk semua orang, tetapi masing-masing orang memahami-Nya dalam budayanya sendiri, dalam bahasanya sendiri. Roh Kudus mengubah hati, memperluas pandangan para murid. Ia memungkinkan mereka untuk menyampaikan kepada semua orang karya Allah yang agung dan tanpa batas, melampaui batasan budaya dan agama yang terbiasa mereka pikirkan dan hayati. Para Rasul, Ia memampukan mereka untuk menjangkau sesama, menghargai kemungkinan mereka untuk mendengarkan dan memahami, dalam budaya dan bahasa mereka masing-masing (ayat 5-11). Dengan kata lain, Roh Kudus menempatkan pelbagai bangsa dalam komunikasi, pencapaian kesatuan dan universalitas Gereja.

 

Dan hari ini kebenaran ini memberitahu kita begitu banyak, kenyataan Roh Kudus ini, di mana di dalam Gereja ada kelompok-kelompok kecil yang selalu mengusahakan perpecahan, memisahkan diri dari sesama. Ini bukan Roh Allah. Roh Allah adalah kerukunan, kesatuan, mempersatukan perbedaan. Seorang kardinal yang baik, yang merupakan Uskup Agung Genoa, berkata bahwa Gereja itu seperti sebuah sungai : yang penting adalah berada di dalam; kamu tidak penting ketika sedikit berada di tepian yang satu dan sedikit berada di tepian yang lainnya; Roh Kudus menciptakan kesatuan. Ia menggunakan sosok sungai. Yang penting adalah berada di dalam, dalam kesatuan Roh Kudus, dan tidak melihat kepicikan bahwa kamu sedikit berada tepian yang satu dan sedikit berada di tepian yang lainnya, kamu berdoa dengan cara ini atau cara lainnya …. Ini bukan berasal dari Allah. Gereja untuk semua orang, untuk semua orang, seperti ditunjukkan oleh Roh Kudus pada hari Pentakosta.

 

Hari ini marilah kita memohon perantaraan Perawan Maria, Bunda Gereja, agar Roh Kudus turun dalam kelimpahan, memenuhi hati umat beriman dan mengobarkan api kasih-Nya dalam diri setiap orang.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara dan saudari yang terkasih! Saya mempercayakan kepada segenap doa kalian situasi di Kolombia yang terus mengkhawatirkan. Pada Hari Raya Pentakosta ini, saya berdoa semoga rakyat Kolombia yang terkasih dapat menerima karunia-karunia Roh Kudus sehingga melalui dialog yang sungguh, mereka dapat menemukan solusi yang tepat untuk banyak masalah yang terutama diderita oleh kaum yang paling miskin, akibat pandemi. Saya mengimbau semua orang untuk menghindari, karena alasan kemanusiaan, perilaku yang merugikan penduduk dengan menggunakan hak untuk melakukan protes secara damai.

 

Marilah kita juga mendoakan penduduk kota Goma, di Republik Demokratik Kongo, yang terpaksa mengungsi akibat letusan dahsyat gunung berapi, Gunung Nyiragongo.

 

Besok umat Katolik di Tiongkok merayakan Pesta Santa Perawan Maria, Pertolongan Orang Kristen dan Pelindung surgawi negara besar mereka. Bunda Tuhan dan Gereja dihormati dengan devosi khusus di Gua Maria Sheshan di Shanghai, dan dengan tekun dipanggil oleh keluarga-keluarga Kristiani, dalam pencobaan dan harapan kehidupan sehari-hari. Alangkah baik dan pentingnya anggota keluarga dan komunitas Kristiani semakin bersatu dalam kasih dan iman! Dengan cara ini, orangtua dan anak-anak, kakek-nenek dan cucu, gembala dan umat dapat mengikuti teladan murid-murid perdana yang, pada hari raya Pentakosta, bersatu dalam doa dengan Maria saat mereka menantikan Roh Kudus. Oleh karena itu, dengan doa khidmat saya mengundang kalian untuk menyertai umat Kristiani di Tiongkok, saudara dan saudari yang paling kita sayangi, yang saya simpan di lubuk hati saya yang terdalam. Semoga Roh Kudus, tokoh utama perutusan Gereja di dunia, membimbing mereka dan membantu mereka menjadi pembawa pesan bahagia, saksi kebaikan dan amal kasih, serta pembangun keadilan dan perdamaian di negara mereka.

 

Dan berbicara tentang perayaan besok, Maria Pertolongan Orang Kristen, sebuah pemikiran tertuju kepada para pria dan wanita Salesian, yang sangat bekerja keras di dalam Gereja bagi orang-orang yang paling jauh, bagi orang-orang yang paling terpinggirkan, bagi kaum muda. Semoga Tuhan memberkati kalian dan menuntun kalian berkembang dengan banyak panggilan suci!

 

Besok "Tahun Laudato Si'" akan berakhir. Saya berterima kasih kepada mereka yang ikut serta dengan banyak prakarsa di seluruh dunia. Mendengarkan jeritan Bumi dan kaum miskin adalah sebuah perjalanan yang harus kita lanjutkan bersama. Karena alasan ini, "Serambi Laudato Si'", perjalanan yang terjadi selama tujuh tahun, akan segera dimulai untuk membimbing keluarga, komunitas paroki dan keuskupan, sekolah dan universitas, rumah sakit, dunia usaha, kelompok, gerakan, organisasi, lembaga keagamaan untuk mengadopsi gaya hidup berkelanjutan. Dan saya mengharapkan yang terbaik untuk seluruh animator yang saat ini menerima mandat untuk menyebarkan Injil Ciptaan dan menjaga rumah kita bersama.

