Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 5 Februari 2025 : YESUS KRISTUS PENGHARAPAN KITA. 1. BAYI YESUS. 3. BERBAHAGIALAH IA YANG PERCAYA (LUK 1:45). KUNJUNGAN DAN MAGNIFICAT

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini kita akan merenungkan keindahan Yesus Kristus, pengharapan kita dalam misteri Kunjungan. Perawan Maria mengunjungi Santa Elisabet; tetapi terutama Yesus, dalam rahim ibu-Nya, yang mengunjungi umat-Nya (lih. Luk 1:68), sebagaimana dikatakan Zakharia dalam nyanyian pujiannya.

 

Setelah terperangah dan heran atas apa yang telah diberitahukan Malaikat kepadanya, Maria bangkit dan berangkat untuk melakukan perjalanan, sebagaimana semua orang yang dipanggil dalam Kitab Suci, karena "satu-satunya tindakan yang dapat dilakukan manusia untuk menanggapi Allah yang telah diwahyukan kepadanya adalah tindakan kesiapan yang tak terbatas" (H.U. von Balthasar, Panggilan, Roma 2002, 29). Putri belia Israel ini tidak memilih untuk melindungi dirinya dari dunia; ia tidak takut akan bahaya dan penghakiman orang lain, tetapi pergi kepada orang lain.

 

Ketika kita merasa dikasihi, kita mengalami suatu kekuatan yang menggerakkan kasih; sebagaimana dikatakan rasul Paulus, "kasih Kristus menguasai kami" (2Kor 5:14), kasih mendorong kita, menggerakkan kita. Maria merasakan dorongan kasih ini, dan selain pergi untuk menolong seorang perempuan yang merupakan kerabatnya, tetapi juga seorang perempuan tua yang, setelah penantian yang panjang, menyambut kehamilan yang tidak diharapkan, yang sulit terjadi pada usianya. Namun, Sang Perawan juga pergi kepada Elisabet untuk membagikan imannya kepada Allah ketidakmustahilan dan pengharapannya akan penggenapan janji-janji-Nya.

 

Perjumpaan antara kedua perempuan itu menghasilkan dampak yang mengejutkan: suara Maria, "penuh rahmat", yang menyapa Elisabet, membangkitkan nubuat dalam diri anak yang dikandung perempuan tua itu di dalam rahimnya, dan mengilhami dalam dirinya berkat ganda: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu!" (Luk 1:42). Dan juga sebuah kebahagiaan: "Berbahagialah ia yang percaya bahwa apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana" (ayat 45).

 

Dihadapkan dengan pengakuan akan jatidiri mesianis Putranya dan perutusannya sebagai ibu, Maria tidak berbicara tentang dirinya, tetapi tentang Allah, dan menaikkan pujian yang penuh dengan iman, harapan, dan sukacita, sebuah nyanyian yang bergema setiap hari dalam Gereja selama doa Vesper: Magnificat (Luk 1:46-55).

 

Pujian kepada Allah sang Juruselamat ini, yang mengalir dari hati hamba-Nya yang rendah hati, merupakan peringatan khidmat yang menyatukan dan memenuhi doa Israel. Pujian ini dijalin dengan gema biblis, sebuah tanda bahwa selain tidak ingin bernyanyi “di luar paduan suara”, Maria ingin selaras dengan para leluhur, melambungkan bela rasanya kepada mereka yang rendah hati, orang-orang kecil yang akan dinyatakan “berbahagia” (lih. Mat 5:1-12) oleh Yesus dalam khotbah-Nya.

 

Kehadiran motif Paskah yang menonjol juga menjadikan Magnificat sebagai nyanyian penebusan, yang berlatar belakang kenangan akan pembebasan Israel dari Mesir. Semua kata kerjanya berada di masa lampau, diresapi dengan kenangan akan kasih yang menerangi masa kini dengan iman dan menerangi masa depan dengan pengharapan: Selain bernyanyi tentang kasih karunia masa lalu, Maria adalah perempuan masa kini yang mengandung masa depan dalam rahimnya.

