Liturgical Calendar

Showing posts with label Wejangan Regina Caeli 2024. Show all posts
Showing posts with label Wejangan Regina Caeli 2024. Show all posts

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 19 Mei 2024 : HARI RAYA PENTAKOSTA

Saudara-saudarI terkasih, selamat Hari Raya Pentakosta, selamat pagi!

 

Hari ini, Hari Raya Pentakosta, kita merayakan turunnya Roh Kudus ke atas Maria dan para Rasul. Dalam Bacaan Injil liturgi hari ini, Yesus berbicara tentang Roh Kudus dan mengatakan bahwa Ia akan mengajari kita “segala sesuatu yang Ia dengar” (bdk. Yoh 16:13). Tetapi apa arti ungkapan ini? Apa yang telah didengar Roh Kudus? Apa yang akan Ia katakan?

 

Ia berbicara kepada kita dengan kata-kata yang mengungkapkan perasaan yang indah, seperti kasih sayang, rasa syukur, kepercayaan, belas kasihan. Kata-kata yang membuat kita mengenal hubungan yang indah, bercahaya, nyata dan langgeng sebagaimana Sang Kasih Allah yang kekal: kata-kata yang saling diucapkan Bapa dan Putra. Kata-kata cinta yang transformatif, yang diulangi oleh Roh Kudus di dalam diri kita, dan yang baik untuk kita dengarkan, karena kata-kata ini melahirkan dan menumbuhkan perasaan dan niat yang sama di dalam hati kita: kata-kata yang bermanfaat. .

 

Inilah sebabnya mengapa penting bagi kita untuk memupuk diri kita setiap hari dengan sabda Allah, sabda Yesus, yang diilhami oleh Roh Kudus. Dan berkali-kali saya berkata: bacalah sebuah perikop Injil, ambillah Injil kecil berukuran saku dan simpanlah bersamamu, manfaatkanlah saat-saat yang menyenangkan untuk membacanya. Imam dan penyair Clemente Rebora, berbicara tentang pertobatannya, menulis dalam buku hariannya: “Dan Sabda membungkam obrolanku!” (Riwayat Hidup). Sabda Allah membungkam obrolan kita yang dangkal dan membuat kita mengucapkan kata-kata yang serius, kata-kata yang indah, kata-kata yang penuh sukacita. “Dan Sabda membungkam obrolanku!” Mendengarkan sabda Allah membuat obrolan terhenti. Inilah cara memberikan ruang dalam diri kita untuk suara Roh Kudus. Kemudian dalam Adorasi – janganlah kita melupakan doa Adorasi dalam keheningan – terutama yang sederhana, hening, laksana penyembahan. Dan di sanalah, mengucapkan kata-kata yang baik dalam diri kita, mengucapkannya dalam hati agar mampu mengucapkannya kepada sesama, setelah itu, kepada satu sama lain. Dan dengan cara ini kita melihat bahwa semua itu berasal dari suara Sang Penghibur, dari Roh Kudus.

 

Saudara-saudari terkasih, membaca dan merenungkan Injil, berdoa dalam keheningan, mengucapkan kata-kata yang baik: semua itu bukan hal yang sulit, tidak, kita semua bisa melakukannya. Semua itu lebih mudah daripada menghina, menjadi marah… Jadi, marilah kita bertanya pada diri kita: apa tempat kata-kata ini dalam hidupku? Bagaimana aku dapat memupuknya agar dapat mendengarkan Roh Kudus dengan lebih baik, dan menjadi gema Roh Kudus bagi sesama?

 

Semoga Maria, yang hadir pada hari Pentakosta bersama para Rasul, membuat kita taat kepada suara Roh Kudus.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Roh Kuduslah yang menciptakan kerukunan, kerukunan! Dan Ia menciptakannya dari kenyataan yang berbeda, bahkan terkadang bertentangan. Hari ini, Hari Raya Pentakosta, marilah kita berdoa kepada Roh Kudus, Sang Kasih Bapa dan Putra, agar Ia menciptakan kerukunan dalam hati, kerukunan dalam keluarga, kerukunan dalam masyarakat, kerukunan di seluruh dunia; semoga Roh Kudus membuat persekutuan dan persaudaraan bertumbuh di antara umat kristiani dari denominasi yang berbeda; memberikan keberanian kepada para pemimpin pemerintahan untuk melakukan dialog yang dapat mengakhiri perang. Banyaknya peperangan yang terjadi saat ini: pikirkanlah Ukraina – pikiran saya khususnya tertuju kepada kota Kharkiv, yang mengalami serangan dua hari yang lalu; pikirkanlah Tanah Suci, Palestina, Israel; pikirkanlah banyak tempat di mana terjadi perang. Semoga Roh Kudus membimbing para pemimpin negara dan kita semua untuk membuka pintu perdamaian.

 

Saya mengucapkan terima kasih atas sambutan dan kasih sayang masyarakat Verona, kemarin: mereka baik, warga Verona! Terima kasih terima kasih. Secara khusus saya memikirkan penjara Verona, saya memikirkan para narapidana yang sekali lagi memberikan kesaksian kepada saya bahwa di balik tembok penjara, kehidupan kemanusiaan dan harapan berdenyut. Terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada seluruh staf penjara, dan khususnya kepada sang direktur, Dr. Francesca Gioieni.