 

Dengan hormat menyapa kalian semua, mereka yang berasal dari Roma, dari Italia, dan negara-negara lain. Saya melihat di sini orang Polandia, Meksiko, Cili, Panama, dan banyak lainnya…. Saya melihat bendera Kolombia di sana. Terima kasih telah hadir di sini! Secara khusus saya menyapa kaum muda Gerakan Focolare …. Mereka riuh rendah, para Focolari ini! Dan para peserta dalam "Jalan Persahabatan dengan Kekuatan Ordo".

 

Kepada semuanya, saya mengucapkan selamat hari Minggu. Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang! Sampai jumpa! Salam untuk kalian semua!

______


(Peter Suriadi - Bogor, 23 Mei 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 16 Mei 2021 : KENAIKAN YESUS KE SURGA MEMBAWA SUKACITA BAGI KITA


Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini, di Italia dan di negara-negara lainnya, kami merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan. Bacaan Injil (Mrk 16:15-20) - penutup Injil Markus - menyajikan kepada kita perjumpaan terakhir Yesus yang bangkit dengan para murid-Nya sebelum Ia naik ke sisi kanan Bapa. Biasanya, sebagaimana kita ketahui, adegan perpisahan itu menyedihkan. Adegan tersebut menimbulkan perasaan kehilangan, perasaan ditinggalkan; tetapi para murid tidak mengalaminya. Kendati berpisah dari Tuhan, mereka tidak tampak putus asa, justru, mereka bersukacita dan siap untuk pergi ke dunia sebagai misionaris.

 

Mengapa para murid tidak sedih? Mengapa kita seharusnya sangat bersukacita melihat Yesus naik ke surga? Karena Kenaikan itu menyelesaikan perutusan Yesus di antara kita. Sungguh, jika demi kita Yesus turun dari surga, demi kita juga Ia naik ke sana. Setelah turun ke dalam kemanusiaan kita dan menebusnya - Allah, Putra Allah, turun dan menjadi manusia, mengambil kemanusiaan kita dan menebusnya - Ia sekarang naik ke surga, membawa daging kita bersama-Nya. Ia adalah manusia pertama yang masuk surga, karena Yesus adalah manusia, sungguh manusia; Ia adalah Allah, sungguh Allah; daging kita ada di surga dan ini memberi kita sukacita. Sekarang di sisi kanan Bapa duduk tubuh manusia, untuk pertama kalinya, tubuh Yesus, dan dalam misteri ini kita masing-masing merenungkan tujuan masa depan kita. Ini sama sekali bukan pelepasan; Yesus tinggal selamanya bersama para murid - bersama kita. Ia tinggal dalam doa, karena Ia, sebagai manusia, berdoa kepada Bapa, dan sebagai Allah, manusia dan Allah, menunjukkan kepada Bapa luka-luka-Nya, luka-luka yang dengannya Ia telah menebus kita. Doa Yesus ada di sana, bersama daging kita : Ia adalah salah seorang dari kita, Allah manusia, dan Ia mendoakan kita.

 

Dan ini harus memberi kita kepercayaan diri, atau lebih tepatnya sukacita, sukacita yang besar! Dan alasan kedua untuk bersukacita adalah janji Yesus. Ia mengatakan kepada kita : "Aku akan mengutus Roh Kudus". Dan di sana, bersama Roh Kudus, Ia memberikan perintah dalam perpisahan-Nya itu : "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk". Dan kuasa Roh Kudus menuntun kita ke dunia sana, untuk memberitakan Injil. Roh Kudus hari itu, yang dijanjikan Yesus, akan datang sembilan hari kemudian pada Hari Raya Pentakosta. Justru Roh Kuduslah yang memungkinkan kita menjadi seperti ini hari ini. Sukacita yang besar! Yesus pergi ke surga : manusia pertama di hadapan Bapa.

 

Ia pergi dengan luka-luka-Nya, yang merupakan harga keselamatan kita, dan Ia mendoakan kita. Dan kemudian Ia mengutus Roh Kudus kepada kita; Ia menjanjikan Roh Kudus kepada kita, untuk pergi menginjili. Inilah alasan sukacita hari ini; inilah alasan sukacita pada Hari Kenaikan Tuhan ini.

 

Saudara dan saudari, pada Hari Raya Kenaikan Tuhan ini, seraya kita merenungkan surga, tempat Kristus telah naik dan duduk di sisi kanan Bapa, marilah kita memohon kepada Maria, Sang Ratu Surga, untuk membantu kita menjadi saksi-saksi yang berani bagi Yesus yang bangkit di dunia, dalam situasi kehidupan nyata.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari yang terkasih! Saya mengikuti dengan penuh perhatian apa yang sedang terjadi di Tanah Suci. Pada hari-hari ini, bentrokan bersenjata yang kejam antara Jalur Gaza dan Israel telah berada di atas angin, beresiko merosot menjadi pilinan kematian dan kehancuran. Banyak orang terluka dan banyak orang yang tidak bersalah meninggal. Di antara mereka bahkan ada anak-anak, dan ini mengerikan serta tidak bisa diterima. Kematian mereka adalah tanda bahwa mereka tidak ingin membangun masa depan, tetapi ingin menghancurkannya.

 

Selain itu, meningkatnya kebencian dan kekerasan yang melibatkan berbagai kota di Israel merupakan luka-luka serius bagi persaudaraan dan hidup berdampingan secara damai di antara warga negara, yang akan sulit disembuhkan jika kita tidak segera membuka diri untuk berdialog. Saya bertanya-tanya : kemana arah kebencian dan balas dendam? Apakah kita benar-benar berpikir kita bisa membangun perdamaian dengan menghancurkan orang lain? "Atas nama Allah yang telah menciptakan semua manusia yang setara dalam hak, kewajiban dan martabat, dan yang telah memanggil mereka untuk hidup bersama sebagai saudara dan saudari" (bdk. Dokumen Persaudaraan Manusia) saya mengimbau untuk tenang dan, kepada pihak yang bertanggung jawab, untuk menghentikan hiruk pikuk senjata dan mengikuti jalan perdamaian, bahkan dengan bantuan Komunitas Internasional.

