Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 7 Maret 2018 : TENTANG DOA SYUKUR AGUNG


Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Kita sedang melanjutkan katekese tentang Misa Kudus, dan dengan katekese ini kita akan berfokus pada Doa Syukur Agung. Ritus persembahan roti dan anggur telah usai, Doa Syukur Agung dimulai, yang memenuhi persyaratan perayaan Misa dan merupakan momen puncaknya, dilanjutkan Komuni Kudus.
Ini sesuai dengan apa yang diperbuat Yesus sendiri, di meja bersama para Rasul pada Perjamuan Terakhir, ketika "Ia mengucap syukur" atas roti dan kemudian atas cawan berisi anggur (bdk. Mat 26:27; Mrk 14:23; Luk 22:17,19; 1 Kor 11:24): Ucapan syukur-Nya hidup kembali setiap kali kita merayakan Ekaristi, menggabungkan diri kita dengan kurban keselamatan-Nya.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 4 Maret 2018 : HIDUPLAH DEMI KEMULIAAN ALLAH, BUKAN SEMATA UNTUK KEUNTUNGAN DAN KEPENTINGAN KITA

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Injil hari ini, menurut Yohanes, menyajikan kisah Yesus mengusir para pedagang di Bait Suci Yerusalem (bdk. Yoh 2:13-25). Ia bertingkah laku ini, membuat cambuk dari tali dan membalikkan meja-meja, berkata : "Jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan!" (ayat 16). Tindakan tegas ini, yang dilakukan menjelang Paskah, membuat kesan yang luar biasa pada orang banyak dan membangkitkan permusuhan dari para pemimpin agama dan semua pihak yang merasa terancam kepentingan ekonomi mereka. Tetapi, bagaimana seharusnya kita menafsirkannya? Tentu bukannya tindakan kekerasan. Sangatlah benar hal ini tidak menimbulkan campur tangan para penjaga ketertiban umum - campur tangan polisi. Tidak! Tetapi dimaksudkan sebagai tindakan khas para nabi yang, atas nama Allah, sering mengecam pelanggaran dan perbuatan yang keterlaluan. Pertanyaan yang diajukan adalah tentang kewenangan. Pada kenyataannya, orang-orang Yahudi bertanya kepada Yesus: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?" (ayat 18), yaitu, kewenangan apa yang harus Engkau perbuat untuk melakukan hal-hal ini? Seakan meminta Ia menunjukkan bahwa Ia benar-benar sedang bertindak atas nama Allah.

DEKRIT PENCANTUMAN PERINGATAN SANTA PERAWAN MARIA BUNDA GEREJA DALAM KALENDER LITURGI GEREJA ROMA

Paus Fransiskus telah menetapkan devosi kuno kepada Santa Perawan Maria sebagai Bunda Gereja dicantumkan ke dalam kalender liturgi Gereja Roma. Perayaan liturgi tersebut akan dirayakan setiap tahun sebagai sebuah peringatan pada hari Senin setelah Hari Raya Pentakosta. Berikut ini dekrit yang berkenaan dengan penetapan tersebut.

******

Penghormatan penuh sukacita yang diberikan kepada Bunda Allah oleh Gereja masa kini, dalam terang permenungan tentang misteri Kristus dan sifatnya, tidak dapat mengabaikan sosok seorang perempuan (bdk. Gal 4:4), Perawan Maria, yang merupakan Bunda Kristus maupun Bunda Gereja.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 28 Februari 2018 : TENTANG LITURGI EKARISTI



Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Melanjutkan katekese tentang Misa Kudus, Liturgi Sabda - yang saya bahas dalam katekese yang lalu -, diikuti oleh bagian pokok Misa lainnya, yaitu Liturgi Ekaristi. Di dalamnya, melalui tanda-tanda kudus, Gereja terus-menerus menghadirkan Kurban Perjanjian Baru yang dimetereikan oleh Yesus di altar Salib (bdk. Sacrosanctum Concilium, 47). Altar kristiani yang pertama adalah Salib, dan ketika kita sampai di altar untuk merayakan Misa, ingatan kita tertuju (kembali) ke altar Salib, di mana pengorbanan pertama dilakukan. Imam, yang mewakili Kristus dalam Misa, melakukan apa yang Tuhan sendiri lakukan dan percayakan kepada para murid dalam Perjamuan Terakhir : Ia mengambil roti dan piala, mengucap syukur, dan memberikannya kepada para murid, seraya berkata : "Ambillah, makanlah … minumlah : inilah tubuh-Ku … inilah piala darah-Ku. Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku".