Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 9 Februari 2022 : KATEKESE TENTANG SANTO YOSEF (BAGIAN 11) - SANTO YOSEF, PELINDUNG KEMATIAN YANG BAIK

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dalam katekese pekan lalu, yang sekali lagi diilhami oleh Santo Yosef, kita merenungkan makna persekutuan para kudus. Dan berangkat dari sini, hari ini saya ingin menjelajahi devosi khusus yang selalu dimiliki umat Kristiani kepada Santo Yosef sebagai pelindung kematian yang baik. Sebuah devosi yang lahir dari pemikiran bahwa Yosef meninggal dipelihara oleh Perawan Maria dan Yesus, sebelum meninggalkan rumah Nazaret. Tidak ada data sejarah, tetapi karena kita tidak lagi melihat Yosef dalam kehidupan di muka umum, diperkirakan ia meninggal di Nazaret, bersama keluarganya. Dan Yesus serta Maria menemaninya sampai kematiannya.

 

Seabad yang lalu, Paus Benediktus XV menulis “melalui Yosef kita langsung menuju Maria, dan melalui Maria menuju sumber segala kekudusan, yaitu Yesus”. Baik Yosef maupun Maria membantu kita untuk datang kepada Yesus. Dan mendorong praktik kesalehan untuk menghormati Santo Yosef, beliau menganjurkan kita secara khusus, dengan mengatakan : “Karena ia sepatutnya dianggap sebagai pelindung yang paling ampuh dari kematian, setelah meninggal di hadapan Yesus dan Maria, para gembala suci hendaknya memberi perhatian untuk menanamkan dan mendorong [...] lembaga-lembaga kesalehan yang telah didirikan untuk memohon kepada Yosef atas nama orang yang menghadapi ajal, seperti 'Kematian yang Baik', 'Transit Santo Yosef' dan 'Bagi Orang Mendekati Ajal" (Motu proprio Bonum Sane, 25 Juli 1920) : semuanya adalah lembaga-lembaga pada zamannya.

 

Saudara-saudari terkasih, mungkin sebagian orang berpikir bahwa bahasa dan tema ini hanyalah warisan dari masa lalu, tetapi pada kenyataannya, hubungan kita dengan kematian tidak pernah tentang masa lalu – selalu kekinian. Paus Benediktus berkata, beberapa hari yang lalu, berbicara tentang dirinya, bahwa beliau “ada di depan pintu kematian yang gelap”. Ada baiknya berterima kasih kepada Paus yang memiliki kejelasan ini, pada usia 95 tahun, karena memberitahu kita hal ini. "Aku berada di depan ketidakjelasan kematian, di pintu gelap kematian". Bukankah sebuah nasihat bagus yang diberikan beliau kepada kita? Apa yang disebut budaya "merasa nyaman" mencoba menyingkirkan kenyataan kematian, tetapi pandemi virus Corona telah mengembalikannya ke fokus secara dramatis. Mengerikan : kematian ada di mana-mana, dan begitu banyak saudara dan saudari kehilangan -orang-orang yang mereka kasihi tanpa bisa berada di dekat mereka, serta ini membuat kematian semakin sulit untuk diterima dan diproses. Seorang perawat mengatakan kepada saya bahwa ia berada di depan seorang nenek yang sedang mendekati ajal, dan berkata kepadanya, "Aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepada keluargaku, sebelum aku pergi". Dan sang perawat dengan berani mengeluarkan gawainya dan menghubungkannya dengan mereka. Itulah kelembutan perpisahan …

 

Namun demikian, kita mencoba dengan segala cara untuk menyingkirkan pemikiran tentang keberadaan kita yang terbatas, memperdaya diri kita untuk mempercayai bahwa kita dapat menyingkirkan kuasa kematian dan rasa takut. Tetapi iman Kristiani bukanlah cara untuk menyingkirkan rasa takut akan kematian; iman Kristiani justru menolong kita menghadapinya. Cepat atau lambat, kita semua akan melewati pintu itu.

 

Terang sejati yang menerangi misteri kematian berasal dari kebangkitan Kristus. Inilah terang. Dan, Santo Paulus menulis : “Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1 Kor 12:12-14). Ada satu kepastian : Kristus telah dibangkitkan, Kristus telah bangkit, Kristus hidup di antara kita. Dan inilah terang yang menanti kita di balik pintu kematian yang gelap itu.

 

Saudara-saudari terkasih, hanya melalui iman akan kebangkitan kita dapat menghadapi jurang maut tanpa diliputi rasa takut. Tidak hanya itu : kita bisa mengembalikan peran positif hingga kematian. Memang, berpikir tentang kematian, diterangi oleh misteri Kristus, membantu kita untuk melihat seluruh kehidupan melalui mata segar. Saya belum pernah melihat iring-iringan mobil kepindahan mengikuti mobil jenazah! Di belakang mobil jenazah : Saya belum pernah melihatnya. Kita akan pergi sendirian, tanpa apapun di kantong kain kafan kita : tanpa apapun. Karena kain kafan tidak memiliki kantong. Inilah kesendirian kematian : memang benar, saya belum pernah melihat mobil jenazah diikuti oleh iring-iringan mobil kepindahan. Tidak masuk akal mengumpulkan jika suatu saat kita akan meninggal. Yang harus kita kumpulkan adalah kasih, dan kemampuan untuk berbagi, kemampuan untuk tidak acuh tak acuh ketika dihadapkan pada kebutuhan sesama. Atau, apa gunanya bersitegang dengan saudara, dengan saudari, dengan teman, dengan saudara, atau dengan saudari seiman, jika suatu saat kita akan meninggal? Apa gunanya marah, marah kepada orang lain? Sebelum kematian, banyak persoalan diturunkan hingga tabiat. Ada baiknya meninggal diperdamaikan, tanpa dendam dan tanpa penyesalan! Saya ingin mengatakan satu kebenaran : kita semua sedang menuju pintu itu, kita semua.

 

Injil memberitahu kita bahwa kematian datang bagaikan pencuri. Itulah yang dikatakan Yesus kepada kita : kematian datang bagaikan pencuri, dan betapapun kita berusaha untuk mengendalikan kedatangannya, bahkan mungkin merencanakan kematian kita, kematian tetap merupakan peristiwa yang harus kita perhitungkan, dan sebelum itu kita juga harus membuat pilihan.

