Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 12 Agustus 2020 : KATEKESE TENTANG AJARAN SOSIAL GEREJA (BAGIAN 2)

Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

Pandemi telah menyoroti betapa rentan dan saling terhubungnya setiap orang. Jika kita tidak saling peduli, mulai dari yang terkecil, dengan orang-orang yang paling terpengaruh, termasuk ciptaan, kita tidak dapat menyembuhkan dunia.

 

Upaya dari begitu banyak orang yang telah memberikan bukti kasih manusiawi dan Kristiani kepada sesama, membaktikan diri bagi orang sakit bahkan dengan resiko kesehatan mereka sendiri patut dihargai. Mereka adalah para pahlawan! Namun, virus Corona bukan satu-satunya penyakit yang harus diperangi, tetapi sebaliknya, pandemi telah menjelaskan penyakit sosial yang lebih luas. Salah satunya adalah pandangan yang menyimpang tentang pribadi manusia, sudut pandang yang melecehkan martabat dan hubungan pribadi manusia (la sua mengacu pada manusia, bukan diri). Kadang-kadang kita memandang orang lain sebagai obyek, untuk digunakan dan dibuang. Pada kenyataannya, jenis sudut pandang ini membutakan dan memupuk budaya sekali pakai buang yang individualistis dan agresif, yang mengubah manusia menjadi benda konsumen (bdk. Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, 53; Ensiklik Laudato Si', [LS], 22).

 

Dalam terang iman kita tahu bahwa Allah justru memandang manusia secara berbeda. Ia menciptakan kita bukan sebagai obyek tetapi sebagai orang-orang yang dikasihi dan mampu mengasihi; Ia telah menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya (lihat Kej 1:27). Dengan cara ini Ia telah memberi kita sebuah martabat yang unik, memanggil kita untuk hidup dalam persekutuan dengan-Nya, dalam persekutuan dengan saudari kita dan saudara kita, dengan menghormati segenap ciptaan. Dalam persekutuan, dalam keselarasan, bisa kita katakan. Ciptaan adalah keselarasan yang di dalamnya kita dipanggil untuk hidup. Dan dalam persekutuan ini, dalam keselarasan ini yaitu persekutuan, Allah memberi kita kemampuan untuk berkembang biak dan menjaga kehidupan (lihat Kej 1:28-29), mengusahakan dan memelihara tanah (lihat Kej 2:15; LS, 67). Jelaslah bahwa kita tidak dapat berkembang biak dan menjaga kehidupan tanpa keselarasan; kehidupan tanpa keselarasan akan hancur.

 

Kita memiliki contoh sudut pandang individualistik tersebut, yang tidak selaras, dalam Injil, dalam permintaan yang diajukan kepada Yesus oleh ibu dari murid Yakobus dan murid Yohanes (bdk. Mat 20:20-38). Ia menginginkan kedua putranya duduk di sisi kanan dan kiri raja yang baru. Tetapi Yesus mengusulkan jenis penglihatan yang berbeda : yaitu melayani dan memberikan nyawanya untuk sesama, dan Ia menegaskannya dengan segera memulihkan penglihatan kepada dua orang buta dan menjadikan mereka murid-murid-Nya (lihat Mat 20:29-34). Berusaha mendaki dalam hidup, menjadi lebih unggul dari orang lain, menghancurkan keselarasan. Ini adalah nalar penguasaan, nalar penguasaan orang lain. Keselarasan adalah sesuatu yang berbeda : keselarasan adalah pelayanan.

 

Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Tuhan agar memberikan mata yang berperhatian kepada saudara dan saudari kita, terutama orang-orang yang sedang menderita. Sebagai murid-murid Yesus, kita tidak ingin menjadi acuh tak acuh atau individualistis. Ini adalah dua sikap yang tidak berkenan yang bertentangan dengan keselarasan. Acuh tak acuh : saya melihat ke arah lain. Individualis : hanya memperhatikan kepentingan sendiri. Keselarasan yang diciptakan Allah meminta kita untuk memandang sesama, kebutuhan sesama, permasalahan sesama, dalam persekutuan. Kita ingin mengakui martabat manusia dalam setiap pribadi, apapun ras, bahasa atau kondisinya. Keselarasan menuntunmu untuk mengenali martabat manusia, keselarasan yang diciptakan oleh Allah tersebut, dengan umat manusia sebagai pusatnya.