 

Marilah kita berdoa terus-menerus agar Israel dan Palestina dapat menemukan jalan dialog dan pengampunan, bertekun untuk menjadi para pembangun perdamaian dan keadilan, menyingkap, langkah demi langkah, harapan bersama, hidup berdampingan di antara saudara dan saudari.

 

Marilah kita mendoakan para korban, khususnya anak-anak; marilah kita berdoa untuk perdamaian kepada Sang Ratu Damai. Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin.

 

Hari ini “Pekan Laudato Si'" dimulai, untuk semakin mendidik guna mendengarkan jeritan Bumi dan jeritan kaum miskin. Saya berterima kasih kepada Dikasteri untuk Promosi Pembangunan Manusia Seutuhnya, Gerakan Iklim Global Katolik, Karitas Internasional dan banyak organisasi anggotanya, dan saya mengundang semua orang untuk ikut serta.

 

Saya menyapa para peziarah dari berbagai negara yang kemarin, di sini di Roma di Santo Yohanes Lateran, ambil bagian dalam beatifikasi seorang imam, Fransiskus Maria dari Salib, pendiri tarekat biarawan dan biarawati Salvatorian. Beliau adalah seorang pemberita Injil yang tak kenal lelah, menggunakan segala cara yang diilhami oleh kasih Kristus di dalam dirinya. Semoga semangat apostoliknya menjadi teladan dan panduan bagi mereka yang berada di dalam Gereja yang terpanggil untuk membawa sabda dan kasih Yesus ke dalam setiap lingkup. Tepuk tangan untuk sang beato baru! Ikonnya ada di sini di depan….

 

Dengan hormat saya menyapa kalian semua, mereka yang berasal dari Roma, dari Italia dan dari negara-negara lain, khususnya Kelompok AGESCI-Lupetti dari Paroki Santo Gregorius Agung, Roma; dan Seminari Redemptoris Mater dari Keuskupan Florence.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya, juga kepada kaum muda Immaculata. Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang. Sampai jumpa!

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 16 Mei 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 9 Mei 2021 : MENGASIHI BERARTI MELAYANI, BUKAN MENGENDALIKAN

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat siang!

 

Dalam Bacaan Injil hari Minggu ini (Yoh 15:9-17), setelah membandingkan diri-Nya dengan pokok anggur dan kita dengan ranting-rantingnya, Yesus menjelaskan buah apa yang dihasilkan oleh orang-orang yang tetap bersatu dengan-Nya : buah ini adalah kasih. Ia mengulangi lagi kata kerja kunci : tinggal. Ia mengundang kita untuk tinggal di dalam kasih-Nya sehingga sukacita-Nya ada di dalam diri kita dan sukacita kita menjadi penuh (ayat 9-11). Tinggal di dalam kasih Yesus.

 

Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri : kasih apakah yang dikatakan Yesus yang di dalamnya kita tinggal agar memiliki sukacita? Apakah kasih ini? Kasih tersebut adalah kasih yang berasal dari Bapa, karena “Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:8). Kasih Allah, kasih Bapa ini mengalir ibarat sungai di dalam diri Yesus Putra-Nya dan melalui Dia datang kepada kita, makhluk ciptaan-Nya. Sungguh, Ia berkata : “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:9). Kasih yang diberikan Yesus kepada kita sama dengan kasih yang diberikan Bapa kepada-Nya : kasih yang murni, tanpa syarat, kasih yang diberikan secara cuma-cuma. Kasih tidak bisa dibeli, kasih bersifat cuma-cuma. Dengan memberikannya kepada kita, Yesus memperlakukan kita sebagai sahabat - dengan kasih ini -, membuat kita mengenal Bapa, dan Ia melibatkan kita dalam perutusan yang sama deni kehidupan dunia.

 

Dan kemudian, kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, bagaimana kita bisa tinggal di dalam kasih ini? Yesus berkata : “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku” (ayat 10). Yesus merangkum perintah-Nya menjadi satu, hal ini : "Supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu" (ayat 12). Mengasihi seperti Yesus berarti menawarkan dirimu dalam pelayanan, melayani saudara-saudarimu, seperti yang dilakukan-Nya dalam pembasuhan kaki para murid. Mengasihi seperti Yesus juga berarti keluar dari diri kita, melepaskan diri kita dari kepastian manusiawi, dari kenyamanan duniawi, membuka diri kita terhadap orang lain, terutama mereka yang lebih membutuhkan. Mengasihi seperti Yesus berarti membuat diri kita tersedia, apa adanya dan dengan apa yang kita miliki. Ini berarti mengasihi bukan dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan.

