Liturgical Calendar

PESAN PASKAH DAN BERKAT URBI ET ORBI PAUS FRANSISKUS 17 April 2022

Saudara-saudari terkasih, selamat Paskah!

 

Yesus, Dia yang Tersalib, telah bangkit! Ia berdiri di tengah-tengah orang-orang yang meratapi-Nya, mengunci diri di balik pintu-pintu tertutup serta penuh ketakutan dan penderitaan. Ia datang kepada mereka dan berkata : "Damai sejahtera bagi kamu!" (Yoh 20:19). Ia memperlihatkan luka di tangan dan kaki-Nya, serta luka di lambung-Nya. Ia bukan hantu; sungguh Yesus, Yesus yang wafat di kayu salib dan dibaringkan di dalam kubur itu. Di depan mata para murid yang ragu, Ia mengulangi : "Damai sejahtera bagi kamu!" (ayat 21).

 

Mata kita juga meragukan Paskah peperangan ini. Kita telah melihat terlalu banyak darah, terlalu banyak kekerasan. Hati kita juga dipenuhi ketakutan dan kesedihan, karena begitu banyak saudara-saudari kita harus mengunci diri agar aman dari pengeboman. Kita bergumul untuk percaya bahwa Yesus sungguh telah bangkit, bahwa Ia sungguh telah menang atas maut. Mungkinkah sebuah khayalan? Sebuah isapan jempol imajinasi kita?

 

Tidak, bukan khayalan! Hari ini, melebihi sebelumnya, kita mendengar gema maklumat Paskah yang begitu digandrungi umat Kristiani Timur : “Kristus telah bangkit! Ia sungguh bangkit!” Hari ini, melebihi sebelumnya, kita membutuhkan-Nya, di akhir masa Prapaskah yang seakan-akan tidak ada habisnya. Kita muncul dari dua tahun pandemi, yang memakan banyak korban. Sudah waktunya bersama-sama muncul dari terowongan, bergandengan tangan, menyatukan kekuatan dan sumber daya kita... Sebaliknya, kita menunjukkan bahwa kita belum memiliki roh Yesus di dalam diri kita tetapi roh Kain, yang tidak melihat Habel sebagai saudara, tetapi sebagai saingan, dan memikirkan cara untuk menyingkirkannya. Kita membutuhkan Tuhan yang disalibkan dan bangkit agar kita dapat percaya pada kemenangan kasih, dan mengharapkan rekonsiliasi. Hari ini, melebihi sebelumnya, kita membutuhkan-Nya untuk berdiri di tengah-tengah kita dan mengulangi kepada kita : “Damai sejahtera bagi kamu!”

 

Hanya Dia yang bisa melakukannya. Hari ini, hanya Dia yang berhak berbicara kepada kita tentang perdamaian. Hanya Yesus, karena Ia menanggung luka-luka … luka-luka kita. Luka-luka-Nya memang luka-luka kita, karena dua alasan. Luka-luka-Nya adalah luka-luka kita karena kita menimpakannya kepada-Nya akibat dosa-dosa kita, kekerasan hati kita, kebencian kita yang membunuh persaudaraan. Luka-luka-Nya juga adalah luka-luka kita karena Ia menanggungnya demi kita; Ia tidak meniadakannya dari tubuh-Nya yang mulia; Ia memilih untuk menyimpannya selamanya. Luka-luka-Nya adalah meterei kasih-Nya yang tak terhapuskan demi kita, tindakan pengantaraan kekal, sehingga Bapa surgawi, dengan memandangnya, akan berbelas kasih kepada kita dan seluruh dunia. Luka-luka di tubuh Yesus yang bangkit adalah tanda pertempuran yang Ia perjuangkan dan menangkan demi kita, dimenangkan dengan senjata kasih, agar kita dapat memiliki damai sejahtera dan tinggal dalam damai sejahtera.

 

Saat kita merenungkan luka-luka yang mulia tersebut, mata kita yang ragu terbuka lebar; hati kita yang mengeras terbuka dan kita menyambut pesan Paskah : “Damai sejahtera bagi kamu!”

 

Saudara-saudari, marilah kita memperkenankan damai sejahtera Kristus memasuki hidup kita, rumah kita, negara kita!

