Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 12 Juni 2022 : ALLAH TRITUNGGAL MEREVOLUSI CARA HIDUP KITA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan hari Minggu yang terberkati!

 

Hari ini adalah Hari Raya Tritunggal Mahakudus, dan dalam Bacaan Injil perayaan tersebut Yesus menghadirkan dua Pribadi ilahi lainnya, Bapa dan Roh Kudus. Ia mengatakan tentang Roh Kudus : "Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang". Dan kemudian, tentang Bapa, Ia mengatakan : "Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya" (Yoh 16:13-15). Kita perhatikan bahwa Roh Kudus berbicara, tetapi bukan tentang diri-Nya sendiri : Ia memberitakan Yesus dan menyatakan Bapa. Dan kita juga memperhatikan bahwa Bapa, yang mempunyai segala sesuatu karena Ia adalah asal mula segala sesuatu, memberikan kepada Putra segala yang dipunyai-Nya : Ia tidak menyimpan apa pun untuk diri-Nya sendiri dan Ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Putra. Atau lebih tepatnya, Roh Kudus tidak berbicara tentang diri-Nya sendiri; Ia berbicara tentang Yesus, Ia berbicara tentang yang lain. Dan Bapa tidak memberikan diri-Nya sendiri, Ia memberikan Putra. Suatu kemurahan hati yang terbuka, yang satu terbuka terhadap yang lain.

 

Dan sekarang marilah kita melihat diri kita sendiri, apa yang kita bicarakan dan apa yang kita punyai. Ketika kita berbicara, kita selalu ingin mengatakan sesuatu yang baik tentang diri kita, dan seringkali, kita hanya berbicara tentang diri kita dan apa yang kita perbuat. Alangkah seringnya! "Aku telah berbuat ini dan itu ...", "Aku punya masalah ini ...". Kita selalu berbicara seperti ini. Alangkah berbedanya ini dengan Roh Kudus, yang berbicara dengan memberitakan yang lain, dan Bapa serta Putra! Dan, alangkah irinya kita dengan apa yang kita punyai. Alangkah sulitnya bagi kita untuk membagikan apa yang kita punyai kepada orang lain, bahkan kepada orang-orang yang tidak memiliki kebutuhan dasar! Berbicara itu mudah, tetapi melaksanakannya sulit.

 

Inilah sebabnya mengapa merayakan Tritunggal Mahakudus bukanlah pengamalan teologis, tetapi sebuah revolusi dalam cara hidup kita. Allah, yang di dalam Dia setiap Pribadi hidup untuk yang lain dalam hubungan yang terus-menerus, dalam kesesuaian yang terus-menerus, bukan untuk diri-Nya sendiri, menggugah kita untuk hidup bersama orang lain dan untuk orang lain. Terbukalah. Hari ini kita dapat bertanya pada diri kita sendiri apakah hidup kita mencerminkan Allah yang kita percayai : apakah aku, yang mengaku beriman kepada Allah Bapa dan Putra dan Roh Kudus, benar-benar percaya bahwa aku membutuhkan orang lain untuk hidup, aku perlu memberikan diri saya untuk orang lain, aku perlu melayani orang lain? Apakah aku menegaskan ini dengan kata-kata atau aku menegaskannya dengan hidupku?

 

Allah Tritunggal yang Esa, saudara-saudari terkasih, harus diwujudkan dengan cara ini – dengan perbuatan ketimbang kata-kata. Allah, yang adalah pencipta kehidupan, disampaikan bukan melalui buku-buku melainkan melalui kesaksian hidup. Ia yang, sebagaimana ditulis oleh penginjil Yohanes, “adalah kasih” (1 Yoh 4:16), menyatakan diri-Nya melalui kasih. Pikirkan tentang orang-orang baik, murah hati, lembut yang pernah kita temui; ingatlah cara berpikir dan bertindak mereka, kita dapat memiliki permenungan kecil Allah-Kasih. Dan apa artinya mengasihi? Tidak hanya berharap mereka baik dan menjadi baik untuk mereka, tetapi pertama-tama dan terutama, pada dasarnya, menyambut orang lain, terbuka terhadap orang lain, memberi ruangan bagi orang lain, memberi ruang bagi orang lain. Inilah artinya mengasihi, pada dasarnya.

 

Untuk memahami hal ini dengan lebih baik, marilah kita memikirkan nama-nama Pribadi ilahi, yang kita ucapkan setiap kali kita membuat Tanda Salib : setiap nama mengandung kehadiran Pribadi lainnya. Bapa, misalnya, tidak akan seperti itu tanpa Putra; demikian pula, Putra tidak dapat dianggap sendirian, tetapi selalu sebagai Putra Bapa. Dan Roh Kudus, pada gilirannya, adalah Roh Bapa dan Putra. Singkatnya, Allah Tritunggal mengajarkan kita bahwa yang satu tidak akan pernah bisa tanpa yang lain. Kita bukan kepulauan, kita berada di dunia untuk hidup menurut gambar Allah : terbuka, membutuhkan orang lain dan membutuhkan bantuan orang lain. Jadi, marilah kita mengajukan pada diri kita sendiri pertanyaan terakhir ini : dalam kehidupan sehari-hari, apakah aku juga mencerminkan Allah Tritunggal? Apakah tanda salib yang kubuat setiap hari – Bapa dan Putra dan Roh Kudus – Tanda Salib yang kita buat setiap hari, mengisyaratkan kepentingan kita, atau apakah Tanda Salib itu mengilhami caraku berbicara, bertemu, dari menanggapi, menilai, mengampuni?

