Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 10 Januari 2021 : TENTANG PESTA PEMBAPTISAN TUHAN


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini kita sedang merayakan Pembaptisan Tuhan. Beberapa hari yang lalu, kita memperkenankan Bayi Yesus dikunjungi oleh para Majus; hari ini kita mendapati-Nya sebagai orang dewasa di tepi Sungai Yordan. Liturgi telah membuat kita melompat sekitar 30 tahun, 30 tahun yang tentangnya kita ketahui satu hal : 30 tahun tersebut adalah tahun-tahun kehidupan yang tersembunyi, yang dihabiskan Yesus bersama keluarga-Nya - beberapa tahun, pertama, di Mesir, sebagai pendatang untuk melarikan diri dari penganiayaan Herodes, tahun-tahun lainnya di Nazaret, mempelajari keahlian Yusuf - bersama keluarga, mematuhi orang tua-Nya, belajar dan bekerja. Sungguh mengejutkan bahwa sebagian besar waktu-Nya di Bumi dihabiskan Tuhan dengan cara ini : menjalani kehidupan biasa, tanpa menonjolkan diri. Kita memikirkan bahwa, menurut keempat Injil, ada tiga tahun pemberitaan, mukjizat dan banyak hal. Tiga tahun. Dan tahun lainnya, seluruh tahun lainnya, hidup tersembunyi bersama keluarga-Nya. Sebuah pesan yang bagus untuk kita : mengungkapkan kebesaran kehidupan sehari-hari, pentingnya di mata Allah setiap isyarat dan momen kehidupan, bahkan yang paling sederhana, bahkan yang paling tersembunyi.

 

Setelah 30 tahun kehidupan yang tersembunyi ini, kehidupan Yesus di muka umum dimulai. Dan memang kehidupan tersebut dimulai dengan pembaptisan di Sungai Yordan. Tetapi Yesus adalah Allah; mengapa Yesus dibaptis? Baptisan Yohanes berupa ritus pertobatan; baptisan Yohanes adalah tanda kehendak seseorang untuk bertobat, menjadi lebih baik, memohon pengampunan atas dosa-dosanya. Yesus pasti tidak membutuhkannya. Sebenarnya, Yohanes Pembaptis mencoba mencegahnya, tetapi Yesus bersikeras. Mengapa? Karena Ia ingin bersama orang-orang berdosa : karena alasan ini Ia sejalan dengan mereka dan melakukan hal yang sama dengan mereka. Ia melakukannya dengan sikap rakyat, dengan sikap mereka [rakyat] yang, seperti yang dikatakan madah liturgi, mendekati “dengan jiwa telanjang dan kaki telanjang”. Jiwa telanjang, yaitu, tanpa penutup apa pun, seperti ini, orang berdosa. Ini adalah isyarat yang diperbuat Yesus, dan Ia turun ke sungai untuk menenggelamkan dirinya dalam kondisi yang sama seperti kita sekarang. Sesungguhnya, baptisan berarti “penenggelaman”. Dengan demikian, pada hari pertama pelayanan-Nya, Yesus menawarkan kepada kita "perwujudan terprogram"-Nya. Ia mengatakan kepada kita bahwa Ia tidak menyelamatkan kita dari tempat tinggi, dengan sebuah keputusan berdaulat atau tindakan paksa, sebuah dekrit, tidak : Ia menyelamatkan kita dengan datang menemui kita dan menanggung dosa kita atas diri-Nya. Beginilah cara Allah mengalahkan kejahatan duniawi : dengan merendahkan diri, mengambil alih kejahatan tersebut. Cara Allah tersebut juga merupakan cara kita untuk bisa mengangkat orang lain : bukan dengan menghakimi, bukan dengan menyarankan apa yang harus diperbuat, tetapi dengan menjadi sesama, berempati, berbagi kasih Allah. Kedekatan adalah sarana Allah bersama kita; Ia sendiri berkata demikian kepada Musa : 'Pikirkan : bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat sebagaimana Tuhan yang kamu miliki'. Kedekatan adalah sarana Allah bersama kita.