 

Semoga ada perdamaian untuk Ukraina yang dilanda perang, yang begitu tersiksa dengan kekerasan dan kehancuran perang yang kejam dan tak berperikemanusiaan yang menyeretnya. Di malam penderitaan dan kematian yang mengerikan ini, semoga fajar pengharapan baru segera muncul! Biarlah ada keputusan untuk perdamaian. Semoga ada akhir sehingga orang-orang yang sedang menderita dapat melenturkan otot. Tolong, tolong, jangan biarkan kita terbiasa dengan perang! Marilah kita semua berketetapan hati untuk memohon perdamaian, dari balkon kita dan di jalan-jalan kita! Perdamaian! Semoga para pemimpin bangsa mendengarkan rakyat yang memohon perdamaian. Semoga mereka mendengarkan pertanyaan meresahkan yang diajukan oleh para ilmuwan hampir tujuh puluh tahun yang lalu : "Haruskah kita mengakhiri umat manusia, atau akankah umat manusia meninggalkan perang?" (Manifesto Russell-Einstein, 9 Juli 1955).

 

Saya menyimpan dalam hati saya seluruh korban Ukraina, jutaan pengungsi dan orang-orang terlantar, keluarga-keluarga yang tercerai-berai, para orang tua yang dibiarkan sendirian, kehidupan yang hancur dan kota-kota yang rata dengan tanah. Saya melihat wajah anak-anak yatim piatu yang melarikan diri dari perang. Saat kita melihat mereka, kita tidak bisa tidak mendengar jeritan penderitaan mereka, bersama dengan seluruh anak lain yang menderita di seluruh dunia : mereka yang mendekati ajal karena kelaparan atau kekurangan perawatan medis, mereka yang menjadi korban pelecehan dan kekerasan, dan mereka yang ditolak haknya untuk dilahirkan.

 

Di tengah penderitaan perang, ada juga tanda-tanda yang membesarkan hati, seperti pintu terbuka seluruh keluarga dan komunitas yang sedang menyambut para migran dan para pengungsi di seluruh Eropa. Semoga banyaknya perbuatan amal kasih ini menjadi berkat bagi masyarakat kita, yang terkadang dilecehkan oleh keegoisan dan individualisme, dan membantu membuat mereka menyambut semua orang.

 

Semoga pertikaian di Eropa juga membuat kita semakin peduli terhadap situasi pertikaian, penderitaan dan kesedihan lainnya, situasi yang mempengaruhi begitu banyak wilayah di dunia kita, situasi yang tidak dapat kita abaikan dan tidak ingin kita lupakan.

 

Semoga ada perdamaian di Timur Tengah, yang dilanda pertikaian dan perpecahan selama bertahun-tahun. Pada hari yang mulia ini, marilah kita memohon perdamaian di Yerusalem dan perdamaian bagi semua orang yang mengasihinya (bdk. Mzm 121 [122]), baik umat Kristiani, Yahudi, maupun Muslim. Semoga rakyat Israel, rakyat Palestina dan semua orang yang tinggal di Kota Suci, bersama dengan para peziarah, mengalami indahnya perdamaian, tinggal dalam persaudaraan dan menikmati akses gratis ke tempat-tempat suci dengan saling menghormati hak masing-masing.

 

Semoga ada perdamaian dan rekonsiliasi bagi rakyat Lebanon, Suriah dan Irak, dan khususnya bagi seluruh komunitas Kristiani di Timur Tengah.

 

Semoga ada perdamaian untuk Libya juga, sehingga dapat menemukan stabilitas setelah bertahun-tahun ketegangan, dan untuk Yaman, yang menderita akibat pertikaian yang terlupakan oleh semua orang, dengan korban terus menerus : semoga gencatan senjata yang ditandatangani dalam beberapa hari terakhir memulihkan pengharapan bagi rakyatnya.

 

Kita memohonkan kepada Tuhan yang bangkit karunia rekonsiliasi untuk Myanmar, di mana skenario dramatis kebencian dan kekerasan berlanjut, dan untuk Afghanistan, di mana ketegangan sosial yang berbahaya tidak mereda dan krisis kemanusiaan yang tragis membawa penderitaan besar bagi rakyatnya.

 

Semoga ada perdamaian untuk seluruh benua Afrika, sehingga eksploitasi yang dideritanya dan pendarahan yang disebabkan oleh serangan teroris – khususnya di wilayah Sahel – dapat terhenti, dan dapat menemukan dukungan nyata dalam persaudaraan bangsa-bangsa. Semoga jalan dialog dan rekonsiliasi dilakukan lagi di Etiopia, yang terkena dampak krisis kemanusiaan yang serius, dan semoga kekerasan di Republik Demokratik Kongo diakhiri. Semoga tidak ada ketiadaan doa dan kesetiakawanan bagi penduduk di bagian timur Afrika Selatan yang dilanda banjir bandang.