 

Semoga Bunda Maria, putri Bapa, ibunda Putra dan mempelai Roh Kudus, membantu kita untuk menyambut dan memberikan kesaksian akan misteri Allah-Kasih dalam kehidupan.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Suster Paschalis Jahn dan sembilan suster martir dari Kongregasi Biarawati Santa Elisabet, terbunuh pada akhir Perang Dunia II dalam konteks yang memusuhi iman Kristiani, dibeatifikasi kemarin di Breslavia, Polandia. Meski sadar akan risiko yang mereka hadapi, kesepuluh biarawati ini tetap mendampingi para lansia dan orang sakit yang mereka rawat. Semoga teladan iman mereka kepada Kristus membantu kita semua, terutama umat Kristiani yang dianiaya di berbagai belahan dunia, untuk bersaksi tentang Injil dengan berani. Tepuk tangan meriah untuk para beata baru!

 

Dan sekarang saya ingin berbicara kepada rakyat dan para penguasa Republik Demokratik Kongo dan Sudan Selatan. Para sahabat terkasih, dengan sangat menyesal, karena kaki saya bermasalah, saya harus menunda kunjungan saya ke negaramu, yang direncanakan pada hari-hari pertama bulan Juli. Saya benar-benar merasa sangat sedih karena harus menunda perjalanan ini, yang sangat berarti bagi saya. Saya minta maaf atas hal ini. Marilah kita berdoa bersama agar, dengan pertolongan Tuhan dan perhatian medis, saya dapat bersamamu sesegera mungkin. Marilah kita berharap!

 

Hari ini adalah Hari Menentang Pekerja Anak Sedunia. Marilah kita semua bekerja untuk menyingkirkan momok ini, sehingga tidak ada anak yang dirampas hak-hak dasariahnya dan dibujuk atau dipaksa untuk bekerja. Eksploitasi anak untuk bekerja adalah situasi yang mengerikan yang mempengaruhi kita semua!

 

Pikiran terhadap rakyat Ukraina, yang menderita akibat perang, tetap hidup di hati saya. Biarlah berlalunya waktu tidak meredam kesedihan dan kepedulian kita terhadap penduduk yang sedang menderita itu. Tolong, jangan biarkan kita terbiasa dengan situasi tragis ini! Marilah kita selalu menyimpannya di hati kita. Marilah kita berdoa dan berjuang untuk perdamaian.

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah dari Italia dan banyak negara. Secara khusus, saya menyapa umat dari Spanyol dan Polandia, Band Musik San Giorgio di Castel Condino, yang saya nantikan untuk mendengarkan pertunjukannya di akhir, Yayasan Verona Minor Hierusalem, para katekis dari Grottamare, para calon penerima Sakramen Penguatan dari Castelfranco Veneto, dan umat Mestrino. Saya juga menyapa kelompok AVIS dari Codogno dan saya menyampaikan penghargaan saya kepada orang-orang yang mendonorkan darah, sebuah sikap kesetiakawanan yang sederhana dan mulia.

 

Saya menyapa kamu semua, juga kaum muda Maria Tak Bernoda. Saya mengucapkan selamat hari Minggu yang terberkati. Dan tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makananmu, dan sampai jumpa.

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Juni 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 8 Juni 2022 : KATEKESE TENTANG USIA TUA (BAGIAN 12)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Di antara tokoh-tokoh tua yang paling bersangkut-paut dalam keempat Injil adalah Nikodemus - salah seorang pemimpin agama Yahudi - yang, ingin mengenal Yesus, pergi kepada-Nya di malam hari, meskipun secara diam-diam (bdk. Yoh 3:1-21). Dalam percakapan antara Yesus dan Nikodemus, inti pewahyuan Yesus dan perutusan penebusan-Nya muncul ketika iia berkata, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (ayat 16).

 

Yesus berkata kepada Nikodemus bahwa untuk "melihat kerajaan Allah", seseorang perlu "dilahirkan kembali dari atas" (bdk. ayat 3). Hal ini tidak berarti memulai dari awal, mengulangi kedatangan kita ke dunia, berharap reinkarnasi baru akan membuka kesempatan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Mengulang hal itu tidak masuk akal. Sebaliknya, meniadakannya seolah-olah merupakan percobaan yang gagal, nilai yang telah kadaluwarsa, kehampaan yang tersia-siakan, akan mengosongkan seluruh makna kehidupan yang telah kita jalani. Tidak, bukan itu maksudnya dilahirkan kembali yang dibicarakan Yesus. Dilahirkan kembali adalah sesuatu yang lain. Kehidupan ini berharga di mata Allah – kehidupan ini mengenali kita sebagai makhluk yang dikasihi dengan lembut oleh Allah. “Kelahiran dari atas” ini yang memungkinkan kita untuk “masuk” ke dalam kerajaan Allah adalah suatu generasi dalam Roh, suatu perjalanan melalui air menuju tanah perjanjian dari suatu ciptaan yang didamaikan dengan kasih Allah. Kelahiran kembali dari atas berkat rahmat Allah. Bukan dilahirkan kembali secara fisik di lain waktu.

 

Nikodemus salah memahami kelahiran ini dan mempertanyakannya dengan menggunakan usia tua sebagai bukti ketidakmungkinannya : manusia pasti menjadi tua, impian awet muda mundur secara teratur, puncaknya adalah takdir setiap kelahiran pada waktunya. Bagaimana orang bisa membayangkan nasib yang berbentuk kelahiran? Inilah cara Nikodemus berpikir dan ia tidak dapat menemukan cara untuk memahami kata-kata Yesus. Apa sebenarnya kelahiran kembali ini?

 

Keberatan Nikodemus sangat mengandung pelajaran bagi kita. Pada kenyataannya, kita dapat membalikkannya, dalam terang sabda Yesus, dengan menemukan perutusan yang sesuai dengan usia tua. Memang, menjadi tua tidak hanya bukan halangan untuk dilahirkan dari atas yang dibicarakan Yesus, tetapi menjadi waktu yang tepat untuk meneranginya, memisahkannya dari penyamaan dengan harapan yang hilang. Zaman dan budaya kita, yang menunjukkan kecenderungan mengkhawatirkan menganggap kelahiran seorang anak sebagai masalah sederhana produksi dan reproduksi biologis manusia, menumbuhkan mitos awet muda sebagai obsesi yang sangat menyedihkan dengan tubuh yang tidak dapat rusak. Mengapa usia tua tidak dihargai dalam banyak hal? Karena kelahiran adalah bukti tak terbantahkan dari akhir mitos ini, yang membuat kita ingin selalu kembali ke rahim ibu untuk selalu kembali dengan tubuh yang masih muda.

 

Teknologi terpesona oleh mitos ini dalam segala hal. Seraya menunggu kekalahan maut, kita bisa menjaga tubuh tetap hidup dengan obat-obatan dan kosmetik yang memperlambat, menyembunyikan, meniadakan usia tua. Secara alami, kesejahteraan adalah satu hal, mitos yang memeliharanya adalah hal lain. Tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa kerancuan di antara keduanya menciptakan kerancuan mental tertentu dalam diri kita. Merancukan kesejahteraan dengan memelihara mitos awet muda. Semuanya dilakukan untuk selalu memiliki masa muda ini – begitu banyak riasan, begitu banyak campur tangan bedah untuk tampil muda. Kata-kata bijak aktris Italia, [Anna] Magnani, muncul di benaknya, ketika orang-orang mengatakan kepadanya bahwa ia harus menghilangkan kerutan dan ia berkata, “Tidak, jangan sentuh kerutan tersebut! Butuh bertahun-tahun untuk memilikinya – jangan sentuh kerutan tersebut!” Inilah yang dimaksud kerutan : tanda pengalaman, tanda kehidupan, tanda kedewasaan, tanda telah melakukan perjalanan. Jangan sentuh kerutan tersebut untuk menjadi muda, agar wajahmu terlihat muda. Yang penting adalah seluruh kepribadian; hati yang penting, dan hati tetap dengan masa muda dari anggur yang baik – semakin tua semakin baik.

 

Kehidupan dalam daging kita yang fana adalah kenyataan yang indah yang “belum selesai”, seperti karya seni tertentu yang memberikan daya tarik unik justru karena ketidaklengkapannya. Karena kehidupan di bawah sini adalah "permulaan", bukan penggenapan. Kita datang ke dunia seperti ini, seperti orang sungguhan, seperti orang yang bertambah tua tetapi selalu nyata. Tetapi kehidupan dalam daging kita yang fana adalah ruang dan waktu yang terlalu kecil untuk menjaganya tetap utuh dan memenuhi dalam waktu dunia bagian yang paling berharga dari keberadaan kita. Yesus berkata bahwa iman, yang menyambut pemberitaan injili tentang kerajaan Allah yang menjadi tujuan kita, mengandung dampak utama yang luar biasa. Iman memampukan kita untuk “melihat” kerajaan Allah. Kita menjadi mampu untuk benar-benar melihat banyak tanda perkiraan harapan kita akan penggenapan, akan apa yang membawa dalam hidup kita tanda ditakdirkan untuk kekekalan dalam Allah.