 

Ada dua pertimbangan bagi kita umat Kristiani. Pertimbangan pertama : kita tidak dapat menghindari kematian, dan justru karena alasan ini, setelah melakukan segala upaya yang secara manusiawi memungkinkan untuk kesembuhan si sakit, tidaklah bermoral melakukan pengobatan yang sia-sia (bdk. Katekismus Gereja Katolik, no. 2278). Ungkapan umat Allah yang setia, umat yang sederhana : "Biarkanlah ia meninggal dalam damai", "tolonglah ia meninggal dalam damai": kebijaksanaan seperti itu! Pertimbangan kedua menyangkut kualitas kematian itu sendiri, kualitas rasa sakit, kualitas penderitaan. Memang, kita harus bersyukur atas semua pertolongan yang berusaha diberikan oleh obat-obatan, sehingga melalui apa yang disebut “perawatan yang meringankan”, setiap orang yang bersiap untuk menjalani sisa hidupnya dapat melakukannya dengan cara yang paling manusiawi. Namun, kita harus berhati-hati untuk tidak merancukan pertolongan ini dengan penyimpangan yang tidak dapat diterima menuju pembunuhan. Kita harus menemani orang-orang menuju kematian, tetapi tidak memprovokasi kematian atau memfasilitasi segala bentuk bunuh diri. Saya akan menunjukkan bahwa hak perawatan dan pengobatan untuk semua orang harus selalu diprioritaskan, sehingga yang paling lemah, terutama orang tua dan orang sakit, tidak pernah dicampakkan. Hidup adalah hak, bukan kematian, yang harus disambut, bukan dikelola. Dan prinsip etika ini berlaku untuk semua orang, bukan hanya untuk orang Kristiani atau orang percaya.

 

Saya ingin menggarisbawahi masalah sosial yang nyata. “Perencanaan” itu – saya tidak tahu apakah itu kata yang tepat – tetapi mempercepat kematian orang tua. Sangat sering kita melihat di kelas sosial tertentu, orang tua, karena mereka tidak memiliki kemampuan, diberi obat lebih sedikit daripada yang mereka butuhkan, dan ini tidak manusiawi; ini tidak membantu mereka, ini mendorong mereka menuju kematian lebih awal. Ini tidak manusiawi atau kristiani. Orang tua harus dirawat sebagai harta umat manusia : mereka adalah kebijaksanaan kita. Dan jika mereka tidak berbicara, atau jika mereka tidak masuk akal, mereka masih merupakan lambang kebijaksanaan manusia. Mereka adalah orang-orang yang berjalan sebelum kita dan telah mewariskan kita begitu banyak hal yang baik, begitu banyak kenangan, begitu banyak kebijaksanaan. Tolong, jangan mengasingkan orang tua, jangan mempercepat kematian orang tua. Membelai orang tua memiliki harapan yang sama dengan membelai anak kecil, karena awal dan akhir kehidupan selalu menjadi misteri, misteri yang harus dihormati, didampingi, dirawat. Dikasihi.

 

Semoga Santo Yosef membantu kita menghayati misteri kematian dengan cara terbaik. Bagi orang Kristiani, kematian yang baik adalah pengalaman belas kasihan Allah, yang datang dekat dengan kita bahkan di saat-saat terakhir hidup kita. Bahkan di dalam doa Salam Maria, kita berdoa memohon agar Bunda Maria dekat dengan kita “pada saat kematian kita”. Justru karena alasan inilah, saya ingin menutup katekese ini dengan berdoa bersama kepada Bunda Maria untuk orang-orang yang sedang mendekati ajal, untuk mereka yang sedang mengalami momen perjalanan melalui pintu gelap ini, dan untuk sanak saudara yang sedang berkabung. Marilah kita berdoa bersama :

 

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin.

 

Terima kasih.

 

[Seruan]

 

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang dan komunitas yang, pada 26 Januari lalu, bergabung dalam doa untuk perdamaian di Ukraina. Marilah kita terus memohonkan perdamaian kepada Allah agar ketegangan dan ancaman perang diatasi melalui dialog yang sungguh-sungguh, dan agar pembicaraan “Format Normandia” juga dapat berkontribusi untuk hal ini. Janganlah kita lupa : perang adalah kegilaan!

 

* * *

 

Lusa, 11 Februari, adalah Hari Orang Sakit Sedunia. Saya ingin mengingat orang-orang terkasih yang sedang sakit, agar semuanya diberikan jaminan kesehatan dan pendampingan rohani. Marilah kita mendoakan saudara-saudari kita ini, keluarga mereka, para pekerja kesehatan dan pastoral, dan semua orang yang merawat mereka.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa semua peziarah berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, terutama perwakilan Forum Kristiani Global serta para seminaris dan kelompok mahasiswa dari Amerika Serikat. Atas kamu semua, dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Yesus, Tuhan kita. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih : Dalam katekese lanjutan kita tentang Santo Yosef, kita sekarang memikirkannya sebagai pelindung kematian yang bahagia. Devosi tradisional ini lahir dari renungan Gereja atas kematian Yosef sendiri, dihibur oleh kehadiran Bunda Maria dan Tuhan Yesus. Dewasa ini kita cenderung menghindari pemikiran tentang kematian kita, namun iman kita kepada Yesus yang bangkit mengundang kita tidak hanya untuk tidak takut akan kematian, tetapi untuk menerimanya dengan percaya pada janji-janji Kristus. Dalam iman, kita melihat kematian sebagai bagian dari kehidupan dan pada gilirannya melihat kehidupan itu sendiri dalam sudut pandang yang berbeda. Karena kita tidak akan membawa apa pun bersama diri kita ke kuburan, perhatian kita seharusnya adalah menjalani kehidupan iman, harapan, dan kasih terhadap semua orang. Gereja selalu menunjukkan perhatian khusus terhadap orang yang sedang menghadapi ajal, menawarkan pendampingan dan perawatan kepada mereka, menghormati kekudusan hidup, bahkan dalam tahap akhir, dan menolak praktik eutanasia atau bunuh diri yang tidak dapat diterima secara etis. Melalui doa Santo Yosef dan Perawan Maria, semoga saat kematian kita menjadi perjumpaan yang diberkati dengan belas kasih Allah yang tak terbatas. Untuk tujuan itu, dan untuk semua orang yang mendekati ajal dan mereka yang berduka karena kehilangan orang yang mereka kasihi, kita bergabung terlebih dahulu dalam doa "Salam Maria".