 

Mengasihi seperti Kristus berarti mengatakan 'tidak' terhadap 'cinta' lain yang ditawarkan dunia kepada kita : cinta uang - mereka yang mencintai uang tidak mencintai seperti yang dilakukan Yesus -, cinta kesuksesan, kesombongan, [cinta] kekuasaan…. Jalan “cinta” yang memperdaya ini menjauhkan kita dari kasih Allah dan menuntun kita menjadi semakin egois, narsis, sombong. Dan bersikap sombong menyebabkan kemerosotan cinta, pelecehan orang lain, membuat orang yang kita cintai menderita. Saya sedang memikirkan cinta yang tidak sehat yang berubah menjadi kekerasan - dan berapa banyak perempuan yang menjadi korban kekerasan saat ini. Ini bukan cinta. Mengasihi seperti Tuhan sebagaimana Tuhan mengasihi kita berarti menghargai orang-orang di samping kita, menghormati kebebasan mereka, mencintai mereka apa adanya, bukan seperti yang kita inginkan, dengan cuma-cuma. Akhirnya, Yesus meminta kita untuk tinggal di dalam kasih-Nya, tinggal di dalam kasih-Nya, bukan di dalam gagasan-gagasan kita, bukan di dalam penyembahan diri kita. Mereka yang tinggal dalam penyembahan diri sendiri hidup dalam cermin : selalu melihat diri mereka sendiri. Mereka yang mengatasi ambisi untuk mengendalikan dan mengatur orang lain. Tidak mengendalikan, melayani mereka. Membuka hati kita terhadap orang lain, inilah kasih, memberikan diri kita kepada orang lain.

 

Saudara-saudari yang terkasih, ke manakah tujuan tinggal dalam kasih Tuhan ini? Ke manakah kita dibawa? Yesus berkata kepada kita : “Supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh” (ayat 11). Dan Tuhan menginginkan sukacita yang Ia miliki, karena Ia berada dalam persekutuan penuh dengan Bapa, berada di dalam diri kita sejauh kita bersatu dengan-Nya. Sukacita mengetahui bahwa meskipun tidak setia kita dikasihi oleh Allah yang memungkinkan kita untuk menghadapi cobaan hidup dengan percaya diri, membuat kita hidup melewati krisis agar dapat keluar daripadanya dengan lebih baik. Kesaksian sejati kita mencakup menjalani sukacita ini, karena sukacita adalah tanda khas orang Kristiani sejati. Orang Kristiani sejati tidak bersedih; mereka selalu memiliki sukacita itu di dalam dirinya, bahkan di masa-masa sulit.

 

Semoga Perawan Maria membantu kita untuk tinggal di dalam kasih Yesus dan bertumbuh dalam kasih untuk semua orang, memberi kesaksian sukacita Tuhan yang bangkit.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara dan saudari yang terkasih!

 

Dengan perhatian khusus saya mengikuti peristiwa yang sedang terjadi di Yerusalem. Saya berdoa semoga peristiwa tersebut menjadi tempat perjumpaan dan bukan bentrokan dengan kekerasan, tempat doa dan perdamaian. Saya mengajak semua orang untuk mencari solusi bersama agar jatidiri multireligius dan multikultural Kota Suci dihormati dan persaudaraan tetap ada. Kekerasan melahirkan kekerasan. Cukuplah dengan bentrokan.

 

Dan marilah kita juga mendoakan para korban serangan teroris yang terjadi kemarin di Kabul : sebuah tindakan tidak manusiawi yang menimpa begitu banyak gadis saat mereka sedang pulang sekolah. Marilah kita mendoakan mereka masing-masing dan keluarga mereka. Dan semoga Allah memberikan perdamaian bagi Afghanistan.

 

Selain itu, saya ingin menyampaikan keprihatinan saya atas ketegangan dan bentrokan dengan kekerasan di Kolombia, yang telah menyebabkan kematian dan cedera. Ada banyak orang Kolombia di sini; marilah kita mendoakan tanah air kalian.

 

Hari ini, di Agrigento, Rosario Angelo Livatino, seorang martir keadilan dan iman, dibeatifikasi. Dalam pengabdiannya kepada masyarakat sebagai hakim yang terhormat, yang tidak pernah membiarkan dirinya melakukan korupsi, ia berusaha untuk menghakimi, bukan mengutuk, malahan memulihkan nama baik. Ia selalu menempatkan karyanya “di bawah perlindungan Allah”; karena alasan ini ia menjadi saksi Injil sampai kematiannya yang heroik. Semoga teladannya bagi semua orang, terutama bagi para hakim, sebuah dorongan untuk menjadi pembela hukum dan kebebasan yang setia. Tepuk tangan untuk sang beato baru!

 

Saya memberikan salam yang tulus untuk kalian semua, umat Roma dan para peziarah. Terima kasih telah hadir di sini! Secara khusus, saya menyapa orang-orang yang menderita fibromialgia : saya mengungkapkan kedekatan saya dengan mereka dan saya berharap berkembangnya perhatian terhadap penyakit yang terkadang terabaikan ini.

 

Dan kita tidak bisa melupakan para ibu! Hari Minggu ini, di banyak negara, Hari Ibu dirayakan. Mari kita menyapa semua ibu di dunia, bahkan mereka yang tidak lagi bersama kita. Tepuk tangan untuk para ibu!

 

Kepada semuanya saya mengucapkan selamat hari Minggu. Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang. Sampai jumpa!

______


(Peter Suriadi - Bogor, 10 Mei 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 2 Mei 2021 : TINGGAL DI DALAM YESUS DAN MENGHASILKAN BUAH


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Dalam Bacaan Injil Hari Minggu Paskah V (Yoh 15:1-8) ini, Tuhan menampilkan diri-Nya sebagai pokok anggur sejati, dan berbicara tentang kita sebagai ranting-ranting yang tidak dapat hidup tanpa dipersatukan dengan-Nya. Maka Ia berkata : “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya” (ayat 5). Tidak ada pokok anggur tanpa ranting, begitu pula sebaliknya. Ranting-ranting tidak berdiri sendiri, tetapi bergantung sepenuhnya pada pokok anggur, yang merupakan sumber keberadaannya.

