Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 9 Desember 2020 : KATEKESE TENTANG DOA (BAGIAN 18)


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Marilah kita lanjutkan pembahasan kita tentang doa. Doa Kristiani sepenuhnya manusiawi - kita berdoa sebagai manusia, sebagaimana kita adanya - doa Kristiani mengandung pujian dan permohonan. Memang, ketika Yesus mengajarkan murid-murid-Nya berdoa, Ia melakukannya dengan doa "Bapa Kami", sehingga kita dapat menempatkan diri dalam hubungan kepercayaan bakti dengan Allah, dan mengajukan seluruh permasalahan kita kepada-Nya. Kepada Allah, kita memanjatkan karunia teratas : pengudusan nama-Nya di antara manusia, kedatangan kerajaan-Nya, perwujudan kehendak-Nya demi kebaikan dunia. Katekismus mengingatkan hal tersebut : “Untuk itu terdapat satu hierarki permohonan : pertama-tama kita memohon Kerajaan dan sesudah itu segala sesuatu yang kita butuhkan untuk menerimanya dan untuk turut bekerja demi kedatangannya” (no. 2632). Tetapi dalam doa "Bapa Kami", kita juga mendoakan karunia yang paling sederhana, karunia sehari-hari yang paling penting, seperti "roti harian" - yang juga berarti kesehatan, rumah, pekerjaan, hal-hal sehari-hari; dan juga berarti Ekaristi, yang diperlukan untuk hidup di dalam Kristus; dan kita juga mendoakan pengampunan dosa - yang merupakan masalah sehari-hari; kita senantiasa membutuhkan pengampunan - dan oleh karena itu kedamaian dalam hubungan kita; dan akhirnya, agar Ia membantu kita menghadapi pencobaan dan membebaskan kita dari yang jahat.

 

Memohon, memanjatkan doa. Ini sangat manusiawi. Marilah kita kembali mendengarkan Katekismus : “Dalam doa permohonan terungkap kesadaran akan hubungan kita dengan Allah. Kita adalah makhluk, dan karena itu, bukan asal-usul kita sendiri, bukan tuan atas keberadaan kita, dan juga bukan tujuan kita yang terakhir. Sebagai orang berdosa, kita orang Kristen pun tahu bahwa kita selalu saja memalingkan diri dari Bapa kita. Permohonan itu sendiri sudah merupakan langkah berbalik kepada Allah” (no. 2629).

 

Jika seseorang merasa jahat karena ia telah melakukan hal-hal yang jahat - ia adalah orang berdosa - ketika ia mendaraskan doa "Bapa Kami", ia sudah mendekati Allah. Kadang-kadang kita bisa meyakini bahwa kita tidak membutuhkan apa pun, bahwa diri kita memadai, dan kita hidup sepenuhnya dalam kecukupan diri. Hal ini kadang-kadang terjadi! Tetapi cepat atau lambat khayalan ini lenyap. Manusia adalah doa permohonan, yang kadang-kadang menjadi seruan, sering tertahan. Jiwa menyerupai tanah yang kering dan tandus, seperti dikatakan pemazmur (lihat Mzm 63:2). Kita semua mengalami, pada suatu saat atau saat lainnya dalam keberadaan kita, saat melankolis, kesendirian. Alkitab tidak malu menunjukkan keadaan manusiawi kita, yang ditandai oleh penyakit, ketidakadilan, pengkhianatan sahabat, atau ancaman musuh. Kadang-kadang segala sesuatu tampaknya runtuh, kehidupan yang dijalani sejauh ini sia-sia. Dan dalam situasi ini, ketika segala sesuatu tampaknya berantakan, hanya ada satu jalan keluar : seruan, doa “Tuhan, tolonglah aku!”. Doa dapat membuka secercah cahaya dalam kegelapan yang paling kelam. “Tuhan, tolonglah aku!”. Hal ini membuka : doa membuka jalan, doa membuka jalan kecil.

 

Kita umat manusia ambil bagian memohonkan pertolongan ini bersama makhluk lainnya. Kita bukan satu-satunya makhluk yang "berdoa" di dalam alam semesta yang tanpa batas ini : pelbagai makhluk menyandang keinginan akan Allah. Dan Santo Paulus sendiri mengungkapkannya dengan cara ini. Ia berkata : “Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita" (Rm 8: 22-23). Ini bagus. Di dalam diri kita bergema seruan beraneka ragam makhluk : pepohonan, bebatuan, binatang. Semuanya merindukan penggenapan. Tertulianus menulis, ”Setiap makhluk berdoa; ternak dan binatang buas berdoa dan berlutut; dan ketika mereka keluar dari lapisan dan sarang, mereka menengadah ke langit tanpa mulut kosong, membuat nafas mereka bergetar menurut cara mereka sendiri. Bahkan, burung-burung juga, keluar dari sarang, mengangkat diri mereka ke surga, dan bukannya tangan, melebarkan sayap mereka, dan agak tampak seperti berdoa” (De oratione, XXIX). Ini adalah ungkapan puitis yang mengomentari apa yang dikatakan Santo Paulus : "segala makhluk sama-sama mengeluh". Tetapi kita adalah satu-satunya makhluk yang berdoa secara sadar, memahami bahwa kita berbicara kepada Bapa, dan berdialog dengan Bapa.

