Liturgical Calendar

Showing posts with label Wejangan Regina Caeli 2023. Show all posts
Showing posts with label Wejangan Regina Caeli 2023. Show all posts

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 28 Mei 2023 : TENTANG HARI RAYA PENTAKOSTA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini, Hari Raya Pentakosta, Injil membawa kita ke ruang atas, tempat para rasul berlindung setelah kematian Yesus (Yoh 20:19-23). Yesus yang bangkit, pada Paskah petang, menampakkan diri-Nya persis dalam situasi ketakutan dan kesedihan tersebut serta, mengembusi mereka, berkata: "Terimalah Roh Kudus" (ayat 22). Dengan cara ini, dengan karunia Roh, Yesus ingin membebaskan para murid dari rasa takut, dari rasa takut yang mengurung mereka di rumah, dan Ia membebaskan mereka sehingga mereka dapat berangkat serta menjadi saksi dan pewarta Injil. Marilah kita sedikit memikirkan apa yang dilakukan Roh : Ia membebaskan dari rasa takut.

 

Murid-murid telah menutup pintu-pintu, kata Injil, “karena takut” (ayat 19). Kematian Yesus mengejutkan mereka, impian mereka hancur, harapan mereka sirna. Dan mereka menutup diri. Bukan hanya di dalam ruangan itu, tetapi di dalam diri mereka, di dalam hati mereka. Saya ingin menggarisbawahi hal ini : tertutup di dalam diri mereka. Seberapa sering kita terlalu mengurung diri? Seberapa sering, karena suatu situasi yang sulit, karena suatu masalah pribadi atau keluarga, karena suatu penderitaan yang melanda kita atau kejahatan yang dihembuskan di sekitar kita, kita berisiko perlahan-lahan kehilangan harapan dan kurang berani untuk melanjutkan? Ini terjadi berkali-kali. Dan kemudian, seperti para rasul, kita mengurung diri, membarikade diri kita dalam labirin kekhawatiran.

 

Saudara-,saudari, “menutup diri” ini terjadi ketika, dalam situasi yang paling sulit, kita membiarkan rasa takut mengambil alih dan membiarkan suaranya yang keras menguasai diri kita. Oleh karena itu, penyebabnya adalah rasa takut: rasa takut tidak mampu mengatasi, menghadapi pertempuran sehari-hari sendirian, mengambil risiko dan kemudian kecewa, membuat keputusan yang salah. Saudara, saudari, rasa takut menghadang, rasa takut melumpuhkan. Dan rasa takut juga mengasingkan : pikirkan rasa takut orang lain, orang-orang asing, orang-orang yang berbeda, orang-orang yang berpikir dengan cara lain. Dan bahkan bisa ada rasa takut akan Allah: rasa takut Ia akan menghukumku, rasa takut Ia akan marah kepadaku … Jika kita memberi ruang bagi rasa takut palsu ini, pintu akan tertutup : pintu hati, pintu masyarakat, dan bahkan pintu Gereja! Di mana ada rasa takut, di situ ada ketertutupan. Dan hal ini tidak akan berhasil.

 

Tetapi, bacaan Injil menawarkan kepada kita obat Yesus yang bangkit : Roh Kudus. Ia membebaskan kita dari penjara ketakutan. Ketika mereka menerima Roh, para rasul – kita merayakannya hari ini – keluar dari ruang atas dan pergi ke dunia untuk mengampuni dosa dan mewartakan kabar baik. Berkat Dia, ketakutan diatasi dan pintu terbuka. Karena inilah yang dilakukan Roh : Ia membuat kita merasakan Allah yang dekat, dan dengan demikian kasih-Nya mengenyahkan rasa takut, menerangi jalan, menghibur, menopang dalam kesulitan. Berhadapan dengan ketakutan dan ketertutupan, marilah kita memohonkan Roh Kudus untuk kita, Gereja dan seluruh dunia : biarlah Pentakosta baru mengentahkan rasa takut yang menyerang kita dan menghidupkan kembali nyala kasih Allah.

 

Semoga Santa Maria, orang pertama yang dipenuhi Roh Kudus, menjadi pengantara kita.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Tanggal 22 Mei lalu diperingati 150 tahun wafatnya salah satu tokoh sastra terkemuka, Alessandro Manzoni. Melalui karya-karyanya, ia berbicara untuk para korban dan orang-orang kecil : mereka selalu berada di bawah perlindungan Penyelenggaraan ilahi, yang “menciptakan dan membunuh, yang menghukum kemudian menyembuhkan dalam kasih”; dan didukung juga oleh kedekatan para gembala Gereja yang setia, yang hadir di halaman-halaman mahakarya Manzoni.

 

Saya mengundangmu untuk mendoakan penduduk yang tinggal di perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh, yang dilanda badai topan : lebih dari delapan ratus ribu orang, selain banyak rakyat Rohingya yang sudah hidup dalam kondisi genting. Saat saya menegaskan kembali kedekatan saya dengan penduduk ini, saya berbicara kepada para pemimpin, agar mereka dapat memfasilitasi akses bantuan kemanusiaan, serta saya mengimbau rasa kesetiakawanan manusiawi dan gerejawi untuk datang membantu saudara-saudari kita ini.

 

Dengan hangat saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari Italia dan banyak negara, terutama umat dari Panama dan peziarahan Keuskupan Agung Tulancingo, Meksiko, yang sedang merayakan Nuestra Señora de los Angeles; serta rombongan dari Novellana, Spanyol. Saya juga menyapa umat Celeseo, Padua, dan Bari, serta saya menyampaikan berkat saya kepada mereka yang telah berkumpul di Rumah Sakit Gemelli untuk mempromosikan prakarsa persaudaraan dengan orang-orang sakit.

 

Rabu depan, pada akhir bulan Mei, momen doa direncanakan di tempat-tempat suci Maria di seluruh dunia untuk mendukung persiapan Sidang Biasa Sinode Para Uskup berikutnya. Kita memohon Perawan Maria untuk menyertai tahapan penting Sinode ini dengan perlindungan keibuannya. Dan kepadanya kita juga mempercayakan keinginan untuk perdamaian begitu banyak penduduk di seluruh dunia, terutama Ukraina yang terkepung.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Dan jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang dan selamat tinggal!
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 28 Mei 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 21 Mei 2023 : MENGAPA MERAYAKAN KENAIKAN YESUS KE SURGA?