 

Saya menyapa kamu semua, para peziarah dari Roma dan berbagai belahan Italia dan dunia. Secara khusus, saya menyapa warga Timor-Leste – saya akan segera datang mengunjungimu! – komunitas Latvia dan Uruguay, serta komunitas Paraguay di Roma, yang merayakan Virgen de Caacupé, dan Misi Katolik Portugal di Lucerne.

 

Saya menyapa kaum muda Immacolata; saya menyapa para suster yang ada di sini, bagus! Saya menyapa umat Benevento, Porto Azzurro dan Terracina, serta Institut “Caterina di Santa Rosa” Roma.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 19 Mei 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 12 Mei 2024 : DENGAN KENAIKAN-NYA KE SURGA, YESUS MENUNTUN PERJALANAN KITA KE SURGA

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Dan kini, saya ingin mengucapkan selamat hari Minggu kepada kaum muda Genoa.

 

Hari ini, di Italia dan negara-negara lain, Hari Raya Kenaikan Tuhan dirayakan. Bacaan Injil Misa menyatakan bahwa Yesus, setelah mempercayakan tugas untuk melanjutkan karya-Nya kepada para Rasul, “terangkat ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah” (Mrk 16:19). Inilah yang dikatakan Bacaan Injil: Ia “terangkat ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah”.

 

Bagi kita kepulangan Yesus kepada Bapa tampak bukan sebagai keterpisahan diri-Nya dari kita, melainkan seperti mendahului kita ke tempat tujuan, yaitu surga. Sama seperti, ketika berada di pegunungan, kita mendaki ke puncak: kita berjalan dengan susah payah, dan akhirnya, pada belokan jalan, cakrawala terbuka dan kita melihat panorama. Kemudian segenap tubuh menemukan kekuatan untuk melakukan pendakian terakhir. Segenap tubuh – lengan, kaki dan setiap otot – menegang dan berkonsentrasi untuk mencapai puncak.

 

Dan kita, Gereja, adalah tubuh yang Yesus, setelah naik ke Surga, tarik bersama-Nya, seperti sebuah kumpulan yang diikat dengan tali. Dialah yang membangunkan kita dan menyampaikan kepada kita, dengan Sabda-Nya dan rahmat sakramen-sakramen, keindahan tanah air yang kita tuju. Oleh karena itu, kita juga, anggota-anggota-Nya – kita adalah anggota-anggota Yesus – dengan bersukacita naik bersama Dia, sang pemimpin kita, mengetahui bahwa langkah kita masing-masing adalah langkah untuk kita semua, dan tak seorang pun boleh hilang atau tertinggal, karena kita justru satu tubuh (bdk. Kol 1:18; 1 Kor 12:12-27).

 

Dengarkanlah baik-baik: langkah demi langkah, satu demi satu, Yesus menunjukkan jalan kepada kita. Apa saja langkah-langkah yang harus diambil? Bacaan Injil hari ini mengatakan, “memberitakan Injil, membaptis, mengusir setan, memegang ular, meletakkan tangan atas orang sakit” (bdk. Mrk 16:15-16.18); Singkatnya, melaksanakan karya kasih: memberi kehidupan, mendatangkan harapan, menjauhi segala bentuk kejahatan dan keburukan, menyikapi kejahatan dengan kebaikan, dekat dengan orang-orang yang menderita. Ini adalah “langkah demi langkah”. Dan semakin kita melakukan hal ini, semakin kita membiarkan diri kita diubah oleh Roh, semakin kita mengikuti teladan-Nya, seperti di pegunungan, kita merasakan udara di sekitar kita menjadi ringan dan bersih, cakrawala luas dan tujuan dekat, kata-kata dan gerak tubuh menjadi baik, pikiran dan hati melapang dan menghirup.



Maka kita bisa bertanya pada diri kita: apakah hasrat akan Allah, hasrat akan kasih-Nya yang tak terhingga, akan kehidupan-Nya yang merupakan kehidupan kekal, hidup dalam diriku? Atau apakah aku agak majal dan terpaku pada hal-hal yang berlalu-lalang, atau uang, atau kesuksesan, atau kesenangan? Dan apakah kerinduanku akan surga mengucilkanku, apakah menutup diriku, atau malah menuntunku untuk mengasihi saudara-saudariku dengan hati yang lapang dan tanpa pamrih, merasakan mereka adalah sahabat-sahabatku dalam perjalanan menuju surga?

 

Semoga Maria yang sudah sampai di tempat tujuan, membantu kita berjalan bersama dengan sukacita menuju kemuliaan surga.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saat kita merayakan Kenaikan Tuhan yang bangkit, yang membebaskan kita dan menginginkan kita bebas, saya kembali menyerukan pertukaran umum segenap tahanan antara Rusia dan Ukraina, memastikan kesediaan Takhta Suci untuk mendukung segala upaya dalam hal ini, terutama bagi mereka yang terluka parah dan sakit. Dan marilah kita terus mendoakan perdamaian di Ukraina, Palestina, Israel dan Myanmar… Marilah kita mendoakan perdamaian.

 

Hari ini adalah Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang mengusung tema “Kecerdasan Buatan dan Kebijaksanaan Hati”. Hanya dengan memulihkan kebijaksanaan hati kita dapat menafsirkan tuntutan zaman kita dan menemukan kembali jalan menuju komunikasi yang sepenuhnya manusiawi. Terima kasih kami sampaikan kepada semua pekerja komunikasi atas karya mereka!

