Liturgical Calendar

SAMBUTAN PAUS FRANSISKUS DALAM PERTEMUAN DENGAN PENERIMA MANFAAT DARI ORGANISASI AMAL DI KANTOR PUSAT KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI) JAKARTA 5 September 2024

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Saya sangat senang berada di sini bersama Anda. Saya menyapa Anda semua, khususnya Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), yang saya ucapkan terima kasih atas kata pengantarnya yang ramah. Saya juga berterima kasih kepada Mimi dan Andrew atas apa yang telah mereka bagikan kepada kita. Sangatlah tepat para uskup Indonesia telah memilih untuk merayakan ulang tahun keseratus Konferensi Waligereja mereka bersama Anda. Terima kasih! Terima kasih telah membuat keputusan ini. Terima kasih kepada ketua KWI! Saya dapat mengatakan bahwa semangat Karthusian Anda membantu kita melakukan hal-hal ini.

 

Anda adalah bintang-bintang yang bersinar di langit nusantara ini, anggota Gereja yang paling berharga, "harta"-nya, mengutip perkataan Santo Laurensius, diakon dan martir, sejak masa perdana Gereja. Izinkan saya untuk memulai dengan mengatakan bahwa saya sepenuhnya setuju dengan apa yang dikatakan Mimi kepada kita: Allah "menciptakan manusia dengan kemampuan unik untuk memperkaya keanekaragaman dunia kita". Anda berbicara dengan baik, Mimi, terima kasih. Ia kemudian menunjukkan hal ini kepada kita dengan berbicara indah tentang Yesus sebagai "mercusuar harapan kita". Terima kasih untuk ini!

 

Pengalaman menghadapi kesulitan bersama-sama, semua melakukan yang terbaik, kita masing-masing memberikan kontribusi khusus, setiap hari memperkaya dan membantu kita menemukan kembali betapa pentingnya bagi kita untuk bekerja bersama-sama: di dunia, di dalam Gereja, di dalam keluarga kita, sebagaimana diingatkan Andrew kepada kita. Marilah kita ucapkan selamat kepadanya karena telah mengambil bagian dalam Paralimpiade! Hebat! Tepuk tangan untuk Andrew! Saat kita melakukannya, marilah kita juga memberi tepuk tangan untuk diri kita sendiri, karena kita semua dipanggil untuk bersama-sama menjadi "juara cinta" dalam "Olimpiade" kehidupan yang megah! Tepuk tangan untuk kita semua!

 

Sahabat-sahabat terkasih, kita semua saling membutuhkan, dan itu bukanlah hal yang buruk. Kita dibantu untuk semakin memahami bahwa hal terpenting dalam hidup kita adalah kasih (bdk. 1 Kor 13:13) dan menyadari betapa banyak orang baik yang ada di sekitar kita. Kita juga diingatkan betapa Allah mengasihi kita, kita masing-masing, bahkan dengan keterbatasan dan kesulitan kita (bdk. Rm 8:35-39). Kita semua unik di mata-Nya dan Ia tidak pernah melupakan kita, tidak pernah. Marilah kita selalu mengingatnya, untuk menjaga harapan kita tetap hidup dan pada gilirannya berusaha, tanpa pernah lelah, untuk menjadikan hidup kita sebagai karunia bagi orang lain (bdk. Yoh 15:12-13).

 

Terima kasih atas pertemuan ini dan atas semua yang Anda lakukan, bersama-sama. Saya memberkati Anda dan saya berdoa untuk Anda. Dan saya meminta Anda juga, tolong, untuk tidak lupa mendoakan saya. Terima kasih. Hari ini saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada ibu yang tidak dapat hadir, ia sudah terbaring di tempat tidur, tetapi hari ini ia berusia 87 tahun. Dan kita semua di sini mengucapkan selamat ulang tahun.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 7 September 2024)

PIDATO PAUS FRANSISKUS DALAM PERTEMUAN LINTAS AGAMA DI MASJID ISTIQLAL, JAKARTA 5 September 2024

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Saya senang berada di sini, di masjid terbesar di Asia, bersama dengan Anda semua. Saya menyapa Imam Besar Nasaruddin Umar dan berterima kasih atas sambutannya, yang mengingatkan kita bahwa tempat ibadah dan doa ini juga merupakan "rumah besar bagi umat manusia", di mana setiap orang dapat masuk dan meluangkan waktu untuk diri mereka sendiri, guna memberi ruang bagi kerinduan akan ketidakterbatasan yang ada di hati kita masing-masing, serta mengupayakan perjumpaan dengan yang ilahi dan mengalami sukacita persahabatan dengan orang lain.