 

Konsili Vatikan II menekankan bahwa martabat ini tidak dapat diganggu-gugat, karena “diciptakan 'menurut rupa Allah'” (Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, 12). Martabat terletak di dasar segenap kehidupan sosial dan menentukan prinsip-prinsip pelaksanaannya. Dalam budaya modern, rujukan terdekat dengan prinsip martabat pribadi yang tidak dapat diganggu-gugat adalah Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, yang oleh Santo Yohanes Paulus II didefinisikan sebagai "tonggak perjalanan panjang dan sulit umat manusia",[1] dan sebagai "salah satu ungkapan tertinggi hati nurani manusia".[2] Hak asasi tidak hanya bersifat individu, tetapi juga bersifat sosial; hak-hak negara dan bangsa-bangsa.[3] Manusia, memang, dalam martabat pribadinya, adalah makhluk sosial, yang diciptakan menurut rupa Allah, Satu dan Tritunggal. Kita adalah makhluk sosial; kita perlu hidup dalam keselarasan sosial ini, tetapi ketika ada keegoisan, pandangan kita tidak menjangkau sesama, komunitas, tetapi berfokus pada diri kita sendiri, dan hal ini membuat kita buruk, tidak berkenan dan egois, menghancurkan keselarasan.

 

Kesadaran yang diperbarui akan martabat setiap manusia ini memiliki implikasi sosial, ekonomi dan politik yang serius. Memandang saudara dan saudari kita serta segenap ciptaan sebagai karunia yang diterima dari kasih Bapa mengilhami perilaku, kepedulian, dan ketakjuban yang berperhatian. Dengan cara ini orang beriman, merenungkan sesamanya sebagai saudara atau saudari, dan bukan sebagai orang asing, memandangnya dengan penuh kasih dan empati, tidak menghina atau dengan permusuhan. Merenungkan dunia dalam terang iman, dengan bantuan rahmat, kita berusaha untuk mengembangkan kreativitas dan antusiasme kita untuk menyelesaikan cobaan masa lalu. Kita memahami dan mengembangkan kemampuan kita sebagai tanggung jawab yang muncul dari iman ini, [4]sebagai karunia dari Allah yang ditempatkan untuk melayani umat manusia dan ciptaan.

 

Seraya kita semua bekerja untuk menangkal sebuah virus yang menyerang semua orang tanpa kecuali, iman mendesak kita untuk berkomitmen secara serius dan aktif untuk memerangi ketidakpedulian terhadap pelanggaran martabat manusia. Budaya ketidakpedulian yang menyertai budaya sekali pakai buang : hal-hal yang tidak mempengaruhi saya, tidak menarik minat saya. Iman selalu menuntut agar kita memperkenankan diri kita disembuhkan dan dipertobatkan dari individualisme kita, baik secara pribadi maupun bersama; individualisme partai, misalnya.

 

Semoga Tuhan “memulihkan penglihatan kita” untuk menemukan kembali apa artinya menjadi anggota keluarga umat manusia. Dan semoga penglihatan ini diterjemahkan ke dalam tindakan nyata belas kasih dan rasa hormat terhadap setiap orang serta perawatan dan perlindungan rumah kita bersama.

_______

 

Dengan hormat saya menyapa umat berbahasa Inggris. Saat kita bersiap untuk merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga, saya mempercayakan kalian dan keluarga-keluarga kalian kepada perantaraan keibuannya, agar ia sudi membimbing kita dalam perjalanan ziarah kita menuju penggenapan janji Kristus. Dan saya mohon tolong mendoakan saya. Semoga Tuhan memberkati kalian!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari yang terkasih, dalam katekese lanjutan kita tentang dampak pandemi saat ini dalam terang ajaran sosial Gereja, sekarang kita membahas tema martabat manusia. Pandemi telah membuat kita semakin menyadari penyebaran dalam masyarakat kita dari cara berpikir yang salah dan individualistis, yang menentang martabat dan hubungan manusia, memandang orang sebagai benda konsumsi dan menciptakan budaya "sekali pakai buang" (bdk. Evangelii Gaudium, 53). Sebaliknya, iman mengajarkan bahwa kita telah diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dijadikan karena kasih dan persekutuan hidup dengan-Nya, dengan satu sama lain dan dengan seluruh ciptaan. Yesus mengatakan kepada kita bahwa pemuridan yang sesungguhnya berupa mengikuti teladan-Nya dengan menghabiskan diri kita untuk melayani sesama. Martabat pemberian Allah dan hak-hak kita yang muncul daripadanya adalah landasan pokok dari segenap kehidupan sosial, dan sungguh memiliki implikasi sosial, ekonomi dan politik. Dalam menanggapi pandemi, kita umat Kristiani dipanggil untuk memerangi semua pelanggaran martabat manusia yang bertentangan dengan Injil, dan bekerja demi kesejahteraan segenap keluarga umat manusia dan rumah kita bersama.