 

Bagian pertama nyanyian ini memuji tindakan Allah dalam diri Maria, gambaran kecil umat Allah yang sepenuhnya menaati perjanjian (ayat 46-50); bagian kedua berkisar pekerjaan Bapa dalam gambaran besar sejarah Putra-Nya (ayat 51-55), melalui tiga kata kunci: kenangan, belas kasihan, janji.

 

Tuhan, yang sujud kepada Maria yang rendah hati untuk menggenapi “hal-hal besar” dalam dirinya dan menjadikannya ibu Tuhan, mulai menyelamatkan umat-Nya sejak keluaran, mengingat berkat universal yang dijanjikan kepada Abraham (lih. Kej 12:1-3). Tuhan Allah yang setia selamanya, mencurahkan aliran kasih yang penuh kerahiman yang tak terputus “turun-temurun” (ayat 50) atas umat yang setia akan perjanjian, dan sekarang menyatakan terlaksananya keselamatan dalam Putra-Nya, yang diutus untuk menyelamatkan umat dari dosa-dosa mereka. Dari Abraham hingga Yesus Kristus dan komunitas umat beriman, Paskah dengan demikian muncul sebagai kategori hermeneutika untuk memahami setiap pembebasan berikutnya, hingga yang diwujudkan oleh Mesias dalam kegenapan waktu.

 

Saudara-saudari terkasih, marilah hari ini kita memohon kepada Tuhan agar kita dapat menantikan penggenapan setiap janji-Nya; dan dapat menyambut kehadiran Maria dalam hidup kita. Dengan mengikuti teladannya, semoga kita semua menemukan bahwa setiap jiwa yang percaya dan berharap "mengandung dan melahirkan Sabda Allah" (Santo Ambrosius, Penjelasan Injil menurut Lukas 2:26).

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam lanjutan katekese Yubileum tentang “Yesus Kristus Pengharapan Kita”, sekarang kita merenungkan misteri kunjungan Maria. Iman Perawan Maria kepada sabda Allah segera membuahkan hasil dalam bentuk cinta kasih ketika ia berangkat untuk membantu saudarinya yang sudah tua, Elisabet. Dalam pertemuan mereka, Elisabet, yang dipenuhi dengan Roh Kudus, berseru tentang Maria, “Berbahagialah ia yang percaya bahwa apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (bdk. Luk 1:45). Maria menanggapi dengan kidung pujian – Magnificat – yang memuji belas kasihan Allah, yang bertahan “turun-temurun”, dan kesetiaan-Nya pada janji keselamatan yang telah Ia buat “kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya” (ayat 50, 55). Dari Maria, semoga kita belajar untuk percaya tanpa henti kepada sabda Allah, kepada penebusan yang dimenangkan bagi kita oleh Yesus, dan kepada penggenapan pamungkas rencana penyelamatan-Nya pada akhir zaman.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris, khususnya mereka yang datang dari Irlandia, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Amerika Serikat, serta menyampaikan harapan baik saya agar Yubileum ini menjadi masa pembaruan rohani dan pertumbuhan dalam sukacita Injil bagi kamu semua. Atasmu dan keluargamu, dengan senang hati saya memohonkan berkat Allah berupa kebijaksanaan, kekuatan, dan kedamaian.
_____

(Peter Suriadi - Bogor, 5 Februari 2025)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 2 Februari 2025 : YESUS ADALAH KESELAMATAN, TERANG; DAN TANDA PERBANTAHAN

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini (Luk 2:22-40) menceritakan kepada kita tentang Maria dan Yusuf yang membawa bayi Yesus ke Bait Allah di Yerusalem. Sesuai dengan Hukum Taurat, mereka mempersembahkan Dia di tempat kediaman Allah, mengingatkan bahwa kehidupan berasal dari Tuhan. Dan sementara Keluarga Kudus melaksanakan apa yang selalu dilakukan di antara umat Israel, dari generasi ke generasi, terjadilah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

 

Dua orang tua, Simeon dan Hana, bernubuat tentang Yesus: mereka berdua memuji Allah dan berbicara tentang Anak itu “kepada semua orang yang menantikan pembebasan untuk Yerusalem” (ayat 38). Suara hati mereka bergema di antara batu-batu kuno Bait Suci, mengumumkan penggenapan pengharapan Israel. Sungguh Allah hadir di tengah-tengah umat-Nya: bukan karena Ia tinggal di dalam keempat dinding, tetapi karena Ia hidup sebagai manusia di antara manusia. Dan inilah kebaruan Yesus. Di usia tua Simeon dan Hana, kebaruan yang mengubah sejarah dunia terjadi.