 

Hari ini banyak negara merayakan Hari Ibu: marilah kita bersyukur kepada semua ibu, dan marilah kita juga mendoakan para ibu yang telah pergi ke surga. Dan marilah kita percayakan para ibu pada perlindungan Maria, bunda surgawi kita. Tepuk tangan meriah untuk semua ibu!

 

Saya menyapa para peziarah dari Roma dan berbagai penjuru Italia dan dunia, khususnya mereka yang berasal dari Hungaria dan Malta, mahasiswa Colégio da São Tomás Lisbon, dan kelompok musik dari Austria dan Jerman, yang memberikan penghormatan kepada Paus Benediktus XVI. Mereka bermain bagus! Terima kasih. Saya juga menyapa umat Pesaro, Cagliari, Giulianova Lido, dan umat Ponti sul Mincio yang datang dengan bersepeda, para donor darah AVIS, Lembaga “Gunung Muda” Turin, para calon penerima sakramen krisma dari Genoa, dan orang-orang yang menderita fibromyalgia, pada hari yang didedikasikan untuk patologi ini.

 

Saya berterima kasih kepada penyelenggara pameran fotografi “Perubahan”, yang dipajang di bawah barisan tiang Lapangan Santo Petrus. Foto-foto dari seluruh dunia mendokumentasikan keindahan rumah kita bersama, anugerah Sang Pencipta yang wajib kita jaga. Saya mengundangmu untuk mengunjungi pameran ini!

 

Saya menyapa kamu semua, dan kaum muda Immacolata. Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu, dan selamat melakukan perjalanan ke Genoa! Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Mei 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 5 Mei 2024 : DIBUTUHKAN PERSAHABATAN

Bacaan Injil hari ini menceritakan kepada kita Yesus yang berkata kepada para Rasul, “Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, namun sahabat” (bdk. Yoh 15:15). Apa artinya ini?

 

Dalam Kitab Suci “hamba-hamba” Allah adalah orang-orang istimewa, yang Ia percayakan perutusan penting, misalnya Musa (bdk. Kel 14:31), Raja Daud (bdk. 2Sam 7:8), nabi Elia (bdk. 1Raj 18:36), hingga Perawan Maria (bdk. Luk 1:38). Mereka adalah orang-orang yang tangannya menjadi tempat Allah menaruh harta-Nya (bdk. Mat 25:21). Namun semua ini tidak cukup, menurut Yesus, mengatakan siapa kita yang sesungguhnya bagi Dia, tidak cukup: Ia menginginkan lebih, sesuatu yang lebih besar, yang melampaui kebaikan dan rencana mereka: dibutuhkan persahabatan.

 

Sejak masa kanak-kanak kita belajar betapa indahnya pengalaman ini: kita memberikan mainan dan hadiah terindah kepada sahabat-sahabat kita; kemudian, saat tumbuh dewasa, sebagai remaja, kita menceritakan rahasia pertama kita kepada mereka; sebagai generasi muda kita memberikan kesetiaan; sebagai orang dewasa kita ambil bagian dalam kepuasan dan kekhawatiran; sebagai orang dewasa kita ambil bagian dalam kenangan, pertimbangan dan keheningan hari-hari yang panjang. Sabda Allah dalam Kitab Amsal mengatakan kepada kita bahwa “minyak dan wangi-wangian menyukakan hati" (27:9), dan manisnya seorang sahabat timbul dari nasihatnya yang sungguh-sungguh. Marilah kita memikirkan sejenak sahabat-sahabat kita, dan bersyukurlah kepada Tuhan atas mereka! Sebuah ruang untuk memikirkan mereka…

 

Persahabatan bukan hasil perhitungan atau paksaan: persahabatan lahir secara spontan ketika kita mengenali sesuatu dalam diri orang lain. Dan jika benar, sebuah persahabatan begitu kuat sehingga tidak akan putus meski menghadapi pengkhianatan. “Seorang sahabat mengasihi setiap waktu” (Ams 17:17) – sekali lagi dinyatakan dalam Kitab Amsal – sebagaimana ditunjukkan Yesus kepada kita ketika Ia berkata kepada Yudas, yang mengkhianati-Nya dengan ciuman: “Hai teman, untuk itukah engkau datang?” (Mat 26:50). Seorang sahabat sejati tidak akan meninggalkanmu, bahkan ketika kamu berbuat salah: ia mengoreksimu, mungkin ia mencelamu, tetapi ia mengampunimu dan tidak meninggalkanmu.

Dan hari ini Yesus, dalam Kitab Suci, mengatakan kepada kita bahwa bagi Dia kita adalah orang-orang terkasih yang melampaui segala kelayakan dan harapan, yang Ia ulurkan tangan-Nya dan tawarkan kasih-Nya, Rahmat-Nya, sabda-Nya; dengan mereka – dengan kita, sang sahabat – Ia berbagi apa yang paling dikasihi-Nya, segala sesuatu yang telah Ia dengar dari Bapa (bdk. Yoh 15:15). Bahkan sampai menjadikan diri-Nya rapuh demi kita, menyerahkan diri-Nya ke dalam tangan kita tanpa pembelaan atau kepura-puraan, karena Ia mengasihi kita. Tuhan mengasihi kita, sebagai sahabat Ia menginginkan kebaikan kita dan Ia ingin kita berbagi kebaikan-Nya.