 

Setelah tindakan belas kasihan Yesus ini, hal luar biasa lainnya terjadi : langit terkoyak dan Tritunggal akhirnya terungkap. Roh Kudus turun dari surga seperti burung merpati (Mrk 1:10) dan Bapa berkata kepada Yesus : “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (ayat 11). Allah mewujudkan diri-Nya saat belas kasihan muncul. Jangan melupakan hal ini : Allah mewujudkan diri-Nya ketika belas kasihan muncul, karena itulah wajah-Nya. Yesus menjadi hamba orang-orang berdosa dan diberitakan sebagai Anak; Ia merendahkan diri-Nya atas diri kita dan Roh turun atas diri-Nya. Kasih memanggil kasih. Hal tersebut juga berlaku bagi diri kita : dalam setiap tindakan pelayanan, dalam setiap karya belas kasihan yang kita perbuat, Allah mewujudkan diri-Nya; Allah mengarahkan pandangan-Nya ke dunia. Hal tersebut berlaku untuk diri kita.

 

Tetapi, bahkan sebelum kita melakukan sesuatu, hidup kita ditandai oleh belas kasihan dan belas kasihan itu diletakkan atas diri kita. Kita telah diselamatkan dengan cuma-cuma. Keselamatan itu cuma-cuma. Keselamatan adalah isyarat belas kasihan Allah yang diberikan secara cuma-cuma kepada kita. Secara sakramental hal ini dilakukan pada hari pembaptisan kita; tetapi bahkan mereka yang tidak dibaptis selalu menerima belas kasihan Allah, karena Allah berada di sana, menantikan mereka membuka pintu hati. Ia mendekat, perkenankan saya mengatakannya, Ia membelai kita dengan belas kasihan-Nya.

 

Semoga Bunda Maria, yang kepadanya sekarang kita berdoa, membantu kita untuk menghargai jatidiri pembaptisan kita, yaitu jatidiri menjadi 'berbelas kasihan', yang terletak di dasar iman dan kehidupan.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari yang terkasih, saya mengucapkan salam penuh kasih kepada rakyat Amerika Serikat, yang terguncang oleh pengepungan pada Kongres baru-baru ini. Saya mendoakan mereka yang kehilangan nyawa - lima orang - mereka kehilangan nyawa di saat-saat dramatis itu. Saya menegaskan bahwa kekerasan selalu merusak diri sendiri. Tidak ada yang diperoleh dengan kekerasan dan begitu banyak yang raib. Saya mendesak otoritas pemerintah dan seluruh penduduk untuk memelihara rasa tanggung jawab yang mendalam, menenangkan jiwa-jiwa, mengembangkan rekonsiliasi nasional dan melindungi nilai-nilai demokrasi yang berakar dalam masyarakat Amerika. Semoga Sang Perawan Tak Bernoda, Pelindung Amerika Serikat, membantu menghidupkan budaya perjumpaan, budaya kepedulian, sebagai jalan rajawi untuk membangun kebaikan bersama; dan saya melakukannya dengan semua orang yang tinggal di negeri itu.

 

Dan sekarang saya sampaikan salam yang tulus untuk kalian semua, yang terhubung melalui media. Seperti kalian ketahui, karena pandemi, hari ini saya tidak bisa merayakan pembaptisan di Kapel Sistina, seturut kebiasaan. Bagaimanapun juga, dalam kasus apapun, saya ingin memastikan doa saya untuk anak-anak yang telah mendaftar dan para orangtua, para wali baptis mereka; dan saya menyampaikannya pula kepada semua anak yang dalam rentang waktu ini menerima pembaptisan, menerima jatidiri kristiani, menerima rahmat pengampunan, rahmat penebusan. Semoga Tuhan memberkati semuanya!

 

Dan besok, saudara-saudari yang terkasih, dengan berakhirnya Masa Natal, bersama liturgi kita akan melanjutkan perjalanan Masa Biasa. Janganlah kita lelah memohon terang dan kekuatan Roh Kudus, agar Ia sudi membantu kita mengalami hal-hal biasa dengan kasih dan oleh karenanya menjadikannya luar biasa. Kasih itulah yang mengubah : hal-hal biasa tampak terus menjadi biasa, tetapi ketika dilakukan dengan kasih, hal itu menjadi luar biasa. Jika kita tetap terbuka, patuh, kepada Roh, Ia mengilhami pikiran dan tindakan kita sehari-hari.