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini, di Italia dan banyak negara lain, Hari Raya Kenaikan Tuhan dirayakan. Hari Raya Kenaikan Tuhan kita kenal dengan baik, tetapi dapat menimbulkan beberapa pertanyaan - setidaknya ada dua pertanyaan. Pertanyaan pertama : Mengapa merayakan kepergian Yesus dari bumi? Tampaknya kepergian Yesus akan menjadi saat yang menyedihkan, bukan sesuatu yang patut disyukuri! Mengapa merayakan kepergian? Pertanyaan pertama. Pertanyaan kedua : Apa yang dilakukan Yesus sekarang di surga? Pertanyaan pertama : Mengapa merayakan? Pertanyaan kedua : Apa yang dilakukan Yesus di surga?

 

Mengapa kita merayakan. Karena dengan Kenaikan Yesus ke surga, sesuatu yang baru dan indah terjadi : Yesus membawa kemanusiaan kita, daging kita, ke surga – ini adalah pertama kalinya – yaitu, Ia membawanya di dalam Allah. Kemanusiaan yang Ia tanggung di bumi itu tidak tetap di sini. Yesus yang bangkit bukanlah roh, bukan. Ia memiliki tubuh manusiawi, daging dan tulang, semuanya. Ia akan ada di dalam Allah. Kita dapat mengatakan bahwa sejak hari Kenaikan, Allah sendiri "berubah" - sejak saat itu, Ia bukan hanya roh, tetapi kasih-Nya kepada kita sedemikian rupa sehingga Ia membawa daging kita di dalam diri-Nya, kemanusiaan kita! Tempat yang menanti kita telah ditunjukkan; itulah takdir kita. Demikian dituliskan seorang Bapa zaman dahulu dalam iman : “Sungguh berita yang luar biasa! Ia yang menjadi manusia demi kita […] untuk menjadikan kita saudara-saudara-Nya, menghadirkan diri-Nya sebagai manusia di hadapan Bapa untuk menanggung bersama diri-Nya semua orang yang bergabung dengan-Nya” (Santo Gregorius dari Nyssa, Pengajaran tentang Kebangkitan Kristus, 1) . Hari ini, kita merayakan “penaklukan surga” – Yesus, yang kembali kepada Bapa, tetapi dengan kemanusiaan kita. Jadi, surga sedikit sudah menjadi milik kita. Yesus telah membuka pintu dan tubuh-Nya ada di sana.

 

Pertanyaan kedua : Jadi, apa yang dilakukan Yesus di surga? Ia ada untuk kita di hadapan Bapa, terus-menerus menunjukkan kemanusiaan kita kepada-Nya – menunjukkan luka-luka-Nya. Saya suka berpikir bahwa Yesus, berdoa seperti ini di hadapan Bapa – membuat Bapa melihat luka-luka-Nya. “Inilah yang Kuderita demi umat manusia : Perbuatlah sesuatu!” Iia menunjukkan kepada Bapa harga penebusan kita. Bapa tergerak. Ini adalah sesuatu yang saya suka pikirkan. Tetapi pikirkanlah sendiri. Beginilah cara Yesus berdoa. Ia tidak meninggalkan kita sendirian. Sesungguhnya, sebelum naik ke surga, Ia memberitahu kita, sebagaimana dikatakan Bacaan Injil hari ini, "Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman" (Mat 28:20). Ia senantiasa bersama kita, memandang kita, dan “Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara” (Ibr 7:25) demi kita. Membuat Bapa melihat luka-luka-Nya, demi kita. Singkatnya, Yesus menjadi Pengantara. Ia berada di “tempat” yang lebih baik, di hadapan Bapa-Nya dan Bapa kita, untuk menjadi pengantara kita.

 

Pengantaraan hakiki. Keyakinan ini juga membantu kita – tidak kehilangan harapan, tidak putus asa. Di hadapan Bapa, ada seseorang yang membuat Bapa melihat luka-lukanya dan menjadi pengantara. Semoga Ratu Surga membantu kita menjadi pengantara dengan kekuatan doa.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Menyedihkan, tetapi sebulan setelah pecahnya kekerasan di Sudan, situasi terus menjadi gawat. Sambil mendorong kesepakatan parsial yang telah dicapai sejauh ini, dengan tulus saya kembali menyerukan untuk melakukan gencetan senjata, dan saya meminta masyarakat internasional untuk tidak menyia-nyiakan upaya mewujudkan dialog dan meringankan penderitaan rakyat. Dan marilah kita terus berada di dekat rakyat Ukraina yang terkepung.

 

Hari Komunikasi Sedunia diperingati dengan tema Berbicara dengan Hati. Hatilah yang menggerakkan kita menuju komunikasi yang terbuka dan mudah memahami. Saya menyapa para jurnalis, pakar komunikasi, berterima kasih atas karya mereka. Dan saya berharap mereka selalu bekerja untuk melayani kebenaran dan kebaikan bersama. Tepuk tangan meriah untuk semua jurnalis!

 

Hari ini, Pekan Laudato Si’ dimulai. Saya berterima kasih kepada Dikasteri karena Mempromosikan Pembangunan Manusia Seutuhnya dan banyak organisasi yang berpartisipasi. Dan saya mengajak semuanya untuk bekerjasama dalam merawat rumah kita bersama. Ada kebutuhan untuk menyatukan kemampuan dan kreativitas kita! Bencana baru-baru ini mengingatkan kita akan hal ini, seperti banjir yang melanda penduduk Emiglia Romagna akhir-akhir ini, yang kepada mereka, dengan sepenuh hati, saya memperbaharui kedekatan saya. Hari ini, buklet tentang Laudato Si', yang telah disiapkan Dikasteri bekerjasama dengan Institut Lingkungan Stockholm, akan dibagikan di Lapangan [Santo Petrus].

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari Italia dan banyak negara – saya melihat banyak bendera di sana, selamat datang! Saya secara khusus menyapa para Suster Fransiskan Santa Elisabet dari Indonesia – dari jauh; umat dari Malta, Mali, Argentina, Pulau Karibia Curaçao, dan kelompok musik dari Puerto Rico. Kita ingin mendengarmu bermain setelahnya!