 

Maka marilah kita bertanya pada diri kita: wajah apa yang Tuhan dapati dalam diriku? Wajah sahabat atau wajah orang asing? Apakah aku merasa dikasihi oleh-Nya sebagai orang yang disayangi? Dan wajah Yesus apa yang kutunjukkan kepada orang lain, terutama kepada mereka yang bersalah dan membutuhkan pengampunan?

 

Semoga Maria membantu kita bertumbuh dalam persahabatan dengan Putranya dan menyebarkannya ke sekeliling kita.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Dengan penuh kasih sayang saya menyampaikan selamat kepada saudara-saudari Gereja-gereja Ortodoks dan beberapa Gereja Katolik Timur yang hari ini, menurut Kalender Julian, merayakan Paskah Suci. Semoga Tuhan yang bangkit memenuhi segenap komunitas dengan sukacita dan kedamaian, serta menghibur mereka yang menghadapi kesulitan. Kepada mereka, selamat Paskah!

 

Saya mendoakan penduduk Negara Bagian Rio Grande do Sul, Brasil, yang dilanda banjir besar. Semoga Tuhan berkenan menerima orang-orang yang meninggal dan menghibur kerabat mereka serta orang-orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.

 

Dan tolong, teruslah mendoakan Ukraina yang tersiksa – negara ini sangat menderita! – dan juga Palestina dan Israel, agar keduanya bisa berdamai, agar dialog bisa diperkuat dan membuahkan hasil yang baik. Tidak untuk perang, ya untuk dialog!

 

Kepada semuanya saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_______

(Peter Suriadi - Bogor, 5 Mei 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 21 April 2024 : ARTI SANG GEMBALA MEMBERIKAN NYAWANYA BAGI DOMBA-DOMBANYA

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Hari Minggu ini didedikasikan untuk Yesus Sang Gembala yang baik. Dalam Bacaan Injil hari ini (bdk. Yoh 10:11-18), Yesus mengatakan kepada kita bahwa "Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya" (ayat 11). Ia sangat menekankan aspek ini sehingga Ia mengulanginya tiga kali (bdk. ayat 11, 15, 17). Namun dalam arti apa, saya bertanya kepada diri saya sendiri, sang gembala memberikan nyawanya bagi domba-dombanya?

 

Menjadi seorang gembala, khususnya pada zaman Kristus, bukan sekadar pekerjaan, namun merupakan cara hidup: gembala bukan pekerjaan yang menyita waktu tertentu, namun berarti berbagi sepanjang hari, dan bahkan malam pun juga, dengan domba-dombanya, hidup- menurut saya- bersimbiosis dengan mereka. Memang benar, Yesus menjelaskan bahwa Ia bukan seorang upahan yang tidak peduli terhadap domba-dombanya (bdk. ayat 13), melainkan seorang yang mengenal mereka (bdk. ayat 14): Ia mengenal domba-dombanya. Demikianlah, Ia, Tuhan, gembala kita semua, memanggil nama kita dan, ketika kita tersesat, Ia mencari kita sampai Ia menemukan kita (bdk. Luk 15:4-5). Terlebih lagi, Yesus bukan hanya seorang gembala yang baik yang ambil bagian dalam kehidupan domba-domba-Nya; Yesus adalah Gembala yang baik yang telah mengurbankan nyawa-Nya bagi kita dan memberikan Roh-Nya kepada kita melalui kebangkitan-Nya.

 

Inilah yang ingin disampaikan Tuhan kepada kita melalui gambaran Gembala yang baik: Ia bukan hanya penuntun, pemimpin kawanan domba, tetapi yang terpenting Ia memikirkan setiap orang dari kita, dan Ia memikirkan kita masing-masing sebagai cinta kehidupan-Nya. Renungkanlah hal ini: bagi Kristus, aku penting, Ia memikirkanku, aku tak tergantikan, layak dengan harga nyawa-Nya yang tak terhingga. Dan ini bukan sekadar cara berbicara: Ia sungguh memberikan nyawa-Nya bagiku, Ia wafat dan bangkit kembali bagiku. Mengapa? Karena Ia mengasihiku dan Ia menemukan dalam diriku suatu keindahan yang sering kali tidak dilihat oleh diriku sendiri.

 

Saudara-saudari, betapa banyak orang dewasa ini yang menganggap diri mereka tidak memadai atau bahkan salah! Berapa kali kita berpikir bahwa nilai kita bergantung pada tujuan yang ingin kita capai, apakah kita berhasil di mata dunia, berdasarkan penilaian orang lain! Dan berapa kali kita akhirnya menyia-nyiakan diri untuk hal-hal sepele! Hari ini Yesus memberitahu kita bahwa kita selalu sangat berharga di mata-Nya. Jadi, untuk menemukan diri kita, hal pertama yang harus dilakukan adalah menempatkan diri kita di hadirat-Nya, membiarkan diri kita disambut dan diangkat oleh tangan Sang Gembala kita yang baik dan penuh kasih.

 

Saudara-saudari, marilah kita bertanya kepada diri kita: apakah aku dapat meluangkan waktu, setiap hari, untuk menerima kepastian yang memberi nilai pada hidupku? Dapatkah aku menemukan waktu untuk berdoa, menyembah, memuji, berada di hadirat Kristus dan membiarkan diriku dibelai oleh-Nya? Saudara-saudari, Sang Gembala yang baik memberitahu kita bahwa jika kamu melakukan hal ini, kamu akan menemukan kembali rahasia kehidupan: kamu akan mengingat bahwa Ia memberikan nyawa-Nya bagimu, bagiku, bagi kita semua. Dan bagi Dia, kita semua penting, setiap orang dari kita.