 

Kepada kalian semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang. Sampai jumpa!

____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 10 Januari 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 6 Januari 2021 : HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini, kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan, yaitu pengejawantahan Tuhan kepada semua orang : pada kenyataannya, keselamatan yang dilakukan oleh Kristus tidak mengenal batas. Keselamatan adalah untuk semua orang. Penampakan Tuhan bukanlah misteri tambahan, penampakan Tuhan selalu merupakan misteri yang sama dengan Kelahiran Yesus, namun dilihat dari lingkup terang, terang yang menerangi setiap manusia, terang yang harus diterima dalam iman dan terang yang harus dibawa kepada orang lain dalam amal kasih, melalui kesaksian, dalam pewartaan Injil.

 

Penglihatan nabi Yesaya, yang dilaporkan dalam Liturgi hari ini (lihat 60:1-6), bergema di zaman kita dan lebih tepat waktu dari sebelumnya : "kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa" (ayat 2), teks dari kitab nabi Yesaya mengatakan. Dengan latar belakang itu, nabi Yesaya memberitakan terang itu : terang yang diberikan Allah kepada Yerusalem dan ditakdirkan untuk menerangi jalan seluruh bangsa. Terang ini memiliki kekuatan untuk menarik semua orang, dekat dan jauh, setiap orang berangkat di jalan untuk mencapainya (ayat 3). Terang itu adalah sebuah penglihatan yang membuka hati, yang membuat napas menjadi lebih mudah, yang mengundang harapan. Pastinya, kegelapan hadir dan mengancam dalam kehidupan setiap orang dan dalam kisah umat manusia; tetapi terang Allah lebih kuat. Terang Allah perlu disambut agar bisa bersinar pada semua orang. Tetapi, kita bisa menjauhkan terang ini dari diri kita. Tetapi kita bisa bertanya pada diri sendiri : "Di manakah terang ini?" Nabi Yesaya melihatnya sekilas dari jauh, tetapi itu sudah cukup untuk memenuhi hati Yerusalem dengan sukacita yang tak tertahankan. Di manakah terang itu?

 

Penginjil Matius, pada gilirannya, menceritakan kisah para Majus (lihat 2:1-12), menunjukkan bahwa terang ini adalah Sang Bayi Betlehem, terang ini adalah Yesus, bahkan jika kerajawian-Nya tidak diterima oleh semua orang. Bahkan ada yang menolak-Nya, seperti Raja Herodes. Ia adalah bintang yang muncul di cakrawala, Sang Mesias yang dinantikan, yang melalui Dia Allah akan meresmikan kerajaan kasih-Nya, kerajaan keadilan dan perdamaian-Nya. Ia lahir tidak hanya untuk beberapa orang, tetapi untuk semua pria dan wanita, untuk semua orang. Terang untuk semua orang, keselamatan untuk semua orang.

 

Dan bagaimana "radiasi" ini datang? Bagaimana terang Kristus bersinar di setiap tempat dan di setiap saat? Terang Kristus memiliki metode pengembangannya sendiri. Terang Kristus tidak dilakukan melalui sarana-sarana kekuasaan dari kerajaan dunia ini yang selalu berusaha untuk merebut kekuasaan. Tidak, terang Kristus menyebar melalui pemberitaan Injil. Melalui pemberitaan … dengan perkataan dan kesaksian. Dan dengan "metode" yang sama ini, Allah memilih untuk datang di antara kita : Penjelmaan, yaitu dengan saling mendekat, berjumpa orang lain, menerima kenyataan orang lain dan membawa kesaksian tentang iman kita, setiap orang. Inilah satu-satunya cara agar terang Kristus, yang adalah Kasih, dapat bersinar dalam diri orang-orang yang menerimanya dan menarik orang lain. Terang Kristus tidak hanya berkembang melalui kata-kata, melalui metode pura-pura, metode komersial…. Tidak, tidak, melalui iman, perkataan dan kesaksian. Dengan demikian terang Kristus berkembang. Bintang adalah Kristus, tetapi kita juga bisa dan juga harus menjadi bintang bagi saudara-saudari kita, sebagai saksi-saksi khazanah kebaikan dan belas kasihan yang tak terbatas yang ditawarkan Sang Penebus dengan cuma-cuma kepada semua orang. Terang Kristus tidak berkembang melalui penyebaran agama. Terang Kristus berkembang melalui kesaksian, melalui pengakuan iman. Bahkan melalui kemartiran.