 

Selain itu, saya menyapa peziarahan Keuskupan Alessandria; para calon penerima krisma dari Keuskupan Genoa yang saya temui kemarin. Kemarin, saya bertemu dengan mereka, dengan topi merah di sana, di Santa Marta – mereka luar biasa!; kelompok paroki dari Molise, Scandicci, Grotte dan Grumo Nevano; lembaga yang berkomitmen untuk melindungi kehidupan manusia; paduan suara kaum muda “Emil Komel” dari Gorizia; sekolah “Katarina Santa Rose” dan “Santa Ursula” dari Roma; dan umat bersama Immacolata.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Tolong jangan lupa. Selamat menikmati makan siangmu dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 21 Mei 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 14 Mei 2023 : ROH KUDUS ADALAH PENGHIBUR DAN PEMBELA KITA


Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil hari ini, Hari Minggu Paskah VI, berbicara kepada kita tentang Roh Kudus, yang disebut Yesus Sang Penghibur (bdk. Yoh 14:15-17). Parakletos adalah kata yang berasal dari bahasa Yunani, yang berarti penghibur dan juga pembela. Artinya Roh Kudus tidak pernah meninggalkan kita sendirian, Ia dekat dengan kita, seperti seorang pembela yang membantu terdakwa, berdiri di sampingnya. Dan Ia menyarankan kepada kita bagaimana membela diri dari orang-orang yang mendakwa kita. Marilah kita ingat bahwa pendakwa besar selalu iblis, yang meletakkan dosa di dalam dirimu, keinginan untuk berbuat dosa, kejahatan. Marilah kita renungkan dua aspek ini : kedekatan-Nya dengan kita, dan pertolongan-Nya terhadap orang-orang yang mendakwa kita.

 

Kedekatan-Nya : Roh Kudus, Yesus berkata, "menyertai kamu dan akan tinggal di dalam kamu" (bdk. ayat 17). Ia tidak pernah meninggalkan kita. Roh Kudus ingin tinggal bersama kita : Ia bukan tamu yang lewat yang datang untuk mengunjungi kita. Ia adalah pendamping hidup, kehadiran yang terus menerus. Ia adalah Roh dan ingin tinggal di dalam roh kita. Ia sabar dan tetap bersama kita bahkan ketika kita jatuh. Ia bertahan karena Ia benar-benar menngasihi kita; Ia tidak berpura-pura mengasihi kita, lalu meninggalkan kita sendirian saat keadaan menjadi sulit. Tidak. Ia setia, Ia terus terang, Ia sahih.

 

Di sisi lain! Jika kita menemukan diri kita dalam saat pencobaan, Roh Kudus menghibur kita, memberi kita pengampunan dan kekuatan Allah. Dan ketika Ia menempatkan kesalahan kita di hadapan kita dan mengoreksi kita, Ia melakukannya dengan lembut – selalu ada nada kelembutan dan kehangatan kasih dalam suara-Nya yang berbicara ke hati. Tentu saja, Sang Roh, Sang Penghibur, sangat menuntut, karena Ia adalah sahabat sejati yang setia, yang tidak menyembunyikan apa pun, yang menyarankan apa yang perlu diubah dan di mana pertumbuhan perlu dilakukan. Tetapi ketika Ia mengoreksi kita, Ia tidak pernah mempermalukan kita, dan tidak pernah menanamkan ketidakpercayaan. Ia justru menyampaikan kepastian bahwa bersama Allah, kita selalu bisa mewujudkannya. Ini adalah kedekatan-Nya. Ini adalah kepastian yang indah.

 

Roh Kudus sebagai Parakletos adalah aspek kedua. Ia adalah pembela kita dan Ia menjaga kita. Ia menjaga kita dari orang-orang yang mendakwa kita: dari diri kita ketika kita tidak menghargai dan mengampuni diri kita, ketika kita melangkah lebih jauh dengan mengatakan kepada diri kita bahwa kita telah gagal, kita sama sekali tidak berguna; dari dunia yang mencampakkan orang-orang yang tidak sesuai dengan perintah dan polanya; terutama dari iblis yang merupakan sang "pendakwa" dan pemecah belah (bdk. Why 12:10), serta melakukan segalanya untuk membuat kita merasa tidak mampu dan tidak bahagia.

 

Berhadapan dengan segenap pikiran yang mendakwa ini, Roh Kudus menyarankan kepada kita bagaimana menanggapinya. Bagaimana? Sang Penolong, kata Yesus, adalah sosok yang “mengingatkan kita akan segala sesuatu yang dikatakan Yesus kepada kita” (bdk. Yoh 14:26). Oleh karena itu, Ia mengingatkan kita kata-kata Injil, dan dengan demikian memampukan kita untuk menanggapi iblis yang mendakwa, bukan dengan kata-kata kita, tetapi dengan kata-kata Tuhan sendiri. Ia mengingatkan kita, terutama, bahwa Yesus selalu berbicara tentang Bapa yang ada di surga, Ia memperkenalkan Bapa kepada kita, dan mengungkapkan kasih Bapa bagi kita, bahwa kita adalah anak-anak-Nya. Jika kita memanggil Roh Kudus, kita akan belajar merangkul dan mengingat kebenaran hidup yang paling penting yang melindungi kita dari dakwaan si jahat. Dan apa kebenaran terpenting dalam hidup? Kita adalah anak-anak Allah yang terkasih. Kita adalah anak-anak yang dikasihi Allah: ini adalah kebenaran terpenting, dan Roh Kudus mengingatkan kita akan hal ini.

 

Saudara-saudari, marilah kita bertanya pada diri kita hari ini : Apakah kita memanggil Roh Kudus? Apakah kita sering berdoa kepada-Nya? Janganlah kita melupakan sosok yang dekat dengan kita, atau lebih tepatnya, yang ada di dalam diri kita! Lalu : apakah kita mendengarkan suara-Nya, baik ketika Ia menyemangati kita maupun ketika Ia mengoreksi kita? Apakah kita menanggapi dengan kata-kata Yesus terhadap dakwaan si jahat, terhadap “pengadilan” kehidupan? Apakah kita ingat bahwa kita adalah anak-anak Allah yang terkasih? Semoga Maria menjadikan kita taat pada suara Roh Kudus dan peka terhadap kehadiran-Nya.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Dalam beberapa hari terakhir, kita sekali lagi menyaksikan pertikaian bersenjata antara Israel dan Palestina di mana orang-orang tak berdosa kehilangan nyawanya, termasuk perempuan dan anak-anak. Saya berharap gencatan senjata yang baru-baru ini tercapai menjadi berkesinambungan, senjata dibungkam, karena keamanan dan stabilitas tidak pernah diperoleh melalui penggunaan senjata, bahkan setiap harapan perdamaian akan terus dihancurkan.

Dengan tulus saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari Italia dan banyak negara lainnya, khususnya umat dari Kanada, Singapura, Malaysia dan Spanyol.

 

Saya menyapa para pemimpin Komunitas Saint Egidio dari 25 negara Afrika, serta Administrasi dan Profesor dari Universitas Radom Polandia. Saya menyapa Karitas International yang sedang melakukan rapat dan telah memilih presiden baru. Dengan keteguhan hati bergerak majulah di jalan reformasi!