 

Tandanya adalah kasih injili yang diterangi oleh Yesus dalam banyak cara. Dan jika kita dapat “melihat” tanda tersebut, kita juga dapat “masuk” ke dalam kerajaan Allah melalui jalan Roh melalui air yang melahirkan kembali.

 

Usia tua adalah kondisi yang diberikan kepada banyak dari kita di mana mukjizat kelahiran dari atas ini dapat dibaurkan dengan erat dan dipercayakan kepada komunitas manusia. Usia tua tidak menyampaikan nostalgia untuk kelahiran tepat waktu, tetapi kasih untuk tujuan akhir kita. Dalam sudut pandang ini, usia tua memiliki keindahan yang unik – kita sedang melakukan perjalanan menuju Kekekalan. Tidak ada seorang pun yang bisa masuk kembali ke rahim ibu mereka, bahkan menggunakan pengganti teknologi dan konsumeristiknya. Ini bukan kebijaksanaan; ini bukan perjalanan yang telah dicapai; ini buatan. Hal tersebut akan menyedihkan, bahkan jika memungkinkan. Orang tua bergerak maju; perjalanan orang tua menuju tujuan akhir, menuju surga Allah; perjalanan orang tua dengan kebijaksanaan pengalaman hidup. Usia tua, oleh karena itu, adalah waktu khusus untuk memisahkan masa depan dari khayalan teknokratis tentang kelangsungan hidup biologis dan robotik, terutama karena membuka kita kepada kelembutan rahim Allah yang kreatif dan generatif. Saya ingin menekankan kata ini di sini – kelembutan orang tua. Perhatikan bagaimana seorang kakek atau nenek memandang cucu-cucu mereka, bagaimana mereka memeluk cucu-cucu mereka – kelembutan itu, bebas dari segala kesusahan manusia, yang telah menaklukkan cobaan hidup dan mampu memberikan cinta kasih dengan bebas, kedekatan penuh kasih antara satu orang dengan orang lain. Kelembutan ini membuka pintu untuk memahami kelembutan Allah. Seperti inilah Allah, Ia tahu bagaimana merangkul. Dan usia tua membantu kita memahami aspek Allah yang lembut ini. Usia tua adalah waktu khusus untuk memisahkan masa depan dari khayalan teknokratis, usia tua adalah waktu kelembutan Allah yang menciptakan, menciptakan jalan bagi kita semua.

 

Semoga Roh memberi kita pembukaan kembali perutusan rohani – dan budaya – usia tua ini yang mendamaikan kita dengan kelahiran dari atas. Ketika kita memikirkan usia tua seperti ini, kita dapat mengatakan – mengapa budaya menyingkirkan ini memutuskan untuk menyingkirkan orang tua, menganggap mereka tidak berguna? Orang tua adalah pembawa pesan masa depan, orang tua adalah pembawa pesan kelembutan, orang tua adalah pembawa pesan kebijaksanaan pengalaman hidup. Marilah kita bergerak maju dan memperhatikan orang tua.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, terutama mereka yang berasal dari Inggris, Filipina, dan Amerika Serikat. Saya menyampaikan salam khusus kepada banyak kelompok siswa yang hadir. Atasmu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkati!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih : Dalam katekese lanjutan kita tentang makna dan nilai usia tua dalam terang sabda Allah, sekarang kita membahas kata-kata yang diucapkan Yesus kepada Nikodemus : “Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, - oleh air dan Roh Kudus - ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah" (Yoh 3:3). Kelahiran kembali secara rohani ini tidak meniadakan atau mengurangi nilai keberadaan duniawi kita, tetapi mengarahkannya menuju penggenapan tertingginya dalam kehidupan kekal dan sukacita surga. Zaman kita, dengan pengejaran gila-gilaan terhadap mitos awet muda, perlu mempelajari kembali kebenaran ini dan melihat setiap zaman kehidupan sebagai persiapan untuk kebahagiaan kekal yang untuknya kita diciptakan. Yesus memberitahu Nikodemus, ”Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (ayat 16). Orang tua, melalui iman, kebijaksanaan dan pengalaman mereka, dapat memberikan kesaksian yang meyakinkan akan kehadiran kerajaan Allah di tengah-tengah kita dan makna otentik keberadaan kita di bumi untuk mencicipi “awet muda” yang sesungguhnya yang menunggu kita dalam ciptaan baru yang diresmikan oleh Kristus dan Roh Kudus-Nya.

_____

 

(Peter Suriadi - Bogor, 8 Juni 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA RATU SURGA 5 Juni 2022 : ROH KUDUS MENGAJAR DAN MENGINGATKAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi, selamat hari Minggu!

 

Dan hari ini, selamat hari raya juga, karena hari ini kita merayakan Hari Raya Pentakosta. Kita merayakan pencurahan Roh Kudus kepada para Rasul, yang terjadi lima puluh hari setelah Paskah. Yesus telah berjanji beberapa kali. Dalam Liturgi hari ini, Bacaan Injil menceritakan salah satu dari janji tersebut, ketika Yesus berkata kepada para murid : “Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26). Inilah yang dilakukan Roh Kudus : Ia mengajar dan mengingatkan kita akan apa yang dikatakan Kristus. Marilah kita merenungkan dua tindakan ini, mengajar dan mengingatkan, karena dengan cara inilah Ia menjadikan Injil Yesus masuk ke dalam hati kita.