 

Semoga Bunda Maria membantu kita menemukan di dalam Yesus apa yang penting bagi kehidupan.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini kita merayakan Hari Panggilan Sedunia, yang bertema “Dipanggil untuk Menabur Benih Harapan dan Membangun Perdamaian”. Hari Panggilan Sedunia adalah kesempatan yang baik untuk menemukan kembali Gereja sebagai komunitas yang bercirikan orkestra karisma dan panggilan dalam pelayanan Injil. Dalam konteks ini, saya menyapa dengan tulus para imam baru Keuskupan Roma, yang ditahbiskan kemarin sore di Basilika Santo Petrus. Marilah kita mendoakan mereka!

 

Dengan penuh keprihatinan dan kesedihan saya terus memantau situasi di Timur Tengah. Saya kembali mengimbau agar tidak menyerah pada nalar balas dendam dan perang. Semoga jalan dialog dan diplomasi, yang dapat memberikan banyak manfaat, bisa terwujud. Setiap hari saya mendoakan perdamaian di Palestina dan Israel, serta saya berharap kedua bangsa ini dapat segera berhenti menderita. Dan jangan kita lupakan kemartiran Ukraina, kemartiran Ukraina yang sangat menderita karena perang.

 

Dengan penuh duka saya menerima berita meninggalnya Pastor Matteo Pettinari, seorang misionaris muda Consolata di Pantai Gading, dalam sebuah kecelakaan. Ia dikenal sebagai "misionaris yang tak kenal lelah," yang meninggalkan kesaksian luar biasa tentang pelayanannya yang murah hati. Marilah kita mendoakan jiwanya.

 

Saya menyapa dengan hangat kamui semua umat Roma dan para peziarah dari Italia dan pelbagai negara. Saya menyapa para Suster Apostoline dengan penuh kasih sayang: terima kasih atas pelayanan penuh sukacitamu dalam pelayanan panggilan! Saya menyapa umat dari Viterbo, Brescia, Alba Adriatica, dan Arezzo; serta Rotary Club Galatina Maglie e Terre d'Otranto, kaum muda dari Capocroce, kaum muda calon penerima sakramen krisma dari Azzano Mella, dan paroki Sant’Agnese Roma.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Dan saya menyapa para siswa Immacolata, bagus sekali! Tolong, jangan lupa mendoakanku. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 21 April 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 14 April 2024 : BERBAGI KISAH PERJUMPAAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil hari ini membawa kita kembali ke senja Paskah. Para rasul berkumpul di Ruang Atas, ketika kedua murid kembali dari Emaus dan menceritakan perjumpaan mereka dengan Yesus. Dan ketika mereka mengungkapkan kegembiraan atas pengalaman mereka, Yesus yang bangkit menampakkan diri kepada seluruh komunitas. Yesus datang tepat pada saat mereka sedang berbagi kisah perjumpaan dengan-Nya. Hal ini membuat saya berpikir bahwa berbagi itu baik, berbagi iman itu penting. Kisah ini menyadarkan kita akan pentingnya berbagi iman kepada Yesus yang bangkit.

 

Setiap hari kita dibombardir dengan ribuan pesan. Banyak di antaranya dangkal semata dan tidak berguna, ada pula yang mengungkapkan rasa ingin tahu yang tidak disengaja atau, yang lebih buruk lagi, muncul dari gosip dan kebencian. Semua itu adalah kabar yang tidak memiliki tujuan; tetapi, justru merugikan. Namun ada juga kabar baik, positif dan membangun, dan kita semua tahu alangkah baiknya kita mendengarkan hal-hal yang baik, dan alangkah jauh lebih baik kita ketika hal ini terjadi. Dan juga ada baiknya berbagi kenyataan yang, baik atau buruk, telah menyentuh kehidupan kita, sehingga dapat membantu orang lain.

 

Namun ada sesuatu yang sering kali sulit kita bicarakan. Apa yang sulit kita bicarakan? Hal terindah yang harus kita ceritakan: perjumpaan kita dengan Yesus. Kita masing-masing telah berjumpa dengan Tuhan dan kita bergumul untuk membicarakannya. Kita masing-masing dapat mengatakan banyak hal mengenai hal ini: melihat bagaimana Tuhan telah menjamah kita, dan membagikan hal ini, bukan dengan menjadi penceramah bagi orang lain, namun dengan berbagi momen-momen unik di mana kita merasakan Tuhan yang hidup dan dekat, yang mengobarkan sukacita di dalam hati kita atau mengeringkan air mata kita, yang mengantarkan keyakinan dan penghiburan, kekuatan dan antusiasme, atau pengampunan, kelembutan. Perjumpaan-perjumpaan ini, yang kita masing-masing alami dengan Yesus, bagikan dan hantarkanlah. Melakukan hal ini dalam keluarga, dalam komunitas, dengan teman-teman itu penting. Sebagaimana bermanfaatnya membicarakan tentang inspirasi-inspirasi yang baik yang telah membimbing kita dalam kehidupan, pemikiran-pemikiran dan perasaan-perasaan yang baik yang sangat membantu kita untuk maju, dan juga tentang upaya-upaya dan kerja keras kita untuk memahami dan berkembang dalam kehidupan iman, bahkan mungkin bertobat dan menelusuri kembali langkah kita. Jika kita melakukan hal ini, Yesus, seperti yang Ia lakukan terhadap kedua murid Emaus pada senja Paskah, akan mengejutkan kita serta membuat perjumpaan dan lingkungan kita menjadi semakin indah.