 

Saya menyapa umat Scandicci dan Torrita di Siena; anak-anak dari Decanato Appiano Gentile, Pramuka Agesci dari Alghero, dan kaum muda dari Senigallia; Institut Skolastika “Yohanes XXIII” dari Cammarata; dan para peserta estafet untuk mendukung kehidupan Yayasan Antikanker.

 

Hari Ibu dirayakan di banyak negara hari ini. Marilah dengan penuh syukur dan kasih sayang kita mengingat semua ibu – mereka yang masih bersama kita dan mereka yang telah pergi ke surga – marilah kita mempercayakan mereka kepada Maria, bunda Yesus. Marilah kita beri mereka tepuk tangan meriah!

 

Marilah kita berpaling kepadanya memohon untuk meringankan penderitaan Ukraina yang babak belur serta semua bangsa yang terluka oleh perang dan kekerasan.

 

Saya mengharapkan kamu semua menikmati hari Minggu. Dan saya menyapa kelompok Immaculata, yang luar biasa! Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu dan sampai jumpa!
__________

(Peter Suriadi - Bogor, 14 Mei 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 7 Mei 2023 : KE MANA KITA HARUS PERGI DAN BAGAIMANA MENUJU KE SANA?

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini (Yoh 14:1-12) diambil dari wejangan terakhir Yesus sebelum wafat-Nya. Hati para murid gelisah, tetapi Tuhan mengucapkan kata-kata yang meyakinkan mereka, mengajak mereka untuk tidak takut, jangan takut. Ia tidak meninggalkan mereka, tetapi akan menyiapkan tempat bagi mereka dan membimbing mereka menuju tujuan tersebut. Oleh karena itu hari ini Tuhan menunjukkan kepada kita semua tempat yang indah untuk dikunjungi, dan, pada saat yang sama, memberitahu kita bagaimana menuju ke sana, menunjukkan jalan kepada kita. Ia memberitahu kita ke mana harus pergi dan bagaimana menuju ke sana.

 

Pertama-tama, ke mana harus pergi. Yesus melihat kesusahan para murid, Ia melihat mereka takut akan ditinggalkan, seperti yang terjadi pada kita ketika kita terpaksa berpisah dari seseorang yang kita sayangi. Maka, Ia berkata, “Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu ... supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (ayat 2-3). Yesus menggunakan gambaran umum tentang rumah, tempat hubungan dan keintiman. Di rumah Bapa – kata-Nya kepada para sahabat-Nya, dan kepada kita masing-masing – ada ruang untukmu, selamat datang, kamu akan senantiasa diterima dengan kehangatan pelukan, dan Aku berada di Surga untuk menyiapkan tempat bagimu! Ia mempersiapkan kita untuk berpelukan dengan Bapa, tempat untuk segenap keabadian.

 

Saudara-saudari, Sabda ini adalah sumber penghiburan, dan sumber pengharapan kita. Yesus tidak berpisah dari kita, tetapi telah membuka jalan bagi kita, mengantisipasi tujuan akhir kita : perjumpaan dengan Allah Bapa, yang di dalam hati-Nya kita masing-masing mendapat tempat. Jadi, ketika kita mengalami kelelahan, kebingungan bahkan kegagalan, marilah kita ingat ke mana arah hidup kita. Kita tidak boleh melupakan tujuan tersebut, bahkan ketika kita berisiko mengabaikannya, melupakan pertanyaan-pertanyaan akhir, pertanyaan-pertanyaan penting : ke mana aku akan pergi? Ke arah mana aku akan berjalan? Apakah menuju hidup yang layak? Tanpa pertanyaan-pertanyaan ini, kita memadatkan hidup kita ke masa kini, kita berpikir bahwa kita harus menikmatinya semaksimal mungkin dan mengakhiri hidup hari demi hari, tanpa arah, tanpa tujuan. Sebaliknya, tanah air kita terdapat di dalam surga (bdk. Flp 3:20); janganlah kita melupakan keagungan dan keindahan tujuan kita!

 

Begitu kita menemukan sasaran, kita juga, seperti rasul Tomas dalam Bacaan Injil hari ini, bertanya-tanya : bagaimana kita bisa sampai ke sana, apa jalannya? Kadang-kadang, khususnya ketika ada masalah besar yang harus dihadapi dan ada perasaan bahwa kejahatan lebih kuat, kita bertanya pada diri kita : apa yang harus kuperbuat, jalan apa yang harus kuikuti? Marilah kita mendengarkan jawaban Yesus : “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6). “Akulah jalan”. Yesus sendiri adalah jalan yang harus kita ikuti untuk hidup dalam kebenaran dan memiliki hidup yang berkelimpahan. Ia adalah jalan dan oleh karena itu beriman kepada-Nya bukanlah "seperangkat gagasan" untuk dipercaya, melainkan jalan yang harus dilalui, perjalanan yang harus dilakukan, sebuah jalan bersama-Nya. Beriman kepada Yesus adalah mengikuti-Nya, karena Ia adalah jalan menuju kebahagiaan yang tak berkesudahan. Mengikuti Yesus dan meneladan-Nya, terutama dengan perbuatan kedekatan dan belas kasih terhadap sesama. Inilah penunjuk arah untuk mencapai Surga : mengasihi Yesus, Sang Jalan, menjadi tanda-tanda mengasihi-Nya di bumi.

 

Saudara-saudari, marilah kita menjalani masa kini, marilah kita menggenggam masa kini, tetapi janganlah kita kewalahan; marilah kita memandang ke atas, marilah kita memandang ke Surga, marilah kita mengingat tujuan, marilah kita berpikir bahwa kita dipanggil menuju keabadian, menuju perjumpaan dengan Allah. Dan, dari Surga menuju hati, marilah hari ini kita memperbaharui pilihan Yesus, pilihan untuk mengasihi Dia dan berjalan di belakang Dia. Semoga Perawan Maria, yang mengikuti Yesus dan telah tiba di tujuan, menopang pengharapan kita.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Kemarin dua Beatifikasi dirayakan. Di Montevideo, di Uruguay, Uskup Jacinto Vera, yang hidup pada abad kesembilan belas, dibeatifikasi. Seorang imam yang merawat umatnya, ia menjadi saksi Injil dengan semangat misioner yang berlimpah, mempromosikan rekonsiliasi sosial dalam suasana ketegangan perang saudara. Di Granada, Spanyol, Maria de la Concepción Barrechegurn y García belia dibeatifikasi. Terbaring di tempat tidur karena sakit parah, ia menanggung penderitaannya dengan ketabahan rohani yang besar, menginspirasi kekaguman dan penghiburan dalam segala hal. Ia meninggal pada tahun 1927 dalam usia 22 tahun. Tepuk tangan meriah untuk Beato dan Beata tersebut!