 

Oleh karena itu, kita seharusnya tidak perlu kaget jika merasa perlu untuk berdoa, jangan malu. Dan, terutama saat kita membutuhkan, memohonlah. Yesus, berbicara tentang bendahara yang tidak jujur, yang harus memberi pertanggungjawaban kepada majikannya, mengatakan hal ini : “Mengemis aku malu”. Dan banyak dari kita memiliki perasaan ini : kita malu untuk meminta, meminta bantuan, juga meminta sesuatu dari seseorang yang dapat membantu kita, untuk mencapai tujuan kita, dan kita juga malu untuk meminta kepada Allah. “Tidak, hal ini tidak bisa dilakukan”. Jangan malu untuk berdoa. “Tuhan, aku membutuhkan ini”, “Tuhan, aku berada dalam kesulitan”, “Tolonglah aku!” : Seruan, seruan hati kepada Allah yang adalah Bapa. Dan juga melakukannya di saat-saat bahagia, tidak hanya di saat-saat buruk, tetapi juga di saat-saat bahagia, bersyukur kepada Allah atas segala sesuatu yang diberikan kepada kita, dan tidak menerima begitu saja atau seolah-olah piutang kita : semuanya rahmat. Kita harus mempelajari hal ini. Allah senantiasa memberi kita, senantiasa, dan segalanya rahmat, segalanya. Rahmat Allah. Namun, kita tidak boleh secara spontan mencekik permohonan yang muncul dalam diri kita. Doa permohonan sejalan dengan penerimaan keterbatasan kita dan kodrat kita sebagai makhluk. Kita bahkan mungkin tidak mencapai titik kepercayaan kepada Allah, tetapi sulit untuk tidak percaya pada doa : doa ada begitu saja, doa menampilkan dirinya kepada kita sebagai seruan; dan kita semua mengenal suara hati ini yang mungkin tetap diam untuk waktu yang lama, tetapi suatu hari terbangun dan berseru.

 

Dan, saudara dan saudari, kita tahu bahwa Allah akan menanggapi. Tidak ada doa dalam Kitab Mazmur yang menimbulkan ratapan yang tetap tidak didengar. Allah senantiasa menjawab : mungkin hari ini, besok, tetapi Ia senantiasa menjawab, dengan satu atau lain cara. Ia senantiasa menjawab. Alkitab mengulanginya berkali-kali : Allah mendengarkan seruan orang-orang yang memanggil-Nya. Bahkan permasalahan enggan kita, yang tetap ada di lubuk hati kita, yang malu untuk kita ungkapkan : Bapa mendengarkan permasalahan tersebut dan kepada kita ingin memberikan Roh Kudus, yang mengilhami setiap doa dan mengubah segalanya. Saudara dan saudari, dalam doa senantiasa ada permasalahan kesabaran, senantiasa mendukung penantian. Sekarang kita berada dalam Masa Adven, masa yang berciri khas pengharapan; pengharapan akan Natal. Kita sedang menanti. Hal ini jelas terlihat. Tetapi seluruh hidup kita juga berada dalam penantian. Dan doa senantiasa berada dalam pengharapan, karena kita tahu bahwa Allah akan menjawabnya. Bahkan kematian menggigil ketakutan ketika seorang Kristiani berdoa, karena ia tahu bahwa setiap orang yang berdoa memiliki sekutu yang lebih kuat daripadanya : Tuhan yang bangkit. Kematian telah dikalahkan di dalam Kristus, dan harinya akan tiba ketika segalanya akan menjadi babak akhir, dan ia tidak akan lagi mencemooh hidup dan kebahagiaan kita.

 

Marilah kita belajar untuk tetap menanti; dalam pengharapan akan Tuhan. Tuhan datang mengunjungi kita, tidak hanya dalam pesta-pesta besar ini - Natal, Paskah - tetapi Tuhan mengunjungi kita setiap hari, dalam keintiman hati kita jika kita sedang menanti. Dan sangat sering kita tidak menyadari bahwa Tuhan berada di dekat kita, bahwa Ia mengetuk pintu kita, dan kita membiarkan-Nya lewat. “Aku takut akan Allah ketika Ia lewat”, Santo Agustinus biasa mengatakannya. “Aku takut Ia akan lewat dan aku tidak akan menyadarinya”. Dan Tuhan lewat, Tuhan datang, Tuhan mengetuk. Tetapi jika telingamu dipenuhi dengan suara lain, kamu tidak akan mendengar panggilan Tuhan.