 

Sementara itu, Maria dan Yusuf merasa heran dengan apa yang mereka dengar (lih. ayat 33). Sungguh, ketika Simeon menggendong Anak itu, ia memanggilnya dengan tiga cara yang indah, yang patut direnungkan. Tiga cara, tiga nama yang ia berikan kepada-Nya. Yesus adalah keselamatan, Yesus adalah terang; Yesus adalah tanda perbantahan.

 

Pertama, Yesus adalah keselamatan. Simeon berkata, sambil berdoa kepada Allah, “mataku telah melihat keselamatan yang dari-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa” (ayat 30-31). Hal ini selalu membuat kita heran: keselamatan universal terpusat hanya pada satu hal! Ya, karena di dalam Yesus berdiam kepenuhan Allah, kasih-Nya (lih. Kol 2:9).

 

Aspek kedua: Yesus adalah “terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain” (ayat 32). Seperti matahari yang terbit di atas dunia, anak ini akan menebusnya dari kegelapan kejahatan, penderitaan, dan kematian. Alangkah kita membutuhkan terang, terang ini, bahkan saat ini!

 

Akhirnya, anak yang dipeluk oleh Simeon merupakan tanda perbantahan, “supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (ayat 35). Yesus menyingkapkan kriteria menghakimi seluruh sejarah dan dramanya, dan juga kehidupan kita masing-masing. Dan apakah kriteria ini? Kriterianya adalah kasih: mereka yang mengasihi, hidup; mereka yang membenci, mati.

 

Yesus adalah keselamatan, Yesus adalah terang, dan Yesus adalah tanda perbantahan.

 

Setelah tercerahkan oleh perjumpaan dengan Yesus ini, kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri: apa yang kuharapkan dalam hidupku? Apa pengharapan terbesarku? Apakah hatiku ingin melihat wajah Tuhan? Apakah aku menantikan perwujudan rencana keselamatan-Nya bagi umat manusia?

 

Marilah kita bersama berdoa kepada Maria, Bunda yang paling murni, agar ia menyertai kita melalui terang dan bayang-bayang sejarah, agar ia senantiasa menyertai kita dalam perjumpaan dengan Tuhan.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Hari ini di Italia kita merayakan Hari untuk Kehidupan, dengan tema “Menularkan kehidupan, pengharapan kepada dunia”. Saya bergabung dengan para uskup Italia dalam mengungkapkan rasa terima kasih kepada banyak keluarga yang dengan penuh semangat menyambut anugerah kehidupan dan dalam mendorong pasangan suami istri muda agar tidak takut melahirkan anak ke dunia. Dan saya menyapa Gerakan untuk Kehidupan Italia, yang telah berusia lima puluh tahun. Salam hangat!

 

Besok di Vatikan akan diadakan KTT internasional tentang hak-hak anak, yang bertajuk “Cintailah dan Lindungilah Mereka”, yang telah saya promosikan dengan gembira dan akan saya ikuti. Ini adalah kesempatan unik untuk mengangkat isu-isu paling mendesak mengenai kehidupan anak-anak kecil ke pusat perhatian dunia. Saya mengundangmu untuk ikut berdoa demi keberhasilannya.

 

Dan berkenaan dengan nilai utama kehidupan manusia, saya tegaskan kembali “tidak” untuk perang, yang menghancurkan; perang menghancurkan segalanya, perang menghancurkan kehidupan dan mendorong kita untuk tidak mengabaikannya. Dan janganlah kita lupa bahwa perang selalu merupakan kekalahan. Pada tahun Yubileum ini, saya kembali memohon, khususnya kepada para gubernur kristiani, untuk melakukan yang terbaik dalam negosiasi demi mengakhiri semua pertikaian yang sedang berlangsung. Marilah kita berdoa untuk perdamaian di Ukraina yang tersiksa, Palestina, Israel, Lebanon, Myanmar, Sudan, dan Kivu Utara.