 

Yesus menekankan kata kerja "tinggal". Ia mengulanginya tujuh kali dalam Bacaan Injil hari ini. Sebelum meninggalkan dunia ini dan pergi kepada Bapa, Yesus ingin meyakinkan murid-murid-Nya bahwa mereka dapat terus bersatu dengan-Nya. Ia berkata, "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu" (ayat 4). Tinggal ini bukanlah soal tinggal secara pasif, “tertidur” di dalam Tuhan, membiarkan diri terbuai oleh kehidupan : tidak, tidak! Bukan ini. Tinggal di dalam Dia, tinggal di dalam Yesus yang Dia usulkan kepada kita adalah tinggal secara aktif, dan juga secara timbal balik. Mengapa? Karena ranting tanpa pokok anggur tidak dapat berbuat apa-apa, ranting membutuhkan getah untuk tumbuh dan menghasilkan buah; tetapi pokok anggur juga membutuhkan ranting, karena buah tidak tumbuh di batang pohon. Suatu kebutuhan timbal balik, suatu persoalan tinggal timbal balik untuk menghasilkan buah. Kita tinggal di dalam Yesus dan Yesus tinggal di dalam kita.

 

Pertama-tama, kita membutuhkan Dia. Tuhan ingin mengatakan kepada kita bahwa sebelum ketaatan terhadap perintah-perintah-Nya, sebelum Sabda bahagia, sebelum karya belas kasihan, dipersatukan dengan-Nya, tinggal di dalam Dia, diperlukan. Kita tidak bisa menjadi umat Kristiani yang baik jika kita tidak tinggal di dalam Yesus. Sebaliknya, bersama-Nya kita bisa melakukan segalanya (bdk. Flp 4:13). Bersama-Nya kita bisa melakukan segalanya.

 

Tetapi justru Yesus membutuhkan kita, seperti pokok anggur dengan ranting-rantingnya. Mungkin mengatakan hal ini tampak berani bagi kita, jadi kita bertanya pada diri kita sendiri : dalam arti apa Yesus membutuhkan kita? Ia membutuhkan kesaksian kita. Seperti ranting, buah yang harus kita berikan adalah kesaksian hidup kita sebagai umat Kristiani. Setelah Yesus naik kepada Bapa, tugas para murid - tugas kita - adalah terus mewartakan Injil dengan perkataan dan perbuatan. Dan para murid - kita, para murid Yesus - melakukannya dengan memberikan kesaksian tentang kasih-Nya : buah yang akan dihasilkan adalah kasih. Terikat kepada Kristus, kita menerima karunia Roh Kudus, dan dengan cara ini kita dapat berbuat baik kepada sesama kita, kita dapat berbuat baik kepada masyarakat, kepada Gereja. Pohon dikenal dari buahnya. Kehidupan Kristiani yang sesungguhnya memberikan kesaksian tentang Kristus.

 

Dan bagaimana kita bisa berhasil melakukan hal ini? Yesus berkata kepada kita : "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya" (ayat 7). Ini juga berani : kepastian bahwa apa yang kita minta akan diberikan kepada kita. Keberhasilan hidup kita bergantung pada doa. Kita dapat memohon untuk berpikir seperti Dia, bertindak seperti Dia, melihat dunia dan benda-benda dengan mata Yesus. Dan dengan cara ini, mengasihi saudara dan saudari kita, dimulai dari orang-orang paling miskin dan paling menderita, seperti yang Ia lakukan, serta mengasihi mereka dengan hati-Nya dan membawa ke dunia buah-buah kebaikan, buah-buah amal kasih, buah-buah kedamaian.

 

Marilah kita mempercayakan diri kita kepada perantaraan Perawan Maria. Ia selalu tetap bersatu sepenuhnya dengan Yesus dan menghasilkan buah berlimpah. Semoga ia membantu kita tinggal di dalam Kristus, di dalam kasih-Nya, di dalam sabda-Nya, untuk memberikan kesaksian tentang Tuhan yang bangkit kepada dunia.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara dan saudari yang terkasih,

 

Hari Jumat lalu di Caracas, Venezuela, José Gregorio Hernández Cisneros, seorang umat awam, dibeatifikasi. Ia adalah seorang dokter yang dipenuhi dengan ilmu pengetahuan dan iman : ia mampu mengenali wajah Kristus dalam diri orang-orang sakit dan, seperti orang Samaria yang baik, ia membantu mereka dengan amal kasih injili. Semoga teladannya membantu kita merawat orang-orang yang menderita secara jasmani dan rohani. Tepuk tangan untuk sang beato baru ...

 

Saya menyampaikan selamat kepada saudara-saudari kita dari Gereja Ortodoks serta Gereja Katolik Timur dan Latin yang hari ini, menurut kalender Julian, merayakan Hari Raya Paskah. Semoga Tuhan yang bangkit memenuhi mereka dengan terang dan kedamaian serta menghibur komunitas yang hidup dalam situasi yang sangat sulit. Selamat Paskah untuk mereka!

 

Kita telah memasuki bulan Mei, yang di dalamnya kesalehan populer mengungkapkan devosi kepada Perawan Maria dengan berbagai cara. Tahun ini devosi akan ditandai dengan maraton doa yang melibatkan tempat-tempat suci Maria yang terkemuka, untuk memohon berakhirnya pandemi. Kemarin malam adalah perhentian pertama, di Basilika Santo Petrus. Dalam konteks ini, ada prakarsa yang sangat dekat dengan hati saya : konteks Gereja Myanmar, yang mengundang kita untuk mendoakan perdamaian dengan satu kali Salam Maria bagi Myanmar dalam Rosario harian kita. Kita masing-masing berpaling kepada Bunda kita ketika kita membutuhkan atau berada dalam kesulitan; Bulan ini, kita memohon Sang Bunda Surgawi untuk berbicara di dalam hati semua pemimpin Myanmar agar mereka dapat menemukan keberanian untuk berjalan di jalan perjumpaan, rekonsiliasi dan perdamaian.