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 9 Februari 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 6 Februari 2022 : MEMAKNAI DUA TINDAKAN YESUS DALAM PENANGKAPAN IKAN YANG AJAIB

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini membawa kita ke tepi Danau Galilea. Orang banyak berkumpul di sekitar Yesus, sementara beberapa nelayan yang kecewa, termasuk Simon Petrus, sedang mencuci jala mereka setelah malam penangkapan ikan yang buruk. Dan oleh karena itu Yesus naik ke perahu Simon; kemudian Ia mengajaknya untuk kembali pergi melaut dan menebarkan jala (bdk. Luk 5:1-4). Marilah kita berhenti sejenak pada dua tindakan Yesus ini : pertama Ia naik ke perahu dan kemudian, yang kedua, Ia mengajaknya untuk keluar ke perairan terbuka. Meski sebuah malam yang buruk, tanpa ikan, Petrus percaya dan berangkat ke perairan terbuka.

 

Pertama-tama, Yesus naik ke perahu Simon. Melakukan apa? Mengajar. Ia sendiri yang meminta perahu itu, yang tidak penuh dengan ikan melainkan telah kembali ke pantai dalam keadaan nihil, setelah sepanjang malam kerja keras dan kekecewaan. Inilah gambaran yang indah bagi kita juga. Setiap hari perahu kehidupan kita meninggalkan pantai rumah kita untuk berlayar ke lautan kegiatan sehari-hari; setiap hari kita mencoba untuk "menangkap ikan dari lautan", untuk memelihara impian, mengejar rencana, mengalami kasih dalam hubungan kita. Tetapi seringkali, seperti Petrus, kita mengalami “malam dengan jala kosong” – malam dengan jala kosong – kekecewaan karena berusaha sangat keras dan tidak melihat hasil yang diinginkan : “Telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa” (ayat 5), kata Simon. Alangkah sering kita juga dibiarkan dengan perasaan kalah, seraya kekecewaan dan kepahitan muncul di hati kita. Dua cacing kayu yang sangat berbahaya.

 

Kemudian, apa yang dilakukan Tuhan? Ia memilih untuk naik ke perahu kita. Dari sana Ia ingin mewartakan Injil. Justru perahu kosong itu, lambang ketidakmampuan kita, yang menjadi “katedral” Yesus, mimbar tempat Ia mewartakan Sabda. Dan inilah apa yang suka dilakukan Tuhan – Tuhan adalah Tuhan kejutan, mukjizat dalam kejutan : naik ke perahu kehidupan kita ketika kita tidak memiliki apa pun untuk ditawarkan kepada-Nya; memasuki kekosongan kita dan mengisinya dengan kehadiran-Nya; memanfaatkan kemiskinan kita untuk menyatakan kekayaan-Nya, kesengsaraan kita untuk menyatakan belas kasihan-Nya. Marilah kita mengingat hal ini : Allah tidak menginginkan kapal pesiar : perahu yang “rusak” sudah cukup bagi-Nya, selama kita menyambut-Nya. Ya ini, menyambut-Nya; perahu tidak masalah, tetapi kita menyambut-Nya. Tetapi, saya bertanya-tanya, apakah kita membiarkan Ia masuk ke dalam perahu kehidupan kita? Apakah kita menyediakan sedikit yang kita miliki untuk-Nya? Terkadang kita merasa tidak layak bagi-Nya karena kita adalah orang-orang berdosa. Tetapi ini adalah alasan yang tidak disukai Tuhan, karena menjauhkan-Nya dari kita! Ia adalah Allah kedekatan, kasih sayang, kelembutan, dan Ia tidak mencari kesempurnaan : Ia mencari penyambutan kita. Ia berkata kepadamu juga : "Perkenankanlah Aku naik ke perahu kehidupanmu", "Tuhan, lihatlah .." - "Seperti itu, perkenankanlah Aku masuk, apa adanya". Pikirkanlah hal ini.

 

Dengan cara ini, Tuhan membangun kembali kepercayaan Petrus. Ketika Ia naik ke perahu, setelah berkhotbah, Ia berkata : "Bertolaklah ke tempat yang dalam" (ayat 4). Itu bukan waktu yang baik untuk menjala ikan, di siang hari bolong, tetapi Petrus percaya kepada Yesus. Ia tidak mendasarkan kepercayaannya pada strategi para nelayan, yang ia ketahui dengan baik, tetapi ia menemukannya pada kebaruan Yesus. Ketakjuban itu yang menggerakkannya untuk melakukan apa yang dikatakan Yesus kepadanya. Hal yang sama bagi kita juga : jika kita menyambut Tuhan ke dalam perahu kita, kita dapat melaut. Bersama Yesus, kita mengarungi lautan kehidupan tanpa rasa takut, tanpa menyerah pada kekecewaan ketika kita tidak mendapatkan apa-apa, serta menyerah dan berkata "tidak ada lagi yang harus dilakukan". Selalu, dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan Gereja dan masyarakat, selalu ada sesuatu yang indah dan berani yang dapat dilakukan. Kita selalu dapat memulai lagi – Tuhan selalu mengundang kita untuk bangkit kembali karena Ia membuka kemungkinan-kemungkinan baru. Jadi marilah kita menerima undangan itu : marilah kita mengenyahkan pesimisme dan ketidakpercayaan, serta berlayar bersama Yesus! Perahu kecil kita yang kosong juga akan menyaksikan sebuah tangkapan ajaib.

 

Marilah kita berdoa kepada Maria : yang tidak seperti yang lain menyambut Tuhan ke dalam perahu kehidupannya. Semoga ia mendorong kita dan menjadi perantara kita.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Hari ini adalah Hari Internasional Tanpa Toleransi untuk Mutilasi Alat Kelamin Wanita. Sekitar tiga juta anak perempuan menjalani operasi ini setiap tahun, seringkali dalam kondisi yang sangat berbahaya bagi kesehatan mereka. Praktek ini, sayangnya tersebar luas di berbagai wilayah di dunia, merendahkan martabat perempuan dan sungguh merusak keutuhan fisik mereka.

 

Dan Selasa depan, peringatan liturgi Santa Josephine Bakhita, kita akan merayakan Hari Doa dan Permenungan Sedunia Menentang Perdagangan Manusia. Ini adalah luka yang dalam, ditimbulkan oleh pengejaran kepentingan ekonomi yang memalukan tanpa menghormati pribadi manusia. Begitu banyak gadis – kita melihat mereka di jalanan – yang tidak bebas, adalah budak-budak dari para pedagang manusia, yang mengirim mereka untuk bekerja dan, jika mereka tidak membawa uang, mereka dipukul. Ini terjadi di kota-kota kita dewasa ini. Marilah kita benar-benar memikirkannya.