 

Dengan tulus saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari Italia dan banyak negara, khususnya umat dari Australia, Spanyol, Inggris dan mahasiswa dari Kolose Santo Thomas Lisbon.

 

Saya menyapa Lembaga Meter dan pendirinya Don Fortunato Di Noto, yang melanjutkan ketetapan hati mereka untuk mencegah dan memberantas kekerasan terhadap anak di bawah umur; hari ini mereka merayakan Hari Korban Anak ke-27; selama 30 tahun mereka telah menjaga anak-anak dari pelecehan dan kekerasan. Saya dekat denganmu, saudara-saudari, dan saya menyertaimu dengan doa dan kasih sayang. Jangan pernah lelah berada di pihak korban, ada Kanak Kristus yang menunggumu, terima kasih!

 

Saya menyapa kelompok pasien fibromyalgia Wilayah Medis Vikariat Roma; para Suster Santo Yosef Benediktus Cottolengo; Lembaga Kerahiman Awam; Keluarga Kamillian Awam; umat Pozzuoli, Caraglio dan Valle Grana; serta paduan suara Empoli dan Ponte Buggianese.

 

Sapaan khusus tertuju kepada para anggota baru Garda Swiss, keluarga dan sahabat-sahabat mereka, dan pemerintah Swiss yang ambil bagian dalam perayaan Korps yang terhormat ini. Tepuk tangan meriah untuk Garda Swiss, semuanya!

 

Besok di Pompeii Permohonan tradisional kepada Bunda Rosario akan dipanjatkan, di Tempat Suci yang ingin dipersembahkan Beato Bartolo Longo untuk perdamaian. Di bulan Mei ini marilah kita berdoa Rosario, memohonkan kepada Santa Perawan Maria karunia perdamaian, terutama untuk Ukraina yang terkepung. Semoga para pemimpin bangsa mendengarkan keinginan rakyat yang menderita dan yang menginginkan perdamaian!

Kepada semuanya saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makananmu, dan sampai jumpa!
______

(Peter Suriadi - Bogor, 7 Mei 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 23 April 2023 : MARILAH KITA MEMBACA ULANG SEJARAH KITA BERSAMA YESUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Pada Hari Minggu Paskah III ini, Bacaan Injil menceritakan perjumpaan Yesus yang bangkit dengan kedua murid Emaus (bdk. Luk 24:13-35). Mereka adalah dua murid yang, pasrah akibat kematian Sang Guru, pada hari Paskah memutuskan untuk meninggalkan Yerusalem dan kembali ke rumah mereka. Mungkin mereka sedikit gelisah karena mereka telah mendengar para perempuan datang dari kubur dan mengatakan bahwa Tuhan seperti itu… mereka pergi. Dan saat mereka sedang berjalan, dengan sedih membicarakan apa yang telah terjadi, Yesus muncul di samping mereka, tetapi mereka tidak mengenali-Nya. Ia bertanya kepada mereka mengapa mereka begitu sedih, dan mereka berkata kepada-Nya : "Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari ini?" (ayat 18). Dan Yesus menjawab : "Apakah itu?" (ayat 19). Dan mereka menceritakan kepada-Nya keseluruhan kisah, dan Yesus membuat mereka menceritakan kisah itu kepada-Nya. Kemudian, saat mereka sedang berjalan, Ia membantu mereka menafsirkan kembali fakta-fakta dengan cara yang berbeda, dalam terang nubuat, terang sabda Allah, terang semua yang telah diwartakan kepada bangsa Israel. Membaca ulang : itulah yang dilakukan Yesus dengan mereka, membantu membaca ulang. Marilah kita memikirkan aspek ini.

 

Memang, penting bagi kita untuk membaca ulang sejarah kita bersama Yesus : kisah hidup kita, kisah kurun waktu tertentu, hari-hari kita, dengan berbagai kekecewaan dan harapannya. Selain itu, kita juga, seperti para murid itu, berhadapan dengan apa yang terjadi pada kita, dapat menemukan diri kita tersesat dalam menghadapi peristiwa-peristiwa ini, sendirian dan tidak pasti, dengan banyak pertanyaan dan kekhawatiran, kekecewaan, banyak hal. Bacaan Injil hari ini mengajak kita untuk menceritakan segala sesuatu kepada Yesus, dengan tulus, tanpa takut mengganggu-Nya : Ia mendengarkan; tanpa takut mengatakan hal yang salah, tanpa rasa malu pada perjuangan kita untuk mengerti. Tuhan bahagia setiap kali kita membuka diri kepada-Nya; hanya dengan cara inilah Ia dapat menggandeng tangan kita, menemani kita dan membuat hati kita kembali berkobar-kobar (bdk. ayat 32). Maka kita juga, seperti kedua murid Emaus, dipanggil untuk menghabiskan waktu bersama-Nya sehingga, ketika malam tiba, Ia sudi tinggal bersama kita (bdk. ayat 29).

 

Ada cara yang baik untuk melakukan hal ini, dan hari ini saya ingin mengusulkannya kepadamu : cara tersebut berupa mendedikasikan waktu, setiap malam, untuk pemeriksaan batin singkat. Tetapi, hari ini apa yang terjadi di dalam diriku? Itulah pertanyaannya. Membaca ulang hari bersama Yesus, membaca ulang hariku adalah persoalannya : membuka hati kepada-Nya, membawa kepada-Nya orang-orang, berbagai pilihan, ketakutan, kejatuhan dan harapan, semua hal yang terjadi; belajar secara bertahap untuk melihat sesuatu dengan mata yang berbeda, dengan mata-Nya dan bukan hanya mata kita. Dengan demikian kita dapat menghidupkan kembali pengalaman kedua murid tersebut. Di hadapan kasih Kristus, bahkan apa yang tampak melelahkan dan tidak berhasil dapat muncul di bawah terang lain : salib yang sulit untuk dipeluk, keputusan untuk memaafkan pelanggaran, kehilangan kesempatan untuk memperbaiki, kerja keras, ketulusan yang harus dibayar, dan pencobaan kehidupan keluarga dapat menampakkan diri kepada kita dalam terang baru, terang Yesus yang tersalib dan bangkit, yang tahu bagaimana mengubah setiap kejatuhan menjadi langkah maju. Tetapi untuk melakukan hal ini, penting untuk meruntuhkan pertahanan kita: meninggalkan ruang dan waktu untuk Yesus, tidak menyembunyikan apa pun dari-Nya, membawa penderitaan kita kepada-Nya, membiarkan diri kita terluka oleh kebenaran-Nya, membiarkan hati kita bergetar, membiarkan hati kita bergetar pada nafas sabda-Nya.