 

Dengan kesedihan saya menyampaikan simpati saya kepada rakyat Israel atas kecelakaan yang terjadi Jumat lalu di Gunung Meron, yang menewaskan 45 orang dan melukai banyak orang. Saya meyakinkan kamu akan ingatan saya dalam doa untuk para korban tragedi ini dan untuk keluarga mereka.

 

Hari ini pikiran saya juga tertuju pada Lembaga Meter, yang saya dorong untuk terus berupaya membantu anak-anak yang menjadi korban kekerasan dan eksploitasi.

 

Dan akhirnya, saya menyampaikan salam yang tulus kepada kalian semua yang hadir di sini, umat Roma dan para peziarah terkasih dari berbagai negara. Secara khusus, saya menyapa para anggota gerakan politik untuk persatuan yang didirikan oleh Chiara Lubich 25 tahun lalu : semoga sukses dan selamat bekerja dalam pelayanan politik yang baik.

 

Dan kepada kalian semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang dan sampai jumpa!

____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 2 Mei 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 25 April 2021 : YESUS, SANG GEMBALA YANG BAIK

 


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Pada Hari Minggu Paskah IV ini, yang disebut Hari Minggu Gembala yang Baik, Bacaan Injil (Yoh. 10:11-18) menampilkan Yesus sebagai gembala yang sungguh membela, mengenal dan mengasihi domba-domba-Nya.

 

"Orang upahan" adalah kebalikan dari Gembala yang baik, orang yang tidak peduli dengan domba-domba karena domba-domba tersebut bukan miliknya. Ia melakukan pekerjaan tersebut hanya untuk mendapatkan bayaran dan tidak peduli untuk membela mereka : ketika seekor serigala datang, ia melarikan diri dan meninggalkan domba-domba tersebut (bdk. ayat 12-13). Sebaliknya, Yesus, Sang Gembala sejati, selalu membela kita dan menyelamatkan kita dari begitu banyak situasi sulit, situasi berbahaya melalui terang sabda-Nya dan kekuatan kehadiran-Nya yang selalu kita alami jika kita sudi mendengarkan, setiap hari.

 

Aspek kedua yaitu Yesus, Sang Gembala yang baik, mengenal - aspek yang pertama : membela; aspek yang kedua : Ia mengenal domba-domba-Nya dan domba-domba-Nya mengenal-Nya (ayat 14). Betapa indah dan menghiburnya mengetahui bahwa Yesus mengenal kita satu per satu, kita tidak dikenal oleh-Nya, nama kita dikenal oleh-Nya! Kita bukan "massa", "orang banyak" bagi-Nya, bukan. Kita adalah pribadi yang unik, kisah kita masing-masing, Ia mengenal kisah kita, nilai kisah kita masing-masing, karena kita telah diciptakan maupun telah ditebus oleh Kristus. Kita masing-masing dapat berkata : Yesus, kenali aku! Kita masing-masing : Yesus mengenalku! Memang benar, seperti ini : Ia mengenal kita tidak seperti orang lain. Hanya Ia yang mengenal apa yang ada di dalam hati kita, niat kita, perasaan kita yang paling tersembunyi. Yesus mengenal kekuatan dan kekurangan kita, serta selalu siap untuk merawat kita, menyembuhkan luka-luka kesalahan kita dengan kelimpahan belas kasihan-Nya. Di dalam Dia, gambaran yang diberikan nabi-nabi tentang gembala umat Allah benar-benar terpenuhi : Yesus memperhatikan domba-domba-Nya, Ia mengumpulkan mereka, Ia membalut luka-luka mereka, menyembuhkan penyakit mereka. Kita dapat membaca hal ini dalam Kitab Nabi Yehezkiel (bdk. Yeh. 34:11-16).

 

 

Oleh karena itu, Yesus Sang Gembala yang baik membela, mengenal, dan terutama mengasihi domba-domba-Nya. Dan inilah sebabnya Ia memberikan nyawa-Nya untuk mereka (bdk. Yoh. 10:15). Mengasihi domba-domba-Nya, yaitu, kita masing-masing, akan menuntun-Nya kepada kematian di kayu salib. Karena inilah kehendak Bapa - bahwa tak seorang pun yang hilang. Kasih Kristus tidak pilih-pilih; kasih Kristus merangkul semua orang. Ia sendiri mengingatkan kita tentang hal ini dalam Injil hari ini ketika Ia berkata : “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala” (Yoh 10:16). Kata-kata ini memberi kesaksian tentang kepedulian universal : Ia adalah Gembala semua orang. Yesus ingin setiap orang dapat menerima kasih Bapa dan berjumpa Allah.

 

Dan Gereja dipanggil untuk menjalankan perutusan Kristus ini. Di luar mereka yang ikut serta dalam komunitas kita, ada mayoritas, banyak orang, yang melakukannya hanya pada saat-saat tertentu atau tidak pernah. Tetapi hal ini tidak berarti mereka bukan anak-anak Allah : Bapa mempercayakan setiap orang kepada Yesus Sang Gembala yang baik, dan Ia memberikan nyawa-Nya untuk semua orang.