 

Oleh karena itu, syaratnya adalah menyambut terang ini di dalam diri, selalu semakin menyambutnya. Celakalah kita jika kita mengira kita memilikinya, tidak; celakalah kita jika kita berpikir bahwa kita hanya perlu “mengelolanya”! Tidak. Seperti para Majus, kita juga dipanggil untuk membiarkan diri kita terpesona, tertarik, dibimbing, diterangi dan dipertobatkan oleh Kristus : Ia adalah perjalanan iman, melalui doa dan kontemplasi atas karya Allah, yang terus menerus memenuhi kita dengan sukacita dan keajaiban, keajaiban yang sungguh baru. Keajaiban itu selalu menjadi langkah pertama untuk maju dalam terang ini.

 

Marilah kita memohon perlindungan Maria atas Gereja semesta, sehingga bisa menyebarkan Injil Kristus, terang semua bangsa, terang setiap orang, ke seluruh dunia.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari yang terkasih,

 

Saya sedang mengikuti dengan seksama dan menyita pikiran peristiwa-peristiwa di Republik Afrika Tengah yang baru-baru ini melangsungkan pemilihan di mana orang-orang telah mewujudkan keinginan untuk mengusahakan jalan perdamaian. Saya mengundang semua pihak menuju dialog persaudaraan, penuh hormat, untuk menolak segala bentuk kebencian dan menghindari segala bentuk kekerasan.

 

Saya menyampaikan kasih sayang saya kepada saudara dan saudari dari Gereja Oriental, Katolik dan Ortodoks, yang menurut tradisi akan merayakan kelahiran Tuhan besok. Kepada mereka, saya menyampaikan harapan saya yang paling tulus untuk Natal kudus dalam terang Kristus, damai sejahtera dan harapan kita.

 

Pada Hari Raya Penampakan Tuhan hari ini, Hari Anak Misioner Sedunia dirayakan yang melibatkan banyak anak laki-laki dan perempuan di seluruh dunia. Saya berterima kasih kepada mereka masing-masing dan saya mendorong mereka untuk menjadi para saksi Yesus yang penuh sukacita, berusaha untuk selalu membawa persaudaraan di antara teman-teman sebaya kalian.

 

Dengan hormat saya menyapa kalian semua yang terhubung melalui berbagai sarana komunikasi. Salam khusus ditujukan kepada Yayasan Prosesi Tiga Raja yang menyelenggarakan acara evangelisasi dan kesetiakawanan di berbagai kota dan desa di Polandia dan di negara lain.

 

Kepada kalian semua saya mengucapkan Selamat Hari Raya Kenaikan Tuhan! Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makanan kalian dan sampai jumpa.

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 6 Januari 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 3 Januari 2021 : ALLAH MENGASIHI KITA DALAM SEGALA KERAPUHAN KITA


Saudara dan saudari yang terkasih, selamat siang!

 

Pada hari Minggu kedua setelah Natal ini, Sabda Allah tidak menawarkan kepada kita bagian kisah kehidupan Yesus, tetapi malahan menceritakan kepada kita tentang-Nya sebelum Ia dilahirkan. Sabda Allah tersebut membawa kita kembali mengungkapkan sesuatu tentang Yesus sebelum Ia datang di antara kita. Hal tersebut terungkap khususnya dalam pembukaan Injil Yohanes, yang dimulai dengan : “Pada mulanya adalah Firman” (Yoh 1:1). Pada mulanya : adalah kata-kata pertama dalam Alkitab, kata-kata yang sama dengan awal kisah penciptaan : “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej 1:1). Hari ini, Injil mengatakan bahwa Yesus, yang kita renungkan pada saat Kelahiran-Nya, sebagai seorang bayi, telah ada sebelumnya : sebelum dimulainya sesuatu, sebelum alam semesta, sebelum segala sesuatu. Ia ada sebelum ruang dan waktu. “Dalam Dia ada hidup” (Yoh 1:4), sebelum munculnya kehidupan.

