Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 4 Desember 2022 : YOHANES PEMBAPTIS DAN “REAKSI ALERGI”-NYA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi, selamat hari Minggu!

 

Hari ini, Hari Minggu Adven II, Bacaan Injil liturgi menghadirkan sosok Yohanes Pembaptis. Teks mengatakan bahwa Yohanes “memakai jubah bulu unta", "makanannya belalang dan madu hutan” (Mat 3:4), dan ia mengundang semua orang untuk bertobat. Dan ia mengatakan ini : “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (ayat 2) Dan ia memberitakan dekatnya Kerajaan Surga. Singkatnya, ia adalah orang yang keras dalam bersikap dan radikal, yang pada pandangan pertama mungkin tampak kasar dan dapat menimbulkan rasa takut tertentu. Namun sekali lagi, kita dapat bertanya pada diri kita mengapa Gereja menawarkannya setiap tahun sebagai rekan perjalanan utama kita selama Masa Adven ini. Apa yang tersembunyi di balik kekerasan sikapnya, di balik tampilannya yang keras? Apa rahasia Yohanes? Apa pesan yang disampaikan Gereja kepada kita hari ini bersama Yohanes?

 

Sesungguhnya, Yohanes Pembaptis, lebih dari sekadar orang yang keras dalam bersikap, adalah orang yang alergi terhadap sikap bermuka dua. Dengarkan baik-baik hal ini : alergi terhadap kepalsuan. Misalnya, ketika orang-orang Farisi dan Saduki, yang terkenal munafik, mendekatinya, “reaksi alergi”-nya cukup kuat! Bahkan, beberapa dari mereka mungkin mendatanginya karena penasaran atau untuk mendapatkan sesuatu karena Yohanes telah menjadi sangat populer. Orang-orang Farisi dan Saduki ini percaya bahwa mereka bersama-sama memiliki segalanya dan, berhadapan dengan seruan terus terang dari Yohanes Pembaptis, membenarkan diri, dengan mengatakan : “Abraham adalah bapa kami!” (ayat 9). Jadi, karena sikap bermuka dua dan berprasangka, mereka tidak menyambut saat rahmat, kesempatan untuk memulai hidup baru. Mereka tertutup dengan anggapan bahwa mereka benar. Maka, Yohanes memberitahu mereka, “Hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan!” (ayat 8). Ini adalah jeritan kasih, seperti jeritan seorang bapa yang melihat putranya menghancurkan diri dan berkata kepadanya, “Jangan mencampakkan hidupmu!”. Intinya, saudara-saudari terkasih, kemunafikan adalah bahaya terbesar karena ia bahkan dapat merusak kenyataan yang paling suci. Kemunafikan adalah bahaya serius. Inilah sebabnya mengapa Yohanes Pembaptis – sebagaimana Yesus nantinya – bersikap keras terhadap orang-orang munafik. Kita dapat membaca, misalnya, Matius bab 23 di mana Yesus berbicara sangat keras kepada orang-orang munafik pada masa itu. Dan mengapa Yohanes Pembaptis dan juga Yesus melakukan hal ini? Untuk mengguncang mereka. Sebaliknya, orang-orang yang merasa bahwa mereka adalah orang berdosa “datang kepadanya [Yohanes], lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis olehnya [Yohanes] (ayat 5). Oleh karena itu, kepakaran tidak penting untuk menyambut Allah, melainkan kerendahan hati. Inilah jalan untuk menyambut Allah. Bukan kepakaran – “Kami kuat, kami adalah orang-orang hebat!”. Tidak tidak. Kerendahan hati. Aku orang berdosa. Tetapi tidak secara abstrak, tidak – “oleh karena ini dan ini dan ini”. Kita masing-masing perlu mengakui dosa kita, kegagalan kita, kemunafikan kita. Butuh turun dari tumpuan dan dibenamkan ke dalam air pertobatan.

 

Saudara-saudari terkasih, Yohanes Pembaptis dan “reaksi alergi”-nya membuat kita berpikir. Bukankah kita kadang-kadang mirip dengan orang-orang Farisi itu? Mungkin kita melihat orang lain dari atas ke bawah, berpikir bahwa kita lebih baik dari mereka, kita mengendalikan hidup kita, kita tidak membutuhkan Allah, atau Gereja, atau saudara-saudari kita setiap hari. Kita lupa bahwa dalam satu kasus apakah sah memandang rendah orang lain : bangkitlah ketika perlu membantu mereka. Ini satu kasus; kasus lainnya pun tidak sah. Masa Adven adalah masa rahmat untuk menanggalkan topeng kita – kita masing-masing memilikinya – dan berbaris dengan mereka yang rendah hati, untuk dibebaskan dari anggapan yakin bisa mencukupi diri sendiri, untuk pergi mengakui dosa-dosa kita, yang tersembunyi, dan menyambut pengampunan Allah, memohon pengampunan dari mereka yang telah kita sakiti. Inilah cara memulai hidup baru. Hanya ada satu cara, jalan kerendahan hati – disucikan dari rasa superioritas, dari formalisme dan kemunafikan, untuk melihat diri kita, bersama dengan saudara-saudari kita, sebagai orang berdosa, dan melihat Yesus sebagai Sang Juruselamat yang datang kepada kita, bukan kepada orang lain, kepada kita, sama seperti kita, dengan kemiskinan, kesengsaraan dan kegagalan kita, terutama dengan kebutuhan kita untuk dibangkitkan, diampuni dan diselamatkan.

 

Dan marilah kita mengingat satu hal : bersama Yesus, selalu ada kemungkinan untuk memulai kembali. Tidak pernah ada kata terlambat. Selalu ada kemungkinan untuk memulai kembali. Kuatkan hati. Ia dekat dengan kita dan ini adalah masa pertobatan. Setiap orang mungkin berpikir : "Aku memiliki situasi ini di dalam diriku, masalah ini yang membuatku malu". Tetapi Yesus ada di sampingmu. Mulailah kembali. Selalu ada kemungkinan untuk mengambil langkah maju. Ia menunggu kita dan tidak pernah lelah dengan kita. Ia tidak pernah lelah! Dan ketika kita sedang menjengkelkan, Ia tidak pernah lelah! Marilah kita mendengarkan seruan Yohanes Pembaptis untuk berbalik kepada Allah. Dan jangan biarkan Masa Adven ini berlalu seperti hari-hari dalam kalender karena ini adalah masa rahmat, rahmat bagi kita juga, di sini dan saat ini! Semoga Maria, hamba Tuhan yang rendah hati, membantu kita untuk bertemu dengan Dia, Yesus, dan saudara-saudari kita di jalan kerendahan hati, yang merupakan satu-satunya jalan yang akan membantu kita untuk terus maju.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Dengan penuh kasih sayang saya menyapa kamu semua yang datang dari Italia dan dari berbagai negara : keluarga, paroki, lembaga dan perorangan. Saya bahkan melihat bendera – Spanyol, Polandia, Argentina – banyak bendera. Selamat datang untuk semuanya. Secara khusus, saya menyapa para peziarah Spanyol dari Madrid, Salamanca, Bolaños de Calatrava dan La Solana. Menyapa mereka yang berasal dari Polandia, saya ingin berterima kasih kepada mereka yang mendukung hari doa dan penggalangan dana untuk Gereja di Eropa Timur.

 

Saya senang menyapa Aksi Katolik dari Aversa, bersama dengan Uskup Spinillo; serta umat dari Palermo, Sutrio dan Saronno; calon penerima sakramen Krisma dari Pattada, Keuskupan Ozieri; dan umat Paroki Sant'Enrico Roma.

 

Kepada semuanya saya mengucapkan selamat hari Minggu dan melanjutkan perjalanan Adven. Hari Kamis ini, kita akan merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Kepada pengantaraannya, marilah kita percayakan doa-doa kita untuk perdamaian, terutama untuk rakyat Ukraina yang tersiksa.

 

Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang dan sampai jumpa.!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 5 Desember 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 30 November 2022 : KATEKESE TENTANG PEMBEDAAN ROH (BAGIAN 10) - PENGHIBURAN SEJATI

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Saat kita melanjutkan permenungan kita tentang pembedaan roh, dan khususnya tentang pengalaman rohani yang disebut "penghiburan", yang kita bicarakan pada hari Rabu yang lalu, kita bertanya : bagaimana kita bisa mengenali penghiburan sejati? Sebuah pertanyaan yang sangat penting untuk melakukan pembedaan roh yang baik, agar tidak tertipu dalam pencarian kebaikan sejati kita.

 

Beberapa kriteria dapat kita temukan dalam kutipan Latihan Rohani Santo Ignatius dari Loyola. “Kita harus mencatat dengan baik perjalanan pikiran”, kata Santo Ignatius, “dan jika permulaan, pertengahan dan kesudahan semuanya baik, condong ke segala kebaikan, itu adalah tanda Malaikat yang baik; tetapi jika dalam perjalanan pikiran yang kita bawa berakhir dengan sesuatu yang buruk, dengan kecenderungan yang mengganggu, atau kurang baik dari apa yang sebelumnya ingin dilakukan oleh jiwa, atau jika melemahkan atau mengganggu jiwa, menyingkirkan kedamaiannya, [mengambil] ketenangan dan ketentraman, yang terdahulu, itu adalah tanda yang jelas bahwa berasal dari roh jahat, musuh ganjaran dan keselamatan kekal kita” (no. 333). Karena benar adanya : ada penghiburan sejati, tetapi ada juga yang tidak. Dan oleh karena itu, kita perlu memahami dengan baik proses penghiburan : bagaimana penghiburan datang dan ke mana penghiburan menuntunku? Jika menuntunku kepada sesuatu yang salah, penghiburan tersebut tidak baik, tidak sejati, "palsu", katakanlah.