 

Saudara dan saudari, tetaplah dalam penantian : inilah doa. Terima kasih.

 

[Sapaan Khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat berbahasa Inggris. Dalam perjalanan Adven kita, semoga terang Kristus menerangi jalan kita dan menyingkirkan seluruh kegelapan dan ketakutan dari hati kita. Atas kalian dan keluarga kalian, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Tuhan memberkati kalian!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, dalam rangkaian katekese kita tentang doa Kristiani, sekarang kita beralih ke doa permohonan. Katekismus menjelaskan bahwa dalam setiap doa kita memohonkan kedatangan Kerajaan Allah dalam hidup kita dan dalam dunia kita. Yesus mengajarkan kita untuk berdoa kepada Bapa surgawi kita, mengakui bahwa kita sepenuhnya tergantung kepada-Nya dan percaya sepenuhnya pada penyelenggaraan-Nya, bahkan pada saat-saat tergelap dalam hidup kita. Doa permohonan muncul secara alami dalam hati manusia. Dalam Alkitab kita melihat doa kepada Allah yang tak terhitung jumlahnya untuk campur tangan dalam ketidakberdayaan kita menghadapi situasi penyakit, ketidakadilan, pengkhianatan dan keputusasaan. Bahkan seruan sederhana, "Tuhan, tolonglah aku!" adalah doa yang kuat. Allah senantiasa mendengarkan seruan orang-orang yang memanggil-Nya. Santo Paulus memberitahu kita bahwa doa kita menggemakan kerinduan semua makhluk akan kedatangan Kerajaan (bdk. Rm 8:22-24) dan penggenapan rencana penyelamatan Allah. Kita memanjatkan doa permohonan dengan keyakinan kepada Dia yang telah menang atas semua kejahatan melalui salib dan kebangkitan Putra-Nya serta pengutusan Roh Kudus, yang menjadi perantara atas nama kita dan diam-diam bekerja untuk mengubah rupa segala sesuatu.

_____


*(Peter Suriadi - Bogor, 9 Desember 2020)*

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 8 Desember 2020 : TENTANG HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIKANDUNG TANPA NODA


Saudara-saudari yang terkasih, selamat siang!

 

Pesta liturgi hari ini merayakan salah satu keajaiban kisah keselamatan : Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Meskipun ia diselamatkan oleh Kristus, tetapi dengan cara yang luar biasa, karena Allah menghendaki bunda Putra-Nya tidak terjamah kesengsaraan dosa sejak ia dikandung. Jadi, sepanjang hidupnya di dunia, Maria bebas dari noda dosa, ia adalah "sang penuh rahmat" (Luk 1:28), sebagaimana malaikat memanggilnya. Ia diistimewakan oleh tindakan tunggal Roh Kudus agar senantiasa tetap dalam hubungan yang sempurna dengan Putranya, Yesus. Malahan, ia adalah murid Yesus : bunda dan murid-Nya. Tetapi tidak ada dosa dalam dirinya.

 

Dalam madah yang sangat indah yang membuka surat kepada jemaat Efesus (lihat 1:3-6,11-12), Santo Paulus membuat kita memahami bahwa setiap manusia diciptakan oleh Allah untuk kepenuhan kekudusan, untuk keindahan yang dikenakan Bunda Maria sejak awal. Tujuan panggilan kita tersebut juga merupakan rahmat Allah bagi kita, yang karenanya, Rasul Paulus mengatakan bahwa Ia “telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya” (ayat 4); Ia menentukan kita (lihat ayat 5), di dalam Kristus untuk benar-benar bebas dari dosa suatu hari nanti. Dan ini adalah rahmat, bersifat cuma-cuma, karunia Allah.

 

Dan apa yang dimiliki Maria sejak awal, akan kita miliki pada akhirnya, setelah kita melewati “bejana” rahmat Allah yang memurnikan. Rahmat Allah, yang kita terima dengan setia merupakan apa yang membukakan pintu surga bagi kita. Tetapi, bahkan orang-orang yang paling tidak berdosa sekalipun, ditandai oleh dosa asal dan berjuang dengan segenap kekuatan mereka untuk melawan akibatnya. Mereka melewati “pintu sempit” menuju kehidupan (lihat Luk 13:24). Dan tahukah kamu siapa orang pertama yang kita yakini masuk surga? Tahukah kamu siapa? Seorang "penyamun" : salah seorang dari dua penjahat yang disalibkan bersama Yesus. Dan ia berpaling kepada Yesus dan berkata : "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja". Dan Ia menjawab : “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk 23:42-43). Saudara dan saudari, rahmat Allah ditawarkan kepada semua orang; dan banyak orang yang paling hina di bumi ini akan menjadi orang pertama berada di surga (lihat Mrk 10:31).