 

Lebih jauh, saya ingin mengingatkan bahwa masjid ini dirancang oleh arsitek Friedrich Silaban, seorang kristen yang memenangkan sayembara desain. Ini membuktikan bahwa sepanjang sejarah bangsa ini dan dalam tatanan budayanya, masjid, seperti tempat ibadah lainnya, adalah ruang dialog, saling menghormati, dan hidup berdampingan secara rukun antara agama dan kepekaan rohani yang berbeda. Ini adalah anugerah besar yang harus Anda kembangkan setiap hari, sehingga pengalaman keagamaan dapat menjadi titik acuan bagi masyarakat yang bersaudara dan penuh kedamaian serta jangan pernah menjadi alasan untuk berpikiran sempit atau konfrontasi.

 

Dalam hal ini, perlu disebutkan terowongan bawah tanah, “terowongan persahabatan”, yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Ini adalah tanda yang mengesankan, yang memungkinkan kedua tempat ibadah besar ini tidak hanya berada “di depan” satu sama lain, tetapi juga “terhubung” satu sama lain. Memang, terowongan ini memungkinkan mewujudnya perjumpaan, dialog, dan kemungkinan untuk “menemukan dan membagikan “mistik” hidup bersama, berbaur dan bertemu [...] mengambil bagian dalam gelombang yang, meskipun agak kacau, dapat menjadi pengalaman nyata persaudaraan dalam iring-iringan solidaritas, peziarahan suci.” (Anjuran Apostolik Evangelii Gaudium, 87). Saya mendorong Anda untuk terus menempuh jalan ini, agar kita semua, bersama-sama, masing-masing mengembangkan spiritualitas dan menjalankan agamanya, dapat berjalan mencari Allah dan berkontribusi dalam membangun masyarakat terbuka, yang berlandaskan rasa hormat dan saling mengasihi, yang mampu melindungi terhadap kekakuan, fundamentalisme, dan ekstrimisme, yang selalu berbahaya dan tidak pernah dapat dibenarkan.

 

Mengingat semua yang telah dikatakan, yang dilambangkan oleh terowongan, saya ingin meninggalkan Anda dengan dua saran untuk mendorong Anda di jalan persatuan dan kerukunan yang telah Anda mulai.

 

Saran pertama adalah selalu melihat secara mendalam, karena hanya dengan cara ini kita dapat menemukan apa yang menyatukan meskipun ada perbedaan. Memang, di permukaan ada ruang di Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang dibatasi dengan baik dan sering dikunjungi oleh masing-masing umat, tetapi di bawah tanah di dalam terowongan, orang-orang yang sama dapat bertemu dan menemukan sudut pandang keagamaan satu sama lain. Gambar ini mengingatkan kita pada fakta penting bahwa aspek-aspek agama yang terlihat – ritus, praktik, dan sebagainya – adalah warisan yang harus dilindungi dan dihormati. Akan tetapi, kita dapat mengatakan bahwa apa yang terletak “di bawah”, apa yang mengalir di bawah tanah, seperti “terowongan persahabatan”, adalah satu akar yang sama bagi semua kepekaan keagamaan: pengupayaan untuk berjumpa yang ilahi, kehausan akan ketidakterbatasan yang telah ditempatkan oleh Yang Mahakuasa di dalam hati kita, pencarian sukacita yang lebih besar dan kehidupan yang lebih kuat daripada segala macam kematian, yang menghidupkan perjalanan hidup kita dan mendorong kita untuk melangkah keluar dari diri kita sendiri untuk berjumpa dengan Allah. Di sini, marilah kita ingat bahwa dengan melihat secara mendalam, memahami apa yang mengalir di kedalaman hidup kita, keinginan akan kepenuhan yang berdiam di kedalaman hati kita, kita menemukan bahwa kita semua adalah saudara dan saudari, semua peziarah, semua dalam perjalanan menuju Allah, melampaui apa yang membedakan kita.