 

Dan ini adalah petunjuk yang berharga, yang patut diulas secara singkat. Apa artinya permulaan cenderung baik, sebagaimana dikatakan Santo Ignatius tentang penghiburan yang baik? Sebagai contoh, saya berpikir untuk berdoa, dan saya mencatat bahwa berdoa menyertai kasih sayang kepada Tuhan dan sesama, berdoa mengundang gerakan kemurahan hati, amal kasih : doa adalah permulaan yang baik. Bisa jadi malah muncul pikiran seperti itu untuk menghindari pekerjaan atau tugas yang telah dipercayakan kepada saya : setiap kali saya harus mencuci piring atau membersihkan rumah, saya memiliki dorongan kuat untuk berdoa! Ini terjadi, di biara. Tetapi doa bukanlah suatu pelarian dari tugas-tugas kita; sebaliknya, doa membantu kita mewujudkan kebaikan yang harus kita lakukan, di sini dan saat ini. Ini berkenaan dengan permulaan.

 

Lalu ada bagian pertengahan : Santo Ignatius berkata bahwa permulaan, pertengahan, dan kesudahan harus baik. Permulaannya begini : Saya ingin berdoa agar tidak mencuci piring : beranjak, cuci piring, lalu pergi berdoa. Lalu ada bagian pertengahan : artinya apa yang terjadi sesudahnya, apa yang mengikuti pemikiran itu. Tetap dengan contoh sebelumnya, jika saya mulai berdoa dan, seperti orang Farisi dalam perumpamaan (bdk. Luk 18:9-14), saya cenderung untuk berpuas diri dan meremehkan orang lain, mungkin dengan jiwa yang kesal dan masam, maka ini adalah tanda bahwa roh jahat telah menggunakan pikiran sebagai kunci untuk masuk ke dalam hati saya dan untuk menularkan perasaannya kepada saya. Jika saya pergi berdoa, dan terpikir untuk melakukannya seperti orang Farisi yang terkenal – “Terima kasih Tuhan, karena aku berdoa, aku tidak seperti orang lain yang tidak mencari-Mu, yang tidak berdoa” – doa itu berakhir dengan buruk di sana. Penghiburan doa adalah merasa seperti burung merak di hadapan Allah. Dan ini adalah cara yang salah.

 

Dan kemudian ada kesudahannya : permulaan, pertengahan, dan kesudahan. Kesudahan adalah aspek yang sudah kita temui, yaitu : ke mana pikiran membawaku? Misalnya, ke mana pikiran tentang doa membawaku? Misalnya, saya bekerja keras untuk tugas yang baik dan layak, tetapi ini mendorong saya untuk berhenti berdoa, karena saya sibuk dengan banyak hal; saya merasa saya semakin agresif dan marah, saya merasa semuanya tergantung pada saya, sampai kehilangan kepercayaan kepada Allah. Di sini ternyata ada aksi roh jahat. Saya mulai berdoa, tetapi kemudian dalam doa saya merasa mahakuasa, bahwa semuanya harus ada di tangan saya karena saya satu-satunya yang tahu bagaimana menyelesaikan sesuatu : ternyata tidak ada roh yang baik di sana. Kita perlu memeriksa dengan baik jalan perasaan kita, jalan penghiburan, pada saat kita ingin melakukan sesuatu; pada permulaan, pertengahan, dan kesudahan.

 

Gaya musuh – ketika kita berbicara tentang musuh, kita berbicara tentang iblis, karena iblis itu ada, ia ada di sana! – gayanya, kita tahu – adalah menampilkan diri secara licik dan terselubung : iia mulai dari apa yang paling kita sayangi dan kemudian, sedikit demi sedikit, menarik kita masuk : kejahatan masuk secara diam-diam, tanpa orang itu menyadarinya. Dan seiring berjalannya waktu, kelembutan menjadi kekerasan: pikiran itu mengungkapkan dirinya sebagaimana adanya.

 

Oleh karena itu pemeriksaan yang sabar tetapi sangat diperlukan tentang asal usul dan kebenaran pikiran kita ini penting; sebuah ajakan untuk belajar dari pengalaman, dari apa yang terjadi pada diri kita, agar tidak terus mengulang kesalahan yang sama. Semakin kita mengenal diri kita, semakin kita merasakan di mana roh jahat masuk, "kata sandi" -nya, pintu masuk ke hati kita, yang merupakan poin yang paling peka bagi kita untuk memperhatikannya di masa depan. Kita masing-masing memiliki titik-titik yang lebih peka, titik-titik lemah dalam kepribadian kita : dan roh jahat masuk ke sana, dan membawa kita ke jalan yang salah, atau membawa kita menjauh dari jalan yang benar dan sejati. Saya pergi dan berdoa tetapi ia membawa saya menjauh dari doa saya.

 

Contoh-contohnya bisa diperbanyak sesuka hati, mencerminkan zaman kita. Inilah mengapa pemeriksaan hati nurani setiap hari sangat penting : sebelum mengakhiri hari, berhentilah sejenak. Apa yang terjadi? Bukan di surat kabar, bukan dalam kehidupan : apa yang terjadi dalam hatiku? Apakah hatiku penuh perhatian? Apakah hatiku bertumbuh? Apakah hatiku melalui semua yang tidak kusadari? Apa yang terjadi dalam hatiku? Dan pemeriksaan ini penting, upaya berharga untuk membaca ulang pengalaman dari sudut pandang tertentu. Memperhatikan apa yang terjadi itu penting, tanda rahmat Allah sedang bekerja di dalam diri kita, membantu kita untuk bertumbuh dalam kebebasan dan kesadaran. Kita tidak sendirian : Roh Kudus menyertai kita. Marilah kita lihat bagaimana berbagai hal terjadi.