 

Saya menyapa kamu semua, dari Italia dan berbagai belahan dunia lainnya. Saya khususnya menyapa umat Valencia, Barcelona, ​​dan Sevilla; para siswa Rodríguez Moñino Badajoz, Spanyol, dan mereka yang berasal dari “École de Provence” Marseille; kelompok paroki dari Nanterre dan mereka yang berasal dari Polandia, Kroasia, Bulgaria, dan India. Saya menyapa kaum muda Immacolata.

 

Saya menyapa umat Vighizzolo, Seregno, dan Cologno Monzese, UNITALSI Keuskupan Camerinio-San Severino Marche, Pramuka dari Nola, dan para anggota Serra Club International. Saya menyapa para pelayan komunitas pastoral “Regina degli Apostoli” Keuskupan Milan.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua. Jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 2 Februari 2025)

KHOTBAH PAUS FRANSISKUS DALAM VESPER PERTAMA PESTA YESUS DIPERSEMBAHKAN DI BAIT ALLAH 1 Februari 2025

“Sungguh, Aku datang, ... untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah” (Ibr 10:7). Dengan kata-kata ini, penulis Surat kepada Orang Ibrani menggambarkan ketaatan penuh Yesus terhadap rencana Bapa. Kita membaca kata-kata itu pada Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah, Hari Hidup Bakti Sedunia, dalam Yubileum Pengharapan ini dan suasana liturgi yang ditandai dengan simbolisme cahaya. Kamu semua, saudara-saudari terkasih yang telah memilih jalan nasihat-nasihat injili, telah mengabdikan dirimu, seperti “Mempelai perempuan di hadapan mempelai laki-lakinya... dikelilingi oleh cahaya-Nya” (Santo Yohanes Paulus II, Anjuran Apostolik Vita Consecrata, 15); kamu telah mengabdikan diri kepada rencana terang Bapa yang sama, yang kembali ke asal-usul dunia. Itu akan sepenuhnya tercapai pada akhir zaman, tetapi bahkan sekarang dibuat tampak melalui “keajaiban-keajaiban yang dilakukan oleh Allah dalam manusia yang rapuh dari mereka yang dipanggil” (idem, 20). Marilah kita renungkan, bagaimana, melalui kaul kemiskinan, kemurnian dan ketaatan yang telah kamu ucapkan, kamu dapat membawa terangnya kepada para perempuan dan laki-laki di zaman kita.

 

Pertama: melalui terang kemiskinanmu, yang berakar dalam kehidupan Allah sendiri, dalam karunia abadi dan sepenuhnya dari Bapa, Putra dan Roh Kudus (idem, 21). Melalui praktik kemiskinan, para pelaku hidup bakti, melalui penggunaan segala sesuatu secara bebas dan murah hati, menjadi pembawa berkat bagi mereka. Mereka menunjukkan kebaikan dari segala sesuatu itu dalam tata kasih, menolak segala sesuatu yang dapat mengaburkan keindahannya – keegoisan, keserakahan, ketergantungan, penggunaan dan penyalahgunaan yang kejam untuk tujuan kematian dan kehancuran – dan sebaliknya merangkul segala sesuatu yang dapat menonjolkan keindahan itu: kesederhanaan, kemurahan hati, berbagi dan solidaritas. Dan Paulus berkata, “Semuanya adalah milikmu, tetapi kamu milik Kristus dan Kristus milik Allah” (1Kor 3:22-23). ​​Inilah kemiskinan.