 

Menghadapi momok kemanusiaan ini, saya mengungkapkan kesedihan saya dan saya mendesak semua pihak yang bertanggung jawab untuk bertindak tegas untuk mencegah eksploitasi dan praktik memalukan yang menimpa perempuan dan anak perempuan pada khususnya.

 

Hari ini, di Italia, juga merupakan Hari Kehidupan, dengan tema "Lindungi Segenap Kehidupan". Seruan ini berlaku untuk semua orang, terutama untuk kategori yang paling rentan : kaum tua, orang-orang sakit, dan bahkan anak-anak yang terhalang untuk dilahirkan. Saya bergabung dengan para uskup Italia dalam mempromosikan budaya kehidupan sebagai tanggapan terhadap nalar penolakan dan penurunan demografis. Segenap kehidupan harus dilestarikan, selalu!

 

Kita terbiasa melihat dan membaca di media begitu banyak hal buruk, berita buruk, kecelakaan, pembunuhan... banyak hal. Tetapi hari ini saya ingin menyebutkan dua hal yang indah. Satu, di Maroko, bagaimana semua orang berkumpul untuk menyelamatkan Rayan. Semua orang berada di sana, bekerja untuk menyelamatkan seorang anak! Mereka memasukkan semua yang mereka miliki ke dalamnya. Sayangnya, ia tidak berhasil diselamatkan. Tetapi contoh itu - saya sedang membaca di Il Messaggero hari ini - foto-foto orang-orang di sana, menunggu untuk menyelamatkan seorang anak.... Terima kasih kepada orang-orang ini untuk kesaksian ini!

 

Dan satu lagi, yang terjadi di sini di Italia, dan tidak akan muncul di surat kabar. Di Monferrato : John, seorang anak Ghana, 25 tahun, seorang migran, yang menderita segala sesuatu yang banyak diderita para migran untuk sampai ke sini, dan pada akhirnya ia menetap di Monferrato, ia mulai bekerja, meniti masa depannya, di sebuah perusahaan anggur. Dan kemudian ia jatuh sakit dengan kanker yang mengerikan; ia sekarat. Dan ketika mereka mengatakan yang sebenarnya, apa yang ingin dilakukannya, [ia menjawab : ] "Pulang ke rumah untuk memeluk ayahku sebelum meninggal". Saat ia sedang sekarat, ia memikirkan ayahnya. Dan di desa Monferrato itu, mereka segera mengumpulkan kolekte dan, diberi obat pemati rasa sakit, mereka menempatkan dia dan seorang rekannya di pesawat serta mengirimnya pulang agar ia bisa meninggal dalam pelukan ayahnya. Ini menunjukkan kepada kita bahwa dewasa ini, di tengah-tengah begitu banyak berita buruk, ada hal-hal baik, ada "orang-orang kudus pintu sebelah". Terima kasih atas dua kesaksian yang baik bagi kita ini.

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah! Secara khusus, mereka yang berasal dari Jerman, Polandia dan Valencia, Spanyol, serta mahasiswa dari Madrid – mereka hiruk-pikuk, para mahasiswa Spanyol itu! – dan umat Paroki Santo Fransiskus dari Asisi, Roma. Sapaan khusus ditujukan kepada para biarawati tarekat Talitha Kum, yang sedang bekerja menentang perdagangan manusia. Terima kasih atas apa yang kamu lakukan, atas keberanianmu. Terima kasih. Saya mendorongmu dalam karyamu dan saya memberkati patung Santa Josephine Bakhita.

 

Dan kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang, dan sampai jumpa.

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 6 Februari 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 2 Februari 2022 : KATEKESE TENTANG SANTO YOSEF (BAGIAN 10) - SANTO YOSEF DAN PERSEKUTUAN PARA KUDUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dalam beberapa pekan terakhir kita telah mampu memperdalam pemahaman kita tentang sosok Santo Yosef, dipandu oleh beberapa informasi penting yang diberikan dalam Injil, dan juga aspek kepribadiannya yang selama berabad-abad telah mampu disoroti Gereja melalui doa dan devosi. Berawal dari komune sentire ("rasa persekutuan") Gereja yang telah menyertai sosok Santo Yosef, hari ini saya ingin berfokus pada artikel iman penting yang dapat memperkaya kehidupan Kristiani kita serta juga membentuk hubungan kita dengan para kudus dan dengan orang-orang terkasih yang telah meninggal dengan cara terbaik : saya berbicara tentang persekutuan para kudus. Kita sering mengucapkan, dalam Syahadat, "Aku percaya akan persekutuan para kudus". Tetapi jika kamu menanyakan apa itu persekutuan para kudus, saya ingat sewaktu kecil saya langsung menjawab, “Ah, para kudus menerima Komuni”. Sesuatu seperti itu ... kita tidak mengerti apa yang kita katakan. Apa itu persekutuan para kudus? Bukan para kudus yang menerima Komuni, bukan itu. Persekutuan para kudus adalah sesuatu yang lain.

 

Kadang-kadang kekristenan bahkan bisa jatuh ke dalam bentuk devosi yang tampaknya mencerminkan mentalitas yang lebih kafir alih-alih kristiani. Perbedaan dasariahnya adalah doa kita dan devosi umat beriman kita tidak berlandaskan, dalam hal ini, kepercayaan pada manusia, atau pada gambar atau obyek, sekalipun kita tahu bahwa itu suci. Nabi Yeremia mengingatkan kita : “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, [...] Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan” (17:5,7). Bahkan ketika kita bergantung sepenuhnya pada pengantaraan seorang kudus, atau bahkan Perawan Maria, kepercayaan kita hanya memiliki nilai dalam hubungannya dengan Kristus. Seolah-olah jalan menuju orang kudus ini atau menuju Bunda Maria tidak berakhir di situ, tidak. Tidak di sana, tetapi dalam hubungan dengan Kristus. Ia adalah ikatan, Kristus adalah ikatan yang mempersatukan kita dengan-Nya dan satu sama lain, dan yang memiliki nama khusus : ikatan ini yang mempersatukan kita semua, di antara kita dan kita dengan Kristus, inilah "persekutuan para kudus". Bukan para kudus yang melakukan mukjizat, bukan! Orang kudus ini sangat ajaib…” Jangan berhenti di situ. Para kudus tidak melakukan mukjizat, tetapi kasih karunia Allah semata yang bertindak melalui mereka. Mukjizat dilakukan oleh Allah, oleh kasih karunia Allah yang bertindak melalui orang kudus, orang benar. Ini harus dibuat jelas. Ada orang yang berkata, "Aku tidak percaya kepada Allah, aku tidak paham, tetapi aku percaya kepada orang kudus ini." Tidak, ini salah. Orang kudus adalah pengantara, orang yang mendoakan kita dan kita berdoa kepadanya, serta ia mendoakan kita dan Tuhan memberi kita kasih karunia : Tuhan, melalui orang kudus.