 

Pertama-tama, Roh Kudus mengajar. Dengan cara ini Ia membantu kita mengatasi rintangan yang dengan sendirinya muncul kepada kita dalam pengalaman iman : rintangan jarak. Ia mengajarkan kita untuk mengatasi rintangan jarak dalam pengalaman iman. Memang, keraguan mungkin muncul bahwa antara Injil dan kehidupan sehari-hari ada jarak yang sangat jauh : Yesus hidup dua ribu tahun yang lalu, masa yang berbeda, situasi yang berbeda, dan oleh karena itu Injil tampaknya sudah ketinggalan zaman, tampaknya tidak dapat berbicara dengan kita saat ini, dengan tuntutan dan permasalahannya. Pertanyaan tersebut juga datang kepada kita : apa yang dikatakan Injil di era internet, di era globalisasi? Apakah kata-katanya dapat berpengaruh?

 

Kita dapat mengatakan bahwa Roh Kudus adalah pakar dalam menjembatani jarak, Ia tahu bagaimana menjembatani jarak; Ia mengajari kita cara mengatasinya. Dialah yang menghubungkan ajaran Yesus dengan setiap masa dan setiap orang. Bersama-Nya, kata-kata Kristus bukan kenangan, bukan : kata-kata Kristus, berkat keutamaan Roh Kudus, menjadi hidup hari ini! Roh Kudus membuat kata-kata Kristus hidup bagi kita : melalui Kitab Suci Ia berbicara kepada kita dan mengarahkan kita di masa sekarang. Roh Kudus tidak takut akan berlalunya abad; sebaliknya, Ia membuat orang percaya memperhatikan masalah dan peristiwa pada zaman mereka. Memang, karena ketika Roh Kudus mengajar, Ia mengaktualisasikan : Ia menjaga iman selalu muda. Kita berisiko menjadikan iman sebagai bagian dari museum : itulah risikonya! Ia, di sisi lain, membawanya tidak ketinggalan zaman, selalu tidak ketinggalan zaman, iman yang tidak ketinggalan zaman : ini adalah pekerjaan-Nya. Karena Roh Kudus tidak mengikat diri pada zaman atau mode yang berlalu, tetapi membawa pertalian Yesus, yang bangkit dan hidup hingga hari ini.

 

Dan bagaimana Roh Kudus melakukan hal ini? Dengan membuat kita ingat. Berikut adalah kata kerja kedua, mengingatkan, ri-cordare. Apa yang dimaksud dengan mengingatkan? Mengingatkan berarti memulihkan hati, ri-cordare : Roh Kudus memulihkan Injil ke hati kita. Seperti itulah yang terjadi pada para Rasul : mereka telah mendengarkan Yesus berkali-kali, namun mereka hanya sedikit mengerti. Hal yang sama terjadi pada kita. Tetapi sejak Pentakosta, bersama Roh Kudus, mereka mengingat dan memahami. Mereka menyambut kata-kata-Nya sebagai yang dibuat khusus untuk mereka, dan mereka beralih dari pengetahuan lahiriah, kesadaran ingatan, ke hubungan yang hidup, hubungan yang meyakinkan dan penuh sukacita dengan Tuhan. Roh Kuduslah yang melakukan hal ini, yang bergerak dari “desas-desus” ke pengetahuan pribadi tentang Yesus, yang memasuki hati. Jadi, Roh Kudus mengubah hidup kita : Ia membuat pikiran Yesus menjadi pikiran kita. Dan Ia melakukan hal ini dengan mengingatkan kita akan kata-kata-Nya, membawa kata-kata Yesus ke dalam hati kita, hari ini.

 

Saudara-saudari, tanpa Roh Kudus mengingatkan kita tentang Yesus, iman menjadi pelupa. Sangat sering, iman menjadi kenangan tanpa ingatan; sebaliknya, ingatan hidup dan ingatan yang hidup dibawa oleh Roh Kudus. Dan kita – marilah kita mencoba bertanya pada diri kita sendiri – apakah kita orang Kristiani yang pelupa? Mungkinkah yang dibutuhkan hanyalah kemunduran, perjuangan, krisis untuk melupakan kasih Yesus dan jatuh ke dalam keraguan dan ketakutan? Celakalah kita, jika kita menjadi orang Kristiani yang pelupa! Obatnya adalah dengan memanggil Roh Kudus. Marilah kita sering melakukan hal ini, terutama di saat-saat penting, sebelum mengambil keputusan sulit dan dalam situasi sulit. Marilah kita mengambil Injil dan memanggil Roh Kudus. Kita dapat berkata, “Datanglah, Roh Kudus, ingatkanlah aku akan Yesus, terangilah hatiku”. Ini adalah doa yang indah : "Datanglah, Roh Kudus, ingatkanlah aku akan Yesus, terangilah hatiku". Haruskah kita mengatakannya bersama-sama? “Datanglah, Roh Kudus, ingatkanlah aku akan Yesus, terangilah hatiku”. Kemudian, marilah kita membuka Injil dan membaca sebuah perikop pendek secara perlahan. Dan Roh Kudus akan membuatnya berbicara dalam hidup kita.