 

Kedua, melalui terang kesucianmu. Ini juga berawal dari Tritunggal dan merupakan “cerminan kasih tak terbatas yang menghubungkan ketiga Pribadi ilahi” (Vita Consecrata, 21). Pelukan kemiskinan, dalam penolakan cinta suami istri dan mengikuti jalan pengendalian diri, menegaskan kembali keutamaan mutlak cinta Allah, yang harus diterima dengan hati yang tidak terbagi dan sebagai pasangan suami istri (bdk. 1Kor 7:32-36), serta menunjuknya sebagai sumber dan model dari setiap cinta lainnya. Kita tahu bahwa kita hidup di dunia yang sering ditandai oleh bentuk afektivitas yang menyimpang, di mana prinsip kesenangan - prinsip itu - mendorong orang untuk mencari kepuasan kebutuhan mereka sendiri dalam diri orang lain daripada kegembiraan yang lahir dari perjumpaan yang membuahkan hasil. Itu benar. Dalam hubungan, hal ini menimbulkan sikap yang dangkal dan tidak stabil, keegoisan dan hedonisme, ketidakdewasaan dan tidak bertanggung jawab secara moral. Pasangan hidup pilihan seumur hidup digantikan oleh "pasangan" saat itu, sementara anak-anak yang diterima dengan sukarela sebagai karunia digantikan oleh mereka yang dituntut sebagai "hak" atau disingkirkan sebagai "tidak diinginkan".

 

Saudara-saudari, dalam menghadapi situasi ini, serta “semakin dibutuhkannya” kejujuran batin dalam hubungan antarmanusia (Vita Consecrata, 88) dan ikatan manusia yang lebih erat antara individu dan komunitas, kemurnian hidup bakti menunjukkan kepada kita dan manusia abad ke-21 suatu cara untuk menyembuhkan penyakit keterasingan melalui penerapan cara mencintai yang bebas dan membebaskan. Suatu cara mencintai yang menerima dan menghormati semua orang, tanpa memaksa atau menolak siapa pun. Bertemu dengan para pelaku hidup bakti yang mampu menjalin hubungan yang dewasa dan penuh sukacita seperti ini sungguh suatu obat mujarab bagi jiwa! Mereka adalah cerminan kasih Allah sendiri (bdk. Luk 2:30-32). Akan tetapi, untuk tujuan ini, penting bagi komunitas kita untuk menyediakan pertumbuhan rohani dan afektif bagi para anggotanya, baik selama pembinaan awal maupun berkelanjutan. Dengan cara ini, kesucian dapat benar-benar menyingkapkan keindahan cinta yang mengurbankan diri, dan menghindari fenomena yang merugikan seperti hati yang menjadi masam atau pilihan yang meragukan yang merupakan gejala ketidakbahagiaan, ketidakpuasan, dan terkadang, pada individu yang lebih rapuh, menyebabkan mereka menjalani "kehidupan ganda". Setiap hari ada pertempuran melawan godaan kehidupan ganda. Itu terjadi setiap hari.

 

Ketiga, melalui terang ketaatanmu. Bacaan yang telah kita dengar juga berbicara tentang hal ini, karena bacaan itu menunjukkan kepada kita, dalam hubungan antara Yesus dan Bapa, “keindahan yang membebaskan dari ketergantungan yang bersifat bakti dan tidak merendahkan, ditandai oleh rasa tanggung jawab yang mendalam dan dijiwai oleh rasa saling percaya” (Vita Consecrata, 21). Justru dalam terang sabda Allah, ketaatanmu menjadi karunia dan tanggapan kasih, dan tanda bagi masyarakat kita. Dewasa ini kita cenderung banyak berbicara tetapi sedikit mendengarkan, dalam keluarga kita, tempat kerja kita dan terutama di jejaring sosial, di mana kita dapat banjir bertukar kata-kata dan gambar tanpa benar-benar bertemu orang lain, karena kita tidak benar-benar berinteraksi dengan mereka. Ini sesuatu yang menarik. Sering kali, dalam dialog sehari-hari, sebelum kita selesai berbicara, sebuah jawaban sudah keluar karena orang lain tidak mendengarkan. Kita perlu mendengarkan sebelum menanggapi. Terimalah perkataan orang lain sebagai pesan, sebagai harta, bahkan sebagai pertolongan bagiku. Ketaatan hidup bakti dapat bertindak sebagai penawar bagi individualisme yang terasing ini, karena ketaatan tersebut mendorong suatu model hubungan alternatif yang ditandai dengan mendengarkan secara aktif, di mana "berbicara" dan "mendengarkan" diikuti oleh keterwujudan "bertindak", bahkan dengan mengurbankan selera, rencana, dan pilihan kita. Hanya dengan cara ini, pada kenyataannya, kita dapat sepenuhnya mengalami sukacita karunia, mengatasi kesepian, dan menemukan makna keberadaannya dalam rencana Allah yang lebih besar.