 

Lalu, apakah “persekutuan para kudus” itu? Katekismus Gereja Katolik menegaskan : “Persekutuan para kudus adalah Gereja” (no. 946). Lihat alangkah indahnya definisi ini! “Persekutuan para kudus adalah Gereja.” Apa artinya ini? Bahwa Gereja disediakan untuk orang yang sempurna? Tidak. Gereja berarti komunitas orang-orang berdosa yang diselamatkan [Italia : peccatori salvati]. Gereja adalah komunitas orang berdosa yang diselamatkan. Indah, definisi ini. Tidak ada yang bisa mengecualikan diri mereka dari Gereja, kita semua adalah orang-orang berdosa yang diselamatkan. Kekudusan kita adalah buah kasih Allah yang terwujud dalam diri Kristus, yang menguduskan kita dengan mengasihi kita dalam kesengsaraan kita dan menyelamatkan kita daripadanya. Senantiasa bersyukur kepada-Nya karena kita membentuk satu tubuh, kata Santo Paulus, di mana Yesus adalah kepalanya dan kita adalah anggota-anggotanya (bdk. 1 Kor 12:12). Gambar Tubuh Kristus dan gambar tubuh ini segera membuat kita mengerti apa artinya terikat satu sama lain dalam persekutuan : Mari kita dengarkan apa yang dikatakan Santo Paulus : “Jika satu anggota menderita”, tulis Santo Paulus, “semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya” (1 Kor 12:26-27). Inilah yang dikatakan Paulus : kita semua adalah satu tubuh, semua dipersatukan oleh iman, melalui baptisan… Semua dalam persekutuan : dipersatukan dalam persekutuan dengan Yesus Kristus. Dan inilah persekutuan para kudus.

 

Saudara-saudari terkasih, suka dan duka yang menyentuh hidup saya mempengaruhi semua orang, sama seperti suka dan duka yang menyentuh kehidupan saudara dan saudari di samping kita juga mempengaruhi saya. Saya tidak bisa acuh tak acuh terhadap orang lain, karena kita semua dalam satu tubuh, dalam persekutuan. Dalam pengertian ini, bahkan dosa pribadi selalu mempengaruhi setiap orang, dan kasih pribadi mempengaruhi setiap orang. Berdasarkan persekutuan para kudus, persatuan ini, setiap anggota Gereja terikat pada saya secara mendalam. Tetapi saya tidak mengatakan “pada saya” karena saya adalah Paus; [saya berkata] kepada kita masing-masing ia terikat, kita telah terikat, dan terikat secara mendalam dan ikatan ini begitu kuat sehingga tidak dapat diputuskan bahkan oleh kematian. Bahkan oleh kematian. Kenyataannya, persekutuan para kudus tidak hanya menyangkut saudara dan saudari yang berada di samping saya pada saat bersejarah ini, atau yang hidup pada momen bersejarah ini, tetapi juga mereka yang telah menyelesaikan perjalanan mereka, peziarahan duniawi dan melewati ambang kematian. Mereka juga berada dalam persekutuan dengan kita. Marilah kita pikirkan, saudara-saudari terkasih, bahwa di dalam Kristus tidak ada seorang pun yang dapat benar-benar memisahkan kita dari orang-orang yang kita kasihi karena ikatan itu adalah ikatan keberadaan, ikatan yang kuat yang ada dalam kodrat kita; hanya cara kebersamaan satu sama lain mereka berubah, tetapi tidak ada sesuatu dan tidak ada seorang pun yang bisa memutuskan ikatan ini. “Bapa, marilah kita memikirkan mereka yang menyangkal iman, yang murtad, yang adalah para penganiaya Gereja, yang menyangkal pembaptisan mereka: Apakah ini juga ada di rumah?” Ya, ini juga. Mereka semua. Para penghujat, semuanya. Kita adalah saudara. Inilah persekutuan para kudus. Persekutuan para kudus mempersatukan komunitas orang percaya di bumi dan di surga, dan di bumi orang-orang kudus, orang-orang berdosa, semuanya.

 

Dalam pengertian ini, hubungan persahabatan yang dapat saya bangun dengan saudara atau saudari di samping saya, juga dapat saya jalin dengan saudara atau saudari di surga. Para kudus adalah sahabat yang dengannya kita sangat sering menjalin hubungan persahabatan. Apa yang kita sebut devosi kepada orang kudus — “Saya sangat berdevosi kepada orang kudus ini atau itu” — apa yang kita sebut devosi sebenarnya adalah cara untuk mengungkapkan kasih dari ikatan yang mempersatukan kita ini. Juga, dalam kehidupan sehari-hari seseorang dapat berkata, “Tetapi orang ini memiliki devosi seperti itu kepada orang tuanya yang sudah lanjut usia” : tidak, itu adalah cara cinta, ungkapan cinta. Dan kita semua tahu bahwa kita selalu dapat berpaling kepada seorang sahabat, terutama ketika kita berada dalam kesulitan dan membutuhkan bantuan. Dan kita punya sahabat di surga. Kita semua membutuhkan sahabat; kita semua membutuhkan hubungan yang bermakna untuk membantu kita menjalani kehidupan. Yesus juga memiliki sahabat, dan Ia berpaling kepada mereka pada saat-saat paling menentukan dalam pengalaman manusiawi-Nya. Dalam sejarah Gereja ada beberapa tetapan yang menyertai komunitas orang percaya : pertama-tama, kasih sayang yang besar dan ikatan yang sangat kuat yang selalu dirasakan Gereja terhadap Maria, Bunda Allah dan Bunda kita. Tetapi juga kehormatan dan kasih sayang khusus yang ia berikan kepada Santo Yosef. Terutama, Allah mempercayakan kepadanya hal-hal paling berharga yang ia miliki : Putranya Yesus dan Perawan Maria. Berkat persekutuan para kudus, kita merasakan para santo dan santa yang menjadi pelindung kita — karena nama yang kita pakai, misalnya, karena Gereja tempat kita berada, karena tempat di mana kami tinggal, dan seterusnya, serta melalui devosi pribadi — dekat dengan kita. Dan kepercayaan inilah yang harus selalu menjiwai kita untuk berpaling kepada mereka di saat-saat yang menentukan dalam hidup kita. Kepercayaan ini bukan semacam sihir, bukan takhayul, tetapi devosi kepada para kudus. Kepercayaan ini hanya berbicara dengan saudara, saudari, yang berada di hadirat Allah, yang telah menjalani kehidupan yang benar, kehidupan keteladanan, dan sekarang berada di hadirat Allah. Dan saya berbicara dengan saudara ini, saudari ini, dan memohon pengantaraan mereka untuk kebutuhan yang saya miliki.