 

Santo Yohanes menyebut-Nya Logos, yaitu Firman. Apa yang ia maksud dengan ini? Kata digunakan untuk berkomunikasi : orang-orang tidak berbicara sendirian, orang-orang berbicara dengan seseorang. Kita selalu berbicara dengan seseorang. Ketika kita berada di jalan dan kita melihat orang-orang yang berbicara dengan diri mereka sendiri, kita berkata, “Orang ini, sesuatu telah terjadi pada mereka…”. Tidak, kita selalu berbicara dengan seseorang. Sekarang, pada kenyataannya Yesus adalah Firman sejak awal mula berarti sejak awal Allah ingin berkomunikasi dengan kita, Ia ingin berbicara kepada kita. Putra Tunggal Bapa (lihat ayat 14) ingin memberitahu kita tentang indahnya menjadi anak-anak Allah; Ia adalah "terang yang sesungguhnya" (ayat 9) dan ingin menyingkirkan kegelapan kejahatan dari diri kita; Ia adalah "hidup" (ayat 4), yang mengenal kehidupan kita dan ingin memberitahu kita bahwa Ia selalu mengasihi kehidupan kita. Ia mengasihi kita semua. Ini adalah pesan yangmenakjubkan hari ini : Yesus adalah Firman Allah, Firman Allah yang kekal, yang selalu memikirkan kita dan ingin berkomunikasi dengan kita.

 

Dan dengan melakukannya, Ia melampaui kata-kata. Sesungguhnya, pokok Injil hari ini memberitahu kita bahwa “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita” (ayat 14). Firman menjadi daging : mengapa Santo Yohanes menggunakan ungkapan “daging” ini? Tidak bisakah ia mengatakan, dengan cara yang lebih elegan, bahwa Firman itu menjadi manusia? Tidak, ia menggunakan kata daging karena daging menunjukkan keadaan manusiawi kita dalam segala kelemahannya, dengan segala kerapuhannya. Ia memberitahu kita bahwa Allah menjadi rapuh agar Ia bisa menjamah kerapuhan kita dari dekat. Jadi, sejak Allah menjadi manusia, tidak ada hal lain dalam hidup kita yang asing bagi-Nya. Tidak ada yang Ia remehkan, kita dapat berbagi segalanya dengan Dia, segala sesuatunya. Saudara yang terkasih, saudari yang terkasih, Allah menjadi daging untuk memberitahu kita, memberitahu kamu bahwa Ia mengasihi kita seperti itu, dalam kerapuhan kita, dalam kerapuhanmu; persis di sana, di mana kita paling malu, di mana kamu paling malu. Hal tersebut berani, keputusan Allah tersebut berani : Ia menjadi daging persis di tempat yang sangat sering membuat kita merasa malu; Ia masuk ke dalam rasa malu kita, menjadi saudara kita, berbagi jalan kehidupan.

 

Ia menjadi daging dan tidak pernah berpaling. Ia tidak mengenakan kemanusiaan kita seperti busana yang bisa dipakai dan dilepas. Tidak, Ia tidak pernah melepaskan diri dari daging kita. Dan Ia tidak akan pernah lepas daripadanya : sekarang dan selamanya Ia ada di surga dengan tubuh-Nya yang terbuat dari daging manusiawi. Ia telah mempersatukan diri selamanya dengan kemanusiaan kita; kita dapat mengatakan Ia "menikahkan" diri dengannya. Saya suka memikirkan bahwa ketika Tuhan berdoa kepada Bapa demi kita, Ia tidak hanya berbicara : kepada Bapa, Ia memperlihatkan luka-luka daging-Nya, Ia memperlihatkan luka-luka yang diderita-Nya demi kita. Inilah Yesus : dengan daging-Nya Ia adalah pengantara, Ia ingin menanggung bahkan tanda-tanda penderitaan. Yesus, dengan daging-Nya, ada di hadirat Bapa. Memang, Injil mengatakan bahwa Ia datang untuk tinggal di antara kita. Ia tidak datang mengunjungi kita, lalu pergi; Ia datang untuk tinggal bersama kita, berdiam bersama kita. Lalu, apa yang diinginkan-Nya dari kita? Ia menginginkan keintiman yang luar biasa. Ia menginginkan kita ambil bagian bersama diri-Nya dalam suka dan duka, keinginan dan ketakutan, harapan dan kesedihan, orang-orang dan situasi kita. Marilah kita melakukan hal ini, dengan keyakinan : marilah kita membuka hati kita kepada-Nya, marilah kita menceritakan segalanya kepada-Nya. Marilah kita berhenti dalam keheningan di depan palungan untuk menikmati kelembutan Tuhan yang menjadi dekat, yang menjadi daging. Dan tanpa rasa takut, marilah kita mengundang-Nya di antara kita, ke dalam rumah kita, ke dalam keluarga kita. Dan juga - semua orang mengetahui hal ini dengan baik - marilah kita mengundang-Nya ke dalam kerapuhan kita. Marilah kita mengundang-Nya, agar Ia sudi melihat luka-luka kita. Ia akan datang dan hidup akan berubah.