 

Hari ini kita bisa memulai, mendedikasikan malam ini sebagai momen doa di mana kita bertanya pada diri kita sendiri : bagaimana hariku? Apa kegembiraannya, apa kesedihannya, apa keduniawiannya, apa yang terjadi? Apa mutiara hari itu, yang mungkin tersembunyi, yang harus disyukuri? Apakah ada sedikit cinta dalam apa yang kulakukan? Dan apakah kejatuhan, kesedihan, keraguan dan ketakutan yang dibawa kepada Yesus sehingga Ia dapat membuka jalan baru bagiku, mengangkat dan menyemangatiku? Semoga Maria, Perawan yang bijaksana, membantu kita mengenali Yesus yang berjalan bersama kita dan membaca ulang sabda : membaca ulang – setiap hari dalam hidup kita di hadapan-Nya.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Kemarin, di Paris, Henri Planchat, imam Kongregasi Santo Vinsensius a Paulo, Ladislas Radigue dan tiga rekan imam Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria dibeatifikasi. Para gembala tersebut diilhami oleh semangat apostolik, mereka dipersatukan dalam kesaksian iman mereka sampai wafat sebagai martir, yang mereka derita di Paris pada tahun 1871, selama apa yang disebut “Komune” Paris. Tepuk tangan meriah untuk para Beato baru!

 

Kemarin adalah Hari Bumi. Saya mengharapkan ketetapan hati untuk merawat ciptaan dapat selalu disatukan dengan kesetiakawanan yang efektif dengan kaum yang termiskin.

 

Sayangnya, situasi di Sudan tetap parah, dan oleh karena itu saya kembali menyerukan untuk mengakhiri kekerasan secepat mungkin dan kembali ke jalan dialog. Saya mengundang semua orang untuk mendoakan saudara-saudari kita di Sudan.

 

Hari ini adalah peringatan 99 tahun Universitas Katolik Hati Kudus, dengan tema Demi Cinta Ilmu Pengetahuan. Berbagai tantangan humanisme baru. Saya berharap universitas Katolik Italia terbesar itu dapat menghadapi berbagai tantangan ini dengan semangat para pendirinya, khususnya Armida Barelli muda, yang dibeatifikasi setahun yang lalu.

 

Hari Jumat depan saya akan pergi ke Budapest, Hungaria, selama tiga hari, untuk merampungkan perjalanan yang saya lakukan pada tahun 2021 dengan menghadiri Kongres Ekaristi Internasional. Perjalanan ini akan menjadi kesempatan untuk merangkul sekali lagi sebuah Gereja dan umat yang sangat saya kasihi. Perjalanan ini juga akan menjadi perjalanan ke pusat Eropa, di mana angin perang dingin terus bertiup, sementara pengungsian begitu banyak orang menempatkan pertanyaan kemanusiaan yang mendesak dalam agenda. Tetapi sekarang saya ingin menyapamu dengan kasih sayang, saudara-saudari Hungaria yang terkasih, karena saya berharap dapat mengunjungi kamu semua sebagai seorang peziarah, sahabat dan saudara, serta mengunjungi, antara lain, pihak pemerintah, uskup, imam, dan pelaku hidup bakti, kaum muda, kalangan perguruan tinggi dan kaum miskin. Saya tahu kamu berusaha keras untuk mempersiapkan kedatangan saya : dari lubuk hati saya mengucapkan terima kasih untuk hal ini. Dan saya meminta kamu semua untuk menemani saya dalam perjalanan ini dengan doa-doamu.

 

Dan janganlah kita melupakan saudara-saudari Ukraina kita, yang masih menderita akibat perang ini.

 

Dari hati saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari Italia dan banyak negara – saya melihat bendera dari begitu banyak negara – khususnya yang datang dari Salamanca dan para siswa Albacete, serta kelompok Veneto-Trentino dari Ordo Malta Korps Pertolongan.

 

Saya menyapa umat Ferrara, Palermo dan Grumello del Monte; komunitas Sekolah Keuskupan Lodi; kaum muda dari berbagai kota di Keuskupan Alba, Bergamo, Brescia, Como dan Milan; para calon penerima sakramen krisma dari banyak paroki di Italia; murid Institut Hati Kudus Cadoneghe; koperasi “VolÅ“ntieri” Casoli dan kelompok “Mototurismo” Agna.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu; dan jangan lupa untuk doakan saya. Selamat menikmati makananmu, dan sampai jumpa!
______

(Peter Suriadi - Bogor, 23 April 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 16 April 2023 : JIKA KAMU INGIN BERTEMU YESUS YANG BANGKIT, JANGANLAH PERGI JAUH-JAUH, TINGGALLAH DALAM KOMUNITAS BERSAMA MURID-MURID LAINNYA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini, Hari Minggu Kerahiman Ilahi, Bacaan Injil menceritakan dua penampakan Yesus yang bangkit kepada murid-murid-Nya, dan khususnya, kepada Tomas, “Rasul yang peragu” (bdk. Yoh 20:24-29).

 

Kenyataannya, Tomas bukan satu-satunya orang yang berjuang untuk percaya. Sesungguhnya, ia agak mewakili kita semua. Memang, tidak senantiasa mudah untuk percaya, apalagi ketika, seperti dalam kasusnya, ia mengalami kekecewaan yang luar biasa. Dan setelah kekecewaan yang begitu besar, ia sulit untuk percaya. Ia telah mengikuti Yesus selama bertahun-tahun, menanggung risiko, dan menderita ketidaknyamanan. Tetapi Sang Guru telah disalibkan laksana seorang penjahat, dan tidak ada seorang pun yang membebaskan-Nya. Tidak ada seorang pun yang berbuat apa pun! Ia telah wafat dan semua orang ketakutan. Bagaimana Ia bisa percaya lagi? Bagaimana Ia bisa mempercayai berita seperti itu yang mengatakan bahwa Ia masih hidup? Ada keraguan dalam dirinya.