 

Justru karena alasan ini, saya ingin mengakhiri katekese ini dengan doa kepada Santo Yosef yang secara khusus saya lekatkan dan yang telah saya daraskan setiap hari selama lebih dari 40 tahun. Doa tersebut saya temukan dalam buku doa tarekat Suster Yesus dan Maria, dari tahun 1700-an, akhir abad kedelapan belas. Doa kepada sahabat ini, bapa ini, penjaga kita ini, Santo Yosef, sangat indah, bahkan melebihi sebuah doa merupakan sebuah tantangan. Alangkah indahnya jika kamu dapat mempelajari doa ini dan mengulanginya. Saya akan membacanya.

 

“Santo Yosef, bapa yang mulia, yang kekuatannya membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, datanglah untuk menolongku di saat penderitaan dan kesulitan ini. Enyahkanlah di bawah perlindunganmu situasi serius dan mengganggu yang kumohonkan kepadamu, agar didapat kesudahan yang membahagiakan. Bapaku yang tercinta, segenap kepercayaanku ada padamu. Segenap kepercayaanku ada padamu. Agar jangan terucap aku memanggilmu dengan sia-sia, dan karena engkau dapat melakukan segalanya bersama Yesus dan Maria, tunjukkanlah kepadaku kebaikanmu sama besarnya dengan kekuatanmu. Amin".

 

Dan diakhiri dengan sebuah tantangan, ini untuk menantang Santo Yosef : “Engkau dapat melakukan segalanya bersama Yesus dan Maria, tunjukkanlah kepadaku kebaikanmu sama besarnya dengan kekuatanmu”. Ini adalah sebuah doa… Saya telah mempercayakan diri saya kepada Santo Yosef setiap hari dengan doa ini selama lebih dari 40 tahun : sebuah doa kuno. Amin.

 

Beberapa menit yang lalu, kita mendengar seseorang berteriak, berteriak, yang memiliki semacam masalah, saya tidak tahu entah masalah fisik, psikologis, rohani : tetapi ia salah seorang saudara kita yang bermasalah. Saya ingin mengakhiri dengan mendoakannya, saudara kita yang sedang menderita, malang : jika ia berteriak itu karena ia sedang menderita, ia memiliki beberapa kebutuhan. Jangan sampai kita tuli terhadap kebutuhan saudara ini. Mari kita bersama-sama berdoa kepada Bunda Maria untuknya :

 

Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu,

terpujilah engkau di antara wanita,

dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.

Santa Maria, bunda Allah,

doakanlah kami yang berdosa ini

sekarang dan waktu kami mati. Amin.

 

Marilah kita maju, memiliki keberanian, dalam persekutuan semua orang kudus yang kita miliki di surga dan di bumi ini : Tuhan tidak meninggalkan kita. Terima kasih.

 

[Seruan]

 

Sudah setahun ini, kita menyaksikan kekerasan di Myanmar dengan duka. Saya menggemakan seruan para uskup Myanmar agar masyarakat internasional bekerja untuk rekonsiliasi di antara pihak-pihak terkait. Kita tidak bisa berpaling dari penderitaan begitu banyak saudara dan saudari kita. Marilah kita memohon kepada Allah dalam doa untuk penghiburan penduduk yang tersiksa ini. Kepada-Nya kita mempercayakan upaya kita untuk perdamaian.

 

* * *

 

Lusa, 4 Februari, kita akan merayakan Hari Persaudaraan Manusia Internasional yang kedua. Merupakan suatu kepuasan bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia untuk bergabung dalam perayaan ini, yang bertujuan untuk mempromosikan dialog antaragama dan antarbudaya, sebagaimana juga diserukan dalam Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Beragama, yang ditandatangani pada 4 Februari 2019 di Abu Dhabi, oleh Imam Besar Al-Azhar, Muhammad Amad al-Tayyib, dan oleh saya sendiri. Persaudaraan berarti menjangkau orang lain, menghormati dan mendengarkan mereka dengan hati terbuka. Saya berharap langkah-langkah nyata diambil bersama-sama dengan pemeluk agama lain, dan juga dengan orang-orang yang berkehendak baik, untuk menegaskan bahwa hari ini adalah masa persaudaraan, menghindari memicu bentrokan, perpecahan, dan ketertutupan. Marilah kita berdoa dan berketetapan hati setiap hari agar kita semua bisa hidup damai, sebagai saudara.

 

* * *

 

Olimpiade Musim Dingin dan Paralimpiade akan dibuka di Beijing, masing-masing pada tanggal 4 Februari dan 4 Maret. Saya dengan hangat menyapa semua peserta. Saya berharap kesuksesan penyelenggaraan dan para atlet memberikan yang terbaik. Olahraga, dengan bahasa semestanya, dapat membangun jembatan persahabatan dan kesetiakawanan antarpribadi dan masyarakat dari semua budaya dan agama. Oleh karena itu saya menghargai fakta bahwa pada moto Olimpiade yang bersejarah "Citius, Altius, Fortius" — yaitu, "lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat" — Komite Olimpiade Internasional telah menambahkan kata "communiter", yaitu, "bersama-sama": jadi bahwa Olimpiade dapat membawa dunia yang lebih bersaudara. Bersama-sama.

 

Dengan pemikiran khusus saya merangkul segenap dunia Paralimpiade : kita akan memenangkan medali terpenting bersama-sama, jika teladan atlet penyandang disabilitas membantu semua orang mengatasi prasangka dan ketakutan serta membuat komunitas kita lebih ramah dan menyertakan. Inilah medali emas yang sebenarnya. Saya juga mengikuti dengan penuh perhatian dan emosi kisah-kisah pribadi para atlet pengungsi. Semoga kesaksian mereka membantu mendorong masyarakat sipil untuk membuka diri dengan lebih percaya diri kepada semua orang, tanpa meninggalkan siapa pun. Saya berharap keluarga besar Olimpiade dan Paralimpiade mendapat pengalaman unik persaudaraan dan perdamaian manusia : berbahagialah para pembawa damai!

 

[Sapaan khusus]

 

Saya mengucapkan selamat datang kepada para peziarah berbahasa Italia. Secara khusus, saya menyapa para imam yang ambil bagian dalam kursus yang digagas oleh Universitas Santa Croce; kelompok "Amici di Spello"; dan Paduan Suara "Tau" Suster-suster Saudara Dina Misionaris Fransiskan.