 

Tetapi berhati-hatilah. Tidak ada gunanya pintar - terus-menerus menunda evaluasi yang sungguh-sungguh atas kehidupan kita, mengambil keuntungan dari kesabaran Tuhan. Ia sabar. Ia menanti kita, Ia senantiasa siap memberikan rahmat kepada kita. Kita mungkin bisa menipu orang-orang, tetapi tidak bisa menipu Allah; Ia mengetahui hati kita lebih baik daripada diri kita sendiri. Marilah kita memanfaatkan momen saat ini! Ya, inilah pemahaman umat Kristiani tentang menggapai hari. Tidak menikmati kehidupan di setiap momen yang berlalu - tidak, ini adalah pemahaman duniawi. Tetapi menggapai hari ini, mengatakan "tidak" terhadap kejahatan dan "ya" terhadap Allah, membuka diri kita terhadap rahmat-Nya, mulai dari sekarang dan seterusnya berhenti memikirkan diri kita sendiri, menyeret diri kita ke dalam kemunafikan dan menghadapi kenyataan kita apa adanya - inilah kita apa adanya - menyadari bahwa kita belum mengasihi Allah dan sesama sebagaimana seharusnya. Dan mengakuinya, inilah awal perjalanan pertobatan, pertama-tama memohon pengampunan Tuhan dalam Sakramen Rekonsiliasi, dan kemudian memulihkan kecemaran yang terjadi pada sesama. Tetapi senantiasa terbuka terhadap rahmat : Tuhan mengetuk pintu kita, Ia mengetuk hati kita untuk masuk ke dalam persahabatan dengan kita, dalam persekutuan, memberikan keselamatan kepada kita.

 

Dan bagi kita, ini adalah jalan untuk menjadi "kudus dan tak bercela". Keindahan Bunda kita yang tidak bernoda tiada taranya, tetapi pada saat yang sama menarik kita. Marilah kita memercayakan diri kita kepada Maria dan mengatakan "tidak" terhadap dosa dan "ya" terhadap rahmat sekarang juga dan selamanya.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saya menyapa kalian semua, umat Roma, dan para peziarah dari berbagai negara, serta saya menyapa kelompok “Imakulata”, hari ini, pada Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda : mereka luar biasa, mereka senantiasa berada di sini!

 

Hari ini, anggota Aksi Katolik Italia memperbarui komitmen mereka terhadap Lembaga. Saya menyampaikan salam kepada kalian dan mengharapkan yang terbaik untuk kalian. Saya juga berdoa agar Kristus terbentuk di dalam diri kalian, seperti yang ditulis Santo Paulus, dan agar kalian menjadi para pengrajin persaudaraan.

 

Saya menyapa perwakilan kota Rocca di Papa yang hari ini, menurut tradisi, akan menyalakan bintang Natal di benteng kota. Semoga terang Kristus senantiasa menerangi komunitas kalian.

 

Seperti yang kalian ketahui, sore ini penghormatan tradisional terhadap Yang Dikandung Tanpa Noda di Piazza di Spagna tidak akan berlangsung, untuk menghindari resiko berkumpulnya massa, seperti yang ditetapkan oleh otoritas sipil, yang perlu kita patuhi. Tetapi hal ini tidak menghalangi kita untuk mempersembahkan kepada Bunda kita bunga yang paling disukainya : doa, penebusan dosa, hati yang terbuka terhadap rahmat.

 

Meskipun demikian, pagi-pagi sekali, saya secara pribadi pergi ke Piazza di Spagna dan kemudian ke [Basilika] Santa Maria Magiore untuk merayakan Misa.

 

Saya mengucapkan Selamat Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda kepada semuanya. Dan, tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang, dan sampai jumpu!

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Desember 2020)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 6 Desember 2020 : ADVEN ADALAH PERJALANAN PERTOBATAN


Saudara dan saudari terkasih,

 

Selamat pagi!

 

Bacaan Injil hari Minggu ini (Mrk 1:1-8) memperkenalkan pribadi dan karya Yohanes Pembaptis. Ia mengungkapkan kepada orang-orang sezamannya sebuah rencana perjalanan iman yang mirip dengan yang diusulkan Masa Adven kepada kita : perjalanan kita mempersiapkan diri untuk menerima Tuhan pada hari Natal. Rencana perjalanan iman ini adalah rencana perjalanan pertobatan. Apa arti kata 'pertobatan'? Dalam Alkitab pertobatan berarti, pertama-tama dan terutama, mengubah arah dan orientasi; dan dengan demikian juga mengubah cara berpikir kita. Dalam kehidupan moral dan spiritual, bertobat berarti mengubah diri kita dari kejahatan menjadi kebaikan, dari dosa menjadi cinta kepada Allah. Dan inilah apa yang sedang diajarkan Yohanes Pembaptis, yang di gurun Yudea “memberitakan baptisan pertobatan untuk pengampunan dosa” (ayat 4). Menerima baptisan adalah tanda lahiriah dan kasat mata dari pertobatan orang-orang yang telah mendengarkan khotbahnya dan memutuskan untuk melakukan penebusan dosa. Baptisan yang terjadi dengan penenggelaman di sungai Yordan, di dalam air, terbukti tak berarti; baptisan tersebut hanya sebuah tanda dan tidak ada artinya jika tidak ada kemauan untuk melakukan penebusan  dosa dan mengubah hidup kita.