 

Penghiburan sejati adalah semacam penegasan bahwa kita sedang melakukan apa yang diinginkan Allah dari diri kita, bahwa kita sedang berjalan di jalan-Nya, yaitu di jalan kehidupan, sukacita, dan kedamaian. Pembedaan roh, sesungguhnya, bukan hanya tentang apa yang baik atau kebaikan terbesar yang mungkin, tetapi tentang apa yang baik bagi saya di sini dan saat ini : inilah panggilan untuk saya bertumbuh, membatasi tawaran lain, yang bersifat menarik tetapi tidak nyata, jadi agar tidak tertipu dalam pencarian kebaikan sejati.

 

Saudara dan saudari, perlu dipahami, untuk terus memahami apa yang terjadi di hati saya. Dan inilah sebabnya pemeriksaan hati nurani diperlukan, untuk melihat apa yang terjadi hari ini. “Hari ini saya marah, saya tidak melakukan itu…” : Tetapi mengapa? Melampaui “mengapa” untuk mencari akar kesalahan tersebut. “Tetapi, hari ini saya senang tetapi saya bosan karena saya harus membantu orang-orang itu, tetapi pada akhirnya saya merasa dipenuhi oleh pertolongan itu” – dan ada Roh Kudus. Belajar membaca apa yang terjadi sepanjang hari dalam buku hati kita. Lakukanlah : hanya akan memakan waktu dua menit, tetapi akan membantumu, saya jamin.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, khususnya yang berasal dari Inggris, Australia, Vietnam dan Amerika Serikat. Saya berdoa agar kamu masing-masing, dan keluargamu, dapat mengalami Masa Adven yang diberkati sebagai persiapan untuk kedatangan, pada hari Natal, Yesus yang baru lahir, Sang Putra Allah dan Juruselamat dunia. Tuhan memberkati!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih : Dalam katekese lanjutan kita tentang pembedaan roh, kita telah membahas pengalaman “penghiburan” rohani, perasaan sukacita batin yang mendalam, karunia Roh Kudus, yang memampukan kita untuk merasakan kehadiran Allah yang menghibur dan penyelenggaraan ilahi dalam segala hal, bahkan saat-saat pencobaan dan kesulitan. Penghiburan sejati adalah buah rahmat ilahi, yang menarik kita untuk bertumbuh dalam mengasihi Allah dan sesama kita, melihat kehendak Allah dalam hidup kita dan melaksanakan karya amal rohani dan praktis. Santo Ignatius memberitahu kita bahwa doa yang benar menghasilkan buah yang baik di setiap tahapan : pada permulaan, pertengahan, dan kesudahan. Melakukan pembedaan roh buah doa kita dan belajar mengenali godaan tersembunyi yang akan menipu kita untuk mengganti kebaikan yang lebih besar dengan yang lebih kecil penting. Pertolongan besar untuk melakukan pembedaan roh penghiburan sejati adalah pemeriksaan hati nurani setiap hari, yang memurnikan pikiran dan hati kita, serta membukanya kepada kehendak Allah untuk pertumbuhan kita dalam kekudusan dan persatuan dengan-Nya.
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 30 November 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 27 November 2022 : BAGAIMANA TUHAN KELAK DATANG SERTA BAGAIMANA KITA KELAK MENGENALI DAN MENYAMBUT-NYA?

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi, selamat hari Minggu!

 

Dalam Bacaan Injil liturgi hari ini kita mendengar janji indah yang memperkenalkan kita kepada Masa Adven : “Tuhanmu datang” (Mat 24:42). Ini adalah landasan pengharapan kita, apa yang mendukung kita bahkan di saat-saat paling sulit dan menyakitkan dalam hidup kita : Allah akan datang, Allah sudah dekat dan akan datang. Marilah kita tidak pernah melupakan hal ini! Tuhan selalu datang, Tuhan mengunjungi kita, Tuhan mendekatkan diri-Nya, dan akan kembali di akhir zaman untuk menyambut kita dalam pelukan-Nya. Dihadapkan kata ini, kita bertanya pada diri kita : Bagaimana Tuhan kelak datang? Dan bagaimana kita kelak mengenali dan menyambut-Nya? Marilah kita membahas secara singkat dua pertanyaan ini.