 

Tetapi Tomas menunjukkan bahwa ia berani. Sementara murid-murid lainnya menutup diri di dalam Ruang Atas karena takut, ia keluar, menanggung risiko seseorang akan mengenali, melaporkan, dan menangkapnya. Kita bahkan bisa berpikir bahwa, dengan keberaniannya, ia lebih layak untuk bertemu Tuhan yang bangkit ketimbang murid-murid lainnya. Sebaliknya, justru karena ia sedang pergi, Tomas tidak ada ketika Yesus pertama kali menampakkan diri kepada para murid pada Paskah malam, sehingga kehilangan kesempatan itu. Ia telah pergi dari komunitas. Bagaimana ia bisa mengambil kesempatan itu? Hanya dengan kembali bersama murid-murid lainnya, kembali ke keluarga yang ditinggalkannya itu, dengan takut dan sedih. Ketika ia berbuat demikian, ketika ia kembali, mereka memberitahunya bahwa Yesus telah datang, tetapi ia berjuang untuk percaya – ia ingin melihat luka-luka Yesus. Dan Yesus memuaskan Tomas : delapan hari kemudian, Ia kembali menampakkan diri di tengah-tengah murid-murid-Nya dan menunjukkan kepada mereka luka-luka-Nya, tangan-Nya, kaki-Nya, luka-luka ini adalah bukti kasih-Nya, yang merupakan saluran kerahiman-Nya yang senantiasa terbuka.

 

Marilah kita renungkan fakta-fakta ini. Untuk percaya, Tomas menginginkan tanda yang luar biasa – menjamah luka-luka. Yesus menunjukkan luka-luka tersebut kepadanya, tetapi dengan cara yang biasa, datang di hadapan semua orang, di dalam komunitas, bukan di luar komunitas. Seolah-olah Yesus berkata kepadanya : jika kamu ingin bertemu-Ku, jangan jauh-jauh, tinggallah dalam komunitas, bersama murid-murid lainnya. Jangan pergi… berdoalah bersama mereka… pecahkanlah roti bersama mereka. Dan Ia mengatakan hal ini kepada kita juga. Di situlah kamu akan menemukan-Ku; di situlah Aku akan menunjukkan tanda-tanda luka yang membekas di tubuh-Ku : tanda Sang Kasih yang mengalahkan kebencian, tanda Sang Pengampun yang melucuti balas dendam, tanda Sang Kehidupan yang mengalahkan maut. Di sanalah, dalam komunitas, kamu akan menemukan wajah-Ku, saat kamu ambil bagian dalam saat-saat keraguan dan ketakutan saudara-saudarimu, semakin melekat erat pada mereka. Tanpa komunitas, sulit menemukan Yesus.

 

Saudara-saudari terkasih, undangan yang diberikan kepada Thomas berlaku juga bagi kita. Kita, ke manakah kita mencari Yesus yang bangkit? Dalam suatu peristiwa tertentu, dalam suatu wujud keagamaan yang spektakuler atau menakjubkan, semata-mata pada tingkat emosional atau sensasional? Atau lebih tepatnya di dalam komunitas, di dalam Gereja, menerima tantangan untuk tinggal di sana, meski tidak sempurna? Terlepas dari segala keterbatasan dan kegagalannya, yang merupakan keterbatasan dan kegagalan kita, Gereja Bunda kita adalah Tubuh Kristus. Dan di sanalah, di dalam Tubuh Kristus, sekarang dan selama-lamanya, tanda-tanda kasih-Nya yang terbesar dapat ditemukan mengesankan. Marilah kita bertanya pada diri kita, tetapi, jika atas nama kasih ini, atas nama luka-luka Yesus, apakah kita bersedia membuka tangan kita bagi mereka yang terluka oleh kehidupan, tidak mengecualikan siapa pun dari kerahiman Allah, tetapi menyambut semua orang - masing-masing orang seperti saudara, seperti saudari, seperti Allah menyambut semua orang. Allah menyambut semua orang.

 

Semoga Maria, Bunda Kerahiman, membantu kita mengasihi Gereja dan menjadikannya rumah yang ramah bagi semua orang.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya ingin mengungkapkan kedekatan saya kepada semua saudara dan saudari kita yang, khususnya di Timur, merayakan Paskah hari ini: Saudara dan saudari yang terkasih, semoga Tuhan yang bangkit menyertaimu dan memenuhi kamu semua dengan Roh Kudus-Nya! Selamat Paskah untuk kamu semua!

 

Dan sayangnya, kontras dengan pesan Paskah, perang terus berlanjut, dan mereka terus menabur kematian dengan cara yang mengerikan. Marilah kita berduka atas kekejaman ini dan marilah kita mendoakan para korban, memohon kepada Allah agar dunia tidak pernah lagi mengalami goncangan kematian yang kejam oleh tangan manusia, tetapi kekaguman akan kehidupan yang Ia berikan dan perbarui dengan rahmat-Nya!

 

Saya sedang mengikuti dengan prihatin peristiwa yang terjadi di Sudan. Saya dekat dengan rakyat Sudan, yang telah sangat dicobai, dan saya mengundangmu untuk berdoa agar mereka dapat meletakkan tangan mereka, serta mengambil jalan perdamaian dan kerukunan.

 

Dan saya sedang memikirkan saudara-saudari kita baik di Rusia maupun di Ukraina yang sedang merayakan Paskah. Semoga Tuhan dekat dengan mereka dan membantu mereka berdamai!

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah, khususnya kelompok doa yang membina spiritualitas Kerahiman Ilahi, yang berkumpul hari ini di Tempat Suci Roh Kudus, Sassia. Dan, dengan keyakinan menafsirkan perasaan umat beriman di seluruh dunia, dengan penuh syukur saya mengarahkan pikiran, yang pada hari-hari ini telah dipengaruhi oleh ketidakadilan tanpa dasar, untuk mengenang Santo Yohanes Paulus II,

 

Saya menyapa kelompok yang datang dari Prancis, Brasil, Spanyol, Polandia, dan Lituania; anak-anak dari Kolose Saint-Jean de Passy Paris, bersama para guru dan keluarga mereka. Saya menyapa umat dari Pescara, para siswa dari Scuola Santa Maria ad Nives dari Genoa, dan anak-anak dari Marcheno, Brescia.

Saya menyapa para petugas pemadam kebakaran dari berbagai negara Eropa, yang berkumpul di Roma untuk demonstrasi besar yang terbuka untuk umum. Terima kasih atas pelayananmu! Dan saya ingin memberitahumu sesuatu: ketika saya mendoakanmu, saya memohonkan rahmat : agar kamu tidak bekerja!

 

Kepada semuanya saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 16 April 2023)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 10 April 2023 : KAMU SELALU MENEMUKAN YESUS DI JALAN PEWARTAAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini Bacaan Injil (Mat 28:8-15) memungkinkan kita menghidupkan kembali perjumpaan para perempuan dengan Yesus yang bangkit pada pagi Paskah. Dengan demikian Bacaan Injil mengingatkan kita bahwa merekalah, para murid perempuan, yang pertama kali melihat dan berjumpa dengan-Nya.