 

Maka, marilah kita mencoba mengingat, sekarang, sebuah momen yang kuat dalam kehidupan iman kita, sebuah perjumpaan yang menentukan dengan Yesus. Setiap orang pernah mengalaminya, kita masing-masing pernah mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Marilah kita hening sejenak dan berpikir: kapan aku menemukan Tuhan? Kapan Tuhan dekat denganku? Marilah kita berpikir dalam keheningan. Dan perjumpaan dengan Tuhan ini, apakah aku membagikannya untuk memuliakan Tuhan? Dan juga, pernahkah aku mendengarkan orang lain ketika mereka menceritakan kepadaku tentang perjumpaan dengan Yesus ini?

 

Semoga Bunda Maria membantu kita berbagi iman untuk menjadikan komunitas kita tempat perjumpaan yang semakin luar biasa dengan Tuhan.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya sedang mengikuti dalam doa dan dengan keprihatinan, bahkan kepedihan, berita yang sampai kepada kita dalam beberapa jam terakhir mengenai memburuknya situasi di Israel, akibat campur tangan Iran. Saya mengimbau dengan sepenuh hati untuk menghentikan tindakan apa pun yang dapat memicu jalinan kekerasan, yang berisiko menyeret Timur Tengah ke dalam pertikaian militer yang semakin besar.

 

Tidak seorang pun boleh mengancam keberadaan orang lain. Semoga semua negara berpihak pada perdamaian, dan membantu warga Israel dan Palestina yang hidup berdampingan dengan aman di dua negara. Hidup berdampingan dengan aman merupakan keinginan mereka yang mendalam dan sah, serta hak mereka! Dua negara bertetangga.

 

Biarlah segera ada gencatan senjata di Gaza, dan marilah kita menempuh jalur negosiasi, dengan tekad yang bulat. Marilah kita bantu masyarakat yang terjerumus ke dalam bencana kemanusiaan; biarlah para sandera yang diculik beberapa bulan lalu dibebaskan! Begitu banyak penderitaan! Marilah kita berdoa untuk perdamaian. Tidak ada lagi perang, tidak ada lagi serangan, tidak ada lagi kekerasan! Ya untuk dialog dan ya untuk perdamaian!

 

Hari ini di Italia diperingati seabad Hari Nasional Universitas Katolik Hati Kudus, dengan tema: "Permintaan untuk masa depan: kaum muda di antara kekecewaan dan keinginan". Saya mendorong Universitas yang hebat ini untuk melanjutkan layanan formatifnya yang penting, setia pada perutusannya dan memperhatikan kebutuhan kaum muda dan masyarakat dewasa ini.

 

Dengan sepenuh hati saya menyapa kamu semua, warga Roma serta para peziarah dari Italia dan banyak negara. Secara khusus, saya menyapa umat di Los Angeles, Houston, Nutley dan Riverside, Amerika Serikat; serta rakyat Polandia, khususnya – berapa banyak bendera Polandia ada di sana! – dari Bodzanów dan para sukarelawan muda dari Tim Bantuan untuk Gereja Timur. Saya menyapa dan menyemangati para pemimpin Komunitas Sant'Egidio dari berbagai negara Amerika Latin.

 

Saya menyapa para relawan ACLI yang terlibat dalam pendampingan di seluruh Italia; kelompok dari Trani, Arzachena, Montelibretti; kaum muda pengaku iman dari Paroki Santi Silvestro e Martino, Milan; para calon penerima sakramen krisma dari Pannarano; dan kelompok kaum muda "Seni dan Iman" Biarawati Santa Dorothy.

 

Dengan penuh kasih sayang saya menyapa anak-anak dari berbagai belahan dunia, yang datang untuk mengingatkan kita bahwa pada tanggal 25-26 Mei 2024 Gereja akan menyelenggarakan Hari Anak Sedunia yang pertama. Terima kasih! Saya mengajak semua orang untuk mengiringi perjalanan menuju acara ini – Hari Anak pertama – dengan doa, dan saya berterima kasih kepada mereka yang sedang bekerja mempersiapkannya. Dan kepadamu, remaja laki-laki dan perempuan, saya mengatakan bahwa saya sedang menunggumu! Kamu semua! Kita membutuhkan kegembiraan dan harapanmu untuk dunia yang semakin baik, dunia yang damai. Saudara-saudari, marilah kita mendoakan anak-anak yang menderita akibat perang – mereka banyak sekali! – di Ukraina, Palestina, Israel, dan di belahan dunia lain, di Myanmar. Marilah kita berdoa untuk mereka, dan untuk perdamaian.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Saya menyapa kaum muda Imakulata. Selamat menikmati makan siangmu, dan mohon pamit!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 14 April 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 7 April 2024 : ARTI MEMPEROLEH HIDUP

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Hari ini, pada Hari Minggu Paskah II, yang didedikasikan oleh Santo Yohanes Paulus II untuk Kerahiman Ilahi, Bacaan Injil (Yoh 20:19-30) memberitahu kita bahwa, dengan percaya kepada Yesus, Sang Putra Allah, kita dapat memperoleh hidup yang kekal dalam nama-Nya (ayat 31). “Memperoleh hidup”: apa artinya?