 

Semoga Kristus yang bangkit menyertai dan membantu rakyat Amerika Latin, yang dalam beberapa kasus telah melihat kondisi sosial mereka memburuk di masa pandemi yang sulit ini, diperburuk juga oleh kasus-kasus kejahatan, kekerasan, korupsi dan perdagangan narkoba.

 

Marilah kita memohon kepada Tuhan yang telah bangkit untuk menyertai perjalanan rekonsiliasi dengan masyarakat adat yang dilakukan Gereja Katolik di Kanada. Semoga Roh Kristus yang bangkit menyembuhkan luka masa lalu serta mengarahkan hati untuk mencari kebenaran dan persaudaraan.

 

Saudara-saudari terkasih, setiap perang membawa akibat yang mempengaruhi seluruh keluarga manusia : dari kesedihan dan duka hingga drama pengungsi, serta hingga krisis ekonomi dan pangan, tanda-tanda yang sudah kita lihat. Dihadapkan dengan tanda-tanda perang yang terus berlanjut, serta banyak kemerosotan hidup yang menyakitkan, Yesus Kristus, sang pemenang atas dosa, ketakutan dan maut, menasihati kita untuk tidak menyerah pada kejahatan dan kekerasan. Saudara-saudari, semoga kita dimenangkan berkat damai sejahtera Kristus! Perdamaian itu mungkin; perdamaian adalah kewajiban; perdamaian adalah tanggung jawab utama setiap orang!

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 17 April 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 13 April 2022 : TENTANG PEKAN SUCI

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Kita berada di pertengahan Pekan Suci, yang berlangsung dari Hari Minggu Palma hingga Hari Minggu Paskah. Kedua hari Minggu ini berciri khas pesta yang berlangsung di sekitar Yesus. Tetapi keduanya adalah dua pesta yang berbeda.

 

Hari Minggu lalu, kita melihat Kristus dengan meriah memasuki Yerusalem, bagaikan sebuah pesta, disambut sebagai Mesias : pakaian (bdk. Luk 19:36) dan potongan ranting-ranting dari pohon-pohon (bdk. Mat 21:8) dihamparkan di hadapan-Nya. Orang banyak yang sangat besar jumlahnya yang bergembira dengan suara nyaring memberkati "Raja yang datang", dan berseru "Damai sejahtera di surga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!" (Luk 19:38). Orang-orang di sana merayakannya karena mereka melihat masuknya Yesus sebagai kedatangan sang raja baru, yang akan membawa kedamaian dan kemuliaan. Itulah kedamaian yang sedang ditunggu-tunggu oleh orang-orang itu : kedamaian yang jaya, buah campur tangan rajawi, buah seorang mesias yang berkuasa yang akan membebaskan Yerusalem dari pendudukan Romawi. Yang lain mungkin memimpikan pembentukan kembali kedamaian sosial dan melihat Yesus sebagai raja yang ideal, yang akan memberi makan orang banyak dengan roti, sebagaimana yang telah Ia lakukan, dan akan melakukan mukjizat-mukjizat besar, sehingga membawa lebih banyak keadilan ke dunia.

 

Tetapi Yesus tidak pernah membicarakan hal ini. Ia memiliki Paskah yang berbeda di hadapan-Nya, bukan Paskah kemenangan. Satu-satunya hal yang Ia khawatirkan dalam persiapan-Nya memasuki Yerusalem adalah mengendarai "keledai muda yang tertambat yang belum pernah ditunggangi orang" (ayat 30). Beginilah cara Kristus membawa damai sejahtera ke dalam dunia : melalui kelemahlembutan, yang dilambangkan dengan keledai muda yang tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Tak seorang pun, karena cara Allah melakukan sesuatu berbeda dengan dunia. Memang, tepat sebelum Paskah, Yesus menjelaskan kepada para murid-Nya, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu” (Yoh 14:27). Itulah dua pendekatan yang berbeda : cara dunia memberi kita damai sejahtera, dan cara Allah memberi kita damai sejahtera. Keduanya berbeda.