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Agustus 2020)



[1]Pidato di depan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (2 Oktober 1979).

[2]Pidato di depan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (5 Oktober 1995).

[3]bdk. Kompendium Ajaran Sosial Gereja, 157.

[4]Idem.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 9 Agustus 2020 : YESUS BERJALAN DI ATAS AIR

Saudara dan saudari terkasih, selamat siang!

 

Bacaan Injil hari Minggu ini (lihat Mat 14:22-33) berbicara tentang Yesus yang berjalan di atas air danau yang bergelora. Setelah memberi makan orang banyak dengan lima roti dan dua ikan - seperti yang kita lihat hari Minggu yang lalu - Yesus memerintahkan para murid untuk naik ke perahu dan kembali ke pantai seberang. Ia menyuruh orang banyak pulang dan kemudian naik ke atas bukit, seorang diri, untuk berdoa. Ia membenamkan diri-Nya dalam persekutuan dengan Bapa.

 

Selama menyeberangi danau pada malam hari, perahu para murid terhalang oleh badai karena angin sakal. Ini lumrah di sebuah danau. Pada titik tertentu, mereka melihat seseorang berjalan di atas air, mendekati mereka. Terkejut, mereka mengira itu hantu dan berteriak ketakutan. Yesus meyakinkan mereka : “Tenanglah! Aku ini, jangan takut”. Kemudian Petrus - Petrus yang sangat tegas - menjawab : “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air”. Sebuah tantangan. Dan Yesus mengatakan kepadanya : "Datanglah". Petrus keluar dari perahu dan mengambil beberapa langkah; kemudian angin dan ombak membuatnya takut serta ia mulai tenggelam. “Tuhan, tolonglah aku”, ia berteriak, dan Yesus menggenggam tangannya dan berkata kepadanya : “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”.

 

Paparan Injil ini adalah ajakan untuk menyerahkan diri kita dengan penuh kepercayaan kepada Allah di setiap saat dalam kehidupan kita, terutama di saat pencobaan dan kekalutan. Ketika kita memiliki perasaan bimbang dan takut yang kuat dan kita tampaknya tenggelam, di saat-saat sulit dari kehidupan di mana segalanya menjadi gelap, kita tidak boleh malu berteriak seperti Petrus: "Tuhan, tolonglah aku" (ayat 30). Mengetuk hati Allah, hati Yesus. Tuhan, tolonglah aku. Itu adalah sebuah doa yang indah! Kita bisa mengulanginya berkali-kali. Tuhan, tolonglah aku. Dan sikap Yesus, yang segera mengulurkan tangan-Nya dan menggenggam tangan sahabat-Nya, seharusnya direnungkan panjang lebar : inilah Yesus. Yesus melakukan hal ini. Yesus adalah tangan Bapa yang tidak pernah meninggalkan kita, tangan Bapa yang kuat dan setia, yang selalu dan hanya menginginkan yang baik untuk kita. Allah tidak berada dalam suara nyaring, Allah bukanlah badai, Ia bukan berada dalam api, Ia tidak berada dalam gempa bumi - sebagaimana paparan tentang Nabi Elia hari ini juga mengingatkan bahwa Allah adalah angin sepoi-sepoi basa - secara harfiah mau dikatakan hal ini : Ia berada di dalam "untaian keheningan yang merdu" - yang tidak pernah memaksakan diri, tetapi meminta untuk didengarkan (lihat 1 Raj 19:11-13). Memiliki iman berarti menjaga hatimu tetap berpaling kepada Allah, kepada kasih-Nya, kepada kelembutan Bapa-Nya, di tengah-tengah badai. Yesus ingin mengajarkan hal ini kepada Petrus dan para murid, dan juga kepada kita hari ini. Di saat-saat kelam, di saat-saat sedih Ia sangat menyadari bahwa iman kita lemah - kita semua adalah orang-orang yang memiliki iman yang kecil, kita semua, termasuk saya, semua orang - dan ketika iman kita lemah, perjalanan kita dapat terganggu, terhalang oleh kekuatan yang merugikan. Tetapi Ia adalah Yang Bangkit! Jangan lupakan hal ini : Ia adalah Tuhan yang melewati kematian untuk mengamankan kita. Bahkan sebelum kita mulai mencari-Nya, Ia hadir di samping kita dan mengangkat kita kembali setelah kejatuhan kita. Ia membantu kita bertumbuh dalam iman. Mungkin dalam kegelapan, kita berteriak : "Tuhan, Tuhan!" memikirkan Ia jauh sekali. Dan Ia berkata, "Aku di sini". Ah, Ia berada bersamaku! Itulah Tuhan.