 

Saran kedua adalah menjaga ikatan di antara Anda. Terowongan ini dibangun untuk menciptakan hubungan antara dua tempat yang berbeda dan berjauhan. Inilah yang dilakukan terowongan: menghubungkan, menciptakan ikatan. Terkadang kita berpikir bahwa pertemuan lintas agama adalah masalah mencari titik temu antara ajaran dan kepercayaan agama yang berbeda, berapa pun biayanya. Namun, pendekatan seperti itu dapat berakhir dengan memecah belah kita, karena ajaran dan dogma masing-masing pengalaman keagamaan berbeda. Yang benar-benar mendekatkan kita adalah menciptakan hubungan di tengah keberagaman, menumbuhkan ikatan persahabatan, kepedulian, dan timbal balik. Hubungan ini mengaitkan kita dengan orang lain, memungkinkan kita untuk berkomitmen bersama-sama mengupayakan kebenaran, belajar dari tradisi agama orang lain, dan berkumpul untuk memenuhi kebutuhan manusiawi dan rohani kita. Ikatan ini juga memungkinkan kita untuk bekerja sama, maju bersama dalam mengejar tujuan yang sama: membela martabat manusia, memerangi kemiskinan, dan mempromosikan perdamaian. Persatuan lahir dari ikatan persahabatan pribadi serta saling menghormati dan membela gagasan orang lain dan ruang sakral mereka. Semoga Anda selalu menghargai ini! Saudara-saudari terkasih, “membina kerukunan umat beragama demi kemanusiaan” adalah jalan yang harus kita tempuh. Itulah pula judul deklarasi bersama yang disiapkan untuk kesempatan ini. Dengan menaatinya, kita mengemban tanggung jawab untuk mengatasi krisis-krisis serius dan terkadang dramatis yang mengancam masa depan umat manusia seperti perang dan pertikaian, yang sayangnya terkadang disebabkan oleh manipulasi agama, dan krisis lingkungan hidup, yang menjadi hambatan bagi bangsa-bangsa bertumbuh dan hidup berdampingan. Dalam menghadapi krisis ini, penting untuk secara efektif mempromosikan nilai-nilai yang sama bagi segenap tradisi keagamaan guna membantu masyarakat “mengalahkan budaya kekerasan dan ketidakpedulian” (Deklarasi Bersama Istiqlal) serta mempromosikan rekonsiliasi dan perdamaian.

 

Terima kasih atas jalan bersama yang sedang Anda tempuh. Indonesia adalah negara besar, perpaduan budaya, suku, dan adat istiadat, kekayaan keanekaragaman, yang juga tercermin dalam ekosistem yang beragam. Jika benar kamu adalah rumah bagi tambang emas terbesar di dunia, ketahuilah bahwa harta yang paling berharga adalah tekad bahwa perbedaan dapat diselaraskan melalui kerukunan dan rasa saling menghormati, bukan menjadi sumber pertikaian. Anda dikenal karena kerukunan ini. Jangan sia-siakan anugerah ini! Jangan biarkan diri Anda miskin dari anugerah yang luar biasa ini. Sebaliknya, kembangkan dan wariskanlah, terutama kepada kaum muda. Semoga tidak ada seorang pun yang menyerah pada daya tarik fundamentalisme dan kekerasan. Semoga semua orang justru terpesona oleh impian masyarakat dan kemanusiaan yang bebas, bersaudara, dan penuh kedamaian!

 

Terima kasih atas senyuman ramah Anda, yang selalu terpancar di wajah Anda dan merupakan tanda kecantikan dan keterbukaan batin Anda. Semoga Allah menjaga anugerah ini. Dengan pertolongan dan berkat-Nya, majulah Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Terima kasih!

 

[Sambutan di Terowongan Persahabatan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya mengucapkan selamat kepada Anda semua karena tujuan dari "Terowongan Persahabatan" ini adalah sebagai tempat dialog dan perjumpaan.