 

Saya ingin mengakhiri dengan menyebutkan sesuatu lebih lanjut. Dewasa ini dalam hidup bakti banyak dibicarakan tentang “kembali ke asal-usul”. Namun bukan kembali ke asal-usul seperti kembali ke museum, tidak. Kembali ke asal-usul hidup kita. Sabda Allah yang telah kita dengar mengingatkan kita bahwa “kembali ke asal-usul” yang pertama dan terpenting dalam setiap bakti dan bagi kita masing-masing, adalah kembali kepada Kristus dan kepada “ya”-Nya kepada Bapa. Sabda itu mengingatkan kita bahwa pembaruan, bahkan sebelum pertemuan dan “meja bundar” – yang harus dilakukan dan berguna – terjadi di depan tabernakel, dalam penyembahan. Saudari-saudari, kita agak kehilangan rasa penyembahan. Kita terlalu praktis, kita ingin melakukan sesuatu, tetapi… menyembah. Menyembah. Harus ada kapasitas untuk penyembahan dalam keheningan. Dan dengan cara ini kita mulai menghargai para pendiri kita terutama sebagai perempuan dan laki-laki yang beriman mendalam, yang berulang kali bersama mereka, dalam doa dan persembahan kepada Allah: "Sungguh, Aku datang, ... untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah" (Ibr 10:7).

 

Terima kasih banyak atas kesaksianmu. IKesaksianmu adalah ragi dalam Gereja. Terima kasih.
____

(Peter Suriadi - Bogor, 2 Februari 2025)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI YUBILEUM 1 Februari 2025

Saudara-saudari terkasih!

 

Yubileum adalah awal baru bagi manusia dan bumi; yubileum adalah waktu ketika segala sesuatu harus dipikirkan kembali dalam impian Allah. Dan kita tahu bahwa kata "pertobatan" menunjukkan perubahan arah. Segala sesuatu akhirnya dapat dilihat dari sudut pandang lain, dan dengan demikian kita juga melangkah menuju tujuan baru. Begitulah pengharapan, yang tidak pernah mengecewakan, muncul. Kitab Suci menceritakan hal ini dengan berbagai cara. Dan bagi kita juga, pengalaman iman telah dirangsang oleh perjumpaan dengan orang-orang yang telah mampu berubah dalam hidup dan, dapat dikatakan, telah masuk ke dalam impian Allah. Karena meskipun ada banyak kejahatan di dunia, kita dapat membedakan: kebesaran mereka, yang sering kali seiring dengan kekecilan, memenangkan hati kita.

 

Dalam keempat Injil, sosok Maria Magdalena menonjol di atas semua yang lain karena hal ini. Yesus menyembuhkannya dengan belas kasihan (lih. Luk 8:2), dan ia berubah: saudara-saudari, belas kasihan mengubah, belas kasihan mengubah hati, dan bagi Maria Magdalena, belas kasihan membawanya ke dalam impian Allah dan memberikan tujuan baru bagi perjalanannya.

 

Injil Yohanes menceritakan tentang perjumpaannya dengan Yesus yang bangkit dengan cara yang membuat kita berpikir. Diulang beberapa kali bahwa Maria berpaling. Penginjil memilih kata-katanya dengan baik! Sambil menangis, Maria pertama-tama menjenguk ke dalam kubur, lalu ia berpaling: Yesus yang bangkit tidak berada di sisi kematian, tetapi di sisi kehidupan. Ia dapat disalahartikan sebagai salah seorang yang kita jumpai setiap hari. Kemudian, ketika mendengar namanya disebut, Injil mengatakan bahwa Maria kembali berpaling. Begitulah pengharapan tumbuh: sekarang ia melihat kubur, tetapi tidak seperti sebelumnya. Ia dapat mengeringkan air matanya, karena ia telah mendengar namanya: hanya Sang Guru yang mengucapkannya dengan cara ini. Dunia lama yang tampaknya masih ada sudah tidak ada lagi. Ketika kita merasakan Roh Kudus bekerja di dalam hati kita, dan kita merasakan Tuhan sedang memanggil nama kita, tahukah kita bagaimana mengenali suara Sang Guru?