 

Semoga Perawan Maria, yang dipenuhi Roh Kudus, mengobarkan dalam diri kita keinginan untuk berdoa kepada-Nya dan menerima Sabda Allah.

 

[Setelah pendarasan doa Ratu Surga]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Pada Pentakosta, mimpi Allah bagi umat manusia menjadi kenyataan; lima puluh hari setelah Paskah, orang-orang yang berbicara dalam bahasa yang berbeda bertemu dan saling memahami. Tetapi sekarang, seratus hari setelah dimulainya serangan bersenjata terhadap Ukraina, mimpi buruk perang, yang merupakan pengingkaran akan mimpi Allah, sekali lagi menimpa umat manusia : orang-orang yang saling bertikai, orang-orang yang saling membunuh, orang-orang yang diusir dari rumah mereka bukannya dibawa semakin dekat. Dan sementara amuk kehancuran dan kematian serta kecamuk pertikaian memicu peningkatan yang semakin membahayakan semua orang, saya kembali menyerukan kepada para pemimpin bangsa : tolong jangan membawa umat manusia ke dalam kehancuran! Jangan memimpin umat manusia ke dalam kehancuran, tolong! Biarkan terjadinya negosiasi yang sesungguhnya, pembicaraan nyata untuk gencatan senjata dan solusi yang berkelanjutan. Biarkan tangisan putus asa dari orang-orang yang menderita didengar - kita melihat hal ini setiap hari di media - hormatilah kehidupan manusia dan hentikanlah penghancuran kota dan desa yang mengerikan di timur Ukraina. Marilah kita lanjutkan, tolong, berdoa dan berjuang tanpa lelah untuk perdamaian.

 

Kemarin di Beirut, dua orang Saudara Dina Kapusin dibeatifikasi : Leonardo Melki dan Thomas George Saleh, para imam dan martir, dibunuh dalam kebencian terhadap iman di Turki masing-masing pada tahun 1915 dan 1917. Kedua misionaris Lebanon ini, dalam konteks permusuhan, membuktikan iman mereka yang tak tergoyahkan kepada Allah dan pengorbanan diri untuk sesama mereka. Semoga teladan mereka menguatkan kesaksian kristiani kita. Mereka masih muda – mereka bahkan belum berusia 35 tahun. Tepuk tangan meriah untuk para Beato baru!

 

Saya telah belajar dengan kepuasan bahwa gencatan senjata di Yaman telah diperpanjang hingga dua bulan ke depan. Terima kasih kepada Allah, dan kepadamu. Saya berharap tanda harapan ini dapat menjadi langkah lebih lanjut untuk mengakhiri pertikaian berdarah itu, yang telah menyebabkan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di zaman kita. Tolong, jangan lupa untuk memikirkan anak-anak Yaman: kelaparan, kehancuran, kurangnya pendidikan, kekurangan segalanya. Marilah kita pikirkan anak-anak!

 

Saya ingin meyakinkanmu tentang doa saya untuk para korban tanah longsor yang disebabkan oleh hujan lebat di wilayah metropolitan Recife, Brasil.

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah! Saya menyapa Lembaga “Advokasi dalam Misi”; anggota Gerakan Rekonsiliasi Internasional dan Gerakan Non-Kekerasan; kelompok pramuka “Saint Louis” Prancis, Serikat Santo Vincensius a Paulo dan persaudaraan Evangelii Gaudium. Saya menyapa umat Piacenza d'Adige, Paduan Suara Castelfidardo, kaum muda Pollone dan Cassina de' Pecchi - saya ingat ketika saya mengunjungi tempat-tempat ini bertahun-tahun yang lalu -, para peziarah dari Sanctuari Antoniani di Camposampiero dan para pengendara sepeda Sarcedo, serta saya juga menyapa kaum muda Immaculata.

 

Saya mengungkapkan kedekatan saya dengan para nelayan : marilah kita pikirkan para nelayan yang, karena kenaikan biaya bensin, berisiko harus berhenti bekerja, dan saya memperluas hal ini ke semua kategori pekerja yang sangat menderita akibat pertikaian di Ukraina.

 

Saya mendoakanmu; doakanlah saya. Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Selamat menikmati makananmu, dan sampai jumpa!

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 5 Juni 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 1 Juni 2022 : KATEKESE TENTANG USIA TUA (BAGIAN 11)

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Indahnya doa dari orang tua yang kita temukan dalam Mazmur 71, yang telah kita dengarkan, mendorong kita untuk merenungkan adanya ketegangan yang kuat dalam keadaan usia tua, ketika ingatan akan kerja keras dan berkat yang diterima menjadi ujian iman dan harapan.