 

Ketika memikirkan sebuah terowongan, kita mungkin dengan mudah membayangkan sebuah jalan yang gelap. Ini bisa menakutkan, terutama jika kita sendirian. Tetapi di sini berbeda, karena semuanya diterangi. Namun, saya ingin memengatakan kepada Anda bahwa Anda adalah cahaya yang meneranginya, dan Anda melakukannya melalui persahabatan Anda, melalui kerukunan yang Anda jalin, dukungan yang Anda berikan satu sama lain, dan melalui perjalanan bersama, yang pada akhirnya menuntun Anda menuju kepenuhan cahaya.

 

Kita yang menganut tradisi keagamaan yang berbeda memiliki peran untuk membantu setiap orang melewati terowongan kehidupan dengan mata kita yang tertuju pada cahaya. Kemudian, di akhir perjalanan, kita akan dapat mengenali mereka yang telah berjalan di samping kita, seorang saudara, seorang saudari, yang dengannya kita dapat berbagi kehidupan dan saling mendukung.

 

Dalam menghadapi berbagai tantangan saat ini, kita menanggapinya dengan tanda persaudaraan. Sesungguhnya, dengan menyambut orang lain dan menghormati jatidiri mereka, persaudaraan mendorong mereka pada jalan bersama yang ditempuh dalam persahabatan dan mengarah pada cahaya.

 

Saya berterima kasih kepada orang-orang yang bekerja dengan keyakinan bahwa kita dapat hidup rukun dan damai, serta menyadari perlunya dunia yang lebih bersaudara. Saya berharap agar komunitas kita semakin terbuka terhadap dialog lintas agama dan menjadi simbol hidup berdampingan secara damai yang menjadi ciri khas Indonesia.

 

Saya berdoa kepada Allah, Sang Pencipta segalanya, agar Ia memberkati setiap orang yang akan melewati Terowongan ini dalam semangat persahabatan,kerukunan, dan persaudaraan. Terima kasih!

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 7 September 2024)

SAMBUTAN PAUS FRANSISKUS DALAM PERTEMUAN DENGAN PRESIDEN JOKO WIDODO, PARA PEJABAT PEMERINTAHAN, MASYARAKAT SIPIL DAN KORPS DIPLOMATIK DI ISTANA NEGARA, JAKARTA, INDONESIA 4 September 2024

Bapak Presiden,

Yang terhormat pejabat pemerintahan,

Yang terhormat perwakilan komunitas keagamaan dan berbagai agama,

Yang terhormat perwakilan masyarakat sipil, anggota korps diplomatik!

 

Bapak Presiden, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas undangan untuk mengunjungi negara Anda dan atas sambutan hangat Anda. Saya mengharap presiden terpilih memiliki masa yang bermanfaat bagi Indonesia, negara kepulauan yang luas dengan ribuan pulau yang dikelilingi oleh lautan yang menghubungkan Asia dengan Oseania.

 

Kita hampir dapat mengatakan bahwa, sebagaimana lautan merupakan unsur alami yang menyatukan semua pulau di Indonesia, rasa saling menghormati terhadap ciri khas budaya, suku, bahasa, dan agama dari semua kelompok yang ada di Indonesia merupakan jalinan yang tak terpisahkan dan menyatukan yang menjadikan rakyat Indonesia sebagai bangsa yang bersatu dan membanggakan.

 

Semboyan negara Anda Bhinneka Tunggal Ika (Berbeda-beda tetapi Satu) menggambarkan dengan baik kenyataan keanekaragaman dari berbagai suku bangsa yang bersatu dengan kokoh dalam satu negara. Semboyan tersebut juga menunjukkan bahwa, sebagaimana keanekaragaman hayati yang ada di kepulauan ini merupakan sumber kekayaan dan kemegahan, perbedaan-perbedaan khas Anda juga berkontribusi untuk membentuk mosaik yang luar biasa, di mana setiap ubin merupakan unsur yang tak tergantikan dalam menciptakan karya orisinal dan berharga yang luar biasa. Inilah harta Anda, kekayaan Anda yang terbesar.