 

Semoga Santa Bunda Allah, yang di dalamnya Sabda menjadi daging, membantu kita untuk menyambut Yesus, yang mengetuk pintu hati kita untuk tinggal bersama kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari yang terkasih,

 

Kepada kalian saya memperbaharui segenap keinginan saya untuk tahun baru yang baru saja dimulai. Sebagai umat Kristiani, kita cenderung menghindari mentalitas fatalisme atau magis; kita tahu bahwa dengan membesut hal-hal tersebut sejauh itu, dengan berpegang pada Allah, kita bekerjasama demi kebaikan bersama, menempatkan orang-orang yang paling lemah dan paling kurang beruntung di pusat. Kita tidak tahu apa pegangan kita pada tahun 2021, tetapi apa yang kita masing-masing, dan kita semua, dapat lakukan adalah saling peduli dan peduli terhadap ciptaan, rumah kita bersama.

 

Memang ada godaan untuk mengurusi kepentingan kita sendiri, terus berperang, misalnya berkonsentrasi hanya pada lingkup ekonomi, hidup hedonis, yaitu mencari kesenangan semata… ada godaan itu. Saya membaca sesuatu di surat kabar yang sangat membuat saya sedih : di satu negara, saya lupa negara mana, lebih dari 40 pesawat tersisa, yang memungkinkan orang melarikan diri dari penguncian dan menikmati liburan. Tetapi orang-orang tersebut, orang-orang yang baik, tidakkah mereka memikirkan orang-orang yang tinggal di rumah, masalah-masalah ekonomi yang dihadapi oleh banyak orang yang terhalang oleh penguncian, tentang orang-orang yang sakit? Mereka hanya berpikir tentang berlibur untuk kesenangan mereka sendiri. Ini sangat menyakitkan saya.

 

Saya menyampaikan salam khusus kepada mereka yang memulai tahun baru dengan kesulitan yang semakin besar, orang-orang sakit, para pengangguran, mereka yang hidup dalam situasi penindasan atau eksploitasi. Dan dengan kasih sayang saya ingin menyapa semua keluarga, terutama yang memiliki anak kecil atau yang sedang menunggu kelahiran. Kelahiran selalu merupakan janji harapan. Saya dekat dengan keluarga-keluarga ini : semoga Allah memberkati kalian!

 

Kepada kalian semua saya mengucapkan selamat hari Minggu, selalu memikirkan Yesus yang menjadi manusia untuk tinggal bersama kita, dalam hal-hal yang baik dan yang buruk, selalu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat makan, dan sampai jumpa!

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 3 Januari 2021)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN PADA HARI RAYA SANTA MARIA BUNDA ALLAH 1 Januari 2021 : SANTA MARIA BUNDA ALLAH DAN HARI PERDAMAIAN SEDUNIA


Saudara-saudari yang terkasih, selamat siang dan selamat tahun baru!