 

Saudara-saudari terkasih, dari Maria Magdalena, yang oleh tradisi disebut sebagai "rasul dari para rasul", kita belajar tentang pengharapan. Kita memasuki dunia baru dengan bertobat lebih dari satu kali. Perjalanan kita adalah undangan terus-menerus untuk mengubah sudut pandang. Yesus yang bangkit membawa kita ke dunia-Nya, langkah demi langkah, dengan syarat kita tidak mengaku telah mengetahui segalanya.

 

Hari ini marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: apakah aku tahu bagaimana cara berpaling untuk melihat segala sesuatu secara berbeda, dengan sudut pandang yang berbeda? Apakah aku memiliki keinginan untuk bertobat?

 

Ego yang terlalu percaya diri dan terlalu sombong menghalangi kita untuk mengenali Yesus yang bangkit. Bahkan ketika kita menangis dan putus asa, kita berpaling dari-Nya. Daripada melihat ke dalam kegelapan masa lalu, ke dalam kekosongan kubur, dari Maria Magdalena kita belajar untuk berpaling terhadap kehidupan. Di sanalah Sang Guru kita menanti kita. Di sanalah nama kita disebut. Karena dalam kehidupan nyata ada tempat bagi kita, selalu dan di manapun. Ada tempat bagimu, bagi saya, bagi semua orang. Tidak seorang pun dapat mengambilnya, karena tempat itu selalu dimaksudkan bagi kita. Tidak baik, seperti yang dikatakan orang paqda umumnya, meninggalkan kursi kosong tidak baik: "Tempat ini untukku; jika aku tidak pergi...". Setiap orang dapat berkata: Aku mempunyai tempat, aku adalah sebuah perutusan! Pikirkan tentang ini: apa tempatku? Perutusan apa yang diberikan Tuhan kepada kita? Semoga pemikiran ini membantu kita untuk mengambil sikap berani dalam hidup. Terima kasih.

 

[Sapaan]

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah yang hadir di Aula ini dan mereka yang datang dari Basilika Vatikan. Saat ini jumlah mereka banyak dan kita harus melakukannya di dua tempat, tetapi terhubung.

 

Saya senang menyapa umat Keuskupan Capua dan Keuskupan Caserta. Mereka datang ke Roma, bersama gembala mereka Uskup Agung Pietro Lagnese, juga untuk melakukan kunjungan balasan terhadap kunjungan saya yang penuh sukacita ke Caserta pada tanggal 26 Juli 2014. Dengan kasih sayang saya menyapa imam Giovanni Traettino, seorang sahabat baik; saya menyapa para imam, para pelaku hidup bakti, para pekerja pastoral, keluarga-keluarga dan kamu semua, dengan penuh hormat memikirkan para pejabat sipil. Saya ingin menyampaikan kembali rasa terima kasih saya atas sambutan hangat yang kamu berikan kepada saya pada kesempatan itu. Semoga kenangan akan peristiwa itu, yang penuh dengan makna gerejawi dan spiritual, membangkitkan kembali keinginan setiap orang untuk memperdalam kehidupan iman dan selalu menjadi saksi pengharapan dan pekerja perdamaian.

 

Saya memikirkan peziarahan Keuskupan Sulmona-Valva, bersama Uskup Michele Fusco, dan para seminaris Keuskupan Bergamo. Saudara-saudari terkasih, saya mendorongmu untuk semakin memahami dan menyambut kasih Allah, sumber dan motif sukacita sejati kita. Saya juga menyapa para seminaris Keuskupan Bergamo dan mendesak mereka untuk selalu menempatkan Yesus di pusat kehidupan mereka.

 

Berkat saya untuk kamu semua!

____

(Peter Suriadi - Bogor, 2 Februari 2025)