 

Ujian tersebut sudah muncul dengan sendirinya dalam perjalanan yang disertai kelemahan melalui kerapuhan dan kerentanan usia tua. Dan Pemazmur – seorang tua yang berbicara kepada Tuhan – secara tersurat menyebutkan fakta bahwa proses ini menjadi kesempatan untuk penelantaran, penipuan, serta kepalsuan dan kesombongan, yang terkadang memangsa orang tua. Memang benar! Dalam masyarakat yang membuang ini, budaya membuang ini, orang tua disingkirkan dan menderita hal-hal ini. Suatu bentuk kepengecutan khusus yang ada di dalam diri kita dalam masyarakat kita yang pengecut ini. Memang, selalu ada orang-orang yang mengambil keuntungan dari orang tua, memperdaya dan mengintimidasi mereka dengan berbagai cara. Seringkali, kita membaca di surat kabar atau mendengar berita tentang orang tua yang tabungannya secara tidak bermoral diperdaya, atau dibiarkan tanpa perlindungan atau ditinggalkan tanpa perawatan; atau dilanda bentuk-bentuk penghinaan dan diintimidasi untuk melepaskan hak-hak mereka. Kekejaman seperti itu juga mucul di dalam keluarga – dan ini sungguh-sungguh, bahkan juga terjadi dalam keluarga. Orang tua yang disingkirkan, ditinggalkan di rumah jompo, tanpa anak-anak mereka yang datang mengunjungi, atau hanya beberapa kali dalam setahun. Orang tua ditempatkan di sudut keberadaan. Dan hal ini terjadi : terjadi hari ini, terjadi dalam keluarga, terjadi sepanjang waktu. Kita harus merenungkan hal ini.

 

Seluruh masyarakat harus bergegas untuk peduli terhadap para orang tua – mereka adalah hartanya! – yang semakin banyak dan seringkali juga yang paling ditelantarkan. Ketika kita mendengar tentang orang tua yang kehilangan kemandirian, jaminan, bahkan rumah mereka, kita memahami bahwa dua pertentangan dalam masyarakat saat ini sehubungan dengan usia tua bukanlah masalah keadaan darurat sesekali, tetapi ciri budaya membuang yang meracuni dunia yang kita tinggali. Penatua Mazmur menceritakan kekecewaannya kepada Allah : “Musuh-musuhku berkata-kata tentang aku, orang-orang yang mengincar nyawaku berunding bersama-sama dan berkata: 'Allah telah meninggalkan dia, kejar dan tangkaplah dia, sebab tidak ada yang melepaskan dia!'" (ayat 10-11).

 

Akibatnya fatal. Usia tua tidak hanya kehilangan martabatnya, tetapi bahkan diragukan layak untuk dilanjutkan. Dengan cara ini, kita semua tergoda untuk menyembunyikan kerentanan kita, menyembunyikan penyakit kita, usia kita dan senioritas kita, karena kita takut bahwa mereka adalah para pendahulu hilangnya martabat kita. Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri : apakah manusiawi memperkenankan perasaan ini? Bagaimana peradaban modern, yang begitu maju dan efisien, begitu tidak nyaman dengan penyakit dan usia tua? Bagaimana bisa menyembunyikan penyakit, menyembunyikan usia tua? Dan bagaimana politik, yang begitu berkomitmen untuk mendefinisikan batas-batas kelangsungan hidup yang bermartabat, pada saat yang sama tidak peka terhadap martabat hidup berdampingan yang penuh kasih dengan orang tua dan orang sakit?

 

Penatua Mazmur yang telah kita dengar, orang tua yang melihat usia tuanya sebagai kekalahan ini, menemukan kembali kepercayaan kepada Tuhan. Ia merasa perlu ditolong. Dan ia berpaling kepada Allah. Santo Agustinus, mengulas Mazmur ini, menasihati para orang tua : “Janganlah takut, karena kamu akan disingkirkan dalam kelemahan tersebut, dalam usia tua tersebut … Mengapa kamu takut apabila Ia akan meninggalkanmu, apabila Ia menyingkarkanmu pada masa tua, ketika kekuatanmu akan habis? Ya, pada waktu itu di dalam dirimu akan ada kekuatan-Nya, ketika kekuatanmu telah habis” (Penjelasan Terperinci tentang Mazmur 36, 881-882), inilah yang dikatakan Agustinus. Dan pemazmur tua tersebut berseru : “Lepaskanlah aku dan luputkanlah aku, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku! Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku” (ayat 2-3). Seruan itu membuktikan kesetiaan Allah dan mengetengahkan kemampuan-Nya untuk membangkitkan hati nurani yang telah diselewengkan oleh ketidakpekaan kepada sejengkal kehidupan fana, yang secara keseluruhan harus dilindungi. Ia kembali berdoa demikian : “Ya Allah, janganlah jauh dari padaku! Allahku, segeralah menolong aku! Biarlah mendapat malu dan menjadi habis orang-orang yang memusuhi jiwaku; biarlah berselubungkan cela dan noda orang-orang yang mengikhtiarkan celakaku!” (ayat 12-13).