 

Kita memulai tahun ini dengan menempatkan diri kita di bawah tatapan keibuan dan penuh kasih Santa Maria, yang dirayakan dalam liturgi hari ini sebagai Bunda Allah. Karena itu, sekali lagi kita melakukan perjalanan di sepanjang jalur sejarah, memercayakan kecemasan dan kesengsaraan kita kepada dia yang dapat melakukan segalanya. Ia menjaga kita dengan kelembutan keibuan sebagaimana ia menjaga Yesus Putranya, dan jika kita melihat adegan Kelahiran, kita melihat bahwa Yesus tidak ada di dalam adegan, dan adegan tersebut mengatakan kepada saya bahwa Bunda Maria berkata : "Tidak sudikah kamu memperkenankan aku sedikit memeluk Anakku ini dalam pelukanku?" Inilah yang dilakukan Bunda Maria terhadap kita : ia ingin memeluk kita untuk melindungi kita sebagaimana ia melindungi dan mengasihi Putranya. Pandangan Sang Perawan Suci yang meyakinkan dan menghibur adalah dorongan untuk memastikan bahwa saat ini, yang diberikan kepada kita oleh Tuhan, dapat digunakan untuk pertumbuhan manusiawi dan rohani kita, itulah saatnya kebencian dan perpecahan diselesaikan, serta di sana ada banyak, saatnya mengalami diri kita sebagai saudara dan saudari, saatnya membangun dan bukan menghancurkan, peduli satu sama lain dan terhadap ciptaan. Saatnya membuat segala sesuatunya menumbuhkan masa perdamaian.

 

Tema Hari Perdamaian Sedunia yang kita rayakan hari ini didedikasikan terutama untuk kepedulian terhadap sesama dan ciptaan : Budaya Kepedulian sebagai Jalan Menuju Perdamaian. Peristiwa menyakitkan yang menandai perjalanan umat manusia tahun lalu, terutama pandemi, mengajari kita betapa pentingnya menaruh minat pada permasalahan orang lain dan ambil bagian dalam keprihatinan mereka. Sikap ini mewakili jalan menuju perdamaian, karena hal itu mendorong pembentukan masyarakat yang berlandaskan hubungan persaudaraan. Kita masing-masing, manusia dewasa ini, dipanggil untuk mewujudkan perdamaian, kita masing-masing, kita tidak acuh tak acuh terhadap hal ini. Kita dipanggil untuk membuat perdamaian terjadi setiap hari dan di setiap tempat yang kita tinggali, menggandeng saudara-saudari yang membutuhkan kata penghiburan, sikap lembut, bantuan kesetiakawanan. Ini adalah tugas yang diberikan Allah kepada kita. Allah telah menugaskan kita untuk menjadi pembawa perdamaian.

 

Dan perdamaian bisa menjadi kenyataan jika kita mulai berdamai dengan diri kita sendiri - perdamaian di dalam diri kita, di dalam hati kita - dan dengan diri kita sendiri, dan dengan orang-orang yang ada di dekat kita, menghilangkan rintangan yang menghalangi kita untuk peduli terhadap orang-orang yang mendapati diri membutuhkan dan dalam kemiskinan. Itu berarti mengembangkan mentalitas dan budaya "kepedulian" untuk mengalahkan ketidakpedulian, untuk mengalahkan penolakan dan persaingan - ketidakpedulian, penolakan, persaingan yang sayangnya berkuasa. Menyingkirkan sikap tersebut. Dan dengan demikian, perdamaian bukan hanya tidak adanya perang, perdamaian tidak pernah mandul : tidak, perdamaian tidak berada di ruang operasi. Perdamaian berada di dalam kehidupan : bukan hanya tidak adanya perang, tetapi merupakan kehidupan yang kaya akan makna, berakar dan dihayati melalui perwujudan pribadi dan ambil bagian dalam persaudaraan dengan orang lain. Maka perdamaian itu, yang begitu dirindukan dan senantiasa terancam oleh kekerasan, oleh egoisme dan kejahatan, perdamaian yang terancam itu dapat dimungkinkan dan bisa dicapai jika saya menganggapnya sebagai tugas yang diberikan kepada saya oleh Allah.