 

Kerukunan dalam keberagaman tercapai ketika sudut pandang tertentu mempertimbangkan kebutuhan bersama dan ketika setiap kelompok etnis dan denominasi agama bertindak dalam semangat persaudaraan, mengejar tujuan mulia untuk melayani kebaikan semua orang. Kesadaran untuk berpartisipasi dalam sejarah bersama, di mana solidaritas sangat penting dan kontribusi diberikan oleh semua orang, membantu mengidentifikasi solusi yang tepat, menghindari kejengkelan akibat kontras dan mengubah pertentangan menjadi kerja sama yang efektif.

 

Keseimbangan yang bijaksana dan lembut ini, antara keragaman budaya dan visi ideologis yang berbeda, dan cita-cita yang mempererat persatuan, harus terus dipertahankan ketimbang ketidakseimbangan. Ini adalah keahlian, saya ulangi, sebuah keahlian yang dipercayakan kepada semua orang, tetapi secara khusus kepada mereka yang berkecimpung dalam kehidupan politik, yang harus berjuang menuju kerukunan, kesetaraan, penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia, pembangunan berkelanjutan, solidaritas dan mengupayakan perdamaian, baik di dalam masyarakat maupun dengan negara dan bangsa lain. Dari sini muncul kebesaran politik. Seorang bijak pernah berkata bahwa politik adalah bentuk amal tertinggi. Ini indah.

 

Untuk membina kerukunan yang penuh kedamaian dan bermanfaat yang menjamin perdamaian dan menyatukan upaya untuk menghilangkan ketidakseimbangan dan penderitaan yang masih ada di beberapa daerah, Gereja ingin meningkatkan dialog antaragama. Dengan cara ini, prasangka dapat dihilangkan dan iklim saling menghormati dan percaya dapat tumbuh. Hal ini sangat diperlukan untuk menghadapi tantangan bersama, termasuk menentang ekstremisme dan intoleransi, yang melalui pemutarbalikan agama mencoba memaksakan pandangan mereka dengan menggunakan tipu daya dan kekerasan. Di sisi lain, kedekatan, mendengarkan pendapat orang lain, menciptakan bangsa yang bersaudara. Ini adalah sesuatu yang sangat, sangat indah.

 

Gereja Katolik melayani kebaikan bersama dan ingin memperkuat kerja sama dengan lembaga publik dan aktor lain dalam masyarakat sipil, tetapi tidak pernah melakukan proselitisme, dan selalu menghormati iman setiap orang. Gereja ingin mendorong pembentukan tatanan sosial yang lebih seimbang serta memastikan distribusi bantuan sosial yang lebih efisien dan adil.

 

Terkait hal ini, saya ingin merujuk pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang memberikan wawasan berharga tentang jalan yang dipilih oleh Indonesia yang demokratis dan merdeka. Ini adalah sejarah yang sangat indah. Dengan membacanya, kita dapat melihat bahwa itu adalah pilihan semua orang.

 

Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan dua kali dalam beberapa baris tentang Allah yang Mahaesa dan perlunya berkat-Nya turun atas negara Indonesia yang baru lahir. Demikian pula, baris pembukaan undang-undang dasar Anda dua kali menyebutkan tentang keadilan sosial sebagai landasan yang diinginkan untuk tatanan internasional dan sebagai salah satu tujuan utama yang harus dicapai untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

 

Kesatuan dalam keberagaman, keadilan sosial, dan berkat ilahi merupakan asas-asas dasar yang dimaksudkan untuk mengilhami dan membimbing tatanan sosial. Asas-asas tersebut dapat diibaratkan sebagai struktur pendukung, dasar yang kokoh untuk membangun rumah. Bagaimana mungkin kita tidak menyadari bahwa asas-asas ini sangat sesuai dengan semboyan kunjungan saya ke Indonesia: Iman, Persaudaraan, Belas Rasa?

 

Namun, sayangnya, di dunia saat ini kita melihat kecenderungan-kecenderungan tertentu yang menghambat perkembangan persaudaraan universal (bdk. Ensiklik Fratelli Tutti, 9). Di berbagai daerah kita melihat munculnya pertikaian dengan kekerasan, yang sering kali merupakan akibat dari kurangnya rasa saling menghormati, keinginan yang tidak toleran untuk membiarkan kepentingan, kedudukan, atau narasi sejarah parsial kita menang dengan segala cara, bahkan ketika hal ini menyebabkan penderitaan yang tak berkesudahan bagi seluruh komunitas serta mengakibatkan perang dan banyak pertumpahan darah.