 

Pertanyaan pertama : bagaimana Tuhan kelak datang? Sangat sering kita mendengar dikatakan bahwa Tuhan hadir di jalan kita, Ia menyertai kita dan berbicara kepada kita. Tetapi mungkin, karena kita terganggu oleh banyak hal, kebenaran ini tetap hanya teoretis bagi kita; ya, kita tahu bahwa Tuhan kelak datang tetapi kita tidak hidup menurut kebenaran ini, atau kita membayangkan bahwa Tuhan kelak datang dengan cara yang spektakuler, mungkin melalui suatu tanda yang ajaib. Dan sebaliknya, Yesus berkata bahwa Ia akan datang seperti pada "zaman Nuh" (bdk. ayat 37). Dan apa yang mereka lakukan pada zaman Nuh? Singkatnya, perkara kehidupan sehari-hari yang lumrah, seperti biasanya : "makan dan minum, kawin dan mengawinkan" (ayat 38). Marilah kita mengingat hal ini : Allah tersembunyi dalam hidup kita, Ia selalu ada – Ia tersembunyi dalam situasi yang paling umum dan paling biasa dalam hidup kita. Ia tidak datang dalam peristiwa luar biasa, tetapi dalam perkara sehari-hari; Ia mewujudkan diri-Nya dalam perkara sehari-hari. Ia ada di sana, dalam pekerjaan kita sehari-hari, dalam perjumpaan secara tidak sengaja, dalam menghadapi seseorang yang membutuhkan, bahkan ketika kita menghadapi hari-hari yang tampak kelabu dan monoton, di sanalah kita menemukan Allah, yang memanggil kita, berbicara kepada kita dan mengilhami perbuatan kita.

 

Tetapi, ada pertanyaan kedua : bagaimana kita kelak mengenali dan menyambut Tuhan? Kita harus berjaga-jaga, siap siaga, waspada. Yesus memperingatkan kita : ada bahaya kita tidak menyadari kedatangan-Nya dan tidak siap sedia untuk kunjungan-Nya. Pada kesempatan lain saya ingat apa yang dikatakan Santo Agustinus : “Aku takut akan Tuhan yang lewat” (Khotbah, 88, 14.13), yaitu, aku takut Ia kelak lewat dan aku kelak tidak mengenali-Nya! Memang, Yesus mengatakan bahwa orang-orang pada zaman Nuh itu makan dan minum "tetapi mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua" (ayat 39). Perhatikan ini : mereka tidak menyadari apa-apa! Mereka asyik dengan urusan mereka sendiri dan tidak menyadari bahwa air bah akan segera datang. Memang, Yesus mengatakan bahwa, ketika Ia kelak datang, “kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan” (ayat 40). Dalam arti apa? Apa bedanya? Singkatnya, yang seorang siap siaga, ia menunggu, mampu melihat kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan yang lain terganggu, “terseret”, dan tidak memperhatikan apa pun.

 

Saudara-saudari, dalam Masa Adven ini, marilah kita terguncang dari kelambanan kita dan marilah kita bangun dari tidur kita! Marilah kita mencoba bertanya pada diri kita : apakah aku sadar akan apa yang sedang aku jalani, apakah aku siap siaga, apakah aku berjaga-jaga? Apakah aku berusaha mengenali kehadiran Allah dalam situasi sehari-hari, atau apakah aku terganggu dan sedikit kewalahan oleh berbagai hal? Jika kita tidak menyadari kedatangan-Nya hari ini, kita juga tidak akan siap ketika Ia datang di akhir zaman. Oleh karena itu saudara-saudari sekalian, marilah kita tetap berjaga-jaga! Menanti Tuhan datang, menanti Tuhan datang dekat dengan kita, karena Ia ada di sana, tetapi siap sedia menanti. Dan semoga Santa Perawan, perempuan penantian, yang tahu bagaimana memahami Allah yang lewat dalam kehidupan Nazaret yang sederhana dan tersembunyi serta menyambut-Nya di dalam rahimnya, membantu kita dalam perjalanan ini untuk penuh perhatian menanti Tuhan yang ada di antara kita dan lewat.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya mengikuti dengan keprihatinan meningkatnya kekerasan dan bentrokan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan di Negara Palestina dan di Israel. Rabu lalu, dua serangan yang bersifat pengecut di Yerusalem melukai banyak orang dan menewaskan seorang anak laki-laki Israel; dan pada hari yang sama, selama bentrokan bersenjata di Nablus, seorang anak laki-laki Palestina tewas. Kekerasan membunuh masa depan, menghancurkan kehidupan kaum muda dan melemahkan harapan akan perdamaian. Marilah kita mendoakan para pemuda yang meninggal ini dan keluarga mereka, terutama ibu mereka. Saya berharap pihak berwenang Israel dan Palestina akan lebih siap mengambil hati untuk mengupayakan dialog, membangun rasa saling percaya, yang tanpanya tidak akan pernah ada penyelesaian damai di Tanah Suci.

 

Dan saya juga ingin mengingat Burkhard Scheffler, yang meninggal tiga hari lalu di sini di bawah barisan tiang Lapangan Santo Petrus; ia mati kedinginan.

 

Dengan penuh kasih saya menyapa kamu semua, dari Italia dan berbagai negara, terutama para peziarah dari Warsawa dan Granada, perwakilan komunitas Rumania dan komunitas Timor Leste yang hadir di Roma, serta warga Ekuador yang sedang merayakan Pesta Bunda Maria dari El Quinche. Saya menyapa para relawan Palang Merah Acerenza, Ente Nazionale Pro Loco d'Italia, serta umat Turin, Pinerolo, Palermo, Grottammare dan Campobasso. Secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepada para pembuat roti Italia, dengan harapan mereka dapat mengatasi kesulitan saat ini.