 

Kita semua ingin memperoleh hidup, namun ada berbagai cara untuk memperolehnya. Misalnya, ada orang-orang yang memerosotkan hidup menjadi perlombaan yang hingar-bingar untuk menikmati dan memperoleh banyak hal: makan dan minum, bersenang-senang, mengumpulkan uang dan harta benda, merasakan emosi yang kuat dan baru, dan seterusnya. Semua itu adalah jalan yang pada pandangan pertama tampak menyenangkan, tetapi tidak memuaskan hati. Bukan dengan cara ini kita “memperoleh kehidupan”, karena dengan mengikuti jalan kesenangan dan kekuasaan kita tidak menemukan kebahagiaan. Memang benar, masih banyak aspek kehidupan yang belum terjawab, seperti cinta, pengalaman penderitaan, keterbatasan, dan kematian yang tak terelakkan. Dan kemudian impian kita semua tetap tidak terpenuhi: harapan untuk hidup kekal, harapan untuk dicintai tanpa batas. Bacaan Injil hari ini mengatakan bahwa kepenuhan hidup, yang menjadi panggilan kita semua, terwujud dalam diri Yesus: Dialah yang memberi kita kepenuhan hidup ini. Namun bagaimana kita dapat mengaksesnya, bagaimana kita dapat mengalaminya?

 

Marilah kita lihat apa yang terjadi pada para murid dalam Bacaan Injil. Mereka sedang melalui momen paling tragis dalam hidup: setelah hari-hari yang penuh gairah, mereka mengurung diri di Ruang Atas, takut dan putus asa. Yesus yang bangkit datang kepada mereka dan memperlihatkan kepada mereka luka-luka-Nya (bdk. ayat 20): luka-luka-Nya adalah tanda penderitaan dan rasa sakit, luka-luka-Nya bisa membangkitkan perasaan bersalah, namun bersama Yesus justru menjadi saluran kerahiman dan pengampunan. Dengan cara ini, para murid melihat dan menjamah dengan tangan mereka fakta bahwa bersama Yesus, hidup selalu menang, kematian dan dosa dikalahkan, bersama Yesus. Dan mereka menerima karunia Roh-Nya, yang memberi mereka hidup baru, sebagai putra-putra terkasih – hidup sebagai putra-putra terkasih – yang dipenuhi dengan sukacita, cinta dan harapan. Saya akan menanyakan satu hal: apakah kamu mempunyai harapan? Kamu masing-masing bertanya pada dirimu sendiri: “Bagaimana harapanku?”

 

Beginilah cara “memperoleh hidup” setiap hari: cukup dengan memusatkan pandangan pada Yesus yang disalibkan dan bangkit, berjumpa dengan-Nya dalam sakramen-sakramen dan doa, menyadari bahwa Ia hadir, percaya kepada-Nya, membiarkan diri dijamah oleh rahmat-Nya dan dibimbing oleh keteladanan-Nya, mengalami sukacita mencintai seperti Dia. Setiap perjumpaan dengan Yesus, perjumpaan yang hidup dengan Yesus memampukan kita untuk memperoleh semakin banyak hidup. Mencari Yesus, membiarkan diri kita ditemukan – karena Ia mencari kita – membuka hati kita untuk berjumpa dengan Yesus.

 

Namun, marilah kita bertanya pada diri kita: apakah aku percaya pada kuasa kebangkitan Yesus, apakah aku percaya bahwa Yesus telah bangkit? Apakah aku percaya pada kemenangan-Nya atas dosa, ketakutan dan kematian? Apakah aku membiarkan diriku ditarik ke dalam hubungan dengan Tuhan, dengan Yesus? Dan apakah aku membiarkan diriku didorong oleh-Nya untuk mencintai saudara-saudariku, dan berharap setiap hari? Kamu masing-masing, pikirkanlah hal ini.

 

Semoga Maria membantu kita untuk memiliki iman yang semakin besar kepada Yesus, kepada Yesus yang bangkit, “memperoleh hidup” dan menyebarkan sukacita Paskah.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya ingin mengenang orang-orang yang tewas dalam kecelakaan bus di Afrika Selatan beberapa hari lalu. Marilah kita mendoakan mereka dan keluarga mereka.

 

Kemarin adalah Hari Olahraga Sedunia untuk Pembangunan dan Perdamaian. Kita semua tahu bagaimana berolahraga dapat mendidik masyarakat agar terbuka, berlandaskan kesetiakawanan, dan tidak berprasangka buruk. Namun untuk hal ini kita memerlukan pemimpin dan pelatih yang tidak hanya bertujuan untuk menang atau menghasilkan uang.

 

Kita jangan berhenti berdoa untuk perdamaian, perdamaian yang adil dan kekal, khususnya bagi Ukraina yang tersiksa, serta Palestina dan Israel. Semoga Roh Tuhan yang bangkit mencerahkan dan mendukung semua orang yang berupaya mengurangi ketegangan serta mendorong tindakan yang memungkinkan negosiasi. Semoga Tuhan memberi para pemimpin kemampuan untuk berhenti sejenak guna mempertimbangkan, bernegosiasi.