 

Terkadang ketegangan yang hebat muncul di dalam suatu negara karena mereka yang berkuasa ingin membuat semuanya seragam, memaksakan visi mereka bahkan dalam hal-hal yang seharusnya diserahkan kepada otonomi individu atau kelompok.

 

Lebih jauh, meskipun ada deklarasi kebijakan yang mengesankan, ada juga kurangnya komitmen yang benar dan berwawasan maju untuk menerapkan prinsip-prinsip keadilan sosial. Akibatnya, sebagian besar umat manusia terpinggirkan, tanpa sarana untuk hidup bermartabat dan tidak ada pertahanan terhadap ketidakseimbangan sosial yang serius dan terus berkembang yang memicu pertikaian akut. Bagaimana hal ini sering kali diselesaikan? Dengan hukum kematian, yaitu dengan membatasi kelahiran, membatasi kekayaan terbesar yang dapat dimiliki suatu bangsa, yaitu kelahirannya. Sementara itu, negara Anda memiliki keluarga dengan tiga, empat, dan lima anak. Ini terlihat dari usia rata-rata bangsa. Teruskan seperti ini. sebuah contoh untuk semua negara. Mungkin tampak lucu bahwa mungkin beberapa keluarga lebih suka memiliki kucing atau anjing kecil, dan bukan anak, tetapi ini tidak benar.

 

Dalam konteks lain, bangsa-bangsa percaya bahwa mereka dapat atau harus mengabaikan kebutuhan untuk mencari berkat Allah, menilai hal itu berlebihan bagi manusia dan masyarakat sipil. Sebaliknya, mereka mempromosikan upaya mereka sendiri, tetapi ini sering kali membuat mereka mengalami frustrasi dan kegagalan. Namun, ada kalanya iman kepada Allah terus-menerus ditempatkan di garis depan, tetapi sayangnya dimanipulasi untuk memicu perpecahan dan kebencian alih-alih memajukan perdamaian, persekutuan, dialog, rasa hormat, kerja sama, dan persaudaraan untuk membangun bangsa.

 

Saudara-saudari, dalam menghadapi tantangan-tantangan di atas, sungguh menggembirakan bahwa filosofi yang membimbing organisasi Negara Indonesia seimbang dan bijaksana. Dalam hal ini, saya menjadikan kata-kata Santo Yohanes Paulus II selama kunjungannya tahun 1989 ke istana ini sebagai kata-kata saya . Antara lain, ia mengatakan, “Dengan mengakui keberadaan keanekaragaman yang sah, dengan menghormati hak asasi manusia dan hak politik semua warga negara, dan dengan mendorong tumbuhnya persatuan nasional yang berdasarkan toleransi dan rasa hormat terhadap orang lain, Anda meletakkan dasar bagi masyarakat yang adil dan damai yang diinginkan oleh seluruh rakyat Indonesia untuk diri mereka sendiri dan ingin diwariskan kepada anak-anak mereka” (Sambutan kepada Presiden dan Para Pejabat Pemerintahan Republik Indonesia, Jakarta, 9 Oktober 1989).

 

Jika di masa lalu prinsip-prinsip yang disebutkan di atas tidak selalu terlaksana, prinsip-prinsip itu tetap berlaku dan dapat diandalkan, bagaikan mercusuar yang menerangi jalan yang harus ditempuh dan yang memperingatkan kesalahan-kesalahan paling berbahaya yang harus dihindari.

 

Bapak Presiden, hadirin sekalian,

 

Saya berharap agar setiap orang, dalam kehidupan sehari-hari, dapat mengambil ilham dari prinsip-prinsip ini dan menerapkannya ketika menjalankan tugas masing-masing, karena opus justitiae pax, perdamaian adalah karya keadilan. Kerukunan tercapai ketika kita berkomitmen tidak hanya pada kepentingan dan visi kita sendiri, tetapi juga pada kebaikan semua orang, membangun jembatan, membina kesepakatan dan sinergi, menyatukan kekuatan untuk mengatasi segala bentuk tekanan moral, ekonomi, dan sosial, serta mempromosikan perdamaian dan kerukunan.

