Saudara
dan saudari terkasih, selamat pagi!
Kita
melanjutkan perjalanan katekese tentang doa “Bapa Kami”, yang kita mulai minggu
lalu. Yesus meletakkan di bibir murid-murid-Nya doa singkat dan berani yang
terdiri dari tujuh persoalan - sebuah angka yang bukan tidak disengaja dalam
Kitab Suci <tetapi angka itu> menunjukkan kepenuhan. Saya mengatakan
berani karena, jika Kristus tidak menyarankannya, mungkin tak satupun dari kita
- tak ada satupun teolog paling terkenal - akan berani berdoa kepada Allah
dengan cara ini. Yesus, pada kenyataannya, mengundang murid-murid-Nya untuk
mendekati Allah dan membuat beberapa permintaan dengan keyakinan : pertama-tama
berkenaan dengan Dia dan kemudian berkenaan dengan kita. Tidak ada Pendahuluan
dalam doa “Bapa Kami”. Yesus tidak mengajarkan rumusan untuk "mengambil
hati" Tuhan, sebaliknya, Ia mengundang untuk berdoa kepada-Nya meruntuhkan
hambatan kegelisahan dan rasa takut. Ia tidak mengatakan untuk menyapa Allah
memanggil-Nya “Yang Mahakuasa”, “Yang Mahatinggi”, “Engkau yang nun jauh dari
kami; aku orang yang sengsara”. Tidak, Ia tidak mengatakan hal ini, tetapi
hanya “Bapa”, dengan segala kesederhanaan, sebagai anak-anak yang berpaling
kepada ayah mereka. Dan kata “Bapa” ini mengungkapkan rasa percaya diri dan
kepercayaan seorang anak.