 

Saya menyapa para peserta pawai yang berlangsung pagi ini untuk mengecam kekerasan seksual terhadap perempuan, sayangnya sebuah kenyataan yang umum dan tersebar luas di mana-mana serta juga digunakan sebagai senjata perang. Janganlah kita bosan mengatakan tidak untuk perang, tidak untuk kekerasan, ya untuk dialog, ya untuk perdamaian; khususnya bagi rakyat Ukraina yang bermartir. Kemarin kita mengingat tragedi Holodomor.

 

Saya menyapa sekretariat FIAC (Forum Internasional Aksi Katolik), yang berkumpul di Roma pada kesempatan Sidang Kedelapan.

 

Dan kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu dan menjalani Masa Adven. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang, dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 27 November 2022)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 23 November 2022 : KATEKESE TENTANG PEMBEDAAN ROH (BAGIAN 9) - PENGHIBURAN

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Kita melanjutkan katekese tentang pembedaan roh dan bagaimana membedakannya ketika terjadi di dalam hati dan jiwa kita. Setelah membahas beberapa aspek kehancuran – kegelapan di dalam jiwa – hari ini marilah kita berbicara tentang penghiburan – yang merupakan terang di dalam jiwa dan unsur penting lainnya dalam pembedaan roh, yang tidak boleh dianggap remeh, karena hal itu dapat menyebabkan kesalahpahaman. Kita harus memahami apa itu penghiburan, sama seperti kita telah mencoba memahami dengan baik apa itu kehancuran.

 

Apakah penghiburan rohani? Penghiburan rohani adalah pengalaman sukacita batin, yang terdiri dari melihat kehadiran Allah dalam segala hal. Penghiburan rohani memperkuat iman dan harapan, serta bahkan kemampuan untuk berbuat baik. Orang yang mengalami penghiburan tidak pernah menyerah dalam menghadapi kesulitan karena ia selalu mengalami kedamaian yang lebih kuat dari cobaan apa pun. Oleh karena itu, penghiburan rohani adalah karunia yang luar biasa untuk kehidupan rohani dan juga kehidupan pada umumnya … serta menjalani sukacita batin ini.

 

Penghiburan adalah gerakan batin yang menyentuh kedalaman kita. Penghiburan tidak mencolok tetapi lembut, halus, bagaikan setetes air di atas bunga karang (bdk. Santo Ignatius dari Loyola, Latihan Rohani, 335). Orang tersebut merasakan diselimuti kehadiran Allah dengan cara yang selalu menghormati kebebasannya sendiri. Tidak pernah ada sesuatu yang tidak selaras, yang mencoba memaksakan kehendak kita; juga bukan euforia yang berlalu. Sebaliknya, seperti yang telah kita lihat, bahkan penderitaan – yang disebabkan misalnya oleh dosa-dosa kita – dapat menjadi alasan penghiburan.

Marilah kita mengingat kembali pengalaman yang dialami Santo Agustinus ketika ia berbicara dengan Monika, ibunya, tentang keindahan hidup yang kekal; atau sukacita sempurna Santo Fransiskus terkait dengan situasi yang sangat sulit yang harus ia tanggung; dan marilah kita memikirkan banyak orang kudus yang mampu melakukan hal-hal besar bukan karena mereka berpikir mereka hebat atau mampu, tetapi karena mereka telah ditaklukkan oleh manisnya kasih Allah yang penuh kedamaian. Inilah kedamaian yang ditemukan Santo Ignatius dalam dirinya dengan begitu takjub ketika ia membaca kehidupan para kudus. Terhibur adalah berdamai dengan Allah, merasa bahwa segala sesuatu diselesaikan dalam damai, semuanya selaras dalam diri kita. Inilah kedamaian yang dirasakan Edith Stein setelah pertobatannya. Setahun setelah ia dibaptis, ia menulis – inilah yang dikatakan Edith Stein : “Ketika aku meninggalkan diriku pada perasaan ini, sedikit demi sedikit kehidupan baru mulai memenuhi diriku dan – tanpa menekankan keinginanku – mendorongku ke arah pengejawantahan yang baru. Pencurahan hidup ini tampaknya muncul dari suatu kegiatan dan kekuatan yang bukan milikku serta, tanpa melakukan kekerasan apa pun terhadap diriku, menjadi aktif dalam diriku” (Psicologia e scienze dello spirito, Città Nuova, 1996, 116). Jadi, kedamaian sejati adalah kedamaian yang membuat perasaan baik berkembang dalam diri kita.

 

Penghiburan, terutama, memengaruhi harapan, dan menjangkau masa depan, membawa kita dalam perjalanan, memungkinkan kita mengambil prakarsa yang selalu tertunda atau bahkan tidak terbayangkan, seperti pembaptisan bagi Edith Stein.

 

Penghiburan adalah jenis kedamaian tersebut, tetapi bukan berarti kita tetap duduk di sana menikmatinya, bukan…. Penghiburan memberimu kedamaian serta menarikmu kepada Tuhan dan membuatmu berangkat untuk melakukan berbagai hal, melakukan hal-hal yang baik. Di saat penghiburan, ketika kita dihibur, kita selalu ingin melakukan banyak hal baik. Sebaliknya, ketika ada momen kesedihan, kita merasa seperti menutup diri dan tidak melakukan apa-apa…. Penghiburan mendorong kita berkembang dalam pelayanan kepada sesama, masyarakat, orang lain.