 

Saudara-saudari terkasih, teruslah melangkah di jalan yang sangat indah dan adil. Dan sekarang saya memohonkan berkat bagi seluruh rakyat: Semoga Allah memberkati Indonesia dengan perdamaian, demi masa depan yang penuh harapan. Allah memberkati Anda semua!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 7 September 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 1 September 2024 : BERIMAN YANG KONSISTEN

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Dalam Bacaan Injil liturgi hari ini (bdk. Mrk 7:1-8, 14-15, 21-23), Yesus berbicara tentang murni dan tidak murni: suatu hal yang sangat disenangi oleh orang-orang sezaman-Nya, yang terutama dikaitkan dengan ketaatan pada ritus dan aturan berperilaku, menghindari segala kontak dengan hal-hal atau orang-orang yang dianggap najis dan, jika ini terjadi, menghapus "noda" (bdk. Im 11-15). Kemurnian dan ketidakmurnian hampir menjadi obsesi bagi beberapa orang beragama pada masa itu.

 

Beberapa ahli Taurat dan orang Farisi, pengamat yang obsesif dan ketat terhadap norma-norma tersebut, menuduh Yesus membiarkan para pengikut-Nya makan dengan tangan yang tidak dibasuh, tanpa membasuh tangan mereka. Dan Yesus menggunakan celaan orang-orang Farisi kepada para murid-Nya ini untuk berbicara kepada kita tentang makna "kemurnian".

 

Kemurnian, kata Yesus, tidak terkait dengan ritus lahiriah, tetapi pertama-tama dan terutama terkait dengan sikap batiniah, sikap hati. Oleh karena itu, untuk menjadi murni, tidak ada maksud membasuh tangan beberapa kali jika kemudian, di dalam hati, kita menyimpan perasaan jahat seperti keserakahan, iri hati atau kesombongan, atau niat jahat seperti kelicikan, pencurian, perzinaan dan hujat (bdk. Mrk 7:21-22). Yesus memberi perhatian pada perlunya kewaspadaan terhadap ritualisme, yang tidak membuat kita bertumbuh dalam kebaikan; sebaliknya, ritualisme ini terkadang dapat menyebabkan kita mengabaikan, atau bahkan membenarkan, baik dalam diri kita maupun diri orang lain, pilihan dan sikap yang bertentangan dengan kasih, yang melukai jiwa dan menutup hati.

 

Dan, saudara-saudari, hal ini penting juga bagi kita: misalnya, kita tidak dapat meninggalkan Misa Kudus serta, masih di depan gereja, berhenti dan bergosip jahat dan tanpa belas kasihan tentang segala hal dan semua orang. Obrolan yang merusak hati, yang merusak jiwa. Dan kamu tidak dapat melakukan hal ini! Jika kamu menghadiri Misa dan kemudian melakukan hal-hal ini di pintu masuk, itu adalah hal yang buruk! Atau menunjukkan diri saleh dalam doa, tetapi kemudian memperlakukan sanak saudara kita di rumah dengan dingin dan acuh tak acuh, atau mengabaikan orang tua kita yang sudah lanjut usia, yang membutuhkan bantuan dan persahabatan (bdk. Mrk 7:10-13). Ini adalah kehidupan ganda, dan kita tidak dapat melakukan hal ini. Dan inilah apa yang dilakukan orang Farisi. Kemurnian lahiriah, tanpa sikap yang baik, sikap penuh belas kasihan terhadap orang lain. Kita tidak mungkin dapat bersikap baik kepada semua orang, dan mungkin bahkan melakukan sedikit kerja sukarela dan beberapa tindakan yang murah hati, tetapi kemudian hati kita memupuk kebencian terhadap orang lain, meremehkan orang miskin dan paling lemah, atau berperilaku tidak jujur ​​dalam pekerjaan kita.

 

Dengan bertindak seperti ini, hubungan dengan Allah direduksi menjadi sikap lahiriah, dan diri kita tetap kebal terhadap tindakan pemurnian rahmat-Nya, menikmati pikiran, pesan, dan perilaku tanpa cinta. Kita diciptakan untuk sesuatu yang lain. Kita diciptakan untuk kemurnian hidup, kelembutan, cinta.