 

Pertobatan melibatkan kesedihan atas dosa yang dilakukan, keinginan untuk bebas daripadanya, niat untuk menyingkirkannya dari kehidupan kita selamanya. Untuk menyingkirkan dosa, menolak segala sesuatu yang berhubungan dengan dosa penting juga; mentalitas duniawi, penghargaan yang berlebihan untuk kenyamanan, penghargaan yang berlebihan untuk kesenangan, untuk kesejahteraan, untuk kekayaan adalah hal-hal yang berhubungan dengan dosa dan perlu ditolak. Contoh yang menggambarkan hal ini datang kepada kita sekali lagi dari Injil hari ini dalam pribadi Yohanes Pembaptis : seorang laki-laki yang sederhana yang menyangkal hal yang berlebihan dan mengusahakan yang pokok. Ini adalah aspek pertama dari pertobatan : ketidakterikatan terhadap dosa dan keduniawian : Memulai sebuah perjalanan ketidakterikatan terhadap hal-hal ini.

 

Aspek lain dari pertobatan adalah tujuan perjalanan tersebut, yaitu mencari Allah dan kerajaan-Nya. Ketidakterikatan terhadap hal-hal duniawi serta mencari Allah dan kerajaan-Nya. Meninggalkan kenyamanan dan mentalitas duniawi bukanlah tujuan itu sendiri; melakukan penebusan dosa bukanlah asketis : seorang Kristiani bukanlah seorang "pelaku asketis". Asketis adalah sesuatu yang lain. Ketidakterikatan bukanlah tujuan itu sendiri tetapi merupakan sarana untuk mencapai sesuatu yang lebih besar, yaitu kerajaan Allah, persekutuan dengan Allah, persahabatan dengan Allah. Tetapi ini tidak mudah, karena ada banyak ikatan yang mengikat erat kita dengan dosa; tidak mudah ... Godaan selalu meruntuhkan, meruntuhkan, dan dengan demikian ikatan tersebut membuat kita tetap dekat dengan dosa : ketidakteguhan, keputusasaan, kedengkian, lingkungan yang tidak baik, contoh yang buruk. Kadang-kadang kerinduan yang kita rasakan terhadap Tuhan terlalu lemah dan sepertinya Allah diam saja; janji penghiburan-Nya tampak jauh dan tidak nyata bagi kita, seperti gambaran gembala yang penuh perhatian dan peduli, yang bergema hari ini dalam Bacaan dari kitab nabi Yesaya (40:1,11). Maka kita tergoda untuk mengatakan bahwa tidak mungkin untuk benar-benar bertobat. Betapa sering kita mendengar keputusasaan ini! “Tidak, aku tidak bisa melakukannya. Aku baru saja mulai, dan kemudian aku kembali”. Dan hal ini buruk. Tetapi itu mungkin. Itu mungkin. Ketika kamu memiliki pikiran yang mengecewakan ini, jangan tinggal di sana, karena hal ini adalah pasir apung. Pasir apung : pasir apung keberadaan yang biasa-biasa saja. Ini adalah hal biasa-biasa saja. Apa yang dapat kita lakukan dalam kasus ini, ketika kita ingin pergi tetapi merasa tidak dapat melakukannya? Pertama-tama, ingatkan diri kita sendiri bahwa pertobatan adalah rahmat : tidak ada yang bisa bertobat dengan kekuatannya sendiri. Pertobatan adalah rahmat yang diberikan Allah kepadamu, dan oleh karena itu kita perlu memohonkannya dengan paksa. Memohon kepada Allah untuk mengubah kita hingga tingkatan di mana kita membuka diri terhadap keindahan, kebaikan, kelembutan Allah. Pikirkan tentang kelembutan Allah. Allah bukanlah Bapa yang jahat, Bapa yang tidak baik, tidak. Ia lembut. Ia sangat mengasihi kita, seperti Gembala yang baik, yang mencari domba terakhir dari kawanan domba-Nya. Demikianlah kasih, dan ini adalah pertobatan : rahmat Allah. Kamu mulai berjalan, karena Dialah yang menggerakkanmu untuk berjalan, dan kamu akan melihat bagaimana Ia akan sampai. Berdoa, berjalan, dan kamu akan selalu maju selangkah.