 

Penghiburan rohani tidak “dipiloti” – kamu tidak dapat mengatakan sekarang bahwa penghiburan akan datang – tidak, penghiburan rohani tidak dapat “dipiloti”, diprogram sesuka hati. Penghiburan rohani adalah karunia Roh Kudus. Penghiburan rohani memungkinkan keakraban dengan Allah yang tampak meniadakan jarak. Ketika ia mengunjungi Basilika Santa Croce di Gerusalemme Roma pada usia empat belas tahun, Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus mencoba menyentuh paku yang dihormatinya di sana, salah satu paku yang dengannya Yesus disalibkan. Theresia memahami keberaniannya sebagai pembawa cinta dan kepercayaan diri. Kemudian, ia menulis, “Aku benar-benar terlalu berani. Tetapi Tuhan melihat kedalaman hati kita. Ia tahu kemurnian niatku […] Aku bertindak bersama-Nya sebagai seorang anak yang percaya bahwa segala sesuatu diperkenan dan yang menganggap harta Bapa sebagai miliknya” (Manuskrip Autobiografi, 183). Penghiburan terjadi secara spontan. Penghiburan menuntunmu untuk melakukan segala sesuatu secara spontan, seolah-olah kita adalah anak-anak. Anak-anak itu spontan, dan penghiburan menuntunmu untuk menjadi spontan dengan kelembutan, dengan kedamaian yang sangat dalam. Seorang gadis empat belas tahun memberi kita gambaran yang bagus tentang penghiburan rohani. Kita dapat merasakan kelembutan terhadap Allah yang membuat kita berani berkeinginan untuk ikut serta dalam kehidupan-Nya, melakukan apa yang berkenan kepada-Nya karena kita merasa akrab dengan-Nya, kita merasa bahwa kediaman-Nya adalah kediaman kita, kita merasa diterima, dicintai, dipulihkan. Dengan penghiburan ini, kita tidak menyerah dalam menghadapi kesulitan – bahkan, dengan keberanian yang sama, Theresia meminta izin kepada Paus untuk memasuki ordo Karmel meskipun ia terlalu muda, dan keinginannya dikabulkan. Apa artinya ini? Artinya, penghiburan membuat kita berani. Ketika kita menemukan diri kita berada dalam saat kegelapan, kehancuran, kita berpikir : “Aku tidak mampu melakukan ini, tidak….” Kehancuran membawamu ke bawah. Semuanya gelap…. "Tidak, aku tidak bisa melakukan ini ... Aku tidak sudi melakukannya". Sebaliknya, di saat-saat penghiburan, hal yang sama – “Tidak, aku akan maju. Aku akan lakukan". "Tapi apakah kamu yakin?" “Aku merasakan kekuatan Allah dan aku akan terus maju”. Jadi, penghiburan mendorongmu untuk terus maju dan melakukan hal-hal yang tidak akan mampu kamu lakukan dalam sekejap; penghiburan mendorongmu untuk mengambil langkah pertama. Inilah indahnya penghiburan.

 

Tetapi marilah kita berhati-hati. Kita harus membedakan dengan baik antara penghiburan yang datang dari Allah dan penghiburan palsu. Hal ini terjadi dalam kehidupan rohani yang serupa dengan produksi manusia : ada yang asli dan ada yang tiruan. Jika penghiburan otentik bagaikan sebuah tetesan pada bunga karang, lembut dan intim, penghiburan palsu lebih berisik dan lebih mencolok, penghiburan palsu adalah antusiasme semata, bagaikan api jerami, tidak hakiki, membuat kita menutup diri dan tidak memperhatikan sesama. Pada akhirnya, penghiburan palsu membuat kita kosong, jauh dari pusat keberadaan kita. Oleh karena itu, ketika kita merasa bahagia, damai, kita mampu melakukan apa saja. Tetapi jangan merancukan kedamaian itu dengan antusiasme yang berlalu karena antusiasme tersebut ada dewasa ini, tetapi kemudian lenyap dan tidak ada lagi.

 