 

Damai sejahtera yang diberikan Yesus kepada kita pada Paskah bukanlah damai sejahtera yang mengikuti strategi dunia, yang percaya bahwa damai sejahtera tersebut dapat diperoleh melalui kekerasan, penaklukan dan dengan berbagai bentuk pemaksaan. Damai sejahtera ini, pada kenyataannya, hanyalah jeda di antara peperangan : kita sangat menyadari hal ini. Damai sejahtera Tuhan mengikuti jalan kelemahlembutan dan salib : damai sejahtera Tuhan bertanggung jawab terhadap orang lain. Memang, Kristus menanggung kejahatan, dosa, dan kematian kita. Ia menanggung semua ini. Dengan cara ini Ia membebaskan kita. Ia menebus kita. Damai sejahtera-Nya bukan buah dari suatu kompromi, melainkan lahir dari pemberian diri. Namun, damai sejahtera yang lemah lembut dan berani ini sulit diterima. Bahkan, orang banyak yang mengelu-elukan Yesus itu pun beberapa hari kemudian akan berteriak, “Salibkan Dia!” serta, takut dan kecewa, tidak akan mengacungkan jari untuk-Nya.

 

Dalam hal ini, kisah luar biasa karya Dostoevsky, yang berjudul Legenda Sang Imam Besar, selalu relevan. Karya tersebut menceritakan Yesus yang, setelah beberapa abad, kembali ke bumi. Ia segera disambut oleh orang banyak yang bersukacita, yang mengenali dan mengelu-elukan-Nya. “Ah, Engkau telah kembali! Marilah, ikutlah kami!”. Tetapi kemudian Ia ditangkap oleh sang imam besar, yang mewakili nalar duniawi. Sang imam besar menginterogasi-Nya dan mengecam-Nya dengan kejam. Alasan terakhir sang pengecam yaitu Kristus, meskipun Ia bisa, tidak pernah ingin menjadi Kaisar, raja terbesar di dunia ini, lebih memilih untuk membebaskan umat manusia ketimbang menaklukkannya dan menyelesaikan masalahnya dengan paksa. Ia bisa saja membangun damai sejahtera di dunia, menaklukkan hati manusia yang bebas tetapi berbahaya dengan kekuatan dari kekuasaan yang lebih tinggi, tetapi Ia memilih untuk tidak melakukannya : Ia menghormati kebebasan kita. “Seandainya Engkau menerima dunia dan ungu Kaisar, Engkau akan mendirikan negara semesta dan memberikan damai sejahtera semesta” (Karamazov Bersaudara, Milan 2012, 345); dan dengan kalimat cacian ia menyimpulkan, “Karena itu, Engkaulah yang pantas mendapatkan bara kami” (348). Inilah penipuan yang berulang sepanjang sejarah, godaan akan damai sejahtera palsu, berdasarkan kekuasaan, yang kemudian mengarah pada kebencian dan pengkhianatan terhadap Allah, dan banyak kepahitan di dalam jiwa.

 

Pada akhirnya, menurut cerita, sang imam besar “merindukan [Yesus] untuk mengatakan sesuatu, betapapun pahit dan mengerikannya”. Tetapi Yesus bereaksi dengan gerakan yang lembut dan nyata : “Ia tiba-tiba mendekati orang tua itu dalam diam dan dengan lembut mencium bibirnya yang menua dan tidak berdarah” (352). Damai sejahtera Yesus tidak mengalahkan orang lain; damai sejahtera Yesus bukan damai sejahtera bersenjata, tidak pernah! Senjata Injil adalah doa, kelemahlembutan, pengampunan dan kasih yang diberikan secara cuma-cuma kepada sesama kita, kasih kepada setiap sesama. Beginilah cara damai sejahtera Allah dibawa ke dunia. Inilah sebabnya mengapa agresi bersenjata akhir-akhir ini, seperti setiap perang, mewakili kemarahan terhadap Allah, pengkhianatan penuh hujatan terhadap Tuhan Paskah, kecenderungan terhadap wajah ilah palsu dunia ini daripada wajah-Nya yang lemah lembut. Perang selalu merupakan tindakan manusia, untuk mewujudkan penyembahan berhala kekuasaan.