 

Saudara dan saudari, Yesus membela, mengenal dan mengasihi kita, setiap orang. Semoga Santa Maria membantu kita menjadi orang pertama yang menyambut dan mengikuti Sang Gembala yang baik, bekerjasama dalam sukacita perutusan-Nya.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara dan saudari yang terkasih,

 

Hari Jumat lalu, di Santa Cruz de Quiché, Guatemala, José Maria Gran Cirera dan sembilan rekan martir dibeatifikasi : tiga imam dan tujuh awam dari Kongregasi Misionaris Hati Kudus Yesus, yang berketetapan hati untuk membela kaum miskin, yang dibunuh antara 1980 dan 1991, saat Gereja Katolik dianiaya. Dengan iman yang hidup kepada Kristus, mereka adalah saksi-saksi keadilan dan kasih yang heroik. Semoga teladan mereka membuat kita semakin murah hati dan berani dalam menghayati Injil. Marilah beri tepuk tangan untuk para beato baru. (Tepuk Tangan)

 

Saya mengungkapkan kedekatan saya dengan orang-orang yang tinggal di Kepulauan St Vincent dan Grenadines di mana letusan gunung berapi menyebabkan kerusakan dan kesulitan. Saya memastikan doa saya. Saya memberkati semua orang yang ikut serta dalam upaya pertolongan dan bantuan.

 

Saya juga dekat dengan para korban kebakaran di rumah sakit untuk pasien Covid di Baghdad. Hingga saat ini, sudah ada 82 orang yang meninggal dunia. Marilah kita mendoakan mereka semua.

 

Saya akui saya sangat sedih atas tragedi yang sekali lagi terjadi di Mediterania. Seratus tiga puluh orang migran tewas di laut. Mereka adalah manusia. Mereka adalah manusia yang sia-sia memohon pertolongan selama dua hari penuh - pertolongan yang tak kunjung tiba. Saudara dan saudari, marilah kita semua bertanya pada diri sendiri tentang tragedi kesekian ini. Momen yang memalukan. Marilah kita mendoakan saudara dan saudari ini, serta semua yang terus meninggal dalam penyeberangan yang tragis ini. Mari kita juga mendoakan mereka yang dapat membantu tetapi lebih memilih untuk melihat ke arah lain. Marilah kita mendoakan mereka dalam keheningan …

 

Hari ini, seluruh Gereja merayakan Hari Doa Panggilan Sedunia yang bertema Santo Yusuf : Impian Panggilan. Marilah kita bersyukur kepada Allah agar Ia dapat terus memperbanyak orang-orang di dalam Gereja yang, karena mengasihi-Nya, mengabdikan diri untuk pewartaan Injil dan pelayanan kepada saudara-saudari mereka. Dan hari ini secara khusus, marilah kita mengucap syukur atas sembilan imam yang telah saya tahbiskan di Basilika Santo Petrus - saya tidak tahu apakah mereka berada di sini - dan marilah kita memohon kepada Allah untuk mengutus pekerja-pekerja yang baik untuk bekerja di kebun anggur-Nya dan agar Ia sudi memperbanyak panggilan hidup bakti.

 

Dan sekarang dengan sepenuh hati saya menyapa kalian semua, umat Roma dan para peziarah. Secara khusus, saya menyapa keluarga dan sahabat para imam yang baru ditahbiskan, serta komunitas Kolose Kepausan Jerman-Hungaria yang melakukan peziarahan tradisional Gereja-gereja ketujuh hari ini.

 

Kepada kalian semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Dan tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang. Sampai jumpa!

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 18 April 2021 : TIGA KATA KERJA KASIH : MELIHAT, MERABA, MAKAN

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Pada Hari Minggu Paskah III ini, kita kembali ke Yerusalem, di Ruang Atas, seperti dibimbing oleh dua murid Emaus, yang dengan perasaan yang luar biasa telah mendengarkan kata-kata Yesus di sepanjang perjalanan dan kemudian telah mengenali-Nya “dalam pemecahan roti” (Luk 24:35). Sekarang, di Ruang Atas, Kristus yang bangkit menampakkan diri di tengah-tengah kelompok murid dan menyapa : "Damai sejahtera bagi kamu!" (ayat 36). Tetapi mereka takut dan menyangka "bahwa mereka melihat hantu" (ayat 37), seperti dikatakan Injil. Kemudian Yesus menunjukkan kepada mereka luka-luka di tubuh-Nya dan berkata : “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku" - luka-luka tersebut - "Aku sendirilah ini; rabalah Aku” (ayat 39). Dan untuk meyakinkan mereka, Ia meminta makanan dan memakannya di depan mata mereka yang masih heran (bdk. ayat 41-42).

 

Ada rincian di sini, dalam uraian ini. Injil mengatakan bahwa para Rasul “belum percaya karena girangnya”. Kegirangan yang mereka miliki sedemikian rupa sehingga mereka tidak percaya bahwa hal ini benar. Dan rincian kedua : mereka bingung, heran; heran karena perjumpaan dengan Allah selalu membawamu kepada keheranan : perjumpaan dengan Allah melampaui antusiasme, melampaui sukacita; perjumpaan dengan Allah adalah pengalaman lain. Dan mereka penuh sukacita, tetapi sukacita membuat mereka berpikir : tidak, ini tidak mungkin benar! ... Inilah keheranan akan kehadiran Allah. Jangan lupakan kerangka pikiran yang begitu indah ini.

 

Tiga kata kerja yang sangat nyata menjadi ciri khas perikop Injil ini. Dalam arti tertentu, ketiga kata kerja tersebut mencerminkan kehidupan individu dan komunitas kita : melihat, meraba, dan makan. Tiga tindakan yang dapat memberikan sukacita berkat perjumpaan sejati dengan Yesus yang hidup.

 

Melihat. “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku”, kata Yesus. Melihat tidak sekadar melihat, lebih dari itu; melihat juga melibatkan niat, kehendak. Karena alasan ini, melihat adalah salah satu kata kerja kasih. Seorang ibu dan ayah melihat anak mereka; sepasang kekasih saling melihat; seorang dokter yang baik melihat pasien dengan seksama …. Melihat adalah langkah pertama menentang ketidakpedulian, menentang godaan untuk melihat ke arah lain di hadapan kesulitan dan penderitaan orang lain. Melihat. Apakah aku melihat atau memandang Yesus?