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari Italia dan pelbagai negara. Secara khusus, saya menyapa para siswa Sekolah Katolik Mar Qardakh di Erbil, ibu kota Kurdistan Irak; dan kaum muda Castellón, Spanyol. Dengan penuh kasih sayang saya menyapa kelompok doa yang membina spiritualitas Kerahiman Ilahi, yang berkumpul hari ini di Tempat Suci Roh Kudus, Sassia.

 

Saya menyapa klub bola gelinding “La Perosina”, grup ACLI dari Chieti, peserta Konferensi Internasional untuk pengentasan ibu pengganti, umat Modugno dan Alcamo, siswa Sekolah “San Giuseppe” Bassano del Grappa dan calon penerima sakramen krisma dari Santarcangelo di Romagna. Saya menyapa banyak orang Polandia di sini: Saya bisa melihat benderanya!

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 7 April 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 1 April 2024 : KEBANGKITAN TUHAN MEMBAWA SUKACITA YANG BESAR DAN MENGUBAH HIDUP KITA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi, dan selamat Paskah!

 

Hari ini, hari Senin dalam Oktaf Paskah, Bacaan Injil (bdk. Mat 28:8.15) menunjukkan kepada kita sukacita para perempuan pada Kebangkitan Yesus: perikop tersebut mengatakan bahwa mereka meninggalkan kubur dengan “sukacita yang besar”, dan “berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus” (ayat 8). Sukacita ini, yang tepatnya lahir dari perjumpaan yang hidup dengan Yesus yang bangkit, merupakan perasaan yang kuat, yang mendorong mereka untuk menyebarkan dan memberitahukan apa yang telah mereka lihat.

 

Berbagi sukacita adalah sebuah pengalaman yang menakjubkan, yang kita pelajari sejak usia dini: bayangkan seorang anak yang mendapat nilai bagus di sekolah dan tidak sabar untuk menunjukkannya kepada kedua orang tuanya, atau seorang muda yang mencapai kesuksesan pertamanya dalam dunia olahraga, atau kelahiran seorang anak dalam sebuah keluarga. Marilah kita mencoba mengingat, kita masing-masing, suatu momen yang sangat membahagiakan sehingga sulit untuk mengungkapkannya dengan kata-kata, namun ingin segera kita beritahukan kepada semua orang!

 

Jadi, para perempuan, pada pagi Paskah, menghayati pengalaman ini, namun dengan cara yang jauh lebih besar. Mengapa? Sebab kebangkitan Yesus bukan sekadar berita yang menakjubkan atau akhir kisah yang membahagiakan, melainkan sesuatu yang mengubah hidup kita sepenuhnya, dan mengubahnya selamanya! Kebangkitan Yesus merupakan kemenangan kehidupan atas kematian, inilah kebangkitan Yesus. Kebangkitan Yesus merupakan kemenangan harapan atas keputusasaan. Yesus menerobos kegelapan kubur dan hidup selamanya: kehadiran-Nya dapat memenuhi segala sesuatu dengan terang. Bersama-Nya, setiap hari menjadi sebuah langkah dalam perjalanan abadi, setiap “hari ini” dapat mengharapkan “hari esok”, setiap akhir menjadi awal yang baru, setiap sekejab waktu dirancangkan melampaui batas waktu, menuju keabadian.

 

Saudara-saudari, sukacita kebangkitan bukanlah sesuatu yang jauh. Sukacita kebangkitan sangat dekat, milik kita, karena diberikan kepada kita pada hari pembaptisan kita. Sejak saat itu, kita juga, seperti para perempuan, dapat bertemu Yesus yang bangkit dan Ia berkata kepada kita, sebagaimana dikatakan-Nya kepada mereka: “Jangan takut!” (ayat 10). Saudara-saudari, janganlah kita meninggalkan sukacita Paskah!

 

Namun bagaimana kita bisa memelihara sukacita ini? Seperti yang dilakukan para perempuan: dengan berjumpa Yesus yang bangkit, karena Dialah sumber sebuah sukacita yang tiada henti. Jadi, marilah kita bergegas mencari Dia dalam Ekaristi, dalam pengampunan-Nya, dalam doa dan dalam amal kasih! Sukacita, ketika dibagikan, akan bertumbuh. Marilah kita berbagi sukacita Yesus yang bangkit.

 

Dan semoga Perawan Maria, yang pada Paskah bergembira ria atas kebangkitan Putranya, membantu kita menjadi saksi-saksi yang penuh sukacita.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya kembali mengucapkan Paskah kepada semuanya, dan dengan tulus saya berterima kasih kepada mereka yang, dengan berbagai cara, telah mengirimi saya pesan-pesan kedekatan dan doa. Semoga karunia damai Tuhan yang bangkit dianugerahkan kepada setiap orang, keluarga-keluarga, dan komunitas-komunitas. Dan semoga karunia damai ini sampai ke tempat yang paling membutuhkannya: kepada orang-orang yang kelelahan karena perang, kelaparan, dan segala bentuk penindasan.

 

Dan saya menyapamu dengan penuh kasih sayang, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara!

 

Saya menyapa kaum muda dan para imam komunitas pastoral Beato Carlo Gnocchi Inverigo, dan para deken Appiano Gentile.

 

Selamat Hari Senin Malaikat! Semoga sukacita Paskah terus berlanjut! Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 2 April 2024)