Saudara-saudari
yang terkasih, selamat pagi!
Katekese
hari ini ditujukan untuk Sabda Bahagia yang ketujuh, yaitu “orang-orang yang
membawa damai”, yang diberitakan sebagai anak-anak Allah. Saya bergembira
karena terjadinya segera setelah Paskah, karena damai Kristus adalah buah dari
wafat dan kebangkitan-Nya, seperti yang kita dengar dalam Surat Santo Paulus.
Untuk
memahami Sabda Bahagia ini, perlu dijelaskan arti kata "damai", yang
dapat disalahpahami atau terkadang disepelekan. Kita harus mengarahkan diri
kita di antara dua gagasan damai : gagasan yang pertama bersifat biblis, tempat
kata yang indah "syalom" muncul, yang mengungkapkan kelimpahan,
kemakmuran, dan kesejahteraan. Ketika dalam bahasa Ibrani seseorang mengharapkan syalom, ia menginginkan kehidupan yang baik, penuh, makmur tetapi juga menjaganya
dengan kebenaran dan keadilan, yang akan tergenapi dalam diri Mesias, Sang Raja
Damai (bdk. Yes 9:6; Mi 5:4-5).