 

Sungguh, rasa malu hendaknya menimpa orang-orang yang memanfaatkan kelemahan penyakit dan usia tua. Doa memperbaharui hati penatua janji kesetiaan Allah dan berkat-Nya. Orang tua tersebut menemukan kembali doa dan menjadi saksi kekuatannya. Yesus, dalam keempat Injil, tidak pernah menampik doa orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Orang tua, berdasarkan kelemahan mereka, dapat mengajar orang-orang yang hidup di masa kehidupan lain bahwa kita semua perlu menyerahkan diri kepada Allah, memohon pertolongan-Nya. Dalam pengertian ini, kita semua harus belajar dari usia tua : ya, ada karunia dengan menjadi tua, dipahami sebagai meninggalkan diri sendiri untuk peduli terhadap orang lain, dimulai dengan Allah sendiri.

 

Kemudian ada sebuah "magisterium kerapuhan", jangan menyembunyikan kerapuhan, jangan. Memang benar, ada sebuah kenyataan dan ada sebuah magisterium kerapuhan, yang mampu diingatkan usia tua kepada kita dengan cara yang dapat dipercaya untuk seluruh rentang kehidupan manusia. Jangan menyembunyikan usia tua, jangan menyembunyikan kerapuhan usia tua. Ini adalah sebuah pelajaran bagi kita semua. Ajaran ini membuka cakrawala yang menentukan bagi reformasi peradaban kita. Sebuah reformasi yang sekarang sangat diperlukan untuk kepentingan hidup berdampingan semua orang. Peminggiran orang tua – baik konseptual maupun praktis – merusak seluruh masa kehidupan, bukan hanya usia tua. Hari ini kita masing-masing dapat memikirkan para orang tua dalam keluarga : bagaimana aku berhubungan dengan mereka, apakah aku mengingat mereka, dengan aku pergi mengunjungi mereka? Apakah aku berusaha memastikan mereka tidak kekurangan apapun? Apakah aku menghormati mereka? Orang tua yang ada di dalam keluargaku : pikirkanlah ibu, ayah, kakek, nenek, bibi dan paman, teman-temanmu ... Apakah aku telah menyingkirkan mereka dari kehidupanku? Atau apakah aku pergi kepada mereka untuk mendapatkan kebijaksanaan, kebijaksanaan hidup? Ingatlah bahwa kamu juga akan menjadi tua. Usia tua datang untuk semua orang. Dan hari ini perlakukanlah orang tua sebagaimana kamu ingin diperlakukan di hari tuamu. Mereka adalah ingatan keluarga, ingatan umat manusia, ingatan negara. Lindungilah orang tua, yang merupakan kebijaksanaan. Semoga Tuhan menganugerahkan kepada para orang tua yang merupakan bagian dari Gereja kemurahan hati dari permohonan dan dorongan ini. Semoga kepercayaan kepada Tuhan ini merambah kita. Dan ini, demi kebaikan semua, demi mereka.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, terutama mereka yang berasal dari Inggris dan Amerika Serikat. Secara khusus saya menyapa banyak kelompok siswa yang hadir. Saat kita bersiap untuk merayakan Hari Raya Pentakosta, saya memohonkan atas kamu dan keluargamu pencurahan karunia Roh Kudus yang berlimpah. Semoga Tuhan memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih : Dalam katekese lanjutan kita tentang makna dan nilai usia tua dalam terang sabda Allah, kita sekarang membahas doa sepenuh hati yang ditemukan dalam ayat-ayat pertama Mazmur 71 : “Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah” (ayat 5). Merasakan kelemahan dan kerapuhan yang bertumbuh seiring dengan berlalunya tahun, Pemazmur memohon perlindungan dan pemeliharaan Allah yang berkelanjutan. Di zaman kita sekarang, keprihatinannya yang mencemaskan juga dialami oleh banyak orang tua, yang melihat martabat dan bahkan hak-hak mereka terancam oleh menyebarnya “budaya membuang” yang memandang mereka tidak berguna dan sungguh menjadi beban masyarakat. Dalam menghadapi perasaan lemah dan tidak pasti ini, Pemazmur menegaskan kembali kepercayaannya pada kesetiaan perjanjian Allah dan pemeliharaan-Nya. Dalam setiap generasi, para orang tua dapat memberikan kepada kita teladan ketekunan yang sangat dibutuhkan dalam doa dan penyerahan penuh harapan kepada Allah. Kehadiran dan keteladanan mereka dapat membuka pikiran dan hati, serta menginspirasi pembangunan masyarakat yang lebih adil dan manusiawi – masyarakat yang menghormati seluruh tahapan kehidupan dan menghargai kontribusi setiap anggotanya demi kebaikan bersama.
_______

(Peter Suriadi - Bogor, 1 Juni 2022)