 

Semoga Santa Maria, yang akan kita rayakan lusa sebagai Yang Dikandung Tanpa Noda, membantu kita untuk semakin memisahkan diri kita dari dosa dan keduniawian, guna membuka diri kita terhadap Allah, terhadap Sabda-Nya, terhadap kasih-Nya yang memulihkan dan menyelamatkan.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, saya dengan sepenuh hati menyapa kalian semua yang hadir di sini - dengan cuaca buruk ini, kalian pemberani - umat Roma dan para peziarah, serta mereka yang terhubung melalui media.

 

Seperti yang kalian lihat, di Lapangan [Santo Petrus] pohon Natal telah dipancangkan dan Kandang Natal sedang didirikan. Pada hari-hari ini, juga di banyak rumah, kedua tanda Natal ini sedang dipersiapkan, untuk menyenangkan anak-anak … dan juga orang dewasa! Keduanya adalah tanda-tanda harapan, terutama di masa sulit ini. Marilah kita memastikan bahwa kita tidak berhenti pada tanda itu, tetapi memahami maknanya, yaitu, menuju Yesus, menuju kasih Allah yang dinyatakan-Nya kepada kita; merengkuh kebaikan yang tak terbatas yang Ia jadikan bersinar di dunia. Tidak ada pandemi, tidak ada krisis yang bisa memadamkan cahaya ini. Marilah kita memperkenankannya masuk ke dalam hati kita, dan marilah kita mengulurkan tangan kepada mereka yang paling membutuhkan. Dengan cara ini, Allah akan lahir baru di dalam diri kita dan di antara kita.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 2 Desember 2020 : KATEKESE TENTANG DOA (BAGIAN 17)


Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini kita akan berkaca pada dimensi pokok doa : berkat. Kita melanjutkan berkaca tentang doa. Dalam kisah penciptaan (lihat Kej 1-2), Allah terus menerus memberkati kehidupan, senantiasa. Ia memberkati binatang (1:22), Ia memberkati laki-laki dan perempuan (1:28), akhirnya, Ia memberkati hari Sabat, hari istirahat dan kenikmatan seluruh ciptaan (2:3). Allahlah yang memberkati. Dalam perikop-perikop awal Alkitab, ada pengulangan berkat yang terus-menerus. Allah memberkati, tetapi manusia juga memuja, dan segera mereka menemukan bahwa berkat memiliki kekuatan khusus yang menyertai orang-orang yang menerimanya sepanjang hidupnya, serta mengelola hati orang-orang tersebut untuk memperkenankan Allah mengubahnya (lihat Konstitusi Konsili Vatikan II Sacrosanctum Concilium, 61).

 

Oleh karena itu, pada awal dunia, ada seorang Allah yang "berbicara dengan baik"[1], yang memberkati. Ia melihat bahwa setiap pekerjaan tangan-Nya adalah baik dan indah, serta ketika Ia menciptakan manusia, dan penciptaan selesai, Ia menyadari bahwa Ia “sungguh amat baik” (Kej 1:31). Tak lama kemudian, keindahan yang telah dikesankan Allah dalam karya-Nya akan berubah, dan manusia akan menjadi makhluk yang merosot, sudi menyebarkan kejahatan dan kematian ke dunia; tetapi tidak ada yang dapat menghilangkan kesan asli kebaikan Allah yang Ia tempatkan di dunia, dalam kodrat manusia, di dalam diri kita semua : kemampuan memuja dan diberkati. Allah tidak membuat kesalahan dengan penciptaan maupun dengan penciptaan manusia. Harapan dunia sepenuhnya terletak pada berkat Allah : Ia terus menginginkan kebaikan kita[2], Ia adalah yang pertama, seperti kata penyair Péguy,[3] yang terus mengharapkan kebaikan kita.

 

Berkat terbesar Allah adalah Yesus Kristus; Putra-Nya adalah berkat Allah yang terbesar. Ia adalah berkat bagi seluruh umat manusia, Ia adalah berkat yang menyelamatkan kita semua. Ia adalah Sabda yang kekal yang dengannya Bapa memberkati kita "ketika kita masih berdosa" (Rm 5:8), Santo Paulus berkata : Sabda menjadi daging dan dipersembahkan bagi kita di kayu salib.

 