 

Kemudian, marilah kita bertanya pada diri kita: apakah aku menghayati imanku secara konsisten, yaitu, apa yang kulakukan di dalam gereja, apakah aku mencoba melakukannya di luar gereja dengan semangat yang sama? Melalui kepekaan perasaan, perkataan, dan perbuatanku, apakah aku membuat apa yang kuucapkan dalam doa menjadi nyata dalam kedekatan dan rasa hormatku terhadap saudara-saudariku? Marilah kita memikirkan hal ini.

 

Dan semoga Maria, Bunda yang paling murni, membantu kita agar hidup kita, dengan kasih yang tulus dan diamalkan, dapat menyembah Allah dengan cara yang berkenan kepada-Nya (bdk. Rm 12:1).

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Kemarin di Šaštín, Slovakia, Ján Havlik, seminaris Kongregasi Misi, yang didirikan oleh Santo Vinsensius a Paulo, dibeatifikasi. Pemuda ini terbunuh pada tahun 1965, selama penganiayaan terhadap Gereja oleh rezim di tempat yang saat itu bernama Cekoslowakia. Semoga ketekunannya dalam memberikan kesaksian tentang iman kepada Kristus menyemangati mereka yang masih menderita cobaan serupa. Tepuk tangan meriah untuk sang beato yang baru!

 

Saya telah mengetahui dengan sedih bahwa pada hari Sabtu tanggal 24 Agustus, di Kota Barsalogho, Burkina Faso, ratusan orang, termasuk wanita dan anak-anak, tewas dan banyak lainnya terluka dalam serangan teroris. Dengan mengutuk serangan keji terhadap kehidupan manusia ini, saya menyatakan kedekatan saya dengan seluruh bangsa, dan mengucapkan belasungkawa yang tulus kepada keluarga para korban. Semoga Perawan Maria membantu bangsa Burkina Faso yang terkasih untuk mendapatkan kembali perdamaian dan keamanan.

 

Saya juga mendoakan para korban kecelakaan yang terjadi di Tempat Kudus Nossa Senhora da Conceição, di kota Recife, Brasil. Semoga Tuhan yang bangkit menghibur para korban yang terluka dan keluarga korban.

 

Dan saya selalu dekat dengan rakyat Ukraina yang tersiksa, yang sangat terpukul oleh serangan terhadap infrastruktur energi. Selain menyebabkan kematian dan cedera, serangan itu juga menyebabkan lebih dari satu juta orang kehilangan listrik dan air. Marilah kita ingat bahwa suara orang-orang yang tidak bersalah selalu didengar oleh Allah, yang tidak tinggal diam terhadap penderitaan mereka!

 

Sekali lagi saya mengalihkan pikiran dengan keprihatinan terhadap pertikaian di Palestina dan Israel, yang berisiko menyebar ke kota-kota Palestina lainnya. Saya mengimbau agar negosiasi terus berlanjut dan segera dilakukan gencatan senjata, pembebasan sandera, dan bantuan bagi masyarakat Gaza, di mana banyak penyakit juga menyebar, seperti polio. Semoga ada perdamaian di Tanah Suci, semoga ada perdamaian di Yerusalem! Semoga Kota Suci menjadi tempat perjumpaan di mana umat Kristen, Yahudi, dan Muslim merasa dihormati dan disambut, dan tidak seorang pun mempertanyakan status quo di tempat kudus masing-masing.

 

Hari ini kita merayakan Hari Doa Sedunia untuk Perawatan Ciptaan. Saya berharap agar setiap orang, lembaga, asosiasi, keluarga, dan setiap orang, dapat berkomitmen nyata untuk rumah kita bersama. Jeritan bumi yang terluka semakin mengkhawatirkan, serta menyerukan tindakan tegas dan mendesak.

 

Besok saya akan memulai perjalanan apostolik di beberapa negara Asia dan Oseania. Tolong, doakan agar perjalanan ini berjalan lancar!

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah! Secara khusus, saya menyapa kaum muda Lucca, yang didampingi oleh Uskup Agung Paolo Giulietti dan beberapa imam; saya menyapa kaum muda Immacolata dan kaum muda Campocroce di Mirano yang baik.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua! Mohon jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siang, dan sampai jumpa.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 1 September 2024)