 

Sebelum Paskah terakhir-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya : “Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh 14:27). Ya, karena sementara kekuatan duniawi hanya meninggalkan kehancuran dan kematian di belakangnya – kita telah melihat hal ini dalam beberapa hari terakhir – damai sejahtera-Nya membangun sejarah, mulai dari hati setiap orang yang menyambut kita. Oleh karena itu Paskah adalah hari raya Allah dan umat manusia yang sesungguhnya, karena damai sejahtera yang diperoleh Kristus di kayu salib dengan memberikan diri-Nya dibagikan kepada kita. Oleh karena itu, Kristus yang bangkit, pada Hari Raya Paskah, menampakkan diri kepada para murid, dan bagaimana Ia menyapa mereka? "Damai sejahtera bagi kamu!" (Yoh 20:19-21). Inilah salam Kristus yang menang, Kristus yang bangkit.

 

Saudara-saudari, Paskah berarti "perlintasan". Terutama, tahun ini adalah kesempatan yang berbahagia untuk beralih dari ilah duniawi menuju Allah Kristiani, dari keserakahan yang kita bawa dalam diri kita menuju amal kasih yang membebaskan kita, dari harapan damai sejahtera yang dibawa dengan paksa menuju ketetapan hati untuk menjadi saksi damai sejahtera Yesus yang sesungguhnya. Saudara-saudari, marilah kita menempatkan diri kita di hadapan Kristus yang tersalib, sumber damai sejahtera kita, dan memohon kepada-Nya damai sejahtera hati dan damai sejahtera di dunia.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, terutama mereka yang berasal dari Amerika Serikat. Semoga perayaan Paskah menjadi saat rahmat dan pembaruan bagi semua orang. Atas kamu masing-masing, dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera dalam Tuhan kita Yesus Kristus.

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih : Selama Pekan Suci ini, Gereja merayakan misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan kita. Hari Minggu lalu kita mengenangkan masuknya Yesus ke Yerusalem. Orang banyak mengelu-elukan-Nya sebagai Mesias yang akan membawa damai sejahtera yang jaya dengan membebaskan Yerusalem dari pendudukan Romawi. Namun damai sejahtera yang dibawa Yesus tidak menggunakan strategi dunia. Alih-alih menggunakan kekerasan, damai sejahtera datang melalui kerendahan hati dan kelemahlembutan yang membawa-Nya menuju Salib. Dengan wafat untuk dosa-dosa kita, Kristus telah membebaskan kita. Dalam novel karya Dostoyevsky, Karamazov Bersaudara, Imam Besar menuduh Yesus tidak menggunakan kekuatan-Nya untuk membangun damai sejahtera, melainkan menghormati kebebasan pribadi manusia. Memang, damai sejahtera yang dibawa Yesus tidak menggunakan kekuatan, tetapi hanya menggunakan "senjata" Injil : doa, pengampunan, dan belas kasihan untuk seluruh sesama kita. Ini, bukan kekerasan perang yang menghujat, adalah damai sejahtera Paskah; damai sejahtera yang mengubah sejarah dan hati semua orang yang menerimanya. Pekan ini, marilah kita mendekat kepada Kristus, yang disalibkan dan dibangkitkan, serta memohon karunia damai sejahtera-Nya di dalam hati kita dan dunia.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 13 April 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 10 April 2022

Saudara-saudari terkasih,

 

Sebelum mengakhiri Perayaan ini, saya ingin menyapa kamu semua, khususnya para peziarah dari berbagai negara, di antaranya banyak orang muda. Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat Pekan Suci, dan juga kepada mereka yang terhubung melalui media.

 

Saya dekat dengan rakyat Peru yang terkasih, yang sedang mengalami momen ketegangan sosial yang sulit. Saya menyertaimu dengan doa dan saya mendorong semua pihak untuk menemukan penyelesaian secara damai dan sesegera mungkin demi kebaikan negara, terutama rakyat yang paling miskin, menghormati hak setiap orang dan lembaga.

 

Sebentar lagi, kita akan menghadap Bunda Maria dengan Doa Malaikat Tuhan. Malaikat Tuhan sendiri yang berkata kepada Maria dalam Kabar Sukacita : “Bagi Allah tidak ada yang mustahil”. Bagi Allah tidak ada yang mustahil. Ia bahkan dapat mengakhiri perang yang akhir-akhirnya tidak kasat mata, perang yang setiap hari terjadi di depan mata kita, pembantaian mengerikan dan kekejaman keji yang dilakukan terhadap warga sipil yang tak berdaya. Mari kita mendoakan hal ini.