 

Akhirnya, pikiran saya tertuju, seperti biasa, kepada kaum tua, orang-orang sakit, kaum muda, dan para pengantin baru. Hari ini kita merayakan Yesus Dipersembahkan di Bait Allah. Dari misteri ini muncul pesan untuk semua : Kristus menampilkan diri-Nya sebagai teladan dalam persembahan-Nya kepada Bapa, menunjukkan dengan kemurahan hati betapa perlunya menaati kehendak Allah dan melayani saudara-saudari kita. Dan juga, hari ini adalah hari raya “perjumpaan”, perjumpaan Yesus dengan umat-Nya, dan juga terutama perjumpaan kanak Yesus dengan para tetua. Saya menganjurkan agar kita terus mengembangkan sikap perjumpaan antara anak-anak dan kakek-nenek, kaum muda dan kaum tua: ini adalah cadangan kemanusiaan yang kita miliki. Kaum tua memberi kita kekuatan untuk melanjutkan, ingatan mereka, sejarah mereka; dan kaum muda memajukannya. Marilah kita juga bekerja untuk perjumpaan cucu dengan kakek-nenek, kaum muda dengan kaum tua ini.

 

Berkat saya untuk semua!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikanoleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari yang terkasih : Dalam katekese lanjutan kita tentang Santo Yosef, kita telah melihat bagaimana Gereja, dengan merenungkan pesan Injil, telah bertumbuh dalam devosi kepada santo yang agung ini. Penghormatan kita kepada para kudus dan kepercayaan kita kepada pengantaraan mereka didasarkan pada misteri Gereja sebagai “persekutuan para kudus”, yang ditebus oleh kurban keselamatan Kristus dan dipersatukan dengan-Nya sebagai anggota tubuh mistik-Nya. Keyakinan kita dalam pengantaraan mereka lahir dari persatuan kita dengan mereka di dalam Kristus, dan ikatan kesetiakawanan rohani yang mempersatukan Gereja yang masih berziarah di bumi dengan para kudus di surga. Umat Kristiani selalu berpaling kepada para kudus sebagai sahabat Kristus dan, akibatnya, sebagai sahabat kita, mereka selalu siap membantu dan mendukung kita pada saat-saat menentukan dalam hidup kita. Di antara para kudus, Gereja secara khusus memuliakan Santa Perawan Maria, Bunda Allah dan Bunda kita. Demikian pula, kita secara khusus menghormati Santo Yosef, yang diberi kepercayaan oleh Allah untuk memelihara Keluarga Kudus. Dengan menggemakan doa yang telah saya panjatkan setiap hari selama bertahun-tahun, marilah kita semua menempatkan diri kita di bawah perlindungan Santo Yosef dan memintanya untuk memberitahukan kita, dalam persatuan dengan Yesus dan Maria, besarnya kekuatan persahabatan dan kasihnya.

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 2 Februari 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 30 Januari 2022 : TEMUKAN YESUS DALAM DIRI ORANG-ORANG TERDEKATMU SETIAP HARI

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Dalam liturgi hari ini, Bacaan Injil menceritakan khotbah pertama Yesus di kota kelahirannya, Nazaret. Hasilnya pahit : bukannya menerima persetujuan, Yesus menemukan ketidakpahaman dan bahkan permusuhan (bdk. Luk 4:21-30). Orang-orang di tempat asal-Nya, alih-alih kata-kata kebenaran, menginginkan mukjizat dan tanda-tanda yang luar biasa. Tuhan tidak memperlihatkannya dan mereka menolak-Nya, karena mereka mengatakan telah mengenal-Nya sejak kecil : ia adalah anak Yusuf (bdk. ayat 22), dan seterusnya. Oleh karena itu Yesus mengucapkan sebuah ungkapan yang telah menjadi sebuah pepatah: “Sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya” (ayat 24).

 

Kata-kata ini mengungkapkan bahwa kegagalan Yesus tidak sepenuhnya tidak terduga. Ia tahu bangsa-Nya, Ia tahu hati bangsa-Nya, Ia tahu risiko yang dihadapi-Nya, Ia memperhitungkan penolakan. Dan, maka, kita mungkin bertanya-tanya : tetapi jika seperti ini, jika Ia melihat kegagalan, mengapa Ia pergi ke tempat asal-Nya jika sama saja? Mengapa berbuat baik kepada orang yang tidak mau menerimamu? Sebuah pertanyaan yang terlalu sering kita tanyakan pada diri kita sendiri. Justru sebuah pertanyaan yang membantu kita memahami Allah dengan lebih baik. Berhadapan dengan ketertutupan kita, Ia tidak menarik diri : Ia tidak mengerem kasih-Nya. Berhadapan dengan ketertutupan kita, Ia berjalan maju. Kita melihat cerminan hal ini dalam diri para orangtua yang menyadari anak-anak mereka tidak tahu berterima kasih, tetapi tidak berhenti mengasihi mereka dan berbuat baik kepada mereka karena hal ini. Allah sama, tetapi pada tingkatan yang jauh lebih tinggi. Dan hari ini Ia mengundang kita juga untuk percaya pada kebaikan, melakukan segala kemungkinan untuk melakukan kebaikan.

 

Tetapi, dalam apa yang terjadi di Nazaret kita juga menemukan sesuatu yang lain. Permusuhan terhadap Yesus di pihak bangsa-Nya menggugah kita : mereka tidak menyambut – tetapi bagaimana dengan kita? Untuk menperjelas hal ini, marilah kita lihat model penerimaan yang ditawarkan Yesus hari ini, kepada kita dan kepada orang-orang di tempat asal-Nya. Modelnya adalah dua orang asing : seorang janda dari Sarfat di tanah Sidon dan Naaman, orang Siria. Keduanya menyambut para nabi : janda dari Sarfat menyambut Elia, Naaman menyambut Elisa. Tetapi itu bukan penerimaan yang mudah, melalui cobaan. Janda itu menyambut Elia, meski sedang kelaparan dan sang nabi dianiaya (bdk. 1 Raj 17:7-16), ia dianiaya karena alasan politik dan keagamaan. Naaman, di sisi lain, meskipun seorang pejabat tinggi, menerima permintaan nabi Elisa, yang menuntunnya untuk merendahkan diri, mandi tujuh kali di sungai (bdk. 2 Raj 5:1-14), seolah-olah ia adalah anak yang bodoh. Janda dari Sarfat dan Naaman, singkatnya, diterima melalui kesiapan dan kerendahan hati. Jalan menerima Allah adalah selalu siap, menyambut-Nya dan rendah hati. Iman melalui jalan ini : kesiapan dan kerendahan hati. Janda dari Sarfat dan Naaman tidak menolak jalan Allah dan para nabi-Nya; mereka taat, tidak kaku dan tertutup.