 

Semoga Perawan Maria, yang melahirkan "Sang Raja Damai" (Yes 9:5), dan yang memeluk-Nya, dengan kelembutan sedemikian rupa dalam pelukannya, memperolehkan bagi kita dari surga karunia perdamaian yang berharga, yang tidak dapat sepenuhnya dikejar dengan kekuatan manusia belaka. Kekuatan manusia tidak memadai karena perdamaian terutama adalah karunia, karunia yang dimohonkan dari Allah dengan doa yang tiada henti, ditopang dengan dialog yang sabar dan penuh hormat, dibangun dengan bekerjasama secara terbuka dengan kebenaran dan keadilan serta selalu memperhatikan aspirasi sah orang-orang dan bangsa-bangsa. Saya berharap agar perdamaian dapat menguasai hati manusia dan keluarga, tempat rekreasi dan kerja, komunitas dan negara. Dalam keluarga, di tempat kerja, di negara-negara : perdamaian, perdamaian. Sekaranglah waktunya untuk berpikir bahwa kehidupan saat ini dikelola di seputar perang, dan permusuhan, oleh banyak hal yang menghancurkan. Kita menginginkan perdamaian. Dan ini adalah karunia.

 

Di ambang permulaan ini, kepada semua orang saya menyampaikan salam yang tulus untuk tahun 2021 yang membahagiakan dan teduh. Semoga kita masing-masing memastikan bagi setiap orang tahun kesetiakawanan dan perdamaian persaudaraan, tahun yang dipenuhi dengan harapan dan keyakinan yang memberi harapan, yang kita percayakan kepada perlindungan surgawi Maria, Bunda Allah dan Bunda kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari yang terkasih!

 

Kepada kalian semua yang terhubung melalui media, saya mengharapkan tahun baru yang damai dan teduh.

 

Saya berterima kasih kepada Presiden Republik Italia, Yang Terhormat Sergio Mattarella, atas salam yang beliau tujukan kepada saya kemarin malam dalam pesan akhir tahunnya, dan dengan hormat saya bertukar salam.

 

Saya berterima kasih kepada semua orang yang ada di pelbagai bagian dunia, seraya menghormati pembatasan yang diberlakukan karena pandemi, telah mempromosikan momen doa dan refleksi pada kesempatan Hari Perdamaian Sedunia hari ini. Saya memikirkan khususnya pawai virtual kemarin malam yang diselenggarakan oleh keuskupan Italia, Pax Christi, Caritas dan Aksi Katolik, serta yang diselenggarakan pagi ini oleh Sant'Egidio yang diteruskan ke seluruh dunia. Saya berterima kasih kepada semuanya untuk hal ini dan banyak prakarsa lainnya yang mendukung pendamaian dan kerukunan di antara bangsa-bangsa.

 

Dalam konteks ini, saya mengungkapkan kesedihan dan keprihatinan atas peningkatan terbaru dari kekerasan di Yaman yang menyebabkan banyak korban tidak bersalah, dan saya berdoa agar upaya-upaya sudi dilakukan untuk menemukan solusi yang memungkinkan kembalinya perdamaian bagi rakyat yang tersiksa itu. Saudara dan saudari, marilah kita memikirkan anak-anak di Yaman! Tanpa pendidikan, tanpa obat-obatan, lapar. Marilah kita bersama-sama mendoakan Yaman.

 

Selain itu, saya mengundang kalian untuk mempersatukan doa kalian bagi Keuskupan Agung Owerri di Nigeria karena Uskup Moses Chikwe dan sopirnya diculik beberapa hari terakhir ini. Marilah kita memohon kepada Tuhan agar mereka dan semua yang menjadi korban tindakan serupa di Nigeria dapat dipulihkan kemerdekaannya tanpa cedera dan agar negara tercinta itu dapat memperoleh kembali keamanan, kerukunan, dan perdamaian.

 

Saya menyampaikan salam khusus kepada Sternsinger, "Star Singers", anak-anak yang berada di Jerman dan Austria, yang telah menemukan cara untuk menyampaikan warta Natal yang penuh sukacita kepada keluarga-keluarga karena anak-anak tersebut tidak dapat mengunjungi mereka di rumah-rumah mereka, dan mengumpulkan sumbangan untuk teman-teman sebaya mereka yang sedang membutuhkan.

 

Kepada semuanya saya mengharapkan sebuah tahun perdamaian dan harapan, di bawah perlindungan Maria, Santa Bunda Allah. Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makanan kalian dan sampai jumpa!

____


(Peter Suriadi - Bogor, 1 Januari 2021)