 

Kata kerja yang kedua adalah meraba. Dengan mengundang murid-murid untuk meraba-Nya, memastikan Ia bukan hantu - rabalah Aku! - Yesus menunjukkan kepada mereka dan kepada kita bahwa hubungan dengan-Nya dan dengan saudara-saudari kita tidak bisa tetap “dalam jarak”. Kekristenan tidak berada dalam kejauhan; kekristenan tidak hanya berada pada tingkatan melihat. Kasih membutuhkan penampilan dan juga membutuhkan kedekatan; kasih membutuhkan kontak, berbagi kehidupan. Orang Samaria yang baik tidak mengekang dirinya untuk melihat orang yang ia temukan hampir mati di jalan : ia berhenti, ia membungkuk, ia merawat luka-lukanya, ia merabanya, ia mengangkatnya ke atas kuda tunggangannya dan membawanya ke penginapan. Dan serupa dengan Yesus : mengasihi-Nya berarti masuk ke dalam persekutuan hidup, persekutuan dengan-Nya.

 

Dan dengan demikian, kita sampai pada kata kerja yang ketiga, makan, yang dengan jelas mengungkapkan kemanusiaan kita dalam kemiskinannya yang paling alami, yaitu kebutuhan kita untuk memberi makan diri kita sendiri agar dapat hidup. Tetapi makan, ketika kita melakukannya bersama, di antara keluarga atau teman, juga menjadi ungkapan kasih, ungkapan persekutuan, ungkapan perayaan…. Betapa sering Injil menampilkan kepada kita Yesus yang mengalami dimensi keramahtamahan ini! Bahkan ketika Ia sudah bangkit, bersama murid-murid-Nya. Sampai-sampai Perjamuan Ekaristi telah menjadi lambang komunitas Kristiani. Makan bersama-sama tubuh Kristus : inilah inti kehidupan Kristiani.

 

Saudara dan saudari, perikop Injil ini memberitahu kita bahwa Yesus bukan "hantu", tetapi Pribadi yang hidup; ketika Yesus mendekati kita, Ia memenuhi kita dengan sukacita, sampai pada titik ketidakpercayaan, dan Ia membuat kita bingung, dengan keheranan yang hanya diberikan oleh kehadiran Allah, karena Yesus adalah Pribadi yang hidup.

 

Menjadi Kristiani pertama-tama bukanlah ajaran atau cita-cita moral; menjadi Kristiani adalah hubungan yang hidup dengan-Nya, dengan Tuhan yang bangkit : kita melihat-Nya, kita meraba-Nya, kita dipelihara oleh-Nya dan, diubah rupa oleh kasih-Nya, kita melihat, meraba dan memelihara orang lain sebagai saudara dan saudari kita. Semoga Perawan Maria membantu kita menghayati pengalaman rahmat ini.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari yang terkasih!

 

Kemarin di Biara Casamari, Cardon dan lima rekan martirnya, biarawan Cistercian biara itu, dinyatakan sebagai Beato. Pada tahun 1799, ketika tentara Prancis yang menarik diri dari Napoli menjarah berbagai gereja dan biara, murid-murid Kristus yang lembut ini melawan dengan keberanian heroik, hingga menemui ajal, demi mempertahankan Ekaristi dari penistaan. Semoga teladan mereka memacu kita untuk semakin berketetapan hati untuk setia kepada Allah, bahkan mampu mengubah rupa masyarakat dan menjadikannya semakin adil dan bersaudara. Tepuk tangan yang meriah untuk para beato baru!

 

Dan ini adalah sesuatu yang menyedihkan. Saya sedang mengikuti dengan keprihatinan yang mendalam peristiwa-peristiwa di beberapa daerah di Ukraina timur, di mana dalam beberapa bulan terakhir pelanggaran gencatan senjata telah berlipat ganda, dan saya mengamati dengan sangat ketakutan peningkatan kegiatan militer. Tolong, saya sangat berharap agar peningkatan ketegangan dapat dihindari dan, sebaliknya, tindakan yang mampu meningkatkan rasa saling percaya serta mendorong rekonsiliasi dan perdamaian yang perlu dan diinginkan dapat dilakukan. Semoga kita juga tetap memperhatikan situasi kemanusiaan yang berat yang dialami oleh penduduk tersebut, yang kepada mereka saya mengungkapkan kedekatan saya dan bagi mereka saya mengundang kalian untuk berdoa.

 

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuh-Mu, Yesus. Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin.

 

Hari ini di Italia kita sedang merayakan Hari Universitas Katolik Hati Kudus, yang selama seratus tahun telah memberikan pelayanan yang berharga untuk pembentukan generasi baru. Semoga universitas tersebut terus menjalankan misi pendidikannya untuk membantu kaum muda menjadi pelaku utama masa depan yang kaya akan harapan. Dengan tulus, saya memberkati para staf, guru besar, dan mahasiswa Universitas Katolik tersebut.

 

Dan sekarang saya menyampaikan salam hangat kepada kalian semua, umat Roma dan para peziarah…, umat Brasil, Polandia, Spanyol…, dan saya melihat bendera lain di sana…. Syukur kepada Tuhan kita kembali dapat menemukan diri di Lapangan [Santo Petrus] ini demi janji hari Minggu dan hari libur. Saya akan memberitahu sesuatu kepada kalian : saya merindukan Lapangan Santo Petrus ketika saya harus mendaraskan doa Malaikat Tuhan di perpustakaan. Saya senang, syukur kepada Allah! Dan terima kasih atas kehadiran kalian …. Kepada kaum muda Imakulata, yang baik…. Dan kepada semuanya, saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang. Sampai jumpa!

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 18 April 2021)