Dengan penuh perasaan, Santo Paulus menyatakan rencana kasih Allah. Dan ia mengatakannya seperti ini : "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya” (Ef 1:3-6). Tidak ada dosa yang dapat sepenuhnya menghapus rupa Kristus yang ada dalam diri kita masing-masing. Tidak ada dosa yang dapat menghapus rupa yang telah diberikan Allah kepada kita - rupa Kristus. Dosa dapat menodainya, tetapi tidak mengenyahkannya dari kerahiman Allah. Orang berdosa bisa tetap melakukan kesalahan untuk waktu yang lama, tetapi Allah sabar sampai akhir, mengharapkan hati orang berdosa itu pada akhirnya akan terbuka dan berubah. Allah laksana seorang bapa yang baik, Ia adalah Bapa, dan laksana seorang ibu yang baik, Ia juga ibu yang baik : keduanya tidak pernah berhenti mengasihi anak mereka, tidak peduli kesalahan apa yang dilakukannya, senantiasa. Apa yang terlintas di benak saya adalah seringnya saya melihat orang-orang mengantri untuk memasuki sebuah penjara, berapa banyak ibu yang mengantri untuk melihat anak mereka yang dipenjara. Mereka tidak berhenti mengasihi anak mereka dan mereka tahu bahwa orang-orang yang lewat di dalam bis sedang berpikir : “Ah, itu adalah ibu dari seorang narapidana …”. Mereka tidak malu sehubungan dengan hal ini. Ya, mereka malu tetapi mereka melanjutkan. Sama seperti anak mereka lebih penting daripada rasa malu mereka, maka kita lebih penting bagi Allah daripada semua dosa yang bisa kita lakukan. Karena Ia adalah seorang Bapa, Ia adalah seorang Ibu, Ia adalah kasih yang sesungguhnya, Ia telah memberkati kita selamanya. Dan Ia tidak akan pernah berhenti memberkati kita.

 

Sungguh sebuah pengalaman yang mengesankan membaca teks-teks biblis tentang berkat di dalam sebuah penjara, atau di dalam sebuah kelompok rehabilitasi. Agar orang-orang ini mendengar bahwa mereka masih diberkati, terlepas dari kesalahan besar mereka, bahwa Bapa surgawi terus menginginkan kebaikan mereka dan mengharapkan mereka pada akhirnya akan membuka diri terhadap kebaikan. Bahkan jika kerabat terdekat mereka telah meninggalkan mereka - banyak yang meninggalkan mereka, orang-orang tersebut tidak seperti para ibu itu yang menunggu dalam kehidupan untuk melihat mereka, mereka tidak penting, orang-orang tersebut meninggalkan mereka - orang-orang tersebut telah meninggalkan mereka karena orang-orang tersebut sekarang menilai mereka tidak dapat ditebus, bagi Allah mereka senantiasa anak-anak. Allah tidak dapat menghapus dalam diri kita rupa putra dan putri, kita masing-masing adalah putra-Nya, putri-Nya. Kadang-kadang kita melihat berbagai mukjizat terjadi : laki-laki dan perempuan yang terlahir kembali karena mereka menemukan berkat yang telah mengurapi mereka sebagai anak-anak ini. Karena rahmat Allah mengubah kehidupan : Ia menerima kita apa adanya, tetapi Ia tidak pernah meninggalkan kita apa adanya.

 

Marilah kita memikirkan apa yang dilakukan Yesus terhadap Zakheus (lihat Luk 19:1-10), misalnya. Semua orang melihat kejahatan dalam dirinya; sebaliknya, Yesus melihat secercah kebaikan, dan dari hal itu - dari keingintahuannya untuk melihat Yesus - Ia memperkenankan kerahiman yang menyelamatkan lewat. Jadi, pertama-tama hati Zakeus diubah, dan kemudian hidupnya. Yesus melihat berkat Bapa yang tak terhapuskan dalam diri orang-orang yang ditolak dan disangkal. Ia adalah orang berdosa di depan umum, ia telah melakukan begitu banyak hal yang mengerikan, tetapi Yesus melihat tanda yang tak terhapuskan dari berkat Bapa dan oleh karena itu, Ia memiliki rasa iba. Ungkapan yang sering diulang dalam Injil, “Ia tergerak oleh rasa iba”, dan rasa iba itu menuntun-Nya untuk menolong Zakheus dan mengubah hatinya. Terlebih lagi, Yesus datang untuk menyamakan diri-Nya dengan setiap orang yang membutuhkan (lihat Mat 25:31-46). Dalam perikop tentang penghakiman terakhir di mana kita semua akan diadili, Matius 25, Yesus berkata : “Aku ada di sana, ketika Aku lapar, ketika Aku telanjang, Aku di dalam penjara, ketika Aku di rumah sakit, Aku ada di sana”.

 

Kepada Allah yang memberkati, kita juga menanggapi dengan memuja - Allah telah mengajari kita bagaimana memuja dan kita harus memuja - melalui doa pujian, penyembahan, ucapan syukur. Katekismus menulis : “Doa yang memberkati adalah jawaban manusia atas anugerah-anugerah Allah. Karena Allah memberkati, maka hati manusia dapat memuja Dia yang adalah sumber segala berkat” (no. 2626). Doa adalah sukacita dan ucapan syukur. Allah tidak menunggu kita untuk mengubah diri sebelum mulai mengasihi kita, tetapi Ia mengasihi kita jauh sebelumnya, ketika kita masih berdosa.