 

Perahu di bawah belas kasih badai adalah gambaran Gereja, yang di setiap zaman menghadapi angin sakal, cobaan yang sangat berat berkali-kali : kita mengingat penganiayaan yang berlangsung lama dan ganas di abad terakhir dan bahkan hari ini di tempat-tempat tertentu. Dalam situasi seperti itu, Gereja mungkin tergoda untuk berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkannya. Namun dalam kenyataannya justru pada saat-saat itulah kesaksian iman, kesaksian kasih, kesaksian pengharapan paling bersinar. Kehadiran Kristus yang Bangkit di dalam Gereja-Nya yang memberikan rahmat kesaksian hingga menjadi martir, yang menumbuhkan umat Kristiani yang baru serta buah rekonsiliasi dan perdamaian bagi seluruh dunia.

 

Semoga pengantaraan Maria membantu kita untuk bertekun dalam iman dan kasih persaudaraan ketika kegelapan dan badai kehidupan menempatkan kepercayaan kita kepada Allah dalam krisis.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari terkasih,

 

Pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, 75 tahun yang lalu, bom atom yang tragis terjadi di Hiroshima dan Nagasaki. Seraya saya mengingat kunjungan yang saya lakukan ke tempat-tempat itu tahun lalu dengan emosi dan rasa syukur yang dalam, saya memperbarui ajakan untuk berdoa dan berkomitmen untuk dunia yang benar-benar bebas dari senjata nuklir.

 

Belakangan ini saya sering memikirkan Lebanon. Di sana saya melihat bendera Lebanon, sekelompok orang Lebanon. Bencana Selasa lalu memanggil semua orang, dimulai dengan rakyat Lebanon, untuk bekerja sama demi kebaikan bersama di negara tercinta ini. Lebanon memiliki jatidiri tertentu, buah perjumpaan aneka budaya, yang telah muncul seiring berjalannya waktu sebagai model hidup bersama. Tentu saja, hidup berdampingan ini sekarang sangat rapuh, kita tahu hal ini, tetapi saya sedang berdoa agar, dengan pertolongan Allah dan keikutsertaan yang tulus dari semua orang, hidup berdampingan dapat dilahirkan kembali dengan bebas dan kuat. Saya mengundang Gereja di Lebanon untuk dekat dengan orang-orang di Kalvari mereka, seperti yang telah dilakukannya belakangan ini, dengan kesetiakawanan dan kasih sayang, dengan hati dan tangan terbuka untuk berbagi. Selain itu, saya memperbarui seruan untuk bantuan yang murah hati di pihak komunitas internasional. Dan tolong, saya mohon kepada para uskup, para imam dan kaum religius Lebanon untuk dekat dengan umat dan menjalani sebuah gaya hidup yang ditandai dengan kemiskinan injili, tanpa kemewahan, karena rakyatmu sedang menderita, sangat menderita.

 

Saya menyapa kalian semua, umat Roma dan para peziarah dari berbagai negara - ada banyak bendera di sini - keluarga, kelompok paroki, lembaga. Secara khusus, saya menyapa kaum muda dari Pianengo, di Keuskupan Crema - di sana kalian adalah …, dengan lantang! - yang telah melewati Via Francigena dari Viterbo menuju Roma. Bagus untuk kalian, selamat!

 

Saya menyampaikan salam hangat kepada para peserta Tour de Pologne, - ada banyak orang Polandia di sini! - Lomba balap sepeda internasional yang tantangannya tahun ini adalah untuk mengenang seratus tahun kelahiran Santo Yohanes Paulus II.

 

Kepada kalian semua, saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang kalian! Sampai jumpa!

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 9 Agustus 2020)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 5 Agustus 2020 : KATEKESE TENTANG AJARAN SOSIAL GEREJA (BAGIAN 1)

Saudara-saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

 

Pandemi terus menyebabkan luka-luka yang dalam, memperlihatkan kerentanan kita. Di setiap benua ada banyak yang telah meninggal, banyak yang sakit. Banyak orang dan banyak keluarga sedang hidup dalam sebuah masa ketidakpastian oleh karena masalah sosial ekonomi yang terutama berdampak pada orang-orang yang paling miskin.