 

Kita berada di hari-hari sebelum Paskah. Kita sedang bersiap untuk merayakan kemenangan Tuhan Yesus Kristus atas dosa dan maut – atas dosa dan kematian – bukan atas seseorang dan melawan orang lain. Tetapi hari ini, ada perang. Karena ada sesuatu yang harus dimenangkan dengan cara ini, menurut cara dunia? Ini hanya merupakan cara untuk kalah. Mengapa tidak membiarkan Ia menang? Kristus memikul salib-Nya untuk membebaskan kita dari kuasa kejahatan. Ia wafat agar kehidupan, kasih, kedamaian berkuasa.

 

Marilah meletakkan senjata! Gencatan senjata Paskah dimulai. Tetapi tidak untuk menyediakan lebih banyak senjata dan memulai pertempuran lagi – tidak! – gencatan senjata yang akan mengarah pada perdamaian, melalui negosiasi nyata yang bahkan mengorbankan beberapa hal demi kebaikan rakyat. Sebenarnya, kemenangan apa yang didapat dari menancapkan bendera di atas tumpukan puing?

 

Bagi Allah tidak ada yang mustahil. Kita mempercayakan hal ini kepada-Nya melalui perantaraan Perawan Maria.

___


(Peter Suriadi - Bogor, 10 April 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN DI GRANARIES, FLORIANA, MALTA 3 April 2022

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya berterima kasih atas kata-kata baik Uskup Agung Scicluna atas namamu, tetapi saya benar-benar orang yang seharusnya berterima kasih kepadamu! Terima kasih banyak!

 

Saya ingin menyampaikan terima kasih saya kepada Presiden dan penguasa sipil Republik Malta, kepada saudara saya para Uskup, kepadamu, para imam, para pelaku hidup bakti, dan kepada semua warga dan umat beriman Malta dan Gozo yang terkasih atas kehangatan dan kasih sayangmu. Selamat datang. Petang ini, saya akan bertemu dengan beberapa saudara-saudari migran kita, dan kemudian tiba saatnya untuk kembali ke Roma. Saya akan membawa kembali banyak kenangan tentang peristiwa dan percakapan hari ini. Terutama, saya akan mengingat banyak wajahmu, serta wajah Malta yang bercahaya dan banyak gerakan yang baik! Saya berterima kasih kepada semua orang yang bekerja sangat keras untuk mempersiapkan kunjungan ini, dan dengan hormat saya menyapa saudara-saudari kita dari berbagai denominasi dan agama Kristiani yang telah saya temui hari ini. Saya meminta kamu semua untuk mendoakan saya, seperti yang saya lakukan kepadamu. Marilah kita saling mendoakan.

 

Kepulauan ini menghirup rasa Umat Allah. Semoga kamu terus melakukannya, sadar bahwa iman tumbuh dalam sukacita dan dikuatkan dalam memberi. Jalinlah hubungan lebih lanjut dalam rantai kekudusan yang telah menyebabkan begitu banyak orang Malta mengabdikan hidup mereka dengan antusias kepada Allah dan sesama. Saya memikirkan, misalnya, Dun orġ Preca, yang dikanonisasi lima belas tahun yang lalu. Akhirnya, saya ingin mengucapkan sepatah kata kepada kaum muda, yang merupakan masa depanmu. Para sahabat muda yang terkasih, saya ingin membagikan kepadamu hal terindah dalam hidup. Apakah kamu tahu apa itu? Sukacita memberikan diri kita sepenuhnya dalam kasih, yang membuat kita bebas. Sukacita itu memiliki sebuah nama : namanya adalah Yesus. Saya mengharapkanmu indahnya jatuh cinta kepada Yesus, yang adalah Allah belas kasihan - kita mendengar ini dalam Bacaan Injil hari ini - dan yang percaya kepadamu, bermimpi bersamamu, mengasihi hidupmu dan tidak akan pernah mengecewakanmu. Majulah selalu bersama Yesus, bersama keluargamu dan bersama Umat Allah; jangan lupakan akarmu. Berbicaralah dengan orang tuamu, berbicaralah dengan kakek-nenekmu, berbicaralah dengan kaum tua!

 

Semoga Tuhan menyertaimu, dan Bunda Maria menjagamu. Marilh kita sekarang berdoa kepadanya untuk perdamaian, saat kita memikirkan tragedi kemanusiaan yang terjadi di Ukraina yang dilanda perang, yang terus dibombardir dalam perang yang mencemarkan kekudusan. Semoga kita tidak kenal lelah dalam berdoa dan memberikan bantuan kepada mereka yang menderita. Damai sejahtera senatiasa besertamu!

_____


(Peter Suriadi - Bogor, 3 April 2022)