 

Kita tidak hanya bisa memuja Allah yang memberkati kita ini; kita harus memberkati setiap orang di dalam Dia, semua orang, memuja Allah serta memberkati saudara dan saudari kita, memberkati dunia - dan ini adalah akar kelembutan Kristiani, kemampuan untuk merasa diberkati dan kemampuan untuk memuja. Jika kita semua melakukan hal ini, pasti tidak akan ada peperangan. Dunia ini membutuhkan berkat, serta kita dapat memuja dan menerima berkat. Bapa mengasihi kita. Satu-satunya hal yang tersisa bagi kita adalah sukacita memuja-Nya, dan sukacita bersyukur kepada-Nya, serta daripada-Nya belajar memberkati, bukan mengutuk. Di sini hanya satu kata untuk orang-orang yang memiliki kebiasaan mengutuk, orang-orang yang senantiasa memiliki kata-kata buruk, umpatan, di bibir dan di dalam hati mereka. Kita masing-masing dapat berpikir : Apakah aku memiliki kebiasaan mengutuk seperti ini? Dan mohonkanlah rahmat Tuhan untuk mengubah kebiasaan ini karena kita memiliki hati yang diberkati dan kutukan tidak bisa muncul dari hati yang telah diberkati. Semoga Tuhan mengajarkan kita jangan pernah mengutuk, tetapi memberkati.

 

[Sapaan Khusus]

 

Dengan hormat saya menyapa umat berbahasa Inggris. Dalam perjalanan Adven kita, semoga terang Kristus menerangi jalan kita serta mengenyahkan semua kegelapan dan ketakutan dari hati kita. Atas kalian dan keluarga kalian, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati kalian!

 

[SERUAN]

 

Saya ingin memastikan doa saya untuk Nigeria, di mana darah sekali lagi tertumpah dalam serangan teroris. Sabtu lalu, di timur laut negara itu, lebih dari seratus orang petani dibunuh secara tak berperikemanusiaan. Semoga Allah menyambut mereka dalam damai-Nya dan menghibur keluarga mereka, serta mengubah hati mereka yang melakukan kekejaman serupa yang sangat menghina nama-Nya.

 

Hari ini 40 tahun peringatan wafatnya empat misionaris Amerika Utara yang terbunuh di El Salvador : dua orang biarawati tarekat Maryknoll, Ita Ford dan Maura Clarke, seorang biarawati Ursulin, Dorthy Kazel serta seorang sukarelawan Jean Donovan. Pada tanggal 2 Desember 1980, mereka diculik, diperkosa dan dibunuh oleh kelompok paramiliter. Mereka sedang bertugas di El Salvador dalam rangka perang saudara. Dengan pengabdian injili, dan menjalankan resiko besar, mereka sedang membawa makanan dan obat-obatan untuk para pengungsi dan sedang membantu keluarga yang lebih miskin. Para perempuan ini menjalankan iman mereka dengan kemurahan hati yang besar. Mereka adalah teladan bagi setiap orang untuk menjadi murid-murid misioner yang setia.

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, dalam rangkaian katekese kita tentang doa Kristiani, sekarang kita membahas pentingnya berkat sebagai dimensi pokok doa. "Memberkati" secara harfiah berarti "mengucapkan sesuatu yang baik". Dalam menciptakan dan memelihara dunia, Allah mengucapkan kata yang baik; Ia “memberkati” ciptaan-Nya dan melihatnya “baik”. Allah tidak menahan berkat-Nya bahkan setelah kita berpaling dalam dosa, tetapi terus menginginkan kebaikan kita. Dalam sejarah keselamatan, berkat terbesar Allah adalah Yesus Kristus sendiri. Santo Paulus menasihati kita untuk memuja Allah, yang telah memberkati kita di dalam Kristus, dan menjadikan kita putra dan putri-Nya yang terkasih (bdk. Ef 1:3-6). Sebagai tanggapan atas berkat Allah, kita pada gilirannya memuja Dia, sumber dari segala kebaikan, melalui doa pujian, penyembahan, dan ucapan syukur kita. Seperti yang diajarkan Katekismus : “Doa yang memberkati adalah jawaban manusia atas anugerah-anugerah Allah” (No. 2626). Semoga kita senantiasa menemukan sukacita dalam memuja Bapa dengan rasa syukur atas kebaikan yang tak terbatas yang telah ditunjukkan-Nya kepada kita dalam memberikan Putra-Nya kepada kita.



[1]Catatan penerjemah : kata Italia untuk berkat adalah benedire: bene (baik), dire (berbicara), yang secara harfiah sesuai dengan kata benediction dalam bahasa Inggris.

[2]Catatan penerjemah : terjemahan literal dari ungkapan kata Italia volere bene : volere (keinginan atau kehendak), bene (baik); ungkapan ini sering digunakan dalam bahasa Italia untuk mengatakan "Aku mencintaimu".

[3]Serambi Misteri Kebajikan Kedua; edisi pertama, Le porche du mystère de la deuxième vertu, diterbitkan tahun 1911.