Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 November 2018 : SABDA BAHAGIA, JALAN MENUJU KEKUDUSAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi dan selamat hari raya!

Bacaan Pertama hari ini, dari Kitab Wahyu (7:2-4,9-14), berbicara kepada kita tentang Surga dan menempatkan di hadapan kita “suatu kumpulan besar orang banyak”, tidak dapat terhitung banyaknya, "dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa” (Why 7:9). Mereka adalah orang-orang kudus. Apa yang mereka lakukan "di sana"? Mereka bernyanyi bersama; memuji Allah dengan sukacita. Akan menyenangkan mendengarkan nyanyian mereka ... tetapi kita bisa membayangkannya. Apakah kamu tahu kapannya? Selama Misa, ketika kita menyanyikan “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah semesta alam ...“. Kitab Suci mengatakan itu adalah nyanyian rohani yang berasal dari Surga, yang dinyanyikan di sana (bdk. Yes 6:3; Why 4:8), sebuah madah pujian. Kemudian, menyanyikan “Kudus”, kita bukan hanya memikirkan para kudus tetapi kita melakukan apa yang mereka lakukan. Pada saat Misa tersebut, kita dipersatukan dengan mereka lebih dari sebelumnya. Dan kita dipersatukan dengan semua orang kudus - tidak hanya dengan orang-orang yang paling terkenal dalam penanggalan, tetapi juga dengan orang-orang “dari pintu sebelah”, dengan kerabat dan kenalan kita, yang sekarang menjadi bagian dari kelompok besar itu.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 31 Oktober 2018 : PANGGILAN SUAMI ISTRI MENEMUKAN KEPENUHANNYA DALAM KRISTUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

Hari ini saya ingin menyelesaikan katekese tentang Perintah Keenam dari Dasa Firman - "Jangan berzinah" -, membuktikan bahwa kasih setia Kristus adalah terang untuk menghayati indahnya kasih sayang manusia. Kenyataannya, segi kasih sayang kita adalah panggilan untuk mengasihi, yang diwujudkan dalam kesetiaan, dalam keramahtamahan, dan dalam belas kasih. Hal ini sangat penting. Bagaimana kasih mewujudkan dirinya? Dalam kesetiaan, dalam keramahtamahan, dan dalam belas kasih.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 28 Oktober 2018

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi! Tetapi sepertinya pagi tidak begitu bagus! [Hujan dan berangin].

Pagi ini, di Basilika Santo Petrus, kita merayakan Misa Penutupan Sidang Sinode Para Uskup yang didedikasikan untuk kaum muda. Bacaan Pertama (Yer 31:7-9) sangat selaras dengan saat ini karena merupakah sebuah kata harapan, yang diberikan Allah kepada umat-Nya. Sebuah kata penghiburan, yang berlandaskan pada kenyataan bahwa Allah adalah Bapa bagi umat-Nya; Ia mengasihi mereka dan memperhatikan mereka sebagai anak-anak-Nya (bdk. ayat 9); Ia membuka di hadapan mereka cakrawala masa depan, jalan yang mudah dilalui, yang mudah dilaksanakan, yang padanya "orang buta dan lumpuh, ada perempuan yang mengandung bersama-sama dengan perhimpunan yang melahirkan" (ayat 8) yaitu, orang-orang dalam kesulitan, akan dapat berjalan - karena harapan Allah bukanlah khayalan belaka, seperti beberapa iklan, di mana semuanya sehat dan indah, tetapi harapan Allah adalah sebuah janji bagi umat yang sesungguhnya, dengan titik-titik baik dan titik-titik buruk, memiliki kesanggupan dan kerapuhan, seperti kita semua : harapan Allah adalah sebuah janji bagi umat seperti kita.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 24 Oktober 2018 : TENTANG PERINTAH KEENAM (JANGAN BERZINAH)

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

Dalam perjalanan katekese kita tentang Dasa Firman hari ini kita tiba pada Perintah Keenam, yang harus dilaksanakan dengan segi suasana hati dan seksual, serta menyatakan : "Jangan berzinah". Panggilan dalam waktu dekat adalah terhadap ketaatan serta, pada kenyataannya, tidak ada hubungan manusiawi yang bersifat otentik tanpa ketaatan dan kesetiaan.

Kita tidak dapat mengasihi selama cinta itu "tidak menyusahkan"; cinta mewujudkan dirinya tepatnya di luar ambang kepentingan diri sendiri, ketika semuanya diberikan tanpa syarat. Sebagaimana ditegaskan oleh Katekismus Gereja Katolik : “Cinta itu sifatnya pasti. Ia tidak bisa berlaku hanya untuk sementara" (no. 1646). Ketaatan merupakan ciri khas hubungan manusiawi yang bebas, dewasa dan bertanggung jawab. Seorang sahabat juga menunjukkan dirinya secara otentik ketika ia tetap seperti itu, terlepas dari kemungkinan apapun yang terjadi; jika tidak ia bukanlah seorang sahabat. Kristus mengungkapkan cinta yang autentik, Dialah yang hidup dalam kasih Bapa yang tak terbatas, dan dengan rekam jejak ini Ia adalah Sahabat yang setia yang menyambut kita bahkan ketika kita melakukan kesalahan dan selalu menginginkan kebaikan kita, bahkan ketika kita tidak layak mendapatkannya.