 

Jadi, kita harus menjaga pandangan kita tertuju pada Yesus (lihat Ibr 12:2) : di tengah pandemi ini, mata kita tertuju pada Yesus; dan dengan iman ini merangkul pengharapan akan Kerajaan Allah yang dibawa Yesus kepada kita (lihat Mrk 1:5; Mat 4:17; KGK 2816). Kerajaan kesembuhan dan keselamatan yang sudah ada di tengah-tengah kita (lihat Luk 10:11). Kerajaan keadilan dan perdamaian yang diwujudkan melalui karya-karya amal, yang pada gilirannya memperbesar pengharapan dan memperkuat iman (lihat 1 Kor 13:13). Dalam tradisi Kristiani, iman, pengharapan, dan amal kasih lebih dari sekadar perasaan atau sikap. Ketiganya adalah kebajikan yang ditanamkan di dalam diri kita melalui rahmat Roh Kudus (lihat KGK, 1812, 1813) : karunia-karunia yang menyembuhkan kita dan yang membuat kita menjadi penyembuh, karunia yang membuka kita terhadap cakrawala yang baru, bahkan ketika kita sedang berlayar di perairan masa kita yang sulit.

 

Kontak yang diperbarui dengan Injil iman, pengharapan dan kasih mengundang kita untuk memikul roh yang berdaya cipta dan diperbarui. Dengan cara ini, kita akan dapat mengubah akar kelemahan fisik, spiritual, dan sosial kita serta praktek-praktek yang bersifat merusak yang memisahkan kita satu sama lain, mengancam keluarga manusiawi dan planet kita.

 

Pelayanan Yesus menawarkan banyak teladan penyembuhan : ketika Ia menyembuhkan mereka yang terkena demam (lihat Mrk 1:29-34), kusta (lihat Mrk 1:40-45), kelumpuhan (lihat Mrk 2:1-12); ketika Ia memulihkan penglihatan (lihat Mrk 8:22-26; Hak 9:1-7), pengucapan atau pendengaran (lihat Mrk 7:31-37). Pada kenyataannya, Ia menyembuhkan bukan hanya kemalangan fisik - yang sesungguhnya, kemalangan fisik - tetapi Ia menyembuhkan seluruh pribadi. Dengan cara itu, Ia juga mengembalikan orang itu kepada komunitas, menyembuhkan; Ia membebaskan orang itu dari pengucilan karena Ia telah menyembuhkannya.

 

Marilah kita memikirkan kisah yang indah tentang penyembuhan seorang lumpuh di Kapernaum (lihat Mrk 2:1-12) yang kita dengar di awal audiensi. Sementara Yesus sedang berkhotbah di muka pintu rumah, empat orang membawa teman mereka yang lumpuh kepada Yesus. Tidak bisa masuk karena di sana ada orang banyak, mereka melubangi atap dan menurunkan tilam di depan-Nya. Yesus yang sedang berkhotbah melihat tilam ini turun di depan-Nya. "Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: 'Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!'" (ayat 5). Dan kemudian, sebagai tanda yang kasat mata, Ia menambahkan : "Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" (ayat 11).

 

Benar-benar sebuah teladan penyembuhan yang luar biasa! Tindakan Kristus adalah tanggapan langsung terhadap iman orang-orang itu, terhadap pengharapan yang diberikan mereka kepada-Nya, terhadap kasih yang telah mereka saling pertunjukkan. Jadi, Yesus menyembuhkan, tetapi Ia tidak hanya menyembuhkan kelumpuhan. Yesus menyembuhkan semua orang, Ia mengampuni dosa-dosa, Ia memperbaharui kehidupan orang yang lumpuh tersebut dan temannya. Ia menjadikannya dilahirkan kembali, katakan saja seperti itu. Sebuah penyembuhan fisik dan spiritual, bersama-sama, buah dari kontak pribadi dan sosial. Marilah kita membayangkan bagaimana persahabatan ini, dan iman dari semua yang hadir di rumah itu, akan tumbuh berkat tindakan Yesus, perjumpaan yang menyembuhkan dengan Yesus!

 

Jadi kita dapat bertanya pada diri kita sendiri : hari ini, dengan cara apa kita dapat membantu menyembuhkan dunia kita? Sebagai murid-murid Tuhan Yesus, yang adalah tabib jiwa dan tubuh kita, kita dipanggil untuk melanjutkan “karya-Nya, karya penyembuhan dan penyelamatan” (KGK, 1421) dalam arti fisik, sosial dan spiritual.