Inilah sebabnya mengapa kita harus melakukan pembedaan roh bahkan ketika kita merasa terhibur. Penghiburan palsu bisa menjadi bahaya jika kita mencarinya secara obsesif sebagai tujuan itu sendiri, melupakan Tuhan. Seperti dikatakan Santo Bernardus, ini mencari penghiburan Allah ketimbang Allah penghiburan. Kita perlu mencari Allah, dan Allah menghibur kita dengan kehadiran-Nya. Ia menghibur kita, membuat kita bergerak maju. Dan kita seharusnya tidak mencari Allah yang memberikan kita penghiburan di bawah ini : Tidak, ini tidak benar, kita seharusnya tidak tertarik dengan hal ini. Ini adalah dinamika anak yang kita bicarakan terakhir kali yang mencari orangtuanya hanya untuk mendapatkan sesuatu, tetapi tidak mencarinya – ia sedang mencari kepentingannya sendiri. “Papa, Mama” – anak-anak tahu cara melakukan ini, mereka tahu cara bermain … dan ketika keluarga bercerai, dan mereka terbiasa pergi kepada sang ayah dan pergi kepada sang ibu, ini tidak baik, ini bukan penghiburan, tetapi kepentingan pribadi. Kita juga menanggung risiko menjalani hubungan kita dengan Allah secara kekanak-kanakan, mencari kepentingan kita, memerosotkannya menjadi obyek yang kita gunakan dan konsumsi, kehilangan karunia terindah yaitu Allah sendiri. Jadi, marilah kita bergerak maju dalam hidup kita yang berkembang di antara penghiburan Allah dan kehancuran akibat dosa dunia, bahkan mengetahui bagaimana membedakan penghiburan Allah yang membawa kedamaian kepada lubuk jiwamu, dari berlalunya antusiasme, yang tidak buruk, tetapi yang bukan penghiburan dari Allah.

 

[Imbauan]

 

Dalam beberapa jam terakhir, pulau Jawa di Indonesia diguncang gempa yang kuat. Saya mengungkapkan kedekatan saya dengan penduduk yang terkasih itu dan saya mendoakan yang meninggal dan yang terluka.

Hari Minggu lalu, Pastor Giuseppe Ambrosoli dibeatifikasi di Kalongo, Uganda. Ia adalah seorang misionaris Comboni, imam dan dokter, lahir di Keuskupan Como, yang meninggal di Uganda pada tahun 1987 setelah menghabiskan hidupnya untuk orang-orang sakit yang di dalam diri mereka ia melihat wajah Kristus. Semoga kesaksiannya yang luar biasa membantu kita masing-masing untuk menjadi layak bagi Gereja yang sedang bergerak. Tepuk tangan meriah untuk sang Beato baru!

 

Saya ingin menyampaikan salam saya kepada para atlet, penggemar dan penonton yang mengikuti Kejuaraan Dunia sepak bola yang berlangsung di Qatar. Semoga peristiwa penting ini menjadi kesempatan untuk perjumpaan dan kerukunan antarbangsa, memupuk persaudaraan dan perdamaian antarbangsa. Marilah kita berdoa untuk perdamaian dunia, dan berakhirnya seluruh pertikaian, dengan secara khusus memikirkan penderitaan yang mengerikan dari rakyat Ukraina terkasih dan bermartir. Dan marilah kita memikirkan Ukraina yang dilanda perang. Sabtu ini adalah peringatan genosida Holodomor yang mengerikan, pemusnahan oleh kelaparan pada tahun 1932-33 yang secara artifisial disebabkan oleh Stalin. Marilah kita mendoakan para korban genosida ini dan marilah kita mendoakan seluruh rakyat Ukraina, anak-anak, wanita dan orang tua, bayi yang hari ini menjadi martir akibat agresi.

 

Semoga Hari Perikanan Sedunia, yang diperingati kemarin, mendorong kesinambungan penangkapan ikan dan budidaya melalui penghormatan terhadap hak-hak para nelayan, yang melalui pekerjaan mereka berkontribusi pada ketahanan pangan, gizi, dan pengentasan kemiskinan di dunia.

 

Semoga Hari Perikanan Sedunia dirayakan

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, terutama mereka yang berasal dari Inggris dan Amerika Serikat. Atas kamu semua saya memohonkan sukacita dan damai sejahtera Kristus, Tuhan kita. Aklah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam Bahasa Inggris yang disampaikan seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih : Dalam katekese lanjutan kita tentang pembedaan roh, sekarang kita membahas pengalaman “penghiburan” rohani, perasaan sukacita batin yang dalam, suatu karunia Roh Kudus, yang memungkinkan kita untuk merasakan kehadiran Allah yang menghibur dan penyelenggaraan ilahi dalam segala hal, bahkan dalam saat-saat pencobaan dan kesulitan. Santo Ignatius membandingkan gerakan hati yang penuh rahmat ini dengan tetesan air di atas bunga karang : dengan tenang dan sepenuhnya menghormati kebebasan kita, Tuhan meneguhkan kita dalam iman dan harapan serta kepercayaan penuh keyakinan dalam kasih-Nya yang kekal. Dalam kehidupan para kudus besar seperti Ignatius, Edith Stein dan Teresa dari Lisieux, kita melihat bagaimana pengalaman penghiburan rohani tidak hanya membawa kedamaian dan keyakinan batin yang mendalam, tetapi juga memberikan kekuatan untuk mencapai hal-hal luar biasa dalam melayani Tuhan. Tanda penghiburan sejati adalah kedamaian yang tenang, berbuah dan kekal yang dibawanya. Pembedaan roh diperlukan untuk membedakan penghiburan sejati dari penghiburan palsu, dangkal, dan memanjakan diri sendiri; dalam perjalanan rohani kita, semoga kita selalu mengindahkan nasihat yang baik dari Santo Bernardus, yang mendorong kita untuk mencari penghiburan Allah, dan bukan Allah penghiburan.
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 23 November 2022)