 

Saudara-saudari, Yesus juga mengikuti jalan para nabi : Ia menampilkan diri-Nya tidak seperti dugaan kita. Ia tidak ditemukan oleh orang-orang yang mencari mukjizat – jika kita mencari mukjizat, kita tidak akan menemukan Yesus – oleh orang-orang yang mencari sensasi baru, pengalaman intim, hal-hal luar biasa; orang-orang yang mencari iman yang berupa kuasa dan tanda-tanda lahiriah. Tidak, mereka tidak akan menemukannya. Sebaliknya, Ia hanya ditemukan oleh orang-orang yang menerima jalan dan tantangan-Nya, tanpa keluh-kesah, tanpa kecurigaan, tanpa kritik dan muka masam. Dengan kata lain, Yesus memintamu untuk menerima-Nya dalam kenyataan sehari-hari yang kamu jalani; di dalam Gereja dewasa ini, sebagaimana adanya; dalam diri orang-orang yang dekat denganmu setiap hari; dalam kenyataan orang-orang yang membutuhkan, dalam masalah keluargamu, dalam orangtuamu, dalam anak-anakmu, dalam kakek-nenekmu, dalam menyambut Allah di sana. Ia ada di sana, mengundang kita untuk menyucikan diri di sungai kesediaan dan di banyak pemandian kerendahan hati yang menyehatkan. Dibutuhkan kerendahan hati untuk berjumpa Allah, untuk membiarkan diri kita dijumpai oleh-Nya.

 

Dan kita, apakah kita menyambut atau kita mirip dengan orang-orang di tempat asal-Nya, yang percaya bahwa mereka tahu segalanya tentang Dia? “Aku belajar teologi, aku mengambil kursus katekese… Aku tahu segalanya tentang Yesus!” Ya, seperti orang bodoh! Jangan bodoh, kamu tidak mengenal Yesus. Mungkin, setelah bertahun-tahun sebagai orang percaya, kita sering berpikir bahwa kita mengenal Tuhan dengan baik, dengan gagasan dan penilaian kita. Risikonya adalah kita terbiasa, kita terbiasa dengan Yesus. Dan dengan cara ini, bagaimana kita menjadi terbiasa? Kita menutup diri, kita menutup diri terhadap kebaruan-Nya, pada saat Ia mengetuk pintu kita dan meminta kepadamu sesuatu yang baru, dan ingin masuk ke dalam dirimu. Kita harus berhenti terpaku pada posisi kita. Dan ketika orang memiliki pikiran terbuka, hati yang sederhana, ia memiliki kemampuan untuk terkejut, bertanya-tanya. Tuhan selalu mengejutkan kita : inilah indahnya perjumpaan dengan Yesus. Sebaliknya, Tuhan meminta kita untuk berpikiran terbuka dan berhati sederhana. Semoga Bunda Maria, teladan kerendahan hati dan kesediaan, menunjukkan kepada kita jalan untuk menyambut Yesus.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara dan saudari terkasih,

 

Hari ini adalah Hari Kusta Sedunia. Saya mengungkapkan kedekatan saya dengan orang-orang yang menderita penyakit ini, dan saya berharap tidak akan ada kekurangan bantuan rohani dan bantuan kesehatan. Perlu kerjasama menuju penyatupaduan penuh orang-orang ini, mengatasi segala bentuk diskriminasi yang terkait dengan penyakit yang sayangnya masih menimpa banyak orang, terutama dalam konteks sosial orang-orang yang paling tidak beruntung.

 

Lusa, 1 Februari, Tahun Baru Imlek akan dirayakan di Timur Jauh, serta berbagai belahan dunia lainnya. Saya menyampaikan salam hormat saya, dan menyampaikan harapan agar di Tahun Baru semua orang dapat menikmati perdamaian, kesehatan, serta kehidupan yang damai dan aman. Betapa indahnya ketika keluarga-keluarga menemukan kesempatan untuk berkumpul bersama serta mengalami saat kasih dan sukacita! Sayangnya, banyak keluarga yang tidak bisa berkumpul tahun ini berhubung pandemi. Semoga kita bisa segera melewati cobaan ini. Akhirnya, saya berharap agar, berkat niat baik pribadi maupun kesetiakawanan bangsa-bangsa, segenap keluarga umat manusia akan dapat mencapai dengan dinamisme tujuan kemakmuran materi dan rohani.

 

Pada malam pesta Santo Yohanes Bosco, saya ingin menyapa para Salesian dan para wanita Salesian, yang melakukan begitu banyak kebaikan dalam Gereja. Saya mengikuti Misa yang dirayakan di Gua Maria Penolong Umat Kristiani [di Turin] oleh Rektor Utama Ángel Fernández Artime, saya mendoakan bersamanya semua orang. Kita memikirkan santo yang agung ini, bapa dan guru kaum muda. Ia tidak menutup diri dalam sakristi, ia tidak menutup diri dalam urusan pribadinya. Ia turun ke jalan untuk mencari kaum muda, dengan kreativitas yang menjadi ciri khasnya. Salam hangat untuk semua Salesian!

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari seluruh dunia. Secara khusus, saya menyapa umat Torrejón de Ardoz, Spanyol, dan para siswa dari Murça, Portugal.

 

Dengan penuh kasih sayang saya menyapa anak laki-laki dan perempuan Aksi Katolik Keuskupan Roma! Mereka di sini berkelompok. Kaum muda yang terkasih, tahun ini juga, ditemani oleh para orangtua, para pendidik, dan para imam pembantumu, kamu telah datang – sebuah kelompok kecil, berhubung pandemi – di akhir Karavan untuk Perdamaian. Sloganmu adalah "Marilah kita pulihkan perdamaian". Sebuah slogan yang bagus! Sebuah slogan penting! Ada kebutuhan besar untuk “memulihkan”, mulai dari hubungan pribadi kita, hingga hubungan antarnegara. Terima kasih! Teruskan! Dan sekarang kamu akan melepaskan balon sebagai tanda harapan… di sana! Sebuah tanda harapan bahwa kaum muda Roma sedang membawakan kita hari ini, “karavan untuk perdamaian” ini.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 30 Januari 2022)