 

Meskipun Gereja melaksanakan rahmat penyembuhan Kristus melalui Sakramen-Sakramen, dan meskipun Gereja menyediakan pelayanan kesehatan di sudut-sudut terpencil planet, ia bukan pakar dalam pencegahan atau penyembuhan pandemi. Gereja membantu orang sakit, tetapi ia bukan pakar. Gereja juga tidak memberikan petunjuk-petunjuk sosial-politik tertentu (lihat Santo Paulus VI, Surat Apostolik Octogesima adveniens, 14 Mei 1971, no. 4). Ini adalah pekerjaan para pemimpin politik dan sosial. Meskipun demikian, selama berabad-abad, dan dengan terang Injil, Gereja telah mengembangkan beberapa prinsip sosial yang mendasar (lihat Kompendium Ajaran Sosial Gereja, 160-208), prinsip-prinsip yang dapat membantu kita bergerak maju dalam mempersiapkan masa depan yang kita butuhkan. Saya mengutip prinsip-prinsip pokok yang terkait erat : prinsip martabat pribadi, prinsip kebaikan bersama, prinsip pilihan mengutamakan kaum miskin, prinsip tujuan kebaikan universal, prinsip kesetiakawanan, subsidiaritas, prinsip perawatan rumah kita bersama. Prinsip-prinsip ini membantu para pemimpin, mereka yang bertanggung jawab terhadap masyarakat, untuk mendorong pertumbuhan dan juga, seperti dalam kasus pandemi, penyembuhan tatanan pribadi dan sosial. Semua prinsip ini mengungkapkan dengan cara yang berbeda keutamaan iman, pengharapan dan kasih.

 

Dalam beberapa pekan ke depan, saya mengundang kalian untuk menangani bersama pertanyaan-pertanyaan mendesak yang telah dibawa pandemi ini ke permukaan, terutama penyakit sosial. Dan kita akan melakukannya dalam terang Injil, kebajikan-kebajikan teologis dan prinsip-prinsip ajaran sosial Gereja. Kita akan menjelajahi bersama bagaimana tradisi sosial Katolik kita dapat membantu keluarga manusia menyembuhkan dunia ini yang menderita penyakit serius. Saya menginginkan agar semua orang berkaca dan bekerja bersama, sebagai para pengikut Yesus yang menyembuhkan, membangun sebuah dunia yang lebih baik, penuh pengharapan bagi generasi-generasi masa depan (lihat Nasihat Apostolik, Evangelii Gaudium, 24, November 2013, no. 183). Terima kasih.

 

Saya menyapa umat berbahasa Inggris. Atas kalian dan keluarga-keluarga kalian, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan. Dan tolong ingat untuk mendoakan saya. Semoga Allah memberkati kalian!


***



Kemarin di Beirut, dekat pelabuhan, ada ledakan besar yang menyebabkan puluhan kematian, melukai ribuan orang dan menyebabkan kehancuran serius. Marilah kita mendoakan para korban, keluarga-keluarga mereka; dan marilah kita mendoakan Lebanon sehingga, melalui dedikasi semua unsur sosial, politik dan agamanya, Lebanon dapat menghadapi saat yang sangat tragis dan menyakitkan ini, dan dengan bantuan masyarakat internasional, mengatasi krisis besar yang sedang mereka alami.

 

[Ringkasan yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari yang terkasih : Dalam menanggapi tantangan besar yang disebabkan oleh pandemi saat ini, kita umat Kristiani dibimbing oleh kebijaksanaan dan kekuatan yang lahir dari kebajikan iman, pengharapan dan kasih. Sebagai karuia-karunia Allah, kebajikan-kebajikan ini menyembuhkan kita dan memungkinkan kita pada gilirannya membawa kehadiran penyembuhan Kristus ke dunia kita. Karunia-karunia tersebut dapat mengilhami kita dalam semangat baru dan berdaya cipta untuk membantu kita menghadapi kelemahan fisik, sosial dan spiritual yang berakar dalam hari ini dan mengubah perilaku tidak adil dan bersifat menghancurkan yang mengancam masa depan keluarga manusiawi kita. Hari ini Gereja berupaya untuk melanjutkan pelayanan penyembuhan Tuhan, tidak hanya untuk individu tetapi juga untuk masyarakat secara keseluruhan. Gereja melakukan hal ini dengan mengusulkan sejumlah prinsip yang diambil dari Injil, yang meliputi : martabat manusiawi, kebaikan bersama, pilihan mengutamakan kaum miskin, tujuan kebaikan universal, kesetiakawanan, subsidiaritas, dan perawatan rumah kita bersama. Dalam pekan-pekan mendatang, saya akan berkaca pada tema-tema ini dan tema-tema lain dari ajaran sosial Gereja, yakin bahwa semuanya dapat menjelaskan masalah sosial akut hari ini dan berkontribusi pada pembangunan sebuah masa depan pengharapan bagi generasi-generasi mendatang.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 2 Agustus 2020 : MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI

Saudara-saudari terkasih, selamat siang!

 

Bacaan Injil hari Minggu ini menyajikan kepada kita mukjizat penggandaan roti (lihat Mat 14:13-21). Adegan tersebut terjadi di tempat yang sunyi, tempat Yesus mengasingkan diri bersama para murid-Nya. Tetapi orang-orang menemukan-Nya agar dapat mendengar-Nya dan disembuhkan : memang, kata-kata dan perbuatan-Nya memulihkan dan membawa harapan. Saat matahari terbenam, orang banyak tersebut masih ada dan para murid, orang-orang yang praktis, mengajak Yesus untuk mengusir mereka agar mereka dapat pergi dan menemukan sesuatu untuk dimakan. Tetapi Ia menjawab : "Kamu harus memberi mereka makan" (ayat 16). Kita bisa membayangkan wajah para murid! Yesus sangat menyadari apa yang akan dilakukan-Nya, tetapi Ia ingin mengubah sikap mereka : jangan mengatakan, "suruhlah mereka pergi", "biarkanlah mereka berjuang sendiri", "biarkanlah mereka menemukan sesuatu untuk dimakan", tetapi, "apa yang ditawarkan Sang Penyelenggara untuk kita bagikan?" Ini adalah dua cara bertingkah laku yang berlawanan. Dan Yesus ingin membawa mereka ke cara berperilaku yang kedua karena usulan yang pertama adalah usulan dari orang yang praktis, tetapi tidak bermurah hati : "usirlah mereka supaya mereka bisa pergi dan menemukan, biarkan mereka berjuang sendiri". Yesus berpikir secara lain. Yesus ingin menggunakan situasi ini untuk mendidik para sahabat-Nya, baik dulu maupun sekarang, tentang nalar Allah. Dan apa nalar Allah yang kita lihat di sini? Nalar bertanggung jawab terhadap orang lain. Nalar tidak mencuci tangan, nalar tidak melihat ke arah lain. Tidak. Nalar bertanggung jawab terhadap orang lain. “Biarlah mereka berjuang sendiri” seharusnya tidak masuk ke dalam kosakata Kristiani.

 

Segera sesudahnya salah seorang dari Dua Belas Rasul berkata, secara realistis, “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan", Yesus menjawab, “Bawalah ke mari kepada-Ku” (ayat 17-18). Ia mengambil makanan tersebut, menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan. Dan roti dan ikan itu tidak habis; cukup, dan banyak yang tersisa untuk ribuan orang.

 

Dengan tindakan ini, Yesus menunjukkan kuasa-Nya; bukan dengan cara yang spektakuler tetapi sebagai tanda amal, tanda kemurahan hati Allah Bapa terhadap anak-anak-Nya yang letih dan membutuhkan. Ia terbenam dalam kehidupan bangsa-Nya, Ia memahami kelelahan dan keterbatasan mereka, tetapi Ia tidak membiarkan siapa pun hilang, atau terpuruk: Ia memelihara mereka dengan sabda-Nya dan menyediakan makanan yang berlimpah sebagai santapan.

 

Dalam Bacaan Injil ini kita dapat melihat suatu rujukan kepada Ekaristi, khususnya dalam uraian tentang berkat, pemecahan roti, pemberian kepada para murid, dan penyaluran kepada orang-orang (ayat 19). Patut dicatat betapa dekatnya kaitan antara roti Ekaristi, santapan untuk kehidupan kekal dan roti harian, yang diperlukan untuk kehidupan duniawi. Sebelum mempersembahkan diri kepada Bapa sebagai Roti keselamatan, Yesus memastikan bahwa ada makanan bagi mereka yang mengikuti-Nya dan yang, ingin bersama-Nya, lupa membawa bekal. Kadang-kadang spiritual dan material bertentangan, tetapi pada kenyataannya spiritualisme, seperti materialisme, asing bagi Kitab Suci. Spiritualisme bukan bahasa biblis.