 

Kita mungkin bertanya pada diri kita : mengapa mereka? Karena alasan yang sangat sederhana : karena mereka yang pertama kali pergi ke kubur. Seperti semua murid, mereka juga sedang menderita oleh karena jalan cerita Yesus tampaknya telah berakhir; tetapi, tidak seperti murid-murid lainnya, mereka tidak tinggal di rumah dilumpuhkan oleh kesedihan dan ketakutan : di pagi hari, saat matahari terbit, mereka pergi untuk menghormati tubuh Yesus, membawa minyak wangi. Kubur itu telah disegel dan mereka bertanya-tanya siapa yang dapat memindahkan batu yang begitu berat itu (bdk. Mrk 16:1-3). Tetapi keinginan mereka untuk melakukan gerakan cinta ini mengalahkan segalanya. Mereka tidak berkecil hati, mereka mengatasi ketakutan dan kesedihan. Inilah cara untuk menemukan Yesus yang bangkit : keluar dari ketakutan kita, keluar dari kesedihan kita.

 

Marilah kita telusuri adegan yang dijelaskan dalam Bacaan Injil : para perempuan tiba, mereka melihat kubur yang kosong dan, “dengan takut dan dengan sukacita yang besar", mereka berlari cepat-cepat, teks mengatakan, "untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus” (Mat 28:8). Sekarang, tepat ketika mereka akan menyampaikan kabar ini, Yesus datang ke arah mereka. Marilah kita perhatikan baik-baik hal ini : Yesus bertemu dengan mereka saat mereka akan mewartakan-Nya. Ini indah : Yesus bertemu mereka saat mereka akan mewartakan-Nya. Ketika kita mewartakan Tuhan, Tuhan datang kepada kita. Terkadang kita berpikir bahwa cara untuk dekat dengan Tuhan adalah dengan membuat-Nya tetap dekat dengan kita; karena kemudian, jika kita mengungkapkan diri kita dan mulai membicarakannya, maka penilaian, kritik datang, mungkin kita tidak tahu bagaimana menanggapi pertanyaan atau provokasi tertentu, jadi lebih baik tidak membicarakannya, dan tutup mulut : tidak Sebaliknya, Tuhan datang saat kita mewartakan-Nya. Kamu selalu menemukan Tuhan di jalan pewartaan. Mewartakan Tuhan dan kamu akan berjumpa dengan-Nya. Carilah Tuhan dan kamu akan berjumpa dengan-Nya. Selalu di jalan tersebut, inilah yang diajarkan para perempuan kepada kita : kita berjumpa Yesus dengan mempersaksikan-Nya. Kita berjumpa Yesus dengan mempersaksikan-Nya.

 

Marilah kita beri contoh. Kadang-kadang kita akan menerima kabar baik, seperti, misalnya, kelahiran seorang anak. Jadi, salah satu hal pertama yang kita lakukan adalah mengumumkan kabar bahagia ini kepada para sahabat : “Kamu tahu, aku memiliki seorang bayi… Ia cantik”. Dan, dengan menceritakannya, kita juga mengulanginya untuk diri kita dan entah bagaimana membuatnya hidup kembali untuk kita. Jika hal ini terjadi untuk kabar baik, setiap hari atau pada beberapa hari penting, untuk Yesus terjadi jauh lebih banyak, bukan hanya kabar baik, atau bahkan kabar terbaik kehidupan, bukan hanya itu, tetapi Ia adalah hidup itu sendiri, Ia adalah “kebangkitan. dan hidup” (Yoh 11:25). Setiap kali kita mewartakannya, bukan dengan propaganda atau penyebaran agama – tidak : mewartakan adalah satu hal, propaganda dan penyebaran agama adalah hal lain – setiap kali kita mewartakan-Nya, Tuhan datang kepada kita. Ia datang dengan hormat dan cinta, sebagai karunia terindah yang harus dibagikan, Yesus tinggal di dalam diri kita setiap kali kita mewartakan-Nya.

 

Marilah kita pikirkan kembali para perempuan dalam Bacaan Injil : ada batu yang disegel dan meskipun demikian, mereka pergi ke kubur; ada seluruh kota yang telah melihat Yesus di kayu salib dan meskipun demikian mereka pergi ke kota untuk mewartakan bahwa Ia hidup. Saudara-saudari terkasih, ketika kita berjumpa Yesus, tidak ada rintangan yang dapat menghalangi kita untuk mewartakan-Nya. Sebaliknya jika kita menyimpan sukacita-Nya untuk diri kita sendiri, mungkin karena kita belum benar-benar berjumpa dengan-Nya.

Saudara, saudari, berhadapan dengan pengalaman para perempuan tersebut kita bertanya pada diri kita : katakanlah kepadaku, kapan terakhir kali kamu memberikan kesaksian tentang Yesus? Kapan terakhir kali aku bersaksi tentang Yesus? Hari ini, apa yang harus kulakukan agar orang-orang yang kutemui menerima sukacita pewartaan-Nya? Dan kembali : dapatkah seseorang berkata : orang ini tenteram, bahagia, baik, karena ia telah bertemu Yesus? Bisakah hal ini dikatakan tentang kita masing-masing? Marilah kita meminta Bunda Maria untuk membantu kita menjadi para pewarta Injil yang penuh sukacita.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Hari ini adalah peringatan dua puluh lima tahun apa yang disebut Perjanjian Belfast atau Jumat Agung, yang mengakhiri kekerasan yang telah meresahkan Irlandia Utara selama beberapa dekade. Dengan semangat syukur, saya berdoa kepada Allah sang empunya perdamaian agar apa yang dicapai dalam langkah bersejarah itu diperkokoh demi kepentingan semua orang di pulau kecil Irlandia.

 

Saya kembali mengucapkan selamat Paskah kepada kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara : “Kristus telah bangkit; Ia sungguh telah bangkit”. Saya menyapamu dengan hangat, khususnya para remaja paroki-paroki di Vigevano, kaum muda Pisa dan kaum muda Appiano Gentile.

 

Saya berterima kasih kepada kamu semua yang menyampaikan harapan yang baik kepada saya di hari-hari ini. Saya sangat berterima kasih atas doa-doamu : dengan perantaraan Perawan Maria, semoga Allah mengganjar kita masing-masing dengan karunia-karunia-Nya!

 

Dan saya berharap semua orang akan menghabiskan hari-hari Oktaf Paskah ini, di mana kebangkitan Kristus masih dirayakan, dalam sukacita iman. Marilah kita bertekun memohon karunia perdamaian untuk seluruh dunia, terutama untuk Ukraina yang tersayang dan tersiksa.

 

Selamat hari Senin Malaikat! Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang dan sampai jumpa.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 10 April 2023)