 

Belas kasih dan kelembutan yang ditunjukkan Yesus kepada orang banyak bukanlah sentimentalitas, melainkan perwujudan nyata dari kasih yang peduli akan kebutuhan orang-orang. Dan kita dipanggil untuk mendekati meja Ekaristi dengan sikap yang sama dengan Yesus : berbelas kasih terhadap kebutuhan orang lain, kata ini yang diulangi dalam Injil ketika Yesus melihat sebuah permasalahan, sebuah penyakit atau orang-orang tanpa makanan ini ... “Ia berbelas kasih”. "Ia memiliki belas kasih". Belas kasih bukanlah perasaan material semata; belas kasih sejati adalah kesabaran [untuk menderita bersama], mengambil kesedihan orang lain atas diri kita sendiri. Hari ini, mungkin baik bagi kita untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah aku merasa kasihan ketika aku membaca berita tentang peperangan, kelaparan, pandemi? Begitu banyak hal ... Apakah aku merasakan belas kasih terhadap orang-orang itu? Apakah aku merasakan belas kasih terhadap orang-orang yang dekat denganku? Apakah aku sanggup menderita bersama mereka, atau apakah aku melihat ke arah lain, atau "mereka bisa berjuang sendiri"? Janganlah kita melupakan kata "belas kasih" ini, yang percaya pada kasih Bapa yang tak terbatas, dan berarti berani berbagi.

 

Semoga Santa Maria membantu kita menempuh jalan yang ditunjukkan Tuhan dalam Bacaan Injil hari ini. Perjalanan persaudaraan, yang sangat penting untuk menghadapi kemiskinan dan penderitaan dunia ini, terutama di saat yang tragis ini, dan yang memproyeksikan kita melampaui dunia itu sendiri, karena itu adalah perjalanan yang dimulai dengan Allah dan kembali kepada Allah.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari yang terkasih,

 

Saya sedang memikirkan rakyat Nikaragua yang sedang menderita oleh karena serangan di Katedral Managua, di mana gambar Kristus yang sangat dihormati, yang telah menyertai dan menopang kehidupan umat beriman selama berabad-abad, rusak parah - hampir hancur. Saudara-saudari yang terkasih di Nikaragua, saya dekat dengan kalian dan sedang mendoakan kalian.

 

"Pengampunan Asisi" dimulai kemarin dan berlanjut hingga tengah malam hari ini, karunia rohani yang diperoleh Santo Fransiskus dari Allah melalui perantaraan Perawan Maria. Indulgensi penuh dapat diterima dengan ambil bagian dalam Sakramen Rekonsiliasi dan Ekaristi serta mengunjungi sebuah paroki atau gereja Fransiskan, mendaraskan Syahadat, doa Tuhan dan mendoakan Paus dan ujud-ujudnya.

 

Indulgensi juga dapat diperoleh untuk orang yang sudah meninggal. Betapa pentingnya untuk selalu menempatkan pengampunan Allah, yang 'membangkitkan surga' di dalam diri kita dan di sekitar diri kita, kembali di pusat, pengampunan yang berasal dari hati Allah yang penuh belas kasih ini!

 

Saya menyapa dengan penuh kasih sayang kalian semua yang hadir di sini hari ini, kalian semua dari Roma - berapa banyak - dan para peziarah : saya melihat orang-orang Alpine dari Palosco di sana, saya menyapa mereka! Dan ada banyak orang Brasil di sana dengan bendera mereka. Saya menyapa semua orang, mereka yang berdevosi kepada Maria yang dikandung tanpa noda yang selalu hadir.

 

Dan, saya memperluas pemikiran kepada semua orang yang terhubung dengan kita, saya berharap agar selama masa ini banyak orang akan dapat beristirahat selama beberapa hari dan berhubungan dengan alam, di mana dimensi spiritual juga dapat diisi ulang. Pada saat yang sama saya berharap agar, dengan komitmen yang bertemu di titik tertentu dari semua pemimpin politik dan ekonomi, pekerjaan dapat dilanjutkan: keluarga dan masyarakat tidak dapat melanjutkan tanpa kerja. Marilah kita mendoakan hal ini. Ini adalah dan akan menjadi masalah setelah pandemi : kemiskinan dan kurangnya pekerjaan. Banyak kesetiakawan dan daya cipta akan dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah ini.

 

Kepada kalian semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat makan siang, dan sampai jumpa!